16.5.15

[PRELIMINARY] SORA SHIRAYUKI - MEMORIES IN DESERT

SORA SHIRAYUKI - MEMORIES IN DESERT
Penulis: Hiralius


Memories in Desert




            Tampak seseorang tengah berjalan sendiri menyusuri panasnya terik matahari bersama seekor tupai kecil berseragam p3k di pundaknya. Dia berjalan seperti tidak ada beban pada dirinya, meski kenyataanya dia sedang menopang tujuh buah pedang di punggung dan pinggangnya. Perban di tangan kirinya menjadi saksi bisu kematian keluarganya, luka insiden ZER yang membekas hingga hatinya. Tidak hanya itu, karena lukanya dia diusir dari Lisea yang merupakan tempat kelahirannya.


            "Sudah berapa lama aku berjalan?" gerutu lelaki itu.


            Tiba – tiba sebuah gempa dahsyat mengguncangkan dunianya, lelaki itu terjatuh tersungkur di tanah. Usahanya untuk bangkit sia – sia saja karena semakin lama gempa itu semakin kuat, disaat bersamaan seberkas cahaya mulai menyilaukan matanya. Lama – kelamaan cahaya itu semakin memudar dan terlihat sepucuk surat jatuh tepat di depannya. Sedikit demi sedikit, gempa bumi mulai mereda dan akhirnya hilang. Lelaki itu pun bangkit berdiri sembari membersihkan bajunya,


            "Surat apa ini?" tanya lelaki itu, tangannya mulai mengambil surat yang jatuh di depannya. Dibolak – baliknya surat itu hingga  terlihat sebuah tulisan kecil di pojok kiri atas surat itu.


            "Sora Shirayuki? bukannya itu namaku?" tanya lelaki itu. Tanpa ragu dia mulai membuka surat itu. Akan tetapi, di sana hanya tertulis kata – kata "ACCEPT", wajahnya mulai berubah seiring waktu.


            "Apa arti kata – kata "ACCEPT" in-,"



            Tiba –tiba penglihatan Sora mulai pudar, tubuhnya terasa berat hingga dia berlutut. Tanah di bawah kakinya mulai retak, celah – celahnya terlihat melepaskan aura ungu dari dalam tanah. Sora terlihat bingung melihat semua ini, dia merasa telah mengucapkan sesuatu yang tidak boleh diucapkan. Sebuah lubang hitam muncul di bawah Sora, tanah tempat berpijaknya sudah habis tersedot lubang hitam itu, kini gilirannya untuk jatuh ke dalam lubang hitam. Kesadarannya mulai menghilang dan akhirnya, dia tidak sadarkan diri ketika jatuh ke dalam lubang itu.


-----------------



"Dengan ini, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!"


"OHHRRYAAAA....."


            Terdengar suara keributan memasuki telinga Sora, matanya mulai membuka sedikit demi sedikit meskipun  kabur. Dengan perlahan dia mulai bangkit berdiri dengan kedua kakinya dan  berusaha keras bangkit  menopang beban tubuhnya yang masih lemas.


            "Dimana aku?" gumam Sora kebingungan, melihat ratusan orang sedang berkumpul di tempat itu.  Terakhir yang dia ingat hanyalah sepucuk surat yang bertuliskan namanya. Kepalanya mulai menoleh mencari surat yang dia baca tadi. Namun, dia tidak bisa menemukannya.


            "Hei kamu PEDANG BERJALAN!!"


            Dengan spontan Sora membalikan badannya, dia merasa suara itu sedang memanggilnya.


            "Aku?" tanya Sora sembari menunjuk dirinya,


            "Iya, siapa lagi kalau bukan kamu?" lanjut wanita berambut gelombang itu, Sora pun berjalan mendekatinya.


            "Sepertinya kamu kuat, masuklah di timku!!" bentak perempuan itu. Sora terlihat kaget mendengar perkataan itu atau lebih tepatnya dia tidak paham pada situasi yang dihadapinya saat ini.


            "Sebenarnya kita ada dimana nona?"


            "Jangan ganti pertanyaanku, cepat jawab dulu!"


            Sora terdiam mendengar ucapan perempuan itu, dia mulai mempertimbangkan dengan matang. Bibir Sora mulai bergerak lagi,


            "Aku ik-,"


            "Ahh... kelamaan lebih baik cari lainnya." perempuan itu pun pergi meninggalkan Sora seorang diri. Untuk kedua kalinya dia menginjak ranjau dihari yang sama. "Memang apa salahku?" tanyanya dalam hati. Dia pun pergi menelusuri tempat itu sendirian, sekilas tempat itu mengingatkannya dengan istana di Lisea hanya saja tempat ini begitu megah dan besar.


            Sora melihat sekelompok yang terlihat ramah, dengan berjalan gontai dia menghampiri mereka. Akan tetapi, belum sempat dia sampai disana mereka lenyap begitu saja.


            "Eh, kemana mereka?"


            "Maaf tuan," terdengar suara memanggilnya dari belakang badannya, perlahan Sora mulai membalikkan tubuhnya ke belakang. Terlihat perempuan berambut biru menggunakan seragam maid sedang menghampirinya.


            "Ada yang bisa aku bantu, tuan?" lanjut maid manis itu,


            "Nona, sebenarnya ini dimana?" tanya Sora,


            "Sekarang tuan berada di Alforea, tempat dimana seratus satu orang yang terpilih untuk mengikuti Battle of Realms. Di sini tuan harus menyelesaikan quest yang diberikan, semua yang mengikuti turnamen ini bukan orang biasa dan  tuan salah satunya. "


            Sora terdiam mendengar perkataan maid itu, dia merasa tidak percaya bahwa sekarang dia berada di dunia selain Egotron. Tidak hanya itu, sekarang Sora juga kaget mendengar dirinya menjadi peserta dari turnamen Battle of Realms yang baru saja dia dengar. "Pasti ini karena kata ACCEPT."


            "Sebaiknya tuan segera mencari pasangan karena, quest pertama tuan harus dilakukan minimal berdua."


            "Baiklah, terima kasih." balas Sora,


            Lelaki berambut short slicked itu mulai berlari meninggalkan maid, dia terlihat sangat terburu – buru. Di tengah kekhawatirannya, dia melihat perempuan berambut gelombang itu lagi. Tanpa ragu, Sora langsung memanggilnya.



            "Hei nona," panggil Sora.


            "Ada apa, hah?" jawab perempuan itu, wajahnya tampak kecut ketika melihat Sora.


            "Bisakah aku berkelompok denganmu?"


            Tiba – tiba terdengar suara tawa meledak di kumpulan itu, terutama perempuan itu.


            "HAHAHAHA..... kamu bercanda bukan? kenapa juga aku merekrutmu yang lemah?"


            "Tetapi, ak-,"


            "Pergi sana dasar sampah!"


            Sora merasa terpukul mendengar perkataan perempuan itu, traumanya di Egotron kembali muncul ke permukaan. Tanpa pamit, dia pergi meninggalkan rombongan itu.


            "Refresh," ucap Sora pelan,


            Portal yang disiapkan maid rombongan itu tiba – tiba  lenyap, maid di dekat perempuan itu pun bingung karena ini pertama kalinya dia gagal menciptakan portal.



            "KENAPA LAMA SEKALI?" ketus gadis berambut gelombang itu,


            "Maaf nona aku akan mencobanya sekali lagi." lanjut maid.


            Ketika hendak membuka portal, tampak seekor tupai datang menghampiri maid itu. Sang maid tertarik untuk memegangnya dan mulai lupa untuk membuat portal. Namun, sebuah portal berwarna kuning muncul di bawah kaki rombongan itu dan melenyapkan mereka.


            "Kemana mereka?" tanya maid itu kebingungan, dia melihat ke samping kanan dan kiri, tapi tidak dapat menemukan mereka.



            "Makan itu portal, wanita jalang hahahaha......" terdengar dari kejauhan Sora tertawa senang, akhirnya dia bisa membalas mereka.


            "Mana mungkin aku mau satu team dengan seseorang sepertimu?"


            Sora meneruskan perjalanannya mencari team party dengan tenaga tersisa dan perut yang mulai lapar. Dari ujung gerbang masuk hingga pintu istana dia mencari team yang mau menerimanya, hanya saja mereka selalu menolak Sora dan berkata,



"Maaf kami sudah penuh,"


           
"Kami tidak perlu bantuanmu," dan masih banyak lagi. Akhirnya Sora memutuskan untuk mencari maid itu lagi. Dia sudah lelah mencari team di setiap sudut tempat itu.


           
[Braak]



Tanpa sadar tubuh Sora terlempar ke tanah, sepertinya dia menabrak seseorang. Tampak perempuan bertelinga kucing terjatuh berlawanan dengan tubuhnya, rambutnya yang coklat serasi dengan warna bajunya.



            "Kamu tidak apa – apa, nyan?" tanya perempuan itu,



            "Seharusnya aku yang bertanya seperti itu."



            Mereka berdua pun bangkit berdiri, Sora merasa perempuan ini asli tidak seperti perempuan jadi – jadian yang tadi ia temui,


            "Maaf tadi aku sedang terburu – buru, nyan."


            "Tidak apa – apa, maaf aku tadi tidak melihatmu juga." balas Sora.


            "Pakaian itu? ikutlah denganku, nyan." lanjut perempuan itu,


            Sora tidak mengerti maksud perempuan itu, dan akhirnya menyerahkan diri mengikuti perempuan bertelinga kucing itu. Tanganya yang mungil menggenggam tangan Sora dengan kuat, Sora tampak tersipu – sipu malu ketika digenggamnya.


            "Kak F, nyan." teriaknya,


            "Michan, eh siapa itu?" tanya perempuan berambut merah itu, dia terlihat terganggu melihat kehadiran Sora.



            "Dia anggota kita yang keempat. Coba perkenalkan namamu, nyan." kata Michan sambil menepuk pundak pemuda itu,

           
            "Perkenalkan namaku Sora," ucapnya dengan gugup,


            [Kriik... Kriik...]


"Sudah?" balas perempuan berambut merah itu,


Atmosfir di sekitar tiba – tiba berubah suram, Sora merasa dirinya seperti tidak diperlukan disini. Sedikit demi sedikit dia berjalan mundur, akan tetapi langkahnya terhenti ketika dia menabrak benda keras di belakangnya.


[Tang]



            "Apa ini?" ucap Sora sambil membalikan badannya,


Dia terkejut melihat sebuah robot tinggi besar sedang berdiri di belakangnya. Ini pertama kalinya dia melihat robot yang seperti itu.


"Oh.. Renggo, sudah selesai perbaikannya,nyan?" tanya Michan,


            "Jadi dia Renggo," ucap Sora sambil memegang bagian tubuh Renggo, tubuhnya terlihat kuat dan besi bahan dasarnya terlihat sangat keras, berbeda dengan yang ada di duniannya dan mesin – mesinnya terlihat lebih canggih dari Egotron.


            Perempuan berambut merah itu pun mulai mendekati Sora, tangannya mencoba meraih salah satu pedang milik Sora.


            "Untuk apa bawa pedang sebanyak ini?" tanya perempuan itu,


            "Bukan apa – apa, hmm.... nona?"


            "F, Effeth Scyceid. Panggil saja F," lanjut perempuan bermata hijau itu.

            "Lalu aku Michan. Salam kenal, nyan." ucap Michan, telinga kucingnya bergerak – gerak menandakan ada sesuatu di sekitar mereka. Michan mulai meraba – raba tubuh Sora, dia merasakan sesuatu itu  bergerak - gerak  di dalam pakaian Sora.


            "Hei, apa yang kamu lakukan Michan?"


            Tiba – tiba seekor tupai muncul dari dalam kantong saku Sora, tupai itu berbulu coklat dan mengenakan seragam p3k. Tanpa menunggu lama tupai itu langsung meloncat ke pundak Michan,


            "Redto, cepat kembali!" ucap Sora, namun sang tupai memilih untuk menjulurkan lidahnya dan tetap berada di bahu Michan.



            "Tidak apa Sora,  ini tidak menggangguku."



            "Yang terganggu bukan kamu, tapi aku." kata Sora dalam hati, dia iri melihat Redto peliharaanya dapat dekat dengan perempuan, andai dirinya juga bisa.



            "Ngomong – ngomong kemampuanmu apa, Sora?" tanya F.



            "Aku seorang supporter, aku bisa menyerang dan juga menyembuhkan itu saja tapi aku bisa menyembuhkan lawan juga."



            "EH? kamu bukan tipe defend, nyan?" teriak Michan,



            F terlihat kaget juga mendengar semua itu, ternyata Sora hanya beban yang menambah berat beban tim,



            "Healer yang bisa menyembuhkan lawan? jangan bercanda itu hanya akan menjadi beban." ucap perempuan berambut merah itu, tetapi apa daya Sora sudah terlanjur dibawa kesitu oleh Michan dan F pun terpaksa  harus bersabar dan menerimanya,



            "Baiklah, tidak apa – apa yang penting kamu mau berkorban demi tim kita." lanjut F.



            Terdengar langkah kaki mulai mendekati mereka, terlihat seorang maid berambut hijau sedang berjalan menuju F.



            "Nona F, apakah sekarang saya bisa mengirim tim nona ke tempat misi?"



            "Tentu."



            "Baiklah saya akan mempersiapkan portal untuk teleport."



            Maid itu mulai melafalkan mantra untuk memunculkan portal, tanah tempat mereka berpijak mulai bersinar – sinar. Semakin lama sinar yang berwarna putih itu mulai membiru dan muncul lingkaran bertuliskan huruf – huruf yang aneh.



            [Zinn]



            Suasana tiba – tiba berubah menjadi dingin, langit terlihat gelap berhiaskan bintang. Dan terlihat kobaran api dimana – mana. Sora dengan cepat mengenakan masker yang selalu dia bawa untuk menutupi mulutnya.


           
            "Kita sudah sampai," kata Maid itu,



            "Apa misi kami?" tanya F,



            Maid itu mengeluarkan sepucuk surat dari apronnya,


           
            "Jadi misi kalian adalah menghacurkan dua menara kristal yang bertempat berlawanan  untuk menyegel Tamon Rah,"
                       


            "Tamon Rah?" tanya robot setinggi hampir dua meter itu,



            "Monster yang tersegel di dalam bulan Alforea, namun karena guncangan medan magnet segel itu rusak dan membuat menara kristal itu aktif, sehingga menarik bulan yang mengurung  Tamon Rah ke Alforea
."


           
            "Easy, tinggal hancurin dua – duanya, kan?" ucap F,



            "Tapi  kedua menara itu harus dihancurkan secara bersamaan,  kalau  tidak  maka menara itu akan berdiri lagi seperti saat kalian pertama kali menghancurkannya." lanjut maid itu,


           
           
            "Apa kelebihan menara itu selain harus dihancurkan bersamaan,nyan?" tanya Michan.



            "Hmm... tidak ada. Lainya cuma sebelas dua belas mirip sama tower di D*ta 2," kata maid itu,



            Serentak mereka kaget mendengar jawaban maid itu, mereka berfikir pasti panitia acara BOR ini memiliki ketertarikan tersendiri pada game itu.



            [Tukk]



            Terdengar suara anak panah menancap di pohon dekat Michan berdiri, panah itu hampir mengenai kepalanya jika dia menggeserkan kepalanya satu milimeter.
           


            "Eh? eehhh,nyan?"



            "Panah siapa ini?" tanya Renggo,



            "Mungkin mereka bisa menjelaskannya," ucap Sora sambil menunjuk ke arah para goblin yang bersiap meluncurkan anak panahnya.



            "Jadi intinya kalian harus menyegel kembali Tamon Rah ke bulan yang akan jatuh lima  menit lagi," kata maid itu seraya pergi meninggalkan mereka.



            "Aku akan menjadi barisan depan, Michan tolong lindungi aku dari belakang, dan Renggo bersiaplah untuk menyembuhkan bila ada yang terluka." kata F sambil mulai mengeraskan tubuhnya, mereka sudah siap meluncur ke medan perang. Namun,



            "Kalau aku, gimana?" tanya Sora polos, semua rekan timnya membatu mendengar perkataanya. Mereka lupa kalau mereka memiliki anggota lain lagi. F mulai mendekati Sora dan menepuk punggungnya.



            "Karena kamu diundang ke party ini sebagai defender maka kamu jadi tameng di depan te-he?" ucap F sambil mengedipkan salah satu matanya.



            "Tapi..."



            "Tidak ada tapi – tapian, sekarang kita serang mereka." bentak F sambil berlari ke medan perang,  Sora terlihat belum siap dan tertinggal di belakang. Di lain sisi F mulai memukul satu persatu goblin yang muncul, kekerasan tangannya sangat keras hingga bisa menghancurkan palu yang dibawa para goblin dengan sekali pukul,


           
            "Ini lebih mudah daripada yang kukira," ucap F dalam hati, dari jarak sepuluh meter tampak Michan yang melindungi F dari belakang, dia berlari sambil menembakkan "Mosin-Nagant M91"nya,  sedangkan Renggo di belakangnya bersiap untuk keadaan yang genting.



            "Tunggu aku," teriak Sora, dia tertinggal sangat jauh dari mereka, pedang dipunggunya membuatnya seperti siput yang membawa cangkang kemana – mana.


           
            "Michan, aku akan menjaga jarak supaya Sora tidak tertinggal di belakang  dan tolong beritahu F untuk mengurangi kecepatannya juga," ucap Renggo. Dia mulai mengurangi kecepatan berlarinya,

           

            Di lain tempat, F terlihat menikmati pertarungannya bersama goblin – goblin. Satu persatu mayat goblin berjatuhan di gurun. F merasa ada yang tidak beres, dia mulai tidak mendengar suara teman – teman setimnya. Ia pun mencoba kembali untuk mencari timnya. Akan tetapi, tiba – tiba ketika F hendak membalikan  badannya, tubuhnya terpukul sesuatu yang sangat besar. Tubuhnya terpental jauh ke belakang,



            "Ahhrggh... " geramnya,


           
            "F,nyan?" ucap Michan, dia mulai menambah kecepatannya, instingnya mengatakan bahwa F dalam bahaya. Kakinya terus melangkah meski terasa berat berlari di atas gurun pasir. Akhirnya dia berhasil sampai ke puncak bukit, disana terlihat F terbaring di gundukan pasir.



            "Renggo ,nyan!!" teriak Michan sambil menuju F, dia menembaki setiap goblin yang mencoba mendekati F.



            "Suara Michan."



            "Ada apa Renggo?" tanya Sora,


            "Tidak ada waktu untuk menjelaskannya, sebaiknya kita harus cepat menemui Michan."   


            Setelah berbicara seperti itu, Renggo langsung berlari mencari Michan. Sora juga begitu, namun dia tertinggal sangat jauh dari Renggo. Dia mencoba berlari secepat mungkin dan pada akhirnya dia terjatuh karena kakinya selalu tenggelam  ke dalam pasir.



            "Kalau seperti ini, Redto Teleport." ucap Sora,



            Seekor tupai berpakaian rompi p3k muncul dari dalam kantongnya, bulunya yang coklat terlihat hampir mirip dengan coklatnya pasir gurun. Tepat di bawah kaki Sora terlihat lingkaran seperti waktu itu, saat Redto mengirim tim perempuan jalang ke tempat yang tidak dia ketahui. Portal itu berwarna kuning dan semakin lama semakin terang hingga melenyapkan tubuh Sora.


           
            Sementara itu Michan terlihat tidak bisa berbuat apa – apa untuk menutup luka F, dia hanya bisa menunggu kedatangan Renggo atau Sora.



            "Michan," belum semenit dia menutup mulut, terlihat sosok robot besar  menghampirinya.



            "Renggo, cepat tolong F,nyan."  Ucap Michan.



            "Items Drop : Healing Bandage," seketika sebuah kapsul jatuh 5 meter dari F, Renggo dengan cepat mengambil kapsul itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah perban, dibalutnya luka F dengan perban itu.


            "Terima kasih Renggo, mana si lambat Sora itu?" tanya F,



            "Mungkin dia tertinggal jauh di belakang," lanjut Renggo.



            [Zing]



            Tampak sosok robot raksasa tengah berjalan menuju arah F, robot itu tingginya sekitar empat kali tinggi Renggo. Tangan kanannya berbentuk bor dan satunya lagi berbentuk palu. F sekarang mengerti mengapa dia bisa terluka waktu itu,



            "Jadi kau yang tadi memukulku dari belakang?"



            F terlihat marah melihat robot itu. Dia ingin menyerang robot itu, akan tetapi dia kehilangan niatnya setelah melihat lingkaran terbentuk seperti portal muncul di tanah. Dari dalam lingkaran itu terlihat sosok yang dikenal F dan teman – temannya setim.



            "Sora?" ucap Renggo,



            "Maaf terlambat," ucap Sora, satu demi satu pedangnya dicabut dari sarungnya. Dia melihat sekitarnya dan menyadari sesuatu,


           
            "Tunggu dulu kejadian ini bukannya seperti openingnya Fi*al F*nt*sy XII." ucap Sora dalam hati.


           
            "Sora awas,nyan!!" teriak perempuan bertelinga kucing itu memecahkan keheningan sesaat. Sebuah palu besar sedang melayang ke arah Sora, palu itu yang mementalkan F hingga terluka.



            [Zinn]




            Suara pedang tercabut dari dalam pasir, tangan Sora terlihat tengah menggenggam sebuah Great Sword yang besar. Tangan kanannya menggenggam dengan kuat dan tangan kirinya menahanan Great Sword yang dijadikannya tameng. Pukulan robot itu terpental kembali,


           
            "Sekarang Michan, tembak pergelangan tangannya."



            Satu persatu peluru menghujani pergelangan tangan robot itu hingga terdengar "Kaboom" dan salah satu tangannya jatuh ke gurun pasir. Keseimbangan robot itu menjadi kacau. Tanpa menunggu lama, Sora menggerakan tangannya dan mengarahkannya ke robot di depannya, tangan robot yang tergeletak di pasir itu mengikuti gerakan tangan Sora sehingga memukul robot sampai hancur berkeping – keping.


           
            "Renggo bagaimana kondisi F?" tanya Sora sambil mensarungkan seluruh pedangnya.



            "Kenapa kau tidak tanya langsung padaku, BODOH?" sela F dengan wajah mengkerut,  



            "Ettoo... Sebaiknya kita segera lari menuju menara, nyan."


            "Sepertinya, sekarang bulan itu ada diatas kita, nyan." lanjut Michan, serentak mereka semua mengadah ke langit, terlihat bola raksasa terselubung api tengah jatuh menuju kepala mereka.  



            "Hmm... Redto apa kamu bisa teleport sekarang?"  tanya Sora dengan wajah tersenyum dipenuhi keringat. Tupai itu menggelengkan kepalanya tanda dia belum bisa melakukan teleport,



            "Sebaiknya kita lari sekarang!!" teriak F.



            Mereka berlari sekuat tenaga meski salah satu dari mereka tertinggal jauh. Melihat Sora tertinggal, Renggo tanpa menunggu perintah dari The Operator langsung mencabut 2 buah pedang dari punggung Sora.



            "EH? Renggo."



            "Tidak apa – apa, aku akan membawakannya untuk kali ini saja."



            Sora pun mengangguk mendengar perkataan Renggo, mereka berdua lari hingga bulan itu pecah menjadi dua bagian. Sejenak mereka berhenti, terlihat sosok besar muncul dari dalam bulan itu.  Kepalanya mirip seperti kuda, dipunggungnya terdapat sepasang sayap hitam yang membentang lebar. Sesaat Sora terdiam dan mulai bergumam,
           


            "Hei thor, bukannya scene  ini lebih cepat dari pada Fin*l F*nt*sy XII," gerutu Sora.


                       
            "Cepat Sora, jangan melamun terus." setelah mendengar itu Sora melanjutkan langkahnya mengikuti Renggo.



Serpihan bulan yang pecah itu menghujani  padang gurun layaknya meteor berselimuti api yang berjatuhan, para prajurit Alforea berlari melindungi diri mereka dari hujan meteor itu.



"Sebaiknya kita menuju menara itu sekarang,nyan!"



"Renggo, kamu dan Sora menghancurkan menara utara."



"Sedangkan aku akan menghancurkan menara selatan bersama Michan, ingat baik - baik!" lanjut F.


Mereka pun berlari menuju menara yang sudah mereka tentukan, tiba – tiba F berhenti. Wajahnya melihat ke arah Renggo dan Sora, mulutnya terbuka,



"Jangan lupa beri tanda sebelum dihancurkan!" teriak F.



Sora dan Renggo mengangguk tanda mereka mengerti. Di perjalanan, satu persatu monster terus bermunculan, jalan yang mereka lalui tidak sedatar seperti dugaan mereka walupun begitu mereka terus berlari menuju menara kristal itu.



"Redto siapkan teleport sepuluh meter di depan!" ucap Sora, tupai itu pun loncat dari kantongnya dan berlari ke depan.



"Kenapa Sora? bukannya kita sudah dekat?"
           


            "Bagaimana kalau kamu melihat ke belakang?"


            Terlihat seekor monster besar berbentuk kuda bersayapkan api sedang mengejar mereka di belakang, tidak hanya itu saja. Ribuan monster lainya terlihat ikut mengejar di belakang Tamon Rah. Renggo pun menambah kecepatannya setelah melihatnya.



"Baiklah aku mengerti sekarang, ayo Sora!"



Mereka meloncat ke dalam portal teleport yang sudah di siapkan Redto, tubuh mereka mulai bercahaya dan lenyap dari tempat itu. Para monster yang mengejar mereka terlihat kebingungan dan mulai menyebar kemana – mana. Hanya saja, Tamon Rah terus lurus menuju utara tempat dimana Sora dan Renggo berada. Di lain sisi F dan Michan terlihat tidak mengalami kesulitan. Semua monster yang berada di depan mereka, diratakannya seperti road roller yang meratakan aspal.



"Bagaimana keadaan mereka?" gumam F,




Sebuah lingkaran muncul tepat di sisi kiri menara utara, kira – kira dua meter jaraknya. Dari dalam lingkaran terlihat dua bayangan dan satu bayangan kecil.


"Kita sudah sampai, sekarang kita serang menara itu." ucap Sora sambil melepas satu persatu pedang dari sarungnya.


"Tent-. EHH... MERUNDUK!!" teriak Renggo yang mendorong tubuh Sora hingga jatuh ke tanah. Dia mencoba menyelamatkan Sora dari hujan meteor Tamon Rah.



            "Sigh, dia cepat sekali." keluh Sora,



"Sora, itu!"


Tangan Renggo menunjuk ke arah berlawanan dengan manara utara, tubuhnya membeku setelah mengetahui bahwa menara kristal selatan berada dekat dengan menara kristal utara. Tidak hanya Renggo, Sora tersentak setelah melihat kristal itu.



"F pasti marah mengetahui semua ini." gerutu Sora,



"Redto cepat cari F dan Michan, lalu teleport mereka kesini!"



Tupai berseragam p3k itu pun pergi meninggalkan Sora dan Renggo, dia dengan cepat menghindari monster – monster yang mencoba menangkapnya.



"Renggo sebaiknya kita sembunyi dulu sambil menunggu F dan Michan, Tamon Rah terlihat tidak memandang teman, itu sangat berbahaya." ucap Sora.



"Baik,"



Mereka berdua berlari meninggalkan menara yang dipenuhi monster itu dan si Tamon Rah, mereka bersembunyi di bawah dinginnya pasir gurun. Walaupun sempat dikejar Tamon Rah dan monster – monster penjaga, mereka berhasil mengelabuinya untuk kedua kalinya. Sementara itu Redto terus berlari ke arah selatan, dia mengikuti aroma dari Michan. Akhirnya  setelah beberapa menit berlari, Redto menemukan mereka.



"Tunggu F,nyan."



"Ada apa?"



Michan membalikkan tubuhnya, dia mendengar ada seseorang memanggilnya. Dilihat sekelilingnya, tiba – tiba sesuatu meloncat menuju ke arahnya. Dengan matanya yang tajam Michan mampu melihat kalau benda itu adalah tupai milik Sora.



"Ada apa Redto,nyan?" tanya Michan,



Redto pun mulai menjelaskan semuanya dari awal hingga akhir, dari Sora dikejar Tamon Rah hingga kristal selatan yang berada dekat dengan kristal utara. Tanpa banyak komentar mereka pergi menuju tempat Sora dan Renggo berada, meski raut wajah F terlihat murka.



"AWAS KALIAN BERDUA !!!" ucap F,



            Mereka memasuki lingkaran teleport yang sudah dimunculkan Redto, dalam hitungan detik tubuh mereka lenyap dan berpindah ke tempat dimana Sora dan Renggo berada. Monster – moster terlihat semakin banyak mengerumuni menara itu, meskipun api Tamon Rah mengikis satu persatu monster, tetapi kecepatan api Tamon Rah tidak sebanding dengan munculnya monster – monster itu.



            "Mereka lama sekali, bisa – bisa aku flu kalau begini terus." ucap Sora, tubuhnya terlihat biru seperti mayat yang membeku.



            "Ngomong – ngomong kamu tidak kesulitan bernafas menggunakan  maskermu?"
           


            "Tidak, aku sudah mengganti salah satu penyaringnya dengan pipa penyaring, ibaratnya seperti menyelam dalam air, cuma ini dalam pasir." jawab Sora,
           


            Sesaat Renggo merasakan hal aneh terjadi pada tubuhnya, dia pun bertanya pada Sora,



            "Sora, apa ini perasaanku saja atau tubuhku terasa lebih berat?" tanya Renggo,



            "Tunggu, aku juga merasakannya."



            Mereka berdua tidak menyadari bahwa tubuh mereka menjadi alas kaki Michan dan F. Sebenarnya portal Redto muncul tepat di atas tubuh Renggo dan Sora, dan akhirnya mereka berakhir menjadi alas kaki. Karena tidak kuat, Sora langsung bangkit berdiri dan menjatuhkan Michan.



            "Aduh,nyan."



            "Dasar mesum." ledek F, melihat tingkah Sora yang aneh.


            Sora hanya diam dan tidak membalas ucapan F, rasanya jika dia membahas masalah itu maka tidak akan selesai sampai Tamon Rah bisa mengeluarkan air dari tubuhnya.


            "Dimana Renggo?" tanya F,


            "Ituuu...."

           
            Telunjuk Sora mengarah pada kaki F, tepatnya di bawah kaki F. Tanpa perlu menunggu perintah, Renggo mulai bangkit dari pasir. F pun meloncat ke kanan agar tidak terjatuh seperti Michan.



            "Sekarang, laporkan yang kalian ketahui tentang Tamon Rah!" ucap F,


           
            "Tamon Rah mengejar seseorang yang menggunakan sihir," balas Renggo.



            "Sihir?" tanya F.



            Sekilas F pun memilik ide untuk menyegel Tamon Rah, mereka berempat mulai berunding dan mendengarkan strategi F.


           
            "Baiklah, kita berangkat sekarang." ucap perempuan berambut merah itu setelah selesai berunding.


           
            Mereka berempat berangkat sesuai dengan posisi yang ditentukan oleh F. Sora berada di depan sendiri sebagai tameng dan pembuat jalan untuk tim. Lalu di belakang Sora, Michan bertugas untuk melindungi bagian kanan dan kiri tim yang rentan sekali diserang. Renggo sebagai medis berada di tengah tim walaupun dia sebenarnya bukan tipe support.Namun kemampuan medisnya sangat dibutuhkan.. Lalu terakhir F berada di belakang sendiri, dia bertugas menjaga bagian belakang tim dari serangan musuh.


           
            "Agggghhhhhh...." teriak Sora sambil mengayunkan pedangnya memutar seperti angin topan. Tubuh monster – monster itu terbelah menjadi dua bagian setiap mengenai putaran itu.



            "Aku tidak mau kalah ,Gun Player, nyan."



            Mata Michan tiba –tiba berubah warna menjadi kuning, semua goblin dan slime yang menyerang mereka, tidak ada yang lolos dari tembakan Michan, serasa dia menikmati pertempuran itu. Dengan Mosin-Nagant M91nya, dia terlihat menari gemulai bersama peluru –  peluru itu.



            "Copy and Paste," ucap Renggo, tangannya berubah menjadi senjata sabit seperti yang dibawa para goblin. Dia tidak ingin berdiam diri saja menyaksikan rekan timnya bertarung sedangkan dirinya tidak, dia mengayunkan sabit itu ke kanan dan ke kiri, kadang kala ke atas dan ke bawah.


           
            "Kristal itu terlihat, tapi Tamon Rah mulai mendekat juga. Sora sekarang!" ucap F, tangannya yang keras terus memukuli moster yang datang menghampirinya.



            "Redto, "  



            Tupai itu pun mulai menjauh dari Sora sejauh dia bisa. Dia terus berlari melewati  para goblin. Kira – kira satu kilometer jaraknya Redto pergi menjauh. Dia mulai mengaktifkan portal teleportnya, sihir itu menarik perhatian Tamon Rah dan mulai menariknya menjauh dari tim F.



            "Sekarang kita hancurkan kristalnya," teriak F.



            F mulai menghancurkan kristal selatan dan Renggo menghancurkan kristal utara, sedangkan Sora dan Michan berada di belakang memblok agar para monster tidak menggangu mereka yang menghancurkan kristal.  Mereka terus mengayunkan pedang dan menembak monster – monster itu.



            "Sampai kapan kita harus seperti ini?" tanya Sora.



            "Tidak tahu, tapi ini sangat menyenangkan,nyan."



            Kristal yang dihancurkan F dan Renggo mulai terlihat retakan. Akan tetapi,
           

            [Agkk...]



            Suara itu menggema di langit, tampak Tamon Rah telah kembali bersama api disayapnya. Seketika hujan meteor menghujani mereka berempat.



            "Bagaimana bisa?" tanya F,



            "Tidak ada waktu untuk bertanya, Sora siapkan Great Swordmu! aku akan mengulur waktu satu menit." ucap Renggo,



            "Duel Punch!" lanjut Renggo,



            Muncul kotak besar kira – kira lima puluh meter rusuknya, kotak itu memaksa masuk Tamon Rah bersama Renggo ke dalam kotak itu meskipun tubuh Tamon Rah tidak muat di dalamnya.


           
            "Michan aku serahkan sisi ini padamu," ucap Sora sambil menarik Great Swordnya. Dia berlari ke tempat kristal utara berada.


            "Siap,nyan."

           
            "F dalam hitungan ke satu  kita serang kristalnya bersama – sama!" teriak Sora,


            "3,"



            "2,"



            "Sekarang!!"



            Serentak tangan Sora dan F menyerang kristal selatan dan utara secara bersamaan, kristal itu hancur berkeping – keping di pasir. Dari dalam kristal itu muncul cahaya yang membelah malam hingga langit ke tujuh, cahaya itu mulai menyelimuti kotak besar milik Renggo dan menyegel kembali Tamon Rah. Bersamaan dengan itu Renggo keluar dari kotak itu, tubuh besinya dipenuhi dengan bagian – bagian yang meleleh. Melihat itu, Sora tidak tinggal diam,



            "Duty : Oreda," seru Sora,



            Sebuah pohon muncul di tengah – tengah mereka, pohon itu mengeluarkan aura yang bisa menyembuhkan siapapun bahkan musuh atau tanah tandus. Bagian demi bagian Renggo mulai pulih kembali seperti semula meski tidak secepat pemulihan milik Renggo. Dan luka – luka milik F, Michan dan Sora juga ikut sembuh.



            "Kita berhasil,nyan." teriak Michan gembira,



            "Tentu ini semua berkat usaha kita semua," lanjut F.



            Sebuah portal tiba – tiba muncul di bawah mereka berempat, portal itu tidak cukup asing bagi mereka. Warna biru dan tulisan – tulisan itu mirip portal milik si maid.



            "Terima kasih semuanya," ucap Sora,


           
            "Ingat! kali ini kita memang satu tim tapi suatu saat kita adalah musuh," lanjut F,



            Tubuh mereka semakin lama semakin memudar dan lenyap tanpa bekas, yang membekas hanya perjuangan dan pertemanan mereka di gurun pasir itu melawan Tamon Rah.





To be Continued....

16 comments:

  1. Oke, Author Renggo di sini. Terimakasih telah memakai Renggo!

    Saya tidak ada masalah soal karakterisasi Renggo, hanya saya ingatkan kembali kalau Renggo adalah tipe class Attacker, jadi seharusnya dia bukan tipe petarung pemberi support seperti di cerita ini (yah... walau memang sudah disebut di suatu narasi).


    Ceritanya tidak terlalu buruk, tapi di akhir cerita alur semakin membingungkan. Yang saya tangkap setelah Sora dan Renggo dikejar Tamon Rah dan para monster, mereka teleport dengan kemampuan Redto ke dekat menara, kemudian muncul teks ini :

    "Tangan Renggo menunjuk ke arah berlawanan dengan menara utara, tubuhnya membeku setelah mengetahui bahwa menara kristal selatan berada dekat dengan menara kristal utara. Tidak hanya Renggo, Sora tersentak setelah melihat kristal itu."

    Seingat saya menaranya terpisah sampai tim Sora harus berpencar, tapi kenapa tiba-tiba dikatakan dekat? dan saya juga tidak paham kenapa F marah setelah ini...

    Selain yang saya sebutkan, kekurangan lainnya adalah kurangnya deskripsi dan narasi untuk membuat cerita lebih hidup, saya contohkan adegan dimana robot setinggi empat kali renggo muncul :

    "Gurun berbatu ini bergemuruh karena suara langkah berat. Para peserta saling membelakangi sesama, bersiap untuk melawan pembuat langkah berat itu. Mereka mendengar dentingan besi dari sebuah bukit pasir, lalu ketika mereka melihat puncaknya, tampaklah sebuah kepala besi yang mengintip dari balik bukit itu.

    Suara bising tercipta bersamaan dengan sebuah lubang yang tercipta di tengah bukit itu oleh sebuah bor raksasa, lalu dengan hantaman palu di tangan kanannya, sosok bertubuh besi itu menghempaskan bukit pasir di depannya, menampakan dirinya yang berupa robot raksasa empat kali tinggi Renggo. Tangan kanannya berbentuk bor dan satunya lagi berbentuk palu.

    F berdecak, sekarang ia tahu apa yang menyerang dirinya beberapa saat lalu."

    Lebih menarik,bukan? Total kata entri ini 4252 kata, masih ada sekitar 5,5K kata dari batas yang diizinkan. Atau paling tidak 800 kata kalau kamu nggak mau lebih dari 5K.

    Sekian dari saya, terimakasih telah membaca komentar yang agak panjang ini...

    Nilai : 6/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih Author Renggo, selamat anda orang pertama yang comment \ :v /

      sebelumnya maaf pak, kalau yang itu sebenarnya ada kesalahan teknis hehehe...

      Scene itu maksud saya, f dan michan salah prediksi, dimana kristal selatan berada berdekatan dengan kristal utara. sedangkan di menara selatan tidak ada apa - apa. tp mungkin gaya penyampaianku perlu di perbaiki.

      Iya juga makasih atas sarannya, ntar kalau lolos saya akan perbaiki gaya penulisannya .

      Delete
  2. Seperti yang dibilang di atas, deskripsi cerita ini masih sangat kurang. Kamu wajib belajar dulu untuk ngasih deskripsi yang baik di cerita, terutama waktu battle. Ingat, sebagai penulis yang kita punya cuma teks. Kita nggak punya alat bantu audio maupun visual, jadi kita sebagai penulis harus sebisa mungkin menyajikan segala sesuatu ke pembaca, seenggaknya cukup supaya mereka bisa membayangkan sendiri apa yang terjadi.

    Saya lihat sih ceritanya terbagi jadi dua bagian penting, seperti kebanyakan karakter lain: ngumpulin party sama battle. Karena deskripsinya kurang oke, bagian ngumpulin party-nya terasa kurang kena ke pembaca, sementara battlenya jadi membingungkan dan kurang berkesan.

    Keep writing, nanti kelemahan2 ini bisa teratasi sendiri kok.

    Skor: 6

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
    Replies
    1. maaf baru bisa balas.

      memang aku jujur kurang dalam hal penulisan,
      oke kakak saya pelajari cara imajinasi *catat - catat semua

      makasih sudah kasih saran sama nilai :D

      Delete
  3. waaah, seneng banget. ternyata ada yang mau make si Mike. terima kasih, walaupun OOC dikit sih.

    Oke, sayang banget. Padahal intro sebelum masuk alforea udah bagus, tapi setelah memasuki alforea dan berinteraksi dengan peserta lain, rasanya jadi 'kurang' gitu
    battle-nya sih bagus, cuma karena cara penyampaiannya kurang lancar, jadi kesannya 'garing', kesan itu ga cuma di bagian battle, tapi hampir di keseluruhan cerita (kecuali intronya)
    dan aku ga tau harus komentar apalagi, karena apa aja yg perlu diperbaiki sudah dijabarin sama komentataor yang lain (yang di atas itu)

    nilai: 6
    semangat ya, dari si kucing Mike Mi991

    ReplyDelete
  4. maaf baru bisa balas juga ._.

    hehehe maaf jika sedikit ooc,

    wih bahasa indonesia ku belum lancar :v butuh privat dulu nih hahaha,

    oke kak makasih sudah kasih saran sama nilai :D

    ReplyDelete
  5. Nganu ... itu kenapa enternya banyak sekali?

    Khukhu, yaudah lah.

    Dari gaya bahasanya, saya udah gak sreg. Sori. Kebanyakan dialog jadi narasinya ya, kurang. Interaksi dan emosi ... idem. Cobalah lebih nyantai waktu nulis, jadi kesan deskripsinya gak terburu-buru. Deskripsiin latar, atau apa pun sesuai imajinasi. Kan gak ada yang membatasi ....

    Oke, karena keluhan lain udah disampaikan di atas, Ahran titip 7 buat Sora.

    OC: Ahran

    Tanri seni korusun~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm... oke kakak, mungkin aku terlalu memikirkan uas hingga tremor :v

      terima kasih atas saran dan nilainya :D

      Delete
  6. Sora kasian yah tipe anak-anak bawang gitu ga ada yang mau nemenin. #eh Sepertinya komen uda pada digarap ma yang atas-atas ya, kalau gitu aku beri singkat saja. >///<

    Secara alur pertarungan sih oke menurutku, meski ga bisa dikatakan 'wah' juga. Interaksinya lumayan baik, cuman kadang ada beberapa hal menurutku terasa janggal, seperti kenapa F kesannya marah-marah terus. Dan apa salahnya 'seorang penyembuh yang bisa menyembuhkan lawan'? Toh di dunia nyata, seorang dokter juga bisa menyembuhkan perampok yang terluka, tergantung dia mau atau ngga. Kalau si Sora ini cukup saklek untuk nyembuhin musuh di tengah pertarungan, baru F berhak marah.

    Nilai : 7

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. hore CDL coment \ ^.^ /

      mungkin untuk semua karakter yang lainya juga, ane kurang mengahyati dan akhirnya ada yang sedikit ooc.

      Makasih pak CDL , atas saran dan nilainya :D

      Delete
  7. Lelaki berambut short slicked itu mulai berlari meninggalkan maid,
    ^apa itu rambut short-slicked?

    Akhirnya saya jadi ga tahan pengen ngomentarin teknis juga... Mulai dari imbuhan yang mestinya dipisah, typo, salah tanda baca atau kelupaan kapital itu agak ngurangin kenikmatan bacanya. Ibarat makanan, kalau tampilan fisiknya udah ga mengundang bikin ga selera kan? Ada baiknya coba baca tulisan" yang 'bener' secara kaidah penulisan (atau ambil contoh entri yang lebih rapi) dan latian nulis lagi

    Selain minim deskripsi, narasi juga ga ngebantu ngegambarin alur cerita, jadi seringnya berasa masih sekedar lalu aja. Dialognya masih kurang natural, ga kerasa kayak karakter hidup beneran, contoh :

    >"Renggo, cepat tolong F,nyan." Ucap Michan.
    >"Items Drop : Healing Bandage," seketika sebuah kapsul jatuh 5 meter dari F, Renggo dengan cepat mengambil kapsul itu dan membukanya. Di dalamnya terdapat sebuah perban, dibalutnya luka F dengan perban itu.
    >"Terima kasih Renggo, mana si lambat Sora itu?" tanya F

    ^ini berkesan datar dan ga ada emosinya

    Saya ga nangkep joke FFXII itu referensinya ke mana, dan buat pembaca awam juga mungkin ga akan ngerti maksudnya apa

    Battlenya kurang jelas, dan akhirannya ga ada kesan klimaks

    Dari saya 5. Deadliner buffer -1, jadi nilai akhir dari saya 4

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya ada comment yang bisa buat semangat dari pak Sam :3

      - itu jenis potongan rambut yang semua rambutnya disisir ke belakang

      - bisa beri contohnya? soalnya saya kesulitan dalam menulis kata - kata yang memunculakn emosi pembaca ?

      - sebenarnya cuma orang - orang tertentu yang tahu mungkin hehehe..... tidak sengaja melihat youtube dan menemukan video itu :3

      - battlenya kurang diperjelas
      *catat - catat

      Terima kasih Pak Sam atas saran dan nilainya :v, ini yang aku tunggu - tunggu dari dulu.

      (Deadliner Buffer itu apa ya?) #kepo


      Delete
  8. Etto ... keseluruhan sih menarik, nyan~ apalagi diawalan si Sora ini kayaknya terlalu 'biasa' dan akhirnya si Sora ini berguna meskipun pertarungannya punya porsi lebih sedikit, hiks-hiks...

    saya cuman nggak tau lelucon tentang FF XII ... belom pernah nonton kayaknya jadi maklum yah~

    dan mungkin hampir sama kayak Sam, penarasian tokoh yang sedang berbicara kurang, banget mungkin ._.

    overall : 7/10

    - Dhaniy Islaviore/Masqurade

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih :v// that's "akhirnya si Sora ini berguna" make me feel fly,

      maklum mungkin hanya beberapa hehehe...

      - penarasian tokoh kurang
      *catat - catat

      oke Dhaniy makasih atas saran dan nilainya :D

      Delete
  9. Menurut saya alur ceritanya bagus cuma pada bagian penjelasannya agak membingungkan jadi perlu beberapa kali untuk mengerti maksudnya. Untuk penulisan sudah bagus, hanya cerita yang kurang.

    Nilai 8

    ReplyDelete
  10. Semuanya sudah dijelaskan oleh sesepuh di atas,
    cuma saya suka sama adegan FFnya walaupun garing sih... tapi...
    -Sekian-

    Nilai cerita 7/10 tapi karena ada FF nya saya tambah 1 /10
    Total 8

    ReplyDelete