15.7.15

[ROUND 2 - LEVEL 1] FATANIR - COKELAT MANTAP



1
Jemputan

Pemuda berjambul keriting terbaring di atas pasir, Di sekelilingnya terdampar pecahan dinamo besar yang sekarat, tak lagi berputar penuh semangat. Sebatang sayap pesawat yang terbelah merintih kesakitan. Serpihan kabel yang berserakan lemas, seperti bangkai kawanan ular.

Sakit.

Kami lemah.

Kami akan mati.

Nama pemuda itu adalah Fata, dan dia mendengar itu semua. Dia melihat pandangan pilu dari jiwa mesin-mesin sisa rongsokan pesawat yang hancur itu, pesawat besar yang baru saja dia korbankan untuk mengalahkan lawannya.

"Keh..." Fata tersedak sambil berusaha bangun. Kakinya pincang akibat luka tembak, tapi dia memungut semua kabel, semua lampu, semua generator, satu-persatu.

Fatanir.

Si Kribo memindahkan seluruh pecahan mesin dan badan pesawat yang dapat ditemukannya. Dia menumpukkannya di satu tempat, yaitu di dalam gua yang sempat dia temukan sebelumnya. Fata mematahkan beberapa batang besi yang mencuat, menyatukannya dengan sisa lampu serta tombol panel kendali anjungan pilot.

Lima belas menit berlalu. Kini pecahan dinamo itu terhubung dengan hampir semua serat kabel, namun dengan pola jalur yang baru. Samar-samar Fata mendengar nada-nada kesakitan itu berkurang, tanda bahwa alat-alat itu mulai disembuhkan bahkan akan mengalami peningkatan performa.

Lonjakan kapasitas turbin pendorong. Seratus lima puluh persen.

Fata tersenyum simpul dan menghibur mesin-mesin tersebut, "Tenanglah, kawan...aku bakal bikin kalian lebih keren dari sebelumnya."


----


Entah berapa lama Fata tertidur pulas di dalam gua setelah kelelahan mengutak-atik semua rongsokan sisa pesawat. Saat terbangun, seorang gadis berbaju pelayan sudah menunggunya. Di samping gadis itu, terdapat sebuah konstruksi mirip cincin yang cukup besar untuk dimasuki tubuh manusia.

"Fatanir, silahkan baca dulu sebelum memasuki portal," kata pelayan itu sembari mengambil sesuatu dari belakang roknya. Sebuah komputer mini. Pelayan menyalakan komputer tersebut, meletakkannya di lantai. Dari komputer itu, sebuah layar hologram terbentuk pada dinding gua.

Fata menguap sambil melirik layar itu. Kelihatannya misi kali ini lebih sederhana. Dia akan mendapat satu lawan dan memasuki sebuah lokasi yang harus disepakati lebih dulu oleh mereka berdua, dia dan lawannya.

[Babak 2 - Level 1: Avius Solitarus melawan Fatanir]

Lawannya, seseorang bernama Avius. Fata terus membaca. Arena tarung mereka adalah dunia database mentah yang dapat dibentuk menjadi lingkungan macam apa pun. Asal lingkungan itu telah disepakati masing-masing peserta.

Saat bertarung, akan ada indikator berupa health bar di atas kepala masing-masing petarung, yang memberitahu mereka persentase sisa "nyawa" mereka dalam pertarungan kali ini. Si Kribo menyentuh layar hologram itu, yang ternyata merespon sentuhannya dengan menampilkan berbagai menu.

Si Kribo meneruskan membaca sampai berhenti di sebuah istilah asing yang ditandai dengan warna merah mencolok, berbeda dari yang lain.

[Mohon maaf karena ada kerusakan. Database Planet Alforea sedang diserang oleh sebuah virus]

[Virus Chibichibichibi]

[Ada gangguan sistem. Akibat virus asing pada database, peserta akan mengalami perubahan fisik. Kepala peserta akan membesar, sementara tubuh peserta akan mengecil seperti bayi.]

[Kami akan menindak anomali ini secepatnya. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini.]

Membaca keterangan itu, Fata langsung memasang ekspresi datar. Kemudian dia melempar sebuah meja sampai terbalik, "Peraturan apaan ene!"

Pelayan itu menyela, "Interupsi, Fatanir. Lokasi ini adalah gua padang pasir. Dari mana munculnya meja itu?"

"Dari narasi lah, dari mana lage," jawab Fata cuek. Toh meja yang dipersengketakan itu sudah lenyap kembali tanpa alasan yang jelas, jadi ya mau bagaimana lagi.

Tapi kemudian Si Kribo menoleh ke arah layar hologram di dinding gua. Layar itu menampilkan beberapa kalimat baru.

[Usulan Lokasi dari Avius Solitarus untuk Fatanir:  Sjogren, kota yang dihuni oleh para Yunkhar]

Pemuda keriting itu terdiam. Ternyata lawannya sudah ada di seberang sana. Di mana pun "seberang sana" itu.

"Yunkhar makhluph apaan tuh?" Fata menoleh pada si pelayan bermata ungu, "Tanyain dung."

[Pertanyaan dari Fatanir untuk Avius Solitarus: Spesies makhluph apakah Yunkhar itu?]

Fata menjitak si gadis pelayan. Gadis pelayan berambut pirang menginjak wajah Fata. Fata melambaikan bendera putih.

Lalu Si Kribo itu menunggu jawaban di layar hologram. Tapi satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit kemudian, belum juga ada jawaban datang. Fata menoleh pada si pelayan. Gadis itu mengangkat bahu.

Ding. Layar hologram itu berbunyi, lalu menampilkan foto sebuah makhluk dengan subtitel "Yunkhar" di sisi bawah layar. Fata mencibir, "Kiraan Yunkhar itu apaan. Ini mah manusia biasa, cuma kulitnya aja pucet dikit."

"Mungkin di planetnya, spesies manusia disebut sebagai Yunkhar," kata gadis pelayan itu. Setelah berpikir sejenak, Fata pun memutuskan.

[Respon Fatanir untuk Avius Solitarus: Fatanir menerima usulan lokasi.]

Si Kribo menunggu, hingga sebuah kalimat konfirmasi muncul di layar, tanda persetujuan dari sang lawan tanding yang entah seperti apa rupanya.

[Avius Solitarus sepakat]

[Fatanir sepakat]

Layar hologram menutup lenyap, tanda lawannya telah memutuskan komunikasi.

"Bentar," Pemuda berjambul kribo mencomot komputer mini yang menjadi pusat kontrol layar hologram tadi.

"Ada apa, Fatanir?" pelayan itu bertanya.

Fata menjawab sekenanya sambil menekan beberapa menu yang tak dimengerti oleh pelayan itu, "Lupa tadi aturannya apa aja. Liat bentaran yak."


---


Bagian tengah portal berbentuk cincin mulai berpusar perlahan, seperti deburan ombak yang memasuki lubang. Fata mengamati portal itu dengan seksama.

Samar dia mendengar suara jiwa para mesin penyusun portal itu. Teknologi Alforea itu canggih luar biasa. Namun bahasa yang mereka tuturkan terlalu rumit, seperti nada namun bukanlah suara.

Ketika memaksa mendengarkan, Si Kribo malah terperosok di sebuah gelombang data yang besar dan kusut yang muncul dari dinding-dinding portal. Angka dan huruf dalam gelombang data itu tak pernah dia lihat sebelumnya, terlalu sulit untuk ditafsirkan. Matanya pedas dan kepalanya seperti berputar.

Maka Fata melonggarkan pemahaman teknopath miliknya, dan berhenti mengamati portal itu.

[Memulai transportasi antar ruang]

Toh, babak selanjutnya sudah dimulai.


---


2
Kota Sjogren


Sebuah kafe kecil baru saja dibuka. Pot-pot bunga porselen disusun rapi di pinggir setiap jendela, memantulkan sinar pukul tujuh pagi. Setiap dindingnya dihias rangka kayu cantik seperti permukaan wafel.

Di dalam kafe itu, di sebuah meja, seorang pemuda bertudung mengangkat cangkirnya dan meminum susu yang ada di dalamnya sehingga uapnya mengepul di sekitar mulutnya.

"Enak sekali," desah pemuda itu menikmati minumannya. Seorang wanita berkulit pucat dan berambut pirang mendatangi meja yang dia tempati, dan meletakkan botol kaca berisi tambahan susu untuk cangkir pemuda itu.

Karena suatu sebab, wanita pelayan itu ingin cepat-cepat pergi. Tapi gerakannya tertahan oleh ucapan pemuda itu, "Tunggu, Nona."

"Iya...?" sahutnya, mata ungu perempuan pelayan itu memberi aksen tersendiri pada posturnya yang feminin. Si pemuda membuka tudungnya, memperlihatkan seraut wajah tampan dengan rambut pendek kecoklatan yang halus.

"Maukah Nona menemaniku? Tak nyaman bila harus melewati pagi ini sendirian," Tanya pemuda rupawan itu.

"Tapi," gadis bermata ungu itu ragu-ragu, "Aku harus melayani pelanggan kafe yang lain."

"Pelanggan yang mana, Nona?" pemuda itu menunjuk ke kursi-kursi lain yang kosong. Meja-meja kayu yang mendapat pencahayaan dari luar jendela. Tanaman rambat berbunga kuning.

Tak bisa mengelak, si pelayan pun beringsut duduk di hadapan pemuda tersebut. Tapi anehnya, wanita itu terus menatap Avius dengan tatapan kosong.

"Apa kau takut?" ucap pemuda itu menduga-duga, "Aku hanya ingin ditemani."

"Kau.." Pelayan kafe itu mengamati si pemuda itu dari seberang meja. Wanita itu melihat mata si pemuda, yang kiri coklat seperti tembaga namun yang kanan sebiru laut. Sorot mata yang hangat dan naif.

"Aku telah menyaksikan..." Pemuda bertudung itu berucap lirih. Dadanya terasa berat, seperti sedang mengingat masa lalu yang menyedihkan, "Aku telah menyaksikan rusaknya dunia yang diisi dengan perasaan benci. Seorang teman, merupakan hal yang sepertinya terlalu mewah untukku."

"Seorang teman? Itukah yang kau cari dalam turnamen di Alforea? Itukah akan kau minta jika menang?" wanita pucat itu memiringkan kepala, rambut pirangnya terjatuh ke bahu dengan halus, sementara mata ungunya menatap pemuda bermata dwiwarna itu dengan ingin tahu.

"Aku ingin...melenyapkan kebencian dari setiap orang di dunia ini..."


---


Langit menampakkan matahari yang sebentar lagi akan terbenam. Terdengar suara-suara langkah cepat yang menyusuri sebuah gang kumuh, diikuti dengan beberapa langkah mengejar yang terkesan liar. 

Kaleng serta pipa berkelontangan terinjak serta terlempar, saat akhirnya tampak sesosok pemuda berkemeja putih berlari tersengal-sengal.

Remaja pria itu berteriak kesakitan saat rambut kribonya dijenggut keras dari belakang oleh si pengejar. Di saat bersamaan, pengejar itu menendang punggung Si Kribo kuat-kuat.

Akibar perbuatan itu, pemuda kribo langsung tersuruk ke depan. Namun cengkeraman pada rambutnya tak juga lepas, hingga rambut keriting dan sebagian kulit kepala pemuda itu malah lepas hingga memuncratkan titik-titik darah, "Aaaarrggh!"

Si pengejar melompat tinggi dan menjejakkan kedua kaki pada punggung remaja itu, membuatnya mencium tanah sekali lagi.

"Mggh!!" Hidung pemuda itu berdarah saat terbentur permukaan tanah keras. Saat itu, pengejar itu menggigit tengkuknya dari belakang.

Sebuah substansi cair yang asing, memasuki pembuluh darah leher pemuda bernama Fata. Seketika tubuh Si Kribo menyentak-nyentak saat merasakan zat itu menyebar di dalam tubuhnya dengan rasa nyeri menyayat-nyayat.

Racun apa ini?

Bukan, ini bukan racun. Ini virus!

Fata membuka mata dan menyaksikan sebuah pemandangan aneh dan menyeramkan. Dia melihat tubuhnya sendiri sedang dirayapi oleh unit-unit kode yang beriringan, mengisi rongga dan celah dalam setiap organ yang dia miliki.

Virus ini...berbentuk data digital!

Rasa nyeri berangsur hilang, namun bersamaan dengan itu Fata melihat tembok-tembok rumah yang berlumut, deretan pagar serta papan penunjuk jalan di kiri-kanannya...semuanya bertambah tinggi.

Heh? Apa-apaan ini?

Si Kribo menoleh. Pengejarnya sudah tak ada di mana pun. Apa-apaan itu? Kenapa dia dikejar-kejar dan dihajar begitu rupa tanpa sebab?

Siapa itu tadi? Apakah itu lawannya, Avius Solitarus? Perundingan di gua gurun Bauhaus tadi tak memperlihatkan wajah peserta masing-masing. Apakah itu disengaja? Apakah lawannya, Avius, yang merencanakan itu? Seperti apakah dia?

Sambil berpikir tidak jelas, Fata menatap tangannya sendiri.

Hei.

Kemeja serta celananya menjadi sangat longgar. Terlalu longgar.

"He?"

Kemeja dan celananya terlepas dari badan dengan sendirinya.

"Lah!? Monyong maksimal!" Fata yang kini telanjang bulat, segera memakai kemejanya lagi dengan melipat-lipat lengan baju seadanya. Tapi celananya tak bisa dipakai, pinggangnya telah menyusut hingga terlalu kecil untuk celana krem itu.

Tak rela kehilangan celana kerja kesayangannya, Si Kribo menggulung celana itu sebisanya untuk menutupi selangkangan sambil berlari ke mana saja. Dia berhenti di depan kaca etalase sebuah toko, dan melihat pantulan dirinya di sana.

Fata langsung terlonjak berseru histeris, "Gue jadi bayi! Emaaaaakk!"

Secara spontan dia berlari, tak mau berlama-lama melihat bayangan dirinya yang mendadak bertubuh cebol dan berkepala besar itu. Dia berlari ke arah barat. Selangkah demi selangkah, dengan kakinya yang kuntet. Mungkin untuk mencari kitap suchi. Mungkin juga bukan itu.


---

Matahari sudah hilang. Udara diselimuti hawa dingin menusuk, jangkrik-jangkrik berkerik di sela tiupan angin malam. Sjogren, yang merupakan kota kecil, masih memiliki persawahan, sungai dan danau di daerah pinggiran kota.

Pada lokasi pinggiran kota itulah jagoan kita tiba. Setelah sekian lama berlari, Fata Kecil berhenti kelelahan di pinggir sungai yang cukup jernih permukaan airnya. Dia terbaring kelelahan dan kebingungan.

Meski tubuhnya sekecil bayi, dia masih bisa bergerak seperti biasa. Proses berpikirnya tak terganggu. Lalu,

Dia mendengar sesuatu bersuara dari dalam dirinya.

Waktu sebelum Fatanir menjadi Yunkhar: 10 menit.

Spontan Fata membelalak. Tentu saja, kesadaran virus digital itu ternyata dapat dimengerti oleh persepsi teknologi yang Fata miliki.

Tapi...Yunkhar? Bukankah itu spesies yang menghuni kota ini? Kenapa dia akan berubah menjadi Yunkhar? Apa pengejarnya tadi adalah Yunkhar?  Fata pun bertanya pada virus dalam dirinya itu.

Tapi...apa bedanya Yunkhar dengan manusia biasa?

Terdengar suara kletik-kletuk, lalu gesekan roda gigi, sebelum koloni virus itu menjawabnya,

Kami adalah Virus Digital Chibichibichibi. Bila kami berkembang biak sempurna di dalam tubuh organisme, organisme itu akan mengecil. Kemudian akan menetas menjadi spesies baru bernama Yunkhar.

Organisme yang telah menjadi Yunkhar, dapat diprogram secara leluasa oleh Pemilik Virus, yaitu Yunkhar Utama. Yunkhar tak punya keinginan sendiri, dan hanya menjalankan apa yang diinginkan Yunkhar Utama.

"Kuya dong." Fata mengangguk sambil menyibakkan jambul kribonya dengan flamboyan sok-sokan, "Gimana caranya ngembaliin aku ke kondisi semula, sehingga nggak jadi Yunkhar?"

Tidak ada jawaban.

Fata mengubah pertanyaannya, "Yang mengejarku dan memasukkan kalian ke tubuhku, siapa?"

Yunkhar Utama.

"Maunya apa dia tuh?"


---


3
Bayi yang Aneh


Avius Solitarus baru saja selesai menikmati gelas susu murninya yang kedua, saat dia mendengar keributan di luar kafe tempat dia berada. Orang-orang berteriak gaduh, beberapa kaca jendela pecah dan ada mesin mobil yang dipacu sekencang-kencangnya.

Si penyihir muda memakai tudungnya dan bergegas keluar. Avius sangat kaget ketika mendapati apa yang terjadi.

Waktu sebelum Fatanir menjadi Yunkhar: 5 menit.

Sesosok kurcaci berambut kribo sedang membacok perut seorang pria dewasa menggunakan sebilah pisau militer bergerigi. Pria malang itu langsung mengerang dan jatuh berlumuran darah. Tak butuh waktu lama sampai pria itu tak lagi bernapas.

Waktu sebelum Fatanir menjadi Yunkhar: 15 menit.

Avius masih terpana, masih berusaha mencerna adegan yang baru saja berlalu. Tapi si liliput kribo itu tak berhenti sampai di sana, dia terus berlari ke arah penduduk lainnya sambil mengayun-ayunkan pisau militer yang dia dapat entah dari mana.

"Mati lu semwaaaaah!"

"Kyaaaa!"

"Tolong kami!"

"Hubungi Unit Utama! Ada Larva Yunkhar memberontak!" pekik sesosok Yunkhar wanita setengah baya. Mendengar kata-kata "Larva Yunkhar", sekonyong-konyong kurcaci aneh itu semakin ganas.

"Enak ae!" Bocah berkulit gelap itu mengambil sebuah sebuah botol kecil dan memecahkannya di jalan aspal. Yang tersisa adalah pecahan botol kaca tajam-tajam. Tanpa basa-basi, bayi ganas itu melemparkan pecahan botol tajam ke arah wajah Yunkhar wanita tersebut.

Seperti tersadar dari lamunan, Avius langsung mendorong perempuan setengah baya itu. Berkat aksi itu, botol kaca tajam hanya menggores pipi si wanita Yunkhar.

Remaja berambut coklat marah sekali. Manusia amoral macam apa yang seenaknya ingin membunuh manusia lain tanpa pandang bulu. Segera Avius berteriak pada bayi yang tangannya sudah berlumur darah kering itu, "Hentikan! Kau siapa, Anak Kecil!? Kenapa kau melakukan ini?!"

"Bukan urusanlu lah!" bayi itu menjawab dengan suara seperti cericitan tikus. Bayi aneh itu melakukan sesuatu yang sulit dipercaya: Dari gulungan kain celana yang dibopongnya, dia mengeluarkan sepucuk pistol dan mengacungkannya ke dada Avius dengan kedua tangan mungil, "Sekarang minggir!"

Avius tak tahu benda apa yang dipegang bayi kribo itu. Tapi gestur si bocah tak urung menbuatnya menebak bahwa benda itu adalah senjata. Avius langsung berkonsentrasi dan menggerakkan jemarinya melingkari kedua bahu. Sekilas udara terasa bergolak, namun bocah kribo tak peduli dan menekan pelatuknya sekuat tenaga.

Suara letusan pistol memenuhi udara. Darah pun merembes, seiring sebutir peluru tajam yang merobek daging dan tulang.

Daging dan tulang Fata Kecil.


---


4
Yunkharin

Setiap membunuh Yunkhar, integritas network virus di setiap inang biologis akan terganggu.

Termasuk virus dalam tubuh Fatanir.

Membunuh satu spesies Yunkhar akan menambah durasi waktu yang Fatanir miliki sebelum menjadi Yunkhar, sebanyak 10 menit.

Fata Kecil mengingat keterangan dari virus dalam tubuhnya. Tapi sekarang, ada yang dia tak mengerti. Kejadian itu terlalu cepat. Memakai barang-barang curian dari bengkel dan berbagai toko yang dia lewatinya, Fata sudah merakit sebuah pistol. Handlingnya sesuai dengan ukuran tangan mungilnya yang menyebalkan.

Baru saja dia menembak, namun mendadak timbul yang rasa nyeri yang sangat hebat. Sesuatu baru saja melubangi perutnya.

Peluru. Kaliber  .044.

"Ugh...peluruku sendiri..?" Fata berusaha berpikir, tapi rasa sakit merusak konsentrasinya. Ternyata peluru yang dia tembakkan sendiri barusanlah yang bersarang di perutnya sendiri. Darah mengucur lalu menggumpal seperti lilin, setiap gerakan Si Kribo Kecil malah menambah nyeri yang dideritanya.

Di depannya, pemuda bertudung menatapnya dengan ekspresi antara marah dan mengasihani. Mungkin dia menyangka Fata sebagai anak kecil overdosis obat terlarang, atau bayi kerasukan setan. Fata ingin tertawa, tapi bernapas saja sudah sulit.

"--Unit Utama sudah datang..."

"Berbahaya kalau tak segera--"

Matanya menangkap pergerakan beberapa siluet. Seseorang mengunci pergelangan tangan serta sendi bahunya,

Dan seseorang melangkah ke hadapannya. Seorang wanita berpakaian pelayan. Bola matanya yang ungu keruh bersinar pongah.

Itu adalah wanita pelayan yang mengantar dan menjemputnya dari padang pasir Bauhaus Frontierland.

Yunkhar Utama: Yunkharin.

Dan Fata terhenyak saat koloni virus Chibichibichibi dalam dirinya merespon kehadiran wanita itu, dengan membeberkan identitasnya pada si Kribo.

Keberadaan di depan Fatanir, adalah Yunkhar Utama, atau Yunkharin.

Yunkhar Utama adalah virus digital utama yang mengendalikan seluruh virus Yunkhar dengan kesadarannya.

"Salam kenal, namaku Yunkharin." wanita itu tersenyum pada Fata namun ekspresi keseluruhan wajahnya tak berubah.

"Aku telah mengamati aktivitasmu, Fatanir, sejak kebangkitan Tamon Rah hingga inflitrasi SINS di gurun pasir Bauhaus."

Si Bocah Kribo ingat sekali. Tentu saja. Wanita ini yang memberi informasi awal sejak Fata bertanya ini-itu di Plaza Alkima. Wanita ini pula yang menjemputnya dari Bauhaus dan mengantarnya ke lokasi babak ini. Tapi berarti...

"Saat itu, aku masih mempertahankan identitas palsuku sebagai bagian dari panitia pertandingan. Sekarang, sepertinya tak perlu lagi menyamar lebih jauh."

"Kamu--!!" Fata geligi Fata mengatup marah, tersadar bahwa wanita itu telah menipunya dengan permainan yang cantik.


---


Avius kebingungan dengan situasi yang terjadi. Melalui sudut matanya, dia melihat Yunkhar laki-laki - yang beberapa saat lalu dibacok oleh bocah kribo tadi - bangun dengan sehat tanpa kurang suatu apa, kemudian berlari menjauh.

Apa-apaan itu? Apa ras makhluk bernama Yunkhar punya mantra penyembuh seperti dirinya? Apakah Yunkhar tak busa mati?

Belum sempat berpikir lebih jauh, wanita bermata ungu yang baru berbicara kepada bocah kribo tadi, kini berjalan mendekat padanya. Rambut pirangnya entah kenapa semakin jelas saat malam hari seperti ini.

"Bukankah kau...pelayan di kafe yang tad--uhhuookk!"

Wanita virus tersebut menendang perut Avius dengan kekuatan abnormal. Pemuda itu bagaikan dilabrak oleh kereta kuda yang melaju kencang. Tubuhnya terpental hingga merubuhkan sebuah gerobak makanan tak jauh dari sana.

Yunkharin melompat ringan dan menarik rambut coklat Avius sehingga lehernya terangkat paksa. Tengkuk Avius digigitnya dengan kuat, dan dengan itulah virus digital telah mulai memasuki sirkulasi darah Avius.

Fata mengepalkan tangan kuat-kuat. Dia ingin menembak mati si wanita, tapi rasa sakit dari peluru dalam perutnya membuatnya tak mampu mengangkat lengan.

Bahkan ketika perempuan pirang itu kembali mendekat dan melucuti senjatanya, Si Bocah Kribo tak bisa apa-apa.

"Kini, dengan masuknya virus digital dalam darah kalian berdua, aku telah mengundang kalian secara langsung untuk menjadi bagian dari kami. Kau bangga kan?" wanita bermata ungu itu melipat tangan dan menopang dagu.

Tulang dan otot Avius berubah mengecil dan semakin kecil, sehingga proporsi tubuhnya menjadi seperti balita. Pria - yang kini menjadi bocah - bertudung itu bergantian menatap dirinya sendiri dan Fata, seolah-olah tak terima bahwa nasib yang sama telah menimpanya.

"Kalian telah menjadi Larva Yunkar. Beberapa saat lagi, kalian akan menetas dan terbebas dari cangkang-cangkang manusia," Lanjut wanita virus itu, "Menjadi Yunkhar, eksistensi digital yang hidup penuh harmoni dan kedamaian."

"Lalu...apa?" Avius merespon dengan ekspresi marah, "Setelah kami menjadi boneka-boneka yang sanggup kau kendalikan...selanjutnya apa?"

"Tentu saja, kalian akan memiliki banyak keunggulan. Misalnya..." Yunkharin memberi isyarat ke arah perut Fata yang tadinya terluka parah. Si Kribo merasakan nyerinya mulai berkurang. Aneh, ukuran lukanya pun mengecil.

"Pada stadium Larva, tubuh kalian akan beregenerasi setiap saat. Kalian akan dapat sembuh dari luka yang sangat berat sekalipun."

". . ."

"Dan pada akhir fase Larva, sebelum menetas jadi Yunkhar Dewasa, virus digital akan mengambil alih otak kalian, melelehkannya dan mengubah semua organ dalam kalian menjadi virus digital seutuhnya."

"Apa...kau membunuh makhluk yang kau masuki...dan menjadikannya mayat hidup!?" mata Avius terbelalak mendengarnya. Yunkhar Utama menoleh dan menjawab dengan senang hati,

"Bukankah kau mengatakan padaku bahwa kau ingin mencari melenyapkan rasa benci di dunia, Avius?" Yunkharin menjawab datar,"Cairan tubuh Yunkhar Dewasa adalah Virus Chibichibichibi yang mampu menginfiltrasi tubuh berbagai organisme melalui gigitanku."

"Apa hubungannya dengan keinginanku melenyapkan kebencian?!" Avius menjawab, sementara Fata yang masih lemah hanya bisa memperhatikan penyihir muda yang polos itu.

"Organisme yang telah menjadi Yunkhar, ada di dalam kekuasaanku. Aku memprogram seluruh perasaan, emosi, tindakan mereka. Setiap organisme yang kuprogram, tak mungkin saling membenci satu sama lain."

Yunkhar Utama menguliahi, "Harmoni. Kedamaian dan keharmonisan dapat terus disebarkan oleh segenap spesies Yunkhar hingga ke seluruh pelosok Alforea. Kalian pun telah menjadi bagian dari kasih sayang ini."

Mendengar pernyataan gila tersebut, Avius seolah terkena petir di siang bolong. Keharmonisan. Kasih sayang. Membunuh semua manusia dan menjadikan mayat-mayat mereka sebagai wadah bagi virus-virus, adalah kedamaian bagi makhluk ini.

"Alforea adalah dunia yang tersusun atas lautan data. Maka bersiaplah, Fatanir," Yunkharin mengganti sasaran bicaranya kepada Si Kribo Kecil, "Pemahamanmu akan informasi teknologi, akan sangat berguna. Setelah kau menetas nanti, kau sudah punya posisi sebagai salah satu komandan Yunkhar nanti."

Sosok wanita itu berjalan anggun, rambutnya yang pirang memantulkan bias temaram lampu jalan, "Kita akan menyantap Alforea bersama-sama, Fatanir. Tidakkah itu menarik?"

Yunkharin pergi begitu saja meninggalkan mereka. Seolah tahu, bahwa usaha apa pun dari Fata atau Avius untuk menyembuhkan diri atau melawan, akan menjadi sia-sia. Malam semakin gelap.


---


5
Dua Bayi yang Aneh


Lama, kedua manusia bertubuh katai itu berjalan berdampingan di padang rumput tak jauh dari kota. Avius dan Fata. Keduanya tak saling berbicara.

Avius Kecil hendak berbicara, "Fata, aku minta maaf karena--"

"Udahlah," sahut Si Kribo Kecil lesu, "Kamu kan bego, jadi wajar aja kagak tau tipu-tipuan kayak Yunkhar gini."

"Sekali lagi, maaf," Avius memaksa, "Kalau saja aku tahu bahwa semua Yunkhar adalah...mayat yang dikendalikan oleh Yunkhar Utama, aku mungkin akan bertindak sama sepertimu. Mayat itu sudah mati, membunuh mayat hidup tak memiliki konsekuensi moral. Dampaknya adalah bahwa--"

Fata mengangguk-angguk saja, membiarkan Avius melanjutkan pidato permintaan maafnya yang semakin lama semakin tak perlu dijelaskan oleh narasi.

"Aku juga tidak mungkin tega memantulkan peluru tembakanmu tadi," ujar Avius.

Fata langsung terbengong-bengong, "Memantulkan? Emangnya beneran kamu yang mantulin peluruku? Mantra? Sihir? Yang kayak gituan beneran ada?"

Bocah Penyihir mengangguk. Dia menggerakkan jemarinya, dan terbentuk kubah semi-transparan yang melindungi dirinya. Lalu kubah sihir itu lenyap lagi.

Setelah kubah sihir itu lenyap, Fata Kecil langsung menggeplak belakang kepala Avius dengan penuh penghayatan, "Kuya lu! Taunya emang kamu yang bikin mantul tembakan tadi sampe bikin perutku bolong nggak karuan!"

"Tapi kau yang mau menembakku duluan dengan senjata aneh itu..."

Bocah Kribo menggerutu panjang-pendek, sudah tak bisa berkelit tapi tak mau kalah. Setelahnya, dia bergumam mengalihkan topik, "Yasudlah. Kayaknya kita nggak bisa duel beneran kalo Si Yunkhar ini belum dihajar."

Tanpa berkata-kata, Bocah Kribo menepuk bahu Avius, lalu menunjuk ke samping.

Avius menoleh, dan saat itulah udara kosong tersibak bagai selimut, menampakkan sebuah tank futuristik. Meriam kembar jumbo kelas anti-benteng teracung gagah di atas bahu anjungan, sementara laras-laras penembak otomatis berjajar sepanjang rangkanya, siap mengeksekusi siapa saja yang menghadang.

"Ini namanya,"  Fata menggigit sebatang cokelat sambil menjelaskan pada Avius yang berkeringat ketakutan menyaksikan benda sebesar rumah dipenuhi moncong senjata,"Tank tempur. Kamu tau, pistol yang kupake tadi? Yang bikin perutku sempet bolong tembus?"

Avius mengangguk pelan, matanya masih belum lepas dari selongsong penembak itu.

"Itu soalnya pistolnya nembakin peluru dengan kecepatan yang gak bisa diikutin sama mata. Nah tank ini, bisa nembakin 750 peluru dalam semenit lah kira-kira. Dua meriam utamanya bisa nembakin peluru gede."

"Se-sejak kapan kau membuat benda ini?" ujar Avius terperangah.

"Aku bikin prosesor intinya di gurun pasir Bauhaus. Pas sampai sini, kutinggalin prosesor inti di pinggir kota," Fata mengantongi sisa cokelat batangannya di saku baju, "Prosesor inti itu kuprogram supaya otomatis langsung mulai ngumpulin bahan baku di sekitarnya buat merakit tank ini dengan rancangan sistem robotik, begitu aku sampai di kota ini."

Avius menggeleng-geleng, entah takjub atau apa. Tapi kemudian dia bertanya, "Kau telah memiliki kendaraan perang ini dari awal. Lalu, kenapa kau tak langsung saja menggunakan tank ini sejak awal, supaya tak tertangkap oleh Yunkhar?"

Fata Kecil menggaruk kribonya dan nyengir dipaksakan, "Itu...aku emang sengaja ngebiarin virus digital bikin kamu jadi kecil juga, dan beberapa lama lagi bakal menetas jadi makhluk virus budak Yunkhar Utama. Jadinya, kamu pasti ngerasa senasib-sepenanggungan dan mau diajak kerjasama, gitu kan."

"Ap-apa!?" Avius Kecil melotot kesal, "Itu berarti kau menjerumuskanku dalam kondisi ini!"

Si Bocah Kribo cuma mengangkat bahu, "Kau minat duel melawanku sekarang? Aku bisa memprogram tank ini buat menghujani kamu sama ribuan peluru. Kita liat, perisai sihir kamu bisa lindungin kamu sampe berapa lama."

" . . . "

Fata membersihkan sisa cokelat dari giginya, "Atau, kita bisa keroyok dia."


---


Titik titik ledakan bermunculan di lima distrik kota Sorgen. Perumahan eksotis di kaki bukit dilahap oleh hempasan bola api. Para Yunkhar berlarian sambil berteriak minta tolong. Jalan lingkar utama perkotaan patah dan terangkat tinggi, membuat kendaraan bermotor tak mampu lewat sehingga kepanikan terjadi di mana-mana.

Waktu sebelum Fatanir menjadi Yunkhar: 15 menit.

Fata Kecil duduk di kursi kendali di dalam tank. Sebentar-sebentar dia berdiri dan melompat ke panel kiri atau kanan, menggeser tuas atau memutar sejumlah rotoskop berbentuk anak kunci dalam lubangnya.

Dari kamera anjungan, Bocah Kribo menembaki kerumunan Yunkhar yang terlihat berusaha menjauh. Tak ayal lagi, belasan peluru tajam langsung menembus tubuh-tubuh mereka yang malang.

Waktu sebelum Fatanir menjadi Yunkhar: 34 menit.

"Fata, apa kau sudah gila?!" Avius Kecil memekik takut melihat Si Bocah Kribo membantai segala yang bergerak dengan mesin perangnya, "Menghancurkan distrik kota ini tak akan menghasilkan apa-apa!"

"Semua Yunkhar yang kutembak juga bakal bangun lagi ntar! Jangan balik jadi kasian lagi sama mayat!" Fata mencerocos. Tank itu pun kembali menembak gila-gilaan, barisan unit penembak otomatisnya meletuskan ratusan peluru dalam frekuensi nyaris tanpa jeda.

Kloter demi kloter tembakan memecahkan kaca-kaca jendela, menembus tembok kompleks pertokoan sekaligus melubangi tubuh-tubuh para Yunkhar. Fata pun terlihat puas, karena dia menembaki populasi Yunkhar sambil tertawa maniak seperti ini, "Nyu! Nyuekhe! NyuekekekeKEKE!"

Fatanir. Target: Yunkhar Utama, sudah mendekat.

Sistem prosesor inti tank perang itu baru saja menginformasikan apa yang Fata tunggu-tunggu. Tapi secara bersamaan, keringat dingin pun bermunculan di kulit lehernya.

Kamera timur menunjukkan sosok yang bergerak sangat cepat ke arah tank dari sela-sela bangunan yang runtuh. Bagaikan bayangan atau hantu, serpihan logam atau beton yang berjatuhan seakan menembus sosok itu begitu saja.

Namun rambut pirang itu tak bisa berbohong. Yunkharin memiliki kemampuan fisik yang jauh di atas Yunkhar lainnya, jauh di atas manusia biasa. Dia bergerak sangat gesit hingga tak ada satu pun runtuhan yang mengenainya.

Fata menembak dengan liar, memusatkan bidikan semua penembak otomatisnya pada Yunkhar Utama. Rentetan peluru pun menghujani wanita digital tersebut, menembus tengkorak dan uratnya. Hingga darah menyembur dari sekujur tubuh rampingnya bagai kembang api membara.

"Dia kena! Fata, dia kena!" Avius Kecil berseru gembira sambil menunjuk-nunjuk. Tapi ekspresi kaku Fata yang memperhatikan tiap detil pergerakan makhluk virus organik itu, tidak berubah.

Lubang-lubang peluru di tubuh Yunkharin sekonyong-konyong mengecil. Daging payudaranya yang terburai berubah menjadi bentuk-bentuk piksel lalu enyatu kembali, dan cerukan di daerah otak kirinya menyusut dalam hitungan detik.

"Regenerasi instan!' Cetus Fata Kecil kesal, namun juga penuh rasa gugup. Bila tubuh Fata Cebol ini memiliki daya penyembuhan akibat jangkitan virus Yunkhar, maka Yunkharin memiliki daya penyembuhan puluhan kali lipat dibanding itu.

Begitu kuat regenerasi virus itu, hingga bekas puluhan peluru dari Fata yang menancap di kepala dan titik vital biologisnya, bahkan kini tak terlihat lagi. Kulit wanita artifisial itu bersih mulus bagaikan baru luluran. Bahkan Avius sampai tercekat, menyadari sihir pemulih miliknya seperti mainan saja dibanding daya regenerasi wanita ini.

Tapi Fata meyakinkan dirinya sendiri.

Bisa, lah. Aku pan mantap segar ene.

"Avius, mumpung masih sempet, kamu keluar aja. Kabur." Fata Kecil berujar singkat, namun Si Bocah Penyihir mampu merasakan ketegangan dalam suara Kribo Cebol itu, "Si cewek itu pasti udah ngincer tank ini."

Avius merasakan lututnya lemas. Jadi itu tujuan Fata sedari tadi. Fata menghancurkan sebagian kota dengan tank miliknya, hanya untuk memancing perhatian Yunkhar Utama. Dan dia sekarang menyuruh Avius untuk keluar dari tank...

"Kau mau menghadapi makhluk berbahaya itu satu lawan satu!?" Avius Kecil protes dengan keras saat menyadari apa yang Fata inginkan. Fata mengambil lagi batang cokelat dari saku bajunya dan memakannya satu gigit, "Tenang aja. Aku masih punya cokelat. Dikit lagi sih."

Mendengar ucapan absurd itu, Penyihir Cilik terdiam seketika. Sepertinya pikiran Fata sudah korslet, sehingga apa yang dia bicarakan sudah tak jelas lagi ke mana arahnya.

"Tidak bisa!! Aku akan..."

Avius tak meneruskan ucapannya dan langsung keluar dari salah satu pintu baja di bagian sisi tank. Fata berteriak, "Woi! Jangan pake pintu yang itu! Pintu yang itu kan malah deket ke arah--"

Terlambat. Avius sudah berlari, menyongsong sang wanita virus bermata ungu yang baru saja melompati sebuah mobil yang terguling akibat tembakan tank Fata.

"Aku akan mengalahkan makhluk ini!" Avius Cilik bertekad kuat. Tudungnya berkibar menampakkan rambut coklat serta bola matanya yang dwiwarna. Jemarinya menyulam mantra magis, membentuk kubah pelindung kokoh bersinar keperakan.


---


6
Praesidium

"Minggir, Avius Solitarus!" Yunkhar Utama menatap Avius dengan mata ungu berkilat buas, laksana leopard yang akan menerkam buruan. Virus berbentuk humanoid itu melompat jauh ke depan, melancarkan tendangan lurus pada tubuh Avius.

Namun betapa tak menduganya Yunkhar Utama jika menendang perisai sihir itu adalah laksana membentur sebuah permukaan elastis. Kaki Yunkhar terpantul lalu terpuntir ekstrim dengan sudut yang salah, mengakibatkan bonggol tulang pahanya lepas. Wanita itu pun jatuh berdebam.

"Apa..." wanita virus itu memang mengetahui data Avius sebagai peserta, termasuk kapasitas majiknya. Bagaimanapun, dia menganggap informasi tentang ketangguhan sihir Avius sebagai sesuatu yang berlebihan.

Namun tidak lagi. Dia merasakan sendiri kekuatan perisai magis dari mantra Vis Praesidium, sihir Avius yang dapat memantulkan serangan fisik tanpa terkecuali.

Hanya saja, kekuatan hebat itu punya bayaran. Perisai magis Praesidium bagai sebagian dari tubuh Avius sendiri. Meski daya tahannya tinggi, tapi rasa nyeri dari tendangan tetap diteruskan langsung ke tubuhnya.

Sehingga Avius justru merasakan nyeri yang amat sangat, selepas perisai itu menangkis satu saja tendangan Yunkhar. Matanya memejam kesakitan, tubuhnya gemetar melemah. Gejala sampingan ini tak luput dari pengamatan wanita virus bermata ungu itu.

"Kemampuanmu tak bisa dianggap remeh. Tapi efek sampingnya pun sampai mendesak ambang batas nyeri sarafmu. Kalau begitu, aku akan sepenuhnya percaya pada data Server Alforea tentang dirimu!"

Yunkhar memutar kakinya yang mestinya terluka. Dan mendadak tulang-tulangnya bergeser kembali seperti semula, robekan ototnya pulih, bahkan langkah kakinya sama sekali tak pincang.

Dengan kepulihan itu, si monster digital kembali maju. Tendangan demi tendangan berkecepatan super menggedor perisai sihir milik Avius.

"Hahaha!" Yunkhar Utama terbahak-bahak, mata ungunya mendelik puas saat kedua lengannya didaur ulang dengan cepat melalui regenerasi virus digital, "Bersembunyi di balik perisai sihir, tapi tetap menerima rasa sakit yang sama? Kekuatan yang penuh resiko, Avius Solitarus!"

Rasa sakit yang mendera tubuh Avius kian bertambah. Badan kecilnya itu seperti sedang diinjak-injak oleh sekawanan kuda liar tanpa henti. Dia menggunakan sisa-sisa energi sihirnya untuk meringankan rasa sakit yang mendera. Tak banyak membantu.

"Aku harus bertahan..." Avius bergumam lemah dengan ketahanan tubuh yang terkikis. Namun dia terus menggunakan sihir ini, sihir yang menjadi identitasnya.

Sihir penyembuh yang dimilikinya, telah membuat seluruh negeri mengincar kepalanya, karena menganggapnya sebagai makhluk yang dikutuk Dewa. Keluarganya ditangkap, ayahnya dibakar hidup-hidup di depan matanya, ibunya meninggal dianiaya oleh para pemabuk.

Namun sejak bertemu dengan sang guru, Solitarus, dia diberitahu bahwa...memiliki kemampuan sihir alami bukanlah kesalahan. Solitarus mengajarkannya mengendalikan prana magis untuk melindungi dan menyembuhkan mereka yang sakit.

Maka itulah, Avius akan tetap bersandar pada kekuatan ini, kekuatan yang mendefinisikan kebaikannya.

"Meski dunia menghina, mengecam...aku akan meluruhkan itu semua..."

Berkali-kali kedua tungkai Yunkhar Utama terhempas mundur akibat efek pantulan perisai sihir, patah dan remuk.

"Dengan menanam kebaikan..."

Namun berturut-turut pula tubuh virus utama itu sembuh kembali seolah tak terjadi apa-apa sejak awal.

"Karena bibit kebaikan...tidak pernah habis..."

Si Penyihir Kecil mengerang, berteriak parau dan menggerung. Lalu bagian hitam bola matanya berputar lemas ke dalam kelopak mata atas, menerima sensasi seolah tulang dan giginya tengah dipecahkan satu-satu.

Kemudian perisai sihir pun memudar. Avius berdiri seperti agar-agar, hanya tekad kuat yang masih menyangga kaki kecil itu.

Sang Yunkhar Utama berjalan santai lalu meninju perutnya dengan telak, dan Sang Penyihir Cilik pun terhempas ke sekumpulan puing bangunan, tak lagi sadar.

Sang wanita virus menoleh anggun, rambutnya terkena cahaya matahari. Udara sepoi menerpa tubuh digital itu, seperti sedang mengasuh kehidupan yang murni.

Kemudian tubuh Yunkharin hancur berantakan menjadi pecahan daging.


---


7
Program

Sebuah peluru raksasa telah menembus pecah tubuh itu. Peluru anti-benteng dari laras meriam utama tank milik Fata itu, terus melesat menembus kumpulan rumah dan mematahkan deretan gedung perkantoran hingga bertumbangan bagai pohon-pohon yang ditebang, menciptakan rantai ledakan berukuran sulit dipercaya.

Bola-bola api besar bergumul memenuhi sudut kota. Sementara di dalam tank, Fata Kecil mengangkat jarinya dari tombol meriam kembar utama.

Peluru penembak otomatis tersisa 30%.

Dia menunggu, tapi bukan diam. Jemarinya justru bergerak lebih cepat dari sebelumnya, mengaktifkan sejumlah sistem komando dalam tank.

Peluru anti-benteng habis.

Empat menit hingga perakitan peluru anti-benteng berikutnya.

"Tcheh, buangkai." Fata mengumpat pada dirinya sendiri. Dia harus cepat. Lebih cepat. Karena jika terlambat...

Regenerasi data hardware Yunkhar Utama:

10% --

Ceceran daging itu saling berkumpul. Semua struktur yang harusnya organik itu menampakkan wujud aslinya, yaitu piksel-piksel tiga dimensi yang bertumpukan seperti tangga putar.

49, 77% ---

Barisan kode biner kembali menyusun rambut pirang tersebut. Cabang-cabang logaritma dan bahasa pemrograman terus mengalir melahirkan sepasang iris mata ungu kemilau.

100%.

Regenerasi selesai.

"Kotekaaaa!!" Mendengar data tersebut, Fata tak bisa menguasai diri. Dia segera mengerahkan semua penembak otomatisnya pada tubuh Yunkhar Utama yang sudah kembali pulih secara tak masuk akal.

Hanya saja sesaat sebelumnya, si wanita virus sudah melompat keluar dari jalur tembakan. Rumah-rumah penduduk berlubang-lubang dan terbelah, tapi kecepatan reaksi Yunkhar Utama jauh melebihi kendali manual Fata, atau kecepatan program robotiknya.

Wanita berambut pirang itu melompat tinggi. Rentetan peluru tank Fata mengikutinya, berdesing memecahkan jalinan pipa air serta membengkokkan tiang-tiang listrik pada jalur tembakan. Namun Yunkhar Utama telah berada dua belas langkah di depan.

Tubuhnya melenting berpindah-pindah antara badan tiang yang bengkok, dinding lalu bermanuver sigap sepanjang atap kompleks perumahan. Mau tak mau Fata merasa takut sekaligus takjub. Bagaimana tidak, Yunkharin secara pasti menyempitkan jarak dengan tank tersebut, menari-nari dengan gemulai tapi juga dengan kesadisan tersendiri.

Sampai pada ujungnya, Yunkarin melompat seperti gasing, lalu mengubah poros putaran tubuhnya dalam sebuah tendangan menukik. Kekuatan itu bahkan mampu menjebol paksa pintu timur tank yang ketebalan bajanya lebih dari satu jengkal.

Sang Yunkhar berhasil masuk ke dalam tank! Dia berlari melewati dua belokan dalam koridor penuh perangkap robotik. Dalam sembilan hitungan saja, wanita virus itu telah tiba di depan pintu menuju anjungan tank.


---


Ada derakan keras bergema ketika pintu anjungan dalam patah dan terpental. Sesosok siluet berdiri dibingkai oleh rangka baja dinding, senyumannya penuh kemenangan.

Kontak fisik dengan Yunkhar Utama dalam tiga detik.

Tapi itu tak membuyarkan dan justru mempertajam konsentrasi Fata Kecil, yang sedang mengeksekusi program terakhirnya.

Dua.

Matanya berbolak-balik menelusuri rentetan siklus komputasi yang sedang dialihkannya untuk mencapai ujung perhitungan tersebut.

Satu.

Tak membuang waktu lagi, Yunkharin segera melempar tubuh Fata Kecil seperti membuang bayi ke tempat sampah.

"Urghh!" Bocah Kribo itu berguling-guling di sudut anjungan yang gelap dengan dada serta perut lebam akibat lemparan. Pandangannya terasa berputar. Tak lama kemudian, regenerasi virus menyembuhkan luka-luka ringannya. Namun Fata jijik sendiri, bertahan hidup akibat bantuan virus digital yang menginfeksinya.

"Jangan memaksaku membunuhmu, Fatanir," Yunkharin mendesis, "Talentamu dibutuhkan untuk merampas Alforea dari genggaman Tamon Ruu. Namun pertama-tama, aku menyukai tank ini."

Yunkharin menempelkan telapak tangannya ke panel kendali utama anjungan, dan memulai proses infiltrasi datanya.  Monitor inti tank tersebut mulai terpengaruh.

Koloni virus digital mulai memasuki panel kendali itu hingga tampak di layar. Piksel-piksel virus bergerak memakan deretan ikon menu monitor panel itu demi satu, dan memuntahkannya kembali dalam wujud piksel virus.

"Data yang lezat, Fatanir. Aplikasi teknologi militermu semakin efisien. Hanya saja--" mendadak Yunkharin terdiam. Ada data dalam folder yang tak bisa dihisapnya. Folder itu pun tak bisa dibukanya.

Yunkhar menendang perut Si Bocah Kribo, lalu bertanya, "Apa ini?"

Fata tertawa sambil batuk-batuk menahan sakit, "Apaan hayoo--Ughahh!!" dan mendadak mengaduh saat wanita digital itu membenturkan kepalanya ke lantai besi yang keras.

Si Mata Ungu pun tak sabar. Dikerahkannya seluruh daya infiltrasi virus yang dia miliki. Semua piksel virus dalam monitor bergabung menjadi satu, kemudian menggerogoti folder aneh itu hingga akhirnya dapat terbuka.

[Selamat Yak!]

" . . . ?" Yunkharin merasakan sensasi aneh di tangannya yang menyentuh monitor. Kulitnya mulai terkelupas. Makin dalam dan makin dalam. Tulang-tulang jemarinya terlihat jelas. Mata Yunkharin membelalak.

[Kamu udah ngebikin aktif anti-virus terbaru dan terkeren yang bisa ngelindungin prosesor kamu secara total. Antivirus ini baru aja selesai diprogram satu menit lalu, oleh Mister Fatanir Pancen Oye!]

Wanita berambut pirang itu menoleh pada Fata Kecil yang kini sudah nongkrong santai. Yunkhar Utama mencoba meregenerasi tubuhnya, tapi tak bekerja. Lengan dan bahunya malah terurai menjadi piksel-piksel virus yang dapat dilihat mata telanjang. Kenapa tidak? Kenapa tidak bisa?!

[Eh oopsie. Kamu bakal terlindungin, kecuali kalo kamu  adalah virus digital komputer atau virus database gitu. Kalau kamu adalah virus, berarti ini adalah detik-detik pemakaman kamu.]

Karena kemampuan regenerasi fisik Yunkharin adalah hasil dari mekanisme virusnya yang terus berbiak dan memperbaiki diri. Program anti-virus yang berhasil diformulasikan oleh Fata pada detik-detik terakhir, menghancurkan semua data dan mekanisme fungsi dari sebuah virus digital tanpa terkecuali.

[Soale, semua jenis virus yang udah kontak sama program ini, datanya bakal didelete tanpa bekas. Ini bakal ngehapus program prosesor inti juga sih. Maapin yak ^-^]

Tubuh Fata kembali membesar dan meninggi seperti remaja, tanda bahwa pengaruh virus digital terhadapnya sudah pudar.

Si Kribo mendengar tangisan koloni virus digital yang mati satu-persatu dalam tubuhnya.

Di luar sana, tengah terjadi pemutusan network virus secara masal. Tak ubahnya kumpulan mainan anak kehabisan baterai, semua Yunkhar di seluruh jalanan, toko, taman, seluruh penjuru kota, langsung berjatuhan begitu saja.

Proses penghapusan data virus Yunkhar Utama telah mematikan sumber energi dan kendali semua Yunkhar yang lain. Tubuh-tubuh mereka berubah menjadi jalinan piksel digital, kemudian lenyap dengan sendirinya.

[Oh. Ternyata kamu virus yak.]

Tubuh wanita berambut pirang, Yunkharin, telah berubah menjadi piksel-piksel kelabu kecuali kepalanya. Pita suaranya sudah hilang sehingga eksistensi virus itu tak mampu bersuara. Semua bagian tubuhnya pun terdematerialisasi.

Yang terakhir terurai adalah sepasang mata ungunya yang membelalak ketakutan menatap Fata.

[Jadinya kamu penyet dong. Okesip phai phai.]


----


8
Gambaran

Tank itu tak lagi bisa menembak atau bergerak. Prosesor intinya sudah terhapus dari segala data, sebagai konsekuensi anti-virus mutakhir kreasi Fata.

Si Kribo sendiri berjalan terhuyung-huyung. Rasa nyeri luar biasa di perutnya mendadak kembali mengoyak-ngoyak. Dilihatnya darah kembali mengucur dari daerah lambung dan ususnya. Baru dia mengerti apa yang terjadi.

Regenerasi luka di perut gue tadi...

...Cuma berlaku sepanjang gue kena virus digital doang...?

Fata tersenyum dipaksakan. Napasnya mulai tersendat-sendat, dan akhirnya luka fatal yang  kembali terbuka itu, luka akibat pelurunya sendiri itu, terlalu berat untuk ditanggung oleh tubuhnya.

Si Kribo terjengkang jatuh, lalu terkapar di jalan tanpa bisa bangun lagi. Dia pejamkan matanya kuat-kuat, seolah hal itu akan menunda kematiannya yang sudah merayap semakin dekat.

Berarti gue modar dung.

Hanya saja,

"Rupanya...kau berhasil, Fata."

Sebuah lingkaran sihir menyala di dataran distrik kota tersebut. Sesosok tubuh berdiri di pusatnya. Fata mengenali pemuda itu. Dia adalah Avius Solitarus, penyihir bertudung dan jubah coklat, yang telah bebas dari pengaruh virus digital.

Lingkaran sihir yang dirapal oleh pemuda itu keperakan kemilaunya, meliputi atap-atap rumah yang terbelah, jalan penuh puing serta sisa-sisa gedung.

Itulah sihir penyembuhan milik Avius. Penyihir itu menoleh pada Si Kribo yang masih terbaring lemah. Dia tersenyum simpul seperti seorang kakak pada adiknya, dan mengatakan, "Apakah kau percaya, bahwa kebencian di dunia ini dapat dilenyapkan?"

Huruf-huruf asing bercahaya dalam lingkaran itu menjangkau tubuh Fata. Sebuah kehangatan terasa memenuhi rongga perut Si Kribo yang terkoyak. Lingkaran cahaya perak itu menindih rasa sakit Fata sehingga reda bukan hanya untuk sesaat, namun hingga rasa sakit itu hilang sama sekali.

Avius lanjut berbicara sambil mempertahankan sihirnya, "Bila kita menanam kebaikan..."

Si Kribo menunduk. Lubang di perutnya lenyap. Peluru yang bersarang di dalam usus besarnya larut bersama cahaya perak, dan rasa ini...

"...maka dunia itu sendirilah yang akan melenyapkan kebencian itu."

Rasa ini, membawa Fata masuk dalam sebuah dunia yang berbeda. Pemuda keriting itu melihat sesuatu.

Fata sedang duduk, meminum kopi krim hangat sembari bercanda dengan sang ibu.

Dengan ibunya.

Mereka berdua duduk di teras sebuah rumah oriental, teras yang tersusun dari kayu-kayu cemara putih yang harumnya familiar. Sementara kicauan glatik jambul menyelingi gemerisik dedaunan gingko, yang kuningnya baru saja menggelap menyongsong musim gugur.

Dan mereka menyesap isi cangkir mereka. Sang ibu mengusap jambul kribo kasarnya seolah rambut itu adalah sutera terindah di dunia. Lalu Fata mengatupkan mulutnya rapat-rapat, seperti berusaha berontak tapi sesungguhnya hanya menginginkan momen ini terus berulang setiap dalam bengkokan waktu tanpa pernah berhenti.

Mereka tertawa bersama. Di bawah matahari tua, yang selalu setia berputar pada garis edarnya di pesisir galaksi.

Bukan. Bukan, Fata menyadari. Wanita dengan kerutan wajah halus dan mata teduh itu, sama sekali tak dikenalnya.

Rumah itu, halaman depannya yang berhias bonsai serta rumput gajah pendek, hanya terasa hangat dan familiar. Dia belum pernah melihat rumah itu sebelumnya.

Jadi imaji apa yang dialaminya ini? Kehangatan apa ini, yang menyemangatinya untuk bangkit dan memberikan padanya harapan--

---bahwa keluarganya mungkin masih ada, nun jauh di sana?


---


9
Cokelat


Mereka duduk di sisi yang berseberangan pada sebuah meja. Mereka berdua duduk dalam kafe yang tak berpenghuni. Ya, tentu saja. Karena seluruh penghuni kota ini adalah Yunkhar, dan setiap Yunkhar sudah Fata lenyapkan dengan anti-virus.

"Jadi, ayah kamu...meninggal...karena ngelindungin kamu?" tanya Si Kribo dengan kikuk, sama sekali tak seperti biasa.

"Ya. Penduduk kota asalku terpaku pada adat-istiadat lama. Aku dan beberapa temanku, menjadi target perburuan dari pemerintah setempat yang menganggap kami sebagai makhluk terkutuk."

Fata terdiam. Dinding-dinding serta tanaman rambat kini menerima pantulan sinar lampu. Avius melanjutkan.

"Tapi Ayah melindungiku, berdiri tegak tanpa kompromi. Bahkan ketika api melahap tubuhnya hidup-hidup, dia masih memerintahkanku agar tak menyimpan dendam."

Umumnya, Si Kribo tak pernah peka akan cara memperlakukan sesama. Tapi, bila bicara tentang keluarga, sorot mata pemuda bernama Fata itu sangat lain dari biasanya.

"Bagaimana dengan ayahmu? Ibumu? Masih ada?"

Tatapan itu pahit, menyembunyikan kedukaan dan juga rasa rindu yang dalam.

Avius sangat mengenali sorot mata itu. Ya, karena dia pernah memiliki kesedihan yang sama dengan si pemuda berkemeja rapi tersebut.

Sampai sebagai titik balik kehidupannya, Avius diselamatkan oleh seorang tetua penyihir bernama Solitarus. Nenek berusia lebih dari dua abad itu membawanya ke tempat tinggalnya, sebuah pondok terpencil jauh di dalam rimba belantara.

Solitarus mengajarinya sihir pada Avius, dan mewariskan namanya pada akhir nama pemuda itu. Sejak itulah, Si Penyihir Muda mengasah energi sihirnya untuk menyembuhkan penyakit dan luka, bagi segenap penduduk desa di sekitar hutan tempatnya menimba ilmu.

"Aku nggak tau ayah sama ibuku siapa."

Avius terkejut lepas dari lamunannya saat mendengar jawaban Fata tersebut. "Kata orang panti asuhan sih, aku ditemuin di tong sampah di gang sempit deket tempat pelacuran gitu. Orang-orang pada bilang kelakuanku kurang ajar, gara-gara nggak ada ayah sama ibu kali yak."

Fata tak pernah diajarkan untuk menghormati lawan bicara. Dia tak punya orangtua untuk mendidiknya tentang nilai-nilai moral, hanya petugas panti asuhan semasa kecil.

Karena itulah dia tidak peka terhadap perasaan orang lain. Si Kribo hanya mempercayai perhitungan, mesin, logika, dan sejenisnya. Karena orangtuanya sendiri membuangnya.

Maka bagaimana mungkin seorang anak dapat menghadapi dunia, bila dia tak pernah sekalipun didekap erat oleh ibu yang melahirkannya? Bagaimana jiwa sang anak takkan penuh noda, jika dia tak pernah sekalipun menyaksikan teladan kebaikan yang kokoh dari sang ayah?

Avius merasakan dadanya diremukkan oleh rasa iba yang luar biasa. Melihat mata Avius yang mulai berkaca-kaca tanpa bisa tertahan, Fata pun tersenyum dipaksakan, "Muka lu kayak orang mules. Ngobrolin yang laen aja deh. Kapan mulai duelnya kalo gini."

Avius menutupkan tudungnya ke daerah mata, menyamarkan apa yang dia rasa. Si Kribo kesal sendiri. Permainan macam apa ini, di mana dia harus membasmi virus digital yang ingin menjajah seluruh planet, namun lawan sesungguhnya adalah penyelamat hidupnya yang sama sekali tak ingin dia lawan?

"Kau ingin duel dengan cara apa?"

Kini Si Kribo yang terkejut atas pertanyaan yang dilontarkan oleh Avius. Penyihir muda itu tersenyum tulus, tanpa kewaspadaan. Sama sekali tak pantas menjadi musuhnya, atau musuh bagi siapa pun.

"Duel kita tuh," Fata mendesah lesu sambil menelungkupkan tubuh di meja kafe, "Udah mau selesai dari tadi."

Gestur menelungkup itu sengaja. Avius langsung memperhatikan sesuatu yang sejak tadi tak pernah dia telaah dengan serius.

Yaitu, sebatang cokelat. Sebatang cokelat yang secara aneh, melayang beberapa meter di atas kepala Fata.

Sebatang cokelat?

Saat bertarung, akan ada indikator berupa health bar di atas kepala masing-masing petarung, yang memberitahu mereka persentase sisa "nyawa" peserta dalam pertarungan.

"Health Bar...Batang Kesehatan...Batang Sehat..." Avius bergumam, tak yakin dengan maksud Fata namun berusaha mengingat peraturan babak ini.

Fata menggaruk jambul kribonya, "Pas Yunkhar Utama ngasihtau aku peraturannya, aku sempet ngutak-atik komputer mini punya panitia."

Fata merogoh saku kemeja putihnya.

"Aku ngetik usulan ke panitia yg namanya Hewanurma, boleh nggak kalau Health Bar itu bentuknya beneran batangan materi yang bisa disentuh secara fisik. Dia bilang, nggak masalah. Mau pilih materi fisik penyusun Health Barnya apa, katanya. Aku pilih aja cokelat."

Avius melongo. Dari dalam sakunya itu, Fata mengambil sekeping cokelat batang yang sudah sempat dia makan sepanjang pertarungan, disaksikan langsung oleh Avius. Sisanya hanya seukuran ujung ibu jari. Fata melahap keping cokelat terakhir itu.


---


Tanpa berkata-kata, Bocah Kribo menepuk bahu Avius, lalu menunjuk ke samping.

Avius menoleh, dan saat itulah udara kosong tersibak bagai selimut, menampakkan sebuah tank futuristik.

Selagi Avius terperangah menyaksikan tank itu, Fata dengan santai mengambil Health Bar milik yang terapung di atas kepala Avius, tanpa Avius sadari sedikit pun. Sebatang cokelat susu yang sungguh bisa dimakan.

Dan pada misi ini, sepanjang kau dapat mengurangi Health Bar milik lawan hingga habis terlebih dahulu, kau menang.


---


[Babak Dua selesai. Pemenang: Fatanir.]

[Panitia mengucapkan terimakasih pada peserta Fatanir dan Avius Solitarus yang telah menghapus Virus Chibichibichibi dari Yunkhar Utama.]

Mulut Avius menganga lebar. Jika ini adalah komik, rahang bawahnya pasti sudah menyentuh tanah. Fata mulai nyengir lebar, deretan giginya seperti melintang dari telinga yang satu ke telinga lainnya.

"K-k-kau!" Penyihir muda itu mengepalkan tangan kuat-kuat, lalu menggebrak meja dan menunjuk-nunjuk Fata, "Kaauuu!!"

"Tenang aja, Avius," sahut Fata meski mulai cekikikan, "Di babak ini nggak ada eliminasi ko, meski menang atau kalah. Hewanurma sendiri yang bilang gitu."

"Ta-tapi..." penyihir berambut coklat masih syok dengan apa yang terjadi. Dia kesal, kesal sekali karena bahkan dia tak menyadari bahwa Fata sudah menyiapkan langkah-langkah menang tanpa perlu bertarung.

Tapi kemudian penyihir muda itu berhenti berbicara. Karena diam-diam, Avius jadi merasa lega. Karena kali ini, dia tak perlu bertarung, membunuh atau dibunuh, untuk menentukan menang dan kalah.

Jika saja semua pertarungan di Alforea bisa seperti ini...

"Apa kau mengalahkan semua lawanmu seperti ini?" Avius bertanya. Si Kribo menggeleng, "Supaya lolos dari babak sebelum ini, aku ngebunuh satu lawanku. Dia virus digital juga sih, sama kayak Yunkhar, jadi bukan bener-bener makhluk idup. Tapi yah, tetep aja aku ngebunuh dia."

"Apa...tak ada jalan lain?" Avius bergumam muram.

"Aku udah nyari jalan selaen ngebunuh, lah," Fata mengetuk-ngetukkan jari, "Tapi  itu makhluk kelewat agresif bantai sana-sini. Jadi aku nggak nemuin cara selain ngebunuh."

"Rupanya benar..." Avius melipat tangan, "...bahwa kau adalah orang baik."

"Ha?" Fata tidak mengerti. Avius menjawab tenang, sama sekali tak terlihat sedih atas kekalahannya barusan, "Kau bilang, tak ada cara lain. Berarti kau hanya terpaksa."

"Sok tau banget lu," Si Kribo mengejek, "Kamu belon pernah ngerasain biji selangkangan kamu kutodong pake senapan, kan?"

Avius melongo. Fata cekakakan lagi. Kali ini, Avius ikut tertawa, "Awas kau. Lain kali, aku pasti akan mengalahkanmu dengan jujur dan adil."

Sudah lewat tengah malam, bulan separuh tertutup beberapa gumpal awan. Fata sudah mengantuk sebenarnya, tapi Si Penyihir malah mengambil botol susu dari lemari pendingin di dapur kafe dan mengajaknya minum-minum.

Tak ada yang perlu dikhawatirkan dari minum bergelas-gelas susu. Paling-paling hanya mencret saja di pagi hari nanti.

Fata berlagak mabuk seolah sedang minum wine, dan menirukan gaya ahli kungfu mabuk. Avius mengatakan bahwa hal itu kekanak-kanakan, tapi kemudian ikut berakting mabuk.

Mereka berbicara tentang kampung halaman mereka masing-masing. Tentang sihir air, tentang laptop, tentang famili dan teman yang menunggu di tempat asal mereka.

Mereka bertukar pikiran tentang lawan-lawan mereka sejauh ini, juga siapa saja yang bisa dipercaya untuk menjadi rekan nantinya.

Sebuah pemberitahuan menyala, bahwa panitia pertandingan akan menjemput mereka berdua tadi pagi. Tapi saat itu, Avius dan Fata sudah tertidur kekenyangan, sama sekali tak peduli dengan pertandingan.

Dan Fata sebenarnya masih bangun. Diam-diam dia mengamati Avius yang sudah pulas tanpa khawatir dibunuh dalam tidur, diracun, apa pun juga.

Kebaikan. Kedamaian. Semua omong kosong itu...

Penyihir sialan ini punya semua itu.

Si Kribo itu memikirkan semua yang telah terjadi pada pertarungan kali ini. Dia menatap jendela kaca yang mulai berembun atas kabut pagi, lampu-lampu jalan yang kadang meredup,

Dan...permainan ini.

Avius menginginkan perdamaian di dunia. Dia bertarung di sini untuk apa yang dia inginkan agar tercapai, betapapun mustahilnya keinginan itu.

Maka, Fata harus menginginkan apa?


---


[Round 2 - Level 1] Fatanir - Cokelat Mantap (Selesai)



11 comments:

  1. Hehe, senangnya ada yang punya definisi senada denganku soal virus, antivirus dan databasenya. Walaupun mungkin saya lebih menghargai duel yg diakhiri tak sekedar lewat trik Silver Queen, yum yum. Skornya 9/10 yah dari Vajra. Agak asyik juga lihat Fata nggak melulu harus jadi a**hole. Respect!

    ReplyDelete
  2. Kadang saya ngerasa aneh sama gaya bicaranya Fata. Ngerti sih maksudnya ngomong ga baku dan slengean, tapi kadang struktur kalimatnya kayak ngebingungin gitu. Walau emang pas sih, kebalikan Dyna yang malah santun, Fata ini lebih cocok imej anak jalanan serampangannya (terutama pas ngisep virus Yunkharin, ngetroll banget itu)

    Awalnya saya kira 'wah, ga bakal ada battle beneran nih', tapi dasar Fata, ternyata udah direncanain dari awal juga ya cara menangin battlenya

    Dari saya 8

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  3. -World building yang sempat dimasukkan ke settingnya cukup keren
    -Lho kok pertarungannya dihijack
    -Cara si Fata mengalahkan Yunkhar Prime oke juga
    -Akhir Fata Vs Aviusnya lame tho, LOL
    -Perkembangan karakternya Fata cukup oke sih

    Sebenarnya keseluruhan ceritanya cukup oke. Tapi saya agak kecewa aja, karena salah ekspektasi. Kirain bakal habis-habisan duel Fata Vs Avius, tapi ternyata duel sejatinya disimpan dulu.

    Skor akhir: 8/10
    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. wakakakakak, si Fata jadi Bayi~
    :D



    [Apakah Yunkhar tak busa mati?]

    Weeeh, jarang-jarang saya baca tulisan om Po kena Typo~




    ["Itu...aku emang sengaja ngebiarin virus digital bikin kamu jadi kecil juga, dan beberapa lama lagi bakal menetas jadi makhluk virus budak Yunkhar Utama. Jadinya, kamu pasti ngerasa senasib-sepenanggungan dan mau diajak kerjasama, gitu kan."]

    Njrot, megakampret lah si Fata ini. Dari dulu brengsek na gak ketulungan, wakakakakak :D



    Selubung tak kasat mata bernama "Praesidium"

    Dalam bahasa latin artinya Perisai~

    Ternyata saya gak sendirian :'D


    ["Kamu belon pernah ngerasain biji selangkangan kamu kutodong pake senapan, kan?"]

    Saya jadi teringat sama siapa yah...


    Pada akhirnya, dua orang ini malah jadi sahabat... /swt




    final battle lawan Avious itu loh...

    wakakakakakak, itu healthbar dicomot gitu aja kayak chocolate bar
    XD

    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ish, lupa ngasih point

      Point : 8
      :D

      Delete
  6. Dimakan... wtf?

    Tapi itu twist yang bagus, walau saya rada berharap kalau di akhirnya ada battle yang lebih seru dibanding lawan Yunkharin.

    Nevertheless, saya suka sama kepribadiannya Fata, you smug bastard!

    Poin 9

    Zoelkarnaen
    OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete
  7. Fata ngobrolnya lucu kadang keluar istilah-istilah ajaibnya pak po. Ceritanya seru fata dan avius jadi berkawan bahu membahu lawan yunkharin sampe saling mengenang masa lalu. Cuma ending kalahnya avius nih kok begitu, duh, wkwkwkwkwk kurang greget nih jadinya.

    Nilai : 9

    OC : Zhaahir

    ReplyDelete
  8. Ceritanya manis, semanis plot twistnya. Hehe. Saya baru baca entri Fata secara serius, dan wow ini berkesan. Walau saya kira bakalan ada bakbikbuk perang tekno vs sihir. Tp ini boleh lah. Paling bagusnya karakterisasi masing" tokohnya kerasa bedanya. Yg ini atau itu ngomong keliatan siapa bahkan ga dikasih dialog tag. Dan bagian Avius kerasa gak OOC. Terus, Fata merasakan kehangatan orangtua? Uh ... itu bagian ngefeel juga. Good.

    Oh, yaudah lah komennya. Saya titip 9 ya~

    -N. Alfian

    ReplyDelete
  9. Eophi : Ng, Fatanir? Langsung aja ... nilai 8.

    *Eophi tidur*

    *Sebuah bantal in frame*

    Milk : Namaku Milk, shushu. Jadi ini Avius si baik melawan Fata si woles, shushu. Kisahnya seru, komedinya dapet, meski ada dialog Fata yang bikin ragu itu maknanya apa, tapi pas terus baca ternyata ke situ maksudnya, shushu. Endingnya manis, shushu!

    "Bantal pergi*

    *Guling in frame*

    *Guling diseret keluar*

    *Selimut in frame*

    Cloud : N-namaku, Cloud. Cuma m-mau bilang, Fata gahoel maia a-abiez! E-entalah tapi jadi i-inget sama Bena. Sama-sama kocak, t-tapi Fata semilyar k-kali lebih badass pastinya!

    *Selimut keluar*

    *Kasur in frame*

    White : Perkenalkan, nama saya White. Virus chibichibichibi-nya sangat berpengaruh ke imajinasi. Saya memang sedikit berharap sebelumnya kalau author Fata memakai Avius versi jahat, kemudian ada adegan teknopathia melawan sihir, tapi ternyata taktik cokelat itu saja sudah berhasil membuat saya puas. Mungkin itu saja. Terima kasih atas waktunya.

    *Kasur pergi*

    *Naga merah in frame*

    Hel : Hey, namaku Hel. Kamu kok makan cokelat? Coba bagi ... oh iya mau nambahin komental dulu. Tambahannya, bikinin baju lobot naga, dong, Fata! Ya? yey! Bye, Fata~

    *Naga merah keluar*

    *Eophi bangun*

    Eophi : K, Fatanir ... nilainya tetap 8.

    ReplyDelete
  10. Woooh pak Po kece >.<
    pas saya ngeliat dari awal gimana fata sama avius udah csan sempet kepikiran gimana si Avius kalahnya. tapi ternyata konyol juga >.<

    interaksi fata-aviusnya juga kece.sebenernya hal favorit saya di bor bukan di battlenya, tapi interaksi antar karakter. dan karena ini bagus banget, ofc jadi poin plus yang luar biasa. ah well walau enggak kebayang sih avius bisa melankolis begitu pas di kafe #plak

    so, here's it.
    poin: 10

    salam hangat~

    Avius Solitarus

    ReplyDelete