14.5.15

[PRELIMINARY] GARRAND ENTRENCHORD - JAUH DI UFUK GURUN


Garrand Entrenchord - Jauh di ufuk gurun
Penulis: Hael illyas




Pemain. Senyuman. Bergerilya. Dunia. Segel kunci. Tameng. Perisai putih. Perjuangan kami. Dunia baru. Ratusan. Tenteram. Kuda. Menara. Portal. Api. Menanar gersang. Beratus pasukan. Bulan. Menerkanya. Iming-iming kesempurnaannya. Bersamaan. Keindahan. Semangat tarung. Langit berbintang. Emas. Merah. Sejarah tak berawal. Titisan bulan. Pengetahuan. Bantai. Kepak sayap abadi. Ragam. Gurun. Teknologi. Sihir. Langkah sembunyi. Picik. Perang. Meraih angan. Serbuan.

Hitam baru saja tertoreh di langit. Gelap. Penuh bintang. Di atap bangunan serikat yang telah menjadi rumah baginya, pemuda gagah berzirah emas, Garrand Entrenchord sedang bersandar menikmati kedamaian dunia bersama angin malam yang berhembus. Menikmati suasana damai di malam sepi mungkin adalah suatu hal yang biasa di mata kebanyakan orang tapi di Adessia, kalian tidak akan tahu kapankah sosok makhluk dari neraka muncul untuk memakan manusia. Nikmati suasananya selagi bisa, Garrand mengusap tameng emas di atas pangkuannya.

Tamengnya bundar sederhana dengan beberapa ukiran apik di permukaannya. Setidaknya untuk saat ini karena setelah beberapa misi terselesaikan, Garrand akan memiliki cukup bahan untuk menempa tamengnya menjadi lebih kompleks. Dan tentu saja menciptakan kemampuan baru seiring perubahan tamengnya. Membayangkan hal tersebut dengan antusias, membuat Garrand kembali terpikirkan tentang berapa kali lagi perang dengan makhluk pemangsa manusia dan berapa banyak lagi korban yang akan terenggut. Ketika para petarung lain berpikir untuk menciptakan jurus yang mematikan untuk melawan dan menerjang ke depan maka akan ada orang yang berpikir untuk menjaga keselamatan nyawa dan menyokong tingkat keberhasilan mereka. Demi tujuan itu, jurus dan keahlian milik Garrand terlahir. Tentu semua pertarungan itu tak diperlukan bila dunia Adessia ini jauh lebih aman tanpa kehadiran sosok makhluk neraka.


Di tengah lamunan itu, terjadilah terang. Berpendar. Sebuah nyala keemasan muncul di permukaan tameng emasnya. Kilauan itu bukanlah sekedar cahaya acak melainkan membentuk sebuah huruf, sebuah tulisan. Agak sedikit terkejut menunggu seluruh tulisan lengkap terwujud, Garrand melihat ke sekitar untuk mencari apakah ada seorang pengguna jurus yang sedang iseng terhadap dirinya. Nihil. Di atap serikat ini masih sepi senyap. Kembali ia menanar cahaya di tamengnya yang sudah lengkap tulisannya.
Dunia terindah yang belum pernah engkau temui sebelumnya. Maukah engkau hadir ke dalamnya?

"Dunia... terindah?"

Hal yang langsung terbayangkan oleh Garrand saat itu juga adalah dunia tanpa kehadiran sosok makhluk yang hanya ingin memangsa manusia. Dunia yang tidak banyak orang terkunci ketakutan untuk keluar dari pintu rumahnya.

Tanpa sadar, batinnya telah mengiyakan untuk ikut hadir ke dunia terindah itu. Hingga akhirnya, sebuah portal emas terbuka tepat pada tameng emasnya. Portal yang menyedot Garrand bersama tameng emasnya tanpa meninggalkan jejak. Atap bangunan semakin sepi dan senyap.


**** 
〠〠〠 

Hijau. Biru. Berbutir terbang. Cahaya. Debuan. Gemerlap.

Tersadar dengan sedikit terkejut. Sebuah pemandangan penuh cahaya yang berpendar dengan unik dan asing namun terasa apik. Ada sesuatu yang bergerak di sisi kanan Garrand. Saat ia temui, rupanya seorang wanita yang sepertinya sama kagetnya melihat kehadiran Garrand yang tiba-tiba. Lalu sebuah cahaya berpendar di sisi kiri Garrand yang kemudian juga membuat dirinya terkejut karena sosok seorang pria berjubah muncul tiba-tiba balik cahaya. Pria berjaket ini juga terkejut melihat pergerakan Garrand. Dan hal ini berlanjut secara terus-menerus di sisi lainnya. Rupanya sudah ada puluhan orang berkumpul di halaman yang dikelilingi banyak bangunan bertingkat, beberapa gadis berseragam pelayan, sebuah istana, dan pepohonan besar yang meliuk serta diindahkan dengan iluminasi berbagai warna.

"Selamat datang di Alforea, wahai petarung!" ucap suara gadis bergema lembut.

Semua pandangan yang tadinya bingung dan penuh siaga pun akhirnya beralih pada seseorang di balkon istana tak jauh dari halaman perkumpulan ini. Tertuju pada seorang gadis bergaun merah yang menyapa mereka semua dengan alat pengeras suara sambil kemudian sedikit berdebat dengan seorang tua berjanggut putih di sebelahnya.
Lalu banyak orang mulai mengeluh ketika gadis ini bertanya dengan nada seenaknya, "Apakah di antara kalian ada yang masih bingung kenapa bisa muncul secara tiba-tiba di sini?"

Ya, tentu saja bingung—karena setidaknya bagi Garrand, ia tersedot ke dalam cahaya secara begitu saja lalu muncul di sini. Suasana di sekeliling hampir merusuh.
Karena pembukaan dari si gadis tidak begitu mengenakan sehingga memancing kerusuhan, si pak tua pun mengambil alih alat pengeras suara. Dan menyapa semua dengan lebih bijak dan sopan. Namun sunyi ini tak bertahan lama. Mereka yang berkumpul kembali kisruh setelah mendengarkan kalimat bernada sopan itu berubah.

"Kalian semua yang ada di sini, adalah calon peserta turnamen antar realitas yang akan diadakan tidak lama lagi. Turnamen ini disebut Battle of Realms, dan hanya para petarung terbaik yang bisa mengikuti pertarungan bergengsi ini!" ucap si tua itu berkesan konyol. Antar realitas, artinya mereka semua berasal dari dunia yang berbeda? Sulit dipercaya. Terlebih lagi, mereka semua akan diadu dalam turnamen pertarungan!?

Semula surat aneh yang diterima Garrand adalah ajakan untuk hadir ke dalam dunia yang indah dan memang sudah terbukti indah. Namun, apakah keindahan itu akan bertahan setelah ditemui kata petarung dan turnamen? Apakah keindahan juga digambarkan kedua orang di istana itu dengan adegan adu kekuatan?

"Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan!!" lanjut ucapan dari gadis gaun merah yang baru saja kembali merebut alat pengeras suara.

Terlalu tidak masuk akal. Tidak ada bukti yang meyakinkan. Iming-iming 'mendapatkan apapun yang diinginkan', menjadi hal tak bermakna yang hanya keluar dari mulut seorang gadis.

"Namun jumlah kalian terlalu banyak. Kami akan mengadakan babak penyisihan dan hanya setengah dari kalian yang akan lolos. Kalian harus membentuk kelompok yang terdiri dari dua sampai empat entitas. Setelah itu kalian akan langsung berpindah ke area pertarungan bersama seorang pelayan yang akan menjelaskan misi kalian agar dapat menjadi bagian yang lolos penyisihan."

Penjelasan itu tak terdengar begitu seksama akibat keributan di area perkumpulan. Mungkin bagi kebanyakan orang penjelasan itu hanyalah sebuah jebakan dan kekonyolan namun tak memungkiri ada juga orang yang menganggap hal ini sebagai tantangan. Bagi Garrand itu hanyalah kebohongan belaka.

"Dengan ini, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!" sahut si tua dengan alat pengeras lalu mereka berdua pergi meninggalkan balkon istana.

Semua ocehan sudah tak lagi berguna. Semua tindakan keras tak lagi menghasilkan hal lebih lanjut. Semua pelayan yang mulai bergerak merapat, mulai mengunci pergerakan para perusuh. Tak ada yang bisa pergi lebih jauh dari kerumunan ini, apalagi untuk mengejar dua orang di istana barusan. Penghalang sehebat itu bukanlah bentuk kekuatan yang lemah. Entah penghalang tersebut adalah kemampuan para pelayan atau dua orang pembicara tadi.

"Bagi kalian yang sudah menentukan anggota kelompoknya, akan segera berpindah menuju arena," para wanita pelayan mengucap kalimat itu bersamaan.

Tak lama, mulai beberapa bola cahaya bersinar di antara kerumunan para entitas yang dianggap sebagai peserta ini. Bola cahaya itu menandakan keberangkatan para peserta yang sudah menentukan kelompoknya lalu berpindah entah ke mana.

"Apapun yang aku inginkan saat ini adalah kembali pulang!" lantang Garrand kepada pelayan terdekat. Bila setengah dari puluhan orang ini tidak dapat lolos dari babak penyisihan, Garrand berharap ia termasuk ke dalam bagian itu. Lalu kembali pulang ke serikat yang sudah menjadi rumah baginya.

"Maka ikuti syarat dan loloslah dalam turnamen ini, hadiahnya adalah mendapatkan apapun yang anda pinta."

Benar-benar lingkaran setan. Garrand setelah seakan dipaksa ikut hanya untuk mendapat hadiah berupa kembali pulang.

"Jadi mau tak mau, harus mengikuti turnamen ini ya?" ucap seorang gadis dengan sweater merah muda di samping Garrand. Tubuhnya tidak terlalu tinggi tapi bukan pula seorang anak-anak. Paras wajahnya manis dan rambutnya lurus memanjang hingga ke pinggul.

"...." Garrand kembali menghadap ke depan, "Ya, dengan terpaksa."

"Di tempatku tinggal. Aku hanyalah anak asuh. Hidup satu rumah bersama banyak teman. Itulah Keluargaku," gadis ini berbicara dengan santainya, begitu akrab, "Sampai akhirnya aku tahu bahwa kami akan segera dijual sebagai budak ke berbagai belahan dunia. Dan saat menerima undangan kemari, sepertinya tidak jauh beda hasilnya. Entah aku memang tanpa sadar sudah dijual kemari atau ada pihak lain yang ikut campur dalam kehidupanku. Intinya saat ini aku ingin tahu semua jawaban itu."

"Perjalanan hidup yang cukup rumit," jawab Garrand iba. Karena ini tentang pertemuan antar realitas, dari kisah tersebut, Garrand tahu gadis ini berasal dari dunia yang berbeda. Rupanya tanpa keberadaan makhluk neraka yang memangsa manusia, kehidupan pun masih bisa jauh dari kata damai. Bahkan gadis manis inipun hendak dijadikan seorang budak.

"Begitu pula denganku," seorang pria berjubah abu-abu ikut gabung bicara. Di punggungnya tersandar sebuah tongkat besi. Sepertinya ia tak sengaja mendengar percakapan Garrand dan gadis itu, "Bukan tentang kehidupan. Aku adalah seorang detektif dan ada hal yang juga ingin aku ketahui tentang dalang dan maksud dimulainya semua peristiwa ini."

"Berarti tidak keberatan untuk membentuk kelompok, bukan?" gadis itu mengulurkan tangan seraya mengajak berkenalan, "Namaku, Hatena." senyumnya terseringai damai.
Gadis itu, Hatena, mengulurkan tangannya ke arah Garrand. Garrand hanya diam sejenak tidak begitu terlihat bahwa seseorang yang lebih mungil darinya sedang mengulurkan tangan. Ia berpikir bila membentuk kelompok berarti menyetujui sebuah syarat untuk memasuki turnamen antar realitas ini.

Hatena mencoba kembali untuk mengundang perhatian Garrand yang sedang kabur, "Kurasa kita sudah membuat pertemuan awal yang baik. Kenapa tidak dilanjutkan saja sebagai langkah awal untuk menguak lebih lanjut soal turnamen ini? Ayolah,"

"Ya... Apa boleh buat," Garrand menghela nafas sambil tersenyum ramah, "Aku, Garrand, Garrand Entrenchord. Karena nantinya disebut tim. Aku harap kita bisa bekerja sama dengan baik."

"Itu harus! Hehee..."

"Bagaimana denganmu?" Hatena kini mengulurkan tangan kepada pria berjubah abu-abu.

"Sebagai detektif, aku setuju, inilah langkah awal yang harus diambil. Namaku, Geiger Schwarz."

Mereka bertiga pun berdiam sejenak, bagaimanapun juga ini adalah turnamen yang diikuti secara mau tak mau, memikirkan apakah kelompok ini sudah rampung karena masih ada opsi empat orang dalam satu tim. Lalu sambil menyiapkan diri untuk menuju ke arena pertarungan yang entah bagaimana suasananya di sana nanti. Sementara itu, Geiger berbalik memunggungi keduanya. Ia menatap layar tablet digitalnya.

Ia berbisik kepada tablet di dalam genggamannya, "Sebenarnya tanpa membentuk tim pun, kita berdua juga sudah cukup untuk menelusuri semua ini 'kan, Navi? Dan bila kasus bencana besar di dunia kita memiliki keterkaitan dengan peristiwa di dunia ini. Aku akan menemukan dalangnya dan menghentikan dia... meski harus memanfaatkan dua orang ini."

"Hmm!!" Suara seorang wanita sedang bergumam dengan riang pun terdengar dari tablet digitalnya, menyahuti ucapan Geiger.

"Menarik sekali!" Geiger dikejutkan dengan suara pria yang bernada riang di depannya. Begitu dekat. Orang itu baru saja menguping gumaman dirinya. Tepat dari arah depan. Sigap saja, Geiger menoleh namun tak menemukan pemilik suara itu. Hanya spasi yang cukup jauh dengan peserta lain.

"Wah, wah... asiknya yang sudah berkelompok!" suara pria bernada riang itu sudah berada di depan Garrand dan Hatena. Geiger pun sontak terkaget dan menoleh ke sumber suara di belakangnya itu.

"Hai, Tuan zirah emas dan Nona cantik. Boleh tidak aku ikut bergabung? Susah lho mencari orang yang sudah berkumpul bertiga begini," pria itu tinggi semampai, sepantaran dengan Garrand tingginya. Rambutnya merah, mengenakan kemeja bergaris, dan wajah yang murah senyum, "Namaku, Ernest! Salam kenal!"

Keduanya tak bisa berkata lagi untuk pilih-pilih. Sementara di belakang sana, Geiger sedikit was-was bila pemuda bernama Ernest ini bicara macam-macam. Hatena dan Garrand pun kembali memperkenalkan diri sementara tatapan was-was Geiger hanya dibalas dengan senyuman dari Ernest. Meski begitu, Geiger sudah tak memiliki kesempatan untuk keluar dari kelompok. Tim pun terbentuk dari empat orang lalu sama seperti cara mereka datang, begitu pula cara mereka pergi. Menghilang dalam cahaya. Teleportasi ke arena babak penyisihan.


〠〠〠****


"HUWOOOOOOOOHH!!!"

Suara ratusan teriakan menggema secara acak, membuat Garrand dan timnya tersontak kaget sesaat setelah muncul di tempat ini. Sebuah hamparan gurun pasir berbatu yang luas sejauh mata memandang di bawah langit malam. Dingin dan bergidik. Entah karena amat dinginnya suhu gurun di malam hari atau akibat di depan sana sedang bergemuruh pertarungan gerilya antara ratusan prajurit melawan ratusan entitas liar yang terus berdatangan dari ujung penglihatan. Prajurit ini hanyalah kumpulan manusia berzirah sementara entitas liar itu beragam wujudnya mulai dari gumpalan lendir, manusia kekar berkepala hewan, hingga kalajengking seukuran manusia.
Garrand, Hatena, Geiger, dan Ernest berdiri cukup jauh di belakang barisan prajurit.

"Ada apa ini? Itu semua adalah monster gurun!?" Hatena tercengang.

"Ini... perang." Garrand menanar kosong. Ia membayangkan dunia asalnya yang juga sering mengalami perang melawan entitas liar, tak jauh berbeda. Bahkan lebih parah karena perang sebesar ini belum pernah ia lihat sebelumnya. Deru nafas dan dentuman senjata terus bergema.

"Selamat datang di gurun Shorn'n Plain," seorang wanita pelayan menyapa di samping keempatnya, "Tempat ini adalah arena babak penyisihan. Untuk dapat lolos, kalian harus membantu para prajurit Alforea untuk mencapai tujuannya. Setelah misi selesai, kalian akan kembali diteleportasi dengan segera dari gurun ini. Sekian yang bisa saya sampaikan. Selamat berjuang."

Pelayan itu pun segera menghilang di balik cahaya. Semua pertanyaan dan sanggahan dari keempatnya sama sekali tak digubris selama pembicaraan itu.

"He...? Penjelasannya terlalu singkat," komentar dari Ernest sambil tetap tersenyum... namun pahit.

"Lihat! Seseorang terkapar di sana," Geiger menunjukkan jarinya ke arah tanah.
Mereka berempat pun buru-buru menghampiri prajurit berzirah yang terbaring di pasir tak jauh di belakang barisan pemanah. Rupanya masih terlihat ada pergerakkan dari prajurit itu.

"Anda baik-baik saja?" Tanya Hatena seraya memberi kontak sentuhan dengan tangannya. Sementara itu, Garrand sedikit mengalihkan fokus pandangannya ke arah peperangan.

"Ya... Hanya sedikit patah tulang—kurasa," pria berzirah menjawab agak mengerang menahan sakit.

"Tidak keberatan untuk menjelaskan pada kami penyebab terjadinya perang besar ini? Segalanya," Hatena kembali bertanya dengan nada begitu antusia sampai tanpa sadar telah memotong ucapan Geiger yang hendak bertanya lebih dulu.

"Kalian tidak tahu?"

"Kami hanya diminta seseorang untuk menyumbangkan tenaga dalam perang ini."

"Walau sebenarnya agak dipaksa," gumam Garrand dengan datar sambil terus memandangi aksi perang. 

"Oh. Ini adalah perang besar sehingga butuh banyak bantuan tenaga. Kami memerangi para monster yang selain bergerak ke arah negeri jauh di belakang sana, mereka juga mencegah jalan kami menuju istana di sana. Kita harus menghentikan ritual di istana tersebut! Sebelum.... ah, terlambat," prajurit ini memalingkan pandangannya ke langit dengan mata terbelalak. Hatena dan yang lainnya penasaran dan mengikuti ke arah mata itu menunjuk.

Langit malam penuh bintang dengan bulan purnama menampilkan sebuah bencana hebat. Bencana alam yang mungkin belum pernah ada yang melihatnya secara nyata. Para petarung ini sedang melihat bulan—benda besar di langit malam, telah retak dan terbelah menjadi beberapa kepingan raksasa. Beberapa dari pecahannya terlihat menyala merah. Bergerak jatuh ke planet ini bak hujan meteor. Dan punya kemungkinan amat besar bahwa meteor tersebut akan mendarat di wilayah ini. Membanjiri dinginnya gurun pasir dengan lautan bola api.

"Garis penyerang depan mulai rapuh," jawab Geiger memerhatikan kondisi sekitar di saat yang lain terfokus dengan pemandangan langit.

"Akh! kita harus tetap menyerbu istana itu sebelum semuanya menjadi lebih buruk!" sahut si prajurit ini dengan menoleh sebisanya dari posisi berbaring. Entah istana seperti apa yang dimaksudkan karena memang di ujung sana ada sebuah dan satu-satunya bangunan. Namun tidak terlihat jelas karena jaraknya yang jauh.

"Jangan gencar! Pertahankan penyerangan!" teriakan-teriakan seorang prajurit di depan sana mulai mengomando lantang. Dari mana sumber suara itu berada, tidak dapat diketahui dengan pasti.

"Aku akan membantu dan melindungi mereka. Kalian berdua ikutlah membantu!" Garrand menatap kedua pria dengan tegas lalu menoleh ke arah Hatena di sisi lain, "Hatena, kumpulkan saja informasi darinya. Kita berkumpul lagi nanti," ucap Garrand lalu bergegas menuju ke barisan penyerangan. Larinya sangat cepat untuk seseorang yang membawa tameng besar yang berpijak tanah pasir yang gembur.

"Tentu!" jawab Hatena bersiap menampung semua informasi lengkap tentang perang ini.

"Wah, wah... dia sudah pergi saja. Bagaimana ini, Tuan detektif?" ucap Ernest agak berbisik pada Geiger, "Bisa-bisa dia malah dimanfaatkan orang lain lebih dulu," senyumnya rapat dan panjang.

"Jelas bukan urusanmu," Geiger menjawab dengan tegas.

"Wah, wah... menakutkan," Tubuh Ernest mulai terselubungi aura merah. Ia pun berlari ke arah depan sementara wujudnya perlahan mulai terlihat samar-samar sampai akhirnya ia menjadi tak kasatmata. Menghilang entah ke mana.

Geiger bisa menduga bahwa hal tersebut merupakan sebuah kemampuan milik si pria berambut merah dan tidak begitu terkejut juga tidak ambil pusing tentangnya. Ia pun segera menyusul Garrand untuk bertempur. Sementara itu, Hatena sedang larut dalam rasa keingintahuan yang besar. Ia mendengarkan dengan antusias kelanjutan berita dari si prajurit. Hujan meteor di langit tak membuatnya bergeming. Begitu pula dengan si prajurit. Tak bergeming, mengetahui mau sekecil apapun meteor yang datang, dia sendiri pun tak dapat berlari jauh. Bahkan berdiri saja tak mungkin. Pasrah. Hanya pasrah.

"Pecahnya bulan adalah tanda berhasil terbebasnya segel Tamon Rah si api abadi. Salah satu dari meteor yang jatuh itu adalah telurnya. Dari pecahan dua telur itu, akan lahir Tamon Rah. Menurut cerita, Tamon Rah adalah kuda api raksasa. Bahkan sampai sebesar istana dan tidak bisa mati. Meski sudah dipenggal, tubuhnya akan kembali tumbuh dengan cepat. Ia dapat merasakan keberadaan pengguna sihir yang akan segera ia incar untuk dibunuh. Ia memiliki sayap besar yang ketika dikepakkan dapat membuat hujan panah api. Di hadapannya yang kau temui adalah putus asa dan ketakutan.

Satu-satunya cara mengalahkan Tamon Rah adalah dengan menghancurkan dua kristal yang merupakan pecahan telurnya secara bersamaan. Harus bersamaan dan kekuatan sihir tak akan mampu menggores secuil pun sisi kristalnya. Para pengguna sihir hanya dapat bersembunyi dan berputus asa dalam bencana ini. Maka Kekuatan fisik adalah kuncinya. Ya, semua ini terdengar seperti dongeng belaka karena saksi hidupnya sudah mati ribuan tahun lalu. Tapi sejarah itu... benar-benar nyata. Dan Tamon Rah telah kembali, kali ini dari dalam bulan."

Hatena yang awalnya antusias untuk mendengarkan dan menggali informasi, kini mulai menyadari bahwa kehadiran hujan meteor yang sudah mulai mendekat, membuat kedua bola matanya menatap terbelalak.


〠〠〠****


Fokus dan gertakan para prajurit di baris depan mulai mengendur. Mereka tetap melawan ribuan entitas buas namun cenderung bergerak mundur. Menjauh dari tempat tujuan, istana di tengah gurun berbatu. Tampilan langit malam penuh garis-garis api meteor adalah penyebabnya.

Salah seorang prajurit di baris depan, tak sanggup menangani kebuasan entitas mumi hidup di depannya—yang terlihat sama sekali tak peduli dengan bencana di langit. Prajurit ini menjadi jauh lebih lengah dari pada kebrutalan sang entitas buas dengan pedang dalam kepalan. Sebelum sebuah pedang membuat nyawa prajurit ini melayang, ia hanya dapat menatap dan mematung. Ia mematung setelah melihat seseorang bertameng emas yang berkelahi dengan lincah dan menghantam kuat para entitas buas. Satu demi satu lawannya roboh dengan sebuah hantaman tameng emas yang membuat remuk kepala dan rusuk.

"Pertahankan semangat kalian!" Garrand memberi komando sambil terus melakukan sepak terjang. Tameng emas di tangannya bukan lambang pertahanan semata. Bagaimanapun pertahanan terbaik adalah serangan, bukan?

"Jatuhnya meteor di atas adalah tanda untuk memperkuat konsentrasi kalian... bukan sebaliknya!" lanjut Garrand.

Garrand bergerak ke arah samping di depan jejeran prajurit baris depan. Ia ingin memberi ruang kepada penyerang depan. Di salah satu sudut, Garrand melihat terdapat manusia raksasa berkepala banteng. Tingginya mencapai lima meter. Makhluk ini sebenarnya bisa saja dikalahkan oleh tiga prajurit yang bekerja sama namun kelengahan akibat kehadiran meteor, membuat pertarungan itu sulit.

Garrand memijak batu untuk meninggikan lompatannya. 

" [Strikebash]!! "

Kemampuan yang membuat tangan Garrand mengayun cepat. Ayunan cepat ini ia manfaatkan untuk melempar tameng emasnya di udara hingga meluncurlah piringan seberat tiga puluh kilo ke arah kepala si raksasa. Hasilnya, mulut banteng raksasa yang cembung itu pun mencekung dan seluruh tubuhnya jatuh terguling hingga beberapa meter—meremukkan beberapa entitas yang lebih mungil di sekitarnya.

"Masih ada jeda waktu sebelum meteor itu menyentuh daratan. Kembali fokus dengan penyerangan! Jika meteor itu terlalu dekat untuk dihindari, aku yang akan menjadi perisai kalian."

Sekelibat cahaya emas melaju cepat ke arah lengan Garrand lalu mewujud menjadi tameng emas. [Golden Glaze] kemampuan untuk mengembalikan tameng emas setelah jauh terlontar dan meremukkan beberapa entitas dalam lajunya di kejauhan sana. Setelah tameng telah mantap terpampang dengan sendirinya, belasan stalagmit bermunculan lalu menusuk dan menerbangkan para entitas buas.

"[Vis] Gaia. [Codex] Spina Impales," Geiger di belakang barisan prajurit baru saja merapal sandi sambil menggenggam perangkat kotak, tab digital miliknya.

Perpaduan [Vis] sebagai elemen dasar dan [Codex] sebagai pengaplikasiannya, adalah kemampuan untuk mengendalikan elemen menjadi bentuk tertentu dan menggerakkannya sesuka hati.

Merasakan mendapat bala bantuan yang amat menakjubkan, para prajurit pun kembali memperkuat penyerangannya sambil memperhitungkan arah jatuh salah satu meteor ketika memang sudah cukup dekat untuk dapat diperhitungkan. Selama belum tahu pasti arah jatuh meteor, para prajurit fokus untuk menghabisi para entitas buas. Itulah strategi penyerangan terbaik untuk saat ini.

Garrand masih terus gencar menghabisi entitas di sudut barisan yang penuh tekanan lawan. Tameng emasnya masih terus berayun dan terkadang terlontar dengan kuat. Sementara itu, Geiger di barisan menengah, merapalkan sandi-sandi [Vis] Gaia dengan berbagai [Codex] untuk menghabisi lawan. Terkadang memanfaatkan keahlian memakai tongkatnya kepada musuh yang terlalu dekat dengan prajurit.

Ketika ada seorang prajurit yang hendak terhunus senjata lawan, Garrand menggunakan kemampuan [Golden Glaze] dengan melemparkan tamengnya sesegera mungkin ke prajurit tersebut. Tubuh target pun tiba-tiba bersinar keemasan. Ia tak merasakan sakit ataupun gatal ketika mata pedang sama sekali tak mampu menghunus kulit terluarnya.

"Jangan khawatir, cahaya itu akan membuatmu kebal!" jelas Garrand kepada si prajurit.

Dengan senang dan senyum sumringah, prajurit tersebut berasyik-asyikan menerima serangan lawan lalu kemudian menghunuskan balik pedang miliknya. Di sampingnya, Garrand berkelahi dengan lihai dengan tangan kosong dan tetap mampu membunuh lawan-lawan dengan mematahkan beberapa tulang mereka. Tak lama kemudian, kemilau emas yang melapisi si prajurit pun lenyap. Cahaya tersebut melaju ke lengan Garrand dan kembali mewujud sebagai tameng emas.

"...tapi tidak bertahan selamanya," ucap Garrand yang kemudian membuat prajurit tersebut mendadak panik di tengah-tengah para entitas buas.

Serbuan gerilya masih bergemuruh hingga malam menjadi semakin terang dari sebelumnya. Beberapa keping meteor sudah mulai mendekat bersama nyala apinya.

"Pasukan di jarak delapan ratus meter sebelah kanan...!" Hatena di belakang sana berteriak lantang, "Bersiaplah dengan benturan meteor radius lima puluh meter dalam dua menit lagi! Yang lain bisa tetap dalam barisan." Ia memberi peringatan. Tangannya menggenggam sebuah teropong yang sepertinya milik dari seorang regu pemanah.

Geiger yang berada tak jauh dari sana, dapat mendengar teriakan itu, "Apa kau yakin dengan perhitunganmu?" Ia melirik ke arah meteor terdekat.

"Setidaknya aku sedang tidak disibukkan oleh monster gurun, Tuan detektif. Aku punya cukup waktu untuk memperhitungkannya dengan cukup sempurna." Ucapannya terdengar begitu yakin dan antusias. Tidak terasa bergetar panik ataupun khawatir. Dari pada takut, mungkin arti mata terbelalaknya sebelum ini adalah tanda bahwa Hatena... merasa penuh gairah. Menjadi tanda ia beraksi dalam bidang kecerdasan.

Geiger sadar dirinya masih disibukkan dengan melawan para entitas buas sehingga tidak punya banyak waktu untuk memerhatikan laju dari bebatuan meteor, "Cepat sebarkan informasi ini!" Teriak Geiger kepada seluruh prajurit, "Prajurit di jarak delapan ratus meter, mundurlah sebelum benturan meteor radius lima puluh meter dalam dua menit!"

 "Prajurit di jarak delapan ratus meter, mundurlah!" sahut prajurit lainnya cukup jauh di samping Geiger.

"Benturan meteor radius lima puluh meter dalam dua menit!" sahut prajurit lainnya menyambung informasi.

"Prajurit di jarak delapan ratus meter, mundurlah sebelum benturan meteor!" prajurit lainnya menyambung info dari kejauhan sana.

"Bodoh! Kalau sudah di sini berarti jadi sekitar tujuh ratus meter lagi!" bantah prajurit di sebelahnya.

"Oh, iya. Prajurit di jarak tujuh ratus meter, mundurlah sebelum benturan meteor!"

"Prajurit di jarak lima ratus meter, mundurlah sebelum benturan meteor!" sahutan informasi terus tersambung dari satu prajurit ke prajurit lain jauh di sebelahnya.

"Prajurit di jarak lima puluh meter, mundurlah sebelum benturan meteor! ....!? Kita harus mundur!!"

Meski akhirnya di barisan itu para prajurit harus mundur, mereka tidaklah menyerah dan masih terus menyerang saat merasa sudah di posisi yang aman. Sebuah meteor sudah mendekat dan menjadi lebih mudah untuk diperhitungkan arah jatuhnya oleh para prajurit. Dentuman pun terjadi. Para entitas buas yang tidak begitu perhatian dengan keberadaan meteor, hanya dapat berlari sesaat sebelum benturan hingga mereka lumat dalam api bersama dengan debuan kerikil yang mulai bertebaran di udara. Beberapa batuan meteor lainnya ikut berjatuhan ke arah lain yang lebih jauh dari kumpulan barisan prajurit.

Tiba-tiba pandangan mereka sempat berpaling ke arah meteor terbesar dari pada yang lainnya. Di kejauhan langit, benda besar itu hendak jatuh ke arah barisan.
"Jangan khawatir! Meteor itu akan jatuh jauh di depan sana!" koordinasi dari Hatena yang berikutnya disebarkan oleh para prajurit lain.

Meski akan jatuh jauh dari sini, mata para prajurit sungkan untuk tidak selamanya memalingkan perhatian kepada meteor besar tersebut. Akhirnya meteor besar itu pun menghantam tanah di kejauhan lima ratus meter ke depan, melumatkan beberapa puluh entitas buas yang masih dalam perjalanan. Suara dentumannya amat pekik. Getarannya juga kuat hingga meruntuhkan bukit bebatuan jauh di sekitarnya dan sesaat melemahkan pijakan kaki. Rupanya hantaman itu juga menghasilkan muntahan bebatuan api. Dan salah satunya yang cukup besar, terpental hingga ke barisan prajurit.

Garrand yang melihat itu pun langsung sigap menanggapi. Ia bergegas berlari melewati para entitas buas menuju bebatuan tinggi. Ia memijak di sana agar dapat melompat jauh di udara, mengarah ke jalur batu api tersebut. Walau batu itu berukuran lebih besar dari tamengnya, Garrand tetap menghadang begitu saja. Saat sudah bertatap muka dengan bara api yang menghangatkan malam, Garrand pun mengarahkan tamengnya dengan mantap ke arah depan.

[Constant Fortreess] sebuah lapisan luminasi emas dengan radius lima kali ukuran tamengnya, terpampang kokoh tepat di depan piring pelindung tersebut. Hantaman pun tak terelakan. Batu api yang melontar hanya dapat berubah menjadi debu ketika bertabrakan sementara itu Garrand tak bergeming sedikitpun. Bahkan ia sama sekali tak bergerak di udara, konstan di tempat dalam beberapa detik. Bertahan dengan kokoh. Setelahnya Garrand mendarat di tanah dengan mulus. Dua entitas buas di sebelahnya segera ditusuk oleh prajurit hingga tewas. Kini mata mereka tertuju pada sesuatu yang lebih menggemparkan pandangan di ujung gurun.


****


Si rambut merah yang murah senyum, pergi meninggalkan sang detektif Geiger. Dalam larinya, Ernesto Boreas membuat tubuhnya perlahan samar hingga akhirnya menjadi tembus pandang seutuhnya. Ia berlari ke arah serbuan entitas buas. Tubuh yang tembus pandang membuatnya bergerak dengan ringan. Memijak. Memijak. Ia dapat melompat sejauh seratus meter setelah ancang-ancang berlari. [Shadow Walk]

Seratus. Dua ratus. Tiga ratus. Hingga lima ratus. Kini Ernest sudah berdiri santai di baris para entitas buas paling belakang. Yang ia lihat hanyalah punggung dan ekor mangsanya. Entah dari mana asal mereka. Jauh di belakang sana, istana yang hendak diserbu sudah terlihat lebih jelas Sementara itu, hujan meteor masih jauh dari atmosfer planet ini. Santai saja. Dan tetap tersenyum.

"Ingin melindungi prajurit-prajurit segitu banyaknya yang tak satu pun perlu aku kenal.... buat apa? Si pria bertameng emas itu sepertinya begitu naif. Wah... wah..." senyuman Ernest bermakna palsu. Dirinya sudah tidaknlagi tembus pandang dan mulai terselimuti aura merah. Berikutnya beberapa dari aura itu memadat di tangan, membentuk sebuah pedang merah dalam genggaman. Ernest pun mengendap ke belakang manusia tengkorak.

"Kenapa harus melindungi mereka segala." Bacok! Tubuh tengkorak itu pecah dan roboh.

"Misi mereka ingin menyerbu istana itu, bukan?" Gorok! Monster mumi mati terpenggal.

"Kalau sekedar ingim menghancurkan istana, kurasa aku sendiri pun juga bisa." Sayat! Golem lumpur terbuyarkan isi perutnya.

Tak perlu memedulikan mereka segala. Mau-maunya dia dimanfaatkan begitu saja dengan para cecunguk. Heh!" Tusuk! Raksasa berkepala kerbau tertembus otaknya.
Entitas buas itu mati satu per satu tanpa menyadari keadaan Ernest yang sudah kasatmata.

Sampai akhirnya Ernest dikagetkan dengan kedatangan kalajengking seukuran manusia di sampingnya. Dan sebelum keduanya siap saling serang, tubuh kalajengking itu bonyok tak bergerak akibat tertimpah sebuah tameng emas yang datang entah dari mana. Temang itu pun berubah menjadi sebuah gumpalan cahaya lalu terbang ke arah dia datang. Dari laju kepergiannya, sepertinya tameng itu datang dari jarak lima ratus meter di depan sana.

"Wah... wah... itu hanya peluru nyasar, bukan?"

Ya, hanya peluru nyasar. Ernest hanya bisa tersenyum ragu.

Saat masih asik membunuh para monster yang dianggap sebagai latihan pembunuhan tanpa jejak, batu meteor mulai berjatuhan. Satu batu meteor memiliki tampilan berbeda, ia lebih merah dibanding api meteor lainnya. Dan lebih menyala dari pada aura merah milik Ernest.

Setelah beberapa meteor jatuh di tempat yang amat jauh dari keberadaan. Satu meteor merah tampak bergerak lebih cepat dan arah jatuhnya cukup mengejutkan. Meteor itu berbentuk dua batu yang salimg bertempetan dan... Debum! Meteor itu tepat jatuh di istana. Benda menyala itu meluluhlantahkan seluruh istana.

"Wah... wah... sudah hancur duluan istananya." Ernest hanya bisa tersenyum remeh.

Di sana hanya tersisa dua buah batu menyala yang berdiri kokoh menggantikan keberadaan istana. Di antara dua batu itu terlihat muncul sebuah lingkaran berwarna keunguan. Dan dari baliknya terlihat bayang-bayang cilik bermunculan. Puluhan mungkin mencapai ratusan.

"Serius nih!?"

Ernest hanya bisa melongo melihatnya saat menyadari bahwa ratusan bayangan hitam itu adalah sosok entitas buas lainnya yang muncul dari balik gerbang cahaya. Setelah cukup jauh gerilya entitas itu berjalan, sesosok lain hendak muncul kembali dari balik cahaya. Sebuah bola merah menutupi seluruh gerbang cahaya. Bola itu semakin membesar hingga berdiameter lima puluh meter kiranya. Lalu... Ledakan.

Seluruh bayangan bergerilya itu pun lumat dalam api dan ledakan. Ledakan dahsyat itu sampai mendatangkan angin hangat ke arah Ernest. Dan yang paling mengejutkan dirinya, ledakan itu menghasilkan munculnya sosok seekor kuda bersayap dengan sebuah cula dengan sepasang sayap lebar di badannya. Tinggi kuda itu mencapai lima puluh meter dan terselimuti api di berbagai bagian. Terlihat jelas wujud kudanya meski dari kejauhan karena ukuran tubuhnya yang fantastik.

"Serius!!"

Sampai akhirnya Ernest menyadari kehadiran meteor besar tepat di atasnya.

"Heh!!" Senyumnya terasa pucat. [Shadow Walk]

Dengan tubuh tak kasatmata, Ernest kembali melompat-lompat dengan tubuh ringannya hingga lima ratus meter ke arah prajurit berada--sangat cepat. Dentuman hebat pun terjadi saat ia di udara. Saat mendarat Ernest kembali membuat wujudnya kembali kasatmata agar masa tubuhnya kembali normal dan dapat mendarat dengan lebih mudah walau akhirnya ia tersungkur juga.

Satu hal yang terlewat, bersama dengan dentuman meteor, terdapat muntahan batu api yang bergerak tepat di belakangnya. Dalam keadaan merayap dataran, Ernest tidak sempat memperkirakan ke mana tepatnya batu itu akan jatuh dan ke mana ia harus merangkak.

Batu itu semakin dekat, menurut pikiran Ernest. Ia terbelalak hingga sebuah cahaya emas menepis laju si batu api.
Garrand mendarat dengan apik dari udara.

Ernest hanya mengumpat dalam hati setelah dilindungi. Ia tak percaya kalau pria zirah emas benar-benar ingin berperan sebagai pelindung.

"Wah... wah... sigap sekali. Terima kasih, zirah emas." Ernest tersenyum namun menyimpan amarah.

"Akan jadi masalah kalau timbul lebih banyak korban karena hal ini," Garrand menjawab sambil terus siaga dengan sekitar, "Aku akan melindungi semuanya semampuku. Namun aku tidak bisa menjadi perisai selamanya. Jangan membuat dirimu terjebak dalam bahaya yang tak sanggup kau hindari. Segeralah siaga," Nada bicaranya terdengar amat halus dan bijak.

Apa-apaan itu, pikir Ernest mendengarnya keji. Ia baru saja dilindungi secara cekatan, lalu dinasehati dengan nada ramah dan bijak, namun pemilihan katanya seperti seseorang yang sedang menghardik. Sifat macam apa itu!

"Hehe.... siap, kapten. lalu kita harus bagaimana sekarang? Istananya kan sudah hancur. Berarti misi selesai?"

"Entahlah. Kita kembali berkumpul dengan Hatena. Dia mungkin sudah cukup banyak mengumpulkan informasi. Sepertinya monster kuda itu amat berbahaya. Ayo!" jawab Garrand yang bahkan dapat mengidentifikasikan wujud kuda raksasa di kejauhan sana.


****


"Hei, di sini!" Hatena memanggil para teman satu timnya ke belakang. Ernest, Garrand, dan Geiger saling menggunakan kode untuk berkumpul menghampiri.

"He... Apa artinya misi kita sudah usai?" tanya Ernest dengan remeh.

"Selama kita belum diteleportasi, artinya masih ada misi yang harus diselesaikan." jawab Geiger menyimpulkan.

Sementara itu Garrand masih mencuri pandang ke arah pertarungan prajurit dan memerhatikan pergerakan si kuda raksasa.

Hatena pun meminta perhatian penuh dan menjelaskan semuanya tentang kehadiran Tamon Rah si kuda raksasa. Ia pun menjelaskan pula tentang Tamon Rah yang tak dapat mati dan dapat mendeteksi saat seseorang menggunakan kekuatan sihir. Satu-satunya cara adalah menghancurkan dua batu kristal secara bersamaan yang menjadi gerbang kemunculan Tamon Rah. Hanya fisik yang berlaku, kekuatan sihir tak dapat menggores kristalnya barang secuil pun. Maka dari itu, tak ada satu pun dari prajurit yang bisa menggunakan sihir.

Saat sedang membicarakan dengan serius mengenai si kuda raksasa, sepertinya yang bersangkutan mulai ingin ikut menimbrung. Tamon Rah berlari lurus ke arah tim antar realitas ini.

"Apa ada di antara kita yang sedang menggunakan sihir?" tanya Hatena melirik yang lain.

Semua mengaku dengan jawaban tidak.

"Wah... wah... mungkin kuda itu sedang tersindir."

Kuda itu perlahan mulai terlihat bahwa ia berjalan menapak di udara sambil mengibas sayapnya, bukan menapak dataran. Setiap entitas yang berada dikolongnya, mulai menyala terang--mereka terbakar. Ia akan menjadi ancaman bagi para prajurit juga tim antar realitas ini.

"Mungkin kuda itu merasakan keberadaan sihir salah satu dari kita sesaat sebelum di sini. Dan tetap melaju sesuai sensor perasanya tanpa mengetahui keberadaan pengguna sihir saat ini," dugaan Geiger.

Ya, dan orang yang dimaksud adalah Ernest ketika melompat namun tak ada yang tahu.

"Geiger, bisa kau buatkan tebing yang bisa membuatku melompat lebih dari tiga puluh meter? Untuk melawan makhluk itu."

"Jangan bodoh! Kuda besar itu tak bisa mati. Dan menggunakan sihir hanya akan membuatnya makin presisi untuk menuju kemari."

"Tapi dibiarkan pun, ia akan tetap menuju kemari. Akanku belokkan dia. Tubuh apinya mengingatkan pada makhluk neraka yang sering aku hadapi di dunia asalku. Percayakan padaku."

"Tunggu, Garrad. Setelahnya tidak akan meninggalkan jejak pancaran energi sihir ke arah kita, bukan?" Hatena meyakinkan karena belum ada strategi yang lebih baik.
Garrand melirik Geiger, meminta jawaban darinya.

"Kemampuan Vis hanya memancarkan sihir saat membentuk tebing yang kau mau, setelahnya tidak lagi sihir."

"Kalau begitu segera mulai," Garrand segera berlari ke depan.

"Berhati-hatilah, Garrand!" Hatena menatap fokus. Di depan sana Tamon Rah setinggi lima puluh meter bergerak cepat dan sudah mendekati para entitas buas yang dihadapi prajurit.

"Wah.. wah... sudah mulai. Aku akan bersiaga dari sisi samping!" Ernest pun berlari maju namun arahnya melebar ke kanan. Lebih terlihat menjauh dari garis lurus laju Tamon Rah.

"Navi, koordinasikan pemunculan Vis. Bawa si zirah emas untuk terbang. [Vis] gaia, [Codex] cornu inclinalem !"

Garrand pun memasang kuda-kuda kokoh lalu ia terlontar setinggi akibat laju tebing tanah yang tiba-tiba muncul dari dataran. Ia kini di udara menatap lamat sang kuda api. Di bawahnya para prajurit buyar menjauhi jalur lari Tamon Rah. Garrand pun mengambil ancang-ancang pada tameng emasnya.

"[Strikebash] !"

Garrand pun melempar tamengnya ke arah mata kiri Tamon Rah. Benturan yang amat kuat sampai membopakkan sisi kiri kepala kuda itu hingga memuncratkan lidah api yang menjadi sel penyusun tubuhnya.

Meski lajunya lurus, hantaman yang membengkokan kepalanya, membuat Tamon Rah harus berputar arah untuk mengatur keseimbangan dan penolakan untuk mendekati sumber bahaya. Bagaimanapun juga, ia hanyalah seekor kuda. Binatang.

Laju beloknya mengarah ke arah para prajurit dan Ernest yang ada di sisi kanan. Mereka panik kuda itu memijak-mijakkan kaki dengan berantakan di udara. Namun rupanya kuda itu masih mengatur keseimbangan sehingga harus kembali membelokan laju larinya. Ia semakin jauh. Barisan pun aman dari injakan kaki api Tamon Rah yang sesekali memuntahkan hujan bola api dari kepakan sayapnya.

Setelah mendarat dengan badan penuh cahaya emas, Garrand bersiap bila Tamon Rah kembali menyerang. Namun yang ia jumpai adalah kuda itu hanya berputar dan berjalan tanpa arah jauh di sekitar dua kristal. Sama sekali tidak mendekati para pengguna sihir. Tak lama anggota timnya berkumpul.

"Wah.... wah... hampir saja aku terinjak di sana."

"Hebat, Garrand! Tapi kenapa kuda itu hanya berputar-putar saja di sana?" Hatena penasaran.

"Entahlah. Aku hanya menghantamnya saja seperti membelokkan seekor kuda. Cuma ini lebih besar."

"Kuda itu dapat mendeteksi sihir bukan?" Geiger ambil bicara, "Dugaanku, dia tak kembali kemari karena tidak merasakan sihir. Dan sekarang hanya bergerak di sekitar dua kristal namun tidak cukup dekat, mungkin karena takut merusaknya. Lajunya tidak jelas, ia masih mencari sesuatu namun memiliki pola. Ada jarak di mana ia sesekali kembali mendekati dua kristal. Itu artinya... kuda itu buta."

"Dan dia menjadika dua kristal itu sebagai acuan bergerak," Hatena melanjutkan, "Karena portal di sana adalah tanda bahwa dua kristal sedang memancarkan energi sihir. Ia tak kembali kemari karena sudah kehilangan arah akibat gerakan memutar tadi. Cukup masuk akal, Tuan detektif."

Terlihat di istana sana, portal tersebut masih memunculkan bayangan hitam sesekali. Entitas gerilya lainnya.

"Kita harus memanfaatkan kesempatan ini untuk menyerbu istana!" Garrand antusias, "Semakin lama di sini justru akan menghabiskan stamina para prajurit."

"Kita harus menerobos!" ucap Hatena dengan sigap, "Buka jalan dengan beberapa prajurit lalu bergerak di luar jalur monster gurun. Biarkan monster-monster itu di atasi oleh prajurit di sini. Setelah cukup dekat dengan dua kristal, pertarungan tidak akan dapat dihindari. Kalian dan prajurit yang ada harus dapat bertarung dan mencapai kristal itu. Dan ingat, kristal itu hanya hancur oleh kekuatan fisik."

"Dan benturan benda alam seperti batu dan baja," lanjut Geiger, "Tapi akan sulit bila hanya menggunakan kekuatan fisik untuk menghadapi monster di dekat dua kristal hanya dengan sedikit personel. Sementara itu kekuatan sihir kita hanya akan menarik perhatian kuda itu."

"Tidak akan masalah, asalkan ada yang menarik perhatian kuda itu jauh dari posisi kalian," Hatena melanjutkan diskusi dengan Geiger si detektif. Dua orang dengan kemampuan teoritis, "Dengan begitu, kalian akan leluasa untuk bertarung sepenuhnya."

"Tapi untuk itu, dibutuhkan seseorang yang dapat menggunakan sihir dalam waktu panjang tanpa henti dan cukup kuat untuk dapat bertahan dari serangan kuda itu."

"Tentu."

Tim inipun saling memikirkan kemampuan milik masing-masing yang dirasa cukup untuk menarik perhatian kuda dalam waktu panjang.

"Kemampuan bertahanku hanya bertahan beberapa detik. Terlalu singkat untuk tetap menarik perhatian."

"Wah.. wah.. aku punya kemampuan menghilang tapi tetap saja akan tersedeksi olehnya, bukan? Tak punya pertahanan, maaf."

"Jangan khawatir, aku sendirilah yang akan melakukannya." Hatena mengajukan diri.

"Tapi Hatena..."

"Tak usah khawatir, Garrand. Aku punya kemampuan aura pelindung. Membuatku dapat menahan segala serangan dalam waktu lima menit tanpa henti! Itu harus cukup untuk kalian."

Hatena sudah tidak dapat dibantah, "Aku akan pergi ke tempat yang jauh dari para prajurit untuk mengurangi korban saat memancing perhatiannya. Tapi aku butuh penanda kapan kalian membutuhkan pengalihan. Benda yang bisa ku bawa dan bisa kalian kendalikan dari jarak jauh."

"Meski seluruh tempat ini adalah elemen tanah. Vis punya masalah dengan jarak."

"Wah... sepertinya senjataku bisa. Dengan mengubah energi auro menjadi benda padat. Nantinya benda ini dapat hilang dan kembali kepadaku. Jadi saat menghilang, itu adalah tanda dari kami. Tapi saat mewujudkannya, perlu menggunakan sihir. Bagaimana?"

"Itu bagus. Aku akan atur. Seridaknya lebih efisien dari pada aku harus membawa-bawa tameng beratnya Garrand."

"Aku juga tidak merekomendasikanmu untuk membawa tameng ini, ...cuma sempat terpikir."

"Baiklah, begini rencanaku. Kita akan menerobos ke depan dengan membawa beberapa prajurit. Setelah menerobos, aku akan membawa senjata milik Ernest dan berpisah dengan kalian untuk mencari lokasi yang jauh dari prajurit. Kalian bersama para prajurit berjalan di luar jalur para monster gurun. Saat sudah cukup dekat dengan dua kristal, Ernest akan memberi tanda lalu kugunakan kemampuan auraku. Ku pastikan kuda itu terpancing. Kalian punya waktu untuk menggunakan sihir saat itu dan hancurkanlah dua kristal. Bersamaan. Paham?"

"Kemampuanmu itu bertahan lima menit, kan?" Garrand memastikan.

Hatena hanya diam lalu mengangguk pelan.

"Kalian siap?" aba-aba dari Geiger.

Setelah kode setuju, tim ini mulai kembali bergabung dengan para prajurit.
Mereka semua menyerang secara berdekatan. Hatena yang tidak bisa bertarung hanya menunggu di belakang sambil memerhatikan jalannya perang. Garrand membimbing para prajurit dalam pertarungan.

"Sepuluh orang ikut aku! Kita serbu dari sisi ini. Banyak, lebih bagus!"

Banyak prajurit pun merapat mengikuti komando dari Garrand.

"Pasukan berkuda jangan berhenti! Maju dan hajar sebisanya, biarkan baris belakang yang menyelesaikan. Kita terobos!"

Garrand mampu mengikuti kecepatan lari para kuda dan membantu dalam menerjang barisan entitas buas.

"Kau! Jangan berteriak berlebihan saat memukul. Itu akan menguras staminamu. Aku membutuhkan peranmu lebih lama dalam perang ini!"
Komando dan bimbingan terus disahutkan.

"Prajurit di belakang, setelah menerobos serang mereka dari sisi samping!"

Dengan begini, penerobosan menjadi lebih mudah. Satu sisi sudah terbuka dan serangan samping dari sisi yang terbuka mempermudah untuk membunuh para entitas buas dan memperlebar jalur. Hatena bahkan bisa maju menerobos barisan perang tanpa khawatir sekarang.

Keempat anggota tim dan sepuluh orang prajurit telah berhasil menerobos dan berada di wilayah aman. Namun tak akan lama karena entitas buas masih bermunculan dari portal di antara dua kristal.

"Ernest materialisasi benda itu. Garrand dan Geiger bersiaplah menghalau kuda raksasa itu."

"Kau yakin tidak apa pergi sendirian?" tanya Garrand khawatir. Membiarkan seseorang yang tak bisa bertarung pergi sendirian ke dalam peperangan sama saja membiarkan tamengnya terrebah di tanah.

"Aura pelindung hanya dapat melindungiku seorang, lainnya hanya akan menjadi tumbal. Karena itu harus sendirian. Dan jangan khawatir, Garrand. Setelah ini aku akan menggunakan kemampuan untuk menyamar menjadi bagian dari monster gurun, walau tidak seutuhnya berubah. Tapi itu sudah cukup untuk membuat mereka tak akan menyerangku. Aku yakin."

"Kita akan berkumpul lagi setelah menyelesaikan misi ini."

"Tentu, Garrand. Tentu."

Hatena pun memberi tanda kepada Ernest untuk membentuk senjata dari Auro merah. Kini belati logam merah sudah ada di tangan Hatena. Benda ini akan hilang sebagai aba-aba kepadanya. Hatena mulai memejamkan mata hingga jaket merah mudanya berubah warna menjadi kuningnya tanah gurun. Ia telah menyamar. Mereka semua pun kini makin siaga, Tamon Rah sudah bergerak.

"Geiger, ayo!"

Garrand dan Geiger menyongsong ke arah Tamon Rah. Dengan cara yang sama, Garrand membuat keseimbangan kuda raksasa itu buyar. Setelah berbelok dengan tidak mulus, Tamon Rah mulai kehilangan arah.

Hatena mulai berpisah dengan kelompoknya. Garrand dan tim kini mengambil jalan agak memutar untuk menuju ke arah dua kristal. Jarak ke sana sekitar lima belas menit berlari dari sini. Jalur lari Tamon Rah yang tak terarah terkadang memotong jalur lari mereka namun tak masalah selama tidak ada sihir.
Mereka pun terus berlari, meninggalkan para prajurit dengan jauh. Namun pembukaan serangan yang baik hanya tim ini yang bisa dan membiarkan prajurit melakukan penghabisan saja. Bergegas.

Namun belum begitu lama mereka berlari, tiba-tiba Tamon Rah mengubah arahnya dengan drastis dan mengarah lurus ke tempat tim ini berada. Jaraknya terlalu dekat untuk ukuran raksasa sehingga Garrand dan Geiger tidak sempat untuk melakukan ancang-ancang menyerang seperti sebelumnya. Mereka hanya bisa berlari ke samping untuk menghindari hawa panas di sekitar kuda api.


****


Hatena hendak berpisah dengan Garrand, Geiger, dan Ernest untuk melaksanakan rencananya. Sebelum berpisah, ia berbicara empat mata dengan Ernest tanpa diketahui yang lain.

"Kontrol komunikasi ada padamu, rambut merah. Jadi aku ingin memberitahu, aura pelindungku hanya bertahan dua menit bukan tiga menit. Manfaatkanlah itu dengan baik."

"Wah... jauh lebih singkat. Kenapa tidak diberitahu lebih awal?"

"Setelah kalian berada di dua kristal, kuda itu tak akan berani mendekat karena takut merusak kristalnya. Karena itu aku berkata lima menit agar tidak membuat yang lain khawatir. Terutama pada Garrand. Di balik tameng yang selalu dibawa, aku bisa merasakan alasan mengapa ia memilih benda seperti itu sebagai senjata."

"Baiklah. Akan aku atur waktunya dengan sangat baik."

"harus!" Mata Hatena meruncing tajam.

Ernest hanya bisa tersenyum beku sebelum akhirnya menyusul yang lain.

Gadis remaja bertubuh mungil berlari dan mengendap sendirian di tengah gurun berbukit yang dipenuhi entitas buas. Jaketnya berwarna merah muda pada awalnya. Kini jaketnya telah berubah menjadi kuningnya pasir gurun. Setelah perubahan warna itu, gadis ini, Hatena yang tidak bisa bertarung, berjumpa dengan seekor golem lumpur yang jauh lebih tinggi darinya. Lebih tepatnya, ia sengaja menghampiri.

Hatena sudah memasang kuda-kuda yang sama sekali bukan kuda-kuda bagus dalam memulai pertarungan. Di tangannya tergenggam erat sebuah belati dari baja merah milik Ernest. Golem lumpur di hadapannya sudah melangkah lebih dekat dengan langkah berdebum. Hatena hanya dapat menonggak ciut di sisi golem tersebut. Hanya berdiam di sisi samping si raksasa, hanya menjadi sosok yang sambil lalu. Hatena aman. Kemampuan penyamarannya berhasil. Ia kini sudah dianggap seperti bagian dari para entitas buas.

"Sekarang aku harus bergerak ke tempat monster gurun berkumpul namun jauh dari para prajurit. Saat kuda itu menyerang, aku pastikan hanya lebih banyak monster gurun yang mati di sekitarnya."

Hatena pun bergegas menuju tempat yang di maksud. Menuju salah satu jalur perjalanan yang dilalui para entitas buas.
Namun belum lama ia berlari, belati merah yang menjadi perhatian utama di tangannya--menghilang.

"Apa!? Bukankah ini terlalu cepat."

Itu adalah tanda dari Ernest bahwa timnya dikejauhan sana sudah membutuhkan pengalihan Tamon Rah. Hatena harus bergegas menggunakan kemampuannya yang dapat memancing kuda itu dengan pancaran energi sihir.

Hatena berpikir apakah anggota timnya melaju sangat cepat--tapi itu tak mungkin. Dalam arti lain, ada kejadian di luar dugaan dan mereka sedang dalam bahaya. Atau di luar dugaan ada orang yang tidak mengikuti rencana matang milik Hatena.

"Si rambut merah itu... sebenarnya aku tidak begitu memercayai sejak awal. Tapi sinyal darinya ini tak bisa kuabaikan begitu saja."

Apa yang harus dilakukannya sekarang. Hatena pun memerhatikan pergerakan Tamon Rah di ujung gurun. Berubah drastis. Tamon Rah berbelok dengan tidak biasa seperti mengincar sesuatu. Satu tempat yang mungkin adalah tempat di mana timnya berada. Hatena tidak punya pilihan lain.

"[Cover Art One : White]"

Seluruh tubuhnya pun bersinar putih bagai terselimuti cahaya. Cahaya terangnya menarik perhatian para entitas buas dan menarik mereka untuk menyerang. Hatena sama sekali tak bergeming dengan puluhan serangan yang diterimanya. Ia kebal. Hingga akhirnya Tamon Rah datang beberapa detik kemudian, membakar seluruh entitas buas bersama Hatena yang masih bercahaya.


****


"Wah... wah.. kita selamat."

"Ke mana kuda itu mengarah?" tanya Garrand menolak pikiran bahwa kuda itu menuju ke arah Hatena berada.

"Sepertinya Hatena sudah mulai melakukan tugasnya." duga Geiger.

"Tapi ini terlalu dini!"

"Wah... mungkin ada sesuatu di sana hingga Nona Hatena harusnya memulainya lebih cepat. Ulah monster gurun mungkin." Ernest berucap dengan santai

Dalam batinnya ia mengatakan bahwa itu adalah salahnya Hatena karena terlalu naif ingin pergi sendirian agar tidak ada prajurit yang menjadi korban. Ernest memang amat tidak suka dengan orang naif. Tidak suka dengan orang-orang yang berpikiran naif menurut sudut pandangnya sendiri.
Tapi di sisi lain, Ernest sendirilah yang membuat belatinya hilang lebih dulu dan tak ada yang tahu. Ini baru menarik.

"Kita harus kembali!"

"Wah... sebaiknya jangan, Zirah emas. Kita tak boleh menyia-nyiakan usaha Hatena. Dan kita tak punya banyak waktu untuk kembali."

"Si rambut merah benar."

Dengan agak geram, Garrand pun harus kembali maju.

"Karena kuda itu sudah teralihkan, kita bebas menggunakan kemampuan sihir, bukan?" tanya Garrand masih terus berlari.

"Ya, menurut dugaanku."

"Kalau begitu, Geiger. Bisakah kau kendalikan elemen tanah agar kita bisa mencapai dua kristal dengan lebih cepat?"

"Ya, segera. Navi! Koordinasikan pengendalian vis ke area yang mencakup semua orang di sini. [Vis] gaia, [codex] unda terra!"

Tiba-tiba saja seluruh pasir di kaki mereka bergerak bagai ombak. Sisi atasnya tanah kokoh sementara di bawahnya bergemuruh sehingga membuat semuanya bagai mengendarai ombak pasir. Deburan ombak pasir ini berhasil menenggelamkan para entitas buas yang menghalangi mereka mendekati dua kristal. Tamon Rah masih mengamuk di satu titik, tempat Hatena berada. Mereka tak boleh menyia-nyiakan waktu sedikit pun!

Tinggal beberapa meter melaju maka sampailah mereka di dekat dua kristal. Namun tidak bagi Ernest, ini terlalu cepat untuknya. Tidak menarik. Orang naif masih harus merasakan penderitaan atas kebohongannya.

Saat egonya sedang terngiang, sebuah cakar menembus pijakan di kakinya. Entitas ini cukup tangguh dan sanggup melawan terjangan ombak pasir. Ernest dan dua prajurit lain terpaksa harus kehilangan keseimbangan dan jatuh.

"Ernest!" sahut Garrand hendak melompat membantu.

"Aku tak butuh bantuanmu!" Ernest berkespresi lain sesaat setelah terjatuh, "Selesaikan saja misi. Kemampuan Hatena sebenarnya hanya bertahan dua menit. Tidak ada waktu memikirkan kami!"

Ernest mulai menebas beberapa entitas buas yang belum siap bertarung di antara pasir-pasir. Dia berhasil mencurahkan amarahnya. Curahan yang bermakna untuk membuat Garrand tidak lagi naif untuk melindungi orang lain. Kenaifan yang membuat Ernest geram. Dengan begini si zirah emas terjebak dua pilihan, melindungi Ernest atau menuju ke dua kristal untuk menghentikan Tamon Rah yang menyerang Hatena. Dengan begitu, Ernest semakin merasa lebih puas. Mengesampingkan sesaat keadaannya saat ini.

"Wah.. wah.. bahaya ini."

Senyumnya telah kembali di saat Ernest melihat sekelilingnya sudah dipenuhi entitas buas. Ia adalah tipe petarung mengendap. Bertarung terang-terangan dengan banyak lawan sekaligus bukanlah keahliannya. Terlebih kakinya sedang terluka cukup parah. Ia terpojok.


****


Garrand terjebak dengan dua pilihan, menuju dua kristal atau membantu Ernest sementara ombak pasir masih terus membawanya melaju. Garrand tidak suka melindungi orang yang sengaja dan memanjakan diri untuk minta dilindungi. Namun Ernest di sana benar-benar tidak meminta bantuannya. Garrand memilih untuk terus maju bersama Geiger dan para prajurit.

Baru beberapa belas meter melaju setelah penyerangan tersebut, sesuatu menyerang mereka. Dari dalam portal, muncul batuan runcing yang melontar ke arahnya. Dihentikanlah laju pasir ombak dan berganti dengan jurus lain.

"[Vis] gaia, [codex] ferro murum!"

Benteng tanah pun muncul di hadapan Geiger dan menghalau lontaran batu runcing.

"Kita tak bisa mendekati kristal lebih dari ini!" titah Geiger, "Tembok ini tidak akan bertahan lama."

Para prajurit hanya bisa membantu melawan entitas buas di belakang mereka. Namun pertarungan tak akan usai bila dua kristal belum hancur bersamaan. Mereka juga masih diburu waktu atau Hatena berada dalam bahaya.

Geiger ingin menghancurkan dua kristal namun rupanya benda setinggi empat meter itu saling terpisah cukup berjauhan. Tidak bisa melakukannya sendirian.

"Garrand, kau yang hancurkan salah satu kristalnya."

Geiger merapalkan [Vis] dan [Codex] sekali lagi. Ia membuat gumpalan batu besar tepat di atas salah satu kristal. Batu ini siap dijatuhkan kapan saja. Konsekuensinya, Geiger tidak bisa menggunakan kemampuannya sebelum batu ini runtuh.

Saat Garrand hendak bertindak, ia melihat bahwa Ernest sedang terpojok.

"Bila kristal itu hancur, apa semua monster gurun itu akan mati?" tanya Garrand terburu-buru.

"Entahlah. Menurut dugaanku, bila kristal ini dapat membunuh kuda itu bersama semua monster, para prajurit sudah bergerak maju sedari tadi tanpa perlu menahan seluruh monster yang menyerbu."

Mendengar itu, Garrand kini kembali terjebak dua pilihan, menggunakan [Strikebash] miliknya ke arah lawan di sekitar Ernest atau ke arah kristal. Harus salah satu karena kemampuannya memiliki jeda penggunaan selama satu menit.


****


Ernest tak bisa menggerakan kakinya dengan leluasa akibat luka. Senjata jarak dekat tak memberi kesempatan banyak untuk melawan para entitas buas yang mengelilinginya. Walau ada dua prajurit lain di dekatnya, itu takkan cukup.

"Terpaksa harus memakai kemampuan itu."

Ernest merentangkan kedua tangannya, hendak merapalkan sesuatu.

"[Agony's Embrace]"

seluruh Auro, lapisan energi merah yang menyelimuti dirinya, mulai berpindah merayapi permukaan tanah. Dengan mengerikannya, puluhan pedang merah muncul dan menusuk ke segala arah di sekeliling Ernest. Pedang ini tak mengenal kawan ataupun lawan. Para entitas buas dan dua prajurit lainnya ikut mati tertusuk.

Naasnya, seekor monster musang gurun berhasil melompat dan menyergap ke arah Ernest. Kehilangan semua Auro membuat Ernest tak memiliki senjata. Dan tanpa senjata, Ernest tak punya kemampuan bertarung dengan gaya apapun. Namun sebagai kompensasi kehilangan semua energi Auro-nya, Ernest memiliki bola pelindung. Tapi itu tak bertahan selamanya. Pelindungnya sudah mulai retak. Ernest akan mati tercabik-cabik setelah ini.

"Sial!"

Tiba-tiba saja sekelibat benda emas menghantam musang tersebut dan membjat Ernest selamat dari sergapannya. Mata ernest hanya bisa terbelalak lebar.

"Dasar bodoh! Kenapa kau masih mengurusiku di sini, urus saja kristal itu!" Ernest mengumpat si pemilik benda emas tersebut. Ia tahu yang namanya menggunakan kemampuan pasti butuh suatu jeda.

"Akan ku pastikan tepat waktu. Aku bukan mengurusimu.. tapi tameng ini digunakan untuk melindungi rekan yang sedang dalam bahaya di depan mataku."

Orang ini tidak naif dalam tindakan melindungi seseorang. Ernest merasa salah besar.

Garrand mulai membantu Ernest yang masih dikerumuni entitas buas yang mereka lewati menggunakan ombak pasir. Sementara itu, Geiger melawan dengan tongkat besinya dan meminta Navi di dalam tab digitalnya untuk menjatuhkan batu sesuai perintah.

"Geiger, bersiaplah!" Waktu jeda sudah usai. Garrand siap melempar tamengnya dari jarak dua puluh meter ke arah kristal.

"Kapan pun aku siap!"

Hitungan mundur pun dimulai. Batu sudah dijatuhkan sementara Garrand menggunakan kemampuan [Strikebash] untuk memperkuat daya hantam. Memang kristal ini tak mempan dengan sihir tapi benda yang melesat ke arahnya adalah benda mati yang berat dan meluncur dengan cepat. Sentuhan fisik.

Salah satu kristal pun remuk tak bersisa tertimpah batu besar dari Geiger. Kristal lainnya buyar menjadi kepingan kepingan besar akibat hantaman tameng emas Garrand. Getaran energi terjadi dengan hebat di antara kedua kristal tersebut. Portal perlahan tidak stabil dan mulai menghilang.

Sesuai dugaan, entitas buas tidak terpengaruh dengan hilangnya portal sehingga mereka masih harus berhadapan dengan mereka. Tapi tidak dengan Tamon Rah. Kuda abadi itu sedang meraung kesakitan. Ia terbang tinggi dan tubuhnya mulai membulat membentuk sebuah bola. Ia tidak mati begitu saja.

Sama seperti caranya muncul, begitu pula cara ia pergi. Tamon Rah berubah kembali menjadi bola merah raksasa secara perlahan. Menambah jeda waktu hingga akhirnya bola itu menembakkan cahaya hebat. Ledakan. Posisinya ledakkannya tidak jauh dari tempat perang gerilya berlangsung. Dan semua kejadian ini sudah melebihi waktu dua menit.
Garrand hanya dapat menanar ke arah ledakan yang membawa angit hangat ke tempatnya berdiri. Ia hanya bisa berharap ledakan itu tidak mencapai ke tempat ratusan prajurit berada dan Hatena dapat menggunakan aura pelindungnya lebih lama dari batas waktunya. Namun semua itu tetap hanyalah harapan tapi batin Garrand tidak bisa menolak untuk merasakan tamengnya seakan menjadi selembek bantal. Merasa dirinya dan tameng di tangannya baru saja melepas kewajiban penting.

Garrand hanya bisa bertarung melawan entitas buas dengan tangan kosong yang dipenuhi amarah. Ernest hanya bisa tertawa dengan nada hampa melihat semuanya. Geiger hanya dapat menutup mata perlahan menanggapi semua ini lalu melanjutkan memukuli entitas buas yang tersisa. Hingga akhirnya tubuh ketiga petarung antar realitas ini diselimuti cahaya.

Sama seperti cara mereka datang, begitu pula cara mereka pergi. Menghilang di balik cahaya.

Sent from Yahoo Mail on Android

6 comments:

  1. Pemilihan kata"nya beneran unik seperti biasa

    Di tengah lucu make kata" kayak 'Sayat! Tebas!' berasa kayak pengganti SFX

    Sebenernya saya lumayan suka battlenya. Lugas, dan bisa mobilisasi semua kebagian suatu peran, bahkan kadang" prajurit juga dilibatin. Cuma sedikit kendalanya karena pemaparannya kadang agak terlalu deskriptif (contohnya penjelasan kemampuan), meski overall masih oke sih

    Endingnya kurang nendang

    Dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  2. Overall menarik. Agak deskriptif, tapi battle scenenya seru. Saya benar-benar suka membaca Garrand di original storynya., semoga saja milik saya tidak OOC.. :3 yah, saya ingin melihat anda di babak selanjutnya, jadi nilai dari saya adalah 9.

    Aragon Ferden

    ReplyDelete
  3. paragrafnya subur-subur ya :v dengan deskripsinya yang cukup. terus, hubungan antar Oc di sini enak buat diikuti, entah di bagian biasa atau bagian battle

    soal teknis, ga ada hambatan serius, meski ada mini typo di beberapa bagian

    intinya ini menghibur, karena semua kepake. cukup clue kalo mau pake Garrand ke depannya ^-^)b

    nilai 8

    Oc : Eophi

    ReplyDelete
  4. Saya suka ngeliat penggunaan karakternya. Semua orang dikasih spotlight, semua dikasih kesempatan menggunakan kemampuan masing-masing. Masalahnya paling... er... pertarungannya kok kerasa "begitu aja" ya :)) pada akhirnya, pertarungannya kurang dramatis dan akhirnya pun cuman begitu saja.

    Tapi tetep, utilisasi karakter yang kamu tunjukin cocok buat dikasih nilai bonus sih. Jadi saya kasih kamu nilai 8

    OC: Steele

    ReplyDelete
  5. > Saya suka bagaimana peserta disebut dengan "entitas" (dan ada beberapa pemilihan kata yang membuat saya terhibur)
    > Anti menstrim karena disini pesertanya malah ingin pulang
    > All in all, saya suka deskripsinya

    9/10
    OC: Lexia Gradlouis

    ReplyDelete
  6. Entri yang penuh dengan deskripsi. Kalau saya pribadi, saya senang dengan detail yang seperti ini. Jadinya tergambar jelas.

    Porsi karakter yang pas pun tidak mengecewakan, jadinya tambah apik.

    Tapi saya setuju sama mas fachrul, rasanya terlalu datar di bagian pertarungannya. Jadinya kurang menggigit. Dan lagi, kalau saja battle-nya lebih intense, ini akan lebih epik lagi.

    Dari saya 8/10

    Enryuumaru/Zarid Al-Farabi mengucapkan salam hangat.

    ReplyDelete