8.5.15

[PRELIMINARY] FATANIR - KRIBO MANTAP

 FATANIR - KRIBO MANTAP
Penulis: PO


1
Entri


Malam semakin dingin saat Fata kembali ke rumahnya. Sederhana namun nyaman.

Sebuah amplop terselip di antara daun pintu dan lantai. Apa ini? Fata merobek kertas amplop. Isinya adalah lembaran yang dikenalinya sebagai sejenis panel sentuh yang amat tipis dan fleksibel.

Pemuda berambut keriting itu mengomentari desainnya, "Boleh juga--"

Sekonyong-konyong terdengar suara,

[Persetujuan untuk memasuki Alforea telah dinyatakan]

[Bersiap untuk pengiriman]

"???"

Amplop itu berubah menjadi pusaran hitam yang mendistorsi semua hal di sekitarnya.

"Woi! Wooooi!"

Pemuda kribo itu terbetot sangat kuat, dan selanjutnya tubuhnya telah lenyap terhisap ke dalam pusaran.



---


"Sial..."

Yang Fata ingat, dia baru saja pulang kerja. Kemeja, celana bisnis, sepatu pantovel miliknya, bahkan belum sempat diganti. Di depan rumah, dia menemukan sebuah amplop berisi lembaran panel sentuh.

Lalu, dia mengagumi desain dan kepraktisan panel sentuh itu. Mendadak sebuah pusaran hitam menelannya dalam kegelapan.

Sesaat kemudian, pemuda kribo itu telah berdiri di antara berpuluh-puluh manusia dan makhluk lainnya. Ada yang memegang senjata tajam, preman, bahkan beberapa makhluk sama sekali tak mirip manusia.

Mereka semua tengah ada lapangan rumput luas. Berbagai jenis bunga dan tanaman rambat diatur dalam petak dan lajur berjajar. Tiang-tiang batu putih tersusun dalam sepasang garis paralel, membentuk koridor yang berujung pada sebuah istana raksasa yang dindingnya tersusun dari formasi petak unik segi lima.

"Ini di mana?"

"Aku baru saja menandatangani surat undangan itu..."

"Apa ini taman hiburan?"

"Jangan dekat-dekat, aduduh!"

Semua orang meributkan hal masing-masing. Tampaknya setiap yang ada di sini tak saling mengenal. Anehnya, berbagai spesies makhluk mulai dari robot hingga alien apa pun di sana, dapat saling berbicara dengan satu bahasa. Seolah ada suatu sistem yang menyatukan semua pemahaman linguistik setiap individu di tempat itu.

Sistem?

Fata meraba saku celananya. Panel sentuh itu ada di sana. Dia membuka panel sentuh itu, sehingga menunjukkan sebuah diagram peta dan keterangan tempat.

[Alforea: Plaza Alkima]

Menggeser kemiringan pada peta digital tersebut, Fata membuka fitur pencarian:

[Penerjemah, Translator, Sirkuit]

Ikon berkedip-kedip menunjukkan suatu tempat empat puluh meter. Fata segera menuju ke sana, tempat di mana dia akan menemukan sesuatu yang dapat membantunya memulai petualangan di Alforea.


---


Sesaat kemudian, seorang wanita dengan tubuh padat berisi muncul di atas balkon istana. Dia ditemani pria berambut putih panjang yang memakai jas laboratorium.

Mereka memperkenalkan diri. Perempuan itu adalah Tamon Ruu, biasa dipanggil Ruu, dan si rambut putih adalah Hewanurma atau Nurma.

"Kalian semua yang ada di sini, adalah calon peserta turnamen antar dimensi yang akan diadakan tidak lama lagi. Turnamen ini disebut Battle of Realms, dan hanya para petarung terbaik yang bisa mengikuti pertarungan bergengsi ini!" Jelas Nurma lantang pada seluruh yang berkumpul.

Mendengar penjelasan Nurma barusan, mereka yang berkumpul di halaman mulai berbisik satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang terlihat begitu bersemangat, dan ada juga yang terlihat bingung dan berusaha mencerna kata-kata Nurma barusan.

"Lalu jika memenangkan turnamen ini, kami akan dapat apa?" Tanya seseorang penuh semangat.

"Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan!!" Sahut Ruu yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Nurma.

Maka kedua sosok di atas balkon tersebut memberi arahan tentang sistem turnamen, babak penyisihan, dan lain-lain. Fata mendengus sebal. Yang dia lakukan hanyalah membuka sebuah amplop, dan kemudian dia tiba-tiba saja ada di tempat tidak jelas ini.

Mendadak, Fata mendengar suara sayup-sayup memanggilnya. Bergetar lirih saja, kadang memberat. Dia berjalan di antara barisan orang, mencari-cari sumber getaran itu.

Suara itu, berasal tepat dari sebuah senapan Rifle elektromagnetik besar, yang bertengger di punggung seorang gadis berambut biru. Fata menatap Rifle itu, mempersepsi sebuah suara abstrak yang diterjemahkannya sebagai bentuk komunikasi.

Itulah kesadaran yang bersembunyi dalam teknologi. Pemuda keriting ini mampu berkomunikasi dengan ruh suatu mesin, atau hasil teknologi apa pun. Dia mendengarkan dengan seksama, perkenalan yang diucapkan oleh Rifle itu.

"Ah. Manna-Charged Gauss Rifle? Manna? Sebentar, apa itu Manna? Manna itu di mana?" mendengar informasi itu, Fata menggaruk jambul keritingnya. Kebingungan sendiri dia.

Fata bingung, gadis ranbut biru jelas lebih bingung. Apa pemuda kribo ini demikian ahlinya tentang senjata, sehingga dapat tahu spesifikasi Gauss Rifle miliknya sekali lihat saja? Tapi, kenapa dia malah bertanya tentang Manna, meski dia sendiri yang baru saja menyebut istilah Manna?

"Siapa?" gadis itu bertanya tanpa ekspresi. Entah apa maksud pertanyaannya. Siapa Fata? Siapa dirinya sendiri? Siapa yang bertanggung jawab? Siapa yang tanya?

Namun baru saja Fata hendak berbicara, terdengar suara klik kamera. Seorang perempuan berpakaian pelayan sudah terlanjur memotret mereka.

"Ngapain kamu?" Fata bertanya.

Pelayan itu balik bertanya, "Kalian berdua sudah menjadi tim?"

Fata menoleh pada gadis bersenjata, "Emangnya kita berdua ini tim?"

Gadis bersenjata diam.

Pelayan berkamera mengambil kesimpulan,

"Diam berarti iya! Tim sudah terbentuk!"

[Tim sudah terbentuk. Dua personil]

[Tim BB-21: Sanelia Nur Fiani, Fatanir]

"Hei!" Fata dan Sanelia protes bersamaan. Tapi terlambat.

"Baiklah, karena semua tim sudah terbentuk, babak penyisihan ini...dimulai!" Tamon Ruu mengucapkan mantra sambil menggerakkan tangannya, membentuk puluhan pusaran hitam di berbagai titik tempat berdirinya semua sosok yang sedang berkumpul.

"Apa?!"

Belum lagi sempat mencerna apa yang terjadi, Fata beserta kedua orang di sampingnya tersedot masuk ke dalam sebuah pusaran.

"Tim apa maksodnya eneeeee!"

Demikianlah komentar jagoan kita, Fata, dengan jungkir balik menerobos sebuah portal menembus batas dimensi, atas pembentukan sebuah tim yang tidak jelas sebab-musabab
 maupun tujuannya.


---


2
Gurun


Bulan bernama Alkima bersinar ungu di atas padang pasir berbatu.  Suara-suara teriakan perang memenuhi udara, dibarengi dentingan senjata tajam serta letusan senjata api yang memekakkan.

"Wilayah ini adalah bekas pusat pemerintahan Alforea tiga generasi lalu. Di sini, ada perang yang telah terjadi selama empat tahun. Prajurit Alforea sudah berusaha mempertahankan padang pasir ini dari serbuan monster," pelayan itu menjelaskan,

"Tempat ini adalah lokasi strategis bagi jalur perdagangan antar kota-kota wilayah selatan. Namun sejak empat tahun lalu, muncul monster-monster yang menyerbu dari dalam kastil Alforea generasi lampau."

Pemuda berjambul keriting bernama Fata terpaku sesaat. Untuk kedua kalinya, dia dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain dengan metode absurd yang mungkin lebih mirip dengan sihir di film fantasi. Tapi bukan hanya itu.

"Dewan penyihir Alforea meramalkan, para monster ini didatangkan untuk memberikan persembahan energi negatif, guna membangkitkan sesuatu dari dalam bulan Alkima."

Tak jauh di hadapannya, ratusan prajurit sedang bertempur. Bukan melawan pasukan prajurit lainnya. Melainkan melawan serbuan monster.

"Dewan penyihir juga berkata, malam ini adalag puncak energi sihir negatif dari para monster. Lima menit lagi, apa pun yang ada dalam ramalan, akan bangkit dan membawa bencana di Alforea."

"Lima menit..."

"Entitas pembawa bencana itu hanya akan dapat disegel kembali di dalam bulan, jika ada yang sanggup menghancurkan Menara Kembar di kiri dan kanan kastil lampau tersebut, yang kini telah kita sebut sebagai Kastil Kelam. Untuk itulah, Ratu Tamon Ruu mengutus kalian."

Puluhan kelelawar seukuran manusia beterbangan di udara, menyergap beberapa prajurit yang lengah dan menggigit leher-leher mereka sampai putus.

Sekawanan kumbang besar berkepala piranha beterbangan kesana-kemari, membenamkan mulut bergerigi tajam ke perut sejumlah anggota pasukan hingga usus mereka tumpah ke dataran pasir.

Jantung Fata berdegup kencang. Dia ingin bertanya, tapi pelayan itu sudah lenyap entah ke mana.

Justru, empat sosok merayap mendekatinya. Sekilas keempat makhluk itu punya persamaan dengan manusia. Namun tak mungkin manusia merayap dengan tangan dan kaki berkelojotan seperti kecoa.

Keringat dingin timbul di wajah Fata. Lekas dia berputar lari, meninggalkan Sanelia begitu saja. Gadis berambut biru itu menyusulnya, "Tunggu..."

Namun Fata terus saja berlari. Sanelia mulai kesal. Pria macam apa yang meninggalkan seorang wanita sendirian di tengah padang pasir penuh monster?

Sementara Fata sama sekali tak peduli dengan sang gadis - yang katanya satu tim tapi entahlah dia sih tidak kenal- itu. Pemuda berjambul keriting menawan tersebut lari sampai kakinya mulai pegal.

Tapi sayangnya, aktivitas berlarinya itu malah menarik perhatian. Semakin banyak makhluk humanoid bermunculan dari balik gundukan pasir dan bebatuan cadas. Mereka berlomba mengejar Fata seperti kucing mengejar tikus.

"Weks!" Fata kelimpungan ketika makhluk merayap yang mengejarnya sudah berjumlah lebih dari sepuluh. Mereka menyusuri pasir dari bukit gersang di kanannya, dari celah kecil di belakangnya.

Salah satu makhluk merayap menggenggam pergelangan kakinya hingga tersandung. Yang lain menaiki tubuhnya. Saat itulah Fata melihat wajah makhluk itu dari dekat.

Seluruh wajah makhluk itu, penuh oleh sebuah lubang besar.

Dari lubang besar itu, keluar sebuah lidah raksasa dengan ruas-ruas daging serupa belalai gajah.

"Aaaaghh!!" rasa takut luar biasa memenuhi kepala Fata. Refleks dia mencengkeram lidah itu dengan dua tangan, lalu membetot kuat-kuat. Dalam sekejap darah dari organ besar yang putus itu memerciki wajah Si Kribo, membuat sang makhluk menggelepar kesakitan sambil menggapai-gapai.

Para humanoid merayap lainnya langsung mendesis marah dan panik. Fata, masih penuh jijik, menendang humanoid kedua tepat di lubang mukanya. Ujung sepatu pantovel pemuda itu melesak tepat di dalam rongga mulut humanoid itu tanpa ampun hingga memecahkan pangkal kerongkongannya.

Enak tuh, bajingan!

Dua makhluk tersingkir, Si Kribo melepaskan diri dan berlari dengan sebelah sepatu berlumuran lendir dan daging monster. Napasnya ngos-ngosan.

Para humanoid merespon. Ada yang ragu-ragu setelah melihat bahwa buruan mereka ternyata tak ragu untuk melawan. Namun tiga makhluk merayap semakin ganas. Mereka menambah kecepatan, meloncat tinggi di udara, lalu menerkam Fata dengan ganas!

"Buangkaaai!!"

Mendadak terdengar bunyi tubuh terpotong.  Seorang prajurit bertubuh besar telah menebaskan pedang dan kapaknya sekaligus, membunuh dua humanoid yang tersisa. Fata melangkah terseok-seok.

"Anak Muda! Tunggu! Jangan pergi! Kami membutuhkan bantuanmu!" seru seorang prajurit.

"Bodo amat!" Fata menjawab dengan teriakan tulus (?). Sekilas dia melihat sesuatu. Bukan, seseorang.

Agak jauh di timur, dia melihat seorang wanita berjubah panjang dengan jenggot lebat. Tunggu, kenapa wanita bisa berjenggot lebat?

"Wakakakakak!" Fata tertawa ngakak sambil terus saja berlari menjauh dari kerumunan prajurit. Wanita itu berbalik pergi dan tak terlihat lagi. Baru saja nyawanya terancam, tapi sekarang malah ada wanita kelebihan hormon maskulin sampai overdosis jenggot.

Bagaimanapun, cengiran Fata tak berlangsung lama, karena mendadak saja seseorang melakukan tendangan lompat ke wajahnya. Si Kribo jatuh mencium pasir.

Sebuah moncong senjata menempel di pipinya. Dilatari langit malam yang dingin, muncul sebuah siluet kelam di atas kepala.


---


3
Rifle


Itulah Sanelia Nur Fiani. Gadis berekspresi datar itu terlihat makin sadis saat menodongnya dengan Gauss Rifle, "Kau."

"Apa?"

"Pengecut."

"Aku pengecut?" Fata masih telentang. Saat itu muncul monster-monster kadal bertentakel yang kelaparan. Mereka langsung menggigit pinggang Sanelia, lalu membelitnya dengan juluran tentakel berlendir dari daerah perut mereka.

Sanelia memukulkan gagang senjatanya ke rahang monster kadal yang mencaplok pinggangnya. Segera setelahnya, sebuah peluru tajam dari mulut Rifle itu menembus pelipis monster kadal kedua hingga menggelepar lalu mati.

Sementara dalam posisi rebah, Fata menendangkan sepatunya hingga mengenai mata monster kadal yang lain, lalu menarik salah satu tentakelnya kuat-kuat hingga putus. Tentakel lainnya dia sumpalkan ke dalam mulut kadal yang lain, hingga beberapa monster itu saling terbelit semrawut.

"Lindungi kedua Ksatria Utusan!"

Para prajurit ikut membantu. Dengan cekatan mereka membunuh empat belas monster kadal yang tersisa, dan menakuti para humanoid merayap dengan cara mengayun-ayunkan pedang mereka.

Si Kribo hendak bangun, namun dahinya kembali ditekan oleh moncong Rifle milik gadis rambut biru.

"Ada masalah apaan sih?"

"Kau kabur."

"Apa?"

"Tak melindungiku. Tadi."

Saat itu Fata mengerti. Gadis ini kesal karena Fata sempat meninggalkannya begitu saja dalam situasi penyerbuan monster.

"Aku nggak kenal kamu. Apa urusannya mesti lindungin kamu?"

Gadis itu menunjuk wajahnya sendiri, "Wanita," kemudian menunjuk wajah Fata, "Laki-laki."

Fata langsung tersenyum mengejek, "Pelacur."

"Apa?" wajah si gadis tampak mengeras, alis dan sudut matanya menyentak marah.

"Kamu ngarep semua laki-laki lindungin kamu cuma karena kamu cewek. Tapi, minta perlindungannya pake ngancem. Cewek yang nganggap dirinya selalu perlu dilayanin dan standar moralnya nggak jelas itu, nggak guna sebagai manusia. Cocoknya jadi pelacur."

Teriakan para prajurit masih bergema, bintang-bintang masih bertebaran, tapi ketegangan antara dua orang itu seperti meredam semua yang lain.

Tiga.

Fata membelalak.

Dua.

Suara hitungan mundur samar itu, berasal dari Gauss Rifle milik sang gadis. Senjata elektrik itu berbicara dengan perkataan yang tak dapat didengar siapapun selain Fata. Karena Fata dapat mengkomprehensi suara jiwa setiap teknologi itu sendiri.

Satu.

Gadis itu menekan pelatuknya. Tapi berkat perolehan informasi hitungan mundur itu, Fata sudah berguling setengah detik lebih awal, lalu menendang keras punggung tangan kiri sang gadis.

"Ukh!"

Gauss Riflenya terlepas. Mulut gadis itu terbuka, matanya membulat kaget...

Dua kali putaran horizontal.

Tangan Si Kribo menangkap Gauss Rifle di udara. Kasar namun ritmenya penuh ketepatan, jemarinya melalui gagang serta celah pelatuk, seolah senjata itu sejak awal adalah miliknya. Dalam dua hitungan saja, moncong Rifle itu telah menyusup ke balik rok mini hitam gadis itu...hingga menempel pada area selangkangannya.

Wajah perempuan itu kini memucat, "Apa...?"

"Nggak ada yang peduli kalau kamu kubikin cacat seumur hidup." suara Fata sesengit tatapannya, "Kamu masih mau jadi pelacur, Perempuan?"

Kini gadis penembak jitu bernama Sanelia Nur Fiani, tidak berkutik. Pertarungan jarak dekat bukan keahliannya. Apalagi pemuda ini seakan mampu menebak ke mana senjatanya akan bergerak. Dan tatapannya yang liar itu...

"Kau tak ragu-ragu, bila harus membunuh." gumam Sanelia.

"Makanya jangan main ancam," sahut Fata, masih mendesakkan Gauss Rifle tepat di bibir kemaluan gadis itu, tak ragu untuk menerobosnya dengan peluru. Tangan Sanelia gemetar.


---


Fata melakukan gerak mengokang-sentak ke arah tertentu. Tangannya mengutak-atik selongsong, mengelupas beberapa bagian gagang untuk kemudian melilitkan beberapa serat karbon sepanjang interior Rifle.

Memutar batang senjata, dia menyusun komponen ungkit, pegas, juga aliran arus pendek tambahan. Sesaat kemudian dari batang Rifle muncul seberkas sinar kecil menyelubungi dan memetakan area seluruh wajah dan tubuh Fata. Gadis pemilik senjata itu pun tak mengerti. Sedang apa Si Kribo berkulit coklat ini?

Setelah itu, Fata melepaskan bidikannya. Gauss Rifle sengaja dia jatuhkan ke permukaan pasir di depan sepatunya.

"Ambil." ujar Fata pongah. Sanelia menatap pria itu dengan dendam. Sang gadis terpaksa berlutut saat mengambil senjata tersebut.

Gadis itu mengepal kuat-kuat, harga dirinya sedang dicoreng terang-terangan. Matanya mulai berkaca-kaca. Diam-diam dia bersumpah, untuk membunuh pemuda kribo ini dengan siksaan yang menyakitkan, suatu hari nanti.

Tapi perseteruan dua orang itu harus terhenti, saat mereka melihat para prajurit yang terus. Nyatanya mereka semua tengah berbaris melingkar di sekeliling Fata dan Sanelia. Pantaslah sedari tadi tak ada monster yang mendekat.

"Ngapain kalian repot-repot bikin perlindungan buat kami?" Fata bertanya, malah curiga dengan perbuatan baik para prajurit.

"Karena kalian adalah...Utusan Tamon Ruu, yang ada dalam ramalan pertapa, yang akan menyelamatkan kami semua."

"Tolol. Ngomong aja udah kayak ngibul, nggak ada dasarnya." Si Kribo bercerocos tidak peduli. Tapi kemudian...

Terdengar suara menggemuruh luar biasa. Bumi Alforea berguncang. Di hadapan mereka, para prajurit terhenti.

Para monster melolong, mengaum, menjerit sejadi-jadinya ke arah bulan bernama Alkima.

"...Retak?" kata itu meluncur lolos dari mulut Sanelia kala gadis itu berusaha melihat jauh ke arah kontur rembulan di atas sana. Fata tersentak, dia pun menengadah.

Awalnya Si Kribo hanya melihat bulan purnama bulat biasa. Namun pupil mata Sanelia memiliki akomodasi lensa spesial. Dia dapat melihat lebih jauh dan detil dari manusia biasa seperti Fata.

Dua detik kemudian, barulah sebuah retakan tampak bagi Si Kribo. Pemuda itu pun menoleh pada Sanelia,

"...Kau tak berbohong..."

"Tidak..." jawab Sanelia singkat, masih menengadah.

Beberapa saat kemudian, dilatari suara lolongan para monster yang semakin berirama seakan sedang menyambut sesuatu, gadis berambut biru itu berucap lagi. Pelan sekali, nyaris tak terdengar,

"Surai...?"


----


4
Sembrani


Zaman dahulu kala, hiduplah dua sahabat. Yang pertama dalah seorang perempuan yang semurni embun. Yang kedua adalah seekor kuda yang kekuatannya membuat gentar prajurit mana pun. Mereka saling melindungi dan melengkapi.

Meski sang kuda tak mampu berbicara layaknya manusia, namun dia sangat mengerti keinginan sang gadis.

Dia menemani sang gadis setiap kali tidak mau makan, sakit, atau kesepian. Kuda itu, dengan giginya, menangkupkan selimut ke tubuh gadis itu saat kedinginan waktu malam.

Ketika perang besar terjadi, tak satu senjata pun yang mampu menggores tubuh sang gadis. Semua yang berani mendekatinya akan lumat oleh kuda penjaga yang berdiri lebih tegar dari sebuah benteng.

Namun kekuatan kuda mistik itu terlalu besar. Meski dia tak pernah melukai atau membunuh selain untuk melindungi sang gadis, berbagai desas-desus dan kisah para penyair telah menjadikan makhluk itu sebagai momok menakutkan di seluruh negeri. Karena itu, para raja membujuk sang gadis agar menyegel sahabatnya sendiri dengan sihir khusus yang dia miliki.

Kesedihan melanda mereka berdua. Namun kuda itu merasa, mungkin ini yang terbaik. Mungkin dia tak seharusnya bergaul bersama manusia. Maka kuda tersebut meninggalkan tanah Alforea, untuk bermukim di tanah yang jauh di angkasa.

Dan gadis itu mengubah kastilnya menjadi monumen. Di samping kastil, dibangunnya dua menara kristal sihir. Monumen dan menara kembar itu akan menjadi tempat pertemuan mereka berdua di tanah Alforea, setiap delapan windu berselang.

Namun suatu ketika, seorang penyihir jahat menjajah kastil yang telah ditinggalkan. Dia merapal kutukan gelap yang sangat kuat. Melalui sihir itu, dia mengendapkan prana negatif pada kedua menara untuk mencoba mengendalikan jiwa sang kuda mistik.

Kesalahan inkantasi terjadi, penyihir gelap itu mengalami efek samping fatal dari mantranya sendiri, dan mati mengenaskan dalam kastil. Menara Kembar mengirimkan energi sihir jiwa yang kacau, memicu timbulnya kegilaan absolut dari sang kuda sembrani di dalam relung bulan Alkima.

Bertahun-tahun berlalu. Seorang penyihir lain bermukim di kastil tak berpenghuni tersebut. Sejak saat itu, muncullah monster-monster dari dalam kastil tersebut tanpa ada habisnya.

Beberapa pencerita melaporkan bahwa sang penyihir telah memanggil para monster dengan mantra, untuk menambah energi sihir gelap pada Menara Kristal. Apa tujuannya, semua kalangan hanya dapat berspekulasi.


---


"Kamu ini sedang cerita tentang dongeng apa...?" Fata memicingkan mata mendengar penuturan prajurit itu. Namun perhatiannya teralihkan oleh teriakan Sanelia yang ada di sampingnya.

"Lihat!!"

Terdengar suara bagai ledakan seratus bom atom. Fata menganga menyaksikan kejadian mustahil di langit: sepasang ladam kuda berukuran gigantik baru saja melakukan tapakan dahsyat yang membelah bulan menjadi dua.

"Ku-kuda sembrani dalam legenda itu akhirnya muncul...dari dalam relung Alkima..." seru seorang prajurit dengan suara lirih, membuat Sanelia dan Fata terhenyak.

"Maksudmu...ceritamu dari tadi itu--" tenggorokan Fata kelu.

Karena ketika itu, siluet seekor kuda raksasa menggelapkan langit Alforea. Sosok kuda itu melayang, penuh kekelaman yang anggun. Sebuah tanduk besar terpancang di tengah dahinya. Seluruh tubuhnya yang setinggi menara itu bagaikan terbuat dari giok hitam, surai serta sepasang sayapnya adalah api hijau membara!

"Dia...Tamon Rah !!!"


---


Keadaan berubah drastis. Para prajurit langsung mengambil langkah seribu, meloncat terbirit-birit dengan komikal. Sanelia masih juga melongo saat melihat langit, merasakan ketakutan yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Di masa lalunya, gadis itu pernah disiksa oleh seorang penguasa lalim. Berbagai  intrik dan perang dilaluinya, hingga pada akhirnya dia dapat membunuh sang penguasa. Sang penguasa, yang juga merupakan ayah kandungnya sendiri.

Namun entitas asing yang mistik ini sangat berbeda. Saat kuda itu mendarat, ladam kakinya sontak mengubah puluhan prajurit beserta monster menjadi berkuintal-kuintal pecahan daging. Darah menggenang dalam permukaan pasir, menandakan betapa tak berdayanya mereka semua di hadapan Sang Sembrani Iblis yang perkasa.

Tamon Rah kembali mengudara, seperti hendak memberi para makhluk kecil di bawah sana sebuah ilusi tentang harapan. Matanya yang hijau zamrud tak lepas dari padang pasir berbatu. Kemudian dia...

"RrrRAAAAHH!!"

Ringkikan maut itu seolah menempati puluhan jenis frekuensi sekaligus. Para prajurit menutup telinga. Beberapa anggota pasukan dan para monster langsung terjatuh dengan gendang telinga koyak.

Tamon Rah kembali menukik ke daratan. Lingkaran magis bermunculan dari sepasang sayapnya, lalu dari mereka muncullah hujan meteor mematikan.

"AAAAAAAaaaaaaa---"

Ratusan meter area gurun pasir berubah menjadi kobaran api hijau. Nyaris semua makhluk di area hujan meteor hijau bahkan mati tanpa sempat menjerit.

Moral para pasukan langsung turun drastis. Namun kerumunan monster semakin beringas dan seperti berpesta-pora saat membunuhi para prajurit Alforea. Mereka seperti bangga, bahkan, ketika sebagian kawanan mereka ikut terinjak oleh Tamon Rah yang tak peduli kawan atau lawan. Seolah menjadi bubur daging akibat entitas raksasa itu adalah sebuah kehormatan tiada tara.

Sembrani Iblis melirik ke arah Si Rambut Biru. Lutut Sanelia tak mampu bergerak, terlebih ketika makhluk demonik itu berlari semakin dekat ke arahnya. Derapan kaki kuda raksasa tersebut bagai gempa kecil yang terus-menerus melanda Alforea.

Maka apalah daya seorang penembak jitu, di hadapan satwa yang dapat melubangi daratan bulan hingga bekas hancurnya masih terlihat dari planet Alforea?

"Aaaaaaaa!" Sanelia tak tahan lagi. Di ambang kematian, gadis itu menjerit sekuat tenaga.

Namun saat itu...

"Lindungi!" seseorang berteriak.

Sesosok tikus bersirip sebesar manusia mendadak muncul menghadang langkah Tamon Rah. Disusul tiga, lalu lima lagi tikus bersirip lain. Mereka membentuk formasi setengah lingkaran sepuluh meter di depan Sanelia.

Tentu saja itu tak ada artinya bagi Sang Sembrani Iblis. Dalam dua detik saja, semua makhluk itu sudah jadi tumpukan arang tersapu jalur api di bawah kaki Tamon Rah.

Namun, dua detik sudah cukup.

"Jemput! Jemput!" ujar suara familiar itu lagi, panik dan seperti sesak. Dan Sanelia melihat pemilik suara itu mendatanginya dengan cepat. Dari udara, dilatari langit berbintang dan bulan yang keropos, sesosok manusia tengah menunggang seekor burung hantu raksasa.

"Fa...ta...!!" Gadis penembak jitu itu menahan napas,  menyadari bahwa penolongnya adalah pemuda kribo yang dibencinya. Pinggangnya disergap kasar oleh lelaki itu dalam momentum laju burung hantu. Dia merasa seperti akan muntah ketika Fata memanggulnya di bahu, saat lansekap padang gurun semakin mengecil dalam pandangannya.

Sang burung malam mengepak semakin tinggi. Sementara di bawah sana, Tamon Rah yang terus melaju dan membuat jejak api hijau raksasa sepanjang gurun. Makhluk itu menghancurkan barisan prajurit, monster, siapa pun, bagai menginjak semut.

Tapi, semua yang dilakukan oleh kuda ini, bukan keinginannya sendiri. Tamon Rah tak tahu lagi apa yang harus dilakukannya, untuk meredam nafsu membunuh yang tengah meracuninya secara tak wajar.

Namun dia tahu, ini semua adalah akibat pengaruh sihir gelap menara kristal kembar. Melalui mata itu, Sembrani bertubuh hitam itu melihat semua kehancuran yang diciptakannya sendiri. Tanpa bisa menghentikan.

Dalam hatinya, Tamon Ruu ingin menangis.


---


5
Sinyal


"Apa?" Sanelia bertanya ketus. Di pelosok timur padang gurun yang dipenuhi batu besar, sorot matanya jelas ingin merobek-robek lelaki di depannya.

"Dengar," Fata berujar, "Kamu marah-marah nggak jelas. Aku sebut kamu pelacur. Kamu nodong pakai Rifle. Kutodong balik pakai Rifle punya kamu sendiri."

"Lalu?" Sang gadis mengacungkan Rifle miliknya kembali ke depan wajah pemuda keriting itu. Kali ini, dia tak segan lagi. Ditekannya pelatuk itu.

Fata sama sekali tak berusaha menghindar, "Kayaknya, mending kita nggak usah berantem dulu."

Tak ada peluru yang keluar.

Dahi sang penembak jitu berkerut heran. Ditekannya pelatuk sekali lagi, dua kali lagi. Diperiksanya jumlah peluru dalam badan senjata. Masih banyak. Lalu kenapa...

"Program pemindaian struktur wajah serta biometri tubuh. Aku sudah memprogram Rifle itu," Fata menjelaskan dengan ringkas, "Sehingga nggak bisa menembakkan peluru...kalau kamu membidikku."

Sanelia kesal bukan main. Ditamparnya Fata kuat-kuat. Sudut mulut lelaki itu berdarah.

"Sudah puas?" Si Kribo menyeka mulutnya, "Aku butuh bantuan kamu."

"Kenapa?"

"Kalau nggak kerjasama, kita nggak bakal bisa mengalahkan Tamon Rah."

"Biar!" Sanelia menantang lagi. Tapi diam-diam gadis itu mengakuinya. Dia adalah penembak jitu. Dan dia tahu, peluru macam apa pun tak bisa mengalahkan makhluk itu. Yang dapat dilakukannya hanya menunggu mati. Tapi lelaki berkulit gelap ini, mungkin punya strategi.

"Menara," kata si gadis pada akhirnya.

"Menara? Maksud kamu, menara sihir kembar yang ada di cerita cewek jenggotan itu?" tanya Fata, "Yang bikin Tamon Rah kesurupan? Menara itu beneran ada?"

Sanelia mengangguk lalu menunjuk ke satu arah, "Lokasinya."

Fata melongo. Si Kribo itu memelototkan mata sebesar-besarnya untuk melihat arah yang dimaksud. Tapi tak ada apa pun selain padang gurun.

"Binokular," kata sang gadis sambil menunjuk matanya sendiri. Fata baru memperhatikan, struktur iris dan pupil gadis itu bagai mata kucing yang menangkap cahaya dalam jumlah besar.

"Binokular...Ah! Mata kamu seperti binokular? Kamu bisa ngeliat jauh banget?" Fata akhirnya menyadari. Bila menara kembar itu benar-benar ada serta menjadi penyebab gilanya Tamon Rah, berarti...

"Di arah mana menara itu? Lurus ke sana?"

Gadis itu mengangguk sambil tetap menunjuk, "Lurus."

"Sip. Berarti, Sanelia...aku butuh bantuan kamu."


---


Pasukan Alforea masih kocar-kacir. Pasukan monster pun terbantai di mana-mana. Meski Tamon Ruu sudah menjauh, jejak api hijaunya tak padam oleh apa pun. Hal yang sama terjadi pada pasukan di zona barat padang gurun. Tapi kemudian salah seorang prajurit menyadari sesuatu.

"Lihat! Ada remaja yang menaiki kucing besar!" seru prajurit itu kaget dan heran.

"Dia adalah...salah satu utusan Tamon Ruu!"

Perkataan mereka tepat. Angin menderu-deru di wajah Sanelia, saat dia menunggang seekor monster berbentuk macan yang seluruh tubuhnya tanpa bulu namun justru bersisik bagai ular. Macan bersisik itu berlari cepat menyusuri bukit pasir yang mulai melandai. Dia mengingat, percakapannya dengan Fata.

---

"Kau tahu tentang aksi potensial? Aliran listrik di otot sama saraf yang mengatur pergerakan, perilaku, perasaan makhluk hidup?"

"Perilaku."

"Benar. Impuls elektrik saraf, bisa mempengaruhi perasaan dan perilaku manusia. Kau sadar bahwa kita mungkin berasal dari negara bahkan planet yang berbeda, namun dapat saling mengerti?"

"...Ya."

---

"Hendak ke mana dia!?" tanya prajurit lain.

"Lihat baik-baik!" komandannya menjawab, "Gadis itu menuju ke arah Kastil Kelam dan Menara Kembar!"

"Dia...maju seorang diri?"

---

"Nah. Di pelataran istana Alforea,  aku nemuin alat itu, salah satu sirkuit penerjemah bahasa universal. Bentuknya kayak radio, tapi sebesar batu kerikil."

"Maksudmu...?"

"Dengan panel sentuh yang berisi undangan ke Alforea, plus komponen sederhana yang kutemukan di sana-sini, aku sudah bikin tiruan sirkuit penerjemah itu. Tapi kuutak-atik lagi, kumodif jadi manipulator impuls saraf berbasis bahasa."

"???"

"Sinyal suara dan bahasa dariku, atau siapa aja yang pakai alat ini, bakal ditransformasi jadi gelombang khusus yang mampu memberi pengaruh ke kadar dan pola sinyal saraf di tubuh monster-monster yang mendengar."

"Hipnotis?"

"Semacam itu. Kayaknya manusia dan makhluk cerdas mah nggak bakal terpengaruh, soalnya otaknya lebih rumit. Tapi organisme yang kecerdasannya lebih rendah, secara hipotesis bakal nurut sama perintah sederhana. Makanya aku tadi bisa nunggang burung hantu, kan."


---


"NyraaaahHH!" belasan makhluk ganas berbentuk prajurit tulang belulang menghadangnya dengan menggenggam kapak jagal menyeramkan.

"Hindar..." Sanelia bergumam. Di lehernya melingkar semacam gelang leher dengan chip persegi. Seakan memahami perkataan sang gadis, macan bersisik melakukan lompatan ke samping untuk kemudian kembali melaju. Sabetan kapak para prajurit tulang tak mengenai sasaran.

Bahkan dengan cepat, sang gadis membidik ke belakang. Gauss Rifle meletuskan peluru tiga kali berturut-turut dengan energi elektromagnetik, membuat ledakan tepat di kepala tiga monster tulang. Ketiga makhluk itu langsung terpental ke balik pasir dan tak bergerak lagi.

---

"Bahannya cukup buat dua. Nih, satu. Kamu bisa pakai di leher kayak kalung."

"...Untukku?"

"Ingat. Perintah sederhana. Kalau kamu nyuruh ayam atau ikan supaya gerakin sayapnya, mereka nggak bakal nurut. Soalnya simpel, mereka nggak punya sayap."

"Oh..."

"Atur volume suara. Kalau kamu bisik-bisik, cuma binatang atau monster yang denger aja yang bakal kena pengaruh. Kalau kamu teriak, makin banyak yang terpengaruh."

---

Para prajurit tercengang melihat aksi sang gadis penembak yang begitu hebat. Puluhan manusia setengah kelelawar mulai terusik oleh sang penunggang macan yang terus maju. Belasan di antaranya mulai menukik sambil memamerkan deret gigi tajam dan pekikan melengking. Namun betapa kagetnya para prajurit ketika gadis itu berteriak sekencang-kencangnya,

"Satu sayap ke belakang!!!"

Akibat alat di lehernya, gelombang suara Sanelia mengalami perubahan menjadi sinyal elektrokimiawi di aliran saraf para monster. Seolah terkena pengaruh sihir, semua manusia kelelawar melipat sebelah sayap mereka ke belakang sejauh-jauhnya. Masing-masing mereka langsung oleng di udara, saling bertabrakan serta terbentur satu sama lain.

"Apa!?"

"Kekuatan apa yang dimiliki gadis itu?!"

Akibatnya bisa diduga, semua monster terbang itu langsung berjatuhan ke gurun pasir. Maka para prajurit tak perlu menunggu lama.

"Serang! Serang para monster yang jatuh!"

"Ramalan itu...akankah menjadi kenyataan...?"

"Bentuk unit pengawalan! Susul dan lindungi Ksatria Utusan Ratu Tamon Ruu!"

"Kirimkan utusan ke pasukan induk agar mengirimkan bantuan untuk kita!"

"Tapi dari Kastil Kelam itulah justru pusat sarang para monster! Mengirim begitu banyak prajurit ke sana...bukankah itu misi bunuh diri?"

"Tak ada yang sia-sia dari sebuah perjuangan!" begitu kata sang komandan prajurit. Sang bawahan pun terdiam. Mereka sudah punya pengalaman yang terasah. Namun ketika kematian menjelang, butuh suatu keyakinan untuk bersandar.

Mungkin, ramalan itu, tentang kedatangan dua Utusan Tamon Ruu yang akan memusnahkan Kastil Kelam dan Menara Kembar, adalah sesuatu yang sedang mereka butuhkan selama ini. Bukan karena memiliki kebenaran yang pasti, namun sebagai sebuah pemantik gairah yang hampir padam. Yaitu gairah untuk bertahan hidup.

"Menara Kembar, akan kita hancurkan!"

Dengan itu, para prajurit Alforea berteriak sambil mengangkat senjata. Mereka menyusul gadis penunggang macan yang terus menjatuhkan monster dengan akurasi tembakannya.

"Tubuh gadis itu mengeluarkan debu berkilauan! Ikuti kilauan itu! Jangan sampai formasi kita goyah!"

Di depan sana, si gadis penembak jitu memacu tunggangannya. Dia tersenyum sekaligus kesal. Sang gadis tahu bahwa saat ini, seorang lelaki berjambul keriting tengah mengumpankan diri ke jurang kematian.

Lelaki itu bermain di balik layar. Melalui kreasi teknologinya, pemuda bernama Fata tersebut telah mampu menundukkan para monster untuk Sanelia, bahkan tanpa berada di sana.

Dan Si Kribo itu akan berkorban, agar Sanelia dapat menghancurkan menara kristal kembar di ujung gurun ini. Agar mereka memperoleh kemenangan.


---

6
Komando


Tamon Rah melangkah. Berbagai jenis monster kocar-kacir di sekitar kakinya yang bagai pilar hitam menjulang. Tak jauh dari sana, para prajurit pasukan induk membuat formasi segi lima dengan jumlah mereka yang tersisa.

Jika mereka terbunuh saat ini, setidaknya itu akan mengulur waktu bagi para penduduk sipil kota-kota lainnya untuk pergi ke pelosok terjauh Alforea. Namun jika mereka lari, takkan ada yang menahan Sang Sembrani Iblis.

Ketika keadaan semakin genting itulah, terdengar suara dengingan keras luar biasa yang menggema ke setiap sudut padang pasir.

Sang makhluk demonik menoleh, terganggu oleh suara yang terlalu keras secara tak wajar. Seorang pemuda berdiri di atas tebing. Lengan kemeja putihnya digulung hingga siku. Rambutnya yang keriting terbawa angin, menyembunyikan sebagian matanya yang menatap tajam.

Di lehernya terpasang chip persegi. Itu adalah manipulator perilaku yang berbeda dari yang diberikannya untuk Sanelia. Memiliki waktu untuk berpikir sambil menunggang burung hantu, pemuda itu berhasil melakukan modifikasi tambahan pada chip miliknya.

Chip pemberi sugesti sinyal saraf itu kini juga merupakan mikrofon. Dengan mengamplifikasi volume suaranya sampai ribuan kali lipat, Fata membentakkan sugesti penakluk ke seluruh padang gurun.

"Turuti aku!!"

Mekanisme biotransmisi dari alat yang Fata ciptakan, telah mengubah suaranya menjadi perintah elektrokimiawi untuk makhluk berintelegensi rendah. Sugesti awal tersebut telah membuka penerimaan insting binatang semua satwa serta monster yang ada di tempat itu.

Semuanya, kecuali Sembrani Iblis yang ada dalam pengaruh sihir Menara Kembar.

Ketika bintang berkelip redup, awan gelap menutup langit, maka dimulailah. Kepada seluruh satwa yang telah tunduk, pemuda itu meneriakkan perintah sesungguhnya:

"Bunuh! Tamon Rah!!"


---


Tatapan para monster berubah. Sinyal-sinyal komando mengalir dengan pasti dalam otak, sumsum tulang belakang, dan sistem ganglia saraf. Perintah itu terlalu sederhana. Bunuh. Tak ada penafsiran lain. Semua satwa langsung bergerak mencari cara membunuh makhluk besar ini, sesuai insting dan kebiasaan yang telah mereka lakukan setiap harinya.

Para monster landak berlari secepat-cepatnya, kemudian membenturkan tubuh mereka yang berduri tajam ke kaki depan Tamon Rah. Beberapa duri sepanjang pedang mampu menembus daging sang satwa raksasa, memberikan luka ringan. Namun sebagian besar duri justru berpatahan saat membentur kerasnya kulit dari makhluk yang menjadi sasaran mereka.

Tamon Rah mengangkat kakinya yang tertikam, melakukan ancang-ancang injakan.

"Kabur!!" komando Fata bergaung membelah malam. Pasukan landak langsung kabur ke berbagai arah, sejauh-jauhnya sambil menguik-nguik. Si Kribo berlari menuruni tebing, menaiki punggung burung hantu besar sambil membisikkan perintah terbang. Burung malam itu mengepakkan sayap nyaris tanpa suara, dan meluncur halus.

Tapakan Tamon Rah membuat badai api hijau. Angin panas mementalkan para landak, untungnya hanya delapan ekor yang mati hangus. Saat itu Fata sudah mendekat dengan penerbangan burung hantu yang digunakannya.

Dia kembali memekik, "Bunuh Tamon Rah!!"

"Nyiiiii!!"

"Krrkrrrukuktttrrrr!"

Barisan monster kelabang berkepala dua merespon sinyal perintah primitif. Mereka menyerbu sang entitas demonik dari bukit sebelah kiri dan kanan, mengambil rute memutar kemudian berkerumun naik sepanjang tungkai belakang kuda iblis.

Hawa panas dari sayap sang raksasa menjatuhkan lima sampai sepuluh dari mereka, namun yang tersisa segera membenamkan capit-capit beracun ke panggul Tamon Rah. Awalnya sang raksasa hanya merasa seperti digelitik, namun lama-kelamaan berlanjut menjadi sensasi perih seperti diiris-iris.

"SsssshhHhHHAaarll!"

Pasukan manusia berkepala kobra biru segera menjadi gelombang serangan tambahan. Dari jarak sepuluh tombak, mereka berlarian menyebar sambil membuka rahang lebar-lebar. Semburan racun asam mematikan bagaikan rentetan tembakan air mancur mendidih yang mulai melelehkan kulit pinggang Sang Sembrani Iblis.

Melihatnya, semangat para prajurit Alforea mulai bangkit.

"Komandan..."

"Monster-monster itu...semuanya tunduk pada perintah bocah keriting itu!"

Tiba-tiba prajurit yang barusan mengucapkan kata "bocah" dibetot oleh sesuatu. Tubuhnya terangkat jauh kehilangan pijakan.

"Aaaahhh! Tidaaaak! Tidaaaak! Mamiiii!"

Cakar burung hantu raksasa tunggangan Fata telah membawa prajurit itu sepuluh meter ke udara! Dari atas punggung tunggangannya itu, Si Kribo menginjak kepala prajurit itu dengan ringan seperti menginjak pedal sepeda, "Lu sok asik banget nyebut gue bocah."

Perubahan sikap prajurit itu langsung terlihat, "Tidaaak! Maafkan saya! Maafkan saya, Ksatria Utusan Tamon Ruu!"

"Bagus," Fata menurunkan si prajurit, kemudian terbang lagi. Anggota pasukan lainnya langsung sok serius.

"Ehm-ehem. Ber-berarti lawan yang harus kita tumbangkan...tinggal satu!"

"Hanya karena satu boc-pemuda itu...seluruh situasi telah berbalik. Kita ada di atas angin!"

Komandannya langsung menjawab keras.

""Bodoh!! Selama empat tahun ini, kita hanya menghadapi serbuan monster. Sekarang, satu musuh yang kita harus kalahkan, jauh lebih tangguh dari semua monster itu digabung menjadi satu! Situasi perang lebih genting dibanding yang sudah-sudah!"

"Mak-maksudku bukan--"

"Malam ini, Sembrani Iblis telah turun. Namun dengan itu pula, Ksatria Utusan Tamon Ruu datang bersama cahaya penyelamat! Inilah keseimbangan antara kejahatan dan kebaikan!"

"Berarti...ya! Keadaan hanya akan berbalik..."

"...Bila Tamon Rah dikalahkan!"

"Ya! Demi Alforea!"

"Demi Alforeaaaa!!"

Mereka semua berkoordinasi untuk mengalahkan kuda raksasa itu. Empat divisi melepaskan panah-panah ke udara. Tamon Rah melirik dan mengayunkan sayapnya melingkar, menimbulkan perisai api raksasa yang menghanguskan semua anak panah.

"Teruskan! Pasukan sihir, eksekusi!" seorang komandan tua berseru sambil berlari ke arah Tamon Rah. Unit-unit prajurit lain melepaskan tembakan dari tongkat serta senapan sihir. Peluru-peluru magis  menembus tubuh Tamon Rah, membuat ledakan beruntun yang sedikit banyak mampu melukainya.

Melihat ini, Fata menambah kloter serbuan.

"Bunuh Tamon Rah!!"

Semburan racun dari pasukan manusia kobra, tandukan keras dari para minotaur, juga para kelabang yang mencoba masuk ke dalam daging Sembrani Iblis, membuat malam bertambah panas dengan peperangan dan percikan darah.

Sembrani Iblis memunculkan lingkaran magis. Fata tahu pola lingkaran itu, sebuah pertanda bahwa sepasang sayapnya akan memunculkan hujan meteor raksasa.

"Sembunyi di bawah perut Tamon Rah!!"

Sinyal perintah Fata mempengaruhi saraf dan kemauan para monster. Pasukan macan bersisik segera berlari ke dataran pasir di bawah abdomen sang kuda penghancur. Disusul pasukan landak yang bergerak lebih lambat, humanoid merayap bermuka lubang mulut...

Namun pasukan kelabang lebih naas, karena hampir semuanya terlanjur bercokol di atas punggung Tamon Rah.

"RRAAAAHH!" Hujan meteor raksasa membabi-buta. Langit berubah rona menjadi hijau emerald yang membawa kematian. Sebagian besar monster menjadi arang tanpa sempat bersuara. Tapi sebagian lainnya telah berlindung di balik perut Tamon Rah, sehingga hujan meteor tak mengenai tubuh mereka.

Dan pemuda berjambul keriting yang memanipulasi mereka, menyerukan lagi komando ofensif.

"Bunuh Tamon Rah!!"

Semua monster yang tersisa melihat ke atas kepala mereka. Ke arah perut Tamon Rah yang terbuka.

"Kriaaaaajjj!"

"Rooooaaahhrrr!"

"MoooOGggrm!!"

Pasukan monster landak menembakkan duri-duri mereka ke permukaan perut makhluk masif bersayap api itu.  Para manusia kepala kobra tak lagi menyemburkan bisa namun langsung menggigit kulit tungkai bawah Tamon Rah, menginjeksikan setiap tetes toksin yang mereka punya langsung ke dalam tubuh si kuda raksasa.

Fata memerintahkan burung hantunya mengambil jarak aman. Matanya menyapu padang gurun, melihat ke kanan-kiri, memantau pergerakan para prajurit, menyesuaikan serangan para monster agar membentuk rantai serangan yang bersambungan satu sama lain.

Dan dia menunggu sesuatu yang tak kunjung datang.

Belum juga, Pelacur?


---

7
Menara Kembar


Gadis bernama Sanelia menunggangi macan bersisik yang melaju. Halangan demi halangan telah dilewatinya. Kastil telah semakin dekat, kurang dari satu mil.

Setengah mil. Lima ratus meter.

Kastil dan Menara Kembar, ada di depan mata!

Mendadak si macan tunggangan menggeram lemah. Makhluk ini sudah mencapai batasnya. Baru saja sang gadis hendak turun dari punggung kucing besar itu...

Belasan monster setinggi pohon bermunculan dari pasir, salah satunya mencengkeram macan tunggangan Sanelia. dengan tangannya yang bercabang seperti ranting.

"Merunduk!" Sanelia berteriak dengan pengaruh chip manipulator perilaku. Pengaruhnya terasa ke monster garis terdepan yang langsung merunduk. Tapi perkiraan gadis itu salah. Monster itu merunduk namun masih terus mencengkeram si kucing besar. Maka macan bersisik pun terguling-guling.

Sang penembak jitu lebih cepat mengembalikan posisi tubuh meski sempat menubruk gundukan pasir. Dia lekas menstabilkan pijakannya dan,

"Huff!"

Gauss Rifle meletuskan peluru.  Tangan ranting monster itu putus dalam suara tembus nyaring. Mendadak Menara Kembar mengeluarkan tembakan cahaya sihir mengincar Sanelia. Gadis itu bergegas lari dan sembunyi di deretan batu pipih tinggi-tinggi, posisi yang strategis untuk mengeksekusi lawan yang berkerumun.

Tembakan sihir luput tipis dari gadis rambut biru, meledak dan melubangi beberapa area gurun. Butiran pasir bertumpuk di rambut Sanelia, di mulutnya, namun dia masih sempat melihat. Seseorang berdiri di depan pintu kastil. Siluet berjubah merah itu mengibaskan tangan, lalu menunjuk seekor satwa tak jauh darinya.

"Tidak!" Sanelia tak mampu mencegah ketika lengan-lengan keras berbentuk ranting melilit macan bersisik yang sejak tadi menjadi kawan seperjalanan gadis tersebut.

Ranting-ranting itu menarik dan mematahkan tungkai si kucing besar satu-persatu. Empat ranting lagi mencekik leher satwa malang itu dengan ganas. Semakin lama semakin kencanglah cekikan itu. Kemudian akhirnya, tembakan sihir dari menara menghantam tubuh si satwa.

"RrraaaaHhrr...!" si kucing besar bersuara sebelum jatuh terkulai, tak lagi bernapas.

Sanelia tak ingin dikuasai kepanikan. Korban jatuh tak dapat dihindarkan, dia sangat tahu hal ini dari masa lalunya. Perempuan itu bergeser maju semakin dekat ke deretan batu kastil yang dipenuhi bekas darah. Berbagai jenis makhluk janggal terus-menerus merangkak, berjalan, merayap keluar dari pintu utama bangunan angker tersebut.

Dan di sisi kiri dan kanan kastil, menara kristal kembar tegak berkilauan merah. Sanelia berlutut dan membidik. Namun kemudian menara kristal melepaskan tembakan sinar sihir bertubi-tubi. Gadis itu membatalkan tembakan dan terpaksa fokus menghindar ke balik bebatuan.

Suara-suara tembakan berhenti. Sanelia tak terdeteksi oleh Menara Kristal. Gadis itu berhasil bersembunyi secara sempurna menggunakan kontur gurun pasir yang bergelombang.

Tak setengah hati lagi, Sanelia memfokuskan energi alam yang terkumpul dalam tubuhnya. Manna, itulah nama energi alam yang terkandung dalam setiap makhluk hidup. Sanelia merupakan keturunan seorang penyihir legenda. Simpanan Manna milik gadis itu bagai sebuah reaktor energi raksasa.

Memusatkan kesadaran serta membuka titik nadinya lebih jauh, gadis itu mengalirkan Manna ke seluruh badan Gauss Rifle miliknya. Senjata itu mulai bersinar terang serta menebarkan debu berkilauan, seperti juga pori-pori kulitnya yang halus dan juga menjadi terang-benderang karena pancaran energi.

"Annunaki..." mata gadis itu fokus pada lensa kamera bidiknya.

"Burst!!!"

Dua ledakan berbentuk pentagram berturut-turut menyinari kegelapan malam. Dua peluru berluapkan energi membelah udara. Belasan monster minotaur melompat bersamaan untuk menahan. Para makhluk pohon membuat perisai ranting yang meliputi zona tembakan.

Namun laju dua peluru tak dapat dimentahkan. Dalam sekejap, tubuh para monster tertembus menjadi deretan lubang menganga. Sepasang peluru terus menerabas hingga menghantam kedua menara kristal dengan suara memekakkan.

Ledakan elektromagnetik terlihat dari jarak ratusan tombak. Bunyi yang ditimbulkannya seakan merobek gendang telinga. Bahkan Kastil Kelam di antara kedua menara sekalipun, perlahan runtuh akibat imbas ledakan yang mematahkan fondasi batunya.

Asap membumbung tinggi, kemudian perlahan mereda. Sanelia terbatuk-batuk. Dia dapat melihat reruntuhan kastil yang tersisa.

Tapi kemudian dia melihat sesuatu.

Menara Kembar tidak hancur. Hanya sinarnya yang meredup. Area luas dekat istana nyaris tak bersuara. Tapi perlahan, empat monster belulang maju. Barisan lintah raksasa maju. Diikuti oleh satwa dan monster lainnya. Mereka mengurung area bebatuan pipih, tempat Sanelia berdiri.

Tapi gadis itu masih punya simpanan. Ditariknya napas dalam-dalam, dan...

"Berhenti !!!"

Dia berteriak  lantang, chip neurotransmitter di lehernya memberikan efek sugesti dahsyat. Para monster langsung terpaku, seolah ada tembok tinggi yang menahan gerakan mereka.

Dalan jeda waktu singkat itu Sanelia harus mengisi kembali energi Manna dalam senjatanya. Dia harus cepat. Dia harus cepat. Sang gadis harus menarik napas dalam, dan---

Tunggu.

Kaki dan tangannya tak dapat digerakkan. Tubuhnya mati rasa. Dia tak bisa bernapas. Energi Manna dalam tubuhnya seakan baru saja tersedot dalam jumlah yang sangat banyak. Apa yang terjadi?

Sedetik kemudian, gadis itu melihat sebuah pisau menembus dadanya sendiri. Darah mengalir seperti cat merah-hitam berkucuran. Kemudian rasa nyeri luar biasa serasa meledak di jantungnya.

"Apa..."

Dari belakangnya, adalah sesosok manusia yang merapal mantra untuk menyedot energi Sanelia sedari tadi. Sosok itu pula yang menusukkan pisau, dan membuat gerakan mengoyak menembus dada Sanelia. Kesadaran Si Penembak Jitu mulai menggelap, namun dia masih sempat menyadari identitas sosok berjubah merah itu.

Sosok yang menyeringai penuh kepuasan ketika menikamnya menuju kematian.

Sosok penyihir wanita berjenggot.


---


8
Rifle (2)


Tamon Rah mulai terpengaruh oleh semua serangan yang melandanya. Gigitan, duri, tanduk,  tendangan, pedang, peluru sihir itu mulai melukainya. Berbagai jenis racun beredar meluas dalam aliran darahnya, membuat geraknya melamban serta membusukkan sel-sel tubuhnya. Sedikit demi sedikit.

Si Kribo terus memberi rantai komando menyerang dan menghindar agar pasukan monsternya bisa seefektif mungkin. Namun ada sesuatu yang aneh. Tadinya para monster yang mati karena Tamon Rah, akan digantikan oleh para monster yang menyerbu dari arah kastil.

Tapi kini, pasukan monster tak lagi datang. Apa yang terjadi? Fata merasa melewatkan sesuatu yang penting, tapi pikirannya buntu. Jumlah bidak miliknya semakin menipis dengan sangat cepat.

Tiga menit, lima menit, tujuh menit...

Belum juga, Pelacur?

Keringat bercucuran di lehernya. Lehernya terasa kering kerontang. Sesungguhnya yang dia lakukan, hanya mengulur waktu. Agar Sanelia dapat menghancurkan Menara Kembar tanpa terbunuh oleh makhluk demonik ini.

Bertambah berang, sang kuda legendaris mulai melayang rendah. Hawa panas menguar semakin menyesakkan dada. Melihat perubahan gelagat Tamon Rah dari udara, Fata langsung panik bukan kepalang.

"Mundur! Mundur!!" dia berseru putus asa. Tapi terlambat. Sembrani Iblis sudah melaju dahsyat, membentuk jalur api berlintasan kurva sepanjang satu setengah kilometer! Ratusan spesies makhluk yang dilewatinya langsung menjadi abu hitam tanpa sempat bereaksi!

Percikan api hijau sebesar minibus terlontar ke arah Fata dan burung hantu yang sedang terbang rendah. Hawa panas membakar kulitnya!

"Mundu--" perintah Si Kribo terputus. Dia segera melompat ke samping, terjun sejauh enam meter. Si burung hantu terbakar musnah di udara. Fata tak ambil pusing. Binatang ya hanya binatang. Tapi dia menyadari kesalahannya.

Tolol! Burung hantu mana bisa terbang mundur!

Permukaan pasir mendekat, angin menggesek telinga dan pipinya, Fata berguling-guling di pasir untuk meminimalisir cidera. Tapi begitu banyak satwa monster yang musnah begitu cepat oleh Tamon Rah. Piikirannya kusut.

Bajingan, jalur api itu! Hampir semua monsternya mati gara-gara reaksi yang lambat!

Perintah "kabur" yang membebaskan mereka untuk memilih metode berbasis insting, lebih efektif dari perintah "mundur" yang hanya merujuk pada satu arah!

Namun di tengah gerakan, sebuah lagi bola api hijau menghampirinya dengan ganas.

"Aaargh!!"

Fata melakukan jejakan berputar sebisanya. Tubuhnya tak imbang. Bola api menyerempet punggungnya, kemudian meledak mengguncangkan udara. Si Kribo terpental jauh dan mendarat dengan benturan teramat keras. Darah terasa naik dari lambungnya dan menggumpal di mulut.

Dalam hatinya dia merutuk,

Laju Tamon Rah terlalu cepat! Sihir apinya terlalu luas!  Respon pemilihan kata perintahku terlalu lambat! Sial, kenapa aku mesti belajar bahasa begini untuk tetap hidup!

Pedang dan tombak bersatu dengan gigi serta semburan toksin, untuk menumbangkan satu target yang sama. Ketika teriakan perang semakin memenuhi udara, tubuh-tubuh prajurit monster yang terbakar semakin banyak.

Tapi konsentrasi Fata tidak goyah. Berdiri belasan bahkan puluhan jam tanpa makan atau tidur saat menciptakan atau menilai kapasitas operasional alat-alat elektronik kecil hingga satelit antariksa, adalah pekerjaannya sehari-hari.

Peperangan ini hanyalah sebuah bentuk tantangan lain untuk konsentrasinya, dalam mengorganisir unit-unit terpisah dalam waktu bersamaan.

Dia terus mensugesti dirinya sendiri. Anggap saja ini sebuah permainan strategi perang. Permainan. Permainan.

Fatanir.

Si Kribo terkejut. Dia menoleh ke kanan-kiri. Dia tahu, suara itu.

Aku, Gauss Rifle milik Sanelia Nur Fiani, berbicara padamu.

Sampai sekarang, Fata tak pernah mengerti bagaimana dia dapat memahami perkataan mesin. Apakah sungguh ada suara dengan frekuensi tertentu yang dilontarkan oleh mesin itu, dan diterima oleh telinganya?

Lalu kenapa penelitiannya tentang fenomena dirinya sendiri ini, tak pernah membuahkan hasil? Kenapa dengan segala fasilitas teknologi yang dia miliki di planet asalnya, tak pernah ada suara yang sanggup dia deteksi dari mesin atau komponen mekanik mana pun yang berbicara padanya?

Peluru magnetik teramplifikasi telah ditembakkan oleh Sanelia.

Fata tersentak. Tentu saja. Tak ada lagi pasukan monster tambahan dari kastil, karena kastil yang melahirkan monster itu sendiri telah dihancurkan.

Maka ini bukan waktunya memikirkan hal itu terlalu jauh. Maka dia pun bertanya dalam pikirannya, tanpa perlu bersuara.

Menaranya bagaimana!?

Jawabannya segera datang.

Satu peluru telah tertanam dalam masing-masing menara kristal.

Fata merasakan kelegaan sejuk, seolah baru saja lepas dari sesak napas dan menerima udara sebanyak-banyaknya. Dia bertanya lagi untuk memastikan,

Titik kritis detonasi akan dicapai dalam...sepuluh detik?

Jawaban yang datang membuat sebuah seringai muncul di mulut pemuda kribo itu.

Sepuluh detik.

---


"Aku adalah keturunan langsung dari Oklazam yang terhormat," ujar penyihir wanita berjenggot itu. Sanelia tak mengenal nama itu, namun sakit di dadanya terlalu parah hingga dia tak dapat berpikir lebih jauh. Sebagian jantungnya koyak.

"Semasa hidupnya, Ayah menciptakan mantra pengendali jiwa demi menundukkan Tamon Rah yang perkasa. Tak disangka, mantranya belum sempurna, menyerang nadinya sendiri sehingga beliau menemui ajal. Namun kini,"

Wanita itu tertawa melengking sambil mengelus jenggotnya yang abnormal, "Malam ini adalah momen energi sihir kristal mencapai puncaknya. Kau menghancurkan kastil yang berisi lingkaran pemanggil kawanan monster milikku? Tak masalah. Akumulasi sugesti sihir Ayah sudah begitu kuat, hingga Tamon Rah tak mampu membendung nafsu membunuhnya dan turun ke Bumi Alforea."

"Lalu..." Sanelia merintih, "Apa?"

"Apa? Yuihihihi!" penyihir itu tertawa lagi, "Tentu saja aku akan menyempurnakan mantra pada Menara Kembar. Tamon Rah akan menjadi peliharaan setiaku!"

"Tidak."

Sanelia menolak. Dia bergidik. Penyihir ini tak boleh berhasil. Terbayang kegilaan apa yang akan terjadi bila seseorang mampu menguasai hewan sekuat itu untuk kepentingannya sendiri. Si penyihir terkekeh,

"Heheh. Heheheheh. Ketahuilah, kau takkan bis--"

BLAAAAARRR

----

Tamon Rah melayang tinggi, mengeluarkan lagi hujan meteor hijau, diikuti dengan gerakan menukik yang membawa aura api luar biasa.

Sembilan.

Delapan.

Tujuh.

Semua monster di area gurun pasir itu mati mengenaskan dalam palung api hijau. Para prajurit hanya tersisa tak lebih dari sepuluh orang.

Enam.

Lima.

Empat.

Kuda legendaris itu terdiam sejenak. Dia seperti merasakan sesuatu. Sebuah firasat, namun entah kenapa bukan firasat buruk.

Tiga.

Dua.

Si Kribo mengubah pengaturan chip manipulator di lehernya. Kini, sinyal biotransmisi telah dimodifikasinya satu tingkat lebih jauh.

Satu.

Tamon Rah menatap sesosok pemuda bernama Fata, dengan sorot mata yang---

Nol.

BLAAAAARRR

---

Ledakan elektromagnetik berbentuk pentagram membumbung tinggi ke angkasa. Kedua menara kristal mengalami kehancuran luar biasa.

"Apa yang terjadi!?" penyihir itu menoleh, matanya mendelik marah pada Sanelia, "Bukankah pelurumu hanya melubangi kristal? Kenapa malah meledak, sialan!"

Sanelia tersenyum. Dia tak punya jawabannya. Namun di sudut lain gurun pasir, Fata mengetahuinya. Dia juga mendengar ledakan itu. Dalam sekejap, tubuh Tamon Rah berguncang hebat meski tak ada serangan yang mengenainya.

Fata tahu. Sejak dia merebut Gauss Rifle dari tangan Sanelia, Si Kribo sudah melakukan pembaharuan sirkuit pada senjata tersebut. Fata telah merotasikan daya elektromagnetik di dalam peluru dalam sebuah orbit kontinu, sehingga tidak lagi sekedar memiliki daya tembus namun juga mengumpulkan energi menjadi daya ledak.

Ya, Fata telah mengubah sepasang peluru Gauss Rifle milik Sanelia, yang telah ditembakkan hingga tertanam dalam kedua menara itu, menjadi sepasang bom waktu.

Menara yang hancur, berarti mengembalikan kesadaran Tamon Rah. Berkomunikasi dengan kesadaran milik Gauss Rifle, Fata hendak memastikan keberhasilan misi ini.

Karena dia tahu bahwa dengan ini, pengaruh sihir dari Menara Kembar terhadap sang kuda legendaris telah anjlok drastis. Dan tiba saatnya bagi chip manipulator perilaku yang terpasang di leher Fata ini, untuk melakukan peran terakhirnya.

"Tamon Rah!!" Fata berseru, "Kau dengar aku!?"


---


9
Sembrani Iblis (2)


"Apa yang-- apa yang kau lakukan?!" seru penyihir penguasa menara, wajahnya merah padam menanggung rasa marah tak terperi. Hanya seorang gadis kecil yang memegang senjata, dan rencananya bisa kacau begini?

Tapi ada yang aneh. Kenapa amukan Tamon Rah tak lagi terdengar? Apakah prajurit kacangan Alforea sanggup menahan amukan Tamon Rah sekaligus pasukan monster yang dipanggilnya?

Sanelia menarik napas panjang. Energi Manna dalam tubuhnya mulai berkumpul, menyembuhkan jantungnya secara magis dalam kilauan redup. Rasa sakitnya berkurang. Inilah kemampuan sihir regenerasi milik Sanelia, yang diwariskan sang mendiang ayah.

Penyihir wanita itu masih berusaha menenangkan diri. Dia menarik napas lega ketika melihat kondisi menara, "Sayang sekali, Penembak Jitu. Menara Kembar dapat menyembuhkan diri sendiri. Untungnya, ledakan peluru sampahmu tadi tak menghancurkan seluruh badan menara."

Tampak dua menara mengumpulkan partikel sihir untuk membangun kembali konstruksinya. Kilauan merah ganas kembali muncul dalam Menara Kembar, menandakan pemulihan fungsinya.

"Maka, hidupmu berakhir di sini."

Habislah sudah, pikir gadis berambut biru. Perubahan apa pun yang telah Fata lakukan pada mekanisme Riflenya tadi, ternyata tak cukup kuat.

Penyihir itu mengangkat lagi pisaunya, bersiap untuk mengakhiri nyawa Sanelia.

Namun--

Sebuah bayangan gigantik menutup langit. Wanita itu menengadah. Hawa panas membuncah. Sesaat kemudian, wajahnya berubah pucat pasi.

"T-ta--"


--


Sinyal suara Fata berubah menjadi sinyal telepatis. Fata memfokuskan keluaran energi chip untuk berkomunikasi dengan pikiran Tamon Rah.

Kau, Manusia.

"Aku memang manusia. Kamu ingat apa dari semua kejadian yang tadi?"

Semuanya. Aku mengingat kemarahanku yang tak beralasan, keinginanku untuk menghancurkan segalanya.

Aku mengingat perbuatanmu memanipulasi para satwa kecil untuk mencoba membunuhku.

"Itu mah kepaksa. Ngapain aku bikin siasat ini-itu kalau kamu nggak ngamuk mau bakar satu planet sampai jadi steik gosong. Aku nggak pernah mencoba membunuh kamu, soalnya nggak bakal sanggup. Itu cuma mengulur waktu sampai rekanku menghancurkan Menara Kembar, dan mengembalikan kesadaranmu."

Jangan lepas tangan. Kau yang merencanakan ledakan itu.

Fata tersenyum, "Ah. Kamu punya kemampuan untuk tahu sumber energi dan sumber ide suatu kejadian?"

Tidak semuanya. Aku tahu, karena Menara Kembar terhubung langsung dengan jiwaku.

Ledakan itu, kau yang menyebabkannya.

"Berarti, misiku sudah beres."

Belum, Manusia.

"Apa?"

Kedua menara belum hancur total. Peledakmu tak cukup kuat.

Kedua menara punya kemampuan regenerasi.

"Lah, terus gimana? Sebentar, kayaknya aku tahu..." Fata mulai tersenyum.

Mulut Tamon Rah, juga membentuk seringai beringas.

"Kalau menara itu bisa regenerasi sampai sembuh total, berarti kamu juga bakal kena hipnotis haus darah lagi. Gitu kan, kayaknya?" cengiran Fata semakin lebar.

Benar.

"Jadi gimana dong, Tamon Rah, Sang Sembrani Iblis?"

Mereka berdua sudah tahu, kelanjutan dari pembicaraan ini.

Mari kita berangkat, Manusia.


---

10
Schneider


Itulah Tamon Rah. Kuda legendaris itu telah tiba, kulit dan ototnya sehitam dunia arwah, kontras dengan energi apinya yang meledakkan nyala hijau di langit hingga menciutkan nyali. Di tanduk dahinya yang raksasa, seorang pemuda dengan kemeja putih berpegangan sambil berdiri.

"Sanelia! Aku sudah sampai !!"

"Fa...ta..." Sanelia tersenyum lelah. Jantungnya mulai berdetak secara normal. Rasa bencinya terhadap Fata masih ada, namun pemuda keriting itu menepati janjinya.

Bahwa dia akan datang, bertengger pada tanduk Tamon Rah.

Artinya hanya satu. Mereka menang.

"Ti-tidak! Ini tidak mungkin!" penyihir itu tergagau, "Kenapa Tamon Rah bekerjasama denganmu? Kenapa dia tak membunuhmu yang jelas-jelas menumpang di kepalanya?! Apa yang kau lakukan sehingga bisa memperalatnya?!"

"Memperalat?" Fata tersenyum simpul, tatapannya menusuk membuat penyihir itu gentar. Kemudian dia berseru,

"Tamon Rah, Temanku! Kita tutup acara ini!"

Tiba waktunya.

Sembrani Iblis melesat timbulkan topan. Rembulan Alkima bersinar terang benderang, seperti ikut merasakan kemarahannya. Lompatan kuda raksasa itu menutup jarak dengan Menara Kembar.

Fata memberi sinyal, menyusun interval serangan optimum dan menuntun ketepatan ofensif Tamon Rah.

"Sekarang!!"

Kedua kaki depan monster legendaris itu terangkat tinggi, meletupkan api hijau berkobar.

"TA - MUN - RAH !!" Fata dan Tamon Rah membentak bersamaan. Dalam teriakan suara dan insting buas, darah mereka seakan menyatu dan mendidih, menjadi api pertarungan membakar daratan.

"...SCHNEIDER!!"

Dengan itulah sepasang kaki depan Tamon Rah menindas dahsyat meremukkan kedua menara. Kobaran api berwarna zamrud menjulang ke langit tinggi. Menara Kembar musnah total dalam detik itu juga!

"Tidaaaaaak!!"

Penyihir wanita berjenggot itu membelalak, bola matanya seperti akan meloncat dari rongganya, jenggot absurdnya rontok diterpa panas api. Dia berteriak memilukan, sebagai tanda kehancuran cita-citanya selama ini.

Namun saat itu juga, sebuah peluru Gauss Rifle sudah menembus kepalanya. Mati seketika. Sanelia telah mengeksekusinya.

Seluruh pemandangan berubah menjadi putih. Sosok Tamon Rah semakin menjauh. Hanya tersisa Sanelia dan Fata.

[Time BB-21: Fatanir, Sanelia Nur Fiani]

[Lolos dari Misi Babak Penyisihan]

[Memulai Transportasi Antar Ruang]

Sebuah pintu terlihat mendekat dari atas mereka, entah akan menuju ke mana.

"Tamon Rah! Tunggu...!" Fata berseru saat tubuhnya melayang di kehampaan putih tanpa kendali. "Aku belum bilang...terima kasih!!"

Ucapan terima kasih,

Sepantasnya adalah dariku, Manusia.

Semoga kita dapat berjumpa kembali.

Fata pun tersenyum.


Fatanir - Babak Penyisihan (Selesai)











23 comments:

  1. Wih, coming from you, ini rasanya fresh sekali!

    Ternyata Fata ini tipe yang lebih brengsek daripada Dyna... Entah kenapa saya jadi pengen ketemu

    Lucu rasanya, kok kayanya saya sama pak Po jadi start over lagi pake oc yang approachnya beda sama yang udah" di taun ini

    Btw yang masih khas dari pak Po adalah ngash backstroy buat apa yang orang lain anggep ga perlu in-depth... In this case cerita Tamon Rah. Cuma entah kenapa, ini masih lebih fathombale ketimbang awalan Lazu kemaren

    Karena saya masih mau liat model tulisan gini jadi saya kasih ini 10

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Btw, pola pikir analitikal ala Lazu kayanya masih sedikit kebawa ya

      Delete
  2. Fatanir:
    - Penyihir wanita berjenggot - hmm, interesting, biasanya berkumis kan?. Bisa jadi dia itu kaki-tangannya "you-know-who".
    - Fatanir mengalami perkembangan karakter dari tipe idiotic a**hole jadi quite smart a**hole. Tambah menarik.
    - Ledakan elektromagnetik yang dilipatgandakan berkali-kali sehingga memecahkan menara kristal berkeping-keping. Wow canggih! Sayang shockwave Bun kurang kuat... :p sihir nggak mempan, dia pakai science. Ini baru paling menarik.
    - Namanya Tamon Rah, jangan lupa dan jangan spoiler kalau dia itu apanya Tamon Ruu or something. Tapi endingnya - walaupun ini membengkokkan rambu yang seharusnya - lumayan menarik. Kalau Rah waras, he can be even nicer than Fatanir sendiri.

    Jadi, setelah banyak memperhitungkan plus-minusnya, saya beri 7/10.
    Author: Andry Chang
    OC: Vajra (Raditya Damian)

    ReplyDelete
    Replies
    1. uups, lupa. gelombang elektromagnetiknya fatanir nggak cukup kuat juga.

      Delete
  3. Weh, itu ending yang beda X)))

    Cara narasinya bagus, karakternya terasa unik, pertempuran berlangsung keren dan diakhiri dengan proper, hingga tanpa epilog pun kerasa klimaksnya. Nggak ada flaw berarti di cerita ini, jadi saya kasih... 9

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
  4. Manna di mana, anak mbek saya :V
    Terus itu Maid seenak udelnya aja nentuin tim orang, Om PO ternyata juga bisa ngeguyon, wakakakak
    :D

    ewwww, itu makhluk pertama yang Fata hadapi malah trigger Tyrophobia.
    D'X


    e, e,... eeeh? Fata sama Nely malah berantem.. O.o

    Dan saya gak nyangka om PO bisa nulis scene rada ecchi juga
    XD

    -------------------
    lanjut ke scene berikutnya,

    Gak nyangka si Kuda Sembrani punya masa lalu kelam gitu ya, sasuga om Po, selalu bisa meracik backstory menjadi sesuatu yang baru.

    Aieee, mengesampingkan sifat Fata yang, "Sue banget" ternyata dia pria yang bisa berpikir penuh logika ya. Baik banget sampe ngasih ability baru berupa pengendalian hewan, caranya pun nggak ngasal "bisa" aja, tapi ada sebab dan akibat.


    Lalu si cewek berjanggut, no komen soal itu, wakakakakak
    :D


    Nilai : 10
    Maju ke babak selanjutnya ya om :D

    ReplyDelete
  5. keren euy xD

    idenya bener-bener out of box banget, mungkin gak ada yang kepikiran kalo tamon rah bisa jadi temen gitu dan nyegel diri sendiri.

    dan kemampuan fatanirnya juga mantep banget, pake teknologi coy. jempol deh xD

    Nilai : 10
    -Khanza M.Swartika-

    ReplyDelete
  6. Ngaco ini si kribo, mesum banget lagi menodongkan senapan aja milih tempat yang asik :^) Karakterisasinya manteb.

    Perang lawan tamon rah nya rusuh banget, manteb. Tapi ternyata kuda itu adalah makluk yang baik hati, hanya diperalat sahaja. :^)

    Need more echi. :^)

    Nilai : 9

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
  7. Seru dan nyaman bacanya, bahkan sampe bikin “tegang” yang agak berbeda di satu adegan juga xD hubungan Fata dan Sanelia di sini kerasa hampir di tiap porsi mereka ketemu (saya cuma agak miss waktu pembagian peran, Fata vs Tamon Rah terus Sanelia ke Menara Kembar, tapi setelah baca lagi langsung dapet), adegan tempur... ini pas pembagiannya, dan pemotongannya juga keren! Paling inget sama: Belum juga, Pelacur? < greget, karena bagian selanjutnya, semua tahu kenapa Sanelia terlambat.

    Buat konsep Tamon Rah, ini ko kuda besar itu bisa jadi sahabat, kenapa? Karena dia dalam kondisi madness, terus kenapa madness? Karena backstory-nya, karena dia emang pelindung. (mungkin itu yang saya dapet. Tapi ide kaya ini, bikin MVP jadi ally, bikin saya pengen kasih nilai plus)

    Oke, nilai buat Fata 8 (+1), jadi 9 ^0^)\

    Oc : Eophi

    ReplyDelete
  8. Super Solid Entry if i have to say.

    Yang akan saya garisbawahi di sini adalah karakterisasi Fata yang kuat. He's one damn bastardo.

    Meski tidak punya senjata, eksekusi plot device yang cukup lihai menutupi hal ini. Dan pengolahan plot devicenya juga fresh! Somehow saya rasanya menonton Rage of Bahamut: GENESIS tapi lebih Edgi si Favaronya :x

    10/10 dari saya, semoga kita bisa bertemu di ronde selanjutnya.

    Salam hangat dari Zarid Al-Farabi/Enryuumaru

    ReplyDelete
  9. Ini ya, entrynya yang nyuruh Tata buat main-main kesini?

    Ya.. Saya yang gantiin Tata buat berkunjung.

    Untuk Karakterisasi.. beneran overwhelming.. Tata keknya suka banget sama cowok berkarakter kuat gini. Sempet merinding dibuatnya. cuma.. beberapa saat sempet bingung siapa yang berbicara dan siapa yang merespon.. Tapi itu cuma di pertengahan cerita sih, kalau dibaca ulang juga bisa paham. Pokoknya Mantap!

    Dan lagi, keknya entry Pak Po ini beda banget konsepnya dengan yang sejauh ini. Mulai dari diksi yang bener-bener kaya, reka adegan yang begitu mengalir dan detil, dan favorit saya, refraksi konsep yang malah buat entry ini makin mantap..

    Tapi saya agak kecewa juga sih soal awalannya yang kesannya asik gokil tapi makin scroll ke bawah makin serius..

    skornya? sebenernya mau ngasih 10/10 tapi..

    Need more echi. :^)

    skornya turun jadi...

    mantap/10 alias tetep 10/10

    nanti main bareng Tata ya ^_^

    -Mamanya Fath'a Lir

    ReplyDelete
  10. Jambul Kribooooo~

    Udah ngira bakal mainin strategi ini Fata battlenya. Tapi rada terkejut-seneng pas tau kalo orangnya tipe manipulator juga.

    Aku suka ceritanya yang to the poin aja. Pemakaian dua OC juga bikin nulis jadi leluasa, tapi bisa tetep fokus. Entry ini payoffnya gak sewah Meredy yang barusan kukomenin, tapi klimaksnya tetep maksimal. Fata jadi bro sama Tamun Rah itu

    Yang paling bikin meringis itu villainnya. Kukira wanita berjenggot itu cuman figuran aja wkwkwkwk asemlah.

    Nilaiku : 10
    OCku : Alshain Kairos.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Fata jadi bro sama Tamun Rah itu bikin senyum bacanya. Makhluk seganas itu, sebrutal itu, pas sadar tiba-tiba kek, humble-badass gitu. Mana narasinya bagus pisan pas nyeritain ini.

      ^ ketinggalan waks

      Delete
  11. Wah ini epik. TA-MUN-RAH di ending berasa kayak FUS-RO-DAH
    Pas adegan itu berasa slow motion di pikiranku, waktu Tamon Rah ngangkat kedua kakinya dan menghantam menara.

    Damn.

    Oke review dimulai.

    Plot : Satu lagi manipulator, as expected dari Pak Po. Beda dengan Lazu yg bahasanya skala kosmik, entry ini jauh lebih ringan dan mudah dimengerti, tapi nggak ngurangin kepuasan dalam membaca.

    Namun di tengah2 cerita, rada bingungin karena flashback dan adegan saling bertukar2. Entah kapan Fata ngasi kalung itu, kapan dia bikin, kapan Sanelia naik macan, kapan Fata naik burung hantu.
    Tapi ke belakang2nya, baru ngerti apa yg terjadi, dan apa tujuan Fata.

    Backstorynya Tamon Rah epik banget. Nggak nyangka lho ada yg ngasi backstory buat Tamon Rah! Ini salah satu nilai plus buat Pak Po.

    ===

    Karakter : Sanelia ini bener ngeselin ya, aku benci sama tipikal cewek kayak gini. Sok banget, dan Fata meresponnya dengan sangat manis. She deserves it!
    Adegan waktu Fata ngerebut riflenya Sanelia dan nodongin ke selangkangannya itu bener2 breathtaking.

    We need moar >.<

    ===

    Battle : Epik. Bener2 epik. Fata yang nggak punya senjata tapi bisa bikin sesuatu yg ngasi komando ke monster itu bener2 keren. Kayaknya Fata ni punya kebiasaan menghilang dari pertarungan terus balik2 dengan alat ajaib ya, wkwkwkw.

    Villainnya, wanita berjenggot. Hahahahahanjing.

    Seperti yg udah aku bilang di atas, bagian FUS-RO-DAH (?) itu paling epik. Kebayang banget Fata berdiri pegangan di tanduknya Tamon Rah dengan gagah.

    Dariku 9/10
    Btw ini typo atau foreshadowing?
    [Namun dia tahu, ini semua adalah akibat pengaruh sihir gelap menara kristal kembar. Melalui mata itu, Sembrani bertubuh hitam itu melihat semua kehancuran yang diciptakannya sendiri. Tanpa bisa menghentikan.

    Dalam hatinya, Tamon Ruu ingin menangis.]

    Tamon Ruu?

    OC : Meredy Forgone

    ReplyDelete
  12. Gak tau ya, kesan awal, mungkin bisa dibilang, Fata ini OC berengsek , sinis & gak gentle -tipe cowo yang dengan mudahnya bilang pelacur ma cewe yang gak dia kenal, padahal Sanelia cuma bertindak layaknya cewek kebanyakan, itu bisa dibilang panggilan paling hina yang bisa ditujukan ke cewe.

    Aplikasi teknophatia bisa bikin alat penghipnotis dengan cara modifikasi alat penerjemah, itu jadi ngingetin saya ma alat ajaib doraemon XD

    [Namun dia tahu, ini semua adalah akibat pengaruh sihir gelap menara kristal kembar. Melalui mata itu, Sembrani bertubuh hitam itu melihat semua kehancuran yang diciptakannya sendiri. Tanpa bisa menghentikan.
    Dalam hatinya, Tamon Ruu ingin menangis.] -ini aksudnya Tamon Rah?

    Wew, di sini Tamon Rah-nya bisa diajak kerja sama, keren deh

    Nilai 9, saya masih kurang sreg ma panggilan pelacurnya :/

    dLanjung (Asep Codet)

    ReplyDelete
  13. Gak tau ya, kesan awal, mungkin bisa dibilang, Fata ini OC berengsek , sinis & gak gentle -tipe cowo yang dengan mudahnya bilang pelacur ma cewe yang gak dia kenal, padahal Sanelia cuma bertindak layaknya cewek kebanyakan, itu bisa dibilang panggilan paling hina yang bisa ditujukan ke cewe.

    Aplikasi teknophatia bisa bikin alat penghipnotis dengan cara modifikasi alat penerjemah, itu jadi ngingetin saya ma alat ajaib doraemon XD

    [Namun dia tahu, ini semua adalah akibat pengaruh sihir gelap menara kristal kembar. Melalui mata itu, Sembrani bertubuh hitam itu melihat semua kehancuran yang diciptakannya sendiri. Tanpa bisa menghentikan.
    Dalam hatinya, Tamon Ruu ingin menangis.] -ini aksudnya Tamon Rah?

    Wew, di sini Tamon Rah-nya bisa diajak kerja sama, keren deh

    Nilai 9, saya masih kurang sreg ma panggilan pelacurnya :/

    dLanjung (Asep Codet)

    ReplyDelete
  14. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  15. Woh, pertama kali baca ini saya ragu ini pak po. feelnya beda dengan yang dulu. tapi, dalam artian baik ini enak banget buat dibaca, enjoy, dan mulus ampe akhir.

    And like usual, penggalian karakter yang luar biasa baik dari pak po, saya ga nyangka fatanir bajingan tapi luar biasa baik di sisi lain. Juga detil mengenai kekuatan fatanir yang actually i skim that part due to lack of interest. still, it's a plus from me.

    last, that background part is simply amazing. ga sekedar ngejadiin tamon rah sebagai boss monster tanpa sifat. dan bagian dimana fatanir datang bareng rah is give me a chill.
    overall, this is a really great piece!

    Still, i have to give my final verdict.
    ===

    Am i enjoy it? (5/5)

    Is this excite me? (5/5)

    Am i skim some part? (-1/-3)

    Extra point (1/1)

    total score: 10/10

    Salam~

    Avius solitarus.

    ReplyDelete
  16. Ini kali pertama saya (sejak saya berhasil menyelesaikan entri), berkomentar tanpa bantuan Ms. Word. Karena itu, maafkan bila ada hal-hal yang aneh, terlupa, maupun, absurd.

    Oke, penilaian di mulai.

    Saya... saya rasa inilah yang selama ini orang komentari ke saya, "ceritamu datar! Battlenya lelet! Suram!" Oke. Yang terakhir agak lebay, ga ada yang pernah bilang itu.

    Kenapa saya buat perbandingan dengan saya punya? Iya, rasanya kayak bumi dan langit, gitu. Saya pakai POV 3, tapi gaya penceritaan saya yang 'telling' terlalu hambar. Beda dengan ceritamu. Kamu berani memasukkan celetukan" pembangun suasana konyol di saat yang tepat. Dan OCmu sendiri memang tipe yang 'konyol'

    Lalu di samping kekonyolan itu, ada juga bagian yang bikin darah berdesir, adrenalin berpacu, ataupun rasa ngilu.

    Dengan kata lain, cerita ini lengkap!

    Dan.... dahell dengan Tamon Rah yang jadi temen, mimpi pun saya ge pernah berpikir itu! XD

    Skill Fata itu juga serasi dengan BoR (entah kenapa, saya hanya ingin berkata seperti itu)

    Satu hal yang memang saya dan Puppet tidak senang adalah, celotehannya Fata yang agak bajingan. (Oke, maaf saya kelepasan)

    Tapi sepertinya, globalisasi butuh sesuatu yang lebih FRESH dari kerikil cha-cha dan pohon gula kapas. Globalisasi saat ini juga bosan dengan kekelaman yang disimpan di balik glamornya suatu pakaian rajut emas. Globalisasi butuh tawa. Globalisasi butuh ejekan.

    Btw, di awal otak saya sempet bad sector. Kayaknya saya mesti ganti SSD. Bagian yang panel sentuh. Kayak pantun yang berputar di otak saya.

    Panel sentuh?
    Apaan tuh?

    Oke garing.

    di pikiran saya awalnya, panel sentuh itu semacam lempengan LCD yang enggak ada apa-apanya. LCD buat hape dilengkapi pcb warna hijau garis-garis emas (iya, saya juaranya kalo lepasin LCD hape. Tp gabisa pasang lagi)

    Fiuh. Pada akhirnya saya anggap aja panel sentuh itu semacam i-pad atau tab atau tetangganya.

    Kalo kata mas Radith, cowo itu cuma ada dua. Kalo ga homo, ya bajingan. Fata masuk nomor 1.

    Nomor 2 maksud saya, keypad agak licin, maaf.

    Yap, akhir kata, saya mau kasih nilai dong pastinya (mau nilai ga? Ga mau? Yakin? Udah mau aja)

    Nilainya.....

    Se....

    Bentar ._.

    Oke, -1 untuk celotehan yang ga diperhalus.

    9/10 !

    -Eumenides/Puppet-

    ReplyDelete
  17. Oke, ini lebih bisa saya nikmati ketimbang Lazu. Pertempurannya sangat jelas, plotnya juga oke.

    Lalu ide untuk mengajak Tamon kerjasama ini juga menarik, thumbs up karena berhasil nemu ide yang gak dilarang panitia. Selain itu saya suka dengan sikapnya Fata yang brengsek, dasar Kribo Keparat.

    Nilai 10

    Zoelkarnaen
    (OC: Caitlin Alsace)

    ReplyDelete
  18. Nilai dulu, 9/10.

    alasan?
    Seharusnya bisa lebih panjang lagiiiiii hahahahahah


    kesan pertama pas baca dari awal sampe tengah:
    Ini Lagi katarsis lewat tulisan ya?
    hahahahahahah


    asik banget, tuturnya lebih ngalir dan enak diikutin, ga ribet mikir.
    Suka sama penokohan Kribo yang memang melakukan apapun demi bertahan hidup,.

    aye izin serap dan adaptasi metode paragraf dan penceritaan kali ini ya.

    PITTA N. JUNIOR, bertanya, bang kribo suka pizza?

    ReplyDelete
    Replies
    1. btw, rasanya bakal lebih mantep kalo ga pake limiter buat omongan kasarnya.
      bikin kasar total juga kayaknya bisa mantep buat kribo ini.

      Delete
  19. Gila ceritanya gilaaa.. asik banget sumpah, bagus banget Sir.. aku kesampingkan persona pribadi yang dibawa ke sini dan sukses senyam senyum juga soalnya kek kita yang ngalamin sendiri wkwkwk

    ini si Fata(nir) belagu amat yah, itu cewe kasian banget disudutin.. walaupun akhirnya baik sih dia nolong dengan caranya sendiri, tetap aja belagu sih..

    Fata sama Sanelia chemistry-nya aku suka, cocok lah buat mereka yang di awal pertemuan ribut-ribut dan itu tuh, si Fata malah secara keterlaluan nyebut dia 'itu' wkwkwk

    Berharap TamonRah bisa jadi badass sidekick-nya Fata nih XD

    dan bagian Favoritku di penggalan ini:
    "Ingat. Perintah sederhana. Kalau kamu nyuruh ayam atau ikan supaya gerakin sayapnya, mereka nggak bakal nurut. Soalnya simpel, mereka nggak punya sayap."

    "Oh..."

    "Atur volume suara. Kalau kamu bisik-bisik, cuma binatang atau monster yang denger aja yang bakal kena pengaruh. Kalau kamu teriak, makin banyak yang terpengaruh."

    itu bisa dibayanin keren BANGET! <- karakterisasinya sukses, jempol dah :D

    overall dariku: 10 dari 10

    - The Genius Fa(r)t

    ReplyDelete