7.6.15

[ROUND 1 - TEAM C] VI TALITHA - AWAL TERBUKANYA TIRAI PANGGUNG SANDIWARA

VI TALITHA - Awal Terbukanya Tirai Panggung Sandiwara
Penulis: Lamiel



[Lain Kali Jangan Sibuk Sendiri Di Kapal Kalau Ingin Selamat]


Ada seorang pria tampan.

Wajah yang berkhiaskan doa-doa surgawi. Pakaian yang dirajut oleh dewi-dewi pencakar langit. Kulit yang dirawat oleh jemari para malaikat yang tengah berdzikir indah. Dan suara lembut bak pekikan ilahiah yang membelah jalan menuju nirwana.

Suatu hari, pria tersebut tengah berkunjung ke Sicily—mencoba melantunkan melodi surgawi demi mendapatkan sekarung permata. Atau dua karung? Tidak, sepertinya berkarung-karung hadiah yang didapatkannya dari sebuah kompetisi musikal.

Pria itu bangga, pria itu bahagia. Dia ingin segera pulang dan menghabiskan hartanya di kedai bikini yang sudah dia dambakan sebelumnya dalam mimpi bulanan. Karenanya dia mencoba menumpangi kapal sederhana demi menghemat biaya pemuasan nafsu yang dinantinya.

Menaiki kapal dengan derapan langkah penuh kekhusyukan, pria itu menuju ke ujung dek. Dia membayangkan betapa romantisnya bila dirinya berdiri di sana seraya memeluk bidadari yang tengah merentangkan tangan. Tapi tentu sahaja itu hanya imajinasi belaka. Sesungguhnya tiada bunga desa yang sedang bersinggah di sana.

Oleh karena itu pria tersebut duduk ganteng, lalu mengeluarkan alat musik kesukaannya yaitu harpa kecil, bukan kecapi. Jemarinya yang lentik menari di antara benang-benang kententraman itu, menciptakan rentetan nada syahdu bertaburkan bintang malam yang saling berjatuhan.

Tapi malangnya, tidak ada yang mendengarnya. Tidak ada yang mematung dengan air liur keluar, manatap kemegahan pria itu. Tidak ada yang bertepuk tangan memeriahkan panggung para raja yang menginjakkan kaki di bumi. Sunyi, senyap, layaknya lautan mati yang tak berpenghuni.

Peluh keringat manis meluncur dari kening pria itu, khawatir.

Namun tak lama kemudian, suara langkah nirharmoni mulai memenuhi telinganya. Nada-nada tak beraturan itu cukup membuatnya sebal sebagai seorang musisi. Tapi setelah melihat siapa empu langkah kaki tak berpendidikan itu, peluh keringat pria tersebut berubah menjadi masam.

Di hadapannya—pria ganteng yang jarinya membeku di harpa kecilnya—berdiri sekelompok orang berpedang. Wajah kampungan itu sudah mewakilkan identitas mereka sebagai perompak tak ulung. Meski begitu, pedang mereka begitu besar dihunuskan ke arah pria yang membawa harpa kecil bukan kecapi tersebut.

Dan pria itu adalah aku.

"Hae, mas."

Yang hanya bisa menelan ludah setelah mengatakan itu.

"Hae juga, mas," balas salah seorang perompak berkoreng di pipinya. "Pa kabar?"

"Bae mas. Numpang lewat yha."

"TIDAK BISA!"

Namun aku mendapat jawaban yang mencengangkan. Aku tidak boleh pergi katanya. Bodoh sekali dia. Memangnya aku bisa pergi dari kapal ini? Hahah, bodoh sekali dia. Benar-benar bodoh.

Bodoh sekali nasibku!

"Gak usah banyak bacot, ya. Siapa kamu?!" tanya perompak lain berpedang karatan.

Yang membuatku tertawa.

"Kalian tidak tahu siapa aku? Aku yang agung ini? Hahahahah, idiot sekali!"

"Agung? Mana barbelmu?" balasnya yang menyebutkan nama tak kukenal itu. "Sudah kubilang gak usah banyak bacot! Sebutkan siapa namamu! A. Herkules, B. Titi, C…"

Hahah, bicara apa serangga ini. Siapa aku? Apakah ada di antara lautan ini yang tidak tahu siapa diriku? Menyedihkan, benar-benar menyedihkan hingga aku bersimpati padanya.

Karena itu aku menjawab. "Dengarkan baik-baik para pemuja emas semu! Aku adalah Arion…"

Sang langit mendadak mendung dengan cepatnya kala namaku terserukan.

"… Putra Poseidon!"

Lalu petir menyambar hebat.

CETAR!

"Terus?"

Petir menyambar lagi, lebih hebat. CETAR CETAR!

"Terus kenapa?"

Yang berlanjut lagi ke petir D yang membahana. CETARRR!

"Jangan mainan petir, woy!"

"Kenapa kalian tidak takut?!" seruku dalam ketidakpercayaan. "Apa kalian tidak kenal Poseidon?!"

"Kami tahu, lalu kenapa?"

"E… Eh? Kenap.. Kena…"

Sesaat suasana mendadak hening. Petir berhenti menyambar, mendung mulai pulang ke asalnya. Aku kehabisan kata-kata dan ide untuk menakut-nakuti mereka.

"Ka-Kalian pasti tidak percaya denganku, ya?!"

"Percaya, kok. Kalau maz Anang gimana?" jawab perompak berkoreng itu ke sampingnya.

"Aku sih oke."

"Hah? Perompak tanah kelahiran mana kalian? Aku belum pernah mendengar penyusunan nama yang seperti itu!"

"Bekesong, mas. Jauh, ada di bulan sana," jawab perompak pendek bertangan besi.

Di Yunani bagian mana itu? Ah, dia menyebutnya bulan dan menunjuk ke atas sana. Kalau begitu benar katanya, jauh sekali. Papa Poseidon bahkan belum pernah ke sana.

"La-Lalu, ada urusan apa kalian di kapal ini?" tanyaku yang kembali menghadapi sekitar delapan perompak biadab itu. "Kalau kalian mau harta, ambil saja! Cukuplah aku pulang bersama nyawaku! Dan kalau bisa, sisakan sedikit agar aku mampu ke kedai bikini!"

"Ooo tydac bisa." Namun salah seorang perompak bergigi tak rata itu menggoyangkan jari telunjuknya. "Tydac da wang tukmu."

Meskipun bukan waktu yang tepat, sejenak aku merasa kagum mendengar bahasa aneh makhluk Bekesong ini. Tapi aku langsung ingat kembali dengan nyawaku.

"Tydac juga tuk nyawamu," lanjutnya seolah bisa membaca pikiranku.

"Kenapa? Kurang bae apa aku mas?!" protesku tydac terim… Ah, aku jadi ketularan bahasanya.

Namun kali ini yang menjawab adalah perompak paling besar dan telanjang dada, menunjukkan puting yang dinistakan itu. Aku yakin dewa Mesir tak akan mengampuninya.

"Aku akan membunuhmu agar kamu mati," ujarnya dengan suara gahar. "Perkenalkan namaku Emi Yasinan. Aku tidak bisa membiarkanmu hidup untuk menceritakan kami, karena itu kamu harus mati biar tidak bisa cerita!"

"Ooo tydac bisa!" bantahku tegas.

"Jangan meniru gaya bicara anggota kami, woy!" seru salah seorang perompak, entah siapa. "Lagipula kau tidak bisa memilih karena tidak ada pilihan!"

"Kamu juga jangan tiru gaya bicaraku, idiot!" bentak Emi Yasinan yang kemudian kembali menatapku. "Ehem, pokoknya. Kamu harus mati, titik dan tidak koma."

"Apakah tak ada cara lain untukku hidup?"

"Hmm, karena aku adalah orang jahat yang belum berarti jahat. Aku akan memberimu dua pilihan untuk dipilih. Pertama, kau akan kami kubur dengan terhormat setelah kami berlabuh. Yang kedua, kami akan membuangmu ke laut."

"Tapi Pak Emi," sahut perompak berkoreng sebelum aku sempat menjawab, "kalau dilempar ke laut nanti bakalan muncul Arion emas sama Arion perak dong?"

"Itu beda legenda bego!" bentak Emi Yasinan spontan yang langsung menjitak kepala si koreng. Lalu dia kembali menghadapku lagi. "Nah, silahkan pilih! Kematian terhormat yang belum berarti terhormat mana yang kamu suka!"

Aku sebenarnya tak mengerti dengan kalimat penuh kontradiksinya itu. Tapi saat ini, aku lebih tidak mengerti kenapa aku harus mati. Apakah ini takdirku? Apakah semuanya sudah dituliskan dalam kitab sang penguasa?

Ini tydac... Ini tidak adil!

Kalau aku mati, aku takkan bisa bermusik lagi. Musik adalah hidupku, begitu juga harpa kecil bukan kecapi ini. Aku tidak akan bisa hidup tanpa musik. Ya, justru aku hidup karena musik. Artinya… Artinya…

"Bolehkah aku mengumandangkan musik hidupku untuk yang terakhir kalinya?"

… aku juga harus mati karena musik!

"Wah wah, mau ada orjen tunggal nih?"

"Serius? Asek asek!"

"Goyang mang!"

Yang ternyata disambut meriah oleh kawanan perompak asal Bekesong itu. Membuatku sedikit terharu karena biarpun jahat, mereka tidak sepenuhnya jahat. Ah, mungkin ini kah yang dimaksud oleh Emi Yasinan?

"Kamu dengar mereka?" ujarnya yang kemudian duduk bersila di tengah ramainya sorakan perompak. "Masih ada banyak waktu. Hiburan sebelum mendarat kawan!"

Sorakan gembira menghiasi kapal yang sebenarnya sunyi ini. Membuatku menyadari kalau pemikiranku tadi cukup naif. Ya, karena apa yang mereka serukan adalah pesan terakhir sebelum ajal menjemput kemegahanku ini. Mereka tidak bersimpati padaku, mereka hanya melakukan hal yang mereka suka. Benar-benar jahat.

Aku tarik kata-kataku tadi, orang jahat akan selalu jahat.

Tapi tak apa, tak mengapa. Aku baik-baik saja. Aku bukan siapa-siapa~bagi mereka. Oleh sebab itu aku mencoba menenangkan diri. Perlahan duduk dengan menyeimbangkan jiwa dan naluri. Merasakan deburan angin yang bergerak senada dengan jemariku. Mengeluarkan alat musik kesukaanku, chitara.

"Wooh, woow, dia bawa gitar! Dia bawa gitar!"

Gitar?

"Nagh band yha mz?"

Band? Apa itu?

"Ini chitara! Alat musik klasik kesukaanku! Jangan bandingkan dengan peralatan busuk kalian!" seruku tak terima.

"Yaelah sama aja keles. Gitu jha ngambek!"

"Nagh band yha mz? Kuk ga jawab?"

Mengabaikan kalimat-kalimat kotor dari kaum Bekesong itu, aku mulai berkonsentrasi pada alunan sepoi angin malam. Ya, ini adalah lagu terakhirku. Ini adalah kesempatan terakhirku. Ini bahkan adalah panggung terakhirku.

Malam ini untuk yang terakhir kalinya, aku menyanyikan lagu di hadapan bedebah laknat.

Membuatku sedih, tanpa harga diri. Membuatku menggeretakkan gigi, tanpa harapan. Membuatku menggigit bibir, mencari ampunan.

Dengan penuh penyesalan, aku memulai memetik chitara lalu berdendang.

"Bergadang jangan bergada—"

"Woi plagiat woi!"

"Tuh kan gitar! Pake sok keren chetar chetar!"

"Ganti lagunya!"

Sebelum aku sempat menyelesaikan satu baris syair, para perompak itu sudah mengganggu kekhusyukanku dalam menyanyi. Plagiat? Gitar? Apa yang serangga-serangga air tawar ini bicarakan? Apa mereka sebegitunya tak menyukai laguku? Atau mereka tak menyukai hal lainnya?

"Baiklah," jawabku pasrah. "Kalau begitu aku akan menyanyikan lagu lain."

"Awas ya kalo lagu bang Roma lagi!"

Aku hanya mengangguk, sekalipun aku tak mengenali nama yang dia sebut. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah kembali berkonsentrasi dan menari-narikan jemariku dengan cantiknya. Sebelum kemudian menggetarkan indah pita suaraku.

"Sebelas Januari berte—"

"ASTAGA INI AUTHOR!"

"GAK TAKUT KENA BASH LAGI YA?!"

"GAK BOSEN APA SAMA JOKE LISENSI?!"

Lagi, para makhluk primitif ini menyerukan hal-hal yang tak kumengerti.

"Gak usah sok gak tau! Mentang-mentang zamanmu masih minim plagiat!"

Yang kemudian cukup mencengangkanku karena perompak berkoreng itu seolah bisa membaca pikiranku.

Apa masih ada yang salah? Bagian mana yang salah? Siapa itu author? Apa itu lisensi?

Aku sungguh tak mengerti.

"Baiklah, kali ini aku akan mencoba menyanyikan lagu yang bisa kalian terima."

Aku mengabaikan umpatan-umpatan dan seruan liar dari perompak Bekesong tersebut. Yang kupikirkan sekarang adalah lagu apakah yang cocok untuk mendamaikan dan setidaknya, menyucikan hati mereka.

Saat itu juga aku teringat Apollo sang dewa musik, dewa pujangga.

Lantunan lagu indahnya, kalimat surgawi penyejuk sukma. Tak ada yang bisa membandingkannya di dunia ini. Tidak, dari awal hal itu tidak bisa dibandingkan. Hanya ada satu dan hanya satu saja di dunia—maupun nirwana. Sebuah kehormatan bagiku bila bisa bertemu langsung dengan Apollo.

Maka, untuk yang terakhir kalinya, aku akan menyanyikan pujian untuk-Nya.

"Apollo terjatuh dan tak bisa bangkit lagi~

Apollo tenggelam dalam lautan luka da—"

"MATI AJA KAMU!"

Bahkan untuk yang terakhir kalinya, tidak hanya mereka menghentikan laguku, tetapi juga menendangku jatuh ke dalam lautan ganas yang siap menangkap jasadku.

Kala itu juga, waktu mulai terasa berjalan lambat.

Aku seolah berhenti di udara. Tidak, lebih tepatnya aku sedang melayang bebas. Mengulurkan tanganku ke arah para serangga biadab itu, berharap menerima pertolongan. Membuang segala harga diri yang kumiliki.

Walau kutahu itu mustahil, tapi apa boleh buat. Seperti inilah perasaan orang yang tahu bahwa dirinya akan segera mati. Seperti inilah rasa keputusasaan yang mendalam hingga membuatku mengeluarkan air mata dan seni.

Ahh, inilah akhir riwayatku.

Ahh, inilah akhir cerita dari Arion Putra Poseidon.

Untuk yang terakhir kali… demi semua eksistensi suci nan menawan di antara lautan akhir hayat ini, napas terakhir ini, aku akan memujamu wahai Apollo.

"Apollo tanpamu butiran debu~"

"ASTAGA! MASIH AJA PLAGI—!"

Aku tak mendengar keutuhan kalimat serangga di atas kapal sana. Aku tidak bisa. Aku tidak mampu. Diriku tenggelam dalam air yang beratapkan malam kelam. Aku hanya bisa melihat secercah cahaya bulan yang semakin lama semakin meredup. Menelan kesadaranku hingga hilang tanpa sisa.

Meski begitu…

Meskipun begitu… saat itu juga aku bermimpi.

Di tengah dasar laut, aku melihat sang malaikat. Sosok sucinya yang serba putih menghampiriku. Sayap megah nan indah itu mengepak lembut di dalam ruang penuh air garam. Tangan ramping berlekuk menawan itu meraihku tanpa ragu-ragu.

Apakah sang kesucian hendak mencabut nyawaku?

Walaupun kegelapan menyamarkan wajahnya, aku merasa lega malaikatlah yang menjemputku. Ini sudah cukup, lebih dari cukup. Sudah saatnya aku beristirahat dengan tenang dalam dekapan malaikat malam. Apollo pasti memberkatiku.

Ahh, takdir yang indah.

"Siapa kamu?"

—Atau tidak.

Malaikat itu berbicara. Malaikat itu tampak duduk di sampingku. Malaikat itu kehilangan sayapnya. Apakah sekarang aku sudah berada di neraka?!

"Brrlllbb!"

"Ah, iya, kamu tidak bisa bicara, ya? Ini kan di dasar laut."

Aku kesulitan bergerak, aku tidak bisa berteriak minta tolong. Tapi kenapa aku masih hidup? Ahh, ada sesuatu di hidungku, apa ini?

"Hei, jangan dilepas maskernya! Oh, tapi kalau kamu mau mati aku tidak melarang, sih."

Masker? Apa yang dia bicarakan? Bahasa kaum Bekesong?

"Aku tak tahu siapa kamu. Tapi karena aku sudah menolongmu, kamu juga harus menolongku."

Menolong? Siapa yang minta pertolongan? Aku tidak ingin ditolong!

"Tak menjawab, ya? Aku anggap kamu setuju."

MANA BISA AKU BICARA DI DALAM AIR?!

Namun seolah tak memedulikanku, sosok yang bukan malaikat itu membantuku berdiri. Saat itu pulalah cahaya malam yang menembus air hingga ke dasar menerangi. Menampakkan sosoknya berbaju putih dengan balutan perban yang menyelimuti dirinya…

"Perkenalkan namaku, Vi. Mohon bantuannya!"

… dengan wajah kuda laut yang gepeng.

"ABBBLLRLGGGHHH!"

Yang membuatku menyadari bahwa sepertinya aku telah bertemu dengan sesuatu yang lebih buruk dari perompak tadi. Yang selanjutnya memulai episode di mana aku terjebak di tengah-tengah peperangan epik antar semesta dan menguak suatu kenyataan pahit.

Ya.

Benang takdir malangku masih belum terputus.


[Untuk Meyakinkan Seseorang, Kamu Hanya Perlu Memutar-Mutarkan Kalimat Saja]

"Yak, sudah selesai! Sekarang coba kamu bicara."

"Aaa… tes tes tos tis. Apa kamu mendengar suara agungku?"

"Sempurna!" seru orang yang mengaku bernama Vi ini dengan puasnya. Membuatku yakin kalau dia memiliki wajah manusia, sekarang dia pasti sedang tersenyum.

"Tapi bagaimana kamu melakukannya?" tanyaku penasaran.

Vi menyilangkan tangannya dan menaruh tangan di dagu.

"Hmmm, kalau aku menjelaskannya secara rinci sepertinya kamu juga tidak akan mengerti. Simpelnya, sih, aku punya perban sihir yang bisa kugunakan untuk menciptakan berbagai macam benda. Karena itulah aku membuat masker yang tersambung dengan milikku agar kamu bisa bernapas."

"Sihir? Jadi kamu penyihir?!"

"Ng… bisa dikatakan seperti itu, sih. Tapi bisa juga tidak," jawabnya ragu.

"Mana yang benar?! Kamu bukan saudarinya Emi Yasinan, kan?"

Vi memiringkan kepalanya dan bertanya balik 'Emi Yasinan? Siapa?', yang kurasa dia memang bukanlah makhluk bertanahkelahiran Bekesong. Maksudku, dilihat dari perangainya pun sudah bisa kupastikan kalau Vi makhluk laut—atau sejenisnya.

"Yah, kamu boleh sebut apa saja sesukamu. Toh, tak ada bedanya juga," ujarnya seperti tidak peduli. "Ah, iya, aku lupa. Kamu cuma bisa bicara lewat pikiran. Jadi sekalipun kamu mengatakan sesuatu, tidak ada orang yang mengerti selain aku."

"Kenapa begitu? Tak bisakah kamu membuat alat yang lebih bagus?" protesku.

"Itu sudah lebih dari cukup, kan? Lagi pula aku tidak sehebat itu, jadi maklumi saja."

Sebenarnya aku masih ingin mengeluh. Tapi itu berarti aku sama sekali tidak berterima kasih pada Vi. Hal itu sangatlah tidak bermartabat.

… Tunggu. Dari awal kenapa aku harus berterima kasih? Aku tidak meminta ini semua. Aku sudah pasrah menunggu Om Hades menyambutku. Jadi kurasa, sikapku masih wajar.

"Lalu, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanyaku sembari melihat ke sekitar.

Kalau kuperhatikan lagi, terdapat puing-puing kuno di sekelilingku. Aku tak melihat manusia selain diriku. Hanya ikan-ikan liar dan beberapa tumbuhan yang tak kukenali namanya tumbuh di tempat ini. Sisanya adalah bangunan-bangunan yang hancur, berantakan, bahkan tak bisa kusebut lagi sebagai 'bangunan utuh'.

Seolah-olah dulunya tempat ini adalah kota biasa yang dihantam air laut hingga tenggelam. Atau sebuah kota langit yang jatuh ke dalam kehampaan ini. Entah yang mana itu, aku sama sekali tidak melihat tanda-tanda kehidupan selain makhluk laut.

Seakan, Para Dewa telah menelantarkannya.

"Dari pada itu," jawab Vi yang mengalihkan pandanganku kembali padanya, "aku belum tahu, siapa nama… tidak. Lebih tepat, siapa kamu?"

Dan dia menanyakan itu padaku. Kepada AKU.

"Heh heheheheheh, HEHEHEHEHEH! Jangan kaget, ya?" balasku seraya berusaha menahan tawa. "Aku adalah Arion, ARION, Sang Putra Poseidon!"

Bila kami berdua berada di permukaan laut, pasti Vi bisa terkagum-kagum melihat petir yang menyambar. Tapi sayangnya tidak, membuatku sedikit kecewa. Meski begitu tak apa, dia masih bisa terkejut mendengar namaku dan Papa Poseidon. Mari kita lihat reaksi—

"Oh, gitu."

—nya?

"Datar banget reaksimu!" keluhku. "Apa kamu tak tahu siapa Papa Poseidon?!"

"Tahu, kok," jawabnya biasa. "Dewa penguasa laut, kan? Aku pernah baca di perpustakaan."

"Lalu hanya begitu saja reaksimu?"

Namun alih-alih minta maaf atau sejenisnya, Vi malah menepuk-nepuk bahuku layaknya sedang mengasihaniku. "Yah, percobaan humor yang lumayan. Tapi maaf, terlalu garing," jawabnya.

"Aku serius!"

"Aku juga, kok. Nih, lihat aja mataku. Bisa kamu lihat keseriusanku?"

Sekalipun dia bilang begitu, yang hanya bisa kulihat adalah dua lingkaran elips berbingkai yang rata dan gelap. Tapi karena aku tak ingin dipermalukan karena tidak bisa membaca keseriusan di matanya, aku membalikkan pertanyaannya. "Kamu sendiri, apa kamu tak bisa melihat keseriusanku?!"

Tiba-tiba Vi mencondongkan wajahnya yang sejajar denganku, membuat aku refleks mengambil satu langkah mundur. Sejenak jantungku berdebar kencang karena kukira dia akan memakanku. Sebelum kemudian aku menunjukkan keseriusan di mataku.

"Gak usah maksa juga kali," komentarnya. "Hmmm, kalau benar begitu berarti beberapa misteri bisa terpecahkan. Pantas saja tekanan air tidak menghancurkan…"

"Misteri? Apa yang kamu bicara—"

"Ah, nggak. Cuma bergumam saja," potong Vi cepat.

Padahal tadi suaranya keras sekali.

"Jadi sekarang kamu percaya, kan?"

Meski begitu, rasanya sudah tidak asyik lagi. Bahkan aku tidak mengharap Vi kagum atau semacamnya lagi. Ya, rasanya seperti… ketika aku sedang melucu tapi tidak ada yang paham, lalu aku menjelaskan panjang lebar baru ada yang paham. Suasana hati hilang begitu saja, tidak enak sekali.

"Mungkin? Tapi kalau apa yang kamu ucapkan benar, berarti sekarang kita sedang ada di masa lalu, ya? Hebat sekali teknologi yang dimiliki pencipta turnamen ini. Atau jangan-jangan ada sihir juga?"

Entah sejak kapan, aku merasa bodoh dan tidak tahu dengan apa yang dibicarakan oleh makhluk-makhluk yang baru saja kutemui. Apakah bahasa makhluk asing dan cara bicaranya memang susah dipahami?

Karenanya aku langsung duduk, menyilangkan kaki dan tangan, berpikir kembali kalau semua kejadian ini sebenarnya hanya mimpi saja atau memang kenyataan.

Ah, pipiku sakit kalau kucubit.

"Kamu ngapain?" tanya Vi yang sepertinya sudah selesai bergumam sendiri.

"Entahlah. Aku tidak merasa nyata sekarang. Kemegahanku sudah padam. Ketampananku disembunyikan oleh benda bernama masker ini. Aku tak bisa berdendang indah lagi. Rasanya aku sudah tak punya kehidupan. Kamu bahkan tak mengatakan apapun tentang dirimu, apa yang kamu mau dariku, apa tujuanmu. Aku tak mengerti, sama sekali tidak. Jadi aku duduk, berharap ini adalah mimpi."

Aku serasa tengah melayang dalam kehampaan. Apakah aku benar-benar sedang hidup? Bagaimana caranya aku bisa hidup di dasar laut seperti ini? Apa yang dikatakan makhluk bernama Vi ini benar adanya? Ataukah itu hanya penjelasan seadanya agar aku bisa menerima kalau diriku tengah hidup hingga sekarang?

Aku tak tahu.

Aku benar-benar tak tahu.

Apakah lebih baik aku melepas masker ini saja?

"Tahan," adalah satu kata yang menghentikanku melakukannya, membuatku menengadah ke arah Vi. "Apa yang akan kamu lakukan—entah apa alasanmu—benar-benar ide buruk. Jadi jangan menghantuiku kalau terjadi apa-apa, ya? Aku sudah memperingatimu."

Yang membuatku kembali ragu.

"Lalu apa yang harus kulakukan?!"

Mendengarku, Vi menaruh lututnya di depanku seraya menepuk lembut bahuku. "Gimana kalau melakukan apa yang kamu mau?"

Meskipun aku tahu wajah Vi tidak pernah berubah sejak pertama kali bertemu, aku bisa merasakan kalau dia tengah tersenyum sekarang. Yang membuatku melakukan hal yang sama. Walau rasanya aneh, aku tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum.

"Sekalipun kamu bilang gitu, pada akhirnya aku tetap tak bisa sesukaku, kan? Ini, aku terikat oleh benda ini padamu," ujarku ironis, mengingat kembali tali takdirku yang menggelikan.

"Nah, tuh ngerti. Sudah kubilang sebelumnya, kan? Aku sudah menolongmu, artinya kamu harus menolongku juga."

"Ini namanya pemaksaan!" protesku tak puas. "Lagi pula, yakin sekali kamu kalau aku pasti akan menolongmu?"

"Kamu tak ada pilihan lain, kan? Itu mengapa aku menganca—ah, maksudku meminta balas budimu."

"Kamu barusan mau bilang 'mengancam', kan? Ya, kan? YA, KAN?!"

Vi hanya menjitak pelan kepalanya seraya mengatakan 'Tehe~' seolah apa yang dia lakukan itu imut. Tapi dengan hitamnya wajah kuda laut gepeng itu, aku mendapati perasaan yang kompleks saat melihatnya.

"Sebenarnya simpel aja, sih," ujar Vi yang akhirnya bernada serius. "Bantu aku atau kamu mati."

"Akhirnya kamu jujur juga!"

Meski begitu, aku tetap harus memilih.

Ini sebenarnya tidak sulit. Bagaimanapun juga seharusnya aku sudah mati, jadi ada satu tujuan lain untuk hidup lebih lama pasti lebih bagus, bukan? Seperti saat aku hendak tenggelam tadi. Aku sangat ingin setidaknya waktuku diperpanjang hingga aku bisa melakukan pujian akhir untuk Apollo.

Tapi aku tidak mungkin begitu saja mau dengan mudahnya masuk ke lubang kematian kedua, kan? Ya, aku harus tahu dulu ke mana aku akan berakhir dengan mengikuti Vi ini.

Karenanya aku bertanya. "Kalau begitu apa tujuanmu? Apa yang harus kulakukan secara persisnya dari 'membantumu' ini?"

"Sederhana saja," jawab Vi cepat. "Kamu harus membantuku memenangkan pertarungan yang sedang berlangsung ini."

"HAH?!"

Refleks, aku langsung mengedarkan pandangan ke sekitar. Tidak ada orang, tidak ada tanda-tanda pertarungan sedang terjadi di dekatku. Sunyi, senyap. Lalu aku kembali beralih ke Vi yang berkata, "Saat ini aku sedang sembunyi. Jadi tenang saja!"

"Bilang dari tadi kek!" keluhku kesal. "Lalu kenapa kamu bisa terlibat dalam pertarungan seperti itu? Sebenarnya apa yang sedang terjadi?!"

Dan kenapa aku jatuh ke laut yang salah? Ada apa ini sebenarnya? Setelah dibajak, sekarang aku terjebak dalam peperangan. Apakah setelah ini dunia akan runtuh?

Ahh, aku tak akan terkejut lagi kalau tiba-tiba ada lumba-lumba datang menolongku karena terpukau oleh nyanyianku tadi.

"Hmmm, sebenarnya ada alasan bagus kenapa aku terlibat dalam pertarungan ini. Tapi ceritanya cukup panjang. Kamu mau tahu?"

Aku mengangguk. "Tentu saja. Semua orang perlu penjelasan atas keganjilan yang dialaminya."

"Atau mungkin lebih tepatnya, biar jalan ceritanya ada dan logis kali, ya? Kasian nanti author kena bash pula," sambung Vi yang tak kumengerti. "Baiklah, akan kumulai sekarang. Jadi begini ceritanya…"

Perlahan Vi menengadah, melihat ke atas seolah ada contekan cerita di atas sana. Sebelum kemudian beralih menatapku kembali dan berkata, "Nah, begitulah ceritanya."

"Begitu apanya? Kamu bahkan belum cerita apapun!"

"Lho, bukannya kalau di film-film itu biasanya yang mau cerita melihat ke atas terus kamera merekam langit dan pas balik lagi, penjelasannya sudah selesai kan, ya?"

"Ini Yunani!"

Maksudku, apa yang Vi sebutkan itu pasti dari daerah lain, kan? Seperti misalnya Bekesong atau sekitarnya.

"Uuuh, merepotkan sekali," ujarnya sembari menggaruk kepala. "Kalau begitu apa boleh bikin."

Vi kemudian merogoh tas cokelat di pinggangnya yang ramping dan mengeluarkan setumpuk kertas putih. Setelah mengecek beberapa lembar, dia memberikan benda itu padaku.

"Nih, baca."

"Apa ini?"

"Skenario bab nol. Adegan pertama aku datang di tempat ini, bersamaan denganmu yang lagi dibajak di atas sana."

"Mana ada yang begituan! Lagi pula, aku tidak bisa membacanya kali!"

Dari awal, bagaimana dia bisa tahu kalau barusan aku dibajak oleh perompak di kapal?

"Ya, ya, ya, gak usah berisik juga, kan? Oke aku akan cerita sungguhan sekarang. Suatu hari, ada seorang pemuda yang selalu mendapat nilai jelek di sekolah. Karena dia putus asa, akhirnya dia berseru kepada langit agar diberi alat untuk mengabulkan semua keinginannya. Lalu saat itu juga, turunlah seorang perempuan yang mempunyai kantong ajaib. Dia bisa mengeluarkan banyak alat ajaib seperti 'gerbang ke mana saja' atau 'baling-baling sumbu'…"

"Terus?"

"Ha?"

"Terus bagaimana ceritanya?"

"Kok reaksimu gitu, sih?" balasnya dengan secercah nada kecewa. "Harusnya kamu komentar 'ITU KAN BUKAN DORA**ON!' atau 'CERITANYA BUKAN GITU! LAGIAN DIA KAN KUCING BUKAN CEWEK!', kan?"

"Mana kutahu?! Lagi pula, gimana cara baca ** itu?!" balasku.

"Ih, gak asyik, ah! Orang Yunani terlalu ndeso!"

"Jangan remehkan Yunani woi!"

Tapi seolah tidak memedulikanku, Vi langsung berdiri dan menepuk-nepuk pakaiannya seolah bajunya itu kotor di dalam air. Membelakangiku, dia menatap ke suatu arah dan mulai berbicara lagi.

"Kamu tak perlu tahu seperti apa pastinya. Yang jelas, di sini kita bertarung dengan nyawa sebagai taruhannya. Kamu boleh saja menolakku sekarang dan pergi ke mana terserah, aku bahkan tak peduli kalau kamu dimakan monster laut. Tapi kalau kamu percaya padaku dan mengikuti semua perkataanku, aku bisa jamin keselamatanmu."

Mengangkat dagu sebelum kemudian menoleh ke arahku, Vi mengakhiri kalimatnya dengan satu pertanyaan.

"Mana yang kamu pilih?"

Kalimat Vi dihiasi oleh beratnya tanggung jawab yang akan kupikul. Meski begitu, meskipun begitu aku masih bisa merasakan satu nada lain yang unik. Seperti ketika seseorang sedih namun tertawa, ataupun sedang tertawa namun menangis. Sesuatu yang jauh lebih esensial ketimbang bahaya pertarungan yang akan kami hadapi.

Sebagai seorang musisi pemuja Apollo, aku yakin akan hal itu.

Tidak salah lagi, ada yang tidak beres dengan makhluk yang satu ini.

Tapi aku tidak bisa mencari cara lain untuk hidup. Di dasar laut yang luas ini aku tak tahu jalan pulang. Tidak ada jaminan juga kalau beberapa langkah dari sini tidak akan ada monster laut yang menghadangku. Bahkan, tanpa masker Vi aku tidak bisa hidup lebih dari dua menit. Oleh karena itu, aku… aku…

"Aku ikut denganmu."

… mencoba menjudikan nyawa muliaku di tangan makhluk misterius itu.


[Kata Orang Mengintai Dan Menguntit Itu Beda Tipis, Tapi Hati-Hati Saat Melakukan Keduanya]

Makhluk yang mengenakan pakaian kuning itu berdiri tegap, mengambil sebuah perisai besar dengan tangan kanannya. Sedetik kemudian dengan sigapnya dia merendahkan badan dengan menggeser kakinya ke belakang seolah hendak bersiap-siap untuk menerkam sesuatu.

"Siapa namanya?"

"Garrand," jawab Vi singkat.

Mengangguk, mataku beralih ke makhluk lain yang juga tengah memasang kuda-kuda. Jubah kecil di bahu kanan yang berlukiskan singa itu semakin terangkat, menampakkan baju zirah yang belum pernah kulihat sebelumnya. Apakah itu model zirah baru, ya?

"Kalau dia?"

"Caitlin," balas Vi singkat.

Sebelum aku mengangguk, Vi menambahkan. "Dan dia adalah wanita."

"Ba-Bagaimana aku bisa tahu kalau dia wanita? Dia pakai baju zirah! Ditambah wajah kalian sama semua, wajar kalau aku tak tahu!" ujarku membela diri. "Kenapa kalian yang sebangsa malah saling bertarung? Sudah gilakah?!"

"Sebangsa? Kami bahkan beda dunia! Lagi pula, ya, bukannya kamu sesama manusia juga saling perang? Jangan hipokrit!"

"Uhhh…" adalah yang keluar dari mulutku karena apa yang Vi katakan benar, sebelum kemudian melihat kembali ke depan.

Kaki makhluk yang bernama Garrand itu sedikit bergerak. Seolah baru saja mengeluarkan ledakan kecil, injakkannya membuat pasir di sekitarnya bertebaran—menghiasi gerakan menerjang yang tengah dia lakukan. Tangan kanannya terangkat ke atas seperti hendak mengambil ancang-ancang untuk melancarkan serangan. Sebelum kemudian otot lehernya nampak mengejang seolah hendak berteriak.

"—!"

Yang tak bisa kudengar.

Di sisi lain, makhluk wanita bernama Caitlin itu juga melesat maju, menimbulkan efek yang sama. Tangan kanannya mengepal mantap, dengan tubuhnya yang condong ke depan. Gelombang kecil tercipta darinya yang hendak menyambut Garrand dengan mengangkat tinjunya dari bawah.

Lalu kedua serangan mereka bertemu.

Tangan Caitlin dan perisai Garrand sama sekali tak bersentuhan. Namun bisa kulihat ada gelombang bertekanan kuat di antara keduanya. Membuat Garrand yang posisinya di atas sedikit terpental dan berputar-putar ke arah awal Caitlin berdiri, sedangkan Caitlin sendiri terhenti di tempat mereka mengadu serangan.

Garrand yang sigap menginjakkan kakinya di salah satu tiang bangunan berlumut dan menendangnya. Pantulan itu cukup mulus sehingga Garrand mampu kembali melesat menuju Caitlin. Lagi, otot lehernya bergerak-gerak seperti orang yang berbicara atau berteriak dan aku masih tidak mendengar apa-apa.

Gerakan Garrand cukup lamban, sekalipun dia tampak sedang terjatuh. Caitlin hanya perlu mengambil satu langkah ke samping untuk bisa menghindarinya.

Tentu saja Garrand tidak hanya tinggal diam. Dia langsung mengayunkan perisainya ke arah Caitlin yang langsung membelokkan lintasan langkahnya dengan melompat salto ke sampingnya lagi.

Ayunan perisai Garrand membuatnya berputar-putar ketika mendarat di tanah bagaikan angin—menghancurkan bebatuan yang dilewatinya. Pasir yang bertebaran cukup banyak dan menyembunyikan Garrand. Mungkin karena itulah Caitlin memasang kuda-kuda dan menunggu sejenak, sebelum kemudian menerjang Garrand.

Meninggalkan perisainya, Garrand berputar melompati Caitlin yang kemudian menodongkan tangannya. Aku tak tahu tujuannya apa, tapi sebelum Caitlin melakukan sesuatu dengan tangannya, aku melihat otot leher Garrand bergerak-gerak. Lagi, aku tidak bisa mendengarnya.

"Oi," ujarku sembari menarik pelan lengan baju Vi, "dia bicara apa?"

Menoleh padaku, Vi menjawab. "Ah! Aku lupa memasang alat mendengar. Hmmm, sini aku perbarui maskermu."

Dari dalam pakaian putih Vi muncul dua juluran perban yang bergerak sendiri bak sihir. Perban itu melilit ke semacam pita selang yang menghubungkan kepala belakang Vi dengan benda yang ada di mulutku ini. Setelah sampai ke ujung hidungku, kedua pita itu berbelok mengitari pipi kanan dan kiriku menuju kedua telingaku. Aku tak tahu bentuknya seperti apa. Yang jelas, telingaku sekarang terasa hangat dan—

"—cukup naif!"

—aku bisa mendengar suara Garrand yang sudah berdiri di depan Caitlin yang sedang menodongkan tangan kanannya ke arah perisai besar itu. Atau perisai besar itu yang sengaja di arahkan ke depan todongan Caitlin?

Aku tak tahu.

Apa yang baru saja terjadi?

"Aduh ketinggalan siaran! Kamu sih pake acara gak bisa denger segala!" keluh Vi.

"Apa itu siaran? Lagian ya, aku kan tidak menyuruhmu berbuat sesuatu! Kamu sendiri yang—"

"Sssh!" potong Vi cepat. "Diam dulu, mereka lagi ngobrol tuh!"

"Tangguh juga kau. Kukira tembakanku tadi akan kena," tutur Caitlin yang tidak menggerakkan mulutnya. Tidak, bahkan aku tak tahu bagian mana yang disebut mulut dari wajah aneh seperti itu.

"Tak akan!" seru Garrand yakin seraya mengeluarkan secarik kertas. "Kamu tidak lihat gambarku di Lembar Karakter? Perisaiku besar! Mana mungkin kena!"

Ha… Lembar Karakter?

"Kok beda sama yang kupunya?" tutur Caitlin yang sepertinya kebingungan. "Ini kan kalau ditarik ke depan badanmu, harusnya ada celah!"

"Kamu buta, ya? Coba buka Buku Muka! Di sana jelas-jelas authormu sendiri bilang di komentar kalau 80% tembakanmu pasti kena. Artinya, 20% meleset!"

"Jadi aku sedang sial, ya?"

"Banget!"

Sesaat, aku berhenti bernapas dalam kebingungan. Menengok ke arah Vi, dia bergumam dengan semangatnya. "Hoo, jadi sekarang pakai 'menghancurkan tembok keempat', ya?"

"Tembok keempat? Apa yang kamu bicarakan?"

"Itu loh, teknik di mana karakter dalam sebuah cerita sadar kalau mereka ada di dalamnya dan terkadang mengerti akan hal di luar cerita. Biasanya dipakai buat humor. Kamu harus catat itu! Siapa tahu dapat nobel!"

Memang ada teknik yang seperti itu? Tapi tak ada salahnya aku menyimpan informasi itu, mungkin saja berguna nantinya.

"Saat itulah teknik 'Menghacurkan Tembok Keempat' pertama kali lahir di Yunani."

"Kamu bicara sama siapa?"

"Aha~ Tidak, aku hanya mencontohkan pemakaiannya saja."

"Jangan merusak cerita ini!" seruku kesal.

"Pokoknya," adalah suara Garrand yang membuat rasa sebalku teralihkan, "apa kau yakin bertarung berdua seperti ini adalah keputusan yang bijak?"

"Maksudmu?" tanya Caitlin.

"Aku tak peduli kalau kau mati karena serangan tiba-tiba. Tapi sayang rasanya kalau kau tidak mati di tanganku."

Mendengar jawaban Garrand, Caitlin dengan waspada melihat ke sekitar. "Observasi… kau tidak membual, kan?"

"Aku bukan orang licik. Tapi aku tak tahu untuk empat yang lain," ujar Garrand yang kemudian menaruh perisainya. "Aku suka penonton, tapi aku tak suka dicurangi!"

Sedetik sebelum Garrand menoleh ke arah kami, aku langsung menunduk. Di sampingku ternyata Vi sudah melakukannya lebih dulu. Dia seolah sedang menahan napasnya sekalipun aku ragu kalau dia bisa bernapas atau tidak.

"Duh, gawat," ucapnya, khawatir. "Kita harus segera pergi—tidak tidak tidak. Justru kalau ditembak begini, langsung bergerak adalah keputusan yang salah. Tapi kalau membalikkan psikologi orang, justru diam saja adalah keputusan yang salah… Arghhh! Aku harus ke mana?!"

"Tenang, Vi, tenang. Lagi pula ini perang antara kalian, bukan? Kenapa kamu tidak keluar saja sekarang. Hadapi mereka!"

"Aku bukan petarung, bodoh! Dasar kuda laut!"

Justru kamulah yang mirip kuda laut! Tapi tentu saja aku tak mengatakannya langsung karena aku tidak ingin dia tersinggung dan meninggalkanku mati di sini. Oleh sebab itu aku mengatakan hal lain. "Jadi itu alasanmu bersembunyi?"

"Salah satunya. Aku sebenarnya ingin mengobservasi mereka lebih lama dari ini. Tapi sialnya, mereka cukup tajam! Aku bahkan belum sempat komentar gaya tarung mereka yang mirip Metrix!"

"Itu artinya, kalau kita keluar sekarang kita akan… mati?"

"Yha."

TIDAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAK!

Ini bohong, kan? Hei, ini bohong, kan? Siapapun, tolong bilang kalau ini bohong!

Kenapa perpanjangan umurku hanya sependek menonton satu adegan baku hantam saja?! Terlalu pendek untuk disebut sebagai perang! Ini tidak adil! Dunia tidak adil!

"Tenang, Arion, tenang. Aku ada ide bagus."

"Apa itu?"

"Dengarkan baik-baik, ini akan panjang," ujar Vi meyakinkan. "Pertama, aku akan menendangmu keluar. Dan yang kedua, aku akan lari selagi kamu dibunuh mereka."

"Panjang apanya! Dan hei, kenapa aku harus mati?!"

"Takdirmu memang harus mati. Terima saja!"

"Kamu juga harus terima lah!"

"Pokoknya kamu!" paksa Vi yang mengulurkan tangannya ke arah benda bernama masker yang ada di hidungku. Refleks, aku langsung memegangi maskerku karena aku sudah mengerti konsekuensinya. Namun Vi tidak menyerah, dia tetap mencari cara untuk menariknya.

"Hei, lepaskan masker itu!"

"Tidak mau!" tolakku. "Barang yang sudah diberi tidak boleh diminta kembali!"

"Dari mana kamu belajar kata-kata itu, woi! Bukan zamanmu kan? Lagian ya, semua yang tercipta pasti akan balik ke asalnya. Manusia terbuat dari tanah dan kembali ke tanah. Roh kembali ke Sang Pencipta—termasuk perbanku!"

"Kitab mana yang kamu bicarakan!"

"Kamu tidak tahu ya kalau masker ini tak kulepas, mereka akan tahu kalau aku juga ada di sini!" paksa Vi yang kemudian sejenak melihat ke atas. "Fiuh, sepertinya aku sempat menjelaskan itu ke pembaca."

"Justru karena aku tahu, aku takkan melepaskannya! Dan hei, jangan pakai teknik tembok keempat di sini!"

"Bandel banget nih anak!"

"Kamu yang—"

"Yang di balik batu sana, keluar!"

Pertikaianku dengan Vi terhentikan oleh suara Garrand yang meskipun di dalam air, entah mengapa terdengar jelas layaknya di daratan. Aku melirik Vi yang juga melirikku. Yang hanya bisa menelan ludah karena sudah ketahuan.

"Apa kita keluar saja?" bisikku.

"Buat apa? Itu cuma pancingan!"

"Dari awal kita datang secara terpisah di waktu yang berbeda. Akan lebih adil kalau kita mulai bertarung di tempat yang sama, kan? Dan jujur ya, aku tidak suka orang curang."

Garrand mengatakan hal yang seharusnya dimiliki setiap petarung, hal yang wajar. Kelicikan hanyalah sesuatu yang dimiliki orang lemah yang tak pantas menjadi petarung. Karena itulah aku mencoba menarik keluar Vi yang—

"Tuh, kan! Adil apanya? Pakai preferensi dalam argumen itu sudah pasti pendapat, yang artinya dia sedang menjebakku!"

—berpikir demikian.

"Di mana harga dirimu sebagai petarung?" tanyaku heran.

"Sudah kubilang aku bukan petarung!" sahut Vi. "Ini bukan kelicikan, tapi strategi! Coba kamu lihat sendiri, dia licik sekali menggunakan kata-kata 'adil' demi keuntungannya sendiri!"

Ah… betapa sialnya aku bertemu dengan makhluk yang satu ini. Andai saja yang menolongku salah satu dari orang yang ada di sana, pasti nasibku bakalan lebih baik.

"Keluar sekarang juga atau kami yang akan memburu kalian!" seru Garrand.

"Cih, apa boleh buat!" adalah bisikan Vi yang lalu berdiri, mulai berjalan keluar dari tempat persembunyiannya dan berkata. "Te-Ternyata jeli juga—"

"Haha, tak kusangka kalian bisa tahu posisiku!"

Eh?

"Aku hanya lewat saja…"

Ehhh?

"Waaah maaf, maaf, barusan aku kejauhan jalan-jalannya, ehehe. Yuk mulai tarung!"

Ehhhhhhhhh?

Ternyata tiga yang lain juga sembunyi?!

"Nah, begini kan adil," ujar Garrand terdengar puas.

Aku mengikuti Vi yang berjalan mendekati lima yang lain. Sejalan dengan watak Vi, dia berhenti di jarak yang cukup aman untuk kabur. Bisa kulihat tangannya yang berkacak pinggang itu gemetar walau hanya sedikit.

Apa dia sedang takut ya? … Tunggu. Harusnya aku juga takut di sini! Tapi entah mengapa melihat Vi yang seperti itu membuatku lebih merasa kasihan alih-alih takut. Sepertinya ada yang aneh denganku. Namun justru Vi lah yang cukup aneh karena bisa sebegitu takutnya dalam kondisi ini.

Atau itu yang akan kupikirkan jika saja—

"Hahaha… HAHA, HUAHAHAHAHAHAH!"

—Vi tidak tertawa seperti ini.

Apa dia kehilangan akal sehat? Apa ketakutan merasuk ke dalam kesadarannya? Tawa Vi terasa menggema keras di kepalaku. Di balik wajahnya yang datar itu, suaranya begitu lantang hingga aku memegangi benda yang menutupi telingaku. Tapi tetap saja suaranya tak kunjung hilang.

Lima makhluk yang lain cukup berbeda denganku, walau ekspresinya terlihat sama. Setidaknya mereka tak menutup telinga… itu pun jika mereka punya. Sebelum kemudian salah seorang dari mereka yang tadi bersembunyi—berpakaian serba hitam—memecah keheningan dan mengusik tawa Vi.

"Hei, kamu waras, kan?"

"Hah… Hahah… Ha?"

Yang menghentikannya dalam beberapa detik.

"Ya, aku masih waras, kok," jawab Vi yang tentu saja tak terasa begitu meyakinkan. "Hanya saja, ini cukup lucu menurutku jadi aku tertawa."

Memangnya kamu Emi Yasinan?!

Makhluk kecil yang punya tiga makhluk aneh di belakangnya itu masih terdiam, mungkin kebingungan. Sedangkan yang memakai pakaian serba tertutup di sebelahnya tampak tidak ingin berkata apa-apa.

Garrand mulai mengambil perisainya, mungkin berjaga-jaga kalau tiba-tiba ada serangan orang gila, dan masuk ke dalam pembicaraan. "Kau pikir ini lawakan berdiri? Apanya yang lucu!"

"Heheh, kalian naif sekali," balas Vi dengan nada layaknya penjahat. "Dengarkan baik-baik wahai para makhluk naif. Kita dikirim ke sini untuk bertarung hingga ada satu pemenang yang bertahan hidup. Apapun caranya, kita harus saling membunuh."

"Lalu?" celetuk Caitlin.

"Kamu rasakan sendiri, kan, tadi? Bertarung dalam air sulit sekali. Gerakan kita akan melambat. Sekalipun sama-sama kuat, aku yakin hasilnya cukup imbang…"

Meskipun Vi berkata 'sama-sama kuat', aku yakin dia hanya membual saja walau aku belum tahu seberapa tangguh dia. Maksudku, dia sendiri bilang kan kalau bukan petarung?

"Artinya, sang juara adalah yang memiliki faktor lebih yang menguntungkan. Kalau dimisalkan sepak bola, penyerang akan dengan mudah membobol gawang jika ada sang pengumpan. Sampai di sini kalian paham? Kalau masih tidak, coba lihat keganjilan yang ada di sini. Aku yakin kalian akan tahu siapa calon pemenangnya," tambah Vi mengakhiri kalimatnya dengan penuh percaya diri.

Lalu semua mata tertuju padaku.

"Ha-Hae mz, pa kbr?" adalah yang bisa kuucapkan dengan gaya bicara sang perompak. Aku sedikit mengambil langkah mundur, refleks.

Vi langsung merentangkan tangan kanannya di depanku. "Inilah faktor itu!" serunya. "Dia adalah pahlawan lautan, Arion Putra Poseidon! Dia bisa menyedot sari-sari kehidupan kalian di dalam laut!"

"Mana bisa?!" sangkalku langsung.

"Aku tahu, kok. Tapi aku ingin mereka berpikir kalau kamu sosok yang berbahaya. Biar nanti mereka langsung serang kamu dan aku bisa kabur!"

"Keparat!"

"Hei, sepertinya dia lagi protes, tuh," ujar Garrand yang membuatku heran.

"Apa dia tak bisa mendengarku?"

"Tentu tidak. Sudah kubilang kan kalau apa yang kamu dengar dan katakan tersalur ke dalam pikiranku?" balas Vi yang tidak menoleh ke arahku sama sekali. "Hanya aku yang bisa mendengarmu dan aku bisa berbicara denganmu lewat pikiran. Jadi… MAMPUS KAMU!"

"Brengsek!"

Bila aku punya pisau, aku ingin langsung menusuk makhluk ini.

"Kalian lihat tadi? Dia cukup beringas! Jadi sekali lagi, inilah faktor kemenanganku! Dia akan membawaku pada kemenangan! Kalian enyah saja dari—"

"Oh, dia, ya? Aku juga ada," potong Caitlin. "Kamu, kemarilah!"

"Eh?"

"Ahh, pantas saja aku tak mengenalinya. Tertutup masker, sih! Jadi aku tak tahu. Kamu juga, sini!" sahut makhluk serba hitam itu yang kemudian berteriak ke belakangnya.

"Eh, eh?"

"Aaaaaah, paman itu, yah? Aku juga berteman dengannya! Sini, Paman!" seru makhluk kecil yang punya tiga serangkai di belakangnya itu.

"… Kamu ke sini juga!" pinta makhluk berpakaian serba tertutup.

"Kau juga! Walau aku belum tentu membutuhkanmu juga, sih!" panggil Garrand.

Lalu lima sosok muncul dari balik batu yang berbeda-beda, mulai mendekat hampir secara bersamaan. Penampilan kelimanya mirip denganku.

"Hai, aku Arion."

"Namaku Arion."

"Arion."

"Aku juga."

"Sama, aku juga."

EEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEHHHHH?!

"Kenapa Arion ada enam?! Bukannya di legendanya cuma ada satu? Kenapa jadi enam? Doppelganger kah? Aarrrghhh, kenapa bisa jadi enam, sih?! Authornya goblok apa ya?!!" seru Vi kalap sebelum aku sempat mengatakan sesuatu. "Maksud dia apa kasih aku karakter bantuan begini di awal? Taunya semua juga punya! Pengen aku menang gak sih?!"

"Bicara apa kamu? Authornya kan gak sayang OC sendiri, mana mungkin dia mau kamu menang?" sahut makhluk serba hitam. "Jadin entri ini milikku! Aku yang akan menang, haha!"

"Jangan mimpi! Aku yang akan menang! Wa-Walau aku tak peduli sih mau dikasih bantuan atau tidak," bantah Garrand.

"Yeeee, enak saja! Aku yang bakalan menang! Krukru semua setuju juga kan kru~?"

"Aku yang pasti akan menang." Caitlin juga ikutan.

"DIAM SEMUA! Ini entriku, aku yang harusnya menang! Arion punya kalian pasti palsu!" teriak Vi makin ngotot.

"Punyamu!"

"Bukan, pasti punyamu!"

"Punyaku asli yeeeey~!"

"Punyaku asli."

"DIAAAAAAAAAAAM!" seru Vi sekali lagi.

"Anu…"

"APA?!" bentaknya pada sang pemilik suara, makhluk berpakaian serba tertutup.

"Aku tak mengerti kenapa pertarungannya malah jadi berantakan seperti ini. Tapi aku punya cara untuk membuktikan mana Arion yang asli dan mana yang palsu," balasnya dengan suara yang agak kecil.

Garrand angkat bicara. "Kamu tahu?"

"Ya," jawabnya mengangguk. "Menurut legenda, Arion punya chitara yang bisa memanggil lumba-lumba, kan? Bagaimana kalau mereka mainkan alat musik itu dan melihat siapa yang didatangi lumba-lumba? Ah, tapi—"

"Ide bagus!" seru Vi memotong. "Hei, keluarkan cetar—atau apalah itu!"

Kelima yang lain juga menyuruh Arion milik masing-masing untuk mengeluarkan chitara. Karena aku tak mau disangka palsu, aku juga melakukan hal yang sama.

"Tunggu, aku belum selesai menje—"

"Yak, mainkan gitarnya!" seru Vi memburu.

Aku tak tahu apa benar ada legenda seperti itu atau tidak. Jika iya, kenapa di awal tadi tak ada lumba-lumba yang mendatangiku. Dari awal, kenapa mereka berenam bisa seyakinnya itu dengan legenda? Aku tahu kalau aku terkenal, tapi harusnya legenda Apollo lah yang lebih terkenal dibandingkan denganku.

Meski begitu, aku mencoba memainkan alat musik kesayanganku ini dengan anggunnya. Ya, aku pasti yang asli. Walau aku belum sempat mengatakan apa-apa soal diriku yang jumlahnya menjadi enam ini, aku yakin akulah yang asli.

Dengan gemulai lembutnya aku memainkan chitara. Tak ada suara, bahkan aku tahu pasti mereka juga tak bisa mendengarnya. Namun aku yakin, hanya hati seorang penikmat musik lah yang hatinya mampu tergetarkan oleh nada ini. Keharmonian alam yang kurangkai menjadi satu nada.

"Sudah kubilang kan kalau—"

"Sssst, diam! Sesuatu datang!"

Aku merasakan suatu getaran—tentu bukan dari alat musikku.

"Wah, ini pasti lumba-lumba Arionku!"

"Tidak, ini punyaku!"

"Kalian semua salah yeee~ Punyaku!"

"Dengarkan dulu penje—"

"Punyaku."

Getarannya semakin lama semakin membesar.

"Wah, ini pasti banyak lumba-lumbanya!"

"Dengan ini kita akan tahu siapa yang akan menang!"

"Dengarkan aku, woi! Kita kan ada di dasar laut. Bisa jadi yang datang adala—"

Lalu getarannya berubah menjadi guncangan keras dan membuatku kesulitan untuk berdiri.

"Hei… ini hanya perasaanku saja atau yang bakal datang bukanlah lumba-lumba?"

"… Sepertinya memang bukan."

"Yang datang pasti kereta laut~~!"

"Bukan juga."

"Sudah kubilang kita—"

WOOOOOOOOOOOO.

Tiba-tiba suara yang menggema semakin keras mendekat. Itu bukan suara Vi, Garrand, atau bahkan salah satu di antara kami.

WOOOOO WOOOOO WOOOO.

Muncul suara lain yang saling bersahutan. Semakin keras hingga memekikkan telinga. Guncangan yang semakin kuat membuatku terjatuh.

WOOOOOOOOOO.

Saat itu juga aku melihat sesosok—tidak, bahkan dua, tiga, enam sosok sesuatu yang besar mendekat dari segala arah!

"Seratus persen itu bukan lumba-lumba! Semua Arion asli!"

"Aku sih yes, mba Agnes gimana?"

"Mana AgMo, mana?!"

"Siapa kamu?!"

"Enam harpa memanggil paus… Ini bukan Paus Ball, kan?"

"Harusnya kan tujuh! Lagian, itu bukan paus!"

"Ini bukan saatnya ngelawak garing woy!"

"Puja kereta laut ajaib, ululululululu~~!"

"Kabuuuuuur!"

Kekacauan mulai melanda.

Aku yang kesulitan berdiri berulang kali tertendang dan terinjak. Siapa bilang apa, siapa jawab siapa, siapa melakukan apa, sudah tidak bisa kuketahui lagi. Aku hanya bisa mengulurkan tangan dalam keputusasaan seperti yang pernah kulakukan sebelumnya.

—Berharap ada yang meraihnya.

—Berharap ada yang menolongku.

—Berharap ada yang memedulikanku.

Hingga sebelum aku tak sadarkan diri karena sesuatu yang keras menghantam kepalaku…

"Arion!"

… seseorang memanggil namaku.


[Kereta Hanya Benda Berlintasan, Manusialah Yang Menjauhi Bukannya Malah Kereta]

Saat aku membuka mata, yang terlihat bukanlah padang luas nan sejuk nirwana atau sungai lahar bercampur nanah neraka. Entah lebih baik atau lebih buruk, aku masih berada di dasar laut.

Melihat ke sekitar, aku tak menemukan lagi makhluk besar tadi. Sepertinya aku berhasil selamat dari mereka. Membuatku merasa lega dan mengusap keningku yang terasa keram.

Kepalaku masih terasa pening. Kucoba mengangkat tubuh namun gagal. Ketika aku memegangi pundakku yang terasa sakit, bukan lagi kain sutra yang kusentuh melainkan perban yang sedikit bersinar. Ya, seolah perban itu sedang memancarkan sesuatu yang membuatku hangat dan lebih baik—sekalipun aku terjebak di dalam air.

Apakah ini sihir penyembuhan?

"Graaaaaaaaaah!"

Tiba-tiba aku mendengar sesuatu meraung… atau mengaum? Yang jelas, suara itu berasal dari sesuatu yang serba putih tak jauh di sana. Sosoknya berwujud manusia, hanya saja dibalut oleh perban di sekujur tubuhnya. Dan ketika aku mencoba berpikir sesuatu tentang perban, hanya Vi lah yang muncul dalam benakku.

Apa itu dia?

"Hei, apa kamu Vi?"

Tak ada jawaban.

Dia tidak menjawabku—yang artinya bukan Vi. Meski begitu, aku juga teringat tentang selang yang menghubungkan maskerku dengan kepala belakang Vi. Ya, persis seperti yang sekarang terhubung di kepala belakang makhluk perban itu. Jadi kurasa dia memanglah Vi yang entah mengapa tak mampu, atau bisa jadi, tidak mau menanggapiku.

Karena itulah aku hanya terdiam dan menyaksikan pertarungannya melawan—Caitlin?

Ya, melihat zirahnya itu bisa kupastikan kalau dia Caitlin. Aku cukup kagum melihat ada makhluk wanita yang sekuat itu. Meskipun pakaiannya yang sekarang sedikit menyala itu tampak berat, dia mampu bergerak leluasa seolah sedang telanjang.

Menopangkan tubuhnya di tanah dengan kedua tangan yang bersilangan, kaki Caitlin berputar layaknya angin. Vi yang tengah menerjang ditendang berkali-kali di wajahnya hingga terlempar mundur.

Caitlin seperti tidak mau melepas begitu saja kesempatan emas. Kulihat ujung jemarinya mendorong tubuhnya ke atas dan kali ini memutar kakinya secara vertikal. Seakan hendak membelah kepala Vi yang ternyata, ditangkis menggunakan kedua tangannya yang menyilang.

Vi kemudian menangkap kaki Caitlin dan mengayunkannya, seolah sedang memprotes 'Dari tadi mainan putar-putaran mulu! Makan nih kuputar!'—atau itulah yang kubayangkan akan muncul dari mulutnya. Sebelum kemudian dilemparkannya keras Caitlin ke arah puing-puing bangunan yang tampak sudah tua.

Seakan tak punya kesabaran, Vi kembali menerjang dan masuk ke dalam semburan pasir akibat lemparannya tadi. Menciptakan hamburan pasir baru, memunculkan sosok Caitlin yang tengah melompat. Kedua tangannya menyilang seperti sehabis menahan serangan Vi.

Sedetik kemudian, Vi menyusul Caitlin yang tak bisa mengubah lintasan lompatnya. Namun sebelum Vi sanggup melakukan sesuatu, kaki Caitlin sudah menginjak sebuah tiang tinggi nan kokoh dan menendangnya.

Bersamaan dengan Vi sedang mengambil ancang-ancang untuk memukul, Caitlin menodongkan tangan kanannya. Sesuatu keluar dengan cepat dari ujungnya, menciptakan gelombang dan letusan kecil. Meski benda itu tidak mengenai Vi karena jarak mereka masih cukup jauh, aku yakin hanya tinggal waktu saja untuk benda itu mampu menghantam kepala Vi.

"ARGGH!"

Dan sesuai dugaanku, Caitlin melakukannya lagi—kali ini tepat mengenai kepala Vi. Hasilnya, arah laju Vi berubah dan tak terkontrol. Tubuhnya berputar-putar, terlempar begitu saja hingga menghantam salah satu batu dan hancur tanpa sisa.

Apakah selang masker—ehm, maksudku, apakah Vi baik-baik saja?

"Uhhh…"

Setelah serpihan debu dan batu mulai sirna, tampak sosok Vi yang mulai terlihat di balik perban yang sudah sobek-sobek itu. Mengusap kepalanya, Vi akhirnya bicara.

"Oi oi, menembak di jarak sedekat itu pelanggaran namanya!"

Di sisi lain, aku melihat Caitlin yang baju zirahnya sudah tidak bersinar lagi. Sosok tangguhnya yang tega—hah? Kenapa sekarang dia berlutut?

"Heh! Aku tak mau mendengar itu dari orang yang dengan sekejap menciptakan perisai untuk memantulkan peluruku!"

Vi tertawa. "Siapa suruh menembak dua peluru di wajahku? Apa itu fetishmu? Tapi berkat peluru pertama, efek God's Wrath milikku hilang. Dan berkat peluru kedua, aku bisa memantulkannya kembali ke sang majikan. Rasakan!"

Jadi itu sebabnya Caitlin berlutut? Serangannya memantul dan menyerang kakinya sendiri. Sungguh refleks yang hebat untuk Vi. Bahkan aku tak bisa melihat apa yang terjadi setelah letupan kecil keluar dari tangan Caitlin. Apa karena aku masih belum pulih?

"Meski begitu, sekarang kau tak bisa berbuat apa-apa lagi. Kau bahkan tak akan bisa menangkis tinjuku. Tanganmu yang kecil itu akan patah sekali kupukul!" olok Caitlin.

"Oooh, kamu iri ya sama rampingnya tanganku? Makanya jadi wanita jangan suka pelihara otot!" balas Vi, tak mau kalah.

"Kau bisa bicara sesukamu," ucap Caitlin. "Karena itu akan jadi kata-kata terakhirmu!"

Perlahan Caitlin mencoba berdiri, lalu melepas baju zirahnya satu per satu. Sesuatu yang bulat nan indah bagai buah-buahan manis terungkap anggun ketika dia melakukannya. Dengan hanya diselimuti oleh pakaian tipis seadanya, mataku sudah tidak bisa pergi dari kedua gunung impian itu.

"Apa yang kamu lihat, dasar mesum!"

Namun suara Vi mengalihkan perhatianku. Aku hanya bisa tertawa garing karena tidak bisa menyangkal atau sejenisnya.

"Maaf," ujarku lemah.

"Sudah! Kamu diam saja di situ. Pura-pura mati saja kalau mau selamat."

"Yha."

Setelah berbicara denganku, Vi yang masih terduduk kembali menatap Caitlin yang tengah melempar baju zirahnya ke tanah. Debu dan pasir bertebaran ke segala arah, seolah menandakan kalau bajunya tersebut sangat berat. Memutar-mutar tangannya, Caitlin mencoba berjalan mendekati Vi.

"Aku hanya perlu zirah di kaki untuk berjalan, dan di tangan untuk menghancurkan wajahmu!" serunya menakutkan.

"Oi, oi, jangan galak gitu dong!" balas Vi. "Tapi apa kamu yakin tak perlu memakai baju begitu?"

"Maksudmu? Aku hanya ingin tubuhku lebih ringan saja untuk bisa memukulimu berkali-kali."

"Maksudku, sih, sederhana saja. Kamu pakai baju besi untuk melindungi tubuhmu, kan?"

"Dari?"

Tak menjawab, Vi mengangkat tangannya ke depan dan telunjuknya mengarah ke Caitlin. Atau mungkin lebih tepatnya, sesuatu yang tengah melaju ke arah Caitlin.

"NAIK KERETA API TUT TUT TUT~ SIAPA HENDAK TURUUUUT~?"

Perlahan, daratan dasar laut mulai bergetar lagi, tanda hal yang buruk akan datang. Caitlin yang terguncang sedikit kesulitan menyeimbangkan tubuhnya—mungkin karena kakinya juga terluka. Sedangkan Vi yang sedari tadi duduk manis hanya berteriak.

"Caitlin mau, tuh!"

Mulai tampak sesosok makhluk berwujud besar seperti ikan yang sedang melaju, atau lebih tepatnya berenang ria ke arah Caitlin. Kepalanya cukup besar memanjang ke samping, seperti bongkahan tiang silinder yang biasa ada di rumah pemujaan. Mulutnya tak tampak, namun aku rasa tidak ada orang yang mau ditabrak oleh kepala itu.

Di atasnya, berdiri makhluk yang jauh lebih kecil darinya sedang memegang sesuatu yang tertanam di kepala si monster. Kalau tak salah dia adalah makhluk yang ditemani oleh tiga makhluk lain saat berkumpul tadi. Dengan riangnya menyanyi seolah lupa akan pertarungan—atau bisa jadi, justru inilah cara dia mengalahkan musuhnya.

Ya, dengan menabrakkan monster itu pada semua yang menghalanginya.

"Cih, sial!"

Dengan satu kakinya yang tidak terluka, Caitlin mulai mengambil ancang-ancang hendak melompat—

"Eit, mau ke mana?"

—jika saja tidak ada perban yang tiba-tiba tumbuh dari tanah, mengikat tubuh Caitlin.

"AYO TEMANKU LEKAS NAIK~~"

Tak hanya suara makhluk kecil itu saja yang mengeras, tetapi juga yang ditumpanginya. Ditambah guncangan yang makin kuat, membuat kepalaku beberapa kali terbentur batu yang kujadikan alas bantal.

"Apa boleh buat!" seru Caitlin yang diiringi dengan zirah tangan dan kakinya yang menyala.

Makhluk besar berkepala palu itu cara renangnya aneh. Walaupun sirip panjangnya tampak mengayun, namun gerakannya terlalu mulus. Ditambah, lajunya hanya di permukaan dasar laut—menghancurkan bagungan-bangunan kuno yang menghalangi jalannya. Seolah sesuatu mengaitkannya di bawah, seakan dia berjalan dengan cepatnya.

"CEPAT KERETAKU JALAN~ KRU KRU KRU~~!"

Caitlin tampak tidak memedulikan lirik lagu yang melenceng itu. Terlihat dia sedang berkonsentrasi dengan tangannya yang menimbulkan letupan kecil disertai hembusan angin di sikunya. Besarnya sang monster seperti tidak mempengaruhi konstentrasi Caitlin sama sekali. Semakin dekat, Caitlin semakin tampak kuat.

"HEAAAA!"

Bersamaan dengan teriakan Caitlin, puing-puing yang ada di dekatnya mulai berkumpul dan menyatu—memadat tampak keras hingga bertumpukan. Tak berhenti sampai di situ, Caitlin seperti sedang memfokuskan sesuatu dan membuat cahaya di tangannya semakin merah.

"TERANGKATLAH!"

Monster besar itu akhirnya menabrak gabungan puing yang diciptakan Caitlin, membuatnya terguncang dan sedikit meluncur naik. Namun percuma, kepala sang monster cukup menunduk yang kurasa agar mudah untuk menghancurkan apapun yang menghalanginya.

Karena itulah, dengan tangannya yang menyala terang, Caitlin mendorongnya ke atas untuk mengubah lintasannya.

"ARRGHHH!!"

Dengan tangannya yang dilapisi zirah itu, Caitlin sanggup sedikit mengangkat monster itu. Gesekan yang keras menciptakan percikan api di dalam laut sekalipun langsung padam. Bisa kulihat zirah di tangan Caitlin perlahan mengikis dan meletup kecil berulang kali.

"TUNGGU PEMBALASAN TEAM KRUKRU~~!"

Hingga pada akhirnya terjadi ledakan bersamaan dengan Caitlin yang berhasil melempar monster itu.

Gelombang yang kuat tercipta dan menghamburkan semua debu dan bebatuan berpasir sampai aku harus menutup mata sejenak. Dan ketika aku membukanya, sudah terlihat Vi berdiri di depan Caitlin yang terbujur lemas di tanah.

"Bukanlah sifatku yang suka memuji, tapi, kuakui usahamu tadi sangat luar biasa baik," ujar Vi seraya melilitkan perban di telapak tangannya.

"Kau… Jangan bilang kau merencanakan ini semua…"

"Yang benar saja," balas Vi terdengar sinis. "Sudah jelas itu kebetulan, kan?"

"Kau kira aku percaya? Heh! Aku tak senaif itu."

Vi meletakkan lutut kanannya di samping kiri Caitlin yang sudah tidak bisa bergerak. Tangannya tampak hitam tak berbentuk, begitu juga zirah di kakinya yang hancur. Hanya tinggal waktu saja hingga Vi menghabisi penderitaan Caitlin itu.

"Kamu tak perlu percaya. Kamu hanya perlu menyiapkan kata-kata terakhir. Ada?"

Entah mengapa situasi ini tampak megah dan indah. Maksudku, sebelum menghabisi musuhnya Vi menyempatkan diri untuk memberi Caitlin kesempatan—

"Aku ingin ka—"

"Tapi bohong!"

—aku tarik kata-kataku kembali.

"Seenggaknya kasih dia waktu buat ngomong, woy!" seruku yang langsung berdiri.

Namun alih-alih berhenti, Vi melancarkan tinjuan kedua. Tiga, empat, tujuh, sepuluh pukulan bersarang di tempat yang sama. Mengangkat tangannya dari wajah Caitlin yang sudah remuk, Vi tertawa puas. Aku refleks melangkah mundur, kakiku terasa gemetar.

"Hah, rasain tuh!" teriaknya mantap seakan ingin meludah tapi tak bisa. "Dasar fetish mukul wajah!"

"Kamu juga!"

"Hah… hah… Istirahat dulu, deh," ujar Vi yang tak memedulikan komentarku.

Seraya mendekati Vi, aku melihat tubuh Caitlin yang terbujur kaku itu sedikit demi sedikit bercahaya hijau. Dari segala ujung, cahaya tersebut terlepas dari tubuhnya dan melayang menjadi serpihan-serpihan kecil. Seperti sedang dimakan oleh sesuatu, atau mungkin pecah menjadi debu?

Aku tak mengerti, dan aku tak ingin tahu—ini bukan urusanku.

Karenanya aku juga duduk di depan Vi, menanyakan sesuatu yang jauh lebih membuatku penasaran. Ya, aku ingin tahu apa saja yang terjadi selama aku pingsan dan apakah makhluk besar tadi juga masuk rencana Vi atau tidak.

Setelah menanyakannya, dia menjawab dengan santai. "Haha, serius itu cuma kebetulan, loh!"

Yang membuatku melongo.

"Kamu lihat aku cuma duduk saja di batu itu kan dari tadi sambil mengoceh, mengulur waktu begitu? Aslinya aku lagi mikir cara untuk mengalahkan Caitlin—sebelum negara api, eh, maksudku sebelum rel itu datang."

"Rel?" tanyaku tak mengerti.

"Iya, rel. Kamu tahu bocah yang menyanyi lagu kereta api tadi? Namanya Relima. Dia suka banget sama kereta. Dia bisa bikin rel untuk laju keretanya. Nah, saat aku melihat rel itu tercipta di bawah kaki Caitlin itulah, ideku baru muncul."

"Mengikatnya?"

"Yha."

Alih-alih ide, itu sih sudah hal yang sewajarnya dipikirkan oleh siapa saja. Aku tak bisa memprediksinya karena aku tak mengetahui semua kemampuan Vi. Kalau dipikir lagi, memang itu bisa disebut sebagai kebetulan karena di pertarungan ini bukanlah satu lawan satu, melainkan keroyokan. Jadi masih bisa kubayangkan makhluk bernama Relima itu juga berniat menyerang Caitlin.

"Terus, di mana musuhmu yang lain? Kenapa tinggal dua? Apa semua sudah mati karena ritual pemanggilan tadi monster?" tanyaku penasaran.

"Semua musuhku selamat, tapi kelima Arion yang lain tidak."

"Jadi cuma aku yang selamat, ya?"

"Kamu? Bukan kamu. Aku sedang membicarakan tentang Arion," balas Vi yang menunjuk ke sesuatu yang ada di belakangnya. "Walau agak terbelah, tapi aku berhasil menyelamatkannya."

"ITU HARPAKU!"

"Eh? Kukira yang sedari tadi berbicara denganku adalah benda ini."

"BUKAN! AKU ARION!"

"Iya, iya, duh, cuma bercanda kali. Tapi intinya, sih, begitu. Mereka tidak menyelamatkan Arion masing-masing. Kalaupun iya, berarti aku yang tidak melihatnya."

Meski begitu, aku cukup merasa senang ketika tahu kalau ternyata Vi menyelamatkanku. Walaupun berulang kali dia berkata ingin mengorbankanku, pada akhirnya dia menolongku. Haruskah aku bersyukur dan berterima kasih kepadanya?

"Jadi sekarang musuhmu tinggal empat, ya? Tiga kalau Relima yang tadi mati."

Yang tidak kuucapkan karena rasanya malu saja. Ah, aku yakin dia juga tidak memintanya.

"Yha," jawab Vi. "Kurasa sudah cukup istirahatnya. Ayo!"

"Ke mana?"

Menengadah, Vi yang memunggungiku menoleh ke belakang dan menjawab mantap.

"Tentu saja mencari mereka!"


[Pria Itu Tangguh Karena Ada Wanita Yang Menyokongnya Di Balik Layar]

"Uwaaah… brutal sekali," komentarku.

"Rasanya pasti sakit!" timpal Vi.

Bagaimana tidak?

Baru saja aku dan Vi menemukan musuh yang lain, ternyata pertarungan sudah masuk tahap akhir yang sadis.

Dengan tegap dan kokoh, Garrand menekan sekali lagi perisainya pada kepala makhluk berpakaian serba tertutup itu hingga tak berdaya. Lagi dan lagi, hingga bangunan yang menahan tubuhnya itu dihancurkan oleh Garrand. Makhluk itu jatuh dan terkapar begitu saja di tanah, tak bergerak.

"Malang sekali Khanza, bertemu dengan musuh sekeras itu," gumam Vi.

Oh, jadi namanya Khanza, ya? Setidaknya aku tahu namanya sekalipun aku tak melihat perjuangannya. Akan jadi masalah besar kalau dia mati tanpa nama, kan?

"Tapi Garrand juga terluka parah," ujarku menunjuk. "Lihat itu. Darahnya tak berhenti mengalir."

"Oh, kalau begitu gawat dong," celetuk Vi.

"Gawat?"

"Iya. Kalau di dalam laut kamu berdarah nanti—ah."

Belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Vi sudah melihat ke bawah—pada rel yang perlahan terbentuk dan tertuju ke tempat Garrand tengah beristirahat. Kalau tak salah ini adalah kemampuan…

"NAIK KERETA API KRU KRU KRU~!!"

"Relima!" seruku langsung.

"Sebaiknya kita pergi dari lintasannya," ajak Vi.

Tapi alih-alih terbebas dari Relima, rel baru tercipta begitu saja mengikuti ke mana kami lari.

"Berpencar!" teriak Vi yang ternyata didengar Garrand.

"Muncul juga musuh baru!" ujarnya tampak senang. "Berhenti! Biar aku mengalahkanmu!"

Sekalipun aku dan Vi sudah berpencar dan diikuti oleh dua jalur rel yang berbeda, Garrand malah mendekati Vi dan menyatukan jalur rel mereka.

"WOI MAHO JANGAN DEKET-DEKET LA!" seru Vi tampak kesal.

"Takkan kubiarkan kau lari!"

Kejaran Garrand makin menjadi, memaksa Vi untuk melompat-lompat. Aku meniru gerakannya karena ternyata lebih enak daripada berjalan. Namun ternyata Garrand juga melakukan hal yang sama, membuatku ingin tertawa melihat kejar-mengejar ini.

"KRU KRU KRU~~!"

Mulai tampak Relima tengah menunggangi monster yang berbeda—lebih kecil dari yang tadi. Kali ini kepalanya berbentuk lingkaran besar dan berduri seperti gada besi. Meskipun kecil, aku rasa tidak ada yang mau ditabrak oleh benda itu—

"Awas!"

—termasuk Vi yang melompat ke arahku, diikuti Garrand.

"KENAPA KALIAN SEMUA KE SINI!" adalah yang keluar dariku yang kesal. Maksudku, hei, kenapa malah jadi satu rel begini?!

"Kalau kita harus mati, kita mati bersama!" balas Vi sembari mengeluarkan ibu jarinya.

"MATI SAJA SENDIRI!" bentakku tak setuju.

"Akulah yang akan membunuhmu!" timpal Garrand.

"BACA SITUASI WOY!"

Tapi Garrand tak bisa mendengarku. Karenanya aku beralih pada Vi dan memintanya melakukan sesuatu agar kami tak berakhir naas.

"Serahkan semuanya padaku!" balasnya dengan santai, seolah dikejar kereta monster itu bukanlah masalah yang besar untuknya. "Menarilah wahai sang Osiris!" tambahnya.

"Hei, apa ini? Apa yang kau lakukan pada—!"

Perban yang menjulur dari Vi mulai meliliti tubuh Garrand dan menyelimutinya hingga terbentuk makhluk perban layaknya Vi tadi. Perisai Garrand terjatuh karenanya, entah sengaja dia jatuhkan sendiri atau Vi yang melakukannya—aku tidak tahu. Yang jelas, sekarang Garrand dalam wujud barunya—

"Graaaaahhh!"

"KENAPA DIA JADI LEBIH CEPAT MENYUSUL KITA?!"

—masih saja mengejar kami.

"Uhhh… Aku tak bisa mengontrolnya, tahu!"

"LALU BUAT APA KAMU MUMIFIKASI?!"

"Agar aku,"  balas Vi yang berhenti melompat dan memainkan perbannya, "bisa mengikatnya sebagai umpan!"

Saat itu juga perban Vi mengikat Garrand di tengah lintasan kereta. Sekalipun menariknya berkali-kali, Garrand tetap tak bisa melepasnya. Sedangkan kereta (monster) Relima sudah siap untuk tabrak lari. Mungkin karena itu pulalah Garrand langsung memutar tubuhnya yang diiringi dengan satu tinjuan.

"Graaaaaaaaaaaaaaahhh!"

BUK!

Entah Garrand memang sekuat itu atau ada efek lain yang menyebabkan kereta itu berhenti sejenak. Bisa kulihat tangan Garrand yang perbannya meledak—benar-benar tampak pecah begitu saja—terlempar jauh dengan mudahnya, lepas dari empunya.

Lalu keduanya bertabrakan dan tersungkur keras di beberapa puing yang sudah jarang itu.

"Apa mereka mati?" ujarku yang sebelumnya sudah pergi dari lintasan rel.

Setelah hujan pasir reda, mulai terlihat sosok Garrand yang sudah tak berlapiskan perban, tengah memegangi tangannya yang putus. Jalannya terseok-seok, yang kurasa beberapa tulangnya patah akibat kejadian tadi.

"Krukru… Krukruku hancur… Huuuu…"

Relima berlutut, menangisi logam yang hancur berkeping-keping itu alih-alih monster yang ditungganginya tadi. Dia menggenggam erat sekeping roda gigi kecil dan memeluknya erat. Sebelum kemudian dia berdiri dan mengangkat roda gigi lain yang jauh lebih besar dengan mudahnya.

"Ini semua salahmu!" serunya marah. "Kamu harus dihukum!"

"Oi, oi, ini perbuatan wanita perban itu. Tapi tak masalah kalau kau dendam denganku. Karena kau pasti akan mati di tanganku!"

Mengatakan itu, Garrand mengangkat tangan kirinya dan mengucapkan sesuatu. Tiba-tiba saja perisai besarnya sudah melekat di sana dengan cepatnya. Seolah dari awal Garrand tidak hanya bisa bertarung, namun juga memiliki sihir.

"Kamu yang akan kalah!"

Relima mengayunkan roda geriginya yang disambut oleh hentakan keras perisai Garrand. Percikan api yang langsung padam sejenak tercipta. Keduanya terpukul mundur, jarak tercipta di antara mereka.

Relima yang masih terlihat sehat langsung berdiri dan berlari ke arah Garrand seraya menjerit. Garrand yang masih belum bisa berdiri hanya mampu mengayunkan tangan untuk menangkis hantaman roda gigi Relima yang kemudian terhentak mundur karena tumbukan itu.

Kesempatan sesaat itu digunakan Garrand untuk segera berdiri dan menendang keras Relima. Namun karena kurangnya tenaga Garrand, Relima hanya terpental sejauh dua langkah. Sebelum kemudian dia melemparkan roda gigi emasnya itu ke arah kepala Garrand.

"Arrrghh!"

… Yang tak sempat sepenuhnya dia tangkis.

Meskipun mampu sedikit membelokkan roda gigi besar Relima, ketidaksiapan Garrand yang sudah terluka parah itu membuat perisainya hancur. Sedikit ujung dari roda gigi Relima sudah mampu menjatuhkan Garrand yang kokoh itu. Namun begitu, tekad kuat Garrand melebihi batas dirinya. Dengan segenap kekuatannya, Garrand juga melempar perisainya yang sudah terkikis tajam itu ke arah Relima.

"A—"

Belum sempat Relima menjerit, perisai Garrand sudah melewati kepalanya dengan mulus dan menembus puing yang ada di belakangnya. Belahannya jatuh ke samping kiri, lalu Relima jatuh terkapar dan perlahan terangkat ke atas. Mengambang begitu saja menjadi serpihan cahaya yang perlahan menghilang.

Lalu Garrand berdiri, sempoyongan, kepalanya miring ke samping.

"El… Ps… C…"

Wajahnya yang rusak sebelah itu mengeluarkan serpihan cahaya yang sama persis dengan milik Relima. Dengan langkah yang tak beraturan, Garrand berjalan ke arahku. Layaknya makhluk hidup yang haus akan darah. Detik demi detik semakin menjadi, membuatku mengambil satu langkah mundur.

Sebelum kemudian Garrand akhirnya tumbang dan menjadi serpihan cahaya yang sirna begitu saja.

Membuatku bernapas lega.

"Huft… Untung saja dia juga mati. Kalau tidak kita lah yang bakal—"

Eh?

Tidak ada.

Orang yang kuajak bicara tidak ada. Aku melihat ke sekitar namun masih tidak tampak sosok putih yang berbalutkan perban itu. Aku cari sosoknya itu di mana-mana. Di bawah batu, di balik puing, di dalam karang—walau kutahu dia takkan ada di sana.

Di mana dia?!

"Ah, apakah sudah selesai pertarungan di sana?"

Aku mendengar suara Vi dengan jelas. Tapi saat kuedarkan pandangan ke sekitar, tak ada sosok yang mengatakan itu.

"Kamu di mana?" tanyaku yang kalau benar, berarti dia bisa mendengarku.

Dan benar dugaanku, Vi menjawab. "Aku ada di… reruntuhan? Aku tak tahu ini di mana."

"Tak tahu? Maksudmu bagaimana?" tanyaku tak paham.

"Ng… kamu ingat adegan Garrand dan kereta Relima bertabrakan tadi?"

"Ketika Garrand kamu mumifikasi tadi? Ingat, memang kenapa?"

"Aku juga terseret di situ, ehe~!"

EEEEEEEEEEEEEEEEHHHH?!

"'Ehe!' kepalamu botak!" bentakku. "Terlempar ke mana kamu? Apa kamu baik-baik saja?"

"Sepertinya sih begitu," jawab Vi tak meyakinkan. "Setidaknya masih belum ada cahaya hijau di tubuhku."

"Kamu sih terlalu percaya diri!"

"Haha, aku lupa memperhitungkan efek lajunya. Aku kira monster itu akan berhenti karena tekanan air."

Meskipun Vi bilang begitu, aku juga tidak paham sepenuhnya tentang gerakan-gerakan yang mungkin dan yang tak mungkin di dalam air. Karenanya aku menanyakan hal yang lain.

"Lalu bagaimana aku bisa mencarimu?"

"Mudah saja," sahut Vi. "Kamu hanya perlu mengikuti selang maskermu."

"Oke," jawabku yang langsung melompat, mengikuti tali penghubung kami berdua.


[Kenyataan Itu Seperti Jarum, Menusuk Terus Menerus Hingga Hati Berlubang]

Mencari Vi sebenarnya bukanlah pekerjaan yang sulit. Aku hanya perlu mengikuti perban yang menghubungkan kami berdua hingga akhirnya bisa sampai dengan mudah. Sesederhana itu. Ya, sangatlah sederhana.

Meski pada kenyataannya, aku cukup memakan waktu yang lama ketika melakukannya.

Bukan karena ada monster dan aku harus bersembunyi. Bukan karena gelapnya laut yang beratapkan malam. Bukan juga karena bebatuan dan puing-puing tinggi yang menghalangi jalanku.

Tetapi karena aku dan Vi berbicara. Ya, hanya mengobrol.

"Jadi, kamu benar-benar Arion yang sesungguhnya?"

Dan sekarang, kami tengah membicarakan tentang diriku.

"Sudah kubilang, kan? Aku Arion Putra Poseidon, masih kurang cukup?"

"Yah, iya juga, sih," balasnya yang terdengar ragu. "Dari skrip yang kubaca juga setelah kamu menyanyi, kamu ditendang para perompak, lalu bertemu denganku. Semua cocok dengan yang kamu ceritakan barusan."

Lagi-lagi menghancurkan tembok keempat…

"Lalu masalahnya apa?"

"Hmmm," ucap Vi yang berpikir sejenak. "Bukan masalah, sih. Tapi rasanya ada yang ganjil saja. Soalnya kalian tadi ada enam. Kamu benar-benar tidak tahu siapa mereka?"

"Sama sekali tidak," jawabku yakin.

Mau ditanya seperti apa juga aku takkan tahu. Maksudku, siapa yang bakal menyangka kalau tiba-tiba bertemu dengan enam kembaran lainnya. Ini kan bukan cerita komedi!

"Hmmm, mungkin hanya perasaanku saja," gumam Vi.

"Ya, hanya perasaanmu saja," timpalku.

"Atau tidak. Pasti ada yang aneh."

"Jangan plin-plan woy!"

Hingga pada akhirnya, aku melihat selang perban ini berujung di dalam bebatuan yang bertumpukan. Aku langsung melompat dan berusaha menaikinya. Kutarik perlahan selang itu sembari berjalan menuju ke celah sempit di mana benda itu berakhir. Di sana, aku melihat Vi yang tengah berbaring di antara bebatuan yang menimpanya.

"Hai."

"Hei, kamu baik-baik saja?!"

Aku mengulurkan tangan ke dalam untuk menarik Vi, namun dia tolak.

"Biarkan aku seperti ini dulu, sembari istirahat," jelasnya. "Tapi kalau bisa, tolong angkatkan batu yang menimpa kakiku dong."

Tanpa berkata-kata, aku langsung mencoba mengangkat bebatuan yang tampak seperti selimut pada Vi. Tak sulit bagiku melakukannya dan menguak apa yang ada di balik batu tersebut.

Ya, kaki Vi yang lecetnya sudah tak berbentuk rapi, bahkan aku mampu melihat warna putih tulangnya yang segar. Namun sebelum aku sempat melakukan sesuatu, Vi telah membalutnya dengan perban.

"Nah, begini lebih nyaman. Terima kasih," ujarnya.

Aku tak tahu harus membalas apa. Hanya hangat saja yang kurasa di wajah. Aku sepertinya tak terbiasa mendapatkan ucapan seperti itu.

"Yah, kalau itu membantu," ucapku seadanya. "Lalu, di mana musuhmu yang terakhir?"

Vi mengangkat bahu. "Tidak tahu. Sepertinya dia pandai bersembunyi."

"Terus bagaimana caranya untuk menang?"

"Itu yang ingin kutanyakan padamu tadi," balas Vi. "Apa kamu punya kemampuan selain memanggil monster laut?"

"Aku saja baru tahu kalau musikku bisa memanggil monster! Lagian ya, harpaku sudah rusak, nih, tinggal senar dan kayunya saja gara-gara ritual tadi! Chitaraku hilang pula!" keluhku kesal.

"Jadi kamu benar-benar tidak punya kemampuan serang, ya?"

"Kalaupun ada, aku takkan tenggelam di laut ini!"

Karena jika punya, aku bisa mengalahkan perompak Bekesong itu.

"Benar juga," komentar Vi singkat.

Apakah kemampuan Vi tidak ada yang punya daya serang?

Kalau diingat-ingat lagi, apa yang dia lakukan sama sekali tidak ada. Maksudku, bahkan tidak ada serangan darinya yang fatal atau semacamnya. Vi hanya memanfaatkan keadaan yang menguntungkan kemampuannya.

Dari yang pernah kulihat, Vi memiliki sekitar empat kemampuan.

Yang pertama yaitu menyembuhkan, aku pernah mendapatkannya di bahuku tadi. Selanjutnya kemampuan untuk mengikat, dua kali sudah dia gunakan untuk menjebak musuh. Lalu mumifikasi, yang membuat orang lain atau dirinya jadi makhluk buas dan kuat. Kemudian yang terakhir adalah perisai, yang dia gunakan ketika melawan Caitlin.

Oleh karena itu aku bertanya. "Kenapa kamu tidak punya kemampuan serang?"

"Ahh, benar juga." Yang membuatnya sejenak berpikir, sebelum kemudian menjawabku. "Selama ini aku selalu memikirkan bagaimana cara melindungi diriku sendiri. Mungkin itu sebabnya kemampuan yang kumiliki cukup terbatas."

"Tapi menyerang juga bentuk dari melindungi diri sendiri, kan? Seperti induk ayam yang jadi galak demi anak-anaknya."

"Induk ayam?"

"Yha," jawabku. "Bagaimana kalau kamu melakukan hal yang sama? Apa yang ingin sekali kamu lindungi, dirimu sendiri? Kenapa tidak coba menyerang demi melindungi nyawamu?"

"Melindungi nyawaku, ya? Hmm, tapi aku tak bisa membayangkan sesuatu yang kuat. Oh ya, karena kamu yang menyarankan, bagaimana kalau kamu beri aku ide?"

Makhluk ini benar-benar merepotkan.

"Ng… kemampuan apa yang kamu suka? Ahh, atau kamu mau senjata? Semisal pedang atau tombak gitu?"

"Jangan asal begitu, ah!" keluh Vi. "Senjata juga tak masalah. Yang penting yang menurutmu paling kuat dan tidak biasa."

Yang paling kuat, ya?

Memang kebanyakan senjata terlalu umum, pedang misalnya atau gada, tombak, dan lain sebagainya. Hampir tidak ada yang eksklusif, senjata yang benar-benar ditempa khusus untuk satu orang saja. Ya, misalnya harpaku ini yang sudah sedikit dimodifikasi. Atau yang lain seperti… ah!

"Tombak ayah!"

"Trisula milik Poseidon?"

"Yha!" jawabku mantap. "Kamu pasti tahu, kan? Tombak ayah mampu membelah bumi dan mengacaukan samudra! Senjata paling kuat sejagat raya!"

Aku tidak tahu apakah Vi bisa melakukan hal yang sama atau tidak. Tapi kalau dia mampu, pasti kemampuan itu tiada duanya!

"Membelah bumi dan mengacaukan samudra, ya?" gumam Vi yang kemudian menyilangkan tangan dalam keadaan berbaring, seperti berpikir. Cukup lama hingga membuatku bosan dan duduk di sebelahnya.

Sampai ketika Vi melihat harpaku, spontan dia memukul ringan telapak tangannya.

"Ah, aku ada ide!" serunya.

"Apa? Kamu dapat ide apa?"

"Sabar, tak usah buru-buru. Hmm, bisa kamu bantu aku membayangkan bentuk trisula ayahmu? Aku membutuhkan imajinasi yang akurat untuk menciptakan sesuatu," balas Vi.

Sebenarnya aku ingin menanyakannya lebih detil, namun tanpa imajinasi itu aku rasa Vi tak bisa menciptakan tombak ayah. Karenanya aku berusaha membayangkan tombak bersula tiga itu. Dengan ketiga ujung runcingnya, tombak itu mampu membelah bumi. Dengan ayat-ayat yang terukir di permukaannya, tombak itu mampu memporak-porandakan lautan.

"Apa bisa kamu bayangkan?"

"Lumayan," jawab Vi. "Tapi ini sudah cukup, kok!"

Aku menghela napas lega. Akhirnya ada yang bisa diandalkan dari Vi. Dengan begini, kemungkinan untukku selamat sampai permukaan lebih besar dari tadi. Aku bisa dengan tenang mengikuti Vi yang kemudian mencoba berdiri, mengambil harpa rusak yang tadi kuletakkan.

"Pinjam, ya?" pintanya.

"Untuk apa? Sudah rusak begitu, kamu ambil juga tak apa…"

… asalkan aku bisa pulang dengan selamat.

"Kalau begitu, ayo!" seru Vi yang sudah tampak lebih bugar dari sesaat yang lalu.

"Hei, kamu sudah sehat? Kakimu tidak apa-apa?"

"Sembuh total!" balasnya yakin. "Ayo kita cari Kairos, musuh terakhirku!"

Sedetik setelahnya, tumbuh sayap yang panjang dan lebar dari punggung Vi. Sedikit demi sedikit perban-perban itu saling menyusun dan menyimpul, merajut sayap bak malaikat yang indah. Ahh, apakah ini yang kulihat saat aku bermimpi di awal tadi? Jadi yang kukira malaikat pencabut nyawa itu adalah Vi?

Hah, ahahhahah.

Konyol sekali!

"Pegang tanganku!"

Namun aku enggan membahasnya. Aku bahkan malas memikirkannya lagi. Semuanya sudah berjalan dengan baik hingga aku hadir di sini, bersama Vi yang mengepakkan sayapnya dalam air seakan sedang berenang menggunakan sirip. Tak perlu aku memusingkan ini itu lagi setelah mengalami semua kejadian yang menimpaku.

Benar, tidak ada lagi.

Aku hanya perlu mengikuti arus yang kupilih. Ya, seperti aliran air yang tengah kuterjang bersama Vi. Meski ini di dasar laut, aku tak merasa kesakitan. Mataku bisa dengan jelas melihat ke sekitar. Bebatuan dan karang yang diselimuti berbagai macam makhluk hidup. Juga kumpulan ikan-ikan bermulut runcing yang sedang menghampiri ka—

"A-Awas!" seruku yang…

"Akhh!"

… sangat terlambat.

"Vi!"

Serangan ikan-ikan itu mengenai Vi dan sayapnya, membuat kami terpisah dan jatuh ke permukaan. Hentakan yang kualami tak begitu keras karena lambatnya pergerakanku. Namun tidak bagi Vi. Ikan-ikan itu jelas mengarah ke Vi dan melukainya di berbagai tempat. Karenanya aku langsung melompat ke arah Vi.

"Kamu tak apa?"

"Arrghh, sial!" erangnya. "Lagi-lagi kakiku!"

Sayap Vi sudah hilang. Luka di tubuhnya cukup banyak, seperti goresan di bahu, perut, dan paha. Tapi yang paling parah adalah lubang di kaki kanannya, membuatku ngeri walau hanya melihatnya saja.

Aku cukup beruntung karena tidak terluka sama sekali.

"Cepat balut pakai perbanmu!"

"Sabar, sakit tahu—arrrghh!" balas Vi yang masih kesakitan. Seraya memegangi paha seolah hanya dengan itulah dia bisa menahan rasa sakit, Vi mulai membalut luka-luka ditubuhnya dengan perban sihirnya. Pendarahannya mulai tampak berhenti, sehingga Vi mulai merebahkan tubuhnya—bersandar pada sebuah batu.

"Sepertinya aku takkan bisa berjalan dengan kaki kananku lagi," ujarnya sembari meletakkan tangan di dahinya. "Bisa kamu lindungi aku sejenak? Aku perlu mengisi staminaku lagi."

Tanpa menjawab atau mengeluh, aku turuti permintaannya. Ini saatnya aku membalas budi. Selama ini aku selalu ditolong Vi dan selamat hingga sekarang. Jadi hal semacam ini adalah yang sepantasnya kulakukan. Ya, aku harus melindungi Vi yang—

"Mungkin ini tiba-tiba, tapi boleh aku bicara sesuatu?"

—mengatakan itu dengan serius. Membuatku menelan ludah.

"Bi-Bicara apa?" tanyaku tak yakin.

"Hmmm, kurasa sedikit berhubungan dengan musuh kita, Kairos. Aku yakin kamu pasti sudah menduga kalau serangan barusan adalah ulahnya. Dia memiliki kekuatan yang berbahaya seperti menggerakkan benda dan bahkan dirinya sendiri."

"Lalu?"

"Aku rasa saat ini sepertinya Kairos belum mempu menggunakan kemampuannya untuk berpindah tempat. Tapi aku yakin beberapa saat lagi dia akan melakukannya dan langsung menyayat leherku dengan cepatnya. Jadi keputusan ada di tanganmu."

"Maksudmu?"

"Ada yang masih kuragukan darimu. Jadi semisal kita sanggup selamat dari semuanya, aku tak yakin kalau bisa membawamu ke daratan atau tidak. Tunggu, aku bahkan ragu kamu memang perlu diselamatkan atau tidak. Karena itulah aku ingin secepatnya mengatakan ini…"

Tenggorokanku terasa kering, aku tak bisa mengatakan apa-apa untuk menghentikan Vi.

"Seperti yang kubilang tadi, kalau cerita tentang asal-usulmu itu benar maka ada yang aneh di sini," lanjut Vi. "Ingat kembali. Di kapal kamu bertemu perompak asal Bekesong dan menyanyikan lagu plagiat. Apa menurutmu itu adalah hal yang wajar?"

"… Eh? Aku kira itu hanya komedi sa…"

"Dan dirimu sekarang yang tahu kalau itu komedilah yang semakin aneh. Bagaimana kamu bisa tahu? Kamu mengerti kereta api, mumifikasi, dan lain sebagainya. Bagaimana bisa cara bernarasimu tiba-tiba berubah setelah bertemu denganku? Ini sangat bertentangan dengan logika dan legendamu—tidak. Bahkan aku merasa, kamu sedang dipaksa membawa semua latar belakang tentang Arion di laut ini."

Be-Benarkah begitu?

"Lagi, keanehan itu muncul ketika lima yang mirip denganmu muncul, mengikuti masing-masing peserta. Jelas sekali kalau legenda bernama 'Arion' ini sedang mengintai pergerakan dari kami, para peserta!"

"Ta-Tapi aku ingat sekali dirampok di kapal! Aku ingat menyanyi di Sicily! Aku… aku…"

"Kalau begitu jawab pertanyaanku," potong Vi begitu saja. "Lagu apa yang kamu nyanyikan di Sicily? Makanan apa yang kamu santap sebelum berlomba? Siapa saja yang melambaikan tangan ketika kamu pergi ke Sicily?"

"Aku…"

Aku tak bisa mengingatnya. Aku tak bisa menjawabnya. Aku bahkan tak tahu kalau semua yang ditanyakan Vi pernah terjadi padaku atau tidak. Yang kuingat hanyalah aku yang menyanyi di Sicily, pulang, lalu ditendang perompak.

Aku tak mengingat masa kecilku. Aku tak ingat kepada siapa saja aku bermain musik. Aku tak bisa membayangkan siapa yang mengajariku bermusik. Aku… Aku…

"Maka, aku tanya sekali lagi…"

Dan seolah sengaja tidak memberiku waktu untuk berpikir, Vi berkata dengan suara yang berat.

"… Siapa kamu?"


[Sekali Plagiat, Dari Awal Sampai Akhir Tetap Saja Plagiat]

Aku masih tidak bisa menjawab Vi.

Aku tak mengerti.

Aku bahkan tak bisa mencerna apa yang baru saja dia katakan.

Semua kejadian yang kualami palsu. Aku tak punya ingatan tentang masa kecilku. Aku tak ingat berapa jumlah wanita yang menyukaiku. Aku bahkan tak tahu sebenarnya apa tujuanku.

Aku bukan Arion? Lalu siapa aku? Siapa diriku yang sebenarnya? Haruskah aku mengerti? Haruskah aku memiliki identitas?

"Hei, Vi," panggilku lemah. "Apa aku perlu nama agar bisa pulang dengan selamat?"

"Tidak," jawab Vi dingin. "Sudah kubilang sebelumnya, aku bahkan tidak yakin kalau kamu perlu diselamatkan. Aku merasa ingatanmu bahkan sudah diatur sedemikian rupa sehingga kamu ingin selamat sampai di rumah."

"Jadi maksudmu… seseorang menciptakanku?"

Vi mengangguk. "Lihat saja, kamu tidak remuk di dalam tekanan air. Kamu tahu masker yang kamu pakai? Itu palsu! Dari awal benda itu tak ada fungsinya. Sudah berapa kali selangnya putus dan diam-diam aku sambung. Aku sengaja memasangnya padamu agar kamu hidup."

"Sengaja?"

"Ya, pertama kali aku menemukanmu, kamu sudah bernapas. Kutampar berkali-kali tidak bangun juga. Karena itu aku gunakan trik ini yang pernah kupelajari di akademi. Semacam hipnotis—walau ternyata bukan. Kamu tidak terpengaruh hipnotis itu, melainkan sesuatu membuatmu terpancing oleh hipnotis tersebut."

Seperti misalnya orang yang mengatur ingatanku itu mengontrol pikiranku untuk menerima hipnotis Vi. Menerima kenyataan bahwa kalau aku menggunakan masker, aku akan hidup. Bila aku menggunakan alat di telinga ini, aku bisa mendengar. Bila Vi membatin, aku bisa mengetahuinya.

Dan ketika aku melepaskan masker ini, ternyata benar, aku mampu bernapas dan mendengar.

"Maka dari itulah, sekarang adalah kebebasanmu memilih. Kamu boleh tetap di sini membantuku, atau kamu pergi entah ke mana mencari jalan pulang sesuai dengan ingatanmu," tambah Vi yang mengakhiri kalimatnya.

Aku… tidak bisa menentukannya.

Yang mana yang paling baik? Aku bisa saja pergi meninggalkan Vi karena ternyata, aku masih hidup sekalipun tanpa apapun. Ya, aku bisa leluasa menjelajahi laut ini dan mengendap-endap dari monster. Perlahan namun pasti, aku akan sampai di rumah dengan selamat.

Meskipun begitu, kakiku tak dapat beranjak pergi. Aku tak mempunyai keinginan untuk pergi. Bahkan diriku seolah terikat oleh Vi. Membuatku masih berdiri tegap, berusaha melindungi Vi yang—

"Yo."

—lehernya akan disayat oleh makhluk berpakaian serba hitam, muncul secara tiba-tiba di depannya.

"Heh!"

Yang dengan cepat ditangkis oleh Vi menggunakan perisai instannya. Pergerakan di air yang lamban cukup menguntungkan kemampuan Vi tersebut. Karenanya, makhluk bernama Kairos itu buru-buru melompat mundur. Menjaga jarak di antara kami.

"Cih! Aku benci ronde kali ini!" gerutunya kesal.

"Kamu kurang pengalaman saja," sahut Vi. "Misalnya saja, tidak segera bersembunyi saat satu lawan satu."

"Ap—!"

Sebelum Kairos sempat mengakhiri kalimatnya, perban Vi sudah mengikatnya kuat. Perlahan berdiri, Vi terdengar sedang menarik napas panjang. Dengan anggunnya, dia menodongkan harpa rusakku ke depan dengan tangan kirinya.

Lalu menghembuskan napasnya dengan tenang.

"I am the bandage of myself."

Mengatakan itu seolah seperti sedang merapalkan sebuah mantra, sedikit demi sedikit perban Vi mulai merakit sesuatu dengan harpaku sebagai komponen utamanya. Simpul demi simpul, ikatan demi ikatan, dengan cepat menciptakan sesuatu yang bisa kupresepsikan sebagai busur.

"Unknown to Doctor, nor known to Head Nurse."

Sedetik kemudian, perban lain Vi menari-nari di udara. Mengait layaknya pasangan dansa yang dengan riangnya membentuk sesuatu yang cukup panjang. Cabang tiga yang tampak runcing dengan ukiran indah tercipta dengan megahnya. Tangan Vi yang sangat kontras ukurannya dengan apa yang bisa kusebut sebagai trisula itu menangkapnya dengan mudah dan memposisikannya pada busur yang dia pegang.

Vi menarik tali busurnya.

Lingkaran bercahaya muncul tepat di depan ujung trisula itu. Pola dan ukiran yang aneh perlahan muncul, seolah mengisi ruang yang kosong di dalamnya. Yang kemudian menciptakan gelombang yang seolah menarik air laut ke ujung trisula yang semakin bercahaya putih terang itu.

Siap menembak.

"Ada kata-kata terakhir?" ujar Vi terdengar meledek. "Eh?"

Namun yang dia tanya sudah tidak ada di tempat. Menghilang begitu saja bagaikan hantu.

"KAMU KELAMAAN SIH!" seruku kesal.

"Apa boleh buat? Ingat, ini adalah senjata terkuat yang kita ciptakan!"

Meski dia bilang begitu, aku tak merasakan senang sedikitpun.

"Di sana!" seru Vi yang mengarahkan busurnya ke sosok gelap yang mendekat cepat dari balik batu.

Sedetik kemudian, mulai tampak dengan jelas bahwa itu adalah ikan bermulut runcing yang tengah berenang ke arah Vi. Refleks, aku langsung teringat akan keselamatan Vi yang ternyata, di belakangnya sudah terangkat pisau kecil yang hendak diayunkan Kairos.

"Awas!"

Sekuat tenaga aku melompat. Entah seberapa kuat pijakanku, seberapa siap kakiku. Pokoknya, aku melompat ke arah Vi yang lengah itu. Tidak hanya karena efek di dalam air, tetapi juga waktu terasa begitu lamban di mataku.

Tanganku mengulur pada Vi. Tangan yang berkali-kali kugunakan untuk meminta pertolongan. Tangan yang berkali-kali kurentangkan untuk mendapatkan harapan. Tangan yang berkali-kali haus akan kesemuan.

Dan kali ini, tangan tak bergunaku meraih Vi—mendorong punggungnya yang terasa hangat.

Pisau Kairos menusuk tulang selangkaku. Aku yang tak mau kehilangan kesempatan langsung menangkap Kairos, melingkarkan tanganku di kedua bahunya. Dengan cepat aku menghadapkan tubuh kami berdua ke arah Vi.

"Holy Lance!"

Yang walaupun sejenak—tidak. Bahkan meskipun aku tahu wajah Vi tidak berubah sama sekali. Sekalipun aku tidak bisa membedakan wujud ekspresinya. Aku yakin... Ya, aku yakin sekali kalau saat ini dia sedang—

"Sayonara."

—tersenyum selebar iblis.


[Epilog]

"Ahahaha… AHAHAHA, MUWAHAHAHAHAH!"

Aku tertawa.

Ya, aku tertawa dibuatnya.

Lalu aku menggebrak meja berukirkan tombol itu sekeras mungkin.

"WANITA BRENGSEK!"

Benar-benar keparat. Luar biasa kejam. Bahkan aku bisa mengatakan demikian dengan mudahnya.

"Hah… hah…"

Aku mencoba mengatur napas. Menariknya dalam-dalam, lalu mengeluarkannya perlahan. Aku harus berkepala dingin di saat-saat seperti ini.

< Vi Talitha WIN >

Tulisan tersebut terpampang jelas dari layar monitor yang sekarang sudah tak berguna itu.

Sungguh tak kusangka Vi bisa menerka khuluk dari aplikasi yang kugunakan untuk memonitori para peserta ini. Dia bahkan dengan mudahnya mengeleminasi semua data yang kusimpan pada avatar Arion itu. Tanpa ada keraguan, seolah dia tak peduli kalau Arion itu manusia atau bukan.

"Benar-benar aplikasi cacat!"

Aku banting perangkat keras tersebut hingga hancur berkeping-keping, berharap emosiku sedikit tersalurkan karenanya. Setelah tahu akan kenyataannya, 'Arion' itu mulai bergerak sesuai keinginannya sendiri. Dia bahkan tak bisa kukontrol lagi dan menyelamatkan wanita itu seenaknya.

Tapi tak apa. Meskipun rencanaku mengumpulkan data sedikit gagal, setidaknya aku mampu menemukan satu subyek yang menarik untuk kuobservasi.

Ya, wanita bernama Vi itu… cukup menarik. Apakah aku harus mengobservasinya sendiri? Kurasa begitu, benar, sudah saatnya aku turun tangan.

Demi lenyapnya turnamen bodoh ini.

"Akan kumusnahkan awal dari kehancuran itu!"




New Skill!

Holy Lance:    Menciptakan busur dan trisula Poseidon menggunakan Divine Bandage untuk menembakkan panah sihir berelemen cahaya dengan tingkat kerusakan yang tinggi. Mempunyai waktu persiapan selama 20 detik dan tak mampu bergerak selama itu—kecuali bila ada yang mendorong, dan itu tetap tidak menggagalkan persiapan menembak. Bisa ditahan selama 1 menit sebelum ditembakkan. Penggunaan selanjutnya setelah 30 menit berlalu. 



Link facebook untuk komentar non blog

16 comments:

  1. Sepertinya hal paling penting yang perlu kukomenin di battle ini adalah 'porsi'nya. Imo bagian pembukaannya panjang banget sampai saat pertarungan dimulai (aku anggap itu adalah adegan pertarungan Garrand lawan Caitlin). Banyak banget dialog jokesnya, dan di sini daripada HIT or MISS lebih ke overabused jokes sampe jadi jenuh. Lucu si pembukaannya cuma perlu dipersingkat agar lebi to the point.

    Bagian paling kusuka itu adalah pas 4 petarung ternyata semuanya mengintai dan keluar barengan. Sumpeh part itu eksekusinya cerdas banget. Sayangnya sebelum interaksi (atau pertarungan) keenam peserta keeksplor lebih dalam tiba-tiba jadi datang momon dan semua bubar.

    Wih narasinya sebenernya bagus mas, cuma kasusnya kayak di bagian joke, menurutku rada over dipuitis-puitisinnya. Agaknya disederhanakan di beberapa bagian supaya lebi down to earth.

    Ternyata Vi bakalan konsisten ya make pov karakter lain. Ditunggu deh untuk ronde-ronde berikutnya bakal pov cem mana lagi yang dipake.

    Hmm, kasi nilai berapa ya... Ini ada kekurangan dan kelebihannya. Baik, segini aja deh, bonus karena make joke emiya. ;>

    Nilai : 8

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yeeey dobel kill jadi komenter pertamax di blog. ;D

      Delete
    2. huaaaaa, kali ini saya overabused joke ya xD
      yah, saya emang mencoba style seperti ini sih jadi balik lagi hit or miss, karena bagi yang semisal cari joke(yg juga hit or miss(hitormissception)) bisa dinikmati, tp yg semisal full battle atau yg lainnya jadi kurang bisa :(((
      jadi tetep hit or miss :>
      Yah, saya coba masih tetap konsisten PoV 1 karakter lain, dan ke depannya mungkin saya juga akan ganti style xD
      makasi mba cadel~ :*

      Delete
  2. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  3. Oke... Ahem... Apa Bun bole berkomentar, bun~

    Ceritanya jelek... Ga ada makanannya, Bun ga suka... #SumpalMulutBunPakeDagingBabi

    Umm... Well... Tebakan awalku ternyata tepat.
    Ceritanya menganduk jutaan smart joke yang tersebar over di opening, dan mulai tak merata di pertengahan, tapi masi ada di bagian akhir.

    Saya suka Jokenya. Asik dan bikin betah baca. Terus eksekusi ceritanya bagus bukan main, aksi dalam lautnya bisa kubayangkan, walaupun sempat bertanya2... Knapa beberapa OCnya dibuat berjalan dalam Air... Knapa ga dibuat renang aja biar lebi Real. But yah... Set that aside...

    About pemaparannya, sungguh menyenangkan... Asik diikuti. Jokenya bisa kukatakan pedang bermata dua. Satu sisi senang dengan joke2nya. Sisi lain jadi kaya ga serius aja ini ceritanya. Well karena ini #spoilergintamabasedspoiler# so jadi ga masalah.

    Konklusi ceritanya juga mantep. Eksekusi di beberapa titik cerita ada yg seperti di Rush, walaupun lebih banyak eksekusi yg briliannya.

    #jujur, saya skip battlenya soalnya takut memengaruhi Entry yg lagi kutulis. Tapi poin penting battlenya udah dapet kok. Jadi ga gitu ngambang2.

    Poin dari saya... 9/10

    (Bun the Bubble, Bun~)

    ReplyDelete
    Replies
    1. wwkkwkw, apa lain kali battle masak ya? jadi Shokugeki no Soma xD
      wah renang, saya cm pake dikit sih adegan renang, soale saya pake referensi megaman legend yg jalan di dalam air xD soale rata2 jg bawa barang berat, kalo renang lucu tar xD
      .
      ahahah, seneng kalo ada yg ngerti referensi saya xD tapi emang dari awal ga ada aturan suruh serius banget atau sejenisnya, jadi saya coba eksplor secara komedi yg terbatas pov 1 xD
      .
      maaci bun~ semangat r1~

      Delete
  4. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
  5. yoshaaa!!! harusnya yang jadi pertamax komen saya nih, tapi gara-gara abis ngantuk berat abis baca entri ini, jadi gak komen deh.

    Eeem jujur selain apa yang ane bilang di chat, cerita ini terlalu panjang diawalannya, bahkan saya sampe berpikir "mana vi-nya? mana tim C lainnya? dan mana Khanzanya? " karena terlalu lamanya tuh kisah arion vs bekesong perompak.

    Jokenya mantep, sumpah saya ngakak sampe berair mata. bahkan guling2, ya tapi ada yang bikin meh juga sih. kaya lagi serius-seriusnya battle masih sempet aja ngelucu pake joke break 4th wall.
    ide dan konsep battle lainnya yang menggunakan orang luar sebagai tokoh utama, itu bener-bener tak terduga. Seperti yang di harapkan dari dimas. hihi

    So! ane mau kasih 9 tapi karena khanzanya gak terima di realm ini dia mati kaya gitu, jadi kurangi satu yah. jadi 8 *bercanda, dari awal saya emang mau kasih nilai 8 ko. hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. lupa nama oc xD
      Khanza mahesa, Tim C

      Delete
    2. Hh3
      ya begitulah karena saya pake pov 1, jadi malah justru aneh kalau tiba2 kenal tim C. pergerakannya juga saya coba sesuaiin dengan masing2 watak. tapi yah, mungkin memang dari awal saya fokus joke, dan balik lagi hit or miss buat yg suka full battle xD
      .
      maaci bang ady~

      Delete

  6. Ini entri pertama yang saya baca di ronde ini. Seperti biasa, kamu keliatan luwes dan ekspresif sekali kalau udah pegang PoV1 ya. Saya sebenernya ga gitu keberatan sama awalannya karena lumayan menghibur, tapi mungkin emang porsinya perlu dibatesin karena kalo kelamaan yang baca bisa ragu ini entri BoR atau bukan.

    Saya suka karakter Vi, bener-bener tipe my pace kayak Dyna, dan selain blak-blakan dia juga ga segan-segan manfaatin orang. Saya cuma menyayangkan karakter lain ga gitu menonjol di sini, malah kayak semuanya carbon copy yang sama karena mainan shoutout terus aja sepanjang pertandingan.

    Satu lagi yang jadi poin minus mungkin grip saya soal setting. Ini di dalem air, tapi saya kayanya sama sekali ga nemu gambaran soal berenang atau apa - meski saya sendiri jarang make deskripsi, di sini saya kesusahan ngebayangin apa yang terjadi dan kadang jatuhnya ga kerasa ini pertarungan dalam air.

    Terakhir mungkin soal identitas 'Arion' - apa ini bakal jadi poin kunci buat entri Vi selanjutnya? Di awal saya kira dia semacem NPC, tapi kemudian saya curiga dia malah sebenernya avatar dari penulis sendiri.

    Dari saya 8

    [OC : Dyna Might]

    ReplyDelete
    Replies
    1. Huahuahua, jadi penasaran saya kalo Vi ketemu Dyna bakal jadi apa, dan dinistakan seperti apa nantinya xD
      Hmmm, mungkin emang saya ga beda jauh sama kamu, soal setting engga begitu pengen ngebahas, cuma apa yang lebih menarik perhatian Arion aja, dan sebenarnya udah berkali2 saya sebutkan tentang slow-motion dan beberapa lainnya, tapi mungkin kurang ya? Soalnya saya lebih mikirnya mereka ini cukup bisa menginjak tanah, kayak Megaman Legends, bisa jalan tapi lamban, bisa lompat tapi bisa tinggi dan lamban, one way direction juga, ga akan seenaknya bisa belok tanpa force lain. Tapi mungkin antara ga ada yang mau mikirin atau sayanya aja yang kurang deskripsi sekalipun udah saya sebutin(engga secara langsung).
      Anyway, plot saya ga usah dipikir dalam2 sih, alih2 terencana, banyak yang spontan, jadi nggak akan bisa macam kamu gitu, hh3
      thanks anyway~

      Delete
  7. -Jokesnya lumayan kena buat saya.
    -Battlenya cukup mantap... seenggaknya kalau lagi nggak diganggu dialog kocak di tengah-tengah, haha, jokenya oke tapi kalo di tengah battle ternyata merusak suasana juga.
    -Karakter Vi tenggelem dibanding karakter lain.
    -Saya lupa ini settingnya underwater, dan baru nyadar habis disinggung lagi di tengah-tengah. Penggambaran settingnya kurang bagus.
    -Pingin kasih 7.5, jadi saya buletin ke 8 saja biar 8-nya makin mantap.

    OC: Lady Steele

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hh3, maaf bang, dari awal emang stylenya niat ke situ, mungkin saya kurang drama yang ngena aja buat klimaksnya, jadi joke2 di sela2 itu ga ada yg termaafkan u,u
      wah ini malah Vi yg tenggelam, well, mungkin emang banyak yang kurang menonjol yha? Mungkin saya kurang bisa mengeksplornya despite being pov 1.
      thanks~

      Delete
  8. Oke, ini jokenya hanya lucu di awal, makin ke tengah jadi agak garing dan mengganggu jalannya pertarungan. Karakter Vi sih asik banget, saya suka licik-liciknya dan bangsatnya ini karakter.

    Sayangnya di sini Vi kurang diekspos, dan malah kalah kuat dibanding karakterisasi yang lainnya.

    Nevertheless, eksekusi battlenya saya suka (minus joke yang merusak keseriusan).

    Seperti yang sudah dibilang komentator sebelum saya juga, setting underwater-nya kurang terasa di sini.

    Poin 8

    OC: Caitlin Alsace

    ReplyDelete
    Replies
    1. ehehehe, di sini saya memanfaatkan joke yang justru mengubah atau menjalankan cerita, jadi sampai akhir sebenernya memang saya harus dan masih ingin ngejoke. Well, sekarang mungkin saya joke abusing yah, tapi emang itu sih poinnya saya nulis r1 ini.
      Hmmm, koko dake no hanashi, next round saya banting stir :>
      thanks~

      Delete