12.7.15

[ROUND 2 - CORE LEVEL] BUN - HAE DIFINISIEN IS LIKE SUPER BURGER WITH EXTRA DELUX, BUN~

Bun Journal, Hae Difinisien Is Like Super Burger With Extra Delux, Bun~
"Live it up before you dead, bro~"
Branze Journal, Page 05, Alexandria Library-Ishkandaria

Fast Forward >>
Lengkingan nyaring berkumandang dari mulut berliurnya. Bun berlari terengah dari kejaran sesosok bayangan hitam bermata merah, tubuhnya yang bulat berguling beberapa kali setelah sesuatu mementalkannya.

Bun meringis nyeri, ia berdiri dan berusaha untuk kembali berlari. Namun terlambat. Sosok hitam bermata merah merasuki tubuhnya. Perlahan mengubah fisik, dan penampilannya. Pelan ... perlahan.
***


<< Rewind
Bun tak sadarkan diri untuk beberapa saat setelah tubuhnya menyambar Lexia dan Zombie Kumirun. Nyeri, pegal, dan lelah di beberapa bagian tubuhnya serta perut yang bergolak panas jelas bisa Bun rasakan. Namun tetap saja, hal yang membuatnya bingung adalah kehadiran Monica yang menyelamatkannya.

Monica sendiri merasakan hal yang sama. Ia tak yakin ada di mana, pun tak tahu harus berbuat apa. Padahal ia tengah sibuk mengumpulkan informasi mengenai hilangnya salah satu sepupunya di Gnomeria. Namun sebelum ia berpindah tempat, ia ingat seseorang—atau sesuatu—membisikinya.

          "Datanglah, terimalah panggilan dari kerabatmu."
          "Katakan Nexus ... NEXUS ... N E X U S ...!"

Monica mengucapkan kata tersebut dan sesuatu menariknya melewati gerbang yang terbuka di atas kepalanya. Dalam sekejap, Monica melayang di atas danau magma dan melihat sepupu Bun terjatuh hampir tercebur ke dalamnya. Tanpa pikir panjang Monica menangkap Bun dan membawanya ke tempat yang aman.

Masih dalam kepanikannya sendiri karena sepupu Elle kembali menghilang dari Gnomeria. Monica memutuskan untuk menceritakan kejadian yang terjadi di Gnomeria selama Bun berkelana.

Bun terkejut ketika mendengar berita hilangnya sepupu Elle. Lebih terkejut lagi ketika sesuatu menarik tubuhnya. Menarik masuk ke dalam sebuah lubang merah sebelum bisa merespons lebih jauh.

Monica tersentak kaget melihat Bun yang terserap ke dalam lubang dimensi. Ia lantas mengulurkan tangannya berusaha meraih Bun. Namun terlambat, Bun lenyap dari Managua, dan meninggalkan Monica sendirian.
***

Now: Library ...

Ialah Raditya Damian. Kembali dari petualangannya di wilayah bersalju setelah berhasil mengalahkan lawan-lawannya, lalu menerima sepucuk surat yang membawanya menuju 'Stage' selanjutnya. Dalam ingatannya, masih tersimpan jelas sosok-sosok yang tak sengaja menjadi teman-temannya di negeri Alforea ini.

Tim Lightbringer yang membawanya lolos menuju pentas yang lebih pantas dan lebih besar. Lalu tim di babak pertama yang harus ia lawan demi melancarkan langkahnya menuju puncak dan melaju ke babak selanjutnya. Ia yakin, ada tujuan lain yang harus ia lakukan selain menempa dirinya di Alforea ini.

Kini, sepucuk surat yang ada di tangannya menginstruksikannya untuk melawan seseorang bernama Dyna Might. Di sini, di tempat yang kini ada di hadapannya. Sebuah tempat berbentuk kubah dipenuhi ribuan buku yang tersusun dari angka biner. Sebuah tempat yang dikenal sebagai Deep database library of Alforea.  Sebuah Pusat. Pusat tempat tersimpannya segala macam data yang ada di Alforea. Pusat tempat sebuah rahasia terbenam.

Vajra jelas telah mempersiapkan dirinya untuk babak berikutnya, walaupun tak ada jeda untuk beristirahat, ia hanya perlu bermeditasi sebentar dan mengumpulkan kembali prananya.

Namun begitu, ia memutuskan untuk mencari informasi mengenai lawannya terlebih dahulu. Menggunakan telepon pintar yang ada di genggamannya, Ia mulai menjelajahi situs resmi turnamen dan mengetik nama lawannya.

Search ... Dyna Might

Sedetik kemudian, hasil pencariannya berbuah manis. Informasi dan data statistik mengenai lawannya kini muncul pada layar teleponnya. Ia lantas mengamati setiap aspek yang dimiliki lawannya. Kini Vajra mempersiapkan diri untuk sesuatu yang buruk.
***

Sesosok lain baru saja sampai di Perpustakaan. Penampilannya rapi, tubuhnya tinggi semampai, dan tatapannya tajam. Ia mencermati keadaan sekitarnya. Buku-buku yang tersusun rapi sesuai abjad, lalu beberapa buku yang terbang bak burung bebas yang terlepas dari sangkarnya menjadi pemandangan umum di lokasi yang menjadi tempat berlangsungnya babak kedua ini.

Setelan putih dengan kemeja hitam di baliknya terlihat kontras ketika melewati  beberapa rak buku yang berwarna pudar. Pun dengan rambutnya yang bis a dikatakan, 'charming'. Setelah memetakan keadaan di sekitarnya menggunakan kemampuan sonar suaranya, Ia sukses menemukan lawannya yang tak jauh dari tempatnya datang.

Namun ada keganjilan di sini. Tak ada pelayan, ataupun instruksi khusus dalam melewati pertarungan ronde dua kali ini. sepucuk suratnya pun diperoleh dari langit. Setelah selesai membaca habis isi surat yang ia terima, ia pun melempar suratnya ke arah seseorang yang sedang duduk bersila.

Lawannya adalah seseorang dengan identitas sebagai Vajra. Tatapan tajam Dyna menyisir setiap inci lawannya. Ia mendengus malas, sama sekali tak tertarik dengan lawannya kali ini.

Di lain pihak, Radith menyabetkan telunjuk dan jari tengahnya. Menangkap surat yang melesat ke arahnya. Ia kemudian menatap Dyna yang berbalik menjauhinya. Seketika itu pula, ia berdiri dan mencoba menahan sosok bertopi dan berambut ungu tersebut.

             "Kau Dyna Might kan?"
            "Perkenalkan, namaku Radity ...," belum selesai Radith memperkenalkan diri, Dyna mengangkat kedua lengannya dan memotong ucapannya.
          "Ya ... ya ... ya ... Kau Raditya Damian kan? Umm ... Vajra? Atau sang dalang bayangan?" seru Dyna malas, "Singkat saja, aku tak tertarik ..."

Tak terima dengan perkataan lawannya, amarah Radith perlahan tersulut, "Apa maksudmu?" tanya Radith berapi-api.

"Kolot, kuno!" balas Dyna singkat.

Tensi di antara keduanya mulai terbentuk, Radith merasa dipandang remeh mendengar ucapan Dyna. Sementara Dyna sendiri terlihat malas sekaligus jengkel. Di sela-sela tensi yang terbentuk tersebut, sebuah guncangan besar terjadi diikuti teriakan lantang dari arah Radith.

BUMI GONJANG GANJING!

***

INVADE ...
Bun Journal, Page 1, Deep Database Library-Alforea

Bun terpukau ketika beberapa buku beterbangan menghampirinya. Ia baru saja dilontarkan oleh lubang merah dan mendarat kurang mulus di dekat sebuah ruangan kapsul yang terletak di tengah-tengah perpustakaan.

Aliran data kebiruan terlihat indah melewati langit-langit perpustakaan yang terbuka lebar, memasuki corong-corong pada ruangan kapsul yang berjumlah tak kurang dari enam corong.

           "I ... ini keren, bun~"
          "Andai saja sepupu Meredith ada di sini, dia pasti suka melihat buku-buku yang beterbangan bebas itu, bun~"

Namun belum lama Bun menikmati keadaan di sekitarnya, sebuah getaran hebat yang berasal dari inti perpustakaan terasa. Indra perasa getaran Bun menjerit hingga membuat si bocah bertudung biru terkejut bukan main.

***

Dalam sebuah ruangan mirip kapsul, beberapa monitor hologram bergetar berdenyut-denyut. Jutaan data biner berwarna merah masuk melewati corong-corong penerima data. Seharusnya, data yang mengalir masuk adalah data normal berwarna biru.

Suara digital menggema keras diiringi sirene dan kelap kelip lampu merah. Layar-layar monitor yang menampilkan keadaan beberapa wilayah di Alforea, dan sudut-sudut di perpustakaan kini menunjukkan dua patah kata. 

[INVADER DETECTED]
... REPEAT ...
[INVADER DETECTED]
SYSTEM FAILURE
... IN ...
3
.
.
.
2
.
.
.
1
.
.
.
Beeeeeeeeep!



_____________________________________________________|____________________________________________________
  |

***

Bukan hanya karena getaran hebat yang baru saja Bun rasakan, tetapi juga oleh aliran data yang kini berubah menjadi warna merah yang memasuki corong. Sesuatu yang buruk bisa ia rasakan.

Si bocah tembam dapat merasakan kehadiran seseorang di dalam ruangan kapsul. Namun aneh, tak ada pintu ataupun gerbang masuk menuju ruangan tersebut, padahal Bun dapat merasakan dengan jelas keadaan di dalam ruangan yang kini tengah bergemuruh hebat.

          "Ga ... gawat, bun~"

Merasakan bahaya yang mendekat, Bun memutuskan untuk menjauhi ruangan kapsul. Namun sial, jutaan data merah perlahan menyebar ke seluruh penjuru perpustakaan. Mengubah data-data biner kebiruan menjadi data baru berwarna ungu.

Perubahan visual yang sangat signifikan tercipta. Diikuti munculnya sesosok makhluk hitam besar yang terbentuk dari data-data. Tatapan matanya tajam menusuk, menyayat siapa pun yang menatap ke tiga mata merahnya.

           "Ma... Makhluk apa itu, bun~"

Tak ingin mengambil risiko, Bun memutuskan untuk berlari dan menjauhi sosok hitam tersebut. Dengan lincahnya si bocah tembam menghindari rintangan, melompati beberapa buku, berguling melewati celah sempit lemari buku demi menghindari serangan makhluk bermata merah.

Bun menjerit ngeri. Apapun yang mengenai serangan makhluk tersebut berubah visualnya menjadi jauh lebih 'ganteng' dari sebelumnya. Hingga akhirnya Bun berguling-guling nyeri setelah sesuatu yang tak kasatmata mementalkannya.

***

DESTROY ...
Bun Journal, Page 3, Deep Database Library-Alforea

Ketiga wayang Radith keluar dari kalung pusakanya. Berubah menjadi pusaka lain yang kini terpasang di tubuhnya. Matanya bersinar kemerahan, perawakannya berubah kekar, dan kilatan listrik menari-nari di sekujur tubuhnya.

Dyna yang mendengar teriakan Radith lantas berbalik dan menatap lawannya yang kini terlihat lebih 'sexy'.

           "Huuum ... tubuh yang indah, yum yum~"
          "Apa boleh buat, jika kau benar-benar memaksa, huh~" sahut Dyna memiringkan topi fedora cokelatnya ke depan. Tatapannya tajam menusuk sukma.

            BUM~

Bisik Dyna memulai langkahnya. Mengakibatkan efek suara ledakan super dahsyat di belakang Radith yang telah bertransformasi menjadi Vajra.

Vajra menoleh ke arah sumber suara ledakan. Ia masih ingat betul salah satu kemampuan lawannya kali ini adalah memanipulasi suara, namun tak pernah mengira, efeknya akan seperti itu.

Melihat Vajra yang terpancing, Dyna melesat ke arah lawannya dan mendekap tubuh kekarnya dari belakang. Mata keemasannya terfokus pada otot-otot bisep Vajra.

           "Huuu~, boleh juga perubahanmu ini~"

Vajra berontak. Ia mengalirkan listrik di sekujur tubuhnya hingga menyengat Dyna dan membuatnya mundur beberapa langkah.

           "Bahkan sengatanmu sukses membuat hati ini deg-degan, mz~"
           "BERHENTI BERMAIN-MAIN!" teriak Vajra semakin kesal. Kuda-kuda ia siapkan dan beberapa detik  kemudian, Vajra melesat melancarkan tinjunya.

Dyna tersenyum licik. Wajahnya tampak penuh gairah. Ia kembali berbisik.

            Crot~

Bisikannya memunculkan suara penuh gairah yang terdengar tepat di sebelah kiri Vajra. Memunculkan efek suara adegan-adegan film biru di mana pemainnya tengah berada di atas puncak kenikmatan. Namun sayangnya ... Vajra tak termakan oleh jebakan yang sama, Ia terus melancarkan serangannya. Namun sesuatu menerjang rusuk Vajra hingga membuatnya tersungkur ke samping.

            "Lihat? Bahkan buku saja tertarik pada otot-otot milikmu itu, yum yum~"

Dyna berjalan santai ke arah Vajra yang berusaha berdiri. Tangan kanan Dyna membentuk sebuah bola yang perlahan memipih dan membesar. Buku-buku hampir terserap ke dalam bola tersebut.

            "Kau tahu, rasa ingin memiliki terkadang bisa sangat menyakitkan~"
            "Terlebih ketika kau tak tahu apa yang harus kau miliki!"

Dyna membantingkan sebuah tekanan udara yang berukuran sebesar bola American Football. Mengarah tepat pada lawannya. Sementara itu, Vajra telah bersiap dengan tinju petirnya. Bintang di baju zirahnya mulai berpendar, dan ia pun melesatkan  serangannya.

Berbenturan ...

Ledakannya mendorong mundur Vajra hingga menjauh dan berguling beberapa kali. Dyna sendiri melayang sebentar ke belakang sebelum akhirnya bisa menjaga keseimbangannya dan terseret sambil berdiri agak goyah. Satu lagi yang terpental  adalah sesosok mungil bertubuh gemuk dengan tudung biru dan pipi yang mengembang lebar.

Buku-buku yang sebelumnya berupa data biner kini berubah visualnya, pun dengan lantainya yang kini tampak berkilau layaknya marmer yang baru di poles. Perubahan terjadi secara perlahan mengikuti data merah yang menyebar dari pusat perpustakaan menuju ke ujung-ujungnya.

Dyna terkejut ketika sesosok bulat cebol ikut terpental. Ia tak mengingat peserta lain yang tertulis pada surat pengumuman yang telah ia baca.

Lain halnya dengan respons Vajra yang terkejut sekaligus bahagia. Salah satu rekannya ada di hadapannya. Mengartikan bahwa salah satu dari tim Lightbringer berhasil lolos sampai ronde ke dua.

Namun masih dalam keterkejutan yang sama,  sesosok hitam bermata merah muncul dan melancarkan serangan ke ketiganya. Membagi rata data biner merah hingga merasuk ke dalam tubuh Vajra, Dyna, dan Bun.

Terjadilah rekonstruksi biner dan data pada masing-masing kontestan. Perlahan mengubah bentuk fisik—visual—dari ketiganya.

Bun mengerang nyeri ketika otot-otot di tubuhnya merenggang. Perutnya memipih datar dan rahangnya berangsur lancip. Pipi tembamnya hilang dan tingginya kini hampir dua setengah kali lipat tinggi aslinya. Pakaian yang ia kenakan ikut  menyesuaikan dengan keadaannya sekarang.

Begitu pun dengan Dyna. Kulit-kulitnya semakin mulus, tiap lembar rambutnya berkilau memesona, wajahnya semakin menawan dan dadanya yang sebelumnya datar, kini semakin terbentuk. Fisiknya jauh lebih 'cantik' dari biasanya.

Vajra yang terjungkal mengalami hal yang serupa. Topengnya semakin berkilau, baju zirah di dadanya semakin mengkilap, dan gelang saktinya semakin berkelipan. Sayangnya, tubuh fisiknya tak banyak berubah, mungkin ada hubungannya dengan perubahan wujud sebelumnya.

Perubahan lain yang jelas dan kentara adalah munculnya sesuatu yang mengambang di atas kepalanya. Satu baris panjang berwarna merah, dan beberapa baris yang terpisah-pisah berwarna biru.

***

Sementara itu, di dalam ruangan berbentuk kapsul. Sesosok gadis cilik berambut semanis karamel mengambang pada tabung berisi air. Corong-corong dari langit-langit tersambung pada bagian punggungnya.

Tubuhnya mungil tanpa busana dengan lutut yang ditekuk sampai ke dada dan tangan yang memeluk lututnya. Wajahnya tertutup masker berselang ganda yang memunculkan buih di setiap detik yang terlewat.

Data-data merah yang melewati corong dan masuk ke dalam tubuhnya perlahan mengubah fisiknya. Denyutan kencang terjadi, meretakkan tabung air yang melingkupinya. Denyutan lain terjadi, membuka kelopak mata gadis tersebut dan menunjukkan mata kebiruannya yang berangsur menjadi ungu. Denyutan terakhir terjadi hingga menghancurkan tabung air, memuncratkan isinya ke segala arah, dan membangunkan sosok dengan sebuah nama yang menggantung di atas kepalanya.

[CAROL LIDELL]

***



REPEAT ...
Bun Journal, Page 7, Deep Database Library-Alforea

Sosok hitam bermata merah lenyap dari hadapan mereka setelah merasuki ketiganya. Perubahan fisik yang terjadi kini diikuti dengan perubahan tempat yang telah sempurna.

Data-data merah terlihat masih masuk melewati langit-langit perpustakaan, dan sebuah ledakan terdengar ketika ketiganya telah selesai bertransformasi.

Luka, lelah, lapar dan tenaga Vajra maupun Dyna berangsur pulih hingga menganggap pertarungan sebelumnya tak pernah terjadi. Namun begitu, Vajra yang masih tersulut emosinya kembali berlari ke arah Dyna. Masih ingin memberikan 'pelajaran' kepadanya dengan tinju petir yang berkilatan meraung-raung.

            Ajian Raden Gatotkaca~
            Tinju Petir Brajamusti!

Dyna sendiri hanya diam sambil memerhatikan tubuh dan kulitnya yang berubah. Ia tersenyum kala mengelus kulitnya sendiri yang semakin mulus. Namun bukan berarti ia tidak menghiraukan lawannya yang siap dengan tinju listriknya yang terkepal.
           
            Augmentation~

Dyna berbisik sambil menatap lawannya. Ia menamparkan telapak kanannya sebelum perlahan membentuk kepalan tangan yang dilapisi tekanan angin yang meluap-luap. Dengungan nyaring bercampur angin kencang yang terserap ke dalam 'bola' bertekanan angin membuat tangannya bergetar tak menentu. Kemudian, Dyna melesat mengarahkan tinjunya.

Dua tinju hampir bertubrukan, sebelum kemudian dihentikan oleh seseorang berperawakan tinggi bertudung biru diikuti sejumlah angka—seratus dua puluh lima dan nol—yang muncul melayang di atas kepalan tangan mereka setelah mendarat di telapak tangan si tudung biru.

Rambut kebiruannya sekilas menunjukkan ketiga matanya yang terpejam rapat. Sementara senyumannya tersirat menunjukkan kegembiraan yang teramat sangat. Namun begitu, baris merah di atas kepalanya berkurang sedikit.

            "Hentikan, bun~" sahutnya mencoba menenangkan suasana.

Vajra tertegun untuk sesaat ketika melihat perubahan fisik dari rekan prelimnya. Perubahannya terlalu kentara. Terlihat jauh lebih tampan dan keren dari image awalnya yang imut dan menggemaskan.
           
            "B ... Bun? Kaukah itu?" tanyanya seraya menarik kepalan tangannya.

Dyna sendiri mundur beberapa langkah ke belakang. Ada sesuatu yang aneh dengan sosok bertudung biru. Jelas sekali yang ia lihat sebelumnya adalah seonggok bocah gemuk nan tembam yang sama sekali tidak membuatnya tertarik. Perubahan fisik yang terjadi membuatnya berubah pikiran. Mungkin.

            "Aku bukanlah Bun, Aku adalah pahlawan bertudung bintang, Bunbun, bun~"

Kata terakhir yang terucap dari mulut pria tinggi sepertinya terdengar sangat aneh, terlebih dengan pakaian yang penuh warna dan suara yang berat membuat kesan 'norak' tercipta.

Namun begitu, kata-kata yang terucap tadi seperti mimpi yang menjadi nyata bagi Bunbun. Jauh dalam dirinya, ia ingin sekali menjadi seorang pahlawan. Seperti paman Branze panutannya.

Sayangnya, fisik yang cebol dan gemuk selalu menjadi masalah terbesar bagi Bun. Ia sama sekali tidak membenci fisiknya tersebut, lebih ke kurang kepercayaan diri saja ketika tubuhnya terlampau gemuk dan pipi terlalu tembam. Kini, perawakannya yang tinggi dengan pipi yang lancip membuatnya jauh lebih percaya diri.

          "Huuuu~ bukankah kau bocah gemuk yang tadi ikut terhempas, kan?" tanya Dyna, "Kau jauh lebih 'imut' ya. Sayangnya, kau norak!"

Bunbun hanya tersenyum miris. Walaupun sesaat sebelumnya, Bunbun telah menyerap informasi mengenai Dyna ataupun Vajra. Ia berusaha mengait-ngaitkan informasi yang ia ingat dengan informasi baru dari Vajra. Membentuk hipotesis lemah mengenai kejadian dan keadaan yang sebenarnya terjadi.

          "Satu baris biru di atas kepala mereka lenyap. Mungkinkah setiap kemampuan kini dibayar oleh baris biru tersebut?"         

Pun dengan keraguan Dyna, dan beberapa informasi dari pengalamannya. Bunbun menarik kesimpulan bahwa sosoknya merupakan kejanggalan di ronde kedua ini. namun begitu, ada yang jauh lebih janggal yang juga sempat dipertanyakan oleh Dyna, yaitu ...

"Di mana pelayan dan informasi resmi mengenai ronde ke dua?"

          "Apa kalian tidak merasa aneh, bun?" tanya Bunbun serius, "Aku merasa bahwa ronde kedua ini tidak diadakan oleh panitia resmi, bun!"

           "Lalu, lihatlah baris biru di atas kepala kalian. Kupikir setiap kemampuan yang di keluarkan kini dibayar dengan baris biru tersebut, bun~"

Perubahan fisik Bunbun ternyata diikuti oleh kematangannya dalam berpikir dan bertindak. Lebih dari itu, kemampuan alaminya dalam merasakan getaran di atas bumi pun semakin tajam.

Sebut saja radius lima puluh meter, kini ia bisa merasakan sekurangnya seratus dua puluh lima meter jauhnya. Termasuk merasakan pergerakan sesosok gadis yang tengah mendekat ke arah mereka bertiga.

"Tampaknya kau benar, Bocah bintang~" balas Dyna setelah mencoba kemampuan melenyapkan suara di sekelilingnya. Kini Bar biru yang tersisa tinggal tiga, namun perlahan terisi secara otomatis.

"Tunggu, maksudmu, seseorang atau sesuatu telah menjebak kita?" tanya Vajra menanggapi. Sementara Dyna berdiri santai ikut mendengarkan.

Bunbun mengangguk. Ia lalu menunjuk ke arah pusat perpustakaan. Sesosok gadis lima belas tahunan—tanpa buasana—berjalan pelan dikawal buku-buku yang beterbangan di sekelilingnya. Apapun yang menghalangi langkah kakinya seketika terhempas menjauh. Suara digital bergemuruh dari mulut gadis tersebut. Terdengar seperti kombinasi suara dua orang yang digabung menjadi satu.

"TERMINATE ALL EXISTENCE"
(TERMINATE EVERYTHING)

          "Ternyata, jawabannya datang sendiri ke arah kita, bun~" tunjuk Bunbun,
      "Apa maksudmu Bun, Apakah gadis tersebut akar dari semua masalah di sini?" tanya Vajra masih kebingungan.

Bunbun kemudian menjelaskan secara singkat mengenai maksudnya. Bermula dari kedatangannya, data-data merah, getaran di pusat perpustakaan, lalu sosok bayangan hitam bermata merah, sampai akhirnya Vajra mengangguk mengerti.

Sementara itu, tatapan Dyna tajam menyisir tubuh gadis tanpa busana tersebut. Ia terlalu muda baginya, walaupun kulitnya tampak mulus dan wajahnya tak begitu buruk. Namun begitu, Sekali lagi suara bergemuruh ganda terdengar dari mulut tipis Carol.
As Writen By Grimm Brother
(The Best of Grimm Brother)

FAIRY TALES COMPILATION
(OF ALL FINE COLLECTION)

Buku-buku berseliweran dari beberapa rak. Seperti dipanggil oleh majikannya, buku-buku berjudul berbeda namun dengan nama penulis yang sama kini berdatangan ke arah Carol. Satu buku Carol tarik menggunakan kekuatan telepatinya. Sepenggal kalimat Carol bacakan dengan lantang.

"O, Fitcher's bird, how com'st thou here~"
(I come from Fitcher's house quite near~)
–Fitcher's bird story

Puluhan burung Fitcher's bersayap seputih salju bermunculan. Kicauannya terdengar janggal. Beberapa detik kemudian, burung-burung Fitcher's melesat ke arah ketiganya.

"Siap atau tidak. Aku akan mencoba menyerap informasi dari gadis tersebut sebanyak-banyaknya, bun~"
           
Bunbun kemudian berpose ala pahlawan super sebelum akhirnya membumbung tinggi ke angkasa. Beberapa detik kemudian, ia menukik tajam dengan tinju yang terkepal ke arah sosok bernama Carol Lidell, Bun mencoba meneliti sekelilingnya.

Baris merah gadis tersebut terlihat lebih panjang dari mereka bertiga, pun dengan baris-baris merah mini yang muncul di atas kepala burung Fitcher's.
           
            "Aku akan mengurus burung-burungnya Bun." Seru Vajra menanggapi.

Tinju Bunbun sukses menembus barikade buku yang otomatis melindungi Carol, beberapa angka putih bermunculan di atas kepalan tangan Bunbun untuk sesaat. Dalam sekejap kedipan, Bunbun telah berpindah ke belakang Carol setelah tinjunya ditepis salah satu buku berjudul 'Snow-White and Rose-Red'.

Mencoba melancarkan tendangan dari titik buta, sebuah energi tak kasatmata mendorong Bunbun hingga tersungkur ke belakang, angka tujuh puluh lima melayang di tubuh bekas dorongan. Bunbun lantas tersenyum sesaat sebelum akhirnya lenyap kembali.

Bunbun melesat ke sisi kanan gadis tanpa busana. Melancarkan tamparan di pipi kanannya angka dua puluh lima melayang disusul lenyapnya tubuh Bunbun. Ia berpindah ke sisi kiri dan melancarkan tamparan lainnya. Buku-buku yang melindungi Carol ataupun energi tak kasatmata tak bisa mengimbangi kecepatan si tudung bintang.

Setelah melancarkan serangan-serangannya, Bunbun muncul di bagian atas kepala Carol, melayang dengan tubuh memutar siap melancarkan 'Axe kick' ke arah pundaknya. Waktu terasa melambat ketika serangan Bunbun mulai dikerahkan. Pelan menghantam pundak kanan hingga sukses menjatuhkan tubuh lawannya. Angka merah sejumlah dua ratus lima puluh tiga melayang.   

Gerakan Bunbun teramat sangat cepat bak petir yang menyambar-nyambar. Tiap kali Bunbun sukses melancarkan serangannya, serpihan-serpihan ingatan sukses ia dapatkan. Bunbun kemudian mundur untuk sesaat, berusaha mencerna ingatan dan informasi yang baru saja ia dapatkan. Erangan Carol tak bisa dibendung lagi.

"HOW DARE YOU FILTHY EXISTENCE"
(HOW DARE YOU DO THAT TO US!)

Sementara itu, Vajra melesatkan panah listrik pasopati dan serangan fisiknya. Dengan gesitnya melancarkan serangan-serangan silat hingga sukses melenyapkan hampir separuh burung Fitcher's.

Bagaimana dengan Dyna?

Dengan santai Dyna bersandar pada lemari buku. Sebuah buku berjudul 'Fifty shades of grey' tengah ia baca. Wajahnya memerah setiap kali membaca adegan 'asik' dalam buku tersebut. Ia sama sekali tak ingin ikut campur ataupun kerepotan melawan Carol, walaupun ia cukup tertarik dengan kemampuan gadis bugil itu.

***

MESSAGE ...
Bun Journal, Page 12, Deep Database Library-Alforea

Rentetan kejadian mulai terbentuk dari luapan ingatan. Sebuah turnamen, setahun yang lalu, serba merah, beberapa peserta loli, setan yang menuhankan dirinya, malaikat-malaikat berambut kapak, dan rencana awal sesosok makhluk berkepala kuda adalah informasi yang telah Bunbun cerna.

Di tengah-tengah proses mencerna ingatan. Carol kembali melancarkan serangannya. kali ini ia menarik sebuah buku berjudul 'Rapunzel' dan mulai membacakan sepenggal kalimat dari buku tersebut.

"Rapunzel, Rapunzel, Let down your long hair~"
(So that I may climb the golden stair)
–Rapunzel story

Beberapa untai rambut keemasan terjun bebas dari atas langit-langit perpustakaan. Sedetik kemudian rambut tersebut mulai bergerak bak ular yang memiliki akal. Melesat ke arah Bunbun yang tengah mencerna ingatan yang lain.
                       
Umaruu meringkik nyaring setelah berhasil 'mencuri' beberapa jiwa dari ruangan jiwa si dewa berkulit merah. Dua jiwa gadis cilik, dan satu jiwa bocah gelandangan menjadi pilihannya.

Tiga untai rambut sukses menjerat Bunbun. Sedikit mengganggu proses penyerapan hingga beberapa bagian ingatan lenyap. Namun begitu, Vajra yang melihat si tudung biru yang hanya terdiam saja memutuskan untuk melindunginya. Dengan panah pancanaka, dan baris biru yang tersisa tiga baris, Vajra sukses melepaskan jeratan Bunbun.

Carol Lidell, sosok pustakawan dari perpustakaan Al-takdirun menjadi pilihan pertama Umaruu untuk mengurus pusat data bagi dunianya. Dari serpihan jiwanya, ia mengubah planet gurun Alforea menjadi planet biru yang layak dihuni siapa pun. Carol ditempatkan di sebuah perpustakaan di atas pulau langit.

          "Setelah burung putih, kini rambut emas. Bun, kau baik-baik saja?" tanya Vajra yang tak ditanggapi oleh Bunbun.

Adapun Ucup, sosok pengamen jalanan yang baik hatinya, dan santun wataknya menjadi pilihan kedua dalam membangun emosi dan perasaan penduduk-penduduk virtual Alforea. Sebelumnya berupa data biner biasa saja.

Beberapa untai rambut kembali berjatuhan. Kembali merangsek menerjang beberapa lemari buku menuju Vajra yang kehabisan prana semu nya—baris biru. Dengan telapak tangan yang dibentuk bagai pedang, Vajra melancarkan serangan silatnya, sukses menepis beberapa rambut yang berusaha menyerang Bunbun. Namun sial,  dua untai rambut sukses menjerat tubuh kekarnya.

Kehadiran Ucup bisa dikatakan sebagai system AI yang diterapkan di Alforea. Ucup ditempatkan di sebuah istana megah di puncak menara tertinggi.

Dyna menjatuhkan buku yang tengah ia baca. Melihat Vajra terjerat begitu erat, Dyna berjalan santai menghampirinya. Mata emasnya kembali terfokus pada otot-otot si dalang bayangan.

Yang terakhir adalah pencipta visual Alforea. Sosok yang membentuk, dan membangun dari ketiadaan, juga mengubah ketiadaan menjadi sesuatu yang menarik untuk di lihat. Dari jiwanya, tercipta juga beberapa sosok yang memiliki peranan sangat penting. RNG-Sama adalah salah satu sosok yang tercipta berdasarkan dirinya.

Mengabaikan eksistensi rambut-rambut emas lainnya. Dyna mengingat beberapa adegan dari buku yang sebelumnya ia baca, Dyna mulai memfantasikan gerakannya di samping Bunbun yang masih menyerap informasi.

Ialah Richella Elleanor. Seorang gadis gnome imut periang yang dikenal juga sebagai
[ELLE]

Bunbun tertegun untuk sesaat. Serpihan terakhir ingatan menunjukkan seseorang yang tentu ia kenal. Si tudung berbintang berusaha meningkatkan fokusnya, mencoba melihat lebih jelas ingatan yang tengah berputar di dalam kepalanya.

Tubuhnya mengambang terperangkap dalam tabung air bersama beberapa tubuh lain yang tengah tertidur dalam sebuah ranjang mirip kapsul dengan sebuah angka sebagai penandanya. Separuh wajahnya tertutup helm berselang dengan mata di bawah kaca berwarna hitam.

Kali ini, Carol mengencangkan jeratannya hingga Vajra tercekik bukan main. Dyna yang ada di sampingnya mulai menatap jengah Carol. Efek suara 'Slash!' terbentuk hingga memunculkan sesosok malaikat kematian dan memotong ketiga untaian yang menjerat Vajra menggunakan sabit tengkoraknya.

Dari salah satu kapsul, Bunbun bisa melihat sesosok cebol lainnya dengan angka tiga belas tertulis pada kapsulnya. Pipinya tembam, perawakannya gemuk, dan yang membuat Bunbun tertegun untuk sesaat adalah rambutnya yang kebiruan menutup separuh wajahnya.

Bunbun terengah hingga tertohok terbatuk-batuk. Melihat sepupunya yang ternyata ada di dunia yang sama dengannya kini. Semakin terkejut ketika ia menyadari kebenaran dari Alforea.

Bunbun mulai mengerti dengan keadaan dan sistem yang ada di dunia Alforea ini. Sukses mencerna semua informasi yang ia butuhkan, Bunbun mengepalkan tangannya dan mulai menghantamkannya ke atas tanah.

IGNITE THE
SPARK!

***

THE END?
Bun Journal, Page 12, Deep Database Library-Alforea

Vajra bersama Dyna bersiap melancarkan serangannya. Baris biru di atas kepalanya seketika terisi penuh ketika gelombang kejut mengenai keduanya. Energi kejutnya seketika meningkatkan tensi darah dan meringankan tubuh keduanya, mengakibatkan gerakan keduanya menjadi sangat lincah.

Prana Vajra yang kini terisi penuh oleh kekuatan listrik Bunbun seketika dihimpun. Lima detik berlalu dan mata pada topeng pancanakanya mulai berpendar diikuti munculnya sesosok bayangan mirip tokoh pewayangan perkasa bernama Bima. Seekor naga listrik terwujud pada tangan kirinya.

           Ajian Menghimpun Halilintar~
          Naga Petir Pancanaka!

Sementara itu, Dyna pun ikut menghimpun serangannya. Telapak tangannya hampir bertemu hingga membentuk sebuah bola tak kasatmata yang terus membesar seiring Dyna pusatkan fokusnya. Setiap dua detik yang terlewat, satu baris biru lenyap di atas kepalanya. Terus begitu hingga bola bertekanan angin tinggi terbentuk sangat besar. Tak lupa pula beberapa lembar kertas berseliweran di sekitarnya.

            Augmentation~
            Fully Loaded!

Carol mundur beberapa lompatan. Mencoba kembali menuju titik awal dirinya muncul. Baris merah di atas kepalanya berkurang satu perlimanya. Dyna dan Vajra mengejarnya dengan kekuatan yang siap mereka lontarkan. Carol lantas mengambil beberapa buku sekaligus. Ia mulai membacakan beberapa kalimat dari tiga judul buku.

"I'm looking for my brothers, the seven ravens~"
(The lord ravens are not at home,)
–The seven raven story

Seketika tujuh gagak hitam berukuran besar bermunculan dari balik buku yang Carol baca. Lalu, diikuti munculnya seekor serigala raksasa dari buku cerita 'The little red riding hood' dan seekor burung emas raksasa dari buku cerita 'The golden bird'.


Sosok serigala langsung menerjang ke arah Dyna. Hampir membuyarkan bola psikis yang telah terbentuk di kedua tangannya. Dyna melancarkan kombinasi serangan yang sulit ditebak. Pukulannya keras, tendangannya akurat, hingga sukses membuat lawannya tersungkur jauh.

Serigala melompat berniat menerkam si rambut ungu. Namun Dyna berhasil mengelak dan menghantamkan bola bertekanan tingginya. Seketika, serigala lenyap tanpa sisa.

            "Selanjutnya?" seru Dyna bersemangat.

Di sisi lain, Vajra diganggu oleh tujuh gagak yang menyerang dari segala arah. Vajra tentu dengan mudah melenyapkan gagak-gagak hitam dengan naga petir pancanaka yang bisa ia kendalikan. Setelah gagak-gagak lenyap, Vajra mengarahkan naga petirnya ke arah sesosok burung emas berbulu berkilauan.

Namun sial. Bulu-bulu burung emas bertebaran ke mana-mana, menukik tajam ke arah Vajra hingga menyobek pakaiannya. Baris merah di atas kepalanya berkurang secara signifikan, menyisakan satu perlima baris lagi. Sesaat kemudian, sebuah bulu emas raksasa dan tajam sukses melubangi dada Vajra dan menghancurkan baju zirahnya.

            "Si ... sial!"

Bunbun terkejut bukan main. Napas Vajra terengah diikuti berpendarnya tubuhnya hingga lenyap sepenuhnya. Kesal bercampur kalut yang teramat sangat, Bunbun melesat bagai halilintar hingga sukses melubangi perut si burung emas.

Bunbun menarik napas panjang. Ia berteriak lantang diikuti awan hitam yang mengepul di atas langit.

NEXUS!

Petir seketika menyambar tubuh Bunbun. Mengisi kekuatannya hingga beberapa kilatan listrik tampak menari-nari di sekujur tubuh. Sesosok bocah cebol bertudung putih mirip kelinci terbentuk di sampingnya.

            "Eeeeh ... di mana ini, ciapa kalian, banyak bukuuuuu, aciiiik, Meredith cuka, mom~"
            "Meredith, bun!" teriak Bunbun terkejut sambil mengelap air matanya.
           
Sementara itu, Habisnya pasukan Carol diikuti dengan berubahnya tubuh si gadis berambut karamel. Membentuk sesosok tinggi besar hingga melontarkan buku-buku yang beterbangan di sekitarnya. Kulitnya berubah merah menyala, sementara kuku-kuku jarinya memanjang tajam bak pedang saja.

Pengaruh data biner merah yang menginvasi tubuh Carol terhenti. Mengisyaratkan bahwa serangan hacker telah berakhir dan tinggal menunggu waktu saja sampai virus yang sudah tertanam dalam database beraksi. Tentakel-tentakel berbentuk data biner kemerahan muncul dari balik punggung Carol.

            "Woow~ serangan tentakel~" cibir Dyna.

Lain halnya dengan Bunbun yang masih tersentak dengan kemunculan sepupu Meredith. Padahal ia sangat berharap sosok yang muncul adalah sepupu Monica. Namun kehadiran Meredith justru lebih menguntungkan baginya.

            "Eh ... kamu cepupu Bunny Bun, mom?" tanya Meredith penasaran, "Kok jadi kuruc cih, mom?"

Bunbun tersenyum lebar. Ia kemudian menatap Meredith yang dengan polosnya meneliti setiap inci tubuh Bunbun.
          "Aku bukanlah Bun, Aku adalah pahlawan bertudung bintang, Bunbun, bun~"
         "Woaaaaaaah~" sepasang mata besar Meredith berkilauan penuh takjub. "Yeeeeeeee ... pahlawan Bunbun, kumohon temukan cepupu Elle, mom~" lanjutnya bertepuk tangan.
        "Tentu saja sepupu Meredith. Bunbun tahu di mana letak Sepupu Elle, bun~" balas Bunbun singkat, "Kau ingin bertemu dengan sepupu Elle kan, bun?"

Meredith mengangguk. Kemudian melompat-lompat gembira mendengar keberadaan Elle yang telah ditemukan oleh sepupu Bunny Bun.

       "Tapi, ada syaratnya, bantu Bunbun mengalahkan monster itu, nanti Bunbun beri tahu lokasi Sepupu Elle berada, bun~"
        "Baiklah, mom~"

Meredith tersenyum lebar. Ia kemudian mengangkat kedua tangannya seraya bercerita. Kemampuan mengendalikan cahayanya hanya bisa terbentuk ketika Meredith menceritakan cerita tentang bonekanya tersebut.

"Cuatu hari, Gyodu ci gajah biru rakcaca bermain kejar-kejaran di tengah perpustakaan, mom~"

Sesosok gajah besar berwarna biru muncul dari ketiadaan. Terbentuk dari cahaya yang berasal dari keceriaan Meredith. Gyodu mengikuti apapun yang dibacakan oleh Meredith. Ia berlari ke sana kemari hingga mengecoh perhatian Carol. Dari sini, Bunbun mulai mendatangi Dyna dan menjelaskan rencananya.

            "Cetelah bermain kejar-kejaran, Gyodu menemani Kianun berkeliling sepanjang hutan~

Meredith melompat memasuki tubuh Gyodu. Seketika pakaian kelincinya berubah menjadi baju gajah berwarna biru diikuti lenyapnya Gyodu. Setelahnya, sesosok rusa ungu terbentuk dari cahaya dan berlari merangsek lawan.

        "Dyna, apa kau percaya, kunci mengalahkan, tidak ... menghentikan Carol ada pada sepupuku, bun?"bisik Bunbun

Carol menyabetkan kuku panjang dan tajamnya. Mengarah tepat pada leher Kianun yang mencoba menubruknya. Namun ketika kuku tajam Carol mengenai boneka rusa ungu, sesuatu terjadi. Dyna tampak terperangah setelah mendengarkan informasi yang telah Bunbun peroleh sebelumnya.

      "Maksudmu, tubuh kita hanyalah sekumpulan data biner? Lalu sepupumu itu nyata?" balas Dyna terperangah.

Carol mengerang diikuti berpendarnya kuku panjangnya. Merekonstruksi ulang hingga kembali seperti semula. Kianun ikut lenyap, sementara Meredith dengan baju gajah birunya mulai menubruk lawannya. Lagi-lagi, bagian yang ditubruk Meredith perlahan kembali seperti semula.

            "Ya, bisa kau lihat sendiri. Tubuh Carol perlahan tergerus dan baris merahnya berkurang sangat cepat, bun!"

Erangan Carol kembali menggema. Bunbun telah selesai menjelaskan rencananya. Ia kemudian melesat cepat melancarkan tendangan di beberapa titik. Kembali membuat si monster merah mengerang kesakitan.

"Gyodu mengajak Kianun bertemu Sino sang raja hutan, namun sebelumnya mengajak Kuki yang kebetulan lewat~"

Kali ini Meredith memanggil Kuki si burung kenari. Seketika mengubah baju gajah birunya menjadi baju burung kenari. Meredith mengangkat tangannya, diikuti terangkatnya Carol yang masih mengerang kesakitan. Meredith tampak menikmatinya. Senyum lebar tersirat di wajahnya.

          "Bisakah kau serap setiap erangan yang muncul? Menjadikannya kekuatan yang teramat sangat dahsyat, bun?" Dyna mengangguk menyanggupi.

Sedari tadi, Dyna terus menghimpun fokusnya hingga menyerap setiap erangan yang keluar dari mulut Carol. Gelombang kejut Bunbun kembali mengisi baris biru yang menipis pada diri Dyna. Bola psikis bertekanan tinggi semakin membesar.

"Langit berubah senja, Gyodu, Kianun, dan Kuki akhirnya sampai ke rumah Sino~"

Meredith kemudian mengganti kostumnya menjadi kostum singa. Sedetik kemudian, ketika Carol terjatuh dari ketinggian yang teramat sangat tinggi, Meredith menggeram lantang hingga suaranya terserap cepat ke dalam bola psikis Dyna.

                RAAAAAWWWWWWRRRRRR!

Bunbun tahu betul bahwa akhir cerita yang Meredith ceritakan akan berakhir dengan raungan singa. Ia telah mendengarkan cerita tersebut lebih dari seratus kali, dan akhir cerita tersebut selalu sukses membuat sepupu Elle lari terbirit-birit.

Kini, dengan baris merah yang tersisa sedikit pada Carol, dan tubuhnya yang berangsur kembali seperti semula setelah geraman Meredith sukses mendorong Carol memasuki bola psikis bertekanan tinggi. Dyna melompat tinggi dan mulai membantingkan bola psikisnya ke atas lantai.

Dyna terengah sementara tubuhnya tampak kelelahan. Beruntung bayaran dari kemampuannya bukanlah umur, melainkan baris biru yang kini telah terkuras habis.

Bunbun yang telah menunggu cukup lama akhirnya berpose bak pahlawan super, lalu melompat tinggi ke angkasa dengan tangan yang terkepal. Sedetik kemudian, Bunbun menukik tajam hingga tinjunya sukses melumat tubuh Carol dan melancarkan gelombang kejut ke segala arah.

***

END ...
Bun Journal, Page 12, Deep Database Library-Alforea

Kalahnya Carol disusul lenyapnya virus yang menjangkit seluruh perpustakaan. Perlahan mengembalikan keadaan perpustakaan seperti semula. Data-data ungu kembali menjadi biru. Sementara Carol tampak  tak sadarkan diri.

Bunbun mendekati Meredith yang kembali mengenakan pakaian kelinci. Ia tersenyum lebar ke arah sepupunya. Sementara itu, Dyna tertunduk lelah. Ia tak akan sanggup jika harus meneruskan pertarungan.

"Aku tak tahu bagaimana ini bisa terjadi, tapi ... kau mengagumkan, bocah bertudung biru, tidak ... Bun" seru Dyna memuji.
"Mungkin ini terakhir kalinya kita bertemu, Dyna, bun~"
"Ma ... maksudmu? Kau memiliki misi khusus huh?"

Bunbun mengangguk, ia menjelaskan tentang hilangnya salah satu sepupunya dan letak lokasi sepupunya berada saat ini. Dyna mengernyitkan alisnya. Sesuatu mulai mengubah Visualnya kembali seperti semula. Baris merah dan biru di atas kepalanya pun berangsur lenyap.

          "Tapi ... kau sendirian, apa kau yakin akan menerobos istana hanya untuk menyelamatkan sepupumu itu?"

Bunbun tersenyum, diikuti berubahnya fisik Bunbun menjadi seperti semula. Perlahan eksistensi keduanya lenyap dari ujung kaki merambat ke ujung kepala. Namun kata-kata terakhir sebelum Bun lenyap menggema di benak Dyna.

            "Aku tidak sendirian. Sepupu-sepupuku ada bersamaku, bun~"

*** To Be Continued : Finale is Near ***

===UPGRADE SKILL===

Nexus: HD Mode
"Shout: Nexus!"

Ketika Bun berteriak Nexus, selain kerabatnya yang datang membantu, Bun juga akan berubah bentuk menjadi sosok pahlawan bertudung biru bercorak tiga bintang dengan inisial nama Bunbun.

Dalam mode HD, tubuh Bun berubah tinggi, ramping, pipinya runcing, dan tampan. Kecepatannya menjadi secepat kilat dan pola berpikir juga pola bertarungnya berubah seketika.

Description:
Skill Ultimate Bun. Setelah HD virus menyerang tubuh Bun. Data biner yang menyusun tubuh Bun berubah secara signifikan. Merekonstruksi fisiknya hingga berubah menjadi sangat tampan. Ketika virus lenyap, data biner pada diri Bun tak sengaja menyimpan data perubahan HD version.

Bun hanya membutuhkan kekuatan eksternal untuk membangkitkan kembali mode HD nya. Nexus adalah sumber kekuatan Eksternal yang dibutuhkan bagi perubahan Bun.

Weakness:
- Ketika dalam mode HD, Bun tak akan merasakan lapar, otomatis mode Feeding Frenzy tak akan muncul.
- Walaupun Bun HD Mode memiliki kecepatan secepat kilat, namun Bun tak memiliki dasar bela diri yang cukup untuk membackup kecepatannya. Alhasil serangan yang dilancarkan hanya serangan standaran tinju dan tendangan saja.

13 comments:

  1. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete

  2. Saya ngulang apa yang ada di chat aja ya ki

    Secara plot sebenernya ini bisa dibilang ga gitu beda sama Vajra. Paling alih" Tamon Rah sekarang bossnya jadi Carol Lidell, dan alih"' langsung tiga arah di sini Bun ceritanya anomali dari battle Dyna vs Vajra. Karena ini juga mungkin jadi alesan kenapa Bun kena upgrade dari virus, dan mau dibikin tie-in buat hint ke Elle. Untuk plot saya ga banyak komentar, paling cuma bingung 'kenapa harus Carol?' doang

    Nah, keluhan utama saya justru di karakter, dan bukan soal Dyna malah, tapi Bun sendiri

    Entah kenapa saya kurang suka developmentnya, berasa bikin imej Bun jadi jauh dari karakter awal yang nempel di kepala. Nexus pun jadi kehilangan durasi, dan saya protes bukan karena imba atau apa, tapi kesannya jadi kayak Ursa kemaren - apa" mesti keroyokan. Belum lagi perubahan style berantem Bun yang jadi melee - padahal saya kira artifice ini bisa banyak yang dimainin tanpa bakbikbuk. Kalo ini game mungkin Bun berasa ganti job, sama kayak Nely di r2 ini yang dari sniper jadi sorceress

    Dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  3. quite honestly, Meski per adegan bisa diikuti dengan baik dan harus saya akui merupakan adegan yang seru. Namun secara keseluruhan cerita ini susah diikuti. Antara scene break yang tidak bisa dibedakan, penggunaan efek-efek berlebihan dalam nama serangan dan scene scene yang awalnya tidak runut. Penjelasan tentang apa yang terjadi di sini juga harus saya baca dua kali sebelum saya paham, mungkin karena saya tidak baca dari R1?

    In any case, dari saya : 7

    ReplyDelete
  4. Hmm, secara logikanya minimal ada scheme 3 vs 3 sblm "virus dewa" keluar. Tapi it didn't happen. Yah, setidaknya pemikirannya sama seperti di entri Vajra sih, penyelamatan database jauh lebih penting daripada kemenangan duel. This stage is a trap from the start. Screw the rules! Tapi setidaknya di entri saya saya tampilkan dulu 3 vs 3nya dengan hasil Vajra bisa menang tanpa sekarat, baru urusi virusnya.

    Well, secara logika juga saya setuju dgn pendapat Sam ttg HD-mode Bun. Saya pikir takarannya bakal diatur supaya jangan "terlalu dewa", tapi ini sudah hitungannya mungkin lebih kuat dari Vajra sendiri. Seakan Bun HD mode itu jadi lebih penting yg bisa dipikirkan utk persiapan ke depan.

    Yah, saya nggak takutkan itu sih, tapi saya jadi kuatir ttg ke depannya, khususnya di entri2 peserta2 lain yg mainkan Bun sbg lawan/teammate bakal kesulitan memahami Bun dengan minim OOC, spt kasusku salah memahami Dyna.

    Terlepas dari semua itu, saya titip modal skor 10 dulu buat Bun ya. I like Bun muuuuch better in the chubby mode.
    OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. And you're right. Vajra dan Dyna, entah nantinya ada di pihak yang sama atau nggak, sudah pasti nggak bakal bisa jadi teman. Karakter mereka dibuat selalu bertentangan, seolah2 gak boleh ada 2 macan di satu gunung.

      Delete
  5. Fatanir - Po

    secara cerita, kyknya Aki udah ada effort utk menjalin kanon antara BoR yg lalu dgn yg skrg. Walaupun agak belum jelas bagi pembaca, kenapa harus tokoh2 itu yg dipilih oleh Hewanurma. Mungkin nanti kalo lolos bisa difokusin alasan2nya kenapa mesti Elle yg dipilih utk membentuk Alforea, dsb.

    Dan penuturan progres plot kurasa bagusnya dgn kalimat sederhana SPOK biasa, supaya gak ada multitafsir.

    "Tiga untai rambut sukses menjerat Bunbun. Sedikit mengganggu proses penyerapan hingga beberapa bagian ingatan lenyap."

    bisa diganti dgn

    "tiga helai rambut sukses menjerat bunbun, sehingga mengganggu proses penyerapan ingatan. Akibatnya, kepingan ingatan yang mestinya dapat diraih itu malah hilang."

    kasih jeda berupa koma dan titik utk memperjelas makna kalimat. ini teknis sih, tapi kyknya sepanjang entri ini, banyak kalimat panjang yg masih bisa disederhanakan.

    nah, Bun keliatan nggak mengalami masalah apa2 di sini, kesannya dari awal dia udah nghadapin tantangan yg mudah. Tapi Meredithnya keren lah, meski sekali lagi, kyknya begitu summonan Bun muncul, kyknya langsung gampang bgt ngalahin musuhnya, siapapun itu.

    Nilai 7/10

    ReplyDelete
  6. Hd Buun.. Buun Hd... yeeaah!
    mungkin ini cuma saya aja yang berpikiran kaya gini, terkadang setiap saya baca adegan-adegan yang ada di cerita bum ini, ada yang membuat saya sulit untuk membayangkan. mungkin seperti kata pak Po, karena kalimatnya yg sedikit belibet jadi bikin agak komplek gitu saat bacanya.

    Terus Bun di sini gak seru kaya Bun-bun sebelumnya yang punya kesulitan sendiri saat melawan lawannya, emang sih bun masuk mode HD tapi bukan berarti Bun jdi mendadak ndewo. Bahkan bun jadi "biasa" menyerang jarak dekat dengan kecepatan tinggi hanya untuk menyerap informasi. kirain bun bisa melakukab sesuatu yg lebih cerdas, seperti menggunakan tentacle *tentacle darimana ooyy.. xD

    battlenya meredith jga keren plus lucu >_<, malah meredithlah yg menarik perhatian di sini, daripada bunnya sendiri.

    udah deh segitu aja..
    nilai dari Khanza :7

    Khanza

    ReplyDelete
  7. Bumi Gonjang Ganjing!!!

    Maan, that's deep, efek font ternyata bisa mempengaruhi feel membaca ya~


    "Bahkan sengatanmu sukses membuat hati ini deg-degan, mz~"


    Anjaaay!
    wwkwkwkwkwk


    Makjaang, DYna di sini female version ternyata, sekalian aja atuh masukin doodle dina cewek dari saya.Saya Ridho kok... RIdho Roma malah.
    XD

    Mei gooat, Carol nongol di sini!
    XD

    Ternyata Akii juga nabrakin canonnya ke BoR4 :'D

    ----------------

    saya gak akan ngomentarin teknis, atau plot karena cerita macam apapun it's fine.

    Alih-alih "Meh" sama battle scene-nya, saya lebih penasaran sama plot Bun ke depannya.

    Garis besar Bun dengan Nely jadi kurang lebih sama, menuju arah pemberontakan. yaaaaay :D


    Point : 9
    OC: Sanelia Nur Fiani


    Dan Dyna malah baca 'Fifty shades of grey'
    ._.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Vajra suka Nely, wkwkwk :p

      Delete
  8. Saya mengutip komentar rekan-rekan di atas aja ya... :3

    Saya agak meragu apakah narasi pertarungannya atau alur plot pertarungannya yang buat saya agak kesulitan ngikuti cerita entry ini. Mungkin bisa jadi disebabkan seperti yang telah dituturkan oleh rekan Po dan rekan Adhie.

    Cukup kaget dengan kemunculan Carol dan perpustakaan al takdirun. Apakah Carol dimunculkan karena dia OC yang memiliki latar belakang dengan cerita2 dongeng anaq? Pengutipan mantra2 dongengnya keren.

    Nilai : 7

    OC : Zhaahir

    ReplyDelete
  9. Bisa dibilang saya cukup menikmati baca entry Bun ini, hanya saja perubahan font secara tiba-tiba itu cukup mengganggu kelancaran saya dalam membaca. Then again, ini masalah selera~

    Meskipun di akhir Bun terkesan gak imba dengan kelemahan Nexus-nya, tapi kenapa kau buat final battle di sini terasa mudah? Tapi setidaknya battle scene yang kau tulis jadi makin enak diikutinya (if not for the bold font changes).

    Oh, dan saya lebih suka man-eating Bun dibanding kepribadian HD Bunbun (yang sok keren bentar2 pose)~

    Poin 8

    Zoelkarnaen
    OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete
  10. Kesan saya di awal cerita ini adalah "LHO? Sudah mulai?" (O_O)

    Saya nggak ngira Vajra dan Dyna langsung bertantem di awal sampai nanti ketika super Bunbun muncul, tapi ini juga membuat saya merasa Bun sebagai karakter utama di cerita ini malah terlupakan sampai di tengah cerita.

    Ada juga Ucup & Carol dari BoR tahun lalu, jadi saya penasaran apakah si kolator akan muncul(?).

    Saya juga suka Penggunaan font di sini seperti saat Vajra menggunakan jurusnya dialognya diperbesar. Seolah-olah ada rasa si Vajra mulai dari suara kecil lalu mengeras di akhir.

    Nilai 8
    OC : Renggo Sina

    ReplyDelete
  11. Eophi: Ng, hae Bun. Langsung aja ... nilai 8.

    *Eophi tidur*

    *Sebuah bantal in frame*

    Milk: Namaku Milk, shushu. Keren ceritanya, shushu. Kalimat-kalimat dongeng yang jadi sungguhan, penggunaan huruf yang diperbesar secara berkala (jadi ingat sub one piece, shushu), dan Meredith (ya! Dia idola), shushu.

    "Bantal pergi*

    *Guling in frame*

    *Guling diseret keluar*

    *Selimut in frame*

    Cloud: H-hai, namaku C-cloud. Cuma mau bilang ... Bun g-ganteng adalah pahlawan penyelamat k-keluarga, tapi B-bun imut pahlawan p-para koki! Makan dulu a-aja sampai puas b-baru selamatin Elle, ya?

    *Selimut keluar*

    *Kasur in frame*

    White : Perkenalkan, nama saya White. Kisah Bun di Core ini lancar untuk diikuti. Author saya tadi baca ini di kereta, dan langsung absorbed banget dari pertama. Hasilnya, cerita itu dilahap sekali baca dalam waktu singkat. Dan, ya, setuju dengan komentar Sir Po soal susunan kata per kata, kisah Bun selanjutnya pasti jauh lebih readable lagi kalau saran itu diterapkan. Mungkin itu saja. Terima kasih atas waktunya.

    *Kasur pergi*

    *Naga merah in frame*

    Hel : Hey, namaku Hel. Kamu Gnome, ya? Pokoknya halus boleh nambahin komental! Okey, tambahannya cuma titip salam sama Meledith!!! Bye, Bun~

    *Naga merah keluar*


    *Eophi bangun*

    Eophi : K, Bun ... nilainya berubah dari 8 jadi 9.

    ReplyDelete