12.5.15

[PRELIMINARY] EOPHI RASAYA - PETUALANGAN PERTAMA

[Preliminary] Eophi Rasaya - Petualangan Pertama
By: Aesop Leuvea

 






1





Memori Eophi
Tertidur Tanpa Bisa Bangun Lagi

 


Dari jendela rumah pohon rahasia, aku melihat total empat penduduk Lillham berkumpul di depan auditorium.

Aku kenal mereka semua meski aku tidak yakin mereka masih mengenalku atau tidak.

Dari sebelah kiri, ada Etholin. Myrd yang wajahnya membingungkan karena tertutup hampir seluruhnya oleh rambut.



Lalu di sebelahnya, ada Frerra. Myrd paling pendek dan kurus yang senang sekali berteriak-teriak tidak jelas.

Di sebelahnya lagi, ada Unoas. Myrd yang sangat sopan dan selalu berpenampilan rapi.

Dan terakhir ada Yirak. Myrd yang kurang beruntung karena tercipta hanya memiliki satu lengan. Yirak, di hari normal, pasti selalu menjadi si pendiam. Tapi menurutku dia baik, dan saat ini dia terlihat paling senang.

"Mereka pasti benar-benar sedang berbahagia karena mampu menciptakan keramaian yang tidak biasa," aku iseng berbisik pada Mou, seekor catray liar yang selalu menemaniku ketika berada di rumah pohon ini. "Dan, itu dia sumber bahagia mereka."

Aku menunjuk ke ujung wilayah auditorium. Terdapat jalan lebar berbatu yang masih tertimbun cahaya bekas hujan deras semalam. Dan pagar hitam pembatas. Lalu tepat di pintu pagarnya, Myrd Atate berambut merah berlari kecil sambil melambaikan kedua tangannya ke arah kumpulan penduduk.

Kudengar, Myrd Atate berambut merah itu dulu berasal dari Lillham, dan dia baru saja lulus.

Dia memang sengaja pulang hari ini. Mengikuti tradisi perpisahan Myrdial.

Penduduk yang antusias langsung mengelilingi Myrd Atate berambut merah itu setibanya dia di hadapan mereka.

Kulihat Etholin meninju pelan zirah hitam si Myrd Atate. Sementara Frerra mengacak-acak rambutnya, dan berbicara keras-keras. Unoas dan Yirak tertawa. Lalu sama-sama mereka masuk ke dalam auditorium.

Suara-suara ramai itu pelan-pelan menghilang. Teredam dinding-dinding gedung dan tertutup suara desisan dari hujan cahaya.

Sudah mulai turun hujan lagi.

Aku menutup jendela.

Kembali merebahkan diri di tempat tidur. Berguling-guling bersama Mou.

Seharusnya, sekarang aku turun, bergabung bersama mereka di auditorium. Ikut merayakan kelulusan si Myrd Atate berambut merah. Ikut mengobrol tentang apa saja yang berada di Myrdial ini. Sebagai Myrd muda, aku pasti mendapatkan banyak sekali saran dan cerita-cerita.

Tapi ... aku bahkan tidak tertarik untuk menjadi Myrd.

Ya. Jadi tidak ada gunanya berbasa-basi.

"Jaga markas, Jelek," kataku sambil menekan kepala Mou kuat-kuat. Catray belang kuning itu marah. "Aku mau jalan-jalan sebentar ke tempat biasa."

Aku bangkit dari tempat tidur. Kupakai jaket hitam favoritku, lalu sepatu bot kulit yang sudah agak kekecilan. Dua barang murah yang kubeli menggunakan jatah bulanan dari pemerintah.

Sekilas, aku melihat pantulan diriku ketika melewati kaca panjang yang menempel di dinding. Myrd muda, pendek, berambut hijau, acak-acakan.

Sampai depan pintu, Mou seperti biasa mengeong manja. Dia berjalan memutari kaki kananku lalu kutendang dia sampai ke kolong tempat tidur dan aku segera berlari keluar. Dari balik pintu bisa kudengar Mou mendesis.

Aku turun dari rumah pohon.

Berjalan keluar taman, aku berhenti di depan pagar pembatas wilayah auditorium. Aku berdiri miring ke depan, menempelkan dahiku pada dua batang pagar. Dingin. Bisa kurasakan juga kepingan cahaya mulai bertumpuk di puncak kepala dan punggungku.

Ini salah. Seharusnya aku berjalan ke gerbang dan terus keluar Lillham. Ke Eveninggraile. Apa yang kulakukan sekarang?

Aku perhatikan pintu auditorium yang belum sepenuhnya tertutup, dan membayangkan apa yang sedang mereka lakukan di dalam sana saat ini.

Mungkinkah mereka makan gula-gula emas khusus perayaan sampai perut mereka membulat? Minum campuran inti sari buah dengan berbagai pasta debu bintang sampai mabuk? Bernyanyi dan saling melempar lelucon payah sampai pagi lagi? Atau—

Pintu auditorium terbuka. Yirak keluar sambil menyalakan cangklong. Lalu dia melihatku dari balik asap.

Aku terpeleset ketika mencoba menegakkan tubuhku. Tapi buru-buru aku berdiri lagi.

Sekarang kami saling tatap. Aku di balik pagar, Yirak di depan pintu auditorium.

Apa Yirak masih mengingatku?

"Eophi?" Yirak setengah berteriak, ragu-ragu. "Eophi Rasaya?"

Dia masih ingat.

Aku mengangguk. Terlalu cepat.

"Sedang apa di sana? Ayo, acaranya di dalam. Mereka memulainya dengan minum-minum," kata Yirak. Dia tersenyum, melambaikan lengan satu-satunya ke arahku. Mengabaikan cangklongnya yang jatuh.

Aku menelan ludah. Setelah beberapa saat, aku menggeleng padanya. Lalu aku memasukkan kedua tangan ke kantung jaket, balik badan, dan berjalan menjauh.

Sampai di gerbang, aku menoleh ke belakang. Auditorium sudah tidak terlihat, tertutup jajaran rumah-rumah kosong dan beberapa bangunan besar.

Yirak tidak mengikutiku. Syukurlah.

Hujan cahaya semakin deras.

Kupercepat langkahku, keluar dari Lillham.

Ke Eveninggraile.

Padang rumput penyendiri.






Alforea
Eophi, Puppet, Aushakii, dan Adhy

 


Battle of Realms resmi dimulai.

Setelah mendengar penjelasan tentang ketentuan babak penyisihan dari pria berjanggut putih, kebanyakan calon peserta langsung bergerak ke berbagai arah untuk mencari teman, pasangan, maid, atau sekadar tempat untuk duduk dan beristirahat.

Langkah-langkah kaki di lantai batu, suara-suara bergumam, teriakan, dan geraman, menciptakan suasana ramai tersendiri di halaman kastel utama Despera.

Meski begitu, Eophi Rasaya sama sekali tidak bergerak dari kasurnya.

Ia tertidur.

Beberapa saat kemudian.

Dipandu masing-masing maid berseragam biru pucat, beberapa calon peserta yang sudah membentuk kelompok segera meninggalkan halaman kastel utama Despera. Sementara beberapa calon peserta lainnya masih sibuk mencari atau berunding.

"Apa Anda sudah memiliki kelompok?" adalah pertanyaan dari para maid pada calon peserta yang terlihat kesulitan, atau malas, untuk berkomunikasi dengan sekitar.

Seorang gadis berambut hitam yang memeluk boneka panda, bersandar di pagar pembatas, mendapatkan pertanyaan itu.

"Belum," gadis itu menjawab singkat dan dingin.

Maid di hadapannya tersenyum ramah sebelum mengatakan, "Kami bisa membantu Anda untuk menemukan kelompok yang tepat. Sebutkan kriteria yang diinginkan."

"Tinggal sedikit," kata gadis itu. "Yang mana saja boleh. Tapi kalau bisa, jangan yang sudah dewasa."

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar."

Tidak sampai satu detik menunggu, maid menunjuk salah satu pohon di balik pagar. "Bagaimana dengan anak itu?"

Gadis berambut hitam menoleh.

Ia melihat seorang anak berkulit gelap duduk sendirian di dahan pohon, agak tertutup dedaunan.

Setelah beberapa saat mereka hanya bertatapan, akhirnya gadis itu tersenyum dan berkata, "Mau kerja sama?"

Anak itu berdiri.

Dengan satu lompatan terampil ia meninggalkan dahan pohon, dan mendarat dengan sempurna di samping gadis berambut hitam.

Keluar dari bayangan dedaunan, penampilan anak itu terlihat jelas sekarang.

Tubuh anak itu dipenuhi tato tribal.

"Mau!" kata anak itu, juga tersenyum.

Gadis berambut hitam mengulurkan sebelah tangannya. "Panggil aku Puppet."

Anak itu memperhatikan tangan Puppet, bingung.

"Siapa namamu?"

"Oh. Aku Aushakii." Aushakii menepuk dada kirinya pelan.

"Salam kenal, Aushakii. Perkenalkan juga ini Eustas." Puppet mencubit pipi kiri boneka pandanya.

Aushakii tersenyum lebar.

"Salam kenal, Puppet. Salam kenal, Eustas!"

Puppet mengangguk senang, kemudian menoleh ke arah maid. Senyum di wajahnya menghilang pelan-pelan. Ekspresinya kembali dingin.

"Berdua sudah cukup?"

Maid tersenyum ramah, mengangguk pelan. "Sudah."

Puppet kembali menoleh ke arah Aushakii.

Anak berkulit gelap itu sedang bersila memeriksa perlengkapannya.

"Kamu pemburu, ya?" Puppet berjongkok, memperhatikan busur Aushakii yang tampak sederhana sekaligus kokoh. Lalu ia menunjuk kantung kecil yang menggantung di pinggang anak itu. "Itu apa?"

"Oh. Ini sesuatu yang penting untukku. Kantung ini berisi segenggam tanah dari tempatku dilahirkan," Aushakii menjelaskan sambil mengusap kantung kecil di pinggangnya. Nada suaranya menyiratkan kerinduan. "Semakin jauh aku dari rumah, bersama langkahku, dan kedewasaanku, ini adalah bukti tentang siapa aku sebenarnya. Tanah ini akan terus mengingat. Um, dan iya, aku biasa berburu."

Jeda sesaat. Puppet memeluk Eustas, boneka pandanya, lebih erat. "Tempat tinggalmu pasti menyenangkan. Baiklah, Aushakii. Siap berangkat?"

"Berdua saja?"

Puppet mengangguk. "Kamu bisa berburu, aku bisa sihir. Kita berdua sudah cukup."

Kedua mata Aushakii berbinar, kepalanya sedikit maju ke depan. "Puppet bisa sihir? Sihir apa?"

"Nanti aku kasih lihat," kata Puppet, tersenyum. "Sekarang, tinggal tunggu Eve selesai periksa si anak berambut hijau. Terus kita berangkat."

"Um. Eve dan anak berambut hijau itu siapa?"

Puppet berdiri. Pandangannya lurus ke depan. Ia menunjuk sesuatu di tengah halaman kastel. "Itu Eve, kucing peliharaanku. Terus di sampingnya, lagi tidur di atas kasur, si anak berambut hijau."

Aushakii juga berdiri—tinggi anak itu, karena sedikit membungkuk, hanya sebatas dada Puppet. Ia melihat ke arah yang sama. "Kenapa dia tidur di sana? Terus ... siapa itu yang berdiri di sampingnya?"

Puppet mengangkat kedua bahu.

"Kita ke sana saja," kata Puppet, lalu ia beralih pada maid. "Tunggu."

Maid mengangguk ramah.

Puppet berjalan melewatinya tanpa mengatakan apa-apa lagi.

Aushakii, setelah berterima kasih singkat pada si maid lalu meniru anggukan ramahnya, segera mengikuti Puppet dari belakang.


***


Sementara itu di tengah-tengah halaman kastel, Eophi Rasaya masih terpejam di atas kasur putihnya, mendengkur halus. Beberapa tetes liur meninggalkan jejak di bantal, lalu guling yang ia peluk mengerut di bagian tengah, dan selimutnya melembung acak-acakan di sekitar kaki.

"Absurd." Seorang pemuda berkacamata berdiri di samping kasur sambil membetulkan bandana merah yang mengikat kepalanya. Perhatiannya pada Eophi. "Apa dia juga salah satu calon peserta?"

Sekarang pemuda itu berjalan memutari kasur. Sebelah tangannya menyangga dagu dan ekspresinya tampak menyelidik tapi tetap jenaka. Sandal jepitnya membunyikan suara karet yang khas seiring langkahnya.

"Rambut hijau, berantakan," pemuda itu mulai menganalisa Eophi sambil membetulkan letak kacamatanya. "Garis mulut, meski sedang tidur, jelas sekali menggambarkan bahwa pemiliknya merupakan tipe pemalas. Telinga yang meruncing ... lalu, gayanya yang biasa saja. Hm. Kira-kira laku berapa dia kalau dijual, ya?"

Kucing hitam yang duduk melingkar di ujung kasur, yang dari tadi memang memperhatikan pemuda itu dan Eophi, mengeong sambil memiringkan kepalanya.

"Cuma bercanda, kok, kucing," kata pemuda itu. "Lagian dia pasti susah lakunya."

Kucing hitam itu mengeong lagi. Kali ini kepalanya menoleh ke belakang. Ke arah Puppet dan Aushakii yang berjalan mendekat.

"Bagaimana, Eve?" tanya Puppet.

Eve si kucing hitam bangkit pelan-pelan, meregangkan tubuhnya.

Ia mengeong sambil berjalan ke arah Puppet.

"Memang hanya tertidur, ya?"

Eve mengangguk.

"Salam kenal, Eve! Namaku Aushakii." Aushakii, berdiri di belakang Puppet, melambaikan tangannya.

Kucing hitam itu balas melambaikan tangan.

"Tunggu sebentar. Apa benar kucing itu tadi melambaikan tangan, mengangguk, dan berkomunikasi?" tanya pemuda pemakai bandana merah. "Apa kucing itu semacam Pokemon?"

Puppet melirik pemuda itu sebentar, lalu kembali fokus mendengarkan Eve yang terus mengeong sambil berjalan memutari kaki kanannya.

"Kita bikin dia bangun," kata Puppet setelah Eve berhenti.

Aushakii berjalan ke samping kasur, berseberangan dengan pemuda pemakai bandana merah.

Ia perhatikan Eophi yang pelan-pelan mengubah posisi tidurnya, sekarang telentang.

"Ini bisa dibangunin?" tanya Aushakii. "Dia tidur seperti beruang yang sedang hibernasi. Pasti su—"

"Halo, hey. Namaku Adhyasta Dartono Gaspard. Calon peserta Battle of Realms," kata pemuda pemakai bandana merah. "Panggil saja Adhy."

Adhy mengulurkan sebelah tangannya.

Aushakii menggaruk rambutnya yang setengah keriting. Bingung harus apa.

"Dia mengajakmu berkenalan," kata Puppet dari belakang.

"Oh. Namaku Aushakii. Salam kenal, Adhy!"

"Salam kenal juga, Aushakii," Adhy merespons. Sesaat Adhy mengamati anak berkulit gelap di hadapannya, kemudian sambil menutupi sisi wajahnya agar tidak terlihat dari samping, ia berbisik, "Calon peserta juga, ya? Terus, apa cewek jutek itu juga calon peserta?"

Aushakii mengangguk.

"Aku dan Puppet satu kelompok."

"Namanya Puppet?"

"Ya. Dan boneka pandanya bernama Eustas, terus kucing hitam peliharaannya bernama Eve," jelas Aushakii.

Adhy mengacungkan jempol.

"Terima kasih infonya."

Aushakii tersenyum lebar, lalu kembali memperhatikan Eophi.

Sementara Adhy mendeham, menoleh ke arah Puppet.

"Halo, Puppet," kata Adhy, tersenyum jenaka. "Aku Adhy."

"Sudah dengar tadi," kata Puppet singkat sambil berjalan ke samping Aushakii.

"Aushakii, kita bangunin anak ini."

"Caranya?"

Puppet berjongkok, mencapit rambut hijau Eophi lalu menariknya.

Eophi tidak bereaksi.

Puppet tarik lagi, kali ini lebih keras, kepala Eophi sampai ikut terangkat.

Eophi tetap tidak membuka mata.

"Hm. Kayaknya harus disiram?" Aushakii setengah menyarankan. "Atau dengan lebah? Ya, aku cari du—"

PLAK!

Puppet menampar Eophi.

"Gila, masih belum bangun juga," kata Adhy sambil berjalan ke samping Puppet.

PLAK! PLAK!

Tamparan bolak-balik dari Puppet.

Tetap, Eophi tidak bangun.

"Jangan-jangan dia koma?" Puppet mendesah putus asa.

"Oke, sebentar. Apa anak berambut hijau ini juga anggota kelompok kalian?" tanya Adhy, menatap Puppet dan Aushakii bergantian.

Puppet mengabaikan Adhy sepenuhnya. Aushakii menggeleng bingung.

"Begini masalahnya, tadi aku sedang mengejar naga kecil berwarna merah—" Adhy menjelaskan.

"Enggak ada yang peduli," gumam Puppet.

"—dan naga kecil itu menghilang di sekitar sini. Hey, kenapa jutek banget, sih?"

"Cukup basa-basi," kata Puppet, tanpa menatap Adhy. "Langsung ke intinya."

"Oke. Coba lihat sekeliling. Semua calon peserta lain sudah pergi. Kita yang terakhir."

Pelan-pelan Puppet berdiri, memperhatikan sekeliling. Dari tempatnya sekarang, di tengah-tengah halaman kastel, Puppet bisa melihat hampir ke setiap sudut lapangan.

Tempat ini, yang penuh dan ramai beberapa saat lalu, sekarang nyaris kosong.

Hanya tersisa beberapa maid berseragam biru pucat. Beberapa dari mereka berdiri terpisah di tiap sudut, beberapa lagi saling berdiri bersebelahan memagari setiap jalan keluar dari halaman kastel.

"Terus kenapa?" kata Puppet, dingin. Gadis itu kembali berjongkok, menarik rambut Eophi.

"Kita berempat harus jadi satu kelompok."

"Bertiga," Puppet menekankan. "Aku, Aushakii, dan anak berambut hijau ini."

"Mana bisa begitu," kata Adhy. "Babak penyisihan ini tidak bisa diselesaikan sendirian."

"Memang."

Adhy menghela napas panjang.

"Kalau menolak untuk membuat kelompok beranggotakan empat calon peserta, aku minta salah satu dari mereka. Aushakii, atau si rambut hijau ini."

Puppet berdiri. Ia tatap Adhy sekarang.

"Enggak."

"Oke ... selalu ada cara paksa."

Adhy memasang kuda-kuda.

Puppet memeluk Eustas lebih erat.

"Tunggu—jangan berkelahi!" Aushakii, yang dari tadi diam dan hanya menoleh ke arah mereka yang sedang berbicara, menginterupsi. "Puppet, kenapa Adhy tidak diajak saja?"

Puppet tersenyum untuk Aushakii.

"Kamu mau lihat sihir, kan?"






Memori Eophi
Perjalanan Menuju Nyaman

 


Semakin jauh meninggalkan Lillham, semakin sedikit curah hujan cahaya.

Hari ini, itu merupakan hal yang bagus. Karena hari ini cahaya terasa lebih dingin dari biasanya.

Aku berjalan santai mengikuti jalan berbatu yang naik turun karena melewati bukit-bukit putih, dan kali ini aku tidak beristirahat sama sekali. Mungkin sudah enam jam aku berjalan.

Biasanya butuh sepuluh jam untuk sampai ke padang rumput itu jika ditambah waktu istirahat tidur-tiduran di bukit.

Tampaknya tanpa istirahat, enam jam sudah cukup.

Aku hampir sampai. Ujung dari jalan berbatu terlihat di puncak bukit kembar. Eveninggraile berada di baliknya.

Langit di balik bukit kembar, atau di atas Eveninggraile, adalah alasanku pergi ke padang rumput itu.

Berbeda dari langit pucat tanpa hiasan di tempat-tempat lainnya, langit di wilayah perbatasan selalu jernih. Aku bisa berlama-lama diam di sana. Tidur-tiduran sambil menatap angkasa yang berwarna. Favoritku adalah warna malam.

Aku menyukai benda-benda langit yang muncul ketika malam. Aku selalu merasa, mereka sama sepertiku. Terjebak di suatu kewajiban yang gelap, terpaksa harus terus hidup, tersenyum, dan bercahaya.

Mungkin bedanya, aku punya pilihan untuk berhenti.

Aku sampai. Berdiri di ujung jalan berbatu, di puncak bukit kembar, pemandangan di hadapanku saat ini adalah padang rumput dan langit yang anehnya tampak begitu berdekatan. Warna hijau gelap di daratan sejauh mata memandang, dan warna oranye sore di angkasa.

Ada sekumpulan awan abu-abu, garis-garis gelap dan ungu meramaikan langit. Lalu angin kecil yang menggerakkan rumput-rumput ke satu arah yang sama. Aku tersenyum.

Lalu aku melihat sesuatu yang biasanya tidak ada di tempat ini.

Sesuatu itu berdiri di tengah padang rumput.

Sesuatu itu juga sedang memperhatikanku.

Kami saling tatap. Aku di atas bukit kembar, dia di bawah sana.

Rambut merah panjangnya tertiup angin, bergerak-gerak di belakangnya seperti jubah. Dan dia dikelilingi benda-benda aneh.

Siapa dia?


***


"Namaku Bidriel. Myrd Atate dari Stairberg, El Flath." Bidriel menyeringai. Dia mengulurkan sebelah tangannya untuk meraih sebelah tanganku secara paksa, lalu dia mengocok tangan kita berdua kelewat semangat. "Siapa namamu, Weirdo?"

"Weirdo?" kataku lambat-lambat sambil menggaruk dagu menggunakan sebelah tangan yang bebas.

Bidriel mengangguk. Tanpa aba-aba dia melepaskan tanganku dari genggaman tangannya.

"Weirdo itu bahasa terkenal di Planet Bumi. Artinya lucu."

"Oh. Namaku Eophi."

"Eophi." Bidriel mengulang lalu mengangguk lagi. "Dari?"

"Dari Lillham, Lescutcheon."

"Hm. Weirdo belum mengikuti pelatihan untuk memilih tipe, ya? Kenapa? Padahal kelihatannya sudah cukup umur. Jangan malu hanya karena pendek."

Dia bicara terlalu cepat dan langsung.

Dan kenapa dia tetap memanggilku Weirdo?

Pelan-pelan, aku mengangguk.

"Sebenarnya nggak ada hubungannya sama tinggi badan," kataku. Dan entah kenapa, aku melanjutkan. "Memang mau berhenti jadi Myrd."

Bidriel menarik napas panjang. Dia balik badan dan berjalan ke tumpukan benda-benda aneh yang dia bawa.

"Itu tolol."

Bidriel membungkuk membelakangiku. Dia mengambil benda yang bentuknya meliuk dan bergagang, juga memiliki kawat yang membentang melewati bagian yang bolong.

"Tolol?" kataku, sambil masih fokus ke benda yang meliuk, bergagang, dan berkawat.

Bidriel menyampirkan semacam tali dari benda aneh itu ke pundaknya.

"Iya, Weirdo. Myrd yang memilih berhenti jadi Myrd itu tolol."

Bidriel mengatur jemari tangan kanannya, menekan beberapa kawat yang berbeda di ruas gagang. Sementara tangan kirinya—memegang benda kecil berbentuk segitiga—bergerak ke atas ke bawah, menggetarkan barisan kawat di atas lubang, gerakannya teratur tapi tidak monoton.

Benda aneh itu mengeluarkan bunyi.

Bidriel menatapku, mengangkat kedua alis matanya. Lalu, diiringi bunyi dari benda aneh miliknya, dia mulai bernyanyi menggunakan bahasa yang tidak kumengerti.

Hasilnya bagus.

Sangat bagus.

Pertama, aku mengira Bidriel membawakan lagu ceria, nadanya menyenangkan sambil bahunya bergerak ke depan ke belakang. Tapi ternyata lama-lama nadanya berubah, menjadi sendu, dia menatapku sayu. Lalu nadanya berubah lagi, kali ini dia seperti sedang marah-marah.

Lagu ini benar-benar labil.

Tapi aku menikmatinya.

Aneh.

Pelan-pelan aku duduk, sambil terus mendengarkan.

Bidriel baru berhenti bernyanyi ketika angkasa berubah warna.

Sore berakhir, malam tiba.

Beberapa bintang mulai terlihat. Sosok Bidriel yang tadi tampak keemasan di bawah langit sore, sekarang berubah, memucat. Kulitnya yang sangat putih seolah berpendar.

"Weirdo." Bidriel bersimpuh di depanku. "Jangan jadi tolol, ya?"

Aku melamun sebentar.

"Tapi—"

Tiba-tiba saja, Bidriel menempelkan dahinya ke dahiku. Dari jarak sedekat ini aku bisa merasakan napasnya yang hangat, aromanya seperti madu dan apel. Aku juga bisa melihat kedua matanya dengan jelas. Merah gelap, seperti rambutnya.

"Jangan pilih buat berhenti," kata Bidriel. "Jadi Myrd itu seru. Banyak rahasia."

"Rahasia?" kataku setelah jeda.

Bidriel menarik dirinya, berdiri.

"Iya, Weirdo, rahasia. Makanya jangan berhenti. Minggu depan balik lagi ke sini, ya? Kita bahas banyak hal."

Aku mengangguk.

Bidriel tersenyum.

Entah karena warna malam, atau senyum Bidriel memang manis?

"Kalau begitu, aku pulang duluan." Dia merapikan barang-barangnya. Setelah selesai, sekali lagi dia meremas tanganku lalu berjalan menjauh.

"Um, Bidriel?" aku setengah berteriak.

Bidriel menoleh.

"Ya, Weirdo?"

"Apa semua lawan jenis memang agresif seperti ini? Bahkan di hari pertama bertemu?"

Dia tertawa.

"Terlambat bahkan buat menyesal. Seharusnya waktu di atas bukit, Weirdo balik badan, langsung pulang, bukannya malah turun terus berkenalan. Sekarang kita sudah jadi teman. Itu tidak bisa lagi berubah."

"Ya. Salahku," kataku datar.

Bidriel pulang.

Aku langsung tidur-tiduran di atas rumput seperti biasa.

Jujur, aku senang bertemu Bidriel hari ini.

Ini pertemuan yang ajaib.

Alasanku turun dari bukit dan berkenalan dengannya, pasti karena di dalam hatiku, aku tidak ingin sendirian. Itu juga pasti alasan kenapa aku sempat bimbang ketika berdiri di depan auditorium.

Aku iri dan takut pada keramaian. Tapi, sekali lagi, aku tidak mau sendirian.

Aku menginginkan teman yang mau menerima keputusanku apa adanya—Mou tidak dihitung.

Sekarang, aku mendapatkan lebih dari itu.

Bidriel tidak hanya menerima keputusanku sebagai teman. Dia bahkan berniat untuk mengubahnya.

Keputusanku selama ini, melawan pengaruh instan darinya.

Apa yang harus kulakukan nanti? Haruskah aku kembali ke sini minggu depan, mendengar Bidriel bernyanyi dan bercerita, dan tetap menjadi Myrd pada akhirnya?

Atau—

Lihat saja nanti.

Sekarang melamun dulu sampai tertidur. Lalu pulang.

Berpikir memang kadang melelahkan.






Alforea
Perdebatan Selesai


​ 

"Kesempatan terakhir," kata Adhy. "Aku tidak mau menyerang perempuan. Tapi aku tidak bisa gagal di sini."

Puppet tidak merespons.

Mereka berdiri berhadapan dan cukup dekat.

"Oke. Kalau begitu, maaf."

Adhy sedikit membungkuk, lalu menggunakan kaki kanannya ia menendang menyamping, mengincar mata kaki Puppet.

Eve, si kucing hitam, melompat ke jalur tendangan, sementara Puppet dengan gerakan yang lebih lambat mencoba menghindar, mundur beberapa langkah.

Tendangan Adhy melempar Eve ke atas wajah Eophi yang tidak terpengaruh sama sekali—masih tertidur.

"Eve!" pekik Aushakii. Anak berkulit gelap ini menarik dua anak panah dari tempatnya, menyiapkan busur lengkungnya, kemudian berteriak pada Puppet dan Adhy, "Kalian berdua harus berhenti!"

Mengabaikan Aushakii, Adhy kembali menyerang Puppet.

Tinjunya mengarah tepat ke perut.

Kali ini Eophi yang bergerak ke jalur serangan.

Tinju Adhy menghantam dada Eophi.

"Sekarang, Eve, buat dia lupa," kata Puppet. "Siram dia dengan Gogora."

Sementara Adhy masih terkejut dan mencoba mendorong Eophi—yang ternyata masih tertidur—ke samping, Eve mengeluarkan tabung kaca berisi cairan kecokelatan dari bantalan di telapak tangannya.

Kucing hitam itu membidik sebentar. Punggung tangan kiri menjadi tumpuan tangan kanan yang terulur ke depan, dan ujung dari tabung kaca menempel dalam posisi horizontal di telapaknya.

Eve menembak.

Tabung kaca pecah ketika menabrak dahi kiri Adhy. Cairan kecokelatan di dalam tabung, berpendar, membasahi wajahnya.

Adhy mengerang, menggosok wajahnya dengan kedua tangan.

Puppet berjalan ke depan. Bersamaan dengan itu, Eophi yang berdiri menghalangi dirinya dan Adhy tumbang begitu saja ke kasur.

Adhy yang masih menggosok wajahnya, tidak menyadari kehadiran Puppet. Tangan kanan gadis berambut hitam itu sudah berada di depan wajahnya ketika dua anak panah melesat dari belakang—satu menggores paha kanan Puppet, satu lagi menggores pinggang kiri Adhy.

Sebelum bisa menoleh ke belakang, ke arah Aushakii yang menembakkan kedua anak panah itu, Puppet sudah lebih dulu tumbang. Terjatuh ke kasur. Adhy menyusul sedetik kemudian.

Aushakii, cemberut dan sedikit terengah-engah, balik badan dan berlari ke arah maid di depan pagar.

"Tolong," kata Aushakii sambil menunjuk ke belakang, ke tengah halaman. Di atas kasur putih, ada Eophi, Puppet, dan Adhy terbaring bersebelahan. Lalu Eve yang tidak bergerak. "Kirim kami semua ke tempat babak penyisihan. Kami semua satu kelompok."

Sambil tersenyum, maid itu mengangguk ramah.

"Baiklah. Mohon tunggu sebentar."






Memori Eophi
Hujan Cahaya


​ 

Jika bukan karena harus mengikuti pemeriksaan rutin dari pemerintah setiap satu minggu sekali, aku pasti sudah pindah ke Eveninggraile.

Aku sering membayangkan ... mendirikan tenda hitam di tengah padang rumput itu sebagai tempat tinggal, lalu membuat api unggun ketika malam. Untuk urusan perut, aku bisa membeli stok makanan menggunakan uang bulanan dari pemerintah, atau mungkin berburu. Dan karena ada sungai di utara, di wilayah El Flath, aku tidak perlu cemas soal air.

Pasti menyenangkan jika pemerintah mampu membayangkan apa yang kubayangkan. Lalu menjadikannya nyata, dan bukan hanya untukku saja. Tapi untuk semua Myrd di Myrdial.

Memberikan kita kebebasan untuk memilih jalan hidup.

Sayangnya, itu mustahil. Itu cuma bayanganku.

Karena menurut pemerintah, menjadi Myrd butuh ketegasan, bukan kebebasan. Hukum berdasarkan perjanjian lama dengan penghuni-penghuni De Soliant, mutlak, harus dipatuhi.

Salah satunya: hanya ada seratus Myrd yang boleh tercipta di Myrdial. Apabila ada Myrd yang memilih hidup secara pasif, maka dia harus pergi ke Wailgrave, lalu ditiadakan, dan Myrd baru akan tercipta untuk menggantikannya.

Untuk itulah pemeriksaan rutin setiap minggu diadakan.

Pemerintah selalu memantau aktivitas rakyatnya.

Aku sudah cukup umur untuk mengikuti pelatihan, tapi aku belum juga mengisi formulirnya di Myrdial Abyss. Hanya tinggal menunggu waktu saja sampai pemerintah menyatakan hidupku ini pasif, dan mereka bisa menyuruhku pergi ke Wailgrave untuk ditiadakan. Berhenti menjadi Myrd, sesuai prosedur.

Aku memang menginginkan itu, makanya aku menunggu setiap hasil pemeriksaan. Menunggu pemerintah menyatakan ke-pasif-an hidupku.

Sampai, sesuatu terjadi.

Sesuatu yang mampu membuatku merasa kurang senang, untuk pertama kalinya, ketika menunggu hasil pemeriksaan rutin dari pemerintah.

Sesuatu itu adalah pertemuan.

Aku bertemu dengan Bidriel.

"Masih empat hari lagi," kataku pada Mou. Suaraku teredam bulu-bulunya. Catray itu tidur di atas wajahku.

Saat ini aku dan Mou berada di rumah pohon rahasia. Kita sedang tidur-tiduran sehabis makan keripik meteor dan minum beberapa gelas jus.

"Ngomong-ngomong ... ini hari terakhir upacara pelepasan si Myrd Atate berambut merah itu. Mungkin bagus juga kalau aku datang. Bagaimana menurutmu, Jelek?"

Mou merespons pertanyaanku dengan dengkuran dan sedikit kibasan ekor. Kuangkat dia, kulempar dia keluar jendela.

Aku bangun.

Berdiri, melamun, di depan kaca selama beberapa saat tanpa alasan yang jelas. Aku melihat wajahku dipenuhi bulu-bulu perak dan kuning. Catray sialan.

Kupungut jaket hitam di lantai kayu, dan kupakai sepatu bot kulitku.

Sudah kuputuskan. Aku akan turun ke bawah, menghadiri upacara pelepasan.

Ketika menutup pintu, kudengar Mou mengeong di belakangku. Catray itu sudah naik lagi, baru tiba di anak tangga teratas. Kuhampiri dia.

"Jaga markas, Jelek," kataku sambil menekan kepalanya. Mou mendesis.

Aku turun dari rumah pohon, terus berjalan sampai keluar taman.

Hujan cahaya yang semakin deras membuatku tidak bisa melihat terlalu jauh ke depan. Tapi aku tahu saat ini aku sudah sampai di depan wilayah auditorium. Aku bisa melihat beberapa garis pagar di antara warna putih yang bersinar. Dan ... dua sosok di dekatnya.

Salah satu dari mereka terbaring. Satu lagi bersimpuh.

Kupercepat langkah, berjalan semakin dekat—

Aku berhenti ketika menginjak sesuatu yang basah.

Genangan darah. Merah kehitaman, mengalir dari sosok yang terbaring.

Dari jarak ini aku tahu siapa dua sosok itu.

Yirak, kepalanya bersandar ke besi pagar. Dia sosok yang terbaring dan berdarah. Butuh sedetik bagiku untuk menyadari Yirak sama sekali tidak memiliki tangan sekarang, dan aliran darah itu berasal dari sana, dari luka menganga di sekitar pundaknya.

Sementara satu sosok yang bersimpuh di sampingnya, Bidriel.

Darahku membeku.

Pelan-pelan Bidriel menoleh ke arahku. Sesaat wajahnya terhalang cahaya, kemudian ketika sinar itu menghilang, aku bisa melihatnya. Ekspresi Bidriel yang kosong, dingin, dan ketakutan.

Kuperhatikan tanpa berkedip. Bidriel membuka mulutnya, kemudian mengatakan sesuatu, hampir tak bersuara, dan aku hanya membaca gerakan bibirnya.

"Jangan mendekat. Pergi."




2





Gurun Berbatu
Bulan

 


"Portal dan persiapan keberangkatan sudah selesai. Sekarang, apa Anda ingin menunggu sampai yang lain sadar?" tanya maid.

Aushakii menggeleng.

"Tidak, bisa-bisa nanti mereka berkelahi lagi."

"Baiklah," kata maid itu, tersenyum. "Ikuti kami."

Maid berjalan ke halaman tengah, Aushakii mengekor.

Di halaman tengah, maid meminta Aushakii untuk memosisikan diri di dekat ketiga anggota lainnya.

Aushakii bersila di samping Eve.

Kemudian, selama beberapa saat, udara di sekitar mereka seolah membias—bergerak, berputar—dan terfokus di belakang maid yang berdiri di samping kasur.

Udara-udara itu menciptakan sesuatu.

Sebuah portal.

Portal berbentuk pintu kayu raksasa yang tampak usang.

Kedua mata Aushakii berbinar.

Terdapat banyak tulisan dan gambar-gambar sederhana yang dicoret menggunakan cat putih.

Ia baca beberapa.

Aku benci pekerjaan rumah!!!!
Kenapa dia melarangku untuk tidur, sih?
Memangnya kenapa kalau aku ANEH?!
Jadi seksi itu melelahkan....

Lalu gambar-gambarnya. Aushakii melihat sketsa bulan dan planet-planet, beberapa gadis berkacamata, dan dua tangan kecil yang saling bergandengan.

"Siapa yang coret-coret di sini?" tanya Aushakii polos.

Anak berkulit gelap itu kini memperhatikan tulisan dan gambar yang paling besar, yang terletak di tengah pintu.

Berbeda dari kebanyakan tulisan dan sketsa-sketsa yang seolah dibuat oleh anak-anak, gambar dan kata-kata besar di tengah pintu terlihat jauh lebih rapi, seolah dibuat jauh setelahnya.

Aushakii tidak tahu gambar apa itu. Tapi secara keseluruhan, bentuknya seperti roda besar yang rumit.

Sementara tertulis di bawahnya:

Janji untuk kembali ke hari itu....

"Dikarenakan jumlah calon peserta yang melebihi dugaan dan persiapan yang sedikit terlambat, kami memohon maaf sebelumnya, semua portal jenis baru sudah habis terpakai," jelas maid, ramah. "Pintu ini merupakan portal jenis lama, dan untuk semua kerusakan berupa coretan di permukaannya, kami pastikan itu tidak akan berpengaruh pada proses pemindahan nanti.
"Dan untuk menjawab pertanyaan Anda, semua coretan ini diciptakan oleh Nona Ruu dan Tuan Hewanurma."

Aushakii mengangguk-angguk. "Pasti masa kecil mereka bahagia—"

"Baiklah," lanjut maid itu. "Berpindah sekarang?"

Sambil masih mengangguk, Aushakii menggenggam kantung kecil di pinggangnya. Lalu ia menoleh, memperhatikan Eophi, Puppet, dan Adhy yang terbaring bersebelahan.

"Ya," kata Aushakii, tanpa keraguan. "Sekarang."

Maid tersenyum ramah.

Bersamaan dengan itu, pintu usang di belakangnya terbuka dan tumbang ke depan dengan sangat cepat, seolah hendak menelan kelompok terakhir calon peserta Battle of Realms beserta maid pemandunya.

Pintu usang itu menghilang sebelum menyentuh lantai batu halaman kastel utama Despera.

Menghilang dan berpindah.

Ke tempat babak penyisihan.


***


Gurun berbatu dan lembah-lembah sejauh mata memandang, lalu kabut-kabut di beberapa wilayah dan reruntuhan jauh di depan sana, adalah pemandangan yang terpampang di hadapan Aushakii setelah proses pemindahan selesai.

Saat ini malam. Malam yang cerah tanpa ada awan sama sekali. Konstelasi bintang asing bertaburan di langit, dan, sebuah bulan dalam fase penuh, berpendar biru pucat menyinari kegelapan di sekitarnya, menggantung tepat di tengah gurun.

"Bulan yang indah," gumam Aushakii, lalu ia beralih pada maid yang berdiri di sampingnya dan bertanya, "Sekarang apa?"

Sambil tersenyum, maid itu menunjuk punggung tangan Aushakii.

Ada semacam simbol di sana. Berwarna putih, berbentuk dua angka nol yang disatukan.

"Tekan simbol itu untuk menampilkan informasi seputar babak penyisihan Battle of Realms," jelas maid.

Aushakii menekan punggung tangannya.

Panel transparan berisi tulisan-tulisan muncul di depan wajahnya, dan suara yang sama seperti suara maid di sampingnya mulai menjelaskan poin-poin yang tertera.

"Dan tekan sekali lagi untuk menonaktifkan informasi."

Aushakii mengangguk.

"Cukup mudah," kata anak berkulit gelap itu sambil tersenyum lebar. Ia tekan lagi punggung tangannya dan panel informasi menghilang.

"Ada pertanyaan lain?"

"Um. Tidak."

"Baiklah." Maid mengangguk pelan. "Untuk sementara, itu adalah akhir dari asistensi kami.
"Selamat berjuang."

"Ya, terima kasih!" seru Aushakii.

Maid itu tersenyum, kemudian menghilang.

Hampir bersamaan dengan itu, Adhy terbangun.

Pemuda pemakai bandana merah ini berdiri pelan-pelan, langsung memperhatikan sekeliling.

Gurun berbatu, lembah, dan malam, adalah apa yang ada di sekitarnya.

"Apa aku masih berhalusinasi?" tanya Adhy.

"Bukan halusinasi," kata Aushakii. "Ini tempat babak penyisihan."

"Aushakii?"

Aushakii sedikit menunduk. "Maaf, Adhy, tadi kau dan Puppet harus—"

"Sebentar," Adhy memotong.

Aushakii bungkam.

Adhy memperhatikan semua yang berada di dekatnya.

Eophi yang masih tertidur di atas kasur, Puppet yang terbaring di sampingnya, dan Eve si kucing hitam yang sedang menjilati punggung tangan.

"Begitu, ya?" Adhy menggumam sambil meraba luka gores di pinggangnya. Ia tersenyum pada Aushakii. "Terima kasih, Aushakii. Aku paham. Itu keputusan yang keren."

Senyum Aushakii mengembang.

"Nah. Sekarang kita harus apa?" tanya Adhy.

Aushakii tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Karena pada saat yang sama, Puppet terbangun.

"Puppet, maaf," kata Aushakii sambil membantu Puppet berdiri. "Aku terpaksa bikin kamu sama Adhy berhalusinasi tadi, supaya kalian berhenti. Jujur, aku kurang suka sama tindakan kamu. Kamu serakah. Jangan kayak gitu lagi, ya? Kita satu tim sekarang."

Puppet mengangguk pelan. Lalu sama seperti Adhy, gadis berambut hitam itu langsung memperhatikan sekeliling.

"Kita berada di tempat yang sangat tinggi," Puppet menggumam, pandangannya tertuju pada bulan. "Dan ada keributan di bawah sana."

"Hey." Adhy berjalan ke depan Puppet. Ia mengulurkan sebelah tangannya. "Aku memang kurang paham kenapa kamu benci sama aku. Tapi, apa pun itu yang jadi alasannya, aku minta maaf."

Puppet menyambut uluran tangan Adhy, meski jabat tangan itu hanya berlangsung selama sepersekian detik.

"Mereka yang memanfaatkan orang lain demi kepentingan pribadi," kata Puppet, dingin, "adalah mereka yang aku benci. Aku melihat itu di dalam sifat setiap orang dewasa."

"Kalau begitu aku tidak termasuk." Adhy tersenyum.

"Semoga."

"Hore, damai! Sekarang, ayo jelajahi tempat ini!" seru Aushakii, antusias. "Puppet benar soal ketinggian. Menurutku, kita pasti berada di salah satu tiang batu raksasa, lihat, ada beberapa lagi di kejauhan. Dan, ya, aku juga mendengar keributan di bawah sana. Tapi ... yang paling penting untuk diperhatikan sekarang adalah bagaimana kita turun, lalu, tentang lingkaran di sekitar kita. Aku merasakan ada sesuatu yang aneh pada garisnya."

"Lingkaran?" tanya Adhy.

Aushakii menunjuk ke tanah keras yang sedikit melandai, beberapa meter di depannya. Terdapat garis tipis berwarna hitam, terus melengkung sampai memutari mereka.

"Hm. Mungkin itu cara untuk turun." Adhy berjalan ke arah garis.

"Aushakii, apa perempuan pelayan itu memberikan petunjuk tentang tempat ini?" tanya Puppet. "Kamu ke sini sama dia, kan?"

"Astaga, aku lupa!" pekik Aushakii. "Informasi tentang babak penyisihan ada di—"

Beberapa hal sekaligus, di saat yang bersamaan, terjadi dan memotong ucapan Aushakii.

Semuanya bencana.

Seketika Adhy berjalan melewati batas lingkaran, struktur bebatuan dan tanah keras pada tiang batu raksasa di bawah pijakan mereka longsor—seperti meluruh, membawa hanya sebatas tempat keempat calon peserta berada. Terus ke bawah.

Kabut-kabut di beberapa wilayah di depan mereka bergerak naik, membentuk semacam kubah sebelum akhirnya terpencar kembali ke bawah—memuntahkan sesuatu dalam jumlah yang sangat banyak.

Lalu bulan. Bulan biru yang menggantung di tengah gurun, perlahan bergerak turun, kemudian meledak tanpa suara. Menembakkan gelombang sinar pucat yang selama sesaat membutakan penglihatan.

Pijakan keempat calon peserta baru menyentuh daratan utama ketika cahaya di langit berubah warna. Merah gelap. Gelombang terakhir dari ledakan tanpa suara itu seolah membakar atmosfer—arus api secara merata menghanguskan semua yang terang dan mengembalikan malam pada kegelapan.

Sambil berusaha untuk berdiri di antara pecahan bebatuan dan serpihan tanah keras, Puppet, Aushakii, dan Adhy menengadah ke langit.

Bulan menghilang.

Siluet dari sesuatu yang sangat besar melayang-layang di tengah gurun.

Kesunyian yang membunuh seolah membekap semua yang berada di sana selama beberapa saat, sampai, terdengar suara geraman—menggema di udara.

Bersamaan dengan itu, pada bagian tengah siluet raksasa, setitik cahaya merah menyebar ke segala arah. Membentuk garis-garis yang saling terhubung.

Siluet itu menyala. Terbakar. Memperlihatkan wujud sebenarnya.

Sepasang sayap hitam, dengan retakan-retakan seperti jalur emas, mengembang perlahan. Makhluk itu berpijak di langit menggunakan dua kaki belakang, sementara kedua kaki bagian depan menendang udara dengan liar.

Surai apinya berkobar dan bergerak-gerak ketika ia membuka mulutnya untuk kemudian meraung.

Raungan kematian. Jenis suara yang mampu menggetarkan semua keberadaan di sekitarnya.

Kuda api raksasa mengamuk di langit.

Gerakan kedua sayapnya, yang pada saat ini berubah merah menyala, menciptakan lubang-lubang hitam di sekitarnya. Lalu puluhan bola api, seperti meteor, bermunculan dari sana dan melesat ke berbagai arah.

"Kalian tidak apa-apa?" Adhy setengah berteriak pada Puppet dan Aushakii, sebuah bola api baru saja menghantam permukaan tidak jauh dari tempat mereka berada.

Mereka terhempas oleh angin ledakan, dan mendapat kesulitan karena pijakan yang bergetar.

"Kita harus pergi. Menjauh!"

Aushakii menggeleng pelan.

"Di belakang kita lembah," kata anak berkulit gelap itu. "Lembah, kabut, dan keributan asing lainnya. Di sini tempat terbaik kita."

"Kita bisa bertahan di sini." Puppet memperhatikan hujan meteor yang masih berlangsung, turun mengguncang gurun berbatu. "Serangan makhluk itu acak. Kita punya kesempatan."

"Tidak, Puppet, Aushakii, jangan bodoh!" Adhy menegaskan. "Kita pasti mati kalau terus ada di sini."

"Apa ada tempat aman di situasi seperti ini?" Puppet menatap Adhy, sinis. "Jangan jadi pengecut."

"Bukan itu maksudku!" Adhy berteriak, maju ke depan Puppet.

Puppet menamparnya.

"Puppet! Hentikan!" Aushakii dengan cepat berdiri menengahi. "Kenapa—"

"SERANGAN!"

Peringatan dari Adhy terlambat mendapat respons.

Bola api menghantam permukaan, sangat dekat dengan tempat mereka berdiri dan berdebat.

Ketiganya terhempas, terseret hingga ke tepi jurang.

Aushakii segera bangkit, mengabaikan perih dari beberapa luka di tubuhnya dan efek setelah serangan tadi. Tidak lama, Adhy mengikuti.

Keduanya menghampiri Puppet dan Eve yang masih terbaring.

Adhy membantu Puppet untuk berdiri, sementara Aushakii mengecek kondisi Eve.

Boneka panda Puppet, Eustas, terselip dari pelukan, terjatuh. Gadis berambut hitam itu merintih. Ia terluka di bagian perut. Dan serangan yang lain melesat dari langit.

Kali ini sebuah bola api mengarah tepat ke arah mereka bertiga—

"Jangan pernah tidur di atas sesuatu yang lapuk, idiot!"

"Sudah, jangan terlalu keras. Dia baru setengah bangun, percuma. Dan kita tahu dia memang idiot, jadi ... terima saja."

Dentuman keras tercipta ketika seorang anak berambut hijau yang memegang bantal seolah memegang perisai, dan memegang guling seolah memegang pedang, berdiri tepat di jalur serangan—menahan bola api.

"Cepat, cepat, cepat! Sebelum kita hangus!"

"Tenang. Tarik napas, Ed."

Kasur putih yang melayang beberapa senti dari tanah, selimut yang setengah berdiri di atasnya, dan seekor naga merah yang sedang menguap di baliknya. Mereka menghampiri Puppet, Aushakii, dan Adhy.

"Be-benarkah? Selimut dan kasur itu berbicara?" kata Aushakii. Susah payah ia menelan ludah. "Dan ... anak berambut hijau itu bangun! Dia bangun!"

"Dia, Nak, bernama Eophi Rasaya," kata kasur putih, tenang. "Sekarang, semuanya naik. Kita turun ke bawah."






Memori Eophi
Pesan


​ 

Aku masih berdiri di atas genangan darah Yirak ketika sesuatu meledakkan auditorium, dan Bidriel bergerak seperti menghilang, sangat cepat, ke arah ledakan.

Kecepatan Bidriel tidak normal.

Situasi ini benar-benar tidak normal.

Kobaran api dan angin ledakan yang menjauhkan kepingan cahaya di sekitar auditorium memungkinkanku untuk melihat secara jelas apa yang terjadi di sana.

Bidriel sedang menyerang sesuatu, sesosok makhluk. Dan makhluk itu bukan berasal dari tanah ini. Makhluk itu bukan Myrd.

Sayap yang terbentuk dari semacam asap hitam terpasang di kedua mata kaki bagian luar, dan dua tombak hitam yang dirantai langsung di masing-masing tangan sebagai senjata. Aku pernah membaca tentang keberadaannya pada salah satu buku sejarah di perpustakaan. Makhluk itu adalah penghuni De Soliant.

Makhluk itu melempar kedua tombaknya ke arah Bidriel.

Serangan itu masing-masing mengarah kepala dan pinggangnya

"Menghindar!" aku menjerit, suaraku serak.

Tapi Bidriel tidak bergerak.

Dia menghilang.

Dua tombak yang menyerangnya terlempar ke samping, dan rantai yang menghubungkan kedua senjata itu dengan pemiliknya terputus—hancur berantakan, ada sesuatu yang sangat cepat dan tajam memotong tepat di tengah jalur lemparan.

Sedetak jantung kemudian, aku kembali melihat Bidriel. Dia berdiri menyamping. Api besar yang masih membakar auditorium menciptakan garis terang kemerahan yang membingkai siluet dirinya. Sebelah tangannya terangkat ke atas, mencengkeram sesuatu.

Bidriel sedang mencekik dan mengangkat penghuni De Soliant itu.

Aku menolak untuk mengalihkan pandanganku ketika Bidriel, menggunakan sebelah tangannya yang bebas, menusuk tubuh lawannya.

Selain memiliki kecepatan yang tidak normal, kekuatan Bidriel juga benar-benar tidak masuk akal.

Darah memercik ketika Bidriel menarik keluar tangannya dari lubang di perut lawan. Kemudian Bidriel melempar penghuni De Soliant yang pasti sudah sekarat itu ke dalam api.

Dia melihatnya terbakar sebentar, memastikan kematiannya, kemudian berjalan ke arahku.

Bidriel berjalan di atas besi-besi pagar yang hancur ketika dia melewatinya tadi, kemudian dia melirik Yirak sebentar, dan akhirnya dia berhenti di hadapanku.

Kita berdiri di atas genangan darah. Tidak terlalu jauh dari api yang terus berkobar, dan di antara hujan cahaya.

Sekarang, ketika aku bisa melihatnya dengan jelas sekali lagi dalam situasi ini, akhirnya aku tahu aku sangat merindukannya. Aku sangat menantikan pertemuan lain dengannya setelah hari itu.

Aku benar-benar menunggu dia mengubahku.

Aku memperhatikan matanya, merah gelap dan jernih karena memantulkan cahaya dari hujan deras di belakang sana.

Bayangan mengerikan ketika dia mampu bergerak sangat cepat dan memiliki kekuatan yang tidak masuk akal, juga melintas bersamaan di dalam pikiran.

Tapi perlahan, rasa takut yang ditimbulkan bayangan itu menghilang ketika dia tersenyum.

Bidriel tersenyum.

Senyum yang menyiratkan keletihan.

Dia menunjuk sesuatu di belakangku. Pelan-pelan aku menoleh, dan tidak bisa melihat apa-apa selain cahaya.

Lalu, sesuatu yang sangat menyakitkan dan menyengat, selama sesaat, kurasakan sebelum akhirnya semua yang berwarna putih di penglihatanku berubah menjadi hitam total.


***


Hampir bisa dibilang bakat, atau mungkin hanya lelucon tentang jenis pertahanan abnormal, bahwa aku bisa merasakan sekeliling bahkan ketika aku sedang tidak sadarkan diri.

Misalnya ketika aku tidur, atau melamun, aku tetap bisa menerima dan mendengar apa saja yang sedang terjadi di dekatku dengan baik.

Dan kadang, aku bisa dengan bebas untuk memilih mau merespons apa. Misalnya, waktu itu ketika Mou duduk di wajahku sambil mengeong meminta makan, aku bisa saja memilih untuk bangun dari tidur pada saat itu juga dan melemparnya keluar jendela.

Situasi itu sama seperti saat ini.

Bidriel, yang mengira aku pingsan dan sudah benar-benar tidak sadarkan diri, memapahku sampai ke rumah pohon rahasia.

Meski sedang pingsan, aku tahu saat ini aku sedang berada di sana. Suara geraman yang khas dari Mou ketika kedatangan Myrd asing—yang pernah kudengar sebelumnya ketika baru menemukan rumah pohon ini—adalah buktinya.

Bidriel membaringkanku di tempat tidur, kemudian kurasakan tubuhku diselimuti sampai ke ujung dagu.

"Jangan dulu bangun, Weirdo," kudengar Bidriel berbisik.

Dia pasti berada tepat di depan wajahku sekarang.

"Aku mau minta maaf, mungkin ini pertemuan kita yang terakhir. Tapi Weirdo harus tetap datang ke Eveninggraile empat hari lagi, ya? Semuanya sudah siap di sana."

Hampir seketika, aku mencoba untuk bangun dan menanyakan padanya apa maksud dari pertemuan terakhir itu.

Tapi aku tidak bisa bangun.

Ini adalah kondisi di mana aku tidak bisa secara bebas untuk merespons. Kenapa sekarang? Apa pingsan berbeda dari tidur dan melamun?

"Selamat tinggal, Weirdo. Ini memang waktu yang sangat singkat untuk kita, tapi aku senang kita bisa saling kenal."

Aku mencari bagian tubuhku di dalam kegelapan, berusaha mencubit, memukul, atau melakukan apa saja yang bisa membuatku tersadar.

Semuanya sia-sia.

Aku tetap berada di dalam kegelapan.

Aku hanya mendengar tanpa bisa membalas.

Bidriel mengusap rambutku, dan kurasakan ciumannya di pipi. Setelah itu dia bangkit, berjalan menjauh. Kudengar Mou menggeram sekali lagi. Catray bodoh, Bidriel tidak berbahaya, dia temanku. Seharusnya aku bangun sekarang.

"Lihat aku di langit, ya, Weirdo?"

Kudengar teriakanku sendiri di dalam kegelapan memanggil namanya, lalu suara pintu yang tertutup.

Bidriel pergi.






Gurun Berbatu
Kerja Sama

 


"Berandal-berandal itu sudah turun," kata guling putih di tangan kanan Eophi. "Hey, idiot, kau sudah bangun total, kan?"

"Ya ... sudah," Eophi merespons.

"Sebenarnya aku bisa saja menahan bola api yang lucu ini sampai kekuatannya padam," bantal putih di tangan kiri Eophi menimpali. "Sayangnya, kita juga harus turun."

"Ya, ya, ya. Mulut perempuan—lha? Masih ditahan? Ayo, idiot! Lepas!"

Eophi mengendurkan pertahanan. Membiarkan dirinya terdorong oleh bola api yang akhirnya membentur permukaan.

Bersama dengan bantal dan gulingnya, ia terjatuh ke dalam lembah.

Melintasi kabut, mendengarkan banyak keributan lain, sementara ledakan-ledakan dari hujan bola api di atas sana mulai teredam suaranya seiring jarak.

Pijakan baru terlihat setelah Eophi keluar dari lapisan kabut—ia melihat semacam sisi tebing yang melebar ke luar, seperti jalan. Penerangan tempat itu cukup baik, temaram, berasal dari cahaya aneh di dasar lembah, di bawah sisi tebing itu.

Ia memosisikan dirinya: kepala lebih dulu, wajah menghadap ke tanah keras. Lalu bantal dan guling ia satukan di depan untuk pendaratan.

"Sebenarnya, cukup pakai si songong," guling Eophi menyarankan. "Wajahku terlalu tampan untuk dijadikan bantalan."

"Tampaknya, kita punya isu tentang ketampanan di sini," bantal Eophi mendesah. "Biar kuluruskan, guling, mereka yang tampan seperti aku tidak pernah me—"

Eophi menyentuh pijakan.

Suara dari benturan yang teredam, terdengar ketika bantal dan guling Eophi menabrak tanah keras lebih dulu.

Eophi berguling satu kali, kemudian diam terbaring menatap kabut di atasnya.

Wajah dari seekor naga merah, dan anak berkulit gelap, segera menghalangi pemandangan itu.

"Hey, Eophi," kata Aushakii, "salam kenal! Aku Aushakii."

Aushakii membantu Eophi berdiri dan menuntunnya ke tempat Puppet dan Adhy.

Eophi melihat pemuda berbaju kotak-kotak, sedang sibuk memperhatikan panel transparan di depan wajahnya. Lalu seorang gadis berambut hitam yang sedang memeluk boneka panda, dan memangku seekor kucing hitam.

Mereka bersandar pada batu yang sama, tapi di sisi yang berbeda.

Aushakii memperkenalkan Eophi pada keduanya. Kemudian mereka berempat duduk berhadap-hadapan.

"Sekarang, setelah mengetahui keseluruhan informasi, banyak sekali yang harus dijual, eh, maksudku dibahas dan dilakukan," kata Adhy. "Tapi yang terpenting adalah menyelesaikan babak penyisihan ini secepatnya. Sisanya bisa menunggu."

"Ya, setuju! Ada strategi?" tanya Aushakii.

"Ada, nanti." Adhy mengangguk. "Sekarang, aku akan naik ke permukaan."

"Bunuh diri," gumam Puppet.

"Bukan. Kalian ingat, sebelum Tamon Rah si monster kuda itu menggantikan Alkima, ketika tiang batu kita hancur? Kabut-kabut di permukaan jauh di depan sana bergerak naik ke langit dan memuntahkan sesuatu," Adhy menjelaskan. "Sebelum membuat rencana, kita harus tahu dulu apa saja yang akan menjadi rintangan nantinya."

"Keren," Aushakii memuji. "Selamat berjuang dan hati-hati, ya!"

"Um, tidak ada yang mau ikut?"

Aushakii menggeleng.

Puppet bahkan tidak memperhatikan Adhy.

Eophi melamun, mendongak memandangi kabut.

"Oke. Jadi ... aku sendiri." Adhy berdiri. "Hm, Eophi? Boleh pinjam kasur terbangnya? Oh iya, apa anak berjubah itu sudah sadar?"


***


Sementara Adhy pergi ke permukaan bersama kasur Eophi, mereka yang tersisa di sisi tebing kini duduk mengelilingi seorang anak berjubah usang.

"Begitu sampai di sini, aku langsung mengecek sumber cahaya dan suara-suara dari dasar lembah. Ada pertempuran di bawah sana. Dan anak ini pasti terlibat kemudian melarikan diri. Ketika kutemukan, dia sedang memanjat tebing dalam keadaan terluka parah. Dia pasti sudah mati kehabisan darah kalau Puppet tidak segera menolongnya," kata Aushakii. "Sihir Puppet benar-benar hebat."

"Detzera, sihir yang bisa menyembuhkan atau mengutuk," jelas Puppet. "Aku pasti akan berusaha menyembuhkan setiap anak yang terluka. Tapi, untuk saat ini, sihir itu belum sempurna. Jadi kalian enggak boleh terlalu sering terluka juga."

Aushakii mengangguk.

"Apa itu juga alasan Puppet menyuruh Eve untuk mengecek Eophi di halaman kastel?"

Puppet tersenyum.

"Selalu ada beberapa kehidupan yang pantas untuk diperhatikan dan ditolong."

Aushakii mengangguk lagi.

"Oh iya, Eophi juga. Terima kasih sudah menolong kita semua di atas sana." Aushakii meninju pelan bahu Eophi. "Kau tertidur seperti beruang, dan bangun dengan sangat tiba-tiba."

"Ya," kata Eophi setelah jeda.

"Um, Eophi, lalu soal peralatan tidurmu," Aushakii berbisik, "kenapa mereka bisa berbicara? Apa mereka punya nama?"

Eophi memejamkan mata, menyangga pipinya, dan mendengkur.

"Jangan tidur lagi!" seru Aushakii. "Bosan, ya? Apa kau sudah melihat monster-monster di dasar lembah? Ayo!"

Aushakii menyeret Eophi sampai ke tepi tebing.

Pemandangan di bawah sana adalah campuran dari kumpulan berbagai monster, dan lautan api yang membakar deretan rumah-rumah.

"Gawat ... monster-monster itu sudah mulai naik!" pekik Aushakii. "Padahal tadi masih ada beberapa sosok berjubah yang melakukan perlawanan terhadap mereka!"






Gurun Berbatu
Kekalahan

 


"Perang."

Satu-satunya kata yang diucapkan Adhy ketika kembali ke dalam lembah.

Sekarang, pemuda berkacamata itu duduk menyendiri di balik batu.

"Hm. Menurut informasi, supaya lolos dari babak penyisihan kita harus menyegel Tamon Rah, dengan cara ... pergi ke reruntuhan kastel di utara dan menghancurkan dua menara secara bersamaan," Aushakii menggumam, menggaruk rambutnya. "Aku melihat reruntuhan dari atas tiang batu. Pasti itu tempatnya. Tapi, artinya itu jauh sekali."

Puppet yang masih menyibukkan diri dengan merawat seorang anak berjubah usang, sesekali menekan simbol di punggung tangannya untuk mengecek ulang informasi babak penyisihan.

Sementara Eophi hanya tengkurap, berselimut, di atas kasurnya sambil memeluk bantal dan guling. Seekor naga merah ikut tengkurap di sebelah kirinya, dan seekor kucing hitam di sebelah kanannya.

"Yap! Selesai," kata Adhy tiba-tiba. Ia mengangkat sebuah pena dan buku jurnal, lalu berjalan ke tengah-tengah agar terlihat dan terdengar oleh semua. "Aku punya satu rencana."

Semuanya mendengarkan.

Selama beberapa menit, Adhy mencoret-coret bukunya. Menjelaskan dengan sketsa, atau ucapan panjang yang mudah dicerna—ia mengatakan, bahwa kabut di sekitar gurun merupakan portal, dan ada dua makhluk besar yang bisa mereka gunakan untuk menghancurkan dua menara sekaligus. Ia kemudian menciptakan berbagai kemungkinan, dan peran untuk anggota tim.

Semuanya menyetujui rencana Adhy dengan cara masing-masing.

Akhirnya, penjelasan ditutup oleh pengakuan Adhy tentang kemampuan telepatinya dengan Tsaqif, dan, kemunculan sejumlah bola hitam yang turun dari kabut di atas mereka.

Bola-bola hitam itu berjatuhan seperti hujan.

Perlahan, mereka saling menyatu, membentuk wujud-wujud baru: sosok bertudung berjubah merah; hewan-hewan besar dan buas yang berpendar aneh; sekumpulan manusia berjas hitam membawa senjata api.

Juga pada saat yang bersamaan, di ujung jauh sisi tebing, barisan pertama monster-monster dari dasar lembah terlihat. Mulanya mereka berjalan, kemudian berlari membabi buta setelah melihat sesuatu yang hidup dan bisa dihancurkan.

Jalan lebar di sisi tebing ini diramaikan oleh jeritan, raungan, seruan, dan langkah-langkah berat yang berlari, atau sayap-sayap yang mengepak cepat. Berbagai makhluk menciptakan suara. Dan hampir seketika, semua keributan itu kembali pada senyap, semua pergerakan juga terhenti.

Dalam diam ... semuanya mendongak perlahan, ke lapisan kabut di atas mereka.

Bayangan dari sesuatu yang sangat besar, selama sesaat, berjalan pelan menggunakan empat kaki. Kemudian ia berhenti.

Kepalanya menembus kabut. Surai apinya bergerak-gerak, berdesis, menyuarakan satu-satunya bunyi pada saat ini. Kedua matanya yang hampa, pucat tanpa pupil, memperhatikan keramaian di bawahnya.

Geraman yang menggema sampai ke dasar lembah, mengawali raungan kematian yang setelahnya terdengar.

Kesunyian terpecah. Histeria.

Semuanya berlarian ke berbagai arah, berusaha menghindar sejauhnya, secepatnya.

Tamon Rah membuka lebar moncongnya, mengubah udara di sekitarnya menjadi arus api. Mengumpulkannya dan memadatkannya. Bola api meletup-letup di antara deretan taring dan rahang, menunggu untuk ditembakkan.

"Ini yang namanya nasib sial mendapatkan kesialan kuadrat," gerutu guling Eophi.

Eophi sendiri saat ini berdiri di depan Puppet dan seorang anak berjubah usang yang masih terbaring. Ia melindungi mereka dari serangan liar para Slime, dan dorongan beberapa Demon yang melarikan diri.

"Untuk sementara lupakan rencananya!" jerit Adhy, sambil menunduk menghindari ayunan pedang High Orc yang panik. Pemuda berkacamata ini terluka di bahu kiri, diserang ketika tadi selama sesaat terkepung. "Prioritas kita keluar dari sini!"

"Jangan!" pekik Aushakii. Beberapa anak panah melesat dari busur lengkungnya, mengarah ke mata naga-naga yang berusaha menerkam Puppet dari belakang. "Aku punya ide, Adhy! Kita bisa melanjutkan rencana, sambil melarikan diri!"

Aushakii menurunkan busur lengkungnya, menarik napas dalam-dalam. Kedua matanya tegas memandangi beberapa hewan buas yang berpendar aneh, yang berada di sekitarnya. Ia berkomunikasi dengan mereka, dan mereka merespons.

Melihat itu, beberapa sosok bertudung melempar sihir, semacam asap merah yang merayap cepat di tanah. Lalu beberapa manusia berjas hitam juga, bersiap menembak. Semuanya tertuju pada Aushakii yang masih tanpa pertahanan—

"Pillow Fight," bisik Eophi. Ia yang berdiri tidak jauh dari anak berkulit gelap itu, melempar bantalnya tepat ke tengah-tengah.

Bantal itu bersinar, melebar, menjadi benteng yang melindungi Aushakii dan dirinya sendiri. Proses penciptaan yang lebih cepat sepersekian detik dari serangan sihir dan peluru-peluru, menyelamatkan semuanya.

"Terima kasih, Eophi!" seru Aushakii, tersenyum. Lalu ia menarik napas dalam-dalam, dan berteriak lebih keras, "Sekarang, semuanya, ayo naik!"

Di atas mereka, Tamon Rah menembakkan bola apinya.


***


Bersama ledakan, seekor singa dan garuda keluar dari dalam lembah. Disusul bola-bola api, dan Tamon Rah sendiri.

Kuda raksasa itu mengamuk, melakukan pengejaran, tapi segera teralihkan oleh perang besar di permukaan.

Tampak beberapa ratus prajurit berjubah, menyebar melawan ribuan monster.

Kedua kubu itu, seketika, menatap langit. Mengutuk kembalinya Tamon Rah dari dalam lembah.

Gurun berbatu yang sudah hampir menjadi hamparan bara ini, kembali dihujani serangan-serangan berapi.

"Di duniaku, hal-hal semacam ini cuma fiksi!" jerit Adhy, anehnya, senang. "Itu juga kenapa aku mengejar naga merah milikmu di halaman kastel, itu punyamu, kan, Eophi? Yah, naga itu pasti punya harga jual tinggi. Dan naga itu adalah bukti pertama kalau semua ini nyata, kalau aku sudah tiba di Alforea! Dia makhluk aneh pertama yang kulihat setibanya di lapangan."

"Karena naga merah itu juga Adhy terlambat dan akhirnya kita membentuk kelompok." Aushakii, duduk di belakang Adhy, tersenyum lebar. "Kalau aku, setelah mendengar penjelasan dari wanita berdada besar dan laki-laki berjanggut runcing, aku langsung naik ke atas pohon. Mengobrol dengan Itand'je, dan terheran dengan kesamaan bahasa kita di tempat ini. Sampai akhirnya Puppet memanggilku."

"Ho, begitu. Hel disuruh si idiot mencari makan setibanya kita di Alforea," gumam guling Eophi. "Kebetulan sekali naga itu menjadi benang merah kelompok ini."

Eophi yang duduk di paling belakang, di atas kasurnya, hanya menguap.

"Oh iya, Aushakii, kenapa garuda ini dan beberapa hewan tadi bisa tiba-tiba jinak?" tanya Adhy.

"Mereka dari duniaku. Mereka para Spirit memang jinak, dan selalu mendengarku," jawab Aushakii.

"Hm. Itu semakin menguatkan dugaan, bahwa bola-bola hitam hanya bertransformasi menjadi monster yang berasal dari dunia kita masing-masing."

Saat ini, ketiganya berada di atas garuda.

Kedua sayap besar dari burung itu mengepak selaras, bergerak cepat menghindari bola-bola api, kemudian merapat, dan meluncur ke bawah. Menghampiri Puppet yang menunggangi seekor singa jantan besar bersama seorang anak berjubah usang yang akhirnya tersadar.

"Tolong Kakek dan Nenek," anak itu meracau, suaranya serak. "Mereka mati—"

Puppet memeluk anak itu.

"Siapa namamu?"

"Za."

"Za? Baiklah. Sekarang kamu tenang dulu, ya? Semuanya pasti baik-baik saja." Puppet menoleh ke arah garuda yang terbang rendah di sampingnya. "Selesaikan ini secepatnya."

"Ya," kata Adhy. "Kita bisa mendengar penjelasan dari anak itu ketika ini semua selesai. Sekarang, Aushakii, sesuai rencana. Jaga Puppet."

Aushakii mengangguk. Dengan satu lompatan terampil, ia berpindah. Dari garuda, ke atas singa.

Garuda kembali tinggi mengudara, dan singa menambah kecepatan. Keduanya sudah berada di zona aman, di mana pusat peperangan dan Tamon Rah sendiri berada cukup jauh di belakang mereka.

"Itu reruntuhannya," kata Adhy sambil melihat jauh ke depan. "Dan itu monster kita. Ayo!"

Mereka menghampiri sesuatu.

Dua makhluk yang memiliki ukuran tiga kali Tamon Rah. Mematung dalam posisi berjongkok.

Sepasang tanduk melengkung di atas kepalanya yang persegi. Memiliki mulut seperti sobekan yang melintang di tengah wajah. Tidak memiliki mata di tempat seharusnya. Badannya gempal dan tampak lunak, sementara kedua tangannya kekar dan kokoh—kesepuluh jarinya yang panjang mencengkeram tanah keras. Lalu di punggungnya, tersampir sebuah gada batu raksasa.

"Gron," guling Eophi buka suara. "Kuda gila itu tidak terlalu besar jika dibandingkan dengan salah satu monster Myrdial ini."

"Beruntung dia tidak bergerak—" kata Adhy.

"Sudah jelas, karena tidak ada Aellgis, hujan cahaya, di sini. Meski Gron besar, dia manja. Tipe ketergantungan," respons bantal Eophi.

"—jika ini berjalan sesuai rencana, Puppet akan mengendalikan makhluk itu untuk menghancurkan reruntuhan kastel dan dua menaranya sekaligus. Sementara aku, akan mengalihkan perhatian Tamon Rah. Karena menurut informasi tentang babak penyisihan, kuda raksasa itu memiliki kemampuan untuk mendeteksi. Dan kau, Eophi, ketika dia datang nanti tolong ditahan api-apinya, oke?"

Eophi mengangguk pelan.


***


Aushakii mendongak, memperhatikan garuda yang baru saja bertengger di ujung tanduk makhluk serupa mimpi buruk, bernama Gron.

Sementara ia sendiri, bersama Puppet dan Za, baru tiba di samping kaki Gron yang lain.

"Kulit kakinya terlalu tebal," kata Puppet setelah mencoba mengambil darah dari makhluk besar di hadapannya menggunakan senjata yang tidak bisa dilihat oleh Aushakii.

Eve mengeong.

"Adhy memang jeli. Dia tahu kalau Puppet punya sihir yang bisa mengendalikan sesuatu, hanya setelah melihat reaksi aneh dari Eophi di halaman kastel," Aushakii menggumam, sambil, menggerakkan belatinya untuk membantu—menusuk, mengorek. Tapi tetap, kulit Gron terlalu kuat, tidak tertembus. "Aku tidak akan menyerah. Ini tugas penting buat Puppet, dan lebih penting lagi untukku karena aku harus membantunya."

"Belati. Sini. Kurang kekuatan," kata Za, si anak berjubah usang, pada Aushakii.

"Kekuatan?" tanya Aushakii.

Za mengangguk.

Aushakii memberikan belatinya.

Selama beberapa saat, anak berjubah usang itu mendekap belati, memejamkan mata.

Sampai akhirnya, belati itu dilapisi semacam aura hitam.

"Cepat. Tidak lama," kata Za.

Aushakii menerima kembali belati miliknya, dan, dengan satu gerakan menusuk, serangannya masuk.

Kulit Gron ditembus.

Darah hijau mengalir dari luka tusuknya.

"Hebat!" seru Aushakii, senang.

Puppet maju, mengambil contoh darah. "Hemograma," bisiknya, kemudian terdiam. "Detzera," Puppet melanjutkan, menitikkan darah hijau pada bagian tangan dan kaki Eustas si boneka panda.

Mereka menunggu. Aushakii menelan ludah—

"Berhasil!" pekik anak berkulit gelap itu.

Gron bergerak. Sebelah tangannya terangkat perlahan, berusaha menggapai gada batu di punggungnya.

Di saat yang bersamaan, menggema raungan kematian. Menandakan Tamon Rah yang melesat mendekat.

"Mungkin sudah tidak ada lagi yang menahan kuda itu di medan perang," kata Puppet datar, fokus pada pergerakan Gron.

Makhluk besar itu mulai berjalan. Aushakii, Puppet, dan Za, kembali menunggangi singa, mengiringi di sampingnya.

"Sedikit lagi!" seru Aushakii. "Jangkauan dari serangan gada raksasanya bisa menyapu reruntuhan dan menara, ayo—"

Empat bola api pertama menabrak punggung Gron yang dikendalikan Puppet. Sedetik kemudian, tanpa jeda, beberapa bola api lain menghantam.

Sekejap saja harapan menghilang.

Gron tumbang setelah hangus terbakar.

Sementara singa masih terus berlari, menghindari bola-bola api yang masih dilemparkan Tamon Rah, Aushakii menoleh ke belakang.

Kuda raksasa itu menumbuhkan tanduk api, kemudian menabrak Gron satunya.

Gron tempat Adhy dan Eophi berjaga.

Ledakan tercipta.

Tamon Rah berhasil menghancurkan penghalang di depannya, tapi, Aushakii juga melihat, kuda raksasa itu kini terjebak di tumpukan potongan tubuh Gron yang terbakar.

"Masalah," bisik Puppet.

Aushakii kembali melihat ke depan.

Tampak puing-puing. Lalu pemandangan dari suatu bangunan yang dulunya pasti merupakan kastel besar dan megah, dengan dua menara berdiri kokoh di dua sisi yang berbeda.

Mereka tiba di wilayah reruntuhan, dan langsung disambut beberapa serangan dari monster-monster yang tak terhitung jumlahnya.

Za, meminjam belati Aushakii, membantu menciptakan perlawanan.

Lalu semuanya terjadi dengan sangat cepat—Aushakii sedang mencoba mengendalikan beberapa Spirit dari kumpulan monster, ketika tebasan liar di saat yang bersamaan, gagal dihindari seutuhnya, berhasil memotong kantung kulit yang terikat di pinggangnya.

Nyaris seketika, Aushakii meringkuk. Tubuhnya bergetar hebat, kedua tangannya berusaha menggapai kantung kulitnya yang terlempar agak jauh ke depan.

Serangan dari berbagai arah mengincar anak berkulit gelap itu.

"Denbora!" seru Puppet.

Udara berdengung beberapa saat, kemudian semuanya berhenti. Tidak ada yang bergerak di wilayah reruntuhan selain Puppet.

Puppet bergerak secepatnya—sambil memeluk Eustas dan Eve, mengambil kantung kulit yang tergeletak, kemudian menghampiri Aushakii dan menariknya keluar dari jangkauan serang.


***


Eophi dan Adhy—mengudara di atas kasur putih setelah garuda mereka gagal menghindari serangan Tamon Rah—tiba di reruntuhan kastel. Di atap.

"Ayo, kita cari mereka," kata Adhy. "Kita harus berkumpul, lalu mundur dan memikirkan rencana yang lain ... sialan! Aku tidak menyangka Tamon Rah sekuat itu. Maaf ...."

Eophi melihat sekeliling. Di berbagai arah, bermunculan dari dalam lembah terdekat, pasukan-pasukan monster tambahan.

Makhluk-makhluk itu menyebar, sebagian berlari menuju pusat peperangan di tengah gurun, sebagian berlari menuju reruntuhan kastel.

"Em si bantal, Eg si guling, Ed si selimut, Ep si kasur," kata Eophi tiba-tiba. "Dan Hel si naga merah."

"Maksudnya?" tanya Adhy, bingung.

Jeda sedetik, Eophi menjawab, "Tolong diingat, dan sampaikan pada Aushakii. Itu pertanyaannya. Tadi belum sempat jawab. Oh iya ... kalian bertahan di sini sebentar lagi. Soal kuda itu ... akan kupikirkan sesuatu. Dan kalau berani, tolong sampaikan pada Puppet, dia punya dada yang bagus."

Sebelum Adhy bisa protes, Eophi sudah terbang menjauh.


***


Kasur putih mendarat di tanah keras, tidak jauh dari reruntuhan kastel.

Eophi berdiri di atasnya. Guling di tangan kanannya, bantal di tangan kiri, selimut terpasang di punggung—seperti jubah, dan seekor naga merah kecil terbang mengitari kepalanya.

"Hey, idiot. Ingat, ini berbeda dari insiden misi pertama di De Soliant," kata Eg si guling. "Waktu itu ada Etholin, Frerra, dan Unoas yang melindungimu. Tim itu mati untukmu."

"Sekarang," Em si bantal menimpali, "kau pelindung sendirian."

Dari depan wilayah reruntuhan, Eophi menoleh ke belakang. Ia seolah mampu melihat Adhy, Aushakii, Puppet, dan Za. Di mana keempatnya berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup.

"Atau apa tadi kau mengingat mereka? Etholin dan yang lainnya, menggunakan kalung eksistensi Bidriel?" Eg memulai lagi. "Kalau iya, itu persiapan yang bagus."

"Karena sekarang," Em kembali menimpali, "mungkin kau yang harus mati untuk tim."

Tamon Rah meraung di ujung jarak pandang. Kuda raksasa itu sedikit lagi berhasil melepaskan diri dari tumpukan potongan tubuh Gron.

Fokus Eophi kembali ke depan.

"Jangan paksakan dirimu, Phi," Ep si kasur berujar tenang. "Tapi lakukanlah yang terbaik."

Hel menjerit.

"Dia datang! Datang! DATANG!" Ed si selimut, berkibar di punggung Eophi, berteriak histeris.

Tamon Rah bebas.

Seketika, sekujur tubuhnya kembali menyala, terbakar, kuda itu meraung-raung. Membabi buta melesat ke depan, ke arah reruntuhan. Meninggalkan jejak api dan ledakan.

"Bukan," kata Eophi, tiba-tiba. "Bukan itu yang kuingat ketika tidur tadi. Dan ... terlalu merepotkan kalau harus mati sekarang. Jadi ... nggak. Semoga nggak mati. Terima kasih untuk dukungan kalian.
"... NKIA."

Ep si kasur membentuk garis melengkung, tersenyum, sebelum akhirnya bercahaya, meledakkan Eophi ke atas, bertransformasi menjadi patung kura-kura raksasa.

Di udara, Eophi melihat pertempuran di reruntuhan terhenti. Semuanya, pada saat ini, memperhatikan dirinya.

Patung kura-kura raksasa menelan Eophi sebelum anak berambut hijau itu membentur pijakan.

Dan Tamon Rah, tanpa menghentikan lajunya, menabrak kura-kura itu sedetik kemudian.






Gurun Berbatu
Benda Langit

 


Patung kura-kura raksasa terlempar tepat ke arah reruntuhan kastel sebelah kiri. Sementara Tamon Rah, yang terus melaju meski lintasannya bergeser akibat benturan, kini mengarah ke reruntuhan sebelah kanan.

Bersama-sama, keduanya menghancurkan menara—tempurung kura-kura menghantam menara kiri, dan hantaman kecepatan penuh dari kuda raksasa yang diselimuti api meratakan menara kanan.

Tamon Rah seketika melesat ke udara. Meraung. Panjang dan menyayat.

Selama beberapa saat, semuanya mengira kuda raksasa itu akan menembakkan rentetan bola api.

Tubuhnya terbakar, menyala terang.

Kedua sayapnya tidak berhenti mengepak.

Ia terus berlarian di langit.

Sampai akhirnya, secara perlahan-lahan, sosoknya menghilang. Keping demi keping nyala terang, menguap ke langit malam.

Gurun berbatu semakin bercahaya, karena menyusul setelahnya, secara serempak, semua monster—hancur, menguap, menghilang.

Euforia prajurit-prajurit berjubah yang berhasil bertahan hidup sampai akhir, mengisi kekosongan yang tercipta setelah perang berakhir dengan begitu tiba-tiba.

Dan di satu tempat, di depan reruntuhan kastel, muncul begitu saja, satu maid berseragam biru pucat.

Maid itu tersenyum ramah sebelum mengatakan, "Selamat. Kalian berhasil melewati babak penyisihan Battle of Realms."


***


Di dalam patung kura-kura yang terbalik—setelah Ep si kasur dalam wujud kura-kuranya memberitahukan keberhasilan mereka.

"Em," kata Eophi, "aku butuh benda itu."

Em si bantal mengeluarkan suara aneh ketika Eophi merogoh dirinya untuk mengambil ear phone dan tablet.

"Jadi, idiot," kata Eg, "kau memperhitungkan semua ini? Arah terlemparnya kura-kura dan laju kuda gila itu setelah bertabrakan? Singkatnya, cara efektif menghancurkan dua menara sekaligus?"

Jeda.

"Aku ... sebenarnya baru mau memikirkan itu sekarang." Eophi mengangkat kedua bahu. Ia memilih lagu pada tablet: Camille Dalmais – Le Festin. "Tapi kalau ternyata menaranya sudah hancur, hm, bagus."

Jeda lagi.

"Jadi semua itu hanya kebetulan? Hey, jawab!"

"Eg ... sepertinya dia sudah tertidur."

"Ya, ya, ya. Aku tahu! Dan, Ep, sampai kapan kau menjadi kura-kura? Cepat! Aku butuh udara segar!"

"Tidak lama lagi," suara Ep menggema ketika menjawab. "Tidurlah dulu."




Epilog





Memori Eophi
Garis Waktu


​ 

Ini adalah hari yang dijanjikan.

Seharusnya, Bidriel yang menungguku di bawah sana. Bukan malah tumpukan benda-benda aneh.

Aku turun dari bukit kembar, ke Eveninggraile.

Dan untuk pertama kalinya, aku merasa kecewa pada padang rumput ini.

Aku kecewa karena dia tidak mampu menghadirkan Bidriel lagi.

Rasanya, sendirian di sini tidak lagi sama. Kurang membahagiakan.

Kuhampiri benda-benda aneh peninggalan Bidriel.

Ada pesan tertulis di kertas yang diberi pemberat, ditaruh di atas kotak hitam. Kubaca:

Jangan malas buat lihat semuanya, ya, Weirdo!
Tapi pertama, lihat dulu video buatanku. Cepat cari benda yang memiliki tanda bintang berwarna kuning.

Seenaknya saja dia pergi terus menyuruhku.

Aku cari benda itu.

Ketemu.

Entah berapa lama aku mencari cara untuk menyalakan benda pipih berbentuk persegi ini.

Setelah berhasil, Bidriel tersenyum padaku dari dalam sana.

HALO, WEIRDO! APA KABAR? SEMOGA BAIK-BAIK SAJA, YA!

Berisik sekali. Apa suaranya memang sebesar ini?

Selama beberapa menit, Bidriel menjelaskan tentang alasannya berada di Lillham ketika penghuni De Soliant itu menyerang. Kemudian tentang Yirak dan rumah pohon rahasia.

Penjelasan berlanjut, melebar ke mana-mana. Tentang kelulusannya, tentang kekasihnya di Stairberg ....

... intinya jangan pernah berhenti menjadi Myrd! Dan, jangan pilih media pertahanan yang aneh-aneh nanti! Contoh aku, Weirdo. Aku memilih ear phone, ukulele, dan payung. Yang normal saja!

Sambil terus mendengarkan, aku bersandar pada salah satu kotak.

Bidriel memang sudah pergi. Ketika malam tiba, dia akan melintasi semesta.

Sementara perjalananku, justru baru dimulai.

... begitulah, kita berteman selamanya. Dan tentang beberapa rahasia Myrdial, kalau Weirdo tertarik, dengar baik-baik, ya?
Ini tentang Battle of Realms.

26 comments:

  1. +1 karena masukin ilustrasi di tiap pembuka chapter, keliatan niatnya

    +1 karena punya gaya nulis yang khas banget, saya bahkan kagum ternyata ada yang nge-utilize tulisan pendek satu paragraf lebih daripada saya

    -1 karena kadang minimnya deskripsi bikin susah ngikutin apa yang lagi terjadi

    -1 karena banyak nama tapi ga diimbangi dengan importansi, kadang jadi lost selain yang emang oc peserta

    -1 karena pembuka kepanjangan

    +1 karena coba" mainan alur maju-mundur

    -1 karena Eophi sama sekali ga keliatan kayak 'karakter', attitude yang kayak ngerasa serba bosan juga bikin saya ikut bosan

    +1 karena semakin lama saya baca saya jadi ngerasa ini cocok buat semacem buku bergambar

    +1 karena saya bisa lancar baca sampai habis

    -1 karena sama sekali ga kerasa tantangan berarti di entri ini

    Dengan nilai netral 7, nilai akhir dari saya juga 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu poin minus semua yang saya takutin....
      semoga ada kesempatan lain buat perbaikan XD
      makasih ya Dyna, kak Sam :D))

      Delete
  2. Awalnya....
    Aki baca cepat cerita dan ini keren banget... Ilustrasinya, pemaparannya, stylenya pokoknya asik bgt dibaca... Aki bakalan baca ulang Di rumah buat ngasih poin2 yg bakalan jadi bahan penilaian. But... Aki ga mau Eophi tersingkir... So Aki kasi nilai

    10/10

    Karena niatnya... Pemaparannya, dan stylenya yg luvly sekali.

    Bun The Bubble

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bun The Bubble dobel komen :v jadi nilai Eophi 20 lol
      thanks Aki, ditunggu ya poin-poinnya ^0^)/

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Wow, panjangnya cerita ini. Tapi kepanjangan itu diselingi ilustrasi2 memikat yg bikin gigit jari #lupakan

    Tapi ya, sebatas itu. Poin paling spesialnya ya ilustrasinya. Ya, ini sih emang selera pribadi, tp saya gak terlalu suka gaya penceritaannya.

    Alurnya, dan tokoh-tokohnya, sering bikin saya bingung sendiri.

    Tpi, ah sudahlah. Poin untuk tulisan: 7

    Karena ilustrasinya bagus dan menandakan antusiasme th ajang menulis ini, saya tambain 2.

    Poin: 9

    -Dari Ahran-

    ReplyDelete
    Replies
    1. semoga bisa konsisten gambar di tiap ronde (lolos dulu oi!) XD
      yaaah... Ahran, style-nya emang gini ;_;
      tapi makasih ya udah bacaaa, saya juga udah bookmark prelim Ahran ^0^)/

      Delete
  5. Style tulisan sang author eophy seperti sedang berdongeng,jadi seperti sedang membaca kisah anak-anak...

    Di tambah dengan adanya illustrasi, semakin mirip dengan dongeng...

    Suka sih, fantasi banget..
    Tapi karena minimnya deksripsi terkadang bikin saya mengernyitkan dahi untuk mencernanya.
    Seperti apa itu myrd? Dan beberapa tokoh lainnya.

    Mungkin karena stylenya seperti ini jadi kurang terasa ketegangannya terutama saat battle.

    Bahkan selesainya pun selesai gitu aj tanpa lebih banyak progress dari masing-masing karakter.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lupa nilainya : 8

      Mampir-mampir kelapak Khanza yah :3

      -Khanza M. Swartika-

      Delete
    2. nggak adanya penjelasan jelas soal Myrd emang niatnya mau disimpen buat nanti (#ngeles xD #pede) tapi maaf ya buat minimnya deskripsi

      thanks Khanza udah mampir duluan :D) siap-siap giliran saya!

      Delete
  6. Aku melihat Puppet-ku di sana. Hebat. Cantik. Klasik.
    Dan aku melihat Adhy yang (sedikit) dibully.
    Karakter Puppet terasa, hanya kurang kelam.
    Lalu Aushakii, terlalu ceria, tapi oke juga,

    Yang -memang- agak mengganggu, jika memakai POV 1, Eophi ternyata pemikir juga, tapi memang ketika sudah masuk POV 3, Eophi seakan menjadi orang yang benar-benar 'weird'. Ini mengganggu, tapi jadi poin plus buat pembangunan karakter.

    Dan... hey, Eve bisa lempar tube obat lupa? Keren ajib!

    Pembagian karakternya juga seimbang.

    Bisa saya akui, seperti yang sudah orang-orang lain tulis... deskripsinya minim!

    Imajinasinya terlalu banyak untuk deskripsi seminim itu! Sayang banget eksekusinya kurang mulus.

    Lagi, ini keren karena malah jadi ada dua kubu yang perang di balik keempat kawanan absurd itu.

    Flashbacknya Eophi juga mantab.

    Nilai?

    Baiklah, atas dasar dari kehitaman sihir putih, saya beri nilai : 8

    -Eumenides/Puppet-

    ReplyDelete
    Replies
    1. first team comment ^^ ini earl grey-nya

      saya fokus ke Puppet aja ya? di cerita ini karakter Puppet yang dipake emang mostly soal kesukaannya dia sama anak kecil

      soal perpindahan Pov. Eophi itu mikir juga tau pas di Pov3 :v tapi ya kan karena dari awal putusin ga mau pake narasi yang jelasin pikiran karakter, jadi kebanyakan di dialog. intinya saya coba bikin Eophi yang cuma care atau give-a-fuck sama yang dia mau aja

      :' buat deskripsi, iya... maaf mengecewakan....

      well, thanks Puppet. petualangan pertama selalu yang paling berkesan :D) ditunggu prelim-nya ya~

      Delete
  7. Gambarnya bagus dan sesuai dengan alur ceritanya. Sisipan kisah dari masalalu Eophi membuat cerita turnamen menjadi kurang fokus. Penggambaran sosok Eophi seperti pemuda yang terjebak dalam dunia-nya sendiri membuatnya sulit untuk diajak kerjasama. Lumayan lelah juga kalau membaca cerita Eophi dalam sekali duduk (maaf, aku bacanya nyicil dari kemaren dan baru hari ini kuselesaikan). Dongeng yang menarik.

    Nilai: 8
    (OC: Tasya Freyona)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, dia emang gitu orangnya xD tapi tetep ko denger sekeliling

      soal pembagian fokus cerita, maaf ya, semoga nggak terlalu ganggu

      thanks before :D)

      Delete
  8. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  9. Po - Fatanir

    Gaya menulisnya asik. atmosfir di dunia asal Eophi juga bagus, worldbuildingnya kreatif. Tapi ini jadi lebih dideskripsiin dibandingkan battle atau cerita inti di Alforea. Ketika masuk Alkima plaza sampe lawan Tamon Rah, kyknya suasana tegang atau drama melankolisnya malah lebih terbangun di mimpinya Eophi dibandingkan di dunia aktualnya.

    karakter Eophi kurang tergambar sebagai pemalas yang menarik, lebih keliatan sebagai semacam narator kedua yang perannya adalah memalaskan alur cerita, sehingga kurang greget.

    Tapi sekali lagi, ciri khas worldbuilding dan storytellingnya cukup menyenangkan untuk dibaca. Paling kalau ada yg bisa ditingkatkan lagi adalah pengaturan porsi cerita. Kalau aja cerita inti di Alforea ditulis lebih rinci dan emosional dibanding kejadian2 flesbek Eophi, pasti bakal lebih mantap. Nilai dariku 7

    ReplyDelete
    Replies
    1. emang gambling banget pake alur ini, apalagi over... tapi siap om Po saya pasti pikirin lagi soal pembagiannya :D dan semua kekurangan, thanks om buat baca dan komentarnya ^0^)/

      Delete
  10. Cerita ini mengingatkan saya pada "The Great Triangel" XD
    pembagian POV 1 dan POV 3 juga sebenarnya asyik-asyik aja. Tapi mungkin karena belom bisa move on dari Basil, saya jadi merasa, pembagian POVnya kurang. Barangkali karena, ketika menceritakan memori Eophi, kita dibawa ke kehidupan yang sedikit melankolis tetapi ketika pergantian POV, kita dibawa ke wilayah peperangan. Ini membuat saya seperti merasa menjadi korban PHP yang perasaannya diaduk-aduk, karena perbedaan suasana dalam kedua POV. hehehe.. maaf kalau kalimat saya rada ribet dan sulit dipahami.

    Awalnya saya, malas membacanya karena liat sekilas, kayaknya panjang banget. Tapi saya penasaran, makanya saya lanjut membaca sampai selesai. dan saya terkesan pada pembagian karakter di sini, Adhy, Aushakii, dan Puppet punya porsi yang menurut saya sudah pas. Mantap. Karakter Eophy yang seorang defender, menurut saya juga digambarkan dengan apik.

    Nilai 8 untuk cerita ini.

    Salam, Ibon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. xD pov1 dan 3-nya mirip

      iya, Ibon, kalo dapet, emosinya jadi agak "kontras"... padahal udah diusahain ga terlalu jauh rasanya :'(

      many thanks for the compliment dan udah baca ini walaupun panjang :D Ibon juga udah saya baca

      Delete
  11. phewew.

    Aus girang banget :v well itu jadi semacam intrepresttstasti lain dari sosok dia, which is i havent explored yet and i kinda like it

    sy suka sama bab yang selang-seling antara masa sekarang dan hidup Eophi sebelum alforea. Eophi tidur terus nyaris di sepanjang jalan sementara temannya pada gelut. tapi penokohan dia kerasa karena itu.
    minusnya, sy setuju sama yang udah disampein beberapa komenter lain di sini. satu di antaranya tentang latar. ada hal-hal yang terlalu besar dan gak muat dimasukkan dalam satu kalimat. dan, ini perkara pribadi yes, tapi saya kurang suka sama satu kalimat yang cuma berisi satu kata.

    last but not least, i is like cara author yg sukses bikin hubungan antara bidriel dan eophi jadi terasa buram.

    rate 8 out of 10 pillow.

    man, i is kind.

    ReplyDelete
    Replies
    1. jadi Aus lebih emo atau tipe pemikir ya :v ? soalnya pas nulis bagian Aus juga lagi agak males berfilosofi, di mana, contoh dialog Aus dan Itand'je itu penuh perenungan dan majas-majas

      buat pembagian masa lalu-masa depan, seneng banget kalo ada yang ngerasa pas :D dan iya, Eophi tidur tapi sambil "ngedenger" juga ko xD

      kalo Bidriel, dia itu bisa dibilang punya poin penting disepanjang canon Eophi

      thanks, mate, ditunggu entri-nya ya ^0^)/

      Delete
  12. Pembawaan cerita ala dongeng XD

    Saya jadi hanyut dalam ceritanya dan narasi filosofisnya. Tapi andaikan bisa diseimbangkan dengan action yang mumpuni juga, ini bisa jadi luarrr biasa!

    Ilustrasinya juga niat. Saya jadi gampang ngebayangin situasi yang ada di cerita.

    8/10 dari saya, tambah 1 karena ini entri yang ada ilustrasinya, jadi 9/10.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  13. Ini agak OOT, tapi tulisan Author Eophi feelnya kaya Lexie Xu di novel Omen Series. Walau perbedaannya di setting, tapi entah kenapa feelingnya sama. Mungkin karena penggunaan POV dari karakter utama sendiri. Dilihat dari ilustrasi saja sudah kelihatan kalau author Eophi sudah profesional. Penggunan 1st POV untuk memori Eophi, dan deskripsi untuk sisanya benar-benar bikin saya sudah seperti baca Novel yang sudah diterbitkan.

    Pertemuan party entah kenapa berkesan, di dalam pikiran saya kerasa anak-anak kecil yang moe-moe sedang cari kelompok darmawisata. Terperinci, momen bertemu satu sama lain alurnya lancar.

    PLAK!

    Puppet menampar Eophi.

    "Gila, masih belum bangun juga," kata Adhy sambil berjalan ke samping Puppet.

    PLAK! PLAK!

    ^ EOPH BANGUN EOPH BANGUN *guncang2*

    Tapi sejujurnya, saya jadi skip2 bagian memori Eophi untuk fokus ke cerita. Saya skip terus, mungkin karena porsi Memori masa lalu kebanyakan, jadi cerita utama kesannya tidak menonjol. Tapi bagian pertarungan di bawah jadi semakin lebih seru.

    Dan saya baru sadar apa yang buat tulisan Author Eophie mirip dengan Lexie yaitu penggunaan satu kalimat dalam satu paragraf, jujur saja ini sebenarnya sulit banget.

    Saya ingin kasih 10, tapi karena Fokus pengkarakteran Eophie bukan di cerita utama (dan di memori masa lalu juga masih samar-samar) saya kasih minus 10
    Nilai akhir 9/10
    (Maida York)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Typo, kok minus 10 harusnya minus 1 hahaha.

      Delete
  14. Banyak yang bilang narasi Eophi mirip dongeng, tapi bagi saya kok nggak terlalu terasa begitu ya? Kurang imajinatif kalau pendapat saya sih. Atau barangkali kita penganut gaya narasi dongeng yang berbeda? Contoh narasi ala dongeng saya di sini: http://battle-of-realms.blogspot.co.id/2014/05/round-2-mhyr-ursario.html (kali aja sempet dibaca ya silakan :3)

    Nggak terlalu tergambar kelihaian dari tiap-tiap OC di dalam regunya Eophi ini. Bahkan Eophi-nya sendiri juga kurang tereksplor di sini dari segi pertarungannya. Kilas baliknya lumayan oke, bahkan lebih oke daripada inti cerita di prelimnya sendiri. Tapi saran saya, mungkin lebih enak kalau seluruh narasi masalalu itu dicetak miring saja, biar kentara beda dari awal. Dan buat pembaca yang males bisa diskip langsung ke inti cerita.

    Sama kayak komen Mbak Rakai di R4, paragraf satu kalimatnya kebanyakan. Jadinya malah kurang nampol. Kalau saya kan biasanya pakai gituan untuk penekanan narasi dramatis.

    Udah itu aja komennya.

    PONTEN 6/10

    OC: Kusumawardani, S.Pd.

    ReplyDelete