11.5.15

[PRELIMINARY] RENGGO SINA - THE ROBOTS AND THE CLOCKWORKER

RENGGO SINA - THE ROBOTS AND THE CLOCKWORKER
Penulis: Mocha_H



0
Where Everything begin...

Malam itu, Plaza Alkima sedang ramai dipadati oleh beberapa NPC dan peserta. Mereka mengerubungi bagian tengah Plaza dimana Peserta datang saat pertama kali masuk Alkima, tapi kali ini yang berada di depan mereka adalah sekelompok maid yang memberi pagar bertuliskan "Jangan Lewat, Dalam Perbaikan".

Tampak sebuah lubang sekukuran manusia dewasa pada kubah kaca di atas kelompok maid itu, sedangkan tepat di bawahnya terdapat sebuah kawah dan serpihan-serpihan kaca kubah berserakan, seakan sebuah bola meriam baru saja di jatuhkan dari langit-langit Plaza.

Sementara itu, sepasang mata merah bercahaya mengintai dari sebuah semak yang tak jauh dari lokasi itu. Kedua mata itu bergerak ke kiri dan kanan secara bergantian, sampai akhirnya berhenti pada kawah di tengah pagar-pagar maid, lalu bergerak naik melihat lubang di langit-langit Plaza.

"Cara masuk yang luar biasa,kan?"terdengar suara bernada santai dari semak-semak itu.

"Luar biasa?! KAMU GILA! Kenapa aku muncul di atas kubah itu? Apa tidak bisa mengatur supaya aku masuk secara normal"balas suara lain yang bernada berat seakan berasal dari speaker.

"Oh? Kamu tidak suka? sayang sekali... padahal aku sudah memasang "Kejadian" seperti itu untuk setiap ronde yang akan kamu ikuti..."balas suara pertama.

"Bagaimana aku bisa suka? Kamu bisa saja membunuhku, Operator!" balas si suara kedua.

"Kamu itu robot, tidak mungkin mati hanya karena jatuh seperti itu" balas sang Operator "Hm... tapi panggilan "Operator" terlalu panjang... panggil saja aku "Opi" supaya menghemat kata"


Dari semak-semak itu sebuah sosok bertubuh besi merangkak keluar, lalu berdiri tegak. Mata merah di balik visor kepalanya bergerak turun ke tubuh besinya. Plat besi abu-abu yang menyelimuti tubuhnya dan kabel tembaga yang tampak pada celah-celah sendinya tidak tergores sedikitpun, seakan-akan dia tidak pernah mengalami kejatuhan beberapa saat lalu.

"Aneh... Kenapa aku tidak tergores sama sekali?"

"Kurasa itu karena pengurangan HP tidak berlaku di tempat ini"

"HP? Benda apa itu?"

"Uh... Susah menjelaskannya untuk sekarang, tapi intinya kamu hampir kebal terhadap apapun selama di tempat ini"

Si robot menoleh ke arah asal suara sang Operator, tapi ia tidak menemukan si pemilik suara tersebut.

"Di bawah sini"

Robot itu menoleh ke bawah kakinya, menemukan suatu pipa seukuran lengan manusia yang ujungnya tertutup oleh plat besi berlubang-lubang.

"AAGGHH!!! Ada pipa bisa berbicara sendiri!" pekik Renggo.

"Tenanglah... Aku memakai pipa ini karena tidak bisa berkomunikasi secara langsung denganmu, jadi aku menempatkan dua benda penting yang harus kamu awasi. Pertama, lihatlah di dadamu"

Sang robot menoleh ke dadanya, tapi ada suatu benda yang menghalanginya. Sebuah sabuk besi yang menyilang tepat di atas dadanya dan juga sebuah bola mekanik di atas sabuk itu. Bola mekanik tersebut tiba-tiba mengeluarkan cahaya kehijauan, lalu memutar ke atas dan terbuka tepat di tengahnya, menampakan bentuknya yang mirip bola mata.

"Benda itu adalah mata mekanik yang menyalurkan informasi visual dan suara kepadaku secara realtime, jadi jaga dan jangan sampai rusak! Ah, dan aku hanya bisa bicara melalui pipa ini. Kamu tidak usah risau, aku bisa membuat pipa ini sebanyak yang kumau selama ada benda padat dalam pandangan mata ini" Ujar sang Operator "Kedua, coba raba punggungmu"

Sang Robot meraba daerah punggungnya. Ia merasakan kehadiran suatu benda berbentuk kubus di belakangnya, tapi ia hanya bisa memutar kepalanya hingga melihat ujung lancip dari benda tersebut.

"Itu adalah tas elektronik berbentuk kubus hitam. Ini adalah medium komunikasi sekaligus pensuplai tenaga pada tubuhmu, jadi jika rusak kamu akan mati"Ujar sang Operator. "Kurasa itu semua yang harus kujelaskan dari buku manual ini"

"Buku Manual? Apa lagi itu?" tanya sang robot.

"Uh... Itu tidak penting untukmu, lagi pula tugasmu di sini hanyalah bertarung" Ujar Sang Operator.

"Tugas? Aku tidak ingat tugas apapun..."

"Biar kuperjelas lagi kontrak kerjamu" Sang Operator memulai percakapan "Kamu akan bertindak sebagai "Petarung" pada turnamen ini di bawah kendaliku dan setiap ronde aku akan mengembalikan ingatanmu sedikit demi sedikit sampai perdelapan final. Jika kamu sampai di perdelapan final, aku akan mengembalikan semua ingatanmu, dan jika tidak..."

"...Kamu akan menghancurkanku?" jawab sang Robot "Aku sudah ingat sekarang... soal ruang hitam itu... dan pintu besi di bawah kakiku yang membawaku ke sini"

"Baguslah. Aku tidak perlu menjelaskan banyak-banyak"

"Ngomong-Ngomong, apa cahaya di tanganku ini juga termasuk perbuatanmu?"

Robot itu menunjukan tangannya yang sedang bercahaya ke depan mata mekanik sang Operator. Cahaya dari tangan sang robot menyebar ke pundaknya, sampai akhirnya membungkus seluruh tubuhnya.

"Aneh sekali... T-Tunggu dulu! Jangan bilang kalau..."

Belum sempat sang Operator menyelesaikan kalimatnya, sosok sang robot menghilang dari tempatnya, tergantikan oleh cahaya yang langsung melesat ke langit-langit plaza. Kejadian serupa juga tengah terjadi pada beberapa peserta lain di plaza tersebut, sehingga membuat langit Plaza dipenuhi oleh cahaya mirip komet meninggalkan tempat itu.


***


Di sebuah kastil di kota Despera, puluhan cahaya melesat dengan kecepatan penuh dari Alkima, tempat kedatangan para peserta. Satu persatu cahaya tersebut mendarat di halaman kastil tersebut, lalu bermaterialisasi menjadi sosok para peserta.

Para peserta yang baru saja datang tampak kebingungan. Tidak sedikit bertanya, bahkan meneriakkan soal lokasi mereka dan alasan mereka di tempat itu. Dari atas balkon kastil di halaman tersebut seorang wanita berambut putih panjang menatap keadaan di halaman kastil yang ramai dipenuhi dengan wajah-wajah yang kebingungan.

Di atas balkon kastil itu munculah seorang wanita berambut perak dan juga seorang pria yang berambut putih yang memperkenalkan diri mereka sebagai "Tamon Ruu" dan "Hewanurma", lalu menyatakan sebagai panitia penyelenggara turnamen ini.

Hewanurma memulai penjelasan soal turnamen ini dan babak penyisihan yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Setelah mendengar penjelasan tersebut, sontak semua yang ada di halaman kastil langsung ramai dan mulai mencari anggota tim yang ingin mereka rekrut.

"Dengan ini, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!" Sahut Hewanurma dengan lantang dan penuh semangat.

Setelah mengumumkan pembukaan babak penyisihan, Tamon Ruu dan Hewanurma mulai beranjak pergi dari balkon kastil, dan para maid yang sejak awal hanya berjaga di jalanan, kini satu persatu mulai bergerak menuju kumpulan para peserta.



***

1
The Robots and The Clockworker

"S-Sial?! Kenapa sudah dimulai sekarang?! Aku kira dimulai minggu depan!"teriak sang Operator panik. "K-Kamu! Kita tidak punya banyak waktu! Segera ambil karung dan masukan peserta sebanyak-banyaknya!"

"Memangnya kita mau manen jagung?! Lagi pula, dari mana juga kita bisa dapat karung?" teriak sang robot pada bola mata yang meronta-ronta di sabuknya.

"AGH!!! Kalau sudah begini... Aku terpaksa memakai itu!"

"Memakai apa?"

Sang robot tidak tahu apa yang terjadi berikutnya. Awalnya, ia masih bisa melihat kerumunan peserta di depannya sedang panik untuk mencari anggota party, tapi yang ia lihat sekarang hanyalah sebuah ruang gelap gulita.

"Uh? D-Dimana aku?"tanya sang robot pada dirinya sendiri. "Opi! Dimana aku sekarang?!"

Sang robot tidak kunjung mendapat jawaban dari sang operator, lalu melihat ke bola mata mekanik di dadanya, tapi sekarang bola mata itu malah tertutup rapat dan tak memancarkan cahaya sedikitpun.

Selama beberapa menit berikutnya, ia terus meneriakan nama sang Operator, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Setelah kurang lebih dua puluh menit, pemandangan kehitaman yang menyelimuti Renggo mulai memudar, tergantikan oleh warna-warna yang membentuk suatu pemandangan berbeda.

Sekarang ia berada di sebuah gurun pasir yang gelap, tapi masih mendapat cahaya dari pantulan sinar matahari oleh bulan purnama yang mengorbit di atas tempat itu. Berkat cahaya bulan, ia dapat melihat keberadaan suatu perkemahan luas di kejauhan yang diterangi oleh beberapa obor. Di depan perkemahan itu terdapat sebuah dataran pasir berbatu yang menukik turun seperti sebuah lembah dan berujung pada sebuah benteng.

Namun selain takjub akan pemandangan yang ia lihat, ada satu pertanyaan yang membenak di pikiran robot itu... yaitu penyebab kenapa ia berada pada ketinggian seratus meter. Panik karena menyadari kondisinya, sang robot berputar-putar tak teratur di udara karena kehilangan kestabilan. Setelah satu hantaman dasyat pada pasir di bawahnya, sang robot terbenam dari ujung kaki sampai ke lehernya.

"Bodoh, kamu! Yang lain pada muncul di sini, kamu malah muncul dari langit!"

Seorang pria berambut coklat yang mengenakan jaket hitam berlogo gear yang membentuk gambar jam di dadanya datang menghampiri sang robot yang terbenam di dalam pasir. Sang pria merepalkan sebuah mantra, lalu secara magis tubuh sang robot terangkat dan kembali ke posisi semula. Pasir yang tadi terinjakpun ikut kembali ke kondisinya semula, seolah-olah sang robot tidak pernah terperosok ke dalamnya.

"Terimakasih..."

"Terimakasih? Apanya yang terima kasih?!"sentak pria itu dengan amarah. "Kalau saja kamu seorang manusia, aku pasti akan membenamkanmu lebih dalam sampai kamu tak bisa melihat cahaya matahari lagi!"

"K-Kenapa marah? Apa yang telah aku perbuat?"

"Bagaimana aku tidak marah?! Tadi ketika aku mengajak salah satu peserta, tiba-tiba kamu muncul, mengarungi peserta itu dan lari begitu saja! Apa kamu tidak tahu betapa sulitnya mencari peserta yang bukan manusia sialan?!" kata sang pria.

Sang robot dan pria itu menghentikan percakapan mereka karena mendengar sebuah suara yang berasal dari suatu karung goni besar yang berguling kesana-kemari. Tak lama, sebuah pedang bercahaya putih mencuat keluar dari karung itu dan membelahnya, sehingga dua sosok di dalamnya dapat keluar.

Kedua peserta di dalamnya adalah dua orang gadis , yang satu masih remaja, sedangkan gadis yang lain sudah menginjak umur delapan belasan.

"Ah... Akhirnya keluar juga..."kata seorang gadis berambut coklat.

Sang gadis remaja memiliki rambut coklat yang digerai kebelakang dan mengenakan sebuah kain sampai ke dada yang menutupi pakaian besi di baliknya. Sebuah tas kecil menggantung dari pundak kanannya ke pinggangnya. Namun, yang paling mencolok dari gadis itu adalah kaki kanannya yang terbuat dari besi sepenuhnya.

"Sirkuit Emosiku membuat kepalaku mengalami overheat, apa ini yang dimaksud dengan kemarahan?"Kata gadis lain yang rambut emas panjangnya dikepang menjadi dua di sisi kiri dan kanannya.

Gadis satunya tampak seperti gadis biasa, tapi jika diperhatikan lebih detail, tampak bahwa rambutnya adalah serabut logam, kemungkinan campuran tembaga dan kuningan, sehingga memberikan tampilan seolah berwarna pirang. Baju yang ia kenakan adalah sebuah Blazer biru tua berlengan panjang dan rok setengah paha yang membiarkan kaki besinya terlihat. Di tangan kanannya tampak pedang bercahaya yang memotong karung itu beberapa saat lalu.

Sang gadis berambut coklatlah yang pertama berdiri, lalu dengan spontan berlari ke arah sang robot dan memukulnya bagian perut. Namun bukannya melukai, dia malah mengerang kesakitan setelah melancarkan pukulannya hingga ia terduduk di atas pasir.

"Aw... Kupikir perutnya tidak sekeras itu..."

Sang gadis berambut emas juga telah berdiri, lalu segera menerjang sang robot dengan sebuah tusukan dari pedang bercahayanya. Sang robot bergerak ke kanan untuk menghindarinya, tapi karena permukaan pasir di bawahnya, ia terjatuh dan terperosok lagi ke dalam pasir. Gadis itu menyodorkan ujung pedangnya ke leher sang robot, menatapnya tajam dengan mata berwarna kuningnya.

"Tidak... Aku tidak bisa membunuhmu sekarang" ujar sang gadis sambil menarik kembali pedangnya dan membantu sang robot untuk berdiri.

"B-Bukannya Itu berarti kamu akan membunuhku nanti?"

"Sistemku mengatakan untuk membiarkanmu hidup sampai nanti. Jangan khawatir" ujar sang gadis "Oh.. Anda juga ada di sini, tuan Klonoa?" ucap gadis itu kepada pria berjaket hitam tadi.

"Aku mengejarmu sampai ke sini karena susah mencari yang bukan manusia... eh... malah masuk ke dalam tim si penculik ini" ucap sang pria bernama Klonoa itu.

"Sistemku mengatakan tidak ada cara lain. Kita harus menyelesaikan ronde ini dengan kelompok ini" ujar sang gadis.

Mata sang gadis berubah menjadi hijau, lalu menghadap ke gadis berambut coklat dan sang robot yang berada di sampingnya "Aku adalah sebuah robot berkode nama Artificial Life Intelligence & Combat Experimentation, disingkat menjadi A.L.I.C.E. silahkan memanggil dengan nama itu".

"Klonoa"kata sang pria berjaket hitam ketus. "Dan aku tidak suka manusia" lanjutnya sambil memandang ke arah sang gadis berambut coklat.

"Eh? Aku? Aku bukan manusia"ujar gadis itu.

Sang gadis berambut coklat melompat dari posisi duduknya, lalu berdiri dengan mengangkat kaki besinya.

"Namaku Halia Ole, robot pengumpul informasi! Ada yang menyebut Halia nol, karena seriku adalah nol, tapi panggil saja Halia"kata sang gadis berambut coklat, Halia dengan bersemangat.

"Robot? Jangan bergurau, hanya karena kakimu adalah kaki buatan, bukan berarti kau adalah robot"kata Klonoa. "Kau terlalu delusional"tambahnya.

"Tidak, dia tidak berbohong, Klonoa. Pembaca logam di dalam mata elektronik ini mendeteksi keberadaan logam melebihi 95% bagian tubuhnya, sedangkan sisanya tidak teridentifikasi"jelas Alicia.

"Begitu pula dengan mata elektronikku"sahut Opi.

"Dari mana suara itu? yang bicara setelah Alicia..."tanya Halia.

"Di bawah sini, di pipa abu-abu ini!"

Ketiga peserta mencari asal suara itu, menemukan suatu pipa seukuran lengan manusia yang ujungnya tertutup oleh plat besi berlubang-lubang. Awalnya, tentu saja mereka panik ketika melihat pipa itu bersuara, tapi mereka mulai tenang ketika Opi menjelaskan soal posisinya dan cara dia berkomunikasi.

"Benar-benar aneh... lagipula, bagaimana kamu bisa masuk ke tempat sekecil itu?"tanya Halia.

"Itu pertanyaan bodoh, bocah. Sudah jelas pipa itu hanya media perantara"hatur Klonoa.

"Namaku Halia, bukan bocah!"

"Dengan kata lain, robot penculik itu adalah kaki tanganmu?"tanya Alicia

"Ya, benar. Aku sudah mengatakan kepada dia untuk tidak menculik kalian, tapi... yah... robot ini memang kurang ajar"

"T-Tapi aku tidak..."

"Lihat, bahkan dia berusaha keras menyangkalnya... benar-benar robot yang perlu pelajaran"ujar Klonoa memotong perkataan sang robot.

"Apa boleh aku mencincangnya nanti setelah pertarungan?"tanya Alicia.

"Silahkan cincang dia untuk tindakan tidak pantas yang ia perbuat"jawab Opi.

"O-Opi! Kenapa kamu melakukan ini?!"

"Kita bisa bicarakan pencincangan nanti... tapi siapa nama robot ini?"tanya Klonoa.

"Hm... nama... ah,aku lupa memberinya nama... mari kita lihat..."

"Sang Penculik?"Saran Alicia.

"Sang Penculik mesum!"tambah Halia.

"Bagaimana kalau kita beri nama "Robot A" atau "Robot 0" saja seperti kebanyakan robot?"Saran Klonoa.

"Renggo Sina" jawab sang Operator. "Ya, Renggo Sina. Nama yang cukup bagus, mulai sekarang itulah namamu, Renggo!"

"Paling tidak itu tidak seburuk tiga nama lainnya..."jawab Renggo lesu.

"Karena kita sudah selesai memperkenalkan diri... bisakah kita mendengarkan maid yang sudah berdiri di sana sejak tadi?"ucap Halia.

Seorang wanita dengan seragam maid tengah berdiri tiga meter dari keempat peserta itu sambil memainkan tombol-tombol virtual pada sebuah benda berbentuk tablet tipis sebesar genggaman tangannya.

"Akhirnya ada yang menyadari keberadaanku,"kata si maid sinis. "Karena kalian sudah siap, akan saya jelaskan peraturan ronde ini"

Sang Maid menunjukan layar benda yang ia mainkan beberapa saat lalu. Pada layar itu, tampak sebuah peta yang diisi oleh titik-titik merah yang berkumpul di bagian utara peta dan titik-titik hijau yang berkumpul pada selatan peta, tapi beberapa titik merah dan hijau berkumpul di depan suatu simbol bangunan.

"Titik-titik hijau ini mewakili para penjaga Alfoera, sedangkan titik-titik merah ini adalah para monster yang terdeteksi" ujar maid itu.

"Dari perkataan "Monster yang terdeteksi", apa bisa kami simpulkan bahwa jumlah monster lebih banyak dari pada yang ditunjukan?"tanya Alicia.

"Tepat sekali. Denah ini hanya mampu menandai sampai 1000 subjek, sehingga jumlah total lawan belum bisa kita hitung"jelas maid tersebut. "Tapi... untuk jumlah secara kasar, anda dapat melihatnya sendiri" tambah maid itu sambil menyerahkan sebuah teropong pada masing-masing peserta.

Klonoa, Alicia, Halia dan Renggo masing-masing memakai teropong mereka ke arah perkemahan yang terletak cukup jauh di utara. Awalnya mereka tidak bisa melihat apapun karena gelapnya malam, tapi seiring berjalannya waktu, mereka melihat pergerakan dari perkemahan itu.

Berbagai monster mulai berjanak keluar dari perkemahan tersebut mulai dari monster seperti Slime, Orc, bahkan ada naga di antara mereka. Monster-monster itu bergerak dalam sebuah kelompok yang terdiri atas dua puluh monster dan dua atau tiga diantaranya memegang obor.

Awalnya para peserta tidak terlalu menganggap jumlah yang keluar, tapi mereka dikagetkan ketika mereka melihat puluhan barisan monster di depannya telah mencapai benteng penjaga alfoera yang terletak tiga kilometer dari perkemahan itu. Jumlah itupun belum sampai ke monster terakhir.

"J-Jumlah ini... H-Hei... ini bukan fatamorgana,kan?"kata Klonoa.

"Ini adalah malam hari, jadi fatamorgana tidak bisa terjadi"jawab sang maid.

"Tidak mungkin... bahkan sistemku tidak mampu menghitung semuanya..."keluh Alicia.

"SIAL!"maki Klonoa sambil membanting teropongnya "Jumlahnya di atas sembilan ribu!"

"Hmm~~~ Aku penasaran, adakah monster kuat di sana~~~"kata Halia riang.

"O-Opi... bisakah kita mundur di sini?" tanya Renggo.

"Kamu mau kumusnahkan?"

"T-Tidak..."

Maid tersebut menjelaskan bahwa tugas mereka bukan menghabisi para monster. Setelah terhitung lima menit semenjak peserta menginjak dasar lembah, akan ada monster yang keluar dari bulan. Tugas utama mereka adalah menyegel monser tersebut dengan menghancurkan dua kristal di dalam kuil yang terletak di atas lembah ini. Maid itu juga menerangkan bahwa mereka tidak diizinkan untuk berjalan di atas lembah, jadi mereka harus naik ke kuil itu melalui menara di dasar lembah, lima ratus meter dari benteng ini.

Maid itu menyerahkan tabletnya kepada salah satu peserta untuk dilihat yang lain. Dari tablet itu tampak berbagai keterangan soal monster target, kedua menara serta kuil dimana kristal tersebut disimpan.

"Dan satu lagi. Apabila pasukan monster berhasil memasuki benteng, maka kalian tidak akan dianggap kalah. Berfokuslah pada penyegelan Tamon Rah"

Begitu mengakhiri kalimatnya, sang Maid berjalan menjauhi keempat peserta, lalu menghilang ke dalam kegelapan gurun.

"Jadi... siapa yang akan menjadi pemimpin?"tanya Halia.

"Biar aku saja. Aku adalah pengendali ruang dan waktu, jadi bukan sebuah masalah untuk mengatur strategi dalam pertarungan"jawab Klonoa. "Tidak ada yang keberatan,kan?"

"Aku tidak keberatan"jawab Alicia singkat.

"Siapapun yang mimpin boleh selama aku bisa bertarung" jawab Halia.

"Sebagai Operator Renggo, kurasa tidak ada masalah"jawab Opi.

"Kalau begitu tunggu apa lagi? Ayo berangkat"ujar Klonoa.

Keempat peserta itu segera beranjak meninggalkan kastil menuju ke lokasi para penjaga alfoera yang mereka lihat beberapa saat lalu.

"Hoi, Renggo, tunggu dulu"seru sang operator. "Angkat tangan kananmu ke depan mataku"

Renggo melakukan perintah sang operator. Sebuah pipa mencuat keluar dari tangan Renggo, sedangkan pipa pertama yang berada di dekat kaki Renggo perlahan berubah menjadi debu sampai akhirnya hilang tertiup angin.

"Bagus, sekarang aku bisa bicara selagi kalian berjalan"ujar sang operator.

"Ngomong-ngomong... Op, apa benar aku menculik mereka? Aku tidak ingat dari mana aku mendapat karung sebesar itu..."tanya Renggo.

"Nanti akan kujelaskan selama kamu berjalan" jawab Operator.

Renggo mengejar ketiga rekannya, lalu mengikuti dari belakang mereka dengan memberi jarak sekitar 5 meter dari anggota paling belakang.

"Secara teknis, iya tubuhmu yang melakukan, tapi aku yang menggerakan. Aku bisa memakai perintah Forced Comand padamu yang membuatku mampu mengambil alih sebagian atau seluruh tubuhmu. Yah... Karena aku mengambil alih tubuhmu, kamu kehilangan kontak dengan semua indramu, jadi kamu tidak tahu apapun yang aku lakukan dengan tubuhmu"

"Tunggu dulu...  kamulah yang menculik mereka!"

"Entah~~~"

"Kenapa aku harus menanggung beban kejahatanmu ?!"

"Ayolah... Memang apa ruginya?"

"Entahlah...  kurasa tidak ada"

"Kalau begitu tidak ada masalah,kan?"

"Ya... kurasa begitu..."

"Paling kamu hanya akan dicincang si gadis Alicia itu~~~"

"Kamu ben... H-Hei! Aku tarik perkataanku! Aku bisa mati!"

"Terlambat~~~ Dia sudah mengingatmu sebagai pelaku penculikan"



"Alicia... Aku tahu robot Renggo tadi memang aneh... tapi apa normal bagi sebuah robot untuk bicara sendiri?"tanya Klonoa pada Alicia.

"Tidak. Sirkuit emosiku sekalipun tidak memiliki fitur seperti itu"

"Aku juga tidak!"

"Tidak ada yang tanya ke kamu, bocah!"

"Aku bukan bocah! Aku Halia!"

"Ngomong-ngomong, Aku belum tahu kemampuan kalian semua. Selagi kita berjalan ke benteng itu, ayo kita diskusikan rencana. Kalian tidak mau mati di tengah pertarungan,kan?"ujar Klonoa, "Hei, Renggo! Cepat ke sini! Kita rapat sebentar!"

"Oh iya... Renggo. Apa kamu ingat cara bertarung?"tanya Opi.

"Tentu saja aku... Tunggu... KAMU MENGAMBIL INGATANKU,KAN?!"

"Sial! Sekarang aku harus mendektemu dari buku ini lagi..."


***

3
The War of man and monsters

[Alforea Fortress #4]
Dahulu kala, terdapat sebuah sungai besar yang mengalir dari utara kota Despera , yaitu sungai "Hopera" yang konon dibuat oleh suatu kerajaan kuno pada saat masa kejayaannya. Namun semenjak sungai itu mengering seratus tahun lalu, sungai itu berubah nama menjadi "Lembah Despera", kemudian menjadi nama sebuah kota yang akan didirikan di dekatnya.

Ada dua buah menara yang dibangun pada dinding lembah itu dan di atasnya terdapat sebuah kuil kuno, tentunya di atas lembah dengan lebar empat ratus meter itu. Kedua menara ini juga dibangun di zaman kerajaan kuno memakai sebuah logam tak diketahui yang memiliki daya tahan luar biasa. Kuil di atas menara itu dipakai oleh para penduduk kerajaan kuno untuk memuja sang dewa api yang menurut legenda sering mendatangi sungai itu untuk beristirahat.

Konon, sungai dalam legenda itu mengering diakibatkan oleh kemarahan dewa api penjaga Alfoera karena suatu perang besar di atas sungai itu, sehingga dikutuk menjadi "Sungai kering yang tak pernah kering dari darah perang". Lalu tempat itu mengering, menyisakan dataran lembah pasir berbatu sedalam tiga puluh meter dari permukaan tanah.

Alasan yang lebih logis bagi kutukan tersebut adalah karena sisi utara Despera berbatasan dengan suatu kerajaan monster yang sering melakukan invasi. Kerajaan tersebut menggangap bahwa penyerangan melalui gurun di sekitar kota Despera akan lebih sulit, apalagi kalau membawa pasukan berjumlah banyak, sehingga dipakailah rute yang lebih mudah dipijak, yakni lembah berbatu itu.

Untuk melawan invasi monster, kota Despera membangun sebuah benteng di hilir sungai, sekitar lima ratus meter dari kuil dalam legenda. Benteng bercat hijau dengan atap-atap setengah bola itu telah melihat begitu banyak pertarungan besar, dilihat dari bekas ledakan di dindingnya dan darah-darah yang terciprat ke pintu gerbangnya.

Saat ini di depan benteng yang sama pula berdirilah para penjaga Alfoera yang tengah menenteng senjata mereka, sedangkan di depan para prajurit itu, terdapat barisan tentara monster Orc, mahluk humanoid berkepala babi dan berperut besar yang akan menjadi lawan mereka berikutnya.

"Menyeralah manusia kalian tidak akan menang! tidak dengan jumlah kalian yang sedikit!" seru seekor Orc di barisan paling depan.

"Tanyakan itu pada diri kalian! Kalian sudah menyerang dari pagi, lalu kenapa benteng ini belum bisa kalian rebut?"balas salah seorang penjaga.

"Manusia sialan! Hajar mereka!" seru Orc tersebut pada kawanannya.

Raungan para Orc menggelegar di pintu gerbang benteng, kemudian dibalas oleh raungan para penjaga Alfoera. Kedua pasukan beranjak dari tempat mereka berdiri menuju ke lawan mereka.

Bilah pedang para Orc berdentang ketika pedangnya menghantam tongkat pel salah satu penjaga. Suara desis uap menyembul ketika salah satu setrika penjaga melelehkan daging para Orc. Dan para Orc bejatuhan ketika menginjak lantai yang sedang di lap...

"Serius? Ini penjaga Alfoera?" kata Halia lesu.

Keempat anggota tim tengah mengawasi pertarungan dari atas dinding benteng. Alicia tengah mengawasi pola pergerakan monster, Klonoa dan Opi mendiskusikan rencana mereka, sedangkan Halia tertunduk lesu di atas lantai.

"Seharusnya begitu... bagaimana menurutmu, Klonoa?"tanya Alicia.

"Aku masih bisa menerima kalau mereka semua wanita... tapi aku tidak mengerti kenapa mereka harus pakai baju pelayan dan memakai peralatan rumah tangga!"

 "Klonoa, aku melihat sekelompok Orc sedang membangun beberapa menara kayu. Dilihat dari strukturnya, mungkin untuk membangun mesin perang" ujar Alicia.

"Apa kamu tahu mesin yang mereka bangun?"

"Aku tahu! Aku tahu!" seru Halia, "Strukturnya seperti Trebuchet, sebuah senjata berat berjarak tembak ratusan meter dari abad kerajaan eropa yang bekerja dengan cara melemparkan batu menggunakan prinsip jungkat-jungkit, tapi dengan rotasi poros lebih melingkar"

"Jadi mesin itu melemparkan batu dengan jarak tembak ratusan meter? Itu bisa jadi masalah nanti..."

"Jadi, apa kita masukan penghancuran menara itu ke dalam rencana?"

"Baiklah. Secara kasar, pertama, kita harus sampai ke dekat menara dalam waktu lima menit sebelum monster target kita muncul. Kemudian kita hancurkan menara-menara kayu itu. Dengan begitu para penjaga Alfoera bisa menahan monster sampai kita menghancurkan kedua kristal itu," jelas Klonoa. "Kita langsung bergerak! Renggo, siapkan sistem C&Pmu!"

Renggo menepuk pundak Klonoa sebelum ia berdiri. Tubuh Renggo langsung diselumuti oleh kumpulan kubus-kubus pixel hingga sosoknya membentuk sosok robot humanoid berjaket hitam seperti Klonoa dengan pedang Katana yang sama pula tersayat di pinggangnya.

Keempat peserta itu mengambil tali yang telah disediakan, kemudian melemparnya ke bawah dinding benteng dan menuruni dinding luar benteng memakai tali tersebut. Kecuali Renggo yang talinya langsung putus karena berat tubuhnya, untung dia jatuh di atas gundukan pasir. Begitu siap, tim robot itu bergegas menuju ke salah satu menara di dinding lembah.


***

4
Tamon Rah, The fire winged Horse

Padang gurun itu sekarang menjadi lebih gelap dari sebelumnya. Bulan purnama yang memantulkan cahaya matahari ke padang pasir itu tiba-tiba keluar dari orbitnya, sehingga bulan tidak lagi memantulkan cahaya matahari.

Kemana perginya cahaya bulan?

Pertanyaan itu ditanyakan oleh para monster, maid, bahkan para pesertapun bertanya demikian. Mereka menghentikan pertarungan mereka untuk melihat ke langit, mencari bulan yang tidak lagi bersinar. Untungnya mereka segera menemukan bulan Alkima, tapi entah mereka harus bernafas lega atau tidak ketika melihat bulan Alkima melayang tepat di atas kepala mereka.

"Apakah ini... Tamon Rah?"gumam seorang maid.

"D-Dewa Api Alfoera telah datang!"

Bulan Alkima terbelah menjadi dua, melepaskan sebuah sosok kuda mesin bersayap api setinggi lima puluh meter menyemburkan api yang kemudian menyelimuti kaki, ekor dan kepalanya. Sebuah tanduk api mencuat dari dahinya, bersamaan dengan terbukanya kedua matanya.

Kuda itu meringgik dengan suara menggelegar sampai-sampai bulan yang menyimpannya terpecah menjadi serpihan-serpihan kecil yang melesat ke seluruh penjuru, menghujam siapapun yang berdiri di jalur pecahannya.

Tanpa pikir panjang, pasukan monster yang kebetulan berada di bawah kaki Tamon Rah segera menyerangnya. Para Orc menebas-nebaskan senjata mereka pada kaki Tamon Rah, para Naga menyemburkan api pada kepalanya dan berbagai monster lain menembakan sihir mereka pada tubuh kuda raksasa itu.

Tamon Rah mengamuk, menginjak-injak pasukan monster di bawahnya sambil meninggalkan jejak api. Sayapnya melebar, kemudian ketika dikepakan, bola-bola api terlempar dari sayap itu menuju daerah sekitarnya. Kuda mekanik itu melayang di atas lembah, kemudian bergerak ke markas para monster.

Namun kehadiran Tamon Rah di tengah lembah menyisakan barisan depan pasukan monster di belakangnya. Masih tampak ratusan Orc yang tengah bertarung dan lima buah menara kayu yang mereka dirikan.


***

5
The Orcs...

Perang tengah berkecambuk di depan gerbang benteng Alfoera, para Orc maupun maid bertarung mati-matian sampai-sampai tidak menyadari sebuah cahaya kuning melintas di antara mereka. Cahaya kuning itu lalu mengenai tiang fondasi salah satu menara kayu para monster, sehingga membuat menara tersebut runtuh.

Di kejauhan, sosok yang menembakan cahaya tersebut masih berjongkok sambil menyodorkan railgun Mad Hatter yang dipasang pada tangan kirinya. Para Orc pembangun menara yang menyadari sosok itu segera meninggalkan menara, kemudian bergerak ke bukit pasir berbatu dekat menara, tempat tembakan itu berasal.

"Satu menara sudah roboh, Klonoa" ujar Alicia.

"Siapkan Railgunmu untuk serangan berikutnya! Renggo, bocah kita pergi sekarang! Jangan biarkan musuh mendekati Alicia!" perintah Klonoa.

"Namaku Halia, bukan bocah!" seru Halia.

"Sudah sana pergi lawan musuh!"

"Awas kalau kamu memanggilku dengan nama itu lagi, Klonoa!" sentak Halia, kemudian berangkat menuju medan tempur.

"Renggo, kamu ingat yang tadi kita rencanakan di benteng,kan?" tanya Opi.

"Iya."

"Bagus, sekarang lupakan semua supaya Klonoa menghajarmu"

"APA! Jangan bercanda yang tidak-tidak!"

Tiga peserta itu: Renggo, Halia dan Klonoa meninggalkan batu yang dinaiki oleh Alicia untuk menghadang musuh. Belum lama mereka berangkat, mereka langsung menemukan tiga ekor Orc berlari ke bukit bebatuan.

Halia mengeluarkan cairan keperakan dari tasnya, kemudian membungkuskan tangan kanannya dengan cairan tersebut. Ia langsung melompat turun ke salah satu Orc, lalu menghantam kepala Orc itu dengan tangan kanannya. Orc itu mengerang kesakitan sampai akhirnya bercahaya kemerahan dan terurai menjadi partikel kemerahan, tanda kalau dirinya telah mati.

Dua Orc lainnya menebaskan pedang mereka kepada Halia, tapi gadis itu lebih dulu melompat tinggi, kemudian turun kembali sambil menghantamkan kedua kakinya pada kepala kedua Orc itu, membunuh mereka seketika.

"Ayo! Apa Cuma itu yang kalian punya!" seru Halia.

Lima Orc lain datang bersama satu Orc spesial memimpin mereka. Tubuh Orc spesial itu dua kali lipat dari Orc biasa dan mengenakan pelindung besi di seluruh tubuhnya. Tanpa sepatah katapun, Orc besar itu langsung menebaskan kapaknya pada Halia.

Halia menciptakan perisai besi setengah bola di depannya, tapi dorongan kapak Orc itu lebih kuat dari perkiraannya, sehingga melemparkan Halia ke salah satu batu bukit itu. Dua Orc meninggalkan kelompok itu untuk mengurus Halia sementara sisanya terus maju menuju bukit batu.

Tembakan cahaya lainnya melintas di langit-langit, kemudian merusak salah fondasi menara kedua dan merobohkannya seketika. Orc berbaju besi itu mengerang sambil menunjuk asal cahaya itu, memberi perintah penyerangan pada anak buahnya.

Tiba-tiba dari atas bukit itu seorang pria berjubah hitam turun sambil mengibaskan sebuah pedang katana dari belakang Orc berbaju besi itu. Meski besi Orc itu tak berdentang sedikitpun, Orc itu mengerang kesakitan seraya darah mengucur keluar dari tubuhnya.

"Renggo, urus anak buahnya! Aku akan melawan si besar ini!"

Renggopun turun dari atas bukit dan langsung menaiki punggung salah satu Orc dan menghujamkan pedangnya kepada salah satu Orc. Dua Orc lain menjaga jarak mereka dari Renggo, bersiap untuk melawan keduanya.

"Hehehe... manusia, kalian sudah terlambat!" seru Orc berbaju besi itu "Ketapel Trebuchet kami akan siap menembak kapanpun dia siap!"

Dari jauh, tampak di atas dua menara monster telah sedang dipasangkan sebuah perangkat kayu yang membentuk sebuah neraca yang satu tangannya lebih panjang dari yang lain. Di tangan yang lebih pendek terdapat sebuah batu sebagai beban, sedangkan tangan satunya terdapat ikatan tali untuk memuat objek lemparan.

Seekor Orc mengoprasikan mesin itu, melemparkan sebuah tong ke kumpulan maid. Begitu menghantam tanah, tong itu pecah dan mengeluarkan cairan kebiruan dalam jumlah banyak. Cairan itu kemudian bersatu, membuat suatu tumpukan Slime besar yang menelan siapapun yang berani menyentuhnya.

"Sebuah mesin seperti Trebuchet zaman pertengahan kerajaan eropa? Itu bukan masalah"

Klonoa menebaskan pedangnya pada tangan kanan Orc itu. Bilahnya menebus tangan Orc itu seakan tidak ada apapun di sana. Besi pada tangan Orc itu tidak tergores sama sekali, tapi darah merah Orc itu tetap mencuat dari dalam baju besinya.

"K-Kenapa bisa?"

"Ini adalah pedang yang bisa membelah ruang dan waktu. Dengan ini, Aku bisa menembus besimu dan membelah tanganmu tanpa harus menebas baju besimu terlebih dahulu" ujar Klonoa.  "Sekarang, karena kamu sudah tahu ini, kuharap kamu bisa mati dengan tenang"

"Kalau begitu aku hanya perlu membuatnya tidak bisa menembus besiku!"

Orc itu mengambil kapaknya dengan tangan kirinya, lalu menebasnya secara vertikal pada Klonoa. Sang pengendali waktu itu segera menggunakan pedangnya untuk menghadang kapak Orc itu, tapi perbedaan kekuatan mereka terlihat jelas dari bilah pedang Klonoa yang membengkok.

"Masih mau menembus besiku?"

Tangan kanan Orc itu memukul Klonoa di perut, membuat pria bertubuh tegap itu terdorong hingga menghantam sebuah batu. Namun Orc itu tidak berhenti di sana, ia menghampiri Klonoa, kemudian mulai menebas-nebas kapaknya.

Klonoa merapalkan sebuah mantera, kemudian menggeluarkan sihir penghenti waktu pada Orc itu. Begitu Orc itu berhenti, ia segera berlari menuruni bukit, tapi durasi sihir itu yang hanya sepuluh detik tidak cukup untuk melarikan diri dari Orc berbaju besi itu. Dengan satu pukulannya, ia melempar Klonoa jatuh, kemudian bergelinding berkali-kali menuruni bukit.

Di lain sisi, Renggo tengah kesulitan bertarung sengit melawan dua Orc yang mengepung Renggo dari depan dan belakang. Setiap kali Renggo menyerang, Orc satunya akan menikamnya dari belakang dan jika dia diam saja, maka dia akan ditikam dari belakang juga.

"Renggo. Ikuti perintahku..."

Mengikuti perintah sang Operator, Renggo menerjang Orc di depannya. Ia mengangkat pedangnya, kemudian membenamkan kakinya ke tanah, seketika itu ia berputar balik dan menebas Orc di belakangnya, membunuhnya seketika.

Orc di belakang Renggo tidak diam saja. Ia langsung menebaskan kapaknya pada tas punggung Renggo, tapi pelindung tas tersebut menghentikan tebasan itu, sehingga memberi cukup waktu bagi Renggo bisa berbalik dan menebas Orc tersebut.

"Hei... Hei... Kubilang awas tasmu! Sudah kena sekali!"

"T-Tapi itu perintahmu!"

"Sudahlah! Sekarang hajar Orc berbaju besi itu!"

Sang Robot peniru segera berlari ke Orc besar yang hendak menyusul Klonoa, kemudian menebasnya dengan pedang katananya. Namun, tidak seperti Klonoa, pedang Renggo hanya menggores besi pelindung Orc itu.

"Rupanya kamu minta diremukan!"

Begitu Orc itu berbalik, kedua tangan besar Orc itu menggengam tubuh Renggo dari leher sampai ke pinggang, kemudian mulai mengetatkan genggamannya. Saat tubuh Renggo mulai tampak remuk beberapa percikan listrik memancar dari bahu Renggo, mengalirkan listrik pada tangan Orc itu, mengejutkannya serta melepas Renggo secara refleks.

"Tiga... tiga kali pelindung tas dipakai dalam serangan itu... Sekarang pelindung tas ini hanya bisa diaktifkan sekali lagi, Renggo"

Sebuah Rapalan Mantera terdengar dari belakang Orc itu. Begitu selesai, tubuh Renggo dengan cepat mengembang kembali ke kondisi sebelum ia teremukan oleh tangan Orc berbaju besi itu, membuatnya keheranan.

"Bocah! Singkirkan baju besinya!"

"Namaku Halia!"

Halia yang baru saja muncul menggunakan pengendalian logamnya untuk membuat pelindung besi Orc itu menjatuhkan pemakainya. Gadis berambut coklat itu naik ke atas punggung Orc tersebut, kemudian menarik besi pelindung punggung dan kepalanya lepas. Renggopun naik ke atas Orc itu, kemudian menusukan pedang katananya ke jantung sang Orc.

Meskipun ia mengerang kesakitan, Orc itu bisa berdiri kembali dengan menghentakan kedua tangannya ke tanah, sehingga Halia dan Renggo terjatuh dari punggung Orc. Ia tahu jantungnya sudah tertusuk dan ia tidak punya banyak waktu lagi, sehingga ia menjatuhkan tubuh besarnya kepada Halia sebagai serangan terakhir.

Namun niatnya tidak bisa terwujud. Sebelum ia bisa menimpa Halia, sebuah cahaya kuning menembus kepalanya. Tubuhnya langsung bercahaya kemerahan sebelum akhirnya terpecah menjadi partikel-partikel kemerahan. Ketika cahaya partikel berpendar, tampaklah sebuah bola kristal hitam di tempat Orc itu meninggal.

"Apa ini?" tanya Klonoa.

"Mungkin itu Drop dari Orc itu" jawab Opi melalui pipa yang muncul di dekat kristal itu.

"Drop? Istilah apa itu?"tanya Klonoa.

"Eh... mungkin kalian mengerti kalau aku menyebutnya barang jarahan perang ? kalian tidak keberatan kalau Renggo ambil,kan?"

Para peserta tidak menjawab, sehingga Renggo langsung mengambil kristal itu dan menyimpannya dalam tas kubusnya.

"Apa kalian tidak apa-apa?" tanya gadis robot berambut twintail, Alicia yang baru saja turun dari batu yang ia singahi beberapa saat lalu.

Klonoa berbalik melihat ke dasar lembah, melihat ada dua menara lagi yang telah roboh. Tampaknya selama pertarungan mereka, Alicia telah menghancurkan dua menara lagi. Namun, masih tersisa satu menara paling tinggi di tengah lembah.

"Kenapa kamu turun sekarang? Lihat, masih ada satu menara tersisa" tegur Klonoa.

"Ada musuh menyerangku..." mata Alicia tiba-tiba berubah menjadi kuning, kemudian memandang kembali tempatnya turun. "Awas! dia datang!"

Lima ekor Orc turun dari atas bukit, dua di antaranya langsung melompat turun untuk menyerang Alicia. Halia segera membentuk perisai setengah lingkaran di depan Alicia dari cairan logamnya, menghadang serangan kedua Orc itu.

Renggo segera pergi mengitari perisai Halia, kemudian menebas salah satu Orc, sedangkan Orc satunya tertebas oleh pedang Klonoa. Ketiga Orc lainnya muncul dari sisi gunung, tapi melihat teman mereka yang terbunuh di depan mereka, mereka langsung kabur ketakutan.

Mereka pikir para Orc itu sudah tidak akan menyerang lagi, jadi tidak perlu untuk mengejarnya. Mereka hendak melaksanakan tahap rencana mereka berikutnya, yaitu memasuki menara di dinding tebing, tapi saat itulah mereka mendegar suara seorang wanita, meski terdengar agak jauh.

Ketika mereka berbalik, mereka menemukan seorang maid yang tengah berlari menaiki bukit bebatuan yang mereka pijak, "T-Tunggu, para peserta!" sahut maid itu.

Saat wanita itu sampai ke depan mereka, ia menceritakan soal serangan Slime yang dilempar dalam tong melalui Trebuchet para monster beberapa saat lalu, kemudian meminta bantuan para peserta untuk mengalahkan para Slime.

 "Klonoa, biarkan aku melawan para Slime itu!" pinta Halia sambil melompat-lompat.

"Tentu saja tidak! Kita di sini untuk memenangkan ronde! Bukan untuk bermain-main, boc..."

Belum sempat Klonoa menyelesaikan kalimatnya, Halia lebih dulu memukul perut Klonoa, membuatnya tersungkur di tanah sambil memegangi perutnya. Meski kondisi Klonoa yang memperihatinkan, Halia mulai memukuli punggung Klonoa.

"Buh... Klonoa menyebalkan!" teriak Halia.

"K-Kenapa kamu melakukan ini... padahal aku sudah menolongmu dari dua Orc tadi..."

"Itukan karena aku pingsan gara-gara Orc besar itu!"

"Tolong hentikan, Halia. Klonoa hanya manusia biasa. Kamu akan merusak punggungnya jika kamu terus memukulinya,"pinta Alicia.

"Baiklah... kalau kak Alicia bilang begitu..."

"Kak?" tanya Alicia.

Halia melompat ke arah Alicia, kemudian memeluknya erat-erat, "Kitakan sama-sama robot dan kak Alicia tampak lebih tua, jadi tidak masalah kalau aku memanggil dengan "kak Alicia",kan?"

"Kurasa... Tidak ada masalah"jawab Alicia, kemudian mengelus-elus rambut Halia.

"Oh... menarik sekali, hubungan kakak-beradik yang tercipta di tengah turnamen," ujar Opi. "Apa kamu juga punya panggilan akrab untuk Renggo? Dia robot juga,kan?"

"Ada, tapi aku bingung memilih antara kak penculik, kak bajingan dan kak robot usang"

"Kenapa panggilanku seaneh itu!"

"R-Renggo... Rewind..." rintih Klonoa.

Renggo segera menghampiri Klonoa, kemudian merapalkan mantra pembalik waktu seperti yang dipakai oleh Klonoa. Ini bisa terjadi berkat salah satu kemampuan Renggo, yakni C&P System yang membuatnya mampu menirukan senjata dan kemampuan siapapun yang ia sentuh.

"Bocah..."

"Halia!"

"Tsch... terserah..." gumam Klonoa, "Halia, lain kali jangan memukulku! Aku ini rekanmu sampai ronde ini selesai, mengerti?"

"Oke~~~" jawab Halia riang, "Sekarang, bolehkah aku menghajar para Slime itu?"

"Aku sudah menjawab pertanyaanmu.  Dan sama saja, tidak. Persetan dengan benteng itu! Tujuan kita adalah menyegel Tamon Rah, bukan untuk melawan monster" jawab Klonoa.

"Aku rasa aku juga harus mengajukan perlawanan terhadap monster-monster itu" ujar Alicia.

"Alicia. Kupikir kamu salah satu anggota tim ini yang mampu berpikir logis selain aku dan mata mekanik itu..."

"Bagaimana denganku?" potong Renggo.

"Kamu terlalu bodoh untuk itu, Renggo" Sentak Opi dan Klonoa secara bersamaan. Selama satu menit berikutnya, Robot tiruan itu merajuk di depan sebuah batu.

"Selain sirkuit logis, aku juga memiliki sirkuit emosi. Ada beberapa saat dimana kedua sirkuit pikiranku bertabrakan, tapi sangat jarang keduanya menghasilkan hasil yang sama. Kedua Sirkuit pikiranku mengatakan, jika aku tidak bertindak sekarang, maka akan lebih banyak korban berjatuhan" jawab Alicia.

"Ya! Ya! Ya! Aku akan membantu juga!" seru Halia.

"Aku tidak akan mengizinkan siapapun dari kita berangkat ke tempat itu. Terlalu beresiko!" jawab tegas Klonoa, "karena itu, tembak mereka dari sini. Begitu selesai, kita segera menaiki menara itu, mengerti?"


***

6
The Slimes...

Satu persatu jeritan maid terdengar di depan gerbang benteng Alfoera. Sekitar dua puluh orang maid memfokuskan serangan pada sebuah tumpukan cairan setinggi sepuluh meter, tapi tak peduli seberapa banyak mereka menebas atau memukul kulit cairnya, serangan mereka hanya berlalu seakan mereka menyerang air biasa.

Sebuah tangan berdiameter dua meter mencuat dari salah satu sisi monster itu, kemudian menarik salah satu maid ke dalam tubuhnya. Tangan yang sama keluar-masuk tubuh Slime raksasa itu sampai semua maid disekitarnya tertelan. Di dalam tubuhnya yang semi transparan, tampak para maid meronta-ronta selama beberapa saat, tapi lima menit setelahnya mereka berhenti bergerak karena kehabisan nafas.

Kelompok lain yang terdiri atas lima orang maid mengepung Slime itu dari lima penjuru, lalu merapalkan sebuah mantera sebelum menembakan bola api. Terdengar jelas suara Slime itu mengerang kesakitan di antara suara air yang menguap karena panas.

Tubuh Slime itu hingga hanya setinggi delapan meter. Suara gaduh terdengar dari dalam Slime itu, tampak pergerakan Slime itu mengganti lapisan luar tubuhnya dengan objek yang telah ia telan, para maid. Untuk menambah kesan, Slime mengeluarkan setengah tubuh seorang maid di atasnya.

Maid di atas Slime itu membuka matanya, lalu melirik sekitarnya, seakan mencari tahu apa yang sedang terjadi. Begitu ia melihat tangan dan tubuh bawahnya masih tertelan oleh Slime itu, suara jeritan minta tolong terdengar dari maid itu.

Satuan maid pengguna sihir di depannya terkejut sekaligus bingung. Mereka hendak menggunakan sihir yang sama, tapi itu akan melukai sesama maid. Tidak melakukan apapun bukan juga pilihan yang tepat karena jarak Slime itu dan gerbang alfoera hanya tinggal lima puluh meter.

Salah satu maid nekat menembakan sihirnya pada salah satu sisi Slime. Namun karena tembakan itu, para maid yang berada di bagian itu bercahaya kehijauan sebelum akhirnya berpudar menjadi partikel kehijauan. Melihat kejadian ini, maid di atas Slime itu menjerit lebih keras dari sebelumnya, membuat maid lainnya enggan menyerang.

 "Licik sekali..."gumam Halia yang sedang melihat kejadian itu melalui teropongnya.

"Klonoa, haruskah aku menembak?"tanya Alicia.

"Bukannya kamu sendiri yang menyarankan untuk melawan para Slime itu?"

"T-Tapi... Para maid itu? Sistemku mengatakan para maid akan..."

"Persetan dengan para maid. Mereka cuma manusia, siapapun bisa menggantikan tempat mereka,"jawab Klonoa, "Lagipula, bukannya kedua sirkuit pikiranmu setuju akan satu hal yang sama?"

"Tembak saja, Alicia. Kalau Slime itu dibiarkan, dia akan menelan lebih banyak maid"ujar Opi.

"Tapi Opi, tembakan Railgun Alicia tidak bisa diremehkan, bukannya nanti para maid malah..."

"Diam kamu, Renggo. Akulah sang operator, jadi aku yang menentukan"

"Tembak, Alicia!"sentak Klonoa.

"T-Tidak bisa! A-Aku tidak tahu kenapa, tapi jariku tidak bisa kugerakan!"

"Jangan banyak alasan, Alicia! Akan lebih banyak maid yang akan mati kalau kamu tidak segera menembak sekarang!"

"KKYYAAA!!!" jerit Alicia.

Karena kondisi yang tak teduga ini, kepala Alicia memanas karena perhitungan-perhitungan di luar kapasitasnya. Sirkuit emosinya mengatakan untuk tidak menembak karena keberadaan para maid, sedangkan sirkuit logikanya masih tetap mengatakan untuk menembak untuk mencegah lebih banyak korban.

Namun akhirnya sebuah tembakan listrik melintasi dasar lembah, mengenai tubuh Slime itu beserta isinya. Cahaya merah dan hijau membungkus sisa-sisa monster itu, kemudian melayang ke angkasa sebagai kumpulan partikel merah dan hijau. Slime itu telah tiada, begitu pula dengan para maid yang ia telan.

"K-Kenapa..."kata Alicia pelan, "Kenapa aku menarik pelatuknya?"

Tangan Alicia gemetar melihat tembakannya membunuh para maid tak bersalah. Sebuah kilat balik melintas di pikirannya, sebuah gambaran anak kecil yang terkapar di atas kolam darah dan kedua tangannya yang bercatkan darah anak itu. Ini adalah ingatan Alicia ketika ia mengenal emosi pertamanya, yaitu kesedihan.

Namun ketika Alicia melihat moncong railgunnya, ternyata railgunnya masih menyimpan energi yang ia kumpulkan. Ia mendengar suara percikan listrik dari sampingnya, dari sebuah railgun "Mad Hatter" lain di tangan sebuah sosok bertubuh besi dengan gaya rambut yang sama dengannya dan proporsi tubuh yang serupa pula. Mata hijau di kepala sosok mirip Alicia itu kemudian menatap ke dalam mata Alicia.

"Akulah yang menembak mereka"jawab sosok tersebut.

"Siapa kamu?" tanya Halia.

"Aku? Bukannya aku sudah memperkenalkan diriku?"tanya balik sosok itu, "Heh... Baiklah, aku akan memperkenalkan diriku lagi"

Sepasang tabung mencuat dari punggung sosok itu, kemudian menembakan partikel-partikel yang membentuk sepasang sayap darinya. Sosok itu melayang hingga ketinggian tiga meter, kemudian menatap ketiga peserta di bawahnya.

"Namaku adalah Renggo Sina"jawab Renggo, "Sang Robot Peniru"

Ketiga peserta itu sempat tersentak mendengarnya, tapi ketika mereka meningat kemampuan peniru Renggo, semua menjadi masuk akal.

"Sekarang, ayo kita pergi. Kita harus segera menghancurkan kristal di dua menara itu"ujar Renggo.

"Dia benar, ayo. Kita harus bergegas. Tamon Rah tidak akan diam saja selagi kita di sini"ujar Klonoa.

"Kak Alicia..."

"Kenapa... Kenapa... KENAPA!"bentak Alicia, "Kenapa kamu melakukan itu!"

"Aku sudah mengatakannya. Apa perlu kamu mendengarkannya lagi?"

"Tak akan kuampuni..."

Sepasang tabung juga keluar dari punggung Alicia, kemudian memancarkan sayap seperti Renggo hingga iapun terbang. Alicia mentransfer energi Rune pada Railgunnya ke pedang Katana yang tersarung di tangan kanannya, Railgunnya ia perkecil kembali hingga masuk ke dalam tangan kirinya, kemudian dari tangan kanannya keluar sebuah gagang katana yang memancarkan sebuah bilah dari cahaya putih.

"TAK AKAN KUAMPUNI!"

Alicia melesat ke arah Renggo sambil menebaskan Katananya. Namun Renggo menghempaskan dorongan dari sayapnya ke bawah, membuatnya melompat ke atas, lalu melesat pergi dari tempat itu. Alicia tentu tidak diam saja, dia mengembangkan sayapnya, kemudian terbang mengejar Renggo.

"Tsch... dia mengejar..." gerutu Renggo.

Perlahan, mata hijau Renggo berubah kembali menjadi kemerahan. Saat itu pula, tabung sayap Renggo berhenti, membuat tubuhnya turun ke permukaan.

"A-Apa! Kenapa aku jatuh dari langit lagi?" tanya Renggo keheranan.

"Tidak usah banyak tanya, nyalakan pendorong di punggungmu!"seru Opi.

Sayap di belakang punggung Renggo menyala lagi, kemudian di miringkan, sehingga jatuhnya berubah menukik menjadi horizontal, lalu melesat kembali ke langit. Tiba-tiba sebuah pedang putih  berkilat di depan Renggo, kemudian menerjangnya dari depan. Renggo melepas dorongan ke kanan, menghindari terjangan pemilik pedang itu

"I-itu barusan Alicia,kan? K-Kenapa dia menyerang kita?"

"Sayangnya, Alicia tidak bisa menahan amarahnya dan hendak melampiaskan amarahnya padamu saat ini juga"ujar Opi, "Awas di depan!"

Renggo berguling ke kanan, menghindari sebuah tanduk raksasa yang hendak menebasnya. Ia berusaha menstabilkan penerbangannya, tapi ia melihat sayap api di depannya, sehingga ia belokan penerbangannya ke atas.

"Dan juga Tamon Rah?!"

Robot peniru itu melihat kembali kuda mekanik yang melewatinya. Ia menyadari keberadaan belasan ekor naga merah, tiga di antaranya, menembakan bola-bola api ke mata raksasa itu sambil terbang menuju ke benteng Alfoera.

"Sepertinya kamu menyadarinya,"kata Opi, "Ketiga Naga itu pasti menggiring Tamon Rah ke benteng. Kalau kita mengalahkan mereka di sini, kita bisa menggiring Tamon Rah menjauh dari menara"

"Aku mengerti... Tapi kenapa Alicia mengejar kita? Aku yakin dia hendak membunuhku tadi!"

"Uh... Kamu tahukan kalau wanita punya waktu dimana mereka menjadi lebih ganas dari biasanya?"

"Tapi dia robot!"

"Apa itu sebuah masalah?"

"Tidak mungkin robot punya fitur seperti itu!"

"Ah, siapa peduli. Yang harusnya kamu tanyakan adalah bagaimana keluar dari masalah ini, bukan "Kenapa", mengerti?"

"Terserah kamu..."

"Oke, kita mulai dengan ketiga  naga itu. Begitu sudah, kita pastikan kuda ini menjauh,oke?"


***


"Renggo! Alicia! Berhentilah bermain-main! Tamon Rah sudah mulai kembali ke sini!" teriak Klonoa, tapi tentu saja, jarak mereka yang begitu jauh membuat suaranya tak terdengar.

"K-Klonoa! N-Naga!" ujar Halia sambil menunjuk langit.

Begitu Klonoa melihat kadal raksasa terbang yang hanya muncul dalam buku mitos di dunianya, hanya ada satu hal yang terlintas ke dalam pikiran pria berjaket hitam itu. "Lari! Lari ke menara! Kita tidak mungkin menang kalau di sini terus!" teriak Klonoa.

Namun teriakan pria itu terdengar oleh beberapa Naga. Mereka segera beranjak dari rute terbang mereka ke tempat Klonoa dan Halia. Api telah berkumpul di mulut para Naga, hanya menunggu waktu saja sampai api-api itu terlepas.

Klonoa segera merapalkan sebuah mantera, tapi sebelum ia selesai membaca, bola api para Naga lebih dulu menghujani bukit itu. Ketika rapalan Klonoa selesai, tiba-tiba seluruh bola api melambat secara drastis. Halia yang hendak menyiapkan perisainya menjadi heran.

Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, kedua peserta itu segera berlari ke pintu masuk menara dinding lembah. Saat itu pula, hujan bola kembali seperti sedia kala, menghujani bukit itu tanpa menyisakan satu titikpun.

"Klonoa! Kamu hebat sekali! Tidak kusangka kamu bisa melambatkan panah sebanyak itu!"

"Heh... aku tidak melambatkan bola-bola api itu, melainkan mempercepat waktu kita. Dengan begitu aku tidak perlu memakai banyak tenaga,kan?"

"Waw! Kamu sangat pintar Klonoa!"

Sebuah senyum terbentuk di bibir Klonoa, tapi segera ia ubah kembali menjadi datar, "Tentu saja" jawabnya singkat.

Mata Klonoa mengedar ke setiap sudut ruangan itu. Ruangan itu sama seperti perkiraannya, berlumut di mana-mana dan satu-satunya jalan naik adalah menaiki sebuah tangga spiral yang mengitari sebuah tiang besi.

"Kita harus mendaki tangga ini untuk tiba di kuil?"

"Iya... Tsch... Awalnya aku hendak memakai railgun Alicia supaya kristal di atas bisa dihancurkan secara bersamaan dengan yang di sisi lain... tapi sekarang, apa yang bisa kita perbuat?"

"Itu bisa kita pikirkan nanti..." ujar Halia, "Yang penting kita harus naiki menara ini dulu!"

Klonoa mengangguk, menyetujui pernyataan Halia. Namun ketika mereka hendak menaiki tangga spiral menara itu, terdengar suara dari erangan Naga dalam menara itu. Salah satu dari mereka memasukan kepala besar mereka melalui pintu menara, melihat Klonoa dan Halia di dalamnya.

"Kita tidak punya waktu lagi! Ayo bergegas, Halia!"


***

7
The Air Battle

 "Renggo, apa kamu tahu perbedaan antara mesin terbangmu dan punya Alicia?"tanya Opi, "Dari rapat bersama Klonoa, aku tahu bahwa Alicia sangat konsumtif terhadap energi. Jangankan bertarung, berada dalam fase bertarungpun akan memakan banyak energi, sehingga ia diletakan di posisi belakang oleh Klonoa. Menurutmu apa yang akan terjadi kalau dia terbang, memakai railgunnya sambil menebas-nebasmu?"

"YANG ADA AKU YANG MATI, OPERATOR SINTING!!!"

"Tepat~~~"

Saat melihat kelompok Naga yang berterbangan di atas Tamon Rah, Renggo terbang ke arah mereka, berharap dapat bersembuyi di antara tubuh besar para Naga. Namun bukannya menemukan tempat persembunyian, ia malah mendapat semburan-semburan api dari para Naga.

Di kejauah Alicia melesat dan langsung menebaskan pedangnya pada Renggo, tapi lawannya menarik pedang katana berbilah cahaya biru dari tangan kanannya dan menahan serangan Alicia. Renggo mematikan mesin terbangnya, kemudian mendarat di atas punggung salah satu Naga, begitu juga dengan Alicia.

Di atas punggung Naga itu terjadilah pertarungan saling tebas tak henti-henti. Keduanya bergantian menyerang dan bertahan secara periodik, tebasan mereka saling menggores tubuh lawannya, tapi sampai sekarang belum ada kerusakan lebih parah dari goresan ringan.

Sayangnya karena Alicia sebuah robot penyerang jarak jauh, kekuatan pedang Renggo lebih kuat dari pada punya Alicia. Renggo segera mengambil jarak dengan mendorong dirinya menjauh, kemudian membuka kembali mesin terbangnya, menambah dorongan ke depan sambil menahan pedangnya di sisi kanan hingga menggores pinggang Alicia dalam terjangannya.

"Oke, mari kita mulai serius. Alicia menggunakan tenaga Rune untuk mensuplai  tenaganya, sedangkan kamu memakai tas elekronik yang mensuplai...""

"Kalau mau ngajar jangan di saat seperti ini!"

Adu pedang itu terinterupsi karena Naga yang mereka tumpangi berputar satu lingkaran penuh secara vertikal, membuat mereka harus kembali ke pertarungan angkasa.

Alicia mengubah pola serangannya menjadi berpola antara tusukan dan serangan tipuan secara terus-menerus. Pada satu serangan, Renggo berhasil menghindar, lalu meraih tangan kanan Alicia saat ia hendak menerjang Renggo dengan tambahan dorongan flight unitnya.

Dengan sedikit dorongan Flight unitnya, Renggo berputar mengitari Alicia untuk menghujamkan pedangnya pada salah satu flight unit Alicia tanpa harus khawatir akan tebasan gadis robot itu. Namun perkiraannya salah, lima buah misil kecil lebih dulu melesat dari flight unit itu dan meledakan bahu Renggo.

Sang robot peniru melepaskan dorongan besar dari flight unitnya, membawanya menjauh dari Alicia, paling tidak selama lima detik sebelum Alicia menyerang lagi. Renggo hendak menghadang dengan pedangnya lagi, tapi ia baru menyadari bahwa lengannya putus pada ledakan sebelumnya, sehingga Alicia berhasil menebas kaki kiri Renggo hingga putus.

Pada saat genting itu, para Naga menyeburkan api dari mulut mereka pada kedua peserta itu. Renggo memanfaatkan dinding api di antara dia dan Alicia untuk melesat kabur dari tempat itu.

"... jadi dari semua itu, apa kamu mengerti?" tanya Opi dari pipa yang muncul di tangan kiri Renggo.

"Mengerti apa! Aku baru saja kena tembak!"

"Oh... Tangan kananmu copot"

"Ini gara-gara kamu, Opi! Aku tahu seharusnya aku kabur saja dari tadi"

"Percuma. Mesinmu Cuma mesin tiruan, tidak sebagus yang asli"

"Kalau begitu apa saranmu, Operator gila!"

"Pertama, menghindar ke kiri, lalu keluarkan railgunmu"

Flight Unit Renggo mendorongnya ke kiri, menghindari tebasan dari Alicia yang entah sejak kapan sudah berada di belakang Renggo. Sekelompok Naga melayang di antara mereka berdua, kemudian menyibukan gadis robot tersebut. Dan tentu saja, segera Renggo kabur dan meski dikejar oleh kelompok Naga lain.

Sebuah kubus pixel terbentuk pada lengan kiri Renggo, kemudian menyusut menjadi Railgun "Mad Hatter" tiruan. Begitu Railgun itu terbentu, sebuah suara percikan listrik langsung terdengar, bersamaan dengan keluarnya cahaya biru muda dari moncong railgun itu.

"Apa Railgunmu sudah diisi?"

"Kurasa... tapi kenapa warnanya biru?"

"Kamu tidak mendengarkan penjelasanku... Alicia menggunakan Rune sebagai sumber energi tembakannya, sedangkan kamu memakai suplai dari tasmu itu, jadi hasilnya juga berbeda" jelas Opi "Oh... dan karena sumbernya berbeda, jadi bersiaplah jika ada malfungsi,oke?"

"Siap"

"Karena ini satu-satunya senjatamu yang tersisa, kamu harus menembak Alicia sebelum terjadi malfungsi! Pastikan kamu menembak sungguhan, bukan "menembak" dalam arti lain, paham?"

Mengabaikan komentar terakhir sang operator, Renggo segera mencoba railgunnya pada para Naga yang mengejarnya. Listrik berkumpul pada moncong Railgun, kemudian terlepas sebagai rambatan sinar biru. Meski bukan serangan fatal, tapi tembakan itu mengenai sayap beberapa Naga, sehingga para Naga itu berjatuhan, menyisakan sedikit yang masih terbang.

Namun kejayaan itu tidak bertahan lama. Flight unit Renggo meledak, sehingga ia terjatuh. Saat kejatuhannya itulah, Renggo melihat Alicia tepat berada di belakang tempatnya berada beberapa saat lalu.

"Tsch... dia menyerang tas suplaimu juga..."

"O-Opi! Alicia menyerang flight unitku! A-Apa yang harus kulakukan?"

"Ada dua kabar satu bagus dan satunya tidak. Pertama, kamu punya tunggangan cadangan..."

Tubuh Renggo berdentang keras ketika ia membentur "tunggangan" barunya. Ia terpental dan terguling beberapa kali sebelum akhirnya tubuhnya menabrak sebuah dinding. Ketika ia melihat ke dinding itu, yang ia lihat adalah sebuah dinding api yang secara periodik bergerak naik-turun.

"...kabar buruknya, tungganganmu adalah Tamon Rah"

Renggo menjerit spontan, lalu merayap menjauhi dinding api yang merupakan sayap api Tamon Rah. Ia melihat sekeliling, di atas punggung Tamon Rah tidak ada apapun selain kulit besinya dan sayap berapinya. Ketika ia melihat ke kepala Tamon Rah, dapat dilihat kuda itu melirik sekali-dua kali ke punggungnya, seakan menyadari keberadaan Renggo.

"Oh! aku baru ingat. Dari tablet yang ditunjukan maid tadi, bukannya Tamon Rah akan mengejar siapapun yang menggunakan salah satu kemampuannya,kan?"tanya Opi "Dan skillmu masih aktif karena masih dalam mode peniru Alicia... lebih baik kamu berhati-hati Renggo. Kamulah mangsanya"

"Opi... Kurasa Tamon Rah bukan satu-satunya yang mengincarku..."

Opi memutar bola matanya ke arah yang Renggo lihat, lalu tampaklah sang gadis robot –Alicia–  tengah mengarahkan Railgunnya yang sedang dicharge ke bawah, tepat ke arah Renggo. Sang robot peniru berusaha lari dari tempat itu, tapi mesin terbangnya rusak dan kaki kirinya lepas.

"CHAOS MODE ON"

Alicia mengaktifkan mode Chaosnya. Matanya menjadi merah, tampak jelas cahaya kuning Rune yang dikumpulkan pada railgunnya berubah menjadi kehitaman, bersamaan pula dengan munculnya garis-garis hitam yang menjalar ke seluruh tubuhnya.

"O-Opi! Lakukan sesuatu!"

"Baiklah... aku akan mulai membacakan do'a supaya arwahmu diterima di sisi-Nya"

"Aku belum mau mati!"

Alicia melepas sisa roket pengejar yang ia miliki di punggungnya, menghujani punggung Tamon Rah dengan roket-roket itu. Belum selesai sampai di sana, ia melempar pedang Katananya pada Renggo, memaksa robot peniru itu untuk menghindar dan kembali bersandar pada sayap api Tamon Rah.

"Ini akan menjadi akhirmu... RENGGO!"


***

8
The Tower And The Dragon

Sementara Alicia dan Renggo bertarung di langit-langit lembah, Klonoa dan Halia melangkahi anak tangga terakhir menara yang mereka daki. Mereka keluar dari balik dinding kayu yang telah keropos dari sebuah ruangan berbentuk lingkaran berjari-jari tujuh meter.

Tidak seperti sisa ruangan yang terbuat dari kayu tua, langit-langit di tengah ruangan itu tergantikan oleh sebuah kubah kaca. Di bawahnya, terdapat sebuah kolam beralas besi, tapi telah lama mengering hingga berlumut dan sebuah bola kristal biru bercahaya melayang-layang di tengah kolam tersebut.

"Menurut penjelasan pada tablet maid tadi, kristal itu akan menyerang kalau kita mendekat. Dan kalaupun kita menghancurkannya, kristal ini akan meregenerasi dirinya kalau kristal di menara satunya tidak dihancurkan..."

"Jadi... Klonoa, apa idemu untuk mengatasi kristal ini?"

Klonoa melepas nafas berat,"Seharusnya rencanaku memerlukan Alicia untuk menembak kedua kristal itu pada satu garis lurus memakai railgunnya. Ada juga rencana cadangan bila peluru railgun Alicia habis, dia bisa terbang ke sisi lain supaya kita menghancurkannya secara bersamaan, tapi dilihat dari kondisi ini, tidak mungkin bisa kulakukan"

"Aku ada ide!" ujar Halia "Kita hancurkan saja terus sampai tidak bisa kembali lagi!"

"Bodoh! Itu akan menjadi sia-sia!"

"Tapi kalau kita diam saja, tidak ada yang akan berubah,kan?"

Klonoa tidak memberi jawaban, ia menutup matanya, berusaha membuat suatu rencana di kepalanya. Namun konsentrasinya bubar ketika suara tembakan magis bergema dari kristal itu, diikuti oleh suara pecah kaca-kaca di atasnya.

Sebuah erangan keras menggema dari tengah ruang, menghancurkan kubah kaca yang masih tersisa. Sesosok mahluk besar jatuh dari atas kubah, lalu menginjakan cakar besarnya pada kristal tersebut, memecahnya menjadi kepingan-kepingan kecil.

Sosok itu langsung menyemburkan api dari mulutnya kepada Halia dan Klonoa. Klonoa segera merapalkan mantera untuk menghentikan semburan api itu, tapi entah mengapa sihirnya tidak bekerja. Sang gadis berambut coklat maju ke depan Klonoa, lalu membentuk perisai setengah bola di depannya sampai semburan api sosok itu berhenti.

"Tsch... Aku baru ingat kalau sihir tidak bekerja di menara ini"

Ketika Halia mencairkan kembali perisainya, terlihat jelas jejak semburan api sosok itu menyebar di atas kayu tua ruangan itu, sehingga tampaklah sosok kadal bersisik merah sepanjang empat meter dan bersayap lebar yang menyemburkan api tadi.

"Naga! Klonoa! Ada naga!"

Klonoa mendekatkan mulutnya pada telinga Halia, "Halia, dengarkan rencanaku..."  lalu menceritakan rencananya.

"Baik!"

Klonoa dan Halia memencar ke dua sisi berbeda, lalu bersembunyi di balik tiang fondasi ruangan. Naga itu melihat pergerakan mereka dan tak segan-segan mendatangi mereka meski ia harus merangkak karena langit-langit yang terlalu rendah.

Kini Naga itu telah berada dipojok ruangan, ia mencari-cari kedua peserta itu, tapi tidak menemukan siapapun di baris pojok ruangan. Saat itulah Klonoa dan Halia mulai menghancurkan satu persatu tiang di depan mereka selagi berlari ke pusat ruangan. Karena tiang-tiangnya hancur, langit-langit di atas Naga itu runtuh, menimpa kadal tersebut hingga sekujur tubuhnya terkubur kayu-kayu tua.

Akantetapi, Naga tidak menjadi mahluk mitos yang tak terlupakan tanpa alasan. Naga itu mengangkat semua reruntuhan di atas punggungnya, lalu berdiri dengan kedua kakinya dan akihrnya menghempaskan semua reruntuhan itu sambil meneriakan raungan khasnya.

Kepala Naga berdiri yang sedang di atas atap kuil itu segera menyemburkan api lagi, membuat atap di sekitarnya terbakar. Naga itu tidak mau dipermainkan lagi oleh para peserta, jadi ia mengambil inisiatif lain, yaitu menyerang mereka langsung. Dengan satu lompatan besar, Naga itu langsung mendarat di tengah ruangan itu lagi.

Namun belum sempat ia menemukan para peserta, kehadirannya di sana langsung memicu tembakan kristal yang baru saja beregenerasi. Saking kesalnya dengan kristal itu, Sang Naga hendak menyemburkan api pada kristal itu, tapi ketika ia membuka moncongnya, sebuah tembakan magis masuk ke dalam mulutnya.  

Naga itu mengerang kesakitan, gerakannya tidak lagi seimbang sampai-sampai ia menimpa bola kristal di bawahnya sebelum akhirnya bercahaya kemerahan dan berpendar menjadi partikel merah.

Di bawah kolam itu, sebuah lapisan besi mencair, lalu kembali ke dalam tas Halia yang bersembunyi di baliknya. Klonoa yang juga bersembunyi di belakang lapisan besi Halia segera menghampiri pecahan-pecahan bola kristal kuil itu. Ia segera mengambil salah satu untuk diperiksa, tapi pecahan di tangannya segera melayang kembali ke tempat asalnya, bersama pecahan-pecahan yang lain yang sedang membentuk ulang wujudnya.

Ketika Kristal itu mulai menembak, Halia segera membentuk perisai setengah lingkaran dari besi di depan kaki Klonoa, kemudian melempar cairan besinya seperti cambuk ke arah kristal itu hingga terbelah, jatuh dan pecah kembali. Namun sama seperti sebelumnya, kristal itu kembali terbentuk.

"Klonoa! Kristalnya terbentuk lagi!"ujar Halia.

"Sial! Sampai kapan kristal ini mau bertahan!"

Saat mereka memandangi proses regenerasi itu, mereka melihat sebuah keanehan di langit. Sang kuda raksasa Tamon Rah tengah berputar-putar dalam pola lingkaran kecil dan di atasnya tampak cahaya kegelapan berkumpul pada satu titik diam.

"Cahaya kegelapan... mungkin itu Hades modeAlicia?" tanya Klonoa pada dirinya sendiri. Ia segera maju mendekat ke bola kristal itu, "Halia, buat penghalang di depanku, lalu buat tangga keluar dari kolam ini dan naikilah!"

Halia segera melakukan perintah Klonoa dan membuat perisai setengah bola di depan Klonoa. Setelah itu Halia membentuk sebuah tangga dari besi kolam itu hingga membentuk sebuah tangga yang kemudian ia naiki untuk ke atas.

Ketika Kristal itu telah pulih kembali, ia langsung mendeteksi keberadaan Klonoa dan mulai menembakan serangan magisnya, untungnya yang ia serang adalah perisai besi Klonoa.

"Lihatlah kuil di sisi lain lembah, Halia! Ketika kuil itu hancur, segera hancurkan kristal itu!"

"T-Tapi... Bagaimana kuil itu akan hancur?"

"Ini hanya sebuah taruhan... tapi aku yakin Renggo dan Alicia akan menghancurkan kuil itu... semoga"


***

9
The End


"Ini akan menjadi akhirmu... RENGGO!" teriak Alicia.

Sebuah tembakan berelemen kegelapan melesat dari Railgun Alicia, meski menarget Renggo, tapi ia dengan cepat berguling-guling sehingga mengenai sayap Tamon Rah. Arah hindaran Renggo sejajar dengan sayap Tamon Rah, sehingga tembakan Aliciapun sejajar.

Kuda raksasa itu meringgik kesakitan, sayap kanannya berhenti bergerak, membuat jalur terbangnya menukik ke arah kanan tepat ke arah salah satu kuil pemujaanya.

Alicia telah menghabiskan semua suplai Runenya, sehingga mesin terbang, bahkan cahaya dalam matanya mati, membuatnya jatuh bebas ke bawah. Renggopun tidak seberuntung Alicia, karena Tamon Rah yang melesat turun, ia terlempar dari punggung Tamon Rah dan melesat jatuh.

"Bagaimana ideku? Cemerlang,kan?" tanya Opi.

"Cemerlang apanya! Sekarang kita malah jatuh dari Tamon Rah!"

"Jadi kau lebih suka di atas punggungnya?"

"Tidak juga, sih..."

"Oh, lihat. Gadis itu juga jatuh... Dia kehabisan tenaga, Selamatkan dia, Renggo"

"Kenapa? Dia baru saja menembakku!"

"Kamu ini tidak peka, Renggo! Ketika seorang gadis menembakmu, itu artinya dia ada rasa terhadapmu..."

"Aku malah merasa perkataanmu tidak ada hubungannya dengan kondisi ini..."

"Selamatkan saja dia. Itu adalah perintah!"

"Baik... Baik..."

Dengan manuver seadanya, Renggo mencondongkan tubuhnya ke arah jatuhnya Alicia, membuatnya meluncur ke bawah jalur jatuhnya Alicia. Saat keduanya sudah dekat, Tangan kiri Renggo langsung meraih pinggang Alicia dan menahannya selagi mereka jatuh. Dengan bertindak sebagai bantalan jatuh, Renggo menghantam lembah itu bagaikan bola meriam.


***


Begitu Tamon Rah menghantam kuil di atas menara lainnya, Halia langsung membentuk cambuk dari cairannya, lalu menyerang kristal itu hingga pecah. Kali ini, kristal itu bercahaya kebiruan sebelum akhirnya berpendar menjadi partikel biru.

"A-Apa kita berhasil?"

Tamon Rah segera bangkit dari kejatuhannya dan segera kembali lepas landas, seakan serangan hades mode Alicia tidak pernah melukainya. Namun ketika ia terbang di langit, pecahan-pecahan bulan yang menyegelnya tertarik ke monster itu hingga membentuk sebuah bulan utuh.

Bersamaan dengan tertariknya pecahan bulan, para monster tertarik ke bulan itu karena suatu kekuatan tak diketahui sampai menempel di bulan itu. Bulan Alkima langsung lepas landas, kembali ke orbitnya.

Sebuah layar hologram muncul di depan para peserta, bertuliskan "Selamat! Ronde Preliminary telah selesai! Anda akan kembali ke Plaza Alkima dalam setelah 500 detik"

"Klonoa! Kita berhasil!"

"Heh... Tipikal Skenario klasik... kenapa anak buah monster selalu kalah ketika boss mereka kalah?" gerutu Klonoa, "Apa mereka tidak bisa paling tidak menahlukan benteng itu sebelum kalah?"

"Klonoa, kenapa kamu bicara sendiri?"

Klonoa tidak menjawab, ia hanya berdiri lalu menaiki tangga besi Halia dan berjalan ke pintu masuk mereka dari menara.

"Kalau kamu jengkel, paling tidak bilang sesuatu!" teriak Halia, kemudian mengikuti Klonoa menuruni menara.


***


"Ya ampun... tidak kusangka kerusakannya bisa separah ini"

Dengan setengah tubuh remuknya remuk karena hantaman ketika jatuh, Renggo mengangkat dirinya perlahan. Saat ia hendak berdiri, ia baru menyadari kaki kanannya sudah tidak berfungsi, begitupula dengan tubuh bagian kanan lainnya yang telah remuk.

"Di mana robot itu..."

Kepala Renggo yang masih berbentuk seperti kepala Alicia melihat sekitar, menemukan gadis robot berambut twintail itu di sebelahnya. Meski tubuhnya mengalami kerusakan, tapi paling tidak masih lebih parah kerusakan pada Renggo. Mata Alicia tidak lagi mengeluarkan cahaya, tapi sekarang terdapat garis-garis bercahaya di sekujur tubuhnya.

"Hmm... tidak mati, hanya sedang dalam mode pengisian daya"

Tangan kiri Renggo menjulur ke kepala Alicia, kemudian jari-jarinya menekan pada beberapa titik garis rune di wajahnya. Beberapa garis kuning merayap dari wajah Alicia melalui tangan Renggo, kemudian garis-garis hijau menjalar dari tangan Renggo kembali ke wajah Alicia. Hanya mata hijau robot peniru itu yang melihat kejadian itu.

"Baiklah... setelah itu, gurun ini..."

Tangan kiri Renggo meraih ke dalam tasnya, lalu mengambil sebuah tabung yang kemudian ia tanam di atas lembah itu. Sebuah tiang mencuat dari tempat itu, lalu mengeluarkan sebuah bendera hijau terikat di ujungnya.

"Fase pertama telah dimulai..."

Tubuh Renggo dan Alicia berpendar menjadi cahaya kehijauan, kemudian terpecah menjadi partikel-partikel hijau, kembali ke Plaza Alkima. Semua jejak peserta menghilang dari tempat itu, terkecuali bendera hijau Renggo.

Round 1, Preliminary End.

17 comments:

  1. Habis Emils sekarang ini... Kenapa penulis keliatannya punya sentimen anti-manusia? Jangan" penulisnya bukan manusia? #eh

    Buat ukuran robot yang diperalat sama operator, entah kenapa respon Renggo agaknya manusiawi banget ya. Btw saya sempet ngira komposisi timnya bakal ngambil Zarid juga sesama kaleng besi

    Semua tentaranya pake seragam maid? Now that's new

    Tulisannya lumayan rapi dan pemenggalannya bikin enak dibaca

    Tapi kenapa jadi berkesan agak derailed dari plot utama pas Renggo dikejar Alicia ya?

    Hmm, kayanya ini juga yang keberapa kalinya manfaatin Tamon Rah buat ngancurin menara

    Dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih telah berkomentar, mas Sam!

      Untuk pertanyaan pertama... Saya bisa menjawab, tapi sayangnya mas Sam sendiri nggak akan percaya kalau saya bilang saya ini manusia setengah pohon seperti Ananda #ngomongapasih

      Sebenarnya saya pakai OC non-manusia karena OC manusia atau ras yang mendekati sudah terlalu mainstream, jadi saya coba-coba saja OC non-manusia supaya berbeda.

      Hmm... setelah dibaca ulang memang agak "derailed", tapi rencana awal memang saya mau buat Renggo lawan seorang teman untuk rencana ke depan.

      Delete
  2. Tulisan sama narasinya dah lumayan enak diikuti, cuma di beberapa bagian dialog tanpa tag aku suka bingung siapa ngomong apa. Trus entah apa aku juga bingung jelasinnya ada sesuatu yang mengganjal di hati pas baca prelim ini. Mungkin salah satunya bagian joke Klono-Halia yang diulang2 mengenai 'bocah'. Kalau dari segi plot cerita dah oke si.

    Nilai : 7

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih telah berkomentar, CLD!

      Beberapa Tag saya hilangkan untuk menghemat kata karena saya "kira" pembaca bisa mengidentifikasi dari dialognya saja, tapi sepertinya saya menghapus kebanyakan...

      Kalau soal joke itu sebenarnya saya ingin membuat Klonoa yang terus memanggil Halia dengan "Bocah" menjadi lebih dekat dengannya, apalagi setelah Renggo dan Alicia pergi untuk "kencan" mereka.

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. "U-Umi, apakah ada kemungkinan aku harus bertarung dengan dia?" Felly menatap ngeri pada Kaze(laptopku), seolah layar ini menjadi sesuatu yang sangat mengerikan untuknya.
    "Well, kalau Tamon bilang kau lolos prelim, mungkin saja." Sedetik aku menatapnya dalam diamku sebelum menambahkan, "Tapi, sepertinya kemungkinannya kecil."
    "Fiuh~ Syukurlah, kukira aku akan melawannya."
    "Fell, yang punya kemungkinan kecil itu, kau lolos prelim."
    Sebuah pantat panci melayang ke arahku. "Kalau aku tidak lolos, itu semua salahmu! Dasar Author tidak berguna!"
    Dia meninggalkanku yang menggulir air mata mengelus kepalaku yang sudah benjol tiga dibuatnya.

    ***

    Hai Kak Mocha xD Umi hadir xD Ini tadinya mau minta bantuan si Fell buat review, tapi dia kayaknya lagi jadi Tsundere. Bikin cape aja deh ini karakter sebiji.

    btw, sebelum Umi review, Umi nangkepya si Renggo jadi kayak rangers tersesat dari pada robot xD wkkwkw dan Halia, di sini ceria banget xD beda banget Halia di versi Umi yang... suram.

    Oke well done kak Mocha, ini jelas beda banget sama cerita Emils tahun lalu. Umi suka sama gaya bahasa kak Mocha di sini xD jauh lebih ringan xD Oh iya, umi penasaran, kenapa tulisannya di awal, beda ukurannya?

    Btw, kakak Mocha, mungkin ada baiknya kakak bikin cara ngomongnya si Rengo lebih patah-patah. Misalnya menggunakan dash atau diterangkan di deskripsi. Biar lebih berasa gitu loh si Renggo ini robot xD

    Oh iya, Umi suka karakterisasinya si Halia dan si Klonoa, lebih berasa mereka xD

    ***

    "UMI!!"
    "Apaan lagi Fell? belum puas niban aku pake panci?"
    "Bu-bukan!"
    "Jadi?"
    "Kok, kok Kak Halia ada di sini juga, tapi ada di ceritaku. Bukannya ceritaku dan cerita ini berjalan di waktu yang sama?"
    Aku memutar bola mataku. Aku lupa menjelaskan hal ini kepada Felly. Dia beda sama Sil yang bisa mengambil kesimpulan apa saja dengan mudah.
    "Entar deh ya Fell, aku jelasin."

    ***

    The Fun : 3.0
    Karakterisasi : 2.0
    Alur : 2.0
    Total : 7.0

    ***

    Maria Fellas - si Bocah menyebalkan *cetang, kena lempar ppanci lagi*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih komentarnya, mbak Umi!
      Untuk sifat Renggo yang agak "Humanic" mungkin karena saya masih kebawa sifat Emils dari tahun lalu...

      Btw... Felly jangan marah karena kalau kusebut "menyebalkan",ya? :D

      Delete
    2. gyayayayaya Felly mah santai, dibejek-bejek dia mah juga oke-oke aja *lalu dilempat botol minum* -sial.


      wkwkwk
      Then, kalau ada next time-nya Renggo, tulislah dia dalam bentuk robotic xD Umi menunggu bagian ituu xD

      Delete
  5. Wkwkwk, awalnya baca-baca sama komentarnya sudah selesai buat hari ini, tapi setelah liat judulnya, saya merasa ke mention XD
    Kalau ada yang pakai karakterku, pasti langsung penasaran. karakerku digambarin seperti apa. Dan saya puas XD. Klonoa benar-benar rasis, good job! Rasanya seperti melihat Klonoa dari sisi lain.

    Komunikasi operator sama Renggo menarik buat diikuti, dan saya juga suka dengan karakter dari operator. awalnya di char sheet saya kira operator itu model orangnya, Kejam. ngga terlalu mempedulikan renggo dan Renggo cuma digunakan sebagai alat. tapi ternyata orangnya lebih unik, orang kaya gini favoritku.

    Penulisan ceritanya bagus, enak dibaca juga. aku bisa mbayangin kejadiannya macam apa.
    Terus karakter, tiap karakter sifatnya menonjol, konfliknya juga ada. terutama buat Alicia. yang mbuat dia nostalgia (?) sampai keluar hades mode. itu ga terduga. bagus sekali :3

    *Entah kenapa aku ngeship Klonoa sama Halia di sini, kayaknya lucu xD

    nilai 9

    Klonoa Trunnion
    "Hmm... Klonoa terlihat keren"
    #Plak
    "... Apa-"
    "APA SALAHKU?! KAU MANUSIA SIALAN!!"

    SLASH!

    O-overall... : se- se- sembilan...

    #Di sini terbaring.. Author Klonoa
    #

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih nilainya Mas Ibrohim!

      Si Opi sengaja saya beri sifat unik karena karakter "kejam" biasa kurang cocok menjadi sosok Mastermind di cerita Renggo. Kalau begini pembaca akan bertanya-tanya posisi dari Opi itu "Villian" atau "Hero"... bahkan penulisnya sendiri.

      Awalnya saya hanya buat interaksi Halia dan Klonoa sebagai pengikat kelompok di awal cerita saja, tapi ketika Renggo dan Alicia melakukan "kencan udara" mereka, saya jadi kepikiran untuk mempererat dua karakter ini.

      Delete
  6. Hm... Si operator ini bicara dari pipa yang keluar dari tanah, kenapa malah keingat pipa berbicara dari teletubies ya? :D
    For a reason, aku merasa seperti melihat bayangan Emils dibalik Renggo. Narasi oke, battlenya keren, tapi kadang agak hilang diantara dialog yang agak panjang, nggak tahu siapa yang ngomong.

    Nilai : 8
    OC : Relima Krukru

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terimakasih wahai sang Overlord.

      Eh? Teletubies... benar juga...
      Sepertinya saya masih susah move on dari Emils... tadinya saya juga mau munculkan dia, tapi karena kebanyakan kata terpaksa saya hapus.

      Delete
  7. Satu lagi robot manusiawi. Senang melihatnya XD

    Oke, karena kelebihan dan kekurangan cerita sudah dibawakan oleh para teman-teman, saya cuma mau bahas insight pribadi saya soal karakterisasi dari karakter yang dipakai dari tim-nya Renggo.

    Pertama, Renggo dan Operatornya sendiri. Saya lihat Opi/Operator ini ada bau-bau yang mirip sama Wheatley dari Portal. Atau mungkin seperti GLaDOS tapi lebi ekspresif. Dan Renggo-nya sendiri manusiawi. Sangat manusiawi XD

    Klonoa dan Halla saya rasa sih pas ya, mereka sudah cukup apik dan jadi duo yang bagus. Semacam comic relief dalam tim.

    Sementara Alicia... saya rasa dia lebih ber-emosi dibanding yang saya kira. Saya kira Alicia itu akan lebih... kaku. Bagian pas dia marahnya terasa seperti forced plot device, but still good to be enjoyed.

    Saya berikan delapan karena entri ini solid dan cukup memuaskan.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
    Replies
    1. tl;dr 8/10

      takutnya gsk kebaca kalau bentuknya "delapan" :x

      Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

      Delete
    2. Terimakasih, Enryuumaru!

      Memang benar, Opi ini saya pakai referensi dari beberapa karakter lain yang merasa lebih supperior dari main characternya seperti Wheatley (Portal), Migi(Parasyte), Isaburou Sasaki(Gintama), dkk

      Bedasarkan background di charsheetnya, Alicia masih dalam tahap pembelajaran Emosi, jadi saya tambah seolah-olah ia mendapat... uh... Haywire dalam sirkuit emosinya.

      Delete
  8. wahaha gw suka interaksi Opi sama Renggo di sini. selain lawak, karakter mereka keliatan jelas :D

    dan gw suka interaksi karakter di sini. mereka keliatan idup dan punya kehidupan dan kebiasaan sendiri.

    hoo endingnya masih menyisakan misteri nih. keknya ini OC n cerita yang asik buat diikutin~

    nilai: 8

    OC gw: Kii

    ReplyDelete
  9. Cerita yang unik dengan karaktek robot yang berasa manusiawi. Interaksi antar karater terbangun dengan baik. Adegan pertarungannya juga detail dan seru. Tasya suka saat adegan Renggo naik naga. Si Opi bawel banget ya, kayak pengasuhnya Rengo saja. Tapi Tasya suka kekompakan kalian.

    Nilai: 8
    OC: Tasya Freyona

    ReplyDelete