24.6.15

[ROUND 1 - TEAM G] AHRAN - HITAM, API DAN DARAH

AHRAN - HITAM, API DAN DARAH
Penulis: N. Alfian


Chapter 1

"Ini adalah satu kisahku di dunia asing bernama Alforiyah. Peristiwa yang mengubah nasibku untuk selamanya." – Hari Kelimapuluh.

-


Sepanjang langkahnya menuju Balai Kota Despera, Ahran terus terkenang nasib nahas yang beruntun menimpanya. Dia ingat peristiwa di gurun penuh iblis, tempat di mana berlangsungnya ujian pertama. Bagaimana satu tangannya putus, menghadapi kuda sembrani yang bagaikan penjaga neraka, serta ketidakberhasilan mempertahankan jumlah anggota timnya.

Sialan.

Entah semua ini akan berlangsung dalam berapa waktu, sampai sang pemenang dinyatakan. Dan Ahran tidak yakin sama sekali bahwa sosok itu adalah dirinya. Bahkan hidup sampai tarikan napas ini saja, Ahran masih setengah terheran-heran.


Pelayan, yang selalu Ahran sebut dengan nama Ayşe, tiba-tiba mencetus. "Tuan, Anda bisa menunda waktu sejenak sebelum meneruskan ke babak selanjutnya," dia mewanti-wanti. "Hal itu lebih baik dikarenakan latar pertarungan kemungkinan tidak terduga. Persiapan sangat disarankan."

"Boleh aku mengetahui tempat bedeb—maksudku tempat apa yang akan kutuju?" tanya Ahran.

Ayşe menggeleng. "Tidak boleh."

"Bagaimana? Itu tidak—"

"Saya hanya diizinkan untuk menjelaskan seluruh rincian bila Anda sudah sampai di tempat," sela Ayşe sebelum Ahran sempat memprotes. "Tapi saya dapat menyebutkan garis besar misi Anda."

Ahran menuntut, "Apa?"

"Dalam misi kali ini, Anda diwajibkan bertahan hidup agar lolos ke babak selanjutnya," papar si pelayan. "Caranya satu saja: membunuh semua orang yang menjadi lawan-lawan Anda. Atau jadilah yang terakhir bernapas."

"Lawan-lawan?" Kelopak mata Ahran sedikit melebar.

Ayşe mengangguk setuju. "Benar. RNG-sama menyatakan, Anda termasuk ke dalam Grup G, dan harus menghadapi lima peserta. Anda juga diperkenankan mempelajari kemampuan-kemampuan mereka sebelum memasuki portal."

Pelayan berambut pirang itu menyerahkan sejenis logam tipis berbentuk persegi. Ahran menduga, itu semacam buah teknologi dari Alforea. Beberapa waktu yang lalu, dia sudah menguasai penggunaan alat bernama komputer—yang dapat dikendalikan dengan sentuhan jari. Kemungkinan benda pemberian pelayan itu berhubungan.

Kalau suatu saat nanti Ahran berhasil keluar dari Alforea, dia ingin mematenkan salah satu teknologi dunia ini. Menyandingkan nama di antara para cendekiawan terkenal, dan memperoleh posisinya kembali sebagai kepala peneliti.

"Apa ini?" tanya Ahran. Tapi telunjuknya telah menekan satu-satunya tombol pada benda itu. Permukaannya berpendar, dan langsung menampilkan wajah seorang wanita dengan topeng. Berbagai informasi muncul dalam huruf Arab, kecuali nama-nama peserta yang bersangkutan.

Ayşe menuturkan, "Itu panel sentuh. Di sana tersedia data-data dan daftar kemampuan dari setiap lawan Anda. Navigasi tertera di layar. Tulisan 'lanjut' untuk beralih ke informasi selanjutnya. Sedang 'menu utama' menuju ke daftar lawan."

Setelah cukup memandangi sosok wanita bernama Steele dengan tubuh kekar tingginya, Ahran menyentuh gambar kotak bertuliskan 'lanjut'. Kelihatannya pegulat tadi tidak terlalu berbahaya.

Kemudian, dia menggulirkan perhatian ke peserta turnamen lain. Effeth si Peniru—dengan detail kemampuan yang sukar Ahran pahami, Sanelia si Penembak Jitu, hingga Wildan Hariz si Bocah Liar. Terakhir ....

"N-Neeshma?" Ahran berjengit, hampir saja menjatuhkan panel dalam genggaman.

Ayşe mengangsurkan kepala. "Ada apa, Tuan?"

Ahran tidak menjawab. Sontak dia terkenang sosok sang Pendeta Ombak. Gadis pengendali air itu ... adalah kelemahan fatalnya. Bahkan informasi yang tengah dilihat Ahran sangat berbeda daripada apa yang pernah ditangkapnya. Selain dapat mengendalikan air, Neeshma mampu menyembuhkan luka secara alami dan menembak dengan cahaya. Usianya juga berbeda dari penampakan.

"Sebagai informasi, masih ada dua jam waktu tersisa sebelum babak selanjutnya benar-benar dimulai," Ayşe memberitahu, seraya mendekap panel sentuh yang sudah Ahran kembalikan. "Anda dapat menggunakan waktu luang itu untuk mempersiapkan diri. Begitu waktunya tiba, saya akan memperingatkan."

Mengikuti budaya yang berlaku, Ahran mengangguk sebagai balasan. Lalu Ayşe berubah menjadi kumpulan angka yang tercerai-berai dan lenyap dari pandangan.

Ra'ash dan dua puluh tabung alkimia telah siap. Tidak terlalu penting untuk menambahkan hal-hal lain, sebetulnya.

Sebelum keluar dari bangunan luas menyerupai aula itu, Ahran menyapu pandangan ke sekeliling. Tidak banyak orang. Dan dia mengenal beberapa wajah saja di antara mereka semua. Neeshma dan Mima juga ada di sini. Sebuah sistem aneh yang berlaku di Alforea membangkitkan mereka kembali.

Menurut pengumuman yang diberikan Hewanurma, penampilan keduanya menyedot cukup banyak antusiasme. Mereka layak menjadi dua dari empat puluh delapan peserta yang berhak mengikuti babak selanjutnya. Sekalipun gugur secara prematur.

Peserta yang tereliminasi? Persetan. Ahran tidak pernah peduli.

Juga, semenjak peristiwa di padang pasir, belum satu pun dari ketiga peserta yang pernah jadi satu tim ini saling bicara. Ahran terlalu canggung untuk menemui Mima, terutama setelah peristiwa di kastel kristal. Tampaknya hal yang sama terjadi pada Mima dengan Neeshma.

Satu lagi ....

Ahran mengalihkan pandangannya lagi, ingin menemukan sosok seseorang. Tapi wanita itu tidak ada di dalam aula.

Khawatir dua jamnya yang berharga habis begitu saja, Ahran segera bergegas keluar dari balai kota itu. Tiga pekan berlalu sejak ujian pertama. Dan selama itulah dia belum bertemu dengan Mawar. Semata-mata demi menghormatinya. Hidup di tengah-tengah lingkungan yang sama dengan keyakinan sang Pendidik, kurang lebih Ahran paham apa yang sebaiknya dia lakukan.

Namun dia tidak perlu mencari lebih lama, sebab yang diharapkan muncul di depan mata. Sayangnya Ahran hanya menyaksikannya selama beberapa saat. Wanita itu melalui jalan lain, langkahnya cepat. Ahran mencoba mengejarnya, tetapi terlambat. Portal yang menyilaukan mata terlanjur mengisap wanita itu.

Tapi mendadak, seorang pelayan menghampirinya. Ahran selalu memanggil wanita itu dengan Irini.

Ayşe dan Irini, sejatinya adalah nama istri Rüstem dan Davud. Ahran sengaja memanggil kedua pelayan Alforea dengan nama-nama itu untuk mengolok musuh-musuhnya.

Irini menyampaikan, "Saya baru saja mendata peserta Turnamen Antar Dimensi. Tuan, Anda lulus dari babak penyisihan dan sebagai imbalannya Anda dapat menambahkan atau meningkatkan kemampuan. Sebagian besar peserta telah mengambil hak mereka. Bagaimana dengan Anda?"

"Apa yang dapat kuminta?" Ahran memutar bola mata, skeptis. "Bolehkan aku mengendalikan api dan air secara bersamaan? Jelas tidak."

Irini membuka telapak tangan. Di atasnya, layar semi realitis tercipta di udara. Wanita itu memandanginya selama beberapa saat. Selesai mencermati, dia berkata, "Ya, Anda memang tidak dapat menambah kemampuan yang berunsur selain api. Tapi Anda bisa meminta kemampuan baru, tentu harus yang pernah Anda ketahui dan lihat. Juga sesuai dengan elemen Anda."

Sambil berpikir, Ahran memerhatikan rumput yang bergoyang tertiup angin. Selama ini dia berada di tengah komunitas penyihir yang berbeda unsur.

Pengendali api begitu langka. Mereka biasanya bermukim di Austria. Di luar keluarganya sendiri, nama yang terlintas dalam pikiran hanyalah kakak-beradik Lewi yang kabarnya senang mengembara. Ahran belum menemui seorang pun dari mereka. Jadi dia tidak mempunyai gambaran akan kemampuan baru yang berkaitan dengan api.

"Namun, Anda boleh menyimpan hak ini," ujar Irini karena Ahran terlalu banyak mempertimbangkan. "Jadi, jika Anda lolos ujian hari ini, Anda dapat menambah atau meningkatkan kemampuan sebanyak dua jenis di babak selanjutnya."

"Itu kalau aku selamat," desah Ahran. "Dan kaubilang, boleh meningkatkan kemampuan yang sudah ada?" tanyanya.

Irini mengangguk. "Ya."

"Baik, itu saja," jawab Ahran. "Aku ingin agar dapat menggunakan sihir-sihirku dengan risiko minimal. Setidaknya tidak perlu ada tangan yang meledak."

Irini mengerutkan alisnya. "Dampak dan kelemahannya harus disertakan juga, Tuan. Anda pun, hanya boleh memilih satu kemampuan saja untuk ditingkatkan."

"Kalau begitu," kata Ahran, "BUAT APA KAUDATANG?"

"Tu-tuan, tenang dulu. Saya bisa menyarankan sesuatu untuk Anda."

"Apa?" bentak Ahran. "Kalau semua pembicaraan ini tidak ada hasilnya, kau akan terima akibatnya!"

"Ikuti saya," Irini pun memandu Ahran kembali ke dalam bangunan untuk latihan. Namun mereka terus lurus, melalui koridor-koridor yang sepertinya belum banyak dijamah peserta turnamen.

Begitu melewati pintu ganda raksasa, Irini berhenti. Dengan tenang, dia menoleh ke segala arah. Setelah itu dia memosisikan telapak tangan kirinya pada logam bundar di tengah pintu.

Sepasang logam itu saling menjauh secara melintang sehingga terbenam ke dalam dinding atas dan lantai. Ruangan yang sangat luas, namun kosong dan tidak ada siapa-siapa, terbentang di depan mata. Ahran masuk mengikuti Irini.

"Jangan katakan pada siapa pun," Irini mengingatkan. Lalu sedetik kemudian, sepasang pintu logam tadi kembali berdekatan dan menutup jalan keluar.

"Apa yang akan kaulakukan?" Ahran mulai curiga. Terlebih dia sedang berada di dalam ruangan seluas kediaman seorang wazir, dan terang benderang. Sudah begitu, dia bersama seorang wanita. Semoga hanya Tuhan dan Irini saja yang tahu kejadian ini.

Irini menjauh sedikit. "Tuan, perhatikan saya baik-baik." Pelayan itu mengangkat tangannya yang membuka tinggi-tinggi. Dari telapaknya, api menyembur lurus ke atas. "Ini kemampuan dasar Anda, bukan?" tanyanya.

Ahran mengangguk, terkesan. "Benar."

Pelayan berambut cokelat itu tersenyum simpul. "Bagaimana jika kemampuan baru Anda—" Api yang masih menyala di atas Irini bergolak, dan sekejap kemudian mengambil bentuk menyerupai kuda bersayap dan bertanduk. "—Seperti ini saja?"

Lantas kuda sihir itu terbang ke segala arah, meninggalkan bunga-bunga api tiap kali dia melintas. Ahran teringat Tamon Rah. Dan tidak ada kata-kata yang dapat melukiskan kekagumannya saat ini.

"Cerdas!" Ahran memuji Irini. "Jadi, bisakah aku menciptakan Tamon Rah dari api?"

"Kurang tepat," Irini menggeleng seraya menjentikkan jari. Kuda api sontak memudar. "Yang benar, Anda dapat mengubah bentuk api dasar menjadi suatu wujud. Dan ini jauh lebih terang dari api biasa. Namun tetap, panasnya sama dengan sihir dasar. Energi yang dikorbankan juga setara nilainya," dia menjelaskan.

Ahran mengerutkan alisnya. "Apa batasannya?"

"Kemampuan ini hanya dapat menciptakan wujud baru api yang wajar. Seperti hewan atau benda yang lazim terlihat." Irini melanjutkan dengan hati-hati, "Sihir ini juga bisa dipadamkan dengan air dan punya waktu bertahan lima belas menit saja."

"Seperempat jam?" Ahran memastikan.

"Betul," sahut Irini. Dia mengecilkan suara sebelum meneruskan, "Ini kemampuan yang sederhana, sesuai dengan ketentuan hak memenangkan babak preliminer. Tapi saya yakin, ini akan berguna untuk Anda di masa depan."

Ahran menatap mata biru Irini dalam-dalam. "Kenapa kau bersedia membantuku?"

Irini tertunduk. "Saya memahami sekali apa yang Anda rasakan dengan hanya memerhatikan. Karena keterbatasan yang Anda miliki, Anda merasa belum siap," paparnya dengan suara tercekat. "Itu tidak bisa dibiarkan. Terlebih, waktu babak penyisihan itu, saya dan rekan-rekan menyaksikan pertempuran di Shohr'n Plain bersama Nona Tamon serta Tuan Hewanurma. Dari sana, saya menemukan dan mempelajari Anda baik-baik."

Pelayan itu menarik napas dalam. "Pemenang Turnamen Antar Dimensi ini selalu identik dengan kekuatan dan daya rusak yang besar. Saya sudah jengah dengan konsep itu. Menurut saya, sosok seperti Anda juga layak bertahan hingga akhir. Dan oleh sebab itulah saya ingin sedikit memberi kelancaran."

Sinar di mata Ahran meredup. Tidak ada gunanya lagi berpura-pura. "Aku bahkan tidak yakin mampu bertahan."

"Saya dapat menangkap tujuan yang besar dari tatapan mata Anda," Irini meyakinkan dengan sungguh-sungguh. "Pertahankan itu, jangan menyerah begitu saja."

"Terima kasih," ucap Ahran tulus.

"Tidak usah dipikirkan," Irini menghampiri Ahran. "Kemudian, saya ingatkan agar senantiasa berhati-hati pada babak kali ini. Jangan percaya pada yang lain, sekalipun mereka terlihat tidak berbahaya. Segala yang ada di medan tempur pasti musuh, siapa pun itu."

Si pelayan lalu memunculkan layar semi realistis lagi. "Apakah Anda berkenan mengaplikasikan kemampuan barusan, menambahkannya dalam daftar? Awalannya sama seperti sihir dasar yang Anda kuasai, tinggal membayangkan bentuknya saja sesuai kehendak."

"Ya," balas Ahran.

Irini sontak menyentuhkan jarinya pada suatu lambang di layar. "Selesai," katanya. "Semoga Anda maju ke babak berikutnya. Waktu yang tersisa ... dua belas menit dari sekarang. Cepatlah menuju balai kota sebelum Lucrezia datang."

"Siapa itu?"

"Pelayan berambut pirang sebelum saya," Irini memberitahu.

Ahran memandangi Irini. "Apa kau melakukan pelanggaran dengan membantuku?" simpulnya.

"Tidak," Irini menggeleng. Nada bicaranya datar. Akan tetapi matanya tidak dapat menipu. Ada kekhawatiran besar di sana. "Cepatlah bergegas, Tuan. Area ini cukup luas, jalan keluar dari bangunan memerlukan waktu agak lama."

Ahran menganggukkan kepala satu kali. "Sekali lagi, terima kasih," ucapnya sambil melemparkan senyum. Sebuah peristiwa langka hingga Ahran lupa kapan terakhir kali dia memberikannya pada orang lain—selain Mawar, tentu saja. Setelah itu, Irini membukakan pintu dan Ahran segera berlari.

Akan tetapi, sang Petapa takkan pernah mengetahui apa yang sedang dan akan terjadi.

Selagi melintasi koridor, Irini—yang aslinya bernama Cassandra—memerhatikannya terus, hingga sosoknya hilang dari pandangan. Ini sesuatu yang tidak umum menimpa seorang pelayan. Belum pernah Cassandra mengalami perasaan seperti ini bahkan sejak Turnamen Antar Dimensi yang pertama diselenggarakan. Dia bersimpati, pada seorang peserta?

Tidak, ini bukan sekadar simpati. Lebih dari itu, mungkin dia ....

"Bukan," Cassandra meyakinkan diri. "Aku tidak tega membiarkannya menghadapi lawan yang berbahaya."

Meski mengatakan demikian, Cassandra tidak dapat membohongi diri sendiri. Sebenarnya, dia telah mengamati Ahran sejak sebelum babak penyisihan. Batinnya selalu teriris tiap kali melihat pria itu sendirian. Setiap kali Ahran berdiam di perpustakaan yang sepi, alih-alih ke area pelatihan. Atau sewaktu dia pergi ke taman menyaksikan matahari terbenam tanpa pendamping. Juga ketika mendapati tatapan mata kelabunya yang kosong, tatkala berusaha mencari rekan-rekan untuk bekerjasama di Alkima Plaza.

Di saat para peserta yang kuat dielu-elukan berkat segala kelebihan mereka, Cassandra justru menemukan Ahran sebagai sosok yang berbeda, dengan segala kekurangannya. Hingga kian lama, perasaan ibanya malah berubah menjadi ... suka?

Tanpa Cassandra sadari, napasnya memburu. Jantungnya berdentam-dentam keras memikirkan Ahran. Dan mendadak, dia ingat pada latar pertarungan yang akan pria itu hadapi.

Matanya terbelalak. Cassandra lupa mengingatkan sesuatu. Kesadaran itu menghantamnya tanpa ampun. Perasaan khawatir yang teramat dalam membebaninya. Masih ada waktu, dia harus mengejar pria itu sebelum benar-benar terlambat.

"Mau ke mana?" Suara seseorang yang dikenali Cassandra menggertak.

Dengan perasaan campur aduk, Cassandra menoleh ke belakang. Tubuhnya begitu kaku ketika dia membungkukkan badan. "Tu-Tuan Hewanurma," sambutnya.

Hewanurma tersenyum tipis. "Dari tadi aku memerhatikan gerak-gerikmu, tapi aku sengaja membiarkannya," katanya. "Sepertinya ... aturan yang kami buat sama sekali tidak memengaruhimu. Atau mungkin kamu benar-benar melupakan statusmu sehingga berani membangkang?"

"Ti-tidak, Tu-Tuan Hewanurma, s-s-saya hanya—"

"Cassie, sayang sekali." Hewanurma menggeleng lemah, lalu berbalik. "Mulai besok, kamu harus angkat kaki dari tempat ini. Kami tak pernah membutuhkan orang yang tidak kompeten. Aku akan mengirimmu ke Lembah Darah."

Lembah Darah. Mendengarnya saja, napas Cassandra terhenti selama beberapa saat.

Lembah yang terletak jauh di utara planet Alforea, mendekati kutub. Salju semerah darah senantiasa menyelimuti tempat itu sepanjang tahun. Dan monster-monster yang menjadi ujian bagi para peserta dikembangbiakkan di sana. Tiap pelayan yang dikirim ke Lembah Darah, tidak pernah keluar hidup-hidup.

Cassandra berlutut di hadapan Hewanurma. "Tuan, saya akan melakukan apa saja demi menebus kesalahan. Tapi tolonglah, jangan kirim saya ke sana. Saya ... saya berjanji takkan lagi membantu peserta. Saya akan menaati setiap perintah." Airmatanya bercucuran deras.

Hewanurma terdiam. Matanya memindai si pelayan. Usai kebisuan agak lama, dia berujar, "Baik. Aku mengampunimu. Tapi tentu, pelanggaranmu harus dibayar dengan harga yang sepadan."

"Terima kasih, Tuan," Cassandra mendongak. Namun, didapatinya sang Administrator menyeringai keji. Firasat buruk sontak menghinggapi Cassandra.

"Aku tidak akan mengirimmu ke Lembah Darah," satu alis Hewanurma terangkat. "Tapi sebagai gantinya, kamu harus menebus kesalahan ini dengan nyawamu."

Cassandra tercekat, langsung paham artinya. Sehingga tanpa pikir panjang, dia membelakangi Hewanurma dan berlari menjauh.

Namun sayang, kesadarannya semakin lama kian meninggalkannya. Pandangannya mengabur, tenaganya berangsur menipis. Cassandra jatuh dengan hidung menghantam lantai marmer lebih dulu.

Sebelum matanya benar-benar tertutup, dia menggumamkan tiga patah kata. Seiring sebutir airmatanya bergulir.

***

Keluar dari portal, Ahran menjejak tanah penuh kewaspadaan. Jantungnya berdegup kencang sedang benaknya terus bertanya-tanya atas apa yang menunggunya. Mata kelabunya memandangi sekitar. Cahaya Alkima terpantul tenang di permukaan air tak jauh darinya.

Pandangan Ahran beralih. Sejauh jangkauan penglihatannya, hanya tampak dinding batu suram yang menjulang tinggi. Rupanya dia berada di depan sebuah benteng.

Seumur hidup, Ahran belum pernah mendapati benteng seluas ini. Dua kali tempat kerjanya di Istanbul dulu, kelihatannya muat dimasukkan ke dalam. Parit di bagian terluar benteng memiliki lebar puluhan panjang tombak. Ditambah, kesunyian tempat ini yang malah menegaskan mara bahaya tersembunyi.

Demi Tuhan, Ahran menepuk dahi. Mentalnya hancur duluan. Rasanya dia mulai merindukan Tamon Rah dan troll. Setidaknya di babak penyisihan itu, dia tidak sendirian. Dia diharuskan membentuk satu tim dan pasukan Alforea menunjang penuntasan misinya.

"Apa yang akan kutemui di dalam?" tanya Ahran sembari tak memutuskan fokusnya dari pintu utama benteng. Aroma kematian, lenguh-lenguh keputusasaan, dan gaung sejarah yang penuh tumpah darah seolah menguar dari dalam bangunan.

Ayşe memaparkan, "Ini Benteng Sammeriil, dulu digunakan oleh Kesatria Hitam Sammeriil. Tapi jalan untuk menyusuri tempat ini tidaklah mudah. Banyak perangkap tersembunyi dan labirin, juga para makhluk kegelapan yang pernah bertugas jaga." Dia berkata dengan nada biasa, seolah tengah membicarakan biri-biri yang lepas.

Ahran mendengus panjang. "Oh, bagus sekali," tawanya penuh ironi, "apa aku dibekali dengan sesuatu?"

"Sayangnya tidak, Tuan. Bahkan, tidak ada penerangan sama sekali," Ayşe menunjuk sebuah obor yang diletakkan tak jauh darinya. "Tapi Anda bisa mengambil itu untuk memandu jalan Anda."

Dia terdiam sebelum melanjutkan, "Kemudian, di dalam benteng tersedia titik-titik khusus untuk dinyalakan. Itu akan menjadi tempat peristirahatan dan titik kembali jika Anda terbunuh oleh monster atau jebakan. Dengan kata lain, itulah area yang bebas dari bahaya. Anda dibangkitkan kembali di titik khusus terakhir yang Anda nyalakan."

"Di-dibangkitkan?" Ahran tertegun.

"Anda memang takkan pernah benar-benar kehilangan nyawa di turnamen ini," sahut Ayşe. "Itu menjelaskan kenapa Ny. Reid dan Nn. Fraun hadir kembali, bukan?"

"Bagus," timpal Ahran, "tapi bagaimana bila aku tewas karena peserta lain?"

Ayşe menatap Ahran, sangat serius. "Anda tidak bisa bangkit lagi dan dinyatakan kalah. Pihak penyelenggara akan mengeluarkan Anda dari turnamen. Dan itu artinya, Anda takkan selamat dari hukuman. Membuat peserta lain menyerah juga takkan dianggap kemenangan."

"Ada hukuman? Hukuman apa?"

"Yang jelas, itu sesuatu yang saya sekalipun tidak dapat membayangkan," kata Ayşe, tanpa ada perubahan tekanan bicara. "Saya dilarang menjelaskan. Namun saya tekankan, itulah yang terjadi pada peserta tersisih sehingga mereka tidak kembali."

Ahran mendesis gemas. "Dan bagaimana bentuk titik khusus yang kausebutkan tadi?"

Ayşe menjabarkan dengan sabar, "Titik khusus, atau disebut bonfire."

Bonfire—api unggun dalam bahasa Inggris. Sungguh aneh menemukan kata itu keluar dari bibir pelayan yang sejak awal bicara dalam bahasa Turki Utsmani.

Ahran tidak puas dengan penjelasan itu. "Jadi, titik henti itu berupa api unggun?"

"Tidak, itu istilah semata," Ayşe menerangkan. "Wujudnya menyerupai pancang-pancang pendek berjumlah enam, dan ada tombol di tengahnya. Ingat, enam buah. Tidak lebih dan tidak kurang. Namun sebuah bonfire hanya boleh dinyalakan satu orang. Maksudnya, apabila Anda menemukan bonfire yang telah dihidupkan, titik itu tidak boleh dijadikan tempat Anda istirahat."

"Sekarang," Ahran menghela napas panjang, "di mana semua orang?" Karena pelayan ini tidak menyebutkan boleh menyingkirkan peserta lain di luar benteng, maka Ahran akan melakukannya sebelum peraturan itu ada.

"Mereka melalui gerbang benteng yang lain," Ayşe menunjuk ke satu arah. Namun Ahran tidak menemukan siapa-siapa. Jarak mereka terlalu jauh. "Tiap peserta masuk melalui pintu benteng yang berbeda-beda. Untuk permulaan, kalian memang takkan bertemu. Anda juga tidak bisa keluar dari medan ini sekalipun Anda memaksanya."

Dengan keberanian dan keraguan yang hampir setara kadarnya, Ahran menyanggupi. "Kau boleh pergi sekarang."

***

Pemandangan kamar semasa mudanya, yang bagaikan penjara, akan terus terpatri dalam benak Ahran. Mungkin selamanya, pikirannya takkan pernah dapat menghapus kegelapan itu. Ahran selalu ingat hari-hari panjang yang berlalu tanpa cahaya. Tanpa sihir. Tiada kebahagiaan dan tawa. Tiada teman. Di masa lampau, Ahran kerap menyamakan kehidupannya yang muram dengan berdiam dalam liang lahat.

Dibanding kesuraman yang menyelimuti benteng di Alforea ini, segala yang terjadi pada Ahran di masa lalu itu ternyata masih belum apa-apa.

Begitu masuk, hawa yang mendirikan bulu roma langsung mendekap Ahran. Tidak ada yang salah dengan udara, tapi tiba-tiba dia menggigil. Tangannya yang memegang obor bergetar, sehingga cahaya temaram yang menjadi satu-satunya pemandu ikut tidak stabil. Api kecil ini tidak terlalu banyak membantu, selain untuk memperburuk suasana hati dengan menerangi sejauh satu-dua panjang tombak saja.

Jadi Ahran menghabiskan sedikit tenaga, sekaligus untuk mencoba kemampuan barunya. "L'havah," sebutnya.

Dari tangan kanannya yang membuka, api berkobar ke atas. Selagi sihirnya belum padam, dibayangkannya sebentuk kuda bertanduk.

Sihirnya bereaksi. Api itu melayang di atas tangan Ahran dan sekejap kemudian, berubah menjadi wujud yang diinginkan. Ahran menjulurkan tangannya ke depan, kuda terbentuk sempurna. Hewan magis itu pun berlari meninggalkan tuannya.

Selama kuda itu menghambur, Ahran menyadari sesuatu. Sihirnya memberitahu beberapa hal. Koridor tempatnya berada memiliki lebar sekitar tujuh depa dan tinggi kurang lebih lima depa. Selain itu, tiap beberapa hasta terpasang lilin di dalam ceruk pada dinding.

Tatkala Ahran mencermati lagi sihirnya, kuda itu belum terlalu jauh. Sekali lagi hewan magis itu memperlihatkan apa yang akan ditemui. Takkan lama, Ahran menghadapi enam cabang jalur. Dan dia langsung punya firasat untuk mengikuti kuda apinya dengan mengambil jalan ke tengah kiri.

Ahran meminggirkan diri ke dinding untuk menyalakan lilin-lilin terdekat. Selama beberapa waktu, dia sibuk menyambarkan ujung obornya dengan sumbu lilin. Tidak ingin menghabiskan tenaga lebih banyak demi penerangan semata.

Kini, keadaan membaik. Cahaya remang menyelimuti lorong. Menawarkan visi dan sedikit nyala harapan. Tapi tetap, kemistisan yang mengungkung tempat ini belum dapat tergantikan. Ahran bahkan bisa mendengar detak jantung dan napasnya yang bergolak.

Beragam suara melantun. Tangis, desah, derai tawa, sampai ... ledakan teredam dan jerit pekik.

Belum ada tanda-tanda kemunculan bahaya, namun tiada pula pertanda kehidupan yang nyata. Ini lebih menakutkan bagi Ahran. Dan semua itu berlangsung sampai dia akhirnya melewati jalan bercabang sebanyak dua kali.

Saat itulah, telinganya menangkap seseorang memanggil namanya. Samar sekaligus familier. Ahran mengenal si pemilik suara. Pemahaman itu sontak membuat Ahran terpaku. Ususnya seolah dipelintir dari dalam.

Ahran menyumpah balik.

Akan tetapi sesaat berikutnya, dia menyadari kekeliruan. Itu tidak lebih permainan benteng ini. Barangkali itulah jebakan pertama untuk Ahran. Atau bisa saja itu buah kewaspadaannya belaka. Suasana di dalam bangunan jelas telah mengoyak kewarasannya.

Ahran melangkah cepat. Suara tadi kian menjadi-jadi. Dan semakin dia menolak untuk menerimanya, panggilan kepadanya makin terasa nyata. Seakan asalnya dari ....

"Tidak," kata Ahran tatkala dia berbalik. Kepalanya seakan diguyur air dingin. Tidak ada siapa-siapa. Namun di belakangnya, lilin yang sebelumnya Ahran nyalakan satu demi satu padam. Dan sesaat kemudian, segalanya gelap. Sebab nyala obor yang dipegangnya  ikut mati.

Dalam kegelapan total, Ahran mengusahakan agar sebisa mungkin tenang. Sambil terus berjalan, ditariknya napas dalam-dalam. Mengurangi denyut jantungnya yang mulai tak terkendali.

Sedikit didera firasat tidak enak, Ahran merapalkan sihir dasar.

Kobaran api pun menerangi lorong. Ahran segera merambati sihir di tangan dengan obornya. Setelah itu, dia berbalik dan—

Ahran terlonjak. Dia sampai terjengkang. Wajahnya sontak pucat pasi, napasnya kian tidak beraturan.

Namun tak lama kemudian, Ahran tersadar. Dia menyipitkan mata sambil merangkak sedikit ke belakang, bersiaga bila terjadi serangan dadakan. Ra'ash juga sudah terhunus, dapat langsung digunakan untuk membelah musuh.

"Jangan terlalu serius begitu~" Gadis di hadapannya berkata dengan nada kekanakan. "Aku 'kan belum berniat melawan~"

Ahran berdiri, lekas menggenali lawan bicaranya sebagai Effeth si Peniru. Rambut merah dengan mata hijau, dan berpakaian terbuka. Bukan lawan yang terlalu diantisipasi Ahran. Tapi dia tidak boleh lengah barang satu kedipan pun.

Tanpa basa-basi lagi, Ahran melesat maju dan mengayunkan pedang. Tepat mengarah ke leher Effeth yang masih berdiri bak tidak terjadi apa-apa. Ayşe mengatakan peserta turnamen ini tidak sungguhan meninggal, jadi Ahran tidak boleh setengah-setengah dalam bertindak.

Akan tetapi, amat mengejutkan. Ra'ash yang disabetkan kuat-kuat terpantul. Kulit si Peniru rupanya sekeras berlian, hingga benturan yang terjadi pada lehernya menimbulkan dentingan nyaring.

Begitu menjauh, Ahran bergeming di atas kedua kakinya. Belum pernah sekalipun Ra'ash gagal membinasakan lawan. Sementara di satu sisi, Effeth menyeringai, namun tampak usil alih-alih memancarkan aura permusuhan.

"Kamu jelas tidak akan bisa membunuhku~" ujar Effeth. Dan secara tiba-tiba gaya bicaranya berubah selayaknya orang dewasa. "Aku juga belum mau bertarung denganmu."

Ahran mendelik. "Apa yang kauinginkan?"

"Kerjasama," balas Effeth serius. "Sangat tidak efisien membunuh lawan satu demi satu selama lima kali, belum termasuk menghadapi beragam jebakan."

"Dan kenapa aku harus memercayaimu?" tukas Ahran sembari mengamati lawannya. Mencari titik-titik kelemahan yang tak kunjung ketemu.

Effeth mendengus pendek. "Sudah kukatakan tadi," sahutnya, "daripada merepotkan diri dengan menghancurkan banyak lawan, aku menawarkan kerjasama. Kita melawan semua yang jadi penghalang. Baru di akhir, kita saling bertarung. Bukankah itu lebih baik?"

Pemilihan kata 'menghancurkan' malah membuat Ahran semakin waspada. Suara hatinya meneriakkan potensi bahaya. Dia juga ingat perkataan Irini yang belum lama berselang, untuk tidak memercayai siapa pun.

"Terima kasih, Nona," desis Ahran pada akhirnya. "Tapi tidak ada kata kerjasama dalam kamusku!"

Berbekal obor di tangan musuh sebagai petunjuk, Ahran kibaskan Ra'ash dengan kecepatan tinggi. Serangan yang dulu lazim digunakannya untuk menumpas iblis kelas atas. Sayangnya, tiap kali bersinggungan dengan kulit Effeth, pedang penghancur yang selalu diandalkan Ahran ini tidak pernah berhasil meninggalkan jejak. Ahran kewalahan.

"Masih mau menyerang?" Effeth mengangkat sebelah alisnya. Sekarang suaranya berubah ceria. "Tapi kalau tidak mau, tidak terlalu masalah juga sih~"

Ahran melonggarkan posisi menyerang. "Baiklah," desahnya. Meski begitu, kehati-hatiannya ditingkatkan dua kali lipat. Jika gadis ini berulah sedikit saja, Ahran tidak keberatan bertarung mati-matian.

"Jadi keputusannya?" desak Effeth penuh harap.

"Kita bekerjasama," Ahran menerima. Tidak ada pilihan lain sekarang ini. Barangkali mengikuti keinginan si Rambut Merah adalah hal yang paling baik untuk ditempuh. Tapi Ahran memastikan, dia sudah akan menemukan cara untuk melukai si Peniru nantinya.

"Oke~" Effeth menangkupkan dagu dengan telapak tangannya. "Kalau begitu, kita mulai terangi benteng ini~"

***

Dalam imajinasi paling liar sekalipun, tak pernah terlintas dalam benak Neeshma Fraun untuk mengikuti sebuah turnamen. Terlebih yang mewajibkan setiap pesertanya untuk saling bantai.

Namun, semuanya sudah terlambat.

Seharusnya Neeshma mengajukan diri untuk kembali ke dunia asalnya, sebelum babak penyisihan. Meski pasangan penyelenggara turnamen, Hewanurma dan Tamon, menciptakan serangkaian sistem yang aneh, toh tawaran mereka amat menggiurkan.

Segala kehendak dari pemenang Turnamen Antar Dimensi akan dikabulkan. Begitu Tamon Ruu mengumumkan, siapa yang tidak tergoda? Dalam benaknya, Neeshma langsung membayangkan kaumnya yang menyandang kembali Lumen Margarita.

Tapi itu awalnya saja. Sebelum sang Pendeta Ombak mengetahui makna sebenarnya dari turnamen ini. Dia diharuskan membunuh orang lain, begitu yang disampaikan seorang pelayan sesaat setelah Neeshma setuju mengikuti babak penyisihan. Yang artinya, menyatakan sanggup mengikuti Turnamen Antar Dimensi sampai dia dinyatakan tersisih.

Dan kini, keputusan untuk tidak mundur itu telah menjadi satu dari sekian banyak hal, yang menjadi penyesalan Neeshma.

Pada momen di Padang Shohr'n, ketika mendapati luka-luka tusuk pada tubuhnya sendiri karena serangan Mima, Neeshma telah sangat gembira. Walau tahu itu artinya Dewi Bakhara memanggil dirinya ke dalam rengkuhan-Nya, sang Pendeta Ombak tidak peduli. Itu jauh lebih baik, dibanding menjalani sebuah kompetisi berdarah.

Akan selalu ada Pendeta Ombak di bumi Bakhara, yang menjadi penerus Neeshma. Tapi jangan sampai ada pemimpin bangsa Maan yang menodai kekudusan posisi Pendeta Ombak dengan darah.

Akan tetapi sialnya dunia ini tidaklah murah hati. Juga, amat memuakkan.

Dengan begitu lancang, Alforea berani merusak siklus kehidupan yang telah dirancang sedemikian caranya. Setelah proses kelahiran dan menjalani hidup, semestinya setiap makhluk akan menemui sebuah akhir bernama kematian. Tetapi, dunia baru ini mempermainkannya.

Neeshma dibangkitkan kembali, dipaksa bertempur sekali lagi. Sesuatu yang mungkin saja dapat mengacaukan kebersambungan takdir seseorang dengan orang yang lain.

"Saya permisi, Nona Fraun. Semoga beruntung," pelayan bernama Vittoria mohon diri dengan sopan, walau Neeshma tidak mengacuhkannya sama sekali. Wanita itu menjadi butiran berbentuk angka-angka dan sekejap kemudian tertiup angin.

Sejak semula, Neeshma tidak pernah berencana memasuki benteng maupun menggambil obor. Kakinya yang senantiasa meninggalkan jejak basah malah melangkah menuju parit, yang airnya begitu keruh. Berencana untuk berdiam di sana saja sampai segala kekisruhan ini berakhir.

Ada banyak cara memperoleh kemenangan, pikir Neeshma. Aku hanya perlu bersabar.

Pelayan mengatakan, siapa pun yang bertahan hingga semua peserta terbunuh akan jadi pemenangnya. Daripada memasuki benteng dan menyia-nyiakan hidupnya serta mengotori jiwa, lebih baik Neeshma menunggu. Dia berharap sekali, agar tidak ada yang menyadari keberadaannya.

Neeshma pun menceburkan dirinya, sampai tinggal bagian dada ke atas saja yang tampak. Dan tatkala pandangannya jatuh pada ceruk-ceruk berisi obor yang menghiasi dinding benteng, seketika dia teringat sang Pengendali Api. Yang pernah jadi rekan satu regu bersamanya.

Ahran yang semula di mata Neeshma tak lebih dari manusia arogan dan egois, ternyata mau berkorban demi orang lain. Termasuk untuk melindungi Neeshma.

Tapi tak lama berselang, senyum tipis di wajah Neeshma pudar. Dia mengusir pemikiran naif tadi. Ini adalah sebuah turnamen. Realitanya, bila keadaan memaksa untuk bekerjasama, demi sebuah kemenangan maka jadilah. Selepas itu, semua akan berlomba-lomba saling melukai.

Neeshma mengalihkan pandangan. Ke tepi parit di seberang yang berupa tanah lapang. Selebihnya, dia tidak dapat menangkap apa-apa. Dan sejauh ini, belum ada tanda-tanda kedatangan ancaman.

Hanya saja, sedetik kemudian Neeshma sadar rasa syukurnya dipanjatkan terlalu awal.

Sosok-sosok gelap menyeruak dari kedalaman parit. Menimbulkan gelombang kecil yang menyentak kesadaran sang Pendeta Ombak. Neeshma menghitung cepat. Jumlah mereka lima, dan mengepung Neeshma dari segala arah.    Ukuran mereka sebesar dan setinggi rumah.

Makhluk-makhluk lumpur itu punya dua tangan besar. Sedang kaki mereka menyatu dengan permukaan parit. Kepala mereka bulat, tanpa wajah. Dengan sebentuk kristal ungu berpendar yang tertanam di bagian puncak kepala.

Golem! Neeshma menggeram. Sementara makhluk-makhluk lumpur itu mulai menyeret tubuh.

Kapok dengan kumpulan raksasa di Padang Shohr'n, sang Pendeta Ombak segera melakukan pengendalian air untuk menumpas makhluk-makhluk yang jadi penghalang. Air parit yang berwarna kecokelatan pun berpindah, dan kian meninggi mengikuti gerakan tangan Neeshma.

Gelombang setinggi puluhan meter menghiasi bagian terluar benteng Sammeriil. Ukuran yang cukup untuk meratakan sebuah desa. Dan sekejap kemudian pemandangan langka tersebut menghilang, begitu pula dengan kelima golem.

Untuk sesaat, Neeshma mengembuskan napas lega. Halangan pertama berhasil diatasi. Namun jatuh tarikan napas kelima, sang Pendeta Ombak menjerit. Kedua kakinya diseret ke dalam air. Menjauhi tepian parit. Dan di dalam air yang gelap, tangan-tangan yang keras menghajarnya tanpa ampun.

***

Dari udara, Wildan Hariz mengamati bangunan kelabu di bawahnya. Alva terbang hanya beberapa meter di dekat menara pengawas benteng. Waktu berlalu lama semenjak Caterina Demona kembali ke Despera, dan pemilik senyum dewa ini belum kunjung memasuki latar untuk ronde pertama Battle of Realms. Rasa penasaran justru memancingnya untuk mengamati benteng luar biasa mengagumkan ini lebih dulu.

"Waah, luas sekali! Siapa yang kira-kira membangun semua ini, ya? Yang Mulia Tamon Ruu? Atau Hewanurma? Ah! Andai Vajra, Bun dan Liona melihatnya!" Wildan tenggelam dalam rasa takjub, selagi elang emas Asia-nya sibuk membawa sang tuan mengelilingi benteng.

Seumur-umur, Wildan baru menemukan bangunan seluas ini. Terutama disebabkan lamanya tinggal di dalam hutan. Apalagi benteng untuk ronde kali ini memancarkan aura yang meningkatkan adrenalin. Dia terus membayangkan apa saja yang akan ditemuinya di dalam, selain lawan-lawannya tentu.

Sepertinya akan jadi petualangan seru, Wildan membatin. Sayang, dia tidak ditemani tim Lightbringer. Teman-temannya pasti akan bersemangat menyinari bangunan di bawah.

"Apa itu, ya? Aneh." Seketika tertarik oleh fenomena tidak biasa, Wildan memerintahkan Alva untuk menukik turun ke sumber perhatian.

Dilihatnya air parit berpusar ke atas, dengan seorang gadis berambut biru di tengahnya. Karena pusaran itu semakin meninggi dan besar, parit kian mendangkal. Mempertontonkan beragam penghuni bawah air. Ada duyung-duyung berwajah jelek, golem lumpur, dan lainnya yang Wildan bingung menyebutnya apa.

Wildan memutar mata, mencoba mengingat siapakah si gadis pengendali air. Ada empat orang perempuan yang jadi lawannya, kalau tidak salah. Dan ada dua yang sama-sama rambutnya biru.

Nely si Penembak ... F tukang tiru, lalu Steele yang pegulat. Ranah? Haran? Eeh, Ahran! Dia 'kan laki-laki! Ah, Neeshma! Namanya Neeshma!

Tetapi mencoba mengingat-ingat informasi kecil itu malah membuat Wildan oleng. Alva sontak terbang menjauh, sebab Neeshma menaikkan pusaran airnya terlalu tinggi.

Dan saat itulah si pengendali air menyadari keberadaan Wildan. Mata birunya melebar sedikit, namun dia segera berpaling lagi. Sepertinya Neeshma hanya ingin berkonsentrasi untuk menumpas monster-monster di parit.

Kedua tangan Neeshma berayun, air mukanya sekeras batu. Begitu tubuhnya seimbang di atas elangnya, Wildan langsung terkesima ketika mengetahui apa yang dapat dilakukan si pengendali air.

Air keruh dalam volume yang besar melayang ke atas, terkumpul dari berbagai penjuru benteng, lalu membentuk diri menjadi bola-bola air raksasa. Memerangkap banyak sekali makhluk-makhluk aneh. Neeshma pun membuang kumpulan bola air sebesar rumah tingkat itu jauh-jauh, semudah melempar kelereng saja.

Sebagai gantinya, parit mengering. Yang tersisa hanyalah pusaran air yang mengelilingi Neeshma, dan genangan setinggi kurang dari setengah meter. Makhluk-makhluk yang tinggal di parit menggelepar, kekurangan air. Dan akhirnya, mereka mengerut. Mati. Sementara Neeshma menggerakkan air untuk menepi.

Wildan ikut turun, lantas dia mengarahkan batu hijau di tangannya. Batu itu kemudian mengisap Alva ke dalamnya. Sang Senyum Dewa telah menemukan lawan pertama. Pengendali air yang menarik perhatiannya. Walau elemen Wildan merupakan kelemahan musuh, dia tidak boleh memandang sebelah mata.

"Hei, kau itu Manusia, 'kan?" tanya Wildan sebelum memulai perlawanan.

Neeshma berbalik. "Bukan," jawabnya. "Dan tolong jangan mengangguku. Aku tidak ingin berkelahi denganmu," imbuhnya datar.

"Apa?" Wildan mengerutkan alisnya. "Jadi rupanya kau berani meremehkan aku?"

Si pengendali air balas menatapnya malas. "Tidak, Nak. Aku hanya—"

Kalimat Neeshma tidak selesai. Emosi Wildan tersulut. Dia paling benci diremehkan, ditambah sebutan yang disematkan kepadanya.

Dikendalikan insting, dia segera memutar-mutar kedua sabitnya yang disatukan di udara. Kaki dan tangannya telah dibubuhi Halilintar Pendorong, memastikan dia sudah akan menebas si gadis air yang sok tua itu sebelum dia mundur selangkah pun.

"Heyaaaah!!" Wildan mengayunkan senjata secara membabi-buta. Secara vertikal, mendatar serta menyilang. Dan sebanyak itu pula Neeshma menghindar.

Gadis itu terus menyeret langkah ke belakang. Tersengal-sengal, tidak cukup untuk menyelamatkannya dari luka-luka sayat. Akan tetapi Wildan tak hentinya menggeram, sebab belum kunjung memberi kerusakan yang berarti.

Wildan baru ingin mengeluarkan Gelombang Kejut. Namun Neeshma, memanfaatkan jeda waktu, dengan cepat menggerakkan air yang ada di sekeliling kakinya, untuk menciptakan sebentuk dinding.

Mendapati hal tersebut, Wildan melompat mundur. Tak ingin mengambil risiko tubuhnya yang setengah telanjang masuk ke dalam kungkungan air yang dingin. Atau terjebak gelembung sihir. Selain itu, luka-luka yang tertoreh pada tubuh Neeshma berangsur pulih.

Dan yang lebih mengherankan lagi, sabit Wildan mengalami perubahan. Bilah yang semestinya berwarna putih aksen kuning, memerah dan tumpul. Pun terdengar desis halus dari sana.

"Sialan, kau membuat senjataku karatan!" Wildan menggeram dari balik deret giginya, baru teringat akan kemampuan rusting aura milik Neeshma.

Tidak ingin senjatanya rusak lebih parah, Wildan menggantungkan kembali kedua sabitnya di punggung. Tapi saat itu juga, tembakan air mendorong tubuhnya, hingga membentur dinding benteng.

Wildan merintih. Sesuatu yang hangat membasahi kepala belakang dan hidungnya. Sang Pejuang Kilat Florian tidak menduga serangan barusan sama sekali.

"Maafkan aku," Neeshma memandang tajam, seiring air yang masih membasahi tubuh Wildan bergulir ke arah kepala dan membentuk selubung lingkaran. "Tapi aku benar-benar tidak ingin ada pertentangan. Tidak denganmu, maupun yang lainnya."

Air bercampur darah menutupi kepala Wildan dengan sempurna. Neeshma hendak membuatnya menghirup air, dan mati. Ini tidak boleh dibiarkan!

Namun, tiada yang dapat dilakukannya sekarang. Ingin sekali dia melancarkan kemampuannya, akan tetapi air yang menutupi kepalanya terlalu keruh. Sehingga dia tidak dapat memperkirakan di mana musuhnya berada. Jadi dia menjulurkan tangan kirinya ke depan. Yang mungkin merupakan tali nyawanya.
           
***

Batin sang Pendeta Ombak sebetulnya amat terluka menyaksikan penderitaan lawannya. Dia hanya ingin menghilangkan kesadaran Wildan. Tapi agaknya Neeshma berlebihan dengan menabrakkan anak hutan itu ke dinding benteng. Ngilu akibat mendengar kertakan masih menjalari tulang-tulang Neeshma.

Namun demikian, benturan tadi rupanya belum cukup. Jadi Neeshma putuskan untuk sekali lagi melakukan cara yang tidak etis. Dia berjanji, jika ujian menunjukkan rambu-rambu mendekati akhir, Wildan akan disembuhkan.

Neeshma berbalik, hendak menuju ke dalam benteng. Terlalu berpusar dalam kekhawatiran, sampai dia tidak menyadari sesuatu berkelebat di belakangnya.

Sewaktu bahaya itu berjarak kurang dari lima meter, Neeshma baru menengok. Sebentuk mulut penuh taring sontak menyambut dirinya. Itulah satu dari dua peliharaan Wildan Hariz, seekor harimau putih bernama Mao.

Tak tanggung-tanggung, Mao menerkam Neeshma sebelum sempat menciptakan pertahanan. Kaki depan hewan itu menindih kedua tangannya, dengan mudah. Sementara rahangnya bersiap mengoyak mangsa.

Tapi pada dasarnya, kemampuan fisik Neeshma relatif lemah. Tak ada yang dapat dilakukannya ketika taring panjang Mao mulai mengerip tubuhnya. Secara brutal, harimau itu merobek dada Neeshma. Kulit sang Pendeta Ombak bertebaran di mana-mana. Sedang darahnya tumpah ruah di pelataran benteng Sammeriil.

Namun dalam keadaan seperti itu, Neeshma tak serta-merta menyerah. Menahan sakit tak berperi dan kengeriannya sendiri atas situasi ini, dia pertahankan akal sehatnya mati-matian. Masih ada plasma beam. Pintu keluar masalah takkan pernah tutup. Dewi Bakhara hanya sedang mengujinya.

Neeshma pun menggerakkan lengan bawahnya, yang bebas dari cengkeraman. Air di sekitarnya melayang, menuju ke kepala hewan pemburu itu. Sambil dia kerahkan pemfokusan cahaya. Akan tetapi tembakan energi takkan pernah terbentuk. Yang ada justru pekikan penuh derita dari pemimpin bangsa Maan, karena lengan Neeshma lebih dulu putus.

Dan seolah belum puas, Mao tidak berhenti sampai di sana. Tangan sang Pendeta Ombak yang lainnya turut raib. Menggunakan cakarnya, harimau bermata biru itu meremukkan lengan kiri mangsanya. Lagi, cakar yang sama menghantam tengkorak Neeshma.

Dewi Bakhara .... Hati Neeshma tak berhenti menyerukan nama sang Pencipta.

Namun jawaban dari permohonan paling dalam itu datang dalam wujud rasa sakit luar biasa. Sekali lagi, Mao menggigitnya. Kali ini si harimau merenggut kulit lehernya, lantas mengunyahnya dengan penuh sukacita.

Jiwa Neeshma perlahan keluar dari sela-sela wajahnya. Darah dalam tubuhnya sudah semakin menipis. Menjelang akhir hidupnya yang tak bisa ditawar-tawar lagi, dia memohon agar dapat dihidupkan kembali. Dan bila itu terjadi, dia tidak ingin mati untuk yang ketiga kalinya.

Di sisi lainnya, selubung air yang mengelilingi Wildan sirna. Dia terbatuk-batuk dan melemah karena terlalu lama menahan napas. Akhirnya, dia berbaring di atas tanah berlumpur. Kepalanya menoleh, lalu dia langsung tak memercayai penglihatannya. Dikejapkannya mata, memastikan kebenaran.

Faktanya tidak berubah. Neeshma Fraun gugur, dengan cara yang amat mengenaskan.

***

Sejauh ini, Ahran belum merasakan sinyal Effeth akan menikamnya dari belakang. Kini dia dan si Peniru sudah tiba di lantai teratas. Dari awal, gadis berambut merah itu selalu meminta penerangan lebih. Katanya untuk mengantisipasi serangan si Penembak Jitu, Sanelia. Atau Effeth memanggilnya dengan Nely.

"Mana yang namanya Nely itu, ya? Kamu penasaran sama dia juga, kan~?" Effeth angkat bicara, tetapi tidak ditujukan untuk Ahran. "Ya, tentu. Kita selalu ingin lihat teman sebaya."

Sang alkemis kali ini tidak terkejut lagi. Tak seheran pertama mendapati kesintingan sejenis. Peristiwa itu terus terulang sepanjang perjalanan.

"Tapi, aku tidak mau kita tertembak. Bahaya! Kita bisa—" Effeth tahu-tahu berbalik menghadap Ahran, lalu menatap ke depan lagi. "Bodoh banget, kamu! Biarpun kurang gaul, kakak itu lumayan pintar. Dia 'kan ilmuwan~!"

"Ah, benar juga."

Catat itu! Sejauh ini, berkat perangkap-perangkap yang bertebaran, Ahran telah meraih beberapa kesimpulan mengenai si Peniru: Effeth bisa melunak dan mengeraskan tubuh, mampu menambahkan anggota badan yang semestinya tidak dimiliki manusia, dan ... tampaknya dia amat menghindari ledakan.

Bila tidak, buat apa Effeth meminta sumbangsih dari Ahran dan begitu khawatir akan senapan? Sementara jika diingat-ingat, Ra'ash yang merupakan senjata paling diberkati saja tidak dapat menorehkan barang satu gores pun.

Akan tetapi tetap, pemikiran Ahran belum tentu tepat. Bisa jadi Effeth sengaja bicara demikian untuk membuatnya merasa di atas angin.

"Hati-hati~" Effeth tersenyum pada Ahran. "Oh, ya, tolong terangi ruangan ini ya~!"

Seperti yang berlalu, Ahran mengabulkan keinginan gadis berambut merah itu. Enam bola api sihir tercipta, semuanya mengarah pada lampu-lampu gantung raksasa yang terdekat. Menghamparkan pemandangan sebuah ruangan luas. Jauh lebih besar daripada tempat Irini mengajarkan pada Ahran sihir baru.

Tidak ada orang. Atau setidaknya dibuat terkesan demikian. Satu-satunya yang Ahran risaukan hanyalah sesuatu yang bergelayut di tengah ruangan. Bentuknya menyerupai ujung kapak, dan jumlahnya kira-kira setengah lusin. Seluruhnya dipasang sejajar.

Pendulum, pikir Ahran. Jebakan populer di kastel-kastel Eropa, di samping labirin.

Untuk sampai ke bagian benteng lainnya, tidak ada cara lain kecuali melangkah pada jalan batu di bawah rangkaian perangkap. Sedangkan kanan-kiri jalan itu, yaitu kegelapan yang seolah tiada dasarnya.

"Kita sih bisa terbang," Effeth memperburuk suasana. "Kak Ahran, maaf ya. Kakak harus berjuang sendiri. Tapi, kita menunggu di seberang, lho~"

Belum sempat Ahran menanggapi, sepasang sayap kelelawar mencuat di punggung gadis yang sakit mental itu. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, dia mengepakkan anggota badan barunya dan meninggalkan Ahran seorang diri.

Ahran mendengus. Tidak terlalu buruk. Asalkan senantiasa bersiaga dan jangan menoleh ke mana-mana. Bila ada musuh yang mengambil keuntungan? Itu baru lain persoalan.

Hal tersebut memang tidak menutup kemungkinan untuk terjadi, namun Ahran putuskan untuk menyingkirkan jauh-jauh kekhawatirannya. Dia begitu yakin, kematian takkan menjemputnya hari ini. Jika jatuh saatnya Ahran harus dikirim ke neraka, itu hanya bersama Rüstem bin Kutbeddin.

Sambil membangun kepercayaan diri, Ahran mulai menapak. Tasnya diseimbangkan sedemikian rupa agar tidak menghambatnya. Jalan sempit itu selebar satu jengkal, tapi itu sudah lebih dari sempurna. Beberapa depa pertama di jembatan, belum tersentuh oleh ayunan pendulum.

Setelah berancang-ancang, Ahran bergegas melewati dua ayunan pertama, yang bergerak amat lamban dan berlawanan arah. Mudah. Pendulum urutan ganjil memiliki jurusan yang sama. Begitu pula kesamaan dari urutan genap antara satu dengan yang lain.

Sederet pendulum pasti berhasil terlampaui, kalau saja sesuatu tidak datang dari belakang. Suara itu membayanginya lagi. Kini kian menyiksa dan menghantui Ahran di saat yang sangat tidak diharapkan.

Secara insting, Ahran membalikkan badan. Nyaris terperanjat.

Bangsat, pikirnya.

Mengenali ciri fisik gangguan itu, Ahran tersenyum getir. Seolah tak puas dengan kegelapan serta perangkap, benteng ini mempertontonkan berbagai halang rintang. Lagi dan lagi. Tidak hanya untuk menyiksa secara fisik, melainkan kejiwaan.

Karena suara-suara yang tak hentinya mengikuti, bonus itu lebih dulu tertebak.

Naftali, sosok yang menjadi bagian masa lalu Ahran. Penyihir berbakat dan disegani dari Persia, dieksekusi karena percobaan sihir terlarang. Pengendali udara merangkap pengendali orang mati yang Ahran panggang saat ritual pagi, berdiri di ujung lorong.

Bahkan bekas-bekas penderitaan itu masih menempel pada raganya. Dan ini bukan halusinasi belaka. Aroma hangus bercampur anyir yang menguar kuat membenarkan prasangka Ahran.

Wajah Naftali membengkak, dan dipenuhi lelehan dari kulitnya sendiri. Hal yang serupa terjadi pada seluruh tubuhnya. Tulang-tulang rusuknya tampak akibat kulit dadanya yang terbakar. Tangan kirinya yang tinggal tersisa jari telunjuk terarah tegas pada Ahran, sedang tangan lainnya berupa kerangka. Sekilas, orang yang pernah dijuluki sang Angin Gurun itu seperti manusia yang lolos dari gerbang neraka.

"Kamu anak sundal," Naftali berkata melalui lubang mulutnya yang kecil. Suaranya serak dan samar, seperti berteriak dari dalam kuburan. Hafal dengan hinaan yang merupakan fakta itu, Ahran langsung dapat mencerna.

Jangan panik, dia tak lebih dari mayat hidup, Ahran menggigit bibir bawahnya. Dalam keadaan begitu, Ra'ash bisa membunuhnya sekali tebas.

Tetapi ketimbang kembali ke belakang untuk mengakhiri muslihat kurang ampuh itu, Ahran memilih untuk meneruskan melewati empat pendulum yang menunggu. Satu ayunan terlampaui. Menjelang pendulum keempat, malah ....

Desah bercampur derai tawa sampai ke telinga Ahran. Naftali mulai menapak jembatan, terseok-seok. Pada lantai bekas dia menjejak, sisa kulitnya menempel. Tiap menyeret sebelah kaki, napas beratnya menusuk-nusuk batin. Dua pendulum dilewatinya. Kemudian tangannya menunjuk lagi.

"Aku akan menghabisimu!" Kepala Ahran mendengungkan suara Naftali.

"Membunuhku? Memang kaubisa apa?" tantang Ahran, terselip sedikit tawa. Setengah tak sadar akan kegilaannya menanggapi sosok yang dia sendiri sadar tidak nyata.

Naftali tidak menggubrisnya. Aura keberadaannya spontan lenyap.

Ahran tidak cukup bodoh untuk menanti hantu itu keluar lagi. Pendulum keempat dan kelima berada di ayunan terjauh, dia lewati kedua-duanya sekaligus. Tinggal satu halangan dan Naftali-Versi-Alforea itu akan dibabat hingga sehancur-hancurnya.

Tapi, tubuh Naftali bergantung kaku di pendulum keenam. Kepala belakangnya tertembus ujung salah satu logam bergerak. Dadanya yang berongga mengucurkan darah kehitaman. Bibir yang harusnya menyatu karena lelehan akhirnya membuka dengan leluasa.

 Naftali melambai. "Enyahlah ke neraka!"

Malang bagi Ahran. Lonjakan ketakutan menyebabkannya terjun bebas ke sisi jembatan.

***

Tidak sabar lagi menunggu, F meninggalkan 'partner' kerjasamanya. Sedari lama Ahran berdiri mematung di antara pendulum kelima dan terakhir. Membuat F berang luar biasa dan walau masih dibayangi keraguan, akhirnya dia melangkah menjauhi ruang pendulum.

"Sudah kubilang, ide kerjasama ini buruk, apalagi dengan dia," celetuk sisi diri F yang polos. "Tinggalkan saja pria stres itu. Dia 'kan tidak setangguh kita~"

F yang dewasa menimpali, "Aku tahu, tapi kita membutuhkannya demi melawan Nely. Selama ada apinya, kita tidak perlu khawatir soal Gauss Rifle dan kemungkinan kegelapan mendadak."

"Siapa tahu Nely sudah mati~"

"Itu mustahil. Mengingat kemampuannya mengendap, cuman kita yang bisa membereskannya."

F menggeleng, sambil cemberut. "Ah, tidak juga, siapa tahu Wildan atau Neeshma menghabisinya~"

"Tidak usah terlalu terburu-buru," dengus F kalem. "Setibanya kita di ruang utama, semua akan terungkap. Jika hanya tersisa kita dan alkemis itu, langsung bunuh saja dia," tambahnya disertai seringai keji.

Bibir F mengguratkan sebentuk senyuman. "Betul. Lagipula, tidak seru kalau tidak ada klimaksnya. Harus ada pertarungan di ruang utama, walau lawannya tidak seberapa~"

Gadis berambut merah itu tertawa sendiri.

"Eeh, tapinya, Ahran bisa meledakkan benteng ini kalau dia mau. Radius ledakan alkimianya lumayan jauh. Kita tetap harus hati-hati~"

F menggelengkan kepalanya lagi, menyangkal. "Kita pernah berdiam di mulut Tamon Rah dan mengurung energi panas sedemikian besar," dia berargumen, menentang sisi dirinya yang lain. "Itu lebih dari cukup jikalau kemungkinan peledakan itu terjadi. Dan memangnya, apa sih yang bisa diperbuat alkimia?"

"Benar, ya. Berarti kita berhenti dulu di sini," F manggut-manggut. "Oh tunggu, memangnya kamu tidak takut kontestan lain apa~?"

"Tidak, sih," tandas F. "Selain Nely, bagiku sisanya cuman cecunguk saja."

"Siapa yang kamu sebut cecunguk?" Sebuah suara tegas merambati keheningan.

F berbalik, kaget campur merendahkan. Dengan sangat berani, sang pegulat pro dari bumi menunjukkan keberadaannya.

Satu tikus datang untuk mati. F kian bergairah. Dia begitu merindukan masa-masa pembasmian makhluk ganas di Farscorch. Kedua tangannya mulai bergetar, menginginkan tumpah darah. Maka dia takkan membiarkan Steele tewas dalam damai. F akan sangat menikmati tiap penyiksaan terhadap wanita sok jagoan itu.

"Kamu salah memilih lawan, dasar lemah!" F mengubah tangannya menjadi cakar tajam. Tiap jarinya menyerupai belati sekeras berlian. Percaya diri, dia mengayunkan cakarnya secara vertikal, dari atas ke bawah.

Steele melepas obornya dan melompat mundur. F tidak memberinya jeda. Tangan satunya terjulur lurus, menjadikan perut sang pengulat sebagai targetnya. Demi membuka jalan keluarnya asam lambung. Tapi lagi-lagi wanita bertopeng itu berkelit. Dan pada momentum tangan F masih terulur ke depan itulah, Steele bertindak lebih dini.

Lengan F ditangkapnya. Steele lalu membanting tubuh F ke dinding. Selagi korbannya terkapar, dengan otak masih terguncang hebat, kedua tangan Steele yang terlatih beraksi lagi. Wajah F dipaksa menumbuk dinding berkali-kali.

Darah mengalir dari lubang-lubang pada wajah F. Jika begini terus, kesadarannya cepat atau lambat akan sirna juga. Dia bahkan masih dalam keadaan tubuh default tatkala otaknya dilumpuhkan.

"Siapa yang cecunguk sekarang?" sindir Steele, lantas menambah kekuatan hantaman. F betul-betul tidak berkutik.

"Cewek badak ini ... kita jangan mau kalah darinya~!" F menghimpun segenap kekuatan. Kalau bukan karena keteguhan pribadinya, seluruh tubuhnya pasti telah mengalami disfungsi. "Bangun, Sayang! Masa' kita kalah dari manusia biasa~?"

"Aku memang takkan pernah membiarkannya!"

Meski amat sulit, F coba berkonsentrasi. Dari tulang pipinya, sepasang tanduk mencuat keluar. Merobek telapak tangan kanan Steele dan memutus beberapa utas pembuluh.

Otomatis, sang pegulat melepaskan cengkeramannya. Dia mendesis pelan. F dapat merasa wanita itu tengah mati-matian menahan rintih kesakitan di balik topeng. Darah segar menetes-netes di lantai.

"Kamu pikir semua sudah berakhir dan kamu menang?" F yang terbaring di lantai benteng masih sempat-sempatnya menaikkan tensi. "Jangan mimpi!"

Kaki kiri F ditujukan ke arah Steele. Sepatu boots-nya melebur, dan mewujud kembali dalam rupa sebilah pedang tipis. Panjangnya sekitar satu meter lebih. Sekali ayunan mendatar, kaki F berhasil menyayat kedua paha Steele. Dan pegulat itu kelihatannya sama sekali tak mengantisipasinya.

Wanita bertubuh atletis itu kehilangan keseimbangan, namun hanya hampir jatuh. Sayang sekali. Daya tahan luar biasa tidak mengizinkannya roboh dengan mudah. Bahkan dalam beberapa detik saja, dia seolah sudah pulih. Walau darah berlinang di tungkai kaki. F mencerca nasibnya dalam hati kala sadar Steele berniat melumatnya lagi.

F mengibas-ngibaskan kakinya yang tajam, memastikan Steele tidak merangsek maju. Tapi gertakan itu tidak ada artinya. Akibat cedera otak yang mulai tak dapat ditolerir, tubuhnya tidak memadat, melainkan menjadi lunak. Kakinya kembali ke status normal. Sepotong dengus bahagia berembus.

Lekas mengecap musuh tak lagi berdaya, Steele menerjang. Hawa kematian menguar, membayangi benak F, dan sekali lagi dia mengelik dari maut. Tubuh sang pegulat mendarat di lantai pejal berdebu, alih-alih badan F yang tengah mengalami malfungsi. Gerakan berguling yang dilakukannya tadi patut disyukuri.

"Segini saja kamu kalah, Bocah?" ejek Steele. "Kukira aku akan menemukan lawan yang selevel."

F samar-samar saja mendengar hinaan itu. Pendengarannya telah dikorbankan demi penglihatan yang lebih baik. Setengah mati dia merangkak, dipandu oleh insting bertahan hidup.

Rencananya adalah melaju sekuat mungkin hingga tiba di tempat rangkaian pendulum, terbang, dan beristirahat di perapian terakhir. Bila keadaannya menguntungkan, F bersumpah akan membuat Steele membayar tiap detail perbuatannya. Membalas rasa sakit yang diterimanya dengan berlipat ganda.

Siasat F tak berjalan mulus. Steele menarik kakinya, lalu memutar-mutar tubuh F di udara. Dirasa cukup, Steele mengempaskan F. Gadis itu tergelincir belasan meter jauhnya. Sedikit lagi, F terperosok ke dalam jurang di sisi kanan jembatan pendulum.

Bayangan badan sang pegulat pro yang menjulang, bagaikan hantu di mata F. Ingin sekali dia melawan atau mengubah kepadatan raga, namun otaknya seperti tidak tersambung dengan kanan dan kaki. Seluruh tubuhnya nyeri dan dia nyaris tak dapat melakukan apa pun.

"Lucu sekali kalau kita kalah, kan~?" Persona F yang polos mengingatkan, teramat sangat panik. "Bila kita dimusnahkan pun, bukan peserta Turnamen Semesta ini yang berhak melakukannya. Jadi kumohon, bertahanlah~!"

Terlambat. Sang dewa kematian tak memberi F pengampunan. Lehernya diangkat oleh satu tangan sekuat baja.

"Mungkin ini memang akhir dari kita," F dewasa menyimpulkan. "Tapi perlu kamu ketahui, Sayang. Hatiku barangkali memang membeku. Dan aku telah masuk dalam kegelapan karena penderitaan kita—"

F yang lain membantah. "Jangan bicara sok melodramatis~!" raungnya. "Kita tidak hendak mati! Ki-kita ... akan bertahan. Aku akan membantumu. Kamu mengerti~?"

Saat ini F hanya bergantung pada sebelah lengan Steele yang waras. Tubuhnya diangkat tinggi-tinggi. Dan di bawah kakinya, kegelapan yang mencekam bersiap menjamu.

"Bangkitlah! Kamu pernah memusnahkan satu per tiga orang-orang Alterra. Juga monster Farscorch. Itu jutaan jumlahnya. Sekarang, jangan kalah oleh satu manusia biasa~!"

Bibir F bergerak. "Be-benar," jawabnya lirih, "tapi tetap saja keadaan kita tidak dapat diharapkan lagi."

F lantas menggenggam pergelangan tangan Steele. Sang pegulat tertegun sesaat, untuk selanjutnya melepaskan cengkeramannya. Menghendaki F terjun ke bawah.

Jemari F meruncing seluruhnya, dia tekankan ujung-ujungnya ke dalam daging tangan Steele. Wanita itu menggeram tertahan. Dengan tangan satunya yang berlubang di telapak, dia meninju telinga kanan F.

Pendengaran dan penglihatan F memudar. Sebentar lagi hidupnya berakhir, dia paham. Karena itulah dia takkan menyerah begitu saja. Steele setidaknya harus turut masuk ke dalam neraka. F masih tidak sudi nyawanya akan tercerabut, di tangan orang yang menurutnya lemah.

Kepalan tangan kanan Steele kian lama semakin bertenaga. Untuk kali terakhir, F mengorbankan tinggi tubuhnya demi memanjangkan rambut merahnya. Rambut F kemudian bergerak melingkari leher Steele, menjeratnya, lalu dia hunjamkan pangkal kesepuluh jarinya dalam-dalam. Pergelangan tangan kiri Steele koyak, dan urat nadinya putus.

Steele mengerang keras, hingga lorong bergema. Fokusnya pecah. Keseimbangannya terganggu dan dilepasnya tangan kanannya. Akhirnya, F meluncur ke sisi kanan jembatan berpendulum. Namun rambut merahnya yang mengikat leher sang pegulat membuatnya tidak sendirian.

"B-berengsek!" tuding Steele, terengah-engah. "Kamu makhluk bajingan!"

Ucapan tadi tidak ada artinya. F pingsan. Ikatan di leher Steele melonggar, namun percuma.

Di satu sisi, Steele tak dapat memperkirakan lanjutan kisah hidupnya. Keadaan genting ini mengacaukan pikirannya. Kini batinnya mulai dipenuhi berbagai gambaran. Tentang kariernya. Tentang harapan-harapannya. Dan tentang masa depan putri kecilnya, anak satu-satunya yang begitu merana.

Apa yang akan terjadi pada putrinya, andai dia tahu orang yang telah melahirkannya tiada? Bahkan jasadnya tidak diketemukan?

Terdengar suara berderak yang menakutkan, melunturkan imajinasi Steele. Tak lama berlalu, seberkas cahaya menerangi jurang. Steele terperangah ngeri. Di bawahnya, sula-sula tajam mencuat dari tubuh F yang lebih dulu tewas. Sinar putih ganjil tadi berasal dari energi kehidupan sang Peniru yang meninggalkan jasad. Kedua mata hijau F membelalak, menyiratkan kepedihan tatkala Tuhan merenggut hidupnya.

Tuhan, satu kata yang Steele nyaris singkirkan dari benaknya. Bertahun-tahun berkembang dalam kerasnya ring gulat-lah yang menjadi alasannya. Dan sekarang, dalam detik-detik yang berjalan dengan lamban, akhirnya dia memanjatkan permintaan.

Kemungkinan menyambung nyawa memang kecil, tapi apa salahnya? Tuhan selalu identik dengan mukjizat. Dan, bukankah Tuhan juga mengampuni siapa saja yang meyakini-Nya, walau berlumur kesalahan?

Steele setengah tidak yakin akan permohonannya. Dan tak ayal, runcing sula meluruhkan pertahanannya. Kaki Steele lebih dulu tertusuk, disusul seluruh tubuh perkasanya yang pernah begitu dibanggakan. Daya tahan abnormal sekalipun tidak mampu menangguhkan akhir hayatnya. Sang juara IFWL mengembuskan napas. Bersama luapan darah, energi kehidupannya melesak keluar.

***

Ahran tersentak. Yang baru saja berlangsung bagaikan mimpi yang terlampau nyata. Puluhan sula merobek daging dan menguras habis darahnya. Menghancurkan tengkoraknya. Dia juga ingat kedua matanya yang lebih dahulu tertikam. Keringat dingin membasahi kemeja Ahran.

Naftali!

Ahran menyapu pandangan. Hantu itu tiada. Pun dengan pendulum dan Effeth si Peniru. Dia kini berada di ruangan bermandikan cahaya. Mengelilinginya yaitu pancang-pancang pendek berjumlah enam. Satu-satunya bonfire yang dinyalakannya sepanjang jalan. Pembangkitan kembali yang dikatakan Ayşe rupanya bukan kiasan semata. Dan rasanya sangat tidak menyenangkan.

"Effeth, apa kau di depan?" seru Ahran. Dia ingat bonfire Effeth berjarak sekurang-kurangnya lima belas depa dari posisinya.

Tidak ada jawaban.

Mungkin si Peniru bosan bekerjasama, jadi dia memutuskan berjalan soliter. Ahran setengah rela dan mengharap kehadiran gadis itu. Pasalnya Naftali hanya mengusik Ahran saat sendirian.

Ahran mengibaskan debu yang menempel pada rompinya. Dan sontak, sebuah kotak logam ukuran satu kali setengah depa menyembul dari lantai di sisi kiri. Dia berjongkok dan membukanya. Asap dingin keluar dari sana. Di dalam lemari penyimpanan itu, terdapat tabung-tabung aneh yang terbuat dari timah tipis.

Alkimia Pembeku? Ahran bertanya-tanya seraya membolak-balik satu benda keras berwarna merah itu. Ada beragam tulisan warna putih yang tertera. Alfabetnya menyerupai Latin, namun bahasa yang digunakan sama sekali bukan Latin.

Suara seorang gadis menimpal, "Jangan norak deh. Itu 'kan cuman soda."

Ahran menoleh, sesaat mengira itu Effeth. Tapi bukan. Yang datang justru gadis berumur sebaya dengan si Peniru. Rambutnya biru tua, dengan sepasang mata hijau cemerlang. Sepucuk senapan terjinjing pada bahunya yang ramping.

"Sanelia Nur Fiani," sebut Ahran acuh tak acuh.

"Nely saja," ralat gadis itu. "Omong-omong, boleh aku minta minuman dari kulkas itu? Lama berlarian membuatku haus. WJK di bonfire-ku sudah habis," imbuh Nely, matanya memelas.

"Oh, jadi ini minuman?" Ahran mengangkat kedua alisnya. "Yah, silakan saja, ambillah!" Dia lemparkan benda dingin di tangannya pada si gadis rambut biru.

Nely menangkapnya penuh semangat. Tanpa pikir panjang, dia tarik logam kecil pada pangkalnya. Bersiap menenggak isinya. Namun apa yang terjadi? Kaleng meledak tepat di depan wajah Nely. Cairan di dalamnya bertaburan keluar sementara lempengan logam merobek bibir dan pipi gadis itu.

"Oh, astaga ...." Ahran bergegas keluar dari bonfire, takut-takut akan terjadi ledakan susulan dari dalam lemari dingin. Akan tetapi dugaannya tak kunjung terbukti.

Ahran tak membuang-buang kesempatan emas ini. Dia hendak mendapatkan semua keuntungan yang bisa dia ambil. Selagi Nely pingsan, senjata laras panjang milik gadis itu pun direnggutnya. Ibunya pernah memperkenalkan senapan angin pada Ahran. Jadi barangkali dia takkan terlalu kikuk dengan mekanisme senjata Nely.

Sebelas langkah ditempuh Ahran, ketika tiba-tiba suara Nely membahana. "Kembalikan Gauss Rifle-ku!"

Ahran tidak menghiraukan. Sebagai respons, dia justru merapal mantra api dan membayangkan seekor capung, yang selanjutnya hinggap di bahu. Lalu berlari.

Tiga cabang jalan mengadang, dan diambilnya yang tengah. Ahran paham, anak perempuan itu sekalipun tidak boleh diremehkan. Terutama dia memiliki semacam aura regenerasi dan sihir elemen petir. Kalau bisa bersembunyi sampai semua lawannya tewas, kenapa harus membuang tenaga?

Titik cahaya hadir di tengah kesuraman. Ahran langsung menuju ke sana. Sesampainya ke sumber perhatian, lagi-lagi dia menemui bonfire menyala beserta lemari penyimpanan dan juga Nely yang menatap nyalang. Wajah gadis itu telah kembali ke keadaan sedia kala.

"Kubilang kembalikan," tegasnya. "Ignis et iras!"

Pengalamannya bersama ilmuwan Barat, membuat Ahran sedikitnya paham arti mantra bahasa Latin itu. Dan kenapa pula sistem canggih Alforea masih menyisakan bahasa yang tetap tidak diterjemah?

Dilanda perasaan terancam, Ahran mengelak dari bongkahan api yang melenting ke arahnya. Dia menunduk begitu sihir Nely nyaris menyambar rambut hitamnya. Bola api yang ditembakkan serampangan melesat cepat ke arah koridor di belakang. Sesampai jarak tertentu, terjadi ledakan yang memekakkan gendang telinga.

"Jadi kau juga penyihir api?" Tanpa benar-benar disadari, Ahran bertanya.

"Itu kenaikan tingkatku! Sekarang kembalikan—"

Ahran menodongkan senjata bernama Gauss Rifle ke dahi Nely. Tangannya siaga menarik pelatuk. Akan tetapi gadis itu tidak bergeming.

"Heh, bodoh," dengusnya sembari menyusupkan serentet tawa ringan. "Senapan itu 'kan perlu amunisi! Hanya aku yang mampu menggunakannya!"

"Aku juga bisa melelehkan senjata ini di depan wajahmu, lalu mencucukkannya ke matamu, Nona," tukas Ahran. Seringainya merekah.

Nely mendelik. "Jangan sampai—"

Bibir Nely siap mencerca dan Ahran menyiapkan posisi menyerang dengan Ra'ash, namun mereka terhenti. Seseorang, atau sesuatu, berderak-derak dari arah lorong yang barusan berhasil Nely ledakkan.

"A-apaan itu?" pekik Nely seraya menunjuk ke belakang Ahran.

Entah apa yang gadis itu maksud. Tetapi dari raut wajahnya, Ahran sudah dapat menaksir bayangan kasar mengenai musuh baru. "Sebaiknya kita lari," ujarnya, tidak ingin menoleh ke sumber kekacauan. Agaknya terlalu trauma dengan kehadiran Naftali.

Nely mengangguk. Dipacu satu tujuan, Ahran dan gadis itu menghambur ke arah yang sama. Mereka berpapasan dengan tiga cabang jalan yang Ahran amat familier.

"Tengah!" seru Nely.

"Kiri! Ke tengah akan membuat kita kembali ke belakang!" balas Ahran.

"Sok tahu!"

"Terserah kalau kaumau mati, Bocah!" Ahran bergegas ke jalan kiri. Tampak percaya, Nely mengekornya.

Sekerjapan berikutnya, suara geraman makhluk buas memenuhi koridor benteng. Banyak sekali, sepertinya ancaman yang berdatangan lebih dari sepuluh. Lantai batu bergetar, dan dari sudut matanya Ahran menangkap kelebatan serangan. Dia melompat ke samping, demikian pula dengan Nely.

Desis halus menguar di antara hingar bingar. Ahran menoleh sedikit. Pengejar mereka memburakan darah, namun bersifat asam. Lantai batu sampai berasap dibuatnya.

"Kembalikan senjataku! Aku bisa menyerang mereka!" pinta Nely.

Ahran sangat ingin mengabulkannya. Tetapi dia ingat peraturan turnamen ini. Mati di tangan monster, peserta akan kembali ke bonfire. Tidak dengan jikalau kepalanya meletus akibat senapan.

Sambil menyumpah-serapah, akhirnya Ahran yang bertindak. Dia membalikkan badan, bibirnya merapalkan sihir api tingkat menengah. Diagram berpendar kemerahan terbentuk di bawah kaki.

Monster yang dihadapinya tidak terlalu sigap. Hanya saja, rupanya begitu janggal sehingga Ahran lupa dia masih bernyawa, atau sudah di alam lain.

Sekilas, bentuknya menyerupai lipan. Akan tetapi begitu ditilik lebih saksama, nyatanya itu adalah bagian torso banyak manusia yang disambungkan. Dengan menyisakan sepasang tangan yang tetap utuh. Di bagian puncaknya, tumbuh kepala asing tanpa mata dan hidung. Hanya mulut bulat penuh taring yang menyemburkan zat asam. Kabar buruk lagi, yang seperti ini tak terhitung jumlahnya.

"L'havah charon!"

Dari sigil di bawah kaki, api menguap ke atas kepala Ahran. Api itu lalu membentuk bola, yang kemudian terempas ke depan. Api menghantam telak dua makhluk neraka di garis pertama. Tubuh mereka yang penuh darah terbakar hebat, sayang tidak menghentikan lajunya. Iblis itu tetap menyerang. Darah asam bertaburan.

Jika api tidak mempan, Ahran mengeratkan pegangan Ra'ash, barangkali jebakan benteng ini sendiri mampu melumpuhkannya.

Nely telah menempuh jarak yang jauh. Ahran mempercepat langkahnya untuk menyusul. Berkat capung di bahu yang sekarang berubah jadi kupu-kupu, dia dapat beradaptasi dalam kegelapan panjang. Tak lama, gadis itu ditemukannya.

Terdengar bunyi kertakan. Jantung Ahran serasa menciut.

"Itu pemicu perangkap," ujar Nely dengan mata terbelalak, "dan aku menginjaknya."

Sesuatu melancar dari arah berlawanan datangnya monster. Desingannya begitu nyaring. Ahran yakin, itu merupakan tembakan puluhan panah. Bunyi tadi memandunya untuk mengelak tepat waktu. Namun nahas bagi Nely. Refleksnya yang buruk menyebabkannya tak luput dari panah. Lengan kanan dan satu matanya tertancap. Sebelah telinganya terlepas dari kepala.

Nely berteriak amat pilu. Ahran tak kuasa meninggalkannya sendiri. Sedang di belakang, para makhluk neraka tak terpengaruh sama sekali oleh terjangan panah.

Mencampakkan Gauss Rifle dan tasnya yang berisi lima belas tabung alkimia, dengan hati-hati Ahran segera membopong Nely. Dalam benaknya, bagaimana bila ibunya atau Mawar yang ada di posisi gadis ini?

"Ke-kenapa kamu tidak memberikan saja senjataku?" keluh Nely sambil menangis sejadi-jadinya. "Aku yakin bisa melumpuhkan mereka. D-dan kamu pun tidak harus menderita begini ...."

"Berisik, sudah terlanjur kubuang!" sembur Ahran. "Lagipula kalau kuserahkan, cepat atau lambat kau juga akan gunakan itu untuk menghancurkanku!"

"Kalau begitu kenapa kamu tidak membunuhku sekalian?"

"Anggap saja ini balas budi. Kau, tidak menembakku padahal kaupunya kesempatan—" Wajah Ahran makin pucat. Kakinya baru saja menginjak sembulan di lantai.

Tembok di sampingnya tiba-tiba terbobol. Sosok sesuatu berseliweran keluar dari lubang yang ada. Tidak, bukan satu. Melainkan begitu banyaknya. Kumpulan makhluk berbaju zirah, membawa beragam jenis senjata berlumur darah. Embus ganas dari celah helm menandakan mereka bukan manusia.

"Kenapa tidak ada habisnya?!" serunya penuh amarah dan putus asa. "L'havah!"

Sihir api saja tidak cukup, bahkan untuk menghalau. Penjaga benteng itu malah mulai menggempur. Di punggung Ahran, Nely merintih tertahan. Dan lagi, hujan asam melanda mereka. Tak berniat membiarkan seorang perempuan menderita lebih banyak, Ahran keluarkan sihir tertingginya, meski paham betul dampaknya.

"Chassah—"

"Ti-tidak usah, aku lihat satu bonfire di depan," Nely memberitahu. Napasnya putus-putus. "Siapa tahu kita bisa menggunakannya berdua. Se-sekarang ... lanjutkan .... Hanya ... AAAAARRRGH!!"

Pemberhentian singkat itu juga berarti berita buruk. Sebilah tombak menancap lengan Ahran. Dan cairan asam mengenai bahu serta dagu bagian kanan, berikut lengan Nely yang berpegangan.

Manusia-lipan terdekat tinggal beberapa depa jaraknya. Sementara Ahran masih bergumul dengan penderitaannya sendiri. Rasanya seperti dibakar hidup-hidup, dan wajahnya mulai rusak. Tidak heran hantu Naftali yang dipilih untuk tampil di tengah ujian. Mungkin inilah yang dirasakan  orang Persia itu pada detik-detik kematiannya.

Kalaupun dia kembali ke bonfire, halangan sejenis pasti menderanya lagi. Siklus derita akan terulang.

Mengabaikan rasa sakit tak berperi yang menjalari sekujur tubuh, Ahran menendang dan menanduk para kesatria jejadian untuk membuka jalan, sekaligus menghindari rajaman senjata. Dirasa cukup, sekuat kakinya dia melaju. Sejak semula dia selalu lari, dikejar dan sengsara. Tidak pernah sebaliknya.

Segitu lemahkah dirinya? Apakah selama ini keputusannya salah untuk balas dendam? Dengan kekuatan dan keberuntungan sekecil ini, di manakah wajahnya sehingga berani mengatakan akan membalas dunia?

Ratapan tiada gunanya. Ahran menciptakan sihir dasar yang membentuk burung elang. Api lekas terbang untuk menunjukkan letak bonfire. Beberapa depa lagi.

Satu. Dua. Lima depa. Ahran ternganga. Pancang pada bonfire yang telah lama jadi tujuan berjumlah lima, alih-alih enam. Jelas sekali, itu perangkap lain.

"Se-sedikit ... sedikit lagi!" Getaran pada suara Nely menyiratkan kegembiraan. Tangannya yang melepuh terjulur.

"Tidak! Itu jebakan!" Ahran mewanti, mencegah Nely untuk menekan tombol di pancang tengah. Namun gadis itu bersikeras.

"Le-lepaskan aku!" salak Nely, yang dibutakan oleh keadaan. "Aku tidak ingin ... se-seperti ini terus!"

Karena Ahran tidak menyetujui niatnya, Nely berusaha melakukan sendiri. Selagi melewati bonfire palsu, tangannya terulur. Ahran hampir hilang keseimbangan.

"JANGAN DITEKAN!!"

"Ki-kita sudah selamat!" Nely mengalirkan kekuatan listrik pada Ahran, menyengatnya. Nely membiarkan dirinya tersungkur. Dengan kedua tangannya, dia menekan tombol dan berteriak penuh kemenangan.

Prasangka Ahran menguat. Sesuatu bergemuruh dari langit-langit, dan bonfire tidak menyala sebagaimana mestinya. Kepanikan sontak menumpulkan prinsipnya. Nely, dalam kesenangan semu, ditinggalkannya. Ahran kembali melarikan diri.

Benar saja. Tidak usah melongok untuk tahu apa yang berlangsung di belakang. Terdengar debum keras, lalu seusainya ledakan beruntun yang teramat dahsyat. Kekuatan dentuman terakhir mementalkan Ahran. Bersama serpihan batu, tubuhnya terpelanting dan menubruk dinding. Kupu-kupu pada bahunya sirna, seiring kejatuhannya.

***

Suara keroncongan dan geram harimau menjadi satu-satunya penanda kehidupan di tengah kesenyapan. Dengan Mao sebagai tunggangan, Wildan Hariz menyusur kegelapan benteng Sammeriil yang seolah tiada pangkalnya.

"Kejam sekali," kesah Wildan frustasi, "mana bonfire pertamaku?"

Sebelah tangan Wildan memegang erat perutnya yang mengamuk. Tangan lainnya memaut obor. Matanya senantiasa awas demi memperoleh keinginannya. Atau minimal, kemunculan lawan untuk bertarung. Yah, walau keadaannya saat ini sudah lumayan mendesak. Setidaknya dia memerlukan sedikit hiburan.

Mendadak, suara tapak kaki menarik perhatian Wildan. Namun diselingi pula oleh suara-suara cabikan dan decit logam.

"Mao, kaudengar itu? Sebaiknya kita ikuti," suruh Wildan seraya mengelus lembut harimau putihnya. Mao menuruti kemauan tuannya.

Keingintahuan yang begitu besar akhirnya menuntun Wildan ke asal keributan tadi. Persis di balik dinding, yaitu sebuah ruangan. Amat tinggi dan lebar. Penglihatan Wildan tidak mampu menggapai empat sudut-sudutnya.

"WHAA ... APA ITU?"

Seekor elang api yang bersinar amat terang meluncur dari ketiadaan. Berlari terpontang-panting di belakangnya adalah seorang pria berambut gondrong, yang menggendong gadis rambut biru tua. Ahran dan Nely. Dua-duanya dalam keadaan tidak baik. Di belakang mereka, kumpulan lipan horor raksasa mengejar seraya menghujani darah berbau asam. Ada pula sepasukan zirah yang tidak kelihatan wajahnya.

Dua orang itu mendekati sesuatu yang berada di pusat ruangan.

"Bonfire!" Wildan berkata girang. Dia juga ingin menuju ke sana. Tapi saat sudah dekat, suara lantang Ahran menahannya. Pria itu bilang, bonfire yang dimaksud berupa perangkap.

Itu tidak menghentikan Nely sama sekali. Melepaskan diri, gadis itu lalu mengisut dan mengaktifkan sesuatu pada bonfire. Ujung kelima pancang di sekelilingnya berkelap-kelip merah darah. Suara alarm keras menyentak kesadaran. Firasat Wildan langsung tidak enak.

"Mao, cepat mundur!" perintah Wildan panik. Mao mengaum dan melesat secepat kilat.

Kurang lebih sepuluh detik kemudian, letusan hebat itu terjadi.

Wildan menahan napas. Gelombang ledakan mengempaskan dirinya dan Mao, memisahkan keduanya begitu jauh. Wildan jatuh tersungkur. Sekerjapan selanjutnya, barulah terjadi kerusakan parah. Tembok dan pilar-pilar hancur lebur akibat hantaman kekuatan tadi. Retak satu berakibat kehancuran lainnya. Telinga Wildan sampai berdenging.

Sang Pejuang Kilat Florian mendongak. Dan sebentuk pilar hendak melumat tubuhnya. Tapi meskipun kulitnya lebam, Wildan masih lebih sigap. Dia bangkit berdiri dan melompat, persis sebelum reruntuhan menguburnya. Usainya, dia berlarian menjauhi reruntuhan besar untuk mencari Mao.

Mao ....

Terperangah, Wildan nyaris jatuh berlutut. Setitik air menuruni pipinya. Keinginannya bertempur menguap seketika. Semula dia yakini ajang Turnamen Semesta sebatas tahap untuk menambah pengalaman sekaligus menjelajahi dunia baru. Tidak disangkanya sama sekali, peliharaan yang telah begitu dekat dan dianggapnya bak sahabat, juga turut dijadikan tumbal di dalamnya.

Di hadapan Wildan, tertimbun reruntuhan dan pasak-pasak besi, bulu indah Mao tak lagi berwarna putih. Kini ada warna lain yang terlukis. Merah, begitu pekat. Amat sangat. Seolah melambangkan kehilangan Wildan yang begitu dalam.

Senyum dewa mendadak berubah menjadi penuh duka. Wildan menghampiri jasad Mao, menyingkirkan puing-puing, dan memeluknya erat. Dia lepaskan segala emosinya saat itu. Kenangan-kenangan mereka di Valtessa bertebaran dalam benaknya.

Wildan berteriak sejadi-jadinya. Menantang bulan Alkima yang sekarang tampak berkat lubang besar.

Dari kehampaan, portal biru terbentuk.

Wildan menyeka matanya. Babak pertama telah berakhir. Namun itu sama sekali tidak mengubah suasana hatinya. Bahkan ketika Caterina Demona keluar dari dalam portal dan tersenyum lebar. Tangan wanita itu terentang.

"Selamat, Tuan Wildan Hariz," ucap Caterina. "Ronde Pertama Turnamen Antar Dimensi berakhir dengan kemenangan Anda."

Wildan bergeming. Tak beranjak sedikit pun dari tempatnya.

Caterina berlutut. "Tuan, saya—"

"Mao ... dia mati. Dia mati akibat ujian ini!" seru Wildan.

"Tidak usah mencemaskan hal itu, Tuan," Caterina berkata lembut. "Sebagaimana sistem kami yang dapat menghidupkan kembali peserta layak dari babak penyisihan, peliharaan Anda pun akan kami berikan hal yang sama—"

"Dia sahabatku!" bentak Wildan.

Akan tetapi dia tidak melakukan perlawanan saat Caterina memapahnya masuk ke dalam portal. Caterina baru meloloskan satu kakinya ke penghubung dimensi itu, tapi ....

"Ja-jadi, kalian pikir ... aku tewas, begitu?"

Baik Wildan maupun Caterina sama-sama terkejut. Sosok seorang pria yang menyeret pedang kelam berjalan sempoyongan ke arah mereka. Penampilannya begitu memprihatinkan. Kulit wajahnya rusak parah. Tangan kanannya yang berdarah menggantung bebas pada bahu. Dan dia berjalan dengan menarik susah payah sebelah kakinya.

"Ke-keparat sekali ... kalian ini," Ahran terbatuk. "Aku ... juga berhak menang!"

***

"Bagaimana mungkin? Tuan Hewanurma mustahil salah!" Pelayan khusus yang mendampingi Wildan menentang. Suaranya meninggi. "Jangan bilang, Anda termasuk pihak yang bisa meretas sistem pertahanan Alforea!"

Ahran menahan gejolak panas pada wajahnya. "Meretas?" Dia terkekeh. "A-apa yang diretas?"

Seusai mengamati Ahran, si Pelayan tertunduk kebingungan. Pikirannya seakan mengawang mencari pembenaran tuduhannya.

Wildan sontak menceletuk. "Nona Caterina, jangan bilang kami diharuskan bertempur. Aku tidak mau pertarungan yang tidak seimbang. Aku ingin Paman ini disembuhkan lebih dulu," dia menatap Ahran sungguh-sungguh.

Napas Ahran pecah kembali. Bukan karena dia baru saja dipanggil paman, namun karena sekelebat api menyembur lurus dari langit.

Ahran yang lebih dulu menyadari mundur perlahan, sedang Wildan melompat. Yang menjadi korban adalah si Pelayan. Api menghantam wanita malang itu, yang bahkan tak sempat menjerit kala tubuhnya digerogoti panas. Ahran sampai ternganga menyaksikan paras anggun wanita itu beralih menghitam, hancur, dan menjadi serpih yang terbang ke angkasa.

Marah, segera Ahran menyapu pandangan. Si pembuat onar itu pastilah tidak jauh. Dan pekikan Wildan mengumumkannya, "Sammeriil!"

Tidak, bukan kesatria berzirah hitam yang turun ke hadapan mereka. Melainkan sosok sekarat yang Ahran kenali. Yang menghantuinya sejak awal ujian ini. Si Pengendali Angin yang seharusnya ada di alam baka.

Sepertinya Alforea benar-benar tidak menghendaki Ahran yang bertahan hidup. Ataukah ujian ini sejatinya adalah serangkaian plot untuk membunuhku seorang? Ahran anggap kedua-duanya benar. Namun bukan artinya dia menyerah. Sebaliknya, dia merasa berkewajiban hidup untuk membalas jajaran penyelenggara.

"Jadi ... itu yang namanya Sammeriil?" Kelopak mata Wildan yang sembap terbeliak lebar.

Ahran menelan ludah sebelum menjawab, "Bu-bukan, dia seorang ... pengendali angin dari dimensiku." Lututnya bergetar. Dentam jantungnya bertambah keras.

"Kenapa bisa?" tanya Wildan tercekat.

Fokus pemuda itu terpaut pada Naftali yang melangkah lamban ke arah mereka. Pelan tapi pasti, tubuhnya yang penuh darah dan cacat terperbarui. Dari bawah hingga ke wajahnya. Selang puluhan detak jantung, pria dari Persia itu kembali utuh. Selayaknya semasa hidup.

Naftali memutar lehernya, dan langsung memandang ke dalam satu mata Ahran yang tersisa.

"Anak sundal," makinya. "Aku tidak menyangka kita bertemu kembali. Di saat seperti ini." Dia beralih pada Wildan. "Dan khusus untukmu, aku juga akan melenyapkanmu di akhir."

Terlalu jijik, Ahran mendiamkannya. Sementara di sampingnya, Wildan menghunus kedua sabitnya dan memutar-mutar senjata karatan itu di udara. Surai cokelatnya berdiri. Kilat-kilat putih memancar dari badannya yang ramping.

"Siapa pun dirimu," geramnya pada Naftali, "jangan-jangan ... ledakan barusan itu, kau juga yang menyebabkannya, ya?" Pupil bulatnya berubah menyerupai mata kucing.

Ahran tahu, daripada memberi tudingan, pemuda itu malah ingin memotivasi diri agar bertempur lebih maksimal. Dengan sengaja Wildan menganggap Naftali bersalah atas kematian harimaunya.

Dengan ketangkasan yang menakjubkan, Wildan menapak bumi dan mendarat persis di depan Naftali. Dia kibaskan sabitnya yang teraliri energi listrik. Sang pengendali angin, memasang wajah bosan, berhasil menghindar dalam ritme gerakan teratur. Air mukanya seolah menyiratkan sedang berhadapan dengan anak kecil saja.

Wildan tidak terpengaruh. Semangatnya membara terbukti dari pancaran kilat yang melecut-lecut semakin liar. "MATI KAU!!"

Serangan Wildan sesungguhnya amat berantakan. Ada celah bagi Naftali untuk lolos, lebih karena tidak berminat meladeni. Sontak dia menerjang ke arah Ahran. Pada telapak tangannya, bola api berkobar.

"Dari mana ... bisa?" Ahran memegang Ra'ash dengan tangan kirinya yang canggung. Bagaimana mungkin dia menguasai angin dan api?

Di sisi lain, Wildan menggeram keras. "Lawanmu bukan satu orang saja," desisnya. "BERANI SEKALI MERENDAHKANKU!!" Dia pun memanjangkan rantai yang menghubungkan kedua sabit. Digenggamnya rantai itu, lalu dia lemparkan salah satu sabitnya, mengincar kepala Naftali.

Naftali, yang terlalu berkonsentrasi pada Ahran, tidak menduganya. Yang mampu dilakukannya ketika senjata itu melayang satu jengkal di dekat lehernya, hanyalah menggeser pandangan. Bilah senjata yang berkarat memang tidak meninggalkan luka berarti, tetapi cukup untuk menarik Naftali kembali ke belakang. Lengkungan sabit menyeret leher Naftali, mendekati Wildan. Sihir api di tangan Naftali buyar.

Tepat saat mereka berpapasan, Wildan sudah mengaktifkan kemampuannya yang lain. Gelombang Kejut Menyilaukan, terlancar. Cahaya putih terang benderang memperparah penglihatan Ahran.

Ahran tak dapat menangkap apa-apa dari dalam sinar yang menyelimuti Wildan dan Naftali. Barulah tiga detik kemudian, terdengar pekikan yang mendirikan bulu roma. Kedua lelaki itu terluka, jelas. Saat cahaya surut, tersajilah faktanya.

Sarung tangan Wildan menyembulkan cakar logam. Bilahnya berlumuran darah. Namun dadanya tidak selamat dari luka bakar. Sedang di hadapannya, Naftali bernapas terengah-engah. Jubah putihnya basah ternoda.

Selagi penyihir Persia itu terduduk, Ahran tidak melepaskan peluang menamatkan babak pertama. Dirapalnya mantra sihir tingkat menengah, hendak menghancurkan Naftali dari belakang bermodal elemen yang sama.

Naftali menengok tepat waktu. Satu tangannya terentang, mengisap sihir Ahran. Dia lalu berdiri tegak. Tiga lubang pada ulu hatinya merapat.

"Kalau begitu, aku akan serius."

Dia mengadu kedua telapak tangannya. Dari situ, empat bola api tercipta. Seluruhnya mengapung ke atas kepala. Tiga menargetkan Ahran, dan satu saja pada Wildan.

Wildan tidak tinggal diam. Satu serangan berhasil dia hindari, dan berikutnya dia menuju pada Ahran untuk membawanya kabur. Serangan api tadi berakhir mengenai udara kosong.

"Ke-kenapa kau membantuku?" tanya Ahran.

Wildan melepaskan pegangannya. Mereka terpisah lumayan jauh dari Naftali. "Yah, 'kan sudah kubilang. Aku takkan melibatkan diri kalau pertempurannya tidak seimbang," balasnya ceria sambil menggaruk kepala belakang. "Nah, Paman diam saja di sini. Aku yakin mampu menghajar Tamon Rah mini itu. Baru setelah dia mati, kita cari bonfire dan bertarung secara kesatria."

Ahran setuju. Tak peduli lagi meskipun pemuda itu baru saja mengasihaninya.

Wildan berlarian membelah angin. Tangan dan kakinya diliputi halilintar. Sepasang sabitnya tersandang rapi di punggung. Sekarang dia gunakan cakar besinya.

Naftali terlihat merapal. Lidah-lidah api terbentuk mengelilingi kedua tangan. Sihirnya terlempar ke arah sang pemuda liar, yang dengan mudahnya dihindari. Pergerakan Wildan sangatlah gapah. Ahran tertakjub begitu tahu-tahu bocah itu sudah melayang di belakang Naftali. Cakarnya siap mengoyak otak si penyihir.

Denting senjata memecahkan heningnya malam. Lantai batu sampai ambles akibat tekanan serangan Wildan. Naftali mengimbanginya dengan sebilah pedang hitam.

Ahran mengenal betul senjata itu. Dia menilik berbagai sudut. Ra'ash menghilang. Serangan api Naftali padanya, ternyata bertujuan untuk melucuti senjatanya.

Dalam genggaman Naftali, Ahran dapat merasakan Ra'ash meraung-raung. Meminta manusia sebagai korban jiwa. Ukirannya menyala sewarna api. Sejak dulu, Ahran belum mampu mengeluarkan seluruh potensi senjata itu. Malah lebih tepatnya, Ra'ash sebetulnya membenci Ahran. Menganggapnya bukan penyandang yang sesuai.

Aura pekat menyeruak dari bilah Ra'ash. Wildan tersentak mundur, tampaknya merasakan kekhawatiran. Naftali tersenyum samar. Lantas dia menyebat udara dengan senjata tersebut. Mengirimkan aura gelap yang menyayat tangan dan kaki Wildan. Tak sampai di situ, pemuda liar itu terdorong hingga menghantam sisa pilar.

Wildan terbatuk. Darah keluar dari mulut dan lubang hidungnya. Akan tetapi, sama sekali belum cukup untuk merobohkan tekadnya. Dengan tungkai kaki yang berguncang hebat, dia memaksakan berdiri.

"Segitu sajakah kemampuanmu," Wildan menghapus darah di bibirnya, "TAMON RAH MINI??"

Tetap dengan senyum menantang, Wildan tak menunjukkan tanda-tanda berserah. Setangkas sebelumnya, dia menderas. Kilat-kilat yang terpancar darinya semakin kuat disertai keringat yang bercucuran.

Naftali tidak terkesan. Seolah sedemikian dalam meremehkan musuh, dia hanya balas menyambut Wildan dengan buaian pedang ringan.

Memanfaatkan pancang bangunan yang miring, Wildan melompat. Tubuhnya yang enteng memungkinkannya untuk bersalto, menyingkir dari aura gelap dan membuat Naftali kebingungan.

Wildan menapak kira-kira lima tombak di belakang Naftali. Berbekal satu entakan kaki, cakarnya berhasil menjatuhkan lawan. Dia dan si penyihir bergumul selama beberapa saat di atas puing-puing tajam yang berserakan.

Kemenangan Wildan sudah bisa terjamin. Dia berada di atas angin. Ra'ash terlepas dari genggaman Naftali. Dan sang Angin Gurun tak berkutik tatkala cakar Wildan memarut-marut wajah pucat serta lehernya. Naftali tidak lagi merespons, untuk selamanya.

"Ki-kita berhasil?" Ahran terlonjak gembira.

"Ya, berhasil merayakan kegagalan."

Mendadak, sebuah tendangan telak mengempaskan Ahran dari belakang. Ahran terpelanting. Rusuknya patah berbenturan dengan reruntuhan.

"Bagaimana mungkin ini terjadi?" jerit Wildan, syok. Dari tadi rupanya dia menindih mayat Neeshma yang membiru.

Naftali lantas menjentikkan jarinya. Dua orang wanita muncul dari kekosongan. Effeth dan si Pegulat. Kedua-duanya dalam keadaan bugar. Hanya saja tatapan mereka kosong. Tidak berekspresi.

Tangan Wildan terkulai lemas. Semangatnya redup seketika.

Kenapa semua tempat di mana terdapat diriku, di sanalah kesialan bermuara? Ahran mengangkat kepala, berusaha bangun. Apa semua ini diakibatkan dosa-dosaku?

Pikiran Ahran mengawang-awang ke masanya. Sewaktu lebih muda, karena pekerjaannya sebagai pemburu iblis, dia kerap mengaku dirinya berhak mencabut nyawa orang-orang yang bersalah. Alih-alih menyerahkan para penjahat ke persidangan, Ahran sering menambahkan penghakimannya sendiri. Sesuatu yang disesalkannya sampai hari ini.

Dan mungkin itu juga yang melengserkanku dari jabatan yang kudambakan ....

Ahran mengerjap pelan. Matanya kian rapat. Memahami, barangkali inilah waktunya untuk berhenti. Lagipula dia memang sudah lelah. Terlalu lama terjerat dalam rantai kemalangan, sekarang saatnya bebas. Biarlah Rüstem dan kroni-kroninya berjaya di bumi sana.

"Jangan diam saja, Bung!" Wildan menghardik, menarik Ahran kembali dari keinginan istirahat yang panjang.

Sentakan keras itu sekaligus memperingatkan kedatangan ancaman. Effeth sedang berlari ke arah Ahran. Tangan lentiknya berubah tajam, siap mencabik-cabik.

Tidak jauh, keperkasaan Wildan sedang dilampaui oleh Steele, yang bahkan bersenjatakan tangan kosong belaka. Satu tinju mendarat di wajah Wildan. Gigi runcing pemuda itu rontok dari dalam mulutnya. Dan sekali lagi, musuhnya melakukan eksekusi dengan cekikan diakhiri bantingan terkuat.

Nyaris berbarengan dengan tumbangnya Wildan, Effeth tiba. Cakar diangkatnya tinggi-tinggi. Bermaksud membelah Ahran menjadi dua bagian.

Ahran memejamkan mata. Menanti malaikat maut. Namun keinginannya tak terkabul. Bukannya senjata menembus organ vital, yang diterimanya justru kebisingan dari letup senapan.

Dibukanya kelopak mata. Effeth menggelepar. Kepala belakangnya dibombardir peluru berbalut energi listrik. Tengkoraknya pecah, otaknya tercecer ke lantai. Tidak hanya itu, wanita bertopeng juga mengalami nasib yang tidak jauh berbeda.

Pelakunya membidik dari tumpukan puing yang tinggi, posisi ideal namun mencolok. Bulan raksasa yang berpendar pucat menjadi latar belakangnya. Si mata hijau cemerlang ternyata belum tewas. Kehadirannya bak malaikat penyelamat.

"Kenapa kalian bekerjasama?" Naftali yang sedari tadi diam angkat bicara. "Bukankah kalian musuh?" Dia melempar pandangan pada Nely.

Berderet-deret tembakan terlontar sebagai tanggapan. Naftali tidak mampu mengelik keseluruhannya. Tak ayal, sepasang peluru bersarang di lengan atas. Kelengahan yang terbentuk pun menambah cedera di paha dan meledakkan telapak tangan. Ra'ash terpental.

Naftali naik pitam. Dia merangsek maju. Kemarahan meningkatkan kecepatannya secara drastis. Nely tak sanggup mengimbangi si penyihir. Dia coba menembak, namun senapannya direnggut. Naftali buru-buru melelehkan senjata itu menggunakan sihir tingkat tinggi. Gauss Rifle yang hangus berkelontangan di tanah.

Satu tangan menyambar leher Nely. Naftali mengangkat gadis itu, hingga kakinya bergelantungan. Tak tinggal diam, Nely menghantarkan halilintar bertekanan tinggi. Membekukan lawan. Tetapi Ahran tahu, keadaan itu takkan berlangsung lama.

Ahran tidak ingin berkutat lagi. Harga diri sekaligus rasa kemanusiaan mengharuskannya bertindak. Wildan dan Nely, sekalipun berperan sebagai musuh, mereka bahu-membahu demi menumbangkan musuh bersama.

Jadi setengah mati, Ahran berdiri. Dan melangkah menyeret kakinya. Semakin dekat dan dekat dengan Ra'ash.

Lepas dari pengaruh listrik, Naftali tiba-tiba berbalik. Dan saat itu Ahran telah mengangkat pedangnya. Dengan segenap hawa kehidupan yang dilipatgandakan oleh penggunaan Ra'ash, dilancarkannya sihir tingkat menengah.

"L'havah charon!" sebutnya.

Tidak terjadi apa-apa.

Naftali berdecak iba. Dia lepaskan Nely dan beralih pada Ahran. Tangannya yang hancur tumbuh kembali, dan dengan mudahnya balik merebut Ra'ash.

"Ada satu rahasia," bisik Naftali sambil mendekat. Ahran mengerang, tidak dapat bergerak. "Sesungguhnya dunia ini, udara dan tanah, semua menolakmu. Membenci darahmu sehingga mereka selalu berdoa demi kesengsaraanmu."

Ahran merasa tangan dan kakinya lumpuh, entah oleh sebab apa. Naftali melanjutkan, "Kenapa? Karena sebenarnya, tidak ada yang menginginkan kau eksis. Tidak orang-orang di sekelilingmu, tidak dengan dunia, dan tidak pula orangtuamu."

"Diam!" desis Ahran. Dan sebelum sempat berkata-kata lagi, Naftali menekankan jari telunjuk dan jari tengahnya di bawah mata Ahran. Ujung jemarinya perlahan terasa membakar.

"Jangan pernah salahkan putra perdana menteri," tandas Naftali. "Sebab seluruh kemalangan yang menimpamu ... diakibatkan perbuatanmu sendiri, anak sund—"

Mendadak Naftali terenyak. Mata cokelatnya terbelalak seraya digeserkannya ke bawah. Jantungnya terhunjam pasak dari belakang.

Nely mendorong pasak lebih keras, tak mengacuhkan teriakan dan semburan darah Naftali. Selagi musuh terpaku, Ahran meliputi satu tangannya dengan sihir api tingkat menengah. Sebagaimana caranya melayangkan nyawa Musa, sahabatnya sendiri, dia menerjang untuk kemudian mencekik lawan.

Saking panasnya, jemari Ahran menembus ke dalam daging Naftali. Dari leher, api meluas ke anggota badan lainnya. Ahran berdiri tepat ketika sihirnya hampir menggapai kaki sang Angin Gurun.

Naftali tidak memberontak sewaktu api mengerubungi kepala sampai ujung kakinya. Membungkusnya secara keseluruhan. Daripada melawan, pandangannya justru lurus ke langit. Seolah menatap ke arah surga. Dan di antara derak-derak api menakutkan yang tercipta, pria itu mengulaskan senyuman.

Ahran mengerjap tidak percaya. Pemandangan yang terhampar di hadapannya ini sungguh di luar akal sehat. Entah dia yang mulai diserang halusinasi, ataukah sosok berbalut api itu benar telah berubah menjadi seorang wanita?

Tidak ada waktu untuk menemukan jawabannya. Amukan api mengusir orang-orang di sekeliling. Dan sedikit demi sedikit, api itu padam. Menyisakan abu tebal dan Ra'ash.

Nely jatuh berlutut. Airmata kebahagiannya berderai. "Ini ... akhirnya! Kita menang!" Dia bersorak.

Di belakangnya, Wildan berjalan tertatih. Badannya babak belur, tapi masih jauh lebih baik dibanding Ahran. "Belum, Nely," katanya. "Kita mesti bertarung sampai satu orang dari kita saja yang selamat."

"Lagi?" Nely menepuk dahinya. "Aku sudah tidak tahan lagi!"

"A-aku juga ... tidak ingin," ujar Ahran. "Tapi, sesuai kata Wildan, sebaiknya kita memulihkan diri sampai benar-benar mampu saling melawan. Mari, kita cari api unggun lainnya. Mungkin mereka ... ada di bagian lain benteng ini."

"Aku trauma dengan bonfire," Nely meringis.

"Heheh, tapi mau bagaimana lagi? Jangan mengeluh, dong!"

Wildan pun menghampiri Nely, dan mereka saling memapah. Sementara Ahran, dia memungut Ra'ash dan mengacungkannya tinggi-tinggi. Menutupi Alkima.

"Paman Ahran, jangan main licik, ya," Wildan mengingatkan dengan polosnya. "Tidak boleh ada yang menyerang sampai kita semua mendapat bonfire masing-masing."

Ahran tidak menjawab. Dia sibuk mengamati rajah bersinar pada bilah pedang kelamnya. Ada tambahan kata di sana, yang dia sendiri tidak memahaminya.

"Paman?"

"Ya?" Ahran mendekati bocah liar itu. Dan entah sejak kapan ekspresi muram hilang dari mukanya. "Omong-omong, Wildan, apa kaurindu harimaumu?"

"Eh? Apa—" Kalimat Wildan takkan pernah selesai. Sebentuk kepala dengan mata terbeliak lebar terpisah dari batang leher.

Nely yang menjadi saksi hanya bisa menggigil di atas kakinya. Melihat serangan terhadap Wildan membuatnya ingin muntah. Pintu kematian semakin dekat kepadanya. Tapi dia tidak pernah menyangka, yang membukanya justru pria berambut hitam itu. Yang sempat menarik perhatiannya.

Seharusnya Nely membunuh Ahran lebih awal.

Ahran melirik Nely. "Kautahu, Nona? Aku paling tidak suka wanita yang keras kepala. Itu menentang kodrat," diarahkannya Ra'ash ke leher gadis itu. "Nah, kaupunya salam perpisahan?"

Nely geram sekaligus takut. Kini dia mengerti kenapa ayahnya, sang Raja Exiastgardsun, amat membenci manusia sehingga menciptakan walker virus. Manusia tidak bisa dinilai dari kulit luarnya saja. Mereka memiliki hati seluas dan sedalam samudra. Serta mudah berubah. Tidak tahu terima kasih.

Itulah yang menyebabkan kematian ibuku, dan depresinya ayahku ....

Dikuasai amarah, Nely hendak mengeluarkan segenap tenaganya yang tersisa. Biarlah dia mati, asal setan pengendali api itu tewas. Kursi kemenangan tak layak diduduki olehnya.

Namun Ahran lebih kuat. Aura gelap dari bilah senjatanya membekap Nely. Dia kehabisan napas. Dan diliputi kerusakan fatal.

Papa, tolong aku ....

Sampai napas terakhir, Nely membawa dendam kesumatnya. Tetapi dia hanya tidak tahu, Ahran bukanlah malaikat kematiannya. Pria itu memang ada di depannya, namun tidak dengan jiwanya. Sesuatu mengendalikannya.

***

Di belahan dunia lain, keheningan ruang pribadi Hewanurma mendadak dipecah oleh sebuah gedebuk berat. Sang ilmuwan beruban baru saja menggebrak meja. Cangkir antik di samping tangannya menggelinding, sebelum menumpahkan kopi susu yang mengotori jas labnya.

Pemicunya ada di depan mata. Pemandangan yang ditampilkan layar holografis miliknya betul-betul menyulut amarah.

[GROUP G – SURVIVAL OF THE FITTEST : FIRST ROUND ACCOMPLISHED.
STATUS : AHRAN WON]

Dan seakan-akan kalimat besar tersebut belum cukup, gambaran menyebalkan lain menyusulnya. Cendekiawan yang sebatas mengaku-ngaku saja itu, keluar dari dalam portal biru. Ditemani Lucrezia.

Hewanurma betul-betul tidak mengerti. Dia telah menyusun serangkaian siasat demi menumbangkan manusia Bumi itu. Mulai dari memesan RNG untuk menempatkan Ahran di medan yang tidak menguntungkan, memosisikannya bersamaan dengan peserta yang jauh lebih superior, hingga mengirim Cassandra—yang olehnya dipadukan dengan sosok aib dari masa lalu alkemis cengeng itu. Dia bahkan menyuruh Caterina lebih awal menjemput Wildan, memastikan bukan Ahran yang lolos sebagai pemenang.

Tetapi dengan semua itu pun, wajah pucat Ahran tetap saja yang berakhir memenuhi layar. Pria sinting itu bak kucing bernyawa sembilan. Selemah kutu tetapi sulit sekali dibasmi.

Kening Hewanurma mengucurkan keringat. Harapannya selama dua belas jam berujung tragis. Kandidat usulan Tamon ini betul-betul merepotkan.

Suara tepuk tangan dari belakang menyebabkan Hewanurma mendengus panjang. Mengenakan pakaian ketat dan dandanan berlebih, Tamon Ruu menampilkan batang hidungnya.

"Hoho, lihat siapa yang menang dari tim G~!" Ruu berkata riang dengan intonasi yang dibuat-buat. "Nah, lihatlah itu, Pak Tua! Bishie pilihanku ternyata bisa menang juga. Ah, senangnya~ ♥."

Hewanurma memasang air muka masam. "Yang begitu kaubilang bishie?" Ingat wajah Ahran, matanya berkedut sedikit. "Sejak kapan seleramu jadi rendah sekali?"

Ruu tertawa kecil. Pandangannya kini berubah lurus. "Tentu saja alasannya bukan itu," jawabnya serius. "Aku menghendakinya di tempat ini sebab, aku mulai jengah dengan aksi saling bantai tanpa dinamika. Coba pikir? Kalau kita mengundang orang lemah fisik, atau seekor kucing, manusia pohon, dan kandidat lain yang sesungguhnya menghindari konflik, akan tercipta panggung pertunjukan yang kompleks."

Mata Hewanurma memicing. "Sejak kapan pikiranmu sedalam itu?" sahutnya. "Hentikan dulu argumenmu, biar kukemukakan alasanku dulu—"

"Tidak usah dijabarkan," potong Ruu. "Aku tahu. Kau senantiasa melihat orang dari kekuatannya saja. Iya, kan? Dan malah sengaja susah payah menyingkirkan peserta yang menurutmu lemah. Tapi lihat sendiri, orang-orang yang kauminta datang lebih banyak tersisih di babak penyisihan. Sedang orang-orang pilihanku yang kauanggap tidak layak, mereka ada sampai sekarang."

Tidak, bukan itu alasannya, pikir Hewanurma. Kekuatan adalah nomor sekian bila dibandingkan dengan kepatuhan dan loyalitas.

Hewanurma paham, daripada mendebat Ruu, lebih baik dia diam saja. Seseorang sepertinya jelas akan kalah. Ya, pria selalu saja salah.

Dan menyikapi keputusannya membasmi satu orang peserta, Hewanurma sebetulnya punya alasan di balik tindakan-tindakannya.

Pertama, Ahran bukanlah sosok yang akan menuruti aturan. Hewanurma bisa merasakan jiwa berontaknya. Dan yang paling penting baginya, namun agak subjektif ... Hewanurma menyadari peserta yang satu itu bakal menyulitkannya di masa depan. Entah dengan cara apa. Firasatnya menguat tatkala mendapatkan laporan dari Lucrezia, bahwa Ahran menyimpan kebencian mendalam kepada para administrator. Bahkan pernah mendapati orang sinting itu berkoar-koar akan mencekik mereka semua.

Tidak, bukan ancaman konyol itu yang membuat Hewanurma segan. Lebih daripada itu, dia khawatir akan takdir aneh yang menyelimuti alkemis tersebut. Ahran memang rapuh, tapi keberuntungan takkan membiarkannya gugur. Dan bila itu terjadi, bukan mustahil dia maju sebagai sosok yang kuat dan suatu saat dapat mewujudkan hasratnya.

Alforea akan hancur. Terbakar.

Hewanurma tersenyum sendiri memikirkannya. Itu berlebihan. Fantasinya terlalu liar. Seperti membayangkan semut menelan roti bulat-bulat. Apa sih yang mampu dilakukan pengendali api yang manna-nya saja amat terbatas?

Dan sekali lagi, Hewanurma mencermati layar holografis yang masih mempertontonkan pemandangan sama dengan beberapa menit lalu. Akan tetapi tiba-tiba saja, sorot perekam terus mendekat ke wajah Ahran. Dan bersamaan dengan itu, Ahran menatap tajam. Seolah sedang memelototi Hewanurma dan Ruu secara langsung. Terdengar bip keras seusainya. Proyeksi menjadi buram lalu lenyap.

Kedua administrator saling bertukar pandang. Kehabisan kata-kata.


[END]

25 comments:

  1. Ini daftar kesan yang ditangkap selagi membaca. Sori kalo kerasa random, bener-bener stream of consciousness soale.

    -Lol saya sedang membaca Cassius
    -Pembukaan panjang, tapi dialognya cukup menarik.
    -LOL nama maidnya nama genderbend cassius
    -Ternyata Hewanurma kejam :( dasar hewan
    -Narasinya bagus
    -It's really a bit long tho. You can trim it.
    -Dapat implementasi sihir api yang lebih jelas ketimbang prelim
    -Lol kadang Ahran ini terlalu nekat memang.
    -Stereotip short fusenya Wildan semakin berkembang X))
    -Your way of describing things is interesting
    -Konflik dan karakternya cukup bagus. Cuma pertarungannya terasa kurang.

    Hmm ini... seperti yang ditulis di kesan saya di atas, konflik dan karakternya bagus. Cuma adegan pertarungannya sendiri terasa kurang. Nilai pertama yang terpikir oleh saya adalah 8.5, tapi apa sebaiknya dibuletin ke atas atau ke bawah?

    Sepertinya ke atas aja, karena ceritanya cukup berkesan. 9.0/10

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks udah mampir Kak Fachrul *sungkem*

      Iya, saya sengaja bikin intro yang panjang demi sedikit bau2 romens. Semacam melampiaskan apa yg di hati. Untung nemu sesuatu buat disambungin di akhir.

      Cassandra? Ya, itu homage buat Cassius. Inspirasi OC saya emang ada dari Cassius, hehe. Tapi Ahran agak gentleman dan 'berengsek' lah istilahnya, walau kuat juga sisi emonya.

      Soal pertarungan itu, saya emang belum banyak pengalaman. Tadinya mau munculin lebih banyak OC hidup buat lawan final boss, tapi saya gak tau mau deskripsiinnya gimana. Terutama Steele, saya cari referensi gulat yang ketemu b. Inggris semua. Lha saya b. Inggrisnya agak kurang .... Maafin ya Kakak X'D

      Sekali lagi terima kasih banget udah mampir :)

      Delete
  2. Karena ini, saya mulai mikirin apa sebaiknya maid itu terkesan sebagai bot atau AI. Masih belum terlalu eksplor juga soalnya :D

    Saya suka pace-nya. Meski panjang tapi nggak terkesan lambat. Pilihan katanya juga konsisten.
    Saya pun berpikir bahwa sebelumnya lawan-lawannya terlalu gampang dikalahkan, dan membuat battlenya cepet, ternyata di belakang ada final yang cukup bagus. Meski tetep bagi beberapa karakter lain kurang kerasa struggle-nya.

    Ah, iya Ahran, welcome to the dark side :v

    9

    Neeshma Fraun.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Tadinya lebih banyak lagi battle. Misalnya Nely yang ketemu spectre. Atau Steele yang buntutin Nely dan sempet ngebabat monster (yg ini jadi banget dihapus soalnya saya meragukan strategi gulatnya). Karena kepanjangan, ini aja udah 14k words, akhirnya resmi dihapus.

      Ya ... saya juga sebenernya pengen munculin satu OC buat dilawan bersama. Tapi karena gak ada yg rasanya terlalu OP, jadinya saya munculin Mas NafNaf deh.

      Ahran gak sempet lawan OC lain karena ya, itu, dia lemah XD

      Gak, enak aja. Ahran gak bakalan masuk dark side secara total. Dia tetep harus jadi tragic hero. Nah, ini saya buat gini biar R2-nya punya bahan cerita :)

      Oh, ya, terima kasih udah mampir. Saya jadi bertanya-tanya andai Ahran bertemu lagi sama Neeshma. Udah sama-sama gelap, haha XD

      Delete
  3. kebanyakan entri yang bersetting di kastil pasti berkesan dark gloomy. untuk yang satu wah, greget dah, walau narasi terlalu dominan, tapi saya ttp betah ngikutinnya. saya juga penjelasan konsep sihir apinya.

    Ahran mau mbrontak.. ada kawan berarti :v

    9 dr Nobuhisa

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wehe, makasih dah Mampir Nobu-san~

      Iya narasi banyak. Soalnya lebih suka narasi daripada dialog, saya ini XD

      Sihir apinya sebetulnya mo ditunjukkin dari sejak prelim. Tapi masih malu-malu kucing karena nama mantranya XD

      Yo, kita hajar Mba Tamon sama Mas Hewanur--eh administrator Alforiyah bareng". Hehe.

      Glad you enjoy it. Yawdah, ntar saya mampir balik deh ya ^_^

      Delete
  4. Ahran bahasanya kotor ya... saya baru ngeh.
    ._.

    Kasihan si Cassandra, cinta sang maid pada akhirnya tak terbalaskan, dan malah berakhir mengenaskan.

    Awal-awal si Ahran, rasanya kayak lagi ikutan tes uji nyali yak
    XD

    Si Neeshma matinya begitu mengenaskan, dimakan harimau.
    ._.


    Tag team Ahran sama F itu... entah kenapa yang lebih banyak diulas malah si F, ketimbang Ahran sang karakter utama. Begitu pula ketika melawan final boss, malah Wildan yang lebih sering aktif ketimbang Ahran yang terluka parah.

    yaelah, pepsi dibilang alkimia beku :v

    Wogh, "Ignis et iras" dipake juga di sini!
    **tepuk tangan**


    Entah kenapa interaksi Nely sama Ahran di sini kerasa kocak, alih-alih sebagai musuh, lebih ke arah sohib yang akrab lewat cacian dan makian.

    walau pada akhirnya kebersamaan itu cuma berlangsung sebentar saja
    Q_Q


    Anjrit, ini jadi pertempuran tiga sekawan ini. Scene saling membopong di akhir pertarungan itu keren pisan
    XD

    Tapi-tapi-tapi... Ahran emang pada dasarnya cowok brengsek ya..
    Q_Q
    Eh tapi dia kesurupan ya?
    ._.


    Saya kaget juga lho, background Nely sempet diulas juga di sini :D


    Akhir kata, saya cukup enjoy baca entry ini, meski sempat fast read di bagian awal-awal karena dirasa agak membosankan.

    Point : 9
    :D

    OC : Sanelia Nur Fiani

    ReplyDelete
    Replies
    1. Thanks udah mampir, Ayah Nely #plak

      Bahasanya kasar dikarenakan dia udah hidup di lingkungan yg terlalu kejam XD

      Ya, Mbak Cassie/Irini sengaja saya setir biar ada sedikit 'bumbu masakan' XD

      Neeshma saya gituin ... yah, pengen coba agak sadis sesekali. Ahran ga dibahas karena dia syupeeer lemah. Bahkan mungkin ... dibanting Steele dia koit ._.

      Karena Nely agak ceroboh, saya adakan benda masa depan tsb.

      Background Nely ... saya raba2 aja dari CS-nya. Syukur deh kalo ayahnya gak protes :p

      Tulisan panjang, itu style saya ;)

      Thanks sekali lagi ^^

      Delete
  5. Ayse, Irini, Rustem, Davud ini nama" siapa ya?

    "Pemenang Turnamen Antar Dimensi ini selalu identik dengan kekuatan dan daya rusak yang besar."
    Hmm rasanya ngga juga. Mungkin cuma pemenang BoR 4 sebelumnya aja yang bisa dibilang begini

    Oalah, ada juga akhirnya yang manfaatin maid demi plot point

    Matinya Neeshma sakit juga. Meski kamu bilang ga biasa nulis battle, kenyataannya malah porsi battle cukup jadi sorotan di sini. Keliatan jelas dari Wildan vs Neeshma sama Effeth vs Steele

    Segitu lemahkah >> lebih baku kalau 'sebegitu '

    Sampe akhir saya kurang nangkep Naftali ini, selain dia asalnya dari universe Ahran dan entah gimana sampe di sini. Mungkin saya skip. Btw dari tim ini jadi lahir 2 bakal villain ya. Ga nyangka selain Neeshma, sekarang Ahran juga ikut ngarah ke evil alignment

    Sebenernya overall entri ini bagus, tapi di beberapa ttik saya ga bisa ga skip karena panjangnya

    Dari saya 8

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhirnya Kak Sam komen *berasa didatengin presiden* XD

      Itu Ayse sama Irini istrinya Rustem sama Davud. Musuhnya Ahran di bumi. Biar ngelecehin musuhnya Ahran manggil pelayan pake nama istri. Gitu XD

      Yang kata2 Cassie itu ya ... cuma biar dramatis aja. Walau saya tau gak gitu sebenernya ^^

      Battlenya saya berusaha keraaas sekali. Baca2 novel yang ada dulu.

      Mas NafNaf ada karena Mas Hewanurma tau masa lalu Ahran, terus pengen munculin biar Ahran syok dan mati cepet ;_;

      Gak ... Ahran gak jahat. Saya nyetir begini biar ada drama baru di R2 X'D

      Maaf Kak Sam, emg kebawa suasana ini ....

      Sekali lagi makasih udah mampir ^_^

      Delete
    2. Oiya Kak Sam. Maksud saya Mba Ayse itu = Lucrezia, Mba Irini = Mba Cassie. Ini emang Ahran aja yg kurang ajar manggi2 sembarangan XD

      Delete
    3. Oh, ya. Kalo ada yang gak ngeh sama satu keanehan. Itu yg bikin aneh si legendary sword bukan tokoh ybs. Jadi sebenernya tokoh ybs tetep dgn kepribadiannya. Dia dipengaruhi.

      Delete
  6. ((Alforiyah))

    Cassandra... Ayse(?)...

    Seperti biasa, baca entrimu ini selalu dapet nuansa high-fantasy yang kental. Nggak hanya dari typeset karakter Ahran, tapi juga dari gaya penuturannya yang harmonis antara show dan tell. Diksinya juga variatif banget.

    Adegan favorit saya ini kematian Neeshma yang tragis bener. meski awalnya
    udah ngeduga ada Alva pasti ada Mao, tapi tetep aja berasa serem, penggambarannya eksplisit banget. Kaget saya.

    Ada dikit yg kurang jelas: penggambaran waktu wildan di luar benteng itu apa dia lari atau dia gelayutan dibawa sama Alva terbang?

    F & Steele, cat fight! :3 penggambaran personality F bagus, apalagi pas komentar tentang lawan2 ceweknya.

    ((Cewek badak)) hahaha

    Nely + Ahran = obrolan penyihir.

    Monster dungeonnya keren nih, ada kelabang horor. Hee, ada villain dari backstory Ahran ya? Kirain bakal Sammeriil. Ataukah nama Sammeriil itu cuma mitos rekayasa belaka dan sebenarnya yang menjadi Dark Knight Alforea ratusan tahun lalu itu Naftali? Sebuah rahasia sejarah Alforea terkuak!

    Sthap.

    Si Wildan ga terima kalo menang tanpa Mao ya hahaha. Dan ternyata Ahran masih hidup! Tak terdeteksi Hewanurma. Di bagian akhir banyak twist yang saya suka, termasuk battle 3 orang itu: Naftali, Wildan, Ahran. Keliatannya secara keseluruhan udah disiapin mateng nih konsepnya, nggak buru2 mepet deadline.

    Saya titip sendal ya... eh, sembilan maksudnya hehe

    9/10

    OC: Wildan Hariz

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yey, dapet komen! XD

      Alforiyah ... itu karena lidahnya susah ngomong Alforea, hehe. XD

      High-fantasy? padahal blm terlalu terbiasa sma genre ini. palingan fantasi standar. Syukur deh.

      itu adegan mao saya liat di referensi yg Kakak kasih waktu itu. kalo harimau nyerang dr belakang trus ngoyak dada atau leher duluan. baru liat videonya. saya coba2 aja style baru. berasa sadis ya? padahal itu niatnya agak dramatis ^^

      wildan di cs kan dibilanh rasa penasaran tinggi ... jadinya saya bikin dia liat2 benteng dulu. jd itu mancing dia ketemu neeshma x)

      cewe badak itu kesan saya sendiri pas liat prelim Steele o.o

      Sammeriil di sini hanya legenda. Naftali itu plotnya 'om hewan' supaya ahran matinya cepet. makanya dia minta kath jemput wildan keburu ahrannya bangun lagi. makanya nely ada lagi kn? XD

      Itu twist saya keinspirasi edo tensei. haha XD

      btw, makasih banyak udah baca+komen+rate ya Kakak ^_^

      Delete
  7. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  8. hullo ahran :D\

    daaan saya langsung mau kasih nilai dasar 7 buat kerapian tulisan, karena diksinya keren dan ya saya setuju sama komentar-komentar di atas; penulis ahran punya cara yang bagus ketika mendeskripsikan suatu bagian tertentu, ehm bagian yang biasanya pembaca bilang, "mulai pegel mata buat lanjut." tapi karena ada deskripsi khusus yang diselipkan, jadi lanjut dan tetep enjoy (pokonya gitu XD)

    terus +1 karena saya suka karakter ahran di sini. imo, kalo di prelim ahran sendiri yang ngerasa inferior, di r1 ini gantian, keadaan yang bener-bener bikin dia begitu

    +1 lagi karena saya bener-bener kebayang itu mao ngunyah

    ok nilai total 9 ^^

    oc : eophi

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wihi ... dapet komen lagi. Makasih dah mampir Aeop-Eophi ^_^

      Wah, beneran? Glad you enjoy this story. Yah, memang saya usaha agak keras di deskripsinya. Karena biasanya saya lebih banyak deskripsiin perasaan&pikiran tokoh-tokoh kalau di cerita. Syukur kalo apa yang saya imajinasiin sampai maksudnya :D

      Iya nih, gegara trapnya administrator jd begitu si Ahran ._.

      Bagian Mao itu ... mungkin sisi sadis saya yg terkubur selama ini #canda

      Wii ... dapet 9 lagi. Nanti saya mampir yaw~

      Sekali lagi terima kasih .... ^_^

      Delete
  9. Ngeliat si Ahran ini, saya kayak sedang ngaca. Grumpy 30s hermit, nggak terlalu nice, dan menyimpan api pemberontakan di balik matanya. Rada sedikit kaku karena kuper, cuma Mawar yg bisa bikin hatinya luluh.

    Ini entri yang lengkap, benteng yg banyak variasi jebakannya yang sangat bermanfaat utk memperdaya org setangguh apa pun. Terus battlenya juga kerasa epiknya, sekaligus sedikit suspense. Rasanya kayak makan cap cay seafood+meat, so yummy :p

    So, titip nilai 9/10 yah. (Fyi, cuma 2 entri R1 yang saya beri 9). OC: Vajra

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sebenernya Ahran itu ... kombinasi dari sifat-sifat karakter serial tv yg saya gabungin, plus saya tambahin sedikit sifat yang agak animetis. Ya, bener. Dia pemarah, kaku, dan suka ngelawan--kakunya itu bagian diri saya sendiri. uwu

      Bahagia akhirnya ada yg bisa nangkep gimana OC saya sebenernya--yg di CS aja bahkan saya nulis kepribadiannya agak rancu X)

      Waha ... iya, sebelumnya saya malah gak tau interior benteng itu gimana. Tapi karena riset dikit2, jadi tau. Soal battle idem. Walau saya masih ngerasa ada yg kurang di bagian aksi, syukur bgt kalau tau orang2 pd enjoy bacanya X-D

      Wah, terima kasih banyak Om Andry. Saya bakal follow entry Vajra, coz saya juga banyak belajar dari sana ;-)

      Delete
  10. Sebenernya aku udah baca ini dari awal entri ini muncul, tapi baru sempet komentar sekarang. Maaff hufft :3

    Sesuai yang diharapkan dari entri ini, narasinya yang ngalir lancar, kosakata bahasa yang digunakan disini juga kaya sekali. Bikin nyaman baca sampe abis. Lebih baik dari entri Ahran saat prelim.

    Skill upgrade Ahran diajarin oleh maid ya. Sayang nasib si maid ternyata mengenaskan. Hewanurma kejam.

    Battlenya lumayan bisa aku bayangin, aku pikir entri Ahran lebih banyak drama (?) nya dibanding battle, tapi ternyata battlenya kali ini cukup makan tempat. Seru.

    Nilai 9/10. Aku bakal follow terus entri Ahran kedepannya.

    OC : Mang Ujang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hmm ... dibaca sahaja saya seneng juga :3

      Bagus deh kalo menurut Uji saya ada perkembangannya. Emang pas di prelim itu agak dihantui sama SBM. Jadi narasi dan endingnya yah ... begitulah ;_;

      Biar menambah unsur selain battle itu, makanya saya sengaja adain plot Cassie/Irini ^_^

      Baru nyadar battlenya banyak. Bagus kalo gitu, emang lg sambil belajar buat bikin pertempuran klimaks di proyek novel, hehe :D

      Saya juga bakalan komen terus di entry-nya Mang Ujang yg ikemen XD

      Makasih udah mampir ya .... :)

      Delete
  11. Huwii ... saya pikir Bu Mawar bakal dapat saingan cinta. Tetapi nasib ey nasib, hanya sementara saja romansa itu terbentuk. Dasar Hewanurma :v

    Dan agak aneh mungkin, perhatian seorang adminstrator kepada salah satu peserta saja. Seolah Ahran ini spesial sekali. Ini agak mirip kalau di BoR4 terjadi pada Stallza, yang mana OC itu sangat diistimewakan oleh Thurqk, sampai-sampai si Dewa menculik Putri Lan dari realm Stallza demi membuat Stallza ngamuk.

    Tapi saya nggak protes. Semua sah-sah saja di sini :D Lagian entri saya sendiri juga rada ngawur.

    Kurangnya dari cerita ini adalah fokusnya. Agak lambat alur sampai cerita benar-benar jadi menarik, yaitu di klimaks. Saat semua showdown. Kadang narasi agak terlalu melebih-lebihkan suasana hati, sehingga jadinya (kalau buat saya) agak memperlama alur baca.

    Lalu tokoh yang dimunculkan di sini ... mungkin lebih mantap kalau dikasih flashback dulu siapa dia. Alih-alih langsung hadir dan membuat bingung.

    Kalau dari pertarungan sih mantap. Walau kayaknya masih bisa lebih mantap lagi seandainya dibuat lebih rapih lagi fokus ceritanya. Daripada menghabiskan banyak narasi untuk Ahran mainan pendulum :D

    Di akhir cerita ada sesuatu yang terjadi pada Ahran yang mengubah dirinya, dan itu belum dijelaskan. Mungkin pada ronde selanjutnya?
    --
    Itu aja komen saya. Maaf kali ini nggak bisa jadi komentator pertama :D

    PONTEN AWAL 8

    Tapi karena Bu Mawar masih jadi plot penting di hati Ahran, saya tambah +1

    PONTEN AKHIR 9

    ReplyDelete
    Replies
    1. OC: Kusumawardani, S.Pd.

      #kelupaan terus

      Delete
    2. Entah kenapa kalo orangtuanya Bu Mawar komen, saya jadi merinding. Ah, lupakan saja~

      Tapi terima kasih udah komen di entri yg campur aduk suasananya ini Om Hewan~ XD

      Dan entah kenapa saya punya firasat OC saya ini bakalan bertemu Bu Mawar lagi--itu juga kalo saya gak WO atau gugur. Makanya saya gak mau masukin seseorang di hati OC saya selain Bu Mawar XD

      Saya buat begitu ... karena coba-coba nyentuh ranah panitia. Kalo saya liat kebanyakan entri jarang yg kaya gini, makanya kenapa nggak? Dan berkat ini saya jadi dapet bahan buat babak lanjutan X-)

      Soal suasana hati sma pemikiran tokoh itu udah jadi ciri khas yg susah lepas dari saya. Ini gaya saya, mungkin (?)

      Saya mau jelasin Mas Naftali di entri lanjutan aja. Soal pendulum ... karena kaya ga ada jebakan berarti sepanjang benteng, jadi saya panjangin di sini.

      Dan yah, emang itu yg bakal saya eksplor di round 2.

      Sekali lagi terima kasih udah komen dan ngasi poin2 pentingnya. Ah, plot lambat emang sangat ... sangat jleb dan emang itu udah susah hilang dari saya. uwu

      Delete