12.6.15

[ROUND 1 - TEAM A] BUN – HOT CAVE EXTRA CRISPY WITH MAGMA SAUCE, BUN~

Bun Journal - Hot Cave Extra Crispy With Magma Sauce, bun~
"There's nothing brighter than your dream, bro~"
Branze Journal, Page 15, Skyfall isle-Lightgard Colony
Penulis: Aki Firmansyah 

Introduction

Semerbak aroma kayu mahoni tercium begitu pekat. Menjadi salam pembuka di pagi yang—belum tentu—indah ini. Semilir angin sepoi bercampur hangatnya mentari pagi menerpa sekujur tubuh Bun tatkala jendela ruangan dibuka, berharap aroma kayu mahoni sirna terbawa angin.

"Se ... segarnyaaa, buuun~"

Bun menoleh berkeliling. Memperhatikan isi ruangan berdinding dan berlantaikan kayu mahoni. Luas, sangat luas. Lengkap dengan pelbagai macam perabotan yang biasa Bun lihat di sebuah penginapan di negeri kaum manusia. Sepertinya sih cukup untuk menampung pesta piama bersama sepupu-sepupu Bun.

Bun teringat mimpinya semalam, mimpinya terasa nyata walaupun yang bisa diingat hanya sebagian saja. Ada istana tua yang diapit dua menara kristal, terus peperangan besar, terus munculnya Monica dan Merrygold, sampai yang paling keren ketika muncul seekor kuda bersayap api dengan tanduk merah berkilauan yang berasal dari retakan rembulan, keren!


"Kuda besar benar-benar kereeeeen, bun~"
"Apalagi sayap api dan tanduk rubinya ... tapi, masa iya Bun bisa memanggil Petir?"

Entahlah. Bun saja masih bingung ini di mana. Seharusnya Bun mengikuti turnamen memasak Nomster Chef di kota Verdanhoof. Apa mungkin Bun telah sampai di penginapannya, atau mungkin Bun berada di tempat lain?

Di tengah kebingungan yang Bun rasakan, terdengar ketukan di balik pintu. Ketukannya merdu berirama. Bun membuka pintu ruangan dan terlihat pelayan berambut pirang dengan perawakan yang sedikit lebih tinggi dari Bun. Anehnya, sesuatu mengambang di atas kepalanya, sebuah simbol celemek di sisi kanan nama "Venomica".

"Kok ada sesuatu yang melayang di atas kepalanya, bun?"
"Selamat pagi dan selamat datang di Alforea."
"Eeeeeeh ... ke ... kenapa dia bisa bahasa gnome? Apa dia gnome juga, bun?"

Terlalu banyak pertanyaan yang ingin Bun lontarkan. Bahkan sebelum Bun tanyakan satu pertanyaan pun, tangan Bun malah ditarik oleh pelayan berambut pirang. Bun diseret paksa menuruni tangga menuju lantai terbawah penginapan.

            "Sebenarnya, apa yang sedang terjadi di sini, bun?"

***

Whinny Hores Tavern
Bun Journal, Page 1, Despera city-Alforea
           
Sesampainya di lantai dasar, Bun melihat begitu banyak makhluk pelbagai bentuk yang terpencar di seisi ruangan. Beberapa tampak tengah berdiskusi, ada yang tengah memesan minuman, namun ada pula yang sama-sama kebingungan seperti Bun.

Total ada empat puluh tujuh makhluk—termasuk kucing—yang bisa Bun rasakan keberadaannya di lantai dasar ini. Tidak termasuk Bun ataupun pelayan berpakaian seragam seperti Venomica yang ada di sekitaran tempat ini.

Anehnya, pelayan-pelayan lain pun memiliki nama yang mengambang di atas kepalanya dengan simbol celemek yang sama seperti Venomica. Sementara makhluk-makhluk yang terpencar sama sekali tidak memilikinya.
           
Bun memberanikan diri untuk bertanya kepada Venomica, berharap mendapatkan jawaban atas beberapa pertanyaannya.

            "No ... nona pelayan. Itu apa, bun?" telunjuk Bun menunjuk ke atas kepala sang pelayan.
            "Ah, maafkan sebelumnya. Sepertinya Bun belum mengetahui mengenai sistem yang ada di Alforea ini, benar?" Bun membalas dengan anggukan.
           
"Alforea? Apa itu nama tempat ini, bun?"

Pelayan Venomica mulai menjelaskan beberapa poin mengenai sistem dunia dan mengenai turnamen Battle Of Realms yang sedang berlangsung. Ia menunjukkan beberapa sihirnya, sesuatu muncul ketika ia menjentikkan jemarinya, sesuatu mirip jendela namun dipenuhi kata-kata dan informasi.

            "Alforea adalah nama planet ini, planet tempat berlangsungnya turnamen tahunan Battle Of Realms."
             "Turnamen tahunan? Apakah Battle Of Realms itu turnamen memasak seperti Nomster Chef, bun?" seru Bun polos.
            "Memasak? Jika yang dimaksud memasak lawanmu hingga mati, kuanggap ya!" balas pelayan sambil memiringkan kepalanya dan tersenyum manis.
            "Ma ... mati, bun?"

Isi kepala Bun seketika kosong. Kematian adalah sesuatu yang sangat menyedihkan bagi kaum gnome, hingga upacara kematian selalu diiringi nyanyian dan tarian untuk menutupi kesedihannya tersebut.
           
"Nama yang di atas kepala kami adalah identitas kami, sementara simbolnya merupakan petunjuk bahwa kami adalah seorang pelayan. Sistem universal kami mencoba memudahkan kalian, para kontestan dalam membedakan kontestan lain ataupun non-kontestan."
            "Lalu, a ... apa Venomica seorang gnome seperti Bun?" mencoba melupakan masalah kematian, "Mengapa Venomica mengerti bahasa kaum Bun, bun?"

Venomica terkikih geli, ia lantas menjawab dengan cubitan di kedua pipi tembam Bun. "Tentu saja tidak, sistem dunia Alforea akan secara otomatis menerjemahkan bahasa apapun menjadi bahasa yang lebih universal di Alforea, sehingga keterbatasan bahasa tak akan menjadi tembok pemisah bagi setiap kontestan."
           
Benak Bun masih berusaha mencerna perkataan Venomica. Antara mengerti dan tidak, Bun hanya bisa membalas dengan senyuman lebar.

            "Ada lagi yang ingin kau tanyakan?"
            Bun mengangguk—iya. "Pertanyaan terakhir, kenapa Bun ada di Alforea, bun?"
           
Venomica menunjuk ke arah pelayan lain yang kini tengah berdiri di depan meja bar. Rambutnya berwarna ungu panjang, simbolnya pun berbeda dengan Venomica, kali ini simbolnya sapu dengan nama "Anastasia" mengambang di atas kepalanya.

"Simbol sapu, apa dia seorang tukang bersih-bersih, bun?"

Beberapa orang mulai berkumpul di hadapannya. Bun sendiri mulai meninggalkan Venomica dan mendekati kerumunan yang sedang berkumpul. Bun dengan mudah menyelinap melewati sela-sela hingga akhirnya dapat berdiri di bagian terdepan kerumunan. Di samping Bun, seekor kucing duduk sembari menjilati lengannya yang berbulu hitam. Anastasia tengah berbicara kala itu, Bun tampaknya terlambat beberapa detik.

"Perkenalkan, nama saya Anastasia, untuk saat ini saya bertugas menyampaikan pengumuman resmi dan menjelaskan tugas kalian pada ronde pertama turnamen," seru pelayan bersimbol sapu.

Beberapa kontestan lain mulai meracau. Beberapa mempertanyakan tentang sosok lain yang semestinya berdiri di sana. Ada pula yang mempertanyakan kontestan lain yang menurut mereka semakin sedikit. Bun sama sekali tak mengerti.

Perlahan keadaan kedai mulai kacau, satu persatu kontestan melontarkan pertanyaannya, begitu pun kucing hitam di samping Bun yang mengeong meminta susu kepada Anastasia. Bun lantas ikut melontarkan keinginannya, meminta daging panggang dan makanan lezat lainnya.

***

Pelayan Anastasia tampak kelelahan. Ia menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya beberapa kali. Ia hanyalah panitia yang ditugaskan untuk menyampaikan informasi mengenai ronde pertama saja, bukan Customer Service yang bisa menjawab apapun keluhan mereka.

Anastasia menepukkan kedua telapak tangannya, layar-layar hologram perlahan bermunculan di sekitarnya. Ada yang menunjukkan data statistik, gambar, peta Alforea, juga daftar nama kontestan yang berada di dalam kedai. Namun yang paling menarik perhatian adalah delapan video hologram besar di balik Anastasia yang menunjukkan tempat-tempat berbeda.

"Baiklah, saya akan mulai menjelaskan tentang misi kalian pada ronde pertama!"

Para kontestan lantas menghentikan racauannya. Mereka mulai tertarik dengan tempat-tempat yang ditampilkan. Anastasia tersenyum lega, ia kemudian menjelaskan dengan semangat misi Ronde pertama kali ini.

"Pada Ronde pertama turnamen, kalian akan dikirim dalam kelompok yang akan ditentukan oleh RNG-sama. Kalian akan melakukan pertandingan yang akan berlokasi pada salah satu tempat yang telah kami siapkan."

Beberapa kontestan mulai kembali bersemangat, beberapa dari mereka kembali ricuh membicarakan tempat yang mereka inginkan. Namun si kucing hitam mengeong melontarkan pertanyaannya.

"Siapa RNG-sama, meow?"

Pintu kedai terbuka lebar. Pancaran sinar mentari pagi menyilaukan siapa pun yang menatap ke arah pintu tersebut. Siluet mungil tampak di antara pancaran cahaya mentari, ia menari-nari bersama siluet kucing di sampingnya.

"Ada yang memanggilku, num?"

***

Remang!
Bun sulit melihat dengan jelas jika cahaya penerangannya seminim ini. Lalu, mengapa yang lainnya menoleh ke belakang? Apa mungkin karena anak perempuan bersama kucingnya yang sedari tadi menunggu di luar sana?

Sejak awal Bun sudah merasakan keberadaannya. Justru Bun bingung, mengapa ia tak masuk saja ke dalam kedai. Mengapa harus menunggu cukup lama?

Bun memutuskan untuk berjalan memutar mengikuti si kucing hitam, penasaran ingin melihat juga. Namun belum juga beberapa langkah, sosok anak perempuan melompat tinggi melewati meja-meja dan kini berdiri di atas meja bar di samping pelayan Anastasia, ia mengangkat tangan kanan mungilnya dan mulai menyapa.

            "Hai, num~"

Beberapa pasang mata terkejut dengan apa yang mereka lihat. Beberapa lainnya kembali meracau. Namun ada pula yang berteriak mempertanyakan lisensi. Bun sama sekali tidak mengerti.
           
            "Hooo ... ada sepupu gnome lain juga, bun~"
"Apa dia berasal dari pegunungan lain, bun?"

            "Perkenalkan, kalian bisa memanggilku RNG-sama, karena sementara ini Tamon Ruu dan Hewanurma sedang tidak bisa hadir, maka aku yang akan mengatur pembagian tim untuk ronde pertama ini, num~"
           
RNG-sama menjelaskan dengan wajah datar. Simbol dadu di samping nama "RNG-sama" mengambang di atas kepala mungilnya. Topi bundar berpita hijau dan pakaian putih dengan aksen warna yang sama lekat ia kenakan. Tak lupa Ia mengangkat tinggi-tinggi tungkai depan kucing berbulu putihnya.

            "Seperti yang kalian lihat pada layar, untuk pertarungan kali ini kalian akan dikirim ke berbagai tempat yang berbeda, setiap tempat memiliki keunikan tersendiri, tapi aku bisa yakinkan kalau semuanya sangat berbahaya," Anastasia melanjutkan.

Bun tertunduk untuk sesaat, ia tak yakin ingin mengikuti turnamen berbahaya ini atau berhenti saat itu juga. Namun begitu, darah petualang keluarga Ol'Dweller dalam dirinya perlahan bergolak, memompa rangsangan bertualangnya hingga tubuhnya lebih bersemangat dari biasanya.
           
            "Lalu apa yang harus kami lakukan di sana?"
           
Seorang kontestan kembali melontarkan pertanyaan. Pertanyaan yang mungkin mencuat juga di setiap benak kontestan lainnya. RNG-sama bergerak satu langkah seraya menyela Anastasia yang siap menjawab pertanyaan dari kontestan tersebut.     

            "Kalian harus saling membunuh hingga hanya satu orang yang tersisa, num~"

Aura hitam mulai menyebar dari tubuh mungil RNG-sama. Beberapa peserta tertegun dalam keheningan. Bun pun ikut tertegun mencoba menolak sensasi tubuhnya yang semakin meluap penuh semangat kala mendengar kata "membunuh". Bun memberanikan diri melontarkan pertanyaan ke arah RNG-sama.

            "Ma ... maksudmu kami dikirim ke sana dalam tim hanya untuk saling bunuh?! Permainan macam apa ini, BUN?!"

            "Oke, abaikan makhluk tidak penting ini, kalian tidak perlu sampai membunuh peserta lain, jika kalian bisa membuat mereka mengaku kalah atau menghajar mereka sampai pingsan, itu sudah cukup," Anastasia kembali menjelaskan.

Mendengar hal tersebut, sebagian peserta tampak bernapas lega. Namun tidak dengan Bun yang tengah berupaya melawan gejolak sensasi penuh semangat dalam dirinya. Memasak dan makan jauh lebih baik baginya, ketimbang harus bertarung hingga mati, pikirnya.
           
Beberapa pelayan dengan simbol celemek berjalan dan berbaris rapi di belakang Anastasia dan RNG-sama. Salah satunya Venomica yang melambaikan tangannya ke arah Bun. Bun membalas dengan senyuman.
           
"Untuk detail misi akan dijelaskan oleh pemandu masing-masing tim sebelum berangkat ke tempat pertarungan, kalian punya waktu sampai besok pagi, jadi beristirahatlah yang cukup,"

Anastasia dan pelayan lainnya membungkuk memberi hormat pada para peserta, kemudian melangkah keluar dari kedai, sementara RNG-sama mengekor di belakang. Kontestan lain mulai berpencar meninggalkan kedai, sementara Bun masih berdiri kebingungan.

Tersedia cukup banyak waktu bagi Bun untuk mempersiapkan dirinya dalam petualangannya esok hari, atau, melarikan diri dari tempat ini. Bun masih bingung dengan ketentuan turnamen. Ia memutuskan untuk berlari mengejar para pelayan ke luar kedai.
           
"Tu ... tunggu pelayan Venomica ... ada yang ingin Bun tanyakan, bun~"

Pelayan Venomica menoleh ke arah Bun yang semakin mendekat. Kecepatan larinya bisa dikatakan sangat cepat bagi seorang bocah kelebihan berat badan seperti Bun.
           
            "Kenapa Bun?"
            "Ba ... bagaimana jika Bun tak ingin mengikuti turnamen ini? apa boleh Bun berhenti dan keluar saja dari sini, bun?"
            RNG-sama lagi-lagi menyela, ia menunjuk Bun menggunakan cakar si kucing putih. "Mati saja kau bocah gemuk, num!" RNG-sama berbalik, diikuti gelengan dari Venomica dan tundukkan kepala tanda pamit—atau mungkin maaf.
           
Bun tersentak mendengar jawaban dari RNG-sama. Tampaknya tak ada jalan keluar yang aman untuk berhenti ataupun tidak mengikuti turnamen ini. Yang masih mengganjal dalam benak Bun hanyalah satu. Mengapa dia terpilih dan berada di Alforea? Apakah dia layak menjadi salah satu yang terpilih?

***

Dilemma
Bun Journal, Page 6, Despera City-Alforea

Masih ada cukup waktu bagi para kontestan turnamen untuk mempersiapkan diri mereka dan beristirahat. Bun sendiri tertunduk lesu memikirkan pertanyaan terakhir yang mengganjal di benaknya. Sekembalinya ia di ruangan penginapan, Bun hanya bisa berdiam diri di atas kasur putih, sendirian.
           
            "Turnamen, pertarungan, kematian, bun?"
            "Mengapa Bun berakhir di tempat seperti ini, bun?"
            "Apakah paman Branze selalu melewati keadaan seperti ini, bun?"

Bun tertegun untuk sesaat. Ia memutuskan untuk mengambil jurnal milik paman Branze. Beberapa kali ia membuka lembar demi lembar halaman. Membaca cepat untuk mencari tahu petualangan apa saja yang pernah dilakukan oleh Pamannya tersebut.

Di halaman empat puluh tiga, Paman Branze bergelut dengan kematian ketika dirinya terjebak dalam tebing sempit tanpa makanan. Lalu di halaman dua puluh tujuh, Paman Branze melarikan diri melewati beberapa jebakan di sebuah benteng kematian. Dan di halaman lima belas, Paman Branze melompat tinggi dari atas pulau melayang menuju daratan yang berpuluh ribu kaki di bawahnya.

Bun perlahan termotivasi oleh aksi dan petualangan pamannya tersebut. Sudah lama sekali ia mengidolakan pamannya. Sebagai pahlawan kaum gnome, dan sosok yang selalu membawa hal-hal dan pengalaman baru, ia bermimpi ingin menjadi sepertinya suatu saat nanti.

            "Mu ... mungkinkah sekarang waktunya, bun?"
            "Apa sekarang waktu yang tepat bagi Bun untuk menulis jurnal petualangan, bun?"

Bun perlahan meyakinkan dirinya dan mulai menghilangkan keraguan dalam hatinya. Justru kini Bun mulai menerima semangat menggelora yang menggebu-gebu. Bun lantas mengambil tas ranselnya dan berlari meninggalkan kedai penginapan. Ia memutuskan untuk mempersiapkan dirinya. Makanan dan minuman adalah bekal yang pertama kali Bun pikirkan.

***

Conclusion
Bun Journal, Page 7, Despera City-Alforea

Setelah melewati hari penuh kebingungan dan malam dengan pelbagai macam makanan dan minuman yang disediakan oleh pemilik kedai, tibalah hari yang cukup mendebarkan dan ditunggu-tunggu oleh Bun.

Bangun lebih pagi dari biasanya, Bun bergegas mengambil perlengkapannya dan mempersiapkan diri. Sepotong—lima lapis—roti dengan selai madu, dan beberapa cemilan—daging babi buntung—menjadi menu pembuka di pagi hari.

Ketika Pelayan Venomica hendak mengetuk pintu ruangan, Bun justru terlebih dahulu membuka pintu ruangannya. Bun lantas melontarkan senyuman paling lebar ke arah Venomica dan mulai menyapanya.

            "Selamat pagi Venomica, bun~"
            "Waaa ... kau tampak bersemangat sekali, Bun!"

Bun mengangguk dan mulai berjalan bersama Venomica menuju lantai dasar tempat kontestan lainnya berkumpul. Tampak beberapa kontestan lainnya pun telah mempersiapkan diri mereka. Di atas mimbar, berdirilah RNG-sama didampingi kucing putih setianya dan pelayan Anastasia.

Pelayan Venomica meninggalkan Bun dan mulai berkumpul dengan pelayan lainnya di belakang RNG-sama dan Anastasia. Mereka masih menunggu beberapa kontestan dan beberapa pelayan yang masih belum berkumpul sepenuhnya, terlihat dari jumlah pelayan dan kontestan yang belum lengkap.

Hati Bun semakin deg-degan. Gejolak semangat kembali menggelora ketika seluruh kontestan telah berkumpul dan tiba saatnya untuk mulai menentukan masing-masing tim dan tempat yang akan mereka tuju. Bun berdiri paling depan—di samping kucing hitam, lagi—dan siap dengan segala kemungkinan dan konsekuensi yang akan ia dapatkan.
           
            "Baiklah, kalian semua sudah siap kan, num?"

Bun dan beberapa kontestan menjawabnya dengan teriakan penuh semangat. Pelayan Anastasia dan beberapa pelayan lainnya tampak tersenyum mendengar respons yang sangat positif tersebut. Ia hanya berharap RNG-sama tak menghancurkan semangat mereka.

Di lain pihak, RNG-sama memulai tugasnya. Ia menyentuh udara dan mulai memunculkan hologram digital. Di sisi kanannya tampak berderet tempat-tempat yang akan menjadi destinasi para kontestan. Di sisi kirinya tampak tulisan-tulisan dengan kotak yang belum terisi berjejer rapi. Namun agak sulit Bun baca. Sementara di hadapan RNG-sama, tampak hologram seloki berisi dadu pelbagai bentuk.

            "It's random time, num~"

Hologram seloki tampak menutupi beberapa dadu di bawahnya. RNG-sama mulai menari-nari bersama kucing putihnya diikuti bergeraknya seloki hologram. Satu persatu tulisan di sisi kirinya mulai terisi oleh nama-nama kontestan. Sepuluh detik berlalu dan deretan kotak di sisi kirinya kini telah terisi penuh.
           
Tangan RNG-sama lincah menari-nari di hadapan hologram. Lincah menentukan pembagian tim dan tempat. Beberapa kontestan tampak terpukau dengan atraksi RNG-sama. Termasuk Bun yang menatap penuh takjub.

            "Baiklah, pembagian tim telah selesai, num~"
            "Selamat menikmati pembantaian hari ini, num~"

***

Team A
Bun Journal, Page 9, Despera City-Alforea

Bun, Kazuki Tsukishiro, Stellene, Kumirun, Puppet, Lexia, adalah daftar yang muncul sebagai tim A. Dipandu oleh Pelayan Venomica, Para Kontestan mulai diberikan petunjuk mengenai misi ronde pertama. Sebuah hologram muncul di depan masing-masing kontestan, memunculkan pelayan pemandu masing-masing tim yang memberikan arahan.

"Bertempat di sebuah gua bekas pertambangan yang ditinggalkan karena bencana alam. Kontestan akan di sebar ke berbagai titik yang berbeda dan harus mencari jalannya sendiri di dalam tambang."

"Tambang ini dilengkapi dengan penerangan minim yang masih aktif dan peta tambang di berbagai tempat. Bunuh atau buat kontestan lain kehilangan kesadarannya. Jika tidak, jadilah yang terakhir bertahan hidup."

"Mengenai informasi tambahan lainnya, tidak akan kami berikan sebelum kalian menerima misi ini dan berada di lokasi yang telah ditentukan. Pilih opsi 'Terima misi' untuk melanjutkan"

Perlahan, keadaan kedai yang sebelumnya ramai berangsur sepi. Satu persatu kontestan menerima misi mereka dan dalam sekejap lenyap dari tempatnya. Bun dapat merasakan lenyapnya beberapa kontestan di sekitarnya. Sementara ia sendiri masih sibuk dengan persiapannya, takut ada sesuatu yang tertinggal.

Bekal makanan, bekal minuman, alat masak, semuanya lengkap. Bun lantas memijit opsi "Terima misi" dan mulai lenyap meninggalkan kedai.

***

The Journey Begin
Bun Journal, Page 10, Managua Gem's Cave-Alforea

"Selamat datang di Managua Gem's Cave. Pelayan Venomica di sini siap memberikan petunjuk terakhir bagi anda." Layar hologram Venomica muncul di depan Bun yang baru saja sampai di Managua.

Bun tersenyum lebar, sempat tak mendengarkan arahan Venomica untuk sesaat. Bun berdiri di atas sebuah jalan setapak yang dipenuhi bebatuan warna-warni di sekelilingnya. Bun melemahkan indra perasanya. Ia terlalu takjub dengan keadaan di sekelilingnya hingga melupakan arahan terakhir dari Pelayan Venomica.

"Berhati-hatilah, kalian tidak hanya ber-enam saja di dalam gua ini."
"Dan bergegaslah, sebelum hawa panas melelehkan kalian semua"

"Indahnyaaaaaa, bun~"

Sesuatu merayap di atas tanah. Merayap mendekati Bun secara perlahan. Bun masih tertegun dengan keindahan isi gua yang sukses membuat tubuhnya semakin bersemangat. Hingga akhirnya sesuatu menyadarkannya. Sesuatu sukses mencengkeram kaki kanannya hingga secara otomatis menguatkan indra perasa Bun kembali seperti semula.

Bun dapat merasakan dengan jelas, kehadiran makhluk-makhluk kikuk yang berjalan pincang ke arahnya. Juga tangan yang menyembul dari bawah tanah dan mengunci pergerakannya. Bun menjerit panik, di tengah gua yang minim penerangan, salam hangat dari makhluk penghuni gua sukses menakutinya.

            "Buuuuuuuun, ta ... . tangan buntung, buuuuuuun!"

Bun berusaha melepaskan tangan yang menjerat kakinya, Ia menginjak telapak tangan tersebut menggunakan kakinya yang lain dan berlari menjauh setelah jeratan tersebut berhasil terlepas.

Sebelumnya, Bun tak yakin jika harus membunuh atau menghilangkan kesadaran seseorang. Bun lebih memilih opsi untuk menjadi yang terakhir bertahan hidup. Namun setelah kejadian tersebut, tampaknya akan sulit baginya untuk menjadi yang terakhir bertahan hidup.

Bun berlari melewati beberapa jalan kecil dan mulai menghindari makhluk-makhluk kikuk. Berbekal indra perasanya yang sangat peka dan pengalaman yang cukup lama—sejak lahir—berada di tempat berbatu dan tinggal di dalam gua, Bun kembali memantapkan hatinya serta siap dengan tantangan apapun.

***

"Menyingkir dari hadapanku, Bangsat!"

Lex menyabet-nyabetkan parangnya. Beberapa potong daging bergelimpangan di sekitarnya, namun serangannya sama sekali tidak menghentikan gerakkan mayat hidup tak berotak yang terus menerus memburunya. Ialah Lexia Gradlouis. Tubuhnya tinggi semampai, rambutnya cokelat kuncir kuda, dan perawakannya bak super model terkenal dari Paris.

Namun Bukan, ia bukanlah super model yang senang berjalan di catwalk ataupun model majalah Sekesek. Ia seorang pemburu harta purna waktu yang menjadi salah satu kontestan dari tim A. Berbekal parang, cambuk, dan pistol, ia bermaksud mencari sesuatu yang berharga di tengah misi ronde pertama ini.

Ya, di tengah gua penuh bebatuan mulia yang berharga tinggi—dan mayat hidup berpakaian bak penambang yang memburunya—pastilah ada harta terpendam yang bisa ia dapatkan. Ia yakin. Instingnya kuat merasakannya.

            "The heart of a mountain. Aku harus mencarinya."

Berbekal obor di tangan kirinya, gulungan peta yang diselipkan di pinggang, dan cambuk di tangan kanannya—setelah sebelumnya parangnya ia sarungkan—Lex siap memulai ekspedisinya.

Ia memecut beberapa lampu minyak yang tergantung di dinding hingga terjatuh dan menumpahkan minyaknya hingga menggenang di atas tanah. Ia kemudian melesatkan cambuknya ke atas kayu penopang langit-langit dan mulai mengayun melewati beberapa mayat hidup seraya melemparkan obor yang ada di tangannya. Minyak yang menggenang seketika meledak membakar hangus mayat-mayat hidup di sekitarnya.

            "Great!"

Lex tersenyum angkuh setelah sukses mendarat dengan selamat. Namun senyumnya seketika sirna ketika ia menoleh ke belakang. Beberapa mayat hidup berhasil ia bakar habis, namun mereka yang tersisa justru mulai berlari cepat ke arahnya. Tubuhnya diselimuti api yang membara dan berlari dengan kecepatan yang bahkan dapat mengalahkan kecepatan berlari Usain bolt.

Lex terkejut bukan kepalang. Ia lantas berlari melewati lorong-lorong berbatu dan melewati celah sempit meninggalkan mayat berapi yang mengejarnya. Napasnya terengah tak karuan dan tubuhnya gemetar untuk sesaat. Membayangkan mayat hidup berlari secepat kuda jingkrak jelas sangat mengerikan.

Dan pada saat itulah, Lex berjumpa dengan kontestan lain dari tim A.

***

            "Harus cepat ... harus cepat mengalahkan mereka!"

Keringat membasahi hampir sekujur tubuhnya. Napasnya pun terengah tak karuan. Kaz berusaha meniti jalan sempit yang menanjak menuju bagian atas gua. Sial, ia dipindahkan ke bagian terbawah gua dekat dengan danau magma yang meletup-letup—aktif.

Ia belum menemukan satu pun kontestan tim A lainnya, pun bertemu dengan mayat hidup yang diceritakan oleh pelayan Venomica. Namun lokasi penempatannya yang begitu dekat dengan magma yang meluap dan perlahan naik mengakibatkan sulit baginya untuk bernapas. Pengap, panas, dan berkeringat sungguh menjengkelkannya.

Kaz berhenti untuk sesaat. Ia membaca peta tua usang dan berdebu yang tertempel pada dinding gua. Ia memeriksa dengan saksama peta tersebut sampai akhirnya ia hafal denah peta secara keseluruhan.

Kaz lantas melanjutkan menaiki jalan setapak menuju lantai teratas. Menuju sebuah ruangan yang dipenuhi perlengkapan menambang. Bau mesiu menyeruak dan sebuah tanda tergantung di depan pintu gerbang yang reyot dan telah terbuka. Kaz yakin bahwa tempat tersebutlah yang ia tuju.

"Beware!"
"Explotion."

***

            "Kampret banget dah ini mayit-mayit yang pada idup lagi!"
            "Pada minta di getok pake kampak kali yeee?"
            "Coba gue masih mude, udah gue patah-patahin tuh atu-atu!"

Si Engkong Kumirun mengendap-endap. Berusaha melewati beberapa mayat hidup yang menghalangi jalannya. Namun suara nyaring dari balik tubuhnya—bercampur aroma gas yang menyengat—sontak menyadarkan mereka. Perlahan mereka mendekati Kong Kumirun, siap menyerangnya dari satu arah.

            "Ah ... peduli bangke dah!"
            "Lu ... lu ... lu ... dan lu ... sini lu semuanye, ga tau ape, lupada lagi ngelawan jawara seibukote!?"
           
Kong Kumirun berniat mengambil sebuah alat tambang yang tak jauh dari dirinya. Namun baru saja ia menunduk untuk menggapai alat tambang tersebut, penyakit pinggangnya kumat hingga membuatnya tak bisa bergerak untuk beberapa saat.

            "Eh anying, encok gue kambuh. Ngiluuuu!"

Mati kutu. Kong Kumirun menarik senapannya dan mulai menembakkan beberapa peluru yang tersisa ke arah mayat-mayat hidup. Serangannya meleset dari sasaran, namun masih mengenai mayat hidup lain yang berdiri tak jauh dari targetnya. Matanya terlalu rabun untuk memfokuskan tembakannya.

Tiga dari lima mayat hidup berhasil ia lumpuhkan. Namun begitu sisanya perlahan semakin mendekat. Kong Kumirun masih sulit untuk bergerak sementara peluru dalam senapannya telah habis. Ia memutuskan untuk menggunakan tongkat berjalannya sebagai senjata alternatif terakhir.

Kong Kumirun berhasil menjatuhkan salah satu mayat hidup. Namun satu yang terakhir meraihnya. Tangannya mencengkeram erat pundak Kong Kumirun dan mulutnya mulai menganga siap menyantap si Engkong.

            "Astagfirullah, selamatkan hambamu ini ya Allah."
           
Kong Kumirun terbawa mundur beberapa langkah hingga terpojok di dinding, sementara mayat hidup telah mengambil ancang-ancang untuk menggigitnya. Kumirun sendiri meminta pertolongan kepada Tuhan—YME. Namun pertolongan yang di tunggu-tunggu tak kunjung datang.

Leher bagian kiri Kumirun terkena gigitan si Mayat Hidup. Kumirun lantas mendorong jatuh mayat hidup sambil mengerang nyeri. Encoknya lenyap di saat yang tidak tepat. Ia lantas mengambil alat tambang dan mulai mengayunkannya ke bagian kepala si mayat hidup.

            "Mati lu mayit!"

Napas Kumirun terengah tak beraturan. Tubuhnya terasa semakin memanas dan luka di lehernya terus menerus mengeluarkan darah. Kumirun memutuskan untuk beristirahat sejenak sembari menutup luka di lehernya menggunakan kain seadanya.

Namun Kong Kumirun tak bisa beristirahat begitu saja. Sekelompok mayat hidup kembali terlihat dan perlahan mendekatinya. Ia menghela napas panjang.
           
"Sialan!"

***

            "Surga ... tempat ini surga!"

Tangannya meraih berbagai macam batuan berwarna yang tersimpan di gudang penyimpanan. Beberapa ia masukkan ke dalam tas pinggangnya setelah memilah kualitasnya. Sosok berkaca mata yang kini tengah sibuk dengan berbagai batuan tersebut tak lain adalah Stella. Tubuhnya ramping, dan rambutnya pendek berwarna hitam kebiruan.

Di samping tubuhnya tergeletak sebuah tongkat panjang dengan ujung berbentuk bulan sabit. Ia mencoba mengumpulkan beberapa buah batuan berharga. Ia adalah seorang ahli bebatuan—Jeweller—dan bebatuan tersebut bisa dikatakan sebagai amunisi utama yang ia gunakan dalam bertarung.

            "Sekalian saja ku amplifikasi beberapa batuannya."

Ia meraih tongkatnya, lantas melakukan sihir amplifikasinya kepada beberapa batuan merah, biru, dan kuning. Namun baru beberapa batu yang ia amplifikasi, seseorang menegurnya dari samping. Dari sebuah celah retakan yang lumayan sempit.

"Culween's Most Brightness Amplifications~"
            Amplify!

            "Hooo ... gudang harta. Maukah dirimu berbagi sebagian hartanya denganku?" Lexia menatap angkuh Stella yang sontak berdiri dan memasang kuda-kuda siaga.
            "Ah ya ... siapa namamu, gadis cantik?"

Stella mulai merapalkan mantra hingga membuat tiga batuan merah melayang layang. Lex tampak bersiaga dengan cambuk dan parang yang siap ia hunuskan. Ia lantas mendekatinya, berjalan perlahan menuju Stella.

            "Namaku Stella ... dan aku ... AKU LAKI-LAKI!" Balasnya seraya melesatkan serangannya.

***

Bun berlari dan terus berlari melewati beberapa batuan. Ia menyelinap melalui celah-celah retakan di dinding, dan naik turun tangga. Bermodalkan indra perasa getaran buminya yang sangat peka, tanpa lelah ia terus berlari menghindari hadangan mayat hidup. Tubuhnya sama sekali tidak lelah, namun perutnya perlahan mulai kosong. Ia memutuskan untuk beristirahat di tempat yang cukup aman yang telah ia lewati beberapa kali.

Sampailah Bun di sebuah tebing curam tempat seorang gadis tengah duduk menatap ke arah danau magma. Ia duduk di ujung tebing sambil bersenandung bersama boneka—mirip—pandanya. Ia terlihat tak takut sama sekali, sekalipun jauh di bawahnya adalah danau magma yang meletup-letup.

Bun tak merasakan hawa jahat ataupun intensi buruk dari gadis tersebut. Ia lantas berjalan perlahan dan mulai menyapanya.

            "Ha ... hai ... bun~"

Si Gadis menoleh dan tersenyum ke arah Bun, ia lantas berdiri dan mendekati Bun. Jalannya pelan, dan agak kaku. Mungkin karena itulah ia memutuskan untuk berdiam diri di satu tempat dan menunggu.

            "Imutnyaaaa ... siapa namamu, adik kecil? Apa kamu peserta turnamen juga?"

Bun mengangguk—ya—dan memperkenalkan dirinya. Si gadis mendekati Bun kemudian berjongkok dan mencubit pipi tembam Bun. Bun hanya tersenyum geli. Ia lantas melepaskan matras yang tergantung di atas ranselnya dan mulai menggelarnya.

            "Na ... namamu siapa, bun?"
            "Eumenides. Namun panggil saja Puppet," balasnya singkat.
            "Nama yang aneh, bun~"

Bun lantas duduk di atas matras. Ia mengeluarkan bekal makanan dan minumannya. Beberapa buah roti lapis besar dan susu madu ia letakkan di atas matras.

            "Umm ... apa yang tengah Puppet lakukan di ujung tebing seperti itu?"
            "Memerhatikan pulau di ujung jembatan itu," Puppet menunjuk sebuah jembatan yang mengapung menuju pulau kecil di tengah danau magma. "Ada sesuatu yang aneh dengan pulaunya."
           
Bun meraih sebuah roti lapis, ia lantas mengangguk—setuju—seraya menjelaskan beberapa hal yang ia ketahui ketika ia berlari menghindari makhluk-makhluk kikuk. Tak lupa pula ia menawarkan roti lapisnya.
           
            "Ah, tadi Bun pergi ke sana. Bun pikir bisa bersembunyi di dalam lubang itu, tapi ternyata terlalu banyak makhluk kikuk yang menghadang Bun, bun~"
"Ah ya ... Puppet mau coba roti lapis buatan Bun, bun?"

Puppet menggeleng—tidak. Ia semakin gemas melihat tingkah polah Bun yang polos dan makan bekal makannya dengan rakus. Tak butuh waktu lama bagi Bun untuk menghabiskan sebuah roti lapis besarnya, dan di saat Bun meraih botol minumnya, sesuatu bergetar dahsyat hingga botol minumnya hampir tumpah. Puppet berhasil menangkap botol minum Bun. Ia lantas memberikannya kepada Bun.

            "Sepertinya, pertarungan tengah terjadi di atas sana."

***

Incident
Bun Journal, Page 16, Managua Gem's Cave-Alforea

"Buluphont's Blazon Incineration~"
Fireblast!

Lex terhempas jauh hingga tubuhnya membentur dinding gua. Napasnya terengah cepat bercampur darah yang mengucur di ujung bibirnya. Bekas tendangan di wajah, dan luka bakar ringan jelas terlihat di pundak kanannya.

            "Lumayan juga untuk gadis manja sepertimu, Stella!" Lex mengelap noda darahnya.

Stella memicingkan matanya, fokusnya tertuju kepada lawannya yang sedari tadi menyebutnya "Gadis". Tangan kanannya menggenggam tongkat rembulan, sementara tangan kirinya siap dengan beberapa batuan yang telah di amplifikasi.

Di lain pihak, Lex berjalan perlahan dengan cambuk yang siap dimainkan. Senyum di wajahnya tampak licik, dan mulutnya masih meracau memanggil lawannya gadis manja.

            "Dirimu tamak juga, huh ... gadis manja. Jika tak mau berbagi, ya sudah."

Lex berbalik berniat meninggalkan Stella. Stella masih bersiaga walaupun pertahanannya ia turunkan sedikit demi sedikit. Di saat Stella sepenuhnya lengah, saat itulah Lex bertindak.

Lex memainkan cambuknya. Ia sukses meraih tongkat rembulan Stella dan menariknya dari tangan Stella. Stella terkejut untuk sesaat, sebelum kemudian ia rapalkan mantra hingga membuat tiga batu biru di tangan kirinya melayang-layang.

"Sadron's Tidious Navale~"
Tide Wave!

Stella melancarkan serangan air. Ia membentuk air dari butir-butir ion di udara dan mengarahkannya ke arah Lex. Lex tersudut oleh serangan gelombang air yang menerjangnya. Ia berusaha menahan napasnya dan mencari celah melarikan diri, namun tekanan air yang begitu deras menahannya di sela-sela retakan gua.

Stella lantas berlari dan mengeluarkan beberapa butir batuan lain yang berwarna kuning dan merah. Sekali lagi ia merapalkan mantranya hingga mengakibatkan dua batuan kuning dan satu batuan merah melayang di atas kepalanya.

            "Gaster's Mandate of Impetuous Strife~"
Alacrity!

Tubuh Stella kini dilingkupi energi yang berasal dari bebatuan sihirnya. Kilatan listrik menari-nari di sekujur kulit sementara kaki kanannya dilingkupi api dan listrik. Stella melompat tinggi. Bak melayang di atas udara untuk beberapa detik, Stella menukik tajam dengan kaki kanan yang siap menerjang tubuh lawannya.

Belum selesai dengan serangan gelombang air yang menyudutkannya, Lex kini menerima tendangan Stella telak di wajahnya—lagi. Ia terhempas jauh terdorong kekuatan tendangan Stella yang teramat kuat. Tubuhnya terhempas, berguling beberapa kali, dan tergerus lantai gua. Darah kembali mengucur dari hidung dan ujung bibirnya.

            "Jadi, siapa yang kau sebut gadis manja? MANJA!"

Stella berjalan mendekati Lex. Ia menendang jauh senapan miliknya, dan mengambil kembali tongkat rembulan miliknya. Ia meludah ke arah Lex yang tampak tak sadarkan diri dan mulai berbalik seraya kembali ke ruangan penuh bebatuan mulia.

            "Sisa empat. Sial, aku harus mengulang proses amplifikasinya lagi."

Dan di saat ada kesempatan inilah, Lex terbangun dan tersenyum licik. Ia meraih cambuknya, seraya melompat dan melilitkan cambuknya pada leher Stella. Lex kemudian menarik tubuh lawannya—ke arahnya—dan menekan punggungnya menggunakan lutut kanannya. Kedua tangan Stella di kunci rapat, sementara lehernya sesak terjerat cambuk yang melilit dan menekannya.

            "Kaget, huh? Gadis manja?"
           
Lex mengunci tubuh Stella hingga kondisinya perlahan melemah. Jeratan di leher dan tekukan di punggungnya berhasil hingga tongkat yang di genggam Stella terjatuh. Dalam hitungan beberapa menit, darah mengucur dari hidung Stella dan tubuhnya seketika kehabisan tenaga. Stella tewas dengan luka jeratan pada lehernya.

Lex lantas berdiri, mengambil senapan miliknya dan mengambil tongkat rembulan yang tergeletak di samping mayat lawan. Ia menatap kasihan lawannya yang berbaring terbujur kaku. Lex kemudian menancapkan tongkat rembulan menembus telapak tangan kirinya dan meninggalkannya.

Lex berjalan ke arah ruangan harta dan mulai mencari "The Heart of Mountain" yang menjadi tujuan lainnya setelah menyelesaikan misi utamanya.

***

Kong Kumirun keheranan ketika beberapa mayat hidup yang berjalan kikuk ke arahnya tak menghiraukan sosoknya. Justru mayat-mayat tersebut tampak tergesa-gesa berusaha menjauhinya. Ia lantas berjalan menjauhi mayat-mayat tersebut dan perlahan meniti tangga turun menuju bagian tengah gua.

            "Aneh, knape mayit-mayit ntu cuman ngelewatin aye aje?"
            "Trus knape ni badan kok rasanye ngegolak panas, ye?"
            "Ya Allah ... mumpung kesempatan muncul, mendingan nyari nyang lain aja dah."

Ia terus berjalan pelan dibantu tongkat berjalannya yang terlihat agak lapuk. Tubuhnya terasa semakin memanas dan tatapannya yang semestinya kabur berangsur-angsur jernih. Punggungnya yang bungkuk pun perlahan berangsur tegak, diikuti keriput di kulit wajah dan tubuhnya yang mengencang dan otot-otot yang mengembang. Sementara itu, langkah kaki yang sebelumnya gemetaran kini jauh lebih tegas, walaupun lebih kikuk.

Beberapa mayat hidup yang menghadang jalannya Kong Kumirun berangsur menyingkir. Entah karena apa, namun sudah pasti bukan karena kentut yang keluar dari pantatnya. Mayat-mayat tersebut tampak ketakutan ketika Kong Kumirun berjalan melewati mereka. Lagi-lagi Kong Kumirun kebingungan dan melewati mereka begitu saja. Menuju sebuah ruangan dengan pintu lapuk yang terbuka lebar.

***

            "Yum yum doodle dum, nom ... nom ... nom ... bun~"
            "Ini lezat, bun~"
            "Ayo Puppet coba juga, bun~"

Setelah menghabiskan tiga lapis roti besarnya dan hampir menghabiskan sebotol penuh susu madu, Bun masih bersikeras menawarkan bekal makanannya. Puppet akhirnya terbujuk tawaran Bun setelah sedari tadi melihatnya makan dengan rakus.

            "Sepertinya lezat, apa ini buatanmu sendiri?"

Bun mengangguk. Puppet lantas mencicipi roti lapis buatan Bun. Baru satu gigit yang ia rasakan, namun ekspresi yang terpampang di wajahnya terlihat sangat menikmatinya. Ia lantas memakan lahap roti lapis di tangannya, menunjukkan bahwa betapa lezatnya roti lapis buatan Bun. Bun tersenyum lebar. Ia Bangga ketika seseorang menikmati makanannya.

            "Iwni ewnak swekali, Bwun ... bowleh mwinta lawgi?"

Bun mengangguk dan memberikan roti terakhirnya. Bun bingung, antara berat memberikan roti terakhirnya tersebut, dan bangga karena seseorang menyukai masakannya. Ia kemudian merelakan roti terakhirnya tersebut.

Puppet meraih roti lapisnya, namun sekali lagi terdengar ledakan hingga mengakibatkan getaran yang lebih kuat dari getaran sebelumnya hingga melempar jauh roti lapis terakhir Bun ke ujung tebing. Puppet terkejut bukan main.

Bukan karena roti lapis atau karena getaran yang terjadi, namun karena sosok gembul di hadapannya yang kini berdiri garang dengan kulit yang perlahan memerah dan mulut yang menganga mengeluarkan asap gelap pekat. Aura makhluk kelaparan mencuat dari tubuhnya.

            "JANGAN BUANG-BUANG MAKANAN, BUN!"

***

Kaz meraih beberapa sak mesiu. Ia bermaksud menggunakannya di kala genting. Ia pun mengambil sebuah tongkat dengan kain berminyak yang terikat erat di ujung atasnya. Ia lantas meninggalkan ruangan tersebut dan mulai mencari sumber cahaya—lampu minyak—untuk menyalakan obornya sendiri, berharap dapat memudahkannya dalam mencari jejak pintu keluar ataupun lawan-lawannya.

Ia berjalan menuju sumber cahaya, di mana sesosok bertubuh agak bungkuk dengan tongkat berjalan tengah berdiri di bawahnya. Kaz lantas bersiap dengan pedang pendeknya seraya menyimpan obornya dan mengeluarkan ponsel pintarnya—yang tanpa sinyal—dan mulai memijit aplikasi pemutar musik. Headset ia kenakan dan sebuah lagu dari Onokerok melantun dari balik headsetnya.

            "Now Playing: ONE OK ROCK – Cry Out ... "

Teriakan diikuti deru drum yang Kaz dengar menjadi pembuka langkahnya. Ia menatap sosok lawannya yang tak lain adalah sesosok kakek tua dengan otot yang perlahan terbentuk dan tubuh yang perlahan menegap.

Mulutnya bak berseru membicarakan sesuatu yang tak bisa—dan tak ingin—Kaz dengar. Ia lantas menghunuskan pedang pendeknya ke arah lawannya. Memberikan tanda untuk memulai pertarungan.

            "Lebih cepat selesai, lebih baik."

Di lain pihak, Kong Kumirun tampak terkejut melihat respons yang diberikan oleh lawannya. Padahal ia tak memiliki maksud buruk sedikit pun. Melihat lawannya berjalan ke arahnya, Kumirun sontak bersiap memasang kuda-kuda silat macan Betawinya.

            "Ni boceh, diajak ngomong baek-baek malah nunjuk pake pedangnye. Kaga tau sopan santun sama orang tue banget dah!"
            "Lu berani nantang gue? Siap-siap nerima amukan silat macan kemayoran dari gue. Boceh ingusan!"

Melihat lawannya yang memasang kuda-kuda. Kaz tak sungkan lagi, ia berlari ke arah Kumirun dan mulai melancarkan serangan pedangnya. Ia menyabetkan pedang ke arah wajah Kumirun, namun dengan mudah dapat ditangkis oleh ujung tongkat berjalannya.

Kaz melanjutkan serangannya. Ia bak menari di angkasa, melesatkan puluhan sabetan dalam kurun waktu kurang dari sepuluh detik. Namun begitu, dengan entengnya Kumirun menghindari setiap serangan pedangnya. Kaz memutuskan untuk mundur.

            "Cuman segitu doang kemampuan lu? Bocah?"
            "Hayo lanjuuuut!"

Kaz tak mengira. Lawannya yang terlihat sangat tua itu bisa melancarkan manuver menghindar dengan sempurna. Tampaknya pengalaman yang dimilikinya melebihi siapa pun yang pernah ia jumpai. Ia harus lebih berhati-hati dalam melakukan serangan. Namun begitu, Kumirunlah yang kini memulai serangannya.

Kumirun berjalan pelan dengan tongkat yang ia tarik ke belakang. Tubuhnya kini tegap sempurna, perawakannya pun berubah sepenuhnya. Doanya di kabulkan lagi-lagi di waktu yang kurang tepat, tubuhnya kini berubah menjadi lebih muda. Namun begitu, keanehan lainnya terjadi, kulitnya berubah kelabu dan bola matanya berubah putih sepenuhnya.

Kumirun melesatkan tongkat berjalannya, tepat menusuk pundak kiri Kaz. Kekuatannya meningkat berkali-kali lipat, hingga Kaz tak bisa mengelak satu senti pun.

            "ROAAAAAAAAR!"

Kumirun berteriak bak makhluk sinting. Ia melompat tinggi dengan kepalan tangan yang siap melumat siapa pun di bawahnya. Kaz masih meringis kesakitan, namun ia masih bisa menghindari serangan Kumirun. Lantai gua retak terkena serangan Kumirun, namun begitu, Kumirun masih melancarkan kombinasi serangannya.

Menggunakan telapak tangannya, Kumirun menghempaskan Kaz hingga tubuhnya terhempas mundur beberapa langkah. Mulutnya terbatuk hingga darah memuncrat nyeri setelah dadanya telak menerima serangan Kumirun.

            "A ... apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa kakek tua itu berubah menjadi sosok mengerikan seperti ini?"

Lagi-lagi, teriakan terdengar dari arah Kumirun. Kaz seketika melempar pedang pendeknya ke angkasa dan menendangnya hingga menusuk perut Kumirun. Ia juga melemparkan beberapa sak mesiu ke arah mata Kumirun, namun tak ada respons sedikit pun dari Kumirun. Ia malah terus berlari dengan kedua tangan yang siap melancarkan serangan.

Kaz memutuskan mengeluarkan pedang miliknya yang lain, namun semuanya terlambat, sangat terlambat.

Menerima tendangan dari Kumirun, Kaz melayang ke atas langit-langit gua untuk beberapa detik. Kumirun melompat dan menghantamkan kepalan tangannya tepat di kepala Kaz. Membuatnya berputar menyamping beberapa kali dan terjatuh tak sadarkan diri.

Serangan Kumirun tak berhenti sampai di situ. Tangan kirinya mencekik Kaz yang sudah tak berdaya. Mengangkatnya ke atas memperlihatkan wajah yang sudah tak berbentuk dan luka yang sangat parah. Tanpa ampun Kumirun melempar Kaz ke udara dan menendangnya hingga tubuhnya menubruk pintu reyot ruangan mesiu.

            "ROAAAAAAAR!"

Kumirun meraih sebuah lampu minyak yang masih menyala dan melemparkannya ke dalam ruangan. Kumirun berjalan meninggalkannya dan menaiki tangga menuju lantai teratas. Diikuti ledakan besar yang menghanguskan tubuh Kaz dan menghancurkan lantai terbawah Gua. Magma perlahan semakin bergolak dan meluap semakin cepat.

Beberapa mayat hidup yang menghadang Kumirun seketika mengikutinya. Awalnya cuman tiga, kini sepasukan mayat hidup mengekornya. Menganggap Kumirun sebagai mayat hidup terkuat dan secara tak langsung mengangkatnya menjadi ketua. Kumirun tak seperti dulu lagi.

Tubuhnya kembali muda dan kutukan mayat hidup telah sepenuhnya mengunci transformasi tubuh Kumirun. Akalnya perlahan lenyap, walaupun jauh dalam hatinya, sosok Kumirun yang sebenarnya masih ada.

***

Puppet tak menyangka bahwa sosok yang sebelumnya menggemaskan kini berubah menjadi makhluk mengerikan. Gigi-giginya meruncing, kulitnya memerah, dan sepasang tanduk tampak menyembul dibalik tudung birunya dengan asap pekat yang mengepul dari mulutnya. Puppet yakin, tatapan mata dibalik poninya itu pasti sangat mengerikan.

Tanpa pikir panjang, Puppet memanggil Eve—kucing hitam peliharaannya—yang mulai menggeram ke arah Bun. Bun sendiri melihat kucing tersebut sebagai daging dendeng dengan saus tiram. Liur mulai membanjiri mulutnya.

            "Mari makan, buuuun!"

Bun melompat cepat ke arah kucing hitam. Liur memuncrat ke segala arah, sementara targetnya ikut melompat ke arah Bun dan mementalkannya hingga terdorong mundur berguling-guling.

            "Terlalu cepat ... bahkan Eve tidak bisa mengimbangi kecepatan bocah itu."
            "Apa sebenarnya yang terjadi? Apa karena roti lapis yang tak sengaja terlempar dari tanganku?"

Puppet mengangkat boneka pandanya dan mulai menarik sebuah jarum transparan yang sangat sulit dilihat. Dari perut boneka pandanya, sebuah lingkaran sihir terbentuk hingga menciptakan gerbang menuju dimensi lain. Eve memasuki gerbang tersebut setelah menerima perintah dari Puppet.

Sekali lagi Bun melesat. Kali ini ke arah Puppet yang tampak seperti es krim vanila rasa anggur. Puppet tersentak untuk sesaat. Ia mencoba untuk menghindar, namun terlambat. Rahang tajam Bun sukses mencabik lengan kanan Puppet hingga terpisah dari tubuhnya. Bun menjilatinya serasa tengah menikmati es krim anggur, lalu mengunyahnya hingga habis.

Puppet sendiri meringis nyeri. Tangan kirinya memeluk erat boneka panda, sementara darah terus mengucur dari pundak kanannya. Namun begitu, Puppet sukses menancapkan jarum transparannya dan mendapatkan darah milik Bun.

            "Uuhh ... makhluk macam apa bocah itu?"
            "Apakah ini wujud aslinya, ataukah sesuatu tengah merasukinya?"
            "Bun ... Sadarlah!"

Setibanya Eve dengan obat pesanan Puppet, Bun kembali melancarkan serangan ke arah Eve. Ia melesat dan melompat tinggi, lalu berputar-putar di udara untuk kemudian menukik cepat dengan rahang yang terbuka lebar.

Puppet mengambil Obat pesanannya, dan mulai menyiramkannya ke arah Bun. Bun terjatuh dan terdiam beberapa detik. Puppet berharap obatnya bisa menyadarkan Bun. Namun tidak. Efeknya hanya membuat Bun kebingungan dan berlari berputar-putar mengejar ujung tudungnya yang berbintang.

            "Sial, ternyata tidak bisa dengan Gogora."
            "Eve, Bawakan aku Miraries"

Eve kembali memasuki lingkaran sihir untuk mengambil obat pesanan Puppet. Sementara Puppet mulai melancarkan kutukannya. Setelah mempelajari aliran darah dari Bun, Ia menusukkan jarumnya tepat ke kaki kanan Bun mencoba menghentikan gerakannya.

Bun yang tengah berlari-lari lantas terjatuh hingga tersungkur. Ia mencoba berdiri dengan kaki kanannya, namun tampaknya sesuatu melumpuhkannya. Setelah sepuluh detik, Bun termenung untuk sesaat dan kembali menatap lapar lawannya. Kini, Puppet tampak seperti pai ceri.

            "Woo ... makanan penutup, buuun~"
            "Yum yum doodle dum, nom nom nom, buuun~"

Bun yang kesulitan dalam bergerak kemudian menggunakan kedua tangannya sebagai pendorong. Puppet terkejut bukan main, terlebih setelah tubuhnya terpental terkena tandukan keras dari Bun. Boneka panda Puppet terhempas hingga terjatuh, tergeletak di ujung tebing. Sementara Puppet terhempas bebas menuju danau magma yang semakin aktif dan meletup-letup.

Eve keluar melewati lingkaran sihir. Ia membawa miraries yang seketika dijatuhkan hingga pecah. Eve yang sangat setia pada majikannya lantas melompat menyusul Puppet. Berharap masih bisa meraihnya dan memindahkannya ke posisi semula di atas tebing. Sayangnya, ia gagal.

Cairan jingga miraries terserap roti lapis terakhir Bun yang tergeletak tak jauh darinya. Yang kini tengah Bun cium oleh hidungnya dan mulai ia lahap. Kutukan di kaki kanannya perlahan lenyap, diikuti kembalinya kesadaran Bun. Beberapa kain ungu menyangkut di sela-sela giginya. Bun sendiri tak sadar, telah menyantap daging manusia.

"Di mana Puppet, bun?"
"Mengapa ia meninggalkan bonekanya di sini, bun?"

Bun mengambil boneka milik Puppet. Ia sama sekali tak tahu bahwa pemiliknya telah hangus tenggelam dalam danau magma bersama peliharaannya. Namun sayup dalam benaknya, terpampang beberapa kejadian yang sebelumnya terjadi. Kejadian ketika Puppet terhempas ke dalam danau magma dan Eve yang menyusulnya. Gambaran kejadiannya sendiri tampak buram dan tidak begitu jelas.

            "Eh ... apakah gambaran-gambaran tadi berasal dari seni seorang artifice dalam mencari informasi, bun?"
            "Ja ... jadi ... apakah Bun telah resmi menjadi seorang artifice, sama seperti paman Branze?"

Antara terkejut dan senang yang tak terbendung, Bun melompat-lompat hingga tebing di bawah kakinya retak. Bun merasakan retakannya, ia lantas berlari menjauhi tebing dan meninggalkan tempat tersebut. Ia tak lupa menggulung kembali matrasnya dan menggantungkannya lagi di atas ranselnya.

            "Kenyang~ lanjut petak umpet lagi ah, bun~"

Belum sejengkal Bun melangkah, sepasukan mayat hidup mulai tampak dari bawah tangga. Bun terkejut ketika melihat sepasukan mayat hidup yang dipimpin oleh sesosok bertubuh kekar berpakaian militer. Tak mau ambil risiko, Bun berlari meniti tangga menuju lantai atas.

Setelah memilah, dan memilih beberapa tempat yang telah ia lewati. Ruang harta menjadi tujuannya bersembunyi.

***
Cliffhanger
Bun Journal, Page 25, Managua Gem's Cave-Alforea

Sesampainya Bun di lantai teratas, ia disambut oleh sesosok mayat dengan tangan yang tertusuk tongkat rembulan. Bau busuk mulai tercium bercampur bau belerang yang tipis. Bun bisa merasakan gerakan seseorang dari balik celah. Tampaknya sosok yang ada dalam ruangan sedang sibuk mencari sesuatu.

Bun memegang tongkat rembulannya. Ia mencoba mengetes pengetahuan barunya dalam mencari informasi. Bun mencoba berkonsentrasi dan sayup gambaran adegan dan kejadian kembali terputar dalam benaknya. Kali ini, yang ia lihat adalah pertarungan antara sesosok penyihir melawat gadis bercambuk. Informasi demi informasi terus terputar di benaknya, hingga ke titik di mana tongkat sihir tersebut tercipta lengkap dengan bahan baku dan penciptanya.

            "Ja ... jadi ... inikah sensasi yang Bun rasakan ketika mendapatkan informasi berlimpah? Membingungkan, tapi menyenangkan, bun~"

Bun tertegun untuk sesaat ketika luapan informasi yang masuk terputar di benaknya menampilkan perjalanan Stella dari semenjak ia menerima tongkat tersebut sampai ke hari di mana ia melawan sesosok kuda bertanduk merah dan bersayap api. Bun melepaskan pegangannya. Seraya berlari menjauh menuju ujung lorong gua karena tak ingin ketahuan oleh sosok di dalam ruangan harta.

Sementara itu, Lex yang sedari tadi memeriksa hampir setiap sisi sudut ruangan harta berakhir tanpa hasil. Geram bercampur lelah, Lex memutuskan untuk melanjutkan pencariannya di tempat lain. Ia melewati celah retakan yang semakin melebar dan berniat untuk turun menuju lantai tengah.

Namun baru saja ia keluar dari celah sempit tersebut, seseorang berlari ke arahnya hingga menubruknya dan menggulingkan keduanya menuju tangga. Berguling menuruni tangga hingga mencapai tebing tempat sepasukan mayat hidup yang siap menyantap keduanya.

Lex bangun sembari mengangkat bocah gembul yang menabraknya. Pusing bercampur nyeri di beberapa bagian tubuh tengah ia rasakan, namun begitu, Ia berteriak kesal ke arah si bocah gembul.

            "Heh bocah bulet, liat-liat dong kalo lari!"

Bun tersenyum lebar. Ia menjelaskan kejadian yang terjadi di ujung lorong gua teratas. Beberapa mayat kikuk mencoba menangkapnya dan Bun memutuskan berlari dan bersembunyi di dalam ruangan harta penuh bebatuan berharga. Karena tergesa-gesa, Bun tak menyadari Lex yang keluar dari celah hingga tubuhnya pun menubruknya.

            "Ta ... tante ... apa sebaiknya kita melarikan diri dari sini terlebih dahulu? Sepertinya mayat kikuk itu tampak tidak bersahabat, bun~"
            "Tante? Kita? NI BOCAH RESE BANGET!"

Kesal bercampur geram. Lex melempar Bun ke arah sekumpulan mayat hidup. Tubuhnya yang bundar berputar putar di angkasa bak bola basket yang siap masuk ke dalam keranjang bola. Bun berteriak ngeri ketika tubuhnya mendarat dan menjatuhkan beberapa mayat kikuk di bawahnya.

Sementara Itu, Lex bersiap dengan pistol Parabellum jenis luger di tangannya. Namun belum sempat ia mengisi ulang magazinenya, sesosok mayat hidup berlari ke arahnya, tubuhnya kekar dan kecepatan berlarinya sungguh tak bisa ia bayangkan.

            "RHAAAA ... KUMVENIIII!!!"

Kepalan tangannya melayang ke arah Lex yang dengan refleks yang sangat cepat bisa menghindari serangan tersebut. Ia menjatuhkan tubuhnya dan menekan tombol isi ulang magazine seraya memasukkan magazine pistol dengan cepat.

Tangan kirinya meraih sebuah pedang pendek yang tertancap di perut lawannya, seraya mendorongnya hingga merobek perut bagian kanan lawannya. Lex berguling beberapa kali menjauhi mayat tersebut, kemudian menembakkan Luger sebanyak enam kali ke arahnya.

Tak terdengar sedikit pun erangan ataupun teriakan dari mayat hidup setelah tubuhnya dirobek dan punggungnya dilubangi enam peluru Luger. Justru, mayat tersebut berbalik dan bersiap dengan serangannya lagi. Terlihat darah merah mengucur dengan usus yang terburai keluar. Sungguh menjijikan.
           
Sementara itu, Bun yang tengah berada di tengah-tengah sepasukan mayat kikuk berteriak kengerian. Di bawah tubuhnya yang gemuk, empat mayat hidup yang tertimpa tubuh Bun berusaha menangkapnya, sementara beberapa mayat kikuk lainnya bersiap dengan rahang yang terbuka lebar. Mereka tampak kelaparan.

            "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Bun berteriak dengan suara lengkingan yang menggema menyisir luasnya Managua. Mayat-mayat kikuk di sekelilingnya tampak tertegun sembari memandang kosong Bun untuk beberapa saat. Bun lantas berlari ke arah Lex yang tertegun setelah mendengar lengkingan Bun. Ia tak memiliki waktu untuk menghindari serangan dari Kumirun.

Kumirun sendiri terus merangsek bersiap menyerang Lex dengan kedua tangannya yang menyilang. Telinganya yang agak tuli sepertinya sukses memfilter teriakan lengkingan Bun.

            "Tante jahaaaat, buuuun!"

Serangan Kumirun siap mencabik dada Lex. Kedua tangan yang ia silangkan kini bersarang pada lawannya. Namun Bun tepat waktu dan mendorong Lexia hingga keduanya berguling-guling hampir terhempas ke arah danau magma. Retakan pada ujung tebing semakin meluas.

Kumirun menatap Bun dan Lexia. Ia lantas melompat tinggi, siap melumatkan kedua kepalannya. Bun terkejut bukan main. Ia menampar-nampar Lex hingga terbangun dari tertegunnya. Melihat Kumirun yang melayang di angkasa dengan kedua tangannya yang berada di atas kepala, Lex berinisiatif mengeluarkan cambuknya.

Membopong si bocah tembam bertudung biru, Lex melancarkan dua tembakan terakhir ke arah mata Kumirun. Sisa-sisa mesiu lantas meledakkan kedua matanya hingga wajahnya kini tak terbentuk. Dan ketika Kumirun mengerahkan serangannya, saat itulah ujung tebing runtuh hingga menggerus kencang menuruni tebing.

Danau magma yang aktif meletup-letup siap menyambut ketiganya.

***

Nexus: Break Orbit [V2]
Bun Journal, Page 33, Managua Gem's Cave-Alforea

Dengan lengan yang membopong si gendut Bun, Lexia Berlari di sisa-sisa ujung tebing yang tengah melaju menuju danau magma. Ia melompat tinggi dan melesatkan ujung pecutnya hingga mengait pada jembatan.

Ia lantas berayun melewati bagian bawah jembatan. Bun berteriak ngeri ketika magma yang ada di bawah mereka hampir mengenai bokongnya saat berayun. Lexia pun melompat bersalto hingga mendarat mulus di atas jembatan. Panas magma sangat menyengat hingga pakaian Lexia basah dibanjiri keringat.

            "I ... itu mengerikan sekali, buuun~"
            "Jauh lebih baik ketimbang harus bersama mayat hidup sinting itu!"

Bun mengangguk dan mulai duduk lega. Ia tersenyum lebar ke arah Lexia tanda terima kasih. Lexia sendiri tampak sangat kelelahan. Parang yang sedari tadi menggantung di pinggangnya ia lepaskan, begitu pun dengan senapan lugernya. Magma yang aktif membuat kedua senjatanya tersebut menyerap panas dan membakar kulit pahanya.

Kumirun sendiri masih menyusuri tebing. Ia terlihat tengah bersiap-siap dengan kuda-kuda aneh mirip macan yang siap menerkam lawannya. Sedetik kemudian, ia melompat tinggi hingga tampak seperti melayang menuju sebuah pulau di tengah danau di mana ujung jembatan berada.

Lex dan Bun tersentak kaget ketika Kumirun melayang di udara dan mendarat di ujung jalan mereka. Bisa saja keduanya mengambil jalur lain, namun sepasukan mayat hidup mulai bermunculan dan mendekat.

            "Seandainya saja kita tahu penyebab hidupnya mayat-mayat ini, mungkin bisa kita hentikan kegilaan makhluk-makhluk ini."
            "Apa mungkin penyebabnya batu permata yang berada di altar dalam ruangan itu, bun?"
           
Lexia menarik syal kuning Bun hingga mengangkatnya, ia tak percaya dengan apa yang ia dengar sebelumnya.

            "Apa yang kau katakan, bocah?"
            "Apa perlu Bun ulangi perkataan Bun, bun?"
            "Kau, Ikut denganku!"

Lexia lantas mengambil parangnya—yang sangat panas—dan mulai berlari menuju Kumirun. Telapak tangannya tampak memerah kepanasan. Kumirun sendiri bersiap menangkis serangan  Lexia.

Bun mengikuti Lexia. Ia melambatkan laju larinya seraya berguling menggelinding melewati celah kaki Lexia yang menyabetkan parangnya ke arah Kumirun. Bun Masih berguling bak bola yang menggelinding ketika melewati celah kaki Kumirun yang kini tengah menangkis serangan Lexia dan mulai melancarkan serangan balasan.

Indra perasa getarannya membaca gerakan Kumirun yang akan berbalik dan mengejar ke arahnya. Alhasil Bun berhenti berguling dan mulai berlari kencang ke arah lubang tempat altar dengan batuan permata berada.
           
            "Bun akan urus permatanya, bun~"

Kumirun merasakan dirinya dalam bahaya jika membiarkan si bocah gendut itu dibiarkan sendiri. Ia lantas berbalik dan mulai berlari mengejar Bun. Tanpa menengok sedikit pun dikarenakan getaran yang bisa ia rasakan, Bun mempercepat laju larinya. Ia ketakutan.

Lex tak tinggal diam. Ia melemparkan parangnya hingga menembus paha kiri Kumirun. Serangannya tersebut sama sekali tak melambatkan gerakannya. Namun panas yang menyengat dan terserap oleh parang tersebut perlahan membakar kulit paha Kumirun.

            "Berhenti kau mayat bangsaaaat!"

Lex lantas berlari sekuat tenaga seraya menubruk Kumirun dan menjatuhkan keduanya. Lexia melancarkan tendangan yang tepat mengarah ke bagian kepala Kumirun. Namun tidak berefek sedikitpun. Kedua kaki Lexia malah digenggam erat oleh Kumirun. Sedetik kemudian, Lexia di banting setelah sebelumnya diseret menuju ruangan yang dituju oleh Bun.

Bun merayap ke atas altar tempat sebuah batu putih berkilau dengan simbol yang terukir di dalamnya berada. Ia meraih batu permata dan dapat merasakan aura kegelapan yang mencuat dari dalam batu tersebut. Bun berusaha memfokuskan diri untuk mendapatkan informasi.

Sekelibat bayangan demi bayangan masa lampau mulai terlihat. Menampilkan kejadian-kejadian masa lampau yang terjadi di Managua ini. Bun terus mencoba mencari informasi mengenai penyebab bangkit-bangkitnya mayat-mayat hidup tersebut. Sampai akhirnya sesuatu muncul pada bayangan masa lampau yang tengah Bun lihat. Sesuatu yang bahkan lebih tua dari semesta Alforea sekalipun. Sesuatu yang kini berbisik kepadanya.

            "Vnexs, xyluxn nyx vnuvx ... nexus ... NEXUS!"
            (Atas nama nyx, ucapkan ...  nexus ... NEXUS!)

Belum sempat Bun menerima seluruh informasi yang ia butuhkan, Kumirun meninju perut Bun hingga tubuhnya terpental membentur dinding gua. Gangguan ketika tengah menerima informasi mengakibatkan terpentalnya batuan yang ada di tangannya. Bun sendiri meringis nyeri setelah beberapa lapis roti dan jari tangan ia muntahkan.

Lexia yang masih berusaha untuk bangkit, melihat batu yang selama ini ia cari-cari terlempar ke arahnya. Ia lantas menangkapnya, dan mulai meninggalkan Kumirun yang kini mengangkat Bun tinggi-tinggi, menggusurnya keluar ruangan dan melemparnya ke angkasa.

Bun melayang tinggi ke angkasa hingga melewati mulut gunung tempat Managua berada. Pemandangan pulau mati terlihat sangat mencekam, bahkan lebih buruk dan mencekam dari Dwarvenhold Citadel sekalipun. Sekali lagi, Bun mendengarkan suara bisikan. Kali ini lebih keras dan lebih tegas dari sebelumnya.

"Vnexs, xyluxn nyx vnuvx ... nexus ... NEXUS ... N E X U S !"
           
Lexia yang berusaha kabur justru terjebak oleh sepasukan mayat hidup yang menghadangnya. Tak memiliki perlengkapan satu pun Lexia kehabisan ide. Di belakangnya, Kumirun berjalan ke arah Lexia dan siap melancarkan serangan ke arahnya.

Melihat parangnya yang masih menggantung di paha Kumirun, Lexia mendapatkan ide yang mungkin bisa menyelamatkannya. Walaupun kemungkinannya hanya 5%. Ia menghela napas panjang, menyimpan permata—jantung gunung Managua—dan bersiap melancarkan idenya. Namun sebelum itu terjadi, Kumirun mencekik Lexia terlebih dahulu.

Bun yang melayang-layang di angkasa kini menukik tajam ke arah Lexia dan Kumirun. Bisikan demi bisikan terus berseru ke arahnya, memaksanya untuk mengucapkan sepotong kata. Bun yang ketakutan dan ngeri seketika berteriak sekencang kencangnya.

            "N ... N E X U U U S !"
Awan seketika menggumpal di atas langit biru. Kilatan-kilatan petir menjalar ke satu titik yang berada di atas mulut gunung aktif Managua. Kejadian terjadi begitu cepat, dan terus begitu hingga puluhan, ratusan, petir merambat ke satu titik tersebut.
           
            "One ... two ... one two three ... GO!"

Bun pasrah. Mungkin inilah akhir petualangannya. Ia tak menyangka petualangan pertamanya justru berakhir memalukan. Sampai akhirnya, sesuatu menyambar tubuhnya. Dentuman besar terdengar beberapa kali, dan terjangan halilintar menerjang masuk melewati mulut Managua. Menerjang Tubuh Bun yang masih menukik cepat.

Bun yang mendapat dorongan halilintar seketika menukik menerjang Kumirun dan Lexia. Menghancurkan pulau yang menopang di bawahnya dan menjatuhkan jembatannya juga. Lexia terpental jauh hingga tubuhnya membentur tebing. Sedetik kemudian ia terjatuh ke dalam danau magma bersama batu permata penyebab mayat-mayat kembali hidup.

Kumirun pun mengalami hal yang sama. Sementara Bun, ia kini melayang bersama sesosok mungil bertudung dan berpakaian ungu. Ia tampak kewalahan mengangkat tubuh Bun yang sangat berat.

            "Kenapa Monica tiba-tiba ada di sini? Kenapa sepupu Bun terpental hampir terjatuh ke danau magma itu. Sepupu Bun, sadarlah mon~"

Monica membawa Bun melayang menuju tebing terdekat. Ia lantas mengguncang tubuh Bun hingga terbangun. Masih pusing dengan hantaman yang terakhir ia rasakan, dan perut yang terasa panas, Bun terkejut ketika di hadapannya, sepupu Monica hadir dengan wajah yang kusut.

            "Sepupu Monica ... mengapa kau ada di sini juga, bun?"
            "Entahlah, tapi ada berita gawat ... berita gawat sepupu Bun."
"Sepupu Elle ... sepupu Elle menghilang, mon!"
            "La ... lagiii, bun?"

To Be Continue ...

=====================UPGRADE SKILL===================

The Scream Of Child.
"Shout? No ... He's Screaming"

Bun berteriak melengking selama lima detik. Teriakannya akan menggema sejauh manapun hingga membuat siapa pun yang berada di sekitarnya (teman ataupun musuh) tertegun dan menatap kosong ke arah Bun selama lima detik.

Description:
Satu lagi skill disabler-Area Bun. Tercipta karena ketakutannya akan mayat-mayat hidup yang siap menyantapnya. Bun mengerahkan seluruh kekuatannya hingga teriakannya begitu melengking dan membuat siapa pun yang mendengarnya tertegun.

Weakness:
- Scream tidak berefek bagi mereka yang tuli atau yang menutupi indra pendengarannya.
- Mereka yang ada di dekat Bun akan menerima efek tertegun selama lima detik
- Mereka yang jauh dari Bun hanya akan menerima separuh durasi dari efek tertegun. (tiga detik)

Note:
 "AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA!"

Link ke Facbook Thread

34 comments:

  1. Kong kumirun jadi bos jombie badass beud. Bun juga sempet menggila ih, hihihi. Kasian banget matinya Puppet, juja...

    Aku komen fokus ke bagaian pas udah di gunung magmanya aja, juja. >///< Aku suka ma pendekatan eksplorasi tiap karakter, di mana dinarasikan satu-satu dalam part-part terpisah. Yang kurangnya si kalo menurutku adalah eksplorasi interaksi antar karakternya itu sendiri. Aku baru tahu pemikiran mereka masing-masing, tapi rasanya belum terlalu untuk interaksinya. Dan untuk beberapa bagian kematiannya itu agak berasa kayak dark comedy, apalagi yang puppet kukira ia berteman ma bun tapi na'as sekali akhirnya uwu Q.Q

    Nalacinya lapih mas uwu. Alulnya juga belisi. Adegan petalungannya celu. Cuma di bebelapa bagian aku ga koncen atau ada penggunaan kata ganti ketiga yang kulang kuyakin mengalah pada capa. Q.Q >///<

    Nilai : 8

    OC : Zhaahir

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pertamax acquired. >///<

      Double kill! uwu

      Delete
    2. Makasih ya mba Cadel.
      Saya masi belum bisa fokus ke interaksinya. Kao baca cepat ya... Lebi cepat dari Kecepatan lari Usain Bolt yha...

      Kejar storan yha, mba uwu

      Delete
    3. This comment has been removed by the author.

      Delete
  2. Hola, Bun! Karena memang sejak awal saya mengikuti segala sesuatu tentang Bun, ya saya enjoy aja dengan bagian intronya ini, yang saya rasa senada dengan gaya saya yang ingin menyajikan cerita yang berkesinambungan dengan flow yang alami. Sempat makan, sempat tidur dulu. Walaupun sebenarnya tubuh sudah segar-bugar seakan dia tak mengalami apa-apa, tapi masih ada jejak2 pengalaman di benak Bun yang nggak bisa dibuang begitu saja, kan? Walau terasa hanya seperti mimpi.

    Oke, soal battle. Frenzy-nya Bun lumayan akurat, tapi gigitannya kali ini lebih gahar, ya? Mungkin karena waktu gigit Vajra di prelim dulu lengan Vajra terlindung tenaga dalam jadi nggak sampai putus? Ngeri. Kasihan, Puppet jadi seperti "terjebak".

    Segala kelebihan ekstrim dan kekurangan ekstrim Kumirun dimanfaatkan dan "disesuaikan", jadi seperti prelim-nya Kumirun yang bisa jadi seekstrim mungkin tergantung medannya. Kali ini jadi Zombie King macam Michael Jackson di Thriller. Brilyan! Tapi kok Kumirun bisa cukup kuat melawan pas masih tampang tua ya? Jangan2 pengaruh dari power-up Vajra :p

    Soal cara Bun menang, sepertinya power-up baru yang dia dapat membuat Bun jadi benar2 kuat di medan ini - atau hanya bayangan saya saja? Oh well, secara keseluruhan ini salah satu entri yang paling bisa saya nikmati sejauh ini - terutama dari segi battlenya.

    Go Bun go, go Bun go, go!

    Skor: 8/10
    Author: Andry Chang
    OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi om Vajra...

      Gigitan Bun tuh kalo udah masuk fase frenzy bisa ampe ancurin dinding tebel, remukin tulang, dan ngeretakin berlian. Perihal waktu lawan Vajra... di prelimku kan ga ampe kena gigit. Kalo pas di kafe sih ga lagi frenzy, jadi kekuatan rahang Bun tuh ga mengerikan.

      ya... saya sengaja memainkan Kumirun ampe ke titik di mana saya desperate hingga bingung harus ngalahin dia kaya gimana. (Tau ndiri Lexia ampe abis alat2nya, dan Bun ga bisa menggunakan fisiknya). Well, saya enjoy banget sih nulis cerita R1 ini. soalnya saya bisa Explore lebih Bun ampe dapet skill baru :D

      Makasih banyak uda baca cerita R1 ku ini. dan alhamdulillah kalo ceritaku bisa dinikmati :D

      Delete
    2. Vajra sez, "Oh iya yah." *Merinding cuy*

      Delete
  3. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  4. Maaf baru bisa komen, setelah entry ini muncul sekian lama T_T

    Okey, langsung lurus aja ke poin yey.

    Battle-nya seru. Apalagi semua OC dapet POV, walau baru kulit luarnya aja. Blm nyentuh sampe ke kepribadian sejati sm masa lalunya. Hmm, gapapa lah. Yg penting berusaha menampilkan semua OC dlm porsi seadil mungkin.

    Saya paling suka transformasi Kumirun jadi bos zom-zom. Tp kok saya malah kebayang kalo zombie-nya dlm bentuk orangtua kayanya gereget juga #abaikan XD

    Saya suka ide itu. Brilian. Soalnya saya aja bertanya-tanya terus gimana kalo macem-macem sama orang berkaromah. Gak kebayang deh.

    Narasi rapi. Enak dibaca dan gak bikin pijit-pijit kening--biasanya yg terlalu puitis, atau eksperimen sok nyastra. Tapi pemilihan katanya banyak yg diulang2. Beberapa typo jg terdeteksi. Dan karena saya bukan garam-nasi, saya gak terlalu pusingin masalah teknis.

    Bun awalnya terkesan imut. Saya pengin cubit-cubit pipi <3

    Tapi ke sana-sananya, serem juga si Bun. Tangan Puppet pun raib. Dan tewasnya mengenaskan pula.

    Btw, endingnya agak menggantung. Sengaja dibuat bikin penasaran kah?

    Yah, cukup sekian. Atas segala ke-cute-an sekaligus kesuraman Bun, saya titipkan 9 untuk entry ini.

    OC: Ahran

    PS: Ahran mulai waspada sama Bun~

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasih udah baca cerita Bun, Nona Noni & Ahran :3

      Saya sengaja bagi rata peran ke masing2 OC ampe tiga yang perannya paling penting aku beri hadiah berupa kill ketiga OC yang perannya minor.

      Pengennya sih bagi rata semuanya, cuman 6 OC ditambah saya ga ada niatan buat melebihi 10k bikin skenario yang ku tulis akhirnya terjadi.

      Saya beranggapan bahwa Kumirun di Team A ini sebagai OC pemikat Team. Alhasil saya kasi dia peran super kompleks ampe ngubah dia jadi boss jombye dan bikin diriku sendiri bingung harus ngalahin dia kaya gimana. Untungnya adegan terakhir Bun tuh uda muncul dari niat awal nulis ini entry.

      Perihal teknik menulis... Sejujurnya, saya masih belajar basic menulis yang baik dan benar sesuai kaedah EYD. Perihal pengulangan dan penggunaan kata yang berulang emang jadi problem utamaku XD

      Dan ending di sini, karena tahu bahwa rencana Tamon ga bakalan ada eliminasi ampe R3, alhasil akupun dengan sengaja menggantingkan ceritanya.. Toh niatan R1 Bun udah tercapai, yaitu ngasih dia kekuatan Nexus yang sejati.

      Sekali lagi terima kasih udah baca cerita Bun.. Semoga terhibur dan bisa dinikmati..

      Akhir kata, ditunggu cerita Ahrannya yah :D

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  6. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. Bun, kau menyeramkan sekali ><
    Tapi untung Bun gak sadar udah makan orang, yah. Haha~
    Porsi karakter lain juga dapet, jadi gak fokus di Bun yang petak umpet sambil piknik aja >< Petirnya keluar disaat yang tepat >< misi penyelamatan Elle dimulai :D

    Kasih Bun 9 deh :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih sudah membaca :D
      Adakah kritik atau saran, atau sesuatu yang mungkin harus kutingkatkan buat R2 :D

      Yap... Elle mulai masuk ke Canon utama Bun. :D

      Delete
    2. Oh iya, karena ini jurnal Bun, bahasa Bun (?) masih agak mengganggu ><
      Tapi ini lebih enak dibaca, a, battlenya Nuy ngerti, itu yang penting haha, aku kan lemot~

      Semangat ya Bun~

      Delete
    3. Pasti perihal bahasa bawaan si Bun yah... yg Pelbagai dan tatkala itu :v
      Well, nanti kucoba rombak lagi deh :p

      Delete
    4. Cie spasi ciee spasi semangat spasi ya spasi Bun titik

      Delete
    5. Oh iya, karena ini jurnal Bun, bahasa Bun (?) masih agak mengganggu ><
      Tapi ini lebih enak dibaca, a, battlenya Nuy ngerti, itu yang penting haha, aku kan lemot~

      Semangat ya Bun~

      Delete
    6. Oh iya, karena ini jurnal Bun, bahasa Bun (?) masih agak mengganggu ><
      Tapi ini lebih enak dibaca, a, battlenya Nuy ngerti, itu yang penting haha, aku kan lemot~

      Semangat ya Bun~

      Delete
    7. Mbak spasi Noey spasi baca spasi entryku spasi juga spasi dong koma spasi Zhaahir spasi emoticon lenny face spasi blushing strip blushing

      Delete
  9. Buuun~

    Seperti biasa, cercaan dari saya kurang lebih sama dengan entry di Prelim kemarin.

    Openingnya rada bertele-tele Buun~

    Narasinya yang dicadel-cadelin khas Bun bangeet~

    Yaelah, Schythe dibilang parang
    XD

    Stella dikira cowok :v

    Puppet malah ikutan piknik sama Bun :v


    Mbah Kumirun kena T-Virus O.o

    Btw, Bun jadi kalap ya kalo soal makanan, kasihan itu si Puppet... -_-a

    Jeritan dia kawaaaii~ sampe-sampe zombie juga ikut terkesima :'V


    loh loh loh? Monica nongol di sini?


    Bun di sini jadi seram yaaaa... Dia jadi kanibal (berusaha makan Puppet) O.o


    Point : 8

    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Makasi Ichiii...
      Openingnya masi kepanjangan yah :v

      Well berharap R2 bakalan langsung main di Aksi deh :p
      Perihal Monica ini, setiap Kali Bun teriak Nexus, Sosok Linknya (Summon) bakalan muncul. Kali Ini yg Muncul Monica.

      Hhe. Nanti Kukomen punyamu Chi :D

      Delete
  10. Diluar dugaan saya ada banyak adegan yang digambarkan dengan cukup graphic. Bun benar benar kelihatan ngeri waktu snap sama Puppet...

    Stella dikira cewek :v. Running gag team A?

    Overall saya suka bagaimana pertarungan di highlight satu satu, jadi rasanya sebagai pembaca tidak ada yang ketinggalan.
    Lexianya pengambarannya tepat kok, saya suka strategi yang dipakai Lexia disini meski agak kecewa tidak bisa melihat rencananya yang kemungkinannya hanya 5% itu.

    Meskipun seru, sayangnya saya merasa kalau semuanya di rush (terutama di adegan pertarungan)

    Point: 7 /10 dari saya ><

    OC: Lexia

    ReplyDelete
    Replies
    1. sebenernya engga di Rush sih, lebih ke style saya dalam memaparkan aksi adegan kaya gitu. Saya ga gitu suka Style aksi dan battle yang kaya anime (Shonen) gitu XD

      Thx udah baca :D

      Delete
  11. Ini fontnya berapaaaaa

    Mata jadi harus begini bacanya =_=

    Masih sama kayak sebelumnya, bagian introduksi masih lumayan panjang ya. Tapi kalau sekarang saya udah lebih kebiasa sih bacanya

    Woah, Kumirun di sini jadi zombie ya? Saya suka transformasinya, perlahan dan dia sendiri ga sadar.

    Jurus"nya Stella bagus juga cara nyebutinnya di sini tanpa sekedar shoutout tapi emang nunjukin tiap skill buat apa

    Bun begitu laper brutal banget ya, mana ga sadar lagi kalo udah makan temen sendiri. Potensi horor disturbing juga ini

    Efek teriakan pake font besar ke kecil itu mantep banget deh. Sayang di sini ga bisa jempol

    Akhirannya rada lackluster buat saya.

    Dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  12. wutt majalah sekesek :>
    wkkwkwkw, saya baru pertama baca entry aki, tapi secara opening saya udah bisa bayangin sih bun tadinya gimana, keliatan banget bingungannya.
    Yang saya suka di sini bahasanya rapi, enak dibaca, apalagi mainan Font plus ukurannya, asik aja lihatnya. Plotnya juga jelas, kematian per karakternya juga sudah berusaha dieksplor dengan baik.
    Mungkin yg kurang sreg buat saya di pengulangan kata, diksinya juga tidak dimanfaatkan, repetitif begitu. Selain, itu ada beberapa adegan yg seperti kelewat gitu, contohnya yang dimakan bun itu, tidak disebutkan apa--walau saya tebak sih tangannya. (atau bisa jadi saya sendiri yg kelewat bacanya, maklum belum tidur >.<), dan beberapa yg lain. Lalu ada juga beberapa bagian yang mungkin cm perasaan saya aja, yaitu rada kurang mulus dan berasa tiba2 perpindahan adegannya, misal pas Lex lawan Stella.
    Yah, overall bagus sih, saya malah jadi ngebayangin kalau Vi lawan Bun bakalan gimana jadinya wkwkwk xD
    .
    Skor: 8

    OC: Vi Talitha

    ReplyDelete
  13. Fatanir - Po

    openingnya kyknya masih kelamaan dan memakan fokus, padahal bisa dibikin jadi 1/5 entri doang kurasa mah. narasi dan deskripsi detil udah bagus dah. battlenya kadang berkesan imut kadang berkesan horor, Aki mesti cari formula yg pas buat bikin gnome yg kecil jadi badass, krn sampe skrg kesan itu masih nanggung.

    kumirun jadi zombie jg mantap idenya, gigitan frenzy asik deh. Paling penyelesaian sama cara mendapatkan kemampuannya agak mesti dieksplor lagi gimana narasi yg pas supaya nggak terkesan maksa atau tau2 dapet skill.

    dariku 7 / 10

    ReplyDelete
  14. -Ini mulainya lamak
    -Beneran mending langsung dikirim ke battle saja sebenarnya. Reaksi Bun soal pertempuran prelim bisa diintegrasikan lebih baik ke ceritanya di bagian nanti.
    -Personal preference, tapi mungkin mending fokus ke Bun dulu. Minimal sampai Bun berhadapan dengan karakter lain, baru mulai menyorot karakter lain, biar porsi tokoh utamanya jelas.
    -Untung penampakan pertama karakter-karakter lain nggak terlalu banyak.
    -Transformasinya Bun itu rada out of nowhere.
    -Munculnya Monica itu benar-benar out of nowhere. Memang sudah diomongin di ceritanya juga, tapi diimplementasinya munculnya benar-benar tiba-tiba.
    -Endingnya sangat nggantung.

    Hmmm... antara tujuh atau delapan. Terpaksa saya kasih 7 karena bagian lama yang lama dan endingnya yang rada nggantung.;

    Skor: 7/10
    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
  15. Hmm... Saya sih suka dengan porsi pas dari tiap-tiap karakter dalam berjuang dan matinya, tapi saya kurang suka dengan sedikitnya peran Bun dalam hal tersebut.

    Dibanding Bun yang serba bingung, saya juga lebih suka dengan Dark Bun yang kanibal, lebih badass. Saya jadi pengen Dark Bun ini yang ambil alih di tiap saat Bun harus bertarung sampai mati.

    Poin 8

    OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete
  16. >zoom = 125%. Duh, fontnya keucil yha, Bun? <(“)

    BEDA dari yang lain, Bun ini pakai ‘mimpi’ buat ngejelaskeun saat prelim yha. Ebat ebat ebat. Dan nice.

    Kucing item yg nanya RNG-sama itu Yu-Ching yha, meow? ‘w’ ini lucuu hihi.

    Dan hampir sepemikiran sama saya ya, ngajak ngomong RNG-sama. Hehe :D

    Yang saya mau tanya, Bun Journal itu apa? Apa Bun menuliskan semua pengalaman dia dalam sesuatu?

    Saya baru tau ada kata pelbagai hhe diksi baru. Lucu lagi kedengarannya.

    Pake dadu oke juga ini. Hehe.

    Bun pake setting ‘game’ banget yang oke punya lah.

    Bagian tangan buntungnya lucu wkwkwkw.

    Lexia terasa banget petualangnya, bukan cowgirl kayak di entri saya ;_; *saya nyesel

    Narasi Kumirun juga bagus enggak terasa terpaksa hehe.

    Stella couo! Iya, Stella couo!

    boneka—mirip—pandanya > agak terbata-bata saya bacanya, tapi taks apa, sudah oke ini.

    Bun berhasil keluarkan ‘ceria’ nya Puppet terhadap anak kecil. Hehe. Ena ya santay” di pinggir danau.

    Lex vs Stellanya apik wwwww

    Yaelah si Puppet pake jantungan dah. Dimakan Bun kan haiyah.

    Onokerok !! ANJIR MZ WKWKWKWK

    Bagian Eve masuk ke lingkaran sihir sy agak gagal paham ._. tapi idenya boleh juga sih ._.

    Eve enggak kena stun ya abis bawa obat harusnya dia jadi batu loh hhe

    Aduh, kain baju Puppet nyempil. Bandel yha si Bun ini wwww.

    Kumirunnya awsom banget lha. Best lha.

    Nyebut nexusnya keren. kebayang di kepala saya anak kecil teriak. Pemanfaatan font gede kecil ini amazing sekali.


    endingnya agak scramble btw, terlalu cepet dan kadang sy agak susah ngikutin hhe.

    nilai : 8/10 buat bun, hhe. :D

    -Eumenides/Puppet-

    ReplyDelete
  17. bun jadi polos lagi di sini ^^

    ok sola cerita, saya lebih suka yang r1 ini, bun. lbih rapi dan unyu. ngikutin tiap bagiannya juga enak

    dan ternyata (menebak) tim di managua ini penuh darah

    versi menggila dari bun ngeri. puppet jadi korban pesan moral baru “jangan menyia-nyiakan makanan”

    pembagian karakternya pas

    stella first blood (atau itungannya kumirun duluan kali ya)

    penggunaan huruf khusus buat skill punya efek yang keren :D

    engkong kumirun di sini cocok bingitz perannya. “kumirun tak seperti dulu lagi” kesian kaz

    bun sama lex di akhir kayanya disatukan sama kesalahpahaman ya? suka sama adegan bun gegelindingan, lex nahan kumirun

    dan akhirnya, nexus! ini akhir yang masih butuh penjelasan, jadi saya nunggu catatan bun selanjutnya

    nilai 8, bun

    oc : eophi

    ReplyDelete
  18. Bun unyu ya wkwkwkkw..gemes
    Dan kazuki kekinian.


    Saya suka banget pembagian karakternya bun. Meski porsinya bun agak kurang tapi tribute to kumirun. Wkwkkwkw..

    Titip 8 bun
    Oc : kazuki

    ReplyDelete
  19. Bun unyu ya wkwkwkkw..gemes
    Dan kazuki kekinian.


    Saya suka banget pembagian karakternya bun. Meski porsinya bun agak kurang tapi tribute to kumirun. Wkwkkwkw..

    Titip 8 bun
    Oc : kazuki

    ReplyDelete