12.5.15

[PRELIMINARY] SHIZUKA LILITH MOSELLE - UNDEFEATED TEAM - DUNGEON L1 BOSS MONSTER TAMON RAH

[PRELIMINARY] Lilith - Dugeon L1 boss monster Tamon Rah
Penulis : Gisha Nazzalna Shafazilla


Di sebuah rumah sakit besar negeri Perancis yang terkenal akan teknologi canggihnya. Seorang pasien perempuan paruh baya terbaring lemas dengan selang infus dan bermacam peralatan medis dimasukkan ke kulit keriput wanita tersebut, disamping pasien itu berdiri seorang gadis berusia enam belas tahun mengenakan pakaian berwarna biru tua dihiasi renda putih. Gadis itu menatap dengan pedih ketika mata biru langit itu terpaku pada wajah keriput si wanita tua, seakan ada sebuah ikatan batin kuat diantara mereka berdua.


"Aku turut berduka karena kejadiannya begitu mendadak, Moselle." Dokter Johnson berbicara dengan suara tenang. Suara inilah yang telah memberinya reputasi sebagai dokter terbaik di Perancis dalam menangani pasiennya.


"Lebih baik begitu." Jawab seorang gadis yang bernama Lilith.




"Aku tidak ingin Ibunda terus-terusan mengalami penderitaan dan kesengsaraan ini."


"Dia pasien yang amat sulit," kata Dokter Johnson. "dan aku hanya bisa memujimu, Moselle. Karena menjadi anak yang paling patuh dan luar biasa yang pernah kukenal sepanjang karirku."


"Terima kasih," Sahut Lilith sambil tersenyum samar.


"Aku khawatir mungkin kematian ibumu merupakan pukulan besar bagimu. " ujar Johnson penuh kasih sayang. Sudah hampir sepuluh tahun ia menjadidokter pribadi dari istri perdana menteri yang bahkan tak ada kemajuan dalam catatan kesehatannya. Hatinya begitu tersentuh melihat perjuangan Lilith dan Ayahandanya demi kesembuhan wanita yang dicintai hingga maut yang memisahkan keluarga kecil mereka.


Ayah Lilith adalah seorang perdana menteri di Istana Versailles, Perancis. Keluarga mereka hidup terjamin namun kesedihan memang tidak terpisahkan dari manusia, ketika Ayah Lilith naik pangkat, Ibu Lilith justru terkena penyakit aneh yang tidak dapat disembuhkan. Tak heran lagi jika selama sepuluh tahun dokter Johnson mengabdi, ia sudah sangat akrab dengan keluarga Lilith.


"Tidak,bukan pukulan." Jawab Lilith sambil membuat isyarat tak berdaya dengan kedua tangannya sambil menyeka airmatanya agar tidak tertumpah.


"Aku menyadari hal itu." Sahut John, "dan bagaimanapun juga kau harus pindah bersama ayahmu."


"Tentu saja. " Lilith cepat-cepat menyetujuinya, " aku tidak suka sendirian. " Lilith berhenti berkata sejenak lalu menggelengkan kepalanya,"oh, dokter Johnson, kurasa aku tak sanggup!"


"Kalau saja aku memiliki keterampilan tertentu...., " Ujar Lilith sambil mendesah pelan. "Tapi aku hanya bisa berkuda, menjahit dan berdansa....bila ada kesempatan! Dan aku hanya menguasai beberapa bahasa."


Lilith tertawa pelan.


"Rasanya tak satupun terdengar memiliki daya jual, ya!"


Secara pribadi, John tak ingin membuat Lilith cemas. Ia malah berdiri sambil berkata,"Sekarang aku harus kembali ke rumahku. Prajurit istana akan membantu pemakaman ibumu, lalu menjemputmu."


***


Beberapa hari kemudian setelah pemakaman, Perdana menteri Valley sekaligus ayah Lilith memerintahkan pengawal istana untuk menjemput putrinya.



"Isla dan Isco berangkatlah ke villa putih dekat hutan untuk menjemput putriku, Lilith." Ucap Valley.



"Baik, Tuan Valley." Sahut Isla dan Isco bersamaan.



Tak berapa lama kemudian mereka berdua sampai si villa dekat hutan, Isla mengetuk pintu sedangkan Isco menunggu di depan pintu masuk kereta kuda.



Hari ini Lilith mengenakan gaun berwarna merah muda dengan renda berwarna emas sangat kontras dengan rambut blondenya yang berkilau keemasan, kulitnya putih dan matanya berwarna biru langit membingkai wajah imutnya dengan indah. Segera ia membuka pintu dan didapatinya dua orang pengawal yang diikuti oleh beberapa prajurit.


"Apakah anda yang bernama Lady Lilith?" Tanya Isla sambil membungkukkan tubuh penuh hormat. Lady adalah sebuah panggilan kehormatan bagi seorang wanita yang menjadi bagian dari keluarga istana terutama di Perancis.



"Benar, apakah kalian kemari untuk menjemputku?"


Pengawal itu menganggukan kepalanya dan mempersilahkan Lilith berjalan mendahuluinya, kemudian Isla memanjat kursi kusir dan mereka pun berangkat.


Kehangatan sinar matahari bagaikan membelai pipi Lilith yang pucat. Karena kini matahari mulai terbit, laut di pinggir hutan nampak berkilauan.


Perjalanan menuju istana harus melewati hutan, di sepanjang perjalanan nampak pohon-pohon mimosa yang bunga-bunganya mulai bermekaran. Bunga-bunga tropis lainnya merambat di dinding, memenuhi kotak-kotak di bawah jendela, dan terhampar di rumput liar pada lereng-lereng bukit.


"Mengagumkan!Mengagumkan!" Ucap Lilith dengan mata berbinar takjub.


Tiba-tiba sepucuk surat melayang dan jatuh tepat di pangkuan Lilith, gadis kecil itu hanya memandang amplop putih berhiaskan warna perak. Lalu ia memandang ke atas langit-langit kereta kuda dan tidak mendapati ada celah untuk surat itu masuk ke dalam kereta kuda.


"Surat aneh apa ini? Darimana dia bisa masuk?" pekiknya dalam hati dan rasa ingin tahu yang besar. "Sebaiknya aku simpan dulu." Ia menyelipkan surat itu diantara lembaran buku yang kebetulan ada di sampingnya.


Sesampai di istana, Lilith disambut dengan hangat oleh ayah dan beberapa prajurit juga dayang-dayang pembantu istana.


"Lilith!" Ucap sesosok laki-laki tinggi bermata biru, dia adalah ayah Lilith.


"Ayah..., " Sahut Lilith sambil berlari memeluk ayahnya. "Lilith rindu ayah."


Keduanya saling bertatap muka dan berpelukan penuh haru, karena kesibukkannya membuat Valley jarang pulang ke rumah. Hal itulah yang membuat Lilith kesepian.


"Maafkan ayah, Lilith." Ucap Valley sambil mengusap rambut blonde dan mencium kening putrinya.


"Maaf, Perdana menteri sebentar lagi akan ada rapat antar pejabat di koridor utama istana." Ucap salah satu pengawal kerajaan.


"Baiklah, aku akan kesana sebentar lagi. Pergilah." Balas Valley.


Lilith hanya tersenyum samar, tak dapat berkata apapun dan hanya memandangi ayahandanya dalam hatinya kalut dan meronta-ronta sampai hati ayahnya meninggalkannya karna tugas padahal baru saja bertemu dan melepas rindu walau sejenak.


"Isla dan Isco, kalian berdua temani putriku berkeliling istana sampai waktunya makan malam."


"Tentu, Tuan Valley." Ucap Isco sementara Isla hanya hormat dan terdiam.


Valley beranjak pergi meninggalkan putrinya bersama dengan dua pengawal kepercayaannya. Ia menuju ke koridor utama untuk menghadiri rapat.


"Siapa nama kalian?" Tanya Lilith.


"Aku adalah Near Iscovaca dan pria yang ada di sampingku bernama Dhaniy Islaviore." Ucap Isco dengan senyum hangat yang mampu mencairkan suasana beku hari itu.


"Kenalkan, namaku Shizuka Lilith Moselle." Sahut Lilith.


"Mari kita berkeliling, Tuan putri." Kata Isco.


"Eeeer...., tunggu!" Ucap Lilith memotong pembicaraan Isco. Ia berlari masuk ke kereta kuda dan mengambil buku besarnya. "Aku menemukan ini." Lilith kembali kehadapan mereka dan tanganny membawa amplop putih yang di bingkai oleh tali berwarna perak.


"Apa itu?" Tanya Isla penasaran.


"Mungkinkah?" Ucap Isco terpotong karena ia berfikir sebelum melanjutkan kata-katanya.


Lilith mulai menatap keduanya dengan ekspresi wajah kesal.


"Daripada menunggu jawaban kalian, aku lebih memilih untuk membuka dan membaca isi surat ini."


"Ja... jangan!" Ucap Isco cemas.


"Buka saja, siapa tahu itu surat lamaran dari pangeran." Sahut Isla mengacau karena sangat penasaran.


Lilith tersenyum sinis ia mulai menarik benang perak untuk membuka surat itu lalu mengambil sepucuk kertas di dalamnya dan mulai membacanya.


Are you ready for new adventure?


"Ready!" Jawab Isla penuh semangat.


Lilith dan Isco berpandangan lalu muncul sebuah portal besar uang memaksa tubuh mereka bertiga untuk tersedot dan masuk kedalamnya.


"Huwaaaaaaaaaa....., kita jatuh!" Teriak Lilith.


Seperti suara dentuman benda keras yang mendarat sukses di permukaan tanah karena tertarik gaya gravitasi, Lilith, Near, dan Dhaniy jatuh bersamaan di dunia asing.


"Aw.... di mana ini?" Tanya Lilith.


Lilith memandang sekeliling dan menyadari saat ini berada di halaman sebuah kastil besar yang berada di pusat kota. Berkumpul di tengah-tengah kerumunan orang banyak yang binggung mengapa mereka semua bisa berkumpul di sana secara bersamaan.


Lilith berdiri mematung di dekat kolam ikan yang berada di tengah-tengah halaman istana. Penampilannya berubah sangat drastis, gaun merah mudanya kini menjadi pendek selutut berwarna hijau dengan kombinasi kuning sedangkan sepatu kacanya berubah menjadi sepatu boots berwarna kuning emas, rambut blonde keemasannya berubah menjadi biru laut, telinga manusia berubah menjadi lancip seperti bangsa elf. Ia terperanjat kaget melihat sosok barunya tercermin di permukaan air kolam ikan, belum lama ia heran terdengar suara sangat lantang dari balkon kastil.


"Selamat datang di Alforea,wahai para petualang!"


Di balkon kastil tampak seorang pria setengah baya berambut panjang serba putih dan berpakaian putih-putih seperti ilmuwan bernama Tuan Hewanurma. Sementara yang berdiri di sampingnya adalah dua gadis berpakaian pelayan dan yang berdiri paling depan di balkon adalah seorang wanita cantik berpakaian amat anggun bernama Tamon Ruu.


Orang-orang mengalihkan pandangan mereka pada sesosok wanita yang berebut mic dengan seorang pria berjenggot putih yang sedang mengambil alih pembicaraan.


"Kalian semua yang ada di sini adalah calon peserta turnamen antar dimensi yang akan diadakan tidak lama lagi.Turnamen ini disebut Battle of Realms,dan hanya para pertarung terbaik yang bisa mengikuti pertarungan bergengsi ini!" jelasnya lantang pada seluruh peserta yang berkumpul.


Mendengar penjelasan Tuan Hewanurma barusan,mereka yang berkumpul di halaman mulai berisik satu sama lain. Beberapa dari mereka ada yang terlihat begitu bersemangat,dan ada juga yang terlihat binggung dan berusaha mencerna kata-kata Hewanurma barusan.


Lilith hanya terdiam terpaku menatap ratusan orang riuh rendah suaranya seakan memprotes pimpinannya karena keterlambatan pemberian upah gaji.Kepala Lilith menoleh ke kanan dan ke kiri mencari-cari seseorang untuk dijadikan team partynya.


"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Gerutu Lilith pelan dalam bahasa perancis, ia benar-benar tidak tahu mengapa dirinya terjebak dalam permainan yang bahkan bisa merenggut nyawanya.


Lilith membalikkan tubuh dan melihat sesosok laki-laki dibalik bayangan pohon. Pria itu tinggi,bahunya lebar. Tubuhnya memiliki garis-garis otot yang panjang,meskipun ia tampak kurus dan kerempeng. Mengenakan celana kulit coklat usang dan jaket Kevlar berwarna hitam, lengan kirinya memakai sebuah sarung tangan baja putih seperti ksatria abad pertengahan, sementara lengan kanannya hanya memakai sarung tangan kulit berwarna hitam.


Lilith mendekatinya penuh rasa ingin tahu, mengapa pria itu terlihat begitu tenang padahal situasi sedang panas mengingat pengumuman yang mengemparkan tadi.


"Maaf, bolehkah aku bertanya?"


"K…kau?" Pria itu terkejut ketika melihat seseorang mendekatinya.


"Namaku, Shizuka Lilith Moselle. Aku bersama dua orang pengawalku terseret ke dalam sebuah portal besar, hingga sekarang aku tidak menemukan mereka." Ucap Lilith sedih yang terpancar jelas di wajah cantiknya.


"Tenang saja, kau sudah menemukan satu." Balas pria misterius itu.


"Siapa?" Tanya Lilith menatap tajam pria yang ada di hadapannya.


"Namaku, Dhaniy Islaviore aku adalah salah satu pengawalmu."


"Isla?? Bagus kalau begitu, kita akan mencari near dan satu orang lagi." ucap Lilith sambil tersenyum kecil. "Apa kekuatanmu?" Tanya Lilith.


Dhaniy kelihatan agak terkejut saat mendengar pertanyaan itu lalu berkata, "Kau bisa melihat di newbie guide book, buku itu menerangkan semua skill dasar player bahkan skill beberapa monster yang akan kita hadapi nantinya."


"Kekuatanmu. Apa bisa berguna?" Kembali Lilith mengulangi pertanyaannya dan mengabaikan ekspresi wajah kaget dari Dhaniy.


"Tidak," Kata Dhaniy singkat," layaknya manusia biasa. Aku bisa terluka."


Lilith mengerutkan dahi. "Apa maksudmu?"


Dhaniy menarik nafas dalam-dalam sebelum menjawab."Masqurade hanyalah manusia biasa. Tapi aku lebih kuat dan lebih cepat dari manusia namun aku tidak memiliki kekuatan magis sepertimu."


"Lantas bagaimana caranya kau melawan monster nantinya?"


Dhaniy mengangkat bahu." Dengan cara yang unik. Aku lebih pandai bertempur daripada kau."


"Itu tidak adil," kata Lilith dengan muka cemberut.


Dhaniy mengerutkan dahi lalu merendahkan kepalanya untuk mendekati Lilith yang mungil dan pendek. "Ayo kita cari Near."


Di luar kehendaknya, Dhaniy merasa sangat terhibur karena tingkah Lilith. Di sepanjang hidupnya ia belum pernah mengenal seorang wanita seperti Lilith. Tak lama kemudian Lilith memperhatikan wajah seseorang yang sedang kebingungan.Laki-laki itu berkali-kali menghembuskan nafas panjang. Lilith berlahan mendekatinya dengan hati-hati.


"Selamat siang, Tuan." Tanya Lilith kepada pria itu.


"Ada apa?" Ucap pria itu.


"Apa yang kau lakukan untuk bersenang-senang?" tanya Lilith.


"Aku membaca."


"Literatur?"


"Bukan.Tapi,membaca komik detektiv."


"Benarkah?" Tanya Lilith kaget "Conan?"


"Ya, salah satunya."


"Wow," kata Lilith terkagum-kagum lalu berkata, "Membacalah saat hatimu kehilangan arah seperti saat ini."


Pria itu memandang gadis di depannya. Lilith sangat cantik, matanya sangat biru. Hidungnya mancung dan bibirnya….seperti berasal dari legenda penuh dan ranum,menarik perhatiannya.


"Oh,ya." Kata Lilith," maukah kau bergabung dalam team kecilku?"


Orang itu masih membisu karena terpesona memandang keindahan dari seorang gadis. Ia masih tidak menjawab malah kembali menghembuskan nafas panjang lalu kembali menyusuri jalan.


"Near," Kata Dhaniy mencoba menghentikan langkah Near.


"Darimana kau tahu namaku?" Tanya Near memandang tajam ke arah Dhaniy.


"Kau sama bodohnya dengan Lilith. Sudah kubilang semua tertulis di newbie guide book yang berada di dalam ranselmu. "


Lilith tersenyum kecil dari bibir mungilnya. Membuat Near terpaku mematung karena keindahannya.Near mendengus kesal." Siapa kau?"


"Aku Dhaniy Islaviore, sedangkan gadis bodoh di sampingku ini adalah putri kita, Lilith."


"A…apa? Kau tidak boleh tidak sopan pada putri." Ucap Near kesal.


"Tak apa, ini bukan Perancis." Ucap Lilith singkat. Ia melihat seorang gadis kecil berumur sekitar 13 tahun.


Gadis itu memiliki rambut panjang berwarna putih dan mata berwarna ungu. Memakai baju lengan pendek berwarna putih dengan dasi kupu-kupu berwarna merah. Ia memakai rok berwarna merah dan kaus kaki berwarna putih. Pakaiannya di hiasi dengan jubah panjang berwarna hitam.


"Aku menemukannya! " Ucap Lilith girang.


Lilith berbalik di hadapan Near dan Dhaniy, ia tersenyum sadis sekali seakan ingin menerkam mereka hidup-hidup. Gadis itu berkata dengan tenangnya, "Sudah kuputuskan dialah orang terakhir yang akan melengkapi team kita."


Dhaniy dan Near membiarkan mulutnya menganga lebar-lebar ketika melihat sisi lain Lilith yang menyeramkan.Sementara Lilith pergi menemui gadis yang dia lihat tadi.

"Permisi." Ucap Lilith berdiri di depan gadis kecil bermata ungu sambil merendahkan kepalanya dan menarik kedua sisi roknya dengan anggun."aku kesini untuk mengajakmu bergabung dalam teamku,jika kau tidak keberatan."


Gadis itu hanya terdiam menatap Lilith lalu tersenyum samar mengertak nyali Lilith dan ia berkata, "Tentu, jika kau memaksa."


Near dan Dhaniy tertawa dari kejauhan melihat wajah pucat Lilith yang ketakutan namun Lilith kembali menguasai dirinya dan tersenyum imut.


"Oke, Siapa namamu. Aku Lilith, dia Near dan yang berdiri di sampingnya adalah Dhaniy."


"Namaku Alice Zeitflügel. " Ucapnya.


Lilith berjalan santai mendekati seorang pelayan berambut panjang lurus dia mengatakan bahwa anggota teamnya sudah lengkap.Pelayan itupun menganggukan kepalanya dan berkata,


"Baiklah, karena kalian sudah membentuk team, saya akan menjelaskan tugas kalian."


Pelayan itu mulai menjelaskan tugas mereka.Menghancurkan dua menara kembar yang berada di Utara secara bersamaan, menembus lautan monster yang tiada habisnya, dan juga menyegel Tamon Rah.


Mereka berempat mengangguk secara bersamaan dan pelayan itu kembali membuka sebuah portal besar untuk sesaat mata semua orang silau akan cahaya putih.


Dengan begitu ajaib,mereka sudah berada di sebuah gurun pasir berbatu. Mereka hanya ditemani oleh sinar bulan. Tidak jauh dari mereka berempat, terdapat prajurit Alforea berjumlah lima ratus orang dengan senjata lengkap. Mereka di hadapkan pula dengan ratusan pasukan monster high orc,s lime bahkan goblin.



"Tugas kalian adalah,bertahan hidup dari serbuan monster lalu menyegel Tamon Rah dengan cara menghancurkan kedua menara kembar yang berada di kastil bagian utara secara bersamaan."


Pelayan yang mengantar mulai menjelaskan.Lalu kembali tubuhnya diselimuti cahaya putih kebiruan dan menghilang tanpa jejak.


Belum lama berdiri terpaku, tiba-tiba seekor Orc menghadang kami. Tatapan bengisnya mengarah ke arahku. Dia mengayunkan pemukul kayunya secara horizontal dan sukses melemparkan kami beberapa meter.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Lilith dengan nada cemas. Di sini tidak aman ayo kita bersembunyi di balik batu besar itu untuk menyusun strategi.


"Baik." Mereka bertiga menganggukan kepala serampak dan menuju ke tempat yang di katakana Lilith.


Malam terasa sunyi dan menyeramkan seperti neraka yang benar-benar menyelimuti bumi. Para monster yang hidup hanya untuk bermain-main menyiksa ratusan prajurit Alforea.


Tidak ada seorang pun yang aman.Jumlah mayat yang bergelimpangan dan aliran darah yang tercecer menghiasi tanah gurun gersang berbatu.Tapi yang paling membuat Lilith takut adalah fakta bahwa beberapa monster yang mereka temukan ternyata nyaris mustahil untuk dibunuh.


"Hei, Near.Apa yang sedang kau kerjakan?" Ucap Lilith sambil mendekat kearah Near.


"Berusaha melacak pergerakan monster. Seperti biasa,aku menggunakan kemampuan analisisku untuk melihat apakah ada pola yang bisa kita ikuti untuk memprediksi serangan mereka."


"Percuma saja,kurasa.Mereka tidak mempunyai cara bertarung yang spesifik." Ucap Dhaniy dengan bersedekap kedua tangannya dan bersandar di bebatuan yang cukup tinggi.


"Misi kita hanya bertahan hidup dari ratusan bahkan ribuan monster ini." Ucap Alice,"dan kita tak mempunyai cukup waktu untuk terlalu lama berdiskusi."


Lilith menganguk. Secara perlahan sikap Near, Alice, Dhaniy terhadapnya berubah hangat dan sejak mereka bersama-sama menjadi team untuk bertahan hidup dari serbuan monster yang tidak ada habisnya.


"Apa kau sudah menemukan sesuatu?"


"Belum.Tidak ada polanya,belum…hanya saja aku tidak mengerti bagaimana pola serangannya."


Lilith menghela nafas dengan kesal.



"Mereka bermain-main dengan kita." ucap Dhaniy dengan menghembuskan nafas kesal,"bagaimana jika menyerbunya secara langsung aku sudah tak tahan berdiam diri disini."



"Ya,tapi aku sudah muak dengan jumlah mayat yang terus bertambah."



"Berapa banyak lagi monster yang harus dibunuh?" ucap Lilith yang mulai kelelahan.



"Banyak. Aku bahkan tak bisa menghitungnya."



"Sial!" Dhaniy yang sedari tadi menunggu mulai kesal dan mulai menembakkan beberapa peluru kepada monster-monster kecil.



"Ya, aku tak suka menjadi pihak yang kalah dalam apapun."ucap Lilith datar tanpa ekspresi.



"Ini benar-benar menyebalkan."Alice mulai bertindak tanpa aba-aba, suasana team begitu kacau karena terdesak oleh banyaknya monster yang datang tiada habisnya.



Lilith merengut saat melihat Dhaniy dan Alice beraksi sendiri-sendiri, tak ada kolaborasi sama sekali pikirnya dalam hati. Lilith mulai memakai isyarat mata memandang Near, Alice dan Dhaniy secara bergantian.


"Alice dan Dhaniy tolong urus bagian barat.Aku dan Near akan pergi kebagian timur.Kita berkumpul di kastil yang berada di utara."


Alice hanya menganguk pelan dan masih memfokuskan serangannya pada monster-monster yang ada dihadapannya, sementara Dhaniy masih terus menembakkan peluru-pelurunya.


"Kau tahu,menyedihkan sekali jika aku tak bisa menghabisi monster lebih banyak dari seorang manusia." Ucap Lilith kepada Near sambil melirik kearah Dhaniy lalu berlalri menuju kearah timur.


Near menatap Lilith dengan ekspresi yang mengelikan."Kau tidak sendirian."


Lilith menjulurkan lidahnya kepada Near.


"Ya,kita semua saling bekerja sama,bukan?"


"Benar."


Lilith tertawa waktu mendengar ejekan Near sambil terus belari menghindari monster-monster dengan kecepatannya.Near tidak mau kalah ia menggunakan tamengnya untuk memporak porandakan barisan monster-monster high orc.


Sementara itu muncul seekor monster besar bernama Lycorak. Monster itu muncul tepat dihadapan Alice dan Dhaniy.Lycorak adalah seekor makhluk berwujud srigala dengan gigi taring dan caar yang tajam.Monster tipe tanah yang memiliki kemampuan menggigit, mencakar bahkan mencabik musuh-musuhnya.


Di tengah situasi gentingnya seorang pelayan perempuan menjelaskan deskripsi Lycorak, ia juga mengatakan jika monster itu lemah jika diserang oleh lawan yang bisa terbang. Setelah menjelaskan sang maid menghilang tanpa jejak membuat Alice merasa kesal melihat semua yang terjadi begitu cepat.Ia memandang Dhaniy dengan tatapan kosong dan hampa.


Bulan purnama di langit menimbulkan bayangan-bayangan raksasa dari monster yang siap siaga menerkam ataupun membunuh siapapun dihadapannya.


Lycorak mengangkat cakarnya tinggi-tinggi dan mencabik-cabik prajurit Alforea tanpa ampun, menjadikan para prajurit sebagai daging cincang.


Sementara monster-monster lain seperti slime, high orc, demon menyantap hidangan lezat yang seolah tersaji untuk mereka.


"Cih,kita harus mengakhiri ini semua dengan cepat, Alice." Ucap Dhaniy yang terdesak dan sedang mengalami jeda untuk pengisian pelurunya kembali.


"Baiklah." Alice tersenyum samar mengerti apa yang harus dilakukan.


Belum lama bicara Lycorax sudah berdiri dibelakang Dhaniy mengangkat cakar srigalanya tingi,sementara Dhaniy sibuk memasang peluru pada pistolnya terlambat menggunakan kemampuan 'Fast Reaction' serta mengetahui Chimera yang dengan cepat menghantam tubuhnya.


Dhaniy terpental dan mendesis kesaktitan, merasakan suatu pukulan keras menjalar disekujur tubuhnya.


Tiba-tiba pandanganya kabur.


Dhaniy tidak bisa melihat ke seklilingnya lagi dilemahkan oleh suara dan gambar dari jiwa-jiwa yang menjerit kesakitan saat mereka mati.


Suara itu tidak terdengar oleh makhluk fana,tapi menyayat-nyayat dirinya seperti pecahan kaca.


"Dhaniy,bertahanlah!"terdengar suara Alice yang berusaha menyadarkan Dhaniy dari kejauhan.


Alice mengayunkan pedangnya yang berwarna keemasan mendarat tepat di tanah membuat monster Lycorak terjembam dalam lumpur berair namun hal itu bukan berarti monster tersebut telah kalah.


Dhaniy bersandar kesalah satu batu sambil berusha meredakan sebagian rasa sakitnya.


"Apa yang kau lakukan?" Engahnya.


"Aku, mencoba mengurungnya untuk sesaat." Ucap Alice dengan nada bingung.


Memegangi perutnya,Dhaniy berlutut di tanah rasa sakitnya… menyerangnya dengan lebih kuat lagi.Ia tidak bisa bernafas.Tidak bisa berfikir.


Jeritan-jeritan membahana di kepalanya sampai air matanya merebak.


"Alice,"engah Dhaniy di tengah hujaman-hujaman yang hebat."Aku ti…dak tidak bisa…"kata-katanya berubah menjadi erangan.


Ukuran tubuh Lycorax bertambah menjadi dua kali lipat,lumpur berair yang tadi menahannya sudah hilang ia kembali mencabik-cabik siapapun yang ada di hadapannya.


Menyadari hal itu Alice mengambil keputusan cepat untuk segera menghindari serangan Lycorax sambil mengulur waktu.


[PLACE DISTORTION]


Alice membuat tubuhnya secara refleks menghindar dari serangan Lycorax, berusaha menyibukkan monster itu untuk terus menyerang dirinya.


Sementara Dhaniy berusaha mengumpulkan tenaganya dan menguasai dirinya kembali berusaha mengeluarkan kemampuannya.


[SWORD MASTER]


Dhaniy mengambil pedang satu sisinya berlapis palladium lalu berlari sambil mengibaskan ayunan pedangnya dengan indah dan ringan membunuh semua monster yang menghadang.


Mata Dhaniy dan monster Lycorak beradu pandang, kemarahan terlihat jelas di mata kedua makhluk itu. Monster itu berada diposisi madness yaitu posisi dimana dia benar-benar marah dan taringnya seakan ingin mengigit bahkan menelan hidup-hidup pemuda yang terluka dihadapannya.


"Alice sekarang!"ucap Dhaniy lalu melompat kearah Lycorak. Alice hanya menganguk pelan dan mengeluarkan satu skillnya lagi.


[TIME DISTORTION]


Alice mengayunkan pedangnya di sekitar Lycorak tepat sebelum Dhaniy mendarat ditubuh monster itu mengakibatkan waktu gerak Lycorak berjalan lebih lambat dua kali dibandingkan kecepatan berpedang Dhaniy.


Dhaniy yang berada di atas tubuh Lycorak menebas kepala singa monster itu hingga terpisah antar kepala dan badan lalu berbalik memutar menebas bagian tubuhnya.


Monster Lycorak langsung terjatuh terjembam ke tanah dan menimbulkan suara hantaman yang sangat dahsyat.


"Usai sudah?" Tanya Alice pada Dhaniy yang berlumuran darahnya sendiri bercampur dengan cipratan darah monster Lycorak.


"Belum.Aku berfikir sebelum menghancurkan menara kembar yang ada di utara,pertarungan ini belum berakhir." Dhaniy menunjuk ke arah utara tepat berdirinya menara kembar yang berada di sayap kanan dan kiri kastil.


"Mengerti." Ucap Alice mengangukan kepalanya perlahan dan menunggu waktu jeda selesai tatapan matanya memburu seakan ingin menerkam sesuatu.


***


Sementara itu di sisi lain suatu firasat buruk melanda Lilith.Tidak,pasti ia salah.Lilith memandang Near dengan tatapan nanar.


"Tidak mungkin,kah?Dhaniy tewas?"


Tiba-tiba Lilith merasakan sesuatu kesakitan yang membuat langkahnya terhenti.


Terengah,ia menghentikan Near,yang sedang berjalan disebelahnya

.
"Lilith?Ada masalah?"


"Dhaniy,"engahnya,hatinya merasakan kesakitan yang begitu mendalam hingga ia tidak tahu bagaimana ia bisa tetap berdiri.


"Sesuatu terjadi kepadanya.Aku tahu itu."


"Lili…."


"Aku tahu itu!"teriak Lilith,menarik kemeja Near."Oh Tuhan,Tidak!"


Near menahan nafas saat menemukan penegasan dari ketakutannya.


"Near?"panggil Lilith cemas


Near menarik tangan Lilith matanya mengisyaratkan agar Lilith tenang.Near dan Lilith menengadahkan wajahnya melihat bulan purnama yang begitu indah bersinar keemasan,mereka seolah terbuai akan keindahannya.Namun perlahan Alkima,bulan Alforea mulai turun mendekati planet dan mulai merekah.Dari dalamnya,menyala kobaran api yang segera menjalar,memenuhi langit malam dengan jilatan lidah api.


Lilith tersentak kaget ia menyadari sesuatu yang buruk akan terjadi.Ia mengingat dengan jelas penjelasan maid sebelum menghilang.Belum lama ia berfikir,bulan tersebut terus mendekati planet dan terus membesar lalu hancur dari serpihannya muncul sesosok monster raksasa setinggi 50 meter berwujud kuda bersayap dan bertanduk yang terbuat dari lidah api menerjang keluar dengan sebuah pesona yang mengerikan.Monster itu bernama Tamon Rah.


Segera Tamon Rah terbang mengitari langit padang pasir itu, menembakkan aliran api yang membakar apapun tanpa pandang bulu. Seketika itu monster dan prajurit Alforea terbakar hangus hanya menyisakan senjata-senjata yang berserakan di padang pasir.


"Lilith kau tahu itu apa?"


"Apa?!"


Nafas Lilith tertahan di tenggorokan bagai tercekat ia tak mampu meneruskan kata-katanya.


"Jangan khawatir,aku ada bersamamu."


Jantung Near seakan berhenti berdetak untuk sesaat.


"Tunggu di sini,Lilith."


"Tapi…"


Near tahu rasa takutlah yang membuat Lilith begitu marah.Lilith belum tahu cara mengendalikan emosi-emosi yang kuat.


"Kumohon,Lilith.Kita harus bekerja sama,percayalah pada kekuatanmu."


Lilith menganguk.


Near menjauh dan melintasi gurun pasir dengan cepat.Ia menggunakan skillnya,


[SHADOW CLONE]


Skill aktif yang mampu membuat near menggandakan diri sebanyak sepuluh clone,setiap clone mempunyai kekuatan bertahan yang besar.


Begitu Near melakukan shadow clone pada jarak 100 meter,skill cast detector milik Tamon Rah aktif dan segera melebarkan sayapnya terbang menuju kearah Near melontarkan ratusan bola api raksasa yang menghanguskan siapa saja tak terkecuali monster-monster kecil yang ada di bawahnya.


Tamon rah terbang dan menukik tajam tepat di depan Near dan clonenya menyemburkan apinya namun sayangnya itu tidak berdampak pada clone Near yang terbuat dari bayangan,bahkan bisa menghindari serangan Tamon rah yang tidak mempunyai target spesifik dalam menyerang.



Tanpa membuang waktu,Lilith segera merapalkan beberapa mantra untuk memanggil ular besar yang tak kalah dengan Tamon Rah.



[LEVIATHAN]



Munculah sesosok ular naga besar yang mengerikan dibelakang tubuh Lilith menanti perintah dari sang majikan.



"Levi,musnahkan Tamon Rah!"perintah Lilith,lalu naga besar itu terbang melesat kearah Tamon rah dan menyerangnya.Pertumpahan darah tak lagi terelakkan antara Tamon Rah dan Leviathan milik Lilith.



"Near,waktu kita terbatas!"teriak Lilith sambil berlari menghampiri Near.



"Apa idemu sekarang?"Tanya Near separuh tertawa geli dan kesal.



Tanpa bicara banyak dengan menggunakan isyarat mata Lilith menarik Near berlari menjauh dari posisi Tamon Rah dan Leviathan.Lilith menunggu waktu jedanya selesai lalu menarik satu nafas panjang dan dalam ia berteriak,



[CHIRYUDAN]


Lilith menggunakan buku sihirnya untuk membentuk teleport dengan menggunakan kekuatan airnya.Lilith menarik Near masuk ke dalam teleport dan menghilang dari hadapan Tamon rah tepat sebelum Leviathan hancur karena sudah terkena lima kali serangan api Tamon Rah.


Di lain pihak usai melawan Chimera,Alice dan Dhaniy saling berpandangan satu sama lain dan melihat kearah utara.


"Bagaimana kita kesana?"tanya Dhaniy kesal.


Alice hanya tersenyum misterius lalu kembali mengayunkan pedang emasnya dengan sangat lembut,namun suara bergemuruh dari langit sangat memekakkan telinga.



[DIMENSION DISTORTION]


Gerbang raksasa berwarna putih dan hiasan emas yang berpadu indah memberi kesan megah muncul dihadapan Alice.Ia memaksa Dhaniy masuk kesana,mereka berdua lenyap yang tertinggal hanya bangkai monster Lycorax.



Lilith dan Near sampai di kastil dan sempat menghindari serangan dari Tamon rah,begitu mereka sampai di kastil Tamon Rah kehilangan kemampuan cast detectornya sehingga membuat dirinya terbang kesana kemari sambil menyemburkan api dan membentangkan sayapnya,ratusan bola api yang menghujam siapapun dibawahnya menghanguskan apa saja yang dilewatinya.


Tidak lama kemudian,Alice dan Dhaniy juga tiba di kastil mereka berempat berpelukan erat saling tertawa untuk sesaat karena berhasil selamat dan tiba di kastil sesuai dengan arahan Lilith.


Sekilas pandang Lilith menatap menara-menara yang berada di sayap kanan dan kiri kastil.Menara itu berdiri di atas padang pasir seluas 40 hektar berbahan dasar kristal kaca dan tahan karat setinggi 88 tingkat,terdapat 12 biji lampu disekeliling menara yang berkelap-kelip.Diantara kedua menara kembar itu,dibangun sebuah jembatan skybridge atau jembatan udara yang menghubungkan kedua menara pada lantai 41 dan 42.


Menara kembar ini adalah dua buah pencakar langit yang berdiri setinggi 452 meter atau 1483 kaki dihitung sampai paling atas.Bentuk lantainya berupa dua buah persegi yang berpotongan membentuk bintang berujung delapan dan pada tiap titik perpotongannya ditambahkan sepotong lingkaran.


Dari ujung matanya,Lilith bisa melihat kedua menara itu bisa menembakkan projektil magis.Sementara Nyala api Tamon Rah yang bisa terlihat di kejauhan,masih terus mengejar mereka sambil menembakkan aliran api kemana-mana.


Kembali Lilith menatap rekan-rekannya dengan tatapan mata bimbang penuh keraguan.Tak satupun rencana terbayang dalam benaknya,ia hanya tersenyum kecil mencibir otaknya yang jenius sedang kehabisan akal.


"Boleh aku yang mengambil alih sekarang?"ucap Alice memecah kesunyian diantara mereka berempat lalu seluruh pandangan tertuju pada Alice.


"Baiklah.Apa rencanamu sekarang?"sahut Lilith dengan suara bergetar,giginya bergetak hebat menahan ketakutan yang terlihat jelas tergambar diwajahnya.


"Aku dan Near akan menuju menara kembar itu."tatapan mata Alice memancar penuh keyakinan,ia kembali berkata,"Kau dan Dhaniy disini menghadang Tamon Rah sampai mendengar suara gemuruh dari langit sebagai tanda,Aku dan Near siap menghancurkan menara itu."


"Itu mudah!"sahut Dhaniy kembali bersemangat dan mengambil posisinya untuk bertarung melawan Tamon Rah yang sudah beberapa meter mendekati kastil kristal biru,tempatnya berdiskusi.


Lilith dan Near mengangukkan kepala bersamaan mengambil posisi mereka masing-masing,Alice tersenyum samar penuh misteri lalu berlari bersama Near mendekati menara kembar dengan kecepatan yang mereka miliki.


Tepat lima meter dari menara,Near dan Alice harus berjuang melawan projektil sihir dari kedua menara yang setiap detik menembakkan peluru-peluru kearah mereka berdua.Near menggunakan kemampuan 'Evil Shield' untuk melindungi dirinya sendiri serta Alice dan menangkis serangan peluru sihir menara.


Tiba-tiba langkah mereka berdua terhenti begitu melihat sosok monster raksasa berbadan manusia dan berwajah anjing berdiri tegap tepat di depan skybridge,monster itu membawa sabit dikedua tangannya.Alice terkejut dan berhenti berlari,ia tercengang tubuhnya membatu,tak percaya rencananya akan gagal.


"Anubis,"ucap Near yang tak kalah terkejutnya.


"B…bagaimana sekarang?"ucap Alice dengan suara bergetar.


"Tak ada jalan lain,bertempur sampai titik darah penghabisan."


Lelah dan letih jelas terpancar di wajah mereka berempat yang tiada habisnya bahu membahu menghadapi monster-monster raksasa berkemampuan khusus yang bisa melumpuhkan mental lawannya.


"Alice,apa kau tak punya peti yang cocok untuk Anubis?"ucap Near kacau,berusaha mencairkan suasana tegang diantara mereka berdua.


"A..ap…Apa-apan kau Near!Berhenti bercanda dengan lelucon konyolmu."


Mereka berdua tersenyum geli dan saling berpandangan,entah mengapa lelucon tak lucu itu seolah-olah menjadi akhir dari hidupnya.


Sementara itu disisi lain Lilith dan Dhaniy mulai berkolaborasi membentuk pola serangan bertubi-tubi untuk monster immortal Tamon Rah.Mereka berdua berhasil membuat tubuh Tamon Rah tercerai berai untuk sesaat.


Tiba-tiba terdengar suara hantaman begitu besar dan bergemuruh meretakkan sebagian lantai marmer kristal bagian tengah kastil.Dhaniy dan Lilith berpandangan mereka berdua memiliki satu firasat kuat bahwa Alice dan Near sedang kesulitan bahkan bisa jadi sekarat.


"Lilith??"


"Ya."Lilith menganguk pelan lalu sekali lagi menggunakan kekuatan teleportnya untuk menuju kearah sumber suara tadi,mengabaikan Tamon Rah yang mengeliat liar berusaha bangkit setelah tubuhnya terpecah berai bagikan puing-puing kaca yang mulai menyatu kembali.


Teleport itu berhasil membawa Lilith dan Dhaniy tepat berada di depan Alice dan Near yang tersungkur penuh luka sayatan dari senjata sabit milik monster Anubis,Lilith menjerit ngeri ketika melihat luka itu.
Lilith dan Dhaniy tidak mengetahui bahwa monster itu tepat berada di belakangnya.Near berusaha mengangkat tangannya mengatakan monster itu berada tepat di belakang mereka.


Menyadari ada hal janggal di mata Near,seketika itu Dhaniy mengaktifkan kemampuan 'Fast Reaction' lalu menyadari keberadaan Anubis.Ia memeluk Lilith dan mengajak gadis itu melompat menghindari serangan Anubis yang datang begitu cepat bagaikan sambaran kilat.


Sementara dari sisi yang berlawanan Tamon Rah yang berhasil bangkit seutuhnya menyalakan lidah api penuh kemarahan.Kali ini Dhaniy merasa tertekan karena ada dua monster yang menghadang kedua jalan mereka,hampir tidak bernafas Dhaniy terengah karena menyadari posisi terjepit antara hidup dan mati.


"Near,Alice cepatlah pergi!Lari!Aku dan Dhaniy akan mengacaukan dua monster ini."teriakan Lilith sempat membuat terkejut mereka.


Near dan Alice perlahan bangkit menahan rasa sakit yang didera oleh tubuhnya sementara Dhaniy dan Lilith menggunakan sisa tenaga mereka untuk melawan Anubis dan Tamon Rah,kabar baiknya Anubis tidak memiliki tubuh immortal seperti Tamon Rah yang membuat Lilith dan Dhaniy bersemangat walau mereka tahu kekuatan dan tenaga mereka diambang batas kehancuran.


Alice dan Near berhasil lari sampai skybridge mereka berdua beradu pandang untuk sesaat setelah itu dengan tatapan penuh keyakinan menuju kearah berlawanan dan hendak menghancurkan menara kembar itu meski projektil-projektil sihir masih terus ditembakkan kali ini mereka berdua tampak lebih lihai menghindari serangan itu.


Dhaniy dan Lilith berada diambang batas kemampuan mereka,Anubis berhasil tumbang dengan pedang satu sisi berlapis palladium Dhaniy. Mereka memandang satu target tujuan akhir adalah Tamon Rah.


Terdengar suara gemuruh dari langit yang berasal dari pedang emas Alice.Ia mengayunkan pedangnya berkali-kali hingga menyentuh permukaan tanah,menjadikan menara Kristal itu batu sehingga berhenti menembakkan projektil sihir.Ayunan keduanya berhasil menjadikan tanah merekah bagai bunga dan menenggelamkan menara yang retak menjadi puing-puing kaca.


Di saat yang sama Near menggunakan kemampuan 'Last Chance' menembakkan panah yang terbuat dari bayangan hitam menuju kearah menara kristal itu dalam sekejap mata benturan antara anak panah dan menara mengakibatkan suara ledakan yang hebat, tubuh Near terpental jauh tapi ia sempat mengapai tangan Dhaniy dan ia tersenyum melihat kedua menara kristal yang berkilau kebiruan itu hancur bersamaan.


Suara gemuruh dan suara pecahan yang menggema di seluruh padang pasir mengetarkan tanah sekitar,diikuti dengan kejatuhan menara.Kastil kristal megah itupun perlahan runtuh.


Sementara dari langit malam yang gelap muncul seberkas cahaya putih yang perlahan membesar serta menarik Tamon Rah ikut serta masuk kedalamnya,berkas-berkas cahaya bermunculan seperti tali perak yang melilit kaki,leher,tanduk dan sayap Tamon Rah.Penyegelan yang berlangsung sangat singkat serta menyilaukan mata itupun berjalan mulus tanpa gangguan.


Sebelum kastil kristal itu runtuh sempurna,sebuah portal menarik mereka berempat kembali ke Alforea.Cahaya fajar yang menyingsing menyambut kemenangan mereka menyentuh dengan hangat kedatangan team yang berhasil memenangkan pertarungan tiada habis melawan Tamon Rah.


~END~

==oOo==

11 comments:

  1. Ini Lilith orang mana ya? Awalnya saya kira blasteran Jepang-Eropa, tapi kemudian pindah" dipanggilanya antara Lilith sama Moselle. Saya ngerti seandainya nama dia dua suku kata (nama+marga), tapi terus Shizuka di sini maksudnya apa? Btw, kalo dari awal bahasanya udah sama semua, agak pointless juga nyebut 'kata Lilith dalam bahasa Perancis', toh kita bacanya Indo (kecuali kamu emang pake bahasa Perancis beneran buat dialog itu)

    Kayak Shikawa - Izayoi, jadi ceritanya Lilith ini satu universe sama Dhaniy - Near?

    Perpindahan ke Alforea berkesan gitu aja... Dan berarti mereka" ini orang normal yang dikasih skill baru karena masuk Alforea doang ya, bukan berarti emang punya kemampuan dari dunia asalnya?

    Battlenya masih terlalu banyak sekedar tell + ngobrol. Selain ga dapet suasananya juga kurang apik penggambaran apa yang lagi berlangsung. Peran Tamon Rah juga rasanya dikit porsinya.

    Dan entah kenapa agak kurang pas nyebut nama jurus kayak gitu tiap kali ada named skill, tapi ini mungkin preferensi pribadi sih.

    Dari saya 6.

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Lilith bangsawan perancis.
      nama Lilith sendiri berarti angin
      shizuka = tenang
      moselle= seribu mata air

      karena itu elemennya air dan angin, penggambilan nama untuk dia saya ambil dari jepang dan yunani.

      err ini pertama kalinya membuat cerpen aksi maaf kalau masih mengecewakan.

      Terima kasih untuk nilainya saya sangat menghargainya ^_^

      akan saya perbaiki lagi jika lolos :) ty

      Delete
  2. Penggambaran karakter lumayan, tapi ceritanya terlalu 'tell' dan agak kurang terasa thrill-nya.. Agak belum dapet aja suasana bertarungnya. Nilai: 7. Aragon Ferden

    ReplyDelete
  3. Sama seperti beberapa komentator di atas, menurut saya penulisannya masih kaku dan cenderung ke arah tell. Saya sarankan untuk mencoba menggambarkan situasi pertarungan, bagaimana mimik tubuh/wajah tokohnya, gerakan dari satu tempat ke tempat lain dan laju setiap serangan.

    Nilai : 7/10

    OC : Renggo Sina

    ReplyDelete
  4. Err sebenernya baca cerita ini jatuhnya kaya baca laporan cuaca, terlalu tell. Agak sulit bayangin ekspresi aksi dll.
    Terus jadi di cerita ini, dhaniy dan near satu realm dengan lilith dan hanya manusia biasa yang berubah jadi karakter game yah?

    Terus tamon rahnya juga kurang eksis nih di sini jdi kurang terasa thrillernya xD.

    Ok nilainya : 6

    -Khanza M.Swartika-

    ReplyDelete
  5. Lilith ini tinggal di Prancis dimensi mana si? :3 Namanya kok ada Shizukanya, apakah orang tua yang memberinya nama itu penyuka kultur jepang? Kenapa dia dipanggil 'Lady', kukira itu sebutan untuk bangsawan inggris? Trus kayaknya dia tinggal di zaman uda canggih ya tapi kok masi dijemput pakay kereta kuda? Dan di Prancis kenapa bisa ada tanaman tropis...

    Ah, masuk ke cerita, aku rada bingung kenapa Lilith dan pengawalnya bisa jadi saling ga kenal gitu pas pertama pindah, apa penampilan mereka beneran berubah kayak di SAO?

    Kalau secara teknik penulisan walau masi rada kaku, aku melihat potensi ini bisa dikembangin terus. Masalah terbesar di sini sih kurasa ada pada logika penceritaannya yang kadang terasa kontradiktif, kurang konsisten. Sama secara teknis tanda baca, typo, dan penggunaan awalan/akhiran kata yang kurang tepat.

    Dari segi alurnya sendiri ku belum menemukan sesuatu yang spesial, meski pertarungannya ga bisa dikatakan buruk juga. Toh pada akhirnya mengikuti ketentuan poin-poin yang ditetapkan panitia juga.

    Nilai : 6

    OC aye : Zhaahir

    ReplyDelete
  6. pur sang femme vampire memulai aksinya ^_^
    penulisan okey , latarnya OC sedikit ditambahin yg aq tahu mossele sendiri dari perancis biasanya digabung sama madammoselle (nyonya atau nona) cengkok prenacisnya kurang terasa
    walau battlenya dah seru kerja sama team msh blm kompak (emang watak OC masing2 bawaan kali ya) lol

    Nilai : 8
    karena msh permulaan image perancisnya out , moga kedepannya nuansa romance parisnya terasa XD

    OC : Meilyr

    ReplyDelete
  7. first... karyanya kayak punya ane XD sama-sama terlalu tell (dapet pencerahan dari entry sendiri)

    second... latarnya kurang berasa dan juga si Tamon Rah kok gak dapet peran banyak yah? Dan yang paling penting spasi setelah tanda bacanya tolong diperhatikan T_T garing? Yah... kurang lebih sama kayak entry sendiri XD

    overall : 6/10

    -Dhaniy Islaviore/Masqurade

    ReplyDelete
  8. Ada kesalahan teknis di beberapa bagian (ga ada spasi habis koma/titik misalnya) dan ceritanya sendiri... yah, seharusnya kamu bisa menyajikan lebih dari ini. Saya bisa merasakan unsur drama dari pertarungannya, tapi karena deskripsinya masih kurang maksimal adegan-adegan yang harusnya emosional jadi terasa numpang lewat saja. Ending battlenya pun masih kurang nendang.

    Dengan pertimbangan tersebut, saya beri nilai cerita ini 7/10. Terus nulis yak, kalau terbiasa nulis sambil dikomen orang nanti skillmu berkembang sendiri kok.

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
  9. Hmm... untuk adegan non-battlenya oke kalau kata saya. Tapi saran aja sih, mungkin perbanyak kalimat bermajas agar lebih bermakna? masih datar kalau menurut saya, kurang begitu emosional.

    Untuk battlenya sendiri cukup oke, tapi pas saya baca-baca lagi, kayaknya ini pertama kali ya bikin adegan battle? Udah oke kok sebenernya, tinggal dipoles lagi agar lebih terasa intensitas action-nya

    Dari saya 7/10.

    Salam hangat dari Enryuumaru/Zarid Al-Farabi

    ReplyDelete
  10. Karena udah komen di entry saya, akhirnya saya berkunjung balik~

    Worldbuilding di awalnya bener-bener ga nyambung. Bahkan dari nama OCnya juga aneh: Shizuka dr Jepang, Lilith berbau Hebrew (dia bahkan punya monster Leviathan :/), terus Moselle yang Perancis. Maunya apa?

    Tapi saya pertahankan mindset. Ini orang Perancis. Mungkin ortunya salah satu penggemar Jejepangan. Oke. Tapi kenapa oh mengapa dia dipanggil Lady? Katanya anak pejabat. Terus Islavore sm Iscovaca itu dr dunia yg sama? Berdekatan pula. Namanya aja berbau agak ke-Italia-an alih-alih Perancis. *Makin konslet

    Ya udahlah, lupakan dulu worldbuilding itu. Saran saya, riset dulu. Kalo mau bilang ini semacam Perancis ala fairytale, jelasin lah ke pembaca pake alasan yg logis.

    Soal narasinya, ya ... masih terlalu tell kalo menurut saya. Typo sm kesalahan EYD juga bertebaran. Tapi, karena saya bukan garam-nasi, saya cuek aja deh.

    Potensi sebenernya banyak. Karena bagi saya Shizuka/Lilith/Moselle ini OC yang unik. Tapi alur dan ending ceritanya jadi biasa aja. Mungkin diakibatkan teknik menulis yang terlalu tell ini.

    Jadi mungkin, Ahran titip 7 dulu ya Shizuka/Lilith/Moselle. Jangan patah semangat!

    -Dari Alfiana N./Ahran-

    ReplyDelete