14.5.15

[PRELIMINARY] EBONNE - PERMAINAN DALAM BOTOL

Ebonne - Permainan dalam Botol
Oleh Shin Ar



Di dalam lintasan antar dimensi itu, Ibon memejamkan mata dengan kepala mengahadap ke bawah dan kedua tangan dilipat di atas dada. Dia bukannya tidak terbiasa dengan warna-warna terang pada dinding-dinding lintasan yang tidak pernah berhenti berkilau itu, melainkan sedang merenungi kembali keberadaannya kini. Bagaimana mulanya dia menjadi tertarik—atau prihatin—dengan tumbuhan kayu hitam yang populasinya semakin berkurang, hingga berinisiatif untuk membudidayakannya agar tidak punah. Juga, bagaimana tumbuhan-tumbuhan hasil budidayanya itu tiba-tiba lenyap secara misterius—seluruhnya—dan hanya menyisakan lubang yang mirip bekas galian sedalam 10 cm dengan diameter 100 Ha. Lalu, tentang kesdihan hatinya menemukan kenyataan bahwa kayu hitam di Dataran Tavao kini "terpaksa punah". Sesuatu yang membuat dia begitu terpukul hingga akhirnya mengadu kepada semesta. Lalu oleh semesta, dia kemudian berubah menjadi manusia setengah tumbuhan yang dibekali senjata berupa Tava dan Ili.


Hingga ketika alas di mana kakinya berpijak itu berhenti bergerak, barulah dia mengangkat kepala. Sekelilingnya kini berubah. Bukan lagi dinding-dinding kelap-kelip yang memancarkan bermacam warna melainkan tanah lapang dengan beberapa orang berdiri di sekitarnya, berbicara satu sama lain. Berisik.

Hampir saja Ibon menutupi lubang telinganya, jika tidak terdengar suara seorang perempuan yang berada tidak jauh dari tempat dia berdiri. Meski kalimat-kalimat yang diucapkan perempuan itu tidak begitu jelas, Ibon tetap bersyukur, sebab setidaknya suara barusan dapat membuat sekelilingnya sedikit lebih tenang.

Namun, ketenangan itu dengan segera kembali lagi menjadi riuh ketika seorang lelaki tua berbicara menggantikan perempuan tadi, mengumumkan sebuah instruksi tentang bagaimana cara untuk melanjutkan permainan ini.

 Permainan ... benar. Alasan Ibon berada di sini setelah melewati "terowongan berjalan" tadi adalah untuk menemukan kembali kayu hitam yang "terpaksa punah" di Dataran Tavao, tempat Ibon mengembangbiakkan tanaman langka yang baru dapat dipanen setelah berusia 30 – 40 tahun tersebut. 

Kalimat-kalimat lelaki tua barusan, membuat Ibon kembali teringat tentang bagaimana dirinya menemukan sebuah kertas di atas punggung kaki—setelah beberapa detik melayang di udara, pada tahun kedua pencariannya. Kertas yang berisi undangan untuk terlibat pada sebuah permainan. Yang entah mengapa, firasat Ibon mengatakan bahwa permainan tersebutlah yang akan membawanya pada keberadaan tumbuhan kayu hitam yang menghilang secara misterius itu.

"Hai!" 

Ibon menengok ke sebelah, tempat di mana suara barusan berasal. Seorang gadis berambut ikal sebahu, mengenakan pakaian berwarna ungu yang menyambung dengan penutup kepala, tengah tersenyum kepadanya. Ibon membalas senyuman gadis tersebut kemudian bertanya, "Mencari teman bermain?"

"Teman bermain. Kedengaran aneh sih, tapi tak masalah jika kau lebih suka dengan sebutan itu ..., iya!" respons Gadis bersepatu boot itu.

"Yakin?" 

"Maksudnya?" 

"Hanya saya sama kamu."

"Bagaiman kalau bertiga denganku?"

Ibon dan gadis yang belum dia ketahui namanya itu pun serempak menengok ke asal suara. Kali ini seorang gadis bermata hijau dengan rambut pendek berwarna merah yang memakai baju terusan berwarna hijau yang panjangnya hanya lima jari di atas lutut, dengan sepatu kets dan kaos kaki putih setinggi lutut, tersenyum kepada mereka berdua, "Boleh, kan?" tanyanya sambil melayangkan tangan dengan jari telunjuk dan jari tengah membentuk huruf V.

"Baik!" jawab Ibon, bersamaan dengan kata "oke" yang keluar dari bibir gadis di sebelahnya.

Selanjutnya, kedua gadis yang sama-sama memiliki rambut berwarna merah itu sudah asyik mengobrol satu sama lain. Saling menceritakan bagaimana awalnya mereka bisa sampai di tempat ini. sedang Ibon, lebih memilih diam dan mendengarkan pembicaraan keduanya. Hanya sesekali  dia mengangguk, menggeleng, atau sekadar tersenyum, ketika salah satu dari kedua gadis itu bertanya kepadanya. 

Hingga ketika hari mulai gelap, datanglah seorang lelaki berpakaian ketat dengan make-up tebal di wajahnya. 

"Yey, yey, yey ini setim, khannn?" ucap orang tadi sambil melayangkan telunjuk ke wajah Ibon dan kedua gadis di sebelahnya secara bergantian.

"Benar, Pak," jawab gadis bersepatu boot.

"What! Pak? Pangggil eyke Sis Yuna!" seru lelaki berpakaian ketat tadi. Jemarinya menari dengan lentik di udara.

Sis Yuna lantas membuka sebuah benda yang mirip seperti botol. Dari dalam botol itu keluar cahaya kebiruan yang lantas menarik Ibon dan kedua temannya ke dalam. Saat itu permainan dimulai. Mereka bertiga harus bertahan hidup dari serangan ribuan monster lalu menghancurkan dua menara yang berada di antara kastil secara bersamaan.

***

Tempat itu berupa gurun berbatu dengan banyak debu beterbangan yang mengganggu penciuman. Ibon dan kedua temannya kini berada di antara lima ratus prajurit. Mereka berhadapan dengan ribuan monster yang wujudnya  amat beragam. 

Ibon masih ternganga melihat apa yang ada di hadapan ketika sebuah pisau melayang menuju wajahnya.

"Hei, awas!" seru gadis bertudung ungu, sambil merapalkan sesuatu sehingga terbentuklah semacam tirai cahaya yang mirip aurora ke tubuh Ibon yang membuatnya terlindungi dari tebasan pisau barusan.

Ibon berterima kasih. 

Permainan ini adalah tentang hidup atau mati, dia harusnya lebih mawas lagi. Salah-salah dia bisa berakhir di sini tanpa sempat lagi mengembalikan tanaman kayu hitam ke Dataran Tavao. Kali ini sangat tidak memungkinkan baginya menggunakan Ili (gelembung getah yang bisa membuat sasarannya linglung selama 10 detik) bisa-bisa efek yang ditimbulkan malah  menyasar ke prajurit Alforea atau kedua temannya, dan tentu hal itu sama sekali tidak menguntungkan. Saat ini dia terpaksa harus bertarung hanya dengan mengandalkan Tava (rambutnya yang berbentuk daun, jika dilepaskan akan menajam pada bagian ujung-ujungnya, bila mengenai sasaran akan mengakibatkan efek luka sabetan sedalam 18 mm) dan serat getah dari tubuhnya saja.

Sekitar dua meter di sebelah Ibon, gadis bersepatu boot tengah berhadapaan dengan monster  berwarna hijau lumut, berotot  besar dengan duri-duri di seluruh tubuhnya yang terus-terusan ditembakkan ke arah gadis tersebut. Beruntung gadis itu memiliki semacam perisai cahaya, yang dapat menepis serangan tembakan duri dari monster di depannya. Jadi dia tidak harus kerepotan dengan duri yang ditembbakkan ke arahnya. Dia hanya harus menangkis pukulan dari monster tersebut, membuatnya lelah lalu melumpuhkannya dengan Valgus (cambuk cahaya yang dapat dibentuk menyerupai pedang).

Tidak jauh dari gadis bersepartu boot berada, nampaklah si gadis periang dengan  kaus kaki putih selutut tengah melawan monster berbentuk mirip mata manusia di mana, pada setiap sisinya terdapat tentakel-tentakel berlendir berjumlah delapan yang masing-masingnya dapat menembakkan zat berbeda-beda ke arah lawan. Gadis bermata hijau itu menangkis semua serangan dengan cara melenturkan tubuhnya. Dia melayangkan tinju ke arah monster berbentuk mata tadi berulang-ulang kali dengan kecepatan yang semakin lama semakin ditingkatkan.

Ibon sendiri tengah berhadapan dengan monster berbalut kain putih menyerupai pita dengan lebar sekitar 6 cm dan panjang yang tidak diketahui karena menutupi seluruh tubuh kecuali mata. pita kain berwarna putih itulah yang kini melilit kaki Ibon. Ibon segera menarik Tava dari kepalanya lantas menebas lilitan kain tersebut. Serta merta, lilitan kain tertarik kembali ke tubuh sang monster. Tetapi, tidak berapa lama kemudian, keluar lagi satu lilitan kain dari tubuh monster tersebut, yang bergerak ke arah lengan kanan Ibon. Buru-buru ibon menembakkan serat getah untuk mengunci pergerakan pita kain dari monster di depannya itu. Namun, lagi-lagi, monster itu kembali mengeluarkan pita lainnya. ibon lantas mengeluarkan berlembar-lembar Tava dari kepala kemudian melemparkannya ke seluruh badan yang berbalut kain itu, membuat satu-persatu pita kain yang menutupi monster tersebut robek dan akhirnya lenyap. 

Belum selesai Ibon dengan monster di depannya, tiba-tiba dari langit nampak Bulan Alkima mendekat ke arah medan pertarungan. Lalu, pada jarak sekitar 50 meter di atas mereka, bulan itu meledak. Dari hasil ledakannya  kemudian muncul satu monster baru. Monster kuda bersayap dan bertanduk, yang dari sayapnya muncul bola api raksasa setiap kurang dari lima menit sekali. Ini berbahaya jika Ibon atau Ili sampai terbakar. Maka Ibon pun memilih menghindar dan membiarkan kedua temannya yang mengurusi  kuda bertanduk tersebut.

Serangan bola api raksasa barusan berhasil mematikan monster di hadapan Ibon, dan beberapa monster dan juga tentara di depannya. Beruntung Ibon dengan cepat melompat ke belakang sehingga dia hanya merasakan efek radiasi dari pancaran bola api raksasa itu saja. 

Serangan bola api yang bertubi-tubi perlahan melenyapkan beberapa monster dan prajurit yang sejak awal menghalangi pandangan. Dengan musnahnya beberapa dari mereka membuat tower yang terletak di antara bekas-bekas reruntuhan kastil yang telah hancur, terlihat semakin jelas. Tower pertama (berada di sisi kanan) merupakan bangunan setinggi  18 meter, dengan sisi kiri dan kanannya melengkung ke luar, menyerupai lensa cembung. Sedangkan tower kedua (berjarak sekitar 60 m dari tower pertama, berada di sisi kiri) merupakan bangunan yang memiliki tinggi sama hanya saja, sisi kanan dan kirinya melengkung ke dalam, menyerupai lensa cekung. 

Ibon terus bergerak menuju kedua tower tersebut. Tidak mudah untuk tiba di depan tower, karena dia harus berhadapan dengan serangan beberapa monster yang bertubi-tubi. Belum lagi dirinya yang harus melompat dan berpindah-pindah agar terhindar dari bola api raksasa yang ditembakkan kuda bersayap di atasnya. ditambah, dia yang hanya dapat mengandalkan serangan Tava dan juga serat getah saja untuk bertahan hidup.

Sementara Ibon sibuk menghadapi monster-monster, gadis bersepatu boot dengan tudung berwarna ungu sudah berada di sampingnya. 

"Hei, lindungi aku dari serangan monster!" seru gadis tersebut ketika melewati Ibon. 

Mereka berdua kemudian bersama-sama menuju samping kanan menara kristal yang berbentuk lensa cembung. 

Sementara, jauh di arah selatan, gadis bersepatu kets dengan kelenturan tubuhnya berulang kali mengarahkan tinjunya kepada kuda raksasa bersayap di atasnya. Kali ini, kepalan tinjunya jauh lebih besar dari tubuhnya sendiri. Mungkin karena itu kecepatannya tidak sama seperti ketika dia menghadapi monster mata bertentakel sebelumnya. Kali ini gerakannya sedikit lambat. Tinjunya barusan berhasil menjatuhkan sang kuda raksasa, namun tidak lama setelahnya kuda itu sudah bangkit kembali. Merepotkan sekali, gerutu gadis bermata hijau itu.

Bersamaan dengan itu, Ibon dan gadis bersepatu boot sudah berada di samping kanan menara cembung. Di sana monsternya lebih beragam. Jika di tempat sebelumnya mereka hanya berhadapan dengan monster yang menyerupai manusia, di tempat itu monsternya lebih mirip penghuni kebun binatang. 

Ibon pun bergerak cepat, menghalau serangan monster-monster dengan serat getah yang berasal dari tangannya, dia harus melindungi gadis tadi, sesuai permintaan.  Setiap ada monster yang bergerak medekat, Ibon langsung menembbakkan serat getah ke arah kaki sehingga mengunci pergerakan lawan, meski kuncian itu tidak bertahan lama, setidaknya dapat membuat Ibon leluasa melemparkan Tava ke arah mereka. 

Tidak jauh dari tempat Ibon berdiri, gadis sepatu boot sudah bersiap mengambil ancang-ancang, di tangannya terdapat sebuah pedang yang memancarkan cahaya. Pancaran cahaya dari pedang tersebut kemudian diarahkan ke tengah lengkungan menara. Menara yang berupa kristal berbentuk lensa cembung itu otomatis membiaskan cahaya yang mengenainya. Cara ini langsung terpikirkan oleh gadis bersepatu boot tadi begitu melihat bentuk menara yang menyerupai lensa cembung dan lensa cekung itu. Cahaya yang dia arahkan ke pusat lengkungan menara pertama kemudian menembus ke menara kedua. Beberapa menit setelahnya, kedua menara tersebut langsung meledak secara bersamaan.

Dengan hancurnya menara, maka monster-monster di gurun berbatu itu juga musnah. Sedangkan kuda bersayap tadi kembali tersegel dalam Alkima. 

"Bagaimana kau melakukannya?" tanya Ibon, merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan, di mana gadis itu hanya melakukan gerakan sederhana tapi efeknya luar biasa. 

"Aku berusaha memanfaatkan sifat lensa cembung yang konvergen (mengumpulkan cahaya) dan sifat lensa cekung yang divergen (menyebarkan cahaya). Dengan mengatur jarak sumber cahaya, maka bayangan cahaya yang dihasilkan dari pembiasan akan berkumpul tepat pada menara yang berbentuk lensa cekung. Ketika cahaya mengumpul mengenai lensa cekung, maka cahaya akan menyebar, karena sifat divergen yang dimiliki lensa cekung tadi. Dengan begitu kedua menara akan saling menghancurkan satu sama lain." Gadis bersepatu boot itu memberi penjelasan. 

"Hebat!" teriak gadis satunya, yang entah sejak kapan berada di antara mereka berdua. 

Selanjutnya, muncul sebuah portal bercahaya kebiruan, berbentuk lingkaran yang semakin ke depan diameternya semakin membesar. Setelah melewati portal tersebut, ketiganya pun telah berada kembali di tempat semula, sebelum mereka terisap ke dalam botol.

"Omong-omong, saya belum tahu nama kalian," tanya Ibon pada kedua gadis berambut sama di depannya.

"Aku F, dan dia Lynn," jelas gadis bermata hijau yang kemudian menunjuk gadis bersepatu boot di sebelahnya.

"Kau sendiri?" tanya gadis bersepatu boot.

"Panggil saya Ibon."


Palu, Mei 2015






17 comments:

  1. To the point.

    9 untuk teknis
    -2 karena kependekan, minim deskripsi. Bahkan tidak ada maid-nya, dan pertempuran di gurun itu ,,, sepertinya sepi sekali ya. Mana tentaranya? Masa cuma disebut sambil lalu.
    +1 karena paragraf yang mengalir
    -1 pembentukan tim yang tidak natural
    -1 karakter yg 1 D

    Poin: 6, tp saya tambain 1 karena suatu alasan. Secara teknis udah bagus, kok potensi itu malah disia-siakan gitu aja dgn bikin entry super pendek begini? >_<

    Jadi 7.

    -Dari Ahran-

    ReplyDelete
  2. Hiks, gara-gara kependekan jadi minus 2 (kayak ukuran kacamata saya saja, hehehe) padahal ini tulisan terpanjang saya, Mbak T_T hiks... tapi, terima kasih atas penilaiannya. kedepannya Insya Allah saya usahakan perbanyak lagi deskripsinya ^_^ (Kalau lolos) XD

    ReplyDelete
  3. Oioioi, terburu2 yah?
    Point plus dari saya hanya spesifikasi2 teknis dlm battle yang "scientifically correct". Sisanya, segalanya terkesan numpang lewat seolah2 ini darmawisata ilmiah aja, bukan battle.

    Dan demi kenyamanan pembaca, gpp lah party kenalan dulu di awal, jadi tahu kalau Ibon ajak F dan Liona. Dan mereka berangkatnya dari Alforea. Kalau dibikin canon, bukannya jadinya Alforea kayak dianggap nggak ada?

    Score: 5+1=6
    OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sip, terima kasih sudah memberi nilai. ^_^ hihihi. duhhh ... dapet 6 >,<

      Delete
  4. Ini feelnya datar banget

    Mungkin emang kebebasan penulis buat ga nyebut nama, tapi bikin saya bertanya" juga ini siapa sebenernya OC yang dipake

    Masih terlalu 'sekedar nyebut' (tell) alih" make narasi buat bercerita. Secara keseluruhan agak kaku, dan saya ga dapet grip dari masing" karakter di sini ataupun battlenya

    Dan agaknya terlalu singkat. Bukan berarti ga boleh pendek", tapi buat saya rasanya kurang ngenyangin. Kalo tulisan ini diibaratin makanan, serasa cuma dikasih camilan

    Dari saya 5

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. huaaa ... 5! >.<

      terima kasih reviewnya :) saya banyak belajar dari sini :D

      Delete
  5. Sugarcoat no score: 8

    Ibon ini Oc unik tapi kenapa authornya pelit words? :’(

    Jujur ini singkat, dan kurang “berasa”.

    Selain Ibon, agak bingung sama Oc lain.

    Keseluruhan ceritanya agak beda (punya banget potensi perfek padahal!) dan sangat langsung.

    Yang bikin saya suka, dan semuanya, pasti cara buat robohin dua menara. Seandainya bagian lain dapet perencanaan serupa... entri Ibon ini bakal witty banget :D)

    Plus lagi, dari teknik penulisan yang ngalir dan rapi, meski paragrafnya agak kegemukan, saya tetep manage buat sampai di akhir tanpa kesulitan berarti.

    Semoga kita ketemu lagi di babak selanjutnya ya ^^)9

    Oc : Eophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Eophy ^_^

      sepertinya kita nggak bakal ketemu :'( hehehe,
      sekali lagi, terima kasih, Reviewnya :)

      Delete
  6. "Mi, Authornya kak Adhy, namanya Shin juga bukan?"
    "Kayaknya iya deh Fell." Akupun menatap bingug pada part nama author. Terasa sangat membingungkan. Namanya sama begitu.
    "Hmm, apa ini Shin yang sama?"
    "Entah...lah. Aku juga kurang tahu."
    "Oh iya, kenapa mereka seperti tidak berekspresi ya, Mmi?"
    "Aku juga merasakan hal yang sama. Interaksinya kurang hidup ya, Fell?"
    "Ho-oh..."
    "Eh tunggu, Fell, kenapa kita jadi akrab begini?"
    "Entahlah~" Dan Gadis Lintah kecil itu kembali ke kamarnya. Mungkin sudah ngantuk. Bagaimanapun dia masih kecil.

    ***

    Halo Shin Ar xD salam kenal dulu untuk pertama-tama. Apakah kita sudah berinteraksi sebelumnya? Sepertinya belum ya? xD

    Oke Shin mungkin Review Umi bisa kamu jadiin catatan untuk cerita-cerita kamu ke depannya (mudah-mudahan bisa nulis yang banyak lagi xD )

    Oh iya, untuk tulisan terpanjang pertama kamu, umi kasih jempol deh (jempol aja ya, jangan nilai xD ehehehe)

    Catatan pertama dari Umi adalah :
    - Shin, plot/alur dari cerita kamu ini cukup bagus loh sebenarnya.
    - Sayang, kamu kurang masukin gesture dari anak-anak (a.k.a OC) yang kamu pake di ceritamu ini.
    - Kamu juga kurang bikin interaksi di antara mereka. Interaksi(dialog) ini penting loh! Walaupun ini Battle story, interaksi antar OC bisa bikin kita(pembaca) ngerasain apa aja yang ada di kepala OC. Interaksi ini bisa berupa dialog atau monolog(bahasa batin si OC)

    Misal :
    "Teman bermain. Kedengaran aneh sih, tapi tak masalah jika kau lebih suka dengan sebutan itu," gadis bersepatu boot itu terdiam sejenak sebelum memberikan responnya terhadap ajakan ibon," iya!"

    "Yakin?" <--- Kasih gesture, di sini Ibon bergaya seperti apa? bersikap seperti apa? apa dia menatap si Gadis Boot dengan menggodakah, apa dia menata gadis Boot dengan alis dinaikkan sebelah atau berkacak pinggang.

    Kenapa dia mudah sekali percaya padaku? Batin Ibon dalam hati.<< ini monolognya Ibon *di aslinya sih ga ada XD.

    Dan Umi suka cara kamu ngembangin cerita kamu xD keep Writting ya xD

    ***

    "Fell?"
    "Aku mau permen~~ Aku mau permen~~"
    "Nih anak, tidur tapi ngigau. Ngigaunya permen pula, dasar!" Aku tertawa sambil menyelimuti tubuhnya yang terbuka. Sepertinya besok aku harus membelikannya piyama yang baru.

    ***

    The Fun : 3.0/5.0
    Karakterisasi : 1.0/3.0
    Alur : 2.0/2.0
    Total : 6.0/10.0

    ***
    Maria Fellas - Bocah Lintah yang sedang tertidur

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Fell ... revienya lengkappp banget.. sayangnya nggak ada remedial, seperti ulangan harian di sekolah :D

      hehehe :) salam kenal, Fell ... ^_^

      Delete
  7. Ga pakai pembukaan, tapi sebenernya aku ga masalah juga sih, habis suda mulai bosan juga ama scene pembukaan setelah baca hal itu berulang-ulang di puluhan entry. Yang menurutku agak masalah ini karakterisasi rekan Ebonnya kurang berasa. Sementara gaya bertuturnya menurutku ada suatu keunikan, cuma kadang terasa berat untuk dibaca, apalagi pas bagian battle, kurang ngalir gitu. Terakhir saya masi bingung konsep cermin cekung-cembung dalam menghancurkannya. ^^

    Nilai : 6

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Zhaahir :) hiks, membingungkan ya? hohoho :D maaf. :( ke depannya saya usahakan lebih baik lagi... Insya Allah .. ^_^

      Delete
  8. Pagi, Ibon. Perkenalan tokoh di akhir cerita memungkinkan pembaca menjadi penasaran dan akan membaca cerita sampai akhir. Sayangnya, di sini terkesan membuat cerita menjadi rancu karena menebak-nebak nama tokoh yang sedang beraksi. Penggambaran Ibon seperti sosok yang sedang kesepian. Penuturan cerita mengalir lancar, adegan pertarungan cukup bagus walaupun terkesan teoristis. (Maafkan Tasya yang kurang memperhatikan pelajaran sekolah) Ceritanya singkat dan mudah dipahami.

    Nilai: 8
    (OC: Tasya Freyona)

    ReplyDelete
    Replies
    1. terima kasih, Tasya ^_^ ke depannya Insya Allah akan saya perbaiki lagi, sesuai review yang sudah masuk. hehehe :D

      Delete
  9. Wah, ini entri unik padahal.

    Perkenalan di akhir, main-mainnya dalam botol (kayak nangkep jin lol), dan segala tetek bengeknya menarik di sini.

    Tapi sayangnya ini kependekan, karakternya kurang dijelasin lagi ngapain aja, dan interaksinya lemah. Kalau aja diperpanjang sedikit ceritanya dengan menambah sedikit detail di sana-sini, ini bisa jadi cerita bagus!

    7/10 dari saya.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  10. (+) : Diluar yang sudah tertulis, menurut saya sudah apik sih.. penggambaran battle story nya jelas dan to the point, cukup rapih sampai misi sukses (menara ancur)
    (-) : Yaa bener sih, masih terlalu singkat (banget malah) ^^ ditambah lagi komponen2 cerita nya ya.. banyak2 baca, disini banyak yg udah keren menurut saya..

    Nilai: 6
    OC: Falcon

    ReplyDelete
  11. ringkas dan padat. itu poin plus dari cerita ini. sumpah kaget gw pas tahu ini cerita cuma 1908 kata di word gw.

    sayangnya, walau pendek dan renyah, ceritanya ga gitu punya engagement dengan pembaca. gw ga ada ngeliat struggle atau konflik tertentu yang worth untuk diingat. dan penyelesaiannya juga IMO ga bikin spotlight buat Ebonne. dan gw kurang ngerti makna dari permainan dalam botol, kalo aja frasa ini lebih digali lagi dan dimasukkan dalam cerita, gw rasa cerita ini bakal punya impact yang beda.

    nilai: 7

    OC gw: Kii

    ReplyDelete