25.6.15

[ROUND 1 - TEAM H] ASEP CODET - SEBUAH PERMINTAAN

ASEP CODET - SEBUAH PERMINTAAN
Penulis: Dendi Lanjung






Kebebasan. Kata itulah yang selama ini didambakan Asep. Sebelum dia menjejakkan kakinya di Dataran Shohr'n, sebelum dirinya memasuki dunia baru bernama Alforea. Bahkan sebelum dia tiba di Bandung dan menjadi preman satu dekade kemudian, hidup Asep selalu penuh dengan ekspektasi orang lain terhadap dirinya.

Terlahir dengan nama Alexander Alduin, dalam tubuhnya mengalir darah campuran manusia dan naga. Jangan tanya bagaimana caranya mereka kawin. Tapi menurut kidung kuno, anak yang lahir dari perkawinan dua spesies ini akan menjadi seorang raja diraja yang sakti mandraguna. Keluarga Alduin sangat menginginkan Asep untuk menjadi penerus mereka. Ya, jauh sebelum Kang Aslan memintanya menjadi bos besar, bahkan dari sejak Asep lahir ke dunia, telah membentang di hadapannya sebuah jalan, yaitu Jalan Sang Penakluk.

Tapi bukan itu yang diinginkan Asep, yang diinginkannya hanyalah kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri.



•••

[10]
Setelah Perang

Perang itu berakhir, meninggalkan luka dalam pada semua orang yang menjalankannya. Kesatria Alforea hanya menyisakan kurang dari lima puluh pasukannya, mereka telah kehilangan banyak anggota termasuk pimpinan mereka sendiri. Begitu pula dengan empat peserta yang dikirim untuk menyelesaikan misi para Kesatria. Tiga yang tersisa, Asep, Dominika dan Yu Ching, berdiri meratap di hadapan potongan kayu yang berserakan. Potongan kayu yang berasal dari sebuah kotak pemberani yang telah mengorbankan jiwanya untuk menyelesaikan misi mustahil penyegelan Tamon Rah.

"Meooong~" ucap Yu Ching dengan mata berair, "Walau pertemuan kita hanya sebentar, tapi bayangmu di benak abadi, wahai Kotak."

"Benar-benar deh, padahal aku berharap kita bisa Beraksi lebih lama lagi, Kotak" tambah Dominika yang juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya. "Kenanganmu akan tetap ada."

"Sialan si Kotak," begitu juga dengan Asep si preman. "Jaket saya masih di dalam, gimana ngambilnya coba?"

Mendengar Asep, Dominika dan Yu Ching hanya menatap si pria berkaos singlet dengan wajah datar.

"Kotak Kotak, emangnya gue Tantri! Udah gue bilang nama gue Chubox!" sebuah suara tiba-tiba terdengar dari kayu-kayu yang berserakan, membuat mereka bertiga saling berpandangan. Dengan terburu-buru ketiganya mulai mencari arah suara.

"Chubox, kau masih hidup?" tanya Dominika.

"Iya, sialan, tapi uh, mungkin nggak bakalan lama, kekuatan gue udah mulai pudar." ucap Chubox lemah.

"Jangan-jangan kau hanya perlu diperbaiki lagi seperti sebelumnya, meong~" ucap Yu Ching.

"Hei kalian!" seru Asep pada pasukan Wota yang berkumpul di sekeliling. "Bantu kami kumpulin kayu-kayu si Kotak!"

"Udah gue bilang, nama gue... ah, udahlah... maaf... mungkin jaketmu tidak akan kembali... saya telah gagal... maafkan... saya."

"Chubooox!!" ketiganya serempak berteriak, namun suara si Kotak tak terdengar lagi.

Bersamaan dengan itu tubuh mereka pun menghilang, terurai dalam gelapnya malam menjelang fajar.

•••

Sementara itu di suatu ruang misterius, di wilayah gelap Alforea.

Seorang pria berjubah hitam terlihat sedang berlutut di hadapan sebuah peti mati yang tersambung dengan kabel-kabel panjang dari langit-langit ruangan tersebut.

'Jadi pada akhirnya, sejarah berjalan dengan seharusnya?'

Sebuah suara berat terdengar dari balik peti mati hitam, membuat si pria berjubah hitam pun merunduk.

"Maafkan hamba yang mulia, ini semua terjadi karena ketidak-mampuan hamba dalam menjalankan tugas yang anda berikan."

'Sudahlah, yang terjadi biarlah terjadi.'

"Tapi bila ramalan itu jadi kenyataan, rencana anda tidak akan berhasil. Mohon sekali lagi beri kesempatan hamba untuk kembali ke masa lalu!" ucap pria berjubah hitam dengan nada panik.

'Sekalipun kau kembali dan mengubah masa lalu, yang kau lakukan hanya mencipta dunia paralel yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia ini... bahkan saat ini saja telah tercipta seratus satu dunia paralel akibat percobaanmu itu dan tidak ada satupun yang mempengaruhi kontinuitas dunia ini.'

Mendengar itu si pria berjubah hitam tak bisa berkata apa-apa lagi, ekspresi wajahnya terlihat seperti orang yang mengalami konstipasi akut.

'Untuk saat ini tetap awasi mereka seperti biasa, dan jangan sampai ada server administrator yang mengetahui keberadaanmu.'

"Baik Yang Mulia!"


•••

[11]
Santai Sebelum Badai

Kegelapan. Hanya itu yang bisa ditangkap mata Asep. Sejauh mata memandang, tidak ada apapun selain kegelapan.

'Siapa kau sebenarnya? Jelas kau bukan manusia biasa.'

"Kamu sendiri siapa?" Asep balik bertanya pada suara tersebut.

Menjawab pertanyaan si preman, sesosok bayangan setinggi gedung muncul di hadapan Asep. Sosok raksasa berkepala kuda dengan sepasang sayap api membara di punggungnya, berdiri menjulang memaksa Asep melihat ke atas.

Tapi yang membuat mata Asep tak bisa berkedip adalah badan si raksasa yang telanjang bulat. Dua bukit kembar di bagian dada dan absennya pasak di bagian selangkangan cukup meyakinkan Asep kalau raksasa di hadapannya adalah wanita, atau bila melihat fitur kepala kuda, sepasang sayap dan ekor rumbainya, lebih tepat kalau disebut betina.

'Kenapa? Apa kau belum pernah tubuh wanita sebelumnya?'

"Belum pernah sih kalo yang kayak kamu," jawab Asep, kepalanya masih terus menengadah menikmati pemandangan di atasnya.

'Jangan bilang kau sudah lupa dengan apa yang kau lakukan padaku?'

"Euleuh-euleuh, mana mungkin saya lupa kalau pernah ngelakuin sesuatu ke kamu, tapi da asa gak pernah."

'Dasar brengsek, cowok gak tanggung jawab, kamu udah nunggangin aku, grepe-grepe aku, trus dengan kasar jatuhin aku ke tanah! Masih bilang gak ingat, hah!!

Mendengar itu Asep hanya melongo. Sebuah ingatan melesat menembus kepalanya. 'Njir. Jangan-jangan si Tamon Rah,' Asep membatin.

'Iya benar, aku Tamon-Rah!'

"Eh, saya kan ngomong na jero hate?!"

'Meteo-Rah! Bea-Rah! Tahan dia!'

Tiba-tiba muncul di samping kiri dan kanan Asep, dua sosok lain yang serta merta menahan kedua tangan Asep. Seekor monyet kuning setinggi tiga meter menahan tangan kanan Asep, sementara tangan kiri Asep dipegang seekor beruang kutub sebesar gajah. Di waktu normal Asep mungkin bisa melepaskan diri dengan mudah, tapi entah kenapa saat ini dia tak bisa bergerak sama sekali.

Tak memperdulikan wajah panik Asep, si raksasa betina mengangkat sebelah kakinya tinggi-tinggi, memperlihatkan organ intimnya yang tertutup semak hitam. Tujuannya tak perlu dijelaskan lagi. Diiringi jeritan Asep yang menyayat pilu. Kaki si raksasa betina meluncur deras ke arahnya.

•••

Asep pun terperanjat dari tidurnya, wajahnya pucat, keringat dingin merayap pelan di codetnya. Pria bertato itu mengusap matanya, tak ada kantuk sedikitpun.

Pandangannya menyapu ruangan di sekelilingnya, dia tidak sedang berada di kamarnya. Kamar ini lebih rapi dari kamarnya, bahkan mungkin lebih rapi dari kamar-kamar wanita yang pernah disinggahinya.

"Oh, bangun juga, kamu mimpi buruk ya?"

Asep pun menoleh pada sumber suara, sembari bangkit dan duduk di tepian kasur yang ditempatinya. Dilihatnya seorang gadis berambut pirang tersenyum menatapnya. Asep mengenalnya sebagai Dominica, peserta yang bersamanya saat babak penyisihan.

"Kenapa mukamu kayak yang bingung gitu?" tanya si gadis.

"Hmm, semalem kita gak ngapa-ngapain kan?" Asep balik bertanya.

Dominica hanya mendengus. "Semalam waktu kubilang aku butuh teman, yang kumaksud itu teman begadang yang gak tidur duluan..."

"Hehe, maaf," jawab Asep cengengesan.

"Padahal aku udah repot-repot beli kartu Ano ma rental Dreamcast." Tambah Dominica.

"Kayaknya badan saya emang beneran cape."

"Iya, maklum sih, udah abah-abah."

"Enak aja, saya masih dua delapan tau!"

Dominica hanya tertawa kecil mendengar reaksi Asep, mungkin pria memang sama sensitifnya bila menyangkut umur. Tanpa sadar matanya menatap Asep.

"Kamu gak apa-apa?" tanya Asep yang menyadari tatapan si gadis.

Dominica hanya menghela nafas, "Udah, gak usah dibahas lagi, aku gak butuh dikasihani... Daripada itu, kau harus bersiap-siap tau, ronde pertama dimulai lima menit lagi."

"Apaa!!" Tak berlama-lama Asep pun meloncat dari kasur dan terburu-buru meninggalkan Dominica yang tersenyum licik.

•••

Lima menit kemudian.

"Dasar kamu mah ya, ternyata masih sejam lagi," umpat Asep sambil melahap dua potong paha ayam bakar di tangannya.

Sementara di depannya Dominica tertawa terbahak. "Salah siapa gak lihat jam." ucap gadis bermata biru tersebut, dia sendiri dengan lahapnya menyantap steak dengan pisau dan garpu.

Saat ini keduanya sedang berada di kantin yang khusus disediakan bagi para peserta turnamen. Entah disengaja atau tidak, tapi sepertinya menu setiap peserta berbeda tergantung asal daerah si peserta, Asep sendiri memilih menu ayam bakar kesukaannya. Beberapa peserta lain ikut bersantap sebagai persiapan untuk ronde satu. Namun terlihat jelas mereka tak mau berurusan dengan pria berwajah sangar tersebut.

Sehari sebelumnya, semua peserta yang telah meyelesaikan misi di babak penyisihan dikumpulkan di area penginapan. Saat itu juga diumumkan peserta mana saja yang berhak lolos ke ronde selanjutnya. Sesuai janji hanya empat puluh delapan peserta yang lolos, Asep dan Yu Ching termasuk peserta yang lolos, tapi sayangnya Dominica dan Chubox tak berhasil.

"Jadi apa rencana kamu selanjutnya?" tanya Asep. "Pulang seperti yang lain?"

"Entahlah, mungkin aku akan menerima tawaran para Wota Knight untuk bekerja di Alforea Brilliant Park, aku dengar mereka membutuhkan seorang manajer handal."

"Gitu ya, " ucap Asep sambil melanjutkan sarapannya. "Terus soal Chubox?"

"Para Wota Knight sedang mengurusnya, mereka agak susah mencari kayu yang tepat untuk memperbaiki Chubox," jawab Dominica. "Tapi aku yakin mereka akan berhasil. Jangan kuatir, jaketmu pasti kembali."

Asep tak menjawab, hanya mengangguk dan melanjutkan makannya. Kali ini dua piring nasi goreng yang menjadi korbannya.

"Kamu sendiri... apa rencananmu?" Dominica balik bertanya.

"Gak tau, kumaha engke we, (gimana nanti)" jawab Asep. "Nanti improvisasi aja kalau udah ada di lapangan."

Dominica hanya geleng-geleng kepala, "Kamu beruntung punya fisik kuat, tapi memenangkan turnamen ini gak cukup hanya dengan kekuatan fisik aja tau."

"Kamu pikir udah berapa lama saya hidup di jalan?" ucap Asep sambil menengguk segelas air tanda selesai makan. "Di manapun sama aja, yang kuat lah yang akan menang."

"Yang kumaksud itu, berhati-hatilah, bahkan orang yang terlihat lemah pun punya caranya sendiri untuk bertarung."

"Iya tau." jawab Asep, benaknya menerawang kejadian beberapa tahun yang lalu saat dia bertarung melawan Kang Yayan.

"Good luck." ucap Dominica.

Asep mengacungkan jempolnya, senyuman kecil tersungging dari bibirnya. Tak berapa lama dia pun pergi meninggalkan Dominica, menuju area tempat para peserta yang lolos ke babak selanjutnya. Tanpa disadari Asep, wajah Dominica berubah murung, tangannya terkepal. Terlihat jelas ekspresi kekecewaan terlukis di wajahnya.


•••

[12]
Setali Tiga Uang

Di pelataran parkir kuda Despera, dua pasang mata tampak asyik mengintip Asep yang baru saja selesai makan.

"Lo gak bercanda kan?" ucap salah satu pengintip berambut dreadlock hitam.

"Loh, buat apa gue bercanda, yang minta saran kan lo sendiri, Mer." jawab pengintip lain yang berambut putih.

"Iya sih, tapi lihat orang itu, lo nyuruh gue ngebunuh dia sekarang juga?" ucap wanita berambut gimbal itu. "Lo mau bikin gue tamat ya Kai."

"Ralat. Bukan nyuruh, tapi ngasih saran." jawab pria berambut putih yang dipanggil Kai. "Lo minta saran gimana caranya menangin ronde pertama di grup lo, dan gue nyaranin 'Bunuh Si Pria Bercodet sebelum kalian masuk ke portal', sederhana kan?"

"Gimana caranya?"

"Mana gue tahu," jawab Kai. "Gue cuma bisa ngasih kunci buat nyampe tujuan yang lo mau, soal caranya make kunci ya pikir aja sendiri."

Dengan kesal si wanita rambut gimbal mencengkram kerah baju si pria berambut putih. "Info sampah, babi lu, sia-sia gue semalem ngasih badan gue ke lu."

"Salah sendiri jadi cewek murahan banget, padahal gue kan mintanya duit, lu malah ngasih badan lu."

"Cih, ogah banget ngasih duit ke lu!" ucap si wanita yang juga bertanduk aneh tersebut. Wanita yang bernama lengkap Meredy Forgone itu pun sejenak terdiam. "Gue gak ngerti, kenapa harus ngebunuh dia dulu? Kenapa bukan yang lain?"

Kai yang ditanya hanya tersenyum. "Gue gak tahu kenapa.. yang gue tahu cuma itu satu-satunya cara menang dengan kemungkinan berhasil seratus persen."

"Seratus persen? Terus ada gak, cara lain yang gak seratus persen tapi gak ngelibatin si Asep Codet."

"Ada, tapi infonya mahal, soalnya ini bukan skill yang bisa gue lakuin berulang—"

Ucapan Kai terhenti saat Meredy menodongkan pistol warna abunya ke kepala Kai. "Kalau lo gak mau bilang sekarang, skill lo itu gak kan bisa lo pakai lagi selamanya!"

"OK –OK, tapi sekali lagi gue tegasin, kemungkinannya cuma lima puluh persen lo bisa menang."

"Gapapa, soalnya... I am—"

"Feeling lucky today?"

"Mau gue tembak ya?" ucap Meredy yang sepertinya tak mau ucapan khasnya disela.

Kai yang diancam hanya mesem-mesem tak jelas. Tapi kemudian pandangan matanya beralih pada sosok yang tiba-tiba hadir di depan mereka. Meredy yang juga menyadari, mengalihkan pandangan ke sosok tersebut.

Seorang pemuda berpakaian rapi dengan kemeja warna putih berdiri menatap mereka berdua. Rambut kribo dengan jambul yang menonjol ke depan membuat penampilannya unik. Sekilas pandang, pemuda tersebut terlihat seperti seorang pegawai kantoran, tapi matanya yang terkesan tak peduli seakan menyiratkan suasana hatinya yang keriting.

"Mau apa lo?" tanya Meredy. "Kau si Fatanir itu kan? Yang satu grup ma gue?"

Fatanir tak menjawab, tapi matanya melihat ke arah pistol yang dipegang Meredy, setelah itu pandangannya terarah ke dua buah pistol yang tersaku di pinggang Kai. Kepalanya mengangguk dan kemudian menghela nafasnya.

"Kasian sekali, pistol-pistol kalian menangis, mereka menderita karena ada di tangan kalian." ucap Fata.

"Maksud lo?!" ucap Meredy berang.

"I –Itu bukan urusan lo!" ucap Kai yang lebih mengerti maksud perkataan Fata.

Perhatian Fata tiba-tiba beralih ke arah gadis bertubuh pendek yang sedang berjalan dengan ceria ke arah tempat berkumpul peserta, terdengar si gadis menyanyikan lagu yang saat ini sedang populer di Alforeadio. Mata Fata menatap tepat ke arah gelang elektronik yang dipakai si gadis. Tak memperdulikan ocehan Meredy padanya, Fata pergi begitu saja meninggalkan mereka berdua.

Meredy dan Kai hanya saling berpandangan.

"Cara yang lima puluh persen itu, ada gak yang hubungannya ma ngebunuh orang itu sekarang juga?"

Mendengar ucapan Meredy, Kai tersenyum penuh arti.

•••

"Sudah terlalu lama sendiri~ sudah terlalu asyik sendiri~ tak ada yang—" nyanyian Izu terhenti ketika menyadari di belakangnya seorang pria mencurigakan mengikutinya.

Jantungnya seakan berhenti berdetak saat tatapan matanya beradu pria tersebut. Izu mengenalnya sebagai Fatanir, dia mengetahuinya saat memeriksa daftar para peserta yang tergabung dengannya. Menurut gadis berambut biru langit itu, rambut kribo Fata adalah rambut terkeren yang pernah dia lihat.

"Met pagi Fata," sapa Izu semanis mungkin. Tapi pria yang disapa tak menjawab, matanya malah terus melihat ke arah sepasang gelang Izu.

"Oh ini, Smart Bracer, gelang pintar hasil ciptaanku sendiri." Ucap Izu yang menyadari tatapan Fata.

"Pantas saja mereka terdengar... bahagia." ucap Fata.

"Benarkah?" mendengar itu Izu tersenyum lebar. "Ah, aku tahu soal kemampuanmu, jadi aku senang sekali mengetahuinya."

Fata hanya mengangguk. Pria itu kemudian berjalan ke tempat yang dituju Izu, gadis itu segera saja mengikuti langkah pria berambut kribo tersebut. Tampak senyum gembira mengembang di wajah sang gadis.

•••

Tak jauh dari sana, seorang gadis kecil tampak mengendap-endap di belakang seorang pria jangkung berambut panjang kelabu. Rambut si pria sebenarnya hitam, tapi karena bercampur dengan uban, tampak seperti kelabu bila dilihat dari jauh. Entah sadar atau tidak, si pria yang menggendong pedang panjang di punggungnya itu terlihat berjalan dengan santai.

"Kak Tono bloon, pake nyuruh ngambil pedang om-om itu. Buat apa coba?" Gumam anak berambut ikal pirang.

Om-om yang dimaksud adalah Kii, si Pemecah Pedang, sementara yang mengikutinya adalah Maria Fellas, atau biasa dipanggil Felly saja. Sama seperti Meredy, sepertinya Felly juga diberi saran oleh rekan setimnya dulu. Tapi berbeda dengan Meredy, yang harus dilakukan Felly hanya mencuri pedang panjang milik Kii. Entah apa maksud si Tono dengan menyuruh Felly mencuri senjata satu-satunya Kii tersebut, pria berkacamata itu hanya bilang kalau itu adalah satu cara untuk mendapat untung.

"Om-om itu ada di urutan terbawah dalam daftar yang dirilis kemarin, kalau kata Kak Tono, itu berarti dia peserta paling lemah di grupku," lanjut Felly, "Tapi lemah dari mananya?"

Dilihat dari manapun, Kii memang memancarkan aura seorang pendekar pedang yang handal. Jangan tertipu dengan kemeja putih dan sendal jepit yang setiap saat menempel di kakinya, juga dengan mata sendu karismatiknya. Karena wujud Kii yang sebenarnya adalah seorang pembunuh bayaran yang telah menebas banyak lawannya.


Di lain pihak, Kii sendiri terlihat sedang melamunkan sesuatu. Dia tak habis pikir, keinginan dia untuk pulang kembali ke tempat asalnya sepertinya tidak dihiraukan pihak panitia. 'Bukankah seharusnya aku sudah mati?' pikir Kii.
Tapi Kii tak mau banyak berpikir, mungkin belum waktunya. Mungkin di babak inilah kematian akan menyambutnya. Tapi mungkin juga tidak. Yang pasti, siapapun lawannya, tidak akan ada istilah menghindar.

•••

Di tempat yang ditentukan, seorang maid berambut ungu panjang bernama Anastasia berdiri di atas undakan. Di grupnya, Asep menjadi orang yang pertama di lokasi, diikuti Kii dan Felly. Di belakang mereka berturut-turut Fata, Izu dan Meredy. Asep melihat beberapa orang dikenalnya, dan juga menyadari jumlah peserta berkurang setengahnya.

"Untuk setiap tim, silakan berkumpul di lingkaran portal yang telah ditandai," seru Anastasia, "Tim A ke portal A, tim B ke portal, begitu seterusnya."

Portal yang dimaksud berbentuk lingkaran teleport seperti yang ada di kapal penjelajah antariksa, USS MutiaraSelatan. Berturut lingkaran portal A, B, C, D, F, G dan H berjajar rapi di alun-alun Despera.

"Tunggu, aku tak melihat portal E!" ucap satu peserta wanita yang memakai celemek.

"Lokasi tim E masih di wilayah Kota Despera, tidak diperlukan portal." jawab Anastasia.

"Boleh bawa makanan yang banyak, bun?" tanya peserta berbadan kerdil.

"Boleh bawa pasangan?" tanya peserta bertopeng.

"Bisa tukeran portal ma abang yang di sana gak?" tanya peserta yang tak jelas jenis kelaminnya.

Anastasia dengan santun melayani ocehan-ocehan para peserta tentang pengaturan babak pertama. "Tidak bisa, keputusan RNG-sama tidak bisa diganggu gugat! Bila anda merasa keberatan, silakan anda mengundurkan diri sekarang juga. Tapi tentu saja itu berarti anda telah gugur dari turnamen ini."


Seiring waktu, semua peserta akhirnya menurut dan memasuki portal masing-masing. Dengan telaten, seorang maid pemandu menjelaskan aturan pertarungan kepada para peserta sebelum kemudian mengirim mereka ke lokasi masing-masing. Tak terkecuali tim H yang menaungi Asep, seorang maid bernama Katya Lischina dengan sabar menjelaskan detil misi.

"Ada pertanyaan?" tanya Katya setelah setelah menjelaskan.

Izu yang pertama mengacungkan tangan. "Tapi sebenarnya tidak perlu saling membunuh kan? Kami hanya perlu bertahan paling akhir?"

"Iya tepat, seperti yang saya bilang sebelumnya, ini adalah Survival Game, yang bisa bertahan paling lama lah yang menang."

"Apa serunya?" ucap Meredy. "Gimana kalau kita taruhan, siapa yang mati duluan."

"Boleh, aku bertaruh kau yang duluan mati." balas Fata.

"Apa lo bilang?" ucap Meredy berang. "Kalo gitu, gue bertaruh lo yang duluan!"

Baik Fata atau Meredy tak mau mengalah, mereka saling menantang dan mengancam. Cukup aneh sebenarnya, mengingat sifat asli Fata yang cuek. Yang pasti entah kenapa Fata merasa dendam pada Meredy, seakan-akan wanita itu penah menindasnya.

"Bisa-bisanya ajang kayak gini dijadiin main-main, kekanak-kanakan." balas Felly.

"Kamu sendiri masih anak-anak, hehe," ucap Izu cekikikan.

"Terus kenapa, masalah ya?" ujar Felly yang tiba-tiba nyolot, "Kamu sendiri tampang bocah, tapi sebenarnya tante-tante."

"A –Apa? Jangan seenaknya ngomong, aku belum tante-tante, aku masih..." Izu sempat melirik Fata, tapi yang dilirik masih asyik berseteru dengan lawannya, "Masih... 25 tahun."

"Dua puluh lima tahun itu udah harusnya kawin." lanjut Felly.

"Tau apa soal umur kawin!" seru Izu, "Dasar bocah... tukang iler!"

"I –Ini bukan iler!!" bentak Felly, "Dasar tante... rambut biru!"

"Apa kau bilang?" ucap Izu geram. "Eh, rambutku emang biru sih... Itu bukan makian tau!"

"Huh, bialin!" balas Felly mendengus.


Beda karakter, beda cara mereka berinteraksi. Pasangan ketiga, Asep dan Kii justru saling bertegur sapa. Mereka berdua bersikap tenang, walau tampang mereka kebalikannya.

"Aya aya wae barudak leutik teh, (Dasar anak kecil, ada-ada aja)" ucap Asep, memulai obrolan dengan Kii. "Padahal kalo mau berantem mah nanti aja, iya kan Kang?"

"Bukan Kang, tapi Kii." balas si pendekar pedang.

"Oh maaf ki, saya kira aki (kakek) masih muda, soalnya rambutnya mirip kayak saya, setengah hitam setengah uban. Ah iya, nama saya Asep." ucap si preman sambil menyodorkan tangannya untuk salaman.

"Namaku... ah biarlah," ucap Kii yang menyambut tangan Asep, pegangannya dengan sengaja dia keraskan. "Oh iya, apa sebelumnya kita pernah ketemu? Maksudku sebelum kita dikumpulkan di sini. Rasanya wajahmu familiar?"

"Kayaknya belum, saya pasti inget kalau pernah ketemu— Eh asa pernah ngomong gitu, tapi dimana ya?" Asep tak mau kalah, dia membalas jabat tangan Kii dengan lebih keras. Sesi salaman yang harusnya sebentar, malah berlansung lama.

"Aku berharap yang terbaiklah yang menang." tambah Kii sambil meningkatkan intesitas pegangannya.

"Saya juga berharap gitu." balas Asep melawan balik.

Melihat tensi yang semakin memanas di antara peserta, maid Katya menghela nafas dan kemudian melangkah keluar dari lingkaran portal tim H.

"Fast Travel menuju Bauhaus Frontierland dimulai dalam lima, empat, tiga..."


•••

[13]
Sarapan Yang Tak Berbekas

Bauhaus Frontierland konon telah menjadi gurun mati jauh sebelum Pertempuran Shor Stone terjadi. Diabaikan oleh para perintis karena tanahnya yang sebagian bebatuan keras sehingga susah untuk ditanami, konturnya yang tak beraturan membuat minimnya ruang terbuka untuk dijadikan pemukiman, jurang-jurang dalam yang seakan tak berdasar hampir ada di setiap bagian, tak lupa juga para penghuni alami yang siap memangsa siapapun yang mendekat. Semua eleman tersebut menjadikan Bauhaus sebagai tempat paling berbahaya di Alforea setelah Rumah Mertua.

Dan bicara soal penghuni alami, Bauhaus merupakan rumah dua species yang telah saling memangsa selama ribuan tahun. Mereka adalah Kadal Predator dan Kalajengking Aliens. Kadal Predator dengan nama ilmiah Sariminus Rastafaraptor adalah kadal yang berdiri dengan dua kaki, berambut gimbal dengan kulit triwarna, (hijau, kuning, merah) mampu berlari cepat dan berburu secara kelompok. Sementara lawannya, Necronom Scorpio Z, atau dikenal sebagai Kalanjengking Alien adalah makhluk yang mengincar mangsanya dengan bersembunyi dalam tanah.

Keduanya telah lama bersaing untuk menentukan siapa yang pantas bertengger di puncak rantai makanan Bauhaus. Keduanya pemangsa, keduanya agresif dan keduanya bukan tuan rumah yang ramah. Dan enam orang yang akan jadi tamu di rumah mereka pun tiba, menggunakan teknologi teleportasi terbaru, mereka berenam dikirim ke enam lokasi berbeda.

•••

Lokasi pertama, tokoh utama kita Asep tiba di satu bukit. Di hadapannya terhampar formasi bebatuan berwarna kuning. Dia berpikir apa Alforea hanya terdiri dari gurun pasir berbatu, karena lagi-lagi dia dikirimkan ke tempat gersang ini. Bedanya saat itu dia dikirim malam hari, sekarang dia dikirim saat sinar mentari lagi panas-panasnya. Asep mulai menyesali kurangnya persiapan dia, di tempat seperti ini, keberadaan air adalah yang terpenting. Harusnya dia setidaknya bawa segalon air buat bekal. Asep mulai berjalan-jalan, memeta-meta lokasi. Namun baru beberapa menit berjalan, Asep tiba-tiba merasakan hal yang aneh di perutnya. Perutnya keroncongan, entah kenapa dia mulai lapar lagi.

"Perasaan tadi pagi teh saya udah sarapan sampe kamerkaan (kekenyangan), kok mulai lapar lagi?" gumam Asep, "Ah tapi katanya bakal ada kiriman ransum tiap sejam. Tungguan we ah."

•••

Di tempat lain, lokasi kedua, peserta wanita berbadan pendek, Izu Yavuhezid tiba. Segera saja dia membuka Inventory Cube miliknya dan mengeluarkan mantel bertudung yang kemudian dia pakaikan langsung. Wanita berambut biru itu menyadari, tempat gersang dan berangin sepertinya bisa menyebabkan dehidrasi akut. Mantel bertudung sangat penting menahan kulit supaya tak terekspos angin panas tempat ini. Setelah itu dengan cekatan dia mengutak-atik gelang elektroniknya, Smart Bracer dengan cepat memetakan seluruh wilayah gurun tersebut. Sebuah layar hologram mencuat dari balik gelang dan memperlihatkan enam titik berwarna biru. Sementara beratus-ratus titik-titik merah tersebar di seluruh wilayah gurun menandakan bukan hanya para peserta yang berada di tempat ini. Enam titik berwarna biru adalah para peserta, titik di tengah adalah Izu dan satu titik yang ditandai sepertinya seseorang yang ingin diprioritaskan Izu.

"Tunggulah, aku akan datang menjemputmu," ucap Izu, "Tunggu aku, Fata."

Secepat dia mengoperasikan gadget miliknya, Izu pun bergerak menuju lokasi Fata. Dengan lincah dia bergerak melompati bebatuan dan memanjat tebing. Gerakan Izu mirip sekali dengan pemain parkour di rimba kota Paris.

•••

Sementara itu lokasi ketiga, atau bisa disebut agak jauh dari lokasi ketiga. Seorang pemuda kribo tampak melarikan diri dari kejaran Kadal Predator. Walau fisiknya terlihat lemah, tapi ternyata larinya cepat sekali.

"Belum apa-apa udah harus ketemu monster kadal, sial!" pekik Fata. "Pasir sialan, batu sialan, kenapa ke tempat kayak gini lagi! Harusnya tempatku itu di Verdana!"

Fata pun mengeluarkan chip yang dia buat saat babak sebelumnya, dia tempel chip tersebut di lehernya dan berteriak, "Berhenti!" tapi tak ada yang terjadi, kadal-kadal tersebut masih saja terus mengejarnya. "Kenapa gak berhasil?"

Alhasil Fata pun melanjutkan langkah seribunya. Sambil tak lupa mulutnya berkomat-kamit melafalkan makian.

•••

Kita tinggalkan dulu pemuda malang itu dan pergi ke lokasi keempat, tempat Meredy berada. Wanita berambut gimbal itu berdiri di puncak bukit batu, melihat sekelilingnya dan berkata, "Meh!"

Dia pun mengingat kembali perkataan Kai sebelumnya.


"Grup lo ngambil lokasi di gurun lagi, elemen tanah dan angin. Di grup lo ada dua orang berelemen tanah, keduanya sama-sama berkekuatan tinggi. Jika dibiarkan, mungkin hanya mereka berdua yang akan bertahan sampai akhir."

"Jadi apa saran lo?"

"Ilangin mereka berdua dari persaingan, biarkan mereka berdua saling bunuh. Let Them Fight!"

"Oh, ide yang bagus Serizawa sensei."

"Siapa yang Serizawa?! Tapi seperti yang gue bilang, kemungkinannya cuma lima puluh persen, jadi lo harus pastiin keduanya gak selamat di satu jam pertama!"


'Jadi siapa duluan yang harus ketemui? Asep di barat, Kii di timur?' setelah mengambil keputusan dengan melempar koin, Meredy pun memilih pergi ke arah timur.

•••

Di arah timur, sesuai perkiraan, Kii telah hadir di gurun pasir. Di sekeliling Kii berserakan bangkai-bangkai Kalajengking Aliens yang telah terpotong-potong bagian tubuhnya. Rupanya sesaat setelah Kii tiba di Bauhaus, belasan kalajengking raksasa melakukan tindakan bodoh karena mencoba memangsa pendekar pedang tersebut. Kii yang tak mau mati konyol segera saja menebas makhluk-makhluk antropoda itu.

"Dua puluh tebasan untuk dua puluh makhluk lemah. Tak layak, lagi-lagi pedangku menebas makhluk yang tak layak. Maafkan aku, pedang." ucap Kii sambil menyarungkan kembali pedangnya. Kii pun kemudian duduk bersila di atas bebatuan, pikirnya cara terbaik untuk bertahan di tempat seperti ini adalah jangan melakukan pergerakan yang berlebih dan menghemat energi, dan tidak ada cara yang lebih menghemat energi daripada bermeditasi.

Namun sedang khusyu-khusyunya bermeditasi, sebuah pergerakan mencurigakan membuatnya siaga. "Mau apa kau mengendap-endap seperti itu?" tegur Kii.

Seorang wanita berbaju lateks hitam tampak terkejut, namun tak terlihat rasa khawatir di wajahnya. "Wah, wah, hebat sekali pendekar pedang ini."

Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung. Mungkin peribahasa ini tidak cocok untuk menilai ucapan Meredy, tapi saat menghadapi Kii mungkin lebih bijak bila dirinya tidak menggunakan lo gue seperti saat berbicara dengan Kai. "Aku salut padamu, benar-benar hebat."

"Apa maumu? Kau ingin menantangku bertarung?" tanya Kii tanpa basa-basi, "Bila kau ingin membunuhku secara diam-diam, kau harus berlatih lagi."

"Tidak, tidak, aku bukan ninja atau assassin, aku malah lebih ke tipe support daripada attacker. Aku hanya ingin membantumu."
Mendengar kata assassin, Kii sempat terdiam. Dia teringat saat dulu dia masih menjalani profesi sebagai pembunuh bayaran, profesi yang bisa dianggap tidak cocok dengan sifatnya yang adil dan lurus. "Memangnya bantuan apa yang bisa kau berikan padaku?"

"Aku tahu kalau pendekar pedang sepertimu membutuhkan lawan yang sepadan. Dan di grup ini hanya satu orang yang menurutku mempunyai kemampuan yang seimbang denganmu, si pria bercodet." jelas Meredy. "Aku bisa menunjukkan tempatnya, kalau kau mau?"

Kii tahu dari awal kalau pria yang dimaksud Meredy akan menjadi lawan terberatnya. Dia bisa saja diam di sini dan menghemat energi, apalagi dengan kondisi lapar aneh yang mulai menyerang perutnya. Atau pergi menyongsong pertarungan seperti layaknya pria sejati.

"Ke arah mana?" jawab Kii yang memutuskan untuk menjalani cara kedua.

Meredy tersenyum saat mendengar jawaban Kii yang sudah diprediksinya itu. "Lurus aja ke arah barat, di sana kau akan berpapasan dengan lawanmu, Asep Codet."

Tak banyak bicara, Kii pun pergi meninggalkan Meredy yang tersenyum puas. Ke arah barat untuk melawan tantangan terberat dalam hidupnya.

•••

"Aduduh, ini mah laparnya kayak gak makan seminggu aja." di pihak lain, Asep mulai terlihat terganggu dengan rasa lapar yang menghinggapi perutnya. Asep memang pernah tidak makan lebih dari seminggu saat dirinya baru saja tiba di Bandung dan kehilangan bekal sebulan. Beruntung pada hari kesepuluh ada yang baik hati memberi makan dia, tentu saja setelahnya Asep harus melakukan pekerjaan yang diminta orang itu. Setelah itu Asep pun mulai bekerja serabutan demi sebungkus nasi dan sebotol akua.

Saat Asep sedang meratapi perutnya yang keroncongan, di kejauhan dia melihat seorang pria berambut kribo yang lari dari kejaran kadal-kadal bermacam warna, Asep mengenal pria kribo itu sebagai Fatanir. Ada niat untuk membiarkan saja orang tersebut, tapi entah kenapa Asep malah berlari ke arah Fata. Asep berlari kemudian melompat ke tengah-tengah si pria kribo dan kadal-kadal pengejar.

Kedatangan Asep sontak membuat kadal-kadal tersebut berhenti. Namun tak seperti saat melihat Fata, para kadal seperti ragu untuk menyerang Asep. Mereka bergerak mengelilingi Asep dan seakan tak peduli lagi pada Fata.

Fata yang melihat kedatangan Fata hanya bisa bersyukur. "Ma –Makasih bang."

"Jangan bilang makasih dulu, kita masih belum aman." ucap Asep.

Benar saja, Kadal-Kadal Predator itu mulai menyerang Asep secara keroyokan. Kadal penyerang Asep berjumlah empat ekor, jumlah yang sebenarnya cukup untuk memangsa sepuluh orang biasa. Tapi empat ekor terlalu sedikit bagi seorang Asep. Hanya dalam kurun waktu satu menit, keempat ekor kadal tersebut bisa dikalahkan dengan mudah. Kadal-kadal tersebut kemudian berbalik melarikan diri.

'Fyuh, sudah kuduga, kekuatanku selalu bertambah berkali lipat saat memasuki wilayah berbatu.' pikir Asep.

Fata yang melihat pertarungan singkat Asep hanya bisa bengong. Tapi sedikit lega karena dia tak perlu berlari-lari lagi, tubuhnya sudah tak kuat lagi, peluh keringat bercucuran di sekujur badannya. Bukan hanya cape, tenggorokan dan perutnya tak henti-hentinya memberontak.

"Abang kuat banget, tapi abang gak bakal ngebunuh ane kan?" tanya Fata polos.

"Buat apa ngebunuh orang yang lemah kayak kamu?" ucap Asep jujur.

"A –Aku lari bukan karena lemah, tapi karena kurang siap aja tadi!" ujar Fata mengelak.

Asep tak membalas ucapan Fata, tapi bisa dilihatnya warna ketakutan menghiasi mata pemuda itu. "Kalau memang saya mau ngebunuh kamu—"

"Aku gak kan biarkan kau melakukannya!" seseorang tiba-tiba muncul di antara mereka berdua, memotong ucapan Asep.

Adalah Izu yang akhirnya tiba di hadapan Asep, dua bilah pedang pendek terpasang di kedua tangannya. Gerakannya hampir tak disadari Asep, posenya memperlihatkan kalau dia petarung handal, sementara itu matanya menatap tajam pria bercodet tersebut. Tapi melihat sosoknya yang mungil, mau tidak mau Asep mengangkat alisnya.

"Kamu sampe harus dilindungi anak perempuan?" ledek Asep.

"Gak! Aku bisa melindungi diriku sendiri!" ucap Fata mendengus, dengan kesal dia pun meninggalkan Asep dan Izu.

"Fata, tunggu!" seru Izu.

"Wah wah, geuning bisa ngambek—"

Ucapan Asep sekali lagi terpotong saat satu orang hadir. Bahkan Fata dan Izu dibuat terdiam saat melihat kedatangannya. Mereka bertiga sepakat bahwa pria gondrong yang datang belakangan bukan datang untuk maaf-maafan menjelang ramadhan. Hawa membunuh yang menusuk terpancar jelas dari pria pembawa pedang tersebut. Namanya adalah Kii, dan dia datang untuk menantang Asep, lawan yang menurut dia layak ditebas oleh pedangnya.

"Mendingan kita pergi aja yuk," ajak Izu. Fata hanya mengangguk dan menuruti wanita tersebut, keduanya pun pergi menjauh.

"Wah wah, ng, Kii ya? Sekarang gimana?" tanya Asep.

"Kita punya urusan dari sembilan tahun yang lalu, ayo kita selesaikan sekarang!"


•••

[14]
Satu Jam Pertama

Sebelum kita berlanjut ke kencan Asep dan Kii, mari kita tengok satu peserta yang sepertinya terlupakan.

Namanya Maria Fellas, biasa dipanggil Felly. Dibandingkan dengan lima peserta lainnya, dia yang termuda, 12 tahun usianya. Tapi jangan sekalipun meremehkan Felly, karena gadis itu sebenarnya setengah lintah... Okay, mungkin tak terdengar terlalu mengintimidasi seperti halnya setengah naga, tapi kalian tahu sendiri kan apa itu lintah? Makhluk ini bisa menggigitmu tanpa kalian sadari, terus menyedot darah kalian seperti vampir, ng, mungkin tak seperti vampir juga sih, tapi yang jelas kalian akan kekurangan darah.

"Udahan narasinya?"

Oh okay, saatnya cerita berlanjut. Itulah Felly, si gadis lintah. Berbanding terbalik dengan sosok lintah yang lembek, lembab dan lengket, penampilan Felly justru sangat manis. Seperti gula. Yang menetes.

"Gak usah ditambahin kata menetes juga keles!"

Maaf.

"Lintah bukan hanya menyedot darah tau! Kau pernah dengar terapi lintah gak sih? Lintah juga sangat penting dalam dunia medis tau!"

Aih, berlanjut toh penjelasannya. Ups, mari kita lanjut narasinya sebelum dia mulai menggigit penulis.

Seperti peserta yang lain, Felly juga muncul di satu titik di gurun Bauhaus. Beruntung dia mendapat lokasi yang jauh dari hikuk pikuk makhluk pemangsa. Dan seperti Izu, gadis ber-IQ tinggi itupun membawa mantel bertudung sebagai pakaian wajib tamasya di gurun. Dan sebagai tambahan, Felly juga sempat membeli lima bungkus Tamon Roti, lima botol aqua gelas, satu pak Tensofellas, dua bungkus coklat Delfelly, lima bungkus Samrillmie goreng, dan berbagai makanan manis lain yang disimpan di dalam tas ranselnya. Namun sayang, semua makanan dan minuman tersebut, kecuali Tensofellas, menghilang dari dalam tasnya.

"Eeeeh?!" pekik Felly yang mendapati secarik kertas bertuliskan: 'Atas kebijakan panitia, semua peserta tidak diperbolehkan membawa makanan dari luar. TTD Satpam Blitzhaus.'

Dengan kesal Felly merobek-robek kertas tersebut. Untungnya mantel tudung penahan anginnya tak ikut disita, dengan perasaan bingung Felly pun meringkuk. Perutnya mulai lapar, sementara keringat, ya, keringat mulai mengucur dari kulitnya. Felly pun kemudian teringat tentang kisah nasi kotak yang turun dari langit. Konon nasi kotak itu akan turun tiap satu jam bagi orang yang memperhatikan, dan hanya orang-orang yang beruntung yang bisa mendapatkannya. 'Kisah yang konyol,' pikir Felly.

•••

Satu jam kemudian.

Felly sekuat tenaga menahan lapar dan dahaga di tempatnya semula. Diam dan tak bergerak, Felly berusaha menghemat energi tubuhnya. Tapi apa daya, tubuhnya hanyalah tubuh lemah seorang anak usia belasan tahun. Walaupun dalam gennya terdapat DNA lintah, tapi gurun pasir bukanlah habitat seekor lintah. Felly pun mulai berhalusinasi, di hadapannya ibunya sedang berdiri di meja dapur, meyiapkan bekal untuk Felly berangkat sekolah. Ibunya tersenyum dan memperlihatkan bekal makanan yang berbentuk nasi kotak terbuat dari besi mengkilap.

'Kalau mau, ambillah Felly,' ucap ibunya sembari melemparkan nasi kotak itu jauh-jauh ke atas.

"Kenapa dilempar ke atas ibu!" seru Felly kesal. Dilihatnya nasi kotak besi itu bukannya jatuh, malah melayang-layang di udara. Sebuah parasut menempel di atas kotak tersebut. Felly pun berlari menyongsong nasi kotak yang melayang-layang tak jauh darinya. Dan nasi kotak besi itu pun tepat mendarat di pelukan Felly yang gembira. "Terima kasih, Ibu."

Namun belum juga Felly membuka nasi kotak itu, dua sosok manusia berdiri di hadapan Felly. Yang satu tingginya hampir sama seperti Felly, sementara yang satu lagi tinggi sekali sehingga membuat Felly menengadah saat melihat rambut kribonya.

"Kemarikan nasi kotak itu!" ucap si pendek berambut biru.

"Gak mau, ini punya aku, mamah aku yang buat," ucap Felly.

"Rebut aja, dia cuma anak kecil," ucap si jangkung kribo, si pendek hanya mengangguk.

Keduanya kemudian mendekati Felly dan dengan paksa mencoba merebut nasi kotak besi tersebut, tentu saja Felly melawan, tak semudah itu merebut nasi kotak itu darinya. Terjadi pergumulan antara dua orang dewasa melawan satu orang anak kecil. Felly yang kalah jumlah (dan kalah tinggi) akhirnya harus merelakan nasi kotak itu direbut si pendek rambut biru setelah si jangkung kribo mendorongnya hingga terjatuh. Tak terima perlakuan si jangkung kribo, Felly pun menggigit lengan si kribo.

Awalnya gigitan Felly tak terasa sakit bagi si jangkung kribo, hingga karena suatu hal Felly pun melepaskan gigitannya. "Ewwh, asin!" ucap Felly yang merasakan jejak keringat di tangan si jangkung kribo.

Si kribo jangkung akhirnya berteriak ketika efek penahan rasa sakit dari gigitan Felly menghilang. Pria itu jatuh tersungkur karena menahan rasa sakit yang tiada tara.

Sementara itu Felly lari dari tempat tersebut sembari menangis tersedu-sedu. "Kalian jahat, awas Felly bilangin ke mamah!" teriaknya.

•••

Beberapa menit kemudian.

"Ewwwh, asin... air mata itu asin... aku gak mau nangis-nangis lagi deh," ucap Felly.

Felly yang sudah berada jauh dari tempat dia berebut nasi kotak, telah sadar dari halusinasinya. Tapi rasa lelah dan lapar semakin menggerogoti tubuh mungil gadis tersebut. Entah kekuatan apa yang membuatnya bisa bertahan, karena tidak mungkin anak seusia dia bisa bertahan selama ini dalam kondisi lapar dan haus akut. Saat Felly sedang berjalan terseok-seok itulah matanya menangkap sosok yang terbaring tak jauh darinya. Sosok pria berambut panjang beruban dengan bekas luka memanjang di bahu kanannya, Felly mengenal pria itu sebagai Kii.

"Kenapa om-om itu?"

Dilihatnya Kii tergeletak dalam keadaan yang cukup mengenaskan, luka memar bekas pukulan hampir ada di sekujur tubuh pendekar itu. Darah mengalir dari mulut dan hidungnya, kulit bibirnya sobek. Dada dan perutnya berlumuran darah. Tapi ajaibnya pria itu masih hidup, Felly masih bisa melihat dadanya kembang kempis tanda dia masih bernafas. Felly perlahan mendekati Kii.

Kii yang melihat kedatangan Felly, hanya bisa pasrah. Kekuatannya terlampau lemah untuk tetap bergaya keren, alhasil Kii hanya bisa bangkit untuk duduk, dia pun bersila.

"Kalau kau mau membunuhku... silakan, aku takkan melawan," ucap Kii, "Aku telah gagal, pedangku patah, aku juga kalah bertarung."

Felly tak menjawab dan hanya berlutut di samping Kii. Ekspresi wajahnya berubah, matanya menatap tajam tubuh Kii yang berlumuran darah, nafasnya terengah-engah, mulutnya membuka memperlihatkan kedua taringnya yang tajam. Tanpa ampun Felly menerkam leher Kii dan menghisap darahnya. Kii pun menutup mata dan menerima kematiannya.

Tapi tak begitu lama Kii kembali membuka matanya. Dilihatnya Felly tak lagi menghisap darahnya, walau terlihat jelas bekas darah masih menempel di mulutnya. "Kenapa?" tanya Kii.

"Kenapa apanya? Paman pikir aku ini apa?" ucap Felly kesal. "Aku hanya mengambil seliter aja kok, anggap aja paman mendonorkan darah paman padaku."

"Hanya seliter? Kau ini sebangsa vampir ya?"

"Sembarangan! Jangan samakan aku dengan mahluk rendahan kayak mereka! Mereka hanya parasit penyebar virus tau!"

"Terus... apa yang barusan kau lakukan?"

"Itu... aku kehausan."

"Kehausan?" tanya Kii.

Felly tak menjawab pertanyaan pria tersebut, tangan kecilnya meraih sesuatu dari tas ransel bulu dombanya. Sebuah kotak P3K berukuran mini diambil gadis tersebut. Dengan cekatan Felly mengobati luka-luka yang diderita Kii, termasuk luka hasil gigitan Felly.

Kii tak bertanya lagi, apapun yang dilakukan Felly, bila gadis itu tak mau menjelaskan maka dia takkan memperpanjang lagi.

"Kenapa menolongku?"

Felly sejenak terdiam, tangannya masih bergerak rapi layaknya seorang perawat rumah sakit. Matanya kemudian menatap Kii. "Supaya paman berhutang padaku, ada seseorang yang ingin aku bunuh!"

Ucapan Felly terdengar tidak asing di telinga Kii, dulu dia sering mendengar permintaan itu. Biasanya permintaan itu datang dari orang-orang lemah yang sarat harta untuk melenyapkan orang yang menghalangi tujuan mereka atau sekedar hiburan semata, biasanya orang-orang itu akan menawarinya sejumlah imbalan. Kii menyadari gadis inipun telah memberinya imbalan dengan menjauhkannya dari kematian.

Di saat Kii mencoba menjalani jalan sebagai seorang Penebas, masa lalunya sebagai pembunuh bayaran sepertinya kembali menemukan dia. Seperti halnya yang terjadi saat Kii bertemu dengan Asep sebelumnya.


•••

[15]
Sembilan Tahun Lalu

Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Kii? Mari kita tengok setengah jam sebelumnya.

Dua orang pria berbadan tinggi besar saling berhadapan. Keduanya beruban, walau yang satu gondrong sementara yang lain bergaya Morrissey. Mereka adalah Kii dan Asep.

"Urusan sembilan tahun yang lalu? Emang kita pernah bertemu?" tanya Asep.

"Wajar kalau kau tidak ingat, dulu kita memang tidak diniatkan untuk bertemu, kita bertemu secara kebetulan. Saat itu usiaku dua puluh satu tahun dan masih aktif sebagai pembunuh bayaran." Kii berhenti sejenak untuk melihat reaksi Asep, tapi Asep hanya mengangkat sebelas alisnya.

"Sekarang usia saya dua dalapan, kalau sembilan taun lalu, berarti saat saya... tujuh belas ya," ucap Asep.

"Sembilan belas."

"Oh iya, sembilan belas taun, terus ada apa waktu saya sembilan belas taun?"

"Seperti yang aku bilang, saat aku masih menjadi pembunuh bayaran, aku mendapat tugas untuk membunuh seorang mantan preman yang dijuluki Raja Preman Bandung," lanjut Kii, "Tapi aku gagal dan dengan memalukannya aku kabur, saat kabur itulah aku bertemu dan bertarung denganmu."

"Sempat bertarung? Beneran itu teh? Eh bentar, Raja Preman Bandung mah bukannya Kang Aslan? Kamu pernah coba ngebunuh Kang Aslan?"

"Kalau tidak salah, Aslan memang nama targetku—"

"Wanian maneh! Ngajak gelut Kang Aslan sarua jeung ngahina aing, komo ieu rek maehan!" (Beraninya kamu! Ngajak berantem Kang Aslan sama kayak ngehina saya, apalagi ini niat ngebunuh!)

Kii sama sekali tak paham dengan apa yang dikatakan Asep, tapi dari intonasinya yang meninggi dia paham kalau Asep marah. Belum lagi gelagat Asep yang menggemeretakkan jari-jari di kedua tangannya. Dan benar saja, dengan sekali tolakan, Asep melompat ke arah Kii dan melancarkan pukulan terkuatnya.

"PAPATONG... COMRO... KARUHUN!!"

Tapi pukulan Asep dengan mudah ditahan Kii hanya dengan bilah sarung pedangnya. Raut kaget tersirat jelas di wajah Asep.

"Padahal masih ada satu hal lagi hasil perbuatanku yang bisa membuatmu lebih marah, tapi sepertinya sekarang juga kau sudah siap bertarung." ucap Kii sambil terus menahan tekanan tangan Asep.

"Emang apalagi hasil perbuatan kamu yang bisa bikin saya marah?" tanya Asep yang juga terus mendorong kepalan tangannya.

Dengan gerakan yang hampir tak bisa dilihat mata Kii mencabut pedang dan menebaskannya pada Asep. Orang biasa mungkin sudah terkena sabetan Kii, tapi Asep sama gesitnya menghindari serangan tebasan Kii.

"Tunggu bentar! Saya asa ingat serangan ini!" seru Asep, "Jadi kamu ya yang sepuluh taun lalu membuat codet di muka saya!!"

"Bukan sepuluh, tapi sembilan... dan ya, akulah yang melakukannya."

"Oh, makasih, gara-gara kamu nama saya jadi Asep Codet," ucap Asep, "Tapi jangan pikir saya bakal maafin kamu yang udah coba nyerang Kang Aslan!"

Kii terdiam mendengar ucapan Asep dan kemudian tertawa terbahak-bahak. "Dan tadinya aku berpikir kalau kau akan murka dengan luka di wajahmu itu, tapi ternyata kau menanggapinya biasa saja."

Asep mendengus, "Bekas luka kayak gitu sih udah banyak di badan saya," Asep membuka kaos singlet dan memperlihatkan belasan luka di dada dan punggungnya. "Kebanyakan luka ini saya dapat waktu dilatih kakek, jadi tambah luka lagi gak masalah."

"Kau pikir kau saja yang punya." Kii pun tak mau kalah memperlihatkan bekas-bekas lukanya, tentu saja yang paling mencolok adalah bekas luka memanjang di bahu kanan yang entah kapan dia dapatkan.

"Luka besar itu tetep dihitung satu atuh, masih kalah dengan jumlah luka saya."

"Walau banyak, tapi bekas lukamu kecil-kecil, kau hanya menang di kuantitas, aku menang di kualitas."

"Cih, udahan ngomongnya, ayo lebih serius tarungnya!" tantang Asep.

"Baik, tapi berhubung kondisi perut kita yang aneh, bagaimana kalau kita saling melancarkan serangan terkuat kita?"

"Dan bertarung sesingkat mungkin? Hayu aja saya mah," Asep pun kemudian melakukan kuda-kuda Cipapatongnya.

"Maksudku seperti serangan yang kau lancarkan ke Tamon Rah."

Asep hanya tersenyum, tak mau berdebat dia pun menjawab, "Okeh. Kamu juga beri serangan terkuatmu."

"Kekuatan dua puluh tebasan rasanya cukup."

"Kekuatan yang aneh." ucap Asep. Pria bercodet itupun melakukan ritualnya, yaitu mengoleskan bubuk kopi yang dia simpan di gesper sabuknya ke dua ketiaknya. Seperti sebelumnya, tato yang ada di tangannya berubah warna menjadi merah.

"Kekuatanmu lebih aneh." ucap Kii.

"Ajian ini bukan dibuat untuk menyerang manusia biasa... Tapi kamu kayaknya gak bisa disebut manusia biasa... Jadi saya gak akan menahan diri."

"Bagus. Kau juga bukan manusia biasa, aku bisa merasakannya."

Asep tak menjawab, dia pun merentangkan kedua tangannya dan mulai menyanyikan lagu favoritnya.

"Halo-Halo Bandung, Ibukota—"

"Tunggu! Apa yang kau lakukan?" potong Kii.

"Untuk melancarkan jurus Kohpeeloowak, saya harus nyanyi lagu nasional dulu. Gak usah kuatir, Halo-Halo Bandung cuma tiga puluh detik kok."

Kii hanya bisa bengong, "Terserah deh."

•••

Tiga puluh detik kemudian.

"KOH –PEE –LOO –WAAAK!!!" teriak Asep sambil mengarahkan kedua tangannya ke arah Kii, sebuah gelombang dahsyat melaju ke arah pendekar pedang gondrong tersebut.

Sebaliknya Kii sendiri berdiri diam dengan tangan bersiap mengayunkan pedang, saat dirasa momentumnya tepat, Kii pun dengan kecepatan supersonik menarik keluar pedang panjang dari sarungnya. Saking cepatnya tarikan pedang Kii, aliran udara seakan terbelah, waktu seperti terdiam saat tebasan Kii meluncur deras ke arah Asep.

Ajian Kopiluwak milik Asep dan jurus Pembelah Materi milik Kii. Dua kekuatan besar beradu, ledakan dahsyat pun terjadi.

Kedua serangan mengenai sasaran. Kedua sasaran pun terlempar ke belakang, baik Kii dan Asep sama-sama terkena serangan masing-masing dengan telak.

Asep terdorong belasan meter mendekati tepian jurang, sebuah luka baru memanjang secara diagonal di dadanya. Sementara Kii terlempar dan menabrak sebuah dinding tebing.

Di saat itulah sebuah bayangan hitam melesat ke tengah-tengah mereka berdua, di tangannya sebuah pistol hitam mengacung ke arah Kii.

"[Shockwave Bullet]," sebuah tembakan melesat dan sesuai namanya, peluru tersebut menghasilkan ledakan gelombang di sekitar dinding tebing. Seketika itu juga dinding tersebut runtuh dan menimpa Kii.

Setelah puas melihat nasib yang menimpa Kii, sosok langsing berbaju hitam itu mengarahkan pistol hitamnya ke arah Asep. Asep yang melihat seluruh kejadian yang menimpa Kii terlihat sangat marah, tapi tubuhnya terlalu lemah untuk bertindak, pria itu hanya bisa menatap tajam wanita berambut gimbal di depannya.

"Uh, nanaonan ari silaing?!" (Apa-apaan kamu?)

"No hard feeling. It's just a game."

Meredy pun menembakkan peluru keduanya ke arah Asep. [Shockwave Bullet] kedua pun meledak dan sukses membuat Asep terlempar kedua kalinya ke belakang. Tapi kali ini jurang dalam telah menantinya. Asep pun jatuh bebas menuju kegelapan di bawahnya.

•••

[16]
Sebuah Permintaan

Meredy menatap jurang di bawahnya, jurang tempat Asep terjatuh. "Kalian ngobrolnya kelamaan, sampai bosen gue. Tapi dua gugur, tinggal tiga lagi. Target gampang."

Wanita itu kemudian melakukan gerakan aneh seakan-akan tangannya menepis angin. Yang dia lakukan sebenarnya adalah membuka layar hologram yang merupakan bagian dari super komputer yang tertanam di tubuhnya. Walau karena suatu hal, dia hanya bisa memasukkan perintah secara manual dengan diketik atau diklik. Jari-jarinya bergerak lincah mengikuti tombol-tombol hologram di depannya. Beberapa kali mulutnya mendecak kesal saat perintahnya gagal, tapi Meredy terus lincah mengetik perintah-perintah alternatif. Hingga pada satu kesempatan perintahnya mulai membuahkan hasil.

locate creature type scorpioblue
creature id found: sc1b
setrelationshiprank sc1b queenmother
locate creature type lizardred
creature id found: lz1q
setrelationshiprank 1z1q queenalpha

"Haha, jadi cuma gitu aja?" ucapnya geli. Meredy pun pergi dari tempat tersebut, wajahnya terlihat puas. Rencananya untuk menyingkirkan dua peserta terkuat telah berhasil, sekarang tinggal menyingkirkan tiga peserta yang tersisa.

Tapi tentu saja itu tidak benar, kita sudah tahu nasib Kii bagaimana. Terus bagaimana dengan Asep?

•••

Di kedalaman seratus meter Asep terbaring lemas, tubuhnya telentang, matanya lemah menatap angkasa. Dia masih hidup tentu saja, sekarat lebih tepatnya. Sepertinya jatuhnya Asep mendapat banyak hambatan dari bebatuan dinding jurang yang menyerupai balkon-balkon miring, sehingga mengurangi efek kerusakan yang lebih fatal.

'Nanaoan ari aing?' (Apa sih yang kulakukan?)

Asep meratapi nasibnya yang menyedihkan, terluka dan berdarah-darah. Dia hampir tak bisa bergerak, staminanya terkuras habis, ajian Kopiluwak memang bukan jurus yang tidak sehat. Ditambah rasa lapar aneh yang terus mengerogoti perutnya, membuat tubuhnya bergetar dan berkeringat dingin. Padahal dia baru satu jam saja ada di tempat ini. Kalau kakeknya masih hidup, mungkin dia akan mentertawakan kondisi Asep.

"Dominica benar, saya harusnya tak meremehkan orang-orang itu. Kakek juga benar, saya selalu serampangan menghadapi masalah, terlalu percaya pada kekuatan sendiri."


"Kamu ditakdirkan untuk menjadi pemimpin klan Alduin, Lex."

"Aku tidak mau kek, aku ingin bebas."

"Kau tidak akan pernah bebas... darahmu takkan mengijinkannya, 'dia' akan selalu menemukanmu."


Asep bangkit dan mencoba duduk. Dia tak selemah itu. Tebasan Kii dan serangan gelombang memang melukai fisik Asep, tapi tidak semangatnya. Tapi dia juga sadar, kalau begini terus, dia takkan bisa bertahan. Dia harus mencari cara, apapun itu.

Dan cara itu pun datang. Di jurang sedalam lima puluh meter itu, empat ekor Kadal Predator mendekati Asep. Asep mengenali keempatnya sebagai kadal yang sempat mencoba menyerang Fata sebelum dia datang menghajar mereka.

"Oh, kalian datang mau balas dendam ya? Apa kalian mengikuti sampai ke bawah sini?" tanya Asep seakan hewan-hewan itu bisa menjawab. Namun disaat Asep bersiap melawan dengan sisa-sisa tenaganya, keempat kadal tersebut membalas Asep dengan suara-suara aneh.

"Teman. Bahaya. Tolong." ucap salah seekor dengan terbata-bata, bukan uacapan, tapi lebih tepat suara yang menyerupai kata.

Untuk sesaat Asep teringat pada burung peliharaan Kang Aslan yang punya kemampuan seperti itu. "Kalian mirip burung beo!"

"Teman. Bahaya. Tolong. Teman. Bahaya. Tolong."

Mereka terus saja mengulangi kata-kata tersebut.

"Maksud kalian, teman kalian dalam bahaya dan kalian butuh pertolongan saya?" tebak Asep.

Tak diduga Asep, keempatnya mengangguk. Ternyata tebakan Asep tepat. "Gak di Bandung, gak di sini, selalu aja ada yang minta tolong bantuin teman atau keluarganya. Tapi kalian lihat sendiri kan badan saya gimana, babak belur! Buat berdiri aja susah."

"Makan. Daging. Kadal. Makan. Daging. Kadal."

Asep sempat terdiam mendengar jawaban para Kadal, tapi kemudian berucap, "Kalian mau saya makan daging kalian?"

Keempatnya kembali mengangguk.

"Embung ah!" (Gak mau!) tolak Asep, "Saya emang pernah makan ular, tapi ularnya ular mati yang gak ngajak ngobrol!"

Seakan memahami keberatan Asep, salah satu Kadal, sebut saja namanya K1, menghampiri Asep dan kemudian berbalik memperlihatkan ekornya. Sebelum Asep sempat bertanya lebih lanjut, Kadal yang lain (K2) kemudian menghantamkan cakar tajamnya ke arah ekor K1 sampai terpotong. K2 kemudian menyerahkan potongan ekor tersebut ke arah Asep yang hanya bisa bengong.

"Makan. Ekor. Enak." ucap K2.

Ada dua pilihan bagi Asep, menolak tawaran makan daging ekor mentah dan mati di tempat ini. Atau memakan ekor yang mungkin karena pengaruh rasa lapar sehingga terlihat seperti roti bakar selai stroberi. Menghemat narasi, Asep pun memakan ekor mentah tersebut. Di luar dugaan, rasanya benar-benar seperti roti bakar selai stroberi.

"Enyak pisan geuning!!" teriak Asep. "Boleh minta lagi?"

Entah karena memang rasanya yang terlampau enak, atau karena dalam ekor tersebut terkandung suplemen penambah energi, stamina tubuh Asep kembali pulih seperti sedia kala. Ajaibnya rasa lapar yang tadi menyerang Asep pun menghilang, walau begitu luka-luka yang diderita Asep sepertinya masih ada. Sepertinya ekor Kadal Predator tersebut hanya berfungsi sebagai penambah stamina atau adrenaline saja dan tidak berfungsi sebagai penyembuh luka.

Dengan tubuh yang masih berdarah-darah, Asep berdiri gagah, pandangannya mengarah ke atas. Terlihat cahaya menyilaukan seperti menunggunya untuk kembali. "Rotinya ekornya enak banget, makasih pisan lah. Nah sekarang, saya siap bantu. Hayu atuh!"

Keempat Kadal Predator pun berjingkrak-jingkrak gembira. "Naik. Punggung. Pergi. Atas."

"Oh, jadi gak perlu manjat ya? Sip atuh."

Tak menunda-nunda, Asep pun menaiki punggung Kadal No.3 yang badannya lebih besar yang ketiga kadal yang lain. Setelah merasa pegangan Asep kuat, K3 pun memanjat tebing jurang dengan kegesitan seekor cicak. Dengan memamfaatkan balkon alami, K3 tak membutuhkan waktu lebih dari setengah jam untuk mencapai tepi jurang.

Sesampainya di puncak, Asep bisa mendengar suara riuh pertempuran tak jauh dari sana. Asep beserta empat Kadal yang sepertinya bersaudara itu pun pergi ke arah pertempuran, dipandu Kadal No.4 yang berbadan langsing mereka bisa sampai ke sana dengan cepat. Sesampainya di sana mereka melihat ratusan Kadal Predator sedang berperang melawan ratusan Kalajengking Alien berbagai ukuran.

"Siang-siang gini tawuran, apa gak kepanasan?" komentar Asep.

"Kami. Pemburu. Malam. Bertarung. Strategi. Bukan. Tentara. Keluarga. Kami. Mereka. Hipnotis. Perang." ucap K1.

"Hipnotis? Maksudmu mereka dikendalikan untuk berperang?"

K1 kemudian menunjuk ke suatu arah, tepat di tengah para pasukan Kadal Predator, seorang pria berambut kribo dan wanita pendek berambut biru terlihat sedang memimpin pertempuran. Sementara lawannya, seorang wanita langsing berpakaian hitam sedang memimpin pasukan Kalajengking Alien.

"Mereka. Hipnotis. Anak. Wanita. Tua. Banyak. Korban." lanjut K1.

"Begitu ya," ucap Asep. Dia memang melihat diantara pasukan Kalajengking dan Kadal, ada sebagian yang ukurannya lebih kecil dari ukuran normal. Asep kembali menggemeretakkan jemari dan lehernya, bersiap untuk kembali terjun ke pertempuran. Tapi tak seperti sebelumnya, sekarang targetnya hanya tiga orang, selain itu serangannya tak boleh melukai makhluk-makhluk yang lain. "Baiklah, serahkan pada saya!"

Apakah dia bisa berhasil?


•••

[17]
SOB

Seperti biasa, mari kita putar waktu sedikit, kembali ke saat duo Fata-Izu bertemu Felly.

Nasib sial dialami Fata yang berusaha merebut nasi kotak dari tangan gadis usia dua belas tahun tersebut, tangan kanan Fata digigit Felly sekuat tenaga. Akibatnya darah tak henti-hentinya mengucur dari bekas gigitan taring Felly. Tapi mungkin memang itu salahnya, karena menganggap Felly hanya anak biasa. Kita semua tahu siapa Felly sebenarnya, dia adalah Putri Lintah.

Fata meringis kesakitan, tangan kirinya masih terasa linu akibat gigitan Felly. Tapi tak masalah, toh nasi kotak dan satu cup air berhasil dia dapat.

"Masih sakit Ta?" tanya Izu khawatir

"Gak apa-apa, luka segini sih..." Fata mau berkata 'bukan apa-apa' tapi jelas luka tersebut lebih dari apa-apa.

"Darahnya terus keluar, ternyata memang benar kalau Maria Fellas setengah lintah," ucap Izu. "Biar kuobati dulu lukamu."

Dengan cekatan Izu membuka kota ajaibnya, dia pun mengluarkan sebuah kotak P3K. Izu pun dengan terampil merawat luka di tangan Fata dan menutup lukanya.

"Aku butuh gelangmu itu," ucap Fata tiba-tiba. "Cepat kemarikan!"
"Eh, buat apa?" tanya Izu, "Kau masih bermaksud membuat alat itu?"

"Aku sudah membuatnya!" bentak Fata. "Tapi sepertinya tidak cukup kuat untuk mengontrol monster-monster di sini."

Alat yang dimaksud adalah chips pengendali monster yang diciptakan Fata di babak sebelumnya. Tapi entah kenapa chips itu tak berfungsi terhadap empat kadal yang di awal-awal mengejarnya. Dalam pikiran Fata, mungkin gelombang yang dihasilkan kurang kuat sehingga tak berpengaruh apa-apa, dengan kata lain alatnya perlu penguatan teknologi.

"Aku butuh alat itu sekarang Izu!"

"Iya –Iya, tenanglah Ta," Izu pun kemudian melepaskan sebelah gelangnya dan memberikannya pada Fata. "Tapi kenapa terburu-buru?"

Fata tak menjawab, dirinya malah asyik mengutak-atik Smart Bracer yang diberikan padanya, sambil sesekali tersenyum sendiri. Chips yang tadi dipasang di lehernya, dikombinasikan dengan gelang ajaib tersebut. Hingga akhirnya terciptalah alat baru yang bernama Smart Oppressor Bracer, atau disingkat SOB.

"Karena kita harus punya senjata, untuk melawan orang-orang hina itu," ucap Fata sambil memasang SOB di tangannya. "Dan ratusan pasukan untuk melindungi dan melayani kita."

Sebuah pemberitahuan terdengar dari gelang yang dipakai Fata, begitu pula gelang milik Izu. Sebuah layar hologram muncul dan memperlihatkan ratusan titik-titik merah sedang menuju mereka, anehnya satu titik biru berada di pusat titik merah.

"Kau melihatnya juga kan?" ucap Izu, "Apa ini artinya?"

"Ini artinya, wanita jalang itu mulai menunjukkan jati diri aslinya, ternyata dia benar-benar punya kemampuan untuk meretas sistem Alforea."

"Jadi dia seorang semacam hacker-cracker?"

"Bukan keduanya, dia lebih parah dari itu... dia virus."

Obrolan mereka terhenti ketika mendengar gemuruh pergerakan ratusan pasukan Kadal Predator tak jauh dari mereka. Tak perlu lagi melihati layar hologram, dengan kasatmata saja sudah terlihat sepasukan Kadal seukuran manusia bergerak seperti sebuah pasukan.

Tapi Fata dengan tenang kemudian mengangkat tangannya tinggi-tinggi, gelang ajaib yang dipakainya kerlap-kerlip. Beberapa detik kemudian, gemuruh lain terdengar, kali ini dari ratusan Kalajengking berlari ke arah Fata dan Izu.

"Fa –Fata, lihat itu, apa wanita itu juga yang mengendalikan kala-kala itu?"

Fata tersenyum, "Bukan. Itu aku."

Pasukan kalajengking itupun berkumpul di belakang Fata dan Izu. Pemuda berambut kribo itu masih terus mengangkat tangannya, seakan menunjukkan siapa pemimpin mereka sekarang. Kalajengking yang aslinya agresif itu berubah menjadi penurut di hadapan Fata.

Sementara di pihak lain, Meredy yang duduk menunggangi punggung salah satu Kadal, tampak bertepuk tangan.

"Hebat, jadi kau juga bisa seperti itu. Pantas kalajengking itu tak datang padaku, tapi yasudahlah. Come on boys, hantam mereka!"

•••

Kedua pasukan saling berhadapan, pasukan Kadal Predator yang dipimpin Meredy melawan pasukan Kalajengking Alien yang dipimpin Fata. Kedua pasukan pun merangsek maju, saling beradu dengan senjata alami mereka masing-masing, gigi, cakar, dan ekornya. Korban dari pihak Kalajengking dan Kadal pun berjatuhan, kebanyakan adalah kadal-kadal dan kalajengking muda yang masih lemah.

Walaupun bisa mengendalikan makhluk-makhluk tersebut, tapi baik Fata dan Meredy sepertinya tetap harus melindungi diri mereka sendiri. Meredy yang masih menaiki kadal tunggangannya terlihat berusaha keras menghindar dari kejaran beberapa Kalajengking yang sepertinya ditugaskan Fata untuk mngincar nyawa Meredy. Sesekali wanita berambut gimbal tersebut menembakkan pistolnya, tapi tak satupun yang mengenai sasaran.

Fata sendiri sama saja, walau bisa mengendalikan para kalajengking. Tapi kemampuan membela dirinya termasuk nol besar, beberapa kali dia tampak kesulitan saat beberapa kadal mengepungnya.

"Sialan, kenapa kadal-kadal ini masih tak terpengaruh gelangku?!"

Mungkin hanya Izu yang terlihat apik dari awal, dengan dua bilah pisau yang menempel di tangannya, Izu menebas apa saja yang mencoba menyerang mereka berdua. Ditambah dengan tubuhnya yang mungil dan gerakan parkour-nya yang lincah, membuat Izu menjadi penyerang paling efektif diantara mereka bertiga.

"Kamu gak apa-apa Ta?" tanya Izu.

"Gak apa-apa, mungkin harusnya aku memakai dua gelang sekaligus," ucap Fata, "Upgradenya belum cukup."

"Eh, tapi aku juga butuh—"

Ucapan Izu terhenti saat bunyi notifikasi di gelangnya kembali berbunyi. Bukan hanya sekali, tapi tiga sekaligus.

"Fata, kita kedatangan tamu lain!"

Belum sempat Fata mencerna maksud perkataan Izu, tiba-tiba dari arah timur, belasan kalajengking dan kadal yang sedang asyik bercengkerama, berterbangan ke udara. Sebuah serangan berkekuatan tinggi yang membuat mereka terbang, membuka ruang bagi siapapun yang melakukannya. Dan orang yang melakukannya adalah Kii, sebagai pengganti pedang yang patah, tangannya sekarang memegang sebilah pisau panjang. Tapi yang lebih membuat Fata dan Izu terkejut adalah kehadiran Felly di samping Kii.

Fata pun berteriak pada beberapa kalajengking, "Serang mereka!"

Menuruti perintah Fata, tiga kalajengking berukuran besar tak menghiraukan insting bahaya mereka dan nekat berlari ke arah Kii. Kii yang melihat kedatangan tiga kalajengking itu bersiap dengan kuda-kuda pisau penebasnya. Bagi pendekar pedang sekaliber Kii, ketiga hewan beruas itu hanya sasaran empuk.

Tapi sebelum ketiga kalajengking memasuki area tebasan pisau Kii, seorang pria bertato menabrak ketiganya dari samping dan melemparkan tubuh mereka jauh-jauh. Rasanya tak perlu disebut lagi siapa nama pria tersebut.

"Maaf," ucap Asep sambil melemaskan bahunya, "Tapi berhenti libatkan pihak lain dalam pertempuran kita."

Hampir semua orang yang melihat kedatangan Asep dibuat ternganga. Bagaimana tidak, Asep datang dalam keadaan bersimbah darah, sebuah luka sayatan memanjang di tubuh atasnya. Tapi mungkin yang paling mencolok dari penampilan Asep adalah matanya, Asep sendiri sepertinya masih tak menyadari.

Fata dan Izu hanya bisa terdiam. Sementara Felly dibuat bergidik dan bersembunyi di belakang Kii, gadis kecil itu bukannya takut akan penampilan Asep, tapi merasakan sesuatu yang jahat dalam tubuh Asep.

•••

Satu menit sebelumnya.

Asep yang datang bersama empat kadal predator penolongnya, mendapati pertempuran sudah memakan banyak korban dari pihak Kadal maupun Kalajengking. Keempat kadal yang sebelumnya disebut K1 sampai K4, sekarang disebut Alfa, Beta, Gamma dan Delta, sesuai pangkat mereka di geng Kadal Predator.

Sang Pemimpin, Alfa, memberitahu Asep kalau mereka merasakan semacam desakan untuk menuruti perintah makhluk lain. Bukan hanya satu, tapi dari dua sumber sekaligus. Para Kadal kalah oleh desakan yang dikirimkan oleh si wanita berambut gimbal, sementara para Kalajengking kalah oleh desakan yang dikirimkan oleh Kribo. Dengan kata lain, tugas Asep adalah menghajar dua orang itu untuk melepaskan pengaruh mereka terhadap dua spesies tersebut.

Asep dan keempat Kadal pun berlari menuju pertempuran, dan bersiap untuk menyongsong serangan apapun yang mendatangi mereka. Tugas Asep lainnya adalah sebisa mungkin melerai kedua spesies tanpa melukai mereka, 'Jangan melukai, jangan melukai,' dua kata itu yang terus-terusan ada dalam pikiran Asep.

Tapi kenyataannya, setiap ada kadal atau kalajengking yang mendekat, semuanya dihajar tanpa ampun oleh Asep. Jurus-jurus yang membuat tulang patah, otot keseleo, atau memar abstrak di sekujur tubuh, dikeluarkan semua oleh Asep. 'Baik, ralat, asal jangan ada yang sampai kebunuh aja deh,' pikir Asep.

Pada saat itulah perilaku kadal maupun kalajengking yang didekati Asep mulai aneh, mereka seperti tersadar dari pengaruh hipnotis mereka dan menyingkir saat berhadapan dengan Asep. Terutama saat mata Asep menatap langsung, ekspresi mereka seperti ketakutan. Walaupun bingung, Asep membiarkan saja hal tersebut, toh itu memudahkan dirinya. Asep pun berjalan tanpa hambatan saat menuju ke tengah-tengah pertempuran di mana para peserta berada.

Asep yang melihat kedatangan Kii, merasakan hasrat membunuh yang tinggi dari pria tersebut. Dan benar saja, saat Fata memerintahkan tiga kalajengking untuk menyerang Kii, pendekar pedang itu sama sekali bergeming dari tempatnya. Walau hanya memegang pisau, tapi Asep tahu serangan Kii pasti akan menghabisi ketiga makhluk malang tersebut. Dia pun kemudian berlari dan menerjang ketiga kalajengking sebelum mereka menjadi korban tambahan.

"Kirain kamu sudah mati," ucap Asep saat melihat Kii. "Saya lihat kamu kejatuhan batu."

"Aku kira aku juga mati," balas Kii, "Oh iya, kenapa dengan matamu?"

"Memangnya kenapa dengan mata saya?"

"Ng, bukan apa-apa."

"Kenapa malah ngobrol?! Cepat bunuh mereka berdua!" bentak Felly sambil menunjuk Izu dan Fata.

Yang ditunjuk malah berpandangan. "Dia kayaknya masih marah, nasi kotaknya direbut," ucap Izu.

"Uh, serang mereka bertiga!" teriak Fata pada pasukan kalajengkingnya.

"Cicing siah!!" teriak Asep kepada para Kalajengking, "Jangan ikut campur masalah kami, cepat menyingkir."

Seakan mengerti apa yang diucapkan Asep, para kalajengking tak mengindahkan perintah Fata dan mulai menyingkir dari mereka. Melihat itu Fata semakin kesal dan kembali berteriak, "Bunuh mereka semua!!"

Layaknya orang plin plan, makhluk-makhluk yang tadi menyingkir berbalik kembali menuruti Fata dan bersiap menyerang Asep, Kii dan Felly.

Tak disadari oleh siapapun, Meredy sedari tadi bersembunyi di balik batu, tampaknya dia sedang menyiapkan pistolnya Avarice, karena suatu hal, pergantian mode Avarice kali ini lebih lama dari biasanya. Tapi itu ada alasannya.

Setelah dirasanya siap, Meredy pun keluar dari tempat persembunyiannya.

"Kalian boring tau!" ucap Meredy. "Mati saja kalian semua!"

Pistol kelabu di tangannya perlahan mulai bertransformasi menjadi senjata mesin berkaliber besar, gatling gun. "Makan nih peluru!"

Ratusan peluru dimuntahkan saat Meredy menekan pelatuk senjata tersebut. Berbeda dengan pistol yang memerlukan tingkat akurasi tinggi, [machine gun mode] hanya perlu ditembakkan ke semua arah, dan berharap dari ratusan peluru itu ada yang kena. Dan kenyataannya, peluru-peluru itu memang kebanyakan mengenai pasukan Kalajengking dan Kadal sekaligus, membuat semua hewan tersebut berlarian tak tentu arah. Peluru-peluru itu menerjang apapun tak pandang sisik atau ruas dan juga mematikan.

Sementara itu di pihak peserta, Kii dengan gesit menyelamatkan Felly dan bersembunyi di balik parit batu. Begitu juga dengan Izu dan Fata yang buru-buru menjadikan batu besar sebagai penghalang. Tapi lain halnya dengan Asep, pria berbadan besar itu diam di tempat. Entah keajaiban atau keberuntungan, tapi tak ada satu peluru pun yang menyasar tubuhnya.

Tangannya meraih dua biji kopi yang ada di sabuknya, meremukkan dan kemudian mengoleskannya ke ketiak. Tatonya berubah warna. Ballista Armpits telah aktif.

Asep lalu mengambil sebuah batu sebesar bakso rudal. Asep kemudian mengangkat kaki kirinya. Layaknya seorang pitcher profesional, kaki kirinya dihentakkan ke tanah dan kemudian tangan kanannya melempar sekuat tenaga.

"KOPISAESETAN!!"

Batu tersebut meluncur deras ke arah senjata yang dipegang Meredy. Batu itu tepat mengenai sasaran, menghancurkan Avarice Machine Gun Mode dengan telak. Ledakan senjata itu menjungkalkan Meredy, raut mukanya terkejut.

"Sialan, awas lo ya!" umpat Meredy sembari melarikan diri.

Asep hanya mendengus.


Di pihak Fata dan Izu.

"Cewek sial, akan kubunuh dia, ayo kita kejar—" wajah Fata berubah pucat saat melihat bercak darah di pakaian Izu.

"Fata... aku telat."


•••

[18]
Semua Selesai Begitu Cepat, Tapi Biarlah, Saya Lelah

Tembakan Meredy justru tepat mengenai dada Izu. Sepertinya saat semua orang menyelamatkan diri mereka sendir, Izu malah memasang badan untuk melindungi Fata.

"IZUUU!!" teriak Fata.

Dilihatnya gadis mungil itu terbaring lemas, dengan cepat Fata membawa tubuh Izu, di pangkuannya gadis itu tergolek lemas.

"Izu bertahanlah!" ucap Fata panik, "Di mana kau menyimpan obat-obatan?"

Izu tak menjawab, tatapan matanya sayu. Beberapa kali gadis itu batuk darah. "Sudah terlambat... aku tak akan selamat."

"Ja –Jangan pesimis, kau pasti selamat."

"Bukan ini yang kurencanakan, uhuk, harusnya kau yang, uhuk." Izu kembali terbatuk.

"Apa yang kau bicarakan? Sudah, jangan bicara lagi."

"Aku ingin kita berdua yang bertahan sampai akhir, setelah itu aku akan memberikan nyawaku padamu, aku ingin kau yang menang, Fata."

"Kenapa... Kenapa kau rela berbuat sejauh itu untukku?"

"Karena aku—"

Izu tak sempat menyelesaikan ucapannya, gadis itu telah menghembuskan nafas terakhirnya. Fata hanya terdiam, matanya dingin. Pandangannya kemudian terarah ke gelang yang masih menempel di tangan Izu.

"Tenanglah, kau akan kujaga, gelang." ucap Fata sembari melepas sisa gelang Izu, sekarang kedua gelang Izu ada di tangan Fata. Tangannya kemudian mulai mengutak-atik gelang yang dipakainya dengan gelang yang baru didapatnya.

Tapi sebuah tangan besar memegang tangan Fata. "Sudah cukup!" ucap pemilik tangan yang tak lain adalah Asep.

"Lepaskan tanganku!" bentak Fata, sorot matanya tajam menatap Asep. Matanya menyiratkan amarah yang meledak. Bahkan Asep pun menyadari kalau Fata yang sekarang berbeda dengan Fata yang sebelumnya melarikan diri dari kejaran kadal-kadal.

"Kalau saya lepaskan, kamu bakal ngendaliin kalajengking-kalajengking itu lagi."

"Terus kenapa? Mereka cuma binatang kan?"

"Bagi saya bukan, mereka makhluk hidup yang berhak untuk bebas. Kalau ingin bertarung, pake kekuatanmu sendiri."

"Inilah cara bertarungku!!" teriak Fata, "Aku gak punya kekuatan sepertimu!"

Asep terdiam, memang benar, setiap orang punya cara bertarungnya masing-masing, dia tak bisa memaksakan mereka mengikuti cara dia.

Fata yang melihat Asep sedikit lengah, tak menyia-nyiakan kesempatan. Dari gelang yang dipakainya, muncul sinar yang menyilaukan mata. Asep kelimpungan, matanya untuk sesaat tak bisa melihat. Memamfaatkan hal itu Fata mengambil pisau milik Izu dan menusukkannya pada perut Asep. Secara refleks Asep mendorong Fata saat merasakan sakit yang menusuk perutmya, matanya masih tak bisa mencerna cahaya.

Fata yang terjatuh, lalu bangkit untuk kembali menyerang Asep. Tapi sebelum Fata sempat menyerang Asep kembali, tiba-tiba Felly entah muncul dari mana menerkam Fata dari belakang dan menggigit lehernya. Fata menjerit kesakitan, darah mulai mengucur membasahi pakaiannya. Fata sekuat tenaga melepaskan gigitan Felly, tapi Felly pun sekuat tenaga tak mau melepaskan gigitannya. Dengan pisau yang masih ada di tangannya, Fata pun mengambil opsi menyerang balik Felly. Tanpa melihat bagian tubuh mana yang terkena, Fata tanpa ampun berulang-ulang menusuk tubuh Felly. Terus menusuk sampai gigitan Felly pun melemah, tubuh gadis kecil itupun terjatuh ke tanah.

Luka tusukan terlihat jelas di bahu dan leher Felly, entah berapa kali Fata menyarangkan tusukannya ke arah Felly. Fata yang tak terima atas gigitan Felly, mendekati gadis itu. Tangan yang memegang belati itu dia angkat ke atas, berniat untuk menyarangkan serangan fatal pada gadis tersebut. Tapi lagi-lagi sebuah tangan besar mencegah tangan Fata untuk turun, saat Fata melihat ke belakang, wajahnya menjadi pucat pasi. Dilihatnya Asep sedang bersiap dengan kepalan tangannya yang kosong, bersiap melayangkan pukulan terkuat yang bisa dilancarkan oleh preman seberat 90 kilogram.

DUAAAGGH!!

Suara keras terdengar saat kepalan tinju Asep beradu dengan tengkorak Fata. Fata pun terlempar hingga belasan meter, tubuhnya tak sanggup berdiri, apalagi luka bekas gigitan Felly semakin membuka dan tak berhenti mengeluarkan darah segar.
Asep berniat mendekati Fata untuk menghajarnya lagi, namun empat Kadal Predator yang menyelamatkannya dari jurang tiba-tiba muncul di hadapannya.

"Dia. Mangsa. Kami." ucap Kadal Alfa. Keempat kadal itu pun menghampiri Fata dan membawanya pergi.

•••

Sementara di tempat lain.

Meredy dengan lincah berlari meninggalkan gerombolan Kalajengking yang mengejar. Saat jarak dia dengan pengejarnya cukup jauh, wanita berambut gimbal itu dengan cepat menyelinap ke dalam celah di bebatuan. Para pengejar hanya melewati Meredy begitu saja, wanita itu pun tertawa puas. Wanita berkostum lateks itu kemudian mengintip keadaan di sekelilingnya, saat dirasa aman, dia pun keluar dari tempat persembunyiannya. Tanpa disadari Meredy, seorang pria bertelanjang dada telah menunggu di belakangnya.

"Permisi nona," sapa si pria berambut panjang yang sontak membuat Meredy terkejut.

"Lo... masih hidup juga?" balas Meredy yang tak memikirkan soal tata bahasa lagi. Dilihatnya Kii berdiri dengan sebilah pedang panjang menyangga badannya.

"Gadis bernama Maria Fellas dengan baik hati telah memberi saya perawatan." ucap Kii sambil mengusap-usap Tensofellas yang masih menempel menutupi lukanya. Ekspresinya tampak tenang walau tubuhnya mendapatkan beberapa luka baru akibat berondongan peluru senjata mesin Meredy, jelas sekali dia berusaha keras menahan rasa sakit tersebut.

"Mendingan lo mati aja, gak usah keras kepala!" ucap Meredy sambil mengeluarkan Avarice yang sudah diunduh ulang. Kesempatan tak datang dua kali. Di hadapannya berdiri mangsa empuk buat pistolnya, diarahkannya pistol berwarna abu itu.

"Lo tau gak? Avarice gue ini kayaknya masih belum puas muntahin pelurunya ke orang-orang, dia udah menembak dua peserta cewek di grup ini. Lo mau jadi korban—" ucapan Meredy terhenti saat dia menyadari sudah tidak ada siapapun di depannya.

"Maaf," ucap Kii yang tiba-tiba sudah berada di belakang Meredy. "Tapi aku sudah menebasmu."

"A –Apa?! Sejak kapan lo—" Meredy terbelalak mendapati luka tebasan di sepanjang badannya.

"Aku tak biasa menebas seorang wanita, tapi karena ini permintaan gadis kecil penolongku... maka melihat kau mengarahkan pistol ke arahku itu sama saja dengan menantangku."

"It seems... I am [not] feeling lucky today." ucap Meredy sesaat sebelum dirinya jatuh telungkup. Tak seperti manusia pada umumnya, tubuh Meredy memendar menjadi sinar putih dan menghilang.

Kii pun berjalan perlahan meninggalkan tempat tersebut.

•••

Asep duduk di samping Felly yang terbaring tak berdaya, dengan merobek kaos singlet miliknya, Asep menekan darah di leher Felly supaya pendarahannya sedikit terhenti. Tapi walau begitu cukup ajaib dengan luka sebanyak itu, gadis kecil tersebut masih bisa bernafas.

"Kemana pendekar pedang itu? Bukannya dia tadi melindungimu?" tanya Asep.

"Aku... menyuruhnya mengejar... wanita gimbal itu," jawab Felly. "Paman... ngapain malah duduk di sini? Paman... bukan pedofil kan?"

"Paman juga tau diri atuh neng," jawab Asep mendengus, Felly hanya tertawa diselilingi batuk darah, "Udah diem aja kamu teh."

"Aku bisa mencium darah... darah kebohongan, darah kejujuran... tapi aku bingung, apa sebenarnya darahmu?"

"Paman berdarah campuran, setengah manusia, setengah naga."

"Naga? Makhluk itu... ada?"

"Itu sih kata kakek paman, paman juga gak tau sih kebenarannya. Oh iya, kamu sendiri..."

Asep terdiam untuk kesekian kalinya, dilihatnya Felly sudah tak bernafas lagi. Matanya menatap lurus ke langit, Asep pun kemudian menutup mata mungil tersebut.


Tak berapa lama, Kii pun kembali, matanya terbelalak saat melihat nasib yang menimpa Felly.

"Kau... membunuhnya?" tanya Kii berang.

"Ya enggak lah! Saya bukan orang yang kayak gitu!" jawab Asep. "Tapi kalau kamu gak percaya, gak masalah, saya siap melawan kamu."

Asep pun bangkit berdiri, raut mukanya tampak kesakitan akibat luka menganga di perutnya. Kii menatap tajam Asep, mencoba menakar tingkat kejujuran pria di hadapannya. Ekspresi wajahnya kemudian berubah menjadi tenang, pria berambut gondrong itu pun tersenyum.

"Dengan luka itu, memangnya kau sanggup melawanku?" ejek Kii.

"Kamu sendiri... lihat luka itu, kamu ketembak berapa peluru?" ucap Asep balik mengejek. "Udah gitu harus dipandu pake pedang, kayak aki-aki aja."

"Huh, tapi yang pasti bekas lukaku bertambah lagi, aku masih pemenangnya."

"Enak aja, saya baru aja dapat luka tebasan panjang ini, jadi secara kualitas luka, saya juga menang."

Di saat mereka sedang asyik saling mengejek, di kejauhan terdengar suara pesawat terbang. Seperti sebelumnya, pesawat terbang itu pun menurunkan nasi kotak beserta segelas air dengan menggunakan parasut kecil yang menempel di atas kotak. Baik Kii maupun Asep hanya terdiam dan terus memandangi nasi kotak yang melayang-layang, sampai akhirnya nasi kotak pun jatuh di suatu tempat yang jauh.

Keduanya saling berpandangan, sejenak kemudian keduanya tertawa terbahak-bahak. Sepertinya semua kejadian yang telah terjadi ternyata belum genap dua jam.

"Kamu lapar?" tanya Asep.

"Titik laparku udah lewat," Jawab Kii, "Hmm, sebenarnya di babak sebelumnya aku seharusnya sudah mati, tapi entah bagaimana aku dihidupkan kembali."

"Heh, benarkah?"

"Jadi soal Maria Fellas... tenang aja, mungkin setelah ini, dia akan hidup lagi."

"Oh, syukur atuh kalo gitu."

"Ah iya, satu lagi, matamu tadi sempat berubah warna, apa itu kemampuanmu?"

"Hah, mata saya berubah? Gak tau atuh, gak ngerasa apa-apa."

"Begitu ya."

Keduanya kembali terdiam.

"Jadi?" ucap Asep. "Kita bertarung lagi?"

"Pedangku patah, tapi mungkin kita bisa bertarung tangan kosong."

"Boleh, tanpa senjata, tanpa ajian, tanpa kemampuan aneh."

"Hanya jual beli pukulan? Gimana kalau tanpa tendangan juga? Kakiku udah lelah."

"Hayu, pukulan aja, sama saya juga, udah lelah."

Keduanya tersenyum, keduanya pun bersiap, dikepalkannya kedua tangan mereka masing-masing. Tak peduli dengan tubuh yang penuh darah, luka yang masih terbuka, bekas tembakan, bekas tusukan, mereka pun saling menyongsong lawan di depannya. Tak berusaha menangkis, keduanya saling memukul, memukul dan memukul. Sampai akhirnya salah satu dari mereka pun terjatuh, sementara satu orang lainnya tetap bertahan.

Ceritapun berakhir, siapakah pemenangnya? Kalian tentu tahu.

•••



15 comments:

  1. Seperti biasa, saya paling suka cerita yang full detail seperti ini.
    Walau orang lain menganggapnya kepanjangan, saya anggap ini "alami".
    Detail pertarungannya keren2, cuma tumbangnya Felly itu spt offscreen.
    Eksplorasi karakter tiap oc juga lebih banyak daripada entri saya, soalnya pakai pindah2 pov. Dan ada oc2 saling bantu dulu (even romance!) Sampai akhirnya pada lemah dan saling bantai. Survival of the fittest. Plus hukum rimba, yg terkuat yg the fittest.
    Poin minus banget, ending menggantung saya paling nggak suka walaupun di atas kertas udah jelas siapa yg lbh unggul. But no, saya lebih suka pakai pamungkas saya sbG author utk serangan ini: Asep kalah darii Kii. Poin: 8/10 OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tumbangnya Felly gak offscreen kok, dia tewas kehabisan darah kena tusukan Fata.
      Iya, endingnya sy udah kecapean, wkwk, pengennya ada adegan lain sih
      Tapi makasih nilainya ^_^

      Delete
  2. anjir.. plesetan amagi briliant park mampir :v

    Di sini Dominica masih stand by di Alforea? bukannya musti balik ke alamnya. Ah sudahlah
    gak seperti prelim, kayaknya Asep lebih menahan diri kali ini. beginilah dilema menjadi chara terkuat di suatu ronde..malah susah bikin cerita yang full tendency, seperti yang saya alami karena menjadi satu-satunya attacker di tim D. tampak tim ini punya ciri khas yaitu menjadikan meredy sebagai trouble maker di sini..emang udah watak tante antagonis mau gimana lagi..

    untuk endingnya kok dibikin gantung..seharusnya sih lebih kerennya ditambah.. seorang lelaki berjaket hitam berdiri tegak memandang matahari terbenam di atas bukit pasir.

    jadi meski gak terlalu diungkap, setidaknya pembaca tahu siapa yang menang..

    8 dr Nobuhisa

    mampir ke lapak ane ya gan

    ReplyDelete
    Replies
    1. Endingnya, seorang lelaki berjaket hitam berdiri tegak memandang matahari itu.... keren banget, kenapa gak kepikiran ya XD
      Nobuhisa udah ya, seru ceritanya ^_^

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  3. Bikin font beda buat pesan ayltasan si jubah hitam sama command input Meredy itu oke banget

    Itu mimpi basahnya Asep apaan deh >_<
    Dan ugh, ternyata orang" di entri Asep ini udah saling tidur-meniduri satu sama lain ya wwww

    Yang paling mantep dari entri ini sebenernya interaksi antar karakternya. Kerasa natural, asik buat diikutin dan lepas apa adanya (macem banter antara Meredy-Fata, Felly-Izu, Asep-Kii)

    Lah ini kenapa jadi break 4th wall pas bagian Felly

    Ternyata ini mainan maju-mundur juga ya. Jieun lieur wae

    Duh judul part terakhirnya. Curhatan penulis oni pasti

    Kayanya di entri tim H manapun, takdir Asep-Kii udah kayak Dyna-Ronnie ya. Bedanya ini sesama pria gahar dan bukan pria mafia. Cuma kalo di akhir prelim Dyna akhir pertarungan dibiarin gantung ga masalah, di sini saya rada ga setuju - soalnya jadi ga ada konfirmasi kalo Asep yang menang pertandingan ini

    Dari saya 8

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Cuma Kai Meredy aja kok, Asep ketiduran pas mau diajak begadang maen game XD
      Iya, ending gantungnya jadi kesalahan sy, ide bagus munculnya selalu telat ^_^
      Ah, entah kenapa sy lebih secure dapat angka 8 dari sam daripada 10 kemarin, nilai 10 kemarin terasa jadi beban, wkwk

      Delete
    2. This comment has been removed by the author.

      Delete
  4. NARATORNYA NGGAK KONSISTEN!! Hahahahaah
    Itu kadal2nya dari K1-K4 jadi Alpha Beta woakwoakwo.

    Udah, review dimulai.

    Plot : Ringan utk diikuti, masing2 karakter dapet porsi yg cukup utk memberi warna pada cerita. Aku abaikan aja deh soal Meredy yg udah tidur sama Kai, wkwkwkw. Plesetannya Felly ngakak bener dah. Bisa aja bikin produk plesetan gitu.

    ===

    Karakterisasi : Soal penggunaan bahasa gaul, aku kesampingkan deh soal itu. Nggak jadi masalah buatku.

    Command inputnya Meredy mantap bener deh, kayaknya aku harus belajar bahasa pemrograman nih.

    Fata kurang begitu terasa manipulatifnya, tapi aplikasi kekuatannya udah lumayan sih. Sampe bikin perang pasukan kadal vs kalajengking. Aku lebih sreg kalau Izu sahabatan sama Felly sih, tapi karena disini Izu jatuh cinta sama Fata, apa boleh buat. Kribonya mantap sih wkwkwkw.


    ===

    Battle : Battlenya nggak terlalu berasa klimaks buatku. Mungkin karena kentalnya elemen komedi bikin battlenya jadi kurang berasa. Masa ditengah pertarungan malah ngobrol kwkwkwwk.

    Kurang klimaks kayak waktu prelimnya Asep kemaren, yg epik banget jatuhin Tamon Rah. Mungkin karena nggak ada boss fight disini, jadi aku maklum sih.

    Soal ending, kayaknya penulis lelah nih wkwkwkw

    Dariku 8/10
    +1 karena aku pengen liat Asep dengan kekuatan dragonbornnya. Siapa tau bisa pake sa YUR LO DEH kayak di canonku hahahaha.

    9/10

    OC : Meredy Forgone

    ReplyDelete
    Replies
    1. Narasi gak konsisten mohon dimaklum, deadliner sih XD
      Sy juga gak ngerti bahasa pemograman, jd ngasal juga, tapi sempet baca entri Meredy waktu buka hologramnya, warnanya hitam kuning (?) Jadi ya ngikutin aja ^_^
      Soal Izu-Fata, yg satu inventor jenius, kerjanya nyiptain alat, yg satu lagi technopath, bisa bicara ma alat, jadi sy pikir comblangin aja XD
      Dragonborn Asep bertahap dimunculin, baru hint di matanya dulu, soalnya blum kepikiran gimana XD

      Delete
    2. Ah iya, makasih nilainya ^_^

      Delete
  5. Halo, Kang xD Umi dan Felly di sini. Si Felly, kayaknya lagi bobo dengan nyenyak di dalam kamarnya. Jadi, komentar kali ini Umi ga bakal ajak dia xD

    gula yang menetes =_____= well... *untung Felly lagi bobo ._.

    The Fun : 5.0
    btw, agak kaget juga Umi, kata "yang kuat yang menang" keluar juga di entry Asep xD

    ini komedinya kuat banget, Umi puas ngakak sambil geli sendiri ngeliat tingkah Felly yang anak baik banget xD

    (sementang sama om Mad Dog kamu jadi baik yah Fell xD)

    Karakterisasi : 3.0
    SIAL, FELLY-nya OOC tapi UMI SUKA FELLY DI SINI!!
    Dan apaan itu codet asalnya malah dari KII XD Kocak amat XD

    dan kenapa endingnya kayak ngono, Kang?

    Umi pengen ketawa terus pas baca, Keingetan sinetron PP mulu. (ceritanya karena ada tipi jadi bisa nonton PP pas sore)


    Alur : 2.0
    Untuk Umi yang sangat suka cerita yang enteng plotnya, ini jenis cerita yang Umi favoritin jadi Umi kasih full deh XD

    Untuk cerita ini, Umi kasih ... jeng jeng jeng ....

    Total : 10.0

    ReplyDelete
    Replies
    1. *lupa lagi ._.

      OC : Maria Fellas

      Delete
  6. Ini tahi banget. Kamu tahu tahi mz? iya, ini.

    Joke-nya tahi. Masa orang mati dibikin joke macem telat datang bulan.

    Breaking the 4th wall-nya tahi. Masa Felly tiba2 ngobrol sama penulis.

    Ceritanya tahi. Masa Asep Codet menangnya ga greget, gitu doang.

    Kang Dendi tahi, iya tahi. TAHI LU KANG, INI KEREN BANGET!

    Ah damn, mau point out bagian kerennya di mana, bingung sendiri soalnya kebanyakan. Mecah dinding keempat di tempat yang tepat, joke-nya saaaaangat menyenangkan buat dibaca, ceritanya mulus rapi ga maksa apalagi interaksi antar karakternya. Typo-nya ada, tapi ga berasa bikin minus, ketutup sama owsom-nya ini. Belum pas ngajudul yang terakhir, enak banget penulisnya malah curhat.

    Pas ending kurang dikiiiit banget, coba dideskripsiin dikit si pemenang kayak gimana biar ga nggantung sama sekali.

    Sama Felly yang tiba2 nyerang Fata itu kerasa agak aneh, ga jelas kenapa. Udah tau Felly sekarat malah dirinya nyerang Fata. Normalnya kalo abis chaos terus lagi tenang2 gitu biasanya aneh kalo dibikin tiba2 nyerang. Selera pribadi sih.

    10/10 lah :D

    ~JFudo
    ~Lo Dmun Faylim

    ReplyDelete
  7. BAZEEENG...
    ini entri epic banget, bertarungnya greget, manfaatin momon-momon yang ada di arena. kaya tawuran gila-gilaan gitu. hihi
    komedinya juga nendang banget, banyak parodi kaya alforea brilliant park. haha.
    udah gitu asepnya juga keren banget di sini, menjadi penengah diantara tawuran momon-momon itu, meskipun datang dengan berdarah-darah.xD
    yang paling ngakak adegan izu sekarat "Fata... aku telat." *ngakak guling-guling

    udah gitu entri ini ada adegan romantis dan drama lagi, lengkap deh. hihi

    yah tapi sayang endingnya gantung gitu...
    coba lebih epic lagi kaya sarannya agung. xD

    nilai : 10 buat asep yang ternyata punya nama keren dan riwayat hidup yang epic. seorang dragonborn xD..


    Khanza

    *klo sempet mampir ke lapak Khanza yah. xD

    ReplyDelete