25.6.15

[ROUND 1 - TIM B] LIONA LYNN - KEMENANGAN INSTAN

LIONA LYNN - KEMENANGAN INSTAN
Penulis: Yuu




"Di mana Falcon?"

Maid yang berdiri di hadapan Liona hanya tersenyum tipis.

"Aku tanya di mana Falcon dan yang lainnya?" tanya Liona sekali lagi, kali ini dengan nada kesal. 

"Kenapa yang ada di tempat ini hanya tersisa setengahnya saja? Di mana yang lainnya? Dan tempat apa ini? Kenapa kami tidak dikembalikan ke tempat sebelumnya? Tempat yang banyak makanannya itu atau halaman istana? Dan kenapa sejak tadi kau hanya senyum-senyum terus dan tidak menjawab pertanyaanku, Nona Maid?!"

"Liona, tenanglah ...," seorang pemuda berambut hijau panjang yang dikuncir satu dengan topeng separuh berwarna merah dan emas menutupi wajah kirinya buru-buru menghampiri Liona, "mungkin mereka sedang beristirahat di tempat lain."


"Mungkin mereka sedang jajan makanan enak, bun," timpal seorang bocah gendut yang mengenakan baju oranye dan topi biru segitiga ala penyihir yang mengikuti Radith si pemuda bertopeng. Bun namanya. Di tangan kanannya sudah ada sepotong besar paha kalkun panggang siap santap. 

"Bertarung itu menghabiskan banyak tenaga. Wajar kalau sebagian besar dari kita saat ini jadi sangat sangat saaangat lapar, bun."

"Ah," si Maid membuka mulut. "Sepertinya kalian lupa dengan apa yang Tuan Hewanurma katakan di balkon waktu itu, ya? Apa kalian tidak memperhatikan penjelasan beliau?"

Baik Liona, Radith, maupun Bun langsung mengernyitkan alis mendengar hal itu. Sang Maid tersenyum maklum, lantas mulai berbicara—yang anehnya, alih-alih menjelaskan seperti biasa, yang ada justru suara yang keluar dari mulut Sang Maid persis seperti rekaman suara yang diputar ulang.
"Kalian semua yang ada di sini adalah calon peserta turnamen antar dimensi yang akan diadakan tidak lama lagi. Turnamen ini disebut Battle of Realms, dan hanya para petarung terbaik yang bisa mengikuti pertarungan bergengsi ini."

"Pemenangnya akan mendapatkan apapun yang dia inginkan. Walaupun begitu, sayangnya kami tidak bisa menerima kalian semua yang ada di sini untuk mengikuti turnamen, karena jumlah kalian terlalu banyak. Karena itulah, kami akan mengadakan babak penyisihan untuk memilih para peserta terbaik yang akan berlaga dalam turnamen Battle of Realms."

"Dari seratus satu orang yang ada di sini, hanya ada empat puluh delapan peserta terbaik yang akan terpilih untuk mengikuti turnamen yang sesungguhnya."

Sang Maid berdehem sekali, suaranya kembali normal.

"Singkatnya, kalian yang berada di sini saat ini adalah para peserta yang berhasil lolos babak penyisihan."

"Jadi maksudmu Falcon dan yang lainnya ...?" ujar Radith memastikan.

"Gagal. Tidak berhasil. Jadi kami akan pulangkan mereka kembali ke tempat asalnya. Jangan khawatir."

"Tapi kami bertarung bersama-sama! Dan kami berhasil menyelesaikan misi dengan baik!" tegas Liona.

"Sayangnya [kenyataan] yang kau miliki dan [kenyataan] yang mereka miliki tidaklah sama."

Liona mengernyit, "Kenyataan ... apa maksudmu?"

Sang Maid refleks menutup mulut. "Sebaiknya saat ini kalian beristirahat. Lupakan saja soal para peserta yang gagal. Kalian harus fokus untuk ronde berikutnya."

"Tapi—"

Baru saja Liona hendak kembali protes, Radith menahannya. "Liona, sudahlah. Kau sudah dengar penjelasan nona itu tadi. Sebaiknya kita bersiap-siap untuk ronde berikutnya."

"Bukan itu yang kupikirkan saat ini!" Liona menatap Radith dengan gusar. "Aku hanya khawatir. Padahal Falcon baru saja menjadi temanku. Kami baru saja bertarung bersama, berjuang bersama. Hanya sebentar. Petualangan kami baru dimulai, kau tahu? Padahal kami menang. Kami 
mengalahkan kuda raksasa itu dan menyelamatkan prajurit Alforea. Jadi kenapa Falcon harus pulang? Tadinya dia begitu bersemangat membahas soal hadiah yang akan didapatnya nanti. Dan Nona Maid bilang Falcon gagal? Falcon pasti merasa sangat kecewa."

Radith menghela napas lantas tersenyum. Liona benar, biar bagaimana pun Falcon telah gagal dan gagal itu rasanya sangat mengecewakan.

"Setidaknya kau, Bun, dan Wildan masih berhasil maju ke babak ini. Aku senang. Liona, lanjutkanlah perjuangan Falcon." Mendadak Radith seolah teringat sesuatu. "Ah, benar juga. Bagaimana kalau menangkan hadiahnya dan berikan sebagian pada Falcon untuk menghiburnya? Seharusnya kita mendapat hadiah setelah memenangkan peperangan sebelumnya, kan?"

"Wah, kau benar!" ujar Liona semangat, namun itu hanya sesaat. "Tapi Nona Maid bilang Falcon dan yang lainnya sudah dipulangkan ...," ujarnya lemas.

"Benarkah? Kurasa belum."

Liona menatap Radith yang tersenyum penuh arti seraya menunjuk ke arah sebuah ruangan di sudut tempat yang lebih mirip kafe ini. Ruangan yang kelihatannya cukup besar itu nampak ramai dengan para maid kembar-entah-berapa-banyak yang sibuk keluar masuk membawa peralatan kesehatan.
"Ayo kita temui Falcon."

Wajah Liona mendadak cerah. Matanya terlihat sedikit berkaca-kaca. Mungkin ia lega karena ia masih punya kesempatan untuk berbicara dengan Falcon dan berniat untuk menghiburnya.

"Ah, Kazu! Bagaimana dengan Kazu?" Liona mendadak teringat dengan pemuda berkacamata dan berwajah mengantuk itu. Seingatnya kondisi terakhir dari pemuda itu tidak cukup baik.

"Kazuki Tsukishiro sedang menjalani perawatan di ruangan yang sama. Mungkin sebentar lagi dia akan siuman. Dia butuh istirahat sedikit lagi," ujar Sang Maid.

"Apa Kazu—"

Sang Maid tersenyum, "Kazuki Tsukishiro termasuk peserta yang lolos maju ke ronde berikutnya. Mari, biar saya antar kalian menemui teman-teman kalian. Wildan juga ada di sana."


===


Yang pertama kali Liona dapati saat membuka mata adalah hijau yang memenuhi pandangan. Sejauh mata memandang Liona hanya bisa melihat pohon, semak, lumut, dan pohon lagi. Beberapa cahaya kecil melesat mengitari Liona disertai suara tawa cekikikan kecil. Itu para peri. Liona dibuat kagum melihatnya.

Tak lama berselang, suara Ledakan tercipta tak jauh dari tempat Liona. Liona bergegas memeriksa asal suara ledakan tersebut dan mendapati tanah kosong (atau mungkin baru saja dikosongkan?) yang diselimuti es. Di tengah-tengah tempat itu berdiri beberapa sosok malang yang membeku. Ada tujuh kurcaci, beberapa satyr, dan seorang wanita berjilbab yang nampak memeluk erat seorang gadis kecil yang menggenggam busur panah.

Liona menatap lekat sosok berjilbab itu. Dia peserta, kan? Pikirnya. Liona tidak mendapati kristal apapun dari wanita berjilbab itu.

Tiba-tiba Liona mendapati sesuatu melesat cepat ke arahnya. Liona refleks berkelit. Sebuah pedang biru nyaris memenggal kepalanya andai ia tak sigap menghindar.

Serangan pertama gagal, serangan kedua segera diluncurkan. Pemuda berjubah abu-abu yang ada di hadapan Liona saat ini segera berlari seraya menghunuskan pedangnya pada Liona. Liona melompat mundur, menjaga jarak. Pemuda yang bernama Aragon itu menancapkan pedangnya ke tanah dan menjadikannya tumpuan. Dilentingkanny tubuhnya ke arah Liona seraya melancarkan tendangan tepat ke arah wajah Liona.

"Valgus!"

Sebuah pedang cahaya tercipta di tangan Liona. Tanpa membuang-buang waktu, Liona segera menolak tubuhnya ke depan, menebaskan pedang cahayanya ke arah sebuah kristal yang melayang di sisi tubuh Aragon. Kristal itu terbelah seketika, dan bersamaan dengan itu tubuh Aragon ambruk tak sadarkan diri.

Liona tak begitu mengerti. Tapi kemunculan portal yang ada di depannya saat ini menandakan pertarungan kali ini sudah selesai. Itu artinya sebelumnya Aragon telah mengalahkan Bu Mawar, Tan Ying Go, Frost, dan Fapi.

Dan Liona sendiri telah mengalahkan Aragon.

Pertarungan berakhir dengan kemenangan dan keberuntungan Liona.


***

23 comments:

  1. Super ngebut

    Ga ada cerita yang bisa saya nikmatin, ga ada poin dari plot yang bisa saya jabarin. Ini bahkan bukan cemilan ringan - ini kayak obat tablet yang ditelen langsung gitu aja tanpa air

    Dari saya 4

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  2. Wow, pendek *slurp*

    Subhanallah, ternyata Ananda ada yang nandingin. Tp ini sih parah namanya.

    Dari intro, kayanya udah mau niat panjang tp ga jadi. Mengapa? Padahal gayanya bagus T_T

    Dan kenapa cuma battle sama Aragon dan berakhir semuanya? Ini sih mending entrynya Ananda. Seenggaknya muncul semua oknumnya T_T

    Jadi, saya titip 5 deh. Kan tau risiko nulis gini, jd ya saya nilainya begini.

    OC: Ahran

    ReplyDelete
  3. udah gt aja beb?
    walah,,, kalo sam rasanya kek minum obat sekali telen, di saya rasanya kek baca doujin dua halaman langsung klimaks #dihajar
    Meski ena diikuti, tapi sedetik kemudian ena nya ilang, udah gitu aja?
    well, fair enuff, kamu emang buru2 makanya hasilnya buru2, saya puji kerapihannya saja.

    Skor: 5

    OC: Vi Talitha

    ReplyDelete
  4. KAPAL KARAM KAPAL KARAM
    KazuLiona ga jadi canon otp //ya

    Sodara, super buru2 ya ngerjainnya?

    Titip 5 aja deh buat keberhasilannya ga wo


    『OC : 一過 』

    ReplyDelete
  5. Aduh Win, kamu kena writer's block ya?
    Makasih masih ikutkan Radith dalam canonmu. Dari narasi awal kamu yg senada dgn gaya saya, detil dan alami, saya ngerti kamu niat utk nulis serius. Sampai detil pas masuk hutan juga saya suka. Tapi cara kamu menang instan itulah yg jelas2 menunjukkan kamu sudah kepepet. Yah, karena Liona OC berpotensi yang saya langsung handpicked utk party, bahkan dianggap "adik" sama Radith, saya masih berbaik hati beri skor 6/10. Good luck di babak2 selanjutnya, because u need lots of it.
    OC: Vajra

    ReplyDelete
  6. Datar banget, saya gak kerasa apa-apa.
    Dan mereka mati begitu saja. ._.

    4 deh.. + 1 buat rapinya.

    Fatha a` Lir

    ReplyDelete
    Replies
    1. komen instant ini :)))))))))))))))))))))))))))))))))))))

      Delete
  7. What the hell?

    Dateng, bacok, beres... gitu aja...

    Selain rapihnya tulisan ini, saya sampai gak bisa komen apa-apa lagi...

    Poin 5

    OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete

  8. datang ke hutan, liat-liat daerah sekitar, berantem terus pulang..

    ibarat pentas drama, para aktor datang, berantem bentar trus kembali ke backstage..penonton pun hening dan tenggelam dalam lautan pertanyaan "kok cuma gini?"

    dan aragon..seharusnya sih ada satu hint tertentu..misalnya pemuda bertudung itu berkata "namaku aragon"..udah cukup, penonton sekarang tahu kalau lexia tahu bahwa itu aragon #yo dawg

    padahal potensi ceritanya bisa epik kalau dikerjakan secara serius..coba kalau dijabarkan lebih panjang dan mendetail secara apik, mungkin reader bakal betah bacanya

    untuk sementara 4 dulu dari Nobuhisa

    ReplyDelete
  9. ._.


    Yuu, ini cerita rapih bener... tapi ibarat bunda yang mengandung, ini baru bulan ke empat eh "crot" dikeluarin deh tuh jabang bayi. Sayang banget dibuat akhir secara prematur.
    Q_Q

    Di atas pada sakit ngasih point, saya heal deh biar gak terlalu minus. Iyah saya tau ini KKN. :)))

    Point : 7

    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
  10. Terlepas dari absennya konflik battle yang berpotensi seru di entri ini, saya bisa liat poin plus di beberapa bagian:

    1. Penjelasan tentang [kenyataan] yang berbeda. Wajar kalo liona kekeuh nyari falcon. Ada dialog yang begini kira2: "Padahal dia sudah menyiapkan apa yang ia lakukan untuk hadiah..." Ini ada referensi ke dunia nyata karena yang empunya falcon udah nyiapin upgrade, dan memang falcon

    Lalu, muncul juga tim lightbringer, yaay. tapi kaz juga masih ada. Ini makin memperkuat landasan bahwa memang ada [kenyataan] yang beda. Cekcok antara liona dan maid jadi konflik tersendiri yang cukup berkesan di saya.

    2. Di sisi lain, penyimpulan cerita yg serba offscreen utk menyiasati deadline ini lumayan rapi

    General comments: wedew, ada wanita berjilbab. edisi ramadhan ya~ terus, teriakan valgus liona ini entah kenapa kedengeran catchy deh.

    6/10

    OC; Wildan Hariz

    ReplyDelete
    Replies
    1. *dan memang falcon bounty hunter. Duh,

      Delete
  11. Baru semenit udah CROT... :v
    Mungkin kya gitu sih yang bisa kutangkap dari cerita ini.

    Tapi Bun suka banget cerita ini. soalnya ada Daging ayam kalkunnya, Yum-yum, bun~

    Terlepas dari kerapihan dan singkatnya ini Entry, saya kasi 7/10

    [Bun The Bubble]

    ReplyDelete
  12. lol ini beneran singkat. meskipun kita seolah dua keberadaan yang berbeda, kamu 1000 saya 27000. tapi kita sama. sama-sama ada kekurangannya

    tapi saya yakin ini ga sama kaya lagu euis di preman pensiun yang sekarang lagi saya tonton bareng temen-temen di ruang tengah kosan. ini cerita ada potensi bisa diterusin, tapi mungkin ada masalah lain kali ya

    soalnya bagian pertamanya lumayan

    soal kematian op scrin juga emang sih boleh, tapi mungkin ga sesimpel ini juga

    agak susah saya kalo kasih nilai... liat mayor aja deh ya

    nilai 5

    oc : eophi

    ReplyDelete
  13. kenapa kalian pada pake perumpamaan yang aneh-aneh???

    saya sendiri merasa ini lebih seperti trailer ketimang suatu cerita utuh. pernah liat trailer kan? yup. keren, exciting, tapi di enggak memuaskan. karena intinya memang bikin penasaran. kurang lebih begitu lah.

    berhubung saya menilai dari skimming atau tidak ketika membaca, saya harusnya ngasih 10/10. tapi -1 karena bagi saya ini trailer, dan -1 karena excitement dari trailer ini sendiri kurang terasa.

    8/10

    salam~

    Avius Solitarus

    ReplyDelete
  14. pendek banget Yuu? padahal depannya dah ada build up loh. ini emang sengaja diginiin atau apa nih? jangan2 Yuu lagi maw nyimpen sesuatu dari cerita ini?

    ReplyDelete
    Replies
    1. eh iya nilai:

      7/10 (soale penasaran pa jangan2 ada sesuatu yang disembunyiin di sini)

      OC gw: Kii

      Delete
  15. catatan, R2 itu 50 hari Deadline...
    semoga ceritanya gak jadi sependek ini.
    Saya beri nilai 6, karena ada bonus Nilai untuk sesama Tim B.

    sisanya yah....

    OC: Frost

    ReplyDelete
  16. 0__0 Ini apa?? ._.


    >> Liona nyari Falcon
    >> Liona ke RS liat Kaz
    >> Liona kebangun di TKP
    >> Everyone die, kecuali Aragon dan Liona
    >> Aragon serang Liona, Liona balas
    >> Aragon matek
    >> Liona menang

    The Fun : 2.0
    Karakterisasi : 1.0
    Alur : 2.0,
    Total : 5.0

    Yuu ini bisa lebih panjang walau yang lain pada off screen ._.

    OC : Maria Fellas

    ReplyDelete
  17. Yey, sesama pejuang Hutan!

    Dan Winda udah mati ya, di sini? Malang banget.

    Sayang banget entri ini lebih berat di opening yang nggak gitu ngaruh sama cerita berantem yang jadi menu utama R1 ini. Ya kalau emang mau buat entri super kilat, setidaknya langsung aja masuk berantem R1 bak-bik-buk. Ini akhirnya malah kedapatan sekian paragraf doang untuk adegan Liona menusuk Aragon.

    PONTEN 3
    OC: Kusumawardani, S.Pd.

    PS: Sepertinya tak perlu saya ingatkan lagi, tapi entri Prelim Liona yang bagus jadi kebanting sama entri R1 ini. Sungguh disayangkan~~

    ReplyDelete
  18. *sigh komentarnya gak kepost TAT

    heeh! udah selesai?singkat amat ... xD

    padahal prolognya udah bikin penasaran, kalo ini mah ketimbang battle death match ini jatuhnya lebih ke battle one by one. dan liona menang ,mudah lagi..

    Titip 5 deh , karena saya penasaran dengan sistem dunia versi author Liona ini...

    karena percakapan radith ini > "Benarkah? Kurasa belum."

    Liona menatap Radith yang tersenyum penuh arti seraya menunjuk ke arah sebuah ruangan di sudut tempat yang lebih mirip kafe ini. Ruangan yang kelihatannya cukup besar itu nampak ramai dengan para maid kembar-entah-berapa-banyak yang sibuk keluar masuk membawa peralatan kesehatan.
    "Ayo kita temui Falcon.

    Khanza...

    *psst! mampir ke lapak Khanza juga yah :3

    ReplyDelete
  19. Wow.

    Saya kaget, sekaget Liona yang kaget melihat Aragon muncul tiba-tiba dan tiba-tiba berhasil dia bunuh trus kaget karena dia ternyata menang gara-gara udah ngebunuh peserta lain sebelumnya *kaget*

    Eniwei, tulisanmu rapi banget, Yuu. Sayang ini cuman prolog yang belum beres.

    Nilai : 5
    OCku : Alshain Kairos

    ReplyDelete