8.5.15

[PRELIMINARY] NOBUHISA OGA – PERJAMUAN KEMATIAN DI PADANG PASIR

NOBUHISA OGAPERJAMUAN KEMATIAN DI PADANG PASIR
Penulis: Vlad Hellsing

Burung-burung berkicauan dengan gembira sembari asyik asyik memadu kasih di pepohonan. Sinar mentari menghangatkan suasana hutan belantara yang semakin ramai oleh suara binatang hutan dan gemericik air yang mengalir. Namun di balik semua kegembiraan itu, ada sepasang mata yang tengah mengawasi sepasang burung bangau yang sedang mencari ikan di sungai kecil dari balik semak-semak.

Kemudian sebuah laras senjata musket keluar secara perlahan ke arah bangau yang terlihat lebih besar dari yang satunya tanpa menimbulkan keributan. Mata itu terus menatap burung tersebut sambil menunggu saat yang tepat. Jari telunjuknya sedikit bergetar seolah tak sabar menarik pelatuk.

DOR !


Suara tembakan keras menggema saat sebuah bola hitam melesat dari dalam ujung musket menuju ke burung bangau tersebut. Dalam sekejap hewan tersebut langsung tumbang. Sementara bangau yang lain langsung terbang meninggalkannya begitu saja.

"Fiuh. Akhirnya aku bisa makan hari ini."

Sesosok lelaki berambut gondrong dengan pakaian ala samurai keluar dari persembunyiannya  sambil menenteng musket. Dia berjalan dengan langkah cepat menuju ke hewan yang malang tersebut. Kemudian, ia mengambil buruannya dan memasukkannya ke dalam sebuah kantong kulit besar.

"Satu telah didapat. Sekarang waktunya mengisi peluru." ucap lelaki tersebut.

Samurai tersebut berjalan keluar dari sungai. Setelah meletakkan kantong yang berisi buruannya, ia mengeluarkan sebutir peluru timah dari balik bajunya dan sebuah kantung berisi bubuk mesiu. Dengan telaten, lelaki itu memasukkan mesiu lewat lubang moncong laras depan, dan dilanjutkan dengan peluru bola timah. Setelah itu ia menyodok semuanya dengan tongkat khusus agar amunisi sepenuhnya masuk ke dalam senapan musket.

Usai mengisi peluru, lelaki itu mengikat musketnya di belakang pinggang dan pergi melanjutkan perburuan. Sepasang pedang yang menggantung di samping kiri pinggang bergoyang mengiringi langkahnya. Dia terus berjalan sambil melihat ke segala penjuru. Namun sampai saat ini tidak ada hewan yang berani menampakkan diri. Kemungkinan semua penghuni hutan telah lari akibat suara tembakan tadi. 

 Tak terasa ia sudah berada cukup jauh dari sungai tersebut. Lelah memaksa pria itu untuk berhenti sejenak. Saat matanya tertuju pada sebuah pohon besar, lelaki gondrong tersebut memutuskan untuk beristirahat di bawahnya. Ia bersandar pada batang pohon tersebut. Kesejukan udara yang dihembuskan pori-pori daun membuat pria itu merasa nyaman.  Apalagi angin sepoi-sepoi membelai wajahnya hingga ia merasa mengantuk. Saat mata mulai terpejam, tiba-tiba sesuatu yang penting mampir di kepalanya.

"Aduh! Kenapa aku lupa membawanya?!"

Ia baru teringat bahwa buruannya masih tertinggal di sungai. Namun sudah terlambat baginya untuk kembali ke sungai karena bisa saja bangau tersebut sudah dimakan hewan buas.

"Huh! Sial sekali hari ini!"

Tiba-tiba selembar kertas yang terlipat muncul secara ajaib di hadapan pria tersebut. Tidak seperti kertas pada umumnya, benda satu ini bisa memancarkan cahaya sendiri, Ada stempel khusus yang menghiasi bagian atas kertas tersebut.

"Apa ini?!"

Lelaki itu memungut kertas itu dan membukanya. Di dalamnya tertulis sebuah kata – kata yang terlihat sangat asing. Surat ini menggunakan huruf alphabet sehingga akan susah dibaca oleh orang Jepang yang terbiasa menggunakan huruf kanji. Untungnya, dia sering mempelajari berbagai bahasa asing sehingga ia langsung mengerti maksud kalimat tersebut.

"Nobuhisa Oga. Apakah kau siap mengikuti turnamen antar dimensi?"

Dan pada saat itu, sebuah cahaya keluar dari surat tersebut dan menyelimuti tubuh lelaki itu hingga lenyap dari hutan.

#########

"Dimana aku?"

Nobuhisa terkejut saat mendapati dirinya berada di tengah kerumunan orang – orang asing dengan model pakaian yang tidak pernah dilihatnya selama ini. Tidak sampai di situ, ada bermacam-macam makhluk aneh seperti boneka berukuran manusia yang terbuat dari logam, kotak berjalan, manusia cebol bertubuh gemuk yang mengenakan tudung biru, dan wanita cantik berambut biru dengan telinga panjang. Keadaan mereka sama seperti Nobuhisa, terlihat kebingungan dan bertanya-tanya mengapa bisa berada di sini.

Saat ini Nobuhisa dan ratusan orang asing tersebut berada di sebuah lapangan luas. Tepat di depan mereka , ada sebuah kastil besar berdiri megah. Tentu saja, Nobuhisa yang baru pertama kali melihat kastil tersebut merasa takjub. Ukurannya jauh lebih besar dari istana milik Tokugawa Ieyasu, kaisar Jepang yang pernah mempekerjakan Nobuhisa sebagai pengawal.

"Selamat datang di Aflorea, wahai para petualang!"

Terdengar suara wanita cantik menggema dari arah balkon kastil, membuat mereka yang tadinya bingung dan bertanya-tanya langsung mengalihkan pandangan mereka pada sumber suara tersebut. Mulut mereka seolah terkunci, dan seluruh pandangan mereka terpaku pada sesosok wanita rambut putih keperakan yang berkilauan tertimpa sinar purnama. Bahkan beberapa di antara mereka, terutama kaum pria ada yang mimisan melihat ke arah perempuan tersebut.

"Perkenalkan! Namaku Tamon Ruu. Sekarang biar kujelaskan langsung alasan kenapa kalian ada di tempat ini. Semua yang ada di sini, adalah calon peserta turnamen antar dimensi yang disebut Battle of Realms, dan hanya para peserta terbaik yang bisa mengikuti pertandingan ini!" jelasnya.

Saat mendengar penjelasan tersebut, mereka yang berkumpul di halaman mulai berbisik satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang terlihat sangat bersemangat, dan ada juga yang terlihat masih berusaha memahami perkataan wanita itu. Sementara Nobuhisa hanya terdiam sambil terus memperhatikan tubuh perempuan tersebut.

"Lalu jika memenangkan turnamen ini, apa yang kami bisa dapatkan?" tanya seorang peserta bertubuh kerdil dan bulat.

"Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan! Tapi karena jumlah kalian melebihi kapasitas yang bisa ditangani, kami tidak bisa menerima kalian semua yang ada di sini untuk mengikuti turnamen. Oleh karena itu, kami akan mengadakan babak penyisihan untuk memilih para peserta terbaik yang akan berlaga dalam turnamen Battle of Realms! Jadi dengarkan penjelasan Hewanurma baik-baik!" ucap Tamon Ruu tersebut.

Mendadak keadaan di lapangan langsung hening seketika. Semua orang tak sabar menanti penjelasan selanjutnya. Seorang pria tua berjanggut putih yang sedari tadi berdiri di samping Tamon Ruu ikut angkat bicara.

"Dan hanya ada empat puluh delapan peserta terbaik yang akan terpilih untuk mengikuti turnamen yang sesungguhnya. Untuk itu, setiap peserta diberi kebebasan untuk membentuk kelompok dengan jumlah maksimal empat orang. Setiap peserta akan dipandu oleh maid ke dimensi buatan yang berbeda untuk menyelesaikan sebuah misi. Jika kalian sukses menuntaskan misi yang diberikan, sebuah portal akan muncul untuk menuntun kalian kembali ke Alforea dan dinyatakan lolos ke babak selanjutnya!"

Mendengar penjelasan tersebut, sontak semua yang ada di halaman kastil langsung ramai dan beberapa dari mereka mulai berjalan ke sana ke mari mencari rekan tim. Bahkan di antara mereka ada yang hampir berkelahi saat memperebutkan seorang anggota kelompok yang memiliki paras cantik.

"Baiklah, kunyatakan babak penyisihan Battle of Realms telah dimulai!!"

Setelah mengumumkan pembukaan babak penyisihan, Tamon Ruu dan Hewanurma beranjak pergi dari balkon kastil diikuti beberapa maid yang mendampinginya. Sementara sebagian maid yang sejak awal hanya berjaga di sekitar lapangan, kini satu persatu mulai bergerak menuju kumpulan para peserta.

Setelah acara pidato tersebut telah usai, Nobuhisa mulai bergerak mencari teman seperti yang dilakukan para calon peserta lain. Ia paham, penampilannya yang terkesan kampungan tidak akan menarik minat para peserta untuk merekrut dirinya. Tiba-tiba matanya tertuju ke arah seorang perempuan berambut biru langit dengan bros bunga di bagian sebelah kanan jubah yang dikenakannya. Nobuhisa merasa ini adalah kesempatan untuk menawarkan diri.

Ia pun berjalan mendekati gadis itu.

"Permisi, Nona. Apakah kau masih menerima anggota tim?"

"Oh, tentu! Aku sendiri juga masih mencari rekan satu tim. Kalau boleh tahu, siapa namamu?"  sahut gadis berambut biru langit dengan ramah,

"Nobuhisa Oga. Kau bisa memanggilku Nobuhisa. Kau?"

"Namaku Maida York. Aku seorang penyihir elemen air."

"Elemen air. Ah, dulu aku pernah melihat omyouji yang bisa mengendalikan kekuatan air beberapa tahun yang lalu. Mereka sangat kuat namun misterius. Aku merasa sangat beruntung bisa bergabung denganmu." kata Nobuhisa.

"Terima kasih. Tapi permasalahannya, jumlah kita belum cukup untuk bisa menyelesaikan misi. Kita butuh dua orang lagi. Jika hanya berdua, aku sangsi kita bisa melewati babak penyisihan. Bagaimana ini?" Maida kebingungan.

"Oh, itu gampang. Aku akan mencarikan orang kuat yang akan mendukung kita. Kau lihat pria besar yang ada di sana?" tunjuk Nobuhisa ke arah belakangnya.

"Ya, lalu?" Maida memiringkan kepalanya. Ia memang melihat orang yang dimaksud Nobuhisa.

"Tampaknya dia sangat kuat. Kita butuh orang berkekuatan besar seperti dia."

Nobuhisa membalikkan badan dan melambaikan tangan ke arah pria besar tersebut.

"Hey, Tuan!!" teriak Nobuhisa.

"Eh? Hei! Tung.."

Maida pun mendadak panik. Ia tak tahu kalau pria ini sengaja mengundang orang besar itu untuk datang kemari. Sementara itu, lelaki yang dipanggil Nobuhisa pun mendekat. Tubuhnya begitu besar dan gempal. Sebuah bekas luka memanjang melintasi wajah dan sepasang tato yang menghiasi kedua tangannya menambah kesan angker pada lelaki tersebut. Matanya yang berwarna cokelat menatap tajam ke arah Nobuhisa. Namun pria tersebut tenang-tenang saja saat berhadapan dengan orang besar itu. Ia hanya menyunggingkan senyum ramah.

"Hoi! Ada perlu apa kau denganku?" tanya lelaki besar tersebut.

"Begini, Tuan. Apakah anda sudah memiliki kelompok?"

"Belum. Lalu kau ingin aku bergabung dengan kalian?"

"Tepat! Kami sedang mencari orang berkekuatan besar seperti Anda. Puji Amaterasu! Aku tak salah memilih Tuan." jawab Nobuhisa dengan gembira.

"Kau rupanya pintar merayu orang, rupanya?" Pria itu tampak tertarik dengan penampilan Nobuhisa,  "dan kau seorang samurai? Ha ha ha, kapan lagi aku bisa melihat pendekar pedang yang legendaris dari Jepang. Menarik! Aku akan bergabung."

"Terima kasih mau bergabung dengan kami. Oh! Kita belum berkenalan," Nobuhisa menyalami tangan kekar lelaki seram itu erat-erat," namaku Nobuhisa Oga. Panggil saja Nobuhisa."

"Asep Codet. Lalu gadis manis ini?" tunjuk lelaki bernama Asep ke arah Maida. Pria besar ini mengulurkan tangannya ke gadis berambut biru ini untuk berjabat tangan.

"Namaku Maida York. Salam kenal." Maida tersenyum manis saat berjabat tangan dengan Asep.

"Eleuh…Eleuh. Geulis pisan euy." ucap Asep dengan tatapan berbinar.

Wajar saja Asep terpesona begitu memperhatikan gadis itu dari atas ke bawah. Rambut Maida bergelombang panjang sampai sepunggung dengan warna biru langit. Matanya berwarna biru gelap dengan kulit putih kekuningan. Dilihat dari manapun juga, pesona gadis ini sungguh luar biasa di mata lelaki kekar itu. Ia merasa sedang jatuh cinta pada pandangan pertama.

"Ehem!" Nobuhisa berdehem keras - keras.

"Hehehe, maaf. Jarang – jarang lihat mojang cantik di sini." ucap Asep terkekeh.

"Aku tahu perasaanmu, Kawan. Mesra-mesranya nanti saja." kata Nobuhisa seraya mendesah.

"Lalu kau sudah memikirkan rencana untuk babak penyisihan, Nobuhisa?" tanya Maida.

"Yah, meski kita belum tahu detilnya. Tapi aku sudah membayangkan formasi tempur kita untuk misi kita kali ini," Nobuhisa meletakkan tangannya di bawah dagu, "beritahu aku kemampuan  kalian masing-masing."

"Kemampuanku adalah sihir elemen air dan es. Spesialisasiku terpusat pada pertahanan. Aku bisa membantu menyerang tapi.." Maida tampak ragu menyelesaikan ucapannya.

"Tidak apa-apa, Maida. Kau cukup fokus di bidangmu. Soal menyerang, biar kami yang tangani. Bukankah begitu, Asep?"

"Huh! Kalau urusan hajar-menghajar, serahkan padaku," Asep menepuk dadanya, "Papotong milikku akan menghabisi semua musuh yang ada!"

"Bagus," Nobuhisa tersenyum, "sekarang tinggal satu orang yang tersisa. Hmm....tunggu sebentar."  Tangan Nobuhisa terangkat saat ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya.

Mata samurai tersebut tertuju pada seorang perempuan berambut pendek dan berwarna pirang keemasan yang tengah berdiri di bawah pohon. Ia mengenakan seragam tentara dengan camo biru laut dan sebuah beret berwarna biru dengan emblem bergambar pisau dan gandum. Sepatu boots menghiasi kakinya yang jenjang. Sejenis senapan serbu tengah menggantung di punggungnya.

Tanpa membuang waktu, Nobuhisa langsung bergegas mendekati gadis itu. Siapa tahu bisa dijadikan sebagai rekan? Pikirnya.

"Kau sendirian, Nona?" sapa Nobuhisa.

"Ya, eh..eh..aku," Gadis itu memalingkan muka saat melihat Nobuhisa, "maaf, aku risih dengan pria gondrong."

"Hei..hei, manis. Tenanglah. Oh, kau tidak mencari sekutu?" tanya Nobuhisa.

Akhirnya perempuan itu menghadapkan wajahnya ke Nobuhisa perlahan-lahan. Rasa gugupnya masih belum hilang meski ia berusaha untuk melenyapkan perasaan itu. Ia berusaha untuk tetap tenang meskipun berhadapan dengan hal yang telah membuatnya risih, yaitu rambut panjang Nobuhisa.

"Sudah, tapi semua orang yang telah kutemui sudah memiliki kelompok masing-masing. Andai ada satu orang saja yang mau jadi partnerku." ujar gadis tersebut.

"Bagaimana kalau kau ikut dengan kami?"

"Ba-baiklah. Perkenalkan, namaku Golden," Gadis itu mengulurkan tangannya. "Aku berasal dari Swedia."

"Nobuhisa, dari Satsuma. Namamu cantik juga, rupanya. Bagaimana kalau kupanggil Kin? Artinya sama juga kok dengan nama Golden." kata Nobuhisa seraya tersenyum.

"Te-terserah. Tapi alangkah baiknya jika kau mau menutupi rambut gondrongmu itu."

Tiba-tiba seorang maid berambut pirang berdiri tepat di belakang samurai tersebut.

"Apakah Tuan sudah membentuk kelompok?" tanya maid tersebut.

"Ya, aku dan wanita ini," Nobuhisa menunjuk ke arah Asep dan Maida "serta kedua orang itu. Kami siap untuk menuntaskan misi hari ini."

Asep dan Maida datang mendekati Nobuhisa dan gadis tersebut. Dengan ini maka terbentuklah kelompok yang siap menyelesaikan babak penyisihan. Pria besar ini langsung melotot begitu melihat lekuk tubuh Golden.

"Oi, Nobu. Siapa dia?" Asep mencolek pundak Nobuhisa.

"Ah, wanita ini bernama Golden. Dia akan ikut kelompok kita."

"Terus perawan ini mau kita apakan?" tanya Asep sambil melihat ke arah Golden.

"Kau terlihat seperti ingin memperkosanya." ujar Nobuhisa sinis.

"Bodoh! Aku tidak bermaksud demikian. Masih banyak hal yang lebih menyenangkan dari merenggut keperawanan seorang mojang. Yah, meskipun sebenarnya aku ingin melakukannya." sahut Asep dengan entengnya.

"Daripada melakukan hal itu, lebih baik kapan-kapan kita cari geisha." kata Nobuhisa.

"Geisha? Makanan apa itu?" tanya Asep keheranan.

"Wanita malam. Kita akan dihibur semalam suntuk oleh mereka."

"Hah! Mirip penari jaipong, kah? Kedengarannya menarik," Mata Asep berbinar, "tapi bukannya itu hanya ada di Jepang."

"Lain ceritanya jika kita memenangkan turnamen ini, Asep." Nobuhisa mengedipkan matanya, "kita akan meminta seratus orang geisha. Kalau perlu, wanita seksi yang ada di istana itu kita minta untuk menghibur semua orang."

"Permintaanmu hanya itu, kah?"

"Tidak. Masih banyak yang ingin kudapatkan. Jika mereka hanya mengabulkan satu permintaan maka permintaanku adalah seribu permintaan tambahan," kata Nobuhisa tersenyum licik, "pria tua itu bilang pemenangnya bisa mendapatkan apapun, kan? kita punya banyak hal untuk dikabulkan."

"Gyahahahahaha! Maksudmu Tamon Ruu? Kau pintar, kau pintar," Asep menepuk pundak Nobuhisa keras-keras, "aku tak menyangka kau bisa berpikir sejauh itu."

"Hey, sakit tahu!"

Sementara, Maida dan Golden hanya bisa mendesah mendengar obrolan kedua pria itu yang mulai kumat cabulnya.

"K-kau tidak apa-apa bersama mereka berdua, Nona?" tanya Golden tergagap. Ia masih belum bisa menghilangkan kecanggungannya di depan orang berambut panjang.

"Eh, aku? Hehehehe, aku juga baru berkenalan dengan mereka berdua. Oh, ya! Aku belum tahu nama Anda."

"N-namaku Golden. Kau?" Golden menjabat tangan Maida.

"Maida York. Salam kenal."

Sedangkan si maid hanya tersenyum pahit melihat tingkah polah Asep dan Nobuhisa. Tampaknya mitos hal cabul mampu mengakrabkan semua pria itu masih berlaku di sini.

"Sudah selesai ngobrolnya, Tuan-tuan? Sekarang waktunya menempuh babak penyisihan. Persiapkan diri kalian berempat, ini akan menjadi perjalanan yang sedikit memacu adrenalin."

Maid itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi. Tiba-tiba sebuah portal dimensi tercipta di bawah kaki keempat peserta itu dan menelan mereka semua beserta si gadis pelayan tersebut.

Akhirnya, pertarungan sang samurai di dunia fantasi pun dimulai.

########

"Uuuoohhhhh!!!! Aduh!"

Nobuhisa terjatuh di atas pasir dengan kepala lebih dahulu. Sedangkan Asep dan Golden mendarat dengan sempurna dalam posisi berlutut.

"Tolong aku!"

Maida keluar terakhir dari portal. Ia jatuh dari ketinggian sekitar tujuh meter dari udara tanpa pengaman sedikitpun. Untunglah, sewaktu tubuh Maida hampir menyentuh tanah, kedua tangan kekar Asep berhasil menangkap penyihir air tersebut.

"Kau tidak apa-apa?" tanya Asep penuh perhatian.

"Terima kasih, Tuan Asep." jawab Maida.

Sementara itu, Nobuhisa bangkit dan membersihkan rambutnya yang kotor oleh pasir. Setelah rambutnya bersih, ia memandang ke segala arah. Sejauh mata memandang, hanya pasir dan bebatuan yang menghiasi wilayah tersebut. Temperatur udara saat ini sangat dingin. Bulan purnama tengah bersinar menerangi kegelapan gurun berbatu tersebut. Tiba-tiba insting Nobuhisa mendeteksi sesuatu yang aneh dari sebelah utara. Ia berlari mendaki bukit pasir yang ada di hadapannya.

"Ada pertempuran," Nobuhisa memicingkan matanya, "aku baru pertama kali melihat youkai dalam jumlah besar seperti sekarang ini."

Asep, Golden dan Maida ikut menyusul Nobuhisa. Saat mereka sampai, semua mata langsung tertuju pada sebuah pemandangan mengerikan.

Sekitar seratus meter dari posisi keempat peserta tersebut, terlihat ratusan para prajurit dengan bendera logo Alforea tengah berperang dengan ribuan monster dari berbagai jenis seperti goblin, centaur, manusia serigala dan lain sebagainya. Panah-panah api yang terlontar dari pihak prajurit dibalas semburan api dari para naga. Dentingan pedang dan tombak saling bersahutan diiringi raungan kematian dari beberapa prajurit dan monster yang akan segera menemui ajal akibat serangan dari masing-masing kubu.

Keempat manusia dari dunia lain hanya bisa terpaku melihat peperangan tersebut. Bedanya, Maida hanya bisa menatap ngeri, sementara Asep dan Golden berdiam tanpa ekspresi. Kedua orang itu seperti sudah terbiasa melihat pertumpahan darah selama bertahun-tahun. Hanya Nobuhisa yang tersenyum gembira melihat perang antar dua kubu tersebut.

"Huhuhu. Ini jauh lebih hebat dari tragedi Ise Nagashima yang diciptakan Oda. Aku ingin bertarung melawan para youkai tersebut."

"Memang itulah peran kalian di sini. Tujuan para peserta turnamen pada babak penyisihan kali ini adalah mengalahkan monster-monster tersebut."

Maid yang telah menteleport keempat peserta itu tiba-tiba muncul di hadapan Nobuhisa.

"Apa hanya itu misi yang harus kami lakukan?" tanya Maida.

"Tidak hanya itu," Maid tersebut menunjuk ke arah bulan, "kalian harus menyegel monster kelas dewa bernama Tamon Rah yang sebentar lagi akan keluar dari Alkima."

Semuanya langsung terkejut saat mendengar misi tersebut. Menyegel monster kelas dewa. Itu terdengar seperti misi terakhir dan paling berat bahkan untuk ukuran seorang prajurit. Mereka tak bisa membayangkan apa yang terjadi sesungguhnya pada turnamen yang sesungguhnya.

"Hanya itu yang bisa saya sampaikan. Semoga beruntung." Tubuh maid tersebut langsung bersinar terang dan perlahan-lahan terurai menjadi cahaya.

"Oi! Tunggu! Bagaimana cara menye.." Ucapan Nobuhisa terputus saat maid tersebut menghilang.

Satu-satunya petunjuk penting untuk menyelesaikan misi kali ini telah lenyap. Tinggal mereka berempat yang tinggal di situ. Para peserta tersebut terdiam sejenak berpikir tentang hal apa yang harus dilakukan saat ini. Asep mulai angkat bicara memecahkan keheningan yang mulai tercipta.

"Tampaknya kita harus mengalahkan monster-monster itu terlebih dahulu. Mungkin petunjuk untuk menuntaskan misi ini ada pada mereka."

"Ya. Lagipula para prajurit sudah mulai kewalahan," Golden menatap jauh ke arah pertempuran, "moral mereka akan jatuh jika terus terdesak. Kita harus ikut membantu."

"Aku setuju denganmu, Kin-chan." Nobuhisa mulai mengenggam katananya, "Mau ikut berpesta?"

"Ayo! Siapa takut? Fusil Automático Doble milikku akan menghabisi mereka semua, Samurai!" Golden mengokang senjata kesayangannya.

"Tanganku sudah mulai gatal." Asep membunyikan ruas-ruas jari dan menyentakkan leher.

"Mari," Nobuhisa menghunuskan pedangnya dan berlari, "kita bertaruh siapa yang paling banyak menghabisi monster-monster itu. Aku pergi dulu."

Samurai itu mendahului mereka dan berlari kencang ke arah peperangan. Sementara itu, Asep sedang mengencangkan ikat pinggangnya. Kemudian, ia menyusul Nobuhisa dengan satu lompatan jauh dan berlari bersamanya. Mereka telah jauh meninggalkan Golden dan Maida.

"Kau bisa berlari?" tanya Golden.

"Ya." jawab Maida.

"Kita susul para bajingan itu. Jangan biarkan mereka berpesta pora sendirian saja. Aku akan melindungimu di garis depan. Tetaplah kau di belakangku. Maaf, aku akan kehilangan fokus jika melihat rambut panjang. Bisakah kau menutup rambutmu? "

"Aku mengerti, Nona."

Maida melepaskan jubahnya dan menutupi rambutnya seperti kerudung. Setelah itu, kedua wanita tersebut langsung bergerak menyusul. Tiba-tiba sekitar empat puluh goblin datang mendekat. Tanpa membuang waktu, Golden menekan pelatuk dan menembaki para monster kecil tersebut tanpa ampun.

Tidak hanya para goblin tersebut. Beberapa orc mulai ikut menyerang Golden. Namun mereka tak kuasa melawan timah panas yang ditembakkan secara beruntun oleh tentara wanita tersebut. Setelah membereskan para monster itu, Golden mengisi kembali amunisi. Sedangkan, Maida melempari para goblin lain yang masih hidup dengan beberapa jarum besar berbentuk bunga Camellia yang belum mekar.

Ketika jarum tersebut menancap di tubuh para goblin itu, dalam sekejap tubuh mereka bertumbangan karena racun yang berasal dari jarum milik Maida mulai bereaksi.  Kuncup bunga pada jarum tersebut bermekaran di atas tubuh goblin-goblin tersebut.

Saat Golden sibuk dengan senjatanya, dari langit tampak seekor naga besar meluncur dengan kecepatan tinggi ke arah wanita pirang tersebut. Reptil terbang itu menyemburkan api dengan intensitas besar. Namun dengan sigap, Golden menghindar dengan satu lompatan tinggi ke samping kanan.

"Sial! Naga itu licik juga. Berani menyerang saat aku lengah."

"Kau tidak apa-apa, Nona?" Maida berlari mendekatinya dengan wajah khawatir.

"Aku baik-baik saja."

Saat Golden menatap ke arah naga tersebut, ia melihat kobaran api mulai membesar dan keluar dari mulut binatang terbang itu.

Semburan api meluncur ke arah dua wanita itu dengan kecepatan tinggi. Tiba-tiba Maida maju dan merentangkan tangannya sambil komat-kamit membaca mantera. Terciptalah sebuah kubah air yang memadamkan api naga yang terus berusaha menerobos pertahanan milik Maida.

Golden terpana saat melihat kemampuan milik Maida. Ia tak menyangka bahwa gadis berambut biru langit ini memiliki kemampuan sihir yang hebat.

"Woah! Aku tak menyangka kau bisa melakukan sihir."

"Ya, untung aku memiliki teknik Water Shield. Aku merasa senang jika bisa melindungi Nona."

"Terima kasih, Maida! Sekarang waktunya serangan balasan!"

Setelah api tersebut padam, Golden membalas serangan naga tersebut dengan tembakan beruntun ke arah kepala naga tersebut. Akhirnya reptil raksasa itu jatuh ke tanah menerbangkan debu-debu ke segala arah.

"Ayo, Maida! Kita susul Nobuhisa!"

Usai mengalahkan naga tersebut, Golden dan Maida kembali berlari ke area peperangan. Sementara itu di tengah pertempuran tersebut, terlihat kilatan pedang menari-nari diiringi suara tinju dahsyat yang menghempaskan para monster ke langit.

"Kita terlambat, Maida." kata Golden sedikit kecewa.

Golden dan Maida melihat Nobuhisa tengah berhadapan dengan minotaur setinggi lima meter. Ketika makhluk tersebut mengayunkan kapak secara vertikal dari atas, samurai itu berhasil menghindar dengan melompat ke arah kanan. Lalu dia langsung meloncat tinggi dengan memanfaatkan kapak yang tertancap di tanah sebagai titik tumpuan. Kemudian Nobuhisa menebaskan pedang yang dipegang dengan kedua tangan ke kepala manusia banteng tersebut.

Tubuh minotaur tersebut jatuh menimpa beberapa ghoul yang tengah berdiri di belakangnya. Sementara, Nobuhisa mendarat dengan posisi berlutut bersamaan dengan jatuhnya kepala minotaur yang terpisah dari badannya.

"Papatong Comro Karuhun!!!"

Teriakan Asep membahana saat pukulannya menghajar para monster babi secara bertubi-tubi. Ia juga melemparkan beberapa kera besar ke langit dengan kedua lengan kekarnya. Saat seekor manusia reptil menyerang Asep dari belakang, dia merespon dengan sebuah tendangan keras tepat di rahang kadal humanoid tersebut.

"Papatong Cendol Kiwari!!!"

Kemudian Asep melakukan tendangan memutar ke dada kadal besar tersebut. Makhluk itu terpental ke arah kumpulan para zombie akibat kuatnya tendangan tersebut.

"Uuoohhh !!!"

Para prajurit yang melihat hal itu berteriak keras. Perbuatan Nobuhisa dan Asep ternyata berhasil menaikkan moral mereka. Dengan gagah berani mereka maju dengan mengacungkan tombak ke arah para monster yang mulai ketakutan.

"Ayo prajurit!! Serang !!" teriak seorang pria berbaju zirah sambil mengacungkan pedang ke depan.

Para prajurit mulai menghunuskan pedang dan berlari menyerbu. Mereka menghabisi semua monster yang ada di hadapan mereka. Sedangkan Nobuhisa dan Asep masih sibuk mengamuk di daerah pasukan musuh. Samurai itu melompat ke depan sambil mengayunkan katananya secara vertikal.

"Yeeeaaarrrrttt!!!!"

Sabetan pedang Nobuhisa membelah tubuh seekor manusia serigala menjadi dua. Ketika samurai itu dalam kondisi lengah, sekelompok ghoul melompat ke arah samurai itu dengan cakar mereka yang tajam. Nobuhisa yang baru menyadari keberadaan makhluk itu tersentak kaget. Tiba-tiba suara tembakan terdengar bersamaan dengan rubuhnya para pemakan mayat tersebut.

"Ah! Kin-chan! Terima kasih!!" teriak Nobuhisa.

"H-Hey, bisakah kau menutupi rambutmu?!! Aku susah berkonsenterasi jika rambut gondrongmu belum kau tutupi!!" sahut Golden.

"Baiklah," Nobuhisa melepaskan kimono dan mengikatnya di kepala, "kau puas?!!"

"Itu lebih baik!" Golden mengacungkan jempolnya.

Perang berjalan semakin sengit. Denting pedang para prajurit beradu dengan kerasnya raungan para monster dari berbagai jenis. Panah-panah mulai menyirami pasukan musuh disusul puluhan bola api yang dilontarkan beberapa ketapel besar.

Golden pun tidak ingin kalah dengan prajurit Alforea. Senapan serbu menghabisi ratusan zombie dalam satu tarikan pelatuk. Maida membantu para prajurit dengan menembakkan bola air secara beruntun ke arah pasukan monster berwujud tengkorak berapi.

"Box of Water!"

Dia juga mengurung beberapa goblin di dalam sebuah kotak imajiner raksasa yang berisi air. Para monster yang terjebak meronta-ronta karena tak bisa bernafas. Tak lama kemudian mereka mati dengan kondisi tubuh membiru akibat kekurangan oksigen.

"Sial! Kenapa harus kehabisan amunisi?!" umpat Golden saat senapan serbunya tidak mau memuntahkan peluru lagi.

Tentara cantik itu langsung berganti senjata dengan pedang yang kebetulan tergeletak di dekatnya. Kemudian ia menyerang ke arah para siluman kera dengan ganas. Pedang yang ada di genggamannya berayun-ayun memisahkan kepala para monster itu dari lehernya. Musuh yang berhasil lolos dari sabetan pedang dari Golden akan mendapat tendangan maut dari gadis tomboy tersebut.

"Grroooaaaaa!!!"

Seekor baboon raksasa berusaha menyerang Asep dengan mengayunkan goloknya berusaha menebas badan lelaki besar tersebut. Asep hanya membalas dengan memukul baboon tersebut hingga terjengkang beberapa meter.

Dua baboon lain yang melihat kejadian tersebut menjadi marah dan mencoba membalas dengan menyerang Asep. Namun primata-primata itu pun bukan tandingan Asep. Mereka terus menyerang Asep, tapi dia pun terus balas memukul mereka. Akhirnya pria kekar itu berhasil mencengkeram lengan kedua baboon yang menyerangnya.

"Jangan macam-macam dengan Raja Preman dari Bandung Raya!!!"

Asep melempar kedua primata itu ke arah Nobuhisa yang masih sibuk bertarung dengan para tengkorak hidup.

"Nobuhisa, terima hadiahku!!!"

Samurai itu menengok ke arah suara Asep berasal. Di saat bersamaan, para baboon yang dilempar Asep terbang menuju ke arah pria gondrong tersebut. Nobuhisa pun memegang katananya secara horisontal. Ia mencabut pedang begitu kedua primata itu melewatinya dan menebasnya dengan kecepatan kilat. Dalam sekejap, tubuh para baboon itu terbelah menjadi dua bagian ketika Nobuhisa kembali menyarungkan pedangnya.

"Terima kasih, Asep!!" teriak Nobuhisa.

Akhirnya para prajurit berhasil membalikkan situasi berkat bantuan keempat manusia dari dimensi lain hanya dalam waktu lima menit. Mereka berhasil mendesak para monster mundur ke belakang. Namun, di saat pihak manusia berada di atas angin, sesuatu yang buruk mulai terjadi.

"Hey, semuanya!! Lihat Alkima!!" teriak salah satu prajurit.

Pertempuran terhenti sejenak saat ribuan pasang mata mengarahkan pandangannya ke langit. Mereka terperangah saat melihat Alkima mendekat ke arah area peperangan dengan cepat. Semua makhluk yang ada di situ merasakan ada eksistensi berkekuatan dahsyat yang akan bangkit.

*DUUAARRRR!!!!

Alkima meledak dengan keras dan sebuah bola api keluar dari satelit tersebut dan meluncur dengan kecepatan tinggi menuju ke area pertempuran. Seluruh prajurit langsung panik dan berlari meninggalkan medan perang. Tidak ketinggalan Nobuhisa dan ketiga anggota timnya ikut mundur dari tempat tersebut. Para petarung itu tahu, benda yang memiliki kecepatan setara dengan meteorit bisa menewaskan mereka dalam  sekejap jika sampai terkena.

"Maida, buat perlindungan seperti yang kau lakukan tadi! Kita tak punya cukup waktu untuk meninggalkan tempat ini!" teriak Golden.

Maida mengangguk dan mengangkat kedua tangannya ke atas. Sebuah kubah air tercipta dalam sekejap, melindungi penggunanya dan ketiga teman barunya dari dampak benturan bola api tersebut.

"Bersiap untuk hantaman keras!!" pekik Asep.

*DUUUUMMM!!!!

Bola api itu menghantam permukaan gurun pasir dengan keras. Efek benturan itu menimbulkan gelombang kejut besar yang melebar ke segala arah. Batu-batu dan debu pasir berterbangan menutupi pandangan. Para prajurit dan monster yang gagal menyelamatkan diri terpental sejauh ratusan meter akibat tak kuasa bertahan dari kerasnya benturan benda langit itu. Beberapa menit kemudian, situasi mulai mereda. Keheningan yang mencekam menjalar ke seluruh area.

"Sudah berakhirkah?" tanya Nobuhisa.

"Sepertinya," Asep melihat-lihat ke segala arah, "mungkinkah kemenangan sudah tercapai?"

"Jangan senang dulu," ujar Golden, "kita belum bisa mengkonfirmasi apakah situasinya sudah terkendali atau belum?"

Mereka memilih untuk berdiam diri sejenak. Menunggu kepastian situasi yang dihadapi saat ini. Keempat peserta tersebut belum menyadari bahwa misi yang sesungguhnya baru saja dimulai.

"Ya Tuhan!!!" Maida menunjuk ke arah kawah bekas jatuhnya bola api itu.

Bumi bergetar saat sebuah kaki besar keluar dari balik gumpalan asap tebal yang menutupi kawah bekas hantaman bola api tersebut. Kaki itu memiliki bentuk yang sama seperti kaki kuda tetapi dalam skala raksasa. Bagian kukunya terbakar api dan di bagian lututnya ada semacam tanduk runcing yang mencuat ke atas.

"Tamon Rah! Makhluk yang dikatakan maid itu telah keluar!!" pekik Golden.

Seperti yang dikatakan Golden, seekor kuda sembrani raksasa keluar dari lokasi hantaman bola api besar tersebut. Tubuhnya berwarna merah gelap bercampur jingga seperti lava gunung berapi. Api berkobar dari kedua sayapnya yang lebar. Tamon Rah, nama kuda besar tersebut kini telah turun untuk menebar kekacauan dan merenggut nyawa-nyawa yang masih bertahan di tempat makhluk besar itu berpijak.

Tiba-tiba Tamon Rah meringkik keras dan terbang menuju ke tempat Nobuhisa berada. Mulutnya siap menyemburkan api. Namun, serangan api tak berhasil membakar para petarung itu karena mereka dalam perlindungan Water Shield. Merasa serangannya gagal, Tamon Rah menerjang perisai air itu dengan tanduknya berkali-kali.

"Water Shield akan hancur jika terus mendapat serangan dengan level monster seperti ini!" teriak Maida.

"Tahan sedikit lagi, Maida! Aku akan menghabisinya dengan jurus spesial!" sahut Asep.

Ia melepaskan jaketnya dan mengaitkannya di pinggangnya sebelum membuka kuda-kuda. Ia mengeluarkan beberapa butir biji kopi dari kantung di sabuknya, diremasnya hingga hancur menjadi bubuk lalu diusapkannya di ketiaknya. Perbuatannya membuat Nobuhisa dan Golden memasang tampang bodoh untuk sesaat.

"Apa yang kau lakukan, Asep?!!!" teriak Nobuhisa dan Golden bersamaan.

Alih-alih jawaban, sebuah nyanyian keluar dari mulut pria besar itu.

Padamu negeri kami berjanji
Padamu negeri kami berbakti
Padamu negeri kami mengabdi
Bagimu negeri jiwa raga kami

Usai bernyanyi, Asep membungkukkan tubuhnya sedikit lalu menarik badannya ke samping kanan. Kemudian membuka kedua telapak tangannya dan mengarahkannya ke Tamon Rah.

"Semuanya, minggir!!"

Nobuhisam dan Golden bergerak cepat menuju ke belakang Asep diikuti Maida yang telah menghilangkan perisai airnya. Sementara Tamon Rah bersiap meluncur ke arah Asep dengan kecepatan tinggi.

"Kopiluwak!" Seru Asep, sembari menyodorkan kedua telapak tangannya ke depan. Sebuah tembakan gelombang yang disertai ledakan dahsyat menghantam telak kuda raksasa itu hingga terpental sejauh ratusan meter. Ketiga orang tersebut hanya bisa ternganga melihat kedahsyatan jurus tersebut.

Sementara itu, Tamon Rah terkapar dengan kondisi wajah hancur. Darah dan daging kuda besar tersebut yang berceceran di pasir dan bebatuan bergerak-gerak kembali ke tempat asalnya. Dalam sekejap, wajah kuda raksasa itu tumbuh kembali ke kondisi semula.

"Beregenerasi?!" Golden memasang wajah tak percaya saat menyaksikan kejadian itu.

Tamon Rah pun bangkit lagi. Kali ini ia terbang menuju ke kumpulan prajurit dan monster yang tersisa yang bersembunyi di salah satu bukit pasir. Bola-bola api meluncur dari sayapnya membakar semua manusia dan monster. Tidak peduli kawan atau lawan, ia terus mengamuk dan menerjang semua yang dilihatnya.

Maida jatuh berlutut dengan wajah putus asa.

"Musuh kita terlalu kuat. Apa yang harus kita lakukan?"

Nobuhisa hanya terdiam. Ia berpikir pasti ada cara untuk menaklukkan monster tersebut. Jika maid itu memberitahu mereka cara menyegel monster itu, mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Langkah apa yang harus kutempuh? Batinnya. Kemudian matanya tertuju pada prajurit sekarat yang terbaring agak jauh dari posisi Nobuhisa.

Tanpa membuang waktu, samurai tersebut berlari ke arah prajurit itu. Melihat Nobuhisa pergi, Golden, Maida dan Asep saling menganggukkan kepala dan menyusulnya.

Sesampainya di tempat prajurit itu terbaring, keempat orang itu terkejut mendapati lelaki berbaju zirah itu terluka cukup parah. Darah mengalir dari sekujur tubuhnya dan banyak luka yang menganga di badannya. Kemungkinan besar, ia terkena dampak gelombang kejut yang ditimbulkan hantaman bola api besar tersebut.

"Hey, bertahanlah!" Nobuhisa memegangi tangan pria berbaju zirah tersebut, "maaf, tapi beritahu aku cara mengalahkan kuda itu! Kalian berperang demi alasan itu kan?!"

"Uhuk..uhuk. Ter..nyata kau pin..tar juga mener…ka motif perang ini. Yah, tujuan kami berperang adalah menghancurkan ke..uhuk..dua menara kristal di reruntuhan kas-til utara. Itulah sa..tu-satunya cara menyegel Ta…mon Rah. Ingat, kali….an harus meng…hancurkan kedua menara yang sera..puh ka..ca itu ber..sama..an dengan kekuatan non si..hir. Dengan begitu, Tamon Rah a..kan kembali ter..segel."

Akhirnya pria berzirah itu menutup mata untuk selama-lamanya. Nobuhisa kembali membaringkan jasad lelaki itu. Kemudian dia berdiri dan menghirup nafas dalam-dalam. Dipandanginya wajah ketiga teman barunya satu-persatu. Sementara itu, Tamon Rah masih sibuk mengamuk menghabisi para prajurit dan monster.

"Jadi, semuanya sudah jelas. Kita perlu menuju ke sana," ucap Nobuhisa sambil melihat ke arah reruntuhan kastil yang berada di sebelah utara.

"Masalahnya kita tak ada transportasi ke sana," sahut Golden, "andai ada kuda di sini."

"Ngomong-ngomong masalah kuda," Maida menunjukkan ke suatu arah, "sepertinya harapanmu sudah terpenuhi."

Dua ekor kuda besar tampak berjalan tak tentu arah. Tampaknya mereka adaah hewan milik prajurit yang tewas selama peperangan. Senyum terkembang di wajah keempat peserta tersebut, mengetqahui bahwa masih ada harapan. Mereka merasa jalan untuk menuntaskan misi ini masih terbuka lebar.

"Ayo! Tunggu apa lagi," Asep bergerak menuju ke arah dua kuda itu.

"Biar aku yang mengendalikan kuda putih itu. Nobuhisa, kau bisa mengendarai kuda, kan?" tanya Golden.

"Tentu saja! Aku akan menunggangi yang hitam."

Dengan cepat Golden dan Nobuhisa berhasil menguasai kedua kuda tersebut. Kuda putih dikendarai Golden, ia berpasangan dengan Asep. Sementara Nobuhisa menunggangi kuda berwarna hitam pekat dan berpasangan dengan Maida. Mereka memacu kuda-kuda tersebut dengan kecepatan tinggi menuju ke reruntuhan kastil.

"Nobuhisa, apa kau ada rencana?" tanya Golden.

"Pria berzirah itu mengatakan kalau kita harus menghancurkan menara kembar itu secara bersamaan dengan kekuatan non sihir. Andai ada senjata proyektil, mungkin kita bisa menembaknya bersamaan." ucap Nobuhisa seraya memandangi Golden dan Asep.

"Hmm..sayangnya hanya pistol ini yang tersisa," Golden mengeluarkan pistol FN Five-Seven, "mustahil untuk menembak kedua menara itu bersamaan jika hanya dengan satu senjata." ujar Golden.

"Siapa bilang itu mustahil?" Nobuhisa mengeluarkan musketnya, "kita bisa melakukannya. Yah, selama kuda iblis itu tidak mengejar kita sampai ke sini. Beruntung, dia masih sibuk bermain dengan para prajurit yang tersisa."

"Hoi! Kenapa kau tidak bilang bawa senjata api dari tadi?" tanya Asep sedikit kesal.

"Maaf, aku lupa. Ha ha ha ha!!"

"Tapi musket membutuhkan waktu yang lama untuk pengisian, kan? Lagipula itu hanya bisa ditembakkan satu kali saja setiap pengisian amunisi." ujar Golden.

"Untungnya sebelum terdampar ke dunia ini, aku sempat melakukan pengisian ulang saat sedang berburu. Kita hanya punya satu kesempatan. Kin-chan, kita tembak menara itu bersamaan. Maida, Asep! Lindungi kami dengan segenap kemampuan yang kalian miliki!" kata Nobuhisa.

"Baik, baik." Golden mendesah.

"Aku mengerti." jawab Maida.

"Oke! Karena hanya rencanamu yang bisa diandalkan, aku akan mengikutimu. Kau berhutang secangkir kopi padaku!" Asep menunjuk ke arah Nobuhisa.

"Tenang saja. Samurai selalu menepati janjinya. Lihat!" Nobuhisa mengacungkan telunjuknya ke depan.

Sepasang menara kristal berwarna hijau bersinar menerangi malam. Di belakangnya, reruntuhan kastil memancarkan aura kegelapan yang siap menelan siapa saja yang mendekatinya. Di depan menara itu terdapat ratusan orc yang membentuk barikade. Melihat kumpulan besar itu menghalangi jalan menuju ke menara itu, kelompok itu menghentikan laju kudanya. Asep pun melompat turun dari kuda dan berjalan ke depan.

"Maida, lindungi aku! Aku akan melakukan jurus Kopiluwak lagi!"

Maida pun ikut turun dan membuat Water Shield untuk melindungi Asep. Sementara Nobuhisa dan Golden dalam posisi siap menyerang di atas tunggangan mereka. Para monster yang melihat mereka pun berlari mendekat dan berusaha menghancurkan perisai air tersebut. Berbagai macam usaha mereka lakukan untuk menjebol pertahanan penyihir air tersebut. Sementara itu, Asep mulai melakukan ritualnya lagi. Ia mengambil dua biji kopi dan menghancurkannya menjadi bubuk dan mengoleskannya ke ketiak. Dan sebuah lagu terdengar mengalun dari mulut Asep.
Tujuh belas agustus tahun empat lima
Itulah hari kemerdekaan kita
Hari merdeka nusa dan bangsa
Hari lahirnya bangsa Indonesia
Merdeka

Sekali merdeka tetap merdeka
Selama hayat masih di kandung badan
Kita tetap setia tetap setia
Mempertahankan Indonesia
Kita tetap setia tetap setia
Membela negara kita

"Kopiluwak!"
Pertahanan Maida langsung jebol ditembus tembakan gelombang dari tangan Asep. Serangan Kopiluwak terus melaju menerbangkan para monster yang berdiri di jalur serangannya. Cahaya gelombang itu terlalu menyilaukan sehingga semua orang kecuali Asep memejamkan matanya. Kini sebuah jalan baru tercipta di antara kumpulan makhluk tersebut yang terbelah menjadi dua kelompok.
"Sekarang!" teriak Nobuhisa.

Nobuhisa dan Golden memacu kuda mereka berlari melalui jalan yang dibuat Asep meninggalkan kedua temannya yang sekarang sibuk menahan para orc yang selamat dari jurus Kopiluwak. Mereka terus melaju ke arah dua menara kristal tersebut sambil memegangi senjata apinya masing-masing. Tiba-tiba segerombolan goblin datang menyerbu mereka. Para iblis kerdil itu meloncat ke arah kedua kuda yang ditunggangi kedua peserta tersebut dan melukai mereka.

"Minggir, setan kecil!"

Nobuhisa menarik keluar katana dari sarungnya dan menusuk para goblin tersebut. Sementara Goblin menangkap makhluk-makhluk tersebut dan melempar mereka jauh-jauh.  Kedua orang itu berhasil lolos dari sergapan para monster dan terus melaju mendekati menara yang jaraknya tinggal beberapa puluh meter. Akhirnya, mereka sampai di titik yang pas untuk menembak.

"Kin! Hancurkan menara yang di sebelah kanan! Aku akan mengambil yang kiri!" teriak Nobuhisa.

"Baiklah! Kita menghitung mundur dari angka tiga" sahut Golden.

Nobuhisa mengarahkan musketnya ke arah menara sebelah kiri dan memicingkan matanya. Telunjuknya menyentuh pelatuk. Golden pun telah  siap dengan pistolnya. Matanya menatap tajam ke target yang sudah terkunci dalam bidikannya. Sementara itu, seluruh monster yang sedang bertarung melawan Asep dan Maida berlari menuju kedua penembak tersebut. Mereka berusaha menggagalkan usaha Nobuhisa dan Golden yang akan menghancurkan sumber kehidupan para makhluk jahat tersebut. Namun, niat jahat makhluk-makhluk jahat itu terhalang oleh Maida yang mengejar mereka.

"Tak akan kubiarkan! Box of Water!!"

Sebuah kurungan imajiner raksasa yang berisi air muncul secara tiba-tiba dan mengurung para monster tersebut. Maida berusaha mengerahkan semua tenaganya yang tersisa. Wajah mulai pucat pasi akibat kelelahan yang mendera tubuhnya. Ditambah lagi, ukuran Box of Water terbesar yang pernah ia buat selama ini. Perlahan tapi pasti kesadaran penyihir air itu mulai menurun. Golden yang melihat kondisi Maida mulai merasa panik. Namun, ia tak mau kehilangan fokus saat membidik menara tersebut. Kedua peluru yang akan ia tembakkan bersama Nobuhisa menjadi pertaruhan hidup dan mati semua orang.

"Tiga, dua, satu. Tembak!" pekik Nobuhisa.

DOR!!

Suara letusan terdengar saat musket dan pistol memuntahkan bola timah dan peluru tajam secara bersamaan. Kedua proyektil dari zaman yang berbeda itu meluncur ke dengan kecepatan tinggi sehingga mampu melewati rentetan proyektil sihir yang keluar secara beruntun dari menara tersebut. Peluru-peluru yang ditembakkan Golden dan Nobuhisa pun berhasil mengenai kedua menara kristal itu dan memecahkannya hingga hancur berkeping-keping.

Suasana mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar bunyi pecahan kristal berjatuhan dari langit. Tiada keributan yang disebabkan pertempuran pada saat itu. Para monster yang sejak tadi tadi bertarung melawan Asep menghentikan serangan secara mendadak saat mendengar suara tersebut. Sementara itu, Nobuhisa dan Golden hanya  terdiam. Mereka seperti terhipnotis suara pecahan kristal tersebut. Waktu serasa seperti berhenti berjalan. Denyut kehidupan pun seolah berhenti berdetak.

Tiba-tiba suara menyayat yang menyakitkan telinga terdengar dari segala arah. Termasuk suara Tamon Rah dari area padang pasir. Ringkikannya terdengar memilukan. Secara ajaib, tubuhnya bergerak perlahan ke langit seperti ditarik kekuatan misterius dari Alkima. Raga kuda raksasa itu berubah menjadi cahaya putih dan melesat meninggalkan area pertempuran menuju ke tempatnya semula.

Setelah cahaya jelmaan Tamon Rah masuk ke dalam Alkima, lubang bekas ledakan di satelit tersebut perlahan menutup hingga kembali ke kondisi semula. Sementara itu, tubuh para monster yang semula berhenti bergerak satu persatu berubah menjadi debu. Sisa-sisa jasad mereka lenyap tertiup angin.

"Ki..ta me..nang, yah?" Maida langsung jatuh tak sadarkan diri.

"Maida!!" Golden langsung meloncat turun dari kuda dan berlari ke arah gadis itu.

Golden pun langsung berinisiatif memeriksa kondisi Maida. Ia mengecek urat nadinya dan detak jantungnya. Tanpa pikir panjang, tentara wanita itu langsung membuka baju Maida. Tiba-tiba mata Golden melotot saat melihat pemandangan tak biasa dari badan Maida yang terlihat seperti laki-laki kurus. Tidak ada ciri kewanitaan yang terdapat padanya. Di lehernya terdapat jakun yang menonjol khas lelaki dewasa.

"Ada apa dengan Maida?" tanya Nobuhisa.

"Kau tak akan percaya dengan yang kulihat, Nobuhisa. Lihat!"

Mata Nobuhisa langsung terbelalak saat melihat "pemandangan spektakuler" tersebut.

"O..okama?! Jadi, Maida itu o..okama?!!

"Okama? Maksudmu laki-laki berparas seperti wanita?" Golden memiringkan kepalanya.

"Yah, seperti itu. Aku tak bisa membayangkan jika Asep mengetahui hal ini. Uugghh!" Nobuhisa mulai merasa mual-mual.

"Ah, aku mengerti. Kau tak suka hubungan sesama jenis." ujar Golden.

"Hey, semuanya! Kalian baik-baik saja?!" teriak Asep.

Tiba-tiba Asep muncul dengan tubuh bersimbah darah. Kaos singlet putihnya telah robek di sana-sini dan wajahnya pun babak belur. Meskipun demikian, ia berjalan seperti biasa tanpa terjadi apa-apa. Golden pun langsung menutup tubuh Maida dengan jubah milik penyihir air tersebut. Ia tak mau Asep shock mengetahui jati diri Maida seperti Nobuhisa.

"Tidak juga, Maida tak sadarkan diri setelah memaksakan diri menggunakan kekuatannya untuk menahan para monster yang akan menyerang kami. Tanpa bantuannya, mungkin usaha kita akan sia-sia belaka. Dia patut mendapat ucapan terima kasih yang mendalam." ucap Golden.

"Yah, aku setuju. Kita harus cepat-cepat merawatnya. Seharusnya ada gerbang khusus untuk kembali ke istana setelah kita memenangkan peperangan ini." sahut Nobuhisa.

Belum lama setelah Nobuhisa menyelesaikan kalimatnya, sebuah portal dimensi muncul di hadapan para peserta turnamen tersebut. Melihat gerbang tersebut telah muncul, Golden pun bangkit sambil membawa Maida yang pingsan. Ia memasuki portal tersebut terlebih dahulu meninggalkan Asep dan Nobuhisa.

"Ayo, Kawan-kawan! Kita harus cepat-cepat memberi pertolongan kepada Maida!" teriak Golden dari balik portal.

Asep dan Nobuhisa hanya saling berpandangan. Mereka pun berjalan memasuki gerbang tersebut sambil berangkulan.

"Hey! Jangan lupa kopinya, ya!"

"Tentu, kita akan pergi mencari rumah makan. Hari ini aku ingin minum sake sepuasnya."

  

15 comments:

  1. To Oda Nobunaga (eh salah), Nobuhisa Oga.

    Hehe, senangnya baca cerita yang jalan pikiran dan mekanismenya hampir mirip entri sendiri.
    Satu-satunya persamaan si Oda dan si Oga adalah 2-2nya tampak "slengean bin urakan" dan sama sekali nggak mirip Pak Ogah (apa coba?)

    Yeah, Oga memang idealnya lebih cocok ngobrol yang "nyeleneh" dengan Asep daripada Mbah Kusumo. Memang terkesan terlalu kebetulan ketemunya, tapi ya sudahlah, anggap saja mereka berempat dipertemukan takdir. Penggambaran karakter tiap orang takarannya sudah pas menurut saya, walaupun memang tidak berlarut2 sampai membangun chemistry antar anggota tim dulu sebelum berangkat tempur seperti di entri saya :p

    Tentang battle, ini salah satu dari sedikit entri yang adegan battlenya bisa saya nikmati seperti film dalam khayalan saya. Segala aksi Oga, Maida, Asep dan Golden tergambar jelas dan lancar, timing kemunculan Tamon Rah nggak terlalu terlambat (>5 menit). Hanya satu hal saja yang mengganjal saya, yaitu menara kristal yang sekali tembak langsung hancur berkeping-keping. (Hmm, memang settingnya jarak tembak menara itu 5 meter dan tim Oga menyerang dari jarak lebih dari 5 meter? Ahh, repot).

    Jadi, overall, seperti mencicipi ramen jepang dan minum kopi luwak, skor dari saya 9/10.
    Author: Andry Chang
    OC: Vajra (Raditya Damian)

    ReplyDelete
  2. Secara teknis sebenernya tulisan ini ga ada masalah berarti. Rapi, juga ringan buat diikuti. Saya seneng bisa mengabaikan yang teknis karena belakangan ini rasanya susah ga merhatiin itu di antara entir" baru

    Jadi langsung ke cerita... Ternyata Nobuhisa sama Asep dibikin jadi tipe vulgar-mouthed juga ya. Kayaknya satu jalan sama Dyna, cuma beda style www

    Sebenernya saya seneng penggambaran bushido lifenya yang lumayan kental di awal, tapi begitu udah ketemu yang lain kok kesannya si Nobuhisa ga ada heran"nya lagi ya.. Saya kira bakal ada culture gap atau apa (dan 'youkai'nya banyakan ambil kebaratan pula)

    Masuk ke battle... Meski saya nangkep semua action scenenya, tapi masih kurang nendang. Ada formula repetitif (ga bisa disalahin juga sih, semua di babak ini misinya sama) yang entah kenapa ga bikin entri ini menonjol - sampe ke tempat perang, perang bentar, Tamon Rah muncul, ke kastel, ancurin menara). Singkatnya, ga ada varian sesuatu yang cukup memorable atau worth-mentioning buat saya di sini

    Dari saya 7. Semoga kalau lolos bisa lebih impactful dari ini, karena first impression itu satu nilai sendiri buat saya

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. doain aja bang moga lolos :3

      Delete
  3. *Ahran Mode - OFF (Yaelah, kapan ON-nya lagian)

    Yaudah, jujur saya gak ngerti apa-apa soal budaya Jepang. Jadi pas nemu beberapa istilah asing, alhasil saya cuma bisa planga-plongo.

    Banyak kata 'tersebut' ya, lama-lama jengah juga. Pola kalimatnya cenderung ... repetitif. Yah, saya bacanya agak kurang nyaman. IMHO, ini kurang ngalir.

    Nobuhisa juga gak ada 'wah'-nya gitu, ngeliat sesuatu yg gak berasal dari dunia dia. Yg gak pernah dia temui. Biasa aja kesannya.

    Kang Asep ... bahasanya kurang khas, menurut saya. Yg lain sama sahaja.

    Battle-nya sendiri, formulanya itu-itu juga. Padahal saya mengharap variasi, misalnya ada yang gugur beneran, gitu.

    Terakhir, kalo ada dialog misal: "Saya suka cerita Anda," katanya. <-- itu pake abis kutip dua pake koma. Bukan titik macem: "Saya suka cerita Anda." katanya.

    Jadi nilainya ... berapa ya?

    7 untuk penulisannya.
    + 1 buat bonus, karena ceritanya gak jelimet ngalor-ngidul.

    Poin: 8

    -Dari Ahran-

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bukan abis kutip dua ding, tp sebelum. Typo :p

      Delete
  4. Aku sependapat aja ama komen di atasku. Masuk ke bagian pertarungan, narasinya jadi rada berat kuikuti. Selain itu meski alurnya dah lumayan, tapi ga ada sesuatu yang bener2 'wah', istilahnya ini bener2 mematok standar alur cerita yang ditetapin sama tamon ruu.

    Secara karakterisasi oga di awal dan juga rekan-rekannya udah oke si.

    Nilai : 7

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
  5. Hal yang membuat saya kaget pertama kali adalah ternyata Samurai bisa pakai senapan, saya kira samurai itu memegang teguh pada prinsip senjata hanyalah pedang wkwkwkwk.

    Saya suka pengkarakteran Nobu yang ceria, Asep yang bahasa lokalnya keluar. Nilai plus untuk Maida yang sesuai dengan gambaran saya. Dan setelah pertarungan saya yakin semua anggota party cari restoran buat numpang minum. Entah sudah berapa kali mereka berteriak!

    Gaya penulisannya bagus, saya nyaman jika membaca tulisan dengan aksi jenaka, Nobu sama bang Asep kombinasinya juga dapat. Saya belum tahu benar bagaimana Golden, tapi di sini mungkin dia yang paling ekspresif.

    Dan alurnya jadi sedikit--agak kacau saat di pertarungan, tapi setidaknya masih jelas walau entah kenapa saya merasa masih kurang dengan adegan pertarungannya.

    Nilai : 8/10

    OC : Maida York

    ReplyDelete
  6. Summary dari saya singkat. Seperti makan mi ramen yang putus ramennya di tengah jalan, tapi masih bisa dilahap sampai habis.

    Fokus saya agak kabur pas battle, tapi masih bisa mendapatkan inti cerita sampai habis.

    8/10 dari saya. Saya ngarepnya Maida diperlihatkan ke Kang Asep sih wkwk

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  7. yo, oga nobuhisa...
    akhirnya bisa mampir juga,,,

    err nobu di sini agak sedikit beda dari apa yang ane pikirin selama ini, kurang greget gitu karakternya. kirain nobu bakalan ngelakuin strategi konyol tapi efektif buat nanganin semua permasalahan yang udah di ciptain para tamon ini, taunya strategi yang cukup normal.hihi

    ane gak ahli kalo bahas masalah teknis, tapi untuk keseluruhan cerita ane cukup menikmatinya. meskipun agak kabur di beberapa hal, terutama di battle tapi setelah baca lagi, akhirnya paham. hehe

    nilai 7 dari sepuluh

    khanza

    ReplyDelete
    Replies
    1. jangan lupa mampir di my enteri , hehe

      Delete
  8. Hmmm, saya kira sifat Nobuhisa bakal mirip Nobunaga Oda-nya Drifter (efek gara2 sampean sempat pakai profpic dia). tapi ternyata nggak X)))

    Narasinya nggak jelek, cukup mumpuni. Tapi... keseluruhan battle scenennya kerasa kurang nendang. di satu sisi terlalu rusuh, di sisi lain kurang menarik dan tidak ada adegan yang menonjol. terus berakhirnya juga kerasa begitu aja, nggak ada kesan berarti.

    Keputusannya, saya kasih sampean nilai 7

    ReplyDelete
  9. Tata mamp--

    --serem.. ada kakak-kakak Kizoshu dari Wapun-ggi di sini.. Eh.. Bukan ya? Samurai?? itu apa ya?? Kizoshu dari Wapun juga pakai mitraliur laras panjang yang kakak pakai.. pedangnya.. juga persis katana.. ehh.. emang katana? Cuma itu yang aku tahu ya.. hahaha..

    Oke, Tata pengen ngomong.. disini asik.. narasinya lancar walau sering nemu kalimat yang diulang-ulang.

    Dan juga, kenapa respon kakak pas tau Maida cowok itu cuma segitu aja? Tata pengen lebih di eksplor lagi..

    Tata abaikan soal teknis.. Karena Tata pengen liat aksi kakak di babak selanjutnya. Tata beri nilai 8 ya?

    Nanti mampir ke kamar-- err...

    Nanti ketemuan di plaza ya kak :D

    ReplyDelete
  10. Wkwkwk, sialan si Asep, ternyata dia bisa mesum juga, parah lagi tingkatannya XD

    Sebenarnya tidak ada masalah dengan tata bahasa atau penulisan, tapi menurut saya alur ceritanya cenderung datar. Di awal-awal sebelum masuk ke gurun, hampir tidak ada kemelut, tidak ada interaksi antar karakter yang wah. Keempatnya bisa langsung bersatu & bekerja sama dengan baik, itu gak salah sih, tapi jadinya kurang greget.

    Pertarungannya sendiri seru, mengalir, walau perangnya sendiri kurang terjelaskan dengan baik.

    Terus soal Maida York yang ternyata cowok, Asep gak akan sedepresi itu deh kalau tau XD

    Nilai 8

    dLanjung (Asep Codet)

    ReplyDelete