4.5.15

[PRELIMINARY] TAN YING GO – LOLOS DARI KANDANG SINGA, MASUK MULUT BUAYA!


[PRELIMINARY] TAN YING GO – LOLOS DARI KANDANG SINGA, MASUK MULUT BUAYA!
Penulis: Manikmaya Sang Adhipramana


BABAK 1 – ANCAMAN KESEHATAN


Jadi tentara itu bukannya bebas dari penyakit dan urusan periksa ke dokter. Jadi tentara itu tetap saja rentan ketemu dokter baik untuk urusan periksa penyakit maupun urusan pengobatan luka atau cedera. Tapi bertemu dokter apalagi bertemu dokter yang berujung pada opname bagi seorang Kopassus artinya fatal. Dia bisa saja kehilangan kesempatan emas untuk beraksi. Sudah banyak kasus di mana anggota Kopassus yang sedang terbaring sakit karena pleuritisbronkitis, patah kaki, patah tangan, retak dengkul dan lain sebagainya, akhirnya harus gigit jari kala teman-temannya melakukan aksi-aksi fenomenal seperti latihan bersama dengan kesatuan militer negara lain atau melakukan aksi pembebasan sandera sehingga mereka yang terlibat potensial diganjar satu-dua medali penghargaan atau minimal poin plus untuk kenaikan pangkat dan kenaikan tunjangan.

Tugas Kopassus itu berat, dan akan jadi lebih berat lagi kalau yang mereka dengar hanya cercaan penggiat HAM atas kesalahan 'senior-senior' mereka tanpa sedikit penghiburan berupa medali atau poin plus penunjang kenaikan pangkat. Itu sebabnya banyak prajurit Kopassus, yang sebisa mungkin tidak terlalu sering bertemu dokter, apalagi menjalani opname.

Ying Go juga punya pemikiran seperti itu, dan kali ini pemikirannya untuk menghindari dokter memang benar-benar berguna. Sebab jika ia sampai tidak lolos dari situasi ini, satu-satunya dokter yang akan mengurusnya adalah dokter bedah mayat.

"Sanjaya! Kaspar!" ia berseru pada dua rekannya yang sedari tadi berlari-lari di sisi jalan yang lain, "Berapa jauh lagi?"

Otot perut dan kakinya sudah mengejang dan mengeras, nafasnya sudah memburu, sudah tak dapat lagi dipaksa untuk teratur.

Sanjaya, si pemuda berambut hitam kaku dan berpenampilan sedikit 'emo' itu hanya menjawab singkat, "Satu kilo lagi!"

Sementara Kaspar, si pemuda Slavia berkacamata dan berambut pirang itu malah melontarkan entah gurauan atau ungkapan rasa panik di saat yang tidak tepat, "AWAS! ANCAMAN TERHADAP KESEHATAN KITA MENDEKAT!"

Dalam kondisi normal, Ying Go akan tertawa mendengar kata-kata itu, tapi sayangnya dalam kondisi ini, tertawa sungguh tidak ia sarankan pada dirinya sendiri. Karena tertawa dapat membuyarkan konsentrasinya dan membuatnya berakhir di kamar jenazah.

Saat Ying Go menoleh ke belakang. 'Ancaman Kesehatan' yang diteriakkan Kaspar tadi makin mendekat, makhluk raksasa setinggi 5 meter yang tubuhnya tersusun dari gumpalan daging kelabu berbau busuk itu melangkah mendekat ke arah mereka dengan lambat namun pasti. Satu langkah makhluk itu setara dengan 12-15 langkah kaki orang dewasa, cukup merepotkan bagi ia dan dua rekannya yang sudah kehabisan tenaga untuk menghindari kejaran makhluk itu.

"YA TUHAN!!!!!!" Kaspar terdengar nampak panik saat merogoh-rogoh saku mantel coklatnya.

"Kenapa?" tanya Ying Go.

"Benggalaku hilang!"

"Mampus!" ujar Ying Go dan Sanjaya bersamaan. Kehilangan benggala artinya masalah besar. Benggala ini adalah kristal obsidian berwarna yang bening bak kaca dan merupakan alat mereka untuk berkomunikasi satu sama lain. Tapi selain sebagai alat komunikasi, benggala juga dipakai oleh mereka untuk membuka portal menuju tempat lain dalam satu dimensi atau dari dimensi yang satu ke dimensi lainnya. Ying Go dan Sanjaya sudah kehilangan benggala mereka karena suatu 'insiden' hari ini dan kala mereka tahu Kaspar datang untuk mengevakuasi mereka, mereka pikir mereka bisa selamat.

Sayangnya mereka terancam tidak bisa selamat sekarang.

"Gimana sekarang?" tanya Sanjaya pada Ying Go.

"Saranku kita berpencar. Kita keluar dari kota ini secepatnya dan bertemu di tempat yang sudah ditentukan."

"Kau mau ke mana?" tany Kaspar.

"Aku akan ke timur, ke arah Kudus."

"Oke, kami akan ke arah lain. Aku akan ke Selatan, Kaspar ke Barat. Kau, tetap di Kudus, Ying Go! Kami akan jemput kamu begitu kami dapat benggala lain."

"Sip!"

'Ancaman Kesehatan' beranjak mendekat. Tanpa berdebat lebih lama lagi, ketiga orang itu berpencar. Ying Go berlari sekencang-kencangnya ke timur sementara dua yang lain berlari ke arah barat. Naas 'Ancaman Kesehatan' sepertinya sangat tertarik pada dirinya. Alih-alih mengejar Sanjaya atau Kaspar, 'Ancaman Kesehatan' malah mengejar dirinya.

Mara takkan mau melepaskanmu semudah ini, Vajira Muni! Kata Rahula.

"Punya saran?" tanya Ying Go pada rajata berbentuk bajra yang tersampir di pinggang kanannya itu.

Ada, larilah lebih cepat!

Saran yang tidak bermanfaat. Ia merasa akan lebih beruntung jika ia menemukan warung pinggir jalan yang menjual minuman energi macam Kratingdaeng atau Hemaviton daripada harus minta saran pada Rahula. Rajata yang satu ini benar-benar sarkastik dan tidak memberi solusi, persis komandan-komandan arogan yang cuma mau tahu misi beres dan membiarkan anak buahnya kelimpungan sendiri mencari jalan keluar untuk menyelesaikan misi.

Lalu tiba-tiba datanglah prasasti itu.

*DUK!*

Ada benda padat nan keras menimpa kepala Ying Go di tengah-tengah usahanya melarikan diri. Benda itu terjatuh di pangkuan tangannya dan ternyata itu sebuah prasasti dari bahan batu padas abu-abu dengan banyak rongga. Ying Go tadi sempat mengira 'Ancaman Kesehatan' baru saja menginjak sebuah situs purbakala yang belum tergali dan melontarkan prasasti itu ke arahnya namun ketika membaca isinya dahinya dibuat mengernyit.

"APAKAH ANDA HENDAK LOLOS DARI MASALAH INI SEMBARI BERLATIH UNTUK MENJADI LEBIH KUAT?

JIKA YA, SILAKAN BANTING PRASASTI INI SAMPAI HANCUR!
JKA TIDAK, SILAKAN BUANG PRASASTI INI KE VEGETASI TERDEKAT!"

Ia tadi sempat berpikir ini semacam lelucon dari Kaspar atau Sanjaya, tapi dengan cepat ia menampik dugaan itu. Sanjaya terlalu serius untuk buat lelucon macam begini dan Kaspar? Pemuda Slavia itu biasa menulis dengan abjad Rusia atau huruf rune, mustahil ia bisa menulis dengan EYD sesempurna ini.

Tapi tetap saja ... Ying Go penasaran dengan orang kurang kerjaan yang buat iklan promosi di atas prasasti dengan kalimat berupa huruf kapital semua lagi.

"Tak ada salahnya dicoba," begitu pikir Ying Go ketika mendapati sekarang 'Ancaman Kesehatan' telah mempercepat langkahnya dari sekedar langkah lebar menjadi berlari-lari kecil.

Ying Go membanting prasasti batu padas itu ke aspal jalan sampai hancur dan ... sebuah portal berbentuk spiral biru yang berputar pada porosnya searah jarum jam menghisapnya dari tempat itu. Meninggalkan 'Ancaman Kesehatan' yang terbengong-bengong dan celingak-celinguk mencari buruannya.

BABAK 2 – HELL DAY


Para prajurit pasukan khusus di belahan dunia manapun, tak terkecuali Kopassus, pasti kenal dengan istilah hell week – minggu neraka, yakni tujuh hari 'pelatihan khusus' penuh penderitaan yang dilakukan setelah seminggu atau dua minggu menjalani hari-hari penuh 'pelatihan normal' yang menguras fisik serta mental. Jika di pelatihan normal, mereka boleh tidur cukup maka dalam hell week rata-rata mereka tidur kurang dari empat jam per harinya, bahkan mereka bisa saja tidak mendapat jatah tidur selama seminggu penuh. Makanan dalam masa hell week pun memuakkan. Para pelatih Ying Go menyebutnya 'nasi komando', yakni campuran antara nasi, telur bebek mentah, sayur brotowali dan pare yang terkenal pahit, kangkung, dan beberapa bahan rahasia yang bakal membuat banyak orang mual lalu muntah.

Dan bahan-bahan makanan itu harus dimakan. Siapa yang muntah akan dihukum dan temannya harus menelan muntahan tersebut sebagai bagian dari konsep karsa – komando satu rasa, konsep solidaritas antar prajurit yang kurang lebih punya arti 'senang sama senang, susah sama susah' namun sering diplesetkan para aktivis HAM dan pihak yang punya rasa dendam pada TNI sebagai 'pencuri bela pencuri' atau 'pembunuh bela pembunuh' akibat penyalahgunaan wewenang sejumlah besar oknum prajurit TNI dan purnawirawannya pada masa 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Minuman dalam masa hell week pun istimewa, jus pare dan brotowali super pahit yang diblender tanpa tambahan gula atau garam dan wajib diminum semua anggota regu sampai tandas tanpa sisa kecuali mau kena hukuman berat.


Tak ada tentara, bahkan Kopassus, UK SAS, atau US Navy Seal sekalipun yang mau jalani hell week untuk kedua kalinya. Tapi sekarang tiba-tiba Ying Go sudah berada di hadapan sejumlah prajurit berseragam kaus hijau polos dan celana loreng yang sudah menendanginya dengan sepatu boot lars tentara yang kerasnya aduhai itu, "Bangun Letnan! Waktunya hell week!"

"YA SIAP!" Ying Go segera bangun, berdiri tegak, dan memberi hormat namun yang ia lihat di hadapannya ternyata bukan sekumpulan sersan-sersan jahat dari masa-masa jahilliyah itu. Yang ia lihat adalah sosok pria (atau wanita?) muda dengan penampilan rapi. Orang itu kira-kira seumuran dengannya, sepasang matanya berwarna keemasan dan rambutnya dipotong pendek serta diwarnai ungu cerah. Pakaiannya adalah manset kancing ganda seperti pimpinan para Contra Mundi, Helmut, namun warnanya putih yang ia padu dengan kemeja hitam dan dasi pita warna merah. Kedua telinganya ia tindik dengan anting hijau dan ia memakai topi fedora warna coklat.

"Wah, wah, hari ini saya banyak kedatangan cowok-cowok tampan nih," kata pemuda(?) itu lagi.

"Banyak?" Ying Go yang baru saja lolos dari 'Ancaman Kesehatan' masih belum paham dengan kondisi sekitarnya.

"Sebelum bertemu anda, saya sudah ketemu petani tampan asal Sunda, namanya Mang Ujang. Kemudian dua bocah penyendiri bernama Kazuki dan Lod. Semuanya tampan-tampan! Ah! Sayang kami di sini hanya boleh bentuk tim yang anggotanya maksimal 4 orang."

"Tim? Tim apa?"

"Tim untuk babak preliminary turnamen ini."

"Turnamen apa?"

"Battle of Realms – Pertarungan Para Petarung Terbaik dari Sejumlah Realita Musim Kelima!" pemuda(?) itu menyanyikan kalimat terakhir itu dengan irama lagu seriosa yang terdiri dari nada-nada tinggi dan keras.

"Nona Dyna," ada seorang pelayan berseragam hitam yang mengenakan apron putih dengan pinggir berumbai mendekati pemuda(?) eksentrik itu. Oh! Perempuan toh! Batin Ying Go.

"Ya?" jawab Dyna sambil membalikkan badan.

"Mang Ujang mengundurkan diri dari tim anda dan bergabung dengan tim para veteran perang RI."

"Tunggu, Non! Jadi kita harus membentuk tim?" tanya Ying Go pada pelayan itu, menyela pembicaraan si pelayan dengan gadis(?) bernama Dyna itu.

"Ya," kata si pelayan berwajah datar itu, "Minimal dua orang dalam satu tim. Siapa yang hendak akan anda ajak bergabung dalam tim anda?"

"Mas ganteng itu satu tim dengan saya," tiba-tiba Dyna nyeletuk sembarangan.

"Eh?" Ying Go menoleh ke arah Dyna dengan tatapan tidak percaya.

"Anda setuju dengan tawaran Nona Dyna, Tuan Ying Go? Anda bisa menolak tawaran Nona Dyna jika anda tidak mau."

Mata Ying Go melirik ke arah 'tim pilihan Dyna' yang terdiri dari seorang anak remaja Eurasia lelaki pendek berambut putih yang menutupi tubuhnya dengan jubah coklat dan seorang anak remaja keturunan Jepang berjaket abu-abu yang tengah asyik memainkan gadget dan mendengarkan musik lewat headphone abu-abu yang menutupi telinganya. Daripada hendak mengkompilasi sebuah tim tempur, sepertinya Dyna lebih ingin membuat sebuah boysband.

"Boleh saya lihat data diri dua entrant pilihan Nona Dyna itu?"

"Silakan," pelayan itu menyerahkan empat lembar kertas yang isinya adalah biodata Dyna, kedua orang itu, dan juga dirinya, serta kemampuan masing-masing. Ying Go memindai deret kemampuan tiga orang tersebut – Dyna dan dua boysband pilihannya – dan mendapati bahwa kemampuan mereka tidak terlalu buruk.

"Baiklah, Nona. Saya setuju dengan tawaran Nona Dyna," kata Ying Go.

"Oke. Silakan bergabung dan berkenalan dengan teman-teman anda. Lima belas menit lagi kita akan berangkat untuk membantu pasukan Alforea.

"Senang sekali akhirnya anda mau bergabung dengan kami, Mas Ying Go."

"Terima kasih untuk tawarannya tadi Nona Dyna, anda juga hebat karena sudah berhasil mengkompilasi tim yang bagus."

"Ohohoho, saya merekrut mereka hanya karena suka dengan penampilan mereka kok. Tadinya saya mau rekrut balik Mang Ujang ke sini, tapi setelah saya ketemu anda, saya akhirnya lebih memilih anda deh."

"Benarkah? Saya tersanjung. Suatu kehormatan bisa bertemu orang baik seperti anda, Nona."

Terkutuklah kau dan rayuan gombalmu, Ying Go! Rajata Rahula kembali mengomel.

"Ngomong-ngomong Mas Ying Go. Apa anda seorang yang berprofesi sebagai aparatur negara?"

"Maksudnya?" Ying Go pura-pura tidak tahu padahal dalam hatinya ia sudah menggumamkan sejumlah pertanyaan dan deduksi. Dari data yang kubaca tadi, Dyna berprofesi sebagai host kasino sebelum dimutasi sebagai penjaga pintu depan kasino. Ia seorang tukang pukul. Tukang pukul kasino harus mampu memperkirakan orang-orang yang berpotensi membawa masalah baik dari kalangan tamu maupun orang-orang di sekitar kasino. Dyna mencurigaiku sebagai aparatur negara. Dari mana? Dari penampilanku kah? Tidak! Mustahil! Penyamaranku sempurna kecuali ... .

Tangan kiri Ying Go merogoh pistol yang ia selipkan di bagian belakang celananya. Pistol itu masih ada. Tapi mungkin waktu ia tak sadarkan diri tadi Dyna sempat melihat pistol itu sehingga gadis(?) itu menyimpulkan bahwa ia adalah aparatur negara. Seorang aparatur negara memang lazim membawa pistol seperti itu.

"Saya menduga anda ini seorang aparatur negara yang bertugas menjaga ketertiban. Mungkin polisi atau tentara? Hm?"

"Dari mana anda tahu, Nona Dyna?" tanya Ying Go

"Dari susunan otot tubuh anda yang pejal, merata, namun tidak menonjol. Dari langkah kaki anda teratur, ritmis, seperti terbiasa mengikuti suatu pola baris-berbaris, juga dari ekspresi wajah anda terkontrol – poker face teman-teman saya menyebutnya. Para pria-pria metroseksual yang biasa menghabiskan waktunya di pusat kebugaran memang juga memiliki memiliki otot pejal namun mereka sering dengan sengaja memamerkan otot-otot pejal mereka yang mereka dapat dari latihan rutin di ruangan berpendingin. Lengan dan tubuh mereka boleh tampak pejal, kekar, perkasa, tapi pijakan kaki mereka mudah digoyahkan. Sedikit sapuan kaki atau jegalan sudah cukup untuk menumbangkan mereka. Tapi anda, Mas Ying Go, bukan orang seperti itu. Anda cukup pandai berpenampilan seperti pria metroseksual tapi mata saya tak bisa dibohongi. Pria metroseksual tidak akan membawa pistol dan pisau tikam. Pria metroseksual takkan bangun dari mimpinya dengan membuat sikap hormat sempurna seperti tadi."

Tamatlah kau! Dia tahu kalau kau tentara! Rahula kembali berkomentar.

"Deduksi yang mengagumkan Nona Dyna. Anda benar. Saya aparatur negara. Tapi saya bukan polisi atau tentara."

Tolong bawakan aku kalkulator karma atau pertemukan aku dengan Dewa Yama[1]! Bocah ini perlu dipotong lidahnya di Yamaloka nantinya! Gerutu Rahula lagi.

Yama tidak akan berani! Saya dan beliau sekarang satu spesies! Batin Ying Go sejenak sebelum melanjutkan bualannya.

"Saya dari Indonesian Customs, Petugas Bea-Cukai Indonesia."

"Bea-cukai. Hm? Mengendalikan laju masuk-keluarnya barang ke suatu negara ya?"

"Bisa dibilang begitu."

Dari tadi Ying Go melihat Dyna mengamat-amatinya dengan tatapan penuh arti. Oh Ying Go tahu arti pandangan seperti itu. Itu tatapan yang sama dengan tatapan para tante girang yang kebetulan hadir di kafe saat ia tengah menyamar sebagai anggota band akustik yang tengah manggung di sana demi mengintai seorang target. Para tante itu memandangnya dengan tatapan tak berkedip, sesekali menjilat tepi bibir mereka, dan di akhir penampilannya, seorang dari mereka bahkan secara terang-terangan minta tukar nomor hp atau pin BB. Dari tatapan Dyna, besar kemungkinan gadis(?) itu juga ingin melakukan 'adegan ranjang' dengannya.  Tapi itu tak masalah. Ying Go selalu punya cara untuk lolos dari urusan ranjang dengan perempuan ataupun pria manapun yang ingin 'tidur bersamanya' atau 'menidurinya'.

Lalu secara tiba-tiba Ying Go merasa tubuhnya ditarik-tarik oleh kekuatan tak terlihat lalu dalam sekejap ia sudah berada di depan sebuah balkon istana di mana tampak seorang wanita bergaun putih tengah berdiri dengan didampingi sejumlah besar dayang yang juga mengenakan seragam hitam dengan apron putih.

Beberapa prajurit berbaju besi berseru-seru menyambut kedatangan wanita itu, beberapa meniupkan terompet dan sangkakala. Yang berseru-seru semuanya menyerukan kalimat yang sama, "Hormat kepada Paduka Ratu Tamon Ruu! Penguasa Alforea! Panjang umur untuk Paduka Ratu!"

Dari atas balkon, Paduka Ratu bernama Tamon Ruu itu menatap keadaan di halaman kastil yang ramai dipenuhi dengan wajah-wajah yang kebingungan.

"Selamat datang di Aflorea, wahai para petualang!" Ruu kembali berbicara, namun kali ini suaranya terdengar begitu lembut dan merdu, membuat mereka yang tadinya bingung dan bertanya-tanya langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara tersebut.

Begitu mereka yang berkumpul memandang wajah pemilik suara barusan, mulut mereka seolah terkunci, dan seluruh pandangan mereka terpaku pada keindahan yang seolah tidak pernah mereka lihat sebelumnya.

Ruu berdehem, sesaat kemudian di tangan kanannya tiba-tiba muncul sebuah mic kecil berwarna putih.

"Aaa... tes...tes... baka to test," Ucapnya seraya mencoba berbicara melalui mic.

"Woi, nanti kena lisensi!" protes seorang pria beruban di belakangnya.

Ruu kembali menyapu keadaan sekitar dengan pandangannya.

"Jangan mengabaikanku!!" protes pria ubanan itu lagi.

"Baiklah, mungkin diantara kalian ada yang bingung kenapa kalian secara tiba-tiba muncul di sini, dan mungkin juga ada yang sudah tahu kenapa kalian muncul di sini. Bagi belum belum tahu coba angkat tangannya yang tinggi!" Sahut Ruu riang.

Serentak semua orang mengangkat tangan.

Tamon Ruu terdiam sesaat.

"Areee... bukannya sudah kutulis alasannya di surat undangan ya?" Tanya Ruu bingung.

"Isi suratnya cuma satu kalimat, itu juga tidak jelas maksudnya apa," jawab salah satu peserta.

"Shocking truth!!" Ujar Ruu dengan wajah terkejut.

Di belakang, Hewanurma hanya bisa geleng-geleng kepala.
"Sepertinya aku lupa menulis tentang turnamen di dalam suratnya, teehee~" Ucap Ruu sambil menjitak kepalanya sendiri.

Kali ini giliran para peserta yang geleng-geleng kepala.

"Jadi kami dipanggil ke sini untuk apa?" tanya Ying Go yang menuntut penjelasan. Perutnya sudah menggedor minta diisi. Sarapannya tadi kurang banyak dan ia jelas belum sempat makan siang, lalu sekarang sudah malam.

Ruu tidak langsung menjawab, wajahnya yang tadinya penuh semangat kini terlihat bingung seolah sedang berpikir keras.

"Jadi ya... kalian di undang ke sini karena.... gimana jelasinnya ya?" Gumamnya sambil garuk-garuk kepala.

Seolah sudah tidak tahan lagi, si tua ubanan yang dari tadi hanya berdiri di belakang langsung bergegas maju dan merebut mic yang dipegang oleh Ruu. Lalu mendorong wanita itu mundur ke belakang.

"Kami mohon maaf atas kesalahan teknis barusan. Sekarang biar kujelaskan langsung alasan kenapa kalian ada di tempat ini!" Dengan nada tegas dan serius, Hewanurma mulai menjelaskan apa yang sedang terjadi.

"Kalian semua yang ada di sini, adalah calon peserta turnamen antar dimensi yang akan diadakan tidak lama lagi. Turnamen ini disebut Battle of Realms, dan hanya para petarung terbaik yang bisa mengikuti pertarungan bergengsi ini!" Jelasnya lantang pada seluruh peserta yang berkumpul.

Mendengar penjelasan pria itu barusan, mereka yang berkumpul di halaman mulai berbisik satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang terlihat begitu bersemangat, dan ada juga yang terlihat bingung dan berusaha mencerna kata-kata Nurma barusan.

"Lalu jika memenangkan turnamen ini, kami akan dapat apa?" tanya seorang peserta penuh semangat.

"Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan!!" sahut Ruu yang entah sejak kapan sudah berdiri di samping Nurma.

"Kalau aku mau cintamu boleh nggak Mba?" tanya seorang peserta berambut ungu dan mengenakan jas putih yang tak lain adalah Dyna.

Buset! Cewek ini biseksual yah? Batin Ying Go.

Mampuslah kau! Kamanya[2] pasti besar dan sulit terpuaskan! Lagi-lagi Rahula sarkastis.

"Gak!" Jawab Ruu spontan.

Ditolak mentah-mentah, Dyna pun langsung berjalan pundung ke barisan belakang.

"Walaupun begitu, sayangnya kami tidak bisa menerima kalian semua yang ada di sini untuk mengikuti turnamen, karena jumlah kalian terlalu banyak," pria ubanan yang menurut seorang pelayan yang ada di samping Ying Go ternyata bernama Nurma alias Hewanurma kembali menjelaskan.

"Karena itulah, kami akan mengadakan babak penyisihan untuk memilih para peserta terbaik yang akan berlaga dalam turnamen Battle of Realms! Berikut ini adalah penjelasan tentang babak penyisihan, jadi dengarkan baik-baik!" sahut Nurma galak.

Keadaan hening seketika.

"Dari seratus satu orang yang ada di sini, hanya ada empat puluh delapan peserta terbaik yang akan terpilih untuk mengikuti turnamen yang sesungguhnya. Setiap peserta akan dikirimkan ke sebuah area khusus untuk babak penyisihan dalam kelompok. Setiap kelompok terdiri dari dua hingga empat orang. Kalian bebas untuk memilih anggota kelompok kalian, dan begitu kalian sudah mendapatkan kelompok yang menurut kalian pas, maka kalian akan langsung dikirim ke tempat pertarungan oleh seorang maid yang akan menjelaskan misi yang harus kalian jalankan begitu kalian tiba di tempat pertarungan."

Mendengar penjelasan tersebut, sontak semua yang ada di halaman kastil langsung ramai dan mulai mencari anggota tim yang ingin mereka rekrut. Bahkan, ada beberapa yang berebut anggota tim sambil beradu argumen.

"Dengan ini, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!" Sahut Hewanurma dengan lantang dan penuh semangat.

Setelah mengumumkan pembukaan babak penyisihan, Tamon Ruu dan Hewanurma mulai beranjak pergi dari balkon kastil, dan para pelayan yang sejak awal hanya berjaga di jalanan, kini satu persatu mulai bergerak menuju kumpulan para peserta. Tak terkecuali pelayan yang tadi berdiri di samping Ying Go tadi.

"Waktunya berangkat!" jawab pelayan itu tanpa basa-basi lagi.

Sekali lagi Ying Go merasakan tubuhnya ditarik, berpindah dari tempat itu dan sekarang ia mendapati dirinya, Dyna, cowok keturunan Jepang bernama Kazuki, dan cowok Eurasia kontet bernama Lod itu tengah berada di sebuah padang pasir dengan batu-batu cadas menjulang di mana-mana. Ada teriakan perang dari dataran berpasir di bawah sana.

"Aih! Lagi-lagi aksi pertumpahan darah! Kapan sih kita bisa hidup di dunia tanpa pertumpahan darah?" keluh Lod sambil melirik aksi sekumpulan prajurit berkuda berbaju besi yang tengah menghadang serangan makhluk-makhluk ganjil. Ying Go bisa melihat bahwa makhluk-makhluk itu terdiri dari makhluk-makhluk berwujud jelly hidup – biasa disebut slime di game Final Fantasy, troll – makhluk raksasa berkulit kelabu dan berkepala gundul yang hobi melempari orang dengan batu-batu besar, wyvern – naga Eropa – baik yang menyemburkan api maupun es, sejumlah makhluk mirip kunarpa – mayat hidup – baik yang ukurannya sebesar manusia biasa maupun setinggi dua meter, dan ada sejumlah liong – naga Tiongkok – bertanduk merah dan bersisik hitam.

"Kalian harus turun untuk membantu pasukan Alforea itu," kata sang pelayan.

"Berapa jumlah pasukannya?" tanya Ying Go.

"Dua kompi, 500 pasukan, Tuan Ying Go."

"500 orang dengan bantuan empat orang harus melawan sekumpulan makhluk begini?" Kazu, si pemuda Jepang, menatap ngeri ke arah kumpulan pasukan makhluk ganjil itu.

Dalam kepala Ying Go sendiri, terngiang pesan dari pelatih 'favoritnya', Sersan Mayor Hadi 'Setan Jahanam' Rukmana, "Kalian tahu apa artinya menjadi Kopassus? Menjadi Kopassus artinya menjadi solusi akhir. Kita adalah pasukan yang diterjunkan untuk menyelesaikan misi-misi yang tak mampu diselesaikan oleh pasukan reguler! Jadi Kopassus itu harus siap mati demi misi. Jadi Kopassus itu lebih baik pulang tinggal nama daripada hidup menanggung malu!"

Tapi di sisi lain, para pelatihnya di Sandi Yudha punya sudut pandang berbeda, "Ada 3 aturan dasar dalam dunia mata-mata. Yang pertama adalah jangan tertangkap, yang kedua jangan terbunuh, dan yang ketiga adalah jangan bicara jika tertangkap! Mata-mata yang tertangkap tanda ia kalah cakap dari musuh. Mata-mata yang terbunuh lebih buruk lagi, musuh bisa tahu identitasnya, siapa dia, siapa keluarganya, dari mana asal negaranya, dan yang terburuk apa misinya di wilayah musuh. Sementara yang ketiga ... pastikan kalian tidak buka mulut, apapun yang akan menanti kalian nanti!"

Sersan Rukmana menyuruhnya bahagia menyambut ajal, sementara para pelatih Sandi Yudha menyuruhnya bertindak hati-hati, dan jangan buang nyawa untuk hal-hal yang tidak perlu. Ahoi! Betapa di dunia ini, ancaman gangguan mental bipolar rentan menimpa setiap manusia, karena setiap guru dan atasan yang mereka temui kadang menuntut hal yang bertolakbelakang satu dengan lainnya.

Jadi Ying Go memutuskan bahwa dia tidak boleh mati di sini. Ia punya misi yang belum selesai. Ia masih harus memberitahukan kematian anak-anak buahnya kepada janda-janda serta anak-anak mereka. Ia masih harus mengalahkan Mara, ia masih harus menghentikan akhir zaman yang perlahan mendekati dunianya. Ia melirik kepada Dyna, Lod, dan Kazu. Ide 'jahat' yang selalu tidak disetujui Rahula melintas di benaknya. Ia akan memanfaatkan ketiga orang ini untuk menyelesaikan misinya kalau itu diperlukan dan jika perlu, singkirkan mereka satu per satu, dimulai dengan Dyna.

"Sebaiknya kalian segera turun. Pertahanan pasukan Alforea makin melemah, dan dalam lima menit bulan Alkima akan jatuh ke bumi Alforea. Jika sampai bulan itu jatuh maka iblis yang tersegel dalam bulan itu, Tamon Rah akan bangkit dan Alforea akan sirna."

"Apa?" baik Ying Go, Dyna, Kaz, maupun Lod mendelik ke arah sang pelayan.

"Kenapa kau baru bilang kalau waktu kami cuma sedikit?!" omel Kaz.

"Kau mau buat kami semua kena serangan jantung yah?!" timpal Lod.

"Oh ya ampun! Sempit sekali waktunya," timpal Dyna.

Ying Go sendiri hanya menyahut, "Ada strategi untuk mengalahkan Tamon-apalah-namanya-itu?"

"Ada dua menara kristal di ujung utara lembah ini," kata sang pelayan, "dua menara itu berada di dekat reruntuhan sebuah kastel dan anda semua harus berusaha menghancurkannya secara bersamaan. Tapi ingat, dua menara itu tak bisa dihancurkan dengan serangan sihir, hanya bisa dengan serangan fisik."

"Tak bisa dengan serangan sihir ya? Sayang sekali," komentar Dyna.

"Dan harus dihancurkan secara bersamaan, jika tidak maka menara itu akan utuh kembali," tambah sang pelayan.

Keempatnya tertegun, Ying Go apalagi. Dari pengamatan kasar saja Ying Go sadar bahwa perjalanan menuju ujung lembah di utara ini tidak mudah. Ada satu resimen monster atau lebih yang akan menghadang langkah mereka dan bala bantuan yang mereka punya hanya dua kompi pasukan berbaju besi tanpa senapan modern.

Buruk! Batin Ying Go. Bahkan saat dia dan kompinya dulu mencoba menghentikan laju para kunarpa untuk sesaat saja, mereka butuh setidaknya satu peti amunisi per harinya. Apalagi teknologi di semesta ini tampaknya belum sampai pada teknologi senapan mesin otomatis. Ying Go memang melihat ada tukang sihir macam Kaspar yang melontarkan mantra-mantra destruktif ke arah para monster itu. Tapi jelas itu kurang efektif meski para tukang sihir itu telah membuat dinding api dan dinding karang yang sedikit menghambat laju para monster pendek, namun para monster yang bisa terbang atau punya tinggi di atas dua meter dengan nekat memanjat dinding karang dan menerobos dinding api tersebut untuk memusnahkan pasukan Alforea.

"Jadi sekarang bagaimana?" tanya Kazu.

"Tak ada jalan lain untuk ke reruntuhan itu. Sepertinya kita harus main dobrak barisan monster itu," kata Ying Go.

"Jadi kita turun sekarang?" tanya Kaz sediki ragu.

"Ya, sebaiknya kita siapkan saja senjata terbaik kita, tapi ...," mata Ying Go beralih ke arah Lod,  "Hei Bung Lod, kau punya bom yang waktu ledakannya bisa diatur?"

"Ada."

"Berapa banyak yang kau punya?"

"Empat dan ada juga dua buah dari varian yang bisa diledakkan dengan remote control."

"Baguslah. Mari kita turun," kata Ying Go.

"Pakai tangga?" tanya Kaz.

"Tidak, kita turun saja, lari!" kata Ying Go sambil berlari menuruni turunan bukit yang turunannya terjal itu.

Dyna dan Lod tampaknya tidak keberatan dengan saran Ying Go karena mereka akhirnya ikut saja apa kata Ying Go dengan ikut turun menuruni turunan bukit yang terjal itu.

Angin dingin gurun menerpa tubuh Ying Go, tapi Ying Go merasa dinginnya tidak seberapa. Hanya sedingin suhu daerah Batujajar, Jawa Barat. Bajra yang tergantung di pinggang kanannya ia lepaskan dari kait gantungannya. Bajra itu akhirnya ia lemparkan ke arah sekelompok liong yang menyadari kehadiran mereka dan bersiap menyerang. Sambaran listrik 1000 Volt cukup untuk membuat enam liong terdiam.

"Hei Bung Lod! Keberatan untuk memasak makhluk-makhluk itu?" tanya Ying Go ketika telah memungut kembali bajranya yang terbang kembali ke arahnya.

"Sama sekali tidak," kata Lod sambil melemparkan sebuah bom berbentuk bola merah. Bom itu meledak di tumpukan liong itu dan membuat liong-liong itu menggeliat dan meraung-raung. Kobaran api besar segera timbul lalu menghanguskan mereka.

Teman-teman mereka yang melihat enam kawannya sudah dilumpuhkan langsung maju menerjang ke arah empat orang tersebut. Gelombang pertama adalah makhluk-makhluk berupa mayat hidup. Di sini Kazu dan Dyna unjuk kebolehan, Kazu memotong kepala makhluk-makhluk itu dengan sebuah kodachi – pedang pendek, ayunannya bertenaga tapi menurut Ying Go gerakannya terlalu berlebihan, terlalu membuang banyak energi. Dyna lebih tahu soal manajemen energi dan cara melawan yang efektif. Ia menyapu kaki-kaki para kunarpa itu lalu dengan sebuah pedang yang tadi tergeletak di dekat sana, Dyna memenggal kepala makhluk tersebut.

Ying Go berniat melemparkan kembali bajra miliknya kepada salah satu makhluk troll yang ada di hadapannya namun hantaman bajranya ternyata tidak berefek.

"Apa-apaan?" Ying Go sama sekali tidak mengerti.

"Oh aku lupa memberitahu anda, Tuan Ying Go," si pelayan tiba-tiba muncul kembali di samping Ying Go, "kekuatan anda berkurang saat ini. Anda tak lagi bisa melontarkan listrik terus-menerus lagi seperti dulu. Anda harus menunggu lima menit untuk melakukan serangan listrik lagi dan tiga menit untuk melakukan manuver terbang atau melayang.


"Hei! Bagaimana bisa jadi seperti ini?" Ying Go langsung merubah bajranya menjadi sebentuk guan dao dan memutuskan mengatasi troll di hadapannya dengan cara klasik, tusukan di jantung. Troll itu roboh dan sang pelayan berapron putih itu kembali bicara.

"Di dunia anda, anda baru saja 'dihajar' Mara bukan? Kekuatan anda sudah berkurang sejak saat anda dihajar makhluk bernama Mara itu. Tapi jangan khawatir, jika anda memenangkan kontes ini maka Ratu Tamon Ruu serta Penasehat Hewanurma akan mengembalikan bahkan melipatgandakan kekuatan anda. Jadi selamat berjuang!" pelayan itu lalu kembali menghilang.

Seperti dugaan Ying Go barusan, sekarang Kazu mulai tampak kepayahan. Aksinya yang terlalu buang-buang energi tadi benar-benar membuat gerakannya sekarang melambat. Bahkan para musuh yang datang kali ini bukan hanya sekedar kunarpa, melainkan sejumlah pasukan monster berkulit hijau yang membalut diri mereka dengan baju besi, para orc.

Musuh masih banyak, mereka masih terjepit di sisi timur lembah gurun, belum sempat bertemu dengan pasukan utama Alforea. Waktu lima menit sudah pasti akan habis dan perjalanan ke dua menara kristal kembar masih jauh. Situasinya serba gawat!

Sekarang Ying Go jadi merasa hell week jadi jauh lebih menyenangkan daripada hari ini. "Dammit! It's a hell day!"

"Hei, kata-katamu tadi itu bagus, Vajira Muni. Hendak memakai kata-kata itu untuk gubah musik bising rock n' roll lagi?" celetuk Rahula, sinis seperti biasa.

Ying Go tidak mempedulikan perkataan Rahula. Rajata itu memang tidak suka dan tidak mau tahu betapa kerennya musik rock n' roll. Ia bahkan juga tidak suka musik pop ataupun jazz. Toleransi musiknya hanya berhenti pada irama seruling dari bumi Parahyangan, gamelan dari Bhumijawa alias wilayah Jawa Tengah sampai Jawa Timur, seruling bambu kepulauan Maluku, atau musik-musik daerah lain yang sejenis. Berdebat dengan entitas yang usianya sudah setua permulaan abad Masehi hanya akan membuatnya makin stress.

Dengan segera Ying Go dengan segera merasakan guan dao di tangannya menjadi terasa semakin berat. Rasa sebalnya pada Rahula membuat konsentrasi dan sinkronisasinya buyar. Rajata itu kembali terasa berat namun sebelum bobotnya terasa seperti benda 100 ton, Ying Go segera mengecilkan kembali rajata itu menjadi bentuk bajranya dan menyimpannya kembali.

Para orc mendekat, dan tombaknya sedang tidak berguna. Satu-satunya kesempatan yang dilihat Ying Go untuk terus maju adalah merampas senjata musuh. Maka dari itu tangan kiri Ying Go beralih ke pinggang kirinya. Sebuah sangkur hitam yang sedari tadi terselip di pinggang kirinya. Sangkur hitam khas pasukan Kopassus yang diberikan pada tiap anggota pasukan yang dinyatakan lulus pendidikan itu ia siagakan dalam posisi menyerang. Kakinya ia tekuk dan tubuhnya ia bungkukkan ke depan, siap menyongsong serangan musuh. Strategi Ying Go untuk saat ini sederhana saja. Ia sengaja diam menunggu musuhnya menyerang, setelah itu ia akan menumbangkan musuhnya, kemudian mengambil senjata musuhnya, lalu turun ke medan laga dengan menggunakan senjata rampasan.

Satu orc mendekat. Ying Go segera melompat ke samping, menghindari sabetan halberd – tombak yang memiliki mata tombak sekaligus mata kapak – si orc lalu melempar sangkurnya ke arah mata si orc. Orc itu meraung kala matanya tertusuk sangkur itu. Ia pun melangkah mundur namun yang tidak ia sadari tanpa sengaja ia telah melepaskan pegangan tangannya pada halberd miliknya. Ying Go tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia segera merampas halberd tersebut dan menusukkan ujung halberd yang berupa tombak ke perut si orc. Si orc terhempas dan meraung-raung. Teman-temannya mencoba membantu namun satu segera dihadang oleh Dyna, satu oleh Kazu dan empat yang lain tidak sadar bahwa mereka tengah menginjak ranjau milik Lod. Empat orc malang yang menginjak ranjau itu langsung kehilangan kaki mereka dan tergeletak tanpa daya dengan mulut masih mengeluarkan raungan-raungan tidak jelas.

Di sisi lain Kazu sukses menebas kepala orc lawannya dengan sebuah nodachi – pedang panjang – miliknya. Dyna sendiri sukses memotong pembuluh arteri di leher si orc itu meski orc itu jelas sempat melukai Dyna. Topi fedora gadis(?) itu tampak robek dan ada luka sayat di tangannya meski tidak terlalu dalam. Gadis(?) itu boleh terlihat genit dan imut tapi tetap saja ia tahu cara bertarung yang benar.

BABAK 3 – KUDA API AKHIR ZAMAN


Untunglah setelah gerombolan orc, yang datang selanjutnya hanyalah slime dan troll-troll tak berotak cerdas yang bisa ditaklukkan dalam beberapa kali tusukan, sabetan, dan pukulan dari Ying Go dan empat rekan satu timnya.

Kemudian datanglah bencana besar yang telah disangka-sangka semenjak tadi. Bulan besar di langit itu jatuh ke bumi. Badai pasir raksasa langsung menyeruak, menyebarkan butiran pasir dan debu ke sepenjuru lembah tak terkecuali ke arah tim Ying Go dan pasukan garis belakang Alforea. Dari gumpalan debu di titik pusat kejatuhan, tampak sosok kuda bersayap yang disebut-sebut bernama Tamon Rah.

Kalau harus mendeskripsikan Tamon Rah itu seperti apa, Ying Go akan bilang kuda sembrani raksasa terbang itu mirip dengan kuda merah milik penunggang kedua dari empat penunggang kuda akhir zaman – Perang – yang dikawinpaksakan dengan seekor kuda sembrani alias pegasus. Kuda itu berwarna merah darah, memiki mata yang memancarkan sinar jingga membara, bersurai api, dan memiliki ukuran tubuh yang tidak main-main besarnya. Ukuran tubuhnya kira-kira cukup untuk meluluhlantakkan satu blok perumahan tipe menengah jika ia mendarat di atas tanah. Tidak ada penunggang di atas kuda itu dan menurut Ying Go itu bagus, sebab tanpa penunggang saja kuda terbang itu bakal membawa kerepotan besar bagi mereka.

"Tamon Rah telah tiba! Pasukan pelempar lembing berbaris!" seorang komandan peleton yang anggota peletonnya kebanyakan adalah pelempar lembing meneriakkan perintah. Sederet pria berbaju besi maju dengan membawa lembing-lembing dari besi yang siap mereka lemparkan ke arah sosok kuda terbang bersayap raksasa tersebut.

"Ratu negeri ini pasti kekurangan dana untuk membiayai pasukannya deh," komentar Ying Go.

"Kenapa kau bisa bilang begitu?" tanya Kaz.

"Karena dia cuma kirim dua kompi tentara untuk tugas macam begini! Ayolah! Harusnya dia minimal kirim satu resimen!"

Kelompok garis belakang pasukan Alforea sudah tampak di depan mata. Saat mereka tiba di barisan para prajurit berbaju besi Alforea, Ying Go langsung berteriak, "Kami ingin bertemu komandan kalian!"

"Komandan batalyon sudah mati. Komandan kompi 1, Kapten Natalis yang pegang komando sekarang. Tapi ia sudah ada di garis depan. Siapa kalian? Bantuan dari Alforea?" tanya seorang perwira pemimpin pasukan pemanah busur silang.

"Kurang lebih begitu," ujar Lod sambil mencoba mengatur nafas.

"Kalau begitu lekaslah ke dua menara kristal itu," kata sang perwira, "Jumlah kami terus menurun tapi monster-monster gila itu jadi semakin banyak!"

"Sebelum itu," Ying Go sekarang juga kesulitan mengatur nafas. Dahinya banjir peluh dan ia merasa kakinya sekarang gemetaran. Seharian penuh berlari-lari dan bertarung membuat energinya habis.

"Ya?"

"Apa kalian punya sesuatu penambah stamina? Ramuan atau minuman misalnya?"

"Maga Fynn!" teriak sang perwira kepada seorang pria berjubah ungu, "Kau masih punya ramuan pemulih stamina? Untuk tamu-tamu kita ini!"

"Ada Letnan! Ini!" si pria berjubah ungu itu melemparkan satu tas kulit. Dari tas kulit itu si perwira menyodorkan sejumlah minuman dalam botol kepada Ying Go dan tiga rekannya.

"Kami hanya punya ini. Semoga cukup membantu," kata sang perwira, "Meski aku pesimis akan kesempatan hidup semua orang yang ada di sini. Apa sih yang Paduka Ratu pikirkan? Masa mengirim bala bantuan cuma empat orang?"

Nah! Batin Ying Go. Sekarang kawulanya malah ragu sendiri dengan ratunya. Kalau mereka bisa lolos dari sini hidup-hidup, mereka berpotensi besar menjadi pemberontak di Alforea. Masalah klasik dari para tentara yang merasa berjasa atau tidak dihargai.

Ying Go segera menghabiskan isi dua botol minuman sementara yang lain hanya meminum satu. Efeknya lumayan, kurang lebih seperti minuman energi di semestanya hanya hasilnya lebih bagus. Tampaknya kandungan kalori dan kafeinnya lebih tinggi daripada minuman energi di semestanya.

"Kita berangkat sekarang, Mas Ying Go?" tanya Dyna sembari membetulkan letak topi fedoranya yang sebenarnya sudah koyak.

"Saya siap, bagaimana dengan yang lain?"

"Oke!" Lod mengacungkan jempolnya.

"Terserah kalian deh!" jawab Kazu.

"Sekarang siapa yang mau urus menara kanan dan siapa yang mau urus menara kiri?" tanya Dyna sambil menghadap ke arah tiga anggota timnya.

"Aku akan urus menara kanan!" Kazu mengacungkan tangannya, ia sengaja melakukannya karena melihat monster di sisi kanan tidak terlalu banyak.

"Aku akan urus menara kiri," ujar Lod.

"Kalau begitu aku akan urus kanan, supaya tim kita imbang. Nona Dyna, anda tidak keberatan kan satu tim dengan Lod?"

"Oh tentu tidak," jawab Dyna sambil melemparkan senyum lebar ke arah Ying Go, "meski sebenarnya saya lebih mengharapkan bisa satu tim dengan petugas bea cukai gagah macam anda."

"Kalau sampai begitu, kasihan si Lod," kata Ying Go.

"Hei! Aku tidak selemah itu Tuan!" protes Lod.

"Saya tidak bilang anda lemah Bung. Masalahnya adalah anda yang tahu bagaimana cara setel bomnya. Itu artinya anda yang akan pasang bomnya. Memasang bom butuh waktu Bung! Selama masa pemasangan itu harus ada orang kuat yang melindungi anda dan saya rasa tak ada yang lebih cocok daripada seorang penjaga pintu kasino tangguh seperti Nona Dyna."

"Itu artinya saya yang harus pasang bom di menara kanan?" tanya Kazu.

"Anda bisa?" tanya Ying Go.

"Aku pernah lihat caranya di internet," kata Kazu.

"Caranya tidak terlalu rumit kok. Lubangi saja menaranya sedalam dua kepalan tangan orang dewasa, lalu masukkan benda ini dan jika aku sudah beri isyarat, aku akan tekan tombolnya dan menara itu akan meledak," kata Lod sembari menyerahkan sebuah benda logam sebesar biskuit kering yang memiliki empat 'kaki' pada Kazu.

Dua menit kemudian tim itupun bergerak. Ying Go masih memegang halberd rampasan dari orc tadi dan membuka jalan menuju sisi kanan dengan mengayun-ayunkan halberd itu ke arah musuh-musuhnya. Setidaknya sudah ada satu troll, 20 slime, dan 10 orc yang terkapar karena sabetan halberd itu. Kekuatan Dharmapala yang memberi refleks serta kekuatan fisik lima kali manusia biasa itu benar-benar berfungsi penuh sekarang setelah sebelumnya sempat tidak efektif akibat rasa lapar dan kurang asupan kalori.

Tamon Rah sendiri masih menggila. Pasukan-pasukan berkuda, lontaran batu dari ketapel-ketapel raksasa, serta hantaman mantra dari para penyihir Alforea tampaknya tidak mempan pada makhluk itu. Kuda terbang itu bahkan menembakkan bola-bola api dari sayapnya yang tidak saja mematangkan gugus depan prajurit Alforea namun juga menghanguskan sejumlah wyvern yang hendak menembus pertahanan pasukan Alforea.

Untunglah Tamon Rah belum mengindahkan kehadiran Ying Go dan tiga rekannya. Di sisi kiri, Lod dan Dyna masih mengandalkan teknik tangan kosong untuk menjatuhkan lawan-lawan mereka. Di sisi lain, Kazu tampak agak menjaga jarak dengan Ying Go. Ia takut kepala atau tangannya kena tebas dari halberd itu. Ying Go sempat merasa ia sudah di atas angin sebelum akhirnya ia mendapati ada musuh tipe baru. Seekor lycanthrope alias manusia serigala melompat ke arahnya. Menerkam dan menjatuhkan tubuh prajurit Kopassus itu ke tanah berpasir yang penuh dengan pasir dan kerikil. Cakarnya menyabet dan melukai pelipis dekat mata kiri Ying Go. Ying Go mengerang namun dengan segera ia menekuk kakinya, menyodok perut sang lycanthrope dengan tangannya. Tidak berhasil. Serangan kurang efektif. Daya ofensifnya tidak maksimal.

Namun saat Ying Go hendak mencoba lagi, tiba-tiba lycanthrope itu melompat menjauh dari Ying Go. Semua monster yang ada di sana pun berlaku demikian, baik dari kalangan orc, troll maupun liong semuanya berarak menuju ke satu titik. Mereka menyerang seekor wyvern bersisik merah darah yang panjangnya mencapai 12 meter. Tahu ia akan diserang, wyvern itu melesat ke angkasa dan berputar menghindar.

"Ayo cepat! Sebelum mereka kembali lagi kemari!" Kazu menolong Ying Go untuk bangkit. Ying Go segera mengusap darah yang menghalangi pandangan mata kirinya.

"Lukanya dalam," kata Kazu ngeri ketika melihat bahwa luka itu membuat pelipis Ying Go terkoyak dan menampakkan otot-otot matanya.

"Hanya tergores," kata Ying Go.

"Hanya tergores? Kamu ... !" Kazu tanpa sengaja memukul tangan Ying Go dan sebuah visi soal kehidupan masa lalu pemuda itu melesak masuk ke dalam pikiran Kazu.

Kazu bisa melihat sosok Ying Go yang dikelilingi sekumpulan prajurit berbaju loreng. Semua tampak lusuh dan lelah, muka mereka kotor dan berminyak. Di saku baju mereka masing-masing tergantung sebuah baret merah dengan simbol pisau sangkur.

"Besok kalau aku pulang, aku akan minta jatah kelonan sama istriku, dua hari penuh!" ujar prajurit dengan badge nama Siregar.

"Lusa putraku ulang tahun. Aku janji ajak dia nonton pertandingan Persib Bandung tapi kayaknya harus batal deh," ujar prajurit lain yang bernama Kamil.

Lalu visi Kazu beralih kepada sosok Ying Go yang berdiri di depan dua buah pusara yang dibuat di atas tanah berlumpur dan dihiasi dua buah patok berhiaskan baret merah lusuh dan telah robek di atasnya.

Sosok Ying Go berdiri bersama sekumpulan orang lain dan berujar, "Mari kita berdoa serta  mengheningkan cipta untuk teman-teman kita, Abner Siregar dan Kamil bin Syaiful."

Pemandangan pun berganti menjadi pemandangan kuburan itu lagi. Kali ini jumlah pusaranya bertambah. Bukan lagi hanya dua pusara melainkan sudah enam. Kembali Ying Go memimpin acara mengheningkan cipta.

Setelah itu visi Kazu dirasuki oleh pemandangan makhluk-makhluk ganjil. Berwujud seperti manusia namun berkulit kelabu. Mereka memiliki cakar dan mulut yang meskipun tidak bergigi lengkap namun terdiri atas geligi taring yang bisa merobek daging manusia. Makhluk-makhluk itu muncul tanpa henti dari sebuah lubang sinkhole di tengah kota. Ying Go ada di sana. Ia dan pasukannya mencoba melawan tapi pada akhirnya mereka kalah. Mereka harus mundur, mundur, dan semakin mundur hingga akhirnya keluar dari batas kota. Sisa anggotanya saat keluar ke batas kota tinggal enam dan Kazu kemudian dihadiahi lagi visi kematian enam anggota itu dalam kondisi mengenaskan. 'Dipipihkan' oleh sejumlah makhluk humanoid raksasa berkulit kelabu.

Tubuh Kazu langsung kaku dan mematung ketika usai menyaksikan visi-visi tersebut. Ying Go yang menyadari bahwa tubuh Kazu langsung kaku langsung mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu.

"Hei! Hei! Kamu tidak apa-apa kan?"

Kazu tidak sempat menjawab karena detik berikutnya ada bola api mendarat di sekitarnya. Tubuh Ying Go terlempar dan saat ia bangun kembali ia mendapati bahwa tubuh Kazu sudah 'matang' terbakar api yang asalnya dari kaki Sang Tamon Rah itu.

BABAK 4 – DETIK – DETIK PENENTUAN

Migrain di kepala Ying Go tiba-tiba kambuh. Ia mulai mengingat kembali satu-demi-satu 16 anggota peletonnya. Jajang yang suka bikin masalah tapi sebenarnya jujur dan polos, Siregar yang pantang main perempuan meski istrinya wajahnya biasa saja, Kamil yang sebisa mungkin tidak lupakan shalat lima waktu meski di medan laga sehingga jika ada kunarpa yang menyerang di saat shalat lima waktu Ying Go selalu beri perintah 'jaga Pak Uztad Kamil, kalau tidak nanti tak ada lagi orang taat beribadah di peleton ini', Silalahi yang suka makan dan masih banyak lagi.

Tarik nafas, kendalikan dirimu, mereka yang mati takkan mau kau mati di sini juga, Vajira Muni. Tiba-tiba kali ini Rahula terdengar bijak.

Ying Go kembali membuka matanya. Sekumpulan monster telah mengepungnya namun pandangan matanya tertuju pada sebuah benda berbentuk kepingan logam berkaki enam. Bom waktu milik Lod yang tampaknya masih utuh dan tak terpengaruh ledakan bola api tadi, teronggok di atas pasir, memantulkan sinar obor yang dibawa para monster tersebut.

Ia langsung memungut benda itu sementara para monster bergerak hendak meremukkannya. Begitu bom itu sudah di tangannya, Ying Go langsung melesat ke angkasa. Meninggalkan halberd rampasannya di atas tanah dan secepat mungkin melesat ke arah menara kanan dan mendarat di pelatarannya. Ia tadi sempat melihat bahwa Dyna dan Lod agak kesulitan menembus pertahanan menara kiri tapi ia sendiri juga tak mau ambil resiko menolong mereka tapi menggagalkan misi dan yang ujung-ujungnya lebih membahayakan nyawa mereka lagi.

"Kita tak bisa menolong semua orang. Dari antara 10 sandera bisa saja satu atau dua akan mati. Itu sangat disesalkan tapi jika kita tak mampu menolong semua orang. Jika kita nekat menolong satu-dua orang ini bisa-bisa nyawa sandera yang lain serta nyawa anggota tim akan terancam. Kita akan rugi lebih besar!" begitu kata pelatih pembebasan sanderanya pernah berujar.

"Tapi kita selalu dituntut untuk menyelamatkan semua sandera hidup-hidup bukan?" tanya Ying Go saat itu.

"Benar. Dalam simulasi itu mungkin saja, tapi kenyataan di lapangan selalu berkata lain. Jangan paksakan keberuntungan kalian kalau kalian tidak yakin. Operasi penyelamatan sandera dan operasi-operasi Kopassus lainnya bukan meja judi! Dan juga jangan selalu dengarkan apa kata masyarakat! Kebanyakan masyarakat disetir oleh media dan media selalu ingin mencari sensasi supaya berita mereka laku. Jangan dengarkan mereka jika itu berpotensi merusak keefektifan operasi kalian! Ingat! Yang berkeringat, berdarah, terancam cacat atau mati, di medan laga itu kalian! Bukan mereka! Mereka itu rata-rata cuma bisa lontarkan kritik dan ngomong doang!"


Jadi Ying Go lebih memilih 'percaya' pada kemampuan Dyna dan Lod. Kalau mereka gagal, rencana cadangan Ying Go adalah melompat ke menara sebelah secepat mungkin pasca menghancurkan menara kanan, atau jika tidak berhasil ia akan lemparkan Rahula ke menara sebelah sementara ia akan pakai senjata lain untuk hancurkan menara kanan.


Rahula! Aku mohon bantuanmu! Batin Ying Go.

Tentu. Untuk kali ini Rahula tampaknya juga tidak ingin sarkastis.

Sepasukan monster tiba-tiba muncul dari dalam dinding di lantai dua menara. Tubuh mereka menembus batuan penyusun menara yang sebening kristal itu. Ying Go menyiapkan bajranya, mengubahnya menjadi sebentuk tombak guan dao lalu mengambil posisi kuda-kuda siap menyerang.

"Aku berlindung pada Buddha, Aku berlindung pada Dharma, aku berlindung pada Sangha[3]," kata-kata itu meluncur dari mulut Ying Go ketika hendak bersiap menyerang.

"Aku ucapkan angan-angan permohonanku kepada Sang Guru, Sang Tatagatha, Sang Sakyamuni, sebagai pengingat bagi diriku akan kewajibanku," satu monster berwujud lycanthrope mulai menyerang. Tombak Ying Go sukses menusuk si monster tepat di leher dan Ying Go melemparkan monster itu ke lantai bawah. Monster itu jatuh berdebam di tanah berpasir dan yang lain pun segera menyeruak, menerjang ke arah Ying Go.

Ying Go membuat satu gerakan berputar yang membabat para monster itu. Beberapa serangan dari monster itu sempat melukainya. Satu sabetan pedang mencungkil sedikit bagian atas telinga kanannya, satu sabetan tombak membuat luka melintang dari bahu kiri sampai perut kanannya, tapi kalimat-kalimat yang dibaca Ying Go membuatnya bisa mengalihkan sedikit rasa sakit itu dan membuat konsentrasinya untuk mengendalikan Rahula tidak buyar, "Semoga semua makhluk yang menderita batin dan raganya segera terbebas dari penderitaan mereka. Semoga mereka yang takut dan khawatir segera reda ketakutannya, dan mereka yang terbelenggu terbebaskan. Semoga yang tak berdaya segera menemukan kekuatan dan manusia menghentikan permusuhannya satu sama lain. Semoga mereka semua yang tersesat – anak-anak, orang tua, dan orang-orang yang tak berdaya –dilindungi oleh para dewa, dan segera menemukan jalan menuju kesadaran tertinggi, menuju kesadaran sebagai Buddha."

Dan Rahula pun ikut menyambung perkataan Ying Go selagi mereka mengurusi pasukan monster yang tak ada habisnya itu.

"Mara adalah rasa benci
Mara adalah rasa amarah
Mara adalah dewa yang jatuh dari Nirwana
Mara adalah penggoda

Ia menggoda para lelaki dalam wujud perempuan
dan menggoda para perempuan dalam wujud lelaki
Ia menggoda dalam wujud harta dan tahta
dan ia tak kenal lelah dalam usahanya untuk menghancurkan sangha

Ia tak mengenal dharma.
Ia hanya kenal nafsu
Ia hanya kenal penderitaan dan tak pernah paham apa itu cinta
Ia membenci para dewa
Ia membenci para Boddhisatwa
Ia berbahaya dan tak ada satupun makhluk yang mampu menghentikannya

Separuh manusia di bumi adalah pengikutnya,
Para Asura dan jiwa-jiwa yang tersesat tunduk padanya,
Sehingga sangha serta dharma pun selalu terancam.

Maka Sang Sakyamuni pun mencari suatu jalan
Guna melindungi para penganut ajaran-Nya dari pengikut-pengikut Mara.
Ia taklukkan para dewa dan arwah-arwah yang masih memiliki niat baik
Ia tawarkan pada mereka sebuah tugas untuk melindungi dharma dan sangha.

Mereka disebut Dharmapala
Mereka adalah pelindung dharma
Yang memerangi para pengikut Mara siang dan malam, pagi dan petang
Yang memastikan perlindungan bagi para penganut ajaran Sang Guru.
Sampai kedatangan Sang Penerus Sakyamuni, Maitreya."

Bait-bait yang sambung-menyambung itu tanpa sadar telah menjaga konsentrasi dan sinergi antara Ying Go dan Rajatanya. Sebagai buktinya Ying Go berhasil menumpas sebagian besar monster itu hingga tinggal tersisa satu saja yang masih menghadang jalan. Seekor wyvern berkulit hijau yang menyemburkan sesuatu mirip ludah hijau ke arah Ying Go. Ying Go menghindar namun tak bisa menghindari percikan ludah hijau yang mengenai mata kirinya yang pendarahannya makin parah serta tangan kirinya yang sudah tak terlindung lengan kemeja akibat dikoyak seekor lycanthrope tadi.

Lemparkan aku! Kata Rahula. Yang keras, tepat ke dahinya!

Ying Go sebenarnya mau saja menuruti saran Rahula namun tangannya gemetaran. Meski tadi ia tampak bergerak lincah namun benturan dan getaran yang ia dapat dari memukulkan Rahula ke zirah-zirah para orc ternyata membuat tangannya sekarang gemetaran. Kakinya juga seperti goyah dan perlahan Rahula terasa berat lagi.

Hei! Hei! Jangan bilang kalau kau sudah kehabisan tenaga lagi!

"Tampaknya begitu ... tapi ...," Ying Go mengkonsentrasikan seluruh kekuatannya yang tersisa ke tangan kanannya dan mengalirkan listrik itu ke dalam Rahula yang sudah ia rubah kembali menjadi wujud bajra. Ia lalu lemparkan itu ke arah sang wyvern yang menerjang maju dan dengan segera wyvern itupun terkena sengatan listrik 1000 Volt dan langsung jatuh tak sadarkan diri meski Ying Go yakin wyvern itu belum mati.

Tapi Ying Go tidak punya waktu untuk meladeni wyvern itu lagi. Di menara seberang Lod sudah berteriak-teriak, "Bung! Bomnya!"

"YA! SEBENTAR!" balas Ying Go.

"Pinjami aku kekuatanmu sedikit saja Rahula," kata Ying Go lagi.

Konsentrasilah! Anggap rasa sakit itu hanya ilusi.

"Susah!"

Oh ayolah Ying Go! Tinggal sedikit lagi! Sedikit lagi!

Ying Go akhirnya memaksa diri dengan sedikit menyeret kakinya. Namun tinggal dua langkah lagi ia dari tempat penancapan bom, sebuah pedang sudah menembus dada kanannya.

Ying Go menoleh dan mendapati ada lagi monster tipe baru. Sesosok kesatria berkepala kelelawar dengan zirah hitam mengkilat.

Ying Go kembali merubah bajranya menjadi sebuah guan dao dan memukulkannya ke tangan si kesatria kelelawar. Ia lalu melemparkan guan dao itu ke badan menara dan sebuah retakan besar timbul di badan menara. Setelah itu masih dengan pedang menancap di dada kanannya ia berlari sambil tertatih ke arah menara itu, mengubah kembali Rahula menjadi bajra, dan menancapkan bom milik Lod di lubang hasil hantaman Rahula tadi.

"Sekarang!" ujar Ying Go dengan suara kepayahan.

"Bung! Tampaknya hari ini benar-benar jadi akhir hidup kita berdua!" seru Lod dari menara sebelah.

"Kenapa?"

"Dyna sudah tewas dari tadi. Aku juga tak bisa keluar dari sini karena ada kepungan monster di bawah sana. Mereka tak berani naik karena aku sudah buat lubang jebakan dan pasang dinding ranjau di sini! Tapi kalau menara ini meledak, kita berdua benar-benar akan jatuh bebas ke bawah sana!"

"Lakukan saja kalau kau benar-benar sudah siap!" seru Ying Go sambil berusaha menahan serangan belati tikam dari kesatria kelelawar sialan yang masih belum menyerah untuk membunuhnya itu.

Lod sedikit ragu namun akhirnya ia menekan tombolnya dan sebuah ledakan segera terdengar. Dua menara meledak bersamaan dan keduanya segera rubuh menjadi serpihan batu kristal bening. Monster-monster yang tadi mengepung Lod dan monster kelelawar yang tadi hendak membunuh Ying Go sirna. Si kuda terbang Tamon Rah pun juga lenyap namun tubuh Ying Go kini benar-benar jatuh bebas ke tanah meski dengan kekuatannya ia bisa sedikit mengurangi laju jatuhnya tersebut.  Tapi Ying Go tetap kesulitan untuk memperbaiki posisinya yang jatuh dengan kepala menghadap ke bawah karena seluruh otot di tubuhnya kini sakit dan nyeri namun ia segera melihat bahwa di menara lain Lod tampak berusaha keras agar tidak jatuh saat menuruni tangga-tangga menara secepat yang ia bisa. Meski begitu hantaman batu-batu penyusun menara yang berjatuhan pada anak-anak tangga membuat langkah Lod menjadi terhambat.

"Lod! Lompat dan pegang tanganku!" kata Ying Go.

Merasa tak punya pilihan lain, Lod pun melompat dan menggapai tangan Ying Go.

Ying Go mendorong tubuhnya mendekati Lod dan berhasil membuat tubuhnya dalam posisi horizontal lalu menggunakan kekuatannya untuk memperlambat laju jatuhnya mereka berdua. Jatuhnya ini tetap beresiko karena pedang si manusia kelelawar masih menancap di punggungnya. Jatuh bebas dalam posisi seperti ini berpotensi mencederai paru-parunya dan membuatnya mati karena shock.

Tapi masa bodohlah.

BABAK 5 – EPILOG

Tadinya Ying Go pikir dirinya akan mati karena shock pasca membentur tanah. Ternyata tidak. Ketika jarak antara dirinya dan tanah sudah dekat, Lod tiba-tiba melepaskan pegangannya dan turun ke tanah sendirian. Setelah itu Lod membentuk sebuah lubang yang sejajar dengan arah jatuhnya Ying Go dengan diameter lubang yang kira-kira mencukupi untuk tempat bagi gagang pedang dan separuh bilah pedang yang mencuat di punggung Ying Go itu untuk masuk.

Perhitungan Lod tepat karena Ying Go akhirnya kehabisan tenaga dan jatuh bebas. Gagang dan separuh bilah pedang yang mencuat di punggungnya itu tertampung dengan pas di lubang kecil yang dibuat Lod tersebut.

"Terima kasih. Kerja bagus, Bung!" Ying Go mengulurkan sebelah tangannya ke arah Lod.

"Sama-sama," Lod menyambut uluran tangan Ying Go dan membantu prajurit Kopassus itu berdiri.

"Yak!" sang pelayan berwajah datar itu tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua, "Selamat kepada Tuan Tan Ying Go dan Tuan Lo Dmun Faylim. Anda berdua telah berhasil menyegel Tamon Rah dan mengembalikan kedamaian di Alforea.

"Bukan hanya kami," kata Ying Go sembari menunjuk gundukan bangkai kuda, prajurit pelempar lembing, dan prajurit pemakai busur silang yang bergelimpangan di lembah sana, "Mereka juga."

"Nama-nama mereka akan terus diingat," kata sang pelayan.

"Bagaimana dengan Dyna dan Kazu?" tanya Lod.

"Oh mereka? Mereka belum sepenuhnya tewas. Jika kembali ke Alforea, para penyihir penyembuh kami dengan kekuatan batu bijak mereka akan dapat memulihkan mereka."

Di satu sisi Ying Go senang karena dua orang itu tidak benar-benar mati, tapi di sisi lain Rahula mengingatkannya pada sebuah ancaman. Sebaiknya kau tidur dengan satu mata terbuka, Ying Go! Gadis(?) bernama Dyna itu bisa saja menyelinap ke kamarmu lalu meniduri serta mengambil keperjakaanmu dengan paksa!

Dan sekarang Ying Go jadi takut tidur. Ia berpikir jika para penyihir penyembuh itu hendak menarik keluar pedang ini serta mencungkil mata kirinya yang sudah rusak, ia akan menolak jika mereka hendak menidurkannya. Lebih baik bagi dirinya merasakan sakit di meja operasi daripada 'ditiduri' oleh Dyna.

==00==


[1] Sama seperti kepercayaan Hinduisme, dalam kepercayaan Buddhisme, urusan hukum-menghukum jiwa di neraka juga dilakukan oleh Yama. Selain itu Yama juga merupakan satu dari para Dharmapala. Secara logika, ia dan Ying Go sekarang 'satu spesies'.
[2] Nafsu seksual
[3] Persaudaraan, secara mudahnya sangha adalah ordo persaudaraan para bhikku Buddha yang tugasnya  menjaga spiritualitas para umat dan anggota-anggota mereka sendiri.

18 comments:

  1. Tapi bertemu dokter apalagi bertemu dokter
    pengulang kata nih gan.

    keren ceritanya dan hebat juga, ada make kosakata yang sangat jarang dipake dijaman sekarang.

    dan itu, nyari tim dulu baru diumumin ya....

    ReplyDelete
  2. Yup, nyaris seperti entrinya Fachrul, Tan Ying Go ada interaksi dengan sesosok entitas magis yang mendukungnya. Untuk tower dan si kuda gila cukup logis dan enak dibayangkan. Interaksi antar anggota tim nggak terlalu intens, tapi lumayan dieksplor lah. Memang Manik termasuk berpengetahuan luas di background Tan Ying Go ini. Menarik, jelas didukung oleh data dan riset yang matang untuk latar belakang Tan dan charsheet.

    Go go Ying Go!
    Skor: 8/10
    Author: Andry Chang
    OC: Raditya "Vajra" Damian

    ReplyDelete
  3. Saya datang dan numpang ketawa.. hahahhahahaha

    Sumpah ini ceritanya kocak dan apik sekaligus. Meski saya ngerasa tulisan bang manik beda, tapi mungkin karena bukan battle 1v1 jadi bang manik ga terlalu explore chara lain.

    Saya ngakak abis pas dyna dipanggil nona, dianggap biseks, dan ditakuti ying go karena mirip tante girang.

    Saya suka waktu adegan penghancuran tower dan matinya kazuki.. lod unyu akh..

    Poin plus subjektif dari saya, ini cerita bikin saya terhibur dan puas. Hahahaha

    Poin min, kesalahan di kastil tower. Woles merka ke sana hahaha

    So titip 8

    PS. Saya baca ini duluan karena pengen tau sifat ying go.. soalnya saya makai dia di entri saya entar. Ternyata saya buat ying go terlalu keren. Haha.. ooc gapapa ya..

    Sekalian mau liat gimana orang nulis kazuki. X3


    Regards,
    dee
    Author dan musuh KAZUKI TSUKISHIRO

    ReplyDelete
  4. Sebelumnya izinkan saya terkagum" dulu karena bang Manik sukses ngebawain karakter Dyna sesuai imej saya, lebih dari yang saya sendiri bisa bayangin.

    Dibanding Nandi sama Mahesa, penjelasan singkat soal in-universe Ying Go kerasa ga gitu ngedikte atau bikin distraksi (atau mungkin akhirnya saya udah kebiasa). Selain itu, mungkin karena emang dasarnya saya udah lama ga baca tulisan bang Manik, tapi ini termasuk entri yang enak buat diikutin, dan pemilihan kata-katanya luwes (sekali lagi, dibanding saya yang kayanya jadi repetitif karena buntu orz)

    Saya pengen bisa ketemu Ying Go seandainya lolos prelim... Kalaupun ngga, saya tetep ngejagoin OC ini lolos, jadi dari saya 10

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  5. Cukup banyak referensi yang digunakan dalam cerita ini yang perlu diacungi jempol, terutama di bagian budaya Kopassusnya. Tentu hal-hal seperti ini membutuhkan riset mendalam.

    Adegan Ying Go masuk ke Alforeanya terbilang kocak. Selain itu pola pikir dan tingkah lakunya juga terkadang kocak sehingga bisa mencerahkan suasana.

    Aksinya Ying Go amat memukau, yang kusayangkan adalah porsi rekan setimnya yang terasa amat minim. Padahal interaksi antara Ying Go - Dyna nya uda asik, tinggal Dynanya aja kurang unjuk gigi. Lod agak cukup berperan karena dia buat bom, cuman si Kazu ini rasanya kasihan sekali, setelah melihat masa lalu Ying Go kemudian tewas terbakar api Tamon.

    Nilai : 8

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
  6. Po - Fatanir

    Ngebaca ini rasa ngliat secret weapon, gaya nulisnya fresh bgt dibanding Bang Manik yg sebelumnya. Dan kalimatnya panjang2 tapi entah kenapa tetep sederhana dan lancar diikutin.

    Karakterisasi emang agak timpang, Lod sama Kazu agak kurang dibanding Dyna. Sedangkan porsi battle justru Dyna agak ketutup dan off-screen.

    Dan yg asiknya Rajatanya juga punya kepribadian jadi nambah karakterisasi, bait2 di klimaksnya keren bgt dan kerasa suasana tempurnya.

    Nilai dariku 9

    ReplyDelete
  7. Narasinya mengalir sangat baik, meski per-paragrafnya cukup panjang, saya bacanya tidak tersendat. Bagian flashback dan percakapan dengan senjatanya pun sangat luwes, begitu juga sisipan infodump dari dunianya si Ying Go, sangat luwes.

    Tapi untuk setting, sepertinya kau cukup kehilangan sense pas bagian menara. Harusnya jarak menara tidak terlalu dekat sampai Ying dan Lod bisa saling berkomunikasi, apalagi sampai Lod lompat dan meraih tangan Ying Go.

    Dari segi pertempuran cukup epik, saya tidak akan mempermasalahkan mereka yang mati offscreen, karena ini memang PoV 3 limited. Lagi pula saya lebih suka yang seperti ini, alih-alih regu yang baru saling kenal, tapi tiba-tiba memiliki chemistry terlalu bagus dan dapat sinkron sempurna dalam pertempuran.

    Nilai 9

    Zoelkarnaen dengan OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete
  8. Ya know, untuk seorang tentara Ying Go ga terlalu terasa sebagai pemimpin di sini. Kalau ngeliat bapak-bapak yang saya kenal sih, kalau tiba-tiba shits happen mereka bakal mencoba jadi pemimpin kelompok, apa lagi party membernya ngga ada yang terlalu menonjol juga leadership skillnya. di cerita aslinya karakter dia memang begitu kah?

    selain itu battlenya seru, narasinya bagus, no obvious flaw (selain satu dialog yang luar biasa panjangnya). All in all, it's a good work. Poin 8 dari saya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih atas komentarnya King :D
      Saya memang menunggu-nunggu komentar dari orang yang paham betul dengan masalah seperti ini.

      Iya saya akui leadershipnya tidak 'kentara' karena OC saya sendiri punya masalah gejala PTSD ringan sama masih kebawa-bawa sama tugas-tugasnya yang lalu yang rata-rata sebagai underdog.

      Tapi saya berterima kasih banget sama penjelasannya King soal 'trait' pemimpin kelompok itu.

      Delete
    2. kebanyakan tentara biasanya gitu soale. kalo dihadapin ke situasi emergency, insting pertama mereka itu biasanya megang posisi leader. padahal belum tentu mereka cocok, cuma kalo dikelilingi orang sipil mereka terdorong aja begitu, serasa pingin nunjukin status =)))

      Delete
  9. Saya gak bisa komen banyak, karena entri ini solid dan mengalir enak.

    Jadi tanpa basa-basi saya kasih 8/10 deh. Porsinya pas semua, jadi terasa.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  10. Itu bagian opening di depan kastel Tamon ... mengapa kopas mentah-mentah dari tulisan prelim panitia? Dan kekopasnya berikut typo dan salah EYDnya juga / :v \

    Latar belakang OC Tan Yin Go sebagai tentara ini sudah dibawakan dengan mendetail. Meskipun mungkin saya, entah kurang teliti atau apa, kok tidak menemui penjelasan etnis tentang si Tan Yin Go ini, ya? Bahkan ciri-ciri fisiknya juga seperti tak terdeskripsikan. Sedangkan dua rekannya di awal--Sanjaya dan Kaspar--ataupun rekan-rekan dalam flashback, mereka punya setidaknya penggambaran yang kuat.

    Kalau dari pertempurannya sendiri, sudah lumayan epik. Runut dan jelas adegannya. Begitu pula dengan feel medan perangnya, cukup mantap. Tamon Rah di sini hanya berperan sebagai pelempar bola api, tapi okelah. Namun saya setuju sama pendapat yang lain, tiga rekan OC kurang dapat sorotan saat bertempur. Dari karakterisasi dan gaya bicara mungkin sudah, tetapi dari teknik bertempur masih agak kurang--terutama Dyna.

    Well, secara keseluruhan ini entri yang bagus. Delapan ribu kata lebih, tetapi bisa saya baca dengan cepat.

    (Dan entah mengapa saya berharap si Tan Yin Go ini bisa bertemu/berhadapan dengan lawan yang juga dari ketentaraan.)

    POIN 8

    OC: Kusumawardani, S.Pd

    ReplyDelete
  11. ini keren banget,bang!! aye beneran suka pas latar belakangan itu tentara beneran di bahas kayak berasa real banget ini,,,beda ama punya aye nyang militernya kayak cuman tempelan aje,,,itu di sini nih perangnye beneran kerasa perang,,mantep bang! aye mesti banyak belajar dari mari nih,,

    top deh

    nilai 10

    karakter aye Kumirun

    ReplyDelete
  12. seperti biasa, Blackz kalau nilai menganggap semua karya sempurna dan semua nilai dimulai dari 10.

    -2 (8)
    gak biasanya saya baca tulisan manik, dan ngerasa off. ngerasa Bland. biasanya hooking dari awal sampai habis

    sampai pada flashback satu persatu peletonnya saya berasa. Yin Go ini, Flashback-forwardnya terlalu banyak sehingga saya gak bisa fokus ke event yang terjadi.

    baca reply komen King, situ sengaja melakukan itu untuk memberikan PTSD. tetapi, kalau makai sistem sinematik Flashback PTSD boleh banyak kalau karakter pingsan tapi kalau dalam Keadaan adrenalin tinggi malah bikin pusing pembaca (baca: saya)

    Frost final Verdict: 8

    ReplyDelete
  13. Ini entry yang aku bacanya paling lancar. Padahal banyak kosakata yang baru kutahu tapi suer, ngalir banget baca tulisan ini, enak.

    Aku suka sama penjelasan background Ying Go yang walaupun menuhin seluruh tulisan dari awal sampai akhir, tapi cara penyampaiannya taktis dan terintegrasi dengan indah sama jalannya cerita jadi gak kerasa lagi disumpal sama informasi.

    Kurangnya paling ya Tamon Rahnya gitu doang, kek monster di background. Kehadiran monster kroconya malah jauh lebih penting dan lebih kerasa dari Big Bossnya.

    Dyna, Lod sama Kazu juga kurang kerasa. Sama aku rada gak bisa nalar jarak kedua menara yang di awal berasa jauh tapi di akhir jadi kek sebelahan aja letaknya sampe Loden sama Ying Go bisa loncat dan ketemuan di udara.

    Nilai : 9
    OCku : Alshain Kairos

    ReplyDelete
  14. asli, Kocak!

    ceritanya lucu banget, apalagi interaksi antara Tan Yin sama si Dyna. sampe dianggap tante girang pula, wkwkwk.
    bahasanya epik, padat, tapi tetap enak bacanya. ngalir~
    minusnya cuma di bagian menara nih, deskripsinya ga ngejelasin jarak antar menaranya. di awal kesannya dua menara itu jauh, tapi kenapa di akhir malah terkesan dekat, bahkan kayak bersebelahan aja.

    nilaiku untukmu: 9!

    salam meong, Mike Mi991 :3

    ReplyDelete