12.5.15

[PRELIMINARY] TASYA FREYONA - DOORPRIZE MENGERIKAN DARI ALFOREA

[Preliminary] Tasya FeronaDoorprize Mengerikan dari Alforea
By: Diyahmaro

-Perkenalan-
Nama lengkapnya Tasya Freyona Putri, gadis 16 tahun yang akrab dipanggil Tasya. Siswi kelas X SMA yang sedang menikmati liburan ke luar angkasa dari hasil berburu kuis di internet. Sebuah hadiah "tercetar" selama ia mengeluti dunia per-kuter-an. (kuter : kuis hunter : berburu kuis di internet)

Awalnya acara liburan ke planet Alforea berjalan lancar hingga ia mengetahui bahwa kegiatan kuis dalam game online Battle of Realms-Exiled V masih berlanjut. Tasya harus mengikuti sejumlah turnamen di Alforea untuk memenangkan doorprize-nya.

Bukan perkara mudah untuk memenangkan doorprize. Ia harus menghadapi persaingan ketat di antara ratusan peserta. Bukan persaingan dunia maya yang dihadapinya, bukan sekadar perang like maupun status facebook. Melainkan persaingan dalam arti nyata termasuk adu fisik dan perang bertaruh nyawa. Siap ataupun tidak, Tasya akan terlibat dalam pertarungan sengit di Battle of Realms-Exiled V.
***
-Patner Berlatih-
Tasya mengibaskan tangannya yang pegal usai memukuli samsak. Wajahnya cemberut karena kelelahan usai berlatih beladiri bersama Radith. Sebelumnya Tasya memang pernah ikut karate, tapi ia hanya bertahan mengikuti latihan karate selama seminggu. Tasya meninggalkan eskul karate dan melipir ke warnet untuk berburu kuis berhadiah.

"Huft! Kenapa harus ada turnamen segala sih? Masa iya kuter cantik gini disuruh berantem. Kenapa nggak diadakan lomba foto aja sih buat dapetin doorprize-nya?" gerutu Tasya. Ia duduk selonjoran dengan sesekali meregangkan tangannya. Ia mengambil jepit rambut dan menjepit rambut hitam sebahunya ke belakang. Kemudian mengusap keringat di lehernya dengan handuk kecil. Siang hari di Alkima Plaza terasa lebih panas daripada hawa di tempat tinggalnya dulu.

"Tasya! Latihannya yang serius woy!" teriak Radith. Pemuda 23 tahun itu sedang duduk bersila di lantai sambil memainkan wayang golek dengan prana petirnya. Tiga wayang golek tanpa gagang tampak melayang di udara.

"Males, ah. Capek tau!" kilah Tasya. Ia merogoh smartphone di sakunya dan mulai memainkan sebuah game.

Radith bangkit. Ia mengubah wayang  Bima menjadi topeng merah yang menutupi separuh wajah tampannya. Sedangkan wayang Arjuna berubah menjadi gelang Gandiwa yang melingkari lengan kekarnya. Dan wayang Gatotkaca menjelma menjadi Zirah Antakusuma yang serupa rompi membuat penampilannya makin gagah. Penampilan Radith yang semula tampan dan kalem telah menjelma menjadi sosok yang gagah perkasa dan terkesan garang. Radith telah malihrupa menjadi sosok Vajra, sang Dalang Petarung.

Vajra beranjak menghampiri Tasya. Ia menyerang Tasya dengan Tinju Brajamusti, tapi serangannya terhalang oleh perisai yang menyelubungi Tasya. Kilatan petir menyambar-nyambar di sekeliling keduanya.

"Kau pikir seberapa kuat perisaimu menahan seranganku?" hardik Vajra.

"Apa salahku? Kenapa kamu menyerangku?" sahut Tasya. Wajahnya memucat. Ia takut jika perisai pelindungnya ditembus oleh serangan Vajra. Ia bergegas menancapkan kabel powerbank ke ponselnya, berjaga-jaga agar ponselnya tidak lowbat.

"Dor!" sebuah proyektil peluru melesat ke arah Tasya. Tapi kemudian terpental saat menyentuh tabir pelindung dan berbelok hingga hampir mengenai Vajra.

Beruntung, Vajra sigap menghindari terjangan peluru yang dimuntahkan dari senapan Nely itu. Lantai keramik Alkima remuk terkena ledakan peluru Nely.

"Hei, Nely! Apa urusanmu dengan Eophi udah rampung? Kenapa kau menyerangku?" protes Vajra sambil menatap tajam kepada Nely.

"Aku cuma ingin mengetes kemampuan kalian. Persetan dengan bocah pemalas itu!" sahut Nely.

"Ya Dewata, kenapa aku sesial ini. Andai aku dapat memilih tim yang lebih baik daripada kedua bocah itu," keluh Vajra yang mulai memulihkan diri menjadi Radith.

"Yap, aku sepakat denganmu," kata Nely sembari menyibakan rambut birunya yang berkilauan. Gadis bermata hijau itu masih menodongkan senapannya ke arah Tasya. Ia memicingkan mata dan bersiap menembak Tasya lagi. Ia yakin kemampuan "Eyes Afinity"-nya selalu membuatnya tepat sasaran. Daripada tak berguna dan membebani lebih baik dilenyapkan saja, itulah prinsip Nely.

"Dor!...Dor...Dor...!" tiga tembakan beruntun mengarah pada Tasya.

Tasya terbelalak. Ia menjerit dan menutupi kepalanya dengan lengan. Tindakan yang sebenarnya sia-sia jika perisai pelindungnya tidak aktif. Beruntung, tabir perisai pelindung itu secara otomatis muncul dan melindungi Tasya dari segala serangan lawan. Sehinggu peluru yang ditembakkan Nely terpental saat menyentuh perisai pelindung Tasya. Peluru itu menumbuk lantai dan menimbulkan ledakan elektromagnetik dahsyat yang menghancurkan lantai Alkima Plaza.

"Kalian ini berisik sekali. Menganggu tidurku saja," keluh seorang pemuda berkulit pucat bernama Eophi. Perawakannya jangkung dengan wajah babyface yang menggemaskan. Semenggemaskan bantal, guling, dan kasur yang selalu dibawanya ke mana-mana. Seekor naga mungil berwarna merah menyembul dari kasur Eophi, namanya Hel. Hewan peliharaan Eophi nan setia.

"Iya, nih. Mereka berdua nggak suka lihat orang lain nyantai," Tasya menimpali.

"Bisakah kalian serius sedikit saja untuk turnamen ini. Kita ini satu tim, butuh kekompakan untuk menyelesaikan turnamen ini. Paham?" kata Radith.

Eophi menggeleng. "Entahlah, aku mengantuk," jawabnya sambil kembali bergelung di atas kasur dan memeluk guling.

Nely melirik Eophi. Jemarinya bersiap menarik pelatuk senapan. Tapi  ia urung melakukannya karena dicegah Radith.

"Kumohon, jangan menyerangku lagi ya. Aku janji mau berlatih beladiri dengan sungguh-sungguh bersama kalian," pinta Tasya. Ia bangkit dan menghampiri Radith dan Nely.

Nely menepuk jidat. "Syukurlah, setidaknya kamu sedikit berusaha daripada tidur doang," Seulas senyum tampak di bibir Nely.

"Nah, gitu dong. Semangat demi kemenangan tim kita," celetuk Radith.

"Tapi sebelum berlatih kanuragan kita selfie dulu, yuk!" Tasya mengeluarkan tongsis dan ber-selfie ria bersama Radith, Nely, dan Eophi yang terlelap di kasurnya.

Keempat Maid pendamping mundur, mereka memberikan ruang kepada para peserta untuk mengekspresikan diri.
***

"Apa cuma segini kemampuanmu? Kita butuh lebih," seloroh Radith.

"Iya, perisai virtual saja takkan cukup untuk menghalau serangan para monster," cibir Nely.

"Entahlah, aku ini cuma kuter. Aku ke sini buat berburu hadiah dan gratisan bukan bertarung," sahut Tasya cuek.

"Kenapa tidak kalian tanyakan saja sama para Maid, bukankah mereka tahu apapun?" celetuk Eophi yang masih asyik tiduran di kasur. Suaranya lebih mirip orang mengigau.

"Ada yang bisa kami bantu, Nona?" tanya Maid.

"Aku ingin tahu apa aku punya kekuatan lainnya?" sahut Tasya.

"Sebentar," Maid mengetukkan ujung sepatunya ke lantai. Seketika lantai Alkima berubah menjadi monitor yang menampilkan data diri Tasya.

"Di sini tertulis jika Nona Tasya memiliki senjata smartphone multifungsi. Fiturnya terdiri dari perisai virtual, aura hoki, proyeksi ruang virtual, dan siaran online pengganggu. Serta powerbank pemasok daya tanpa batas," jelas Maid.

"Apa? Siaran online pengganggu? Haduh,  perusahaan aplikasi akan memecatku jika tahu ini," keluh Tasya.

"Huft, benar-benar payah," ejek Eophi.

"Hei, apa maksudmu! Kamu sendiri cuma bisa tidur doang. Sini tunjukkan kemampuanmu!" balas Tasya sewot.

Eophi menyibakkan selimutnya. Ia bangkit bersama seperangkat alat tidur yang melayang di sampingnya. Ia merapal mantra dengan lirih.

Guling Eophi bersinar dan mengeras. Eophi mengayunkan gulingnya kepada Tasya dengan sekuat tenaga.

"Plak!" guling menghantam wajah Tasya dan membuatnya jatuh tersungkur.

Tasya malah bengong. Hantaman guling Eophi terasa empuk di pipinya. Seperti ditepuk boneka bulu nan lembut. Bahkan perisai virtualnya tidak muncul karena menganggap serangan Eophi tidak berpotensi membahayakan Tasya.

"Apa itu menyakitkan?" tanya Radith heran melihat ekspresi Tasya.

Tasya menggeleng. Dan giliran Radith dan Nely yang melongo.

"Astaga! Bahkan seranganmu tak mampu membunuh seekor lalat sekalipun, Eophi." Radith mengacak-acak rambutnya sendiri. Ia nyaris frustasi menghadapi rekan satu tim yang tidak bisa diandalkan.

"Eophi Rasaya memang pecinta damai. Dia punya prinsip Not Kill In Action sehingga serangannya takkan mencederai lawan," jelas Maid yang mendampingi Eophi.
***
-Menjelang Turnamen-
"Apakah kalian sudah siap? Sebentar lagi turnamen akan digelar," kata seorang Maid.

"Hm, turnamen semacam apa sebenarnya Battle of Realms itu? Apa kami harus berkelahi dengan tim peserta lain?" tanya Tasya.

"Tidak juga, kalian harus bertarung melawan para monster di Alforea sana." Maid menunjuk ke arah bulan raksasa di langit Alkima Plaza.

"Lho, bukannya di sini  yang namanya Alforea?" tanya Tasya.

"Alkima adalah satelit dari planet Alforea. Tugas kalian adalah menghancurkan kedua menara yang ada di gurun Alforea untuk membuka portal menuju dimensi berikutnya. Di sanalah turnamen Alforea yang sesungguhnya akan berlungsung. Ini baru awal seleksi dalam turnamen Battle of Realms," jelas Maid.

"Gimana kalau kami gagal? Dan apa untungnya jika kami berhasil? Apa doorprize yang kami dapatkan?" Tasya makin penasaran.

Maid terdiam. Ia bertukar pandangan dengan ketiga Maid lainnya.

"Maafkan kami. Kami tak memiliki pengetahuan untuk menjelaskannya," sahut Maid yang lain.

Keempat Maid melangkah menuju sudut ruangan. Mereka berempat berdiri berjajar dengan seulas senyum yang dipaksakan.

"Persiapkan diri kalian. Sebentar lagi turnamen dimulai. Tugas kami telah selesai. Selamat bertarung!" kata keempat Maid secara serempak.

Perlahan tubuh keempat Maid makin menipis. Mereka menjelma butiran debu yang lenyap tertiup hembusan angin.

Setelah para Maid lenyap, sebuah suara menggelegar memerintahkan kepada seluruh peserta untuk berkumpul di depan kastil. Suara perempuan bernama Tamon Ruu itu mengumumkan peraturan selama turnamen berlangsung. Tamon Ruu juga menjelaskan misi yang diemban masing-masing tim dalam seleksi awal turnamen Battle of Realms. Selain Tamon Ruu adapula Hewanurma yang menjadi panitia turnamen Battle of Realms. Keduanya berpidato secara bergantian atau lebih tepatnya saling berebut posisi sebagai pembicara di hadapan para peserta. Dan rupanya Tamon Ruu yang berhasil mendominasi.

Pidato Tamon Ruu usai dan suasana Alkima Plaza yang semula semarak mendadak menjadi kelam. Para peserta dihadapkan dengan kekacauan dahsyat yang menghempaskan mereka ke berbagai dimensi berbeda. Ratusan peserta menjadi tercerai berai menjadi tim-tim kecil yang harus menghadapi para monster di gurun Alforea.
***
-Tamon Rah, Doorprize Mengerikan dari Alforea-
Sebuah kekuatan dahsyat menghempaskan Tasya, Radith, Nely, dan Eophi ke padang pasir tandus. Beruntung, kasur Eophi menjadi bantalan empuk saat Tasya dkk mendarat di gurun Alforea.

Kedatangan Tasya dkk disambut oleh peperangan pasukan Alforea melawan para monster. Peperangan berlangsung sengit demi meruntuhkan sepasang menara kristal yang dijaga ketat oleh para monster. Kobaran api obor, panah api, dan bola api menerangi kegelapan medan perang di malam hari.

"Hei, 4 prajurit utusan Alkima! Cepat runtuhkan sepasang menara kristal itu!" pekik seorang Panglima perang pasukan Alforea. "Cepatlah, sebelum Tamon Rah bangkit!" lanjutnya.

Nely bergerak lincah menghajar para monster yang menghampirinya. Ia melesak maju menembus pertahanan para monster penjaga menara.

Sedangkan Eophi menggunakan sihir Myrd untuk membentuk dinding sihir. Ia melangkah dengan santai bersama Hel yang menari-nari di sampingnya. Dinding sihir itu berfungsi meredam serangan para monster sehingga Eophi dapat dengan mudah berjalan mendekati menara.

Tasya malah gemetaran menyaksikan para monster yang sedang berperang. Ia bersembunyi di balik punggung Radith ketika para monster menghampirinya.

"Menyingkirlah dariku, kau mengganggu konsentrasiku menghimpun prana!" bentak Radith sambil menyerang para monster dengan sihir petirnya. Ia belum bisa berubah menjadi Vajra karena terganggu oleh ulah Tasya.

"Aku takut, monster-monster itu terlalu tangguh," keluh Tasya.

"Gunakan perisai virtualmu! Lihat, Eophi saja mampu melindungi dirinya sendiri!" cibir Radith.

"Aku bukan penyihir seperti kalian. Lagian ponsel dan powerbank-ku kehabisan daya usai berlatih seharian tadi," kilah Tasya.

Smartphone Tasya tak mampu membentuk perisai pelindung jika daya baterai ponselnya lemah. Apalagi di Alforea tidak tersedia charger untuk mengisi daya ponsel maupun powerbank-nya.

Jika boleh meminta, Radith ingin bisa berdua saja bersama Nely di gurun Alforea. Setidaknya, ia dan Nely dapat saling mengimbangi saat bertarung melawan para monster. Keduanya dapat bahu-membahu dalam pertarungan.

Sayangnya, kenyataan tak sesuai dengan harapan Radith. Ia harus menghadapi para monster sekaligus melindungi Tasya. Benar-benar merepotkan.

Radith memegang smartphone dan powerbank Tasya sejenak. Ia menyalurkan energi listrik untuk mengisi daya kedua gadget tersebut.

"Ponselmu udah full daya sekarang. Sana menjauhlah!" Radith mendorong Tasya.

Seketika perisai virtual kembali aktif menyelubungi Tasya. Para monster yang menyerang Tasya terpental saat menyentuh perisai virtual.  Para monster juga terluka oleh senjatanya sendiri karena efek aura hoki yang terpancar dari smartphone Tasya. Prinsipnya, segala keberuntungan berpihak pada Tasya dan musuhnya ketiban sial dari serangannya sendiri.

Tasya mencoba mengaktifkan proyeksi ruang virtual.  Sebuah pemandangan rawa muncul di hadapannya. Di luar dugaannya, para monster itu terhisap oleh kubangan rawa yang muncul pada proyeksi ruang virtual itu.

Sementara itu, Radith telah menjelma menjadi Vajra. Ia menggunakan pusaka gelang Gandiwa untuk menghalau musuh dengan jurus panah pasopatinya. Para monster jatuh bergelimpangan terkena serangan Vajra.

"Radith, lihat! Bulan merahnya hancur! Alkima mengirim kuda pegasus untuk menolong kita!" teriak Tasya kegirangan.

"Itu Tamon Rah. Menyingkirlah, sembunyi! Dia berbahaya!" pekik Vajra.

Tasya mengabaikan peringatan Radith. Ia menganggap kuda raksasa bersayap dengan hiasan api di sekujur tubuhnya itu adalah pegasus penolong. Tasya justru terkesima melihat penampilan kuda yang gagah dan indah, berbeda dengan para monster buruk rupa yang menyerangnya tadi.

Tamon Rah mengepakkan sayapnya. Melesatkan bola-bola api yang menyerbu pasukan Alforea. Menimbulkan kerusakan parah di pihak Alforea.

Sebuah bola api raksasa meluncur ke arah Tasya. Ia tak sempat menghindar. Ledakan besar terjadi dan menimbulkan kawah besar di sekeliling Tasya.
***

Tamon Rah menjejakkan kakinya di gurun Alforea. Hamparan pasir di sekelilingnya menjadi hangus terkena kobaran api yang berkobar di kakinya. Pegasus raksasa itu melangkah mendekati Tasya di tengah kubangan kawah pasir.

Tamon Rah meringkik dan menyemburkan api dari mulutnya. Semburan api berbelok saat menyentuh perisai virtual Tasya yang makin menipis.

Tasya memproyeksikan ruang virtual untuk menghalau Tamon Rah. Pemandangan pusaran pasir hisap terwujud di hadapan Tasya. Pasir hisap itu perlahan menelan tubuh Tamon Rah.

Tamon Rah berusaha keluar dari pusaran pasir hisap. Ia meringkik dan menyemburkan kobaran api ke segala penjuru. Semburan api Tamon Rah  menimbulkan pusaran api yang membara di sekelilingnya.
***

Sementara itu, Nely menghujami menara kristal dengan tembakan sihirnya berulangkali. Tapi tindakannya sia-sia. Kedua menara itu tetap bergeming biarpun telah diserang dengan berbagai sihir penghancur dari Nely.

Nely makin mendekat ke posisi menara. Tinggal beberapa meter lagi ia dapat menyentuh menara. Tapi kedatangannya malah disambut tembakan beruntun dari puncak menara.

"Argh!" jerit Nely ketika tembakan laser mengenai kakinya. Kakinya serasa terbakar dan tak bisa digerakkan. Nely jatuh tersungkur di hamparan pasir.

Melihat temannya terluka, Eophi memutar haluan kasur terbangnya. Ia menghampiri Nely dan berbagi dinding sihir perlindungan dari serangan tembakan laser yang menghujani mereka.

"Berapa lama lagi dinding sihirmu bisa bertahan?" tanya Nely sembari mengaktifkan sihir pemulihan diri. Ia butuh waktu cukup lama untuk meregenerasi luka di kakinya.

"Entahlah, setidaknya cukup melindungi kita saat ini. Bukankah begitu, Hel?" sahut Eophi.

Hel menggangguk. Naga mungil itu bernyanyi sambil melayang-layang di samping Eophi.
***

Tamon Rah makin beringas melawan pusaran pasir hisap yang telah menelan separuh badannya. Lidah api menyambar-nyambar di sekeliling pusaran. Suara ringkikan Tamon Rah melengking dan menyakitkan telinga setiap makhluk yang mendengarnya. Kedua kaki depannya menendang-nendang tak karuan, berusaha membebaskan sebelah sayapnya yang ditelan pusaran pasir.

Sedangkan Vajra masih sibuk melawan para monster yang mengeroyoknya. Ia mengerahkan segenap kekuatan sihir dari ketiga pusakanya untuk membasmi para monster. Membuatnya nyaris kewalahan dan kehabisan tenaga melawan serangan monster yang tak ada habisnya. Kecemasan menghampiri Vajra saat melihat perisai virtual Tasya makin menipis. Lidah-lidah api tampak makin mendekati Tasya dan nyaris membakarnya.

"Tasya, menyingkir!" teriak Vajra sembari melesatkan panah Pasopati ke tubuh Tamon Rah. Kemudian Vajra berlari mendekati Tasya.

Tasya menoleh ke arah Vajra bersamaan dengan lenyapnya proyeksi ruang virtual. Smartphone Tasya nge-blank karena kepanasan dan terlalu lama digunakan.

Belenggu pasir hisap seketika lenyap. Membuat Tamon Rah kembali bebas melakukan serangan brutalnya. Pegasus api itu makin marah karena terluka oleh serangan panah Pasopati Vajra. Bola-bola api menghujani tanah Alforea dan menghancurkan apapun di sekitarnya.

"Cepatlah, lari!" Vajra menarik tangan Tasya.

"Nggak bisa, kakiku kram," keluh Tasya. Ia meringis menahan nyeri yang merambati kakinya.

"Pegangan, tapi jangan mencekikku!" kata Vajra sambil menggendong Tasya di punggungnya. Kemudian ia melesat pergi menuju menara kembar.

Tamon Rah makin beringas mengejar Vajra. Ia menyerang Vajra dengan semburan api. Sesekali melontarkan bola api dari kepakan sayapnya.

"Sudah kubilang, pegangan! Nanti jatuh!" bentak Vajra ketika Tasya melepas pegangannya.

"Sebentar, aku harus melepas baterai ponselku biar nggak nge-blank lagi," sahut Tasya.
"Sial! Malah lowbat gini. Padahal kita butuh perisai virtual sekarang," gerutu Tasya.

"Gunakan, powerbank-mu. Gitu aja kok repot," kata Vajra.

"Nggak bisa, daya powerbank-ku juga kurang. Butuh pasokan daya listrik lebih," kilah Tasya.

"Huhh, aku kayak charger berjalan buatmu," gerutu Vajra sambil menyalurkan energi listrik ke gadget Tasya.

"Makasih ya," ucap Tasya sambil menepuk bahu Vajra.

Perisai virtual kembali terbentuk. Kali ini lebih kokoh dan mampu membalikkan serangan bola api Tamon Rah. Membuat Tamon Rah jatuh terkena serangan bola apinya sendiri.

Vajra mempercepat larinya saat melihat Nely dan Eophi di dekat menara kembar. Kedatangan Vajra disambut tembakan beruntun dari puncak menara kembar.

Nely meloncat ke arah Vajra. Bermaksud membantu menghalau serangan. Naas, salah satu tembakan laser yang dipantulkan perisai virtual malah  melukai mata Nely.

"Argh! Mataku!" jerit Nely sambil memegangi kedua matanya yang tampak gosong.

Vajra menjatuhkan Tasya dari punggungnya. Ia bergegas menolong Nely. Vajra berlari menuju menara sambil membopong Nely.

Eophi menghampiri Tasya. Ia mengulurkan tangan bermaksud membantu Tasya berdiri. Tapi malah ditepis oleh Tasya.

"Aku bisa sendiri!" ketus Tasya. Wajahnya cemberut.

"Eophi! Cepat kemari! Kami butuh kasurmu!" teriak Vajra.

"Huft, disaat genting gini masih sempat romantisan segala," gerutu Tasya.


Tembakan sinar laser dari puncak menara terhenti saat Tasya dkk telah sampai di bawah menara.

"Bertahanlah, kami akan membantu menyembuhkanmu," Vajra merebahkan Nely di atas kasur Eophi.

"Tenanglah, aku bisa memulihkan diriku sendiri. Cuma butuh waktu," ucap Nely.

"Syukurlah, apa yang bisa kami bantu untuk mempercepat proses penyembuhanmu?" tanya Vajra.

"Nggak ada. Sebaiknya kalian hancurkan kedua menara itu secepatnya," jawab Nely.

"Dengan apa? Menara itu tidak mempan oleh serangan sihirmu tadi," sela Eophi.

"Serangan non-sihir, tapi peluruku hanya sisa 2 biji sedangkan menara kembar itu harus dihancurkan secara bersamaan," jelas Nely. "Dan akurasiku menurun drastis karena mataku terluka."

"Lihat! Tamon Rah akan menyerang lagi!" jerit Tasya. Perisai virtualnya membesar dan sanggup menyelubungi empat orang. Bola api Tamon Rah kembali terpantul dan menjadi bumerang yang menyerang balik Tamon Rah.

"Tasya, apa aura keberuntunganmu berfungsi dengan baik?" tanya Vajra.

"Maksudmu?" sahut Tasya tak paham.

"Kamu pernah main game tembak-tembakan ya, kan?" kata Vajra.

"Itu ide konyol, Vajra!" sela Nely. "Tasya takkan bisa melakukannya sekalipun dewi fortuna menaunginya." Nely bangkit dan duduk di atas kasur dengan mata masih terpejam.

"Tak ada salahnya dicoba," celetuk Eophi.

"Nah, Eophi sepakat denganku. Tiga lawan satu. Ayolah beri Tasya kesempatan meminjam senapanmu. Hanya dia yang tak menggunakan sihir," bujuk Vajra.

"Gimana kalo gagal? Apa rencana selanjutnya?" tanya Nely.

"Kita akan merobohkan menara itu secara manual, dengan sekuat tenaga," Vajra menyingsingkan lengan bajunya.

"Baiklah, aku turuti mau kalian. Tasya, bantu aku menembak kedua menara itu. Semoga pancaran aura keberuntunganmu memang berguna," kata Nely.

Tasya menuruti permintaan Nely. Ia membantu Nely membidik menara kristal.

Nely menarik pelatuk dan dua butir peluru ditembakkan secara bersamaan. Keduanya melesat menuju puncak menara kembar. Tepat sasaran mengenai kedua inti kristal kedua menara. Dan seketika menara kembar itu hancur secara bersamaan.

Ledakan besar muncul di sekeliling mereka. Pusaran raksasa muncul dan menelan Tamon Rah. Kemudian pusaran itu membumbung tinggi ke angkasa. Berputar-putar dan menghisap debu-debu kosmik di sekelilingnya. Membentuk bulatan raksasa serupa bulan yang tak lain Alkima. Tamon Rah telah kembali tersegel.

Tasya dkk berlindung dalam selubung perisai virtual. Keempatnya selamat dan sedang terlelap di atas kasur Eophi. Kelelahan membuat mereka tidur berjajar mirip ikan pindang dalam keranjang.

Mereka berempat terhisap oleh portal yang mengantarkan mereka ke dimensi berikutnya. Turnamen Battle of Realms masih berlanjut, petualangan di Alforea baru saja dimulai.

***-Sekian-***

17 comments:

  1. Saatnya review *tabuh drum*

    Narasinya bagus, saya lancar sekali bacanya. Walau ada beberapa pilihan kata yg bikin ngernyit (tp itu bukan masalah).

    Tokoh Tasya jga keliatan bedanya. Cma kayaknya Nely dan Eophi kurang tereksplor.

    Interaksinya lumayan. Cukup acceptable.

    Cma adegan pertarungannya malah pada ribut sendiri. Kebanyakan dialog jd latar perangnya kurang berasa. Udh gitu nyampe menaranya kecepetan. Kelompoknya juga ga ada yg luka serius. Pdhl narasi dah asik, tp kurang sekali di adegan battlenya.

    Jadi saya titip poin 7 tp tambah satu ding karena narasinya ga bikin saya maju-mundurin layar.

    Total: 8

    -Dari Ahran. Tanri seni korusun ^_^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah berkenan membaca dan memberikan review. :) Iya, aku masih belum terbiasa menuliskan adegan battle. Rasanya nggak tega menyakiti para karakternya. :)

      Delete
  2. Hmm..

    Kalau cuma bilang cerita ini secara teknis, bisa dinilai rapi. Tapi mungkin masih agak terlalu kaku dalam gaya cerita, dan dominasi dialog ini bikin ceritanya kayak ga punya kesempatan buat bernarasi dan masih agak keliatan kayak naskah drama jadinya.

    Interaksinya emang lumayan asik, tapi ga gitu banyak momen yang memorable.

    Dari saya 6

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah berkenan membaca. :) Makasih atas review-nya, aku akan belajar menulis lagi biar nggak kaku.

      Delete
  3. Oke, kali ini saya suruh Radith aja yang komentar yah.

    Radith sez, "Haha, dari segi narasi dramatis, saya sempat ketawa2 sendiri waktu tahu kalau saya ini jadi 'power bank' berjalan. Ponsel Tasya itu xtra canggih, bahkan mungkin lebih ajib dari ponsel di game DreadOut karya anak bangsa :p

    Sekalian saya minta maaf ya tadi udah jatuhin Tasya, berhubung saya memang rada kuper dan nggak ngerti cara memperlakukan gadis2 dengan lebih "gentle". Abis bangun dari kasurnya Eophi aku traktir gudeg deh.

    Oya saya lumayan maklum aja deh kalau kamu memang kelihatannya blm biasa koreografikan adegan perang, dan kelihatannya super kepepet di akhir jadi bukannya pakai cara Eophi jadi kura2 raksasa (di entrinya) dan Vajra memancing Tamon Rah agar menabrak menara - which is nyama dengan entri masing2 donk :p

    Jadi, sebagai terima kasih karena udah ajak2 aku, ada bonus doorprize nih. Jadi nilai totalnya 7+1=8. Makasih dan sampai ketemu di dimensi selanjutnya yah :p "

    Shalom dari Raditya Damian a.k.a. Vajra
    Author: Andry Chang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah berkenan membaca dan memberikan review. :) Maaf jika caraku menuliskan sosok Vajra kurang sesuai dengan charsheet-nya.

      Delete
    2. Oh gpp, justru sikap Vajra lumayan wajar spt Shikamaru di Naruto, nggak mau terlalu repot apalagi didebat. Justru eksplorasinya ok, senang saya kalau tahu cara penyampaian saya di charsheet mudah dimengerti.

      Delete
  4. Kalau tim Vajra di entri saya juga "kagetan" seperti ini, Vajra pasti bakal garuk2 kepala saking frustrasinya.

    ReplyDelete
  5. Tasya ^^)/ bonjour~

    Langsung nilai dulu.

    Nilai 8.

    Tulisan rapi dan apa ini emang singkat atau enak aja bacanya dari awal sampai akhir? (ga copy ke word)

    Saya suka pengenalan party, fun. Tapi apa emang ga dijelasin ya gimana mereka ketemunya? Apa emang sengaja?

    Pas battle juga mungkin harus lebih sabar lagi nulisnya lain kali.

    Soal pemakaian Eophi... ya sesuai tema pengenalan yang ceria, Eophi di sini “ceria” xD favorit saya waktu Eophi pukul Tasya, dan efeknya nihil. Yap, nggak OOC.

    Nilai minus mungkin cuma ada di bagian-bagian battle.

    Ok, that’s it~

    Oc : Eophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai Eophi, makasih udah mampir. Party terbentuk karena efek aura hoki Tasya. Jadinya terpilih sosok petarung Vajra dan Nely yang tangguh. Sedangkan Eophi adalah sosok penyeimbang agar Tasya tidak terlihat terlalu lemah. Eophi juga mengingatkan Tasya pada Kak Anjar, tetangganya yang bikin Tasya kesengsem. Tapi Tasya tidak bisa memegang Kak Anjar sembarangan karena Kak Anjar rapuh. (Anjar - Rafa Grafito - Tasya kelak bergabung dalam satu cerita utuh di luar BoR)

      Delete
  6. Kuis Hunter. saya jadi inget kakak tingkat di jaman kuliah dulu. :D

    Saya suka di bagian Tasya ngajak selfie sebelum bertarung. Itu menghibur ^_^
    Oke, cerita ini menarik dan ‘berbeda’ a good different, kalau kata Anna. :D
    Iya, penuh dengan dialog-dialog yang menggambarkan tiap-tiap kejadian. Bagi beberapa orang, banyaknya dialog mungkin menggangu, tapi bagi saya, sebuah cerita tidak harus disampaikan dengan narasi ataupun deskripsi, kadang menyampaikan cerita melalui dialog juga asyik. Apalagi, dialognya menggambarkan jelas karakter masing-masing OC. Saya suka. ^_^

    Saya juga suka dengan keadaan keempat Maid, ruang berlatih, dan kebersamaan keempat OC, karena membuat saya teringat kembali masa SMA dulu waktu dikarantina sebelum ikut JUMNAS di Palembang XD *malah nostalgila* hehehe, maaf.

    Pembagian-pembagian ceritanya juga oke. Mulai dari perkenalan, hingga pertarungan sesungguhnya. Jadi pembaca lebih terarah, sehingga mudah memahaminya. Ceritanya juga nggak panjang-panjang amat, jadi berasa betah aja membacanya. ^_^

    Saya juga (lagi-lagi) suka sama pembagian karakter yang dijelaskan melauli dialog-dialog. Terutama adegan di mana tasya kegirangan ketika ada “Pegasus” yang menyelamatkan mereka. Lalu lagi-lagi, Radith menjawabnya dengan ketus. Juga, adegan Eophi yang ngelindungi Nelly ketika kakinya terluka sama tembakan menara. Like.

    Cuma, saya tidak begitu suka di bagian Tasya menolak uluran tangan Eophi. Kenapa, Tasya? Padahal maksud Eophi baik. XD terus, saya merasa itu bukanlah adegan romance, tapi di dialognya menggambarkan seperti itu “masih sempat romantisan segala” begitu kalo nggak salah gerutu Tasya. Hehehe, maaf. Saya juga kurang suka dengan endingnya yang begitu saja. Kenapa bukan Vajra saja sih yang menghancurkan dua menaranya? Kita tahu, kekuatan petir milik Vajra bias diarahkan ke sana.

    Oke, secara keseluruhan saya menyukai cerita ini, nilai 8 untuk Tasya.

    Salam, Ibon.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih telah berkenan membaca :) . Untuk bagian romance memang sengaja dihilangkan karena tidak cukup motif untuk memunculkan romantisme di antara mereka. Sebenarnya Tasya mulai kagum sama Vajra tapi dia tidak suka dengan sikap ketus Vajra. Tasya menolak uluran tangan Eophi karena kulit pucat Eophi mirip dengan kondisinya Kak Anjar, Tasya takut jika cengkraman tangannya akan menimbulkan memar kebiruan di tangan Eophi. :)

      Delete
  7. Tasya ini adalah satu dari dua pengguna HP di BoR 5 ini. Ia memakai HP android, sedangkan pengguna HP satunya memakai Nokia 3310. Saya bisa membayangkan pertarungan hebat kalau keduanya clash suatu saat nanti!

    Move on to review...

    Ada beberapa kekurangan dalam cerita ini, salah satunya adalah motif para peserta satu tim dengan Tasya. Tidak ada penjelasan apapun soal asal mula tim ini, atau minimal sebuah dialog singkat yang memberi hint seperti “Aku tidak punya pilihan lain, timnya di acak!”.

    Kekurangan lainnya mungkin karena cerita ini terlalu singkat, hanya terdiri atas kurang lebih 3000 kata. Masih ada sisa 7000 kata untuk peningkatan, entah mau di tambah lawakan, mau tambah cerita Tasya keliling kota Despera, cameo OC lain(buat narik penulisnya :D) atau bahkan menarasikan setting tempat dan waktu lebih banyak.

    Nilai : 7/10

    OC : Renggo Sina.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih telah berkenan membaca dan memberikan review. Tim terbentuk karena efek aura hoki, Vajra dan Nely yang tangguh untuk menjadi penyerang, serta Eophi sebagai penyeimbang. Ceritanya singkat karena aku telanjur keliru menafsirkan istilah 10.000k = 10.000 caracter with space alias seukuran cerpen padahal maksudnya 10ribu kata. Agar pembaca tidak kelelahan membaca ceritaku dalam sekali duduk. :)

      Delete
  8. Wah, salah satu Entri pendek lagi.

    Tapi detail cerita yang cukup bagus walau cerita ini terhitung sangat pendek.

    Yang saya sayangkan sih ya itu, karena kependekan, jadinya sayang aja gitu. Maksud saya, ada space yang masih di-eksplor lagi. Mungkin pemakaian kekuatannya Tasya dalam pertarungan, atau interaksi yang lebih diperkuat lagi.

    7/10 dari saya untuk nilai akhir.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  9. Tasya punya unlimited source of listrik
    XD


    Saya nggak bisa komentar soal teknis dan sebagainya, menurutku tutur penceritaanya udah asyik untuk diikuti.
    Cuma mungkin minus di bagiani deskripsi sama narasi latar kali ya. Soalnya ini banyak banget dialog yang dilempar, bahkan di tengah battle pun masih sempat ngeracau~

    Soal plot, saya merasa plot entry ini terasa... apa ya. Kurang sesuatu yang berkesan. Entah karena foreshadowing yang kurang (itu para OC di awal langsung ditumpahin aja tanpa pengenalan yang cukup), terus lanjut ke gebuk-gebuk (sambil misuh-misuh), terus udah, menaranya ditembak Nely.

    Ke depannya mungkin bisa dipertimbangkan buat merancang beberapa twist sepanjang cerita, contohnya kayak om PO gituh, itu si Tamon Raah malah dia jadikan teman, terus di entry saya, pasukan musuh malah jadi temen juga :v
    Mungkin Marowati bisa bikin twist kalo si Tamon Raah ternyata adalah bapaknya Tasya yang telah lama hilang (loh?)



    FYI, Nely gak bisa nembak dua peluru sekaligus, senapan dia cuma senapan biasa yang butuh charging listrik, dan kebetulan aja tubuh dia kayak belut listrik, bisa ngeluarin sengatan listrik. :v
    Nely juga lebah, gak bisa gebuk-gebuk fisik secara langsung, gerakannya lamban gak bisa lari serampangan buat ngebabi buta kayak Dinasty Warrior :v

    Tapi bodo amat sama OOC, saya baca Nely muncul di sini aja udah bikin saya senang. :D


    Point : 7

    ReplyDelete