5.5.15

[PRELIMINARY] DYNA MIGHT - [DESERT QUARTET] BELLUM SE IPSUM ALET

DYNA MIGHT - [DESERT QUARTET] BELLUM SE IPSUM ALET
Penulis: Sam Riilme


Intro

Dingin.

Di padang gurun yang luas di malam hari, rasa dingin adalah sesuatu yang alami untuk terjadi.

Tetapi bagi Dyna Might—sesosok pesolek dengan setelan putih dan topi fedora menghiasi kepalanya, malam hari di gurun bukanlah satu-satunya alasan mengapa ia merasa begitu kedinginan saat ini.

Melainkan karena seluruh tubuhnya tengah membeku.


Ya. Dyna saat ini tengah terperangkap di dalam balok es seperti seekor dinosaurus dari sekian milenium lalu.

Pemandangan yang sungguh aneh, sebuah balok es di tengah gurun gersang. Meski dalam keadaan ini tubuhnya tak dapat bergerak, entah mengapa mata Dyna masih dapat digerakkan, dan pemandangan yang dapat ia lihat adalah keramaian.

Ia melirik ke kanan, dan mendapati sejumlah pasukan dengan persenjataan zaman kerajaan tengah berbaris rapi dan maju dengan teratur ke arahnya.

Ia melirik ke kiri,dan mendapati sejumlah mahluk…mungkin lebih tepat disebut monster, yang sama sekali tidak seragam sebagaimana para pasukan sebelumnya, dengan berbagai rupa dan bentuk yang tak pernah ia bayangkan, dan kini tengah bergerak ke arahnya juga.

Dan di sinilah ia. Menjadi patung saksi bisu di tengah arena pertempuran yang tidak terelakkan untuk tercipta sesaat lagi.

Dyna ingin menghela napas, tapi apa daya. Yang ada malah menambah bekuan di sekitar mulutnya.

Dyna ingin mengeluh, tapi entah kenapa justru senyum yang terkembang di wajahnya.



Bagaimanapun juga, semua kekacauan ini tak ubahnya seperti sebuah musik bagi telinga Dyna.

*****




1st Verse

-1-

Semua berawal dari suatu pagi yang membosankan, di mana Dyna seperti biasa membuka pintu kasino, melakukan peregangan sejenak, dan menerima surat dari tukang pos seperti biasanya.

Satu persatu ia amati surat yang ia terima. Surat tagihan, surat kabar, buletin kota, majalah model, surat penggemar (bukan untuk dirinya), surat ancaman (juga bukan untuk dirinya)…

Seperti biasa, tidak ada yang menarik.

Kecuali satu.

Sebuah surat terakhir dialamatkan pada dirinya. Jelas di sana tertulis 'yang terhormat, Dyna Might'.

Ia, yang hanya seorang penjaga pintu, baru kali ini menerima surat seperti ini. Selama lebih dari belasan tahun hidupnya bagai kacung di sebuah kapal, baru kali ini ada yang mengirimkan sebuah surat khusus untuknya.

Tapi siapa? Keluarga saja sudah tidak punya.

Rasa penasaran mendorong Dyna untuk membuka surat itu. Di dalamnya terlampir sebuah kertas undangan dan sebuah foto.

Mata Dyna tertuju pada foto terlebih dahulu.                                                                                                        

Foto yang menampakkan seorang wanita anggun, tengah duduk di sebuah singgasana seraya bertopang dagu bak ratu, dengan tatapan menggoda dan senyum merekah di wajah.

Tapi mata Dyna sudah terlanjur terfokus pada satu bagian dari tubuh wanita itu.

Dadanya.. Dia ini manusia atau sapi? Apakah itu natural atau implan....tangan ini harus tahu!

Napas berhembus dari hidung Dyna yang kembang-kempis. Wanita paling seksi yang pernah dilihat oleh kedua mata ini mengirim surat untuknya! Apakah ia telah tiba pada puncak kepopuleran dalam hidupnya?

Dyna beralih pada kertas undangan, di mana tertulis,

[Anda telah diundang. Katakan Anda bersedia untuk datang dan kami akan menyambut Anda dengan dada lapang.]

"Aku bersedia!"

Dan detik itu juga, Dyna menghilang dari pintu depan kasino State of Smile.

-2-

Dalam satu kata, kata yang tepat untuk menggambarkan tempat Dyna berada saat ini adalah 'indah'.

Pemandangan taman yang tampak begitu asri, dihiasi berbagai bunga dan tanaman yang menarik hati, juga cuaca yang sangat bersahabat, jauh sekali dari hiruk-pikuk khas kota besar di mana Dyna seharusnya berada sebelum ia mengerjapkan mata. Terasa sekali perbedaannya, bahkan hanya dengan menarik napas saja ia dapat merasakan kesegaran yang tak mungkin ia dapatkan di daerah perkotaan.

Tapi lupakan saja deskripsi satu paragraf barusan.

Dyna tidak begitu peduli pada keindahan alam. Ia lebih peduli pada keindahan wajah sesama manusia daripada mengurusi soal pemandangan.

Ia tidak sendiri di sini. Dalam selayang pandang didapatinya puluhan, bahkan mungkin ratusan, orang lain yang tampak keheranan dengan fakta bahwa mereka tiba-tiba saja 'terpanggil' ke tempat ini.

Meski tak tahu pastinya, kelihatannya undangan pagi ini bukan hanya untuknya seorang. Ia jadi merasa sedikit kecewa.

Kekecewaannya terobati saat melihat beberapa paras cantik dan tampan di antara mereka yang berkumpul seperti anak ayam kehilangan induknya ini. Namun belum sempat ia menghampiri mereka, muncul sosok lain di sebuah balkon (bahkan ia baru sadar ada balkon di ujung taman ini), dan segera semua pikiran dan perhatian Dyna teralih ke arah sana.

"Selamat datang di Alforea, wahai para petualang!"

Ini dia.

Sosok wanita yang ia lihat di foto sebelum tiba di sini.

Si Wanita Sapi!

Berikutnya Dyna tidak lagi mendengarkan apa yang wanita itu katakan karena terlalu terpaku setelah melihatnya secara langsung. Setidaknya kebiasaan untuk beradab masih mengalahkan rasa penasarannya. Tangan meremas-remas udara, tidak sabar menunggu kesempatan untuk setidaknya tahu nama orang yang berdiri di atas sana.

Tapi sampai akhir pun, sang wanita anggun (dan seorang pria berjanggut yang tidak dianggap penting oleh Dyna) itu tidak jua memperkenalkan dirinya.

Yang Dyna tahu saat sambutan mereka selesai adalah undangan ini ternyata undangan untuk mengikuti sebuah permainan antar dimensi, dengan hadiah apapun (kecuali meminta cinta si Wanita Sapi, yang kembali membuat Dyna kecewa). Dibilang permainan antar dimensi pun, Dyna tidak ambil pusing. Memang ada satu-dua 'peserta' yang berpenampilan aneh, tapi toh mayoritas masih tampak manusiawi seperti dirinya.

"Silakan membentuk kelompok dan laporkan pada maid yang ada di halaman istana."

Kelompok, eh...

Kelihatannya semua yang ada di sini cepat sekali beradaptasi. Alih-alih bertanya bagaimana mereka tiba di sini atau kenapa mereka harus mengikuti turnamen ini, kebanyakan tampaknya menurut saja dengan patuh dan mulai mencari pasangan yang mau diajak berkelompok.

Dyna jadi geli melihatnya.

Yah, karena hitungannya secara teknis dia diculik (sekalipun dia diundang) ke dunia ajaib, semoga bos tidak memotong gajinya meski menghilang tiba-tiba dari depan pintu kasino pagi ini. Anggap saja ini liburan gratis dengan bonus permainan, cukup untuk menghilangkan kebosanan sehari-hari.

Dyna tidak ambil pusing. Ia melirik ke sekitar, dan ketika mendapati sosok yang menarik perhatiannya, dengan seenaknya langsung saja ia menyelonong di antara kelompok tiga orang, seraya berkata,

"Selamat pagi semua. Tolong masukkan aku dalam kelompok ini."

"Eh?"

"Huh?"

"Siapa kau?"

"Diterima," jawab seorang maid yang bertugas mendata peserta, tidak menghiraukan kebingungan tiga orang selain Dyna dengan kemunculannya yang tiba-tiba. "Kalau begitu, kita berangkat sekarang."

-3-

Untuk kedua kalinya pagi ini, Dyna berpindah tempat dalam sekejap.

Dari pintu kasino ke halaman kastel, dan kini dari halaman kastel ke sebuah padang gersang.

Apa ini teknologi terbaru untuk memudahkan human trafficking? Dan kenapa tiba-tiba sudah malam hari? Belum ada setengah jam lalu ia baru saja bangun dan menggosok gigi, tahu-tahu sudah malam lagi.

"Akan kujelaskan misi dari babak penyisihan ini," kata maid yang mengantar keempat peserta dengan nada datar. "Kalian lihat bulan di atas? Dalam lima menit, akan ada kuda api raksasa bernama Tamon Rah keluar dari sana. Kalian lihat ujung utara dan selatan dari padang ini? Sebentar lagi pertarungan antara pasukan Alforea dan para monster akan berlangsung di sini. Kalian lihat kastel dengan dua menara jauh di sana? Hancurkan kristal di kedua menara itu dalam waktu bersamaan, maka Tamon Rah akan tersegel dan aku akan menjemput kalian. Mission clear."

Empat pasang mata saling bertukar pandang.

"Ada pertanyaan?"

Dyna mengangkat tangan.

"Boleh aku tahu siapa namamu, cantik?"

Sang maid pengantar memandang Dyna tanpa mengubah ekspresi wajahnya.

"…apakah semua sudah jelas?"

"Jelas kok, karena itu, beritahu aku nama—"

"—kalau begitu aku permisi. Semoga Anda sekalian beruntung."

Kemudian sang maid menghilang begitu saja, seperti debu yang ditiup oleh angin.

Meninggalkan Dyna dan ketiga kawan barunya tanpa sempat berucap apa-apa lagi.

=====

Kini tinggallah empat orang 'peserta', masing-masing tidak yakin dengan apa yang harus dilakukan sekalipun instruksi telah diberikan.

Dyna memandang rekan satu kelompoknya.

Secara impuls dia memang meminta bergabung dengan kelompok ini karena ada perempuan cantik, tapi dua orang lainnya ternyata hanyalah seorang pria gendut dengan handuk di leher dan topi terbalik di kepala, serta seorang pria lain yang berpenampilan rapi seperti dirinya – mengenakan setelan hijau dan topi loper koran –, hanya saja tampak lebih miskin (?) dari Dyna.

Cih. Ternyata perempuan cantiknya cuma satu. Tahu begini harusnya dia mengumpulkan anggota sendiri dan bukan asal main daftar.

Dyna mencoba mengabaikan nasib yang diterimanya dan mulai menghampiri sang perempuan dengantubuh semampai dan mata ungu itu tanpa ba-bi-bu.

"Hai, nona. Badanmu bagus sekali," puji Dyna. "Wajahmu juga cantik. Seperti seorang model saja."

"Aku memang seorang model, duh," dengus gadis itu sebal.

"Oi bung. Kau berhutang penjelasan pada kami," kata si setelan hijau memotong Dyna. "Siapa kau? Kenapa tiba-tiba ikut dengan kami?"

"Teman-teman, kurasa lebih baik kita pergi dulu dari sini," ujar si gendut menengahi. "Firasatku tidak enak nih. Sebentar lagi tempat ini bakal berubah jadi medan perang, kan?"

"Kalian mau lari?" tanya Dyna setengah mengejek. "Silakan, tinggalkan saja aku berdua dengan nona manis ini."

Entah sejak kapan tangan Dyna telah merangkul pundak sang gadis.

"Kyaaah! Singkirkan tanganmu dariku!"

Gadis itu mendorong Dyna seraya menatapnya tajam, dan tiba-tiba saja seluruh tubuh Dyna diselimuti oleh es.

"—!?"

"Dia membeku? Apa yang kau..."

"Aaah! Aku tidak sengaja!" ucap sang gadis panik. "Bagaimana ini? Perlu setengah jam sampai es [Frozen Stare] itu mencair!"

"Kita tinggalkan dia," kata si pria bersetelan hijau tanpa ragu. "Sejak awal seharusnya kita memang cuma bertiga."

Si gendut masih tampak ragu sesaat.

"Ta-tapi sebentar lagi di sini akan ada perang.... Apa tidak sebaiknya kita coba gotong dia?"

"Pilih mana, nyawa sendiri atau nyawa orang tak dikenal seperti dia?" tegas pria itu."Seperti katamu barusan, sebaiknya kita menyingkir dulu dari sini dan amati keadaan sebelum bergerak."

Meski dengan sedikit keberatan, pergilah ketiga orang tersebut dari tengah padang gersang menuju bukit bebatuan, meninggalkan Dyna yang tidak sempat berbuat apa-apa selain membeku di tempat.

*****



1stChorus

-1-

Sekalipun memiliki tubuh yang berisi (bila tidak dikatakan gemuk) dan cukup besar untuk ukurannya, Pitta N. Junior memiliki hati yang lembut.

Fapi – singkatan dari 'Fat Pizza Boy' , begitulah ia lebih terbiasa dipanggil—sama sekali bukan orang yang senang melihat pertangkaran, dan bukan pula seorang petarung. Ia tidak terbiasa melihat orang terluka, apalagi melukai orang lain.

Itulah yang menyebabkan ia begitu ragu mengikuti permainan dengan latar belakang pertarungan seperti ini. Sebelum tiba di dunia ini, ia hanyalah pengantar sekaligus pembuat pizza yang meneruskan sejarah bisnis keluarganya. Tak sekalipun terbersit di pikiran Fapi bahwa pesan yang ia kira berasal dari seorang calon pelanggan baru justru berujung pada permainan maut seperti ini.

Di mana-mana, kematian menjemput setiap nyawa yang ada lebih cepat dari sebuah kedipan mata.

Perang tidak pernah berlangsung tanpa korban.

Dan di sinilah ia, menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana sepasukan manusia dengan senjata yang tak bisa dibilang modern, satu-persatu berguguran menghadapi monster-monster mengerikan yang Fapi kira hanya ada di dalam buku cerita horor atau fantasi, atau fantasi horor.

Monster yang sangat buas dan mengerikan.

Tanpa akal sehat, memecah barisan manusia yang jelas kalah jumlah.

"...apakah kita tidak akan menolong mereka?"

Di atas bukit bebatuan tempat ia berada sekarang, Fapi bertanya pada dua orang rekan yang berdiri di sampingnya.

Ronnie Staccato, seorang pria berpenampilan rapi dengan setelan hjau, menampik perkataan Fapi.

"Kau tidak dengar penjelasan maid barusan? Mereka semua itu irelevan. Kitalah tokoh, pemain utama dalam game ini. Sebaiknya kau buang sentimen soal moral atau kepedulian sesama manusia, dan mulai melihat semua ini sebagai setting sebuah simulasi saja. Anggap mereka tidak benar-benar nyata."

Berdiri di samping Ronnie adalah Ariana Maharani, seorang gadis muda bermata ungu dan satu-satu perempuan dalam kelompok mereka.

"Bagaimana dengan orang tadi? Kalau dia peserta seperti kita...bukankah meninggalkannya di tengah sana tadi sama saja dengan membunuhnya?"

Mendengar pertanyaan gadis yang lebih akrab disapa dengan Aria itu, Ronnie kembali bertutur,

"Dia akan baik-baik saja, dengan asumsi ini semua cuma permainan. Apa hanya aku yang secara sadar datang ke sini dan tahu kalau semua ini hanyalah sebuah game?"

Fapi dan Aria bertukar pandang, kemudian menggeleng pelan.

"Jadi kita memang datang dengan jalur yang berbeda-beda ya," gumam Ronnie. "Dengar. Kalau mau keluar dari sini, pilihan kita cuma mengikuti instruksi maid tadi. Aku ingin kerja sama kalian. Aku sudah tahu nona Aria di sini punya kemampuan yang berhubungan dengan elemen es. Apa yang bisa kau lakukan, tuan Fapi?"

Fapi tidak yakin apa ia harus menjelaskannya.

"Aku... Aku bisa membuat pizza ukuran besar, tapi makan waktu persiapan lama."

"...pizza?"

"Ya, pizza. Kita bisa berlindung di baliknya, atau kita bisa memakannya."

Fapi dapat melihat kawan barunya tampak tak percaya dan menghela napas pelan.

Mungkin ia kecewa karena menganggap dirinya tak berguna?

"Menurutmu kemampuan itu bisa digunakan dalam keadaan seperti ini?" tanya Ronnie lagi.

"Beri aku 2 menit untuk persiapan, dan sisanya bisa kulakukan sambil berjalan. Aku yakin pizzaku akan berguna untuk kita semua!" jawab Fapi menyanggupi.

"Oke, anggap saja kau dapat 2 menit sebelum kita bergerak," tegas Ronnie. "Nona Aria, apa kau bisa berkuda?"

"Eh? Aku bisa naik sepeda, tapi kalau kuda..."

"Jadi kita memang harus berjalan kaki untuk sampai ke sana, ya."

Sambil mendengarkan kedua rekannya yang masih berdiskusi, Fapi mulai mengeluarkan alat-alat dan bahan adonan untuk membuat pizza. Beruntung dia tidak ditanya, karena Fapi pun ragu ia bisa berkuda. Atau sejak awal pria bernama Ronnie itu memang tidak mengharapkan apa-apa darinya?

Berpikir seperti itu membuat Fapi sedih.

Tapi ia tidak boleh kehilangan fokus. Kalau pizza buatannya selesai, ia pasti bisa membuktikan kalau dirinya bukan beban dalam kelompok!

Setelah semua persiapan selesai, Fapi segera memasuki tahap selanjutnya.

Kedua tangannya kini diselimuti oleh api, siap menjadi pemanggang berjalan bagi pizza yang akan ia buat saat ini.

"Aku sudah siap!" seru Fapi.

"Baguslah. Kalau begitu, kita—"

Ucapan Ronnie terganggu saat mendadak sesuatu terbang melintasi mereka.

Seekor naga hitam.

Mendapati keberadaan mereka bertiga di atas daerah berbukit, sang naga segera saja terbang menukik seperti elang menerkam mangsa.

"Menghindar!"

"Eh? Ah.."

Fapi terlambat untuk mencerna apa yang sedang terjadi.

Ketika naga itu menyerbu ke arahnya yang masih sibuk dengan pizza yang ia buat, Fapi bahkan tak sempat berteriak.

"[Ice Creation : Wall]!"

Sebuah tembok es seketika terbentuk di antara Fapi dan naga yang menyerangnya, membuat sang kadal terbang menabrak tembok yang tidak bertahan lama dan hancur akibat tabrakan tersebut.

Fapi menoleh dan melihat Ronnie dan Aria berlari ke arahnya.

Di belakang mereka, sepasukan monster lain tampak mengejar. Entah sejak kapan, keberadaan mereka ternyata telah diketahui.

Tempat ini sudah tidak aman lagi!

"Lompat!"

Mendengar perintah Ronnie, Fapi dengan cekatan membereskan pizza-belum-jadi yang tengah ia buat dan ikut berlari bersama mereka.

"[Ice Creation : Slide]!"

Dengan bantuan es Aria, mereka bertiga meluncur dari bukit dengan mudah seperti perosotan di taman bermain anak-anak, meninggalkan para monster di atas sana.

Namun bagai sebuah pepatah – keluar dari mulut harimau, masuk ke mulut buaya.

Di hadapan mereka perang antara manusia dan monster berlangsung dengan dahsyat. Tak ada lagi tempat untuk bersembunyi atau lari. Satu-satunya pilihan adalah menerobos kekacauan ini bila ingin keluar dari sini.

Melihat pemandangan di depannya, lutut Fapi bergetar.

...benarkah semua ini hanya permainan?

Apa yang terjadi kalau kita benar-benar mati di sini?

Sebuah tangan menepuk punggung Fapi pelan.

Tangan milik Ronnie Staccato.

"Sebelumnya, kau bertanya kenapa kita tidak menolong orang-orang ini, kan?" tanya sang pria bersetelan hijau. "Katakan itu lagi setelah kau setidaknya bisa melindungi dirimu sendiri."

Dengan perkataan itu, Ronnie pun berdiri membentengi Fapi, yang tidak sadar kalau sekumpulan monster kini berjalan ke arah mereka.

Sebuah tangan lain memegangi pundak Fapi.

Kali ini adalah tangan milik Ariana Maharani.

"Kita tidak bisa keluar dari sini kalau cuma berdiam diri," ucapnya dengan mata penuh kecemasan, namun tanpa ketakutan. "Sebaiknya kita ikuti saja apa yang paman Ronnie itu katakan."

Mengambil langkah maju, Aria kini turut membantu Ronnie yang mulai menghadapi para monster dengan semampunya.

"Ah..."

Kedua sosok di hadapannya menyadarkan Fapi.

Bahwa saat ini, ia tidak sendiri.

Bukan cuma dia yang dihadapkan dengan permainan tidak masuk akal yang saat ini tengah berlangsung.

Fapi menampar kedua pipinya dan bangkit dari gemetar sesaat yang baru saja ia rasakan.

Sekarang, tekadnya sudah bulat.

Apapun yang terjadi, ia berniat tidak ingin menjadi beban bagi kedua teman barunya.

Sebaliknya,

Ia akan melindungi mereka dengan apapun yang ia bisa!

-2-

Sejak tiba di dunia antah berantah ini, Ronnie Staccato ingin sekali kembali ke dunianya dan memberi pelajaran bagi seorang ilmuwan gila.

Ketika ia mendapat pesan dari kenalannya itu kalau ia menginginkan Ronnie menjadi beta tester sebuah game, Ronnie kira permainan yang dimaksud hanyalah aplikasi komputer biasa.

Namun siapa sangka ia terseret ke sini dalam keadaan utuh?

Sulit dipercaya memang.

Bahkan daging dari setiap monster yang menerima tinjunya saat ini terasa begitu nyata.

Tetapi pikiran rasional mengalahkan segala kekhawatiran yang mungkin dipikirkan oleh orang pada umumnya dalam situasi kacau seperti ini.

Ronnie, yang diberkahi kemampuan untuk membaca gerakan lawan bagai melihat masa depan, tidak menemui kesulitan berarti meloloskan diri dari berapapun jumlah monster yang datang menghampiri.

Ditambah dengan kemampuan bertarung menggunakan tangan kosong yang dikenal di seantero Saggiari – kota tempatnya berasal, semua 'simulasi' perang ini bukanlah apa-apa melainkan permainan anak-anak (yah, mafia juga biasa berperang, tapi bukan di medan laga barbar begini dan jelas lebih berkelas).

Atau setidaknya begitulah yang Ronnie pikirkan, seandainya ia hanya seorang diri.

Sayangnya (atau untungnya, tergantung dari sudut mana ia memandang), ia tidak sendirian. Seorang gadis muda dan seorang lelaki gemuk yang menjadi rekanannya adalah perpanjangan badan dari dirinya sendiri, yang mau tak mau juga harus ia lindungi dari para monster bodoh ini.

Ronnie sama sekali tidak keberatan, tapi juga merasa tidak bisa begini terus.

Telah terpatri di dalam kepalanya kalau yang mereka harus lakukan adalah menghancurkan dua buah menara kristal yang berada di sebuah kastel cukup jauh di utara sana, walau masih dapat terlihat oleh mata.

Misinya jelas dan sederhana, meski tidak semudah itu juga dalam pelaksanaannya.

Didampingi Ariana Maharani sang pengguna elemen es, Ronnie dengan cermat menghabisi setiap monster yang berhasil dibekukan oleh sang gadis.

"Tuan Fapi, sudah berapa menit sejak kita tiba di sini?"

Seruan Ronnie tertuju pada seseorang di belakang mereka, pengantar pizza bernama Pitta N. Jr. yang masih terfokus pada sesuatu yang tengah ia kerjakan, namun tidak lantas mengabaikan kata waspada dari apa yang terjadi di sekelilingnya.

"Sebentar lagi tepat 5 menit!"

Tepat 5 menit.

Menurut maid yang mengantar mereka, dalam 5 menit, sesuatu akan terjadi di langit.

Ronnie mundur sejenak dan berkumpul bersama teman-temannya. Dengan sejumlah monster yang telah ia bereskan, tempat mereka berada saat ini cukup bersih dari kepungan, sekalipun juga tak begitu jauh dari pinggir peperangan.

Ia berpikir untuk mengambil napas sejenak, ketika kemudian mendapati semua pergerakan dari mereka yang sedang seru-serunya berperang berhenti untuk sesaat.

Seolah-olah waktu-lah yang tengah berhenti.

Tapi bukan itu penyebabnya.

Ronnie tahu apa yang akan terjadi, tapi tidak menyangka sesuatu yang ia saksikan ini benar-benar terjadi.

Di langit, bulan meluncur ke arah mata badai peperangan seperti sebuah meteor.

Suara-suara panik mulai terdengar di sana-sini. Bukan hanya para prajurit yang tidak Ronnie pedulikan sejak awal, para monster pun mulai berteriak seperti kesetanan.

Sebelum bulan menyentuh bumi, mendadak gundukan padat besar itu berhenti di udara, kemudian terbelah dua.

Dari dalamnya, sesuatu yang menyala begitu terang bagai ingin menciptakan matahari di malam hari keluar seperti anak ayam yang keluar dari cangkang telurnya.

Hanya saja bukan ayam yang ada di langit saat ini.

Melainkan sesosok kuda raksasa, benar-benar mahluk hidup terbesar yang pernah Ronnie lihat selama hidupnya, dengan tanduk gagah dan sayap terkembang, diselimuti oleh api di setiap ujung tubuh yang tak ubahnya sebuah gedung.

Campuran pegasus dengan unicorn, mungkin plus sebuah gunung berapi melihat ukuran dan bara menyala yang menolak padam barang sejenak saja di tubuhnya.

Tamon Rah.

Itulah nama sang kuda raksasa, menurut ingatan Ronnie dari penjelasan yang dapat ia ingat.

Kuda itu meringkik nyaring. Namun dengan ukuran sebesar itu, suara tersebut menggema mengalahkan hingar-bingar peperangan yang berlangsung.

Dengan satu hentakan kaki, ia berlari di udara tanpa tujuan pasti.

Namun dalam lintasan yang ia lalui, api berjatuhan bagai hujan.

Membakar semua yang ada di bawahnya, baik itu manusia atau monster, tanpa pandang bulu.

"Awas!"

Seruan Ronnie lagi-lagi ditujukan pada Fapi, yang sekalipun tidak terlambat menyadari bahaya yang mengancam, namun tidak dibarengi dengan kecepatan untuk merespon. Salah satu kobaran api maha besar dari Tamon Rah juga jatuh ke arah di mana ia berada saat ini.

"[Ice Creation : Parasol]!"

Ariana datang tepat waktu tanpa diminta, menciptakan sebentuk kubah es yang melindungi dirinya dan Fapi.

Sayang, api Tamon Rah terlalu kuat untuk ditahan oleh ilmu magis hasil didikan internet itu.

"Uwaah!?"

Dalam sekejap kubah es menguap menjadi air, mengguyur Fapi dan Aria tanpa ampun.

"Kalian berdua, ambil ini!"

Itu adalah suara Ronnie yang melemparkan dua buah perisai dari prajurit Alforea yang gugur. Fapi dan Aria menangkapnya untuk berlindung dari hujan api yang melanda di mana-mana, kemudian bergerak ke tempat Ronnie berada.

"Gila. Mahluk apa lagi ini?" keluh Aria sambil mengeringkan rambutnya yang basah, dibantu oleh api di tangan Fapi yang berfungsi seperti hair-dryer alternatif. Mungkin memang sudah fitrahnya bagi seorang model untuk tetap menjaga penampilan bahkan dalam perang sekalipun.

"Kalau menurut panduan awal sih, tampaknya kita harus menyegel monster itu," jelas Ronnie. "Yang artinya tidak perlu berlama-lama lagi di sini. Tujuan kita menara kristal di depan sana."

Sambil berkata demikian, Ronnie menendang dagu seekor monster setengah manusia setengah sapi yang hendak mengayunkan kapak ke arahnya hingga tersungkur ke tanah.

"Di sini terlalu ramai. Susah juga kalau mau gerak cepat," tambahnya.

"Bagaimana kalau kita pinjam kuda dari orang-orang di sini seperti rencana awalmu?" tanya Fapi, berlindung di balik punggung Ariana yang tengah membekukan kaki seekor monster kadal sebelum sampai mendekati mereka.

"Setelah kupikir lagi, lebih praktis jalan kaki," lanjut Ronnie. "Kalau pakai kuda aku malah tidak leluasa menghajar mereka semua."

Obrolan singkat itu kemudian terhenti saat mereka melihat Tamon Rah kembali ribut di langit.

Kali ini dari sayapnya, terbentuk sekumpulan bola-bola api yang tak terhitung jumlahnya.

Dalam satu ringkikan panjang, sang kuda maha besar melepaskan bola-bola api tersebut, membawa bencana bagi siapapun yang terkena. Terutama monster-monster naga yang beterbangan, satu-persatu terkena bola api nyasar di udara dan berjatuhan seperti nyamuk.

Api berkobar kencang di mana-mana, membuat ritme peperangan pun jadi tidak menentu.

Semakin lama tampak jelas bahwa hampir tidak ada lagi tempat yang tidak terjamah api di gurun tandus ini.

Para prajurit Alforea tampak putus asa, para monster tak peduli dan malah makin menggila.

Ibarat sebuah miniatur neraka di atas bumi.

...oke, ini semua sudah tidak masuk akal.

Konyol, malah.

Bahkan perumpamaan gajah yang tengah menginjak-injak semut masih tampak lebih murah hati dibanding kekacauan total yang dipicu oleh kehadiran Tamon Rah saat ini.



Tapi itulah hidup.

Tanpa sadar, sebuah seringai kecil menghiasi wajah Ronnie.



Apa menariknya menjalani sesuatu yang sudah bisa ditebak?

-3-

Internet adalah tempat yang luar biasa ajaib sekaligus mengerikan bagi Ariana Maharani.

Semenjak kedua orang tuanya berpisah, ia tumbuh menjadi anak yang tidak mudah bergaul dan tertutup. Tanpa campur tangan keluarga dalam kesehariannya, Aria tidak tahu apa yang dapat ia lakukan untuk mengusir kesendirian yang ia rasakan setiap kali berada di rumah.

Sampai ia berkenalan dengan internet.

Internet memberikannya begitu banyak teman lebih daripada sekolah. Internet mengantarkannya pada dunia permodelan dengan mudah. Dan lewat internet pula, ia bahkan dapat mempelajari sebuah ilmu misterius untuk mengendalikan es.

Yang terakhir mungkin terdengar sedikit random, tapi demikianlah adanya. Hari-harinya menjadi lebih berwarna, selalu ada hal baru yang menunggu, dan membuatnya mampu melupakan keluarga yang tidak pernah bisa hadir untuknya.

Sampai pada suatu hari, internet membawa Aria pada permainan setan ini.

Ia sudah tahu, yang namanya setan memang menghuni alam yang gaib. Ia bahkan sempat berpikir ilmu pengendalian es yang ia miliki pun sejatinya adalah pinjaman dari setan. Dan di abad modern ini, setan tidak lagi bersemayam di tempat angker tak berpenghuni, melainkan tempat ramai namun maya yang tak lain dan tak bukan adalah internet.

Jadi, pasti setanlah yang telah membimbingnya ke sini.

Dan Ratu Setan itu bernama Tamon Ruu. Wanita montok namun tidak ideal dan tidak pula proporsional untuk menjadi model, yang kelihatannya punya dada oversized hanya untuk mengintimidasi supaya semua mahluk lain (terutama yang sejenis) merasa inferior.

Meski bukan berarti Aria merasa minder. Hanya saja, rasanya wajar kalau Ratu Setan punya dada seperti setan.

What a demonic, vulgar boobs!

..ah, melantur apa Aria ini. Bukan itu intinya.

Saat ini ada yang lebih mengerikan daripada sekedar setan atau wanita setan. Atau monster aneka rupa. Atau apapun mahluk film horor dari film yang pernah Aria tonton.

Dan mahluk itu adalah kuda sembrani yang diselimuti api ilahi.

=====

Aria, Ronnie dan Fapi saat ini tengah berusaha menerobos peperangan demi mencapai kastel yang berada nun jauh di sana.

Ronnie berdiri paling depan sebagai pembuka jalan. Mau seperti apapun monsternya, dari yang berbentuk tulang sampai yang berukuran dua kali badan sang pria bersetelan hijau, semua tak ada artinya ketika menghadapi sapuan dari tinju Ronnie.

Sejauh ini, perjalanan mereka lancar, juga karena dibantu oleh sihir es Aria yang mengantisipasi serangan lain selain dari depan. Sementara Fapi...entahlah, Aria rasa laki-laki gendut itu bertugas untuk melindungi dirinya sendiri.

Di tengah kekacauan ini, bahkan para prajurit yang sama-sama manusia sekalipun tampaknya tidak menghiraukan pergerakan mereka bertiga.

"Hah.. Hah.. Masih jauh?" tanya Fapi yang berlari paling belakang.

"Aku tidak bisa lihat jelas. Terlalu banyak orang dan asap," sahut Ronnie di depan.

Memang benar. Sekalipun kemunculan kuda raksasa tadi sempat menggemparkan semua yang berdiri di tengah gurun ini, namun tak butuh waktu lama untuk perang berlanjut kembali seperti sebelumnya. Dentingan pedang, raungan buas, dan sesekali api yang membakar di sana-sini sudah menjadi pemandangan lumrah yang menemani perjalanan mereka.

Malah menurut Aria, semua ini masih tergolong cukup mudah.

Kuda raksasa itu tidak pernah turun sampai ke tanah, terus saja terbang di udara. Kalaupun dia merusuh, targetnya tidak pernah spesifik, jadi selama mereka cermat, tidak perlu khawatir akan terkena serangannya. Mereka cuma perlu berhati-hati agar tidak kehilangan arah, terus melangkah, dan menyingkirkan siapapun yang menghalangi jalan.

Ya. Semua ini terlalu mudah.



Atau begitulah pikir Aria sedetik lalu.

"--!?"

Sebuah gada besar tiba-tiba menyapa punggung Aria dari belakang.

Tak sempat menciptakan pertahanan sempurna, es yang ia ciptakan hancur begitu saja saat bertemu ayunan gada dari monster setengah anjing. Sekalipun Aria tidak terluka, namun gaya yang ditimbulkan cukup untuk membuat Aria terhempas jatuh, jauh dari posisinya semula.

"Ukh..."

Aria segera mengedarkan pandangannya, mengusap pinggang yang sakit akibat berbenturan dengan tanah.

Didapatinya Fapi yang juga tergeletak tak jauh dari si manusia anjing. Perisai telah terpisah dari tangan, menandakan ia tak mampu menahan serangan yang sama dengan yang Aria terima barusan.

"Ah... Anjing...!"

Lebih buruk lagi, anjing adalah kelemahan terbesar Aria.

"Tidak... Jangan mendekat...!"

Tubuhnya tak mampu ia perintah ketika melihat sang monster setengah anjing mulai berjalan ke arahnya. Aria ingin berteriak minta tolong, namun pada siapa? Fapi belum tampak akan segera bangkit dalam waktu dekat, sementara Ronnie...

Aria tidak bisa melihat di mana Ronnie berada.

Apakah pria itu telah meninggalkan mereka berdua?

Ditelan oleh keramaian, sosok bertopi itu tidak kelihatan di manapun.

Tunggu.. Jangan tinggalkan aku di sini!

Sang monster anjing semakin mendekat. Lidahnya terjulur keluar, dengan napas terengah-engah.

Menjijikkan.

Menakutkan.

Memuakkan.

Tapi bisa apa Aria dalam keadaan tidak berdaya seperti ini?

Ia hanya bisa menutup mata.

Pasrah pada nasib buruk yang akan segera menimpa.



".....?"

Tidak terjadi apa-apa.

Aria memberanikan diri membuka mata...

...dan sosok dengan setelan sewarna batu mulia zaitun kini telah berdiri di atas monster anjing yang terkapar di tanah.

"Kau baik-baik saja?"

Ronnie Staccato turun dari tubuh sang monster anjing, kemudian mengulurkan tangan kepada Aria yang masih belum bisa berkata-kata.

"Ayo."

Aria mengerjap sesaat sebelum membalas uluran tangan itu.

"Ah.. Ng, terima kasih."

"Jangan dipikirkan. Lebih baik berharap tuan Fapi di sana tidak tidak sadarkan diri."

Ronnie menarik tangan Aria hingga sang gadis bangkit dari duduknya.

Dengan bergandengan tangan, mereka berlari menuju ke tempat di mana Fapi berada.

Di tengah kemelut pertumpahan darah yang mewarnai segalanya, sebuah perasaan bersemi di dada Aria.

Perasaan asing yang tak pernah ia kenali dalam 19 tahun kehidupannya selama ini.



Oh...

Inikah namanya cinta?

*****



Bridge

Tidak seperti game pada umumnya, permainan yang sedang dijalani oleh tiga manusia dari berbagai dimensi ini tidak mengenal tombol pause.

Hilangnya momentum karena serbuan monster anjing sebelumnya berimbas pada satu celah, di mana para monster kini mengepung Ronnie dan kelompoknya.

Beruntung Fapi – yang jatuh tersungkur di tanah sebelum dihampiri oleh Aria dan Ronnie – masih cukup sadar untuk bangun dalam sekali panggilan. Namun kabar buruknya, dengan mereka berkumpul di satu titik terpojok dan bukan satu barisan padu telah memberi kesempatan bagi para monster untuk mengelilingi mereka dari segala arah.

Bahkan Ronnie yang sejak awal tidak pernah kesulitan menjatuhkan monster manapun sekarang tampak perlu memutar otak.

"Ada saran?"

Pertanyaan jujur itu tak sanggup dijawab oleh Fapi maupun Aria.

Sekali lagi, Ronnie tidak mengeluh.

Sekalipun ini adalah pintu menuju kematian, berarti inilah takdirnya.

Kalau ia gagal di sini, berarti game over.

Mungkin takdir tidak memilih mereka untuk maju ke babak berikutnya.

Semudah itu.

"Maaf, kelihatannya kali ini aku belum tentu bisa melindungi kalian berdua," ucap Ronnie apa adanya. "Setidaknya senang bisa mengenal kalian, meski untuk waktu singkat."

Para monster melangkah sedikit demi sedikit, seolah hendak menekan mental ketiganya secara perlahan-lahan.

"Kau bicara apa? Aku yang seharusnya minta maaf!" seru Fapi dengan suara hampir terdengar seperti sedang terisak. "Kalau saja aku bisa membuat pizza ini lebih cepat... Kalau saja aku tidak menghambat kalian..."

"Diam kalian berdua! Tidak akan kumaafkan kalian kalau menyerah di sini!" seru Aria menimpali. Meski begitu, Ronnie bisa melihat kalau gadis muda itu sebenarnya sedang memaksa dirinya sendiri ketimbang benar-benar memarahi kedua rekannya.

Sekarang semua benar-benar kembali pada diri masing-masing.

Tak menunggu lebih lama, para monster serentak maju.

Namun belum sempat mereka mencapai Ronnie dan kawan-kawan, satu-persatu formasi kepungan monster-monster itu terbuka.

"...?"

Sebuah senandung.

Tak salah lagi. Di tengah kericuhan perang ini, sebuah senandung ganjil entah bagaimana terdengar jelas oleh ketiga peserta di ambang maut.

Senandung yang selalu diakhiri dengan suara 'BUM!'.

"Shaka-shaka-BUM~~! Shaka-shaka-BUM~~!"

Para monster yang semula mengincar mereka bertiga membalikkan badan, mencari-cari sumber suara yang membuat kaum mereka berjatuhan satu demi satu.

Sayang, mata mereka tidak bisa lebih diandalkan daripada telinga.

Setiap suara yang ditangkap oleh satu telinga membuat setiap monster jatuh sebelum sempat melihat penyerang mereka.

"Dum-ba-di-BUM~~! Dum-ba-di-BUM~~!"

Suara 'BUM!' itu terus berlanjut seperti sebuah alunan notasi musik, hingga tak ada lagi monster yang berdiri saat senandung itu berakhir.

Saat itulah, sosok seseorang dengan setelan putih berkancing ganda, dengan rambut pendek berwarna ungu yang ditutupi oleh topi fedora, menunjukkan wujudnya di hadapan Ronnie, Fapi, dan Aria.

Seseorang yang mereka campakkan saat perang baru saja dimulai.



"Jreng jreng jreeeng~," ucapnya sambil tersenyum jahil. "Jagoan datang belakangan~."

*****



2nd Verse

-1-

Seandainya ada sebuah backlight yang menyinari punggungnya, mungkin Dyna Might sudah memasang pose saat ini.

Tapi karena ini di tengah gurun tanpa listrik dan jauh dari peradaban modern, jadi apa boleh buat. Paling tidak ia sudah membuat sebuah grand entrance yang keren (menurutnya).

"Kau... Kau selamat?"

Gadis cantik dengan tubuh semampai bernama Ariana Maharani bertanya dengan wajah tak percaya. Jahat sekali. Apa ia kira api cinta di hatinya bisa dibekukan cuma karena es yang gampang leleh? Bahkan getaran suara hati Dyna saja sudah cukup untuk meretakkan es itu (bohong).

"Setidaknya aku bukan hantu, jadi kesimpulannya, aku selamat," jelas Dyna. "Senang sekali rasanya dikhawatirkan oleh gadis secantik dirimu~."

"Dari mana kau tahu kami ada di sini?"

Sekarang yang bertanya adalah pria bersetelan hijau zaitun bernama Ronnie Staccato. Dyna menatap sinis pria ini, masih mengingat kalau orang brengsek inilah yang menyarankan agar ia ditinggalkan begitu saja. Mana ucapan terima kasihnya setelah Dyna datang dan menyelamatkan mereka bertiga?

"Aku mendengar suara kalian di kejauhan," jelas Dyna singkat. "Itu saja sudah cukup bagiku untuk mendapatkan di mana posisi kalian sekarang."

Ketiganya masih memandang Dyna keheranan.

"Sebelumnya, aku harus menanyakan sesuatu yang penting pada kalian bertiga."

Dyna membalas pandangan ketiga orang di hadapannya dengan tatapan tajam.

Senyumnya menghilang untuk sesaat, digantikan dengan mimik muka seperti seseorang yang tengah bergelut dengan sebuah masalah serius.

Kelihatannya mereka sudah tahu apa yang akan Dyna tanyakan.

Terdengar suara meneguk ludah, sebelum Dyna akhirnya bertanya,

"Aku memang tidak lulus sekolah, tapi seingatku kuda itu mamalia kan? Kenapa yang satu ini lahir dari telur raksasa?"

"""Bukan saatnya untuk itu!"""

Hampir berbarengan, semua serentak menimpali pertanyaan Dyna yang salah waktu dan tempat.

"Nah. Ternyata kalian masih satu nada. Bagus, bagus."

Dyna bertepuk tangan pelan, membuat semua makin keheranan.

Tak lama kemudian, semua tertawa kecil bagai buang angin yang tertunda. Salah satunya, pria gendut dengan panggilan Fapi pun tampak jelas menghela napas lega.

"Tapi syukurlah... Kukira kau mengutuki kami karena meninggalkanmu. Terima kasih telah menolong kami!"

Oh. Setidaknya si gendut yang satu ini tahu bagaimana berterimakasih dengan benar.

Maka Dyna membungkukkan badan seraya membuka topinya dengan gestur sopan.

"Sama-sama. Mulai sekarang, mohon kerjasamanya~."



"Awas!"

Seekor monster bangkit dan hendak menyerang Dyna yang berdiri tanpa penjagaan.

Namun Dyna bahkan tidak perlu menoleh.

Ketika sebuah anak panah datang dan menembus kepala sang monster, kali ini benar-benar menghabisinya.

"Akhirnya kalian datang juga."

Ucapan Dyna tersebut ditujukan pada sejumlah prajurit Alforea yang entah mengapa tampaknya berusaha menyusul keberadaan Dyna.

"Kau... Sejak kapan kau berteman dengan mereka?"

Pertanyaan dari Ronnie hanya dibalas senyuman dari Dyna sebelum ia berbalik,

"Tentu saja aku datang ke sini tidak dengan tangan kosong. Kita sudah dipilih oleh takdir! Prajurit Alforea sekalian! Pinjamkan aku kekuatan kalian!"

Para prajurit yang mengekor Dyna berseru dengan teriakan menggebu-gebu.

"Demi Ratu Kita Yang Seksi, Tamon Ruu!!"

"Demi Ratu Kita Yang Seksi, Tamon Ruu!!"

"Oooooooo—!!!"

"Through Tamon, unity!"

Semangat para prajurit pun terbakar, seperti halnya tempat ini.

"......"

Sementara Ronnie, Fapi, maupun Aria sudah terlanjur kehilangan tempo untuk mengikuti.

"Bagus, sekarang, ayo majuuu!!"

Dengan komando dari Dyna, serentak iring-iringan pasukan manusia kembali menyerbu menuju medan laga!

-2-

Kini dikawal oleh para prajurit di sisi kiri-kanan-belakang, keempat peserta babak penyisihan dengan mudah melaju menerobos barisan monster tanpa ragu.

Berdiri di barisan paling depan adalah Ronnie Staccato dan Dyna Might, yang entah mengapa tidak terganggu sama sekali dengan jumlah monster yang menghampiri. Setiap monster yang datang rubuh dengan satu-dua serangan, dan mereka tidak perlu memikirkan soal pertahanan dengan adanya backup dari pasukan di belakang.

"Merebut hati incaran orang lain seperti itu... Apa kau penggemar netorare*?"

"Ng?"

Butuh tiga monster yang meminta untuk dijatuhkan sebelum Ronnie tersadar kalau Dyna sedang mengajaknya bicara.

Dyna mengedarkan pandangan sekilas ke belakang, kemudian kembali pada Ronnie. Seperti sebuah kode, barulah Ronnie menangkap topik apa yang sedang dibicarakan sekarang.

"Aku tidak mengerti apa maksud istilahmu barusan, tapi kalau kau membicarakan gadis itu, maka lupakanlah. Aku tidak ada minat padanya," jelas Ronnie sambil menghindari serangan para monster tanpa berkedip. "Ini antara kita berdua saja – karena baumu sepertinya berasal dari kubangan yang sama dengan dunia yang kugeluti : kalaupun dia berakhir di tanganku, mungkin hanya akan jadi satu dari sekian perempuan dalam jaring prostitusi yang kukelola."

"Hahaha, menyedihkan sekali," balas Dyna yang kini tengah melempari para monster dengan pedang dan tombak milik prajurit yang gugur di baris depan. "Padahal kalau aku yang memegangnya, akan kusulap dia dari sekedar model menjadi seorang idola. Dari sekedar gambar diam di majalah menjadi sesuatu yang bergerak dan bersuara di televisi. Kalau tanganmu cuma bisa merendahkan derajatnya, aku justru akan membuatnya menjadi objek pujaan semua orang!"

Pukulan Ronnie menumbangkan seekor monster lain, sementara Dyna bergerak mundur hingga punggung mereka bertemu.

Ronnie lalu bergumam pelan,

"Dan yang ingin kau katakan adalah?"

Dyna melirik melalui sudut matanya ke arah sang lawan bicara, kemudian melepaskan pandangan pada 'lawan' sebenarnya yang tengah mengelilingi mereka.

"Singkirkan tanganmu darinya. Tanganku masih lebih bersih darimu, orang kotor."

"Heh. Anjing menggonggong pada anjing lain."

Keduanya bertolak dari tempat masing-masing, kembali menghajar setiap ekor monster aneka rupa yang mereka lalui tanpa henti.

=====

Tak begitu jauh di belakang Dyna dan Ronnie, Aria dan Fapi kini lebih aman dalam perlindungan barisan pasukan Alforea yang padu. Padahal jumlah mereka mungkin hanya dua puluh atau lebih – tak sebanding dengan jumlah manusia yang telah gugur dari pihak mereka – namun entah sihir apa yang membuat mereka begitu gigih melindungi keduanya seolah tak lagi takut akan mati.

"Apa yang sedang mereka bicarakan?"

Celetuk Aria melihat dua sosok bersetelan formal yang tak henti-hentinya memukul jatuh para monster dalam perjalanan mereka kali ini.

"Tidak tahu... Tapi kelihatannya mereka jadi akrab sekali dalam waktu dekat."

Fapi hanya bisa menjawab ala kadarnya, membuat Aria menghela napas.

Meski begitu, bukan berarti Fapi tidak menunjukkan perhatian pada kawan yang tengah berlari di sampingnya ini.

Justru sebaliknya, Fapi bisa membaca dengan jelas raut muka gadis seumurannya itu.

Tak salah lagi.

Itu adalah pandangan seorang gadis yang tengah dilanda asmara.

Bahkan Fapi bisa mengenali mimik sedikit cemburu yang ditunjukkan oleh Aria, yang terus mengarahkan mata ungu indahnya ke depan sana dengan sedikit bersungut.

Tapi Fapi memilih untuk diam.

Rasanya tidak enak menyinggung soal perasaan masing-masing dalam situasi begini.

Namun diam-diam, Fapi kembali bertekad dalam hati.

Untuk mendukung siapapun orang beruntung yang sedang ditaksir oleh Aria saat ini.

=====

Setelah beberapa menit perjalanan yang melelahkan, kini sampailah mereka di sebuah daerah bertebing, ujung dari gurun yang menjadi pusat peperangan.

Di salah satu tebing tertinggi, berdiri kastel yang tetap megah menantang sekalipun kondisinya bisa dikatakan lebih seperti sebuah reruntuhan alih-alih bangunan utuh. Semua dapat melihat sejumlah monster berkeliaran di dalamnya, siap menyambut siapa saja yang berani mendekat.

Para pasukan Alforea mengambil formasi dan serentak berhenti.

"Kami hanya bisa sampai di sini!"

"Yup, seperti janjiku di awal," balas Dyna pada mereka seraya mengacungkan jempol. "Dari sini, biar kami ambil alih."

"Hah? Kenapa mereka tidak ikut sampai ke atas sekalian? Kukira lebih banyak orang itu bagian dari rencanamu?" tanya Aria tak mengerti.

"Semoga kalian berhasil, wahai pahlawan dari dunia seberang!"

Para pasukan Alforea sudah (kabur) menjauh dari area tebing dan kembali menghilang di tengah gurun.

"Oi!"

"Sudah sudah, aku memang cuma meminta mereka jadi escort sampai sini saja," ujar Dyna menenangkan Aria yang menggerutu. "Lagipula kelihatannya mereka lebih pantas mati di tengah perang sebagaimana figuran daripada mengambil jatah peran kita sebagai tokoh utama."

"...."

Entah kenapa kalimat itu terasa seperti sebuah deja vu, terutama bagi Ronnie.

"Tapi sudah cukup pemanasannya. Misi kita yang sebenarnya dimulai dari sini, kan?"

-3-

Mungkin semua sempat melupakannya untuk sesaat. Tapi di langit saat ini, kembali terdengar suara ringkikan yang menggetarkan sukma, mengingatkan bahwa ada yang keberadaannya sempat menyita perhatian semua pihak yang tengah berperang.

Tamon Rah.

Sang kuda raksasa sepertinya tidak ingin kehilangan peran dalam cerita ini, maka entah angin dari mana, tiba-tiba ia berlari di langit seperti kerbau gila.

Menuju ke arah kastel di mana Dyna, Ronnie, Fapi dan Aria berada.

"Kuda itu datang ke sini!"

Seruan Fapi mau tak mau membuat semuanya menoleh ke langit di belakang mereka, di mana Tamon Rah kembali menembakkan bola-bola api tanpa arah dan tujuan pasti.

Sebagian bola-bola itu hampir mengenai Dyna dan kawanannya, sebagian yang lain menyasar ke kastel, bahkan menghancurkan sebuah jembatan yang menjadi penghujung kastel dengan tebing tempat mereka berada.

Seperti badai yang berlalu, Tamon Rah pergi begitu saja setelah selesai memberikan hujan bola api. Ia kembali ke atas mata badai peperangan dan kembali menebar api seolah tak sudi bila api yang timbulkan di manapun padam.

Tapi sekalipun Tamon Rah saat ini menjauh, bukan berarti masalah berhenti sampai di sini.

Tidak peduli dengan panas yang membara di sekeliling mereka, para monster merangsek maju ke arah para peserta.

"[Ice Creation : Ring]!"

Dengan sigap Aria menciptakan sebentuk lingkaran di tanah, mengunci pergerakan siapapun yang datang mendekati mereka.

Ronnie membuat sebuah gestur seperti menggenggam pistol di tangannya. Sekumpulan pasir dan debu berkumpul di satu titik, yang kemudian ia tembakkan seperti sebuah peluru lontar ke arah para monster.

"Haaa!!"

Di lain tempat, Dyna meninju udara kosong sambil berteriak. Namun entah bagaimana, monster-monster yang ada di hadapannya terhempas ke belakang, seolah pukulan Dyna masuk mengenai mereka meski dari jarak jauh.

"...ternyata kau bukan cuma bisa main gebuk, ya," komentar Ronnie.

"Kau juga," sahut Dyna menimpali.

Tapi tidak ada banyak waktu untuk saling mengagumi teknik masing-masing.

Monster-monster ini tidak ada habisnya. Seperti tumpukan sampah saja.

"Mau kuda raksasa atau monster-monster keroco begini, semuanya benar-benar mengganggu," keluh Dyna. "Kalau begini, mungkin sudah saatnya aku menggunakan jurus itu."

Ronnie melirik penasaran ke arah Dyna.

"Apa kau punya semacam jurus pamungkas?"

Dyna mengangguk pelan.

"Apa kemampuanmu bisa mengalahkan kuda raksasa itu?" Fapi ikut bertanya dengan sedikit nada kagum.

"Aku? Tidak tidak. Aku bukan alien dari planet lain yang punya kekuatan fisik super sampai bisa menghancurkan bangunan 50 meter sekali pukul. Setidaknya, kemampuanku tidak punya daya rusak sebesar itu."

"Kau berlagak sok keren begini, memang jurusmu bisa apa?" kini Aria ikut menimpali.

"Yah, dibilang tidak punya daya rusak juga tidak tepat sih," lanjut Dyna. "Tapi lawan kita mahluk hidup, bukan bangunan. Kalau tidak bisa menyerang tubuhnya, serang saja inderanya."

Ketiga peserta rekan Dyna masih tampak kebingungan.

"Apa maksudmu?"

"Aku punya satu rencana," usul Dyna. "Tapi selama aku melakukannya, aku perlu kalian untuk melindungiku sementara waktu. Jujur saja, bertahan sama sekali bukan keahlianku – apalagi kalau harus dalam keadaan diam."

*****



2nd Chorus

-1-

Sesuai kesepakatan, Ronnie dan Aria kini memisahkan diri untuk menghalau kumpulan monster yang datang baik dari atas tebing kastel ataupun dari arah gurun.

Sementara itu, Fapi dan Dyna berdiam di satu titik di antaranya. Fapi bertugas mengawasi keadaan di sekeliling, sedangkan Dyna...

...tidak ada yang yakin dengan apa yang sebenarnya Dyna lakukan saat ini.

Tampak Dyna tengah menggerak-gerakkan tangannya ke sana kemari, bak seorang kondektur yang tengah memimpin sebuah orkestra.

Waktu terus berlalu.

Dari detik demi detik.

Hingga ratusan detik berubah menjadi sejumlah menit.

Perang terus berlangsung nun jauh di sana.

Monster terus berdatangan dari berbagai arah.

Dan Tamon Rah terus menjadi penghias latar yang tak bosan-bosannya menyebar bahaya.

Melihat Ronnie dan Aria yang mulai kewalahan karena jelas kalah jumlah, Fapi menjadi tidak sabar. Apalagi karena sedari awal ia belum pernah melakukan apa-apa yang berguna bagi mereka, membuatnya tidak tahan dengan keadaan tanpa kemajuan berarti seperti ini.

"Apakah masih lama? Ini sudah hampir 5 menit! Mungkin pizza-ku akan selesai lebih dulu daripada apapun yang sedang kau lakukan sekarang!" tukas Fapi yang masih memanggang adonan dengan tangannya.

"Hmph, kalian ini tidak sabaran sekali, ya," Dyna menggaruk bagian belakang kepalanya yang tidak gatal. "Ya sudahlah, mungkin segini juga cukup. Panggil mereka berdua kemari. Kita mulai saja hitung mundurnya."

"...hitung mundur?"

Tanpa menjawab Fapi, Dyna mengangkat tangannya tinggi-tinggi ke langit. Fapi yang tidak mengerti, hanya bisa memanggil Aria dan Ronnie untuk berkumpul kembali.

"Tiga."

Saat Ronnie dan Aria berlari ke arah mereka, Dyna tengah membuka tangannya lebar ke samping.

"Dua."

Seperti urutan gerakan senam, selanjutnya kedua tangannya diarahkan lurus ke depan.

"Satu."

Tampak kedua telapak tangan Dyna saling mengunci, sebelum kemudian terbuka kembali.

"Nol."

Saat mereka berempat telah berkumpul di satu tempat, Dyna menjentikkan jarinya ke atas.

Dan saat itu pula, sesuatu yang luar bisa terjadi.



*#$&@(#)#$$@^^&@^#!!!!*



"!!!!!!!"

Dalam sekejap, seluruh mahluk yang ada dalam jarak pandang mereka menjatuhkan lutut ke tanah.

Baik itu monster maupun prajurit Alforea, semuanya terlihat menahan sebuah nyeri yang hebat dan datang tiba-tiba entah dari mana.

Tidak terkecuali sang kuda raksasa Tamon Rah, yang tampak meringkik kesakitan dan menendang-nendangkan kakinya di udara tak tentu arah, sebelum akhirnya meluncur jatuh ke bawah.

Diiringi dengan tanah yang terbakar habis serta api yang melalap semua yang ia lalui, Tamon Rah mendarat dengan kasar seperti sebuah pesawat yang mengalami kecelakaan. Atau lebih tepat diumpamakan seperti gedung pencakar langit yang runtuh akibat dibom teroris, bila melihat ukurannya yang begitu luar biasa.

"—!?"

Aria membuka mulutnya untuk mengungkapkan keterkejutan yang ia rasakan.

"....?"

Namun anehnya, sama sekali tidak ada suara yang keluar.

Tidak, lebih tepatnya, saat ini ia bahkan tidak dapat mendengar apapun sama sekali.

Seolah sesuatu telah menghalangi semua suara, atau entah bagaimana ia sekarang menjadi tuli.

Tapi itu tidak berlangsung lama.

Berselang beberapa detik kemudian, Aria kembali merasakan sayup-sayup suara denging memasuki telinganya.

"...apa yang baru saja terjadi?" tanya Aria tak mengerti. Ronnie dan Fapi hanya bisa menggeleng, sebelum pandangan ketiganya teralih pada sang pelaku utama anomali tersebut yang membalikkan badannya ke arah mereka – Dyna Might.

Yang ditanya hanya tersenyum simpul, mengangkat bahu seakan itu bukan apa-apa.

"Yang baru saja terjadi? Aku meledakkan akumulasi dari seluruh suara yang kukumpulkan di gurun ini sejak tadi," jelas Dyna enteng. "Beruntung tempat ini ramai sekali, jadi gampang buatku mengumpulkan cukup banyak suara yang bisa menyakiti telinga semua orang sial dalam radius ledakan suara itu."

Hening sejenak.

"Ah, tapi kita tentu baik-baik saja, karena aku sudah membuat sekitarku kedap suara sebelum melakukannya."

Semua terkejut dengan apa yang Dyna katakan. Namun mungkin mereka lebih terkejut lagi dengan betapa ringannya Dyna melakukan itu semua.

"Tapi ini tidak berarti apa-apa selain untuk mengulur waktu," lanjut Dyna dengan nada awas. "Yang kulakukan hanyalah membuat satu kesempatan. Sekarang kita harus bergerak selama semua masih belum pulih dari efek ledakan suara barusan."

-2-

Jarak antara mereka berempat dengan menara kastel bisa dibilang cukup dekat. Dari tempat mereka berdiri, dua buah kristal yang berdiri dijaga oleh berbagai monster dapat terlihat.

Setelah memastikan posisi kristal di kedua ujung sayap kastel, Dyna dan Ronnie telah mengambil inisiatif untuk bergerak bersamaan ke dua titik itu dan menghancurkan kedua kristal di waktu yang sama.

"Yakin bisa mengimbangiku?"

"Justru aku yang harusnya bertanya padamu."

Meski terlihat seperti hendak bertengkar, keduanya telah siap untuk beranjak. Begitu pula Aria yang akan membantu mereka sampai di sana.

"Tunggu, kalian berdua. Bawalah ini."

Fapi menyodorkan sepotong pizza pada Dyna dan Ronnie.

"Makanlah sesampainya kalian di atas sana. Ini pasti akan membantu."

Keduanya menatap Fapi. Mereka memang tidak tahu kemampuan apa yang dimiliki si pria gendut selama ini, namun tatapan mata penuh keyakinan yang dipancarkan olehnya berhasil meyakinkan mereka.

"Sekarang pergilah!"

Dyna, Ronnie dan Aria bertolak menuju ke ujung tebing yang memutus jalan menuju kastel.

"[Ice Creation : Twin Stairs]!"

Dengan segenap kemampuannya, Aria menciptakan anak tangga kembar yang menuju ke arah dua sayap menara kastel dari es. Tak perlu bertukar kata-kata lagi, Dyna dan Ronnie melesat menapaki anak tangga itu menuju ke kristal tujuan mereka masing-masing.

Namun mereka tidak melihat bahaya yang menghadang dari belakang.

Entah kenapa, Tamon Rah tampaknya senang sekali hadir di saat-saat seperti ini. Entah sejak kapan pula, kuda raksasa itu telah bangkit kembali setelah menerima serangan ledakan suara Dyna, padahal para prajurit Alforea masih tampak belum pulih sama sekali.

Apa efeknya tidak begitu berpengaruh lama bagi Tamon Rah?

Seperti membaca keberadaan mereka sejak Aria menggunakan kemampuannya dalam skala cukup besar ini, sang kuda sembrani berapi-api sekali lagi bertolak menuju ke arah kastel.

Dan tidak seperti sebelumnya, kelihatannya kali ini tujuannya jelas. Sama sekali bukan target acak.

"Nona Aria!"

Aria, yang masih mempertahankan tangga es buatannya, tertegun saat menyadari Tamon Rah sudah hendak menerjangnya dari langit.

Baik Dyna maupun Ronnie tidak akan sempat melakukan apapun meski mereka berbalik sekarang.

"[Singleround Shield]!'

Untungnya, mereka tidak perlu.

Sebuah pizza seukuran kepala sang kuda raksasa terhampar di udara, menahan serbuan Tamon Rah yang maha segala hingga tubuh sebesar gedung itu terpelanting mundur.

"Apa..."

Berdiri melindungi Aria, adalah Fapi dengan pizza raksasa terkembang di tangannya.

"Maaf membuat kalian menunggu lama! Sekarang, giliranku melindungi kalian semua!"

Dengan satu jempol teracung dari Fapi, Dyna dan Ronnie memercayakan Aria padanya.

"Heh. Akhirnya kau berguna juga, gendut!"

"Bertahanlah! Lindungi nona Aria sampai kami kembali!"

"Kalau soal bertahan dan melindungi, serahkan saja padaku!" balas Fapi dengan penuh percaya diri.

Dyna dan Ronnie tidak lagi melihat ke belakang.

Sesampainya di atas menara, sesuai perkataan Fapi sebelumnya, mereka berdua memakan pizza dari si pria gemuk sebelum menghadapi sekumpulan monster yang telah menunggu.

Atau tidak.

Dari bawah memang tidak kelihatan, tapi ternyata para monster di atas sini pun belum pulih dari ledakan suara Dyna.

Beruntung sekali.

Begitulah pikir Dyna, yang kemudian merangsek maju tanpa pikir panjang.

Saat tiba-tiba sinar proyektil ditembakkan dari kristal yang ada di hadapannya.

"Ukh!?"

Dyna tak sempat bertahan ataupun menghindar.

Namun anehnya, tidak terjadi apa-apa.

Padahal Dyna yakin sekali serangan proyektil itu punya sebuah daya rusak setara pukulan.

Serangan dari kristal itu tidak juga berhenti, terus menembaki Dyna dengan frekuensi yang luar biasa.

Namun Dyna tetap tidak merasakan apa-apa. Seperti air hujan yang tak bisa menembus payung.

"Jangan-jangan..."

"Kelihatannya pizza ini membuat kita kebal untuk sementara!" seru Ronnie dari seberang menara. "Jangan khawatirkan serangan kristal itu dan ambil langkah bersama denganku!"

"Serius? Si gendut itu ternyata hebat sekali memikirkan sejauh ini!"

"Ayo samakan timing-mu denganku!"

Ronnie mengambil satu langkah terakhir.

"Dengan ini—!!"

Dalam aba-aba satu teriakan lantang, Dyna yang berada di ujung lain pun mengikuti.

"—berakhirlah semua!!"

Dua buah tangan terkepal melesat bagai peluru, menghantam kristal di kedua sisi sayap kastel.

Diiringi suara retakan yang perlahan muncul, diakhiri dengan suara seperti kaca yang pecah berkeping-keping.

Selesai sudah.

Tinju Dyna dan Ronnie menghancurkan kristal rapuh di saat yang sama!

-3-
Bersamaan dengan hancurnya kristal di kedua ujung menara, cangkang bulan yang masih membuka di langit mendadak menghisap sosok raksasa Tamon Rah bagai penyedot debu tanpa ampun.

Ringkikan pilu sang kuda api tak berarti apa-apa lagi. Tak peduli sebesar apa tubuhnya, ia terseret oleh suatu kekuatan misterius yang menariknya masuk kembali ke dalam bulan, sebelum kemudian bulan kembali tertutup dan naik ke langit tinggi, kembali memberikan cahayanya untuk menerangi malam hari.

Panggung kekacauan dan peperangan ini telah menutup tirainya.

Dengan menghilangnya Tamon Rah dari langit, sosok seluruh monster yang ada di medan pertempuran pun ikut menghilang begitu saja secara ajaib, seolah-olah mereka tidak pernah ada di sana sejak awal. Bahkan semua api menyala-nyala yang ditimbulkan oleh Tamon Rah di mana-mana sudah lenyap tanpa sempat padam.

Suara sorak-sorai para pasukan Alforea terdengar di kejauhan, merayakan kemenangan mereka dengan suka cita.

"Hidup Ratu Kita Yang Seksi Tamon Ruu!"

"Ooooooo!!"

"Hilanglah Tamon Rah, jayalah Tamon Ruu!"

"Banzai! Banzai!"

"Terima kasih, para pahlawan—!"

Teriakan itu terus menggema sebelum menghilang dengan perlahan, bagai sebuah fadeout di penghujung lagu. Dan memang itulah yang terjadi – seluruh pasukan Alforea pun menghilang menjadi debu-debu bintang menyala, meninggalkan padang gurun yang penuh dan riuh sebelumnya menjadi sunyi senyap.

Tak dapat dipercaya kalau sebuah perang dahsyat baru saja berlangsung di tempat ini.



Bagaimana dengan keempat peserta?

Dyna berjalan dengan santai menuruni menara lewat tangga es buatan Aria, begitu juga dengan Ronnie yang berjalan di seberangnya. Sementara Aria dan Fapi menyambut dengan gembira kedua jagoan baru mereka.

Dyna dan Ronnie bertukar pandang, mengulas senyum yang mengundang pujian dari dua rekan mereka yang lain.

"Kerja bagus, eh.." Ronnie menelengkan kepalanya. "Benar juga, selama ini kami belum mendengar siapa namamu."

Barulah mereka sadar.

Dyna sejak awal datang tiba-tiba di tengah-tengah mereka tanpa diundang, muncul kembali di saat yang tidak terduga, dan akhirnya membawa mereka semua dalam iramanya sendiri, tanpa pernah menyebutkan sebuah nama. Semua terbawa begitu saja seolah rangkaian kejadian ini hanyalah sesuatu yang natural tanpa perlu penjelasan.

Tiga pasang mata melirik ke arah Dyna, yang kemudian tampak tersenyum kikuk.

"Ah, aku sampai lupa memperkenalkan diri dari awal. Mohon maaf atas kelancanganku selama ini."

Sebuah perkenalan yang sangat terlambat. Ketika orang pada umumnya berkenalan pada awal sebuah hubungan, Dyna malah baru melakukannya saat semua telah berakhir seperti ini.

Namun pikirnya, itu masih lebih baik daripada tidak sama sekali.

"Namaku Dyna Might. Penjaga pintu kasino State of Smile. Senang bertemu dengan kalian."

*****



Outro

Pertarungan telah usai.

Tak perlu waktu lama bagi keempat peserta untuk menunggu, sebuah lubang hitam mendadak muncul di dekat mereka, menampakkan sesosok maid yang sama dengan maid pengantar mereka sebelum permainan ini dimulai.

"Selamat karena telah menyelesaikan babak penyisihan," katanya dengan tidak bersemangat. "Silakan masuki portal ini untuk kembali. Kami akan menjamu kalian sampai pengumuman untuk pertarungan berikutnya. Beruntung kalian masih utuh berempat, jadi—"

"Tunggu sebentar."

Dyna memotong perkataan sang maid, seraya mengarahkan pandangannya ke samping.

"Ronnie Staccato."

Yang dipanggil balas menyahut.

"Ada perlu apa denganku?"

"Sebenarnya aku tidak tertarik dengan orang yang tampaknya menyimpan lebih banyak rahasia daripada diriku sendiri," ujar Dyna mengulas senyum di wajah. "Tapi aku tertarik dengan gaya bertarungmu. Kalau tidak keberatan, maukah kau melawanku di sini, satu lawan satu?"

""Apa!?""

Yang berseru dengan tanda tanya bukanlah Ronnie, melainkan Fapi dan Aria. Sementara yang ditantang justru hanya tertegun sesaat, sebelum kemudian tertawa kecil.

"Fufufufu. Kukira kau mau minta apa. Selama hidupku mengejar orang-orang, baru kali ini ada yang justru datang sendiri dan menantangku terang-terangan," ujar Ronnie menaruh tangannya di atas topi. "Nona maid, tidak masalah kan kalau kami tinggal di sini sedikit lebih lama? Rasanya tidak enak kalau berkelahi di halaman istana yang indah, salah-salah kami malah merusaknya nanti."

"...terserah kalian saja," kata maid itu dengan nada malas. "Biar kutinggalkan portalnya di sini. Kembalilah kapanpun urusan kalian di sini sudah selesai."

Maid itu berbalik dan memasuki portal, kembali menghilang meninggalkan empat peserta di depan benteng kastel yang kosong melompong.

"Tenang saja," kata Dyna menambahkan sebelum mereka memulai. "Sebagai handicap, aku tidak akan menggunakan kemampuan ESP-ku. Toh sayang kalau aku sampai lupa diri atau tidak sengaja membunuh orang menarik sepertimu."

Mendengar cibiran Dyna, Ronnie menggeleng-gelengkan kepala.

"Simpan saja kemurahan hati itu untuk orang lain. Jangan salahkan aku kalau kau tidak bisa bangkit setelah menerima pukulanku sesaat lagi."

"Tunggu, kalian berdua! Kita baru saja melawan sepasukan monster dan kuda api raksasa, dan sekarang kalian malah ingin bertarung satu sama lain?" protes Aria. "Kukira kalian sudah berteman?"

"Justru karena sudah mengenalnya aku ingin melakukan ini," balas Dyna singkat, mengencangkan sarung tangan steril yang ia kenakan. "Nona Aria silakan menjadi penonton dan dukung salah satu dari kami dengan sepenuh hati. Aku yakin yang mendapat dukungan nona pasti menang."

Ronnie mengangguk santai pada sang gadis, membuat ia tidak punya pilihan lain selain menyingkir.

"Aku benar-benar tidak mengerti mereka," gerutu Aria mengambil tempat duduk di dekat sisa-sisa tembok kastel.

"Ini pasti karena gelora cinta dan persahabatan," sahut Fapi riang. "Meski caranya begitu, kelihatannya mereka berdua sudah seperti teman lama di mataku. Ah, sambil menunggu mereka selesai, biar kubuatkan pizza Panalove untuk peringatan persahabatan baru kita hari ini~!"

Sementara Fapi mulai mengeluarkan kembali alat-alat adonannya penuh semangat, Dyna dan Ronnie saling bertukar senyuman dalam ketenangan yang menakutkan.

"Mari."

Angin kencang berhembus, membawa terbang topi fedora dan topi loper koran dari kepala kedua orang yang kini berhadap-hadapan.

Seakan itu adalah sebuah sinyal bagai bel di ring tinju, keduanya segera melesat menuju ke arah satu sama lain.

Dua buah tangan terkepal saling beradu.

Menyisakan kisah yang mungkin lebih baik disimpan terlebih dahulu untuk diceritakan di lain waktu.

*****

76 comments:

  1. Nunggu Grammar Nazi buat EYD..... >.> -sigh- Aria bener2 jadi 'new' ditangan ente..... Tsundere tipe normal.. untuk cerita ane suka ada pembagian untuk mendalami setiap karakter tanpa meninggalkan plot utama, flashback dikit dengan porsi pas.. nilai dari ane.... 8

    -Aria Maharani-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jadi beneran jauh ya Aria yang sebenernya dari yang saya buat di sini?
      Maaf, habis tanpa contoh cerita aslinya, ya saya jadi interpretasi bebas aja dari apa yang ada di charsheet orz

      Delete
  2. Sungguh entry yang brightful. Aku merasa tercerahkan :D

    Review dimulai.

    Plot : Seperti biasa, Sam pasti bercerita dari sudut pandang tiap karakter. Plot secara keseluruhan terasa brightful, kesan persahabatannya sungguh berasa. Terutama antara Dyna dan Ronnie, mungkin karena nama belakang Ronnie, yaitu "Staccato" yang notabene istilah musik. Entah kebetulan, atau author2nya janjian, aku ngerasa mereka cocok jadi rivalry friend.

    Lalu pembagian cerita yang menggunakan istilah musik juga in-theme banget dengan Dyna, ini buatku jadi sesuatu yang menarik.
    Bagian favoritku intronya, karena diawali dengan kata..
    Dingin.
    Well aku nggak tahu apa itu semacam tribute buat entryku (ngarep) atau bukan. Aku tetep seneng banget!

    Karakterisasi : Dyna ternyata mesum ya, hahahaha. Utk entrant yang lain aku belum bisa komentar sih, soalnya belum baca entry mereka. Tapi aku suka penggambaran mereka disini, meskipun nggak sedalam entry CC dulu yang sampe belasan K.

    Battle : jh^@&UJ@UI(@(*!!
    Best SFX ever. Pas baca bagian itu aku ngerasa kayak waktu tiba2 terhenti krn ledakan suara supersonik dari Dyna. Terbukti, besarnya SFX sangat berpengaruh pada pace cerita.

    Utk battle secara keseluruhan, nggak ada pertempuran berarti, meskipun di awal2 mereka terdesak, namun setelah Dyna datang mereka jadi menang dengan mudah. Mini battle di outro itu cukup manis. Dan seperti yang kubilang tadi, brightful.

    Utk first impression lumayan berkesan buatku. Dariku 8/10
    Semoga bertemu di ronde 1 nanti!

    OC : Meredy Forgone

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yah, semoga aja lolos...meski saya ga yakin juga

      Emang pengen bikin Dyna beda dari yang udah", makanya pendekatannya berkesan no-brainer gini #plak Btw soal nama Ronnie, saya juga heran kenapa Nyasu bisa"nya bikin karakter yang tandem banget sama oc saya ini (padahal bikinnya nyaris barengan dan ga janjian)

      Btw awalan cerita ini udah saya tulis dari hari pertama prelim lho, jadi bukan dari contek kamu lho. Mungkin kita kebetulan sehati #plaklagi

      Dan soal battle...ya emang gitulah fokusnya. Bikin semua kemampuan Dyna keluar (tanpa perlu sebut nama skill) dan nunjukin dengan gamblang karakter macam apa dia, dan dia bisa ngapain aja. Saya akuin mungkin emang ga ada tensi atau kesulitan berarti di prelim ini, tapi itu emang disengaja karena bagian yang susah" ntar ajalah kalo babak udah jauh. Ga seru kalo dari awal gempor"an macem r1 CC lagi

      Trims udah mampir~

      Delete
  3. LOL!

    Saya ngakak sama adegan-adegan yang dilakukan Dyna di bagian awal sampai pertengahan.
    Datang nyelonong, dibekukan, terus tahu-tahu muncul di saat-saat genting.

    Pembagian subbab-subbabnya juga sepertinya punya arti (meski saya kurang tahu artinya apa) dan terbagi secara rapi. Bagian battlenya juga asyik, nggak perlu kebanyakan sebut nama skill tapi Sam sudah sukses nunjukin efek kekuatan Dyna pada lawan-lawannya.

    >.<

    Skor dari saya : 10/10

    OC : Tan Ying Go

    ReplyDelete
    Replies
    1. Waaai makasih bang Manik udah mampir

      Kalo kata orang Sunda mah, mungkin defaultnya Dyna emang ngabobodor, playful aja gitu defaultnya. Baguslah kalo karakternya dapet sesuai yang saya pengen tunjukkin

      Pembagian bab ini sebenrnya ngacu ke bagian lagu, intro-verse-chorus-bridge-verse-chorus-outro. Kalo sering denger lagu pop yang ada lirik senada diulang pasti ngerti deh (walau saya bukan orang musik)

      Semoga masih bisa ketemu sama Tan Ying Go kalo lolos nanti wwww

      Delete
  4. Wah, Ini bagus gan. Setiap karakter digambarkan dengan jelas sifat-sifat dan kemampuannya. Interaksi antar karakter juga nyata , saya merasa mereka benar-benar hidup dan sedang bertarung di Aflorea.

    Ceritanya menarik, terdapat flashback terlebih dahulu, simpel tak bertele-tele.

    Cuman untuk battle-nya kurang seru kali ya? Memang diawal sempat beberapa kali terdesak, namun semenjak kehadiran Dyna sepertinya mudah sekali untuk menyelesaikan setiap battle. Saya malah berharap dengan kehadiran Dyna, battle akan semakin seru lagi. Dan untuk Tamon Rah Si Gedung Terbang itu sepertinya kurang terekspos.

    Atau mungkin hanya saya yang berharap dengan aksi berlebihan?

    Nilai 7

    - James Allard Jauhari

    ReplyDelete
    Replies
    1. Dan sial, ternyata ada kesamaan ide dengan cerita saya ._.

      Delete
    2. Kesamaan ide yang mana?

      Soal battle, saya emang sengaja ga fokus ke sana (kalo yang kamu harapin aksi" wah dan keren) karena saya udah set dari awal mau nekenin di interaksi antar karakter, jadi ya beginilah hasilnya. Kalo soal Tamon Rah, saya ngambil 3 poin 1) dia selalu berserk 2) dia selalu random 3) dia selalu di langit. Bayangin game arcade yang bossnya ada di background, nah gitulah Tamon Rah di cerita saya. Emang ga ada keperluannya buat diekspos karena sekedar plot point aja

      Delete
    3. terkait battle saya juga udah jelasin di atas (komen Bayee)

      Saya akuin mungkin emang ga ada tensi atau kesulitan berarti di prelim ini, tapi itu emang disengaja karena bagian yang susah" ntar ajalah kalo babak udah jauh. Ga seru kalo dari awal gempor"an macem r1 CC (OC saya taun lalu) lagi

      Delete
    4. Oh gitu, brarti emang akunya aja yang ngarepin aksi wow, karena dipikiran saya Tamon Rah uang bisa diibaratin Si Gedung Terbang itu walopun ngamuk ga tentu arah, tapi kita mesti sering kena efek amukannya. Sekedar itu terkena bola apinya, atau terbang di atas kepala oc.

      Iya bener juga ya, yang seru buat nanti acara intinya aja. Emang saya gatau apa2, soalnya baru pertama kali ikut turnamen oc ini ._.

      Kesamaan ide tentang interaksi antar pemain. Yang mana? Ya itulah :v sedikit sih, tapi takut dikira plagiat ntar ._.

      Delete
    5. WWW gapapa, namanya juga coba", lama" juga bakal biasa

      Ngefek kok di saya, sejak kedatengan Tamon Rah kan saya bilang flow perang jadi berantakan dan api di mana", udah kayak neraka di bumi. Aria sama Fapi juga sempet kena bola api (meski ditahan es yang langsung cair sekali kena)

      Delete
  5. Astaga, adegan pembuka Dyna epic banget bang, wkwkwkwk

    btw, "Useless meat"-nya Ruu gede banget yak..
    ._.

    Sam, Dyna ini benar-benar char mesum, bahkan mengalahkan mendiang Leon. Cara dia ngeguyon ngalir banget, cocok sama karakterisasi dia yang seorang 'womanizer'
    :D

    Battlenya asik, saya lebih demen yang kayak gini ketimbang bak bik buk gak jelas, ada reason, ada conclusion.

    Hubungan tiap karakter benar-benar jelas digambarkan, interaksinya juga asik buat diikuti. Pertemanan Rivalitas antara Dyna dan Ronnie itu menurut saya keren.

    Nilai : 8
    :D

    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wut? Gimana ceritanya sampe ngalahin Leon?

      Hehe, emang Ronnie karakter klop banget deh buat Dyna ini

      Delete
    2. Se-mesum-mesum-nya Leon, dia cuma ngandelin "God's Fall" aja buat curi kesempatan. Gak kayak Dyna yang terang-terangan, frontal sama cewek...
      :3

      iya, di entry Ronnie sendiri Dyna juga digambarkan sohiban, kalian bikin cerita janjian dulu ya? Wkwkwkwkw

      Delete
    3. Ngga, bahkan bikin OC pun ga ada janjian

      Ini kebetulan aja dapet karakter yang ternyata komplementer, sesuatu yang asik buat digarap di turnamen kali ini

      Delete
  6. Narasi dan alurnya bener-bener lancar, sampe-sampe 28 halaman pdf terasa cepat bacanya. Dikolaborasikan dengan interaksi yang menarik antara keempat anggota party. Semua dieksplorasi hingga tampak memiliki peran masing-masing. Paling suka pas adegan Dyna dan Ronnie ngehajar musuh sambil ngerebutin Aria.

    Sekalian menanggapi komen-komen di atas, kalau saya tidak masalah dengan adegan battlenya, karena lebih ke selera sih. Saya selaras ma Ichsan, justru kurang demen malah kalau kebanyakan bak-bik-buk. ;)

    Nilai : 10

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims CLD~

      Ya, daripada detil di adegan pertarungannya, saya emang lebih prefer yang penting poin"nya sampe aja, hehehe

      Delete
  7. Cerita ini bikin aku nahan ketawa sambil baca.
    Precious!

    Penceritaan asik, cuma sayangnya sebelum Dyna datang, pertarungan kerasa hampa :< kesannya entah kenapa jadi nggak adil.

    Terus kayaknya poin di mana Tamon Rah mendeteksi 'superpower' cuma muncul satu kali, yaitu di akhir.

    Karakterisasi asik penggambarannya.
    Narasi enak dibaca.
    Dialog, cukup deh~

    I raise you 8.
    Haru Ambrosia

    ReplyDelete
    Replies
    1. Daripada hampa, mungkin lebih tepatnya sebelum Dyna dateng fokusnya lebih ke char build 3 teammate dia (soalnya begitu Dyna dateng spotlight bener" pindah ke dia), jadi emang ga fokus di battlenya sendiri dan lebih ke strugglenya

      Soal Tamon Rah, kemampuan deteksi dia kan radius 100m, dan dia selalu di udara. Ditambah settingnya daerah luas, kayanya justru aneh kalo dia selalu ngedeteksi - saya bikin dia cuma tau di akhir karena kebetulan dia lagi terbang ke arah kastel + ngasih efek dramatis buat di akhir www

      Delete
  8. Well, what an opening. LOL. nggak seperti kebanyakan cerita, sampean juga bisa menyajikan ending yang bagus, bukan serasa tiba-tiba diputus. Teknis, plot, dan pacingnya bagus. Karakter Dyna terutama, disajikan dengan sangat unik.

    I'll give you an 8.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims sudah bersedia bertandang~

      Saya dari dulu udah kebiasa make semacem prolog sama epilog di sebuah cerita sih, biar ceritanya ada semacem bonus track dulu yang menghantar masuk ke cerita asli dan tambahan biar nutupnya juga ga abrupt

      Delete
    2. Lol yea. bagusnya begitu sih biar ceritanya ngga kesannya berakhir terlalu mendadak.

      ...dan OC: Lady Steele. kelupaan lagi

      Delete
  9. *ngakak xD

    Duh epic banget nih cerita bang sam ini, serasa baca manga atau light novel dengan genre aksi, romansa dan shounen xD.

    Building karakternya dapet banget, lengkap dengan cerita individu dari masing2 karakter(mskipun fapi agak kurang sih).


    Battlenya juga epic, kebayang bnget detil tiap pertarungannya mskipun tanpa harus nyebut jurus(terutama dyna).

    Pokonya naisu lah...

    Nilai : 9

    -Khanza M. Swartika-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Rasanya ga ada pujian yang lebih nyenengin buat saya selain disebut kalo gaya nulis saya udah bener mendekati style LN, soalnya awal saya nulis emang karena LN, jadi kiblatnya jelas ke sana >_<

      Kalo soal Fapi, mungkin emang ga keekspos sebanyak Dyna atau Ronnie, tapi perannya di sini lebih sebagai tipe yang ngejaga persahabatan antara mereka. Dan soal peran dalem battle, emang sengaja digambarin dia sejak awal useless dan ngapa"in, tapi baru jadi kunci yang berguna di akhir (setidaknya pengen nampilin dia gitu di sini)

      Trims sudah membaca~

      Delete
  10. Yang paling saya salut itu ... pengarangnya bisa bagi-bagi peran. Sementara saya sendiri cuma berkutat di OC pribadi.

    Gaya bahasanya okelah, gak panjang dan saya jadi cepet bacanya. Interaksinya pun ... bisa bikin saya senyum (bukannya knp2, cma saya sendiri orangnya jarang ketawa).

    Dan adegan di awal itu, pas si Dyna mikir 'sesuatu', agak kurang wow buat saya karena pernah liat kata-kata itu di komen pengarang di grup fb. Pdahal kalo waktu itu ga di-post, mungkin saya bisa ketawa.

    Pertarungannya sendiri, karena saya jarang mempermasalahkan, ya bisa dinikmati. Dan gak terlalu berantem mulu.

    Jadi poinnya 9, tambah 1 karena udah komen di cerita saya. Total 10.

    -Ahran-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trins udah berkunjung~

      Udah kebiasaan saya sih, kalo dikasih sekian karakter, ya semua paling ngga harus bisa keliatan punya 'karakter' masing". Jadi dikasih peran biar semua kebagian

      Delete
  11. Like Always, I always have your writing.
    Ngeliat Dyna saya ga ngeliat ini kak sam, Dyna bikin saya ngakak terus
    dia konyol

    Tapi saya suka cara kak sam ngejabarin si anak pizza, dyna, ronnie sama aria.

    Ngebaca battlenya saya ngerasa "Dyna ini polisi pelem in*** ya? datangnya belakangan" terus ngakak.

    Pembukaannya juga ga kayak kebanyakan. Semacam flashback gitu alurnya.

    Hm, moga lolos dan kita bisa ketemu ya kak

    titip 9

    - Kazuki Tsukishiro -

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sampai bertemu bila takdir berkehendak begitu

      Delete
  12. Po - Fatanir

    kyk yg udah kubilang sblmnya, Mas Sam punya entri yg fresh krn karakternya bukan yg punya skema superhebat dari awal, bahkan "tangan ini harus tahu" itu inovasi yg bagus.

    Paling suka sama penggambaran karakter Ronnie Stacccato di sini, Dyna pun unik. Fapi pun asik. Paling kurasa Aria yg terlalu biasa penggambaran sifatnya.tapi overall interaksi antar karakter asik bgt.

    Aplikasi skill mah gak perlu ditanya, soalnya pasti udah ada skill treenya, eksekusinya pun bagus, cuma pas ledakin akumulasi suara kurasa narasinya kurang heboh dibanding sfx-nya yg jumbo. Dan paling Tamon Rah-nya kerasa kayak cuma datang pas dibutuhkan skenario (?)



    dariku nilai 8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Karena Tamon Rah di sini perannya emang macem bos game arcade yang ada di background stage doang wwww

      Hmm.. Kayanya penggambaran skillnya masih harus dieksplor lagi ya biar greget

      Delete
  13. ...Aria tiba-tiba 'normal' sekali di antara karakter-karakter 'meriah' lainnya dalam prelim versi Sam. Jadi balance-nya ada, tapi usual damsel-jatuh-cinta sudah berkesan kurang imajinatif kan? :>

    minus satu buat melewatkan perwujudan pribadi karakter agar sesuai dengan plot, tapi terlepas dari itu, kombo Audio Dyna-Staccato enak dibaca sebagai interpretasi alternatif.

    Kisah terstruktur dengan baik, 8/10

    - Ronnie Staccato, usai baku hantam dengan Dyna Might.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masukin Aria cuma biar relationship mapnya dapet www

      Perwujudan pribadi karakter agar sesuai dengan plot....ini maksudnya apa ya? Saya kurang ngeh

      Delete
  14. Nilainya dulu nih, 8/10.

    applause buat struktur ceritanya, suka banget sama ini dibanding CC dulu.
    semua pembagian karakternya mantap, dan tropes pahlawan datang di akhirnya bikin gregetan hahahahah. keren.

    soal Fapi, aye terima ini dengan baik hahahahahahah.
    tapi, Ronnie dan Aria, terutama aria, kesannya jadi biasa banget.

    Pemakaian jurus di sini enak banget, ga pake penjelasan terlalu detail tapi suasananya dapet.
    good job!

    _Pitta N. Junior bertanya... yang dikasih makan ke Dyna Ronnie...pizza yang mana ya..._

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw, saya izin pake gaya nulis/struktur cerita yang begini terutama perkenalan timnya.

      Delete
    2. Iya, saya juga ngakuin Aria di sini lebih kayak pemanis jatuhnya #plak

      Kenapa ini lebih enak dari CC? Rasanya pendekatan ceritanya sama aja ah. Tapi mungkin yang ini lebih 'lepas' kali ya

      Delete
    3. iyap,lebih lepas.

      entah kenapa pas baca R1 BOR IV nya CC, itu dulu kaku banget. padet sekali.

      yang ini ngalirnya cakep. banget.

      Delete
  15. Pas Dyna komunikasi sama Ronnie punggung ke punggung, ditambah bumbu manisnya perebutin Aria (walaupun Ronnie tipe sasuke yang cuek dan adanya di dark side(?)), = adegan paling stabil selama saya baca.
    Stabil karena kondisinya kebagi dua: antara nge-gooosebump(?) sama ngakak.
    Tadi pertama adegan stabil, kalo adegan paling nge-goosebump ada di SKILL SUARA DYNA! Dan satu lagi ... sama pas Dyna memperkenalkan diri (suka sama narasi di situ karena pas).
    Adegan paling ngakak ada di dialog, banyolan Dyna soal Tamon Rah. Ok, mamalia.
    Sisanya, cara bernarasi, permainan alur sama char build tiap Oc, bikin saya mikir ... how? Semua ngalir, lancar, poin penting sampe tanpa harus panjang-panjang (sementara Eophi....). Dan semua itu bisa bikin saya maklum sama kurangnya porsi Tamon Rah, dan “one shot kill” setelah Dyna sama Ronnie frenemies-an bantai monster-monster. Karena semua ke-seru-an (IMO) udah tersalur ke kotak yang lain, dan, sukses.
    Ok, nilai dari saya 9. Ga mau kasih 10, karena di poin 1 itu masih ngarep sesuatu yang bakal lebih epik lagi dari Dyna.

    OC : Eophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah nunjukin poin" apa aja yang berkesn dari cerita ini >_<

      Semoga ke depannya Dyna masih bisa munculin sesuatu yang lebih epik lagi

      Delete
  16. Heya! Outsider here

    Gomen kalo commentnya gak worth it but saya mau coba buat memberikan opini atas tulisan Sam ini.

    Saya kurang paham sistem di Battle of Realms, saya mencoba membaca beberapa story dari writer yang lain untuk membantu menilai tulisan Sam, so here we go:

    Nilainya 9

    Alur ok, karakter konsisten dan masuk akal. Hanya saja penjelasan tentang surrounding kurang mendukung untuk karakter yang sudah komplit ini.
    Intro di mana seperti ada kesan untuk menarik pembaca memang berhasil tapi harus ada balance ketika masuk ke chapter 1/1st verse. Pembaca dibuat terpikat dan memanti2 perkenalan cerita tapi ketika masuk ke 1st verse perkenalannya terlalu singkat, seperti pembaca dipaksakan untuk harus mengerti situasi dan memulai jalan cerita seperti pikiran Sam.
    SFX yang super besar itu juga unik tapi saya gak tau arahnya mau dikemanakan. Hanya mengandalkan element of surprise tapi then what?
    Sam has talent, sam cukup berani untuk menulis sesuatu yang 'tak aman' kalau dibanding dengan writer lain. Hanya saja 'imajinasi' yang terlalu meluas bisa menganggu jalannya cerita.
    Seseram apapun, seheboh apapun, sehebat apapun semua bisa dijelaskan dalam tulisan, delicacy dalam menyajikan pembaca buah hasil pikiranmu sangat penting. That's why narasi atau penjelasan surrounding itu sangat perlu karena dapat membuat cerita menjadi utuh, malahan mungkin lebih bisa menyampaikan cerita ketimbang keterbatasan dialog.

    Tapi, karena I'm a witch of pleasure and I enjoyed reading this, 9 is coming your way :D

    I hope this will help you improve. Maaf kalau ada kata2 yang tak mengenakkan, saya hanya jago menilai, saya lebih sering membaca bukan menulis.

    .chi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Trims udah mampir~

      Seneng rasanya tau cerita ini masih bisa dinikmatin orang yang ga tau atau ngikutin BoR

      Delete
  17. Awalnya aku kira Dyna itu perempuan, jadinya baca ulang dari depan pas tahu kalo Dyna itu lelaki. Penggambaran pertarungannya bagus dan seru, salut sama detail pertarungannya. Ceritanya dapat dinikmati dengan baik. Klimaksnya dapat dan endingnya keren.

    Nilai: 8
    (OC: Tasya Freyona)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya ga pernah nyebut Dyna itu cewek atau cowok lho sepanjang cerita :)

      Delete
    2. Salah satu patnernya manggil dia, "Bung" dan Dyna nggak marah. Biasanya kalo cewek bakal protes kalo dipanggil "Bung". Dyna juga sempat-sempatnya mikirin ukuran sepasang cangkir tiap ketemu cewek. Maaf, mungkin aku terlalu dini menyimpulkan kalo Dyna itu cowok. :)

      Delete
  18. "Dia ini cowok atau cewek sih, kak Um?" Ucap Felly sambil menunjuk Kazehaya(laptopku) dan menatapku dengan matanya yang menyebalkan itu.
    "Kak? Tumben kau memanggilku 'kak', Fell?" Aku menaikkan sebelah alisku. Terasa tak normal, gadis menyebalkan ini memanggilku 'kak'.
    "Sudah kubilang berkali-kali, jangan panggil aku Fell! Fell itu dalam bahasa Ingris.."
    "Artinya jatuh. Aku sudah tahu! Kau juga harus ingat dialog itu aku yang membuatnya, Bocah!" lanjutku sebelum ia menyelesaikan kalimatnya.
    "Aku bingung, yang menyebalkan itu kau, Umi! Bukan aku!"
    "Itu karena aku authormu, jadi aku punya kebebasan!"
    "Jadi, Dyna itu cewek atau.."
    "Terserah Authornya dong, Fell! Kok kau yang berisik sih!"
    lalu, sebuah kerikil melayang ke kepalaku.

    ***

    Hai kak sam, Umi di sini xD jangan perhatikan dua benjol ini. Palu sama kerikil sepertinya punya cukup kemampuan untuk membuat benjol besar di kepala. Awas aja anak itu, akan Umi buat dia menderita.

    Kyakakakakak, ini maid-nya otoriter sekali xD sekali Dyna dateng langsung 'diterima'. Ugh, kasian juga nasib Dyna ditinggalin sendiri begitu di tengah gurun *puk puk Dyna* Di ending juga maidnya ninggalin aja xD

    dan Ariana jatuh cinta saudara-saudaraa~

    dan menaranya hancur begitu... saja *jdar-jedor jeder

    Wogh... iklan terselubung... *malah bayangin kak Dhiko yang ngomong .__.

    Nah, sekarang mari kita review sedikit tulisan kak Sam xD Umi ga nyangka Dyna sepertinya akan diberi bagian 'menarik'-nya sendiri. Kak Sam beneran mau masukin cerita 'menarik' ke Dyna kah?

    Apa hanya Umi atau yang lain juga ngerasain, di tulisan ini rasa 'kak Sam'-nya agak berbeda. Umi gak dapet rasa intens dan ketegangannya. Berasa miss, tapi Umi gak tahu kenapa. (Tapi sepertinya bukan Umi doang xD)

    Kayak waktu kejadian di saat Dyna dateng sebagai pahlawan kesiangan, atau pas menghancurkan menara. Momen jetang jetung jeter-nya itu ga dapet *orz

    Apa karena Dyna karakter dengan tipe musikal yah? makanya berasa ngikutin musik alih-alih rush?

    ***

    "Um..." Felly menatap Umi sambil memegang perutnya.
    "Tadi pake Kak, sekarang ga sopan manggil pake nama! Apaan Fell?"
    "Aku laper, pengen Panalove-nya!"
    "Dasar Bocah!! Nanti kalau pulang ke Medan yah."

    ***

    The Fun : 3.0
    Karakterisasi : 3.0
    Alur : 2.0
    Total : 8

    ***

    Maria Fellas~~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cerita menarik apa yang kamu maksud?

      Pendekatan Dyna emang agak beda dari Hideya yang taktis atau CC yang dramatis. Dia di sini bener" saya kasih image easygoing, just go with the flow, atau bahasa gampangnya, angin"an. Kalau kerasa beda bener sama dua OC saya sebelumnya, saya malah seneng karena berarti approach saya di Dyna berhasil www

      Delete
    2. Cerita... menarik ._.

      Abis si Dyna pake ada adegan menjurus-nya, jadi Umi mikirnya, Dyna bakal punya plot 'menjurus' sendiri ._.

      Ah, anyway, iya sih, dulu transisi dari Hideya ke CC juga beda ._. But xD Welldone kak Sam, ceritanya menarik btw, xD

      Delete
  19. seperti biasa, Blackz kalau nilai menganggap semua karya sempurna dan semua nilai dimulai dari 10.

    dan tidak ada yang bikin saya kaget dari tulisan Dyna ini, tapi...

    -1 (9)
    Epilognya, ada dua hal yang bikin saya ngerasa gak sreg dengan epilognya. 1, kenyaataan kalau mereka berantem demi wanita dimana wanitanya tidak memiliki suara akan hal ini. dan juga 2, kenyataan kalau ini Cliffhanger.

    Dyna menang ok, he's a jerk
    Ronnie menang ok, a buttjoke for Dyna

    tapi Cliffhanger ini bikin the end feels like not a good end.

    Frost' final Verdict: 9

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sejujurnya kalo pake analogi pinjaman seseorang, Ronnie itu macem Sasuke sementata Aria itu Sakura - Ronnie ga ada ketertarikan ke Aria, jadi dari Aria - Ronnie itu panah searah. Dan Dyna nantang Ronnie juga bukan karena Aria - emang udah sifat dia seneng nemu lawan yang dianggap 'sepadan' (yang in ada tercantum di cs)

      Soal cliffhanger, yah, mau dipanjangin apanya lagi? Justru emang biar closurenya kayak gitu

      Delete
  20. Saya harus mengakui, penakaran komposisi yang pas di sini.

    Ditambah gaya tulisan ala Light Novel yang santai dan ringan, cerita ini jadi gampang dihayati.

    9/10 dari saya. Saya kira baku hantamnya bisa dikasih draw untuk nanti dilanjut di cerita berikutnya, tapi cliffhanger seperti itu terkesan seperti ending sebuah game yang bakal ada sekuelnya lagi :x

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Emang berniat gantung karena buat saya karakter yang ditemuin Dyna sepanjang turnamen ga akan sekedar 'sampai di sini'

      Salam hangat kembali~

      Delete
  21. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  22. Karena selera itu sifatnya subjektif, semua yang saya katakan ini juga pasti subjektif ya~

    sebagai seseorang yang lebih suka lihat interaksi ketimang battlenya, dimana saya prefer mantau perkembangan canon dan interaksi antar karakter, ini bagus >w<
    saya suka pergantian fokus tiap karakternya. jadi lebih kegali dan hubungan antar karakternya kelihatan berkembang sedikit demi sedikit, tapi jelas.

    Beberapa joke yang dimasukkan cukup menghibur buat saya. dan bagian ketika prajurit datang itu kinda give me chill. Walau teriakan mereka well... yah... bikin sweatdrop.

    And here we go! final verdict!

    ===

    Am i enjoy it? (5/5)

    Is this excite me? (4/5)

    Am i skim some part? (-1/-3)

    Extra point (1/1)

    total score: 9/10

    Salam~

    Avius Solitarus

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, masih kena skim darimu berarti ada bagian yang kurang cantol ya orz

      Salam~

      Delete
  23. :")))))
    Dyna kamu ngingetin saya sama Allan Fenestra di jaman jahiliyah #plak yg suka senyum2 gaje.. berusaha sopan tapi sebenarnya sengak (di kasusnya Dyna, beliau suka pamer yaa :)) ).. dan minta maaf karena kelancangannya.. hahaha #heh #muponweiii

    hmmm, yang janggal di pikiran saya di sini:
    1. mereka ngga ada capek2nya kah? habis lari2 n nebas2 monster kayaknya masi sehat walafiat :"))
    2. apa Ron, Fap, n Ari nggak ada yg bingung sama penampilan Dyna yg cenderung ambigu? #desh seperti apa suaranya Dyna? saya penasaran
    3. apa dari mereka nggk ada yg suka pizza? makan pizza perasaan kok sama aj kyk makan roti tawar :")

    saya suka intronya.. dan karakter Dyna yg colorful gini lebih menarik buat saya hehe saya juga suka kalimatnya yg berima, sayang cm jarang-jarang xD
    tapi, saya penasaran... passion kak Sam lagi gak 100% kah pas nulis ini? #plak
    saya brsa nggak ngeliat gimana kk “melukis” battle seperti biasanya… penggunaan karakter lain yg biasanya sangat berpengaruh utk plot, sekarang kok berasa cuma “numpang” (kecuali Ronnie mungkin, yg nampak2nya bisa jadi sasaran nganunya Dyna xD #duak) … kalo dibanding ma prelim Hideya, imo jauh >.<

    review battle nya, sperti yg suda dibilang di atas… berasa hambar… tamon rah dan cecurut2 alforea itu berasa mendadak kuat/penting ketika plot lagi butuh mereka aja... (buktinya mereka nggak capek atau kepanasan kan pas diserang hehe, lecet2 aja nggak)

    trs ini selera mungkin, saya kurang suka pas mereka bertiga beraksi tanpa Dyna makan hampir 50% dr plot cerita... Kerja tim dan cerita mereka udh cukup solid tanpa Dyna, kemunculan Dyna malah jadi ky Deus Ex Machina…
    Dan mendadak Dyna jd yg paling kuat, kerja tim jadi berkurang.. Dyna nggak butuh temen2nya, dia cuma butuh kekuatan mereka (itu pun berasa formalitas >.< ) … mmg sih ada drama ttg perebutan Aria, tapi cm berasa basa-basi …. Dibanding temen2nya yang udah ngelewatin pergulatan emosi (?) bareng2 Dyna berasa kurang porsi….

    Oya, apa hubungannya penjaga pintu sma conductor orkestra? o.o

    Dari saya 7 utk plot sebenernya, tapi karena saya suka karakter Dyna (yg sayangnya krg diceritakan di sini)
    Poin: 8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Jawab kejanggalannya dulu :
      1) Iya, mereka ga keiket stamina karena ini game #ngasal
      2) Ini poin kecolongan sebenernya, pas udah submit saya baru kepikiran ambiguitas Dyna malah ga ditunjukin sama sekali di entrinya sendiri orz.. Mungkin selanjutnya deh
      3) Kayanya mereka pada biasa aja, cuma kan ini pizza yang dibikin sambil jalan, jadi mungkin makannya mikir dua kali

      Fokus saya di Dyna sebenernya lebih ke bonding sama orang" yang dia temuin sih, meski keliatannya ga erat atau dalem (kebalikan Hideya yang cuma manfaatin orang dan CC yang ga peduli sama siapapun selain mereka berdua). Baik prajurit Alforea sama Tamon Rah dimunculin for the convenience of the plot juga karena emang entri awal ini niat saya seneng" aja. Tapi ga nyangkal kalo ini ditulis ga 100% (ga seterencana prelim Hideya atau sepanjang entri perdana CC), karena diburu udah mulai kuliah lagi jadi ga fokus juga pas nyeleseinnya #alasan

      Soal Dyna jadi Deus ex Machina... Yah, poin pertama adalah gimanapun juga dia ini uninvited guest dalam tim, dan poin kedua udah dijabarin di atas : karena Dyna orangnya bener" my pace, jadi selain ngambil spotlight begitu muncul juga malah ngebawa orang ngikutin irama dia.

      Btw, Dyna bukan kondektur orkestra kok. Cuma gayanya aja pas ngejurus kayak gitu.

      Terima kasih udah berkenan mampir dan ngupas entri ini panjang-lebar~
      Semoga masih berkenan ngebaca andai Dyna terus lanjut ya

      Delete
    2. oalah dasar byk gayaa xD

      sipp sipp

      Delete
  24. widih sedapppp,,,aye senengn banget ini ngeliat cara ngebawain berantemnye,,,kesan agak nyantei gitu,,tapi tetep seru,, jurus - jurus nye juga ajaib banget tuh,,bang,,,ade nyang maenan musik sampe piza segala,, kalo aye mah baru bisa ngebikin adengan berantem nyang jotos-jotosan doang,,,kagak mainan yang kayak begini,,,

    ini tokoh utama nye si Dina pan yak?? keren abis die,,,jago,,bikin aye pengen ngedukung gitu, unik pembawaan die tuh,,,beda ama karakter lain

    nilai 10

    karakter aye Kumirun

    ReplyDelete
    Replies
    1. Beda gimananya nih?

      Hehehe, makasih dukungannya

      Delete
  25. Seperti biasa, gak ada keluhan soal tata bahasa atau gaya narasi, entry kang Sam selalu enak dibaca. Tp kalau boleh jujur saya curiga ini autowrite, hehe, Kang Sam kayaknya belum ngeluarin semua kemampuannya, itu sih kesan yang saya tangkap sebagai penulis awam ^_^

    Terus bener, sama seperti entry saya, Dyna mencuri perhatian pas kemunculannya. Kehadiran Ronnie, menawarkan rivalitas buat Dyna. Jujur awalnya saya sempet mau bikin party Asep-Ronnie-Dyna-Lady Steele, tim power trip, leadernya Rin, Asep-Ronnie sebagai duo rival dan Dyna sebagai joker. Pokoknya kuartet brutal deh XD

    Mungkin cuma satu yang mengganjal, soal cast detector Tamon Rah, sempet beberapa kali Aria ngeluarin skill es nya, tapi kayak yang dibiarin aja ma Tamon Rah.

    Well, untuk prelim ini saya kasih nilai 9

    Tapi seperti yg saya bilang di atas, entry ini belum ngeliatin kemampuan Kang Sam seperti di entry Claude-Claudia di BOR 4.

    dLanjung (Asep Codet)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kang dendi jago nih, bisa ngeliat kalo ada autowrite di tulisan ini

      Aslinya sih saya tetep bikin kerangka poin" seperti biasa sebelum nulis, cuma karena beberapa kesibukan jadinya agak dikebut dan apa adanya. Maaf jadi ga semaksimal CC

      Delete
  26. Somehow ini berasa banyak kurangnya di karakterisasi MC...

    Penulisan dan plotnya sih sudah bagus, alur pertempurannya pun cukup superb. Komedinya lumayan lucu, finishing di bagian menaranya juga bagus.

    Tapi untuk karakterisasi OC Dyna ini sendiri, entah kenapa saya malah merasa kalau dia ini jadi karakter generik pervy skirt chaser. Padahal awalnya saya mengira kalau dia ini tipe flirty yang lebih elegan lho... Gak masalah juga sih kalau dia memang pervy skirt chaser.

    Lalu sisi androgynus Dyna mana? Saya sama sekali gak lihat ini... or did I missed it somewhere?

    Nilai 9 (karena saya penasaran liat Dyna berikutnya)

    Zoelkarnaen
    (OC: Caitlin Alsace)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Saya terlalu fokus ke bikin plot cerita buat ngasih impresi feel yang mau ditunjukkin dari entri Dyna, tapi agaknya emang jadi abai sama karakternya sendiri. Kayak balesan komen saya ke Ann, di situ agak miss. Semoga kalo ketemu karakter ganteng bisa lebih keliatan ambiguitasnya #eh

      Btw, Dyna ini cuma penjaga pintu (tukang pukul) yang ga kenal pendidikan, jadi imej saya ke dia emang ga pernah tipe elegan dari awal

      Delete
  27. hai ganteng.. >///<

    ..eh...

    ..ganteng?

    cantik??

    hensem?

    byutiful?

    uuunngg.... 10/10

    {Eh.. maaf ya si Tata jadi agak aneh gini.. Saya, Driani yang sederhana dan bersahaja, akan menggantikan..

    Aku suka dengan sikap Dyna yang nyelonong masuk langsung ke dalam tim. Itu bagus.. Sayang.. Saya lebih tertarik bagaimana ketiga entran yang begitu berwarna karakternya bisa bertemu.

    Saya agak terganggu dengan one-liner yang terlalu sering muncul disini. Apa ini gaya kak Sam ya? Saya hanya kurang menikmati saja. dengan one-linernya. Tapi diimbangi dengan narasinya sih..

    Buat entry ini.. Aku beri 8--}

    Tambah satu lagi gih.. ganteng... cantik.. aaaa..

    {Yha..}

    Furaaazz.. <3

    {jadi totalnya 9.. aku pengen liat kemampuan kak Sam lebih jauh..}

    -Fath'a Lir dan Pedang

    ReplyDelete
    Replies
    1. {aduh.. tolong maafkan aku yang g konsisten ini..}

      Delete
    2. Waduh, saya malah bingung kalo mesti ngupas trio sampingan selain Dyna. Paling ngga saya ngasih narasi sedikit dari sudut pandang mereka aja

      Btw ya, one liner dan paragraf ringkas itu udah ciri saya karena kiblat saya ke style light novel secara umum

      Delete
  28. Halo halo Dyna, saya berkunbal.

    Secara pribadi, saya ngerasa gaya penceritaanmu lebih interaktif dibanding di cerita Claude dan Claudia. Contohnya, semepet ada narasi yang nyuruh pembaca melupakan paragraf di awal2. Kalimat bertanda tanya, tanda seru, dan tanda pisah pun mendukung ini. Gaya seperti ini sudah sesuai dengan karakter Dyna yang lugas dan luwes sepertinya.

    Openingnya singkat, kontras banget dengan punya saya /o/ Sejak awal si Dyna ngincer cewe ya, sampe tangan meremas2 udara, dan itu pula alasan kenapa dia mau masuk party. So I guess I officially treat Dyna as a male from today onward.

    Fapi dapet peran besar juga, saya suka gimana Ronnie ngingetin dia buat ngelindungi dirinya sendiri. Fapi terus di akhir bilang gelora cinta dan persahabatan... hahaha, entah kenapa saya merasa itu lucu kalau dia bilang gitu.

    Si Aria ngebayangin demonic boobs lagi hahaha! Ini pasti dia merasa tersaingi.Lalu kebetulan sekali muncul monster anjing...

    Dan aksi Dyna mulai dari bagian Bridge sangat membawa angin segar pada alur entri ini. Dia pikirannya sama kayak si WIldan, telur kuda! XD Agak janggal sih baru memperkenalkan diri di akhir. SFX-nya lumayan ngasih efek kejut ke pembaca. Meski yang mengakhiri pertarungan adalah Fapi, tapi kontribusi Dyna signifikan pada flow battlenya. Ngomong-ngomong, bellum se ipsum allet apa artinya?

    8/10

    OC: Wildan Hariz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, gaya narasinya emang menyesuaikan sama karakternya

      Bellum se ipsum allet kalo ga salah artinya 'war will feed on itself'

      Delete
  29. Aduh udah lama sebenarnya baca ini. Tapi baru sempet kasih komentar sekarang. :/

    Nilai 9/10

    Aku baca ulang lagi dari awal tapi kesan asik, seru dan gregetnya masih kerasa

    Ada pengambilan sudut pandang dari masing masing karakter bikin kita simpati sama mereka. Ini yg pengen aku lakuin di entri akum tapi gagal :^

    Di awal bikin ketawa sama tingkah nya Dyna dan di akhir dibikin mlongo sama aksi keren ya Dyna. Imba juga ya. :o

    Bacaan yang ringan. Paling asik kalo dibaca sore2 gini.

    Mang Ujang - Petani Ikemen

    ReplyDelete
    Replies
    1. Seneng denger kamu suka tulisan macem gini. Semoga ke depannya bisa tetep menghibur ya

      Delete
  30. Seperti biasa, kak Sam berhasil membuat karakter dengan cerita awal yang menarik. Racikan pas yang membuat saya yang membaca ikut terbawa suasana. Aria disini kelihatan seperti stereotype heroine, tapi yang ingin saya bahas bukan itu.

    Rivalry antara Dyna dan Ronnie
    Ini greget. Penggambaran karakter Ronnie dan Dyna yang pas, bukan sekedar baik vs baik, tapi Netral vs Netral.
    Ronnie sebagai seorang anggota mafia.
    Dyna sebagai orang yang biasa berada di kehidupan malam.

    Jujur, saya senyum-senyum sendiri di bagian Dyna adu jotos lawan Ronnie di bagian terakhir. Konyol tapi pas.

    9/10
    Ditunggu next round~

    Harid Ziran
    OC: Wilhelm Carna

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yep, buat saya first impression itu penting, makanya selalu fokus bikin sesuatu yang ngegaet orang habis baca pertama kali

      Sekali lagi saya juga bersyukur ada karakter kayak Ronnie, karena rasanya jadi two side of the same coin sama Dyna. Klop banget deh

      Delete
  31. Lucu ya, entry Dyna sama Asep ini kulihat mirip-nggak-mirip gitu.

    Prajurit Alforea sama-sama ngidol Ruu. Sama-sama renyah dan ringan ceritanya. Tapi Dyna sama Asep penggambarannya kek kebalik gitu. Asep yang sekilas ndeso dan selengekan paham masalah dimensi, sihir, dsb. Dyna yang sekilas modis dan elegan malah bego wkwkwkwk.

    Aku ngerasa mayan cukup sih penggambaran Dyna, walopun masih rada ke overshadow sama Ronnie. Fapi screentimenya kek lebih sedikit daripada Aria, tapi Aria malah biasa-biasa aja.

    Plotnya sendiri ringan, nggak terlalu ada kejutan dan endingnya juga sesuai ekspektasi. Romancenya kok aku ngerasa nanggung ya (keknya akunya aja ini).

    Nilai : 8
    OCku : Alshain Kairos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehehe, entah ada komunikasi batin apa saya sama kang Dendi jadi kebolak-balik gini entrinya #apa

      Btw di sini malah aslinya ga ada nekenin romance lho
      Aria >> Ronnie = cinta monyet
      Dyna >> Aria = hei cantik
      Dyna <> Ronnie = worthy opponent
      Gitu

      Delete
  32. Jadi, peringkat satu yang saya sukai malah subbab-subbabnya. Intro yang adem (pun intended ww) terus chorus langsung menghentak dengan battle, rasanya entri ini seperti lagu yang dikomposisikan. Good job.

    Bagian bridge itu sih, kayak sudah cue banget Dyna bakal jadi last minute hero =)) mungkin intentional, jadi bukan nilai minus

    Narasi dan caramu mindah2 spotlight karakter tanpa harus makan banyak kata juga bagus. Tapi gantinya malah deskripsi environment yang kurang gara-gara diambil alih plot.

    [oot, apa yang ditawarkan--eh, dilakukan Dyna sampai prajurit2 Alforea mau bantu dia?]

    nilai ... kalau ingin tahu, ya 9 deh

    OC. Apis

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, seneng ada yang mencermati subbabnya

      Ini udah bawaan dari dulu, selain judul entri yang berpola subbab dalem ceritanya juga pasti udah ada fixed formatnya

      Kalo soal minim deskripsi ga akan ngelak. Emang ga pernah fokus di situ sepanjang sejarah saya nulis cerita

      Yang ditawarkan Dyna? Glory for the queen, of course

      Trims udah mampir, sekalipun nilai ga diitung, saya seneng baca komennya

      Delete