24.6.15

[ROUND 1 – TEAM B] TAN YING GO – GERILYA DI DALAM HUTAN

TAN YING GO – GERILYA DI DALAM HUTAN
Penulis: Manikmaya



Babak 1 : ACHARYA DARI SRIBOJA

"Begitu seorang murid siap, Sang Guru akan datang."
(Pepatah Buddhisme)

Ying Go pertama kali kenal yang namanya beladiri dari kokonya[1]. Saat itu, usianya masih tiga tahun dan ayah mereka selalu mengajari kokonya gerakan beladiri terutama kuda-kuda, tendangan dan pukulan. Usia kokonya saat itu sudah enam tahun, usia yang dipandang oleh sang ayah sebagai usia yang baik untuk mulai latihan. Ying Go sebenarnya ingin ikut tapi ayahnya selalu melarangnya.


Lalu suatu hari, entah gatal ingin mencoba ilmunya atau insting usilnya kambuh, kokonya menghampiri Ying Go yang saat itu sedang main mobil-mobilan, "Ying Go! Ayo ikut Koko!"

"Ke mana, Ko Johan?" tanya bocah tiga tahun itu polos.

"Koko akan ajari kamu wushu! Mau?"

Si bocah tiga tahun tidak menolak. Berdua dengan kokonya dia berjalan ke halaman rumahnya yang luas. Lalu tanpa instruksi dan tanpa peringatan kokonya sudah melancarkan pukulan lurus ke arah dada Ying Go. Ying Go langsung tersungkur. Dadanya nyeri dan berdenyut.

"Ayo berdiri!" begitu kata kokonya dengan nada sok.

"Sakit Ko," sebenarnya dia nyaris saja menangis tapi bocah itu berusaha keras menahan tangisnya. Dia tidak ingin diledek koko dan cecenya sebagai anak mami yang cengeng.

"Memang sakit! Jadi pendekar itu harus tahan sakit dan harus tahan tidak nangis! Ayo berdiri!" bocah enam tahun berambut cepak itu masih saja pasang wajah congkak di hadapan adiknya yang masih awam dengan ilmu beladiri.

Mata bocah tiga tahun itu kemudian menangkap sosok asing di sudut halaman rumahnya. Sesosok bhikku muda berkepala plontos dan berpakaian selembar kain kuning safron. Ying Go mengira bhikku itu hendak melakukan pindapatta[2]. Bocah tiga tahun itu mencoba berdiri untuk memberitahu ibunya, tapi dadanya masih sakit sehabis dipukul kokonya tadi. Bocah itu meringis namun sosok bhikku tadi kemudian mendekat ke arahnya lalu mulutnya bergerak seperti mengucapkan sesuatu dan tangannya memberi isyarat gerakan dari bawah ke atas, seolah menyuruhnya untuk berdiri.

Anehnya, Ying Go seperti mendapat kekuatan baru ketika bhikku itu menyuruhnya berdiri. Ia pun akhirnya bisa berdiri lalu ia melihat bhikku itu membuat gerakan tangan mengepal dan melancarkan pukulan lurus ke depan. Mulut sang bhikku kembali bergerak, Ying Go tak dapat mendengar suaranya tapi bocah itu menerjemahkannya sebagai : "Coba lakukan seperti tadi."

"Ying Go! Ayo mulai lagi! Coba kau serang aku!" ujar Johan

Ying Go berlari sambil mengayunkan pukulan dari arah samping tubuhnya. Kokonya dengan gesit menghindar lalu mendorong adiknya sampai jatuh tersungkur lagi.

"Ah, payah kamu!" kokonya kembali meledek.

Bhikku itu kembali membuat isyarat. Kali ini berupa gelengan kepala dan lambaian kedua tangannya. Sekali lagi ia mendemonstrasikan gerakan pukulan lurus ke depan diikuti dengan gerakan jari tangan kirinya yang menunjuk kedua kakinya. Bhikku itu mengulangi gerakannya sekali lagi dan Ying Go melihat bahwa sang bhikku membuat gerakan berbeda langkah. Kaki kirinya berada selangkah di depan kaki kanannya dan pukulannya lurus ke depan, tidak melengkung seperti yang dilakukannya tadi.

Mulut sang bhikku kembali membuat gerakan : "Coba lagi!"

Bocah tiga tahun itupun kembali berdiri. Baju dan celananya sudah kotor oleh tanah becek dan air dari rumput basah di kebunnya, tapi ia kembali berdiri. Kokonya masih memasang senyum kemenangan yang meremehkan dan diam-diam bocah tiga tahun itu mulai sebal dengan ekspresi wajah kokonya itu.

"Ayo! Coba serang lagi!" kata kokonya.

Ying Go kali ini tidak berlari. Ia berjalan dengan ritmis teratur. Seperti derap langkah prajurit masa kuno di medan laga. Kokonya masih memandang remeh dia. Tak sampai semenit kemudian kondisinya berubah pecah suara tangisan dari arah kebun itu.

Seorang pria bermata sipit, berpakaian hijau tua dengan baret hijau langsung keluar dari rumah, "Koko! Sudah berapa kali Papa bilang jangan buat adiknya nangis kok  masih sa...?!!!"

Pria itu, Tan Liem Seng, ayah Ying Go dan Johan langsung dibuat terperangah oleh pemandangan yang dia lihat di kebun. Kali ini bukan adiknya yang dibuat nangis, justru kokonya yang dibuat menangis meraung-raung sambil berguling-guling di atas tanah oleh sang adik.

Ibunya keluar beberapa saat kemudian, wanita Tionghoa berambut hitam lurus yang diikat ekor kuda itu berjalan ke kebun dengan kondisi masih memakai celemek masak, "Papa? Kenapa? Johan usil sama Ying Go lagi?"

Yang ditanya terdiam dan begitu wanita itu melihat kondisi yang sebenarnya, ia juga tertegun sesaat sebelum akhirnya menggendong anak sulungnya itu ke dalam rumah.

Ying Go sendiri, begitu melihat ibunya menggendong kakaknya langsung berkata, "Mama, ada Bhante[3] mau minta pindapatta," katanya sambil menunjuk ke arah sang bhante.

Tapi anehnya, dahi ibunya malah mengernyit, "Di mana?"

"Itu di sana!" tangan bocah tiga tahun itu masih menunjuk ke arah bhikku yang masih berdiri sambil tersenyum ke arahnya itu.

"Ying Go!" suara ayahnya terdengar menggelegar, "Jangan berkata bohong untuk menutupi kesalahanmu ya? Baik aku maupun Mamamu tidak lihat ada bhikku di sini!"

"Tapi bhikku itu ada di sana, Papa!" Ying Go bersikeras.

"Sudah Pa, sudah. Mungkin tadi memang ada bhikku kemari tapi Mama tidak dengar dan sekarang bhikku itu sudah pergi," wanita itu kemudian menghampiri putra sulungnya yang masih saja menangis, lalu membantunya berdiri dan menggendongnya masuk ke dalam rumah.

Ying Go sendiri dapat hadiah satu tamparan di pipi kanannya karena tindakannya yang mencelakakan kakaknya.

Bocah itu hanya diam saja, seolah sudah mahfum dengan sikap ayahnya yang keras dan temperamental. Sang bhikku masih berdiri di sana dan menatap bocah itu dengan tatapan teduh.

"Bhante maaf, kayaknya Mama nggak bisa kasih sedekah pada Bhante hari ini."

Sang bhikku kali ini  berjongkok di tanah kemudian menuliskan sesuatu di tanah basah menggunakan jari-jari tangannya. TAK APA.

"Bhante dari vihara mana, aku kok tidak pernah lihat Bhante saat puja bakti[4]?"

Bhante itu kembali menulis di tanah : SRIBOJA.

"Sriboja itu di mana?" bocah itu kembali bertanya.

SUWARNABHUMI, itu tulisan yang ditulis oleh sang bhikku.

"Suwarnabhumi? Itu di mana?"

"Sumatera," kata sang bhikku singkat, akhirnya dia mengeluarkan suara juga sebelum berjalan mendekati Ying Go kecil dan menepuk-nepuk kepalanya, "Nak, kalau kau sudah siap nanti. Aku akan datang lagi."

Kemudian bhikku itu tiba-tiba lenyap begitu saja.

*****

Ying Go terbangun di atas sebuah dipan empuk yang terasa asing baginya. Langit-langit kamarnya berisikan ukiran-ukiran hewan mitologis macam wyvern yang bertarung dengan para kesatria berbaju zirah. Sesaat Ying Go lupa kenapa dia bisa berada di sini, bahkan tertidur di dipan empuk bukannya kasur keras milik barak atau kantong tidur yang sudah bau apak di medan laga.

"HAI! Sudah bangun?" terdengar suara Rahula.

Ying Go menoleh dan mendapati bahwa bajra itu tergeletak di sebuah almari kecil di samping tempat tidurnya.

"Jam berapa sekarang?" tanya Ying Go.

"Yang jelas sudah pagi," kata Rahula, "Tidak ada jam di kamar ini. Ngomong-ngomong tadi ada maid yang ketuk-ketuk pintu mencari kamu."

"Kapan?"

"5 menit yang lalu," kata Rahula.

"Katamu di sini tidak ada jam? Dari mana kau bisa hitung waktu coba?"

"Aku menghitung detik demi detik selagi engkau tidur, Vajira Muni."

Ying Go bangkit dari dipannya dan berjalan ke arah pintu yang terkunci gerendel rangkap dua. Gerendel yang satu lagi ia ingat ia pasang sendiri tadi malam dari kotak perkakas yang ia temukan di bawah dipannya sebagai bentuk pengamanan dari ancaman 'tidak dinginkan' di tengah malam. Salah satunya adalah ancaman dipaksa meniduri (atau ditiduri?) Dyna Might yang siapa tahu saja sudah sembuh total.

Sebuah kertas tergeletak di lantai. Ying Go memungutnya dan membaca isinya : SARAPAN AKAN DISEDIAKAN SAAT LONCENG BERBUNYI TUJUH KALI.

"Apa sudah ada suara lonceng berbunyi tujuh kali, Rahula?" tanya Ying Go.

"Belum, ngomong-ngomong barusan aku mendapatkan visi dari mimpimu. Kau bermimpi tentang Acharya ya?"

"Acharya?"

"Acharya dari Sriboja."

"Bhikku itu!" Ying Go kembali teringat pada sosok misterius yang menemuinya di usia tiga tahun.

"Ya."

"Siapa dia?"

"Orang yang memahat aku sehingga bisa menjadi seperti ini, Vajira Muni yang pertama."

*****
Saat lonceng telah berbunyi tujuh kali, Ying Go pun keluar dari kamarnya dan berjalan turun ke lantai bawah. Ternyata ia ditempatkan di lantai tiga dari sebuah  bangunan penginapan besar berdinding batu dengan desain interior yang terbuat dari kayu. Sebagian besar desain interiornya memiliki motif ukiran Asia Tengah. Bentuk-bentuk simetris macam wajik dan segitiga yang saling bertaut, beberapa bangun simetris itu membentuk motif hewan seperti kambing atau elang pemburu, beberapa lagi membentuk rupa pemburu berkuda.

Baru saja kakinya menapak lantai dasar, Ying Go sudah mendengar kericuhan di antara peserta. Mereka meributkan alasan kenapa yang kembali dari medan perang hanya 48 orang. Ke mana yang lainnya? Ke mana panitianya? Kenapa panitia tidak menampakkan batang hidungnya? Dan lain sebagainya.

Seorang maid bernama Anastasia berusaha menenangkan peserta dengan memberikan penjelasan soal ronde berikutnya. Lebih tepatnya, Anastasia sama sekali tidak mengindahkan celotehan para peserta dan terus saja nyerocos soal aturan di ronde pertama. Para peserta yang merasa diabaikan akhirnya mau tidak mau terpaksa mendengar penjelasan Anastasia.

"Baiklah, saya akan mulai menjelaskan tentang misi kalian pada ronde pertama!" Sahut Anastasia seraya menepuk kedua tangan di depan dada.

Satu-persatu layar hologram mulai bermunculan di udara. Layar-layar tersebut menunjukan gambar bergerak seperti video. Para peserta yang tadinya ricuh satu persatu mulai penasaran dan tertarik dengan beragam pemandangan yang tampak pada layar hologram di sekitar mereka. Ada layar yang menunjukan pegunungan bersalju, sebuah kota yang berada di dalam air, dan ada juga layar yang memperlihatkan pemandangan indah sebuah hutan lebat.

"Pada Ronde pertama turnamen, kalian akan kembali di kirim dalam kelompok seperti sebelumnya, hanya saja kali ini anggota kelompok akan ditentukan oleh RNG-sama, jadi kalian tidak bisa memilih anggota kelompok kalian seperti sebelumnya," Anastasia menjelaskan dengan penuh semangat.

"Siapa RNG-sama?" Tanya seorang peserta.

"Ada yang memanggilku?"

Entah karena sebab apa, secara otomatis semua orang yang ada di ruangan itu langsung mengalihkan pandangan pada pemilik suara barusan, yang ternyata berasal dari pintu kedai yang entah sejak kapan telah terbuka lebar. Cahaya matahari menyeruak masuk dari pintu yang terbuka, menyilaukan pandangan semua orang yang berada di dalam kedai.

Saat pintu perlahan mulai tertutup kembali, tampaklah sosok yang baru saja memasuki kedai yang budget penerangannya dikurangi karena keadaan ekonomi kota sedang krisis.

Semua orang tercengang saat sosok tersebut mulai berjalan menuju Anastasia yang berdiri di depan bar. Mata mereka sama sekali tidak percaya ketika melihat sosok makhluk cebol setinggi tidak lebih dari setengah meter, berpakaian seragam pelaut putih dengan garis hijau, dan memegang seekor kucing aneh sambil mengangkatnya ke depan.

Makhluk cebol tersebut melompat ke atas meja bar dan berbalik menghadap para peserta yang masih tercengang.

"Hai," Sapa makhluk itu seraya tersenyum dengan wajah yang tidak lebih dari sepasang garis hitam panjang sebagai mata dan sebuah mulut yang tersenyum lebar.

"INI SUDAH MASUK PELANGGARAN HAK CIPTA!!" nyaris seluruh peserta kompak protes.

Ying Go sendiri hanya diam sambil bertanya-tanya, "Pelanggaran hak cipta?"

"Pelanggaran hak cipta? Kalian ini bicara apa?" Tanya Anastasia sambil memasang wajah polos.

"Jangan pura-pura tidak tahu!" beberapa peserta kembali protes.

"Perkenalkan, kalian bisa memanggilku RNG-sama, karena sementara ini Tamon Ruu dan Hewanurma sedang tidak bisa hadir, maka aku yang akan mengatur pembagian tim untuk ronde pertama," Jelas RNG-sama sambil memasang wajah datar.

"Baiklah mari kita lanjutkan penjelasannya," tambah Anastasia, "Seperti yang kalian lihat pada layar, untuk pertarungan kali ini kalian akan dikirim ke berbagai tempat yang berbeda, setiap tempat memiliki keunikan tersendiri, tapi aku bisa yakinkan kalau semuanya sangat berbahaya."

"Lalau apa yang harus kami lakukan di sana?"

Kalian harus saling membunuh hingga hanya satu orang yang tersisa..." Sela RNG-sama. Aura hitam mulai menyebar dari tubuh mungilnya.

Seluruh peserta tertegun untuk sesaat.

"Maksudmu kami dikirim ke sana dalam tim hanya untuk saling bunuh?! Permainan macam apa ini?!" Protes salah satu peserta yang berbadan besar.

"Oke, abaikan makhluk tidak penting ini, kalian tidak perlu sampai membunuh peserta lain, jika kalian bisa membuat mereka mengaku kalah atau menghajar mereka sampai pingsan, itu sudah cukup," Anastasia kembali menjelaskan.

Mendengar hal tersebut, para peserta kembali bernafas lega.

"Untuk detail misi akan dijelaskan oleh pemandu masing-masing tim sebelum berangkat ke tempat pertarungan, kalian punya waktu sampai besok pagi, jadi beristirahatlah yang cukup," Anastasia membungkuk memberi hormat pada para peserta, kemudian melangkah keluar dari kedai.



Babak 2 : DUA PANCASILA

"Jangan percaya begitu saja akan apa yang engkau dengar. Jangan percaya begitu saja akan tradisi, desas-desus, atau banyaknya omongan.  Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu tertulis di dalam kitab agamamu. Jangan percaya begitu saja pada kewenangan guru-gurumu. Namun melalui pengamatan dan analisis, jika engkau temukan bahwa suatu hal sesuai dengan nalar dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengan hal tersebut."
(Buddha Sakyamuni / Siddharta Gautama)

Pistol Ying Go sudah kehabisan peluru saat dikejar-kejar 'Ancaman Kesehatan' sebelum sebuah prasasti batu padas konyol dari zaman modern yang dia hancurkan melemparkannya kemari. Untunglah meski katanya negeri ini sedang krisis moneter namun tetap nekat mengadakan turnamen macam ini, mereka masih menyediakan perlengkapan yang dibutuhkan kontestan. Ying Go memesan data diri kontestan, lima magasin pistol serta bahan pewarna wajah DEET pada seorang maid.

Permintaannya tidak seluruhnya dipenuhi, Ying Go memang dapat daftarnya, tapi ia hanya diberi 3 magasin dan sekotak kecil DEET, tapi baginya itu sudah cukup. Seorang maid yang mengaku bernama Nara dan mengaku sebagai pemandunya mengumpulkan Ying Go bersama lima orang lainnya. Mereka adalah Frost – biarawati gereja Hepaesthus, Bu Mawar – ibu guru cantik dari Desa Sukatarung, Aragon – sepertinya pengelana, Pitta – seorang bocah lelaki yang tampaknya seorang koki, dan Liona – seorang gadis bertelinga lancip dan berjubah ungu.

"Yak, saya rasa Anda semua sudah paham kan, apa yang harus kita lakukan di sana?" tanya Nara.

"Maaf," Ibu Mawar mengangkat tangannya, "Apakah harus kita melakukan yang namanya pembunuhan? Bisakah kami mengalahkan lawan tanpa melakukan pembunuhan?"

"Iya Nona, aku belum pernah membunuh dan takkan mau membunuh," kata Fapi, si koki bertubuh gempal itu.

"Ah kalian jangan khawatir soal itu," kata Nara, " Tempat kalian bertanding nanti ada di Dodonge Deep Forest, di Planet Sol Shefra. Di sana Anda semua tidak diwajibkan untuk saling membunuh. Sebagai gantinya Anda akan mendapat tiga buah bola kristal yang melayang di sekitar tubuh kalian. Ketiga kristal ini adalah penanda nyawa dan apabila ketiganya hancur maka kalian dianggap kalah. Cara menangnya mudah. Silakan hancurkan kristal nyawa para peserta lain dan pertahankan kristal nyawa kalian. Peserta yang berhasil mempertahankan kristalnya hingga akhir dianggap menang. Membunuh lawan akan dianggap kalah."

"Oh syukurlah," ujar Fapi.

Aragon hanya diam sambil melirik penuh arti pada Liona. Bu Mawar tampak langsung berceloteh dengan Fapi dan Frost yang intinya mengajak mereka untuk mensurvei medan tempur untuk beberapa saat sebelum menentukan apakah nantinya akan bersekutu atau berpisah. Tampaknya Bu Mawar adalah seorang orator handal karena Frost dan Fapi tampak manggut-manggut saja mendengar ocehan Bu Mawar.

"Siap?" tanya Nara.

Belum sempat keenam orang itu menjawab, sebuah portal sudah menghisap mereka dan membawa pergi dari penginapan tersebut.


******

Hutan sudah tidak asing bagi Ying Go. Dia sudah sering ke hutan. Meski tidak ada misi, paling tidak sekali setahun dia pasti tinggal di hutan selama 2 minggu atau sebulan untuk latihan survival. Dibekali hanya satu stel pakaian dan kantong tidur, di sana ia harus makan tikus, celeng, ular atau kadal dan daun-daunan untuk bertahan hidup. Latihan ini adalah sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan kalau tidak mau gajinya dipotong atau baret merah di atas kepalanya diganti lagi dengan baret hijau.

Mulanya mereka berenam muncul di satu tempat yang sama. Namun baru sepuluh detik berpijak di tanah, lempeng tanah yang dipijaki enam kontestan itu sudah bergetar dan terpecah ke enam arah. Ying Go dibawa potongan lempeng yang ia pijak ke dalam bagian hutan yang tampaknya merupakan pusat hutan. Seusai melakukan tugasnya, lempeng tanah itu lebur menjadi butiran pasir.

Bukan rahasia lagi jika di hutan terdapat banyak hal aneh-aneh. Teman-temannya di kesatuan punya aneka cerita soal hutan, mulai dari ular besar yang melayang di atas tanah yang menurut penduduk setempat adalah 'siluman ular', gadis cantik penggoda di tengah hutan, gadis cantik berambut hitam panjang dan berpakaian kain putih mirip sprei, sampai sosok raksasa hitam yang lazim dikenal sebagai gendruwo.

Baru saja Ying Go mendarat di sini, ia sudah disambangi sosok aneh. Sesosok gadis muda yang sama sekali tak mengenakan pakaian dengan kulit berwarna hijau dan kaki yang tidak menapak tanah.

"Selamat datang," gadis itu mengeluarkan suara lirih diikuti dengan sejumlah gerakan mulut yang tidak bisa Ying Go dengar suaranya atau mengerti maksudnya. Namun saat Ying Go hendak bertanya lebih jauh tapi gadis itu sudah menghilang.

"Siapa itu tadi ?" tanya Ying Go.

"Jiwa Hutan," kata Rahula.

"Jiwa Hutan?"

"Hutan ini berjiwa," kata Rahula.

"Tentu saja, semua makhluk punya jiwa."

"Maaf, bahasaku mungkin salah. Hutan ini berjiwa dan bernalar."

"Maksudmu?"

"Masing-masing benda yang ada di hutan ini punya pikiran dan kehendaknya sendiri. Gadis peri tadi datang mewakili segenap penduduk hutan. Hutan ini akan menoleransi kehadiranmu namun jika kau melakukan pembunuhan, maka seluruh hutan akan melawanmu. Mereka tidak suka ada bardo[5] karena bardo bisa mengganggu kehidupan hutan."

"Argh! Merepotkan!"

"Tak terlalu merepotkan, patuhi saja Pancasila."

"Pancasila yang mana maksudmu?"

Sebagai seorang penganut Buddhisme sekaligus anggota Tentara Nasional Indonesia, Ying Go memang 'diikat' oleh dua Pancasila : versi pemerintah dan versi Buddha. Bunyi Pancasila versi pemerintah tentu sudah diketahui setiap warga negara Indonesia yakni :
1.    Ketuhanan Yang Maha Esa
2.    Kemanusiaan yang adil dan beradab
3.    Persatuan Indonesia
4.    Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan
5.    Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia
Sementara Pancasila versi Buddha berbunyi :
1.    Aku bertekad melatih diri untuk menghindari pembunuhan.
2.    Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan
3.    Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan asusila.
4.    Aku bertekad untuk melatih diri menghindari ucapan yang tidak benar.
5.    Aku bertekad untuk melatih diri menghindari segala minuman dan makanan yang dapat menyebabkan lemahnya kewaspadaan.

"Tentu saja Pancasila yang bukan dipajang di perisai burung Garuda itu lah!" ujar Rahula.

Sekali lagi Ying Go dihadapkan pada dua asas yang 'saling bertentangan'. Sila yang paling dijunjung TNI, dalam hal ini kesatuannya – Kopasssus, adalah Sila Ketiga : Persatuan Indonesia. Artinya Persatuan Indonesia harus dijaga dengan segala cara, mulai dari diplomasi, pembangunan, pendidikan, pengembangan SDM, dan kalau terpaksa ... sabotase dan kekerasan – yang biasanya jadi porsi tugas kesatuannya. Di sisi lain untuk selamat dari hutan ini, Rahula menyarankan ia mematuhi Pancasila Buddhisme, sesuatu yang 'agak mustahil' Ying Go lakukan. Sebagai tentara, ia jelas pernah membunuh orang, sebagai intel Sandi Yudha ia jelas sering berucap yang tidak benar dan mengambil barang yang tidak diberikan secara sukarela padanya.

"Aku sudah sering melanggar Pancasila yang kedua itu Rahula, jangan harap aku bisa mematuhinya di hutan seperti ini."

"Kau memang tak wajib mematuhi atau mendengarkan Rahula seratus persen," ada suara terdengar di balik Ying Go, Ying Go menoleh dan mendapati Acharya dari Sriboja, dalam wujud transparan tengah berjalan mendekatinya, "Dan kau Rahula, jangan terlalu terpaku pada satu aturan semata."

"Jangan lekas percaya Ying Go!" kata Acharya. Sosok bhikku itu kini tak lagi mengenakan pakaian kuning safron seperti saat menemuinya di masa lalu melainkan memakai kain hitam legam.

"Ingatlah", kata Acharya lagi,  "Jangan percaya begitu saja akan apa yang engkau dengar. Jangan percaya begitu saja akan tradisi, desas-desus, atau banyaknya omongan.  Jangan percaya begitu saja hanya karena hal itu tertulis di dalam kitab agamamu. Jangan percaya begitu saja pada kewenangan guru-gurumu. Namun melalui pengamatan dan analisis, jika engkau temukan bahwa suatu hal sesuai dengan nalar dan mendatangkan kebaikan dan manfaat bagi diri sendiri dan semua, maka terimalah dan hiduplah sesuai dengan hal tersebut," sesudah berkata demikian, Acharya pun menghilang.

Ying Go langsung ingat lagi pada konsep sikap kritis dan penalaran yang harus jadi pertimbangan dalam mempelajari suatu hal. Aturan memang perlu dipelajari dan berusaha ditaati tapi nalar tetap harus dipakai. Dan ucapan seorang guru sekalipun ... tidak harus selalu ditaati jika tidak mendatangkan manfaat. Ucapan Rahula juga tak terkecuali.

"Terima kasih Bhan ....," lagi-lagi Acharya dari Sriboja kembali lenyap.

"Maaf Rahula, kayaknya aku nggak bisa lakuin saranmu lagi."

"Yah, terserah kau sajalah, kau yang lebih tahu soal bertempur di hutan," jarang-jarang Rahula bersikap patuh dan tidak berdebat dengan Ying Go seperti saat ini.

Ying Go membuka kotak krim DEET[6]-nya lalu mulai mengoleskan krim berwarna hitam itu ke wajah dan tangannya. Krim itu memberikan aksen warna hitam pada wajah dan tangannya, memudahkannya berkamuflase dalam hutan sekaligus mengurangi resiko luka bakar kalau-kalau ada makhluk di hutan ini yang bisa menyemburkan api atau punya senjata peledak. Begitu ia sudah selesai tiga buah bola kristal warna ungu kecubung gelap muncul di sekelilingnya dan mengitarinya bak satelit mengitari planet. Kemunculan ketiga bola itu berarti satu hal : pertandingan sudah dimulai!

*****

Ying Go mengamati pakaiannya yang lain. Idealnya dia harus pakai pakaian warna hijau loreng atau hitam kalau mau bertempur di hutan, tapi untuk sementara kemeja merah kotor dan celana jeans hitamnya bukan pilihan yang terlalu buruk mengingat ia tak punya pakaian ganti. Begitu semua persiapan ia rasa sudah beres, ia langsung melenting ke atas sebuah cabang pohon dan mencari keberadaan lawan-lawannya. Di pohon ini ia tidak menemukan satu lawan pun karena itu Ying Go pun meloncat ke pohon di seberangnya. Gravitasi berusaha menariknya meski gagal karena kaki Ying Go sudah berpijak pada dahan pohon sebelah, namun kejadian ini kembali mengingatkan Ying Go bahwa di sini kemampuan terbangnya dibatasi.

Ying Go melintasi pohon demi pohon dengan sesenyap dan secepat yang ia bisa. Setelah melintasi sejumlah pohon, ia melihat seorang pemuda gemuk yang membawa-bawa tas punggung besar di kejauhan. Fapi, nama panggilan pemuda itu, tampak kebingungan karena yang ia lihat di depan, belakang, kanan, dan kiri dirinya hanyalah pohon, semak, pohon dan semak lagi. Ada jalan setapak kecil yang bercabang ke beberapa arah tapi tampaknya Fapi masih ragu untuk memilih salah satunya.

Ying Go melihat kebingungan Fapi sebagai kesempatan. Dengan hati-hati, ia turun dari pohon dan menghunus sangkur komandonya. Ia dekati Fapi selangkah demi selangkah sambil terus mewaspadai adanya batang kayu dan ranting kering yang bisa menimbulkan suara jika terinjak olehnya. Ia tidak mau Fapi mendengar kedatangannya.

Jarak antara Ying Go dan Fapi makin tipis, dari yang tadinya 18 langkah, turun menjadi 16 langkah, lalu 10 langkah dan akhirnya Ying Go berada tepat di belakang Fapi yang masih mengamat-amati jam tangan canggih di tangannya dengan wajah kebingungan.

Satu pukulan yang mengenai bagian tengkuk Fapi membuat sistem pengatur kesadaran di otak Fapi langsung terganggu sehingga Fapi akhirnya oleng kemudian jatuh pingsan. Ying Go tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Dengan sangkurnya ia langsung menghancurkan tiga bola kristal putih milik Fapi. Lalu tubuh Fapi yang pingsan ia seret ke sebuah gua yang letaknya tak jauh dari tempat Fapi berdiri tadi lalu meninggalkan Fapi di sana setelah sebelumnya ia memeriksa arah mata angin di jam Fapi.

Sayangnya kompas di jam Fapi tidak menunjukkan arah mata angin dengan baik. Jarum kompas itu selalu memutar tanpa henti sehingga tidak bisa dipakai. Ying Go kembali keluar dari gua lalu berjalan mendekati sebuah pohon besar yang hendak ia panjat untuk melihat kondisi sekitarnya. Namun suara dentam langkah di lantai hutan membuat ia refleks menghindar ke samping dan langsung dibuat terkejut ketika sebuah pedang gladius sepanjang 110 cm terayun ke posisinya tadi dan nyaris membelah dahinya. Ying Go berhasil menghindar di saat yang tepat tapi pedang gladius itu menghantam pohon besar tadi dan membuat batangnya terselimuti es.

"Berani-beraninya kau menyerang Fapi dari belakang!" kata gadis pemilik gladius tersebut sembari mengayunkan gladiusnya berulang-ulang ke arah Ying Go.

Dasar bermain pedangnya bagus meskipun tampaknya gadis itu kurang pengalaman lapangan. Itu terbukti dari kakinya yang berkali-kali terjerat tanaman merambat karena salah melangkah. Kemampuan gadis itu juga hebat. Pedangnya mampu membekukan setiap benda yang terkena sabetannya. Sungguh berbahaya jika sampai Ying Go terkena sabetannya. Bisa-bisa dia pulang dalam kondisi cacat dan Ying Go tidak mau berakhir dalam kondisi seperti itu.

Ia sempat berpikir untuk menggunakan guan dao miliknya, tapi ia merasa itu terlalu berlebihan. Lawannya sebenarnya bisa ditaklukkan dengan mudah oleh tiga kali tembakan pistol, satu peluru untuk satu kristal biru yang melayang di sekitar gadis tersebut, hanya saja tembakan pistol beresiko memberitahukan keberadaan dirinya pada lawan-lawannya dan Ying Go berusaha menghindari hal tersebut.

Tadinya Ying Go merencanakan akan memakai strategi pukul-dan-lari untuk melawan Frost sembari membuatnya lelah. Sayangnya gadis bernama Frost itu punya kejutan lebih daripada sebuah pedang yang bisa membekukan benda. Tiga menit setelah berhasil menghindari hantaman pedang pembeku itu, efek bekunya tampak sudah hilang. Hantaman pedang itu tak lagi membekukan benda yang terkena bilahnya, Ying Go merasa ini sebuah kesempatan dan melesat lalu menyabet sebuah bola kristal milik Frost dan menjatuhkannya ke tanah kemudian menginjaknya sampai hancur.

Frost tidak terlalu mempedulikan hancurnya sebuah bola kristal miliknya. Ia kemudian menggosokkan telapak tangan kirinya ke pedangnya dan kembali mengayunkannya ke arah Ying Go. Ying Go tak sempat berkelit menghadapi serangan satu ini karena Frost telah memojokkannya pada daerah semak berduri. Secara refleks ia menangkis serangan Frost dengan tangan kirinya. Pedang gladius Frost membuat luka sayat di lengan kiri Ying Go namun Frost juga segera mendapat serangan balasan berupa bogem mentah yang mendarat tepat di sendi lengan kanannya.

Serangan Ying Go pun berlanjut dengan sapuan kaki kiri yang menjegal kaki Frost hingga biarawati gereja Hepaesthus itu terjerembab ke lantai hutan yang penuh dengan rumput dan lumut. Namun efek imbuhan kekuatan Frost pada senjatanya segera bereaksi pada Ying Go. Ying Go bisa merasakan gerakannya kini menjadi makin lambat dan seluruh otot di tubuhnya seperti dibuat mengkerut sedemikian rupa oleh kekuatan yang tidak ia kenali.

"Sihir pembeku otot," ujar Rahula, "Sama seperti milik Skadi! Mundur sejenak, Ying Go!"

Ucapan Rahula benar, Skadi – atau nama aslinya adalah Helena Meer – rekannya di kelompok Contra Mundi, juga punya teknik semacam ini untuk memperlambat gerak lawan. Meski teknik pembeku otot Frost belum sehebat milik Helena, tetap saja Frost adalah lawan yang patut diwaspadai.

Ying Go memperkirakan sudah lewat setidaknya tujuh menit semenjak ia terakhir kali menggunakan kemampuannya untuk melayang, karena itu ia dengan segera memutuskan untuk melakukan aksi melawan gravitasi dan melesat masuk ke dalam hutan, meninggalkan Frost yang mencoba mengejarnya namun tertinggal jauh karena Frost berkali-kali salah memperkirakan ke mana Ying Go melompat.




BABAK 3 : FROST VS. ARAGON

"Kemenangan atas suatu perang akan melahirkan kebencian."
(Buddha Sakyamuni)

"Ah sial! Ke mana sih perginya orang itu?" keluh Frost.

Frost masuk makin dalam ke hutan yang penuh dengan pohon berkayu keras itu. Matanya menerawang ke segala arah, mencoba mencari tanda-tanda keberadaan musuhnya itu. Frost sama sekali tidak sadar bahwa Ying Go berada di atas cabang sebuah pohon yang letaknya 20 meter di atas kepalanya, namun karena Ying Go berbaur dengan sangat baik di antara rerimbunan pohon, maka Frost tak dapat melihatnya.

"Ying Go, sebaiknya kau pindah ke cabang lain, pohon ini sudah mulai merasa tidak nyaman dengan .... kehadiranmu!" kata Rahula.

Ying Go tak bisa mengabaikan perkataan Rahula. Dahan pohon yang ia pijak memang bergoyang cukup keras seolah hendak mengusirnya. Ying Go pun akhirnya melompat ke dahan pohon lain yang berada di sebelah pohon tadi lalu segera mengatupkan kedua tangannya di dada sembari berujar, "Izinkan saya menumpang di tubuh anda sebentar, wahai pohon."

Tentu saja pohon tadi tidak menjawab salam Ying Go. Itu tadi hanya sebuah formalitas yang disarankan Rahula pada Ying Go sebagai ungkapan 'minta izin'  pada setiap pohon di area hutan ini kala Ying Go bakal memijak dahan mereka lebih dari 10 menit.

"Mereka punya jiwa dan nalar, mereka juga menghargai salam hormat seperti manusia," kata Rahula lagi.

Di bawah sana Frost baru saja hendak menyudahi pencariannya atas Ying Go dan mulai membalikkan badan. Ying Go di atas sana melihat ini sebuah kesempatan untuk menyergap Frost, namun dengan segera Ying Go mengurungkan niatnya ketika mendengar suara ranting kering yang terinjak di kejauhan sana.

Frost tampaknya juga mendengar suara itu. Gadis itu langsung waspada dan menggosokkan tangannya ke pedang gladiusnya sehingga pedang itu mengeluarkan pendar biru selama beberapa saat. Setelah itu Frost langsung menghujamkan bilah pedangnya ke tanah dan membentuk dinding es yang memanjang ke arah sumber suara itu.

Dari sumber suara itu melesatlah seorang pria bertudung abu-abu yang langsung mengayunkan pedangnya ke arah Frost. Frost sigap menangkis serangan lawannya. Pedang gladius Frost beradu dengan pedang panjang milik lawannya itu. Frost dapat menangkis serangan pertama lawannya namun tidak dengan serangan kedua lawannya yang berupa tendangan telak ke dadanya.

Frost tersungkur ke belakang sejauh beberapa langkah dari posisinya semula. Tendangan lawannya punya daya yang tidak main-main. Kalau fisik Frost tidak dilatih di biara Hepaesthus sudah pasti Frost tak mampu bangun lagi pasca diserang pria berjubah dan bertudung kelabu itu.

"Sekarang kau tak bisa lari lagi, Nona!" kata pria bernama Aragon itu.

Frost tidak menyerah begitu saja, kali ini ia keluarkan tongkat dan kodachi miliknya, yang langsung ia gabungkan menjadi tombak berbilah pedang dengan panjang total 135 cm. Frost pikir ia bisa mengimbangi kelincahan Aragon bermain pedang dengan menggunakan senjata jangkauan menengah di kedua tangannya.

Sayangnya Frost keliru soal itu. Aragon justru melihat keputusan gadis itu sebagai sebuah kesempatan untuk segera melumpuhkan lawannya. Jadi saat gadis itu mulai melancarkan lebih dulu, Aragon segera mengeluarkan salah satu serangan terkuatnya.

"Isa Froza de Circla!"  kata Aragon sembari membuat gestur tangan seolah tengah mendorong sesuatu di hadapannya. Ia melakukannya ketika jarak Frost hanya tinggal dua langkah dari dirinya.

Efek serangan Aragon memang tak sampai sedetik namun dalam sekejap saja, segala makhluk yang ada dalam radius 50 meter dari tempat Aragon berdiri sudah tertutup lapisan es tebal, membeku seluruhnya, dari mulai burung-burung, pohon, semak, sampai hewan mirip rusa elk. Frost pun tak terkecuali. Bedanya Frost tidak membeku seutuhnya. Ia masih bisa menggerakkan tubuhnya namun dengan segera seluruh otot tubuhnya mengalami kram hebat. Untuk melangkah ataupun mengangkat pedang sekalipun Frost merasa kesulitan.

"Maafkan aku Nona. Tapi kau harus tersingkir sekarang juga," Aragon langsung menghancurkan dua bola kristal penyangga nyawa Frost dengan sabetan pedang berbilah warna biru miliknya.

Begitu seluruh kristal Frost hancur, tubuh Frost pun terkapar di tanah. Masih hidup dan bernafas namun terbujur kaku tanpa daya.

"Aaah," Aragon menepuk jidatnya, "Aku lupa bertanya di mana ia menyembunyikan wanita berkerudung itu." Serangan mendadak Frost tadi memang langsung membuat Aragon refleks menyerang tanpa sempat menanyakan pada Frost lokasi Bu Mawar saat ini.

Dan di atas sana Ying Go yang tadi sempat menghindar ke arah pepohonan yang lebih jauh kembali lagi ke lokasi tempat Frost dan Aragon tadi bertarung. Di sana ia mendapati Frost telah terkapar dan sekarang wilayah sekitar tempat itu menjadi padang es.

Diam-diam Ying Go berterimakasih pada Aragon yang sudah membuatnya tidak perlu repot-repot mengatasi Frost. Sekarang Ying Go bisa serangan ke peserta lain. Aragon akan ia urus nanti saja.

Di bawah sana Aragon yang tampaknya mulai mencurigai adanya pihak lain yang mengamat-amatinya sudah bersiap melemparkan sebilah pisau ke arah pohon di mana Ying Go bersembunyi. Tetapi belum sempat Aragon melakukan hal itu, tiba-tiba pohon di belakangnya berderak dan mengayunkan salah satu cabangnya ke arah Aragon. Aragon pun terpental dan menabrak sebuah pohon besar yang ternyata juga bereaksi tidak suka terhadap dirinya.  Pohon itu menjatuhkan buah-buahnya yang berkulit dan berbiji keras ke arah Aragon. Aragon pun langsung menghindar namun lagi-lagi ia dihajar dengan lontaran batu-batu yang tiba-tiba saja melepaskan diri dari bongkahan-bongkahan induknya. Selain itu sekumpulan burung tiba-tiba saja mengerubutinya.

"Dan hutan pun marah," ucap Rahula pada Ying Go yang masih mengamati di atas pohon.

"Aku tidak mengerti. Frost tampaknya masih hidup, jadi tidak ada yang terbunuh, tapi kenapa hutan ini marah?"

"Bagimu tidak ada yang mati, Ying Go, tapi bagi hutan ini separuh jiwanya diambil oleh Aragon barusan. Coba kau dengar, tak ada lagi suara tonggeret, tak ada lagi suara kicau burung! Di dahan yang letaknya sekitar pukul 11 dari posisimu sekarang, ada sarang burung. Ada dua anak burung dan seekor induk di dalamnya yang mati karena serangan Aragon. Hutan ini bukan hanya membenci bardo manusia, Ying Go. Hutan ini membenci siapa saja yang menyebabkan penghuninya mati karena sebab yang tidak alami."



Babak 4 : INTIMIDASI

"Mereka (intelijen) adalah prajurit-prajurit bayangan yang bertempur dalam perang adu pintar."
(Kolonel Zulkifli Lubis, Pendiri Badan Intelijen Negara)

Di bagian lain dari Dodonge Deep Forest, Bu Mawar tampak duduk di atas sebuah batu kelabu berlumut sambil membiarkan sejumlah burung kecil berwarna kecoklatan hinggap di ujung jarinya dan berciap-ciap riang. Sekilas wanita berjilbab tampak tidak punya masalah sama sekali, padahal kepalanya penuh dengan aneka pikiran. Mulai dari masalah Dilham yang terbunuh di preliminary dan bagaimana ia harus menyampaikan hal itu pada orangtua anak itu. Dilham adalah anak tunggal. Kedua orangtuanya menunggu sampai 12 tahun semenjak mereka menikah untuk mendapatkan Dilham. Meskipun anak itu bengal, tapi tentu saja orangtuanya tidak akan terima begitu saja andaikan Bu Mawar menyampaikan kabar duka itu.

Di sisi lain ia juga khawatir pada Frost dan Fapi, dua peserta yang sempat ia lerai dari Aragon yang bertemu mereka pada awal ronde ini tadi. Dua peserta itu tadi nyaris dilumat oleh Aragon, si pemuda berpedang biru, kalau saja sabda kemuliaan guru milik Mawar berhasil membekukan gerak Aragon.

"Stop! Hentikan! Tidak boleh ada yang bertengkar atau menumpahkan darah selama saya ada di sini!" kata Bu Mawar saat itu.

Ayunan pedang Aragon yang tadinya nyaris membuat kepala Fapi sumpung langsung terhenti dan kesempatan itu dipakai Frost untuk menarik Fapi keluar dari area serangan Aragon.

"Mbak yang itu juga diam!" kata Mawar lagi, dan terdiamlah Frost pada tempatnya.

Sebentar kemudian tanah yang dipijak Aragon berderak lalu terpecah dan terpisah dari bagian tanah yang dipijak Frost serta Fapi dan kemudian terbang menjauh dari tempat itu.

Frost hanya bisa dibuat terbengong-bengong menatapi kepergian Aragon. Sementara Fapi langsung menghampiri Bu Mawar sambil mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan, "Aduh, terima kasih sekali sudah menyelamatkan kami dari pria itu Bu Mawar."

"Kenapa pria itu menyerang kalian?" tanya Bu Mawar.

"Entahlah Bu. Mungkin ia hanya ingin segera menyelesaikan turnamen gila ini," kata Fapi yang jabat tangannya hanya dibalas dengan sedikit sentuhan ujung jari oleh Bu Mawar.

"Fapi, hari tampaknya sudah mulai gelap. Sebaiknya kita cari jalan keluar dari hutan ini atau gua tempat berteduh untuk kita," kata Frost.

"Kenapa kok kalian tidak saling serang padahal di sini kita semua lawan?" Bu Mawar tampak keheranan.

"Fapi mengusulkan kami berdua bekerjasama saat kami berdua sama-sama kebingungan. Fapi punya jam kompas dan bisa masak sementara aku tahu sedikit soal bertahan hidup di dalam hutan. Lagipula jika bukan karena Fapi, aku sudah dihabisi Aragon sejak tadi," kata Frost.

"Aku juga akan ikut kalian mencari tempat berteduh," kata Mawar.

"Biar aku saja, aku kan punya kompas," kata Fapi menawarkan diri.

Jadi rencana awalnya adalah : Fapi cari gua tempat berteduh sementara Frost dan Mawar akan menunggu di tempat ini. Namun setelah beberapa saat Frost mulai cemas akan keselamatan Fapi dan minta izin pada Mawar supaya diizinkan menyusul Fapi yang sudah lama pergi.

Frost juga sudah pergi lama namun belum juga kembali. Bu Mawar mulai mengkhawatirkan keselamatan mereka berdua. Ia baru saja hendak berangkat mencari mereka ketika tiba-tiba burung-burung di sekitarnya mulai terbang dengan tidak tenang dan sepanjang pengetahuan Bu Mawar, burung-burung yang resah adalah pertanda akan datangnya sebuah bahaya.

*****

Rekan-rekan Ying Go, baik yang ada di barak Batujajar[7] maupun barak Cijantung[8] punya kebiasaan yang sama dengan orang Indonesia kebanyakan yakni menggunakan singkatan 'gaul nan nyentik' seperti TITI DJ – Hati-hati di jalan atau PAMER PAHA – Padat merayap tanpa harapan – dalam percakapan mereka. Di Batujajar, tiap kali waktu pelesir diberikan, para anggota yang punya kecenderungan 'mata keranjang' alias 'kurang setia pada pasangan' atau hanya sekedar 'JTH – Jomblo Tanpa Harapan', sering nongkrong di tempat yang banyak dikunjungi cewek-cewek cantik. Kadang hanya sekedar cuci mata – mengalihkan perhatian dari beratnya tugas – tapi kadang mereka malah berburu cewek. Cewek-cewek buruan mereka pun punya banyak kriteria antara lain : Gada Alus – Gadis Muda Masih Mulus – atau Adisti Dede – 'Gadis Cantik Dada Gede', Macan Suja – Mama Cantik Sudah Janda atau Jamu Luber – Janda Muda Belum Beranak. Kalau empat tipe cewek itu tak didapat juga maka mereka biasanya sekedar cuci mata dengan mencari-cari Macan Asu – Mama Cantik Anak Satu, atau Macan Manak – Mama Cantik Mbawa Anak.

Saking populernya istilah ini di kalangan mereka, dalam suatu operasi intel, tim Ying Go di Cijantung pun pernah menyebut target operasi mereka dengan istilah Macan Asu 1, Macan Asu 2, dan Jamu Luber 1,2,3,4. Agak keterlaluan memang memakai singkatan macam itu sebagai istilah operasi, tapi hei, bukankah operasi intelijen dari badan tetangga[9] juga sering pakai merk rokok untuk sebut target operasi, misalnya Bentoel, Djarum, Gudang (Garam), Dji, Sam, Soe, atau Wismilak?

Dan sekarang dalam perburuannya untuk melumpuhkan peserta lain, Ying Go malah bertemu dengan seorang Jamu Luber alias Kusumawardhani, S.Pd. Ya, Bu Mawar lebih cocok disebut Jamu Luber daripada Macan Suja karena dia belum punya anak. Dari atas dahan sebuah pohon berdaun jarum, Ying Go berkali-kali harus putar otak untuk melumpuhkan Bu Mawar tanpa menyakiti wanita itu. Hal ini cukup sulit karena Bu Mawar tengah berdiri di sebuah dataran berumput yang banyak ranting keringnya, sehingga beresiko membuat Bu Mawar tersadar akan kehadirannya. Tidak ada pohon tinggi yang ada di dekat Bu Mawar, sehingga mustahil pula melakukan serangan udara dadakan dari atas pohon. Selain itu sebenarnya Ying Go juga tidak tega membuat Bu Mawar pingsan karena dua alasan. Satu : karena wanita itu seorang guru, Dua : dari info yang Ying Go baca Bu Mawar bukan petarung. Ia hanya warga sipil biasa yang apes masuk kemari. Bu Mawar tidak masuk kriteria musuh negara ataupun musuh para Contra Mundi yang harus ia tumpas.


Rencana awal Ying Go sebenarnya sederhana saja. Ia mengendap-endap, membekap mulut Bu Mawar lalu membuat ibu guru muda itu pingsan kemudian melemparkannya ke jurang dangkal atau mengikatnya di pohon sampai pertandingan ini berakhir. Rencananya sih begitu. Rencananya ....

Tapi kalau takdir sudah berkata lain maka yang direncanakan pun bisa batal atau kacau balau.

Ying Go berani bersumpah tiap langkahnya sudah ia perhitungkan dengan cermat dan hati-hati, dengan mata yang selalu awas mengamati lantai hutan, waspada jika ada ranting kering yang rawan patah atau ular berbisa yang menghalangi jalannya. Jalannyabersih, tapi kali tadi ia baru saja menginjak segerombol ranting kering yang entah datang dari mana. Ying Go sendiri bingung kenapa dia bisa seceroboh itu.

Suara ranting kering yang patah itu membuat Kusumawardani, S.Pd. akhirnya membalikkan badan dan mengamati kedatangan seorang pria berpakaian lusuh yang wajahnya diwarnai hitam arang tengah menggigit sebilah sangkur komando hitam di mulutnya.

"Aiii!!!" Bu Mawar memekik tertahan, "Siapa anda? Sungguh tak bermartabat anda ini! Di tengah hutan seperti ini berjalan mengendap-ngendap seperti itu! Membawa pisau pula! Mau apa anda dengan pisau itu?"

Efek kemuliaan guru milik guru berhijab itu benar-benar membuat Ying Go  terdiam dan tak dapat bergerak selama setidaknya dua detik. Langsung menyerang frontal wanita ini pun bukan pilihan yang bagus karena efek hipnotisnya akan memperlambat reaksi serangan Ying Go. Ying Go memperkirakan jika kata-kata wanita itu memiliki efek hipnotis yang bertahan selama dua detik saja, serangannya mungkin saja meleset dan tak tepat sasaran. Ia sama sekali tidak ingin membunuh guru itu, tapi jika serangannya meleset ia bisa saja melukai ibu guru itu di tempat vital.

Pada akhirnya Ying Go terpaksa menerapkan salah satu ilmu yang selama ini tidak ingin ia pakai: teror mental dan intimidasi.

"Tutup mulut sialmu janda penggoda!" bentak Ying Go.

Bu Mawar terkesiap.

"Berapa banyak mata pria bersuami yang dibuat tergoda oleh rupa Anda yang menawan Bu Mawar?"

"Aku ... aku ... sama sekali tidak menggoda suami siapapun," jawab Bu Mawar terbata-bata.

"Oh ya? Lalu bagaimana dengan tatapan mata para lelaki di Desa Sukatarung itu? Pandangan nakal kepala desa, abang becak, dan penjual bunga di makam kepada anda Bu Mawar? Tidakkah Anda sadar bahwa di lubuk hati mereka yang terdalam mereka berfantasi untuk memiliki Anda sebagai istri? Lagipula apa tujuan Anda kemari? Mencari anak-anak desa yang hilang, huh? Apa semua lelaki di Desa Sukatarung telah menjadi sebegitu pengecutnya hingga mengutus Anda mencari mereka seorang diri?"

"I-itu bukan salah mereka. Itu keinginanku sendiri."

"Keinginanmu sendiri huh, Janda Gatalan? Sambil mencari anak-anak itu, Anda jadi punya alasan untuk mencari-cari calon suami baru ya?"

"Ti-tidak seperti itu," dihajar berbagai teror mental dari suara galak nan tegas dari si prajurit itu akhirnya Bu Mawar jatuh tersimpuh dan terisak. Bola-bola transparan berwarna jingga yang tadi berputar mengelilingi Bu Mawar akhirnya ditangkap satu-per-satu oleh Ying Go sebelum diremas hingga hancur.

Seusai melakukan hal itu Ying Go melihat Bu Mawar kini telah tak sadarkan diri. Diam-diam ia menyesal juga telah berkata yang bukan-bukan seperti itu, Maafkan saya karena sudah berkata yang bukan-bukan Ibu Mawar, tapi ini semua demi keselamatan satu negeri!"

"Keselamatan satu negeri ... ck," Rahula membuat suara berdecak, "Dan untuk itu sampai harus mengeluarkan perkataan yang tidak benar? Membusuklah sajalah kau di neraka, Ying Go!"

Entah kutukan Rahula memang manjur atau alam sekitar telah menganggap Bu Mawar sebagai seorang yang perlu dilindungi, tiba-tiba saja sekelompok burung gagak terbang menukik dan menyerang Ying Go. Ying Go refleks melindungi wajahnya dengan kedua tangannya namun burung-burung itu kini malah mematuki kepala, telinga, tangan dan lehernya. Ying Go menghentakkan kaki dan cepat-cepat melayang dari tempat itu. Tapi masalah belum usai. Ying Go merasakan perutnya bergemuruh, tanda bahwa kebutuhan 4800 kalorinya kurang terpenuhi hari ini.

"Burung-burung itu masih terus mengejarnya dan Ying Go sudah mulai kewalahan menghindari mereka. Ia sudah mencoba terbang melintasi celah-celah dahan dengan harapan sebagian dari mereka menabrak pohon namun gagal. Ia sudah mencoba terbang setinggi yang ia bisa lalu menukik tajam guna menghilangkan jejak namun pohon-pohon di hutan ini tiba-tiba menggeser tubuhnya dan mengarahkan cabang-cabang mereka ke satu arah yakni arah ke mana Ying Go lari sehingga rencana ini pun gagal. Ying Go sudah nyaris putus asa menghindar sampai akhirnya ia melihat sebuah danau yang memantulkan sinar matahari bak cermin perak di kejauhan.

Segera Ying Go menukik turun kemudian berlari ke arah danau tersebut sambil memaksa nafasnya untuk teratur. Ketika ia makin mendekati pinggir danau, gerombolan gagak itupun semakin mendekat. Tanpa pikir panjang lagi Ying Go segera menceburkan diri ke danau dan menyelam sampai batas di mana gagak-gagak itu tak dapat menjangkaunya.

Permukaan air danau berkecipak dan berbuih akibat serombongan gagak yang berusaha menyelam ke dalam danau. Namun mereka akhirnya menyerah setelah mencoba menyelam sejauh beberapa centimeter saja. Burung-burung itupun akhirnya terbang kembali ke dalam hutan, meninggalkan Ying Go yang masih menahan nafas di bawah air.

Selang beberapa saatt kemudian Ying Go berenang ke permukaan, menarik nafas lalu menyelam lagi sambil pelan-pelan berenang ke sisi lain dari danau. Penghuni danau ini tampaknya cukup menoleransi keadaannya, tidak seperti penghuni-penghuni hutan tadi.

Setelah Ying Go merasa sudah sembunyi cukup lama di bawah air, ia pun segera naik ke permukaan sambil merasakan sesuatu tengah bergantung di kedua pergelangan tangannya. Ketika ia sudah naik ke permukaan tanah ia dapati sejumlah lintah tengah asyik menghisap darahnya. Naasnya, tak ada daun tembakau ataupun garam yang dapat memaksa lintah-lintah itu melepaskan gigitan mereka, di sekitar sini. Alhasil, terpaksa Ying Go menunggu lintah-lintah itu puas minum darahnya sampai gendut sebelum akhirnya lepas sendiri.



BABAK 5 : MUSLIHAT

"Semua orang bergidik di hadapan anarki karena mereka takut akan kematian."
(Buddha Sakyamuni)

Kejaran makhluk-makhluk hutan pada Aragon dimulai dengan kejaran burung-burung dari aneka jenis mulai dari gagak sampai pelatuk awalnya bisa dia atasi dengan mantra Protecto yang memberinya perlindungan dari segala macam serangan fisik. Namun situasi menjadi semakin gawat ketika tikus mondok raksasa, ular-ular raksasa berbisa serta pohon-pohon hidup mulai bersatu-padu mengejarnya.

Aragon terpaksa menggunakan Isa Froza de Circla sekali lagi untuk menghentikan kejaran makhluk-makhluk tersebut. Usahanya ini berhasil menghentikan sebagian besar pengejarnya namun tidak dapat menghentikan dua ekor beruang yang entah sejak kapan bergabung dengan gerombolan pengejar dirinya yang langsung melompat untuk menerkam Aragon. Aragon yang baru saja terkuras staminanya dan terpaksa mengeluarkan Isa Froza de Circla sekali lagi akhirnya tak bisa membendung rasa pening yang menggelayuti kepalanya. Tubuh Aragon mulai limbung dan sudah pasti akan jadi bulan-bulanan dua beruang itu kalau saja sebuah tirai cahaya tidak menghalangi laju kedua beruang tersebut.

Tirai cahaya itu, Avalon, dirapalkan oleh seorang gadis berambut merah dan berwajah agak tirus yang mengenakan jubah ungu. Kedua beruang itu menghantam-hantamkan kepala mereka ke tirai cahaya tersebut, mencoba mengoyaknya namun sia-sia. Alih-alih tirai cahaya itu terkoyak kepala mereka justru sakit. Mereka hanya bisa memandangi saat gadis berambut merah berwarna Liona itu menarik tubuh Aragon yang tak sadarkan diri menjauh dari mereka semua.

*****

Aragon dibuat terkejut ketika ia membuka mata. Seorang gadis berwajah tirus dan berambut merah tampak di hadapan wajahnya. Secara refleks ia langsung mendorong gadis di hadapannya itu hingga tersungkur.

"Aduh!" omel Liona, "Begitukah caramu berterimakasih pada orang yang sudah menyelamatkan nyawamu?"

"Menyelamatkan ... nyawaku?" Aragon memegangi kepalanya yang pening dan berusaha mengingat-ingat kejadian yang ia alami tadi.

"Kau nyaris diterkam beruang," kata Liona lagi.

Perkataan Liona segera mengingatkannya pada dua beruang tadi, "Kau menolongku, Nona? Terima kasih," kata Aragon tulus, namun dengan segera raut wajah Aragon berubah keras kembali, "Sebentar! Bukankah kita ini musuh? Kenapa kau menolongku?"

"Aku sama sekali tidak menganggapmu musuh Tuan ... Aragon. Aku sebenarnya lebih suka kita jadi teman daripada kita jadi lawan. Nah Tuan, bagaimana kalau kita akhiri saja pertandingan ini dengan cara yang lebih damai dan bermartabat daripada harus baku hantam."

"Dengan cara apa?"

"Suit batu-gunting-kertas. Yang kalah harus menyerahkan kristal nyawanya pada yang menang. Bagaimana?"

Aragon merasa cara itu agak terlalu kekanak-kanaan, tapi tingkah Liona memang agak mirip anak-anak dibandingkan gadis remaja yang sudah berusia 18 tahun.

"Aku tidak terlalu suka usulanmu Nona, tapi untuk sementara akan kupertimbangkan saranmu itu. Lalu akan kuputuskan setelah aku urus peserta yang terakhir."

"Peserta terakhir? Di perjalananku tadi aku sudah menemui Fapi, Frost, dan Bu Mawar yang sudah tidak punya kristal lagi. Sepertinya sudah tak ada lagi peserta selain kita."

"Kurasa masih ada satu lagi," kata Aragon.

"Siapa? Pria berkemeja merah di kedai itu? Memangnya dia bisa bertahan hidup di hutan seperti ini? Dia kan orang kota?"

"Seperti orang kota memang," Aragon menarik keluar sebuah pisau lemparnya dan melemparkannya ke sebuah dahan pohon yang ada di belakang Liona, "Tapi dia tahu cara bertempur di hutan."

"Wow!" Ying Go melompat turun dari dahan pohon yang ia pijak sedari tadi setelah pisau Aragon nyaris membutakan sebelah matanya, "Lemparan yang bagus!"

"Kau Ranger[10] bukan?" tebak Aragon, "Cuma Ranger yang bisa bergelayutan di dahan seperti itu!"

"Aku bukan Ranger, Tuan Aragon. Tapi siapa aku sebenarnya juga tidak penting. Nah, sekarang kau ingin aku habisi kau dulu atau Nona yang di sampingmu itu?"

"Liona, mundur!" kata Aragon.

"Tapi ..., aku juga ingin membantu."

"Jangan khawatir," Aragon tersenyum kepada Liona, "Kita akan suit untuk menentukan pemenangnya setelah aku urus Ranger ini."

Aragon menarik keluar Arian dari sarungnya serta menarik sehelai kain putih Death Cloth miliknya kemudian langsung mengambil posisi kuda-kuda.

"Bangun ... Bajra Rahula!" Ying Go melemparkan bajranya ke angkasa dan menyebutkan nama Rajata tersebut. Rajata tersebut kembali ke tangannya dalam wujud tombak guan dao.

Aragon dan Ying Go saling bertukar pandangan yang saling mengintimidasi sebelum akhirnya Aragon maju lebih dahulu. Aragon menyabetkan pedangnya ke arah kepala Ying Go yang dibalas Ying Go dengan satu lompatan ke belakang dan tangkisan senjatanya. Aragon kemudian membelitkan Death Cloth miliknya ke senjata Ying Go. Disusul dengan satu tendangan telak yang mengenai perut Ying Go. Ying Go mundur dua langkah ke belakang dan Aragon yang merasa sudah di atas angin karena melihat Ying Go menjatuhkan senjatanya langsung mengeluarkan aneka jurus tusukan pedang ke arah Ying Go. Beberapa serangan Aragon memang berhasil mengenai tangan dan bagian samping tubuh Ying Go, tapi tak ada yang masuk fatal. Serangan-serangan Aragon juga gagal mengenai bola-bola kristal nyawa milik Ying Go. Setelah beberapa lama, serangan Aragon tiba-tiba ditahan oleh Ying Go dengan cara menangkap lengan Aragon yang memegang pedang lalu satu bogem mentah mendarat di leher kiri Aragon. Disusul dengan tendangan telak yang mengenai dada Aragon.

Aragon terhuyung. Pukulan di lehernya barusan membuat aliran nafasnya jadi agak terganggu. Kesempatan itu digunakan Ying Go untuk mengambil senjatanya yang tergeletak di tanah dan menghujamkannya kepada Aragon.

Lalu sekali lagi tirai cahaya warna-warni itu menyelamatkan hidup Aragon. Liona Lynn sekali lagi menggunakan kemampuan Avalonnya untuk menyelamatkan nyawa Aragon.

"Liona? Kenapa?" Aragon terkesiap ketika menyadari lagi-lagi nyawanya diselamatkan oleh gadis itu.

"Bukankah sudah kukatakan kalau aku ingin jadi temanmu? Teman harus saling tolong-menolong kan?" kata gadis itu sambil mengulaskan senyum.

Mengetahui lawannya kini dua orang yang tentu saja bukan perkara gampang. Ying Go segera memikirkan strategi baru di kepalanya. Namun belum sempat strateginya rampung Aragon sudah menerjang buas ke arahnya. Pedangnya ia sabetkan dengan kecepatan di luar kecepatan sabetan manusia normal. Ying Go dipaksa berkali-kali menangkis alih-alih menyerang. Aragon kini tidak memberikan kesempatan bagi Ying Go untuk membalas serangan.

Satu kristal nyawa Ying Go berhasil dihancurkan sabetan pedang Aragon, disusul satu kristal nyawa lagi. Aragon makin bersemangat untuk mengalahkan Ying Go karena lawannya ini sekarang hanya punya satu kristal sementara dia masih tiga. Selain itu ia merasa senjata Ying Go sudah pasti kekuatannya berkurang akibat bersentuhan dengan Death Cloth miliknya.

"Kau tidak berpikir Death Cloth murahanmu itu bisa merusak senjataku kan?"

Aragon terkesiap. Ia tidak menyangka lawannya sudah tahu kemampuannya. Ia juga berasumsi bahwa senjata Ying Go tidak mempan terhadap Death Cloth.

Ying Go memutar guan daonya dan menghantamkan ujung bawah senjatanya ke wajah Aragon setelah dua detik dihabiskan pemuda itu untuk bengong.

Efek Avalon ternyata sudah habis. Liona berusaha untuk membentuk Avalon lagi bagi dirinya dan Aragon, namun yang keluar malah Valgus yang berbentuk cambuk cahaya. Liona akhirnya nekat maju ke garis depan untuk menyelamatkan Aragon.

Tapi yang tidak diketahui Liona adalah Ying Go memang mengharapkan gadis itu maju. Rencana Ying Go adalah menyerang gadis itu lebih dahulu sehingga konsentrasi Aragon terpecah. Aragon dan gadis itu 'berteman', teman adalah sebuah ikatan hubungan yang luar biasa kuat, tapi juga bisa membuat masing-masing individunya jadi luar biasa ringkih dalam situasi tertentu. Jika Liona disandera, tentulah Aragon bisa lebih mudah ditaklukkan.

Sayangnya dengan cambuk di tangannya itu, Ying Go tampaknya harus berimprovisasi lagi. Ia menghindari serangan cambuk itu lalu mengeluarkan pistolnya untuk membidik satu kristal nyawa Liona yang berwarna-warni bak pelangi.

Satu kristal nyawa hancur oleh satu terjangan peluru. Aragon terkesiap, Liona pun terkesiap. Lalu tanpa pikir panjang Aragon kembali menerjang Ying Go.

Batang tombak itu kini kembali dipakai Ying Go menangkis serangan Aragon. Tombak adalah senjata jarak jauh sementara pedang adalah senjata jarak menengah. Agak sulit mengatasi pedang dengan tombak sebenarnya, apalagi Aragon termasuk petarung yang agresif dan sulit dicari celahnya. Akhirnya Ying Go melayang mundur untuk memberi jarak antar mereka. Aragon langsung menyusul dengan Liona yang masih memegang cambuk cahaya berdiri beberapa langkah di belakang Aragon. Ying Go langsung berlari melampaui Aragon dan hendak menyerang Liona. Liona langsung panik sementara Aragon langsung berlari menyerang Ying Go. Kembali Aragon dan Ying Go berhadapan dan saling tangkis serangan. Namun Aragon yang sudah mulai lelah tidak menyadari bahwa Ying Go mulai memposisikan dirinya di antara dirinya dan Liona.

Liona merasa ini saatnya bagi dirinya untuk mengalahkan Ying Go. Maka iapun berlari mendekat ke arah Ying Go dan melecutkan cambuknya. Ying Go menghindar tepat saat cambuk itu hendak mengeai tubuhnya dengan terbang melayang ke angkasa lalu mengubah guan dao di tangannya menjadi bajra kembali dan melemparkannya ke tanah.

Suara guntur menggelegar terdengar saat bajra itu membentur tanah, disusul dengan gelombang ledakan kuat yang melontarkan baik Liona maupun Aragon ke arah yang berlawanan.

Aragon berusaha bangkit berdiri namun sulit. Keseimbangannya agak terganggu pasca ledakan tadi. Ketika ia berhasil berdiri ia malah melihat sosok Liona yang sudah tidak berdaya berada dalam dekapan Ying Go.

"Bangsat! Mau apa kau dengan Liona?"

"Mau membunuhnya," Ying Go menghunuskan sangkur komando hitamnya dan mendekatkannya ke leher Liona.

"Stop! Hentikan!"

"Kau mau aku menghentikannya Tuan Pendekar Pedang? Maka maju dan mendekatlah! Rebut dia dari aku dengan kekuatanmu sendiri!"

Aragon berlari dengan tertatih ke arah Ying Go dengan nafsu membunuh yang luar biasa. Ia seperti melihat Ying Go bak raja tiran dari dunianya. Namun ketika melihat Liona yang tak berdaya ada dalam genggaman Ying Go tiba-tiba Aragon terpikir bahwa bisa saja Liona terbunuh jika ia tak hati-hati. Gadis itu masih tampak menghembuskan nafas, gadis itu sudah menolongnya dua kali. Gadis itu menyebutnya teman. Gadis itu mungkin adalah satu-satunya teman yang benar-benar mau menolongnya setelah sekian lama ia berkelana seorang diri. Masakan ia tak bisa menolongnya? Masakan ia tega nyawa gadis itu meregang di tangan pria jahat ini?

Ketika jarak antara Aragon dan Ying Go hanya tinggal beberapa langkah, Aragon akhirnya bimbang. Ia mulai ragu apakah akan terus menyerang Ying Go atau menyerah dan memohon agar Ying Go membiarkan Liona pergi? Ia tak sudi menyerah pada tiran dan orang-orang congkak yang belum tentu menepati janjinya. Tapi ia juga tidak bisa membiarkan Liona mati begitu saja.

"Lepaskan dia!" seru Aragon.

"Apa tawaranmu?" tanya Ying Go.

"Apa permintaanmu?"

"Kristal nyawamu," kata Ying Go, "hancurkan mereka dengan tanganmu sendiri dan temanmu ini akan kubebaskan."

"Apa kau berjanji akan melepaskannya?"

"Aku janji!"

"Apakah kau bersumpah demi para dewa-dewa hutan dan dewa-dewa bumi?"

"Aku bersumpah!"

"Baik kalau begitu," Aragon kemudian menyabet sendiri dua kristal nyawanya yang masih tersisa pasca hantaman bajra tadi lalu meremukkannya menjadi butiran pasir, "Sudah kulakukan!"

"Dia kulepaskan," Ying Go membaringkan tubuh Liona yang sudah tak sadarkan diri dan tak lagi memiliki kristal di tanah berumput. Aragon tampaknya berusaha menghampiri Liona namun dengan segera kesadarannya hilang dan ia pun jatuh tertidur di tanah berumput.

Acharya dari Sriboja kembali muncul di hadapan Ying Go, kali ini hanya sesaat sebelum bhikku itu kembali menghilang.  Sementara itu sebuah portal dengan layar LED bertuliskan : 'Jalan Keluar' terpampang di atasnya tiba-tiba muncul di hadapan Ying Go. Ying Go pun melangkah masuk ke dalam portal itu, kembali ke Alforea.

UPGRADE : Dengan meditasi khusus yang diajarkan Acharya dari Sriboja, kebutuhan kalori Ying Go menurun menjadi 2400 kalori saja.


[1] Kakak lelaki
[2] Meminta sedekah pada umat, biasanya sambil membawa bokor patta, dilakukan sebelum jam 12 siang karena lewat dari jam itu seorang bhikku tidak boleh makan. Kebutuhan makan bhikku sehari-harinya ditopang dari sedekah para umat, di masa lalu sedekahnya berupa makanan (nasi atau lauknya), tapi di masa kini sedekahnya lebih sering berupa uang tunai.
[3] Panggilan hormat/sapaan untuk bhikku.
[4] Puja bakti : ibadah pembacaan sutta (ayat-ayat yang diajarkan Buddha) di vihara dengan dipimpin oleh seorang bhikku.
[5] Roh yang belum menyeberang ke alam baka
[6] DEET berfungsi mewarnai wajah para prajurit dengan aksen warna hitam untuk kamuflase sekaligus mengurangi efek luka bakar akibat api atau ledakan.
[7] Markas utama Kopassus
[8] Markas Sandi Yudha
[9] Maksudnya BIN
[10] Pasukan pemanah yang ahli pertempuran hutan.

7 comments:

  1. entry ini termasuk dalam list yang saya ingin baca, jadi meluncurlah saya setelah ini muncul di blog, di sela2 rehat siang...

    Seperti biasa, risetnya cukup mapan untuk latar belakang Yin Go yang Kopassus, saya sedikit terkagum2 bagaimana cara anda sampai mendapat data sedemikian, sampai ke kehidupan sehari2nya para prajurit yang menyandikan macam-macam cewek incarannya, somehow saya harus merasa salut. Itu kesan pertama saya terhadap cerita ini.

    Sedangkan untuk cerita, pemaparan-pemaparan adegan masih deskriptif dalam garis besar, minim emosi, minim detail yang seandainya ditambahkan bisa membuat naskah lebih berwarna. Pertarungan-pertarungan Ying Go yang hit-and-run-then-vanished ini sebenarnya seru banget, bisa seperti bayangan yang muncul dan mengintai dalam keheningan (eittsss), tapi hanya diutarakan dalam paragraf-paragraf pendek yang membuat saya flat-flat aja ketika membacanya. (Mungkin bang manik berniat menambahkan lagi tapi terkendala waktu deadline?). Tapi, ini mungkin masalah selera saya aja ya. Bisa dianggap krisar, bisa tidak...

    lalu, untuk ending, terasa terlalu tiba-tiba dan dipaksakan, seolah diputus begitu saja. tanpa ada resolusi atau penutup, atau adegan kecil tambahan, atau kalimat pendek tambahan, yang membuatnya lengkap sebagai ending, sehingga terkesan "dipaksa putus" (maafkan bahasa saya) . Oh ya, saya juga merasa cerita ini tidak punya klimaks. Tapi memang itu faktor kesulitannya.

    overall, ini kisah yang cukup lengkap untuk battle survival di R1.
    nilai 8/10 dari saya

    regards,

    rakai / kay

    OC Mima Shiki Reid

    ReplyDelete
  2. Anak tiga tahun udah diajarin wushu? Wow, masuk tk aja belum ya

    Awalnya percakapan sama Rahula lumayan asik, tapi belakangan jadi kayak ceramah. Ada juga bagian di mana tiga paragraf berturut" kerasa monoton karena dibukanya selalu dengan 'Ying Go blablabla'

    Masuk ketemu Fapi sama Frost, saya kurang suka karena beneran murni tell paragraf padet. Tapi ini preferensi pribadi aja sih

    Kadang", saya ngenotice ada beberapa penjelasan yang sebenernya informatif, tapi kurang luwes nyampeinnya dan jadi berkesan ngedikte. Contohnya dua Pancasila atau istilah" gaul soal jenis" perempuan.

    Sekali lagi kayanya saya emang ga sreg sama deskripsi battle entri ini. Bikin susah napas, atau kalo mau pake analogi makanan sekali suapnya terlalu banyak. Padahal kalo secara struktur plot sendiri entri ini lumayan jelas, tapi isinya kurang nyaman eksekusi penyampaiannya buat saya. Feelnya juga datar, ga kerasa ada emosi apapun di dalemnya

    Ying Go ternyata potensi villain ya. Entah kenapa r1 inj jadi banyak yan punya tendensi beda alignment dari impresi awal

    Dari saya 7

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
  3. sial, comment panjangnya keburu ilang... ok Komen lagi tapi pendek

    nillai 8.

    Nilai plus karena saya ngerasakan bahwa susah bikin bertarung 5x3 kali.

    Nilai minus, karena sama kayak saya entry ini terkesan terburu-buru pada saat ditengah dan terkesan asik di awal.

    ReplyDelete
  4. Smooth.

    Meski tergolong 'necessary Evil', tapi Ying Go kebanyakan bicara lewat tindakan ya. memang pas kalo dibilang aksinya spot on, tapi masih minim emosi rasanya terlepas dari presentasinya sebagai tujuan utama atau tidak. Bagai membaca komik silat tapi halaman dramanya disobek :))

    8/10 sih. I'm a horrible judge at this karena bias saya cenderung gaya narasi seperti ini. :3

    - Adrienne Marsh, atas pesan dari Ronnie Staccato.

    ReplyDelete
  5. ini banyak banget referensinya ya hahahah
    malah jadi berasa belajar sejarah dan macem2 hal trivial.
    fapi KO duluan, dan tiba2 ada yang bela dia...ini aneh......

    btw, asik gak asih sih bacanya.
    asiknya, alurnya santai...
    tapi kontennya berat, berasa baca buku pelajaran.

    but, this one deserve an 8/10

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pitta N. Junior ketinggalan terus ini....

      Delete