11.10.15

[RONDE 4] NOBUHISA OGA - YAMISHIBAI

NOBUHISA OGA-YAMISHIBAI






Sebelumnya di R3 Battle of Realms ...

"Nee-san?!"

"Kaa-sama?!"
                                            
Seorang miko berambut cokelat tersenyum saat matanya menatap Nobuhisa dan Akako yang terlihat dalam kondisi blank. Bibirnya menyunggingkan senyuman yang menawan hati setiap makhluk hidup yang beruntung melihatnya.
                                                
Kecantikannya tak kalah dengan Tamon Ruu, hanya saja pesona yang satu ini memang alami keluar. Tidak ada sihir atau kekuatan semacam hipnotis pemikat yang dipakai penguasa Alforea untuk menundukkan setiap perjaka dari segala penjuru semesta.

"Apa dia benar-benar ibumu, Akako? Kenapa mirip sekali dengan Tsukuyo-neesan?"


"Tsukuyo? Bagaimana kau tahu namanya?" Akako sedikit memiringkan kepalanya.

"Penampilannya sangat persis," jari Nobuhisa menunjuk miko tersebut, "tapi bagaimana mungkin ia punya anak sepertimu?"

Iblis kecil itu mendesah, "Sebenarnya Tsukuyo-kaasama bukan ibu kandungku. Ia adalah pengasuh kami, anak-anak panti asuhan di Amatsu. Dia memperlakukan para monster yatim-piatu seperti anaknya sendiri sehingga sering dipanggil Okaa-sama."

Ketika mata Nobuhisa menjelajah setiap lekuk tubuh wanita tersebut, hatinya berteriak mengakui bahwa itu memang benar-benar penampilan kakaknya. Mata, rambut, payudara, pantatnya, serta kurva pinggulnya memang benar-benar milik Tsukuyo.

Walaupun wajahnya terlihat sedikit berubah. Usianya mungkin sudah melewati tiga puluh tahun.

"Selamat datang kembali, Akako. Kau sudah bekerja keras hari ini." Sorot pandangannya berpindah ke Nobuhisa."Dan Nobuhisa-kun, lama tak jumpa."

Sang Samurai masih tak percaya. Meskipun penampilan perempuan tersebut memang persis tapi Nobuhisa belum yakin betul dengan apa yang di depannya. Beberapa hal masih mengganjal dalam pikirannya.

Bisa saja ia hanyalah program kecerdasan seperti halnya Valentiana.

Namun aura miko cantik itu benar-benar mengingatkan Nobuhisa akan paras sang kakak. Apalagi saat si rambut cokelat itu menggunakan akhiran –kun saat memanggil nama Nobuhisa. Intonasi suaranya terdengar sangat khas di telinga lelaki tersebut. Begitu merdu dan menari-nari dalam kenangan.

"Tsukuyo. Kau memang Tsukuyo Oga, kan?" tanya Nobuhisa.

"Ya, aku kakakmu, Nobuhisa-kun. Keluarga yang berbagi segala hal termasuk keperawanan denganmu." Telunjuk kiri Tsukuyo masuk-keluar dari sela-sela jari kanannya, memeragakan adegan seks dengan begitu jelas.

"Haaaaahhhhh!!!!!!"

Mulut Nobuhisa dan Akako ternganga saat kata "keperawanan" terlontar dari mulut Tsukuyo.

"Tunggu! Tunggu! Baik, kuakui kalau dulu aku dan kakakku memang sudah berhubungan seperti itu. Tapi adakah bukti lain yang bisa meyakinkanku bahwa kau memang Tsukuyo Oga?" Telunjuk Nobuhisa tertuju ke arah pundak. "Sekarang, buka lengan kimonomu!"

Tanpa pikir panjang, wanita tersebut menyingsingkan lengan kimononya. Terlihat jelas kulit lengan Tsukuyo yang putih. Lebih putih dari mutiara lautan.

Namun sebuah bekas luka sayatan terpatri jelas di bagian pundak milik miko tersebut. Saat bekas luka itu terpampang jelas di mata Nobuhisa, terbayang jelas dalam ingatannya saat katana milik samurai itu pernah menggoreskan serangan di tubuh Tsukuyo saat latihan beberapa waktu silam.

Sebuah luka yang menyebabkan Nobuhisa mengucapkan sumpah untuk tidak melukai wanita. Dan sumpah itu masih dijalaninya hingga kini.

"Apa kau sudah puas sekarang?"

Nobuhisa tertawa lirih, "Huhuhuhuhuhu. Seperti yang kuduga, pedang memang tak akan pernah berbohong. Kau memang benar-benar kakakku. Mantan pemimpin Hyakka, Tora no Onna."

"Yah, sejak kejadian itu, aku tahu bahwa prinsipmu memang tak pernah berubah." Tsukoyo berjalan ke arah Nobuhisa.

Secara mendadak, kedua lengan perempuan tersebut melingkari tubuh Nobuhisa. Dadanya yang besar menempel ketat di dada samurai tersebut. Kemudian wajah Tsukuyo mendongak ke atas, menatap Nobuhisa yang sekarang lebih tinggi darinya.

Sementara Akako berteriak-teriak tak jelas. ia tak terima dengan kelakuan pengasuhnya. Namun untuk saat ini, tidak ada yang mengindahkan ocehan setan merah tersebut. Kakak beradik tersebut malah asyik bermesraan di depan bocah iblis yang belum cukup umur.

"Kau sudah lebih tinggi sekarang. Andai aku bisa memiliki suami sepertimu." Kepala Tsukuyo tersandar di bahu Nobuhisa.

"Aku pikir aku sudah menjadi suamimu saat kita  berhubungan badan pertama kali pada waktu itu," jawab Nobuhisa.

"Sayangnya aku sudah terlanjur mengangkatmu menjadi adik. Jika aku tahu kau akan tumbuh seperti ini mungkin aku akan langsung memperkenalkanmu pada orang tuamu sebagai calon pendampingku nanti."

"Hahahaha.. bukankah kita tidak punya hubungan darah? Aku tidak begitu bermasalah dengan perbedaan umur di antara kita."

Jemari Tsukuyo langsung menyentil dahi Nobuhisa.

"Auww!! Nee-san!!" Nobuhisa langsung meringis dan mengelus dahinya yang terasa sakit.

"Kau ini. Sekali adik, tetaplah adik. Sebegitu besarkah nafsumu pada wanita? Kenapa kau tidak mencari calon istri dari beberapa peserta wanita di turnamen ini. Menurutku, mereka terlihat cantik-cantik."

"Tapi tidak ada yang sanggup menandingi kecantikanmu, Nee-san. Bahkan penguasa wilayah Alforea sekali-"

"Cukup," telunjuk Tsukuyo menempel di bibir Nobuhisa, "di atas langit masih ada langit, adikku. Kau harus mencari sendiri apa yang kau inginkan."

"Nee-san...aku-"

"Tidak apa, aku sudah berbahagia menjadi seorang wanita sejak kita hidup bersama waktu itu. Dan sekarang aku sudah ditemani Akako dan anak-anak asuhku. Aku sudah mencicipi bagaimana rasanya bercinta dan memiliki keluarga. Jadi sekarang giliranmu untuk memiliki kebahagiaan sendiri, Nobuhisa."

Lidah Nobuhisa terasa kelu. Mulutnya tak kuasa mengeluarkan kata-kata lagi demi menjawab pernyataan sang kakak yang paling disayanginya. Sudah berapa banyak budi baik Tsukuyo yang terngiang-ngiang dalam benak lelaki itu sejak diangkat sebagai bagian dari keluarga Oga.

"Tapi aku tak keberatan jika menjadi selirmu." Senyum nakal kembali menghias wanita kepala tiga tersebut. "Sesekali kita bisa bernostalgia bersama, te he..."

Nobuhisa hanya tersenyum tipis menghadapi perilaku kakaknya yang masih sedikit binal. Ia masih ingat tipikal Tsukuyo yang sedikit membenci adat rumah tangga yang kaku. Bagi hyakka tersebut , hidup bersama dengan orang yang disayangi sudah layak disebut sebagai "berkeluarga".

"Yah, kalau istriku mengijinkan," sahut Nobuhisa sedikit menyeringai.

Kedua insan tersebut saling menatap dengan penuh kasih sayang. Entah berapa menit berlalu untuk pertemuan tersebut.

"Ngomong-ngomong, Nee-san. Bagaimana kau bisa berada di dunia i.."

Buuumm!!

Terdengar guncangan keras dari arena. Getaran tersebut membuat tanah ruangan peristirahatan terbelah dan meruntuhkan dinding. Benda-benda jatuh ke lantai dan pecah berkeping-keping. Ketiga orang tersebut langsung kaget saat peristiwa itu terjadi. Mereka tidak tahu pasti apa yang terjadi di luar sana.

"Kaa-sama! Nobuhisa, awas!!" Akako berteriak saat retakan tanah mencapai dua manusia tersebut. Reruntuhan langsung menutupi tubuh Akako dan memisahkan dengan kedua manusia tersebut.

Namun, Tsukuyo dan Nobuhisa terlambat menyadari hal itu. Mereka langsung terjatuh ke dalam lubang yang tercipta tepat di atas mereka.

Tsukuyo langsung bertindak cepat. Secepat kilat, tangan Tsukuyo langsung berpegang erat pada tepian tanah. Sedangkan Nobuhisa bergantung pada kaki kakaknya tersebut. Kedua orang tersebut berada di ujung tanduk.

"Nobuhisa! Bertahanlah, urrggghhh!!!" Lengan Tsukuyo tak kuasa menahan beban.

"Sial!" Tangan samurai tersebut bergerak menurun perlahan. Jari-jari lelaki tersebut terus berusaha mengenggam. Namun akibat kulit Tsukuyo yang terlampau halus serta faktor pakaian mikonya yang selembut sutra menyebabkan posisi Nobuhisa terus melorot ke bawah.

"Nee-san!!"

"Apa??!!"

"Tidak ada pilihan lagi," mata Nobuhisa menatap lurus ke bawah, "aku harus turun ke bawah. Kau harus tetap hidup."

"Apa kau gila?! Mau cari mati apa?!!"

"Mau bagaimana lagi. Jika terus seperti ini, kita berdua akan mati."

Tsukuyo hanya bisa terdiam. Ia tahu bahwa akan lebih mudah baginya jika Nobuhisa melepaskan pegangannya. Namun kakak mana yang tega mengorbankan nyawa adiknya demi keselamatan dirinya sendiri? Ditambah ia  ia masih ingin merasakan hangatnya pelukan Nobuhisa setelah sekian lama berpisah selama bertahun-tahun.

Wanita tersebut merasa dilema, mati berdua atau membiarkan Nobuhisa melakukan pilihannya sendiri.

"Nee-san, ada satu hal yang harus kukatakan padamu." Senyum tulus terpancar dari wajah Nobuhisa saat memandangi kakaknya.

"Eh?" Tsukuyo tersadar dari kebimbangannya.

"Aku mencintaimu."

Tangan samurai tersebut terlepas dari pegangannya. Tubuhnya langsung menghilang ditelan kegelapan seusai menyatakan rasa yang sesungguhnya.

"Nobuhisa!!!"

"Kaa-sama!"

Akako langsung berlari usai menghancurkan reruntuhan yang menimbun tubuhnya. Dengan cepat ia melewati reruntuhan dam membawa ibu angkatnya ke tempat aman. Namun Tsukuyo kembali merangsek ke pinggir jurang dan memanggil-manggil Nobuhisa. Tampaknya ia masih belum rela berpisah dengan samurai tersebut.

"Maafkan aku, Kaa-sama. Kita harus kembali ke panti asuhan."

Serangan listrik dengan daya setara stun gun langsung menyengat Tsukuyo sampai pingsan. Kemudian tubuh wanita itu ditangkap Akako saat hampir jatuh. Dengan entengnya, ia menggendong Tsukuyo yang tak sadarkan diri.

Sejenak setan kecil itu menatap wajah miko tersebut. Dalam hati, ia merasa tak enak dengan Tsukuyo karena tak bisa menyelamatkan Nobuhisa. Waktu tak memberinya kesempatan untuk melakukannya.

Sebelum melangkah pergi, Akako menatap ke arah jurang tempat Nobuhisa.

"Maafkanku, Kaa-sama. Tapi tenanglah, lelaki itu sudah menjalin kontrak denganku. Saat ini kekuatanku tengah mengalir padanya dan melindungi dari semua bahaya. Percayalah, pasti dia akan kembali."

Kaki kecilnya mulai melangkah keluar, meninggalkan reruntuhan tersebut tanpa adanya rasa beban.

"Sekarang, waktunya untuk pergi menemuinya. Hanya [ dia ] yang tahu apa yang terjadi sebenarnya saat ini."

Entah konspirasi apa yang terjadi pada keluarga kecil itu.

(#####)

Kedalaman lima puluh meter di bawah pemukaan tanah.

Sementara itu, Nobuhisa yang memilih menjatuhkan diri berhasil selamat saat terjatuh dari atas. Sekarang tangannya tengah berpegangan erat pada katana yang berhasil ditancapkan ke dinding tanah.

"Hampir saja.." Mata samurai tersebut menatap ngeri ke bawah tanah yang gelap. Jika ia tak mengeluarkan pedangnya di saat terakhir mungkin nyawanya telah berakhir.

Sejenak Nobuhisa merasa bodoh sewaktu menyatakan rasa cintanya pada Tsukuyo pada  saat berada di situasi genting. Dan yang lebih konyolnya lagi, ia bilang untuk mengorbankan dirinya sehingga membuat kakaknya merasa bersalah.

Tapi paling tidak, dewi fortuna masih berpihak padanya. Kini Nobuhisa tinggal memikirkan cara untuk kembali ke atas. Lalu pandangannya tertuju ke bawah.

Jarak permukaan tanah ke posisi Nobuhisa saat ini berkisar tiga sampai empat meter. Cukup aman baginya untuk menjatuhkan diri tanpa terluka. Lain ceritanya jika langsung dari posisi ruang istirahat.

Tanpa pikir panjang, pria tersebut langsung menjatuhkan diri. Saat mendarat, kedua kakinya menekuk untuk menahan gaya potensial gravitasi yang ditimbulkan. Usai berada di atas tanah, Nobuhisa kembali bangkit dan kembali menyarungkan katananya ke dalam sarung.

"Tempat apa ini?"

Sebuah pintu besar terbuka tepat di depan Nobuhisa. Tulisan "Bio Laboratory First Floor –  Research and Testing Hall" terlihat jelas di atasnya. Firasat buruk langsung menghampiri benak lelaki tersebut.

Nama tempat itu seperti mengisyaratkan ada sesuatu yang berbahaya tengah tersembunyi di dalamnya. Eksistensi yang mungkin sedang dikembangkan oleh penguasa negeri ini secara rahasia untuk menguasai dunia.

Hanya itu yang terpikirkan oleh Nobuhisa saat ini.

Ia pun berjalan memasuki koridor. Di dalam, kegelapan menyeruak bagaikan gurita raksasa yang siap menelan mangsanya bulat-bulat. Bukan hanya itu saja, suhu ruangan tersebut terasa panas bagai di neraka.

Langkah lelaki itu terhenti sejenak.

Ia merasakan adanya bahaya. Matanya bergerak ke segala arah, mencari sosok yang tengah mengintai dirinya. Nobuhisa tahu bahwa yang mengintipnya bukan hanya satu atau dua, namun ratusan pasang mata yang telah siap menghabisinya kapan saja.

Pengalaman di Sekigahara memberikannya insting yang luar biasa dalam hal merasakan keberadaan musuh.

Bau anyir darah menyeruak, membawa pesan kematian melewati koridor demi koridor hingga sampai ke pintu depan tempat Nobuhisa berdiri. Sensasinya mengingatkan samurai tersebut akan bekas-bekas peperangan yang sering diikutinya selama hidupnya.

"Aroma ini, aura, dan perasaan ini. Sudah kuduga di sini adalah tempat penyiksaan."
                                                                     
Tak berapa lama kemudian, ucapan Nobuhisa menjadi kenyataan. Beberapa langkah dari posisinya, terlihat sesosok jasad tengah terbaring melintang di lorong yang hanya diterangi lampu temaram.

Meski terlihat kurang jelas, jenasah itu terlihat mengenakan jubah cokelat. Didorong rasa penasaran, Nobuhisa pun mendekati tubuh tanpa nyawa tersebut perlahan-lahan. Ia tak mau mengambil resiko yang bisa saja ditimbulkan oleh mayat tersebut.

Merasa cukup dekat, Nobuhisa memperhatikan tubuh lelaki itu lebih seksama. Tiba-tiba tubuhnya langsung bereaksi dan meloncat mundur menjauhi mayat tersebut.

Mayat tersebut berambut pirang. Kedua matanya yang terbuka lebar memperlihatkan dua pupil dengan warna berbeda. Sementara lengan kanannya menghilang entah kemana.

"Tak mungkin."

Hanya itu yang bisa diucapkan Nobuhisa. Masih segar dalam ingatannya saat ia berhasil memisahkan kepala lelaki tersebut dari tubuh.Namun, kejadian itu terjadi pada saat pertandingan resmi. Seharusnya pria berambut cepak itu masih hidup karena sistem penyelamatan darurat milik panitia akan bekerja secara otomatis saat ia meregang nyawa.

Dan satu nama langsung terbayang di benak Nobuhisa. Maida pernah menyebutkan secara jelas sesaat sebelum dibunuh oleh sosok tersebut di pusat pembangkit di ronde pertama turnamen antar jagad.

Avius

"Tapi kenapa jasad lelaki itu berada di sini?" Hati kecil Nobuhisa bertanya-tanya.

Logikanya berkata jika memang pada saat itu Avius mati di tangan Nobuhisa, seharusnya kepalanya lah yang akan terpisah. Tetapi di depan mata Nobuhisa saat ini, Avius mati dalam kondisi kehilangan tangan kanannya. Dan itu tak wajar baginya.

Belum tuntas misteri yang berada di hadapannya, kini intuisinya merasakan sesuatu yang berbahaya dari ujung lorong.

Puluhan pasang mata berwarna merah menatap Nobuhisa menatap dari balik kegelapan. Merasa dipelototi, tangan samurai itu langsung mengenggam katananya. Dia sudah bersiap menghadapi serangan kejutan.

Dan tiba-tiba dua bayangan hitam keluar dari ujung lorong. Pergerakan mereka sangat cepat sehingga mata Nobuhisa kesulitan mengikutinya. Kedua sosok itu bergerak memantul-mantul dari tembok satu ke tembok lain.

Dalam sekejap, dua makhluk itu berada mengepung Nobuhisa dari depan belakang. Kilatan dari ujung anak panah yang tengah dibidikkan berkilau menandakan target telah siap terkunci.

Nobuhisa langsung bereaksi cepat. Kali ini kedua tangannya telah mengenggam sepasang pedang yang terselip di pinggang. Menunggu saat yang tepat untuk menetralkan serangan.

Dua anak panah langsung meluncur tepat ke titik vital. Samurai tersebut langsung berputar cepat begitu katana dan ninjatonya langsung tercabut dari sarungnya. Bilah-bilah tajam milik senjata lelaki tersebut memotong anak panah tersebut dalam satu kedipan mata.

Namun serbuan musuh tak berhenti. Puluhan anak panah langsung menyerang dari segala penjuru seolah tak mau memberi kesempatan Nobuhisa untuk beristirahat.

Tapi di mata Nobuhisa, serangan tersebut terlihat tak ada artinya. Dengan kedua pedangnya, samurai tersebut kembali menggerakkan lengannya secepat kilat, mematahkan satu persatu panah yang menghujani tubuhnya. Panah-panah tersebut berjatuhan dalam kondisi rusak.

"Maaf saja, kalian terlalu cepat seratus tahun untuk menyaingi Nasu no Yoichi!!"

Melihat adanya celah, Nobuhisa langsung memanfaatkan keadaan. Dengan satu lompatan, ia memperpendek jarak dengan salah satu pemanah. Sepasang mata samurai tersebut memperlihatkan nafsu membunuh saat menatap musuhnya.

"Ho..ternyata telingamu mirip dengan salah satu peserta turnamen ini. Panjang dan runcing seperti peri dalam buku dongeng," kata samurai berambut panjang saat menatap wajah si penyerang.

Yah, dia adalah Falcon. Dark Elf yang gugur di babak penyisihan beberapa bulan lalu. Seorang pemburu dengan skill berburu yang tak bisa diremehkan.

Senyumnya mengembang saat kaki Nobuhisa menapak. Senyum khas seorang pemburu ketika menatap mangsa yang telah masuk ke dalam perangkap. Saat melihat senyum tersebut, akhirnya samurai tersebut menyadari apa yang terjadi.

"Uaaahhhhh!!!"

Tiba-tiba kaki Nobuhisa tertarik ke atas oleh sebuah jeratan tali. Tubuhnya membentur langit-langit dan menghantam dinding koridor. Sekujur tubuhnya terasa sakit akibat benturan tersebut.

Sementara Falcon langsung mundur ke dalam kegelapan. Begitu juga dengan temannya. Ia langsung menjaga jarak dengan Nobuhisa.

"Keparat!" katana lelaki tersebut langsung memotong tali jebakan. Usai bebas dari jebakan, Nobuhisa langsung mendarat dengan mulus.

Namun begitu samurai itu menjejakkan kakinya, Falcon telah menyiapkan diri dengan menarik tali busur. Secara ajaib, udara langsung bergerak menuju ke busur milik Falcon dan membentuk anak panah.

Panah angin yang siap menembus tubuh Nobuhisa kapan saja.

Dengan tenang, Falcon melepaskan tali busur. Dalam waktu singkat, panah angin tersebut meluncur deras ke arah samurai tersebut dan menggores pipinya. Darah mengalir membasahi wajah Nobuhisa yang mendadak terpaku akibat serangan tersebut.

"Selanjutnya tak akan meleset lagi, manusia terkutuk," ucap Falcon lirih.

Ia kembali menarik tali busurnya yang memadatkan udara menjadi sebuah anak panah kembali. Kali ini, dark elf pemburu mengarahkan busurnya tepat di dahi targetnya. Sementara itu, si bocah rambut ikal hanya bersiaga. Dia hanya berdiam dengan posisi siap menyerang.

"Matilah!!"

Diiringi teriakan Falcon, panah angin tersebut melesat menuju sasaran.

Namun, setelah jeda beberapa detik, dark elf berambut pirang itu merasakan sesuatu yang aneh. Hal yang hanya bisa dimengerti oleh seorang pemburu. Dan itu terjadi di depan matanya.

Tidak ada teriakan kesakitan. Tidak ada darah yang mengalir dari posisi mangsanya berdiri. Dan ia telah menghilang

Darah.

Tiba-tiba hidung Falcon mencium ada bau darah di atas kepalanya. Dan akhirnya ia menyadari sesuatu. Tanpa ragu, kepalanya mendongak ke atas.

Akhirnya matanya menangkap sesuatu. Sebuah pemandangan di mana samurai tengah berdiri terbalik di atas langit-langit sambil tersenyum. Kakinya menempel di langit-langit akibat efek magnetis dari kekuatan petir Akako.

"Maukah kau menyampaikan salamku pada sahabatku di akhirat?" Bilah pedang Nobuhisa berkilauan saat terangkat ke atas, bersiap merampas kehidupan elf kecil yang malang.

Ia langsung mendarat di belakang Falcon. Kemudian lengan kanan Nobuhisa berayun, mengarahkan katananya tepat ke pinggang elf tersebut. Memisahkan tubuh anak kecil itu menjadi dua.

Cairan merah bermuncratan membasahi lantai dan dinding. Sementara jasad peri tersebut terbanting ke lantai. Terlihat dengan jelas, usus dan organ-organ tubuh lainnya terburai keluar membawa aroma tak sedap. Tubuh peri tersebut menggelepar seperti ikan kekurangan oksigen.

Namun akibat terlalu bersemangat, tanpa sengaja katana Nobuhisa terlepas. Pedang itu berputar-putar dan menancap di dinding. Menyadari adanya kesempatan tersebut, seorang bocah berkulit hitam langsung berlari menuju ke arah lelaki tersebut dengan belati terhunus.

Ia melompat ke atas punggung Nobuhisa. Dengan sekuat tenaga, ujung senjata tajam itu diarahkannya ke tengkuk pria berambut gondrong tersebut.

Saat pisau itu nyaris menyentuh kulit lehernya, Nobuhisa langsung berputar menghindarinya dan langsung melancarkan pukulan tapak terbuka menuju ke wajah bocah hitam tersebut.

Secara ajaib, tiba-tiba tangan Nobuhisa diselimuti cahaya yang dikelilingi petir. Pukulan Nobuhisa mengenai anak berambut mohawk ikal tersebut dengan telak.

Akibatnya, anak lelaki itu langsung terpental menghantam dinding dan jatuh terjerembab. Wajahnya meleleh akibat efek petir dari serangan barusan. Tak berapa lama kemudian, bocah berambut hitam keriting itu mati dengan tubuh mencair.

"I...ini?"

Nobuhisa memasang wajah setengah tak percaya saat menatap lengannya yang bersinar. Tiba-tiba sebuah suara tanpa rupa mampir di kepalanya tanpa permisi.

"Nobuhisa! Nobuhisa! Kau mendengarku?!"

Nobuhisa memegangi kepalanya. "Siapa kau?"

"Akako, bodoh! Dengan kontrak yang kita buat, aku berhasil menghubungi lewat hubungan telepati. Saat di mana kau berada?"

"Aku tidak tahu tempat macam apa ini. Hanya ada tulisan "Bio Laboratory First Floor –  Research and Testing Hall.."

"Nobuhisa, itu tempat berbahaya! Kau harus pergi dari tempat itu sekarang juga!"

"Jika ada jalan keluarnya, pasti sudah kulakukan sejak dari tadi, bodoh! Apa kau tahu cara meloloskan diri dari tempat terkutuk ini, hah?!!" teriak Nobuhisa.

Tidak ada jawaban dari Akako. Ketiadaan suara gadis merah itu membuat Nobuhisa sedikit merasa dongkol. Bagaimana tidak? Terjebak di bawah tanah dan diserang di dalam kegelapan. Kekurangan informasi membuat tak tahu harus berbuat apa.

Tiba-tiba, terdengar lagi suara lain di dalam kepalanya.

"Nobuhisa, kau masih di situ?"

Menyadari suara tersebut, Nobuhisa langsung merespon dengan cepat. "Nee-san??!! Kau baik-baik saja?!"

"Berkatmu, aku selamat," suara Tsukuyo terdengar pelan, "inilah saatnya untuk memberitahumu apa yang ada terdapat di situ."

"Apa itu?"

"Beberapa hari menjelang kehancuran Alforea, Netori-sama menyegel laboratorium itu untuk selamanya. Sayangnya, kejadian tadi membuat segel itu lepas dan kau tahu apa yang akan terjadi?"

Nobuhisa tersentak. Serangan dua bocah pemanah dan aura membunuh dari balik gelapnya laboratorium membuatnya tersadar akan malapetaka yang dimaksud Tsukuyo.

"Sesuatu yang mengerikan akan keluar dan mengamuk!"

"Yah, ditambah ketiadaan Netori-sama membuat server Amatsu dalam kondisi tak stabil. Jadi ada sesuatu yang harus kau lakukan. Segel lah kembali tempat itu dan kembalilah ke permukaan. Aku akan menceritakan semua detailnya saat kita berjumpa lagi."

"Baiklah, keinginanmu akan kukabulkan. Nee-san, jaga dirimu baik-baik."

"Kau juga, Nobuhisa. Oh, ya! Apa kau mendapat sesuatu di ronde pertama?"

Nobuhisa tak tahu harus bilang apa. Mengatakan bahwa ia pernah berciuman dengan gadis lain akan membuatnya kehilangan harga diri.

"Ti...tidak, aku tidak pernah mendapat apapun pada saat itu."

"Jangan bohong. Aku sudah mengetahuinya, Nobuhisa. Sahabatku telah bercerita banyak hal padaku."

Sahabat, kata tersebut membuat memori samurai tersebut melayang ke waktu setelah dia mengalahkan si pemegang pedang iblis. Dan ia teringat sesuatu.

Seorang gadis dengan kecocokan fisik nyaris seratus persen dengan Tsukuyo. Dialah yang menyembuhkan luka fisik yang diderita Nobuhisa dengan ciuman dari bibir ke bibir. Wanita bergaun merah putih itu pula yang mengatakan padanya bahwa ia telah memberikan sesuatu yang akan membantu Nobuhisa mencapai tujuannya.

"Valentiana."

Tanpa sadar Nobuhisa mengucapkan nama tersebut.

#####

"Aduh, ada di mana ini?"

Di sebuah kamar, terlihat seorang anak lelaki berambut gelombang yang baru tersadar tengah kebingungan menatap sekelilingnya. Hanya berbagai perabotan laboratorium yang tergeletak membisu yang menghiasi ruangan tersebut. Rasa takut mulai menghinggapi hatinya.

"Bu Mawar! Bu Mawar! Ibu di mana?"

Namun tidak ada respon yang menjawab teriakan anak tersebut.

"Ibu...aku takut. Tolongin, Bu" ratapnya.

Tiba-tiba sebuah tangan logam berwarna metalik muncul dari balik lemari. Anak lelaki tersebut langsung melompat mundur karena saking kagetnya.

"Hi.....tolong!!"

Ia pun langsung memutuskan mengambil langkah seribu.

"Sunoto, apakah itu kau nak?"

Langkah Sunoto terhenti saat mendengar suara itu. Suara yang amat sangat ia dikenal. Suara dari wanita yang mendedikasikan hidupnya untuk membimbing Sunoto dan kawan-kawannya.

"Bu Mawar!"

Matanya terbelalak lebar saat sesosok wanita berjaket jingga dengan jilbab yang menutupi rambutnya menampakkan diri. Sunoto pun langsung berlari menubruk Bu Mawar. Kedua tangannya memeluk gurunya tersebut dengan erat seolah takut kembali ditinggal pergi untuk kesekian kalinya.

"Kau tidak apa-apa, Nak?" tanya Bu Mawar ramah.

"Sunoto gak papa, Bu. Sunoto janji gak akan nakal lagi..huhuhuhuhu.."

Namun saat mendekap tubuh gurunya, Sunoto merasakan sesuatu yang aneh. Badan Bu Mawar jauh lebih dingin dari biasanya. Dan tidak ada kemuliaan guru secuilpun yang keluar dari raga pendidik tersebut.

Ketika Sunoto mendongakkan kepalanya ke atas, wajahnya menjadi pusat pasi. Terlihat jelas senyum khas psikopat tercipta dari lengkungan bibir Bu Mawar. Dan telinga Sunoto mendengar sesuatu yang tak terduga dari mulut Sang Guru.

"Kenapa kamu gak mati aja?"

Lengan baja Bu Mawar langsung mencekik Sunoto dan mengakhiri hidupnya dalam sekejap.

#####

"Ah, kenapa aku lupa menanyakan cara menyegel tempat ini?" rutuk Nobuhisa.

Saat ini, samurai itu telah memasuki laboratorium lebih dalam lagi. Sebagian besar tempat tersebut terdiri dari berbagai labirin dan kamar-kamar khusus yang terpetak-petak. Di sepanjang jalan, banyak mayat teronggok seperti sampah sisa di tempat pembuangan.

Bau busuk menyebar ke segala arah, memaksa Nobuhisa menutup hidungnya rapat-rapat. Tempat ini terlihat bukan seperti area penyiksaan biasa baginya. Lebih tepatnya adalah laboratorium ini merupakan tempat percobaan keji seperti dalam kisah-kisah ilmuwan gila yang sering dibaca Nobuhisa.

"To....long a...ku..."

Langkah pria berambung gondrong tersebut terhenti saat mendengar suara. Pendengarannya ditajamkan, mencoba mencari arah sumber suara tersebut. Ia tak menyangka masih ada kehidupan di tempat seperti ini.

"Si..a..papun..,tolong...."

Nobuhisa langsung bergerak menuju ke salah satu kamar yang tertutup. Langkahnya berayun mengikuti jejak suara yang terdengar semakin lemah. Ia menduga bahwa kemungkinan pemilik suara tersebut kini sedang sekarat.

"Hoi..aku datang! Bertahanlah!"

Katana Nobuhisa langsung memotong-motong pintu ruangan tersebut begitu tercabut dari sarungnya. Itulah teknik Iai kebanggaan Nobuhisa. Tak disangka, ia baru mengeluarkannya di saat seperti ini.

"Di mana kau..." tenggorokan Nobuhisa langsung tercekat saat melihat wanita berjaket orange tengah tertindih lemari. Hanya kepalanya yang tertutup jilbab putih yang terlihat.

Tanpa pikir panjang, Nobuhisa langsung menyingsingkan kedua lengan kimononya dan menyingkirkan lemari dari tubuh perempuan malang tersebut. Ia tak bisa membayangkan berapa lama wanita tersebut menderita.

"Apa kau terluka? Jika ada tulangmu yang terasa patah, katakan saja." Tangan samurai tersebut terulur ke arah wanita tersebut.

Kepala wanita itu menoleh pelan. Dipandangi wajah Nobuhisa lekat-lekat.

"Maaf udah ngrepotin Akang," perlahan wanita itu bangkit, kini ia dalam posisi terduduk sambil berselonjor kaki, "nama saya Kusumawardhani, panggil saja Bu Mawar. Sekali lagi, terima kasih udah nolongin saya."

Nobuhisa ikut duduk bersama. "Tidak apa-apa, sudah jadi kewajibanku menolong wanita yang tak berdaya. Tunggu, sepertinya aku sering melihatmu. Apa kau salah satu peserta turnamen ini?"

"Iya," angguk Bu Mawar lemah, "saya ke sini buat nyari murid-murid saya. Oh, ya. Kalau kamu? Dari penampilannya, sepertinya kamu dari Jepang."

"Namaku Nobuhisa. Nobuhisa Oga, asalku dari Satsuma. Aku dipaksa pindah ke sini setelah tak sengaja membuka surat." Ia menghentikan suaranya sambil mengangkat tangan. "Ada yang datang.."

Tanpa dikomandoi, pandangan kedua peserta langsung tertuju ke arah ujung lorong. Raut wajah mereka langsung menegang saat sesosok pria berambut jabrik dengan celana jeans pendek melangkah pelan.

Aura lelaki tersebut begitu dipenuhi ketenangan namun telah tercemari hawa nafsu membunuh yang luar biasa. Itulah yang dirasakan Nobuhisa saat ini. Tapi tidak bagi Bu Mawar. Di depan matanya, tengah berdiri orang yang sangat ia kenal.

Seorang lelaki berangasan dengan hasrat bertarung yang murni. Tapi ia juga dipenuhi sportivitas yang tinggi. Pria yang pernah menantang sang kuda raksasa sembrani di babak penyisihan. Ia juga yang membopong jenazah Dilham yanng tewas di tangan wanita jelmaan kuda terkutuk tersebut.

"Ragga...Bang..."

Bu Mawar melafalkan nama itu dengan hati bergetar. Ia tahu, dari segi kekuatan, pria ini patut diwaspadai. Begitu juga dengan Nobuhisa, ia tahu makhluk di hadapannya tak bisa dianggap remeh.

Nobuhisa langsung berdiri. Tangan lelaki  tersebut kini menggenggam katananya lebih erat. Aura petir pun mengaliri pedang Nobuhisa. Nafas samurai itu mulai bergerak seirama dengan detak jantung demi menstabilkan aliran kekuatannya. Matanya menatap tajam ke arah Ragga Bang.

"Mawar, mundurlah! Biar aku yang menangani pria ini!"

"Hey, sopanlah sedikit terhadap guru!" tegur Bu Mawar.

"Baiklah! Baiklah! Mawar-sensei, mundurlah!"

Akhirnya Bu Mawar pun mundur. Tampaknya tak ikut campur dalam suatu pertarungan adalah ide terbaik. Ia tak mau mati sebelum menemui murid-muridnya.

"Berhati-hatilah, Tuan Samurai.."

Usai Bu Mawar menyingkir, kini tinggal Nobuhisa dan Ragga yang berdiri berhadapan. Mereka saling menatap dalam ketenangan. Hanya suara air yang menetes jatuh ke lantai yang terdengar.

Wuusssssshhhh!!!!

Gelombang air tercipta saat kaki Ragga menolak. Ia meluncur ke arah Nobuhisa dengan kecepatan tinggi. Sementara Nobuhisa yang terlambat bereaksi hanya bisa bertahan dengan menyilangkan kedua tangan.

"Ragga Punch!"

Suara ledakan terjadi saat tinju Ragga menghantam pertahanan Nobuhisa. Samurai itu pun langsung terpental begitu menerima serangan tersebut. Namun ia langsung melakukan backflip dan mendarat sambil berlutut.

"Sial.."

Nobuhisa tak percaya saat melihat kedua lengannya mengalami luka bakar. Jika ia sampai terlambat menyelubungi lengannya dengan aura petir Akako, bisa dipastikan tulang-tulang Nobuhisa akan patah akibat kuatnya pukulan Ragga.

"Dia bukan pria sembarangan. Bisa dipastikan, ia sekuat Asep. Jika aku tak bisa mengalahkannya, bagaimana mungkin aku akan mengalahkan Asep. Sial! Dunia ini memang dipenuhi petarung gila seperti mereka," rutuk Nobuhisa.

Ia pun memungut katananya yang terjatuh. Kemudian, ujung bilahnya teracung ke arah Ragga.

"Kepalamu milikku, rambut ayam!"

Nobuhisa berlari ke arah samping menjauhi Ragga. Si pegulat itu pun terprovokasi dan mengikutinya. Langkah kakinya sungguh cepat, melampaui Nobuhisa. Kemudian ia melayangkan tinjunya ke wajah Nobuhisa. Samurai itupun langsung memiringkan kepalanya.

Duaaarrr!!!!

Suara ledakan terdengar keras saat pukulan Ragga mengenai tembok. Dinding langsung hancur dan meninggalkan lubang besar yang menganga.

Nobuhisa pun tak tinggal diam, ia berputar sambil mengayunkan katananya ke arah leher pegulat itu. Petir mengaliri bilah pedang Nobuhisa, menambah ketajaman sehingga cukup memisahkan kepala Ragga dari tubuhnya dalam sekali tebas.

Namun tebasan Nobuhisa tertahan oleh gauntlet milik Ragga. Tapi efek petir Akako mengalir melalui gauntlet menuju ke tubuh pegulat tersebut. Ragga pun terpental akibat tegangan listrik.

"Uuuuhhhh!!!"

Ia langsung terjatuh usai menghantam dinding. Tubuh Ragga mengeluarkan sedikit asap. Ia pun berusaha berdiri meski rasa sakit dan gemetar menjalar ke seluruh tubuh. Dan seperti pertama kali, Ragga tak mau banyak bicara.

"Hebat! Tampaknya kau masih bisa bertahan. Kau memang sekuat Asep."

Senyum Nobuhisa tercipta usai berhasil membalas serangan.

Sementara itu, Bu Mawar hanya bisa berdiam diri di sudut. Mulutnya tak henti komat-kamit berdoa agar pendekat pedang tersebut menang.

"Uuuoooooooooooo!!!!"

Nobuhisa berlari dan melompat tinggi ke depan. Katananya teracung ke atas, bersiap membabat habis raga milik pegulat pendiam tersebut.

Namun, Ragga tak tinggal diam. Saat bilah pedang tersebut hampir menyentuhnya, dia cepat-cepat berputar ke samping menghindari serangan. Kemudian Ragga langsung menerjang Nobuhisa sampai mereka jatuh berguling-guling.

"Brengsek!" kaki Nobuhisa langsung menghantam perut Ragga. Samurai tersebut melanjutkan dengan tinju tangan kirinya lurus ke dada lelaki berambut konyol itu dengan petir terselubung. Akibatnya, ia langsung terhempas ke lantai begitu keras. 

"Ayo, berdirilah! Mana harga dirimu sebagai petarung sejati, huh?! Cuma seperti itu saja, kau tak bisa berdiri? Ayo, beri aku tinjumu! Lukai aku dengan tendanganmu! Mari kita selesaikan saat ini juga!!" pancing Nobuhisa.

Rahang Ragga mulai berbunyi saat gigi-giginya beradu. Otot-ototnya menegang.  Meski demikian, dia tetap tak mau berbicara banyak. Dia lebih suka tangan dan kakinya yang berbicara dengan musuh. Namun baru pertama kalinya Ragga melihat ada yang memprovokasinya habis-habisan. Jika dia yang asli, mungkin akan berbeda ceritanya.

Jika yang asli..

Ragga yang di hadapan Nobuhisa bukanlah Ragga yang dikenal Bu Mawar. Lebih tenang dan tak banyak cakap. Tak mudah tersulut emosi.

Namun, Ragga tetaplah makhluk yang memiliki kesabaran terbatas. Dan sekarang ia berada di puncak kesabaran itu. Matanya kini berkilat-kilat saat memandang Nobuhisa yang tersenyum mengejek.

"Baiklah! Untuk menambah keseruan, aku membuang pedangku," katana Nobuhisa terjatuh, "sekarang, cukup tangan dan kaki kita yang beradu satu sama lain," ucapnya seraya memasang posisi kuda-kuda sedang.

Aura kebiruan mulai menjalar ke seluruh tubuh Nobuhisa. Suara listrik menyemarakkan suasana yang sebelumnya hanya diramaikan oleh hantaman tinju dan tebasan pedang.

Di sisi lain, Ragga Bang tengah berdiri dengan posisi kuda-kuda ringan. Mulutnya melafalkan sesuatu.

"Steroid Body, level satu.."

Otot-otot di sekujur tubuhnya mulai mengeras dan berubah ukuran. Tubuh Ragga menjadi sedikit membesar akibat jurus tersebut. Nobuhisa pun langsung memasang sikap waspada. Ia tahu, saat ini lawan di hadapannya tengah meningkatkan kekuatan secara drastis.

Tiba-tiba, Ragga langsung menghilang. Dan dalam sepersekian detik, Nobuhisa merasakan ada sesuatu yang tengah menekan perutnya.

"Uaaaarrrggggghhh!!"

Tinju Ragga meledak tepat di perut Nobuhisa. Tetapi serangan tersebut membentur aura pelindung yang menutupi samurai tersebut. Tak ayal, kini giliran Nobuhisa yang memuntahkan darah segar.

Kemudian, Ragga melanjutkan dengan menjambak rambut gondrong Nobuhisa. Dilemparkannya tubuh pria Jepang itu ke atas dan sebuah tinju menghantam wajah pendekar pedang tersebut. Raga Nobuhisa langsung menghantam bumi dengan keras.

"Steroid Body, level 2."

Tubuh Ragga kembali membesar. Kemudian ia melompat ke langit tepat di atas Nobuhisa terbaring. Tanpa ampun kedua kaki Ragga menginjak perut samurai tersebut.

"Aaaarrrrrgggghhhh!!!"

Jeritan Nobuhisa terdengar keras. Berkali-kali, tubuhnya dinjak-injak oleh Ragga dengan intensitas kekuatan luar biasa. Raga samurai tersebut semakin amblas masuk ke bumi.

Bu Mawar hanya bisa pasrah melihat keadaan tersebut. Menghentikannya dengan kata-kata? Sangat mustahil bagi dua orang yang memilih pertarungan sebagai jalan hidupnya.

"Steroid Body, level 3."

Sekarang ukuran tubuh Ragga dua kali lipat ukuran normalnya. Di udara, ia bersiap dengan kedua kakinya. Sebuah serangan yang memiliki peluang kematian sembilan puluh sembilan persen jika sampai kena.

Dengan memanfaatkan gravitasi, kaki Ragga meluncur lurus ke bawah bak tombak Izanagi yang mengaduk-aduk dunia. Bersiap mengoyak perut Nobuhisa dalam sekali tusuk.

Namun Nobuhisa menolak untuk mati. Dengan cepat, ia berguling ke samping menghindari serangan. Kaki Ragga langsung menghujam tanah dan menancap begitu dalam.  Ragga mencoba mengangkat kaki tapi efek Steroid Body level 3 mengakibatkan ia tak bisa bergerak akibat kecerobohannya itu.

"Waktunya penghabisan.."

Nobuhisa bangkit perlahan. Matanya menyala-nyala dalam gelap, menatap mangsa yang terjebak oleh ulahnya sendiri. Kedua tangannya tertutupi sarung tinju petir. Semangat Bushido berkobar hebat dalam sanubarinya.

"Untuk semua musuh yang pernah kulawan, kau yag terbaik. Berkat kau, aku sudah lebih dari siap untuk meladeni Asep. Yeah, kawan..sekarang giliranku memberi hadiah spesial!"

Nobuhisa bersiap dalam posisi menyerang. Petir di tubuhnya semakin menggila, merespon perasaan penggunanya yang lapar akan pertarungan. Kedua kakinya menekuk, menunggu perintah dari otak untuk meluncur.

"Raiden no Tekken!"

Tinju kembar Nobuhisa melesat dengan kecepatan tinggi. Namun Ragga telah menyambutnya dengan dua tangan yang berkobar api. Kini ia juga telah siap menggunakan jurus andalan.

"Steroid Body, level 4! Ragga Twin Punch!"

Dua serangan langsung beradu dan menimbulkan gelombang energi dahsyat. Cahaya akibat benturan tinju kedua pria tersebut bersinar menerangi seluruh ruangan. Mereka yang tengah beradu tinju saling mendesak satu sama lain, memutuskan siapa yang akan mati hari ini.

Tanah di belakang mereka mulai menunjukkan tanda keretakan. Kedua kaki milik para lelaki itu mulai menembus bumi akibat menahan beban. Otot-otot menegang, mengeluarkan segenap tenaga.

"Urrrryyyyyyeeeeeaaaaaahhhhh!!!! Aku tak akan mati sebelum bercinta dengan kakakku!!!"

Tiba-tiba tangan Ragga melebur dan tertembus oleh tinju petir Nobuhisa. Samurai itu terus melaju sambil meneriakkan semangatnya. Tangan lelaki Satsuma menghancurkan pertahanan Ragga bak buldozer menembus lebatnya hutan.

Duaaaaaarrrrrr!!!

Tubuh Ragga meledak saat tangan Nobuhisa berhasil menghancurkan kedua lengan miliknya. Darah menyebar kemana-mana termasuk juga mengotori tubuh Nobuhisa. Kini sang pegulat palsu telah menemui ajalnya.

"Hosh..hosh..hosh."

Sementara Nobuhisa langsung jatuh berlutut. Ia tak sanggup berdiri akibat staminanya terkuras habis usai pertarungan tersebut. Lelaki itu baru mengetahui, menggunakan kekuatan iblis Akako akan menguras begitu banyak tenaga.

"Ah, benar-benar...dia..luar biasa.." Nafas Nobuhisa terengah-engah. Rasa lelah luar biasa mendera begitu banyak tubuhnya.

Dan secara mengejutkan, sebuah cahaya merah keluar dari mayat Ragga. Secepat kilat, cahaya itu langsung masuk ke dada Nobuhisa. Ia bisa merasakan panas yang luar biasa menjalar ke seluruh tubuh. Tak lama kemudian, panas itu menghilang seketika.

Aneh, usai kejadian unik tersebut, Nobuhisa merasakan tubuhnya kembali pulih. Luka dan rasa sakit di tubuh lelaki itu lenyap seketika. Sama persis sewaktu Valentiana menciumnya pada waktu itu

Apa ini kekuatan yang diberikan Valentiana? batinnya.

"Tuan Samurai.." Bu Mawar tergopoh-gopoh berlari menuju ke arah Nobuhisa.

Nobuhisa menoleh ke arah wanita tersebut dengan tatapan hangat.

"Aku tidak apa-apa, Mawar-sensei. Mari kita cari jalan keluar dari sini."

####

Usai kejadian tersebut, kedua peserta itu langsung meninggalkan ruangan tersebut. Mereka berjalan menelusuri lorong gelap yang hanya diterangi lampu yang mati-hidup akibat arus listrik yang tidak stabil. Tidak ada suara percakapan yang terdengar dari mulut.

Untuk saat ini, Bu Mawar hanya berdiam diri. Tak enak rasanya mengajak bicara pada lawan jenis yang bukan muhrimnya. Apalagi di tempat seperti ini, hanya berdua ditemani pekatnya gelap.

"Masya Allah! Apa yang kupikirkan?" Bu Mawar menepuk pipinya sendiri.

"Ada apa, Mawar-sensei?"

"Tidak apa-apa," Bu Mawar memalingkan wajahnya, "saya gak biasa jalan berduaan ama lelaki selain suami saya."

"Oh," Mata Nobuhisa menatap nakal, "sudah menikah. Aku pikir kau masih gadis."

"Hussshh..jangan berani goda saya, ya! Saya cuma mau nerima yang seiman dengan saya!"

"Ups, maaf.." Tangan Nobuhisa menutup mulut. "Lalu, apa yang kau lakukan di sini?"

"Nyari murid-murid saya. Sudah beberapa bulan ini, anak-anak hilang di kampung." Terdengar suara Bu Mawar menghela nafas, "tapi nasib mereka semua bernasib tragis."

Wajah sendu kini memancar dari Bu Mawar. Masih tersisa sedikit keputusasaan dari wanita berjilbab tersebut. Sudah beberapa kali, ia ditinggal mati oleh orang terkasih. Pertama suaminya, dan kini anak muridnya banyak yang mati di sepanjang turnamen.

"Lalu kenapa kau tidak mundur saja dari turnamen ini? Toh semua orang yang kau cari telah meninggal, kan?" ucap Nobuhisa.

"Tidak, jika saya bisa memenangkan turnamen ini maka apa yang saya inginkan bakal tercapai. Saya bisa menggunakan Laplace untuk menghidupkan kembali murid-murid saya yang mati sebelum waktunya. Cuma itu sih."

Kening Nobuhisa berkerut, "Laplace? Benda apa itu?"

"Apa kamu tidak tahu? Gara-gara benda itu, kita dan para peserta lainnya terjebak di sini usai diserang raksasa hitam."

"Raksasa hitam? Apa makhluk itu yang membuat gempa di Colloseum?"

"Yah. Usai pertandingan, tiba-tiba makhluk itu muncul dan membuat kekacauan," kepala Bu Mawar menunduk, "dia juga yang membuat para peserta jatuh ke perut bumi."

"Ho, pantas," Nobuhisa hanya mengangguk.

"Bagaimana denganmu, Nobuhisa?"

Mata Nobuhisa tertuju ke langit. Dalam hati, ia merasa belum ada motivasi apa-apa demi memenangkan pertempuran ini. Hanya harga diri sebagai seorang samurai yang mendorongnya sampai sejauh ini.

"Entah, aku hanya ingin menang. Karena kalah adalah hal yang paling memalukan bagi samurai," jawab Nobuhisa polos.

"Aku mengerti. Aku sering membaca kisah tentang kaum kalian," ucap Bu Mawar pelan, "bolehkah aku minta tolong padamu?"

"Apa? Selama aku sanggup, aku pasti bisa membantu," Nobuhisa melirik ke arah tubuh Bu Mawar, "asalkan..."

"Tidak!" Tangan Bu Mawar langsung menutup bagian dada, "aku sudah tahu jalan pikiranmu!"

"Ah..baiklah, baiklah. Masalah itu bisa diatur nanti. Nah, terus apa yang kau butuhkan?"

"Aku ingin bertemu dengan Sunoto. Dia muridku yang tersisa, hatiku akan hancur jika semua muridku meninggalkanku untuk selama-lamanya."

"Oke, permintaanmu kuterima. Lalu apa kau ada sedikit informasi tentang tempat ini?"

Langkah Bu Mawar terhenti. Dipandanginya segala sudut lorong tersebut. Kemudian ia mencoba menghubungkan semua kejadian yang terjadi di tempat ini dengan insiden serangan tersebut.

Dan ingatannya melayang ke sosok Ragga Bang. Ia ingat betul seperti apa pria tersebut sewaktu bertemu di babak penyisihan. Amat kontras dengan Ragga Bang yang dilawan Nobuhisa. Tenang dan fokus.

Benar juga, tidak ada penjelasan lain, pikir Bu Mawar

"Jika aku tak salah duga, tempat ini adalah pabrik pengkloningan para peserta dengan kemampuan bertempur tingkat tinggi. Asep, Ahran, Ronnie, Nely dan Ragga Bang. Mengingat basis dunia ini adalah digital, kemungkinan data petarung unggul akan dikloning untuk proyek penciptaan pasukan tempur."

Nobuhisa hanya bisa terpana saat mendengar penjelasan analisis Bu Mawar. Sudah kuduga, wanita ini bukan orang sembarangan. Dia bisa menganilisis tempat ini hanya dengan melihat saja, pikir samurai tersebut.

Pemikiran Nobuhisa tidaklah salah. Pengalaman menangani kasus hilangnya anak-anak meningkatkan intelejensi Bu Mawar secara drastis. Wanita itu bak seorang detektif professional handal.

"Bagaimana kau tahu?" tanya Nobuhisa.

"Aku hanya menghubungkan semua kejadian yang ada dengan suasana tempat seperti ini. Onggokan mayat peserta yang gugur di medan perang, kepribadian Ragga Bang yang bertolak belakang, dan semua peralatan ala laboratorium percobaan. Hanya itu yang bisa kusimpulkan sejauh ini," kata Bu Mawar tegas.

"Hmm..iya juga. Soalnya sebelumnya aku juga pernah membaca tulisan di pintu masuk tempat ini. Kalau tidak salah, um... Bio Laboratory First Floor –  Research and Testing Hall!"

"Berarti dugaanku tak salah," jari Bu Mawar memegang dagu, "tempat ini adalah pabrik pasukan tempur."

"Yang kau katakan sama seperti opini kakakku," Nobuhisa menunjuk ke arah tabung-tabung inkubator yang berjejer di sebuah kamar di sebelah mereka, "tabung-tabung itu. Coba kau lihat isinya."

Jantung Bu Mawar langsung terasa berhenti berdetak. Di dalam penglihatannya, terlihat kloningan dari para peserta yang dikenalnya selama ini.

"Ragga.. tunggu! Ada Asep, Mang Ujang, Ahran, Aragon, Radith, Cat, Nely, Frost, Yin Go" ucapan Bu Mawar terhenti.

"Jika Asep ada di antara mereka, berarti ada kemungkinan. Bukan hanya mereka yang gugur, tapi kita. Peserta yang masih bertahan juga telah dikloning."

"Dan bisa jadi kita akan menemui kloning diri kita," sahut Bu Mawar pelan, "mengingat apa yang terjadi pada Ragga, kemungkinan kembaran diriku merupakan representasi dari [Kehinaan Guru]."

"Ya ampun, seperti itukah cara penguasa negeri ini memperlakukan kita?" keluh Nobuhisa, "aku tak mau bertemu diriku yang tak punya [Bushido] dan pecinta sesama jenis."

"Kupikir semua samurai itu homoseksual. Itu yang kubaca dari artikel internet."

"Hah?! Yah, kuakui! Sebagian besar samurai memang suka memasukkan penis mereka ke dubur pasangan shudo mereka. Para bajingan itu memang tidak tahu hangatnya tubuh wanita! Terutama Nobunaga, dengan hati riang, dia mengumumkan Ranmaru sebagai kekasihnya di khayalak umum, hoeekk!" umpat Nobuhisa sambil meludah.

"Sebegitukah kau membenci kaum seperti mereka? Kupikir para samurai saling menghormati satu sama lain."

"Tidak semua, ada samurai yang lebih suka berkeluarga atau melajang seumur hidup menjadi seorang biksu. Mereka yang patut mendapat kehormatan sebagai lelaki sejati," tangan Nobuhisa terkepal kuat.

Tiba-tiba sebuah lubang berdiamater tiga meter mendadak muncul di bawah kaki kedua peserta tersebut. Menelan mereka ke dalam perut bumi yang lebih dalam.

"Mawar-sensei!"

Tangan Nobuhisa langsung menarik Bu Mawar. Dipeluknya erat-erat dengan posisi tubuh wanita tersebut di atas. Selubung petir biru membungkus badan kedua insan tersebut, melindung mereka dari bahaya potensial gravitasi yang bisa saja merenggut nyawa mereka sewaktu-waktu.

Sementara itu, di bawah mereka terlihat titik cahaya putih. Semakin lama, titik cahaya itu semakin besar. Lalu menyilaukan mata kedua peserta tersebut. Sebuah jalan keluar telah menanti mereka.

####

"Aduh..duh, di mana lagi ini?"

Sambil memegangi kepalanya, Bu Mawar mencoba bangkit berdiri. Begitu juga Nobuhisa, dengan tubuh yang disangga pedang miliknya.  

"Akhirnya kau datang juga, Mawar."

Seorang wanita dengan rupa sama persis dengan Bu Mawar tengah melayang turun di hadapan kedua peserta. Aura gelap menyelimutinya, memberikan kesan intimidasi yang luar biasa. Senyumnya begitu mencekam. Entah iblis apa yang merasuki kembaran wanita berdarah Sunda tersebut.

"Dia bukan kloning biasa," ucap Nobuhisa.

Yah, sosok di hadapan mereka bukanlah hanya sekedar kloning dengan kepribadian terbalik dari aslinya. Ada sesuatu yang lebih jahat tengah merasuk ke daam raga wanita tersebut. Yang pasti ini bukan tentang setan atau roh jahat macam apa yang merasuki.

Yang merasuki kloning Bu Mawar adalah kegelapan, kejahatan sejati yang menghisap keputusasaan tiap makhluk hidup.
Dark Mawar.

Matanya berwarna merah menyala. Dinding-dinding mulai retak saat sang kembaran Bu Mawar berjalan pelan melewatinya.

Tiba-tiba langkah Dark Mawar palsu terhenti. Tatapannya tertuju ke arah Bu Mawar. Saat dipelototi oleh kembarannya, sang guru merasakan kebencian dalam tingkat yang tak bisa dibayangkan.

"Lempar mayatnya!" teriak Dark Mawar.

Dari balik kegelapan, sebuah jasad tak bernyawa terbang seolah dilontarkan oleh sesuatu. Kemudian mayat tersebut jatuh tepat di hadapan Bu Mawar.

"Su...Su...no," mulut Bu Mawar berhenti berucap saat menatap kondisi tubuh tak bernyawa di hadapannya.

"SUNOTOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO!!!!!!!!!!!!!!!!"

Tanpa pikir panjang, janda muda itu langsung berlari memeluk jenazah tersebut erat-erat dengan deraian air mata. Butir-butir air keluar bak air terjun dari mata Bu Mawar. Kesedihan dan keputusasaan melingkupi seluruh ruangan. Kini tak ada harapan lagi baginya untuk membawa pulang para muridnya yang terkasih. Sungguh tak terbayangkan bagi Bu Mawar bahwa semua anak-anak yang menjadi amanahnya sebagai guru telah meninggalkannya untuk selama-lamanya.

Sementara mata Nobuhisa mulai berkaca-kaca ketika melihat peristiwa itu. Kepalanya tertunduk, tangannya bergetar hebat, matanya tertutup seolah tak kuat menghadapi peristiwa kejam ini. Apa yang dilihatnya saat ini jauh lebih menyakitkan ketimbang melakukan harakiri.

Rasa marah mulai menguasai samurai tersebut. Apa yang dilakukan si kembaran terkutuk itu memang tak bisa dimaafkan. Jika Dark Mawar bukanlah seorang wanita, mungkin kepalanya sudah terpisah oleh pedang Nobuhisa beberapa saat yang lalu.

"Ayolah, Mawar. Berubahlah menjadi kegelapan dan bersatulah denganku. Aku sudah melihat semuanya sejak kau berada di sini. Kekuatanmu, kekuatan untuk menundukkan setiap makhluk hidup. Ayo, lebih gelap lagi! Lebih putus asa lagi! Lebih hina lagi!"

Ocehan Dark Mawar terdengar begitu pedas di telinga Nobuhisa. Tanpa basa-basi, ia langung mencabut katana dari sarungnya.
                                                                                                  
"Diam kau, palsu!"

Sebuah gelombang petir tercipta dari sabetan Nobuhisa dan langsung menuju ke arah Dark Mawar.

"Garrand!"

Seorang pria mendadak muncul di depan Dark Mawar dan menghalau serangan Nobuhisa dengan perisai raksasa. Teknik tebasan samurai itu langsung menyerbu tanpa ampun. Cahaya terang tercipta akibat benturan energi dan menutupi pandangan.

Usai serangan tersebut, asap sedikit mengepul dari tameng emas. Namun tak ada kerusakan sedikitpun pada benda itu.

"Tak mungkin," mata Nobuhisa menunjukkan ketidakpercayaan dengan apa yang dilihatnya.

"Hahahahahahaha! Lihat apa yang terjadi, samurai! Seranganmu tak akan bisa menghancurkanku semudah itu!"

Dengan percaya diri, Garrand melangkah ke depan. Mendekat ke arah Nobuhisa dan Bu Mawar. Sementara kedua orang itu memasang posisi waspada.

"Baiklah, Garrand. Kuserahkan padamu, tapi perempuan itu tak boleh mati sebelum sampai di hadapanku. Aku harus mundur dulu sampai seluruh hati dan jiwa wanita ini diliputi kegelapan," ucap Dark Mawar.

"Baik, Nyonya besar. Setelah ini, bolehkah aku bersetubuh denganmu?"

"Keh! Kenapa kau tak lakukan itu pada wanita tersebut? Akan sangat bagus jika pikirannya menjadi [Kehinaan Guru] gara-gara tubuhnya dijamah oleh lelaki selain suaminya. Kasihan sekali dia, janda kembang yang belum sempat dijamah oleh kekasihnya tercinta."

Usai mengatakan hal itu, Dark Mawar langsung lenyap tak berbekas. Untungnya, Bu Mawar tak sempat mendengar karena masih sibuk meratapi jasad Sunoto. Ia masih tenggelam dalam kesedihan.

"Kau....," Kaki Nobuhisa melangkah, membawa amarah luar biasa, "bajingan!"

"Huh, apa katamu? Mustahil bagimu untuk mengalahkan pertahanan absolutku. Pedangmu tak akan bisa menembuh perisaiku." Garrand tersenyum mengejek," lalu, apa yang akan ka lakukan dengan pedang jelekmu itu?"

Nobuhisa hanya bisa menggeram marah. Kemudian, tatapannya beralih ke Bu Mawar. Terlihat amat jelas, aura kegelapan mulai melingkupi Bu Mawar. Nobuhisa berjalan mendekat, mencoba meringankan hati perempuan yang telah hancur.

Sesaat, ia merasa heran. Entah apa yang dimiliki wanita ini sehingga membuat Anjing Gila dari Sekigahara begitu peduli padanya. Ini bukan tentang rasa cinta. Lebih dari sebuah perasaan yang tak tahan melihat seorang wanita begitu menderita.

Tangan Nobuhisa menepuk pundak Bu Mawar dengan keras. Ditatapnya wanita yang usianya terpaut tujuh tahun lebih tua darinya. Sekilas dia terlihat agak mirip dengan Tsukuyo, kakak sekaligus wanita yang paling dicintainya.

"Kau, ingatkah dengan apa yang pernah kau katakan pada waktu itu?"

Bu Mawar hanya melihat wajah Nobuhisa dengan ekspresi kosong. Tiada kata yang keluar dari bibir kecilnya.

"Bagaimana kau bisa lupa? Lap..atau apalah itu! Bukankah masih ada harapan untuk memenuhi semua yang kuinginkan?"

Akhirnya Bu Mawar tersadar. Tidak ada gunanya lagi berputus asa. Lelaki yang baru dikenalnya beberapa saat yang lalu telah menyadarkan apa yang ia incar.

Aura gelap yang menyelimuti Bu Mawar mulai lenyap secara perlahan. Kini ia kembali pada [Kemuliaan Guru]. Jati dirinya yang sejati, ditempa selama puluhan tahun dari kecil hingga sekarang.

"Terima kasih, Nobuhisa." Tangan Bu Mawar menyeka air matanya.

Hanya senyum yang menjadi jawaban Nobuhisa. Kemudian, pandangannya tertuju ke Garrand. Dalam penglihatannya, samurai itu membayangkan saat pedangnya menceraiberaikan tubuh lelaki bertameng magis.

"Sekarang, waktunya permainan dimulai," kata Nobuhisa.

Kini kedua pria itu berdiri berhadapan. Memulai kembali ronde kedua untuk Nobuhisa.

Benar juga, kenapa tak terpikirkan olehku. Aku harus menyelesaikan dalam satu serangan, batin Nobuhisa.

Kini ia mengerti kenapa efek tebasan petir miliknya tidak berpengaruh. Serangan berskala luas tidak akan bisa mempengaruhi perisai Garrand. Jadi hanya ada satu cara instan.

Teknik Gatotsu.

Nobuhisa mulai mengambil nafas. Petir mulai berkilat-kilat di seluruh bilah katana Nobuhisa. Namun kali ini, auranya lebih terfokus.

Ia pun mensejajarkan pedang dengan tangan kirinya yang lurus ke depan. Kedua kakinya memasang kuda-kuda. Tubuh Nobuhisa menyamping, membiarkan arus angin membelai setiap inci dari tubuhnya.

"Ei!"

Dalam satu kedipan mata, tubuh Nobuhisa meluncur melancarkan tusukan. Lurus membentur tameng milik Garrand. Perlahan tapi pasti, ujung katana samurai tersebut menembus benda keras tersebut.

"Mustahil!"

Teriakan keras Garrand bergema saat pedang Nobuhisa menembus jantungnya. Ia benar-benar tak menyangka. Lelaki di hadapannya telah mengalahkannya dalam satu serangan.

"Lihat, inilah akibatnya jika kau menyombongkan diri,"

Pedang Nobuhisa mulai melakukan tugasnya. Bergerak ke atas, membelah tubuh Garrand dari dada ke kepala, tak memberi kesempatan untuk menghembuskan nafas penghabisan.

Jasad lelaki itu pun ambruk. Darah berhamburan keluar memandikan Nobuhisa yang belum bergerak dari posisinya. Untuk kedua kalinya, sebuah cahaya keluar dari mayat Garrand dan memasuki tubuh Nobuhisa. Bu Mawar hanya bisa terpaku saat melihat peristiwa itu.

"Kekuatan baru, kah?" gumam Nobuhisa.

Kini ia mulai mengerti. Hanya saja hal tersebut mulai terjelaskan. Masih banyak misteri yang harus ia ungkapkan. Terutama kembaran kakaknya, Valentiana.

Tiba-tiba Bu Mawar ambruk tanpa sebab. Dengan sigap, Nobuhisa berhasil menangkap badan wanita tersebut. Keringat dingin membasahi sekujur tubuhnya.

"Apa yang terjadi? Hoi! Bertahanlah!" tangan Nobuhisa mengguncang-guncangkan Bu Mawar. Perlahan, mata Bu Mawar kembali terbuka.

"[Kehinaan Guru] telah memanggilku...kumohon, kita harus kalahkan dia sebelum..ugghh.." Dada Bu Mawar terasa sakit.

Sekarang Nobuhisa tahu apa yang harus ia lakukan.


#####

Setelah mengalahkan Garrand, Nobuhisa dan Bu Mawar kembali melanjutkan perjalanan. Hanya saja, kali ini terasa lebih lambat bagi Nobuhisa. Karena Bu Mawar berjalan tertatih-tatih dengan bantuan pipa besi panjang sebagai tongkat penyangga.

Dalam hati Bu Mawar, kenapa kali ini ia tak bisa melawan seperti biasa. Sudah tiga kali samurai yang berjalan di sampingnya telah membantu beberapa kali. Ia sempat merasa sungkan pada samurai tersebut.

Namun, ada satu hal yang bisa ia lakukan saat ini.

Melenyapkan kegelapan hatinya dan membalas budi pada Nobuhisa.

"Kau tidak apa-apa?"

Bu Mawar langsung tersadar dari lamunannya.

"Tidak apa-apa, kita harus tetap berjalan. Aku bisa merasakan dengan jelas di mana dia saat ini?"

"Apa?" Mata Nobuhisa terbelalak lebar.

"Yah, saat aku hampir kehilangan kesadaran. Hawa kegelapannya menyeruak dan hampir merasuk ke jiwaku. Tapi karena itu, ia meninggalkan jejak di sepanjang lorong." Telunjuk Bu Mawar menunjuk ke depan,"kita hampir sampai."

Beberapa meter dari posisi mereka berdiri, terlihat sebuah pintu besar yang terbuka lebar. Mengundang kedua insan untuk masuk ke dalam. Bisa juga menelan mereka ke dalam kematian.

Namun tak ada jalan untuk mundur. Bu Mawar dan Nobuhisa saling berpandangan sejenak. Mencoba bertukar pikiran secara batin.

Mereka pun mengangguk satu sama lain. Diayunkan kaki melangkah ke  kegelapan. Di balik pintu tersebut, angin bertiup segala arah. Menandakan bahwa tempat itu memiliki ruang yang sangat luas. Nobuhisa tahu akan hal itu.

"Hoy, iblis! Keluarlah dan bermain! Kalau tidak," pedang Nobuhisa teracung ke atas."

Terdengar suara tepuk tangan dari arah depan. Dari arah tersebut, terlihat Dark Mawar tengah melangkah. Di kanan kirinya, ada seorang pria berompi hitam dengan pedang khas Timur Tengah di pinggangnya dan lelaki tampan berambut cokelat dengan matanya yang sipit.

"Ahran...Yin Go..," ucap Bu Mawar lirih.

"Selamat datang! Selamat datang! Maaf, ada sedikit persiapan yang harus kulakukan."

Nobuhisa langsung merasa muak saat Dark Mawar berbicara. Mendengar kembaran Bu Mawar mengoceh sangat membuatnya merasa terganggu. Matanya memandang jijik, tangannya terkepal kuat. Ingin sekali rasanya meninju Dark Mawar. Tiba-tiba Bu Mawar melangkah maju.

"Wahai, [Kehinaan Guru]! Ayo kita akhiri saat ini juga!"

Wanita berhati baja itu mulai menatap sang pemalsu tanpa ada rasa takut di matanya.

Nobuhisa tersenyum. Ia merasa sangat senang melihat tatapan teguh Bu Mawar.

Kemudian tatapan samurai itu mulai tertuju ke arah Dark Mawar. Rasa benci dan amarah mulai menyeruak, bercampur aduk menjadi satu. Ingin rasanya mencabik-cabik tubuh jelmaan setan tersebut dan menyebarkannya ke udara.

Merasa dipelototi Nobuhisa, Dark Mawar menyunggingkan senyum sinis.

"Ada apa? Sudah tak sabar memotong-motongku? Kukira kau tak akan melawan wanita," ujar Dark Mawar.

Tidak ada jawaban, Nobuhisa hanya mendelik marah.

"Baiklah, sekarang waktunya pertunjukan utama. Keluarlah, prajurit yang ditakdirkan menghancurkan dunia!"

Bersamaan dengan teriakan Dark Mawar, keluarlah laki-laki berkimono abu-abu. rambut panjangnya tergerai. Sepasang pedang terselip di pinggangnya. Tiada hasrat bertarung yang muncul darinya.

Dialah kloning Nobuhisa.

"Oga-sama!" Seorang gadis berambut biru langit berlari dan memeluk lelaki tersebut.

Oga, demikian nama panggilan pria itu langsung merangkul gadis berambut biru tersebut. Mereka berciuman dengan mesra layaknya kekasih.

Perasaan tidak enak pun menghampiri Nobuhisa. Sekarang ia mulai mengerti bahwa hal yang paling dibencinya tengah terjadi tepat di depan matanya.

Gadis itu adalah Maida. Dan kini ia tengah berciuman dengan Oga, kembaran jahatnya.

"Hentikan, jakudo keparat!"

Nobuhisa langsung menangkat pedangnya dan mengirim sebuah gelombang petir ke arah pasangan gay tersebut. Sebuah ledakan hebat mengguncang seluruh ruangan. Asap berterbangan menutupi pemandangan. Akibatnya dua kekasih sesama jenis itu terbaring dalam diam dengan tubuh bersimbah darah.

Dark Mawar hanya menggeleng-gelengkan kepala.

"Aduh, aduh. Kenapa kau membunuhnya? Sekarang lihat, kau hanya membuat rencanaku berjalan lancar."

Kemudian ia mengalihkan ke arah dua pria yang berdiri mengapitnya, "sekarang waktunya Nobuhisa melahap kalian."

Dark Mawar berubah menjadi asap hitam. Kemudian kumpulan asap hitam tersebut merasuk ke dalam tubuh Oga. Jasad lelaki itu bergetar hebat dan berdiri melayang. Hawa membunuh terpancar luar biasa dari samurai tersebut. Matanya merah menyala menandakan sesi kematian baru saja dimulai.

Secara mendadak, Oga langsung menghilang. Tiba-tiba dia muncul di belakang Ahran dan Yin Go.

"Sekarang, kekuatan kalian menjadi milikku."

Dua pedang Oga menembus jantung kedua lelaki malang tersebut. Tubuh mereka ambruk tanpa sempat memberikan perlawanan apa-apa. Kemudian apa yang pernah terjadi pada Nobuhisa kini terjadi pada Oga.

Dua buah cahaya keluar dari tubuh Yin Go dan Ahran dan masuk ke mulut Oga. Nobuhisa dan Bu Mawar hanya bisa melihat dengan rasa tidak percaya. Mereka tak sadar bahwa monster telah lahir di hadapan mereka.

"Yeah, kekuatan ini. Berkat proyek kloning, sekarang aku bisa menguasai tubuh lelaki ini untuk menyerap segalanya. Oh, andaikan penjaga Verdana tak menanamkan kekuatan itu, samurai ini hanyalah samurai biasa. Hahahahaha.. terima kasih, Valentiana!"

Jantung Nobuhisa berdesir. Kini, ia menyadari sesuatu yang penting di sini. Kloning di sini bertambah kuat seiring perkembangan tubuh aslinya. Cahaya itu, sangat mirip dengan cahaya yang merasuk ke dalam Nobuhisa. Pola kejadiannya juga sangat mirip.

Jadi, misteri kekuatan dari Valentiana telah sedikit terbuka.

Nobuhisa bisa menyerap kekuatan dari musuh yang tewas di tangannya.

Kenyataan yang menggembirakan tapi juga kejam. Tak ada bedanya dengan mayat hidup penghisap darah.

Sang samurai hanya berdiri tegak dengan tatapan layaknya seekor singa. Lalu, ia melangkahkan kakinya seiring gesekan pedangnya yang menggores lantai.

"Maju!"

Dengan teriakan ini,  Nobuhisa berlari seperti angin. Dia mengeluarkan mengeluarkan aura petir di katananya dan menerjang ke arah Oga seperti kilatan cahaya. Dan sebuah badai petir biru mengamuk usai tercipta dari tebasan Nobuhisa.

Oga pun mengayunkan pedang  miliknya kebawah. Dan petir hitam tercipta sebagai jawaban dari serangan Nobuhisa. Melaju ke arah samurai sejati dengan kecepatan tinggi dan menghantam petir biru. Ledakan pun tercipta dengan intensitas dahsyat, menerbangkan material yang ada di tempat tersebut.

Dari balik asap, Nobuhisa melompat keluar. Dengan kedua tangan yang menggenggam katana yang teraliri listrik, ia bersiap melancarkan serangan kedua.
Tanpa ampun, adik kesayangan Tsukuyo tersebut langsung mengayunkan pedang ke pundak  Oga.
Dahi dan pundak Oga pun berdarah karena serangan kejutan Nobuhisa.  Ia pun kembali menyerang, tapi samurai tiruan yang kini dirasuki Dark Mawar berhasil menghindari jangkauan serangan pedang Nobuhisa.
Sembari menghindari serangan Nobuhisa, Oga menunjukkan seringai yang memuakkan. Dia lalu mengayunkan pedangnya ke arah Nobuhisa yang lengah. Untungnya partner Akako itu berhasil menahan serangan itu dengan pedangnya.
Oga pun mengeluarkan kuda-kudanya, dan kemudian pedang mereka saling beradu satu sama lain. Memercikkan bunga api dan listrik.

Nobuhisa dan Oga kembali beradu pedang. Sayangnya serangan Oga lebih kuat dari Nobuhisa, ia berhasil memukul mundur. Tapi Nobuhisa tak menyerah, dengan pedang ninjato di tangan kirinya, Nobuhisa menyerang Oga. Serangan itu berhasil melukai bahu Oga.

"Kau tahu pedangku, kan? Dalam hal ini, kemungkinan besarnya adalah..." ucap Oga sambil mengarahkan kirinya ke tangan kiri Nobuhisa.

Tanpa menyentuhnya, tangan kiri Nobuhisa terluka hingga memancarkan darah.

Oga lalu memanfaatkan keadaan lawannya yang terpaku dengan mengayunkan pedangnya ke leher Nobuhisa. Sang anjing gila pun tersadar dan menunjukkan ekspresi kemarahannya, namun itu terlambat. Pedang Oga telah mencapai leher Nobuhisa.

Tiba-tiba bayangan seseorang masuk diantara pedang milik Oga dengan kecepatan yang mengejutkan. Jilbab putih panjang dan jaket orange melayang di angin di depan mata Nobuhisa.

Sensei---bagaimana bisa---!?

Dengan berani, wanita bertekad baja itu membusungkan dadanya dan membentangkan lengannya lebar-lebar.

Sebuah ekspresi terkejut terlihat di wajah Oga. Tapi tak ada yang bisa menghentikan serangannya sekarang. Semuanya bergerak seakan dalam gerak diperlambat begitu pedang panjang itu membelah jalannya ke bawah, melalui bahu Bu Mawar dan terus hingga ke dada sebelum akhirnya berhenti.

Nobuhisa langsung mengulurkan kedua tangannya pada Bu Mawar begitu dia jatuh kebelakang. Perempuan itu terbaring dalam lengan Nobuhisa tanpa suara. Darah  membasahi jilbab putihnya dan menggenang di lantai.

Begitu pandangannya bertemu dengan Nobuhisa, Bu Mawar tersenyum lemah.

Waktu berhenti.

Sedikit demi sedikit, tubuh Bu Mawar dengan perlahan ditelan seberkas cahaya emas. Sinar-sinar kecil cahaya mulai runtuh dan menjauh.

"Bertahanlah...Oi!!... ini... ini..."

Nobuhisa bergumam dengan suara penuh getaran. Tapi cahaya yang tak berperasaan semakin terang dan semakin terang lalu---Setetes airmata mengalir dari mata Bu Mawar yang bersinar sesaat sebelum menghilang. Bibirnya bergerak sedikit, perlahan, seakan dia memaksakan suara terakhirnya keluar darinya.

M a a f

A k u t a k b i s a m e m b a n t u m u

T o l o n g,  l i n d u n g i  s e m u a n y a

Cahaya yang membutakan meledak dalam tangan Nobuhisa, berubah wujud menjadi berjuta-juta poligon-poligon yang melayang di udara dan tubuhnya tak berbekas sedikitpun.

"Seeeeennnnnseeeeeeeeeeeeeeiiiiiiiiiiiiiiiiii!!!!!!"

Nobuhisa menjerit sekeras-kerasnya dalam sunyi. Tapi poligon-poligon emas terbang ke udara seakan ditiup angin, dimana mereka berpencar dan menghilang. Dengan begitu saja, Bu Mawar telah meninggal.

Ini bukanlah sesuatu yang seharusnya terjadi. Ini tak mungkin terjadi. Ini seharusnya tidak. Seharusnya---. Nobuhisa berlutut di tanah seakan langit hendak runtuh, begitu poligon terakhir melayang turun ke bumi lalu menghilang.

Sementara Oga hanya terkekeh menyaksikan peristiwa tersebut.

"Hehehehehehehe.. sudah cukup dramanya, kawan!"

Namun Nobuhisa terjebak dalam diam. Ia tak bergerak sedikitpun usai kepergian wanita yang belum lama ia kenal. Seperti bom waktu yang diam dan menunggu untuk siap meledak.

"Baiklah, sepertinya aku harus menggunakan jurus milik Ahran."

Oga pun menarik nafas dalam-dalam. Udara berkumpul di dalam paru-parunya, bertukar dengan gas asam arang yang berada di alveolus.

Dan secara ajaib, semburan api meluncur dari mulut Oga. Membakar segalanya seraya bergerak liar menuju Nobuhisa. Namun ia tetap tak bergerak.

Tiba-tiba api milik Oga mulai berbalik arah. Kemudian menghajar tubuh samurai yang berisikan Dark Mawar tersebut tanpa ampun. Akibatnya, jelmaan iblis itu terbakar oleh serangannya sendiri.

"Kurang ajar! Bagaima—"

Tenggorokan Oga tercekat saat Nobuhisa bangkit berdiri. Lengkap dengan katananya. Kimononya terbakar habis, menyisakan luka bakar di sekujur tubuhnya. Lelaki itu berdiri gagah, seolah kembali dari neraka.

"Terima kasihku kutujukan pada kepala ayam itu. Berkatnya, kini aku menguasai sebuah jurus baru."

"Ragga.... Bang," rutuk Oga.

Teknik pembalik serangan, Pressure Counter. Melalui kenangan Bu Mawar yang terhubung dengannya, Oga..tidak, Dark Mawar telah mengetahui jurus tersebut.

"Lalu.." tangan Nobuhisa terkepal kuat. Kemudian ia meluncur ke hadapan Oga dalam dengan kecepatan dewa. Sebuah tinju menghujam perut bajingan tersebut dengan telak.

"Strikebash, potongan kesadaran Garrand memberitahuku soal nama jurus tersebut. Kau bisa merasakan kedahsyatannya, kan?"

Oga langsung jatuh berlutut. Rasa sakit menjalar ke seluruh tubuh. Efek yang pantas untuk serangan dengan kekuatan empat kali lipat dari tinju normal. Kini Nobuhisa berhasil membalikkan keadaan.

Oga mengaum dengan amarah dan mencoba melakukan serangan menebas ke bawah lagi. Kali ini, Nobuhisa menyilangkan kedua pedangnya dan menangkisnya sepenuhnya. Saat postur Oga tidak seimbang, Nobuhisa mencoba melakukan sebuah combo attack.

Katana di tangan kanan Nobuhisa menebas dengan horizontal kearah perut iblis itu. Ninjato di tangan kirinya segera mengikuti untuk menebas secara vertikal ke tubuhnya. Kanan, kiri, lalu kanan lagi.

Nobuhisa mengayunkan pasangan senjatanya seakan saraf di kepala tengah memasuki keadaan akselerasi. Suara dari logam yang beradu terdengar keras satu demi satu ketika api-api putih berkelap-kelip di udara.

"Ahhhhh!!"

Tanpa memperhatikan beberapa serangan yang berhasil ditahan oleh pedang Oga, Nobuhisa terus berteriak selama menyerang tanpa henti dengan pedangnya. Matanya memanas, dan penglihatan darinya hanya ditujukan untuk melihat pembunuh wanita yang malang.

Meskipun pedang Oga masih mengenai tubuh Nobuhisa beberapa kali, benturannya terasa seperti tepukan bantal guling sebelum tidur. Sementara itu, adrenaline terus mengalir ke seluruh tubuh, dan gelombang otak Nobuhisa meningkat setiap kali pedangnya menjangkau sasaran.

Ritme serangan Nobuhisa sudah melampaui dua puluh kali kecepatan normalnya, tapi itu masih terasa sangat lambat di hadapan panca inderanya yang responnya bertambah cepat. Dia masih meneruskan serangannya dengan kelajuan abnormal.

"…Bakuraisaiga!!!"

Dengan teriakan , Nobuhisa mengeluarkan serangan terakhir dari combo terhebatnya yang menusuk dada Oga. Kedua pedangnya menembus jantung sang kegelapan. Listrik pun mengalir melalui setiap unsur logam yang tercampur di dalam katana dan ninjato Nobuhisa. Memancarkan sinar terang pertanda ajal sang iblis di depan mata.

"Kkaaaaaaahh!!"

Oga menjerit kesakitan. Listrik yang memasuki tubuhnya menghancurkan setiap sel tubuhnya. Lalu raganya berhenti bergerak, dan meledak dahsyat. Menyebarkan kegelapan yang langsung musnah ditelan angin.

Ini sudah…berakhir…?

Merasa pusing dari efek samping setelah pertarungan, Nobuhisa mengayunkan kedua pedangku sekali lagi sebelum menyarungkan mereka ke sarungnya yang berada di pinggangnya.

Tiba-tiba penglihatan Nobuhisa menjadi kabur dan kemudian ….., samar-samar terlihat dua cahaya mengambang di langit dan terbang menuju ke arahnya. Akhirnya kesadaran samurai itu benar-benar menghilang. Tubuhnya jatuh tertelungkup memeluk bumi.

Kemudian sebuah pilar cahaya muncul. Menguraikan raga sang pahlawan yang telah menuntaskan tugasnya. Bersamaan dengan itu, sebuah ledakan berantai hebat mulai terjadi.

Tiang-tiang penyangga berjatuhan. Menindih setiap jasad yang gagal lahir menjadi seorang prajurit. Dinding-dinding rubuh, bertumpuk menjadi satu. Menutup sebuah tempat terkutuk untuk sekarang.

Dan selamanya.

#####

"Sudah mendekati akhir, kah?"

Seorang wanita bergaun putih dengan strip merah membujur tengah menatap wilayah Amatsu yang telah porak-poranda akibat serbuan makhluk hitam yang tak dikenal. Bola kristal berwarna biru cerah melayang-layang di dekatnya. Benda tersebut sedang menayangkan apa yang terjadi di bawah tanah, tempat para peserta terjebak.

Sementara, di belakangnya terlihat Tsukuyo dan Akako. Dari sikapnya, terlihat dengan jelas bahwa mereka saling mengenal satu sama lain.

"Apa kau sudah melaksanakan tugasmu, Valentiana?" tanya Tsukuyo.

"Pasti. Sesuai dengan ramalan yang ada, kau membawanya ke dunia ini. Dan aku telah memberi sesuatu yang berguna untuknya. Dan pada saatnya, kita akan kembali bersatu, Tsukuyo..tidak, Lunatique. Salah satu dari pecahan dari jiwa dewi sejati." ujar Valentiana sambil menyilangkan tangan.

"Yah, bagaimanapun juga kau adalah aku. Tidak ada yang bisa kusembunyikan saat ini."

"Aku mengerti perasaanmu," Valentiana menoleh ke arah Tsukuyo, "karena aku juga mencintainya."

Tsukuyo hanya terdiam sambil memandang langit. Sementara Akako memeluk kaki ibu angkatnya erat-erat. Ia bisa merasakan dengan jelas apa yang sedang terjadi di antara kedua perempuan dengan wajah kembar tersebut.

"Dan kau perlu tahu, Longinus Requiem yang ada di tubuh Nobuhisa telah aktif. Kini hari pembalasan telah tiba, Lunatique."

"Yah, Tamon Ruu dan yang lainnya. Sebentar lagi, mereka akan merasakan sakitnya penderitaan."






Upgrade :

Longinus Requiem :  sebuah kekuatan untuk menyerap satu jurus dari lawan yang mati di tangan pengguna. Setiap menyerap jurus lawan maka pengguna juga menyerap kelemahan jurus tersebut. Jika jumlah jurus yang diserap mencapai batas tertentu, sebuah potensi terlarang akan terbuka.

12 comments:

  1. Nobuhisa Oga
    Karakterisasi: 3
    Entah kenapa Nobu berasa kurang ada perkembangan kepribadian dari babak-babak sebelumnya.

    Penulisan: 3.5
    -Masih banyak typo dan kesalahan kaidah bahasa Indonesia. Kayak elipsis, penggunaan huruf kapital, kata yang harusnya di-italic, dsb. Banyak “tersebut” yang kembali bermunculan. Yah, barangkali itu memang gayamu, maka tak terlalu masalah.

    -Sound effect -_-

    -Terus ada:
    Mereka langsung terjatuh ke dalam lubang yang tercipta tepat di atas mereka.  sihir macam apa ini? xD
    Dan masih banyak kesalahan sejenis lainnya.

    Plot: 3.5/5
    -Duh, ada bagian yang begitu (juga). Haduh ....

    -Tapi pertarungannya cukup seru. Banyak klon yang dilawan, menyertai kemampuan mereka juga. Jadi berasa menegangkan, walau udah bisa diprediksi Nobu gak bakalan terlalu banyak kena damage.

    -Dan benar gak ada kerugian yang berarti. Padahal yg dilawan cukup banyak. Nobu jadi terkesan imba. Tapi gapapa, mengingat battle sebenernya bukan ngelawan klon-klon gagal itu.

    -Pasangan gay? Wkwkwkwk xD

    -Skill baru Nobu itu ngingetin sama Alucard, ya. Saya bisa nyium bau-bau battle yg epic andai Nobu maju ke babak selanjutnya—dan kalau bisa sampai ngelawan bos.

    Tapi, maaf Nobu. Menimbang-nimbang beragam aspek, saya putuskan VOTE MAWAR.

    ReplyDelete
    Replies
    1. yep..emng sih..saya berniat meramaikan kembali turnamen dengan kehadiran para peserta yang gugur meski hanya potongan kesadaran

      Delete
  2. tambahan : Longinus Requiem tak bisa menyerap jurus yang elemennya bertentangan dengan jurus sebelumnya. misalnya karena jurus yg diserap Nobuhisa adalah angin, api, dan petir maka ia tak bisa menyerap jurus elemen air dan sbg

    ReplyDelete
  3. Fatanir - Po

    Entri ini fokus juga melawan klonnya ya, sampai akhir porsi battle lawan Bu Mawarnya malah kurang kerasa. Tapi dgn banyaknya klon2 yg ditampilkan, banyak pula teknik Oga yg ditunjukkan, dan Bu Mawar yg kembali pada Kemuliaan Guru, kurasa itu jadi poin positif utk entri ini.teknik Gatotsu yg dipakai Oga ngingetin aku ke teknik Rurouni Kenshin, ternyata bisa utk nembus perisai Garrand ya. Nanti kalau lolos, mgkn ke depannya bisa dipikirkan konflik batin yg lebih dalam utk Oga hadapi, selain konflik fisik jg.

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih udah mampir pak po. yah emang sih, karena di charsheet sendiri, nobu gak bisa melukai wanita seshalehah bu mawar. jadi terpaksa dah fusion klon nobu dan bu mawar buat dilawan nobu sendiri..

      doain aja moga moga nobu bisa nyicipin Ashura milik Fata :D

      Delete
  4. Terlepas dari saya yang belum baca entri R2-R3 Nobu, impresi awal saya tentang karakter Nobu di R4 ini... dia baik. Which is nice. Karena harga diri Ronin masih ketara juga di tindakan dan dialog Nobu, mesumnya apalagi masih kentel. Tambahannya cuma sikap baik itu. Saya paling suka pas dia ingetin bu Mawar kalo kematian Sunoto masih bisa dianulir. Tahap ke tahap penjelasan kekuatan baru Nobu, yang dia dapet dari beberapa pertarungan sebelum pertarungan final, juga bikin semuanya bisa dimengerti. Saya ngakak di bagian-bagian kemunculan kloning Nobu. Beneran aja dia gaaayyyy :v sama Maida lagi! Saya tunggu perkembangannya dari karakter Nobu. Saran saya, pertahanin atmosfer Nobu yang kaya gini. Asli, dia udah kuat, baik, komikal, dan jail. Pejuang yang anehable hhe.

    Saya kira Bu Mawar di sini bakal bener-bener butuh perlindungan Nobu sampai akhir, ternyata... takdir kejam #plak

    Keseluruhan cerita ini enak buat diikutin dan bisa dimengerti sekaligus dinikmati sekali baca, tapi, masih ada eror di bagian teknis. Bisa diperbaiki ke depannya. Soal plot, konspirasi keluarga itu bakal jadi kartu as Nobu kayanya? Atau masih ada kejutan lain? Untuk bagian battle, yap, saya nikmatin setiap adegannya. Jelas, saling serang, Nobu jatoh bangun dari awal. Perisai Garrand pecah XD! Cara mengatasi klon itu juga, nice, dijogres!

    Salam, Eophi~

    [Kalo saya pribadi kasih nilai, saya kasih entri Nobu ini 80, dan entri bu Mawar 90. Selisih sepuluh ada di beberapa bagian yang udah dipikirin bae-bae. Jadi saya vote bu Mawar di R4 ini. Still, good luck, Nobu]

    ReplyDelete
  5. SENSEEEEEEEIIIIII!!!!

    Hmm ... akhirnya sampai saat terakhir, Bu Mawar yang asli nggak kebagian jatah bertempur, ya? ._. Kasihan sekali. Tapi karakterisasi dan emosi si guru udah kerasa banget sih di sini.

    Dialog saat Bu Mawar dan Nobuhisa menjelaskan sesuatu tentang lab dan klon entah kenapa terasa agak aneh buat saya. Mungkin karena penjelasannya terlalu berat di dialog, padahal penjelasannya bisa dimasukkan ke narasi juga. Jadinya nggak kayak sinetron ._.

    Saya agak bingung karena di entri saya, yang saya pakai di narasi adalah Oga. Sedangkan di sini, pakainya Nobuhisa sementara Oga jadi klon. Jadi butuh konsentrasi lebih waktu mereka berdua duel~

    Lawannya Nobuhisa banyak juga. Tapi kayaknya porsi melawan Oga dengan melawan Ragga Bang itu hampir sama intensnya, padahal mungkin melawan Oga akan lebih enak kalau jadi klimaks dengan lebih intens. Walaupun selipan adegan tertusuknya Bu Mawar lumayan membantu intensitas itu.

    Saran lain dari saya mungkin sama kayak komentator yang lain. Tinggal dipercantik adegan battlenya dan diperhalus transisi narasi untuk tiap gerakan. Kayaknya saya udah pernah kasih saran kayak ini. Tinggal terus dilatih saja, sambil pelajari tulisan orang lain. Nanti lama-lama juga terus membaik

    Kemampuan ultimate Nobuhisa ini, saya herannya, kenapa mesti pakai istilah Inggris? ._. Nggak Jepang aja? Misal jadi "Kami no Uta", atau apa gitu

    Oh well. Terima kasih banyak sudah menjadi lawan Bu Mawar. Seru banget sama-sama submit pas deadline / :v \

    Sisanya tinggal berdoa dan menunggu nasib baik.

    OC: Kusumawardani, S.Pd.

    ReplyDelete
  6. Wueeeeeh, Nobu pernah ihik ihik sama kakaknya
    :O
    (walau bukan kakak kandung sih)

    Dialog yang frontal, tanpa sensor dan langsung to the point jadi ciri tersendiri yang saya senangi di sini.
    (WTF!? saya baru tau kalo ada golongan samurai yang Maho)

    Tadinya saya merasa entry ini kehilangan fokus utamanya. Porsi battle yang ada malah dicurahkan untuk melawan Ronnie, juga Garrand, Ahran, Yin, dll.

    Tapi rupanya, semua itu berfungsi sebagai pengantar menuju power up bagi Oga itu sendiri ya. Agak lost juga karena Sensei Mawar meninggal gitu aja. Meski ini ada unsur drama-nya, tapi rasanya tetap aja ada yang kurang ya? Adegan meratap Bu Mawar misalnya, saya sebagai pembaca belum bisa diajak sedih oleh narasi yang ada. (meski saya sendiri sebagai penulis, belum bisa melakukan itu, tapi setidaknya saya pernah membaca satu atau dua karya yang bisa menyeret imajinasi pembacanya ke dalam jurang nestapa.)


    Salam
    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
  7. Hmm... Ukuran font yang terus berubah bikin tempo baca saya terganggu.

    Dari segi penulisan ini masih butuh banyak perbaikan, dari segi battle juga. Memang idenya bagus untuk memasukkan banyak lawan ke dalam satu pertarungan, tapi kebanyakan saling lempar dialog dan monolog di sela pertarungan bikin temponya jadi kerasa lambat.

    Tidak ada waktu untuk berduka dan dramatisasi di tengah pertarungan, lakukan setelahnya.

    Anyway, ini cukup menarik karena sudah mencoba menyajikan battle yang cukup meriah, tapi maaf karena saya masih belum bisa vote ke Nobu.

    Zoelkarnaen
    (OC: Caitlin Alsace, deceased, K.I.A.)

    ReplyDelete
  8. rasanya terlalu padat baca ini...
    ndak ada pembagian pake mode chapter begitu ya?
    cuma di bagi pake ####

    awalnya asik ada cinta-cintaan, ehuhuuyy Fapi senang ini.
    banyak juga karakter lain yang lawas dimunculin, mantep.


    battle meriah dan ada upgrade jurus baru, kayak Fapi *toss*

    masalahnya ada di...
    dialog yang terlalu formal rasanya...
    atau memang itu gayanya oga ya?


    good job untuk entri ini.
    tapi setelah mempertimbangkan.
    Aye lebih tertarik ke entri bu mawar kali ini.

    semangat yaaa!

    ReplyDelete
  9. Kalau dari segi cerita, sebenarnya gak beda jauh sih kualitasnya dari entry Bu Mawar. Tapi emang gak bisa dipungkiri kalau entry ini masih berada sedikit di bawah punya Mas Heru.

    Oga nggak terliat kudu berjuang terlalu keras sepertinya buat maju. Oke lawannya banyak dan sempat sedikit terdesak, tapi toh gak begitu ada efeknya juga karena pada akhirnya Oga bisa menang dengan mudah. Sebenarnya Kai juga seringkali kek gini, tapi bedanya, do sini tidak ada porsi drama atau kedalaman plot cerita sebagai kompensasi. Jadi terlihat sedikit shallow akhirnya.

    Bu Mawar juga sayang banget nggak ada eksplor aksinya, padahal kalo ada bisa ngedongkrak kekurangan entry ini, menurutku.

    No Vote
    Alshain Kairos

    ReplyDelete