22.6.15

[ROUND 1 - TEAM F] LO DMUN FAYLIM - PELARIAN AKASH: TITISAN

 LO DMUN FAYLIM - PELARIAN AKASH: TITISAN

Penulis: Jfudo





Hening.

Semua diam setelah mendengarkan penjelasan dari RNG, penyambut kedatangan mereka.

RNG berdiri di balik sebuah meja panjang yang terbuat dari kayu, dengan rak besar di belakangnya berisi botol-botol yang terbuat dari kaca. Di samping kiri meja terdapat sebuah papan besar dengan berbagai kertas menempel di atasnya.

Ruangan itu sendiri seperti sebuah bar, dengan furnitur serba kayu. Penerangan yang minimalis di situ turut menambahkan kesan klasik di dalamnya. Sesekali lampu itu meredup, lalu terang kembali. Energi di sana sepertinya sedikit tidak stabil.

Ruangan itu penuh dengan orang. Ada sekitar lima puluh orang di dalamnya dan semua diam tertegun. Sedikit tak menyangka akan kejadian-kejadian yang ada di sana. Bahkan sebagian besar mungkin tidak tahu untuk apa awalnya mereka berada di sana.

RNG, gadis cebol dengan pakaian pelaut warna biru itu menggendong seekor kucing yang ditaruh di depan dadanya, membiarkan kaki belakangnya menggantung bebas. Saat itu ia telah habis memberikan mereka informasi terkait pertarungan yang akan datang. Pertarungan berikutnya bisa menjadi ajang saling bunuh, bagi dirinya maupun seluruh rekan setimnya.

21.6.15

[ROUND 1 - TEAM E] MIMA SHIKI REID - MIND GAME

MIMA SHIKI REID - MIND GAME
Penulis:  Rakai Asaju
::
Ithacca, Apartment Downtown 506, kediaman keluarga Reid.
Sehari sebelum prelim BoR 5.


"Sayang," Mima berbisik lirih, "kau yakin..?"
Weasel menjawab pertanyaan Mima dengan belaian lembut di rambut istrinya. Kamar itu hanya diterangi lampu temaram, dan di atas ranjang yang berantakan, Weasel dan Mima berbalut selimut, saling bersandar satu sama lain. Jam digital berkedip lirih, menunjukkan pukul satu pagi.
"Ya, aku yakin. Aku percaya padamu."
Mima menelusupkan kepalanya di dada suaminya. Weasel menyambut dengan mendekapnya di dada, cukup erat untuk membuatnya merasa terlindung, tak terlalu kencang agar mampu bernapas.

20.6.15

[ROUND 1 - TEAM G] NEESHMA FRAUN - ANOMALI

[Round 1 - Team G] Neeshma Fraun - Anomali
Penulis: Jester

Tetes 4

Ini suara debur ombak. Ada siulan angin yang menerpa dedaunan kelapa dan permukaan air. Oh, ya, cicitan camar yang bersahutan seperti saat setiap pagi aku bangun dan menyapa lautan.
Ini juga aroma asin tubuh Bakhara yang tak pernah bosan hidungku menyambutnya, membuat senyum mengembang selalu. Kadang amis terselip dari ikan-ikan yang berkejaran, tak apa, aku juga menyukainya.
Percikan menimpa wajahku. Ada pula yang sampai ke lengan dan betis. Serta basah genangan air di ceruk karang tempatku biasa berdiri. Angin yang sama membimbing lengan dan tungkaiku untuk mulai menari. Mengibaskan kepala. Menelisipkan jemari di antara aliran udara. Langkahku tersusun spontan dengan pola gerakan yang bahkan tak pernah kupelajari, namun kurasakan ada. Dansaku teriringi sebuah orkestra yang mendadak disediakan oleh lautan. Sebuah simfoni abstrak menggantikan kuasa otakku memerintah tubuh.
Laut sedang merasuki diriku, dan bercinta dengan jiwaku di sana.

[ROUND 1 - TEAM B] FROST - PENJELAJAHAN HUTAN BEKU

[Round 1 - Team B] Frost – Penjelajahan Hutan Beku
Penulis: 8lackz

Suara sedotan kosong menyeruak, Frost telah menghabiskan gelas kedua dari suguhan susu kocok rasa bluberry tersebut. Satu demi satu seorang pelayan membawakan peserta kembali ke dalam bar. Ada yang pulang dalam keadaan pingsan seperti Frost sebelum ini, ada yang berjalan dengan sombongnya seakan mereka dengan mudah seorang diri mengalahkan Kuda Sembrani berapi.

“Sekali lagi, saya ucapkan selamat atas keberhasilan kalian dalam melewati babak penyisihan tadi. Perkenalkan, nama saya Anastasia, untuk saat ini saya bertugas untuk menyampaikan pengumuman resmi dan menjelaskan tugas kalian pada ronde pertama turnamen.”

Itu berarti… Kawanagi dan Haru tidak termasuk ke dalam ronde pertama. Frost hanya mendapati Mang Ujang satu-satunya kawan yang kembali dari babak penyisihan, dan saat ini pria tersebut tengah menikmati nasi, salad dan Lele goreng kering di sudut bar. Frost juga mendapati ia tetap makan walau matanya penuh dengan nafsu memandang rok mini Anastasia.

[ROUND 1 - TEAM C] CAITLIN ALSACE - HELVEGEN

[Round 1 - Team C] Caitlin Alsace - Helvegen
Penulis: Zoelkarnaen Herry

Tidak akan ada kejayaan dalam peperangan, hanya duka dan kematian yang akan tersisa.

Sejak Dietrich Alsace berhasil mengukir namanya dalam sejarah Midgard, terutama pada perang besar Ragnarok yang melibatkan Asgard dalam melawan armada Jötunheimr dan Loki, kami yang terlahir dalam keluarga Alsace seolah terus hidup dalam bayang-bayang Dietrich. Kami semua berusaha mengukir nama kami masing-masing dalam sejarah. Tujuan keluarga Alsace dalam peperangan di Septimus pun bukan lagi demi menghentikan Vincent, tapi agar kami dapat kembali bangga dalam mengibarkan panji-panji keluarga Alsace.

Namun sejak awal peperangan ini dimulai, tak sekalipun ada kejayaan dapat terlihat. Hanya duka dan kematian yang terus mendatangi keluarga ini. Dietrich, Sven, dan ayahku tewas, sementara itu Lana, Dale, dan Yngvie tak lagi diketahui rimbanya.

Kalau saja aku tak pernah terlahir di keluarga ini, mungkin saat ini aku hanyalah satu dari sekian banyak wanita biasa di Midgard. Tapi bukan berarti aku mengutuk takdirku yang terlahir sebagai Alsace, karena pilihan untuk meninggalkan peperangan dan segala omong kosong ini selalu ada.

[ROUND 1 - TEAM E] DYNA MIGHT - [BACKSTREET ENSEMBLE] QUANTUM SATIS

[Round 1 - Team E] Dyna Might - [Backstreet Ensemble] Quantum Satis
Penulis: Sam Riilme

WARNING : MATURE CONTENT AHEAD

Any violation to the OCs is for entertainment and not for offensive purpose. No one is actually harmed because this is merely a simulation within a fiction.

Intro

Semua ini terjadi pada suatu malam di sebuah kota di mana penduduknya mungkin tidak mengenal kata tidur.

Tuhan sudah menciptakan malam hari sebagai waktu bagi para hamba-Nya untuk beristirahat, namun sebagian manusia kelihatannya tidak sayang umur dan malah memperpanjang aktivitas mereka melebihi jam biologis yang sudah digariskan. Seandainya hidup mereka adalah baterai, usianya pasti berkurang karena kebiasaan charging yang tidak adekuat.

Tapi toh hidup memang hanya sesaat.

Berbekal pemikiran seperti itu, tidak heran rasanya kalau sebagian umat manusia memilih untuk mencari arti dengan waktu yang mereka miliki daripada terjebak dalam rutinitas sehari-hari seolah waktu tak pernah berganti.

Dyna Might adalah salah seorang yang memegang teguh prinsip 'nikmati waktu yang ada sepuasnya'.

16.6.15

[ROUND 1 - TEAM G] SANELIA NUR FIANI - SAM RILME'S CHAMBER OF SECRETS

Sanelia Nur FianiSam Rillme's Chamber of Secret
Penulis: Ichsan Leonhart


Turnamen semesta mereka bilang. Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang diinginkan, begitu mereka bilang.

Bullshit—, mereka hanya menginginkan sebuah pembantaian. Demi memuaskan nafsu sadistik dalam serangkaian pembunuhan.

Wajahku terpelotot ngeri menatap tiga sosok mayat tak bernyawa. Aku sudah membunuh mereka. Lenganku kotor oleh darah mereka yang dulu pernah kuanggap teman. Kami dipaksa bertarung sama lain. Battle of Realms ini tak lebih dari ajang sambung ayam.

Andai aku tak mengikuti peraturan… Andai setahun lalu itu aku tak mengikuti apa yang mereka inginkan.

[ROUND 1 - TEAM H] MEREDY FORGONE - HAHAHA, VERY PUNNY DINNER!

MEREDY FORGONE - HAHAHA, VERY PUNNY DINNER!
Penulis: BayeeAzaeeb





 Preparation

[Maaf, sesaat lalu terjadi gangguan pada server Alforea]
[Mohon permakluman atas gangguan yang terjadi. Kami telah memperbaiki gangguan tersebut]
[Happy playing~]

Meredy membaca sekilas tulisan besar yang melayang di langit Alforea. Lalu memperhatikan sekelilingnya, beberapa orang tampak sibuk membicarakan apa yang terjadi beberapa menit lalu.

"Rencanamu berhasil," ucap suara seseorang yang familiar.

Meredy menoleh ke arah suara tersebut. Tampak Kai sedang duduk santai di pinggir kolam air mancur di Alkima Plaza.

"Hahahaha, tadi itu benar-benar bodoh sekali!"

Kai tertawa, membayangkan pengalaman absurd yang ia lalui sesaat lalu. Ia tak menyangka bahwa mereka berhasil. Sempat terlintas di pikirannya kalau mereka ternyata gugur, namun ternyata mereka berdua berhasil keluar.

15.6.15

[ROUND 1 - TEAM F] RENGGO SINA - BADAI SALJU DI KOTA MATAHARI "LOS SOLEIL"


RENGGO SINA - BADAI SALJU DI KOTA MATAHARI 
Penulis: Mocha_H


--0--
The Dream
Tempat apa ini?

Itulah yang kutanyakan pada diriku sendiri ketika melihat kota besi itu. Aku berdiri di atas sebuah jalan raya yang terhalang oleh sebuah bangunan pecakar yang telah roboh. Di pinggir jalan raya itu, terdapat deretan bangunan dan tiang-tiang besi di samping sebuah trotoar besi pula. Satu-satunya hal yang tidak terbuat dari besi hanyalah bebatuan aspal di bawah kakiku yang telah lapuk menjadi  gundukan tanah.

Dari mana aku tahu gundukan tanah ini pernah berupa aspal?

Kubungkukkan tubuhku untuk mengambil segengam tanah. Benar, ada beberapa pecahan aspal tercampur di dalamnya. Kalau aku tahu tanah ini pernah menjadi aspal, apa itu berarti aku pernah di sini? Di kota besi tak berpenghuni ini?

Tidak, aku salah. Meski terlihat terlantar, aku merasa janggal jika mengatakan itu, seolah sebagian diriku mengatakan kota ini berpenghuni.

[ROUND 1 - TEAM E] MANG UJANG - GARIS LENGKUNG


MANG UJANG - GARIS LENGKUNG
Penulis: Uji Tuan Muda




Part 0 : Prolog

DESPERA BACK ALLEY
04:00 Pagi

Jika manusia dihadapkan pada kematian, apa hal terakhir yang akan dia ingat?

Mang Ujang, pria dengan wajah sendu itu tidak mengerti tentang kematian yang sebentar lagi akan menjemputnya. Tubuhnya tergeletak di atas tumpukan besi berkarat yang tersebar di antara gang-gang sempit Despera Back Alley, sementara kedua telapak tangannya mencengkram kuat bilah pisau yang beberapa sentimeter lagi menghantam jantungnya. Tentu saja darah segar sangat jelas mengalir deras membanjiri lengan Mang Ujang akibat robeknya kulit telapak tangannya.

"Si-siapa kamu sebenarnya?"

Sesosok pria dengan topi fedora menduduki tubuh bagian atas Mang Ujang. sorot matanya kosong sementara tubuhnya berguncang hebat. Tangannya yang menempel erat kepada gagang pisau belati itu gemetar tak karuan. Membuat sobekan pada telapak tangan Mang Ujang membesar.

"DIAM!" Teriak pria itu, sorot matanya kosong, namun kemarahan yang ditampilkan gurat wajahnya tampak jelas terlihat oleh Mang Ujang. "Jika membunuhmu adalah cara satu-satunya agar aku menang, maka aku tak akan segan untuk melakukannya!"

Mang Ujang hanya tergeletak lemas, darahnya sudah mengucur sangat deras. Bukan hanya keluar dari telapak tangannya, darahnya juga keluar dari sekujur tubuhnya; tangan, kaki, mulut dan yang paling parah adalah bagian belakang kepalanya. Ia tak bisa melawan,  tak bisa pula ia menahan terus-menerus bilah pisau belati itu. ia tahu apa yang dirasakan oleh orang di hadapannya. Membunuh, adalah jalan satu-satunya untuk mengakhiri kegilaan ini.