17.5.15

[PRELIMINARY] ALSHAIN KAIROS – GERBANG DI CELAH DIMENSI TANPA RUANG

[Preliminary] Alshain Kairos - Gerbang di Celah Dimensi Tanpa Ruang
Penulis: Fusyana

BAB 1 – MEREKA BEREMPAT

Di sebuah kamar di lantai teratas kastel utama Despera, seorang perempuan berambut panjang mematikan perangkat superkomputernya. Matanya merah dan berair, tanda terlalu banyak menghabiskan waktunya di depan monitor. Ia berjalan gontai ke arah kasur besar di tengah ruangan, lalu membaringkan tubuhnya di sana. Selimut tebal Ia tarik perlahan untuk menutupi tubuhnya dan seketika itu juga Ia terlelap.

Sampai beberapa jam kemudia Ia terbangun karena merasa seolah tubuhnya sedang tertindih oleh sesuatu.

Ia mendongak ke atas dan mendapati sesosok bayangan hitam menggagahi tubuhnya. Sosok hitam itu menindih kedua pahanya serta menggenggam erat pergelangan kedua tangannya. Praktis Ia tidak bisa bergerak.

Hal itu membuatnya segera tersadar dari alam tidurnya dan betapa kagetnya Ia saat mengetahui bahwa sosok yang sedang menindih tubuhnya adalah seorang pria.

"Aaaaaaaaiii—hmpf!!?" perempuan itu mencoba untuk berteriak, namun pria berbaju serba hitam dengan sigap menyumpal mulutnya dengan sebuah ciuman.

Mata perempuan berambut panjang terbelalak. Jantungnya berlari kencang.

Setelah melepaskan ciumannya, pria yang sedang menindihnya tersenyum dan berkata dengan tergesa-gesa, "Please, jangan berteriak lagi! Atau aku terpaksa menciummu sekali lagi agar kau diam. Tapi jangan menyesal kalau aku tidak bisa berhenti sebatas pada ciuman saja setelah ini. Harus kuakui, kau terlalu menggairahkan, wahai Tamon Ruu, Ratu Alforea."

Jantung perempuan itu berdegup semakin kencang.

"Hmpph!" Ruu berusaha melepaskan diri tapi tubuhnya terlalu lemas untuk berontak. "Kau salah satu petualang dari semesta lain yang kuundang ke dunia ini?"

"Kau yang mengundangku. Harusnya kau tahu siapa aku," sindir pria berbaju hitam.

"Hmpf! Mmph!" Ia mencoba meloloskan diri sekali lagi walau tahu usahanya akan sia-sia.

"Aku memang mengundangmu, tapi Hewanurma yang bertugas mendaftar siapa saja yang menerima undanganku untuk masuk ke dunia ini."

"Kalau boleh jujur, undanganmu pun tidak begitu jelas. Tidak ada nama dan alamat pengirim, tidak ada tujuan dari undangan itu sendiri. Sepertinya kau tidak terlalu berguna walaupun terlihat keterlaluan cantik untuk ukuran perempuan seusiamu," nada bicara pria itu sinis, sorot mata dibalik wajahnya yang tertutup mantel terlihat seperti memainkan sesuatu.

 "U—umur? Memangnya kau tahu berapa umurku!?" Ruu terlihat salah tingkah.

"Oh, aku mempunyai kemampuan retrocognition, aku bisa mengetahui sejarah dari semua benda yang kusentuh. Aku tahu persis kapan engkau lahir, Yang Mulia. Dan itu terjadi jauh di masa lalu. Mau kusebutkan berapa tahun dari sekarang, tepatnya?"

Mendengar hal itu, Sang Ratu mulai memberontak sekuat tenaga. Tapi tenaganya jelas kalah besar dari lelaki di atas tubuhnya.

Saat pemberontakan kecil itu terjadi, mantel hitam yang menutupi wajah lelaki itu terlepas, memperlihatkan rambut putih pendek yang tidak tertata, sedikit tebal bergelombang dan memantulkan secercah cahaya bulan layaknya buih ombak dikala senja.

Kini penampilannya terlihat kontras, rambut putih dan baju serba hitam. Wajahnya juga terlihat semakin jelas, hidungnya tampak mancung, tulang pipinya pipih menggoda. Namum raut wajahnya terlihat meremehkan, dan seolah mengerti apa isi pikiran Ruu dan menertawakannya dalam hati.

Ruu jelas sebal melihatnya. Ia juga marah karena pria itu berani mengangkanginya saat Ia sedang tidak berdaya.

Ruu ingin berteriak memanggil semua monster di seluruh Alforea untuk mengusir pria itu. Tapi melihat ekpresi wajahnya, Ia merasa bahwa Ia akan kalah jika Ia melakukan hal itu. Oleh karena itu, Ruu memilih memainkan permainannya.

"A—apa maumu sebenarnya?" tanya Sang Ratu, berusaha untuk tenang dan tidak terganggu.

"Namaku Kai. Ceritakan kepadaku, apa yang akan kau lakukan kepada para petualang, Yang Mulia Ruu," pria itu tersenyum sambil mengunci erat tangan dan kaki Sang Ratu Alforea.

(***)


Matahari pagi beranjak dari tidurnya. Para petualang berjalan dari berbagai arah menuju lapangan utama di depan kastel untuk menerima pengarahan dari Sang Ratu tentang misi pertama mereka di dunia ini. Salah satu dari mereka adalah seorang pemuda berambut kribo yang nampak berusaha keras untuk menenangkan dirinya.

"Dunia ini aneh sekali," bisiknya seorang diri.

"Jambulmu yang aneh," jawab sebuah suara di belakangnya.

Pemuda itu menoleh. Di belakangnya adalah seorang perempuan gimbal berbaju lateks hitam ketat. Pemuda itu kembali memandang ke depan dan melanjutkan perjalanannya.

"Jangan mengabaikanku, Bocah. Aku baru saja mengatai jambulmu aneh!" teriak perempuan itu.

"Jambulku memang aneh, kok. Aku tidak peduli," sang pemuda menolak untuk mengacuhkannya.

Perempuan itu segera mengambil pistol putihnya. Ia menodongkannya ke ubun-ubun pemuda kribo sambil menarik lengan bajunya.

"Sudah kubilang, jangan abaikan aku. Kau mau mati ya?"

"Apaan sih maumu? Kalau kau ingin merampokku langsung saja rampok. Tak perlu basa-basi dengan mengatai jambulku segala."

"Memangnya tampangku ini tampang perampok? Aku hanya ingin kau menunjukkan padaku di mana tempat judi di sekitar sini!" perempuan itu masih menodongkan pistolnya.

"Memangnya tampangku ini tampang tukang judi?" bentak pemuda kribo.

Perempuan itu berteriak geram, "Tidak mungkin tidak ada tempat judi satupun di kota ini. Kota macam apa yang tidak punya tempat perjudian satupun di dalamnya? Aku butuh uang, Jambul Sialan. Aku rindu uang. Aku sama sekali tak punya uang sekarang!"

"Apa urusannya denganku?" kata pemuda itu dengan kecut.

"Kau beneran mau mati ya?" perempuan berambut gimbal menekankan moncong pistol putihnya ke ubun-ubun pemuda itu.

Pemuda itu hanya terdiam, merasakan sentuhan pistol di kepalanya. Ia lalu melirik perempuan pemilik pistol dan berkata, "Avarice bilang, wujudnya harusnya berubah menjadi hitam atau abu-abu, bukan putih, kalau kau memang berniat untuk melukai seseorang."

Perempuan itu sontak terkejut, "Kau tahu nama pistolku dan ketiga modenya?"

"Pistolmu sendiri yang mengatakannya kepadaku," jawabnya singkat.

"Apa maksudmu?"

"Aku seorang teknopath. Aku berbicara dengan mesin. Pistol biasanya hanya berbicara saat akan menembak karena fungsinya memang hanya untuk menembak. Tapi pistolmu berbeda, Ia lumayan cerewet."

Pemuda itu membalikkan badannya, "Fata. Namaku Fatanir. Aku tertarik dengan pistol dan asal-usulmu. Mau cerita"

Perempuan itu menyingkirkan pistolnya dari kepala Fata.

"Oke Fata, singkat cerita, aku dan pistolku berasal dari tempat yang sama. Tempat itu adalah sebuah palung terdalam dari jaringan data di duniaku. Tubuhku adalah sebuah I.M.D., sama dengan setiap benda dan makhluk hidup yang kau lihat di dunia ini."

"I.M.D.? Sebentar, sebentar... Kau bilang 'sama dengan setiap benda dan makhluk di dunia ini'?"

"Independent Moving Data, aku tak tahu istilah apa yang dipakai di dunia ini. Intinya, setiap objek yang ada di dunia ini berbentuk data. Sedangkan setiap data itu terisolir dan unik dan bertindak secara bebas dalam sebuah megaplatform masif bernama Alforea."

"Kita ada di dalam dunia data!?" pekik pemuda itu dengan wajah terkejut.

"Ya, tubuhmu dan tubuh semua petualang yang ada di sini, termasuk aku, telah terkonversi menjadi objek digital dengan sifat I.M.D."

Pemuda itu melotot karena menyadari sesuatu. "Jadi, itu alasan kenapa aku merasakan ada yang aneh di dunia ini. Aku adalah teknopath. Aku bisa berkomunikasi dengan mesin, apapun bentuk mesin itu."

"Biar kutebak," kata perempuan gimbal. "Kau belum bisa berkomunikasi dengan dunia ini karena struktur dunia ini tersusun dalam bahasa pemrograman yang terlalu kompleks, bahkan untuk kupahami."

"Kira-kira begitu," Fata terlihat lega. "Tapi paling tidak aku tahu dunia apa ini. Stresku sudah lumayan hilang mendengar penjelasanmu."

Tapi tiba-tiba, Fata menatap mata perempuan itu, "Sebentar. Kenapa kau memberitahu semua ini begitu saja kepadaku?"

Perempuan gimbal itu membalas tatapan mata Fata.

"Karena kau berhutang seratus ribu dollar, kepadaku?"

Fata melongo. "Maksudnya?"

"Harga dari info tadi, seratus ribu dollar."

"Maksudmu, aku harus membayar jawabanmu tadi?"

"Perlu kuulangi lagi kata-kataku barusan? Dengar ya, untuk saat ini, tidak banyak orang yang tahu tentang informasi tadi. Semakin langka suatu informasi, semakin mahal harganya."

"Percuma, aku tak punya uang sebanyak itu," Fata tidak mau ditipu begitu saja.

"Memangnya aku peduli?"

Perempuan gimbal itu langsung mendekati Fata, mengambil sebuah pistol, meletakkannya tepat di jambul Fata dan menembakkan sebuah peluru dari posisi itu.

Semua bergerak dengan sangat cepat, Fata tidak menyadari apa yang terjadi sebelum semuanya sudah terjadi. Tengkorak kepalanya terasa seperti disetrika, rambutnya seolah baru saja dibakar habis dan telinganya berdengung kencang.

"Salam kenal, Kribo Kere. Namaku Meredy, dan kau akan membayar hutangmu cepat atau lambat."

 (***)


Seluruh petualangan telah berkumpul di tengah lapangan untuk mendengarkan pengumuman tentang misi pertama mereka. Mereka diharuskan untuk membentuk kelompok maksimal empat orang sebagai syarat utama menjalankan misi.

Setelah mendengarkan penjelasan itu, para petualang segera berhamburan mencari anggota kelompok masing-masing. Hal ini menyebabkan suasana lapangan di depan kastel Despera menjadi ricuh.

Ada yang mencoba saling berkenalan dengan canggung. Ada yang mengajak paksa orang lain untuk masuk ke dalam kelompoknya. Ada pula yang sudah berebut anggota dengan kelompok lain.

Diantara semua kekacauan itu, terdapat seorang lelaki yang menutupi kepalanya dengan sebuah ember.

"..."

"Untuk apa kau berdiri memakai ember sepeti orang gila!" seorang preman bercodet menendang lelaki itu karena merasa kesal melihat keberadaannya.

Ember yang Ia kenakan terlepas dari kepalanya saat tubuhnya menerima tendangan.

"Oh, tidak! Zhaahir!" teriak seorang perempuan blonde di dekatnya.

Perempuan itu memejamkan matanya dan berjinjit sambil berusaha sebaik mungkin menggantikan fungsi ember tadi dengan kedua telapak tangannya yang mungil. Namun sia-sia, wajah lelaki bernama Zhaahir itu sudah terlanjur disaksikan oleh orang-orang disekitarnya.

Saat itu juga, tanpa ada aba-aba, semua perempuan yang melihat wajah lelaki itu melompat bersamaan dan berebut untuk memeluk tubuh Zhaahir. Mereka saling sikut dan berteriak kegirangan.

"Peluk aku, Om! Cumbu aku!"
"Ya Tuhan, please setubuhi aku!"
"Jadilah Imamku, Mas! Aku memang janda, tapi kujaminn engkau xxx xxx xxx!"

Hal yang bertolak belakang terjadi pada laki-laki yang melihat wajahnya. Mereka memang sama-sama menerjang tubuh Zhaahir, tapi teriakan mereka terdengar lebih brutal lagi.

"Anjing! Kau kira kau satu-satunya laki ganteng di dunia, hah!"
"Lepas celanamu, Bajingan! Kupotong xxxmu sampai pangkalnya, sini!"
"Kampret beraninya kau membuat mulut Bu Mawar mengeluarkan kata-kata kotor itu, Asu!"

Perempuan blonde tadi masih berusaha menutupi wajah Zhaahir walau Ia tahu hal itu sudah terlambat. Ia tidak berani ikut melihat wajah lelaki itu, Ia tahu hatinya belum siap. Ia mencoba melirik gerombolan laki-laki dan perempuan dari segala arah yang menerjang ke arah mereka.

"Ya Tuhan, Zhaahir, para perempuan mulai melepas pakaian mereka satu-satu!" suaranya bergetar.

Zhaahir hanya menghela nafas panjang sebelum meraih tubuh perempuan blonde yang melindungi wajahnya.

"Maafkan aku, Eri. Ini semua terjadi karena aku terlampau tampan. Maka, Idolaku, irisan hatiku, kumohon, peluk erat ragaku dan jangan engkau lepaskan. Aku akan berusaha untuk membawa kita berdua menjauh dari situasi terlaknat ini."

Saat perempuan bermata biru itu sudah berada di pelukan Zhaahir, Zhaahir berteriak, "Qorrum, perlihatkan wujudmu!"

Lalu seekor kuda hitam yang gagah muncul dari kehampaan. Zhaahir dan Eri, perempuan di pelukannya, bergegas menaiki kuda itu dan dalam sekejap, mereka melesat melewati gerombolan orang-orang yang terbakar nafsu dan amarah.

(***)


Zhaahir dan Eri berhenti di sebuah gang yang lumayan sepi, tak jauh dari lapangan kota. Setelah memastikan tidak ada lagi yang mengejar mereka, Zhaahir melepaskan Qorrum dari wujud fisiknya. Maka lenyaplah kuda hitam itu bersama hembusan angin.

"Tunggu, Zhaahir, ada dua orang di belakang kita, jangan bergerak!"

Dua orang di belakang Zhaahir terdiam memperhatikan untuk sesaat. Lalu salah satu dari mereka memecah keheningan dengan mengomentari gaya pakaian Zhaahir yang memakai atasan panjang berbahan gamis.

"Hei, Blonde. Cowokmu pakai rok, tuh."

"Meredy, kenapa kau menyebalkan sekali," celetuk yang lainnya.

"Diam kau Fata. Siapa yang sudah mengizinkanmu berbicara?"

"Sejak kapan aku harus minta izin kepadamu untuk berbicara, Meredy."

"Sejak kau resmi menjadi slave-ku karena kau tak bisa membayar hutang. Ingat? Satu jam yang lalu kau berhutang seratus ribu dollar kepadaku. Mau kutembak jambulmu sekali lagi?"

Tiba-tiba, seseorang muncul di antara mereka berlima. Seorang lelaki berpakaian serba hitam dengan rambut putih mencolok, dan sebuah senyuman yang menyembunyikan seribu muslihat.

"Apa yang sedang kalian lakukan," sapa lelaki itu santai. "Sebagian besar petulang di lapangan utama sudah memulai babak preliminasi dari tadi."

"Siapa kau, Monyet Ubanan?"

"Aku Kai, Alshain Kairos," jawabnya, masih dengan senyuman di bibirnya. "Dan kau adalah Meredy Forgone. Orang disampingmu adalah Fatanir. Lelaki itu adalah Zhaahir Kavaro III. Sedangkan kekasihnya, adalah Shandora Eri. Kalian adalah anggota kelompokku dalam misi ini."

"Sejak kapan aku setuju untuk bergabung dengan engkau, wahai orang asing?"

"Dan sejak kapan kau berani memerintah seorang Meredy, Kakek?"

Senyum di bibir Kai merekah semakin lebar, walau jelas terlihat itu bukanlah sebuah senyuman yang hangat atau bersahabat. "Sejak kapan, Zhaahir? Tentu saja sejak aku mengambil topeng perunggumu. Aku akan mengembalikannya sesaat setelah kau setuju untuk bergabung denganku."

Kai mengangkat sebuah topeng dari genggamannya. Sebuah topeng perunggu yang tercipta untuk melindungi orang-orang dari keindahan wajah Zhaahir.

Zhaahir terperanjat. "Ketahuilah, Kairos. Tak sembarangan orang bisa mengambil topeng itu dariku, apalagi tanpa sepengetahuanku."

"Aku tahu. Topeng ini ajaib sekali. Sekali saja aku melepaskan genggamanku, benda ini akan langsung melayang kembali ke wajahmu. Seperti ini," Kai melepaskan topeng itu dari genggamannya.

Dan benar saja, topeng perungku itu langsung melesat menuju wajah Zhaahir. Namun saat topeng itu hampir memasuki jangkauan tangan Zhaahir, tiba-tiba arah lesatannya berubah, memutar tajam dan kembali ke tangan Kai.

"Telekinesis..." gumam Eri perlahan.

"Kurang tepat, Nona Eri," Kai memandangi topeng yang ada di genggamannya. "Aku tak bisa mengendalikan kecepatan, hanya arah. Aku bisa menekuk dan mengubah arah dari segala benda, selama benda itu masih mempunyai daya gerak. Jelas bukan telekinesis. Aku lebih suka menyebutnya Path-bending."

"Ah, dan Meredy, aku tak pernah memerintahmu. Tapi sepertinya aku tahu bahasa yang kau pakai. Uang. Aku ada imbalan yang sepadan kalau kau mau bergabung denganku. Aku mempunyai selusin foto Tamon Ruu yang sedang tertidur pulas dengan posisi tak beraturan, lengkap dengan celana super pendek dan kaos tanpa lengan yang kebesaran."

"Heh!?" Meredy jelas tidak menduga sama sekali kalau Ia akan mendengar kalimat itu.

"Ayolah, Meredy. Kita sama-sama tahu bahwa informasi dan rahasia adalah aset paling berharga di dunia. Bayangkan berapa uang yang bisa kau kumpulkan kalau kau menjual foto ini kepada para penduduk Despera atau para petualang."

Meredy sempat kehilangan kata-kata untuk beberapa saat. Ia tak menyangka orang yang tiba-tiba muncul di depannya bisa menawarkan sesuatu semenarik ini. Tentu saja Ia perlu memastikan kebenarannya terlebih dahulu.

"Perlihatkan padaku, fotonya!"

Kai tak membalas, hanya tersenyum. Ia lalu mengambil sebuah foto dari amplop di saku mantelnya yang tersembunyi di sisi dalam. Ia mengangkat foto itu dan memperlihatkannya kepada Meredy.

"Ya Tuhan, payudara macam apa ini!"

"Kalian menjijikkan, kalian tahu itu?" celetuk Fata tak habis pikir dengan tingkah kedua orang di hadapannya.

"Oke, Kai. Aku adalah anggota kelompokmu," tegas Meredy.

"Hah? Kau serius Meredy?" mata Fata melotot.

"Bagus," Kai segera mengambil beberapa foto lagi dan menyerahkannya kepada Meredy. "Sisanya setelah kita memulai misi?"

"Tak masalah," jawab Meredy mantap. Ia memang tak berniat melarikan diri begitu melihat tawaran sebagus ini.

Kai dan Meredy memindahkan tatapan mereka ke arah Fata.

Fata membalas tatapan mereka secara bergantian. "Apa?"

"Memangnya apa lagi yang kau tunggu, Jambul Kribo?" sentak Meredy. "Seorang slave harus ikut kemanapun Sang Master pergi, atau kutembak jambul anehmu sekarang juga!"

Fata merasa Ia sudah tak bisa lagi keluar dari situasi ini. Ia mendengus keras, "Terserah kalian saja."

"Zhaahir?" Kai memamerkan topeng perunggunya.

"Baiklah, tapi Eri tak akan ikut dalam kelompok ini. Dia akan tinggal di sini karena dia bukan seorang petulang."

"Oke. Lagipula kelompok maksimal hanya boleh terdiri dari empat orang, kan?"

Zhaahir terdiam sejenak.

"Kairos, izinkan aku menanyakan sesuatu. Darimana engkau tahu semua hal tentang kami?"

Sekali lagi, Kai tersenyum licik.

"Tak penting, Zhaahir. Yang penting, kelompok kita sudah lengkap sekarang," katanya.

Bersamaan dengan datangnya maid pemandu mereka, Kelompok Kai telah terbentuk.

(***)


BAB 2 – KELOMPOK KAI

Sebuah cahaya terang muncul di tengah bukit di sebuah padang pasir berbatu. Dari balik cahaya, muncul empat petualang dan seorang maid pemandu mereka.

"Kita sampai," kata maid pemandu. "Namaku Lily, aku akan memandu kalian."

"Kairos," Zhaahir masih membelakangi semua orang.

Kai tersenyum dan melepaskan genggamannya dari topeng perunggu. Topeng itu melayang di udara menuju wajah Zhaahir, bagai besi yang ditarik oleh magnet. Saat wajah Zhaahir sudah benar-benar tertutup oleh topeng perunggunya, Ia membalikkan badan dan memandang Kai, Meredy dan Fata untuk pertama kalinya.

Fata melihat gerak-gerik Meredy dan Ia segera tahu kata-kata pedas akan keluar dari mulutnya. "Aku tahu kau akan mengatakan sesuatu, Meredy. Tapi kau tak perlu mengatakannya."

"Oh, aku tidak akan mengatakannya, tenang saja. Aku hanya berpikir, gigi Zhaahir pasti tonggos sekali sampai ia tak bisa menatap kita tanpa menutup wajahnya dengan sebuah topeng sakti."

"Kau mengatakannya, Meredy," Fata mendesah, lelah.

Meredy melihat wajah Fata sambil memasang ekspresi yang seolah berkata, tentu saja, Bodoh.

Zhaahir tidak menanggapi mereka berdua. Ia lebih tertarik dengan misi yang akan Ia jalani. "Jadi, apa misi kita, Nona Lily? Dengan segala hormat, aku ingin segera menyelesaikannya dan kembali bersama Eri."

Lily berjalan ke tepian bukit di sebelah utara. "Tugas kalian hanya satu, menyegel kembali Tamon Rah, kuda raksasa yang ada di dalam Alkima, rembulan Alforea. Caranya, hancurkan menara kembar di kastel utara bersamaan. Sudah."

"Semudah itu?" Fata memicingkan matanya.

"Siapa yang bilang mudah?" Lily memiringkan kepalanya dengan ekpresi datar. "Ada ribuan monster dan prajurit Alforea berperang di tempat ini. Lihat saja sendiri di belakang kalian."

Mereka berempat menoleh ke belakang dan benar saja, ada ratusan, atau ribuan prajurit dan monster bertembur di tengah padang pasir.

"Oke, tugasku selesai. Bye," Lily masuk kembali ke dalam portal cahaya dan menghilang bersamaan dengan padamnya portal itu.

Seketika itu juga monster-monster kelelawar melompat turun dari langit tepat di hadapan mereka berempat.

"Bagus," celoteh sarkastik Meredy.

Kai, Fata dan Meredy bersiap menyambut musuh mereka. Namun Zhaahir berjalan meninggalkan mereka bertiga.

"Mau ke mana kau, Zhaahir!?" bentak Kai.

Zhaahir memanggil Qorrum sekali lagi dan menungganginya, "Tujuan kita adalah kastel di sisi utara. Aku tidak akan membuang waktuku di sini, Kairos."

(***)


Meredy memuntahkan peluru dari pistolnya ke udara dengan sia-sia. Tidak ada satupun monster di udara yang tertembak oleh amunisinya.

"Tembak, Meredy! Tembak!" pekik Fata

Mendengarnya, Meredy mulai terlihat kesal, "Kau buta ya? Aku mencurahkan segenap jiwaku untuk menembak, Kribo Kere!"

Kai mengambil salah satu pistolnya. Lambang emas Keluarga Alshain terukir di handle metalik berwarna perak. Seluruh badan pistol itu memiliki satu warna yang sama, perak. Ukiran-ukiran aneh tercetak di seluruh badan pistol, membuat fisik pistol secara keseluruhan terlihat unik dan mencolok.

"Akui saja kalau kau tak bisa menembak, Meredy. Lihat, akan kuperlihatkan bagaimana cara menembak yang benar."

Sambil berlari, Kai menembakkan dua buah peluru ke arah monster yang terbang di angkasa. Kedua peluru berbahan dasar perak itu memutar di udara dengan ganas. Melesat beriringan menuju sasarannya.

Lalu meleset.

"Bajingan kau, Kai!" umpat Meredy. "Jangan sok keren kalau kau juga tak bisa menembak tepat sasaran!"

Kai tidak mempedulikan Meredy, Ia hanya terus berlari. Di depan Kai dua ekor monster menghadangnya. Taring-taring mereka runcing mematikan, siap untuk menubruk tubuh Kai kapan saja dan mengoyak dagingnya.

Kai terus menerjang, tanpa keraguan. Kedua monster melompat terbang, berusaha menerkamnya.

"Kaaaaiiii!!!"

Teriakan Meredy membuat Kai tersenyum. Ia mengangkat kedua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah, dari kedua tangannya ke udara. Ia lalu menarik garis vertikal ke bawah dengan kedua tangannya secara hampir bersamaan, seolah menggerakkan sesuatu di langit untuk jatuh ke bumi.

Yang Ia gerakkan adalah kedua pelurunya yang baru saja Ia tembakkan. Kedua peluru itu memutar arah dengan cepat, melengkung ke bawah dengan segala daya.

Kedua monster semakin dekat. Namun tiba-tiba, kedua peluru tadi menembus ubun-ubun dua monster itu, berputar di dalam otaknya dan mencabut akar-akar nyawa yang tersisa dari makhluk mengerikan itu.

Kai memiringkan badannya, menghindari terjangan kedua tubuh tanpa nyawa dari monster kelelawar yang telah Ia tembak dengan melompat ke tengah.

Melihat semua itu, Meredy hanya melongo sambil bergumam kagum, "Sialan."

Ia mengejar Kai, dan saat keduanya sudah lumayan dekat untuk bisa saling mendengar satu sama lain di tengah jeritan monster kelelawar di udara, Meredy menawarkan sesuatu, "Oke, Kai. Aku sedang tidak beruntung hari ini. Semua tembakanku meleset."

Dua ekor monster menerjang, Kai mengambil pistol keduanya. Pistol ini terlihat sedikit lebih besar dari pistol pertama. Warnanya didominasi oleh hitam dengan ukiran-ukiran eksotik menyelimuti keseluruhan permukaan.

Ia menembak kedua monster yang menyerang dengan kedua pistolnya secara bergantian. Kali ini, ia tak perlu memanipulasi arah pelurunya karena kedua monster itu sudah berada tepat di hadapan Kai saat Ia mengacungkan kedua pistol itu.

Kai melanjutkannya dengan menembak membabi-buta ke segala arah.

"Dengar, Kai," Meredy melanjutkan kata-katanya yang sempat terhenti sambil menembak ke segala arah, mengikuti Kai.

Walau tidak ada yang tepat sasaran, ledakan peluru dari pistol mereka berdua membuat para monster mulai bepikir dua kali untuk mendekat.

"Pistolku bukan pistol biasa, Kai. Akan kujelaskan masing-masing fungsinya. Tapi kau juga harus menjelaskan semua kemampuanmu. Kita perlu saling bekerja sama untuk bisa keluar dari sini dan mengejar Zhaahir."

"Katakan bahwa kau membutuhkanku dan akan mengikuti komando seranganku, Meredy," lelaki berambut putih acak-acakan itu tersenyum licik.

"Apa? Umurmu lima tahun, ya?" gerutu Meredy.

"Kau mau kerja sama atau tidak?"

"Oke, oke!" Meredy mengambil langkah dan bergerak ke depan tubuh Kai. Tubuh mereka hanya berjarak satu jengkal saja. Tangan mereka terangkat dan saling menembaki monster-monster di sekeliling mereka, seolah mereka sedang berpelukan dengan desingan peluru.

Meredy menatap tajam mata Kai.

"Idiot, Tolol, Bocah, Balita, Ingus, Bulu Ketiak Kakek-kakek, Lubang Hidung, Lubang Pantat, Kunyuk Ubanan, aku membutuhkanmu! Puas?"

Kai langsung menghentikan tembakannya sementara untuk mengapresiasi permohonan Meredy.

"Wow, Meredy. Kau benar-benar mencurahkan isi hatimu! Tapi sepertinya, kita harus mencari Fata terlebih dahulu."

"Maksudmu?"

"Dia menghilang."

"Apa!!?"

(***)


Zhaahir mengendarai Qorrum dan menembus padang pasir dengan kecepatan penuh. Tujuannya jelas, kastel di sisi utara.

Ia berlari dengan terus memperhatikan Alkima yang semakin mendekat, sampai-sampai Ia tidak menyadari dua ekor kuda sudah mengejarnya dari sisi kiri. Mereka bukan sembarang kuda, mereka adalah centaurus, makhluk setengah kuda setengah manusia.

Zhaahir menyentak tali kemudinya dan Qorrum melesat dengan lebih cepat lagi. Namun kedua centaurus itu tidak kehabisan akal. Mereka mengambil bowgun besar dengan anak panah sebesar genggaman tangan Zhaahir.

Dua buah anak panah terlontar lurus dari dalam bowgun masing-masing centaurus, diiringi oleh suara gesekan angin yang kasar dan menderu-deru.

Zhaahir memeluk badan kuda hitamnya dan menarik tali kemudinya ke kanan bawah. Sang kuda hitam memiringkan tubuhnya dan berbelok ke kanan dengan tanpa mengurangi kecepatan. Dengan ini, Zhaahir berhasil menghindari anak panah pertama.

Tapi anak panah kedua seperti sudah memprediksikan gerakan Zhaahir dan menyambutnya di arah yang tepat. Jika Qorrum terus berlari, Zhaahir sudah pasti tertusuk oleh anak panah itu.

Sebesar apapun keinginan Zhaahir untuk menghindar, setelah melakukan manuver tadi, melakukan manuver kedua untuk menghindar adalah hal yang mustahil untuk dilakukan dalam kecepatan ini.

Zhaahir terpaksa mematerialisasi sebuah tameng besi bulat di tangan kanannya. Ia memegang tameng itu dengan kedua tangannya di saat yang tepat ketika anak panah kedua menjemputnya. Benturang keras tercipta dari tumbukan anak panah raksasa dan tameng besi Zhaahir, mencongkel tubuh pangeran bertopeng itu dari tunggangannya.

Zhaahir meringis menahan sakit di kedua tangannya.

Ia melihat kedua centaurus berlari mengejar tubuhnya yang terpelanting di udara. Kedua centaurus itu mengambil anak panak kedua mereka dan memakainya sebagai tombak. Sasaran dari tombak itu adalah tubuh Sang Pangeran.

Mengetahui hal itu, Zhaahir segera melakukan manuver di udara, memposisikan tubuhnya sedemikian rupa sehingga Ia bisa melempar tameng bulatnya sekuat tenaga ke arah salah satu centaurus yang menyerangnya.

Lontaran tameng mengenai pundak salah satu centaurus, membuatnya oleng dan terjungkal.

Saat tubuh centaurus itu menyusur pasir, wujud tameng yang terpelanting menghilang.

Zhaahir segera mematerialisasikan sebuah tombak di tangan kanannya.

Zhaahir menghalau serangan centaurus kedua dengan tombaknya. Di saat yang sama, Ia mematerialisasi sebuah pedang dan melompat untuk menggorok leher monster separuh kuda itu.

Dengan pedang di tangan kiri dan tombakldi tangan kanannya, Zhaahir berdiri. Ia mengamati sejenak kedua centaurus yang sudah Ia kalahkan. Centaurus pertama masih hidup, tapi mengalami luka serius. Sedangkan centaurus kedua telah meregang nyawa.

Ia memanggil kuda hitamnya yang langsung berbalik arah dan menjemputnya. Zhaahir melanjutkan perjalanannya ke utara.

Sang Pangeran Bertopeng mendongakkan kepalanya sekali lagi.

Ia melihat Alkima semakin mendekat. Sebuah retakan melintang muncul di tengah rembulan itu.

(***)


Usaha Fata untuk berlari dan menyelamatkan dirinya sendiri sia-sia. Puluhan monster sudah mengepung bukit itu. Fata beruntung Ia selalu bertemu dengan para monster yang ingin membunuhnya dengan menggunakan senjata.

Pedang, palu, kapak, semua senjata di medan perang adalah mesin yang berfungsi untuk membunuh. Fata adalah seorang teknopath. Ia berbicara dengan mesin, apapun wujud mesin itu.

Ia bisa mendengar dengan lantang setiap kali pedang, palu atau kapak berteriak ke arah mana saja mereka akan terayun. Yang Fata perlukan adalah mendengar teriakan mesin-mesin pembunuh itu, lalu menghindarinya.

Satu-satunya masalah, Fata hanya bisa menghindar.

Ia bisa menduplikasi setiap mesin yang sudah Ia lihat dan pelajari. Namun pedang, palu dan kapak terlalu primitif. Tidak ada kompleksivitas sama sekali, semua mesin itu menjadi senjata pembunuh yang sebenarnya saat berada di tangan para petarung dan ahli senjata.

Fata tidak bisa bertarung, dan dia jelas bukan ahli pedang, palu atau kapak.

"Baiklah, aku mulai menyesal meninggalkan kalian untuk bersembunyi," desah Fata, mengingat kejadian beberapa saat yang lalu di bukit pasir.

Ia melanjutkan kegiatannya, menghindari setiap serangan sambil terus melarikan diri.

"Tebas kepala melintang!" teriak salah satu pedang yang diayunkan oleh monster babi yang mengejarnya

Maka Fata menunduk untuk menyelamatkan kepalanya. Ia berguling, lalu berdiri kembali dan meneruskan pelariannya.

"Lempar ke punggung!" teriak kapak dari cebol berkuda yang mengejarnya dari sisi kiri.

Maka Fata melompat ke kanan, menjatuhkan diri ke dataran yang lebih rendah untuk mengindar.

Saat sampai di bawah, Ia dikejutkan oleh puluhan siluman babi yang berkumpul di daerah itu.

"Habislah aku," bisiknya.

Namun nampaknya, keberuntungannya belum habis sampai di situ. Fata melihat bola-bola hitam dan moncong raksasa di atas gerobak-gerobak besi.

"Meriam! Oke, saatnya menyerang."

Fata tidak tahu bahwa retakan melintang di tengah Alkima menjalar dan terlihat semakin besar.

(***)


Kai dan Meredy masih disibukkan oleh monster kelelawar yang jumlahnya semakin banyak. Mereka tidak menyadari retakan demi retakan yang muncul di sekujur tubuh sang rembulan.

"Sial, aku kehabisan peluru biasa, Kai!"

Retakan itu menjalar ke seluruh Alkima.

"Kita harus segera pergi dari bukit ini, Meredy!"

Lalu sebuah ledakan hebat terdengar dari langit.

Alkima hancur di udara. Serpihan-serpihannya berhamburan ke segala penjuru langit, menghujani padang pasir itu dengan meteor.

Dari dalam rembulan itu sendiri, muncul sesosok bayangan yang menyelimuti langit yang terbakar. Seluruh pasukan monster berhenti bergerak untuk menyembahnya. Bayangan itu menjerit sekencangnya, hingga awan dan kabut lenyap, memperlihatkan sosoknya yang sebenarnya.

Sesosok kuda raksasa.

Monster kuda.

Dengan sayap api dan tanduk emas bercahaya.

Para monster di seluruh pelosok gurun berteriak,

"Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah! Rah!"

Jeritan Sang Monster kuda berubah menjadi raungan kematian,

"RAAAAAAAHHH!!!"

Meredy memandang Kai dengan lemas. "Oke, Alshain Kairos,"  nada bicaranya sinis, tapi ketakutan jelas terlihat dari sorot matanya. "Apa rencanamu sekarang?"


(***)

BAB 3 – ALSHAIN KAIROS

Meredy mengikuti Kai melompat dari tepi bukit pasir berbatu. Gerombolan monster kelelawar menyerang secara bergelombang.

Kai menembakkan pistolnya ke depan dan menggerakkan peluru demi peluru yang keluar untuk menghabisi serangan gelombang pertama.

Mereka terus berlari saat gelombang kedua mulai menyerang, menukik dari udara satu persatu seperti hujan.

Di dalam suasana sulit ini, Kai dan Meredy bisa sedikit tertolong karena monster kuda Rah memilih untuk terbang ke medan perang utama, jauh di depan posisi Kai dan Meredy saat ini.

"Nafasku habis! Serang sekarang!" perintah Kai.

Meredy sudah menunggu aba-aba ini. Ia segera melakukan hal yang perlu Ia lakukan, sesuai rencana yang telah mereka susun sebelumnya.

"Shockwave mampus!"

Pistol Meredy yang semula berwarna abu-abu berubah menjadi hitam. Ia tembakkan sebuah peluru dan Kai menyambutnya dengan mengubah arah peluru itu menuju ke titik pusat dari gerombolan monster kelelawar yang menyerang mereka dari udara.

Begitu peluru Meredy menyentuh tubuh salah satu monster, terjadilah sebuah ledakan gelombang. Gelombang itu menghempaskan seluruh pasukan di udara ke segala arah. Membuat mereka bertubrukan satu sama lain dan terjungkal ke pasir berbatu satu persatu hingga tak ada yang tersisa.

"Ini pertama kalinya aku melihat hujan monster kelelawar seindah ini," canda Meredy.

Kai tidak menjawab karena nafasnya tersengal-sengal.

"Kau menyedihkan, Kai," sindir Meredy. "Kita baru berlari beberapa ratus meter dan kau sudah kehilangan separuh nyawamu."

"Staminaku memang payah. Berhenti mencela, Meredy. Aku baru saja menyelamatkanmu."

"Ya, ya. Harus kuakui, barusan itu luar biasa, Kai. Bagaimana caramu melakukannya?"

"Arah, Meredy. Arah," Kai berusaha mengatur nafasnya. "Arah adalah konsep yang menggerakkan dunia seisinya. Kau bisa berjalan sampai ke tujuanmu kalau kau tahu arah menuju tujuan. Setiap sejarah tercipta karena tokoh-tokoh penting memilih arah yang tepat untuk menuju peristiwa-peristiwa penting. Siapa pun yang bisa memahami konsep arah akan mengerti konstruksi dasar dari penyusun dunia."

Meredy melongo.

Ia merubah warna pistolnya menjadi putih. Wajahnya terlihat kesal mendengar penjelasan Kai.

"Jangan sok pintar," katanya, sambil menembakkan pistolnya ke batok kepala Kai.

Saat pelurunya masuk ke dalam, stamina Kai perlahan kembali prima.

(***)


Staminanya yang lemah membuat tubuhnya gampang lelah. Setelah memastikan tidak ada lagi orang yang mengejarnya. Kai berhenti berlari untuk merebahkan diri di rerumputan. Ia beruntung mengetahui arah yang tepat di tengah labirin pepohonan di belakang kastel Despera untuk bisa meloloskan diri dari kejaran pasukan Ruu.

Kai memang bukan manusia biasa. Kai punya kesadaran unik tentang arah. Ia bisa melihat arah secara fisik melalui alam bawah sadarnya. Itulah kenapa Kai tahu arah menuju kamar Ruu tanpa diketahui orang. Serta kenapa Ia bisa lolos dengan mudah dari kejaran kaki tangan Ruu setelah Ia kabur dari kamarnya.

Yang Kai butuhkan adalah tujuan. Kai bisa tahu arah yang tepat asal Ia tahu kemana tujuannya.

Tapi yang paling unik adalah, Kai memahami arah tidak hanya fisiknya saja, namun juga secara konsep. Instingnya akan arah, bisa Ia terapkan pada tindakannya sehari-hari. Itulah kenapa Ia mengorek informasi dari Ruu.

Kai sedang mencari syarat yang Ia perlukan untuk bisa memakai insting pencarian arahnya.

Syarat itu adalah tujuan.

Kai sudah mengetahui apa tujuannya, kini saatnya mencari arah yang tepat untuk sampai ke tujuan itu.

Maka Kai memejamkan matanya, berkonsentrasi. Ia memvisualisasikan tujuannya. Pikirannya menuntunnya dan menunjukkan kepadanya jalan yang harus Ia tempuh. Saat Ia membuka matanya, yang Ia mendapatkan tiga buah nama.

Zhaahir Khavaro III, Fatanir dan Meredy Forgone.

(***)


"Kita harus segera mencari Fata, Meredy," kata Kai untuk yang ketiga kalinya.

"Aku tahu, Bodoh!" bentak Meredy. "Justru kau yang sedari tadi mengeluh capek setiap beberapa menit sekali!"

Mereka berdua berlari bersamaan, tapi terlihat jelas Meredy harus mengikuti ritme Kai yang tertatih-tatih.

"Sudah kubilang kan, staminaku jelek. Sudah kubilang juga kita akan lebih cepat sampai ke tujuan kalau kau menggendongku."

"Aku perempuan, Kampret! Kau minta digendong perempuan? Kelaminmu pergi kemana?"

"Dengan kata lain, kau sudah menganggap bahwa perempuan itu lebih lemah dari laki-laki. Kau baru saja merendahkan harga diri perempuan dimata laki-laki, Meredy."

"Kau yang mempermalukan kaum laki-laki, Monyet!"

(***)


"Oke, aku tak mau mempermalukan diriku sendiri," bisik Kai kepada dirinya sendiri. "Tapi maafkan aku, Zhaahir, aku benar-benar tak tahu apa yang sedang terjadi dengan diriku. Aku tak bisa mengontrol tubuhku."

Setelah itu, Kai mencium bibir Zhaahir yang sedang tertidur pulas.

Satu detik.

Dua detik.

Tiga detik.

Dan Kai mulai sadar kenapa Zhaahir memakai topengnya.

Zhaahir terlalu tampan. Ketampanannya tidak ada duanya.

Kai merasa telah membuka sebuah tabir misteri yang terpendam dalam-dalam dengan mengambil topeng Zhaahir diam-diam. Tapi Ia merasa perbuatannya tidak bisa dihindari. Ia membutuhkan sesuatu dari Zhaahir agar Ia bisa memaksanya untuk masuk kedalam kelompoknya. Dan topeng ini, dilihat dari manapun memang terlihat penting bagi Zhaahir.

Setelah Ia tersadar dan mulai bisa sedikit mengontrol keinginannya, Kai segera melarikan diri dari tempat Zhaahir.

Tujuannya selanjutnya adalah Fata dan Meredy.

Instingnya akan arah membuat Kai mengunjungi satu-satunya tempat perjudian yang tersembunyi di pinggiran Despera, di salah satu tempat yang paling susah dicari. Ia tidak tahu kenapa dan apa hubungan antara tempat perjudian itu dengan Fata dan meredy. Yang Ia tahu hanya satu, bahwa untuk mencapai tujuannya, Ia harus menghancurkan tempat perjudian ini secepat mungkin.

(***)


"Sialan!"

Tanpa mereka sadari, Kai dan Meredy sudah berada di medan perang. Teriakan penyulut semangat dari prajurit Alforea dan raungan bengis para monster berbagai jenis berbaur menjadi satu, menyulut suasana penuh ketegangan.

Kedua pasukan dengan cepat menelan Kai dan Meredy ke dalam amukan medan pertempuran mereka.

Para pasukan bertombak menyerang sekelompok siluman kadal di sisi kiri. Kesatria-kesatria berpedang menghujam monster-monster berambut api di sebelah kanan. Sedangkan raksasa-raksasa bermata satu dan sekumpulan serigala berkepala dua menggempur sisi tengah pasukan Alforea.

Tameng-tameng baja dikeluarkan oleh para prajurit dan disusun sebagai benteng darurat. Namun tangan-tangan besar para raksasa bermata satu dengan mudah merobohkan benteng darurat itu.

Kai dan Meredy ada di tengah-tengah serangan, tak berdaya. Meredy bersiap menembakkan peluru gelombang kejut, namun Ia yakin hal itu tak akan banyak mengubah keadaan.

Ia melirik Kai, berusaha mencari tahu barangkali lelaki berambut putih itu punya strategi lain.

Kai tahu apa arti lirikan Meredy.

Sesimpul senyuman terhias di ujung bibir Kai sebelum Ia berteriak sekeras-kerasnya.

"Luncurkan anak panaaah!!!"

Pasukan Alforea tersentak. Mereka tidak tahu dari mulut siapa suara itu keluar, dan mereka tidak peduli. Mereka sedang terdesak.

Pasukan kadal di sisi kiri dengan gesit menghindari serangan tombak demi tombak. Monster-monster berambut api melelehkan pedang-pedang para kesatria dan menghanguskan semangat tempur mereka satu demi satu. Para raksasa bermata satu menembus benteng pertahanan dengan mudahnya sementara serigala-serigala berkepala dua mencabik leher dan kepala para prajurit di baris depan.

Pasukan pemanah di sisi belakang meluncurkan anak panah mereka ke udara dengan tekat bulat, niat yang kokoh untuk melukai siapapun di garis depan. Lalu mereka meluncurkannya lagi, dan lagi, dan lagi. Sambil berharap sebagian besar anak panah itu mengenai musuh, bukan rekan mereka.

Lalu keajaiban terjadi.

Anak panah berputar arah satu-persatu. Mereka meliuk-liuk melewati sela-sela pasukan Alforea dan menusuk musuh-musuh mereka dengan presisi yang luar biasa. Puluhan mata raksasa pecah saat anak panah menembus tengkorak kepala mereka. Lidah-lidah serigala putus saat anak panah menembus tenggorokan mereka. Para monster berambut api terjungkal saat anak panah menembus leher mereka. Usus-usus berceceran dari perut-perut siluman kadal yang terbuka oleh sayatan anak panah.

Sepuluh menit berlalu, dan tidak ada lagi monster di hadapan prajurit Alforea yang masih bisa bernafas.

Pasukan Alforea memenangkan peperangan di sisi ini. Tapi tidak ada yang bersorak gembira, tidak ada satupun yang merayakannya. Mereka terdiam mematung berusaha mencerna kejadian itu, keajaiban itu.

Sampai akhirnya, sesosok pria berambut putih berdiri di atas mayat para raksasa, memandang mereka dengan senyum seribu arti.

"What the fuck, Kai!" umpat Meredy.


(***)

BAB 4 – WHAT THE FUCK, KAI (BAGIAN 1 : KUDA)

Lewat pertunjukan kemampuannya, Kai kini memimpin 97 prajurit Alforea. Ia dan Meredy membawa mereka menuju ke titik utara.

"Sialan kau, Kai," bisik Meredy.

"Ada yang salah?"

"Tidak. Hanya saja... Kau penuh dengan kejutan, Kai. Kau datang tiba-tiba membawa topeng Zhaahir dan memaksa secara halus agar aku, Zhaahir dan Fata membentuk kelompok denganmu. Dan kemampuan yang baru saja kau tunjukkan itu tadi... Semua prajurit melihatnya dan mereka langsung memujamu. Aku... tidak tahu apa isi kepalamu, Kai."

Kai tersenyum sombong, "Aku hanya membantu mereka untuk mengalahkan musuh."

"Kai, please..." tatapan mata Meredy tajam seolah berusaha membongkar teka-teki di balik senyum Kai. "Aku bukan orang bodoh. Kau bukan datang tiba-tiba saat aku, Fata dan Zhaahir sedang berkumpul. Kau mengamati kami. Kau memilih kami. Dan kau memilih para prajurit ini. Kau memperlihatkan pertunjukan satu lawan seratus hanya agar kau bisa memimpin prajurit ini. Aku tahu, Kai."

Kai tidak menjawab. Ia bersembunyi di balik senyumnya yang menyebalkan, seperti biasa.

"Aku hanya ingin tahu, untuk apa? Apa yang sedang ada di pikiranmu? Apa yang sedang kau rencanakan?"

Keheningan tercipta selama beberapa detik sebelum Kai menjawab, "Kau akan tahu, nanti."

"Untuk sekarang, kita harus segera ke kastel utara. Aku yakin Zhaahir sudah ada di sana," mata Kai memandang jauh ke depan.

Ke kobaran api di atas pasir yang membara menerangi malam. Di atas dinding api itu, Monster kuda terbang berputar, membakar apapun yang belum terbakar oleh api yang berkobar dari balik sayapnya.

Meredy memalingkan mukanya kesal, "Aku hanya berharap kita bisa menemukan Fata."

"Kau merindukannya?" Kai tersenyum nakal.

"Tentu saja, Bodoh. Dia berhutang padaku."

"Tenang saja, aku yakin kita akan segera bertemu dengannya."

(***)


Saat monster kuda Rah terlepas dari segel Alkima dan turun dari langit, Zhaahir sedang berada di atas tunggangannya, seekor kuda hitam benama Qorrum.

Rah menandai kebangkitannya dengan raungan yang menggetarkan dunia.

Lalu monster kuda itu melihat Qorrum Sang Kuda Hitam.

Bersama Zhaahir, Qorrum berlari menyayat padang pasir ke sisi utara. Menabrak para musuh yang tidak siap dengan kecepatan tinggi, kuda hitam itu berhasil membawa tuannya melewati medan pertempuran dengan efisien.

Tapi Rah telah melihat keberadaan Qorrum, matanya yang menyala terang tak bisa lepas dari sosok hitam pekat itu. Monster kuda itu mengepakkan sayap apinya dan berlari di udara untuk mengejar Qorrum.

Zhaahir merasakan hawa panas di punggungnya. Ia menoleh hanya untuk melihat Rah bersiap melontarkan api dari kedua sayapnya.

"Oh tidak!" Ia memacu Qorrum lebih kencang lagi. "Lari kawanku! Lari sekencangmu! Kematian sedang mengejar kita, kawan! Lari! Qorrum!!"

Langit malam masih dipenuhi meteor dari serpihan Alkima. Namun apa yang dihadapi oleh Zhaahir saat ini jauh lebih mengerikan lagi. Puluhan bola api keluar dari kedua sayap Rah, membombardir bumi. Walau tidak terfokus pada Zhaahir, tapi serangan itu sanggup menghancurkan apapun yang ada di daratan. Teman dan lawan meledak dan hangus hingga hanya tersisa tulang-belulang.

Zhaahir berusaha sekuat tenaga untuk menghindar. Ia menunggang kuda hitamnya untuk melewati sedikitpun celah yang bisa Ia dapatkan. Ia berbelok arah di saat-saat terakhir sebelum bola-bola api dari udara jatuh meledak dan membungi hanguskan dunia, dengan harapan Rah mengira Ia dan kudanya mati terkena ledakan.

Bayarannya, kini sekujur tubuh Qorrum terkena luka bakar yang mengenaskan. Baju Zhaahir hangus. Ia mendapatkan luka yang sama dengan kuda hitamnya. Jantungnya seperti sedang digoreng. Tapi mereka bertahan. Mereka bisa terus menghindar sampai bola api terakhir.

Zhaahir menepuk leher kuda hitamnya, tersenyum karena telah lolos dari kematian.

Walau pada akhirnya, semua perjuangan mereka pun sia-sia belaka.

Rah telah menambatkan pandangannya kepada Qorrum.

Saat Zhaahir mendongak ke atas, monster kuda yang haus akan kematian itu sudah berada di hadapannya, memandangnya dengan tatapan bengis.

(***)


"Kai! Meredy!" sebuah teriakan terdengar bersamaan dengan deru sebuah kendaraan besi.

Kai dan Meredy mencari arah suara itu. Mereka melihat kepulan pasir berlari ke arah mereka.

"Hei! Aku butuh bantuan!" suara teriakan terdengar tepat di pucuk kepulan pasir.

"Itu Fata?" Meredy mengeryitkan keningnya.

"Aku Fata, woi!"

"Ya, itu Fata," kata Kai datar. "Apa yang sedang dia kendarai?" Kai ikut mengeryitkan keningnya.

Kepulan asap itu semakin mendekat.

"Tank?" tanya Meredy begitu Ia bisa menangkap detil benda yang berlari ke arah mereka.

"Ya, tank," Kai mengkonfirmasi.

Tank itu berwarna hitam pekat. Bentuknya aneh, terdapat sebuah meriam besar menghadap depan dan tiga meriam yang lebih kecil menghadap ke belakang. Dan tank itu berjalan dengan sangat cepat.

Meredy tak habis pikir, "Dari mana Jambul Kribo itu mendapatkan sebuah tank??"

"Hoi! Aku butuh bantuan, nih!" teriak Fata, hanya kepalanya yang terlihat di atas tank.

Tiba-tiba, tiga buah meriam di bagian belakang menembakkan peluru. Tiga buah ledakan terdengar, lalu hening. Disusul oleh teriakan serempak belasan meter di belakang tank Fata. Teriakan itu berasal dari belasan pasukan monster babi bersenjata lengkap.

Melihat Fata dikejar oleh musuh, Kai dan Meredy bersiap membantunya. Hanya belasan prajurit, bukan lawan berarti untuk 97 prajurit Alforea di bawah komando Kai.

Kai sudah bersiap memberikan aba-aba kepada pasukannya untuk menyerang saat teriakan monster-monster yang mengejar Fata semakin kencang. Satu-persatu monster muncul dari belakang pasukan monster di depannya.

Ternyata bukan hanya belasan monster yang mengejar Fata, melainkan ratusan.

"Apa yang bocah itu lakukan sebenarnya!?" umpat Meredy.

Kai berdiri menghadap pasukannya dan akhirnya Ia memberikan komando, "Lariii!! Lanjutkan perjalanan kita ke kastel utara! Itu tujuan utama kita!"

Prajurit Alforea menjawab serempak. Dan berlari ke arah utara menigkuti komando Kai.

Meredy tentu saja berlari menyusul di belakang Kai.

Sedangkan Fata mulai tampak panik, "Hoi! Jangan tinggalkan aku hoi!

"Mati saja sana kau Jambul Kribo Sialan!" teriak Meredy dari kejauhan.

(***)


Tempat Zhaahir berpijak adalah sisi utama dari medan pertempuran antara prajurit Alforea dan para monster. Dan kedatangan Rah membuat suasana di tempat ini semakin kelam.

Prajurit Alforea mulai kehilangan semangat mereka. Para monster dengan tingkat intelengi yang lebih tinggi terlihat berlari ke utara. Sedangkan para monster kelas rendahan justru semakin buas. Mereka seperti bersenang-senang melihat penderitaan prajurit Alforea dan kagum terhadap penghancuran yang dilakukan Rah, walau mereka sendiri juga menjadi korban atas keganasan Sang Kuda.

Semua itu terjadi ketika Rah baru melakukan serangan pertamanya. Baru satu bagian dari medan pertempuran itu yang terbakar. Namuan hasilnya, semua yang terbakar telah hangus tanpa sisa.

Hampir tidak ada yang bisa melawan monster kuda itu.

Dan kini, Zhaahir sedang berhadap-hadapan dengannya, makhluk setinggi 50 meter yang berjalan di udara dengan keempat kakinya. Sayap apinya membentang hampir 200 meter, senantiasa menyala, membakar langit. Tanduk hitamnya menjulang setinggi sebuah mercusuar.

Melihatnya sama dengan melihat kematianmu sendiri. Tidak akan ada yang bisa selamat dari keganasannya. Semua orang akan takut dan tunduk pada keputus-asaan.

Tidak dengan Zhaahir.

Ia turun dari kuda hitamnya, membisikkan sesuatu pada hewan kesayangannya itu, "Kau sudah cukup bekerja keras, Kawan. Sekarang saatnya kau beristirahat," dan mengembalikan perwujudan fantasma mulianya itu kembali pada ketiadaan.

Dari balik topengnya, kedua mata Zhaahir menatap tajam kepada Sang Kuda. Menantang.

"Jika kau ingin menghabisiku, mari sekalian membuat pesta kematian termegah di gurun ini, Rah!"

Sang Kuda menjerit, bersiap membakar tubuh Zhaahir dengan bola-bola api dari kedua sayapnya.

Zhaahir menyambutnya dengan membuka topeng perunggunya.

Melihatnya, Rah terhenti, hanya untuk sepersekian detik. Tapi itu sudah cukup bagi Zhaahir untuk mengeluarkan fantasma mulianya yang lain, Surat Izin dari Kaisar.

"Dengan surat ini, izinkan aku untuk mengajakmu makan malam di Hisaria, Wahai Rah!"

Sang Kuda berteriak. Namun Zhaahir melanjutkannya dengan mengeluarkan fantasma mulia ketiga.

Ia mencipta realitas fana di dimensi khayalnya, berupa benteng Hisaria di tepi selat hitam. Zhaahir berusaha memindahkan wujud Sang Kuda ke dimensi ciptaannya.

Namun tubuh Zhaahir bergetar. Realita Hisaria belum tercipta sepenuhnya tapi dimensi khayalnya itu sudah terkoyak dari dalam. Sesuatu memakan realita itu sebelum realita itu berhasil mengurung targetnya.

Semua sudah terlambat saat Zhaahir menyadari kesalahan yang telah Ia perbuat.

"Oh Tuhan, Rah menyerap esensi fantasma muliaku!"

Tamon Rah terlalu kuat untuk level Zhaahir saat ini.

Rah kini memakai energi dari fantasma Zhaahir, semua karena Zhaahir mengundangnya dengan paksa ke dalam Realita Hisaria.

Kekuatan Rah meningkat berlipat ganda.

Saat tubuh Zhaahir terkulai lemas, Sang Kuda berlari di udara dan menyemburkan api dari kedua sayapnya dengan tanpa henti. Dinding api menjulang, melumat bumi.

Rah membakar hangus gurun pasir itu beserta isinya.

(***)


Padang pasir berubah menjadi lautan api.

Dengan sisa-sisa kekuatannya, Zhaahir mematerialisasi fantasma mulia berupa zirah kavaleri. Ia tidak ingin mati. Ia tidak ingin meninggalkan Eri. Tapi Ia tahu, zirah ini hanya bisa melindunginya dari api selama beberapa detik saja.

Ia akan mati setelah itu.

Maka saat pilar-pilar api bersatu menjadi dinding api dan mendekati tubuhnya, Zhaahir meyiapkan hatinya. Ia akan kecewa. Eri akan tersakiti. Cinta mereka tidak akan pernah bersatu, sama seperti perkataan ayahnya.

Zhaahir tidak menginginkan hal ini, namun Ia sudah tidak bisa bergerak lagi.

Ia memejamkan matanya.

Saat itulah sesosok makhluk menghampirinya. Tubuhnya abstrak, Zhaahir hampir tidak bisa memahami wujud fisiknya.

Makhluk itu menghampiri Zhaahir sesaat sebelum Ia kehilangan kesadarannya. Ia menggendong tubuh Zhaahir tepat sebelum lautan api memakan mereka.

Satu kedipan, dan Zhaahir telah sampai di kastel utara.


(***)

BAB 5 – WHAT THE FUCK, KAI (BAGIAN 2 : DUNIA)


Fata berhasil mengejar Kai dan Meredy, sementara ratusan monster masih mengejar mereka.

Satu kilometer di depan mereka Rah mengamuk. Lidah-lidah api keluar dari balik sayapnya tanpa ada jeda.

"Kuda itu bertambah kuat," guman Kai.

Mereka lalu memutar sedikit lebih jauh untuk menghindari amukan Rah. Jalan yang mereka pilih adalah gundukan pasir serupa gunung yang memanjang di sisi barat. Kai memilih jalan itu karena Ia tahu inilah jalan satu-satunya yang harus dilewati untuk bisa menghindari amukan Rah sebelum mereka sampai di kastel utara.

Fata dan tanknya ada di tengah barisan prajurit Alforea. Kai dan Meredy ikut naik ke atas tank itu menemani Fata.

"Jadi kau membuat tank ini dari sekumpulan meriam?" tanya Kai.

"Begitulah," jawab Fata singkat.

"Dia seorang teknopath, Kai," kata Meredy. "Sepertinya bukan hal yang sulit bagi seorang teknopath untuk mengadopsi dan merakit teknologi baru dari komponen mesin yang ada."

"Tergantung teknologinya, sih," Fata menjelaskan. "Tapi jujur, merakit tank dari sekumpulan meriam itu bukan hal yang mudah, walau aku tahu bagaimana caranya."

Tiba-tiba, Fata menatap Meredy, "Meredy, kau ingat percakapan kita tentang Alforea?"

"Ya. Kenapa?"

"Aku masih belum bisa memahaminya, tapi aku merasa seperti... Apa ya? Semacam... Pikiranku mulai belajar untuk memahami bahasa dunia ini sedikit demi sedikit."

"Apa maksud kalian?" Kai penasaran.

"Kai, kau tahu dunia apa Alforea ini?" tanya Fata.

"Aku hanya tahu letak dunia ini," jawab Kai. "Aku seorang pemeta dimensi. Walau aku sudah tidak melakukan pekerjaan itu lagi, tapi kemampuan untuk memetakan dimensi masih kumiliki. Pada dasarnya, kemampuan itu bekerja pada komponen ruang, waktu dan gravitasi. Tiga komponen dasar penyusun sebuah dimensi. Dengan memahami tiga hal itu, aku bisa mengetahui titik tempatku berada di dalam sebuah dimensi dan di mana letak dimensi itu sendiri."

"Dan aku adalah sebuah I.M.D.," sambung Meredy. "Independent Moving Data, itulah wujud asliku di dunia asalku. Aku adalah data organik dengan tingkat kecerdasan dan emosi. Aku tak tahu di mana letak Alforea. Tapi kuberi tahu kau, Kai, bentuk asli Alforea adalah data. Dunia ini tersusun dari sistem digital dengan kode pemrograman yang sangat kompleks."

"Mesin?" Kai melirik Fata.

Fata mengangguk.

"Menarik," gumam Kai.

"Ya, aku sangat tertarik membahas tentang Alforea kalau saja kita tidak sedang akan mati," celoteh Meredy sinis. "Lihat Kai, kastel utara sudah ada di depan mata... dan ada ratusan monster lagi yang berjaga di sana. Ditambah ratusan monster yang menghimpit dari belakang dan Rah di sisi kanan, sepertinya kita memang akan mati sebentar lagi."

"Kau pikir, untuk apa aku mengumpulkan prajurit Alforea di bawah komandoku," tatap Kai tajam.

"Tapi mereka hanya 90-an orang, Kai!" gerutu Meredy.

Fata melihat kedua rekannya dan dengan polos berkata, "Kita punya tank."

"..."

"Kita punya tank," Kai mengulagi kata-kata Fata dengan penuh rasa percaya diri.

(***)


"Dengarkan aku baik-baik, kalian semua!" Kai berdiri di atas tank di tengah barisan para prajurit untuk memberikan komando terakhirnya.

"Kalian adalah satu-satunya pasukan yang tersisa! 97 dari kalian! Lihatlah lautan api di sisi kanan kalian! Tempat itu adalah medan perang utama, tapi semua yang ada di situ sudah musnah menjadi asap! Teman-teman kalian telah mati! Semuanya mati tak bersisa! Kecuali 97 dari kalian!

"Sebentar lagi, kalian juga akan mati! Tak ada lagi harapan buat kalian untuk pergi dari tempat ini hidup-hidup! Di belakang kalian ada ratusan monster dan ratusan monster lagi menghadang di depan kalian! Rah berputar di atas kalian bersiap menghanguskan dunia!

"Kalian!

"Kita semua!

"Akan mati!

"Tapi aku! Aku tak akan mati begitu saja! Aku dan kedua temanku akan menerjang pasukan monster di depan! Mereka akan melihat kita bertiga dan berkata, 'BODOH'! Tapi aku akan menggorok leher-leher mereka! Kita bertiga akan memenggal nyawa mereka satu persatu! Karena merekalah yang bodoh telah berani berpikir bahwa mereka bisa membunuh kita! Kita akan mati! Tapi kita akan mati dengan cara kita sendiri! Bukan dengan cara mereka!"

Para prajurit menegakkan kepala mereka. Hati mereka bergetar.

"Persetan dengan Rah! Kalian akan menghancurkan monster-monster yang berani mengancam kalian dari belakang! Kalau kalian memang akan mati, tunjukkan kepada mereka bagaimana cara kalian mati!"

Mata mereka meneteskan air mata. Tapi semangat mereka terbakar.

Inilah pertarungan terakhir di hidup mereka.

Maka mereka bersatu, berlari menerjang pasukan monster yang mengejar mereka. Sambil berteriak dengan serempak dan menggetarkan gunung pasir tempat mereka berpijak.

"MATIIII!!!"

(***)


Kai mengemudikan tank ke arah pasukan monster di depan mereka. Kokpit tank hanya dibuat untuk satu orang sehingga Fata dan Meredy terpaksa berdiri di belakang Kai berhimpit-himpitan.

"Bagaimana cara kita mengalahkan para monster ini, Kai? Jangan bilang kau benar-benar berniat mati di sini. Kita perlu menghancurkan menara kembar di atas kastel itu untuk bisa menyelesaikan misi ini," Fata menunjuk dua menara kembar di atas reruntuhan kastel.

"Tenang, aku sudah menemukan jalan untuk mengalahkan mereka," Kai tersenyum sombong.

"Bagaimana caranya?" desak Fata.

"Aku mempunya kemampuan yang kusebut sebagai cartascient, Fata. Dengan kemampuan ini, aku bisa mencari jalan menuju tempat apapun yang kuinginkan. Tempat disini tidak berhenti pada pengertian tempat secara fisik saja, namun juga secara konsep. Ide. Jika aku menggunakan kemampuan ini untuk mencari jalan menuju kehancuran seluruh pasukan monster di hadapan kita, misalnya, aku akan menemukan jalan yang tepat untuk mencapai tujuan itu."

"Insting akan arah?" gumam Meredy.

Kai mengangguk.

"Kau tidak sedang bercanda, kan?" tanya Fata tak percaya.

"Untuk apa aku bercanda di saat seperti ini," Kai tersenyum. "Aku  sudah menggunakan kemampuan cartascient-kusedari tadi."

Meredy tercengang, "Jadi ini alasan kau menarik simpati para prajurit. Ini juga alasan kenapa kau menggiring kami semua ke tempat ini."

Kai tersenyum.

(***)


Seperti sudah tahu di titik mana saja pasukan monster akan menyerang, Kai melarikan tanknya dengan lincah. Berzig-zag di saat yang tepat. Memutar di saat yang dibutuhkan dan berlari lurus lewat celah-celah kecil yang terbuka selama sepersekian detik.

Ras raksasa berusaha menginjak-injak tank itu dengan sia-sia. Komodi-komodo api berusaha menyemburnya, tapi selalu meleset dan mengenaik monster-monster lainnya.

"Meredy, aku butuh peluru shockwave," perintah Kai tiba-tiba.

"Maksudmu, di sini? Sekarang?" Meredy jelas tak ingin pelurunya mengenai dirinya sendiri.

"Fata, buka pintu kokpit di atas!"

Fata segera menuruti perintah Kai.

Begitu pintu kokpit terbuka, Kai berteriak, "Sekarang, Meredy!"

Meredy menembakkan pistol hitamnya ke atas, memasrahkan pelurunya kepada Kai. Kai tahu tembakan Meredy akan meleset. Peluru itu mengarah ke tepian pintu, tapi Kai mengubah arahnya sehingga peluru itu bisa melesat ke atas. Sasarannya adalah seekor naga yang sedang menerkam tank itu dari udara.

Sang naga terhempas oleh gelombang kejut. Tank kembali berlari tanpa halangan.

Sayangnya, Rah terlanjur melihat gelombang kejut itu. Sang Kuda pun segera meninggalkan gunung pasir, tempat pertempuran terakhir prajurt Alforea, yang sedang Ia bakar. Sang Kuda berlari menuju kastel utara.

"Tamon Rah datang, Kai!" teriak Fata yang sedang mengintip keluar.

"Tenang, sebentar lagi kita sampai."

Kai melihat reruntuhan kastel di depan matanya. Di depan kastel, terdapat dua buah menara kembar di sisi kiri dan kanan. Saat tank itu mendekatinya, menara kembar itu menembakkan laser proyektil terus-menerus.

Kai tahu Ia tidak bisa menghindari serangan dari kedua menara itu, tapi Ia yakin kecepatan tank itu akan sanggup menyelamatkan dirinya.

Tank itu melesat. Ratusan meter di udara, Rah mengejarnya dengan berlari.

Kai menginjak pedal gas sampai ke batas maksimal.

Perjalanan mereka terhenti saat Kai menabrakkan tank itu ke dalam dinding kastel, melemparkan badan tank ke dalam sebuah ruangan kosong yang terlindungi oleh dinding-dinding kokoh. Ini adalah ruangan terakhir dan satu-satunya yang masih tersisa di reruntuhan kastel itu.

Mereka bertiga keluar dari dalam tank. Lalu tanpa sengaja menemukan tubuh Zhaahir, lengkap dengan topeng perunggunya, tergeletak tanpa daya.

"Fata, tunggu di sini dan awasi Rah. Teriak kalau dia sudah mendekat!" perintah Kai.

Fata menyetel tanknya agar bisa menembak secara otamatis ke arah lubang yang menganga di dinding itu, satu-satunya akses masuk ke dalam ruangan itu selain selain pintu besar di sisi yang berseberangan.

Fata melihat para monster berhenti mengejarnya. Mereka panik begitu melihat Rah di udara.

Kai segera berlari ke arah Zhaahir. Meredy menyusul di belakangnya.

"Sekujur tubuhnya terbakar," kata Meredy segera setelah mereka berdua berada di dekat tubuh Zhaahir. "Dia masih hidup, tapi kalau dibiarkan begini saja, dia akan mati, Kai."

Meredy mengubah warna pistolnya menjadi putih dan menyiapkan peluru penyembuhnya.

Tapi Kai menghentikannya, "Jangan berikan peluru penyembuh, Meredy."

"Apa maksudmu? Dia mau mati, Kai!" bentak Meredy.

"Peluru penyembuhmu tak akan langsung bisa menyembuhkannya. Lukanya terlalu parah dan Rah sedang menuju ke sini. Prioritas kita adalah pergi dari tempat ini."

"Tapi Rah tidak akan bisa disegel kembali kalau kita tidak menghancurkan menara kembar di depan!"

"Kita tak akan bisa menghancurkannya kalau kita semua mati, Meredy!"

Meredy terdiam.

"Oke, lalu apa yang akan kita lakukan? Kita tak mungkin meninggalkan Zhaahir mati di sini."

"Berikan lima dosis Adrenaline Shot kepadanya."

"Kau bodoh ya? Sudah kujelaskan sebelumnya kalau lima dosis itu resikonya kematian. Lagipula, memberikan adrenaline dengan kondisi fisik seperti ini... Kau gila ya?!"

"Dengar, Meredy," Kai mendekat, berusaha untuk meyakinkannya. "Kau tahu kemampuanku, kau tahu aku bisa melihat jalan menuju titik apapun. Dan kau juga tahu aku sukses melalui jalan-jalan itu sampai ke titik ini. Kau pikir, siapa yang membuatmu selamat menghadapi ratusan monster sejak kita pertama kali sampai di tempat ini? Kau pikir siapa yang membuatmu bisa melalui semua rintangan sampai ke kastel ini tanpa pernah sekalipun diganggu oleh Rah?"

Meredy terdiam.

"Dari awal aku sudah tahu bahwa aku harus membiarkan Zhaahir pergi agar Rah tidak menyerang kita begitu saja. Aku hanya ingin kau mempercayaiku sekali lagi, Meredy. Berikan adrenaline shotmu agar Zhaahir bisa berlari dari tempat ini. Kita tak bisa membopongnya kalau kita semua ingin selamat. Monster-monster itu bisa menyerang kita kapan saja!"

"Baiklah," Meredy mengiyakan.

Ia menyiapkan peluru adrenalinenya. Lalu tiba-tiba, Zhaahir terbatuk.

Kai berjongkok di samping tubuh Zhaahir yang lemah.

"Kairos," suara Zhaahir bergetar. "Engkau kah sosok abstrak yang kutemui di dalam lautan api?"

Raut wajah Kai berubah, Ia jelas nampak kebingunan.

"Sosok apa Zhaahir? Apa yang kau lihat?" tanya Kai.

"Sosok itu menyelamatkanku dan membawaku ke sini, Kairos. Engkau kah itu?" mata Zhaahir masih terpejam, seolah Ia sedang mengigau.

"Bukan, Zhaahir. Itu bukan aku."

Kai ingin menanyakan lebih lanjut lagi, tapi terpotong oleh teriakan Fata, "Kai! Rah mendekat!"

"Kai?" Meredy meminta persetujuan Kai untuk menembak Zhaahir.

"Lakukan, Meredy," Kai menyetujuinya.

Meredy menutup matanya. Lima tembakan terdengar tanpa jeda.

Saat Meredy membuka matanya kembali, Kai sudah berdiri di samping tubuh Zhaahir. Meredy tak melihat ada perubahan di dalam tubuh pangeran bertopeng itu.

Meredy tidak mengerti dengan apa yang telah terjadi.

"Kai, kau merubah arah peluru adrenalinku ke jidatmu sendiri?"

"Bukan jidatku. jidat Fata," jawab Kai datar.

"Apa maksudmu?" Meredy mulai panik. "Oh tidak... Kau sudah merencanakan semua ini..."

"Aku hanya memilih jalan, Meredy," Kai menatap Meredy, kali ini tanpa senyumannya yang menyebalkan, atau ekpresi wajah yang menyimpan teka-teki. Seolah Kai sedang melepaskan topengnya dan menunjukkan dirinya yang sebenarnya.

"Aku tak pernah tahu apa yang menungguku di jalan yang telah kupilih. Aku sama sekali tak tahu apa yang terjadi pada Zhaahir dan kenapa dia bisa ada di sini. Tapi kenyataannya, dia ada di sini. Dan apapun yang sudah dia lakukan, aku yakin Zhaahir lah penyebab meningkatnya kekuatan Rah. Jadi sepertinya, jalan yang kupilih adalah jalan yang benar."

"Apa tujuanmu yang sebenarnya, Kai."

"Merusak dunia ini," jawab Kai.


(***)

BAB 6 – JALAN YANG BENAR

Lima buah peluru menembus kening Fata saat Ia sedang menatap sosok Rah yang sedang berputar-putar di atas reruntuhan kastel. Sejenak, Ia merasa jantungnya seperti sedang diguncang oleh sesuatu. Adrenalinnya meningkat. Konsentrasinya terpusat.

Fata sempat tersentak dan terjatuh. Tapi Ia segera berdiri. Dan saat Ia melihat Rah sekali lagi, yang Ia lihat bukan fisik Sang Kuda, melainkan deretan kode digital penuh warna. Untuk pertama kalinya, Fata menyaksikan struktur pembentuk dunia ini.

Ia melihat mesin-mesin digital yang menyusun jiwa dan raga Tamon Rah. Dan mesin-mesin itu berkomunikasi dengannya.

"Kompleks! Kata-kata kalian terlalu kompleks! Aku tak bisa memahaminya!" Fata berteriak memegang kepalanya.

Sedangkan mesin-mesin itu terus berbicara kepada Fata, tak mau diam.

Fata menjerit.

"Keluar dari kepalaku! Keluar dari kepalaku!"

Ia menjerit semakin keras.

Lalu Kai datang menghampirinya, "Tenangkan dirimu, Fata. Kalau tebakanku benar, kau sedang melihat struktur digital pembentuk Rah?"

Fata mengangguk, "Apa yang terjadi denganku, Kai? Aku tak bisa membuat mereka diam! Mereka berbicara langsung di dalam otakku!"

Kai menepuk pundak Fata, "Pusatkan konsentrasimu, Fata. Kalau kau ingin mengusir Rah, kau harus bisa memodifikasi kode emosi Rah. Mungkin membuatnya gila dan meledakkan tubuhnya sendiri? Bisakah kau melakukannya?"

"Aku tak bisa! Struktur mesinnya terlalu kompleks! Aku tak bisa memodifikasi kode sekompleks ini!" Fata kembali menjerit, menutup matanya dan menjambak rambutnya sendiri.

Kai terus membujuk Fata. Ia berusaha mencari celah untuk bisa mencapai tujuannya. "Bagaimana dengan memasukkan kode ringan kepada otak Rah? Seperti membuatnya berlari sekuat tenaga dan tanpa henti?"

Fata membuka matanya, menahan jeritannya sambil terus menutup telinganya.

"Berikan Avarice kepadaku, Meredy," pintanya.

Di belakang Kai, Meredy memapah tubuh Zhaahir yang penuh luka bakar. Untuk sejenak, Ia ragu.

Meredy memutuskan untuk memberikan tiga tembakan penyembuh kepada Zhaahir, lalu memberikan pistolnya, Avarice, kepada Fata.

Fata mengutak-atik pistol itu dengan cekatan. Ia melakukannya sambil berbicara dengan bahasa yang aneh, seolah menginstruksikan sesuatu kepada pistol Meredy.

Setelah selesai, Fata melempar pistol itu kembali kembali kepada Meredy. Warna pistol itu berubah menjadi abu-abu.

"Peluru modifikasi data. Tempak Kuda itu, Meredy," adalah kata-kata terakhir yang keluar dari mulut Fata sebelum Ia menjerit membabi-buta seperti orang gila.

Meredy melirik Kai, "Kalau aku menembakkanya, apa yang akan terjadi?"

"Aku tak tahu. Insting cartascient bekerja secara pasif. Aku hanya tahu poin-poin utama yang harus kutempuh untuk mencapai tujuan. Tapi aku tak tahu apa konsekuensi yang akan kudapatkan dari jalan yang harus kutempuh."

"Dan tujuamu adalah merusak dunia ini?"

"Menyelesaikan misi sambil merusak dunia ini, lebih tepatnya."

"Ingatkan aku, kenapa aku harus menurutimu, Kai?"

"Karena kau tak punya pilihan lain, Meredy. Kalau kau diam saja, entah Rah yang akan membumi hanguskan tempat ini terlebih dahulu atau para monster di luar sana."

Meredy mengepalkan tangannya dan menggigit bibirnya keras-keras.

"Bajingan kau, Kai," perempuan berambut gimbal itu melempaskan tembakan ke arah Rah.

Kali ini Ia tak memerlukan bantuan Kai, tubuh Rah yang besar membuatnya menjadi target sasaran yang mudah.

Peluru modifikasi data menembus tubuh Sang Kuda.

Dengan kemampuan teknopath-nya, Fata menciptakan peluru yang kompleks dan kuat untuk mengubah secuil data dari struktur digital penyusun jiwa dan raga Rah.

Hanya ada satu perintah di dalam peluru itu.

"Lari."

(***)


Sang Kuda melesat secepat angin. Kaki-kakinya menapak udara dengan lincah. Ia berusaha berlari sekuat tenaga, meninggalkan reruntuhan kastel utara.

Meredy merasa lega. Monster-monster di luar dinding kastel bersorak-sorai dan segera mengalihkan konsentrasi mereka kembali untuk membunuh empat petualang di dalam kastel.

Tapi Kai, pria berambut putih itu punya rencana lain.

Dengan kemampuan path-bendingnya, Kai berkonsentrasi dan mengubah arah laju Tamon Rah. Kai memberikan jalur absolut untuk dilalui Sang Kuda agar bisa kembali ke kastel utara.

Sesaat bersorak riang, kini para monster terdiam dalam suasana mencekam. Mereka melihat Sang Kuda berlari memutar arah tanpa memperlambat lajunya sama sekali.

Para monster lari berhamburan dari tempat itu, menyelamatkan diri mereka masing-masing.

Fata masih menjerit gila. Zhaahir masih tidak sadarkan diri. Dan Meredy hanya berdiam pasrah.

Sedangkan Kai...

Pria itu membentangkan kedua tangannya, seolah menyambut Sang Kuda.

Dalam satu dentuman keras, tubuh masif Tamon Rah menghantam kastel utara. Meremukkan menara kembar secara bersamaan.

Seluruh kastel termakan oleh hantaman itu. Getarannya menimbulkan api yang membakar beberapa kilometer di sekeliling kastel.

Di saat yang sama, ledakan sihir terjadi, memindahkan tubuh Kai dan Meredy sebelum gelombang kematian menyeret mereka.

Kekuatan sihir yang hebat bertemu dengan Tamon Rah yang maha dahsyat. Tamon Rah yang sudah menyerap fantasma mulia Zhaahir tanpa sengaja sehingga melipat gandakan kekuatannya.

Benturan kedua kekuatan itu menghasilkan ledakan gravitasi temporer yang merusak ruang dan waktu. Mencipta lubang dimensi berupa cahaya tujuh warna.

Tubuh Kai dan Meredy terlempar oleh kekuatan sihir ke tengah lubang dimensi itu.

Dari balik sorot tujuh cahaya yang tak beraturan, mereka melihat sesuatu.

Sebuah dimensi lain yang tersembunyi. Di dalamnya terdapat berbagai objek abstrak yang tidak bisa dinalar oleh daya penglihatan.

Kai tahu tempat apa yang sedang Ia lihat. Itulah dimensi keempat. Dimensi di atas dimensi fisik tempat manusia tinggal.

Dimensi di luar batas nalar.

Dari tempat itulah Kai dilahirkan.

Tujuh cahaya di balik lubang dimensi menyala semakin terang. Kai mulai merasakan sesuatu dari balik cahaya. Objek-objek abstrak berhamburan dan menyatu kembali. Menyusun konstruksi baru.

Sebuah mata, dengan pupil emas yang menyorot tajam. Memperhatikan Kai dengan seksama.

Lalu mata itu tertutup.

Bersamaan dengan kolapsnya lubang dimensi serta normalnya kembali ruang dan waktu. Di saat yang sama, melemparkan Kai dan Meredy kembali ke Despera.

(***)


EPILOG – DESPERA

Tubuh Kai dan Meredy terbaring di tengah lapangan di depan kastel utama kota Despera.

"Jadi, kau benar-benar sanggup menghancurkan dunia ini, hah?" Meredy membiarkan tubuhnya terbaring menghadap awan, disamping Kai yang juga melakukan hal yang sama.

"Aku tidak akan menghancurkan dunia ini, Meredy. Aku hanya ingin membuat sebuah kerusakan yang sangat fatal. Yang terjadi barusan adalah percobaan pertama."

"Untuk apa, Kai?"

"Dunia ini berada di celah antar dimensi. Sebuah batas, yang seharusnya, berupa dimensi kosong yang tidak memiliki ruang dan waktu."

"Lalu, apa yang akan terjadi saat kau merusak sebuah dimensi tanpa ruang, Kai?"

"Aku akan bisa pergi ke dimensi keempat. Dimensi yang sempat kita lihat selama beberapa saat, tadi. Dunia ini adalah sebuah jembatan, Meredy. Sebuah jalan pintas. Sebuah gerbang di celah dimensi tanpa ruang."

Meredy terdiam.

Ia lalu melirik sekelilingnya, tapi tidak bisa menemukan apa yang Ia cari.

"Jadi, Zhaahir dan Fata?" tanya Meredy.

"Mati. Mungkin," jawab Kai enteng.

"Kau pasti senang. Kau menyelesaikan misi ini dengan mengorbankan kedua rekan sekelompokmu. Kau berhasil melubangi dunia ini sesuai keinginanmu. Sementara kau sendiri bisa lolos hampir tanpa lecet sedikitpun."

Kai tertawa, "Kau pikir aku bisa lolos kalau tubuhku lecet sedikit saja? Kau tahu sendiri stamina dan kekuatanku seperti apa. Terkena satu pukulan saja, aku bisa muntah darah, Meredy. Satu-satunya jalan bagiku untuk menyelesaikan sebuah misi adalah menjaga agar tak ada yang bisa melukai tubuhku. Oleh karena itu, aku bertarung dengan memakai otakku."

"Tapi otakmu busuk, Kai."

"Ya, aku tahu."

Meredy bangun dan berdiri.

Sambil berjalan pergi meninggalkan Kai, Meredy berkata,

"Aku membencimu, Kai."

"Aku tahu," jawab Kai datar.






33 comments:

  1. hummm narasinya rada keburu-buru ^^

    gw suka openingnya yang rada ngagetin. i mean, menggagahi Tamon itu something banget. sayang sih, pas eksekusi tengah cerita, gw ngerasa sisi bad ass ini rada ilang.

    gw ngerasa bagian flashback agak ganggu soale kayaknya diletakkan di momen-momen penting. misalnya bagian pas Kai lari dari kamar Ruu yang diceritain di tengah2.

    dan itu... kenapa si Kai harus muter2 segala untuk sekedar nembak kepala Fata pake pluru adrenalin dari Meredy? kalo Meredy emang 'patuh' seharusnya dari awal aja dah bisa ditembakin. agak muter2 sih plotnya di bagian yang ini dan jujur bikin gw... umm... agak kecewa.

    dan kalo emang si Kai bisa path bending, kenapa ga dari awal aja bikin Tamon Rah nabrakin diri ke menara? apa ada informasi atau batasan dari Kai yang ga dijelasin di sini? misalnya kalo Kai ga bisa gerakin sesuatu yang punya will atau keinginan?

    well, tapi gw bisa bilang sih kalo porsi tiap karakter keknya bagus di sini. semua memiliki peran masing-masing jadi spotlightnya keliatan kebagi rata, walaupun manipulasinya IMO agak maksa >.<

    score: 7/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. euh lupa

      OC gw: KIi

      Delete
    2. Kai bisa aja langsung pathbend Rah di awal tapi Rah masih level biasa dan dia nggak lari cepet jadi tabrakannya bakal pelan. Yang diincar kan benturan dua kekuatan gede. Sorry Mas Ren kalo bagian ini, sama bagian Meredy nembak Fata rada berbelit, keknya emang kurang maksimal aku nulisnya.

      Meredy aslinya baik dan gak bakal mau disuruh-suruh ngerjain hal yang aneh kek nelantarin Zhaahir or tiba-tiba nembak Fata 5 kali dengan resiko kematian. Makanya Kai muter-muter.

      Yang flashback di tengah itu nggak mulus gara-gara ada bagian yang dipotong buat menuhin quota 10k >_<

      Amyway, makasih Mas Ren udah nyempetin baca :D

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. AAAAAAAA ADA MEREDYYYYYY

    Langsung aja mulai reviewnya tanpa basa-basi deh.

    Plot : Harusnya lebih panjang, tapi sayang harus kepotong karena jatah kuota 10K. Openingnya hotttt bener, nggak nyangka baru mulai udah langsung main perkosa Tamon Ruu >.<
    Kalo bisa lebih panjang lagi, pasti flashback waktu ngambil topeng Zhaahir bisa jadi mulus. Disini eksekusinya terkesan maksa, aku sendiri butuh waktu beberapa saat utk ngerti ini dibagian mana.

    Konsep arah dan tujuan yang diusung Kai bener2 keren banget. Lalu tujuan Kai yg ingin menembus Alforea dan menuju dimensi keempat itu bener2 mindblowing. Lalu juga sosok misterius yang nyelametin Zhaahir, apa makhluk dimensi keempat?
    [INTERSTELLAR INTENSIFIES]

    ===

    Karakter : Meredy jadi lebih kasar disini, dan bikin ngakak banget. Sumpah, ganggu bener itu orang hahahahaha. Pengen dinutis tapi ngejek segala, hahahahaha. Bahkan lebih parah dari Sjena kemaren, banyak banget kata2 umpatannya, hahahaha.
    Aku bahkan lebih suka Meredy versi ini ketimbang canonnya sendiri. Mungkin aku bakal masukin lebih banyak umpatan lagi ke canonku.
    Apalagi Meredy digambarkan sebagai I.M.D, istilah yang keren banget!!

    Kai sendiri juga karakternya kuat, manipulasinya asik banget. Dan nggak segan2 ngelakuin apapun utk mencapai tujuannya. Sementara di canonku, Meredy yg balik manipulasi Kai. Duo manipulator nih wkwkwkw.

    Utk Fata dan Zhaahir nggak terlalu digali sih, karena nggak terlalu banyak dapet spotlight. Tapi lumayan berkesan lho. Apalagi pas Fata denger suara2 senjata itu, keren banget. Dan rasanya emang iya, [Avarice] itu pasti cerewet, soalnya 3 in 1 sih.
    Rada kasian sama Fata yg terpaksa jadi slavenya Meredy wkwkwkw.
    Soal OOC nggaknya, aku belum baca canon mereka, jadi ga bisa banyak komen.

    ===

    Battle : Meredy jadi comic relief disini dengan celetuk2annya yg nggak tau tempat. Battle jadi nggak terlalu serius, tapi tetep seru.

    Overall battlenya ok sih, tapi bagian yang memorable itu waktu manipulasi double reacharound dari Kai->Meredy->Fata->Avarice->Rah utk bikin clash yg cukup besar utk melubangi Alforea.

    Kai dan Meredy sama2 punya tujuan jahat, satunya pengen ngancurin Alforea, satunya pengen nenggelamin Alforea. Dan sama2 bikin kehancuran skala kosmik di canon prelimnya masing2 (well, lag nggak sampe ngancurin, cuma bikin ganggu seisi Alforea aja)

    Andai nggak dibatasi 10K, pasti akan jauh lebih memuaskan utk baca entry ini. Terutama bagian Tamon Ruu #eh
    Flashback Kai kayaknya disimpen dulu ya utk ronde2 setelah ini >.<

    Dariku 10/10
    Aku pengen liat Kai dalam mengarahkan seisi Alforea utk mencapai tujuannya

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah, makasih~

      Saya baru sadar kalo di canonnya masing-masing Fata sama Meredy ini sama manipulatifnya dengan Kai. Tapi mereka berdua baik, nggak sebangsat Kai ini :'(

      Delete
  3. Po - Fatanir

    wew mantap ini. Yang paling kerasa adalah usaha Count Fu menyambungkan plot berdasarkan skill karakter. Fantasma Mulia Zhaahir dimakan oleh Tamon Rah, Adrenaline Shot Meredy dipake Kai buat ngeboost Fata, dua faktor ini digunakan untuk bikin bolongan (?) ruang waktu.

    Kesadaran dan kendali arah punya Kai, jadi pedang bermata dua jg utk tulisan. Di satu sisi jadi rentan plothole krn mestinya - kalau bahkan bisa memanipulasi Tamon Rah secara arah - mestinya sejak awal jg bisa ngubah arah semua monster atau semua serangan Tamon Rah hingga bikin Kai dkk aman dari awal, bahkan perwujudan skill ini adalah jalan pemecahan semua masalah yg dihadapi dalam hidup, alhasil menjadikan rasa struggle dan tantangan untuk Kai ini berkurang dgn lumayan jg.

    Tapi di sisi lain, Kai emang udah bisa nggunain kemampuan ini dgn piawai dan bisa manfaatin semua keunggulan rekan2nya dengan hebat bgt. Plotnya jg terjalin cukup rapi, paling penempatan flesbeknya yang bisa dibikin tajam lg.

    Ah begitu ada sosok abstrak nolongin Zhaahir dan ada pupil makhluk gargantuan langsung kebayang plot puter2 spacetimenya kerasa bgt. Narasi udah keren, paling di beberapa tempat kyk buru2 dikit. Overall Kai ini badass sangat, nilai dariku 8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ini sama Mas Ren pertanyaannya.. Jadi sebenernya Kai itu pathbendingnya ada cooldownnya.. Simplenya sih dia bisa make kekuatannya buat ngubah arah benda seberat 2,sekian gram per detik.. Makin berat makin lama cooldownnya.. Kalo dia ngubah benda benda seberat 10kg, dia gak bisa make pathbendingnya lagi 1 jam kedepan.. Ini ada penjelasannya pas Kai naik tank trus Fata tanya kenapa Kai gak ngubah arah meriamnya aja, tapi kepotong demi quota.. Maaf :(

      Delete
  4. Oke, ini panjang dan agak kerasa draggy saya bacanya. Saya juga agak tersendat saat bagian flashback, malah awalnya saya tidak sadar kalau itu flashback. Lalu siapa itu sosok abstrak yang menyelamatkan Zhaahir? Semoga saja bukan Deus Ex Machina...

    Tapi selain hal-hal di atas, penulisannya rapi, plotnya jelas dan masuk akal (terutama kalau mempertimbangkan stamina Kai). Dari sisi pertempuran juga skill masing-masing karakter, semuanya berhasil dinarasikan dengan jelas.

    Nilai 8

    Zoelkarnaen
    (OC: Caitlin Alsace)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maaf.. Itu pas Bab Alshain Kairos di awal ada perkosaan Tamon_Ruu_part2.mkv tapi kepotong T_T

      Setelah kupikir pikir ini ternyata titik krusial uang ngasih batas secara jelas antara present time sama flashback..

      As expected, I shouldn't cut this part :(

      Thanks udah nyempetin baca Omzul, semoga aku sempet baca Tante (?) Cat..

      Delete
    2. Uang ngasih batas.. Great job autocorrect -_-

      Delete
  5. Nih komen

    Plotnya bisa dibilang jelas, karena aku gak ada yang harus ditanyakan kok gini kok gitu setelah selese bacanya, semua terjawab n bisa aku terima. Kayak kenapa pake nyerang ratu waktu tidur, ternyata selain pengen tau tujuan undangan juga ngambil foto buat bikin perempuan sekeras itu mau jadi kelompoknya. Tapi yang emang masih disembunyiin kayak siapa yg nolongin pangeran topeng gak masuk hitungan kan yah??? Battlenya kerasa dramatisnya tapi gak lebay. Seru lah, walopun bikin si Iros keliatan bagus. Subcerita cinta pangeran topeng beneran dimanfaatin juga, jadinya ngasih emosi lebih ke ceritanya pas dia udah pasrah.

    Dialog sama pemilihan katanya ringan jadi gak berat bacanya dan gak bikin bosen, terus ada lucunya juga. Dari karakter, si Iros nyikapin semua kejadiannya pas dengan apa yang udah jadi tujuannya. Walopun sok bgt, sok santai dan super cocky tapi kerasa serius bgt kalo udah menyangkut tujuannya. Aku suka ngerasa aneh kalo tujuan seseorang digambarin berat bgt dan harus berhasil tapi sikapnya gak pas yang aku jadi ngerasanya dia main2 gitu kayak gak ada kemauan buat mencapai tujuan itu. Yah walo dia nyebelin dan jahat tapi si Iros gak kyk gitu. Karakter lainnya juga pas sih buat ceritanya gak kerasa kalo emang syarat doang harus berkelompok empat orang, kayak emang ceritanya udah kayak gitu dari awal aja.

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh aku nilai juga gak? kalo iya 9 deh

      Delete
    2. Iros itu siapa ya °_°

      Anyway, thanks udah baca dan bisa ngehibur ya Jess..

      Eww nilainya 9 nilai macam apa itu nanggung banget..

      Delete
    3. kaIROS
      aku harus perang batin dulu komennya. soalnya harus jujur sih...
      males bgt kan harus jujur nyebutin sesuatu yang bagus atau baik soal kakak...
      eewww

      Delete
    4. Kasian, batinmu pasti selalu berada di medan perang soalnya aku selalu baik setiap harinya..

      Delete
    5. ssst diem deh aku mau baca yg lain dulu

      Delete
  6. Kai ini ternyata tipe OC brengsek juga ya, dan beneran kerasa paling brengsek si dari OC-OC yang uda kubaca prelimnya sejauh ini. Mana dia ngeparty ma OC-OC brengsek lainnya pulak (kcwali Zhaahir dy tyda brengsek kaka :^) ) Jurusnya apa pula itu jadi bisa dibilang Kai ni pasti sukses ya asal ngikutin arah yang uda ada. Heuheuheu.

    Tapi di luar kebrengsekan yang membuat naik pitam itu, cerita prelimnya sendiri aku bilang seru sih. Interaksi antar karakternya juga manteb, bikin makin terkulik sisi brengsek anggota-anggota partynya. Dan bahkan ada juga bagian kissu-kissu. Da adegan kai jadi yaoi pulak. >///<

    Btw terharu aku Zhaahir digambarkan apik begini T_T

    Nilai : 10

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Zhaahir paling brengsek Mbak di sini.. Paling brengsek gentengnya..

      Aku juga kaget itu Kai harusnya ngamuk malah kesengsem what the hell, Kai?

      Delete
    2. Baca komen ini, mungkin kita perlu bikin liga oc" brengsek ya

      Delete
    3. Kai sama Fata pemimpinnya.. Kai baru nongol udah ngeraep panitia..

      Fata di entrynya masukin senapan ke selangkangan cewek tak berdosa dan ngancem mau ditembak.. Cowok macam apa itu, huh..

      *lagi baca entry Dyna*

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Ooh, jadi ini adegan awal infamous itu.. Ternyata ga sampe berujung H-scene ya. Tapi tetep aja, baru sekarang ada peserta yang udah make a move ke panitia utama dari awal. Skip berapa stage ini buat make cheat langsung ketemu boss terakhir? #plak

    Scene introduksinya asik, antara Fata-Meredy sama Zhaahir. Ooh Zhaahir, betapa pesonamu mengalihkan dunia www

    Banter Meredy-Kai juga kerasa natural, saya cuma nyayangin mereka kepisah sama dua lainnya sepanjang pertarungan, jadi selain dua karakter itu ada dinamika yang ilang rasanya (meski Fata sama Zhaahir tetep dapet sebgain part yang ngejelasin situasi mereka)

    Liat aplikasi kemampuan Kai saya jadi inget catchphrase Keima dari TWGOK : "I can see the ending." Bakal susah juga ya lawan OC kayak gini. Saya punya satu OC yang skillnya [Casino Crusher], secara sederhana intinya dia ga akan bisa 'kalah' dalam apapun yang bentuknya permainan atau kompetisi, dan ngeliat Kai ini rasanya jadi ngingetin saya sama OC itu karena udah tau akhirannya gimana kalau dia udah mulai gerak

    Secara overall ini bagus, penuh intrik dan trik, plotnya juga kesusun rapi dan ga ada gitu kendala teknis, jadi impresi saya positif sih. Tapi, entah kenapa ada perasaan Kai ini manipulatifnya agak pretentious, bukan tipe yang cool mastermind, tapi seolah dibikin penulis buat mesti jelasin kenapa dia begini-begitu ke pembaca, jadi malah berkesan blabbermouth

    Dan satu lagi, sosok abstrak yang nyelamatin Zhaahir. Ga ada foreshadow ataupun followup tentang kiranya dia ini siapa, jadi rasanya sesuatu yang irelevan dan sekedar lewat doang

    Dari saya 8. Deadliner buffer -1, jadi nilai akhir dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ada dua part itu raep scenenya, Masam.. Part 2 ada adegan Kai melorotin celana dalam Ruu (kepotong demi quota)..

      Sorry sosok abstraknya numpang lewat aja, ini emang bagian dari cerita utama Kai di BoR jadi somehow ngerasa kek kudu munculin di awal..

      Yang terkesan blabbering itu impresi secara keseluruhan atau cuman ada di beberapa bagian aja, Masam?

      Delete
    2. Secara keseluruhan. Oc saya di BoR ketiga tipe mastermind juga, tapi dia ga se'terbuka' ini soal apa yang dia rencanain ke kawan atau lawannya, jadi penjelasannya lebih di narasi dan bukan dia jelasin sendiri

      Delete
    3. Oh, ok.. Aku gak mikirin ini waktu nulis.. Kalo mo ngasih pembelaan, mungkin Kai ngerasa dia bisa ngeliat "jalan" buat mencapai tujuannya jadi dia gak terlalu kuatir kalo kudu jelasin tujuannya apa ke orang lain..

      Thanks komennya Masam.. Semoga sempet lanjut baca Dyna, kmaren baca belom beres..

      Delete
  9. Sip banget ceritanya oke.. awalnya udah dibikin plot random dan alur acak jadi pembaca dibawa bingung2 dulu sebelum ceritanya disusun rapi satu persatu.. plus karena ini cerita Kai, jadi bagian-bagian puzzlenya pelan-pelan dijelasin sesuai karakter dan kekuatan OC lain, dengan Kai sebagai poros.. keren aja bisa eksplor semua motif karakter lain dengan kekuatannya untuk nge-set up cerita yang bagus kek gini.. aku suka :D

    cuman di beberapa bagian ada kesan terburu-burunya, Fu.. jadi kalo orang yang ga ngikutin keterangan dan info soal OC lain yang ada dalam cerita ini, bisa potensi bingung juga keknya..

    terus soal konsep path-bending nya Kai yang dijelaskan detil, emang sifat Kai yang sengaja dibikin seterbuka itu kah atau emang 'dibuka' untuk keperluan cerita?
    dan lagi, kalo path-bending berarti bisa melihat jalan menuju kesuksesan tanpa gagal, dong? wkwkwk

    Overall keren! Gaya cerita tulisan ini emang kamu banget, Fu

    9 dari 10 dariku

    - The Genius Fa(r)t

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wew Kai jadi beneran terkesan terlalu blabbermouth ya wkwkwk. Aku juga bingung soalnya konsep arah dan jalan ini rada ribet penjelasannya. Ini aja masih banyak yang belom kujelasin. Semoga kalo lolos bisa ngejelasin dengan lebih mulus lagi.

      Ada batasan kata 10k juga sih, jadi kudu ngecut beberapa adegan, plus mepet deadline jadinya gak sempet ngalusin perpindahan kalimat abis di cut. Makanya terkesan buru-buru. 100% kesalahanku ini.

      Thanks yak udah sempetin baca.

      Btw, Fata udah baca entry Sir Po tentang Fata (?)

      Delete
  10. NOOO!! Sebagai anggota Worshipper of Tamon-Ruu, saya gak suka dengan adegan awalnya, kenapa gak dilanjutin? #plak!

    Ho, jadi kemampuan Kai itu membelokkan arah ya, ng, jangan-jangan Kai yang membelokkan panah Kolonel B. Bryan?! O_o
    Bentar... Kalo stamina Kai itu payah, gimana dia bisa ngeladenin Tamon Ruu selama berjam-jam? (Oi oi, mikir kemana?)

    Fata bisa membaca pedang juga? O_o

    Dialog Kai & Meredy soal gender kocak banget XD
    Di sini Fata sama kocaknya.

    Ini berat, ceritanya berat, tentang ruang & waktu, lubang dimensi dan ada siapa si mata emas yang ngintip?

    Nilai 10

    dLanjung (Asep Codet)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kai cuman belokin arah panah aja bukan belokin mobil Kol. B. B. Den, I swear!

      Stamina ranjang itu sumber kekuatannya ada di tempat yang berbeda dong *kedip2*

      Ugh tapi Asep juga berat bahasannya percabangan waktu, ngerubah sejarah dsb gitu.

      Thanks, Den udah nyempetin baca :)

      Delete
  11. Mas, saya pengen ngumpat mas bacanya.

    Interaksi antar karakternya dapet banget, pas dan gak bertele-tele. Keren, ga dipaksain dan natural banget. Pas Kai mau ngraep Tamon Ruu juga demen gara2 jerkass-nya kentara banget. Interaksi Meredy sama Fata yg asik menarik, kemunculan Zhaahir dan Eri yang superb walau agak vulgar, sama cameo2 yang digarap dengan apik, gak banyak2 penjelasan ini siapa itu siapa. Ga perlu banyak deskripsi buat jelasin itu loh ada Bu Mawar, ini loh ada Asep Codet. Bener2 pembawaan yang jenius.

    Liciknya Kai juga dapet banget, jerkass bangsat yg loveable. Pembawaan ketampanan Zhaahir juga begitu indah, sampe2 Kai ikut jatuh cinta.

    Makin ke tengah makin keliatan ini keping-kepingan puzzle-nya. Piece by piece, yg awalnya dikira ga nyambung ternyata nyambung banget. Bisa gitu mecah informasi sepotong-sepotong, baik dalam flashback, dialog, maupun interaksi antar karakter di dalam cerita.

    Pas baca endingnya, kukira bakal antiklimaks gara2 hancurnya menara gitu doang, tapi ternyata bisa ditutupin sama problem lain yang begitu masiv sampe2 aku ga peduli sama Tamon Rah. Ruang empat dimensi dan dimensi tanpa ruang, membuatku melupakan bahwa sebenarnya Tamon Rah itu seharusnya terrifying.

    Dude, kuda besar itu kau bikin cuma kayak pion dalam sebuah rencana besar. Tamon Rah yg supposedly penuh teror, ternyata hanya bagian dari sebuah plot yang jauh lebih agung. Luar biasa!

    Aku hanya penasaran sosok abstrak yang bawa Zhaahir siapa ya? Semoga ketahuan di R1 deh :D

    10/10, ga ada kritik dari aku. Cuma kesel aja Tamon Rah yg kayak gitu susahnya aku mampusinnya, dibikin cuma kayak gitu.

    ~JFudo
    ~Lo Dmun Faylim


    ReplyDelete
    Replies
    1. Wogh thanks dapet 10 ehehee.

      Iya itu bakal dijelasin sosok abstraknya tapi nggak tau kapan. Tunggu momen tepat aja, kalo R1 tantangannya pas ya bakal kejawab di R1 (kalo lolos).

      Soal dimensi-dimensi ini emang cerita utama Kai di BoR ini sih, jadi berusaha segera nongolin dari awal daripada malah gak sempet keburuh kalah aja wkwkwk.

      Delete