16.5.15

[PRELIMINARY] PITTA N. JUNIOR - THE SPIRIT OF LOVE

PITTA N. JUNIOR - THE SPIRIT OF LOVE
Penulis: Dhiko Super





Prolog

Apakah kalian pernah merasakan Pizza yang memberikan rasa hangat dan bahagia?

Saat memakannya seakan dikelilingi oleh kekuatan semangat dan cinta? Pizza yang bahkan katanya mampu menyembuhkan hati yang terluka dan merekatkan jiwa yang retak karena kesepian? Kalau kalian berada di Kota Ambrossia, pasti kalian tau soal pizza ini.

Pizza dengan adonan roti yang lembut berbentuk cinta, pinggirannya tidak terlalu garing namun memberikan nuansa renyah yang berbeda dibanding pizza pada umumnya. Warna nya tidak tampak kecoklatan melainkan putih keemasan, seperti dibasuh telur tipis legendaris yang lembut.

Itu masih rotinya, belum saus bolognaise yang menjadi pelapis awal rasa di pizza ini. Wanginya menggoda. Lalu, jika sudah masuk ke mulut, akan terasa pedas! Tapi tak menyakiti. Melainkan rasa pedasnya segar, membuat lidah bergoyang. Dipadu dengan topping—topping terserah selera pelanggan, yang melimpah, yang direkat dengan lelehan keju Mozarella kualitas terbaik.


Bayangkan, saat kalian mengangkat satu slice dari pizza itu, lelehan kejunya tertarik sangat panjang, tidakkah kalian lapar?

Jika memakan Pizza ini, bukan hanya perut yang terpuaskan, bahkan hidup kalian akan menjadi bersemangat!

©©©

Panalove ini hanya dibuat oleh satu orang dan hanya dia yang diberkahi kemampuan oleh dewa masakan setelah perjuangannya melewati semua ujian memasak di kota Ambrossia.

Pizza berbentuk cinta, penuh cinta untuk berbagi cinta. Itulah pesan yang ingin disampaikan Pemuda yang bernama Pitta N. Junior ini, si pria gendut yang selalu semangat dan ceria, juga sangat menghargai yang namanya Keluarga dan cinta! Orang menyebutnya Fapi, The Fat Pizza Delivery Boy.

Cerita kali ini bukanlah tentang perjuangan Fapi di Kota makanan, tempat kelahirannya. Melainkan sebuah cerita petualangan baru dalam hidupnya! Petualangan dimana Fapi tak pernah menyangka harus mengerahkan seluruh kemampuan dan semangatnya untuk menyebarkan cinta dalam ujian pertarungan besar seluruh jagat, di sebuah turnamen bernama...BATTLE OF REALMS!


©©
1st Slice
I am not a Fighter, I am Fapi!

Ambrossia City

Pria gendut berkaos putih itu buru-buru mengenakan jaket yang warnanya selaras dengan celana panjangnya, oranye strip merah. Mengalungkan handuk putih bersih di lehernya. Lalu mengambil topi dari gantungan dinding, memakainya dengan cap mengarah ke belakang.

Dia mengecek jam digitalnya, memastikannya berfungsi dengan baik. Memeriksa isi tas nya. Lengkap.

"Sekarang, cek ponsel...hm..." gumamnya sambil merogoh kantong mencari-cari ponsel pintarnya.

"Buru-buru sekali Junior."

Ayahnya, Pitta Navolee adalah keturunan ketiga dari keluarga Navolee, bertubuh tinggi besar, hidung mancung, pria itali yang kekar. Ya, nama Pitta diambil dari nama ayahnya ini, ditambah dengan anak junior—walau dia anak keempat, bukan anak pertama.

"Eit, bukan buru-buru loh Papa. Tapi semangat! Cinta itu harus semangat dan menggebu! Hari ini aku juga harus membagikan semangat cinta penuh ceria!" ucapnya penuh tenaga sambil terus merogoh kantongnya.

Ayahnya hanya tertawa mendengar hal itu. Tak menyangka, anaknya yang dulu bahkan tidak tertarik dengan dunia masak-memasak—hanya pedui soal makan,  sekarang berusaha keras membagikan idealisme hidupnya dalam bentuk pizza terbaik.

Ibunya yang tadi di dapur juga ikut nimbrung, "Betul Pa, Bagaimanapun cinta yang penuh semangat dan keceriaan akan selalu memberikan kebaikan dan memanggil keberuntungan." Sambil mengecup pipi sang papa.

"...dan Junior, selalu ingat. Layaknya keluarga, Pizza itu penuh kehangatan. La-"

"Layaknya Cinta, Pizza itu penuh semangat!"

Ibu dan anak itu tersenyum lalu berpelukan. Prinsip Pizza keluarga Navolee adalah yang terbaik. Walaupun pernah hilang karena konflik yang terjadi semasa Junior masih kecil, prinsip ini kembali ke dalam keluarga Navolee dan membawa suasana kembali ceria.

"Love you Mom."

"Love You too Junior." Satu kecupan kecil mendarat di dahi Pitta Junior.

Entah kenapa, hari ini pelukan sang ibu terasa lebih erat, dan seperti berat untuk melepas anaknya keluar.

"Mama." Panggilnya sambil menepuk bahu ibunya. "Aku harus berangkat. Banyak cinta yang harus dibagikan hari ini."
"Ah, oh..ya.." sambil menahan rasa gelisah, Ibunya melepas pelukan dan mengeluarkan senyum paling indah miliknya.

"Sampai nanti malam!"

"Ya, hati-hati nak!" serempak kedua orang tuanya membalas ucapan sang anak yang sudah keluar melalui pintu rumah.

Keduanya hanya mampu berdoa untuk menghilangkan kegelisahan mereka pagi ini.

©©©

Suara berdenting tanda email masuk ke ponselnya. Fapi mengeluarkan ponsel dan membuka email tersebut.

Pesanan pertama hari ini! Pikirnya.

Tapi, alih-alih sebuah pesan dengan isi pesanan pizza seperti biasa, isinya sangat-sangat berbeda.

| PESANAN KHUSUS- ALFOREA                                                                       |
|                                                                                                                                   |
| dari: Penguasa Alforea- Tamon Ruu yang cantik badai                                |
| cc: Hewanurma- Pelaksana dan penanggung Jawab Utama BOR V         |
| tanggal xx bulan xx tahun xxxx                                                                          |
|                                                                                                                                   |
| Ini adalah undangan-tantangan untuk anda,                                                  |
| Bisakah anda membuatkan pizza terbaik yang anda miliki untuk               |
| penguasa Alforea?                                                                                                            |
|                                                                                                                                   |
| {Yes}  {No}                                                                                                               |

Apakah ini maksudnya ada yang mau pesan pizza? Tapi kenapa formatnya aneh begini? Fapi tak paham dengan hal rumit begini. Alforea? Dimana?

Tapi, selama itu soal pizza, dan dia mengatakan soal mengantarkan pizza terbaik. Tentunya yang Fapi paham hanyalah Pizza keluarga Navolee, juga pizza buatan khusus dari dia sendiri, Panalove!

"Jika memang itu yang orang ini inginkan, aku akan buatkan!" tekadnya.

Tapi...alforea dimana ya? Dia baca sekali lagi isi pesannya, dan baru menyadari adanya pilihan (yes) dan (no) di situ. Oh, apakah aku harus mengklik ini?

(yes) adalah pilihannya. Itu artinya dia sudah menentukan sendiri jalan takdir bagi dirinya. Dia menyetujui untuk berpartisipasi dalam sebuah turnamen bertarung bernama BOR V. Setidaknya itulah yang tertulis di balasan emailnya saat dia menekan (yes)  tadi.

| PORTAL TERBUKA......                            |
| PORTAL MENGIRIM PESERTA..........   |

Tiba-tiba seberkas cahaya biru membentuk lingkaran di atas kepala dan bawah kaki Fapi.

"A-apa ini?!"

Takkan ada yang menjawab keterkejutan Fapi. Karena yang dia tau berikutnya dia sudah berpindah tempat dalam sekejap, menuju dunia Fantasi yang takkan pernah disangkanya ada.

©©©

ALFOREA
Central square- Kastil Despera

Sekarang kita berada di sebuah taman kastil. Di luar dari tempat ini, adalah Alforea. Bayangkan saja sebuah kota besar, gabungan kompleksitas antara dunia fantasi yang penuh dengan peri, juga makhluk imut kecil lainnya bercampur dengan teknologi-teknologi tinggi yang bentuknya sudah bukan seperti benda digital biasa, tapi seperti sebuah pemandangan indah.

Gunung, langit cerah, awan berombak, pepohonan hijau, bunga berwarna-warni. Silahkan sebutkan pemandangan paling indah yang kamu ketahui. Semua, lengkap di sini.

Baik, cukup deskripsi tempatnya, sekarang kita beralih ke arah sosok wanita cantik di atas balkon kastil.

Wanita itu mengarahkan tangan ke atas dan mengeluarkan semacam bola cahaya kecil yang kemudian dia lemparkan ke arah taman kastil.

"Atas nama Tamon Ruu, kupersilahkan kalian untuk memasuki dunia ini!" Tegas wanita itu.

Bola cahaya itu kemudian berubah menjadi portal cahaya kecil yang berfungsi layaknya pintu antar dimensi.

Satu persatu, banyak sosok yang keluar dari portal. Ada anak kecil, ada orang dewasa, kotak, manusia berbagai macam ras, bahkan makhluk aneh yang memiliki bentuk seperti manusia –tapi bukan manusia.

Fapi juga salah satu dari mereka yang keluar melalui portal.

Yang pertama kali dia saksikan adalah keindahan tempat yang layaknya kastil istana itu. Rasa takjub tak lepas sedikitpun dari penglihatannya. Lalu, suara riuh dari sekelilingnya membuat dia tersadar.

"Ini dimana?"

"Selamat datang di Aflorea, wahai para petualang!" Wanita di atas balkon itu berbicara, menyambut para entitas yang hadir di taman istana.

Suaranya terdengar begitu lembut dan merdu, membuat mereka yang tadinya bingung dan bertanya-tanya langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara tersebut. Tak ada yang sadar wanita itu salah menyebutkan nama kotanya sendiri. Fapi juga.

Wanita itu berperawakan hampir sempurna. Rambut panjang, pakaian yang seakan tidak mampu menampung kelebihan yang ada pada tubuhnya, parasnya apalagi, mengimbangi suara lembut dan tingkah elegannya. Sepertinya dia adalah pimpinan di sini. Tamon Ruu adalah namanya, dia adalah Yang Mulia ratu Alforea. Tuan Rumah Battle of Realms kali ini.

Berikutnya yang terjadi adalah wanita itu berdebat dengan orang di sebelahnya, seorang pria dengan rambut dan janggut panjang berwarna putih. Memakai kaus hitam dan menggunakan jubah lab putih panjang. Sepertinya asistennya.

Pria dan wanita itu saling bergantian mengumumkan sesuatu.

"Kalian di sini datang karena sudah menerima undangan. Kalian meneyetuui untuk menjadi peserta turnamen bertarung, BATTLE OF REALMS!" Ujar pria janggut putih itu. Namanya adalah Hewanurma.

Keadaan menjadi ricuh.

Fapi bingung, dan itu membuatnya tak bisa berpikir keras. "Aku bukan petarung, aku hanya seorang pengantar pizza!" ujarnya lirih.

"Kalau kami menang di sini, kami dapat apa?" salah seorang peserta bertanya.

"Pemenangnya...akan mendapatkan apapun yang dia inginkan!" sahut Tamon Ruu

Fapi tak mendengar itu, karena pikirannya sudah kalut.

"Kalau aku mau cintamu boleh nggak mba?" Tanya seorang peserta berambut ungu dan mengenakan jas putih.

CINTA?! Fapi langsung merespon dalam hati begitu mendengar hal tersebut. Ada yang menyatakan cinta!

"Gak!" Jawab wanita itu ketus.

Kejam! Aku tahu rasanya ditolak, tapi tidak secepat itu. Gumamnya

Akhirnya fokusnya kembali karena mendengar pernyataan cinta tersebut. Dia ingat bahwa dia kesini karena ingin membuat dan mengantarkan pizza terbaik yang dia miliki.

Wanita itu mungkin tahu siapa yang memesannya, atau malah mungkin dia yang memesannya. Fapi merasa harus bertanya pada wanita itu. Tapi sepertinya tidak ada kesempatan untuk hal itu sekarang.

"Walaupun begitu, sayangnya kami tidak bisa menerima kalian semua yang ada di sini untuk mengikuti turnamen, karena jumlah kalian terlalu banyak," pria berjanggut putih kembali menjelaskan.

"Karena itulah, kami akan mengadakan babak penyisihan untuk memilih para peserta terbaik yang akan berlaga dalam turnamen Battle of Realms! Berikut ini adalah penjelasan tentang babak penyisihan, jadi dengarkan baik-baik!"
Semuanya hening.

"Dari seratus satu orang hanya ada empat puluh delapan peserta terbaik yang akan terpilih untuk mengikuti turnamen yang sesungguhnya."

Lalu dia menjelaskan soal para peserta harus membentuk tim minimal dua orang dan maksimal empat orang. Untuk dikirim ke area tertentu sebagai babak penyisihan.

Banyak maid yang sudah bersiap di masing-masing portal menuju arena pertarungan. Sepertinya banyak petugas wanita—atau bahkan semua petugas di sini adalah wanita berkostum maid.

 "Dengan ini, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!" Sahut Pria itu penuh semangat.

Semuanya menjadi panik dan berusaha mencari tim. Tapi tidak untuk Fapi. Dia masih fokus pada pizza pesanan yang harus diberikan pada orang yang mengirim email tadi. Untuk itu, dia harus mempersiapkan semuanya.


©©
2nd Slice
I need Preparation

Alkima Lounge

Walaupun dia tidak punya kepala, dia masih bisa hidup karena tubuhnya sudah berubah setelah dia mati, menjadi setengah manusia setengah pohon. Dari dada ke atas, Ananda merupakan pohon berwarna merah yang bercabang banyak. Sedangkan bagian kakinya berwarna putih pucat.

Cabang-cabangnya makin ke ujung makin merah, dan di ranting paling kecil pun 'cabang pohon' itu menjadi mirip serabut-serabut pembuluh darah. Pohon darah Ananda berdaun pada awalnya, namun sekarang sudah kerontang.

Akar pohon menyatu langsung dengan kulit normal Ananda, melingkupi tengkuk, selangka, dan berakhir di dada. Selain bahwa payudaranya hilang berkat akar pohon, Ananda sama seperti wanita sehat pada umumnya.

Ananda menyetujui datang ke Alforea karena di undangannya, dia ditanya apakah mau hidup dan menjadi manusia kembali. Tak menyangka, di sini dia malah harus menghadapi pertarungan.

Dia hanya bisa berdiam diri di lounge ini sekarang. Selagi peserta lain membentuk tim kuat dengan memilih orang-orang hebat yang kuat. Ananda seperti diacuhkan. Tak ada yang berpikir kalau dia adalah salah satu peserta. Melirik padanya pun tidak.

Hai bang~
Aku mau gabung dengan abang dong~

Dicuekin sekali.

Hai mbak...
Aku boleh gabung gak?

Dicuekin dua kali.

Hanya itu satu-satunya cara buat dia berkomunikasi. Dia berbicara dengan subtitle. Ntah muncul dari mana subtitle itu di bagian kepala pohonnya. Hanya seperti 'pop' begitu saja. Membentuk pola kalimat. Tak ada suara.

Dia harus bergabung dengan tim, minimal ada satu orang yang mau bersama dengan dia, maka mereka bisa segera berangkat ke arena penyisihan.

Heyyyy
Tak adakah yang mau mengajakku bergabung?

Mulai putus asa...
Tak ada yang mau mengajakmu Ananda. Tak ada.

©©©

"Hm...banyak petarung kuat di sini, sayangnya semua fokus pada penyisihan. Berarti aku harus menyelesaikan penyisihan baru ada kemungkinan melawan orang-orang ini ya? Aku sudah tak sabar."

Dingin, pendiam, dan serius, berharga diri tinggi dan selalu tertantang untuk menjatuhkan lawan dalam pertarungan satu lawan satu.

Rin Komori adalah nama aslinya, tapi sekarang ini, dia selalu memakai nama panggungnya, Lady Steele. Ya, sekuat baja. Di dunianya tak ada yang mampu mengalahkannya di atas ring.

Bahkan sekarang pun, tubuh jangkung atletisnya dibalut pakaian kulit licin ketat hitam,  kecuali lengan, kaki, dan leher ke atas. Benar-benar kostum ala pegulat. Ditambah lagi, dia mengenakan topeng putih yang menampakkan ekspresi datar, dengan coretan hitam di bawah masing-masing mata.

Kehidupannya hanya berputar seputar gulat dan gulat. Bahkan dia meninggalkan keluarga, cinta atau hal-hal yang menurut orang awam sebagai hal pembawa kebahagiaan dan kesuksesan.

Yang dia inginkan hanyalah, perasaan membara saat bertahan dalam menghadapi lawan. Lalu menang setelah mengerahkan seluruh kekuatan.

Battle Of realms memberikan kesempatan itu di tengah kegalauannya atas hal bernama 'pensiun dari dunia gulat'. Dia tanpa pikir panjang memilih untuk ikut BOR V ini untuk menemukan lawan yang lebih kuat.

Tadi ada satu orang yang mengajaknya membuat tim berdua saja. Tapi...

"Kang, kang asep gabung sama kita dong. Kami belum ada penyerang nih."

Mendengar itu asep jadi tidak enak hati dengan Lady Steele, tapi tak bisa menolak ajakan gadis kecil tadi. Sebagai preman baik hati, dia harus membantu orang lemah.

Sekarang, Lady Steele, hanya duduk bengong di lounge Alkima. Tak menyadari kehadiran wanita pohon di sebelahnya yang sedari tadi memanggilnya dengan subtitle.

Hey,
Nona kekar
Jadi tim yuk!

Lady Steele masih melamun. Membayangkan dia bertarung dengan para orang kuat di sini.
©©©

Rambut hitam pendek poni belah tengah, pakai kacamata tebal. Badan kurus tak atletis, semakin menegaskan bahwa dia bukanlah anak baru masuk usia remaja yang tak bisa apa-apa yang selalu berkutat dengan gadgetnya.

Selalu mengenakan hoodie putih, celana panjang dan sepatu kets biru dongker.

"Bahkan di sini hanya ada banyak kumpulan orang-orang dewasa bodoh."

Ada beberapa sosok yang menarik buat dirinya, tapi karena memang sifatnya yang tengik, Yudha hanya menganggap makhluk lainnya adalah kumpulan orang-orang bodoh yang tak pantas sekelompok dengannya.

Dia hanya menilai orang dari seberapa bergunanya orang tersebut bagi dia. Dia benci dengan orang otak otot. Bahkan ibunya yang disebut jenius dalam dunia robotik, dianggapnya membosankan. Hanya gadgetnya yang terus dia mainkan. Apalagi, hanya gadget itu sumber kekuatannya selain kemampuannya dalam bela diri.

Di dunianya, tak ada lagi hal yang dapat mengusir kebosanannya, tapi lama-lama dia menjadi malas. Hidup menjadi tidak ada maknanya lagi. Namun, begitu mendapat undangan dari BOR V, dia langsung memilih (yes) dan menganggap ini adalah permainan baru untuknya.

Masalahnya adalah orang-orang yang menarik buatnya, sudah diambil oleh orang-orang tak berguna lainnya. Selagi yang lain sudah membentuk tim dan pergi ke arena pertarungan, dia malah harus melihat pemandangan aneh di depannya.

Sebuah pohon...atau manusia...atau pohon. Dari tadi mengeluarkan sebentuk kalimat kepada seorang jenis wanita yang paling dibencinya—otot dan otot, yang pasti sama sekali tidak cerdas.

Pohon itu mengeluarkan kalimat ajakan, tapi tidak digubris oleh wanita bertopeng di depannya. Yudha merasa harus buang muka secepatnya, dimana akhirnya dia menyadari...tak ada peserta lagi selain mereka bertiga di lounge itu.

Yudha berkeringat dingin memikirkan kemungkinan yang tersisa: membentuk tim bersama dengan wanita bertopeng dan manusia setengah pohon tadi.

Bagaimana caranya bisa lolos penyisihan kalau gabung dengan merekaaaa?! Teriakan putus asanya dalam hati sangat menyayat hati. Jika bisa didengar.

Tabahlah Yudha. Nasib bocah dengan sifat stingy biasanya memang begitu. Tambah satu lagi, sebentar lagi seorang pria gendut bakal masuk, dan dia peserta terakhir yang belum ada tim, dan di otaknya Cuma ada cinta dan Pizza. Silahkan panik.

©©©

"Mbak, aku beli bahan-bahan ini dong." Fapi menyodorkan list belanjaan ke salah satu maid yang ada di bagian perlengkapan, mana tau dia dapat bahan yang lumayan unik di alforea ini. "Bayarnya...gimana ya mbak?"

"Gratis! Promo, buat peserta BOR V ini." Sambil menyerahkan semua barang pesanan Fapi dan mengacungkan jempol tepat di depan muka Fapi.

"Rrr.eh..gitu ya?" Fapi memasukkan barang-barang itu ke tas.

"Eh mbak, di sini pakai bahasa apa sih, kok kita bisa saling paham?"

"Ini alforea mas, semuanya sudah langsung diterjemahkan ke bahasa masing-masing di otak. Jadi ga capek deh bikin percakapannya." Jelas si Mbak-mbak maid tadi.

"Oh gitu ya, asik ya, ga repot."

Maid itu hanya membalas dengan senyum.

Fapi beralih ke meja yang besar di tengah ruangan dan langsung mengeluarkan dan fokus pada semua bahan yang ada. Selama 2 menit! Semua energinya dia fokuskan untuk membuat pizza terbaik demi pemesan misteriusnya di Alforea ini—ya, kita sih sudah tahu. Tapi Fapi sama sekali masih tidak paham siapa yang memberikan undangannya.

Lalu setelahnya dia mulai mengadon seluruh bahan itu menjadi adonan lengkap. Membaginya menjadi beberapa bagian, membentuknya menjadi bulat besar, ada juga yang berbentuk persegi panjang beberapa potong, lalu ada yang bentuknya lucu, seperti bentuk cinta.

"Hey, bocah gendut!" Lady Steele teralih perhatiannya melihat aktivitas Fapi.

Fapi tidak menyahut. Lady Steele mendekatinya dan menepuk bahunya.

"Hey, kamu bikin apa?"

Fapi yang tersadar hanya melirik sedikit dan kembali fokus ke pizzanya, "Ah, anu, ini  tante-" Lady Steele terkesiap mendengar panggilan itu, tak senang, tapi dia tetap menjaga emosinya, "panggil aku Lady Steele."

"Ah iya, Lady Steele, aku..sedang membuat Pizza."

"Kau, membuat pizza? Di sini? Kau bukan petarung?"

"Bukan, aku pembuat pizza."

"Bagaimana caranya kau bertahan nanti?"

"hm...aku bisa bertahan dengan piz-WHOA!"

Fapi terkejut saat menolehkan wajahnya, dia melihat makhluk aneh dibelakang Lady Steele. Sosok itu mengeluarkan semacam kalimat.

HEY
DISINI TINGGAL KITA BEREMPAT
AYO JADI TIM
KALAU TIDAK
KITA TIDAK LOLOS
BABAK PENYISIHAN

Ananda benar-benar palak melihat dari tadi dicuekin terus menerus. Akhirnya dia mengeluarkan subtitle yang besar sekali supaya bisa terbaca.

"Makhluk apa kau ini?"

Tak penting.
Ayo, mau jadi tim kan?
Kita berangkat sekarang.

Fapi dan Lady Steele saling menoleh.

"Iya sih." Fapi merapikan semua adonan yang sudah di-bake dengan kemampuan khususnya, Sisanya tinggal menunggu diberi topping dahulu. Semuanya, masuk ke dalam tas ajaib miliknya.

"Oke deh" Lady Steele pun menimpali.

Kau
Anak kecil
Ikut kan? kami bertiga sudah setuju
Kalau kau tak ikut
Tak ada tim buatmu

CIH, sekarang aku harus benar-benar berkelompok dengan makhluk-makhluk ini. Sial sekali aku. Kalimat itu hanya berakhir di ujung hati Yudha.

"Terserah, aku ikut saja. Ntah apa yang bisa kalian lakukan, kurasa kemampuan yang bisa dipakai bertarung dengan baik hanya punyaku."

Fapi, Lady Steele dan Ananda hanya terdiam mendengar omongan anak kecil ini, nyelekit.

Mereka berkenalan satu sama lain, bertukar informasi soal kemampuan mereka sebelum berangkat dan mempersiapkan yang diperlukan, terutama mental.
Pergerakan berikutnya, mereka melapor ke maid penjaga portal, lalu diantar menuju arena pertarungan. Maka TIM beranggotakan obsesi dan ambisi tak jelas ini pun siap berpetualang.

©©
3rd Slice
LET'S PARTY!


Saat mereka keluar dari portal, yang menyambut mereka hanyalah hamparan berwarna coklat gersang. Gurun pasir penuh tebing berbatu dan waktu dunia pun sudah berubah menjadi malam hari. Angin dingin berhembus dalam ritme yang berubah-ubah, seakan membawa bau kematian yang sengit.

Maid yang mengantar mereka hanya mengeluarkan satu tablet penampil hologram, menampilkan kondisi melalui peta holografis dan membeberkan misi mereka:

|                   -Misi Utama-                  |
|              Bantu prajurit Alforea.      |
|                 Bertahan Hidup             |

"Itu saja?" kejut mereka berempat.

Maid itu mengangguk, dan langsung menghilang kembali ke dalam portal.

Sekarang mereka sendiri di tengah padang gurun. Angin berhembus lagi, kali ini membawa berita. Suara riuh rendah peperangan ternyata tidak jauh dari tempat mereka tiba.

©©©

Fapi ketakutan melihat apa yang terjadi di balik tebing. Ini bukan situasi umum yang bisa dianggapnya biasa saja. Sekarang, sedikit jauh di depannya, sedang terjadi perang ala pasukan medieval yang biasanya hanya lihat di film.

"A-apa ini?! Perang?!"

Fapi jatuh terduduk, kakinya gemetar. Yang dilihatnya beberapa ratus meter di depan, di balik tebing-tebing dan tebalnya bukit-bukit pasir gurun, adalah pedang dan tombak beradu dengan kepala, baju zirah, sihir menghantam sihir, darah hijau dan merah menciprat kesana kemari, lalu jumlah monster berbagai jenis yang jelas-jelas mengalahkan jumlah sebuah pleton besar berbaju zirah.

Sudah jelas, pleton berbaju zirah itu adalah pasukan alforea. Mereka memiliki lambang di baju zirahnya. Sama seperti di bendera kastil despera.

Lady Steele dan Yudha maju duluan ke arah medan perang. Tanpa memedulikan dua rekannya.

Lady Steele langsung bergejolak darah pegulatnya melihat peperangan di depan. Banyak "lawan" yang bisa dia hadapi sekaligus. Sangat menyenangkan! ...baginya. Sedangkan Yudha, dia merasa, yang penting sudah di area penyisihan, tak usah pedulikan orang-orang tak berguna ini. Cukup dia berusaha bertahan hidup sampai waktunya habis. Hanya itu saja kan misi disini?

Yudha menyombongkan kekuatannya, entah kepada siapa. Dalam sekejap dia sudah sampai di tengah peperangan. Dia membabat semua monster di hadapannya menggunakan kekuatan bayangannya. Dengan ponselnya dia mengendalikan bayangan itu.

Bukan itu saja, dia ternyata sangat ahli bela diri. Dengan badannya yang kecil, ditambah kelincahannya dalam bertarung, dia mampu menghindari serangan-serangan beruntun dari para monster kacangan di garis depan. Sudah belasan makhluk lendir yang dia kalahkan.

Sedangkan Lady Steele. Bag! Big! Bug! Grep! Begitulah kira-kira kesimpulannya. Kekuatannya luar biasa mengerikan. Satu hantaman siku ke dagu sebuah Orc yang berukuran 2 meter, langsung meretakkan tulang leher. Mati. Satu headbutt ke kepala manusia kadal, retak, mati. Bahkan lariat dari tangan kanannya menghabiskan dua werewolf musuh sekaligus. Benar-benar power attacker yang menakjubkan.

Tak ada kombinasi dari keduanya, tapi apa yang dilakukan Lady Steele dan Yudha membuat prajurit alforea tercengang lalu berubah menjadi bersemangat. Mereka semakin maju melawan musuh di depannya.

Sedangkan Fapi? Kakinya masih gemetar.

Di tengah rasa cemas yang mendera, dia menoleh pada Ananda. Tatapan matanya jelas bertanya ada Ananda, "Apa yang harus kita lakukan?"

Kita harus kesana
Tapi sebelumnya
Aku mau memberi tahu satu hal.

"Apa?" respon Fapi.

Aku tak bisa bergerak
Aku mematung jika sudah malam hari seperti ini
Gendong aku

"MEREPOTKAN!" teriak Fapi yang terkejut dengan kata-kata Ananda.

Fapi langsung menggendong Ananda menuju ke tempat pertempuran terjadi, Ananda sudah mengingatkan Fapi, tak ada waktu untuk takut. Dia menjelaskan beberapa hal, Fapi mengangguk dan berusaha berlari sambil memanggul si wanita pohon.

Sungguh merepotkan.

©©©


Walaupun ada semangat dan daya juang tinggi. Stamina tetap terbatas. Perlahan tapi pasti, tenaga para prajurit, Lady Steele dan Yudha, terkuras perlahan. mereka mulai kewalahan dan terluka di sana sini.

Monster yang mereka hadapi tidak ada habisnya. Seakan mati satu, tumbuh seribu. tapi bukan begitu kenyataannya. Ananda harus segera menyampaikan hal ini kepada mereka yang sedang bertarung.

BOCAH GENDUT
CEPAT

Fapi kesulitan berlari. Membawa badannya saja sudah membebani paru-parunya untuk berlari kencang. Apalagi membawa-bawa sebatang pohon seukuran manusia. Tapi ternyata memang tenaga Fapi bukan tenaga manusia biasa.

Saat mereka sudah mendekati tempat kejadian pertarungan, Fapi menurunkan Ananda dan merogoh tas nya, mengeluarkan sebuah pizza berbentuk cinta yang cukup besar.

Suruh mereka menyingkir
Lalu lakukan

Fapi mengangguk, lalu menarik nafas yang dalam.

"SEMUANYA, MUNDURRR!!" lalu mengulanginya beberapa kali.

Lady Steele dan Yudha yang menyadari Fapi mau melakukan sesuatu, juga mundur dan menyuruh para pasukan mundur.

Mereka semua berlari mundur, tapi para monster itu tidak semudah itu membiarkan mereka lari.

"CEPAAAT!!!"

Lady Steele membantu beberapa prajurit yang jatuh dan melemparkannya agak jauh supaya terhindar dari serangan musuh yang mengejar.

Yudha mau tak mau berinisiatif menghentikan gerakan lawan agar tidak ada kerugian besar. Asal batasnya tidak lebih dari 10 meter, dia bisa menghalau lawan sebanyak apapun. Menggunakan bayangan mereka untuk menghentikan gerakan mereka sendiri.

Setelah berada di jarak yang cukup, Yudha mundur dan melewati Fapi. Melirik Fapi dari sudut matanya dan kebingungan, apa yang akan dilakukan pria gendut ini?

FAPI
SEKARANG

Fapi yang sudah mengambil kuda-kuda, mengarahkan Pizza nya ke arah para monster dan terjadilah hal tersebut, sebuah Cahaya merah jambu keluar dari pizza menembus barisan para monster, teriakan Fapi membahana "PANALOVE CRUUUUUSSSHH!!!!!"

Saat cahaya itu menghilang, monster-monster itu jatuh terduduk, yang memegang senjata, menjatuhkan senjatanya. Seakan lemas.

Lalu semua monsternya saling berpelukan, mengucapkan maaf, menebar kata-kata cinta. Bahkan ada  yang...ciuman...

"Ewwww" serempak ratusan prajurit Alforea bergidik melihatnya.

Ternyata Panalove Crush
mengerikan

Komentar Ananda selaku pemberi ide pada Fapi. Tak menyangka partner timnya yang satu ini punya kemampuan unik begini.
©©©


Setelah menyuruh pasukannya untuk membentuk formasi perlindungan,  dan membiarkan yang terluka untuk disembuhkan dan beristirahat mengembalikan stamina, Empat orang pimpinan pasukan Alforea mendatangi Tim Fapi.

"Perkenalkan, aku Baikai, ini Elle, dan mereka Claude dan Claudia."

Pria bermantel hitam, berbeda dengan pasukan lainnya, memperkenalkan dirinya. Juga temannya, seorang gadis kecil imut dengan senjata senapan. Lalu,  sepasang anak kembar cowok-cewek di dekatnya, sepertinya pengguna sihir.

Mereka bertukar informasi, kejelasan soal peperangan ini, dan fungsinya sebagai turnamen penyisihan.

Baikai dan pasukannya tidak menyangka kalau kejadiannya akan menjadi seperti ini. Mereka hanya disuruh berjaga di garis perbatasan ini sampai utusan dari Yang mulia Tamon Ruu datang. Tapi ternyata jumlah monster lebih dari perkiraan. Seakan tidak ada habisnya.

Mendengar hal itu, Ananda langsung bereaksi, inilah hal yang ingin diberitahukannya.

Serangan Fapi tadi
 hanya akan menghambat
mereka sebentar
kalian
harus perhatikan apa yang
aku bilang

Ananda menjelaskan dengan rinci. Pertama, dia mampu merasakan getaran-gelombang apapun melalui bagian pohonnya. Cabang-caang phonnya berfungsi sebagai penangkap sinyal yang sangat kuat.

Dua, dari situ, dia mendapatkan informasi. Monster-monster ini jumlahnya takkan habis. Karena mereka bersumber dari sebuah kastil jauh di arah utara. Serbuan monster ini berasal dari sana. Walaupun satu mati di sini, sepertinya setiap 30 detik 50 sampai 100 monster keluar langsung dari berbagai titik di dalam kastil.

Baikai mengiyakan pernyataan Ananda. Memang disini ada kastil, tapi hanya berupa reruntuhan. Tak diduga ternyata semua monster dimunculkan dari sana. Sepertinya ada sesuatu yang janggal terjadi di sini.

Tapi informasi dari Ananda tidak sampai di situ saja. Informasi ketiga dan yang paling berbahaya, sepertinya, akan membuat semuanya kehilangan semangat bertempur.

Ananda merasakan getaran hebat dari arah langit. Dia berkata, ada benda langit, mungkin seperti satelit planet ini, perlahan-lahan semakin mendekat, dan bukan hanya itu...sepertinya ada bagian dari benda itu yang retak, ada sesuatu di dalamnya.

"TAMON RAH!" serempak keempat pimpinan pasukan itu berteriak.

Mereka bergidik, dan segera menularkan rasa panik mereka ke pasukan yang mendengarkan nama itu.

"Kuda...Jahanam. Penghancur Kerajaan."

"Apa maksudmu dengan kuda? Tidak ada kuda di sini." Ujar Yudha penuh kebingungan.

"Bulan, bulan itu mendekat!" ujar Elle mendongak ke langit.

"Itu TAMON RAH!!"

"Apa itu tamon rah? Apa hanya kami yang tak tahu ada di sini?" ujar Lady Steele.

Baikai menatap keempat peserta dalam-dalam—kecuali Ananda, dia tidak punya mata. Menjelaskan semuanya. Menjelaskan kengerian yang dibawa oleh Sang Kuda raksasa terkutuk itu. Kuda Api Iblis.

©©©


"Kalau kalian tidak percaya ceritaku, silahkan. Dengan kecepatan seperti itu, takkan lama lagi dia akan menghancurkan segelnya. Dan kalian akan melihat apa yang kukatakan benar adanya." Baikai meyakinkan keempat peserta kita tentang Tamon Rah.

Semuanya terdiam. Hanya riuh rendah pasukan yang gelisah mendengar nama itu muncul ke permukaan dari hati mereka. Claude dan Claudia mencoba menenangkan para pasukan.

Entah kenapa maid tadi tidak bilang soal ini. Apa ini terkait dengan penyisihan turnamen? Apakah ini salah satu cara mereka untuk menghabisi para peserta yang dianggap tidak mumpuni?

Sekarang mereka hanya merenung, terdiam. Yudha kehilangan kesombongannya seketika. Lady Steele merasa gamang, keinginan menggebunya berbenturan dengan rasa takut dan penasaran terhaadap makhluk ini. Fapi...sedang memanggang sebuah pizza penuh topping menyehatkan di tangannya yang membara.

Ya, dia mempersiapkan Pizza. Banyak Pizza. Salah satu Pizza andalannya dengan khasiat yang lebih hebat lagi dibanding panalove.

Dia tersenyum, entah kenapa malah di kondisi begini, dia tak merasa takut, malah semangat berkobar di matanya.

Yudha hanya menggeleng kepala, merasa jijik dan remeh. Entah apa yang diperbuat lelaki pizza itu di saat begini. Memasak Pizza? Sungguh brilian. Bodohnya.

Lady Steele tidak peduli. Dia ingin segera maju ke medan perang lagi. Tak peduli mati atau tidak. Yang penting bertarung.

Memahami semua kondisi ini, Ananda menemukan ide.

Sebagai penganalisa yang lebih baik di timnya, sudah dibuktikan dengan langkah-langkah yang sudah dilakukannya sejak awal memasuki tempat ini, Ananda mulai menentukan strategi.

Ananda menyadarkan kekuatan Yudha kurang, walaupun dia lihai, dia takkan menang sendiri. Lady Steele juga begitu. Otot saja tidak akan membuat mereka maju.

Dia memperhitungkan semuanya, mulai dari penggunaan sisa prajurit yang masih hidup—500 orang menurut Baikai. Menyerbu ke tengah pasukan. Menerobos ke arah kastil. Karena di sanalah jawaban dari kejanggalan ini akan ditemukan.

Semuanya dia susun rapi, agar kerugian di pihak mereka bisa ditekan dan misi ini selesai.

©©©

Semua harus siap
Untuk bergerak
Hanya ini
Jalan satu-satunya
Baikai memerintahkan Elle dan saudara kembar itu untuk mengarahkan pasukan. Tapi...kecemasan itu tetap menaungi mereka.

Kecemasan bisa berubah menjadi ketidak percayaan diri. Ketidak percayaan diri tentunya akan berujung pada rusaknya kekompakan pasukan. Mau tidak mau, akhirnya seluruh pleton ini akan hancur, tak bersisa sebelum bisa meraih kastil.

Nama Tamon Rah membuat mereka gentar. Ditambah lagi, bulan yang menjadi cangkang-segelnya mulai mendekat semakin retak.

"Ini tidak akan berhasil. Semuanya sia-sia" bisik salah satu prajurit.

Mereka sudah kalah. Kalah. Hanya untuk satu pernyataan itu mereka semua serempak.

Baikai dan Ananda kebingungan menghadapi hal ini. Lady Steele dan Yudha masih berusaha menahan diri untuk tidak maju dan menghabisi nyawa mereka sendiri di medan pertempuran.

Di saat seperti inilah, biasanya bantuan datang!

"YA! SEMANGAAAAAAAT!!!!"

Tiba-tiba teriakan itu terdengar dari arah tempat Fapi duduk. Sekarang dia berdiri dengan tangan mengarah ke atas.

"KITA TIDAK BOLEH MENYERAH! Kalian adalah prajurit yang dipercaya ratu kalian kan?" tunjuknya kepada kumpulan pasukan itu.

"Dan kita! Adalah peserta yang sudah menyetujui undangan untuk ikut Battle of Realms kan?!" Pandangannya menyasar ke ketiga partnernya.

"Kita pasti bisa! Sebelum Tamon Rah datang! Kita pasti bisa sampai ke kastil! Semuanya, percayalah!"

Teriakan Fapi menumbuhkan semangat, kecil, di hati setiap yang mendengarnya. Tapi sekali lagi, nama Tamon Rah masih membuat mereka galau.

"INI! Makan ini, aku membuat ini untuk kita semua, cukup untuk ratusan orang. Untung aku sudah mempersiapkannya di Lounge dan sisanya aku buat di sini."

Dia mengedarkan pizza berbentuk persegi itu ke para pasukan. Tapi tak ada yang bereaksi. Semuanya tidak percaya.

Siapa yang mau memakan Pizza di tengah pertarungan begini?

Ananda tidak bisa membantu apa-apa. dia hanya terdiam menyaksikan ini.

"Tolong, percayalah padaku. Makan ini." Ujar Fapi antusias.

Tak ada yang merespon, semuanya hanya melihat Fapi dengan pandangan aneh.

"sini, aku makan, aku akan maju duluan."

Suara itu melesat, mengambil satu potong pizza dan langsung melaju ke depan. Dia tak bisa menahan diri lagi untuk tidak bertarung dengan para pasukan monster itu.

"HEAAAARRRGHH!!!" Lady Steele langsung maju menuju medan pertempuran.

Melihat itu Yudha mengikutinya, mengambil satu, tanpa berkata apapun, dan maju ke medan pertempuran, "Cih. Hanya kali ini saja." Bisiknya.

Fapi terbengong, dan bengongnya segera berubah menjadi haru saat Baikai, dan ketiga temannya masing-masing mengambil satu, memakannya. Lalu semua pasukan juga ikut mengambil satu dan melahapnya.

Fapi juga melahap satu potong pizza itu dan maju sambil menggotong Ananda.

"Semuanya, bersemangatlaaaaaaaaaaaaaah!!!!!!!"

Entah apa yang terjadi. Tiba-tiba semangat mereka naik. Ketakutan sirna!
Stamina mereka seperti diisi ke tingkat maksimum, bahkan kekuatan mereka melimpah.

"THIS IS, HAPPY PARRTTYY!!!!" Fapi sepertinya mengaktifkan sesuatu di Pizza yang mereka makan barusan. Luar Biasa.

Semuanya berteriak serempak sambilmengangkat senjata tinggi, menyambut dorongan semangat dari Fapi.

"HARRRUUMMPHHH!!"

©©
4th slice
Family?



Lady Steele dan Yudha yang sudah di garis depan menghabisi hampir setengah pasukan hanya berdua saja. Mereka tak sadar kalau kekuatannya meningkat karena Pizza dari Fapi.

Baikai, Elle dan Claude juga Claudia pun tak kalah sangar, mereka menebas dan menyihir semua pasukan musuh tanpa sisa. Pasukan dibelakangnya pun menyerang dengan lebih teratur.

Ternyata bukan kekuatan saja yang meningkat, tapi presisi dan akurasi serangan membaik. Kekompakan dan gerak pasukan menjadi lebih seirama.

Teriakan mereka membahana.

"HA!" mereka menahan serangan yang datang dari depan.

"HI!" lalu mendorong sekuat tenaga para musuh sampai terpelanting ke belakang.

"HU!" menyambungnya dengan tusukan yang dalam dan segera menarik tombak mereka.

"HE!" berputar ke arah belakang menghadap teman mereka dan berjongkok.

"HO!" teman mereka menjadikan perisasi temannya yang berjongkok tadi sebagai pijakan dan melompat, menebas musuh.

Begitu seterusnya berulang. Tidak sampai 5 menit mereka sudah berhasil bertahan dan mencapai etengah jalan menuju kastil.

Mereka bergerak seperti garis lurus mendatar yang menyisir membersihkan pasir gurun.

Inilah kekuatan semangat!

©©

Bulan itu sudah mencapai titik jatuhnya, dan pecah. Langit malam sekarang menjadi sangat gelap tertutup awan berlistrik akibat pecahan bulan itu.

"Percepat laju! Tamon Rah datang!" Pihak Alforea mulai meningkatkan performa mereka.

Sedangkan dari pihak musuh, semua monster itu berhenti menyerang, lalu berteriak, mengaum, mengembik, menggemakan suara seakan mengelukan sebuah nama yang disanjung mereka. "Ta—mon—raah."

Makhluk itu memcahkan cangkang itu dari dalam. Dari kondisi meringkuk layaknya bayi, sekejap kemudian mengembangkan sayapnya yang merupakan api merah membara disertai ringkikan. Sekali lagi, langit gurun yang kelam menjadi merah karena api itu.

Bahkan makhluk itu tidak seperti kuda sama sekali. Selain sayap, matanya merah membara dan tanduknya hitam legam dikelilingi api kegelapan.

"Ta—mon—raah."

Sahut semua monster itu sekali lagi. Tidak peduli dengan serangan bertubi dari pasukan Alforea. Mereka terus memanggil nama yang Agung bagi mereka.

Kuda itu mendarat dan sekarang perbedaan tingginya menjadi jelas. Manusia dibanding dengannya seperti sebuah kecoa. Tingginya mencapai 50 meter.

Belum lagi para jagoan kita terkesima melihatnya, Tamon Rah menarik sayapnya lalu menghembuskannya kencang, mengeluarkan banyak bola-bola api besar. Menghancurkan semua yang mengenainya tanpa terkecuali. Pasukan alforea, pasukan monster. Hancur sebagian.

Lalu, Tamon Rah kembali terbang, dan menerjang semuanya. Sepertinya dia tidak peduli maa yang musuh mana yang teman. Layaknya anak bayi yang matanya kelilipan, meraung, ringkikannya menggema seiring terjangannya membabi buta. Hanya saj aini bayi monster. Raksasa.

Pasukan Alforea segera mengubah formasi menuruti instruksi Baikai. Ini benar-benar sesuai perkiraan Ananda. Tamon rah pasti sudah keluar sebelum mereka sampai kastil.

Mereka membagi pasukan menjadi beberapa Formasi kura-kura yang masing-masing terdiri dari puluhan prajurit. Ini agar peregerakan lebih efisien.

Masing-masing formasi melindungi satu peserta dan pimpinan pasukan, kecuali Fapi dan Ananda. Ananda masih digotong Fapi.

Mereka terus menerobos hentakan dan serangan dari monster yang terus menerus datang tanpa henti. Juga bertahan dari bola-bola api dari sayap Tamon Rah.

Anehnya, tamon Rah menyerang tidak tentu arah, seakan dia tidak mampu menentukan arah target. Mungkin karena itulah dia hanya menyerang membabi buta.

Yang jelas, pasukan alforea terus bertahan, dan berusaha segera sampai di kastil.

©©©

Serangan semakin Brutal, efek dari Pizza Fapi mulai menurun, sudah ada beberapa formasi yang musnah.

Sesuai instruksi Ananda, Yudha melindungi yang tersisa dengan menggunakan bayangannya. Asalkan jaraknya 10 meter. Siapapun akan masuk dalam lingkup pelindung bayangannya. Ini cukup efektif.

"Bagus." gumam Yudha.

Tapi kelegaan itu hanya sementara. Tiba-tiba Tamon Rah menyerang pasukan yang melindungi Yudha. Yudha terpelanting jauh. Pelindung bayangan menghilang. Yudha pingsan. Lalu setelahnya, tamon Rah kembali kehilangan arah.

Kenapa hanya Yudha?

Ananda menangkap sesuatu di sini. Dia merasa pergerakan Tamon Rah barusan terkesan aneh.

Kastil sudah di depan mata, tapi Yudha tak terlindungi. Lady Steele langsung sigap keluar dari formasi, lalu mengangkat Yudha dengan sebelah tangan. Lalu kembali ke dalam formasi.

Semakin mendekat ke kastil, kerumunan monster semakin banyak. Mereka kewalahan.

Dari arah kastil, monster-monster cecunguk menghadang. Dari arah langit gurun, Si Kuda raksasa bertanduk.

"Habislah kita." Ujar Lady Steele.

Perkiraan Ananda sedikit meleset, dia tidak menyangka akan terdesak oleh begini banyaknya monster.

"Kita akan mati..."

"Tidak, kalian akan tetap lanjut." Suara itu datang dari salah satu formasi. "Kami akan memastikan kalian masuk ke dalam kastil.

Si saudara kembar keluar dari pasukan pelindungnya, bergerak jauh menuju Tamon Rah dan mulai merapal sihir. Mereka saling mengenggam tangan.

"Jangan-jangan..." Baikai tersadar akan hal yang sedang Claude dan Claudia lakukan.

Elle yang sadar pun berusaha keluar dari formasi untuk menyusul dan menghentikan mereka. Tapi Baikai berteriak dan melarang Elle. Ini sudah menjadi keputusan mereka.

"Kalian harus bisa menyelesaikan ini, pahlawan Alforea." Berikutnya yang terjadi adalah, sebuah ledakan yang besar,  membuat semuanya silau dan ditelan oleh terangnya cahaya putih dari posisi si kembar berdiri.

"Baikai, Elle, kami sayang kalian..." hanya itu bisikan yang terakhir terdengar oleh mereka. Kini, mereka kehilangan dua sahabat mereka yang sudah bertahun-tahun berpetualang bersama.

Air mata menetes dan mengalir di pipi Fapi. Dia sangat tidak suka dengan hal ini. Sangat tidak suka.

©©©


"Dimana ini?" Yudha terbangun dari pingsannya.

Dia berada di sebuah ruangan besar, terbaring di sebuah tempat tidur berdebu.

"Ini di dalam kastil?" Yudha yang tersadar langsung bersiaga.

Tenang saja
Hanya tempat ini yang aman

"Bagaimana bisa?"

Tidak tahu
"Yang lain?"

Hening.

Yudha mengedarkan pandangannya. Lady Steele menjaga pintu dan Fapi terduduk termenung di sebelahnya.

"Hanya kita?" Kepalanya masih berdenyut. Beberapa bagian badannya nyeri, bahkan bajunya sedikit robek.

"Aku kenapa?"

"Aku yang mengangkutmu sejak pingsan diterjang bola api Kuda iblis itu."

"Ah.." terima kasih, itu yang mau diucapkannya, tapi tidak jadi. Hanya dengan menyelamatkannya, bukan berarati ucapan itu pantas diterima wanita itu dari mulut Yudha.

"Elle yang mengarahkan kita ke sini. Sepertinya tempat ini mengeluarkan getaran khusus membuat kita tak terdeteksi monster-monster itu." Ujar Lady Steele.

"Lalu, tamon rah?"

"..."

"Tadi dia sempat terluka." Jawab Fapi. Mata Yudha membelalak, ada harapan.

"Tapi dia sembuh lagi." Harapan itu sirna ditelan kalimat Fapi.

"Kita sudah kehilangan claude dan claudia, Baikai berjaga di pintu depan bersama sisa pasukan, tapi ntah akan bertahan berapa lama." Tukas Lady Steele.

"Kita sudah habis di sini."

"..."

Tapi...
Tamon Rah tidak pernah
menyerang kastil ini
Sedikitpun
Kita harus bergerak untuk mencari tau

"Kalau begitu kita keluar sekarang." Buru Yudha pada Ananda.

"KITA AKAN MATI KALAU KELUAR." Fapi histeris dengan kondisi ini. Otaknya buntu.

"Tapi berdiam di sini juga tidak akan menghasilkan apapun!" Yudha geram melihat lelaki gendut lemah di depannya.

"Aku tau! Tapi..bahkan aku bukan petarung. Aku hanya pembuat dan pengantar pizza. Kenapa harus mengalami ini? Kita bahkan tidak bisa melindungi mereka semua."

Fapi menangis. Yudha semakin jijik dan malas melihatnya. Kenapa semua orang tidak bisa diandalkan?

"Pokoknya aku harus keluar! Aku harus bisa lolos dari penyisihan ini!" tukas Yudha.

Dia menyeret kakinya yang pincang menuju pintu. Lady Steele menahannya. Gelengan kepala Lady Steele melarang Yudha keluar.

"Awas!" suara lengkingan anak kecilnya yang belum puber mengisi ruangan.

"Tidak." Tegas Lady Steele.
"Kau, mau melawanku?" Yudha mengeluarkan ponselnya dan mulai mengeluarkan bayangannya.

Lady Steele tidak peduli. Yang dia tahu, sekarang adalah menjaga pintu ini sampai elle kembali. Jika memang harus melawan anak kecil ini, dia akan melawannya sekarang.

henti

"HENTIKAN!" Fapi memotong bersitegang di antara mereka berdua, mendahului Ananda.

"Tidak cukupkah kita kehilangan banyak teman baru hari ini? Sekarang kalian mau menghabisi satu sama lain?" sambil memapah dirinya untuk berdiri, Fapi menyadarkan mereka tentang situasi sekarang.

Lady Steele hanya diam.

"Cih! Seharusnya aku memang tidak bergabung dengan kalian. Harusnya aku ikut tim lain saja dari awal."

"Tidak di sana, tidak di sini, semuanya payah! Orang dewasa manapun membosankan, tidak bisa diandalkan. Kalian bodoh semua!" kemarahan bercampur kekecewaan berkecamuk dalam diri Yudha.

Dia menahan tangis yang akan keluar dari matanya. Bagaimanapun, dia masih anak yang akan beranjak remaja. Perilakunya yang sok dan kata-katanya yang tajam, hanyalah topeng pelindung untuk jiwanya yang masih rapuh.

Dia paham, kekuatannya sekarang pun takkan bisa membawanya lolos dari sini. Tapi dia juga tidak ingin berdiam diri, di sini, bersama orang-orang yang tidak bisa apa-apa ini.

Situasi ini membuat Fapi, Lady Steele dan Ananda tiba-tiba angkat cerita soal diri mereka di dunia mereka masing-masing.

Semuanya mencoba memahami rekan mereka saat ini. Hanya untuk saat-saat terakhir. Layaknya keluarga berkumpul di ruang tengah, bercerita tentang satu hari yang mereka alami.

©©
5th Slice
YOU NEED LOVE!

Suasana canggung terjadi diantara mereka. Padahal ini masih di tengah peperangan besar dan Monster Kuda raksasa itu masih berkeliaran bebas di langit padang pasir.

Lucu sebenarnya, kondisi mereka berempat bagaikan keluarga tak harmonis.

Seorang ibu yang merasa gagal menjadi ibu dan hanya ingin menjadi yang terkuat.

Seorang wanita muda, terkesan seperti kakak yang kehilangan makna diri dan hanya menyukai kehidupan glamor namun harus menghadapi kenyataan hidup yang membingungkan sebagai setengah pohon.

Seorang anak kecil, yang lebih mementingkan nilai kepintaran dibanding hal lain, bagaikan seorang anak bungsu yang tidak mendapat kasih sayang dan akhirnya menjadi terlalu egois.

Fapi sendiri, merasa dia menjadi bagian keluarga ini—bukan, bukan sosok ayah—tetapi sosok anak tengah, sama seperti saaat di dunianya. Dia yang memberi keceriaan, dia yang memberi pemahaman pentingnya cinta dalam sebuah keluarga.

Fapi tiba-tiba yakin akan sesuatu, dirinya menerima undangan ke dunia alternatif ini adalah sebuah takdir. Takdir yang mengarahkan dia untuk memahami cinta lebih jauh, bahkan lebih besar lagi! Membagikan cinta kepada tiga orang aneh ini.

"KALIAN!" Teriak Fapi kepada mereka.

"BUTUH CINTA!" Semuanya tercengang, keheranan melihat tingkah Fapi. Dalam hati mereka hanya berbisik, apa anak ini waras? Atau memang bodoh?

Senyum Fapi melebar.  Di kondisi terdesak ini, pikirannya yang melantur dan hanya berpikir soal cinta dan keluarga malah memberikannya semangat yang besar.

Fapi mengeluarkan panalove pizza yang dia gunakan di awal untuk melumpuhkan monster-monster. Fapi menyuruh mereka untuk memakan itu.

Yudha juga memakannya walau merasa malas. Dia butuh mengisi perutnya agar konsentrasi terjaga. Tapi ternyata khasiatnya bukan hanya mengenyangkan, panalove justri membuat semuanya sembuh. Stamina kembali. Luka-luka hilang. Ajaib.

©©©

Elle kembali dengan tubuh berlumuran darah. Darah musuh dan darahnya. Dengan tenaga terakhirnya, Elle menyampaikan semua yang dia dapat.

Saat dia menyelinap, dia melihat beberapa hal. Pertama, dia tahu lokasi portal-portal yang menjadi pintu masuk bagi para monster.

Kedua, dia melihat ada satu pintu yang dijaga oleh monster besar berwarna emas, berkepala dua. Satu bentuknya seperti kepala kuda, satunya lagi kerbau. Dia memegang tombak raksasa. Tembakan seperti apapun yang diberikan Elle, tidak mampu melukai tubuhnya.

Tidak ada monster lain yang mengarah ke situ. Sepertinya di balik pintu itu ada sesuatu yang menjadi kunci selesainya semua ini.

Lalu, berita ketiga, Baikai sudah gugur. Pasukan sudah habis.

Setelah memberitahukan itu semua, Elle menghembuskan nafas terakhirnya.

Fapi sempat menawarkan panalovenya pada Elle. Tapi Elle menolak. Dia sudah cukup berjuang, dia ingin bertemu teman-temannya yang sudah pergi duluan. Pesan terakhirnya hanyalah, "Berjuanglah..." dengan senyum menghiasi wajahnya.

©©©

Saat mereka keluar, musuh-musuh kembali berdatangan pada gelombang lanjutan.

Mereka bergerak dengan formasi Yudha di tengah melindungi semuanya menggunakan bayangan, Lady Steele menghajar semua musuh yang berusaha masuk ke dalam perlindungan bayangan, lalu Fapi, tetap membopong Ananda

Sampai di tempat portal itu tersebar, Fapi meletakkan Ananda. Fapi mulai memfokuskan diri dan mengolah adonan lagi. Kali ini dia akan membuat satu pizza dasar yang menjadi kemampuan utamanya.

Selagi Fapi fokus, Lady Steele mencoba menghancurkan dinding portal bagian kiri, sedangkan bagian tengah dan kanan diatasi Yudha.

Sedangkan Ananda menganalisa semua gerakan musuh dan memberitahukannya pada mereka berdua. Mereka bekerja sama dengan tenaga terakhir tanpa memedulikan keegoisan masing-masing. Mungkin ini salah satu efek panalove yang belum diketahui.

Setelah 10 menit menghabisi portal-portal itu, mereka langsung mengarah ke tempat yang diberitahukan Elle sebelumnya.

Tetap siaga
Selain penjaga di depan
Portal-portal itu
bisa jadi terbuka lagi


Benar saja, di depan sudah nampak penjaga pintu itu menghampiri mereka berempat. Sedangkan di belakang mereka, tiba-tiba satu portal terbuka kembali di dinding lain yang belum hancur.

"Ugh..." Fapi bergidik. Ini situasi yang sengit.

"Aku yang akan melawannya. Yudha,kau fokuskan tenagamu untuk menghalau semua monster-monster itu." Lady Steele meloncat menghampiri Musuh didepannya.

Pertarungan segera terjadi, tebasan berbalas kuncian, tusukan berbalas bantingan. Keduanya sama-sama mengarahkan tenaga sekuat mungkin untuk membunuh musuh di depannya.

Yudha melepaskan bayangan pelindungnya dan mulai menghancurkan musuh-musuh yang keluar dari portal sembari berusaha menghancurkan dinding portalnya.

Fapi tetap fokus di pinggir untuk menyiapkan pizza terakhirnya.

Semuanya berusaha sekeras mungkin, mengeluarkan energi terakhirnya untuk menyelesaikan semua ini.

Yudha kembali berhasil menutup portalnya, Lady Steele pun berhasil mengunci pergerakan monster penjaga pintu.

Tinggal sedikit lagi, selesai!

Di saat seperti ini, biasanya, akan ada kejadian tak terduga yang akan merusak perjuangan mereka dan membuat mereka kewalahan.

Ya, hal itu terjadi.

Dari dinding di atas Yudha, tiba-tiba muncul sebuah portal, dan muncul satu monster yang melompat turum dan bersiap menusukkan pedangnya ke kepala Yudha.

Ananda memberitahukan itu segera, dan Yudha berhasil berkelit lalu balas membunuh monster itu.

Tapi itu membuat dia lengah, monster yang menjadi lawan Lady Steele berhasil melepaskan diri dan sudah siap menusukkan tombaknya ke tubuh Yudha. Yudha terlambat bergerak.

"JLEB".

Yudha menutup matanya. Lady Steele terperanjat. Ananda tak mengeluarkan subtitle apapun.

Fapi tertusuk melindungi Yudha. Dia sempat menyadari situasi itu dan langsung bergerak ke arah Yudha. Tombaknya berhasil menembus bagian kanan perut Fapi.


Yudha terkejut. Dia mundur beberapa langkah. Gamang.

Lady Steele kembali mengunci gerakan si monster. Ananda menyuruh Yudha fokus. Tapi Yudha tidak memerhatikan itu. Dia hanya melihat Fapi yang tergeletak bersimbah darah. Ini akibat kecerobohannya.

©
6th Slice
IT'S NOT THE TIME TO DIE!


"Fa..pi..."

Yudha mencoba menggapai Fapi, tapi takut. Takut jika ternyata Fapi benar-benar tewas karena melindungi dirinya. Dia tidak percaya ada orang dewasa yang sebodoh ini. Dia tidak mau percaya kalau rekannya tewas.

"Tidak. TIDAAAAAK!!!"

Tiba-tiba amarah dan tangisan Yudha meledak. Dia menghancurkan dinding di belakangnya dan memastikan tidak ada portal yang terbuka lagi.

"Kubunuh kau!!!"

Dia menggunakan ponselnya untuk mengendalikan bayangan musuhnya. Dia membuat musuhnya terikat bayangannya sendiri dan mencekik dirinya. Lady Steele mengunci pergerakan satu kepala lainnya. Monster itu terjepit.

Tapi, bukan penjaga pintu terakhir jika yang begini saja membuatnya kalah. Monster itu menjadi lebih buas dan melemparkan Lady Steele ke arah Yudha. Mereka terpelanting menabrak dinding.

Monster itu mengarah ke Ananda yang tak terlindungi. Jika satu pukulan saja mengenai Ananda, maka dia akan langsung hancur.

Lady Steele berusaha bangkit, tapi kewalahan. Lemparan barusan membuat tulang kaki kanannya retak dan punggungnya luka.

Sedangkan Yudha, walaupun kesadarannya masih ada, tapi tenaga mentalnya sudah habis. Ledakan amarah dan kesedihannya tadi bercampur dengan ketidakpercayaan diri akibat kecerobohan.

Situasi kritis. Monster berkapala dua itu mengayunkan tombaknya dan bersiap menghantam Ananda.

Tidak
Tolong
tidaaaak

Detik berikutnya, Monster itu terbanting ke belakang. Serangannya berbalik.

Ternyata Fapi bangkit, mengeluarkan sebuah pizza berbentuk bulat sempurna dan menghalang serangan monster itu tepat waktu. Ananda selamat.

"Singleround shield." Gumam Fapi sambil tertawa kecil. Lalu terbatuk, darah keluar dari mulutnya.

Fa-
Fapi

"Tidak apa, tidak kena titik vital." Ujarnya.

"Heheh..ayah selalu mengajarkanku. Pizza terbaik adalah yang bulat sempurna, matangnya pas, mozarellanya mengikat topping dengan sangat kuat. Seperti sebuah ikatan yang penuh perasaan. Ikatan cinta...persahabatan..."

Fapi mulai berdiri,"...dan keluarga!" Fapi memakan pizza itu, beralih ke Lady Steele dan memberikannya juga padanya.

Dia mengangkat Yudha dan membuatnya duduk bersandar di dinding. "Makan ini..."

Yudha menggeleng, dia sudah terlalu lelah untuk ini semua. Tapi Fapi tetap meletakkan pizzanya di pangkuan Yudha. Lalu beranjak menuju monster itu.

Monster itu bangkit kembali.

"Lady, pizza ini akan membuat kita kebal fisik dan kebal sihir, dalam 90 detik. Lalu, satu lagi kelebihannya, jika dimakan oleh orang jomblo, durasinya kaan bertambah dan kekuatannya akan meningkat." Jelasnya sambil tertawa.

"Kita adalah jomblo. Dan sekarang, kita adalah jomblo terkuat. Ayo, kita kalahkan monster ini."

Fapi yang tak mahir bertarung tetap maju. Dia tidak peduli apapun saat ini.

Hantaman dari Fapi dan Lady Steele bersahut-sahutan dan menjadi kombinasi pukulan beruntun yang menghujam tubuh monster itu.

Saat monster itu limbung, keduanya berputar ke belakang si monster, dan membekap kepalanya.

"Fapi, kita selesaikan ini! satu..dua.."

"TIGA!" ujar mereka serempak.

Kepala monster itu terpuntir, patah. Mati. Tapi ini belum selesai. Tinggal melihat apa yang ada di balik pintu ini.

©©©

Mereka membuka pintu itu. Yang mereka lihat adalah dua buah lorong tangga. Satu ke arah kiri, satu ke arah kanan. Mereka memutuskan untuk berpencar.

Sesampainya di sana, ternyata ada sebuah kristal yang berpendar. Cahayanya memukau. Ternyata ini adalah menara untuk menjaga kristal ini. Sepertinya kristal ini adalah sumber dari semua masalah.

Apalagi kemungkinan yang ada? Kastil ini dipenuhi portal yang mengeluarkan monster. Lalu Tamon Rah seakan datang begitu saja. Belum lagi, pintu yang menjaga menara ini, dijaga oleh monster yang sangat kuat.

Saat memerhatikan kristal itu. Tiba-tiba sebuah proyektil cahaya ditembakkan ke arah mereka. Untung saja efek pizza tadi masih ada. Lady Steele dan Fapi selamat.

Lady Steele mencoba menghancurkannya. Kristal itu sangat keras. Dia memukulnya berkali-kali. Berhasil! Kristal itu hancur.

Baru saja berpikir begitu, kristal itu utuh lagi. Setiap bagiannya menyusun sendiri dan kembali ke tempatnya berputar tadi.

"Fapi, sepertinya ini bukan kristal biasa. Kita harus menemukan cara menghancurkannya!" teriak Lady Steele melalui celah jendela menara.

Fapi mengangguk, "ayo coba kita hancurkan sampai mereka tidak bisa utuh kembali!"

Mereka berdua mengeluarkan semua tenaga mereka. Kristal itu hancur, tapi utuh lagi. Hancur, tapi utuh lagi. Begitu seterusnya.

Tangan mereka sudah penuh darah. Daging dan tulang bertemu kristal? Salah satunya pasti remuk.

Tapi mereka tidak peduli, mereka harus menghancurkan kristal ini. Sayangnya, mereka lupa efek pizzanya sudah habis.

Tembakan proyektil cahaya dari kristal menghempaskan mereka. Mereka sudah tak sanggup berdiri.

"Sialaaaaan!!!!" geram Lady Steele. Masa kalah dengan benda ini.

Fapi hanya bisa terengah-engah. Darahnya semakin deras mengucur. Lukanya kembali terbuka.

"Fapi, sekali lagi!" teriak Lady Steele.

"YAA!" sahut Fapi.

Keduanya bangkit bersamaan. Berjalan terseok menuju kristal masing-masing.

"Demi kejayaan.." bisik Lady Steele.

"Demi cinta..." bisik Fapi.

Kristal itu berpendar, dalam hitungan sepersekian detik, akan menembakkan proyektil lagi. Jika terkena, tamatlah mereka berdua.

"..dan DEMI PIZZAAAA!!!" Hantaman mereka berdua menyentuh kristal itu dalam watu yang bersamaan, bahkan tepat saat kristal itu menembakkan proyektilnya.

Ternyata mereka selamat, dilindungi oleh bayangan Yudha. Ternyata jaraknya bisa dijangkau oleh bayangan Yudha, apalagi Yudha memakan pizza yang diberikan Fapi. Akhirnya bayangannya jadi kebal sihir.

Pukulan terakhir mereka berhasil menghancurkan kristal menara. Mungkin karena hancur dalam waktu yang persis sama, kristal itu tidak kembali utuh lagi. Semuanya benar-benar selesai kali ini. Seharusnya.

©
7th Slice
Thank You

Lady Steele dan Fapi kembali ke tempat Ananda dan Yudha. Mereka mencoba menyembuhkan diri dan menghemat tenaga sampai ada bantuan dari maid datang.

Tiba-tiba, dari luar kastil. Ringkikan kuda iblis itu terdengar dari kejauhan seperti memberontak. Tamon rah terserap sebuah bola cahaya raksasa. Lalu cahaya itu menghilang, berganti menjadi bulan.

Ternyata kristal itu juga yang memang memanggil Tamon Rah ke sini. Apa ini memang perbuatan panitia BOR V? Ananda memikirkan itu semua, tapi tak ada jawaban yang bisa terpikir untuk saat ini.

Koloni monster yang masih ada di gurun itu pun pada gugur dan tidak ada lagi getaran portal yang terdeteksi.

Semua selesai
Kalian berhasil

"Kita berhasil Ananda." Lady Steele menimpali. Rasanya ada senyum dibalik topengnya itu.

Yudha dari tadi hanya memerhatikan luka Fapi.

Fapi yang menyadari itu menepuk-nepuk kepala Yudha. "Tak apa, yang penting sekarang kita berhasil. Kau berhasil. Kau melindungi kami. kau pahlawannya." Senyum Fapi.

"Maafkan aku..." ucap Yudha lirih sambil menunduk.

"Hey," sahut Fapi. Yudha melihat wajah Fapi.

"Terima Kasih." Fapi tersenyum lebar pada Yudha.

Banyak pelajaran hari ini. Terutama untuk mereka berempat.
©©©

Semua selesai. Mereka berhasil bertahan.

Langit malam yang tadinya kelam dan dihiasi kemerahan akibat panasnya api Tamon Rah, berganti menjadi warna langit fajar.

Matahari mulai menunjukkan dirinya perlahan dari ujung cakrawala. Ananda kembali bisa bergerak, dan memeluk mereka satu persatu.

"Aaaaah, aku harus membuat pizza baru lagi. Aku belum mengantarkan pesanan ke Alforea nih!"

Mereka tertawa mendengar itu, tidak menyangka bisa bertahan sampai akhir. Turnamen yang merepotkan.


©©
Epilog

"Selamat kalian berhasil bertahan hidup." Ujar maid tersebut.

Dia mempersilahkan keempat orang itu kembali ke Alforea melalui portal di sampingnya.

Kali ini, cinta dan pizza benar-benar memberikan andil besar dalam keselamatan Fapi. Siapa sangka? Pizza bukan hanya menjadi makanan atau sebuah bahasan filosofis dalam menjaga prinsip hidup, tapi juga berguna banyak dalam pertarungan.

Apakah Fapi akan berhasil mengantarkan pizzanya? Menemukan makna cinta yang lebih besar? Pizza apalagi yang akan dibuatnya? Semuanya akan terjawab di babak berikutnya. Sampai ketemu lagi!

20 comments:

  1. Hai, Fapi. Penuturan ceritanya ceria dengan penggambaran sosok Fapi secara detail yang bagus. Latar cerita juga dipaparkan secara jelas dan dapat ditangkap dengan baik.
    Ternyata kemampuan Yudha agak mirip ya dengan kemampuan Tasya. Beruntung Fapi milih Yudha gabung di tim-nya, kalau sama Tasya bakal makin repot karena menggendong dua orang cewek sekaligus.
    Adegan battle juga cukup epik, logika cerita tetap berjalan dengan baik. Dan interaksi antar karakter tampak natural dan kompak.


    Nilai: 8
    (OC: Tasya Freyona)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasiiiiiih.
      Ternyata bisa dapet kesan baik di entri ini.
      Semoga Fapi bisa lolos dan sebar cinta lebih banyaaaaak.

      _/\_

      Delete
  2. openingnya bikin laper -_-;;

    tapi ya... namanya aja dah deket ke pizza dan seriously, gw keinget sama ini pas baca openingnya http://en.wikipedia.org/wiki/Pita


    gw suka sama karakter ini terasa fresh dan keliatan kayak orang biasa yang terjebak secara ga sengaja. gw suka reaksinya.


    hwhwhwwhwhhw ada adegan yang ngingetin gw sama 300 :))


    "Kita adalah jomblo. Dan sekarang, kita adalah jomblo terkuat. Ayo, kita kalahkan monster ini." << Quote of the day XD

    tadinya gw pikir karakter Pita bakal kehilangan banyak spotlight tapi ternyata di belakang dia punya role yang keliatan bagus.

    anyway, soal keluarga... gw ngerasa build up konsep yang satu ini kurang dapet sih. masih kerasa kayak band of rogue dibanding keluarga. faktor emosionilnya kurang berasa IMO. walau, eksekusinya gw pikir cukup bagus dan mendekati karena adanya unsur kesadaran bahwa kesatuan itu mutlak diperlukan.

    Nilai: 8/10

    OC gw: KII


    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, itu ambil dari scene 300 hahahahahah

      Nah, memang, sebenarnya mau nambah untuk scene supaya bisa dapet rasa kekeluargaannya. Tapi udah kebingungan gimana naikin tensionnya.
      Ada saran gak untuk yang ini, scene yg gimana yg harus ditambahin biar dapet sensasinya?

      Btw, thanks udah baca!

      Delete
    2. untuk scene keluarganya, gw mikir sih setiap individu harus mulai ngerasa empati akan masing2 OC aja. sebnarnya sih di sini udah mulai kebangun, setidaknya mereka mulai berkonflik internal dan mecahin masalah bersama, tapi karena OC-nya kebanyakan, rasanya untuk ngebangun kesan keluarga masih harus butuh emosionil lagi IMO

      kalo di sini masih band of rogue juga sebenarnya gpp asal dibikinnya kalo si Fapi doang yang merasa bahwa mereka semua adalah keluarganya (karena dia embodiment of love and happy).

      kalo ke depannya emang maw jadi keluarga atau feel keluarga, mungkin enaknya gali emosi masing-masing lebih dalam. di sini dah keliatan potensialnya dan gw ngerasa unsur ini masih bisa dibangun lagi.

      Delete
    3. Hmmm...
      Seandainya ngerjakan lebih awal, mungkin sisa 1200 kata bisa aye gunakan untuk lanjutin konflik jadi empati ya...

      Memang pesannya mau bawa soal semangat, bahagia dan cinta.
      Kalo memang prasyarat rondenya bisa sesuai sama alur ini,.bakal aye bangun bond nya.

      Thanks!

      Delete
  3. LOL. Saya lumayan suka pendekatan sampean waktu bagian party building. Kerasa kaya ini alternate timeline untuk masing2 karakter, jadi mereka ga bisa gabung sama tim di cerita asli masing2.

    Itu Fappi bener2 wrong guy in the wrong place. Bahkan undangannya pun jelas salah gitu. Tapi kamu berhasil nggak bikin dia ketutupan sama karakter lain, bahkan di akhir. Dia minimal terlihat fungsinya sebagai pemersatu tim dan support.

    Selain itu, kayanya nggak ada kelemahan yang terlalu terlihat. Jadi saya kasih ini nilai 8.

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks udah baca king!
      Lady Steele nya sudah selesai aye pinjem yaaaa.
      Heheheh

      Delete
  4. Hai Fapi... Tata mau pizza.. tapi malu.. boleh pesan 1 buah?

    Oke.. Fapi ini satu dari karakter favorit saya.. Karakter yang menurut saya bahkan lebih unik ketimbang Kumirun. Dan ternyata entrynya juga lumayan asik buat diikutin.. Cuma ya..secara teknis pada bab-bab pengawal sudah terlihat rapi.. tapi menjelang akhir malah berantakan? Apa kena debur ombak besar deadline om? :D

    umm.. saya cuman bisa komen gitu. Gak apa kan.......kalau minta pizza-nya satu potong..

    -Ortunya Fath'a Lir.

    ReplyDelete
    Replies
    1. masyaallah lupa nilai... 9/10

      gak apa kan om? :D

      Delete
    2. woh, bener 9 ini?
      hahahahahahah

      iya, berantakan karena cuma sekali proofread, kirain ga banyak typo. setelah submit baru keliatan semua hahahah

      Terima kasih sudah mampir!

      Delete
  5. Vajra sez: Yup, seperti sesama "chubby"-nya, si Bun, sifat Fapi bisa jadi penggerak yang positif untuk tim yang lumayan kompak. Dengan perut penuh, hati jadi hangat dan kepala jadi dingin, semangat bisa sampai maksimal walaupun harus berdarah-darah.
    Jangan lupa bro, pesta pizza ya kalau sudah lolos, sekalian bareng tim Vajra dan temen2 lain juga :p Semua 48 entrant kalau perlu. Skor: 8/10
    OC: Vajra (Raditya Damian)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih buat motivasinya ini hahahahahah

      okeh, Terima Kasih sudah mau mampir!

      Delete
  6. Baik, cukup deskripsi tempatnya, sekarang kita beralih ke arah sosok wanita cantik di atas balkon kastil.
    ^saya deja vu sama entri sendiri di bagian ini wwww

    Sejujurnya buat saya pribadi entri ini masih agak disjointed. Kesannya ada satu ide (dalam cerita ini tentang 'keluarga') yang pengen penulis masukin jadi tema besar cerita, pasti karena diburu" jadinya ga dapet feelnya. Diburu" yang saya maksud di sini bukan masalah nulisnya berantakan, tapi ga kerasa buildupnya buat satu realtionship map antarkarakter yang utuh. Call me stingy, tapi kira" begitulah yang saya tangkep dari entri ini.

    Dan meski karakter Fapi lumayan keliatan sifatnya, tapi masih ke-overshadow sama yang lain. Dia bukan tokoh sentral, cuma figuran yang kebetulan diambil buat jadi sudut pandang umum dalam cerita. Emosi setiap karakter masih kerasa kurang kegali, sekedar sebut dan lalu.

    Cameo Baikai-Elle-CC agaknya kurang relevan ya. Maksudnya, mereka dibikin tanpa nama pun kayanya ga ada bedanya buat cerita ini.

    Nilai awal 7. Deadliner buffer -1, jadi nilai akhir dari saya 6

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. deja vu?
      *Liat ulang entri dyna might.*
      bahahahahah ternyata ada 1 kalimat yang intinya hampir sama.

      btw, This is The best comment that Fapi had.
      memang rasanya ke over shadow banget jadi karena pake 4 orang full team.
      dan seperti kata komentar Hinokun juga, build up conflict sama bond nya kurang berasa ya.

      Baru sekarang beneran tau rasanya bikin tokoh utama tapi rolenya memang defender/support tapi sosoknya ga boleh tertutup sama karakter lain, berat.
      padahal udah oba pake kerangka ini nulisnya hahahah

      harusnya aye maksimalkan jadi 10.000 kata ya.

      soal deadline buffer aye terima.
      ga bisa ngomong apa-apa wkwkwkwk
      tetep berusaha nulis sebisanya di tengah tugas lainnya.

      Terima kasih sudah mampir!

      Delete
  7. This is good. Aku suka mulai dari style narasi, penceritaan pizza yang bikin laper, pengenalan karakter di awal, alur plot, sampai battlenya yang membawa suasana banget di akhir. Lucu banget lihat fapi menyebar cinta. >///<

    Nilai : 9

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kalau yang baca lapar, berarti target saya berhasil hahahahahahahah

      Terima kasih sudah mampir!

      Delete
  8. Ini ceria banget ceritanya.

    Tapi justru gara-gara itu kematian Baikai dkk jadi kek nggak begitu terasa. Entah karena ceritanya yang selalu positif, atau karena kemunculan mereka yang begitu tiba-tiba dan out of place banget. Kuanggap ini hal negatif.

    Trus, yang aku rada geli, logic pizza sebagai senjata (tameng) di cerita ini. Gpp sih makanan dijadiin senjata. Tapi jadi aneh banget kalo ngeliat sifat Fapi yang begitu mencintai pizza, trus tiba-tiba dia ngeluarin singleround buat dijadiin tameng menghalau serangan musuh, TERUS YUDHA DISURUH MAKAN ITU PIZZA BEKAS DIGEBOK MUSUH.

    Aduh... Itu makanan Fapi! Itu makanan penuh cinta yang kau buat dengan segenap jiwa, rela kau kotori dengan menjadikannya sebagai tameng dan menyuruh orang buat makan setelahnya.

    Mungkin Om Dhiko punya penjelasannya yang masuk akal, tapi sepertinya kurang tersampaikan. Entah kenapa detil kecil ini ngeganggu banget buatku. Rasanya bertolak belakang gitu sama karakter Fapi.

    Buat teknik nulisnya, ada beberapa salah di tanda baca sama huruf kapital yang paling keliatan. Sama terlalu banyak tell, banyak adegan yang bisa ditunjukkan detilnya tapi Om Dhiko malah ngambil jalan pintas dengan ngasih report tentang apa yang terjadi kepada pembaca.

    Bagusnya, tema cinta lumayan dapet. Tema persahabatan dan keluarga juga ngena gara-gara pengorbanan Fapi, lumayan nutupin kurangnya build-up. Dan battlescream di akhir, "DEMI PIZZAAAAA!!!" itu bikin semangat banget.

    Nilai : 7
    OCku : Alshain Kairos

    ReplyDelete
    Replies
    1. Penjelasan?
      Tak ada! Hahahahahahahahahah


      Mungkin yang paling menjelaskan adalah di dunia fapi, makanan itu berfungsi ganda dengan tujuan utama, bertahan hidup.

      Di dunia fapi ada dewa makanaan, ada persaingan makanan, ada dunia luas yang mengerikan.

      Jadi, moto mereka, "makan untuk hidup, hidup untuk makan!"
      Tak ada yang disia2kan saat makanan itu menjadi senjata ataupun makanan.
      Setelah dipakai pun tetap bisa dimakan.

      Yang sia2 adalah, jika makanan, enak ataupun tidak enak, tapi disia siakan dan dibuang begitu saja. Bakal kena hukuman dewa nanti.

      Hahahahahah

      Soal baikai dan lainnya.
      Karena awalnya takut dragging dan kebawa suasana gara lebih dari 10.000 words. Jadi nahan diri buat ga nulis banyak2. Ga bisa eksplore.

      Thanks sudah mampiiiir!!!!

      Delete
  9. dalam kepalaku, Fapi ini wujud fiksinya om Dhiko. Lucu, mbem-mbem, dan bersemangat menebarkan benih-benih cinta~ hahaha

    narasinya oke punya, enak banget dibaca sampai2 beberapa typo luput. tapi sayang ya, si Fapi kurang menonjol di entri sendiri, karakter lain keliatan lebih gemilang.
    trus... apalagi ya? ya udah deh, itu aja.
    Oh ya, pesen satu pizza topping seafood dan catnip ya. antarkan langsung ke rumah Mike selagi hangat. oke? ;D

    nih, kubayar dengan nilai: 8!

    salam Meong, Mike Mi991

    ReplyDelete