17.5.15

[PRELIMINARY] DITTO STORMRAGE – THE UNTOLD TALE OF GLORY

[PRELIMINARY] DITTO STORMRAGE – THE UNTOLD TALE OF GLORY
  
Penulis: Arly Eve


Satturine, malam menjelang dini hari, 19th Turaan, 725 Hejira.

Hai semua!

Salam kenal. Namaku Arly Eve (baca: Arlai Iv). Jika kalian mencermati baik-baik tulisan sebelumnya, kalian pasti akan segera tahu siapa aku. Ya, aku adalah penulis cerita ini. Mengapa aku yang muncul di tulisan ini dan bukannya Mr. Stormrage ? Hm, aku memang akan menceritakan tentang dia, tapi nanti. Sebelumnya aku perlu kalian mendengarkan membaca ceritaku ini terlebih dulu.

Tu-tunggu dulu! Hei! Hei! Mau kemana kalian ?

Ah, sudah kuduga. Pasti ada saja orang yang langsung menutup blog page karena ini. Aku tidak menyalahkan mereka. Memang tidak seharusnya seorang penulis seperti aku malah curhat di saat-saat seperti ini. Tapi sungguh, kawan, aku sudah TIDAK TAHAN LAGI!!


Ah, maaf. Aku jadi sedikit emosi. Tapi mau bagaimana lagi. Aku benar-benar sudah di ambang batas kesabaranku. Mungkin kalian mulai jadi menerka-nerka hal apa yang membuatku begitu kesal sekarang. Tenang saja, akan kuberitahu semuanya. Tapi aku punya sedikit syarat. Aku hanya ingin kalian mendengarkan membaca curhatanku sampai selesai. Bagaimana ?

Ha ? Ka-kalian bersedia ? Sungguh ?! Ah, terima kasih banyak. Terima kasih banyak …
#menangis bahagia
#memeluk satu-satu yang tetap membaca
#dan karena terlalu lama membuat penasaran, diprotes ramai-ramai.

Aa … Iya, iya, iya! Kuceritakan sekarang. Kuceritakan sekarang. Duh, kalian ini sungguh tidak sabaran.

Jadi begini. Kemarin malam, ketika aku baru hendak merebahkan diri di tempat tidur, tiba-tiba saja terdengar suara-suara dari dalam kepalaku. Aku yakin sekali saat itu aku sedang sendirian. Akan kuulangi dengan huruf tebal yang digaris bawahi biar jelas, aku sedang sendirian. Tapi suara-suara itu benar-benar kudengar. Aku awalnya mencoba mengabaikan. Tapi suara-suara itu terus saja mengintai.

"Ms. Eve ? Ms. Eve, kau di sana ?" Panggil seseorang padaku. Suaranya terdengar seperti suara seorang pria.

"Eh, jangan seperti itu. Kita harus kelihatan tegas! Sini, biar aku yang bicara." Celetuk suara yang lain, tiba-tiba saja muncul. Suara yang ini terdengar seperti suara anak perempuan. Vokalnya nyaring seperti rentetan petasan. "Hei, wanita pemalas! Jawab aku! Kau di sana kan ?" Katanya melanjutkan, kali ini dengan nada memerintah.

"Hei, jangan begitu. Siapapun yang ditanya seperti itu pasti tidak akan mau menjawab. Sudah serahkan saja padaku." Ujar si pria pada si anak perempuan. "Ms. Eve, kau di sana ? Apa kau mendengar kami ? Kalau iya, tolong jawab kami." Panggil si pria, kali ini kata-katanya ditujukan padaku.

"I-iya ?" Jawabku. Entah kegilaan apa yang merasukiku, hingga bisa-bisanya kepikiran untuk menjawab suara-suara aneh itu. Tapi itulah yang kulakukan.

"Ms. Eve, itu kau ? Ah, syukurlah akhirnya kau menjawab. Kami perlu bicara padamu." Jawab si pria gembira dari ujung sana.

"I-iya, tapi siapa ini ? Dimana kau ?" Tanyaku, takut-takut. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan. Aku yakin sekali saat itu di ruangan itu aku sedang sendirian.

"Aku Avius. Avius Solitarus." Jawab si pria. "Aku mewakili semua berbicara padamu lewat telepatiku dari Alforea." Katanya lagi.

"Se-semua … maksudmu .. ?" Tanyaku. Lebih karena aku bingung dengan segala keanehan yang terjadi. Bukan karena aku tidak tahu siapa 'semua' yang Avius maksud.

"Iya, semua. Selain aku, di sini ada Ditto, Dominica, dan Meredy. Kami semua ingin bicara denganmu." Kata Avius menjelaskan. Oke, ini semakin absurd. Aku tahu pasti apa yang kalian semua, para pembaca, pikirkan; karena aku juga memikirkan hal yang sama.

"Ta-tapi .. bagaimana .."

"Minggir, Avius. Biar aku yang bicara pada wanita telmi ini." Seru suara si anak perempuan pada Avius.

"Tu-tunggu Domy, sebaiknya .." Telat. Suara seperti rentetan petasan itu sudah keburu merepet panjang.

"Hei penulis tidak kompeten. Dengar ya. Kami mau protes!" Tegas suara nyaring yang kini kutahu adalah milik Dominica. Dominica Alta Orathivo, si Word Manipulator. "Kau benar-benar membuat kami di sini kesal setengah mati. Seandainya kami bisa keluar dari Alforea sesuka hati, kami pasti akan datang untuk mencabut nyawamu sekarang juga. Kamu sudah membuang-buang waktu kami yang berharga, tahu!" Lanjutnya.

"Domy .."

".. biarkan aku bicara, Avius!" Sergah Domy galak pada Avius. "Si bodoh ini harus sadar kalau dia sudah membuat kelompok kita mempertaruhkan nyawa sia-sia. Bisa-bisanya setelah semuanya terjadi dia tidak juga mengirimkan entry. Itu sangat menyebalkan. Andai saja aku bisa melemparnya ke Gurun Shohr'n sekarang juga dan … hmmpp!! Hmmpp!!" Seseorang sepertinya menutup paksa mulut Dominica.

"Jangan biarkan dia bycara lagy, Ditto." Ujar suara asing seorang wanita. Setiap katanya dibarengi dengan logat mekanis formal yang biasa kudengar dari pemandu komputer, Micro*oft Anna. "Persoalan bysa makin rumit jika sepenulys malah tak sengaja terlempar ke Shohr'n Dessert gara-gara sugestinya." Lanjutnya.

"Baik, Meredy. Serahkan saja padaku." Jawab tegas seorang pria yang memiliki suara lebih berat dari suara Avius. Jadi inikah suara Ditto Stormrage, OC—original character yang kubuat ? Jika dibanding-bandingkan nada suara Ditto kedengaran seperti polisi, sedangkan Avius seperti customer service. Aku lebih senang Avius yang berbicara padaku. Soalnya dia terdengar ramah.

"Hi Penulys. Acku Merreedie. Kau memasukkanku ke kelompok ini pelyng akhir." Kata si wanita berlogat mekanis. "Sebelum muley bycara, acku mau tanya. Kapan kau akan muley menulys cherita kami ?" Kata Meredy diiringi pertanyaan.

"Aku … aku akan berusaha secepatnya." Jawabku.

"Iya. Sechepatnya ityu kapaan ?" Desak Meredy.

"Aku bilang secepatnya !" Jawabku lagi. Kesan panik dan tersinggung terdengar dari suaraku tanpa bisa kutahan. Dalam hati aku mengutuk Meredy karena membuatku terlihat seperti itu. Tapi mau bagaimana lagi. Hidupku di dunia nyata sendiri sedang genting. Pekerjaanku menumpuk, hingga mencari waktu untuk tidur dan makan saja sudah cukup sulit. Mana sempat lagi aku menggunakan komputer untuk menulis kisah mereka. Harusnya mereka bersikap lebih pengertian.

"Hoa, baiklaa. Angaap aku perchaya padamu. Taapy sadarkah kau, Penulys, no target sama dengan no goal. Jadi singkatnya, Domy benaar. Kau hanya membuang-buang waktu kami. Kau memaank paantas mathie." Tegas Meredy ketus padaku. "Sekaraank tersehra kamu, Ditto. Yank mau kau lakukan, lakukanlah. Kalau acku, akan kutembak kepalaania sekaraank juga. Touh mau dia mathie atau tydak, kita paastie berakhir. Kaalau dia kutembaak, setidaknia dendamku terballaas." Lanjut wanita itu.

Aku terdiam. Pasti bukan hanya Meredy dan Domy yang berpikiran begitu. Tapi juga semua OC yang dikirim ke Alforea oleh para penulis mereka yang tidak juga memasukkan entry hingga hari ini. Mereka semua cemas. Mereka semua takut. Mereka semua marah. Menilik dari sifat-sifat OCku sendiri, pria itu tidak akan membiarkan mereka menyerangku begini jika aku berada di pihak yang benar. Jadi, apa ini artinya aku sudah keterlaluan ? Ah, kenapa dia tidak juga mengatakan sesuatu ? Ayo, bicaralah Ditto. Katakan apa yang mau kau katakan! Apapun. Marahlah, mengutuklah. Silahkan saja. Setidaknya jangan diamkan aku begitu. Tapi sampai akhir paragraf ini dia tidak mengatakan apapun.

"Ditto, tidak adakah yang mau kau katakan padaku ?" Tanyaku padanya. Rasa penasaranku pada apapun yang dia pikirkan saat ini mengalahkan ketakutanku pada apa yang akan dia katakan.

"Ada. Aku ingin tahu apa alasanmu mengirimku ke Alforea tanpa pedangku Jeera." Kata Ditto. "Asal kau tahu saja, Ms. Eve. Kau menyulitkan anggota partyku dengan keadaanku yang seperti ini di Gurun Shohr'n. Ini tidak benar." Kata Ditto lagi.

Dia kedengaran sangat geram karena seharusnya bisa berbuat lebih banyak untuk yang lain jika bersama Jeera. Ini sungguh aneh, mengingat dia seharusnya bisa lebih geram karena sifat malasku yang tidak juga mengirim entry ceritanya hingga dia terancam memiliki ending menyedihkan. Tapi dia sepertinya tidak mempermasalahkan itu sejak lama.

"Kata siapa tidak benar ? Menurutku ini justru sangat tepat." Kataku.

"Maksudmu ?" Tanya Ditto.

"Kupikir kau terlalu kuat jika pergi bersama Jeera." Jawabku.

"HA?!" Suara kaget serempak terdengar dari ujung sana. Lucu sekali karena mereka semua benar-benar kompak. Tapi sekarang bukan saatnya tertawa. Ditto dan semuanya harus mengerti alasanku.

"Bagaimana menjelaskannya, ya ? Pokoknya jika Jeera ikut denganmu segalanya justru akan kacau." Ujarku. Masih tidak ada respon dari sana. Semua sepertinya terlalu syok untuk mencerna alur pikiranku. Jadi aku meneruskan lagi dengan penjelasan yang lebih panjang.

"Begini ya, Jeera itu terlalu memanjakanmu. Dia tidak membiarkanmu terluka atau susah sama sekali. Menurutku itu tidak baik untukmu, karena membuatmu berpikir dunia hanya sebatas dirinya. Membuatmu tidak butuh orang lain. Kau sudah terasing dan mengabdi kepada keadilan di Realm of Night terlalu lama. Aku ingin kau membuka dirimu. Aku ingin kau menemukan teman baru dan keindahan dunia lain. Undangan Battle of Realms ini adalah kesempatan terbaikmu. Carilah keadilan dan kesenangan untukmu sendiri di Alforea." Kataku. Ah, kata-kataku ini jadi seperti ucapan orang tua yang tidak ingin anaknya dimonopoli orang lain. Tapi biarlah begitu.

"Jadi bukan karena kau ingin membunuhku ?" Tanya Ditto.

"Membunuhmu ? Tentu saja tidak." Tegasku cepat. "Aku justru ingin kamu menang karena aku ingin semua orang mengetahui kisahmu. Percayalah. Lagipula ceritanya jadi lebih menarik kalau segalanya tidak mudah dicapai." Kataku.

"Tapi kau belum juga menyelesaikan entry-mu, Ms. Eve. Kalau begini terus, dia bisa dieliminasi." Kata Avius.

"Sudah tidak akan dieliminasi begitu saja, kok. Tenang saja. Namun merasakan mati yang menyakitkan mungkin iya. Jujur saja aku sempat vote 10/10 untuk penulis yang memakaimu di entry-nya. Ceritanya bagus, sih. Kau dibuat mati dengan gagah untuk menyelamatkan teman-temanmu. Khas kamu sekali. Fufufu .." Kataku mengaku sambil tertawa.

"Tertawa pada kematian orang lain itu tidak benar." Kata Ditto. "Untunglah Jeera tidak ada disini. Dia pasti akan langsung mengadilimu jika mendengarnya."

"I-iya, maaf." Kataku, terdengar seperti bercanda karena masih saja terkekeh.

"Jadi, kapan kau akan menyelesaikan entry-mu ? No target sama dengan no goal. Maaf Ms. Eve, tapi aku setuju dengan Meredy." Kata Avius. Dia memang teman yang baik. Dia begitu peduli pada Ditto. Ah, bukan hanya dia. Mengingat Domy dan Meredy yang jadi emosi karena aku tidak juga mengirim entry-nya, bisa dibilang mereka juga cukup peduli pada OCku. Aku bersyukur aku tidak salah memilihkan party untuknya.

"Secepatnya. Apa kau keberatan dengan target yang seperti itu ?" Tanyaku.

"Ithu tydak spesifik. Berkelakarlah yang spesifik jycka kamu mau berhasil mewujudkan sesuatu. Tanya saja Domy. Dia yang paling taahu bagaymaana wujudkaan kata-kata." Ujar Meredy.

"Ah baiklah, baiklah. Besok malam. Akan kuselesaikan entry-mu besok malam!" Kataku.

"Kenapa tidak saat ini saja ?" Celetuk Dominica tiba-tiba nimbrung. "Kau melewatkan banyak waktu mendulang popularitas, tahu." Katanya lagi begitu ceriwis.

"Aduh, kalian ini cerewet sekali. Kalaupun popularitasnya tinggi tapi hasil reviewnya jelek, semuanya jadi percuma. Ceritanya harus mendapatkan simpati pembaca. Untuk itu aku perlu konsentrasi tinggi dan sekarang bukan waktu yang tepat." Kataku. Entah kenapa aku jadi merepet seperti si ceriwis Dominica.

"Kenapa ?" Tanya Avius.

"Karena aku sudah dua hari tidak tidur!" Teriakku tidak sabar. "Ah, pekerjaanku sangat banyak belakangan ini. Jadi aku susah fokus. Makanya aku ingin istirahat dulu. Aku lelah sekali. Jika tidak ada lagi yang ingin kalian katakan, aku mau tidur sekarang." Kataku, sambil menguap.

"Tunggu, Ms. Eve. Meredy bisa membantumu dengan [Adrenaline Shot]." Kata Ditto yang dari tadi diam. Tiba-tiba saja solusi gila muncul dari kepalanya.

"Mana bisa begitu." Tukasku.

"Ya bisa saja. Sama seperti kami yakin bisa menghubungimu dengan kemampuan telepati Avius." Kata Ditto. "Kami akan kirimkan tembakan [Adrenaline Shot] itu langsung ke kepalamu melalui telepati Avius." Kata Ditto. "Bagaimana ? Tidak ada ruginya bukan ? Kalaupun tidak berhasil, yang kena efeknya adalah Avius." Tanya Ditto pada semua orang.

"Ide sinting, tapi tidak ada salahnya dicoba." Kata Dominica setuju.

"Sudah kubilang waanyta ini memaang pantas detembak de kepaala." Kata Meredy pedas.

"Aku juga tidak masalah. Aku sendiri sudah lama penasaran bagaimana tembakan itu malah membuat orang jadi bugar." Kata Avius bersemangat.

"Jadi, semua setuju 'kan?" Tanya Ditto.

"Tu-tunggu! Aku belum bilang apapun." Kataku.

"Sekalipun menolak, kau kalah jumlah dalam voting, Ms. Eve." Kata Ditto.

"Tapi ini tidak adil !" Tukasku. "Uh-oh, bagaimana, sih cara menghentikan aliran telepati ini ?" Kataku panik. Segera saja kusambar berbagai barang yang bisa mencegahku mendengar. Headset, earbud, apapun. Tapi suara-suara itu terus terdengar.

"Adil atau tidak itu tergantung cara pandangnya. Jika dalam demokrasi ini adil." Kata Ditto.

"Kaalaupun tydak adyl salahkan saaja demokrasi." Cetus Meredy. Dia tertawa sinting. "Jadi sudah siap ?" Tanyanya.

"SIAP!!" Jawab semua serempak, kecuali aku.

"Tu-tunggu! TIDAK!!"

DOR!

---

Paris, Dini hari, 20th Turaan, 725 Hejira

Hai, semua!

Kita jumpa lagi. Hari ini hari kedua sejak tembakan [Adrenaline Shot] dilesatkan Meredy kepadaku melalui telepati Avius. Meski kelihatan absurd dan sangat berbahaya, sepertinya ide Ditto ini benar-benar berkerja. Pasalnya, semenjak itu aku benar-benar belum tidur sama sekali, tapi tak terasa lelah ataupun mengantuk. Yang ada justru tubuhku seperti dialiri energi tiada habis. Aku tidak mau melewatkan kesempatan berharga ini begitu saja. Hal yang tertunda sekian lama harus segera kuselesaikan sekarang juga.

Maka di sinilah aku. Menceritakan kisah Ditto Stormrage di Alforea pada kalian semua. Aku sudah menuliskan intro yang kalian baca sedari tadi, dan kini beranjak memulai bagian keduanya. Aku berharap kalian belum bosan.

Seperti yang kalian sudah tahu, Ditto Stormrage datang ke Alforea tanpa pedangnya, Jeera. Pedang besar bergagang hitam tanpa sarung yang hampir selalu bertengger di punggungnya itu tak sengaja tertinggal di ruang ganti pemandian, karena tiba-tiba saja gerbang menuju Alforea terbuka dan dengan cepat menghisapnya. Sejujurnya situasi ini seharusnya masuk dalam kategori bencana. Bencana besar malah. Karena Jeera dalam berbagai petualangan di Realm of Night hampir seperti asuransi kemenangan baginya.

Sayangnya, kesialan Ditto bukan hanya itu. Sesampainya di Alforea, panitia yang teledor mengumumkan bahwa telah terjadi kesalahan teknis dalam proses pengiriman undangan hingga menyebabkan membludaknya jumlah peserta, dan parahnya banyak diantara mereka yang tidak tahu-menahu apa yang sebenarnya terjadi. Setidaknya Ditto tahu dirinya datang ke Alforea untuk mengikuti liga Battle of Realms V yang diselenggarakan di sini. Kesalahan teknis dalam undangannya hanya terlihat pada tidak tercantumnya cara mencapai Alforea, hingga dia tidak dalam kondisi siaga penuh ketika gerbangnya terbuka. Sebenarnya kesialan ini bisa dicegah jika aku tidak menuliskannya. Tapi seperti yang kubilang di intro, Ditto tidak akan menjadi hebat jika terus dimanjakan Jeera. Untunglah, dia menerima alasanku.

Oh iya, aku mungkin belum menceritakan bagaimana Ditto bisa bertemu ketiga anggota timnya. Itu terjadi tak lama setelah panitia mengumumkan agar seluruh peserta segera membentuk tim beranggotakan dua sampai empat orang, untuk melaksanakan misi preliminary yang disiapkan untuk mereka. Misi ini diselenggarakan panitia untuk mendapatkan 48 peserta terbaik yang akan mengikuti liga Battle of Realms yang sebenarnya. Sejujurnya saat itu Ditto dan aku sendiri sebagai penulisnya kebingungan. Kami mempertanyakan kompetensi para panitia yang begitu ceroboh dan kebodohan mereka yang berusaha menutupi tindakan ceroboh itu dengan hal-hal yang merepotkan peserta. Seharusnya mereka bisa saja bertanya siapa saja diantara para peserta yang tidak benar-benar ingin ikut dalam liga dan ingin pulang. Tinggal mengirim kembali mereka ke dunianya masing-masing. Tapi seakan kehabisan ide dan menganggap semuanya sangat ingin mendapatkan apa yang mereka mau sebagai hadiahnya, mereka malah menggelar misi preliminary ini.

Saat itulah Ditto bertemu dengan Avius dan Dominica. Ah, tunggu! Yang terjadi sebenarnya bukan itu. Dia awalnya hanya melihat Avius. Dia tidak menemukan Dominica meski mendengar suaranya yang menyapa nyaring. Hal ini disebabkan karena Dominica begitu pendek.

DOR!

Suara letusan [Adrenaline Shot] terdengar dalam kepalaku. Oh ya, jika kalian belum tahu, Dominica sangat tersinggung jika dibilang .. um, kecil.

DOR!

Atau .. pertumbuhan yang terlalu cepat berhenti untuk gadis seusianya. Ya, lebih baik dibilang begitu karena dia tidak suka dibilang pe*dek (disensor karena vulgar). Dengan tinggi kira-kira setara dengan lebar dua setengah langkah kaki Ditto, gadis berambut pirang itu kelihatan seperti anak-anak di usia 21 tahun.

DOR!
#Hei, aku 'kan tidak bilang kau pendek.

DOR!
#Untuk yang kedua tidak seng …

DOR!
#Oke, oke! Aku tahu. Aku tahu! Tidak ada kompromi soal itu …

Baik, berlanjut saja ke Avius. Pemuda ini dideskripsikan dalam charsheetnya mengenakan jubah coklat. Rambutnya dipotong cepak. Matanya berbeda warna, biru dan coklat. Menurutku setiap kata yang meluncur dari mulutnya sangat menyenangkan didengar. Mungkin karena dia pada dasarnya ramah dan suka membantu orang lain. Avius sudah mendampingi Dominica ketika gadis itu mengajak Ditto bergabung ke dalam tim. Yang lebih mengejutkan adalah –meneruskan sambil berbisik-- ketika Ditto mendengar pengakuan dari Avius yang tidak bisa menolak permintaan gadis itu bergabung dalam tim karena menyangka Dominica anak-anak, padahal gadis itu lebih tua setahun darinya.

Oh, aman. Syukurlah …
DOR!
#Cih, ternyata dia dengar juga …

Lalu tim berisi tiga orang ini mencari orang yang keempat. Dominica menganut paham makin banyak orang dalam kelompoknya, makin bagus. Makanya jatah 4 peserta setiap kelompok tidak ingin dia sia-siakan. Pilihannya tertuju pada kerumunan yang ada di sudut lapangan Kastil Despera. Dia yakin diantara kerumunan itu ada seorang peserta hebat.

Benar saja. Di sana tampak seorang wanita berpakaian serba hitam yang dikelilingi orang-orang yang ingin mengajaknya dalam tim. Orang-orang itu bertengkar sengit satu dengan yang lain. Ada yang sampai menarik-narik si wanita. Keadaan yang makin ricuh membuat si wanita akhirnya mengacungkan pistolnya ke udara dan menghalau kerumunan dengan suara tembakan peluru kosong yang menggelegar.

"Maaf mengeeceewaakan kaalian, Kaawan-kaawan. Tapi acku sudaa meemutuskaan haanya ykut dengaan tim yang menjamin keseelamatanku dan menyeeraahkan semua harta beenda yang dydapat selama perjalanan misi itu padaaku." Kata wanita itu.

Sesaat seisi lapangan terdiam mendengar kata-katanya. Lalu satu per satu orang bubar dari kerumunan. Tanda mereka tidak mungkin mengabulkan permintaan semena-mena wanita berbaju hitam itu. Ditto dan Avius juga baru hendak angkat kaki ketika suara Dominica terdengar berteriak kalau dia tidak um … kecil.

DOR!
#Domy, ayolah! Aku harus menceritakan adegan ini. Berhentilah mengganggu dengan Avarice.

Ditto dan Avius bergegas mendekat. Mereka mendengar Dominica dan si wanita berdebat. Dominica berusaha meyakinkan kalau kelompok mereka tidak selemah kelompok lain. Dia menolak disamakan dengan para pecundang yang angkat kaki mendengar permintaan semena-mena si wanita. Tapi si wanita tidak percaya karena dia butuh pembuktian dahulu. Sayangnya, dalam mengatakannya, tanpa sengaja si wanita menyebut Dominica kecil. Sehingga Dominica jadi naik pitam.

"Umurku sudah dua puluh satu tahun dan aku tidak KECIL!!" teriak Dominica.

Si wanita tertawa mendengar teriakan kemarahannya hanya karena alasan yang 'kekanak-kanakan'. Dia kemudian mengajukan penawaran. Dia bersedia tidak menganggap tim mereka lemah jika memang Dominica setuju untuk memberinya berbagai jaminan yang dia inginkan. Dominica menyetujuinya. Sebuah tindakan bodoh yang berpotensi menyusahkan karena dilakukan tanpa pikir panjang. Avius bahkan sampai kelepasan menepuk jidatnya sendiri karena menyadari Dominica sudah memakan bulat-bulat umpan si wanita. Dominica langsung melemparkan tatapan segarang harimau yang membuat Avius berjenggit dan menggunakan tubuh Ditto yang besar untuk bersembunyi, lalu tiba-tiba saja melanjutkan.

" … tapi jika kau sendiri bersedia sekuat tenaga memungkinkan kami semua melakukannya." Kata Dominica, sambil tersenyum licik. Mendengar kata-katanya yang ini Ditto terkekeh. Avius melongo. Sedangkan si wanita tertawa maniak. Dominica yang terlihat seperti anak kecil, ternyata memang tidak sebodoh yang mereka sangka. Dia justru perempuan paling manipulatif yang pernah ada.

"Ho, tantaangaan balyk. Baru kaly iny acku meelehaat yank seeperti iny. Yni jaady semaaken menaarek." Kata si wanita, terlihat sangat senang. "Baik, acku terima. Tydak ada salaania berseenaang-seenaang dengan kaalyaan." Katanya lagi melanjutkan. Dia menjabat tangan Dominica yang terulur.

Dan beginilah tim beranggotakan empat orang ini terbentuk. Seorang maid tanpa ekspresi bernama Catherine kemudian mendekati mereka. Dia mengantar mereka ke tempat pelaksanaan misi. Sebuah gurun tandus bernama Padang Shohr'n.

---

Satturine, 26th Turaan 725 Hejira,

Hai semua !

Maaf aku baru menulis lagi setelah sekian lama. Aku harus dikirim dinas ke pedalaman selama seminggu. Jadi baru bisa melanjutkan cerita ini. Waktunya pun sangat sempit. Karena aku juga harus bersiap untuk datang ke pernikahan seorang kawan. Oh, mudah-mudahan aku bisa melakukannya. Karena hari ini adalah deadline terakhir submisi cerita.

Jujur, aku tidak lagi mendengar suara Ditto, Avius, Meredy dan Domy di kepalaku beberapa hari ini. Mungkin mereka sudah lelah mengontakku yang tak kunjung menjawab dengan telepati Avius. Atau bisa juga mereka sudah bersiap-siap menerima takdir yang dituliskan penulis yang lain.

Oh, ya, kembali ke Padang Shohr'n tempat keempat orang ini dikirim bersama seorang maid untuk melaksanakan misinya. Padang itu luas dan gersang. Di kaki bukit tempat keempat peserta dan si maid berdiri, terdapat perkemahan prajurit Alforea. Beda dengan suasana Realm of Night tahun 725 Hejira yang kemahnya terbuat dari kain, kemah disini terbuat dari tembok bongkar-pasang dari bahan logam yang sangat ringan namun cukup kuat menahan terpaan hujan batu. Di sudut sebelah Timur, beberapa palka terbuka dari tanah dan senapan super besar di baliknya menembakkan peluru sinar ke arah medan pertempuran. Di sebelah barat, puluhan mechanical robots yang dikendarai masing-masing pilot hilir-mudik mengisi logistik, mengangkut shuttle yang berisi prajurit terluka ataupun prajurit siap tempur, ataupun terbang dan melibas monster yang merangsek masuk melewati garis perbatasan. Suasana yang terlihat begitu futuristik, dengan panel-panel hologram berlambang kuda sembrani yang membara berkibar di seantero tempat.

Melihat keempat peserta yang melongo membuat si maid harus berdeham untuk mendapatkan perhatian mereka. Dia menjelaskan dengan nada monoton bahwa di padang ini, mereka berempat harus bahu-membahu membantu menyegel kembali seekor monster legenda bernama Tamon Rah yang akan segera bangkit setelah Bulan Alkima di atas sana terbelah. Tamon Rah tidak bisa mati. Senjata bisa melukainya, tapi dia bisa menyembuhkan dirinya juga. Serangannya sendiri sangat kuat. Dia bisa membuat siapapun yang ada di dekatnya menjadi arang. Dia bisa mendeteksi peserta yang menggunakan kemampuannya dari jarak 100 meter dan biasanya akan mengejarnya. Lima menit sekali dia akan menembakkan bola-bola api. Serangannya tidak pandang bulu karena dia sudah gila. Untuk menyegelnya, mereka harus menghancurkan menara kristal kembar yang ada di Kastil Shohr'n yang terlihat jauh di ufuk Utara. Untuk mencapai tempat itu mereka harus melewati medan pertempuran yang tengah terjadi antara Pasukan Kerajaan Alforea melawan ribuan monster. Lebih kompleks lagi dari semua itu, menara kristalnya harus dihancurkan bersamaan dengan serangan fisik dan jika didekati dari jarak 5 meter dia akan mulai menembaki peserta.

"Ini misi yang mustahil!!" Jerit Dominica. Wajahnya pucat pasi.

"Sebeelum kaamy sampaay dysana, dengaan hujan tembakan pasukaan Alforea dan terjaangan monster sepeerty ithu, sudah paasti kaamy jaady bubur!!" Seru si wanita berbaju hitam tak kalah panik.

"Hm, mungkin benar. Tapi lihatlah bangunan di sebelah sana." Kata si maid sambil menunjuk ke sebuah bangunan di pusat perkemahan. Bangunan berbentuk piramida berwarna keemasan itu bersinar sangat terang. "Nama bangunan itu 'Osiris Resurgence'. Itu tempat kelahiran kembali kalian. Dalam dua menit, Alforea akan mengumpulkan kenangan dan segala yang tersisa dari kalian, menjadikannya utuh kembali di sana." Kata si maid.

"Ou, respawn ?" Kata si wanita berbaju hitam. "Yni jaadi kelyhataan mudaa." Katanya mengerti.

"Apa itu respawn ?" Tanya Dominica, mewakili Avius dan Ditto yang juga tidak mengerti.

"Intynia kyta tydak akaan matie. Kyta akaan dybankytkan kembaaly dei ruaangan ithu seteelaah dua menyt." Kata si wanita. Kelegaan dan jeritan senang segera membuncah dari Dominica, Avius dan Ditto.

"Sebelum kalian senang aku perlu memberitahu hal penting. Pertama, kalau bangunan itu rusak, kalian tidak akan bisa bangkit kembali. Kedua, jika semua dari kalian tewas dalam waktu 2 menit setelah peserta pertama tewas, sistem akan menganggap kalian 'game over' dan kalian tidak akan bisa bangkit kembali. Ketiga, pasukan Alforea dan monster tidak bisa dihidupkan kembali." Kata si Maid.

"Hei, itu sama sekali tidak menguntungkan. Yang benar saja!" Seru Ditto. Avius yang masih kebingungan membuatnya menjelaskan lebih jauh. "Karena kita tidak akan berada di tempat terakhir kita berada. Itu berarti jika diantara kita ada yang harus dibangkitkan, orang itu akan terpaksa menembus pertempuran itu sendirian." Kata Ditto.

"Jadi dia mau bilang, jangan sampai salah satu diantara kita ada yang tewas dan tertinggal, begitu ?" Tukas Avius.

"Ou, beenaar jugaa!" Kata si wanita, mendadak menyadari apa yang terjadi. "Ithu samaa sajaa mengulaank daari awaal. Sementaara jycka kyta semua memilyh matie bersaamaen malaah membuaat kyta 'game over'." Kata si wanita.

"Oh, kau menghancurkan kebahagiaanku, Nona Maid." Keluh Dominica lemas. Dia melorot jatuh seketika.

"Jadi kalian sudah mengerti ?" Kata si maid, tetap dengan nada monoton tanpa ekspresi lebih ataupun kurang sedikitpun di wajahnya. Seakan dia sama sekali tidak mendengar atau melihat keempat peserta yang mulai kehilangan semangatnya. "Kuulangi, apa kalian mengerti ?" Tanyanya lagi. Tidak juga dijawab malah membuatnya mengulangi pertanyaan. Sekali lagi tanpa perasaan.

"Ya, kami mengerti." Jawab Ditto, mewakili teman-temannya yang masih syok.

"Baik, kalau begitu aku pergi." Kata si maid. Pintu dimensi terbuka dan dia melangkah melewatinya. Meninggalkan keempat peserta yang tidak tahu apa yang harus mereka lakukan.

"Sebaiknya kita turun ke perkemahan. Kita harus cari tahu situasi di sini." Saran Ditto pada semua. Tidak ada yang menjawabnya. Semua sibuk dengan pikiran mereka sendiri-sendiri. Tapi setidaknya ketiga kawannya mengikutinya dengan patuh menuruni bukit.

Ditto sendiri berpikir dalam diam. Dia belum memberitahu semuanya kalau pedang miliknya tertinggal di Realm of Night hingga tanpanya dia bukanlah penyerang. Perlu digarisbawahi bukanlah penyerang. Melainkan hanyalah seorang dengan kemampuan blacksmith yang menyedihkan. Ia mendengar sebelumnya bahwa Avius ahli penyembuh dan sihir pertahanan. Dia bisa membantu pemulihan semua orang hingga tidak ada satupun diantara mereka terpaksa harus respawn dan tertinggal. Sedangkan Dominica seorang word manipulator, meskipun entah apa artinya itu. Ditto berharap mudah-mudahan itu bisa digunakan untuk menyerang. Lalu si wanita berbaju hitam, dia seorang penembak. Dia harapan yang pasti untuk tim kecil mereka. Setidaknya wanita itu dibutuhkan hingga Ditto bisa menemukan senjata untuk dirinya sendiri.

"Di-Ditto, b-bisakah aku memastikan yang .. k-kulihat benar ?" Tanya Avius dengan nada ketakutan.

"Ya ?" Tanya Ditto seraya melempar pandang pada arah yang dilihat Avius. Ia tersentak seketika. Tepat disana, terdapat beberapa monster serupa jelly melompat-lompat. Dari jauh jelly-jelly itu tampak kecil, tapi begitu dekat Ditto yakin ukurannya mencapai 50 centi. "Monster jelly." Gumam Ditto.

"Gawat, adakah jalan lain ?" Desis Dominica. Dia mengecilkan suara agar jelly-jelly itu tidak perlu menyadari kehadiran mereka.

"Tydak mungkieen. Yni jaalaan seetapaak." Desis Meredy.

"… Adakah yang punya pedang ? Aku akan menyingkirkan mereka!" Kata Ditto.

"Mana ada?! Memangnya dari tadi ada diantara kita yang merupakan swordman ? Ha ?! Tunggu! Kau bukannya fighter tangan kosong ?!!" Teriak Dominica terkejut. Suaranya yang nyaring sukses membuat para jelly menyadari kehadiran mereka. Jelly-jelly itu melompat-lompat mendekat. Matanya yang merah menatap garang.

"Uh-oh, mereka k-kemari." Kata Avius panik.

"Pinjam!" Serta-merta Ditto mengambil tongkat sihir yang digunakan Avius. Lalu dia berlari ke arah para monster. Dia menggunakan tongkat itu seperti pedang. Dia mengayun menebas ke arah mereka, hanya berhasil menyingkirkannya dari jalanan. "Ayo!" Katanya, memanggil teman-temannya mendekat.

Ditto menebas lagi beberapa monster serupa lendir berwarna kebiruan. Tebasannya membuat monster-monster itu terpelanting jatuh dari tebing. Tapi seakan tidak habis-habisnya, mahkluk-mahkluk itu terus bermunculan.

"HYAA!" Seru Dominica nyaring.

Gadis kecil itu membantu Ditto menyerang setengah lusin jelly yang merangsek dari sebelah kirinya dengan senjata berbentuk clurit. Tenaganya tidak seperti hentakan anak kecil biasa karena terbukti mampu membuat para jelly mental jauh bersamaan. Di belakangnya tampak Meredy mengamankan punggung mereka semua dari serangan mendadak dengan menembakkan [Shockwave Bullet] ke arah sekumpulan monster.

"Pergi KALIAN!!" Seru Ditto, mengayunkan sekuat tenaga tongkat Avius untuk mendorong jatuh selusin jelly. Suara 'krk' pelan terdengar dari tongkat besi itu tatkala dia melakukannya. Ditto segera mengobservasi tongkat sihir Avius. Dia melihat tongkat itu sedikit koyak di beberapa bagian. "Sial, ini tidak cukup kuat." Desisnya.

"Ada apa?" Tanya Avius.

"Tidak. Tolong pinjami aku tongkatmu setidaknya sampai kita tiba di kemah." Kata Ditto. Dia memilih tidak bicara jujur karena berpikir Avius mungkin akan panik jika mengetahui tongkatnya retak.

"Baiklah, tapi tolong jangan sampai rusak. Itu soalnya peninggalan guruku." Kata Avius, tepat di tempat yang dikhawatirkan Ditto. Mencoba tidak memikirkannya Ditto berlari mendahului untuk menyingkirkan monster-monster lain yang menghadang.

"Material Change!" Seru Ditto, tepat sebelum mengibaskan tongkat Avius pada sekumpulan mandragora—sebentuk umbi seram yang menyerupai bayi, agar mereka jatuh dari tebing. Dari tangannya mengalir lapisan logam hitam serupa dengan material pelapis sarung tangan dan sepatu bootnya menyelimuti sempurna tongkat Avius. Dia mengubah logam material penyusun tongkat itu menjadi Helioshell. Lelah perlahan terasa merambati kakinya. Membuatnya sedikit limbung. Perubahan materi tongkat itu rupanya cukup ekstrim.

"Hei, kau tidak apa-apa ?" Tanya Avius.

"Tidak apa. Hanya sedikit … AWAS!" Ditto mendorong Avius ke balik punggungnya. Sementara dia menyingkirkan lendir yang hendak melompat menghinggapi mereka. "Uh, tepat waktu. Sedikit lagi, dia akan menghinggapi kita." Kata Ditto.

"Maaf, apa kau lelah ? Aku bisa menyembuhkanmu tapi aku butuh tongkat itu untuk memusatkan kekuatan sihirnya." Kata Avius.

"Jangan khawatir, kita punya banyak waktu lakukan itu di kemah." Kata Ditto sambil menepuk pundak Avius.

"Ditto!" Seru Dominica nyaring.

Tepat ketika Ditto menoleh, sebuah pedang dilemparkan ke arahnya. Ditto menangkapnya. Dia menatap Dominica dengan pandangan bertanya.

"Pakai!" Kata Dominica. Dia kemudian mengayunkan cluritnya untuk membabat tujuh mandragora sekaligus. "Itu hasil materialisasi. Kemampuanku sebagai word manipulator adalah membuat apapun yang kukatakan jadi nyata. Tapi maaf hanya bertahan 3 menit!" Katanya.

"Tidak akan kusia-siakan." Kata Ditto, sambil tersenyum senang.

Dia mengembalikan tongkat Avius dan berlari membantu Dominica menghajar selusin pasukan tulang lalu sekelompok jelly, lendir dan mandragora. Avius segera merapal mantra. Cahaya hangat Aura Ventus menyembuhkan kelelahan Ditto dan kawan-kawannya. Meredy mendekat, menembakkan beberapa kali peluru dari Avarice—pistolnya, yang berubah warna menjadi kelabu. Sayangnya, untuk tembakan ini dia seringkali meleset. Ditto dan Dominica harus bergerak cepat melumpuhkan musuh yang tidak terkena serangannya. Banyaknya monster membuat mereka terkepung dan tidak bisa maju lagi selangkah pun. Padahal kemah hanya tinggal berjarak 50 meter di bawah kaki bukit.

Lampu menara pantau perkemahan tiba-tiba menyorot kearah Ditto dan kawan-kawan. Tak lama kemudian mereka mendengar suara mekanis yang berkumandang di pengeras suara memerintahkan bahwa para prajurit jaga sebaiknya segera menjemput empat orang sipil yang terlihat menuruni bukit.

"Orang sipil .. maksudnya kita?" Tanya Avius.

"Sepertinya begitu." Kata Ditto. Ia mendengar deru mesin terbang mendekat. Rentetan peluru dari mesin terbang berbentuk capung itu membabat habis monster yang berada di sepanjang jalan. Ditto dan kawan-kawan sendiri membunuh sisanya.

"Ayo, naik!" Seru seorang laki-laki mengulurkan tangan dari dalam mesin terbang. Badge kuda sembrani membara terjahit di lengan kemeja safarinya. Dominica naik lebih dahulu, lalu disusul Meredy dan Avius. Ditto melompat tepat ketika mesin terbang itu melangit lagi. Dari tempatnya bertengger, dia melihat bukit itu penuh dengan kerumunan monster.

"Apa yang kalian lakukan di sana ? Itu berbahaya!" Kata laki-laki yang bernama Irwin. Setidaknya itu terlihat di badge nama yang terjahit di dada kemeja safarinya.

"Kami dikirim kemari oleh panitia Battle of Realms." Kata Avius.

"Panitia Battle of Realms ? Oh, maksudmu Ratu Tamon Ruu dan Tuan Hewanurma ?" Tanya Irwin antusias.

"Jaade peerempuaan aneeh itu ratu kaliaan ? Yah, setydaaknia dya meemank mengeenaakan maakota keteeka bycara." Kata Meredy pedas. "Heewanurmaa itu … maasudmu si kaakee ?" Lanjutnya.

"Ya, ya! Itu mereka. Jadi benar kalian dikirim dari Despera ?! Oh, syukurlah kalian segera datang." Kata Irwin lega.

"Tunggu, Irwin, memangnya ada apa ?" Tanya Ditto.

Irwin segera menjelaskan bahwa keadaan di sini sudah sangat buruk. Pasukan Kerajaan Alforea sudah kehilangan dua per tiga jumlahnya sejak dikirimkan dari Despera. Tapi kastil Shohr'n belum juga bisa ditembus. Ribuan monster tiada habis terus saja keluar dari dalam kastil. Memblokir jalan dan menghancurkan setiap regu yang mereka kirimkan. Bukan hanya itu, para pengamat angkasa mengatakan jarak Bulan Alkima sudah melewati batas normalnya. Bukannya tidak mungkin, Tamon Rah, guardian legenda Negeri Alforea akan terlepas dari kurungannya hari ini juga.

"Mengapa kalian takut sekali jika Tamon Rah keluar ? Maksudku, dia memang tidak bisa mati, serangannya hebat dan konon sudah gila. Tapi dia hanya mahkluk biasa, bukan ? Memangnya dia seperti apa ?" Tanya Dominica.

"Kau lihat badge yang kami pakai ini ?" Tanya si prajurit sambil menunjuk lambang kuda sembrani membara di lengannya. "Dialah Tamon Rah. Dia menjadi lambang negara kami setelah ratusan tahun lalu membantu Ratu Tamon Ruu menghentikan pertikaian saudara berdarah di Alforea selama-lamanya. Dia setinggi 50 meter. Kira-kira sepanjang 10 mesin terbang ini dijejerkan. Dia melibas apapun didekatnya menjadi arang. Dia menembakkan bola-bola api yang kuatnya setara tumbukan meteorit. Dia juga tidak bisa mati." Kata Irwin. "Tapi dia haus pertempuran, dan menjadi gila. Dia sengaja menghancurkan kota yang damai agar banyak orang bergerak melawannya. Ratu Tamon Ruu jadi sangat sedih dan terpaksa mengurungnya di sana. Di Bulan Alkima." Kata Irwin. "Tapi beberapa hari lalu, peramal mengatakan bahwa Tamon Rah akan dibebaskan dari penjaranya tidak lama lagi. Seseorang membangun menara kristal di Kastil Shohr'n yang mengirimkan sinyal koding pembuka ke penjara Bulan Alkima. Itu sebabnya kami dikirim ke sini untuk menerobos masuk ke Kastil Shohr'n dan menghancurkan menara kristal itu. Tapi kami belum berhasil." Kata Irwin.

"Apa itu karena kalian tidak bisa respawn ?" Tanya Ditto.

"Iya, itu salah satunya. Kami hanyalah mahkluk fana biasa. Kami mati dan tidak bisa kembali bangkit untuk kembali menerobos masuk ke kastil. Tapi peramal mengatakan akan datang para petualang ke Alforea yang tidak bisa mati. Mereka akan dikirim oleh Ratu Tamon Ruu ke medan pertempuran ini." Kata Irwin.

"Hm, seegaalania tampak teelah direncanaakan olaeh waanita dan peria tua itu, ya ?" Kata Meredy.

"Jadi, kalianlah para petualang yang tidak bisa mati itu?" Tanya Irwin, antusias.

"Kalau dari kata si maid memang kami lebih punya banyak kesempatan hidup dari kalian." Terang Ditto. Tapi Irwin tidak mendengarkan. Dia keburu histeris memberitahukan si pilot dan base kalau mereka akhirnya akan bisa segera terlepas dari horor Padang Shohr'n karena kedatangan Para Petualang.

---

Hanya beberapa jam sebelum submisi, 725 Hejira …

Kawan,

Aku mungkin tak punya kesempatan menampilkan tulisan ini. Tapi inilah sekelumit kisah Ditto Stormrage yang ingin aku bagikan kepada semuanya. Semoga kalian menikmati.

Salam,
Arly Eve

---

Kembali ke Perkemahan Militer Alforea, Gurun Shohr'n ..

Tim Ditto dan kawan-kawan sudah dibagi dua. Avius dan Dominica akan berjaga di perkemahan. Mereka perlu bertahan menjaga Osiris Resurgence di sana agar tidak rusak. Jadi jika salah satu dari mereka mati masih bisa bangkit kembali. Untuk mengamati daerah, Avius mengirimkan Visus Finis berbentuk burung untuk berpatroli bersama pasukan mesin terbang. Dominica sendiri memegang mesin pemancar suara. Setiap monster dari jarak setengah kilometer dihipnotis hingga menuruti kemauannya. Monster di bukit semuanya turun dan membentuk barikade besar mengelilingi perkemahan. Siap menghadang Tamon Rah atau gelombang serangan monster yang sewaktu-waktu bisa saja memporak-porandakan medan laga.

Ditto sendiri mengusulkan agar dia diterjunkan di dekat kastil bersama sekelompok kecil prajurit untuk menghancurkan menara kristal. Misi ini sangat berbahaya, tapi secara mengejutkan Meredy mau ikut serta. Wanita itu bilang dia harus memastikan Ditto selamat sehingga dia bisa mendapatkan harta karun yang dijanjikan Dominica. Meski dia berkata begitu, Ditto sendiri cukup yakin Meredy hanya bermaksud memastikannya pulang dengan selamat. Tanpa embel-embel. Namun dia terlalu malu mengakuinya. Pokoknya, dari sana mereka akan mencoba menerobos masuk ke kastil. Perjalanan ke sana menggunakan mesin terbang. Hanya ada 14 orang yang bisa menumpang termasuk Ditto dan Meredy. Bukan hanya itu, Ditto mendapat senjata baru pemberian atasan Irwin, Jendral Marx Beaucop. Sebuah gunblade futuristik. Bisa digunakan seperti pedang tapi juga bisa untuk menembak. Tembakannya memang tidak terlalu tepat. Tapi dia bisa belajar. Ditto juga sudah mengobservasi senjatanya. Berjaga-jaga bila sewaktu-waktu dia perlu merubah materialnya.

Mesin terbang melayang rendah di atas kastil. Ratusan monster terlihat lalu lalang. Para prajurit melempari mereka dengan granat tangan yang daya ledaknya membuat sebagian halaman berlubang. Dengan cepat, api besar membakar para monster. Yang tidak terkena serangan kabur ke dalam kastil. Pada halaman kastil yang kosong tali-temali diturunkan dari mesin terbang. Satu persatu orang turun melaluinya.

Ditto dan Meredy dapat melihat menara kristal kembar terletak di masing-masing ujung sayap kiri dan kanan Kastil Shohr'n sesampainya mereka di halaman. Mereka mengangguk dan mengontak Avius yang berbicara pada mereka menggunakan Aeternal Litera—telepatinya. Dari pembicaraan, mereka sepakat, Ditto akan menghancurkan menara yang kiri, sementara Meredy yang kanan. Mereka akan menggunakan tembakan untuk menghancurkan menara, hingga tidak perlu menerima serangan otomatisnya. Semuanya sudah kelihatan sangat sempurna. Tapi kalian salah besar.

Bulan pecah jadi dua. Suaranya yang menggelegar membuat tak seorangpun tidak terkesima melihatnya. Tamon Rah berlari mendekat ke medan laga. Dia menghancurkan pasukan robot mekanis dan para monter di medan laga utama. Monster-monster dalam kendali hipnotis Dominica kemudian menarik minatnya. Dalam sekali terjangan dia membuat apa yang ada hangus tak bersisa. Avius masih bisa menyelamatkan Dominica karena dia segera bergerak membawa pergi gadis kecil itu segera setelah bulan pecah. Tapi konsekwensinya, Osiris Resurgence tidak bisa mereka selamatkan.

"Misi kami gagal Ditto, Meredy. Tamon Rah mengamuk di perkemahan." Kata Avius. "Aku harus memutuskan kontak sekarang atau dia akan mengejar kami." Kata Avius.

"Sampai jumpa lagi. Tolong jangan mati." Terdengar suara Dominica agak jauh dan diiringi teriakan. Dia sepertinya tengah bertarung dengan monster-monster sembari berkata-kata.

Ditto dan Meredy kemudian membuat rencana baru. Mereka akan menembak peluru kosong tiga kali jika sudah tiba di lokasi dan dalam keadaan siap menembak. Tadinya komando itu akan diberikan Avius melalui telepatinya. Tapi sekarang tidak mungkin lagi. Dengan masing-masing tim berisi tujuh orang, mereka berpencar.

Ditto menghabisi setiap monster yang mendekat dengan mengayunkan gunbladenya. Pedang itu agak sedikit lebih berat dari Jeera, meski secara fisik Jeera lebih besar. Tapi bukan berarti itu menjadi halangan. Dalam waktu singkat Ditto bahkan bukan hanya mampu menguasai gunbladenya sebagai pedang, tapi juga sebagai pistol. Dia dan para prajurit mampu menyingkirkan puluhan monster dalam waktu singkat. Mereka terus merangsek masuk ke puncak sayap kiri.

Tembakan tiga kali terdengar dari puncak menara kanan. Itu signal dari Meredy. Ditto segera mengarahkan senjatanya ke atas. Dia meminta agar seluruh timnya waspada selagi dia menghancurkan menara bersama Meredy. Dia lalu menembakkan peluru tiga kali ke atas memberi tanda pada Meredy bahwa ia juga siap. Pada tembakan kesepuluh setelah tembakan ketiga, Ditto dan Meredy, berhasil menghancurkan menara kristal bersamaan.

Pecahnya menara seketika menghilangkan pula monster-monster yang ada di Padang Shohr'n. Tamon Rah sendiri terhisap ke angkasa. Dia meringkik tidak senang karena harus kembali ke penjaranya di Bulan Alkima.

Ditto jatuh lemas. Dia tak menyangka ini berakhir baik. Sebuah mesin terbang datang menjemputnya. Meredy menjulurkan tangan membantunya naik. Di dalam sana, tampak juga Avius dan Dominica. Mereka juga tampak baik-baik saja. Hanya telinga mereka berdarah dan sedikit luka bakar di tangan dan kaki.

Sesampainya di perkemahan, seorang maid tampak berdiri menyambut mereka. Dia menghormat kepada keempat peserta dan membukakan pintu dimensi untuk mereka kembali ke Despera.

21 comments:

  1. Kesan pertama baca ini kayak baca diari orang XD.
    Kesan kedua battlenya tampak mudah, awalnya saya pikir bakal kayak di game kalo mati hidup lagi buat lanjutin misi.
    Kesan ketiga pembuatan cerita ini tampak terburu-buru jadi super singkat kayak cerita punya saya

    Nilai 7/10
    OC : Izu Yavuhezid

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, salam kenal Mas Draft, eee .. atau Mbak Draft ? Ehehe ..

      Sebelumnya terima kasih banyak sudah menaruh komentar di tulisan acak-kadulnya si Arly. Dia memang kalau curhat suka tidak tahu waktu. Tiba-tiba saja suka celetuk yang aneh-aneh. Dimana-mana maunya update status dan numpang ngetop. #plaaak, dilempar sepatu heels 12 senti punya Arly.

      Berhubung dia sekarang lagi sibuk kerja, aku yang bales comment-nya, ya.

      Aku setuju dengan kamu, ketahuan banget si Arly dikejar-kejar deadline ya ?

      Tapi kalau soal battle tampak mudah memang murni gak sengaja. Kita berdua ini mungkin lebih tepatnya "terbiasa dengan rencana matang". Kita berdua sepakat gak mau bertindak sebelum semuanya bisa dipastikan berhasil atau gagalnya. Makanya kalau battle jadi kelihatan mudah karena rencananya sudah kelihatan efektif, bener-bener gak sengaja. Semacam self insert di bawah sadarnya penulis.

      Soal Osiris Resurgence yang terkesan gak ada gunanya, Arly sendiri pernah bilang sama aku kalau dia sebenarnya mau membahas gimana Avius dan Dominica mengalihkan Tamon Rah habis-habisan dari Ditto dan Meredy yang ada di kastil. Dominica yang mau gak mau jadi harus ada di garis depan, beberapa kali tewas dan dibangkitin lagi. Makanya dia geram banget karena Arly gak juga nulis entry (wong dia sampe merasakan mati berkali-kali disana). Belum lagi soal gimana bisa para OC di Alforea itu tiba-tiba punya ide untuk menggunakan telepati Avius untuk bicara pada Arly. Tapi adegan-adegan ini terpaksa harus diceritakan super duper singkat atau bahkan malah terlupa karena waktu tinggal beberapa jam sebelum deadline.

      Aku mewakili Arly mohon maaf kalau tulisannya ini belum optimal.

      Di kesempatan lain, mudah-mudahan Arly bisa menuliskan adegan yang lebih banyak menguras emosi--para pembaca- dan tenaga--para OC-. Btw, comment dari kamu benar-benar jadi pacuan untuk Arly dan juga aku--sebagai other personanya, jadi lebih baik lagi. Terima kasih banyak sekali lagi ya.

      Delete
  2. Suka sebenernya sama gaya pembawaan ceritanya yg melibatkan penulis, bikin penasaran gimana kelanjutannya. Sayangnya agak kebanyakan di awal, jadinya timpang. Kalo misal imbang dan merata sih enak. Di akhir penulis gak terlalu banyak nongol, di awal kebanyakan nongol. Padahal kalo mau dibikin kayak semacem diari, mending lebih all out. Mungkin gara-gara terlalu mepet deadline ya? Padahal dah berharap gaya "diari" ini konsisten sampe akhir. Soalnya tadi di tengah masih interaksi antara OC sama penulis, tapi makin ke belakang makin ilang. Padahal sempet berharap dia bakal ngobrol lagi sama OC :"

    Sama kayak komen atas, adegan tempurnya ada yg kurang. Soal respawn itu apalagi, rasanya ada atau nggak jg ga ngaruh2 banyak ke cerita. Ga signifikan soalnya gak terlalu kelihatan butuhnya. Gak ada yg mati juga buat respawn kan?

    Rushed ending, kayaknya banyak deadliner yang kena ini. Padahal kalo di-expand lagi bakal lebih enjoyable buatku.

    Yah, 5/10 dari aku :'D

    ~JFudo
    ~Lo Dmun Faylim

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Mas Jihad, salam kenal !

      Terima kasih banyak mau menyempatkan diri untuk mampir membaca tulisan curhatnya Arly dan bahkan menaruh komentar di sini. Maaf karena Arly saat ini lagi tepar berat abis lemburan kerja, jadi aku –lagi-lagi-- yang bales. Tapi dia tetap stay on di sini kok, mengamati jangan sampai replyku gak sesuai sama keinginan dia.

      Satu, mengenai konsisten. Ternyata gaya penulisan penulis pun juga bagian dari lingkupnya poin konsisten ya ? Tadinya kita kira konsisten itu semacam tidak boleh OOC pada karakter saja. Jadi belajar hal baru ini. Ehehe ..

      Eh, Mas, ngomong-ngomong si Arly senyum-senyum tuh dari tadi di depan komputer. Seneng kayaknya, ada yang bilang diarinya enjoyable.

      Well, kalau boleh jujur, dia sebelumnya sempat debat sama aku soal entry yang timpang ini. Awalnya kita cari solusi gimana nulis entry secepatnya karena keterbatasan waktu. Soalnya pada waktu-waktu dekat ini tidak diduga bener-bener gak ada waktu spare untuk nulis entry. Nah, kebetulan Arly itu orangnya kalau curhat gak tahu tempat, waktu sama malu. Jadi aku dan dia sepakat mau pakai tulisan diary dia yang udah ada aja. Cuma ya itu, dia self-centric banget sampe Ditto dan kawan-kawan hampir kelelep dalam curhatan dia. Nah, di sinilah awal debat aku sama dia. Aku saranin cerita Ditto dikeluarin. Diceritakan lebih detail. Karena memang tujuan tulisan dia bukan sekedar diary lagi, tapi juga entry untuk Battle of Realms. Makanya gaya-gaya dia nulis jadi berubah pas akhir-akhir karena kejar dominasi Ditto sebagai main fokus cerita. Sehingga ceritanya berjalan sangat-sangat cepat dan ‘terasa sudah disetting seperti itu oleh si penulis’. Ujung-ujungnya kena penalty di poin konsistensi, ya ? Karena ini murni aku yang kasih dia saran, jadi aku minta maaf karena bersalah membuat Arly jadi gak optimal nulis curhatnya. Maaf ya. –sembari nunduk ala jepang--

      #See ... Aku benar! 100% benar!
      #Apa katanya tadi ? Enjoyable ‘kan ?
      #Coba aja kamu gak ganggu-ganggu aku. Pake segala ingetin itu kerjaan udah mepet waktu juga! Aku harusnya bisa lebih lama chat sama Avius .. eh, maksudku sama Ditto dkk. Mereka nggak perlu diemin aku sampai sekarang begini.
      #Ini salah kamu!
      --ngomel—
      --ngomel—
      --ngomeeeeel--

      Aaa ... ee ... Maaf, Mas. Ini si Arly tiba-tiba aja ngebajak aku dan nulis ngalor-ngidul di reply-nya. Yah, klo boleh jujur, dia itu memang hepi banget bisa ngomong sama ehm, ... Avius .. dan semuanya. Tapi klo dia keterusan ngobrolnya sama mereka, kerjaan kita di dunia nyata gak kelar-kelar, begitu juga entrynya. ^_^

      #Jangan cengar-cengir, Resek!
      --lempar sepatu--

      Hiee, maaf! O-oke, sekarang kita masuk ke poin selanjutnya, adegan tempur, respawn dan rushed ending. Aku mungkin udah bahas di reply sebelumnya, kalau memang kita berdua gak sengaja self insert di plot dan ada beberapa adegan terlupa dan gak sempet dijelaskan detil karena memang mepet banget deadline. Sekali lagi mohon maaf karena tulisannya tidak optimal.

      Terima kasih banyak sekali lagi atas reviewnya. Membantu sekali buat kami berdua untuk jadi lebih baik lagi.

      Delete
    2. This! Gaya bicara ini, meski mungkin gak semua menikmati, sebenernya aku demen.

      Breaking fourth wall. Jarang ada author yang nulis cerita kayak gini soalnya, jadi kurasa unik. Kalo memang pengen jadiin ini gaya penulisan Arly, sebaiknya lebih dimaksimalin. Tapi bukan berarti kebanyakan juga ya, soalnya yang di prolog terlampau banyak kurasa. Diimbangin lah antara Ditto dan Arly porsi ngomongnya di cerita, malah kalo bisa dominan Ditto (karena dia Main Character-nya, bukan Arly). Yg bikin aku ngerasa gak konsisten itu di depan terlalu banyak 'diari' di belakang terlalu sedikit. Seandainya porsinya imbang depan-belakang, mungkin bisa lebih menarik. Bukannya di depan bejibun kayak ngomong sendiri, terus di belakang hilang sama sekali. Proporsional lah. Arly boleh ada, tapi gak mendominasi kayak di prolog dan gak "menghilang" gitu aja kayak di epilog. Afterall yang ngenalin ceritanya kan Arly, masa yg nutup ceritanya bukan Arly juga? Yg diceritain Ditto, masa di awal Arly mulu yg nongol? :D

      tl;dr

      Aku udah baca review Paman Sam di bawah, kurang lebih sama. Gaya 'diari' ini buatku menarik, tapi sayang banget gak imbang porsi Ditto sama Arly. Aku berharap next time lebih enjoyable lagi kalo nggak deadlining wkwk.

      Ohiya, just call me by my alt. name, Fudo. ^^

      Delete
    3. Oh tambahan, aku ga ada problem sama hashtag dan lain sebagainya, soalnya itu bagian dari gaya penulisan. Selama bisa dinikmatin dan bisa bikin mesam-mesem sih aku oke. :D

      Delete
  3. Hehe, sebenarnya saya, si penulis Vajra juga terlibat dalam entriku, lho. Memangnya siapakah pencipta "Everna Online" itu?
    Kelihatan banget kamu di awal ingin mencoba pendekatan yg lumayan "beda" dgn melibatkan penulis sbg narator, Tapi pas battle, terutama di bagian akhir karena terburu2, gaya nulisnya berubah jadi "siaran berita". Well I got news for you, saya dulu juga bbrp kali jadi deadliner tapi tetap berusaha utk konsisten. Soalnya kalau tidak, kadar mutunya begini: 5/10 (kebantu +2 di awal-pertengahan aja). OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hai, Kak Andry. Salam kenal!

      Senang sekali dapat komentar dari pengarang Radith. Radith itu salah satu OC favoritku, terutama karena wajah dibalik topengnya, ups! ;)

      #Hei, hei, sadar umur, Tante!

      What? ‘Tante’?! Aku juga gak masalah kamu kecentilan sama Avius di entry, jadi jangan ganggu aku. Apalagi nyebut-nyebut aku tante, OKE?!

      #Tapi Avius kepala dua, si Radith kepala satu!! Dasar shota complex ..

      Sh-shota ... com ...

      #Udah, ngaku aja kalau kamu ngejadiin Ditto blacksmith menyedihkan itu juga demi Radith ‘kan ? Supaya kalau zirah antakusuma-nya rusak ada yang bisa bantu betulin. Jadi gak usah malu-malu gitu.

      ARLY!!
      --tulisan berhenti sampai sini karena kedua persona ini lagi ribut sendiri sesama mereka—

      Delete
    2. Reply kedua
      Maaf, Kak Andry, kacau gini reply-nya, ya ?

      Tapi terima kasih banyak sudah mau mampir komentar dan kasih review di sini. Senang banget aku dan Arly tahu kalau ternyata ada yang sama-sama self insert di entry. ;) Ngomong-ngomong, jadi tertarik pengen tahu Everna Online juga jadinya. Ehehe ..

      Soal battle yang gaya nulisnya Arly tiba-tiba berubah jadi siaran berita –dan kena penalty konsistensi—sudah kucatat. Semua saran-saran dari Kak Andry benar-benar jadi acuan untuk aku dan Arly jadi lebih baik lagi. Mudah-mudahan setelah ini aku diberi kelancaran segala urusan di dunia nyata ataupun BOR, hingga masih bisa lanjut ke babak selanjutnya dan memperbaiki ini semua. Jadi tidak mengecewakan pembaca lagi. Sekali lagi terima kasih banyak atas semuanya.

      Delete
  4. Oke review dimulai.

    Plot : Awalannya asik, pake narator gaya diari yg isinya curhat. Lumayan menghibur, tapi sayangnya narator nggak dipertahankan sampai akhir. Kesannya jadi terburu2, mungkin bakal lebih seru lagi klo narator ikut mengomentari perang seolah dia nonton TV, ya nggak?

    Misal kayak "Woy Meredy, tembakanmu nggak kena tuh. Hahahahaha!"

    Lumayan lucu kan klo battlenya ditonton di TV sambil dikomentari. Anggap kayak pewdiepie lagi main game, wkwkwkw. Tapi kayaknya authornya bener2 sibuk IRL, sehingga nggak sempet lanjutin diarinya dan terpaksa nyelesein ini dengan cepat krn udah kepepet.

    Ah, soal paragraf, beberapa paragraf terasa agak terlalu panjang sehingga agak capek bacanya. Ini mungkin kembali ke preferensi masing2 soal panjang paragraf.

    Sistem respawnnya nggak digunakan dengan baik, sehingga cuma jadi angin lalu. Ini cukup disayangkan, karena ini bisa jadi satu poin yang menarik. Misalnya, Meredy mati terus, terus ngerage, maju, mati, respawn, terus gitu sampe temen2nya heran wkwkwk.

    ===

    Karakter : Aku nggak akan mengomentari cara bicara Meredy. Aku anggap itu sebagai kreativitas author. Cukup menarik sih, beda aja sama yg udah2.
    Mungkin Meredy nggak semanipulatif aslinya, atau sekasar di entry Kai, tapi buatku masih oke kok.

    Sayang interaksi antar karakter kurang tergali, karena mereka cuma "dipilih" sama author. Pengenalan juga dilakukan author, alih2 mereka berkenalan satu sama lain. Jadi emosinya kurang terbangun.

    Karakterisasi karakter2 lain juga kurang tergali banyak, makin menekankan kesan terburu2 entry ini. Meredy dan Dominica berpotensi jadi duo yg kerjanya selalu bertengkar dan respawn mulu gara saling jatuhin. Avius berpotensi jadi pendingin suasana, dan Ditto akhirnya bisa tampil sebagai everyday hero lho dengan kombinasi ini.


    ===


    Battle : Sayang banget, battlenya nggak sampe 1/4 cerita. Minim dan keliatan banget dikerjakan secara terburu2. Sangat disayangkan authornya sibuk hingga nggak sempet bercerita.

    Aku masih pengen liat kelanjutan diari ini, cukup menyegarkan. Tapi disisi lain aku nggak bisa ngasi nilai tinggi karena entrynya terburu2. Aku harap kamu lulus prelim, jadi aku kasi 8/10 buat kamu.

    Bukan karena ada Meredy disana, tapi krn kamu pengguna author avatar yg cukup lihai dalam bercerita. Beda dgn author avatarku tahun lalu yg kejam sama OC, author avatarmu cukup menyegarkan, tanpa memberi kebingungan. Soalnya author avatar itu pedang bermata dua, klo pinter makenya, bisa jadi poin plus. Klo kurang lihai, bisa membingungkan pembaca.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Bayee! Hai!

      Woow, ini review lengkap banget!! Terima kasih banyak, ya Kak. Sudah mau repot-repot meluangkan banyak waktunya untuk menulis sedetil itu. Mudah-mudahan ada kesempatan buat si Arly ngelanjutin curhatnya ini di BOR 48. Jadi Kakak dan semua pembaca tak harus menunggu tahun depan untuk melihat perkembangan tulisannya.

      Arly sendiri sebenarnya tadinya memang mau full curhat. Tapi kacau-balau karena saran dari aku yang sebelumnya kujelaskan dalam reply-ku yang lain selain memang karena deadline. Aku minta maaf sudah membuat Arly tampak mengecewakan, ya. Padahal dia sendiri udah gak sabar ingin lanjut sharing berbagai macam pengalaman dan celetukan dia selama sambungan telepati ini masih dia dengar.

      Point perbaikan dari Kakak yang kucatat. Satu, beberapa paragraf kepanjangan. Dua, Celetukan si pengarang di tengah-tengah cerita yang harus diperbanyak dan sambungan telepati yang bisa dieksplorasi dengan kreatif. Tiga, respawn / sistem lainnya yang harus gak jadi tempelan aja. Empat, karakterisasi kurang tergali karena writer-centric dan terburu-buru. Lima, battle super singkat untuk tulisan bergenre aksi, kesannya buru-buru

      Delete
    2. #Psst! Pssst!

      Apaan, sih, Ly ? Tumben banget gak bisa diam. Dari tadi bawaannya gangguin aku mulu. Ini reply ‘kan jadi gak kelar-kelar. Udah lewat sehari lagi gara-gara tadi malam kita tepar di depan komputer. Kamu sendiri ‘kan ogah ngerjain, jadi jangan berisik, dunk.

      #Bukan, kamu gak denger itu ?

      Apaan ?

      #Makanya dengerin. Itu lagunya dikecilin.

      Aku menuruti apa katanya dan memasang telinga baik-baik. Pelan-pelan sayup-sayup aku mendengar bisikan-bisikan. Bisikan itu menguat menjadi semacam dengung siaran radio FM. Yang penyiar-penyiarnya sibuk ngoceh sendiri dari seberang sana. Dari suaranya, aku menangkap mereka berusaha mencari kelemahan sistem yang bisa didobrak untuk .. mengirim pesan kepada Arly Eve ??

      [1 message received]

      Sebaris pesan muncul di pojok kiri atas ponselku. Mengabarkan bahwa aku mendapatkan satu pesan surel. Aku membuka pratinjau surel, dan terkejut setengah mati melihat nama pengirimnya. Untuk memastikan, aku langsung benar-benar membuka surelnya.

      From: Meredy Forgone
      To: Arly Eve
      Date: Sun 24/05/2015

      Dear Ms. Eve,

      Ini kami.

      Apa kau bisa menerima email ini ?

      Kalau bisa, tolong kirim reply sebagai konfirmasi.

      Regards,
      Meredy

      #Me-mereka ... sekarang bisa kirim ... email ?

      Kayaknya iya. Barangkali ini karena kemampuan semua OC naik level sehabis battle, Ly. Ini mungkin kemampuan gabungan telepati Avius ditambah [Data Editing] Meredy dan sugesti Domy.

      #Ha, itu absurd banget ‘kan ?

      Tapi buktinya ini emailnya nyampe ‘kan ? Tapi kenapa mereka harus repot pake kirim email, ya ? ‘kan kita bisa ditelepati langsung di kepala kayak waktu itu. –berpikir keras--

      #Umm, Mir. Kalau memang semua OC naik level, kok Ditto gak kelihatan andilnya, ya ?

      Ada kemungkinan dia yang punya ide ini. Siapa lagi yang bisa-bisanya nyaranin kita ditembak [Adrenaline Shot] waktu itu.

      #I-iya, sih. Tapi .. ini bener si Meredy ? Kok, kata-katanya terasa lain ..

      Iya, ya. Apa mungkin karena kemarin kita itu ‘mendengar’ dia, dan bukannya ‘melihat tulisannya’ ? Jadi mau direply gak ini tulisannya ?

      #Nanti, deh. Kalau aku masuk jadi peserta BoR 48, bisa jadi entry menarik ‘kan ? --senyum licik—

      Hm, oke. Pokoknya, jangan jadi nyesel aja kalau ternyata kita berhenti disini. Nilai review entry-mu soalnya masih rendah, loh.

      #Nothing to lose, Beb. ‘kan tinggal buat personal note di FB yang ngelanjutin versi kita gimana. Atau bisa numpang narsis di-review cerita orang. ‘Kan panitia sendiri yang bilang kita gak boleh ngilang gitu aja dan kalau bisa terus ngasih review ke peserta yang lolos. Kita manfaatin aja space yang banyak itu. Selain itu yang gak dibilang panitia, berarti bebas. Hingga saat ini gak ada aturannya gak boleh nyampah di review untuk orang ‘kan ? –tertawa maniak—

      Ha-ha .. ha .. Iya, juga ya, Ly. –tertawa aneh—

      Oke, aku nulis bagian terakhir ini sekedar mau kasih peringatan pertama aja untuk Kak Bayee dan penulis lain yang mungkin akan menerima komentar-komentar nyampah dari Arly di masa depan. Please, please, please, jangan marah, ya. Piss. ^_^ Sekali lagi terima kasih banyak sudah meluangkan waktu untuk memberikan komentar dan menilai tulisan ini.

      Delete
  5. Why you so meta?

    Jadi di sini narator beneran terlibat aktif dalam ceritanya sendiri ya.. Ini bukan lagi PoV1, tapi kesannya kayak bener" orang lagi bacain cerita aja ya jadinya. Cuma aneh rasanya kalo dari segi kepenulisan, soalnya pake nyertain tag segala, kesannya ini cerita kayak curhatan status (atau blog) dan semacemnya

    Saya jadi agak conflicted baca ini. Di satu sisi keren juga sih, format ceritanya bener" ga biasa, dan sebenernya tulisannya sendiri rapi dan masih asik diikutin. Di sisi lain, ada esensi 'cerita' yang kayanya ilang karena terlalu writer-centric alih" ngedepanin cerita dari 'karakter'nya sendiri. Jadi ini bukan sebuah cerita, tapi postingan orang lagi ngerandom buat saya

    Masuk ke bagian habis si aku ditembak dan seterusnya entri ini beneran full tell doang, dan saya mulai jengah karena kesannya infodump. Makin keliatan kalo ini kayak cerita langsung 'jadi gini lho, ceritanya kan karakternya si ini, dia ikut karena begini"', bukannya nuntun pembaca lewat narasi

    Dan ternyata format aslinya malah kayak diari ya. Jadi penulis sambil nulis ini sambil laporan perkembangannya ala update jurnal. Agaknya belakangan jadi super rushed juga ya

    Secara kepenulisan sebenernya penulis kayanya punya potensi seandainya nulis 'bener'. Tapi format entri begini menghalangi saya ngasih favor buat maju ke babak selanjutnya

    Dari saya 5. Deadliner buffer -1, jadi nilai akhir dari saya 4

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kak Sam kasih review ?? Oh, my god! Terma kasih banyak, Kakak. –menari senang—

      Ngomong-ngomong ‘meta’ artinya apa ? Metafora kah ? atau kayak Mbak Meta, yang sekretaris di IA***? Hahaha ..

      Iyaps, betul banget. Arly itu suka banget nulis diary model gini dan dia gaya nulisnya memang kayak bercerita ke orang. Bahkan mungkin bagi dia lebih mudah menjelaskan detail cerita secara lisan dari pada nulisnya. Jadi walaupun nulis, masih suka tebawa-bawa kayak ngomong sama orang di dunia nyata. Lari-larinya kayak yang Kak Andry bilang, jadi kayak penulis melakukan siaran berita. Kalau bahasa Kakak, tiba-tiba jadi seperti infodumb. ^_^

      Tag-nya aneh, ya ? Arly sendiri sempet bingung pengen ceritakan dengan ciri tertentu apa untuk obrolan dengan OC dan obrolan dia sendiri –dan juga cara gambarin respon dia--di dunia nyatanya. Jadilah tag ini semacam sarana untuk ungkapin respon dia. Cuma belakangan berubah jadi celetukan dia di bagian DOR!. Gak konsisten.

      #Emangnya gampang! –lempar buku—

      Aduh! Hahaha ... Maaf ya Kak. Dia memang orangnya gini. Jangan masukin ke hati kalau dia agak-agak nyelekit ngomongnya.

      Balik lagi ke “rumus penulisan”, untuk di review ini; Aku dan Arly kini sepakat kalau akan seperti penjelasan di bawah ini:

      • Tag (#) berarti adalah ‘celetukan Arly’.
      • Tell paragraph itu akan jadi ‘kata-kata Mirsya’ which means, itu aku.
      • ‘Respon Arly’ pake –xxxxxxx--.
      • ‘Perkatakan OC’ pakai tanda “xxxx xxx xxx”.

      Hal ini disesuaikan sama konteks roleplay karena akun gmailku yang dipakai. Hahaha .. Kalau nanti Arly komen dengan akunnya mungkin akan jadi beda lagi format rumus tulisannya.

      Ngomong-ngomong, memang ribet banget ya pake segala rumus dibawa-bawa untuk nulis entry ini ? Wajar banget kalau ada yang pro dan kontra, karena ada pembaca yang bingung mengikuti. Kami berdua sangat mengerti, kok. Ehehe ..

      Btw, malah belajar hal baru lagi ini. Tentang mengenali ‘para pembaca’. Poin yang selalu Kakak sebut-sebut di FB grup. Ternyata memang pembaca itu sendiri-sendiri ya. Unik. Seneng banget bisa ikut BOR tahun ini dan belajar banyak tentang diri sendiri dan orang lain. Dunia itu ternyata luas banget. Haha ...

      Sekali lagi terima kasih banyak sudah meluangkan waktu menulis review dan memberikan komentarnya.

      Delete
    2. Meta itu kayak karakter dan tulisannya sadar (self-aware) kalo mereka dalem cerita)

      Yang saya khawatirin dari roleplayer keliatan di sini : bahwa persepsi dasar kita beda. BoR ini gimanapun juga adalah turnamen 'cerita', bukan 'rp', jadi yang saya sorot justru lebih teknis kepenulisan yang bener (ya, mayoritas bgnya emang basic penulis). Tapi bukan berarti saya nolak keikutsertaan roleplayer, cuma pengen ngasih tau bedanya aja

      Btw, jangan patah semangat cuma karena satu nilai dari saya. Kalau kamu masih bisa maju dan baca entri lain, kamu bakal ngerti sendiri idealnya dalem turnamen ini tulisan yang gimana

      Delete
    3. Oh ... Baru tahu perbedaannya.

      Ternyata tulisan entry ini sudah lari jauh ke dalam roleplay, ya ? Saya dan Arly belum pernah ikut turnamen roleplay juga selama ini. Jadi ini benar-benar baru tahu.

      Niat kita memang mau ikutin penuh sepanjang Battle of Realms, walaupun gak melanjut sebagai peserta lagi. Kita pengen tahu jalannya Turnamen BOR itu kayak apa. Sekalian bisa numpang baca gratis karya-karya penulis sebelum naik cetak. Hahay! Hebatnya lagi, ada fitur komen. Kapan lagi coba kita bisa jadi kritikus dari tulisan penulis-penulis lain, yang mungkin saja ada yang sudah terkenal atau akan terkenal. Wah, ini kesempatan langka.

      Tenang aja, Kak, Soal nilai baik atau jelek itu biasa. Kalau usahanya sudah maksimal, yang terjadi kemudian sudah gak akan jadi penyesalan lagi bagi kita berdua.

      Justru aku senang sekali ada yang bersedia memberikan kritik dan saran pada tulisan-tulisan aku ataupun Arly. Selama ini kalau tanya orang selalu jawabannya "hm .. bagus-bagus aja sih." atau "ada yang kurang, nih. tapi aku gak tahu kurangnya dimana." Nah, jadi bingung 'kan ? Mau berkembang juga jadi susah.

      Makanya mungkin aku jadi punya Arly di dalam diriku gara-gara gak ada yang seobjektif dan secerewet dia kalau bahas tulisan-tulisan ini. Hahaha .. tiba-tiba jadi curcol. ^_^

      Jadi soal patah semangat, sama sekali tidak. Tunggu aja, aku pasti ikut tahun depan lagi, dan tahun depan lagi, dan tahun-tahun ke depannya lagi. Mau sibuk kayak apapun kuusahain colong-colong waktu untuk BOR. Iya gak, Ly ?

      #Iya, sih. Tapi kayaknya tahun depan kamu ajalah yang nulis. Jadi aku bisa cerewetin kamu sepuas-puasnya kalau ada apa-apa. --setelah itu ketawa maniak—

      #Tapi jangan lupa buatkan akun gmail untukku, dunk. Masa’ kamu terus yang kasih komen ?

      #Terus sediain waktu juga, khusus, supaya aku bisa nulis di note FBku. Jangan kamu terus yang post. Selain itu …
      --permintaan—
      --permintaan—
      --permintaaaaaan--

      Hahaha … tuh, denger kata dia ‘kan, Kak ? Dia semangat banget. Sama kayak aku. Jadi, jangan khawatir komennya membuat kita down, Kakak. ^_^

      Delete
    4. Oh iya, ada yang terlupa tadi. Sebenarnya ada alasannya hingga para OC yang ikut turnamen jadi sadar kalau mereka itu jadi semacam wayang dalam cerita yang dibuat penulis. Tapi karena kemarin buru-buru memang jadi terlupa di-include dalam entry. Lolos gak lolos prelim, yang penasaran sama bagaimana para OC ini jadi sadar begini bisa ikuti di post note FBku. Tapi aku baru post setelah pengumuman nilai review prelim keluar, ya ? Supaya adil sama peserta lainnya dan sama sekali gak bermaksud menjadi pembelaan diri. Aku niatnya cuma memberantas misteri yang masih ada dalam entry hingga kalaupun harus berhenti, entry ini gak mengggantung endingnya. Jadinya tuntas tas, kayak slogan iklan. ^_^

      Delete


  6. whwhwhw ampun gw suka gaya narasi yang satu ini. breaking the 4th wallnya mulus malah ampe penulisnya diajak gelut segala :))

    tapi gw rada komplen juga karena semuanya serba dijelasin. ekspektasi gw akan aksi jadi berkurang walaupun unsur komedi dan reaksi dari karakternya masih bisa dinikmati. overall gw ngerasa nyaman ngebaca karena karya ini keknya ga tersendat terlepas dari pengakuan author yang bilangnya males ngerjain.

    komplen kedua yang lain... openingnyaaaaaaaaaaaa panjaaaaaaaaaang banget. gw terpaksa skimming karena TLDR. tapi abis itu gw mulai bisa nikmatin karena ekspektasi gw dengan gaya narasi lu whhww

    whoa ada lore sendiri soal Tamon Rah. boleh juga nih. nilai plus dari gw yak.

    BTW, gw ngarep ada komplen dari Avius soal tongkatnya loh. dan sedikit juga ngarep kalo tongkat retak itu jadi sumber konflik tapi karena ga ada (atau mungkin kelewat sama gw) jadi keraasa ada yang ilang >.<

    nilai: 8

    OC gw: Kii

    ReplyDelete
  7. Saya demen stylenya. Ga peduli apa kata orang anjir saya demen stylenya. Saya menganggap posisi writer di sini sebagai storyteller in-storynya, dan mulus, sungguh eksekusinya. Memang semuanya jadi serba dijelasin, tapi for some reason saya sebenernya...nggak terlalu keberatan, sungguh. Ini salah satu eksekusi breaking the 4th wall paling mulus dan paling enak dibaca yang saya pernah liat sepanjang sejarah saya baca cerita dan fanfic dan RP dan segala macemnya. Kudos!

    Tapi memang sayangnya ceritanya, terlepas dari cara penyampaiannya, agak jadi korban keburu-buru ya ,_, sejatinya kalau ini diperpanjang sedikit, pasti adegan battlenya bisa jadi lebih mendalam. Seconded kata yang lainnya sih, soal Osiris Resurgence kurang dipakai (banget) padahal itu bisa banget jadi salah satu pivot utama buat ceritanya. Battlenya juga sayangnya akhirnya abrupt banget, dan setelah kebawa nuansa dari opening yang panjang dan enak pacingnya, tiba-tiba dikasih battle yang "gitu aja" bikin saya...bingung. Tiba-tiba berantakan gitu pace bacanya, ahahah.

    Dari saya 7/10 ya, neng Eve. Disayangkan banget, tapi well done on the first half of the story!

    ~Stellene

    ReplyDelete
  8. Ini… ini style nulis yang saya belum pernah bisa (berani) mencoba. Belum berani mencoba di publish maksudnya, kalau buat arsip sendiri sih, pernah :v /

    Eve? Wait! Itu nama ada di entri ku loh, percayalah :3

    Nah nah. Saya agak mikir sebentar soal kata mendengarkan yang di coret itu. Mungkin memang kesannya niat bikin dua hal yang gajadi dibilang, tapi kok, agak ganggu .-.

    Aduh, berasa ada mbag-mbag yang teriak di kepala saya XD

    Nah, saya mulai bisa fokus ke bawah-bawah.

    Hiyah, buat merek, daripada di sensor, mendingan dilainin namanya. Jadi Mikocok gitu :v penggunaan bintang di tengah kata agak gengges :3

    Logat Meredy kok agak aneh ya ._. lebih kayak anak kecil dibanding mekanik. Di ujung-ujung agak alay malahan ._.

    Material change! Huehehe <(“)

    Ini hampir sama kayak saya baca punya saya sendiri ya. Battlenya kita perlu belajar T_T saya merasa agak ‘hambar’ baca battlenya.

    Bedanya kita, kamu keburu-buru banget kerasa. Kayak dikejar sesuatu yang bernama Deadline. Uh oh, mengerikan sih memang. Sedangkan saya, buru-buru aja ceritanya masih lelet. Saya bahkan belum nemu caranya ambil cerita battle yang asik dan timingnya tepat.

    Di awal kayak ‘dijanjikan’ sesuatu yang menarik gitu, tapi di akhir kayak beli beras plastik. *enggak beras plastik sih, susu deterjen mungkin. #sama aja

    Intinya, aduh, sayang banget, tapi… tapi saya mau lihat jika ini terus berlanjut bagaimana. Ini mirip saya jaman dahulu yang selalu melibatkan saya dengan cerita. Seperti diomelin sama chara sendiri lah. Komentar-komentar IRL yang kebawa lah.

    Cuma, sayang banget [2] rasio buat kisah penulis dan cerita yang dibuatnya jadi 5:3
    saya jadi ngikutinnya gaya berpikir si penulis, bagus juga sih.

    Yosh, saya bingung tapi mau liat kamu lanjut, semoga nilai 8 dapat membantu. Semangat!

    -Eumenides/Puppet-

    ReplyDelete