Segara Dzarjih, begitu kami menamakannya, sumber nutfah. Tempat lauk berkembang biak dan manik-manik mutiara terbentuk di mulut kerang.
Laut Pizgin, begitu para bangsa pelaut Adhergyen menamakannya, tempat mereka pulang dan menyandarkan posisi tidur mereka di atas pasir putih pengganti kasur di rumah mengapung mereka yang hangat.Tanpa perairan ini mungkin mereka membangun pondok di pesisir Targaywn. Sambil menanggung malu akan ketidak mampuan mereka memegang tradisi leluhur.
Keduanya adalah tempat yang sama. Sayang, tidak ada bukti pasti bangsa mana yang berhak menguasai teritori ini, sehingga sengketa wilayah tak terhindarkan. Hubungan kedua wilayah ini memang kurang harmonis. Puncaknya yaitu 3 tahun yang lalu, panji perangpun dikibarkan dengan bermacam sebab. Konyolnya, salah satu alasan berperang adalah membenarkan nama yang diangkat masing-masing negara. Walau menjunjung rasa damai. Internal Atuktar tidak luput dari gerogotan rubah pengerat rakus yang bersembunyi dalam kedok chauvinisme. Toh akhirnya perang dimenangkan oleh bangsa kami.


